Tag: Analisa

  • Pakar Investasi: Harga Bitcoin Akan Jadi Nol

    Bukan kali ini saja harga Bitcoin disebut akan menjadi nol. Yang terbaru adalah ucapan investor kawakan, Jim Rogers.

    Dalam wawancara dengan AERA dot (bagian dari media massa Asahi Shimbun, Jepang) pada Jumat (19 Juni 2020), Rogers mengatakan semua harga aset kripto, termasuk Bitcoin akan menurun dan semuanya akan menuju nol.

    “Orang yang memakai aset kripto berpikir mereka lebih pintar dari pemerintah, dan memang benar,” katanya.

    Tetapi, kata Rogers, pemerintah memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kripto, yaitu persenjataan. Rogers mengira aset kripto akan hilang, sebab nilai asetnya tidak berdasarkan kekuatan senjata pemerintah.

    Baca Juga: Kepemilikan Bitcoin, Mungkinkah Trump Akan Larang

    Belakangan ini tampak ada keterkaitan antara pergerakan harga aset kripto dengan kebijakan pemerintah yang semakin otoriter. Ketika Presiden Donald Trump memerintahkan pembubaran massa protes damai di wilayah White House pada 1 Juni silam, harga Bitcoin melonjak lebih dari 8 persen.

    Pada November 2017, Rogers sempat menyebut Bitcoin terlihat sebagai gelembung (bubble). Sebulan kemudian, harga aset kripto tersebut mencapai all-time high pada kisaran US$20 ribu.

    “Aset kripto baru muncul beberapa tahun lalu, tetapi mendadak menjadi 100 hingga 1.000 kali lipat berharga. Ini jelas adalah gelembung dan saya tidak tahu harga sebenarnya. aset kripto bukanlah target investasi, melainkan hanya judi,” jelas Rogers. [cointelegraph.com/ed]

    Baca Juga: Apa itu Bitcoin Forks? Panduan untuk Pemula



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analis Blockchain: Bitcoin Dapat Hentikan Krisis Keuangan Masa Depan

    Tampaknya Bitcoin kebal terhadap pencetakan uang berlebihan baru-baru ini yang dilakukan oleh Federal Reserve (Fed) di Amerika. Pernyataan ini dilontarkan oleh analis blockchain dari Weiss Crypto Ratings yang mengecam keputusan terbaru yang dilakukan oleh Fed dalam membeli junk bonds (obligasi sampah) korporasi dengan leverage 7 banding 1.

    Tindakan pencetakan uang ini diumumkan pada bulan lalu. Dengan dana talangan yang akan ditambahkan ke pasar kredit korporasi berjumlah hingga 750 miliar USD. Uang itu akan memberikan tambahan likuiditas dan kredit pada perusahaan-perusahaan besar.

    Sedangkan, analis dalam naungan Weiss ini, Bruce Ng dan Juan Villaverde, berpendapat dalam sebuah posting pada 1 Juli lalu bahwa langkah tersebut tidak akan memperbaiki gagalnya ekonomi di Amerika yang disebabkan karena pandemi virus corona.

    Baca Juga: Bitcoin, Alternatif di Tengah Krisis Ekonomi

    “Membeli hutang perusahaan besar yang terhubung secara politis (yang akan bangkrut jika bukan karena dana talangan yang tak ada habisnya tersebut) juga tidak akan menciptakan lapangan kerja baru,” kata para analis di Weiss. Mereka juga menambahkan “Juga tidak akan menghasilkan miliaran laba yang hilang akibat adanya pembatasan sosial dari krisis pandemi ini.”

    Para analis berpendapat, adanya dana talangan seperti itu justru akan menjadi hal pendorong, untuk orang-orang mulai melihat Bitcoin dan mata uang digital lainnya.

    Baca Juga: Regulasi Crypto Dapat Mencegah Krisis Keuangan

    Mereka melanjutkan: “Inilah mengapa Bitcoin (dan aset crypto lainnya) akan menjadi masa depan uang. Bank-bank sentral sekarang menghancurkan mata uang kertas utama dunia — dan tidak ada kekuatan di bumi ini yang dapat menghentikan mereka. ”

    Bagaimana Bitcoin Dapat Menghentikan Krisis Keuangan di Masa Depan?

    Jawabannya, menurut Weiss, adalah bahwa komunitas Bitcoin bertanggung jawab atas kebijakan moneternya, bukan hanya para penambangnya, seperti yang diasumsikan oleh banyak orang.

    Baca juga: Analis: Harga Bitcoin Terkini Mungkin Dipengaruhi Penambang

    “Penambang Bitcoin tidak menetapkan kebijakan moneter. Hal itu dilakukan berdasarkan konsensus SELURUH anggota komunitas yang menggunakan Bitcoin,” tulis para analis.

    “Inilah sebabnya mengapa sangat sulit mengubah bahkan detail terkecil terkait dengan bagaimana Bitcoin beroperasi,” tulis Weiss. Ia juga menambahkan “Mayoritas pengguna harus setuju. Atau tidak akan ada yang terjadi.”

    Sebagai buktinya, orang tidak perlu menghadapi lebih jauh drama baru seputar “pajak penambang” Bitcoin Cash (BCH), atau rencana pendanaan infrastruktur (IFP), yang akan mendanai pengembangan jaringan dengan mengenakan pajak kepada para penambang.

    Baca Juga: ZUBR Research: Permintaan Ritel untuk BTC akan Melebihi Pasokan

    Meskipun banyak perusahaan tambang crypto terbesar setuju mengenai proposal tersebut, tetapi yang lain tidak menyetujuinya. Hal ini menyebabkan banyak keributan yang terjadi di media sosial dan menyebabkan penarikan kebijakan moneter BCH.

    Weiss Crypto Ratings mengatakan, cryptocurrency sekarang adalah satu-satunya bentuk uang yang dapat mencapai prestasi seperti itu dan menumbangkan sistem keuangan saat ini.

    “Dan jika mereka melakukannya (bailout) sekali saja, mereka pasti bisa kembali pulih. Hal ini membuat cryptocurrency sebagai satu-satunya alternatif andal pada krisisnya sistem moneter secara moral yang kita miliki saat ini,” pungkas postingan tersebut.

    Informasi ini dapat dibaca kembali di sini



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kinerja Bitcoin versus Aset Kripto Lain di Sektor DeFi

    Bitcoin bolehlah sebagai aset kripto perkasa berdasarkan kapitalisasi pasarnya. Namun, kinerjanya jauh lebih mantap daripada aset kripto yang ada di sektor DeFi (Decentralized Finance).

    Menurut penyedia data DeFiPulse , nilai kumulatif aset kripto yang “tersimpan” dalam aplikasi DeFi telah melonjak dari US$1 miliar pada 15 Juni 2020 menjadi US$1,65 miliar pada 26 Juni 2020. Ia tumbuh 65 persen dalam sebelas hari saja.

    Pada saat yang bersamaan, harga aset kripto yang terkait sektor DeFi itu, juga tumbuh cepat. Taha Zafar, analis aset kripto mengatakan, kinerja Bitcoin jauh lebih unggul dibandingkan aset kripto di DeFi, seperti Aave (LEND), Kyber Network (KNC) dan Maker (MKR).

    “Data menunjukkan, sementara Bitcoin naik 80 persen dalam tiga bulan terakhir, aset kripto di DeFi tampil lebih lebih baik, dengan kinerja lebih dari 100 persen dalam jangka waktu 90 hari,” kata Zafar.

    Bahkan pada 26 Juni 2020, Coinmarketcap mencatat bahwa 6 dari 10 aset kripto berkinerja terbaik di 100 teratas, berfokus pada DeFi.

    Kendati DeFi masih popular, Zafar memperkirakan Bitcoinakan mengalami reli, ketika sektor DeFi ini mengalami koreksi alias pelemahan. [Forbes/red]

    Baca Juga: Apa Itu Bitcoin Forks? Panduan untuk Pemula



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analis Beberkan Ini Akan Terjadi Sebelum Harga Bitcoin Naik

    Seorang analis dari Bloomberg Intelligence, Mike Mcglone membeberkan pandangan terbarunya terkait peristiwa yang akan terjadi sebelum harga Bitcoin (BTC) akan kembali naik. Menurutnya hal ini patut menjadi perhatian investor dan trader kripto.

    Dikutip U Today, Mcglone menjelaskan terkait faktor apa yang dapat menjadi penunjang kinerja Bitcoin untuk melesat di tahun 2023. Dalam pemaparannya via Twitter, McGlone mengatakan bahwa meningkatnya potensi perlambatan ekonomi global yang parah dapat menjadi faktor pendorong kinerja kripto utama tersebut.

    “Kami beranggapan bahwa Bitcoin lebih mungkin untuk maju dalam sebagian besar skenario, tetapi jika ada indikasi kurva hasil terbalik, maka pertumbuhan ekonomi akan menjadi surut tajam dengan implikasi untuk semua aset,” ungkap McGlone.

    Bitcoin Kembali Turun

    Baca juga: Bloomberg Intelligence Klaim Masa Depan Bitcoin Cerah Tahun 2023

    McGlone menyatakan, yakin harga Bitcoin kemungkinan akan terus tumbuh atau naik tahun ini. Namun, pertama-tama mungkin meninjau kembali level lama di bawah harga saat ini.

    Ia berasumsi Bitcoin kemungkinan akan meninjau kembali level support yang di angka sekitar US$ 10.000 – US$ 12.000, sebelum melanjutkan proyeksinya untuk kenaikan harga yang bertahan lama.

    Perbedaan utamanya dari tahun lalu, Dalam skenario kali ini McGlone yakni The Fed dan sebagian besar bank sentral mungkin terpaksa mulai melonggarkan kekuatan deflasi dari penurunan harga aset. Bitcoin terikat untuk menjadi versi digital emas dan melakukan seperti itu dan seperti obligasi jangka panjang Departemen Keuangan AS.

    Ilustrasi Ethereum.
    Ilustrasi Ethereum.

    Baca juga: Ethereum Shanghai Hard Fork Bakal Rilis Maret 2023, Apa Untungnya?

    Menurut laporan yang sama yang dibagikan oleh McGlone, dia mengharapkan Ethereum (ETH) mengungguli Bitcoin tahun ini. Kinerja kripto terbesar kedua tersebut dibandingkan dengan Bitcoin sangat menjanjikan, kata laporan itu, meskipun tidak ada aksi harga yang besar untuk ETH pada tahun 2022.

    Potensi Ethereum yang menjanjikan mungkin telah diasumsikan karena peningkatan The Merge Ethereum yang telah lama ditunggu-tunggu pada pertengahan September karena jaringan beralih ke protokol konsensus bukti kepemilikan atau proof-of-stake (PoS).

    DISCLAIMERBukan saran atau ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Target Capai Rp 511 Juta

    Pergerakan aset kripto Bitcoin (BTC) ditutup positif pada bulan Juni lalu. Berdasarkan data Bitcoin Monthly Returns, harga penutupan BTC di bulan Juni 2023 mengalami kenaikan 11,98% atau sekitar US$ 3.501 (Rp 52 juta). Pada saat itu harga di awal Juni sebesar US$ 27.193. Menurut laporan Coinglass, pada kuartal I, BTC mencatatkan pertumbuhan sebesar 71,77%. Pada akhir kuartal II, BTC dihargai sebesar US$ 31.177 dengan tingkat pertumbuhan Bitcoin meningkat 7,19% menjadi 78,96%.

    Trader Eksternal Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, melihat di tengah fluktuasi pasar yang terus-menerus, Bitcoin telah menunjukkan potensi pertumbuhan untuk mengalami fase bullish pada bulan Juli 2023. Banyak analisis data yang menunjukan bahwa bulan Juli ini menawarkan peluang emas yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk meraih.

    Menurut data Bitcoin Monthly Returns, BTC selalu mengalami kenaikan lebih dari 15% di bulan Juli sejak tahun 2020. Bahkan saat crypto winter tahun 2022 lalu pun, Bitcoin masih mencatatkan kenaikan lebih dari 17%.

    “Di samping itu dari jejak teknikal, Bitcoin belum pernah menyentuh penurunan lebih dari 10% di bulan Juli dalam tiga tahun terakhir, menunjukkan kekuatan tren bullish yang mengesankan selama periode tersebut. Hal ini menciptakan peluang menarik bagi investor yang ingin memanfaatkan momentum positif ini,” kata Fyqieh.

    Sentimen Penggerak

    Bitcoin Monthly Returns. Sumber: Coinglass.
    Bitcoin Monthly Returns. Sumber: Coinglass.

    Baca juga: Daftar Nama 2 Calon DK OJK Pengawas Aset Kripto, Siapa Saja?

    Namun, sebelum terjun ke dalam investasi Bitcoin, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dengan hati-hati. Salah satunya adalah berita terkait proposal ETF yang masih dalam tahap pengembangan. Meskipun beberapa proposal dari aset manajemen terkemuka seperti BlackRock dan Fidelity telah ditolak, namun sudah diajukan ulang yang dianggap sudah memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh SEC. Hal ini dapat mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin di pasar.

    “Seiring dengan berita tersebut, harga Bitcoin sempat turun di bawah level US$ 29.500, tetapi telah kembali naik di atas level psikologis US$ 30.000. Kenaikan ini menunjukkan keberlanjutan tren bullish yang positif dalam jangka pendek,” jelas Fyqieh.

    Investor juga harus memperhatikan data ekonomi makro yang menjadi indikator kebijakan suku bunga The Fed di bulan Juli ini. The Fed dijadwalkan akan melakukan FOMC Meetings pada tanggal 25-26 Juli mendatang. Sebelumnya akan ada perilisan data inflasi Amerika Serikat pada tanggal 12 Juli. Dua hal ini yang akan menjadi momen krusial bagi pergerakan Bitcoin dan pasar kripto, di samping sentimen industri dan kebijakan regulasi lainnya.

    Analisis Teknikal

    Dalam jangka pendek, Bitcoin sedang mengalami fase konsolidasi setelah kenaikan sebesar 20% dari kisaran harga US$ 29.600 (Rp 446 juta) hingga US$ 31.300 (Rp 471 juta). Sedangkan konteks bullish tetap terjaga, terutama di indikator MA 200-week. Jika terjadi breakout di atas US$ 31.300, maka target selanjutnya bisa mencapai US$ 32.000 (Rp 481 juta) hingga US$ 34.000 (Rp 511 juta) yang kemungkinan bisa diraih di bulan Juli ini..

    “Sebelum mencapai puncak baru, Bitcoin mungkin akan mengalami uji likuiditas pada level yang lebih rendah. Pasar kripto, tidak hanya berkonsentrasi pada Bitcoin. Beberapa altcoin juga menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan dan ekspansi. Indikator Fear & Greed Index juga terus positif di level Greed,” analisis Fyqieh.

    Grafik harian BTC/USDT. Sumber: TradingView.
    Grafik harian BTC/USDT. Sumber: TradingView.

    Baca juga: Daftar Aset Kripto Potensial di Bulan Juli 2023, Raih Peluang Cuan!

    Fyqieh lebih lanjut menekan pergerakan harga Bitcoin sangat fluktuatif dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor pasar yang kompleks. Menurutnya ada dua cara yang dapat menjadi pilihan investor untuk menjalankan strategi investasi yang potensi profit di bulan Juli ini. 

    Pertama, dengan melakukan pembelian pada awal bulan dengan metode lump sum, investor dapat mengambil keuntungan dari pergerakan harga yang potensial. Metode lump sum adalah pendekatan investasi di mana sejumlah besar uang diinvestasikan dalam satu waktu atau dalam satu kesempatan. Hal ini melihat pertumbuhan berturut-turut Bitcoin (BTC) pada tahun ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan dari pasar bearish yang melanda sepanjang tahun 2022..

    Strategi kedua, yang lebih bijaksana adalah menggunakan pendekatan dollar-cost averaging (DCA), di mana dana diinvestasikan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu untuk mengurangi risiko volatilitas pasar.

    “Keputusan untuk menggunakan metode lump sum atau pendekatan lain tergantung pada keadaan individu, tujuan investasi, toleransi risiko, dan analisis pasar. Adalah penting bagi investor untuk melakukan riset yang cermat, disarankan untuk mempertimbangkan diversifikasi portofolio mereka dan tidak menginvestasikan seluruh aset dalam satu aset kripto,” pungkas Fyqieh.

    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisa: Prediksi Harga Bitcoin di Bulan Januari 2023

    Bitcoin (BTC) masih menjadi aset kripto yang memuncaki market cap terbesar hingga tahun 2022. Banyak investor yang penasaran akan nasib harga Bitcoin di tahun 2023.

    Bitcoin adalah kripto tertua di pasar dan memegang market cap terbesar, meskipun ada ribuan aset digital telah beredar. BTC selalu mendominasi industri dan telah membuka jalan bagi jutaan peluang dan proyek.

    Namun dari segi harga, Bitcoin tidak dalam kondisi terbaiknya saat ini. Pada saat artikel ini ditulis, BTC diperdagangkan pada US$ 16.646 saat ini, dengan penurunan nilai sebesar 1,41% selama 24 jam terakhir. Ini juga turun 75% dari level tertinggi sepanjang masa di US$ 68.789,63 pada 10 November 2021.

    Prediksi Harga

    Dengan berakhirnya tahun 2022, WatchGuru memprediksi harga untuk Bitcoin di bulan Januari 2023. Menurut CoinMarketCap, BTC telah turun 18% dalam 60 hari terakhir, 13,25% dalam 90 hari terakhir, dan 64,82% tahun ini.

    bentuk koin bitcoin
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Anak Bisa Belajar Tentang Manajemen Keuangan dengan Kripto

    Bergantung pada pergerakan pasar saat ini, tidak jelas apakah Januari 2023 akan bearish atau bullish. Para ahli di Changelly membagikan prediksi harga mereka untuk tahun 2023. Mereka memperkirakan bahwa setelah analisis harga BTC di tahun-tahun sebelumnya, harga minimum BTC diasumsikan sekitar US$ 26.366,85.

    Jadi, harga perdagangan rata-rata diperkirakan US$ 27.113, dan tertinggi diperkirakan US$ 31.479. Ini hanyalah perkiraan, dan ini murni bergantung pada banyak peristiwa yang akan terjadi pada tahun 2023.

    Bear Market

    2022 bukanlah tahun yang terbaik dalam hal harga aset kripto. Bear market yang berkepanjangan, dikombinasikan dengan jatuhnya Terra pada bulan Mei dan jatuhnya FTX baru-baru ini, telah membuat harga kripto tenggelam.

    Tahun ini telah menjadi tahun yang penuh gejolak untuk pasar kripto, dengan banyak entitas terdesentralisasi dan terpusat yang gagal atau berjuang untuk tetap bertahan. Namun, komunitas kripto telah mengantisipasi awal dari sikap bullish, setidaknya pada tahun 2023.

    Baca juga: Cara Cek Saldo Wallet Ethereum di Google Search

    DISCLAIMERBukan saran atau ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisa: Market Kripto Kembali Tertekan Jelang Rilis Data Inflasi AS

    Performa market kripto di awal pekan ini kembali tertekan di bawah bayangan data inflasi AS terbaru. Pergerakan pasar sedang berbalik arah setelah reli panjang lima hari berturut-turut.

    Sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap berada zona merah pada perdagangan Senin (12/12) pukul 10.00 WIB. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, nilai Bitcoin berada di harga US$ 16.921, turun 1,46% selama 24 jam terakhir dan turun 1,71% sepekan belakang.

    Kemudian, altcoin seperti Ethereum (ETH) ikut ambles 2,08% ke US$ 1.245 sehari terakhir dan turun juga 3,71% seminggu belakang. Apa penyebab penurunan market ini?

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan market kripto dan saham tengah mengalami koreksi. Dalam beberapa hari terakhir sejak akhir pekan lalu, banyak investor dan trader yang mulai ambil untung atau taking profit sementara.

    “Indikasi besar pada pelemahan awal pekan ini adalah investor dan trader tampak telah melakukan aksi taking profit atau keuntungan dari reli sebelumnya. Mereka melakukan aksi tersebut karena melihat minggu ini adalah pekan yang sibuk dari situasi makroekonomi,” jelas Afid.

    Data Inflasi AS

    Data inflasi AS guncang pasar, Bitcoin dan Ethereum jatuh. Foto: Reuters.
    Data inflasi AS guncang pasar, Bitcoin dan Ethereum jatuh. Foto: Reuters.

    Baca juga: Bloomberg Intelligence Klaim Masa Depan Bitcoin Cerah Tahun 2023

    Investor kripto tampaknya sedang mengantisipasi perilisan laporan data inflasi AS atau Consumer Price Index (CPI) bulan November yang diproyeksikan mulai mendingin. Selain data CPI, rapat FOMC soal kebijakan The Fed juga menarik perhatian investor pekan ini.

    “Setidaknya ada dua peristiwa penting pada pekan ini. Pertama, rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) November pada hari Rabu (14/12) dan keputusan kenaikan suku bunga terbaru bank sentral AS sehari kemudian. Kedua peristiwa penting ini yang membuat investor dan trader tampak mencoba untuk mengambil keuntungan terlebih dahulu sebelum terjadi volatilitas yang tinggi,” ungkap Afid.

    Lebih lanjut Afid menjelaskan, jika CPI datang di luar ekspektasi atau bahkan tidak turun sama sekali, itu akan menjadi kabar yang buruk bagi investor kripto. Data yang lebih buruk dari perkiraan dapat meningkatkan kekhawatiran akan lebih banyak sikap hawkish The Fed, sehingga mampu membuat menekan market kripto.

    “Dengan menunggu perilisan data CPI dan suku bunga yang membaik, kemungkinan volatilitas Bitcoin diharapkan bisa kembali menembus US$ 17.000 dan naik menuju US$ 19.000. Namun, jika hasilnya memburuk ada kemungkinan akan menghadapi penurunan kembali menuju US$ 15.000,” analisisnya.

    Analisis Gerak Bitcoin

    Ilustrasi market kripto Bitcoin.
    Ilustrasi market kripto Bitcoin.

    Baca juga: AI Prediksi Harga Bitcoin di Akhir Tahun 2022, Berapa?

    Kapitalisasi pasar kripto kembali ditutup merah, turun sebesar 1,06% dalam 24 jam terakhir. Penutupan berada pada level US$ 846,168 miliar. Penurunan market cap tersebut berdampak negatif. Fear and greed index juga masih berada pada level 27 dengan kategori Fear.

    “Indeks saham US juga tertekan sejalan dengan market kripto. S&P 500 turun 3,37%, tetapi harga Bitcoin tidak ikut turun terlalu jauh. Ini menunjukkan bahwa investor belum terlalu panik dan membuang posisi mereka dengan setiap penurunan ekuitas,” ucap Afid.

    Dari sisi analisis teknikalnya, Meskipun ditutup merah, pergerakan harga Bitcoin masih berada pada laju sideways-nya. jika tekanan terus berlanjut, bearish dapat menguat jika harga Bitcoin menembus di bawah US$ 16.678. Jika berhasil breakdown bisa turun lebih dalam menjadi US$ 15.995.

    Bitcoin bisa saja bounce apabila bergerak di atas 20-day exponential moving average (EMA) cukup kuat untuk menahan laju koreksi BTC. Level resistance terdekat jika terjadi breakout berada di level US$ 17.622.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisa: Jelang Rapat FOMC, Market Kripto Mulai Bangkit

    Performa market kripto terlihat mulai bangkit. Sejumlah aset kripto big cap mulai masuk tipis-tipis ke zona hijau, jelang rapat komite pasar terbuka federal (FOMC) The Fed.

    Terpantau dari situs CoinMarketCap, Selasa (1/11) pukul 10.00 WIB, nilai Bitcoin (BTC) terlihat masih negatif dengan penurunan 0,09% di harga US 20.491. Sementara, Ethereum (ETH) mulai bangkit naik 0,35% di harga US$ 1.585. Altcoin lainnya seperti Dogecoin (DOGE) dan BNB menjadi primadona dengan kenaikan di atas 5%.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat situasi market kripto mulai bergerak naik jelang rapat FOMC yang akan berlangsung 1-2 November mendatang. Hal ini terlihat pergerakan dari investor institusi atau whale yang punya banyak dana di market mulai melakukan akumulasi, setelah pasar terus turun sejak akhir pekan lalu.

    “Investor dan traders secara umum harus mencermati pergerakan reli ini. Sepertinya pola bull trap akan terjadi jelang keputusan rapat FOMC. Market kripto terlihat mulai bullish dan menunjukkan sentimen positif dengan reli singkat, namun nanti ketika keputusan suku bunga sudah keluar akan jatuh kembali,” kata Afid.

    Proyeksi Suku Bunga The Fed

    Ilustrasi Rekt Capital.
    Ilustrasi market aset.

    Baca juga: Kenal Jagat Nusantara Metaverse IKN yang Diresmikan Presiden Jokowi

    Banyak analis yang memperkirakan The Fed akan mengerek suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin dengan besaran peluang 81% dan tidak akan berlaku lebih agresif mengingat tingkat inflasi AS yang perlahan tapi pasti mulai melandai. The Fed kemungkinan akan mengerem kenaikan suku bunga acuannya menjadi 50 basis poin pada Desember mendatang.

    Dalam lima FOMC terakhir, harga Bitcoin yang merupakan aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, cenderung bereaksi negatif dalam jangka pendek setelah pengumuman kenaikan suku bunga agresif. “Kemungkinan, pada rapat FOMC mendatang akan sama alami penurunan dan terjadi bull trap,” jelas Afid.

    Di sisi lain, jika melihat nilai indeks Dolar AS (DXY) pada hari Selasa (1/11) pagi ini, sedang melemah. Ini menguatkan nvestor mulai kembali masuk ke aset berisiko, seperti kripto. Terpantau DXY di level 111.40 pada pukul 09.00 WIB dan -0.11%.

    Bitcoin dan Altcoin

    Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum.
    Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum. Foto: Jaap Arriens | NurPhoto | Getty Images.

    Baca juga: Dogecoin Meroket Salip Cardano Imbas Elon Musk Beli Twitter

    Dari analisis teknikal, dalam sepekan terakhir, harga Bitcoin nampak sedang on the track menembus ambang batas psikologis harga jual di angka US$ 20.000 menuju US$ 21.000. Reli singkat ini bisa membawa BTC menuju harga US$ 20.627-US$ 20.931 yang menjadi level resistance terdekatnya.

    “Investor juga kini lebih memilih untuk masuk ke altcoin, terllihat dari indeks Bitcoin Dominance yang terus turun ke level 38%. Penguatan yang terjadi di lini altcoin disebabkan oleh dampak akuisisi Twitter oleh Elon Musk yang terjadi akhir pekan lalu,” terang Afid.

    Nilai BNB dan Dogecoin (DOGE), misalnya, menanjak setelah Binance dikabarkan telah berkontribusi US$ 500 juta untuk akuisisi tersebut. Sementara itu, nilai DOGE juga meroket setelah akuisisi Twitter diharapkan akan berimbas positif ke adopsi koin meme tersebut.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisa: Market Kripto Masih Lesu Jelang Akhir Oktober

    Menjelang akhir Oktober 2022, performa market kripto masih tertunduk lesu di zona merah. Secara umum, nilai aset kripto mengalami penurunan yang tipis, sejak kenaikan harga pada pertengahan pekan lalu. Apa penyebabnya?

    Secara keseluruhan sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap anjlok ke zona merah pada perdagangan Senin (31/10) pukul 10.00 WIB. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, nilai Bitcoin berada di harga US$ 20.500, turun 1,35% dalam 24 jam terakhir.

    Sementara, Ethereum (ETH) juga anjlok 2,49% ke US$ 1.579 sehari terakhir. Altcoin lain, Dogecoin (DOGE) dan Shiba Inu (SHIB) turun lebih dari 6%.

    Ilustrasi market aset kripto.
    Ilustrasi market aset kripto.

    Baca juga: Twitter Mengizinkan Pengguna Transaksi NFT melalui Tweet

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan sepanjang akhir pekan lalu, nilai aset kripto padahal terlihat alami kenaikan disebabkan aksi likuidasi besar dari transaksi short yang telah menghidupkan kembali suasana bullish di market jelang Oktober ini.

    “Namun, di awal pekan ini, kinerja harga aset kripto kembali tersendat setelah investor kembali fokus ke beberapa peristiwa makroekonomi pekan ini, salah satunya adalah rapat komite pasar terbuka federal (FOMC) The Fed pada 1-2 November nanti,” kata Afid.

    Dampak FOMC The Fed

    Banyak analis meyakini The Fed diperkirakan masih memiliki sentimen hawkish untuk terus menaikkan suku bunga untuk yang keenam kalinya di tahun ini. The Fed akan mengerek suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin dan tidak akan berlaku lebih agresif mengingat tingkat inflasi AS yang perlahan tapi pasti mulai melandai.

    “Investor harus waspada, jika market terjadi bullish jelang keputusan rapat FOMC. Bisa saja itu bull trap. Beberapa saat sebelum pertemuan digelar, BTC dan ETH biasanya menunjukan sentimen positif dengan reli singkat, namun nanti akan jatuh kembali,” jelas Afid.

    Ilustrasi The Fed naikan suku bunga buat market kripto perkasa.
    Ilustrasi The Fed naikan suku bunga buat market kripto perkasa.

    Baca juga: ASPAKRINDO dan DJP Kemenkeu Tingkatkan Penerimaan Pajak Kripto

    Di sisi lain, jika melihat nilai indeks Dolar AS (DXY) pada hari Senin (31/10) pagi ini, sedang menguat. Investor mulai meninggalkan aset berisiko, seperti kripto. Terpantau DXY di level 110.89 pada pukul 09.00 WIB naik 0,13%.

    Analisis Bitcoin

    Dari analisis teknikal, laju bullish Bitcoin tertahan di level US$ 21.043, yang berakibat terjadi penurunan harga. Penurunan harga Bitcoin tidak mampu ditahan kembali ke level support di level US$ 20.576.

    Breakdown terhadap tahanan terdekat tersebut memberi peluang untuk penurunan lebih lanjut. “Kemungkinan target turun selanjutnya di level US$ 20.295,” terang Afid.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisa: Market Kripto Tetap Perkasa, DOGE Jadi Primadona

    Pergerakan market kripto pada Kamis (27/10) pagi masih melambung tinggi di zona hijau, terutama altcoin DOGE. Secara umum, nilai aset kripto masih menjulang lantaran investor sedang punya selera risiko tinggi.

    Secara keseluruhan sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap nyaman di zona hijau pada perdagangan Kamis (27/10) pukul 09.00 WIB. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, nilai Bitcoin berada di harga US$ 20.788, naik 2,81% dalam 24 jam terakhir.

    Altcoin lainnya juga mengalami hal yang sama. Nilai Ethereum (ETH) ikut terbang 5,50% ke US$ 1.567 sehari terakhir. Di sisi lain, Dogecoin (DOGE) yang tumbuh mengesankan masing-masing 16,62% dalam 24 jam terakhir di market kripto.

    “Nilai DOGE diketahui melonjak setelah CEO Tesla, Elon Musk, dikabarkan akan resmi mengambil alih perusahaan media sosial Twitter pada Jumat (28/10) mendatang. Investor yakin peristiwa itu bisa memperluas adopsi DOGE di platform tersebut,” kata Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.

    Elon Musk usul Twitter dan Tesla terima pembayaran pakai Dogecoin. Foto: PCmag.
    Elon Musk usul Twitter dan Tesla terima pembayaran pakai Dogecoin. Foto: PCmag.

    Baca juga: Tokocrypto Market Signal 26 Oktober 2022: Kripto Kompak Hijau

    Analisa Bitcoin

    Sementara itu, pergerakan Bitcoin masih hijau naik sebesar 2,75% dalam 24 jam terakhir. Naiknya harga tersebut mengindikasikan adanya whale atau institusional yang melakukan aksi beli dengan jumlah tinggi. Hal tersebut terlihat dari kenaikan total kapitalisasi market kripto naik sebesar 4,49%, ditutup pada level US$ 1 triliun.

    “Kondisi ini berhasil merubah sentimen market. Fear and greed index berhasil merangkak naik ke level 32 dengan kategori fear, yang sebelumnya konsisten berada pada kategori extreme fear,” jelas Afid.

    Menurut Afid, BTC bisa bergerak lebih tinggi dan mendapatkan sentimen positif dari market. Level resistance terdekat di level US$ 21.488 menjadi target utama laju bullish Bitcoin saat ini.

    Indeks Saham AS dan The Fed

    Berbanding terbalik dengan market kripto, saat ini indeks saham AS terpantau berkinerja buruk pasca rentetan laporan keuangan perusahaan raksasa teknologi yang mengecewakan.

    Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.
    Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.

    Baca juga: NGOBRAS Season 2: Investasi Kripto Jangan Kaya Halloween

    “Hal ini terbilang anomali mengingat investor selalu mengaitkan kinerja aset kripto dengan performa saham teknologi lantaran keduanya punya profil risiko yang serupa,” tutur Afid.

    Di sisi lain, jika melihat nilai Dolar AS (DXY) yang sedang melemah dalam beberapa hari terakhir, dimanfaatkan oleh investor untuk mengakumulasi aset kripto di market. DXY di level 109,66 pada pukul 09.00 WIB turun 0,25%.

    Selera risiko investor juga semakin bertenaga setelah muncul peluang bahwa The Fed kemungkinan tidak akan terlalu agresif dalam mengetatkan kebijakan moneternya. “Hal itu, tentu saja, akan menjadi berkah bagi kinerja aset berisiko ke depan.”

    Tanggal penting untuk mengawasi sentimen dari The Fed adalah 28 Oktober perilisan, Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) dan 1–2 November, rapat FOMC keputusan kenaikan suku bunga.



    Sumber : news.tokocrypto.com