Pasar kripto dan Bitcoin (BTC) memulai perdagangan di pekan terakhir bulan Mei dengan kuat karena pemerintah Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan kesepakatan untuk mencegah krisis plafon utang. Bitcoin dan Ethereum (ETH) pun mengalami peningkatan masing-masing sebesar 5% dan 4,9% saat berita tersebut diumumkan.
Dilaporkan BBC, presiden AS, Joe Biden dan lawannya dari Partai Republik telah mengumumkan bahwa mereka pada prinsipnya telah sepakat untuk menaikkan plafon utang AS dan mencegah gagal bayar. Presiden menggambarkan perjanjian itu sebagai “kompromi”, sementara Ketua DPR AS, Kevin McCarthy mengatakan itu “layak untuk rakyat Amerika.”
Kesepakatan itu, setelah berminggu-minggu negosiasi yang sengit, masih perlu disetujui oleh Kongres yang terpecah. AS harus meminjam uang untuk mendanai pemerintah karena membelanjakan lebih banyak daripada menaikkan pajak. Departemen Keuangan telah memperingatkan AS akan kehabisan uang pada 5 Juni tanpa kesepakatan.
Rincian kesepakatan tentatif belum dirilis secara resmi – tetapi CBS, mitra BBC di AS, melaporkan bahwa pengeluaran pemerintah non-pertahanan akan tetap datar selama dua tahun dan kemudian meningkat sebesar 1% pada tahun 2025.
Aset kripto Bitcoin memulai hari perdagangan pada hari Senin (29/5) pagi naik 5% menjadi US$ 28.249, sementara Ethereum naik 4,9% menjadi US$ 1.917 imbas dari kesepakatan platfon utang AS. Setelah memperlambat akumulasi, whales Bitcoin yang memiliki 10.000 atau lebih terus mengumpulkan Bitcoin secara agresif selama akhir pekan. Dalam 24 jam terakhir, kripto telah mengalami likuidasi lebih dari US$ 118 juta.
Bitcoin masih turun 2,8% selama sebulan terakhir, karena krisis plafon utang AS yang membayangi sangat membebani kelas aset.
Akumulasi Bitcoin masih terbatas karena altcoin tertentu juga menunjukkan tanda-tanda kenaikan jangka pendek. Namun, mempertahankan reli di level yang lebih tinggi mungkin terbukti sulit bagi investor maupun trader.
Setelah kesepakatan plafon utang, investor cenderung memusatkan perhatian mereka pada kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures) yang panas pada 26 Mei meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan Fed bulan Juni.
Probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin telah meningkat dari 17% seminggu kembali menjadi 64% pada 28 Mei, menurut CME FedWatch Tool.
BTC harus bertahan di atas R2, R1, dan pivot US$ 28.397 untuk menargetkan Level Resistensi Utama Ketiga (R3) di $27.463 dan US$ 28.500. Pergerakan melalui tertinggi di US$ 28.191 akan menandakan sesi bullish yang diperpanjang. Kabel berita harus ramah kripto untuk mendukung reli yang diperpanjang, seperti kabar positif kesepakatan platfon utang AS.
Jika reli diperpanjang, BTC kemungkinan akan menguji resistensi di US$ 28.500.
Penurunan melalui Level Resistensi Utama dan pivot akan memainkan Level Dukungan Utama Pertama (S1) di US$ 27.675. Namun, kecuali aksi jual yang dipicu peristiwa, BTC harus menghindari di bawah US$ 27.500 dan Level Dukungan Utama Kedua (S2) di US$ 27.464. Level Dukungan Utama Ketiga (S3) berada di US$ 27.131.
Pastikan kamu hanya melakukan Nabungkripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, nabung kripto jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.
Minat investor kripto terhadap Bitcoin meningkat di tengah gejolak krisis perbankan global. Banyak analis melihat potensi peningkatan ini bisa mencapai harga US$ 30.000 atau sekitar Rp 425 juta.
DikutipBeInCrypto, melihat lebih dekat pada metrik on-chain mengungkapkan bahwa whales dan pemegang jangka panjang sekarang memposisikan diri untuk Bitcoin di harga US$ 30.000.
Sejak tren ambil untung baru-baru ini pada 7 Maret, usia rata-rata Bitcoin yang diperdagangkan telah menurun drastis. Bitcoin secara konsisten diperdagangkan di atas US$ 27.000 selama hampir dua minggu terakhir.
Krisis Perbankan
Gejolak di sektor perbankan, baik di Amerika Serikat dan global tampaknya baru-baru ini menghidupkan kembali minat investor korporat dan ritel terhadap Bitcoin. Metrik on-chain kritis mengungkapkan bagaimana minat investor yang diperbarui dapat mempercepat reli harga BTC yang sedang berlangsung.
Signature Bank dan Silicon Valley Bank (SVB) mengalami bank run, sementara bank Swiss berusia 166 tahun, Credit Suisse, juga terkena peristiwa yang dramatis pada Maret 2023.
Menurut platform Santiment, lebih sedikit token yang dipegang lama saat ini diperdagangkan di jaringan Bitcoin. Sejak lonjakan baru-baru ini pada 7 Maret menjadi 24,58 bulan, BTC Age Consumed telah turun menjadi 2,78 bulan pada 27 Maret.
indeks Age Consumed menunjukkan jumlah token yang mengubah alamat pada tanggal tertentu, dikalikan dengan jangka waktu terakhir dipindahkan. Ketika nilai Age Consumed meningkat, hal ini menunjukkan bahwa peserta jaringan yang sudah lama melakukan divestasi dari aset dasar.
Aksi Harga Bitcoin
Target selanjutnya untuk BTC adalah US$ 30.000, menurut data Global In/Out of Money (GIOM) IntoTheBlock. GIOM menunjukkan distribusi pemegang saat ini di sepanjang garis harga pembelian rata-rata mereka.
Jika BTC dapat menembus resistensinya saat ini sekitar US$ 28.000, ia akan menghadapi resistensi minimal hingga mencapai US$ 30.800, di mana 1,36 juta wallet mungkin terlihat mengambil untung dari 536.000 kepemilikan BTC mereka.
Namun, BTC dapat memasuki reli berkepanjangan jika resistensi US$ 30.800 tidak memicu koreksi yang signifikan. Resistensi kritis berikutnya adalah sekitar US$ 39.000, dengan hampir 5 juta wallet addresses menyimpan 2 juta Bitcoin.
Namun, bearish dapat membatalkan sikap bullish ini jika harga Bitcoin turun di bawah US$ 27.000. Jika dukungan US$ 23.000 di mana 4 juta alamat membeli 1,54 BTC tidak dapat menahan penurunan harga, BTC dapat sekali lagi turun di bawah US$ 20.000. Di sekitar wilayah US$ 19.800, BTC akan menemukan dukungan lain yang cukup besar dari 6 juta wallet yang membeli hampir 3 juta Bitcoin.
Pastikan kamu hanya melakukan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah. Anda juga bisa menyimak berbagai informasi terbaru mengenai kripto dengan mengunjungi website Tokocrypto, Instagram, Twitter, serta komunitas Tokocrypto.
DISCLAIMER: Analisa Market ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.
Menjelang akhir pekan keempat Agustus 2022, market aset kripto terus mengalami tekanan. Namun, secara keseluruhan pergerakan harga 10 kripto berkapitalisasi besar atau big cap masih tergolong sideways dengan perdagangan direntang harga yang terbatas dengan volatilitas tinggi.
Melansir CoinMarketCap pada hari Jumat (26/8) pada pukul 13.00 WIB, nilai Bitcoin bertengger di zona merah dengan harga US$ 21.376 atau turun 1,59% selama 24 jam terakhir atau anjlok 2,95% dalam sepekan. Altcoin lainnya, Ethereum (ETH) yang digadang-gadang akan memasuki fase bullish jelang The Merge, juga lengser 3,21% di harga US$ 1.649 selama 24 jam terakhir
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan market kripto bergerak flat atau sideways dalam beberapa hari terakhir, lantaran mengantisipasi simposium The Fed di Jackson Hole, Wyoming, AS, pada Jumat (26/8) waktu setempat. Investor memilih wait and see terhadap kepastian arah kebijakan moneter AS ke depan ketimbang buru-buru melakukan price actions di market kripto.
“Investor tengah bersikap memasang kuda-kuda menanti hasil simposium ekonomi The Fed di Jackson Hole. Dalam perhelatan itu, Ketua The Fed, Jerome Powell, digadang akan menyampaikan arah kebijakan moneter terbaru AS demi meredam inflasi. Saat ini banyak spekulasi menawarkan beberapa petunjuk apakah The Fed lebih memilih kenaikan suku bunga 50 atau 75 basis poin, yang akan diumumkan di pertemuan FOMC pada 13 September mendatang,” kata Afid.
Ketua The Fed, Jerome Powell. Foto: REUTERS / Yuri Gripas
Dari sisi sentimen makroekonomi lainnya memang saat ini belum mendukung market kripto. Meningkatnya inflasi di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa yang tinggi, tentu membuat komoditas beresiko seperti aset kripto ikut terdampak.
“Investor sedang memutar otak untuk mengamankan aset mereka dan memilih instrumen investasi yang dirasa lebih aman. Terlebih dalam beberapa hari terakhir ini indeks dolar AS menguat moderat,” jelas Afid.
Di samping itu data Glassnode, dalam laporan on-chain terbarunya yang berjudul “A Bear Market Mirage” menyebutkan total arus masuk (inflows) dan arus keluar (outflows) di semua exchange kripto turun ke posisi terendah sejak akhir 2020. Penurunan tersebut menunjukkan kurangnya minat investor secara umum terhadap market kripto.
Glassnode menyebutkan kondisi pasar kripto saat ini hampir sama dengan pada saat bear market tahun 2018. Namun, tahun ini pasar belum mencatat arus masuk yang signifikan untuk mendorong tren pemulihan yang berkelanjutan. Artinya market kripto untuk bull run sulit terjadi dalam jangka pendek hingga akhir tahun.
Kapitalisasi atau market cap kripto secara keseluruhan juga masih bertengger di atas US$ 1 triliun sejauh bulan Agustus ini. Secara umum, market cap kripto telah kehilangan nilai kapitalisasi sekitar US$ 1,2 triliun sejak Januari 2022.
Pergerakan nilai Bitcoin untuk level resistensi terdekat berada di harga US$ 22.370. Level support masih berada pada level US$ 20.701 dan jika breakdown atau tertembus penurunan selanjutnya bisa menargetkan ke harga US$ 19.005.
Sementara, untuk Ethereum level support terdekat masih berada di harga US$ 1.597 dan jika terus tertekan bisa terjadi penurunan lanjutan menuju US$ 1.356. Semua pergerakan masih menunggu konfirmasi dari sinyal The Fed dalam acara pertemuan Jackson Hole nanti.
Banyak orang masuk ke dunia crypto hanya karena melihat harga naik drastis atau mendengar cerita sukses orang lain. Masalahnya, tanpa analisis yang tepat, banyak juga yang berakhir rugi karena salah pilih aset. Di sinilah analisis fundamental (FA) jadi penting.
Berbeda dengan analisis teknikal (TA) yang fokus pada grafik harga dan pola pergerakan, analisis fundamental melihat nilai intrinsik sebuah proyek: seberapa solid teknologi, tim pengembang, dan apakah tokennya benar-benar punya kegunaan nyata.
Dalam artikel ini, kita akan membahas pengertian analisis fundamental, alasan mengapa ia penting, komponen utama yang harus diperhatikan, hingga tips strategi lanjutan untuk memilih aset crypto yang lebih aman dan berpotensi jangka panjang.
Apa itu Analisis Fundamental dalam Crypto?
Analisis fundamental adalah pendekatan untuk menilai suatu proyek crypto berdasarkan aspek paling fundamental (mendasar), seperti whitepaper, tim pengembang, tokenomics, komunitas, hingga keuangan, dan faktor-faktor yang ada di dalam jaringan proyek crypto tersebut.
Tujuannya tidak lain untuk mengetahui nilai intrinsik dari proyek tersebut. Apakah aset crypto undervalued atau overvalued, sehingga kamu bisa mempertimbangkan potensi proyek crypto tersebut ke depannya.
Kenapa Analisis Fundamental Penting?
Menurut data dari Dune, hingga September 2025, terdapat lebih dari 47 juta token crypto yang masih terus bertambah setiap harinya.
Banyak proyek crypto tersebut lahir dengan membawa narasi besar dan janji inovasi revolusioner. Mulai dari teknologi blockchain generasi baru, solusi keuangan terdesentralisasi (DeFi), hingga ekosistem metaverse yang digadang-gadang menjadi masa depan interaksi digital.
Namun, realitas di lapangan seringkali berbeda. Tidak sedikit dari proyek-proyek tersebut yang kehilangan arah pengembangan, gagal membangun basis pengguna, atau bahkan terhenti total karena masalah pendanaan, lemahnya manajemen, hingga skema penipuan (rug pull).
Memahami aspek fundamental menjadi aspek penting yang membantu investor memahami nilai sebenarnya dari sebuah aset dan potensi ke depannya—karena terdapat jutaan token crypto yang tersedia, kamu butuh filter untuk menyaring proyek potensial atau yang hanya hype.
Analisa Fundamental ini yang bisa menjadi salah satu filter tersebut, agar keputusan investasi kamu jadi lebih rasional, dan fokus pada aset yang memiliki peluang bertahan di tengah volatilitas pasar.
Terdapat tiga aspek utama yang dapat digunakan dalam analisis fundamental, yaitu faktor proyek, faktor keuangan, dan faktor on-chain. Penjelasan lengkapnya bisa kamu temukan pada artikel Apa Itu Altcoin Terbaik dan Bagaimana Cara Menilainya.
Selanjutnya, kita akan membahas metode untuk menghitung nilai sebuah proyek dan utility token crypto yang dapat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan investasi.
Cara untuk Mengetahui Nilai Proyek & Utility Token Crypto
Untuk mengetahui nilai dari suatu proyek crypto maka kamu harus tahu nilai riil sebuah aset yang dihitung berdasarkan karakteristik fundamentalnya. Dalam saham, ini bisa berasal dari pendapatan, arus kas, atau potensi pertumbuhan. Namun, di crypto, penilaiannya lebih kompleks karena aset digital tidak memiliki pendapatan tetap atau aset fisik sebagai penopang.
Faktor utama yang membentuk nilai intrinsik crypto meliputi:
Utility (Kegunaan) – Masalah apa yang diselesaikan proyek? Apakah memiliki use case nyata?
Scarcity (Kelangkaan) – Apakah suplai token terbatas atau inflasi tinggi?
Network Value (Nilai Jaringan) – Seberapa besar dan aktif ekosistemnya?
Security (Keamanan) – Seberapa kuat blockchain terhadap serangan?
Contoh:
Bitcoin mendapatkan nilai dari suplai tetap 21 juta koin, desentralisasi, dan keamanan proof-of-work.
Ethereum memperoleh nilai dari perannya sebagai tulang punggung DApps dan smart contract.
Untuk menghitung nilai proyek crypto, ada 3 metode umum yang bisa digunakan, seperti:
Metcalfe’s Law
Metcalfe’s Law adalah sebuah konsep yang menjelaskan bahwa nilai sebuah jaringan (network) akan meningkat seiring dengan jumlah penggunanya. Lebih tepatnya, nilai tersebut akan tumbuh sebanding dengan kuadrat dari jumlah pengguna aktif.
Sederhananya:
Jika hanya ada 2 orang dalam sebuah jaringan, mereka hanya bisa saling terhubung 1 kali.
Kalau ada 5 orang, koneksinya bisa jauh lebih banyak karena tiap orang bisa berhubungan dengan beberapa orang lain sekaligus.
Semakin banyak orang yang bergabung, semakin banyak juga interaksi yang mungkin terjadi—dan ini membuat jaringan jadi jauh lebih berharga.
Artinya, pertumbuhan nilai tidak sekadar naik linear (sedikit demi sedikit), melainkan bisa meningkat secara eksponensial.
Bagaimana cara menerapkannya?
Metode ini sangat relevan untuk menilai potensi aset proyek crypto yang memiliki ekosistem kuat dan banyak pengguna aktif—dengan cara kalkulasi sebagai berikut:
Nilai Jaringan∝n2
n = jumlah pengguna aktif
Nilai jaringan = bertambah secara kuadrat dari n.
Mari kita coba masukkan rumusnya ke dalam salah satu proyek crypto populer yakni—Solana.
Data Q3 2025 dari Token Terminal menunjukan jika Solana memiliki 2,9 juta daily active addresses.
Maka:
Nilai Jaringan = (2,900,000)2 = 8.410.000.000.000
Jadi berdasarkan Metcalfe’s Law, Solana memiliki nilai proyek sekitar 8,41 triliun unit (ukuran relatif yang bisa digunakan untuk dibandingkan dengan jaringan lain, bukan dalam USD).
Artinya, jika jumlah pengguna aktif Solana terus meningkat, nilai jaringannya akan naik jauh lebih cepat dari pertumbuhan pengguna itu sendiri. Misalnya, kenaikan 10% pengguna bisa membuat nilai jaringan bertumbuh lebih dari 20%.
Meskipun berguna sebagai gambaran besar, Metcalfe’s Law bukan alat analisis yang sempurna. Ada beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan:
Oversimplifikasi Rumus ini hanya menghitung jumlah pengguna, tanpa melihat kualitas interaksinya. Jaringan dengan 1.000 akun pasif jelas jauh kurang bernilai dibandingkan 100 akun yang aktif bertransaksi setiap hari.
Akurasi Data Menentukan angka “active users” tidak selalu mudah. Di blockchain, satu orang bisa memiliki banyak alamat dompet. Selain itu, bot dan spam account dapat memperbesar angka pengguna aktif secara semu, sehingga hasil analisis bisa bias.
Keterbatasan Perbandingan Tidak semua blockchain bisa dinilai hanya dari banyaknya pengguna. Ada jaringan dengan user base lebih kecil, tapi unggul di aspek lain seperti kecepatan transaksi, biaya lebih murah, atau skalabilitas lebih tinggi. Faktor-faktor ini sama pentingnya, namun tidak tercermin dalam perhitungan Metcalfe’s Law.
Metode ini menghitung nilai proyek crypto berdasarkan biaya yang diperlukan untuk memproduksinya. Pada blockchain berbasis Proof of Work (PoW) yang bisa ditambang (mining) misalnya seperti Bitcoin, dengan biaya produksi mencakup:
Listrik untuk menjalankan perangkat keras penambangan.
Hardware (misalnya ASIC miner) yang digunakan untuk menambang. Biaya operasional lain seperti pendinginan, sewa tempat, hingga perawatan peralatan.
Dalam beberapa kasus, ketika harga pasar sebuah aset crypto turun di bawah biaya produksinya, para penambang berisiko mengalami kerugian dan sebagian memilih untuk menghentikan operasinya.
Berkurangnya jumlah penambang dapat menurunkan laju suplai koin baru yang masuk ke pasar. Jika pada saat yang sama permintaan tetap stabil atau meningkat, kondisi ini dapat menciptakan kelangkaan yang berpotensi mendorong harga kembali naik, mendekati atau bahkan melampaui biaya produksinya.
Maka dari itu biaya produksi sering dijadikan indikator batas bawah nilai wajar (intrinsic floor value) sebuah aset crypto berbasis Proof of Work.
Contohnya saat pasar bearish 2022, harga Bitcoin sempat jatuh ke $16.000, sementara biaya produksi rata-rata mencapai $20.998.
Selisih negatif sekitar -$4.998 artinya banyak penambang merugi setiap kali mereka menghasilkan 1 BTC dan penambang kecil atau yang tidak efisien terpaksa berhenti beroperasi karena tidak lagi menguntungkan.
Akibatnya, hashrate jaringan menurun, sehingga protokol Bitcoin melakukan difficulty adjustment yang secara otomatis menyesuaikan kesulitan menambang agar probabilitas penambang menemukan blok meningkat, sehingga potensi profitabilitas mereka juga naik dan membuat harga produksi sesuai dengan harga pasar.
Metode ini menilai nilai intrinsik crypto dengan cara memproyeksikan manfaat di masa depan—seperti volume transaksi atau tingkat adopsi, lalu menghitung kembali nilainya ke saat ini menggunakan discount rate. Konsepnya mirip dengan discounted cash flow (DCF) di analisis keuangan tradisional.
Bagaimana cara menerapkannya? Analis biasanya memperkirakan:
Use case yang mungkin berkembang di masa depan.
Tingkat adopsi (berapa banyak orang yang akan menggunakan).
Aktivitas transaksi (berapa banyak transaksi yang akan terjadi).
Setelah itu, proyeksi manfaat ekonomi tadi “didiskon” agar sesuai dengan nilai saat ini, karena uang atau manfaat masa depan nilainya selalu lebih rendah dibanding hari ini.
Mari kita coba ke satu proyek crypto populer yakni—TRON (TRX).
Tron mendapatkan nilai intrinsiknya dari perannya sebagai pembayaran digital, DeFi, dan transfer stablecoin.
Menurut data Token Terminal, total transaksi harian Tron mencapai 9 juta dengan rata-rata biaya transaksi $0.8186.
Dengan asumsi biaya rata-rata per transaksi adalah $0,8186, maka total biaya transaksi harian adalah:
9.000.000×0,8186=$7.367.400 per hari
Ini setara dengan biaya transaksi tahunan sebesar:
7.367.400×365=$2,689 miliar per tahun
Untuk menghitung nilai intrinsik Tron selama 10 tahun ke depan, kamu bisa menerapkan discount rate sebesar 10%. Dengan menggunakan rumus discounted value, total nilai terdiskon dari biaya transaksi Tron selama 10 tahun kedepan diperkirakan mencapai sekitar $16,52 miliar.
Jadi hasil estimasi discounted utility model nilai intrinsik Tron berdasarkan data tadi ada di $16,52 miliar.
Contoh tersebut hanya ilustrasi untuk menunjukkan cara kerja discounted utility model dalam memperkirakan nilai intrinsik Tron, sementara dalam kenyataannya biaya transaksi tidak tetap dan bisa berubah karena faktor jaringan, jenis transaksi, maupun insentif pengguna.
Penutup
Analisis fundamental crypto adalah metode untuk menilai nilai intrinsik sebuah proyek berdasarkan faktor mendasar seperti teknologi, tim pengembang, tokenomics, komunitas, dan data on-chain. Dengan lebih dari 47 juta token crypto yang beredar, FA menjadi filter penting untuk membedakan proyek potensial dari sekadar hype.
Tiga pendekatan populer untuk menghitung nilai proyek dan utility token adalah Metcalfe’s Law (mengukur nilai jaringan dari jumlah pengguna aktif), Cost of Production (biaya produksi sebagai batas bawah harga wajar), dan Discounted Utility Model (memproyeksikan manfaat ekonomi masa depan lalu mendiskontokannya ke nilai saat ini).
Memahami metode ini membantu investor mengidentifikasi aset undervalued atau overvalued, mengurangi risiko, dan fokus pada crypto dengan prospek jangka panjang.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda.
Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.
Referensi:
Cointelegraph. Intrinsic value of crypto: What is it and how to calculate it. 2024
CFX. Mengenal Analisis Fundamental dalam Aset Kripto. 2025
IQ atau Intelligence Quotient merupakan ukuran kemampuan seseorang dalam berpikir logis, memecahkan masalah, hingga memahami konsep abstrak. Menurut Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi, kecerdasan intelektual mencakup banyak aspek seperti kemampuan numerik, daya tangkap, logika, hingga kemampuan berpikir fleksibel dan abstrak.
“Tapi kalau IQ itu aspeknya ada banyak,ada kemampuan daya abstraksi, secara numerik, secara daya tangkap, secara logika, analisa masalah, kemampuan dia berpikir secara fleksibel dan secara abstrak atau secara utuh, jadi aspeknya itu ada banyak kalau di inteligensi,” jelasnya saat dihubungi detikcom, Rabu (15/10/2025).
Ia menegaskan, seseorang yang pandai berbicara belum tentu memiliki IQ tinggi, begitu juga sebaliknya. “Tidak ada korelasi pasti antara yang jago bicara dengan IQ tinggi, atau yang perilakunya sopan dengan kecerdasan intelektual,” tambahnya.
Meski begitu, beberapa tanda bisa mengindikasikan seseorang memiliki kemampuan berpikir yang lebih rendah dari rata-rata. Misalnya, sulit berkomunikasi, sering menanyakan hal yang sama berulang kali, atau mengalami kesulitan saat menarik kesimpulan dari suatu masalah.
“Proses berpikirnya juga tidak jangka panjang. Itu biasanya ciri-cirinya,” kata Sari.
“Saya rasa nggak ada kebiasaan, paling kebiasaannya nanya yang sama berulang-ulang gitu ya,” lanjutnya.
Di sisi lain, ia juga menegaskan hobi seseorang tidak bisa dijadikan tolok ukur kecerdasan. Menurutnya, kegiatan yang digemari seseorang lebih banyak mencerminkan karakter dan kepribadian, bukan tingkat IQ.
“Tapi tentu saja orang dengan inteligensi yang nggak terlalu tinggi biasanya ya sulit untuk melakukan hobi-hobi yang pakai proses berpikir, misalkan hobi catur, hobi merangkai sesuatu, merakit sesuatu. Kalau dia IQ-nya rendah, nih konteksnya ngomong rendah tuh rendah banget ya, tinggi-rendah standar rendah lah, di bawah garis jauh gitu ya, pasti kesulitan untuk menjalankan hobi-hobi yang seperti itu,” sambungnya lagi.