Menjelang akhir pekan, performa market kripto terus tertunduk lesu. Pergerakan sejumlah aset kripto teratas bahkan masih betah berada di zona merah dalam tiga hari terakhir. Kenapa bisa begitu?
Secara keseluruhan sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap anjlok ke zona merah pada perdagangan Jumat (21/10) pukul 13.00 WIB. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, nilai Bitcoin berada di harga US$ 19.056, turun 0,37% dalam 24 jam terakhir dan anjlok 3,68% sepekan terakhir.
Altcoin lainnya juga mengalami hal yang sama. Nilai Ethereum (ETH) ikut tenggelam minus 0,18% ke US$ 1.288 sehari terakhir. XRP, Cardano (ADA), Solana (SOL), dan Polygon (MATIC) turun lebih dari 3%.
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan sepekan terakhir market kripto memang tampak belum mampu reli panjang, sehingga lesu sepanjang pekan ini. Market masih berada di fase konsolidasi lantaran investor belum bersikap all out.
“Investor masih wait and see, sehingga menimbulkan keraguan. Ekspektasi atas kenaikan suku bunga acuan The Fed yang kencang terus membayangi. Terlebih rapat The Fed akan berlangsung dua pekan lagi, ini yang membuat investor berpikir ulang sebelum beraksi di pasar kripto,” kata Afid.
Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.
Banyak investor cemas potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 75 basis poin di bulan depan. Pasalnya, inflasi tahunan AS September masih bertengger di 8,2%, jauh dari target inflasi The Fed yakni 2%. Bahkan ada kabar bahwa The Fed membuka peluang untuk mengerek suku bunga acuan hingga menuju lebih dari 4% di akhir tahun.
Sikap investor saat ini sepertinya kembali melirik Bitcoin dibanding altcoin, jika diukur dari persentase penguatannya. Bitcoin Dominance kembali ke level 40%.
Dari analisis teknikal, Bitcoin melanjutkan laju penurunan setelah kandil harian ditutup merah dengan penurunan sebesar 1,05%. Penutupan kandil tersebut sekaligus menjadi konfirmasi terhadap breakdown 20-day exponential moving average (EMA).
Pergerakan harga Bitcoin sedang retest di level support-nya US$ 18.920. Jika terus breakdown, penurunan diperkirakan akan berlanjut hingga menyentuh titik support di level US$ 18.510.
Altcoin yang sedang alami penurunan yang signifikan dan masuk fase bearish adalah Axie Infinity (AXS) yang nilainya anjlok 8,84% dalam sehari terakhir. Nilai AXS tenggelam setelah jumlah pemain game Axie Infinity menyusut signifikan dalam sebulan belakangan.
Selain itu, investor AXS menduga bahwa sebanyak 21,5 juta token AXS yang saat ini memasuki vesting period akan segera dibuang pemiliknya setelah periode tersebut berakhir Senin (24/10) mendatang.
Vesting period adalah sebuah jangka waktu tertentu di mana pemilik token wajib menyimpan tokennya sebelum bisa menjual atau mentransaksikannya. Alasan di balik proses ini adalah agar melindungi investor awal dari fluktuasi harga yang besar dan menghindari skema “pump and dump”.
Performa market kripto pada perdagangan Senin (17/10) pagi terlihat sideways, meski sejumlah aset big cap masih tembus zona hijau dalam 24 jam terakhir. Hal ini memperlihatkan investor yang masih kurang bergairah masuk ke market pada akhir pekan lalu.
Dari pantauan CoinMarketCap pada Senin pukul 10.00 WIB, nilai Bitcoin berada di harga US$ 19.201, naik 0,43% dalam 24 jam terakhir. Altcoin lainnya juga mengalami hal yang sama. Nilai Ethereum (ETH) ikut naik 1,41% ke US$ 1.299 sehari terakhir. XRP, Solana (SOL), dan Dogecoin (DOGE) juga naik tipis lebih dari 0%.
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat pergerakan nilai aset kripto terlihat bervariasi selama akhir pekan lalu, terlihat tak begitu signifikan alias bergerak dalam rentang harga yang tipis atau sideways. Investor belum punya keyakinan kuat mengenai arah laju nilai aset kripto ke depan.
“Sumber kebimbangan investor masih dibayangi oleh kemungkinan The Fed untuk kembali mengerek suku bunga acuan 75 basis poin pada bulan depan. Apalagi, dalam minutes of meeting yang dirilis pekan lalu, The Fed berkomitmen untuk menekan inflasi AS hingga 2%,” kata Afid.
Performa indeks saham AS juga melemah imbas data inflasi AS September yang berada di 8,2%, lebih tinggi dari perkiraan analis 8,1%. Kemudian, ada laporan dari the University of Michigan yang memprediksi bahwa rata-rata inflasi AS selama setahun ke depan akan berada di 5,1%, lebih tinggi dari prakiraan September yakni 4,7%.
“Gerak market kripto masih diselamatkan oleh performa indeks dolar AS (DXY) yang masih melemah. Per Senin (17/10), DXY melemah di level 112.97 turun -0.31%. Investor kripto memanfaatkan situasi ini untuk sedikit masuk ke market kripto untuk akumulasi,” terang Afid.
Dari segi analisis teknikal, Bitcoin (BTC) masih kuat di rentang harga US$ 19.000 di tengah ekspektasi atas kenaikan suku bunga The Fed. Level ini menjadi support terkuat BTC.
Pasalnya, BTC sempat mengalami rebound setelah bereaksi negatif terhadap pengumuman CPI AS September. Penurunan harga tersebut tidak berlangsung lama karena tertahan support yang berhasil membalikan arah harga dari turun menjadi naik.
Apabila pergerakan harga Bitcoin berhasil mempertahankan laju hijaunya, kemungkinan tren positif tersebut akan dilanjutkan hingga harga US$ 19.513. “Periode penguatan level support Bitcoin saat ini adalah kabar baik untuk kenaikan jangka panjang.”
Sementara, untuk pergerakan harga ETH, apabila mampu breakout resistance terdekatnya, kemugkinan laju naik akan berlanjut dengan target berada pada level US$ 1.356. Kedua hal itu bisa terjadi asal performa indeks saham AS tidak melemah di tengah musim pelaporan keuangan (earnings season).
Market kripto nampak membuat hati investor sedikit senang saat menjelang akhir pekan ini. Pergerakan market aset kripto, terutama Bitcoin kembali reli naik, padahal sempat tertekan oleh data inflasi AS bulan September yang meninggi. Kenapa bisa begitu?
Secara keseluruhan sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap melaju tipis ke zona hijau pada perdagangan Jumat (14/10) pukul 13.00 WIB. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, nilai Bitcoin berada di harga US$ 19.792, naik 3,67% dalam 24 jam terakhir.
Altcoin lainnya juga mengalami hal yang sama. Nilai Ethereum (ETH) ikut naik 3,02% ke US$ 1.325 sehari terakhir. XRP, Solana (SOL), dan Dogecoin (DOGE) bahkan naik lebih dari 3%.
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan market kripto berhasil rebound akibat kinerja indeks saham AS yang juga menguat. Di samping itu, rupanya indeks dolar AS (DXY) juga pada hari ini melemah.
“Sama seperti yang terjadi di indeks saham AS, performa aset kripto juga bergerak naik, walau sempat tertekan dan turun tajam saat data inflasi AS terbaru dirilis pada Kamis (13/10) kemarin. Awalnya, nilai aset kripto berguguran, tapi akhirnya tertahan setelah investor melihat rebound kencang indeks saham AS,” kata Afid.
Data inflasi AS guncang pasar, Bitcoin dan Ethereum jatuh. Foto: Reuters.
Menurutnya hal ini sangat wajar karena saat ini banyak investor institusi dan ritel melihat kinerja indeks saham AS untuk melihat gambaran selera risiko investor secara umum, termasuk ke market kripto.
Reli Rentan Tertahan
Meski demikian, reli saat ini diproyeksikan akan terlangsung singkat. Investor masih belum bisa lepas dari bayangan kebijakan moneter The Fed. Setelah perilisan data inflasi AS September yang berada di atas prakiraan, yaitu tercatat 8,2%, tentu akan membuat The Fed serius melakukan pengetatan kebijakan moneternya.
“Kini, investor semakin yakin The Fed akan menaikkan suku bunganya 75 basis poin dalam pertemuan rapat komite pasar terbuka federal (FOMC) bulan depan. Hanya saja, performa indeks saham AS kembali ke zona hijau setelah pelaku pasar memutuskan buru-buru memborong saham. Alasannya, mereka yakin ke depan akan banyak pelaporan keuangan (earnings season) emiten saham AS sepanjang bulan ini yang akan menunjukkan hasil normatif,” jelas Afid.
Dari sisi analisis teknikal, harga BTC sempat menyentuh US$ 19.835 pada Jumat (14/10) siang, setelah sebelumnya tersungkur dengan harga jual menyentuh US$ 18.319 atau jadi titik terendah dalam tiga pekan terakhir. Harga Bitcoin kembali pullback dan berhasil bergerak naik tinggi setelah menyentuh titik support tersebut.
Laju pullback Bitcoin masih sangat dinamis dengan level resistance pada level US$ 20.102 yang saat ini menjadi tahanan terdekat apabila harga kembali koreksi. Level support terdekat, di level US$ 19.488, bila kembali terjadi penurunan.
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kemendag merilis angka terbaru terkait jumlah investor dan volume transaksi perdagangan aset kripto di Indonesia. Hasilnya sejak awal tahun 2022 ini, terjadi penurunan yang cukup signifikan.
Dalam data terbaru yang dirilis, pada 2021, total nilai transaksi perdagangan aset kripto mencapai Rp 859,5 triliun. Sedangkan, total nilai transaksi pada Januari—Agustus 2022 tercatat sebesar Rp 249,3 triliun atau turun 56,35 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Sementara dari sisi jumlah investor, per Agustus 2022 terdapat 16,1 juta pelanggan dengan rata-rata kenaikan jumlah pelanggan terdaftar sebesar 725 ribu pelanggan per bulan. Artinya jumlah investor kripto di Indonesia terus mengalami pertumbuhan.
Ketua Umum ASPAKRINDO, Teguh Kurniawan Harmanda di acara Web3 Community Event, pada Jumat 26 Agustus 2022. Foto: Tokocrypto.
Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ASPAKRINDO), Teguh Kurniawan Harmanda, melihat penurunan volume transaksi kripto di Indonesia merupakan efek domino dari apa yang terjadi di global. Market kripto global tengah dihantam oleh situasi makroekonomi yang kurang baik sepanjang tahun ini.
“Guncangan sistem keuangan global bisa memberikan efek cukup besar bagi pasar kripto. Guncangan tersebut adalah situasi makroekonomi yang goyah akibat resesi dan geopolitik yang memanas. Hal ini bisa membuat situasi crypto winter bisa terjadi,” kata pria yang akrab disapa Manda.
Guncangan Ekonomi Global
Menurutnya, market kripto yang lesu juga didorong oleh kebijakan moneter AS, yang membuat investor kurang bergairah. Seperti diketahui, menurut Statista, AS memiliki volume perdagangan Bitcoin terbanyak di bursa.
Pengetatan kebijakan The Fed menaikkan suku bunga acuannya guna menekan inflasi bisa mengancam market kripto. Kenaikan suku bunga akhirnya menyebabkan harga komoditas yang lebih tinggi dan daya beli melemah, investor akan menjauhi market.
“Kenaikan harga kebutuhan pokok membuat investor untuk wait and see. Ini yang mulai terasa di Indonesia, investor memilih menunggu momen yang tepat untuk masuk kembali ke market kripto, di saat situasi makroekonomi sudah stabil,” jelasnya.
Bitcoin (BTC) telah mengalami pemulihan dalam ekosistem pasar kripto sejak awal bulan Juni. Aset kripto utama ini melampaui harga tertinggi sepanjang masa (ATH) di atas US$ 31.000 untuk tahun ini, pada minggu lalu, setelah serangkaian tren naik yang konsisten didorong oleh peningkatan jumlah permintaan.
Kenaikan nilai Bitcoin yang luar biasa ini telah menarik perhatian investor dan analis pasar. Salah satu aspek yang menarik yang muncul dari lonjakan harga baru-baru ini adalah sinyal bullish langka yang terungkap melalui data on-chain. Sinyal ini, yang mengindikasikan potensi pergerakan naik lebih lanjut, memberikan dorongan tambahan terhadap antusiasme yang sudah tumbuh seputar Bitcoin.
Menurut Glassnode, pertumbuhan BTC dari harga US$ 25.000 hingga di atas level US$ 30.000 telah mengirimkan lebih dari 1,8 juta koin Pemegang Jangka Pendek (STH) menjadi keuntungan. Persentase alamat yang menguntungkan menyumbang 96,9% dari BTC dalam kategori pasokan jangka pendek ini.
Sinyal Tren Naik
Data on-chain, yang mencakup berbagai metrik dan indikator yang diperoleh dari blockchain Bitcoin, memberikan wawasan berharga tentang aktivitas dan dinamika jaringan. Dengan menganalisis metrik on-chain ini, para ahli dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang sentimen pasar dan memprediksi pergerakan harga potensial.
Data on-chain terbaru untuk Bitcoin telah mengungkap pola yang khas yang jarang teramati dalam pasar bullish. Hal ini memberikan tingkat kepercayaan diri tambahan kepada investor, menandakan bahwa lonjakan harga yang sedang berlangsung mungkin masih memiliki ruang untuk tumbuh. Sinyal langka seperti ini sering dianggap sebagai indikator tren naik yang signifikan dan dapat mendorong partisipasi pasar yang lebih tinggi.
Sinyal ini memiliki banyak nada yang menjanjikan yang patut disorot. Ada kecenderungan umum untuk melihat lebih banyak aliran masuk modal, ketika ketakutan seputar aset tertentu telah dihilangkan. Ini adalah kasus Bitcoin karena pemulihan harga baru-baru ini dan pengujian ulang titik resistensi terpenting dalam beberapa bulan, lebih banyak trader mungkin merasa lebih nyaman untuk masuk.
Menurut data on-chain, volume perdagangan Bitcoin belum mengejar sentimen bullish karena turun 42% pada saat penulisan. Jika volume pembelian harian mengejar momentum harga saat ini, kita dapat mengharapkan lompatan yang signifikan dalam waktu dekat.
Lonjakan Terbaru
Lonjakan terbaru dalam nilai Bitcoin dapat dikaitkan dengan beberapa faktor. Salah satu faktor utamanya adalah meningkatnya minat institusional terhadap industri kripto. Institusi keuangan besar dan perusahaan semakin menyadari potensi BTC sebagai sarana penyimpan nilai dan lindung nilai terhadap inflasi. Adopsi institusional ini tidak hanya memberikan validasi bagi Bitcoin, tetapi juga menarik aliran modal yang signifikan ke pasar.
Dari aplikasi untuk produk ETF Bitcoin spot oleh BlackRock, perusahaan manajemen aset terbesar di dunia dan pengelola uang lainnya hingga investasi dalam penambangan Bitcoin oleh Tether melakukan banyak hal untuk meningkatkan sentimen secara keseluruhan. Ini teknis mendukung tesis pertumbuhan yang diproyeksikan, ada fundamental yang menguntungkan untuk mendukung pertumbuhan BTC dalam waktu dekat.
Selain itu, penerimaan dan integrasi Bitcoin dalam keuangan mainstream juga memainkan peran penting dalam meningkatkan nilai Bitcoin. Prosesor pembayaran besar dan perusahaan-perusahaan telah mulai menerima BTC sebagai bentuk pembayaran, yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai medium pertukaran yang sah. Selain itu, pengembangan produk keuangan inovatif, seperti Bitcoin exchange-traded fund (ETF), telah memudahkan investor konvensional untuk mendapatkan eksposur terhadap kripto.
Optimis
Meskipun lonjakan harga BTC baru-baru ini luar biasa, penting untuk mendekati pasar dengan hati-hati. Aset kripto dikenal karena volatilitasnya, dan koreksi harga yang signifikan dapat terjadi secara tak terduga. Investor sebaiknya melakukan penelitian yang menyeluruh, mengevaluasi toleransi risiko, dan mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan profesional keuangan sebelum memasuki pasar.
Sementara BTC terus membuat berita dengan pemulihannya yang mengesankan dan sinyal bullish langka melalui data on-chain, pasar kripto secara keseluruhan mengalami optimisme baru. Masa depan Bitcoin dan ekosistem mata uang digital secara luas tetap menarik, karena terus berkembang dan menarik minat dari berbagai sektor.
Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.
Memasuki awal Oktober, pergerakan market kripto tak kunjung menguat. Padahal banyak investor berharap akan terulang kembali fenomena ‘uptober’, bulan yang baik untuk market kripto secara keseluruhan.
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat market kripto terlihat masih belum kuat untuk melaju ke zona hijau pada Senin (3/10) pagi. Secara teknikal, penyebab market kripto turun berguguran disebabkan oleh Bitcoin yang gagal menembus level psikologis US$ 20.000 di akhir pekan.
“Hal tersebut mengindikasikan bahwa ada sebagian investor yang siap untuk melakukan aksi jual di kisaran level tersebut. Di samping itu, padahal bulan ini digadang-gadang menjadi periode terbaik untuk market bullish, sehingga ada istilah uptober,” kata Afid.
Sebelum akhir pekan lalu, market kripto memang sempat reli yang ditimbulkan oleh pelemahan indeks Dolar AS (DXY). Kemudian, investor juga mulai melakukan aksi borong di akhir September, demi mengoleksi portofolio mereka di akhir kuartal III tahun ini.
Investor sengaja melancarkan aksi akumulasi, karena yakin bulan ini akan kembali mengulangi fenomena tahunan yang disebut ‘uptober,’ yakni kondisi ketika harga aset kripto kompak reli kencang di Oktober, setelah terpukul di September lalu.
Menurut Bitcoin Monthly Retuns, harga BTC selalu naik di bulan Oktober dalam kurung waktu tiga tahun terakhir (2019-2021). Tertinggi nilai BTC sempat melonjak 39,93% pada tahun lalu dan itu mendorongnya untuk mencapai all-time high (ATH) pada November 2021 lalu.
Namun baru memasuki bulan Oktober, market kripto belum langsung panas, investor masih wait and see untuk terus melakukan akumulasi.
“Kuat dugaan, tingginya investor melakukan aksi jual di akhir pekan, disebabkan oleh pergerakan pasar saham AS yang juga berkinerja buruk. Alhasil investor kurang bergairah dan meninggalkan aset berisiko,” terang Afid.
Di samping itu, investor juga mempertimbangkan prospek makroekonomi yang kelabu, sebelum menentukan sikap di pasar kripto. Perlu diketahui Biro Analisis Ekonomi AS pada Kamis (30/9) melaporkan pertumbuhan ekonomi AS kuartal II 2022 sebesar -0,6% secara tahunan.
Artinya, ekonomi AS resmi melanjutkan kontraksi setelah sebelumnya mencatat pertumbuhan ekonomi -1,6% di kuartal I. Secara teori, AS sejatinya sudah masuk ke fase resesi ekonomi, karena pertumbuhan minus dalam dua kuartal berturut-turut.
Di sisi lain, sentimen negatif dari ekosistem kripto juga mendorong investor kurang semangat seperti, Coinbase dan Solana yang mengalami gangguan sistem pada akhir pekan lalu. Serta kabar exchange, WazirX memberhentikan 40% karyawannya sebagai langkah efisiensi.
Pergerakan Bitcoin dari sisi teknikal, terlihat masih belum berhasil menembus downtrend line-nya di rentang waktu hariannya (daily time frame).
“Kondisi ini tercermin dari harga BTC yang kembali terpental kembali setelah memasuki level US$ 20.000. Melihat hal tersebut, BTC bisa melakukan retest kembali ke level US$ 20.000 dengan support terkuat di US$ 18.825,” jelas Afid.
Sementara itu, Ethereum terlihat sideways dan bergerak di bawah 20-day EMA setelah menemukan lantai penurunannya di level US$ 1.220. ETH bisa melakukan retest kembali ke level US$ 1.356 dengan support terkuat di US$ 1.180.
Pekan ini, pasar aset kripto mengalami pergerakan harga yang cukup menarik dan dinamis. Berbagai koin dan token terkemuka mengalami fluktuasi signifikan, mencerminkan volatilitas yang melekat dalam pasar kripto. Bitcoin (BTC), sebagai mata uang kripto terbesar dan paling terkenal, mengalami pergerakan harga yang menarik perhatian banyak investor.
Menurut Trader Eksternal Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, pada awal pekan, harga Bitcoin melanjutkan tren naiknya, mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Namun, pada pertengahan pekan, terjadi koreksi yang membuat harga BTC turun secara tajam. Selain Bitcoin, beberapa koin alternatif seperti Optimism (OP) dan Stacks (STX) juga mengalami pergerakan yang signifikan, menunjukkan tingkat volatilitas yang tinggi di pasar kripto.
“Analisis minggu ini menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti sentimen pasar global, pengumuman berita terkait regulasi kripto, dan aktivitas perdagangan spekulatif berkontribusi terhadap pergerakan harga yang cepat dan tidak stabil,” jelas Fyqieh.
Investor dan trader kripto harus memperhatikan berbagai faktor ini untuk memahami dinamika pasar dan membuat keputusan investasi yang cerdas. Meskipun fluktuasi harga dapat memberikan peluang bagi para trader yang cekatan, juga penting untuk diingat bahwa pasar kripto tetaplah berisiko tinggi, dan investasi harus dilakukan dengan hati-hati dan berdasarkan analisis yang cermat.
Dalam seminggu terakhir, terjadi pergerakan bullish pada aset kripto Bitcoin, yang dipicu oleh narasi dari institusi aset manajemen yang mulai mengajukan proposal spot ETF Bitcoin. Hal ini menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan Bitcoin selama seminggu terakhir, dengan peningkatan harga lebih dari 20%. Kenaikan ini juga diikuti oleh altcoin lainnya seperti Ethereum dan Cardano.
Diprediksi bahwa Bitcoin akan terus mengalami tren bullish dalam waktu dekat, terutama di bulan Juli. Namun, kemungkinan akan terjadi koreksi kecil pada harga Bitcoin, dengan perkiraan turun ke sekitar US$ 28.650, sebelum mengalami tren bullish lanjutan. Area US$ 28.650 ini merupakan level support berdasarkan Fibonacci retracement.
“Setelah periode bullish yang terjadi pada akhir pekan ini, Bitcoin akan memerlukan dukungan untuk mencapai harga yang lebih tinggi, yaitu sekitar US$ 35.000. Diperkirakan bahwa kondisi bullish ini akan berlangsung pada bulan Juli atau awal semester dua tahun 2023,” analisis Fyqieh.
Optimism (OP) Potensi Bullish
Optimism (OP) adalah blockchain layer-dua yang berjalan di atas Ethereum. Optimism memanfaatkan keamanan dari jaringan utama Ethereum dan membantu meningkatkan skalabilitas ekosistem Ethereum dengan menggunakan optimistic rollups. Artinya, transaksi secara terpercaya dicatat di Optimism namun pada akhirnya diamankan di Ethereum.
Berdasarkan TokenUnlocks.app ada 26,9% supply OP yang belum terdistribusi ke pasar, token yang di lock ini hanya tersisa untuk Investor dan Core hingga 2027 yang artinya bahwa ada potensi penurunan untuk OP karena adanya distribusi aset ini ke pasar dalam waktu cukup panjang. Dalam jangka waktu yang dekat, tepat nya tanggal 30 Juni, Optimism akan membagikan sebesar 24.159,191 token OP senilai US$ 27 Juta dollar dengan total supply yang di edarkan sebanyak 0,562%.
OP/USD TF 4H by Fyqieh Fachrur Rossy. Sumber: TradingView.com.
Pergerakan harga Optimism (OP) diprediksi akan mengalami tren bullish dalam waktu mendatang. Saat ini, diperlukan konfirmasi breakout dari pola bullish penant untuk OP, yang mungkin terjadi pada tanggal 23 Juni 2023.
“Jika OP berhasil breakout dari harga US$ 1,3776, diprediksi bahwa akan terjadi tren bullish menuju harga US$ 1,847, dengan perkiraan keuntungan sebesar 36.95%. Namun, untuk konfirmasi lebih lanjut bahwa OP akan mencapai harga US$ 1,847, diperlukan konfirmasi yang lebih lanjut, yaitu jika Optimism berhasil menembus harga di atas US$ 1,511 dan menutup candlestick harian di atas level tersebut,” terang Fyqieh.
Sebaliknya, jika OP mengalami breakdown di bawah US$ 1,31, diprediksi bahwa Optimism akan mengalami penurunan lanjutan dengan target penurunan menuju harga US$ 1,15, dengan estimasi kerugian sebesar 14.29%.
Stacks (STX) Potensi Bullish
STX/USD by Fyqieh Fachrur Rossy. Sumber: TradingView.com.
Stacks adalah sebuah lapisan untuk smart contracts pada Bitcoin yang memungkinkan penggunaan Bitcoin sebagai aset dan penyelesaian transaksi pada blockchain Bitcoin. Bitcoin merupakan aset terdesentralisasi terbesar, paling berharga, dan tahan lama. Lapisan Stacks membuka potensi nilai sebesar US$ 500 miliar dalam bentuk Bitcoin dengan menggunakan Bitcoin L1 sebagai penyelesaian untuk aplikasi terdesentralisasi.
Semua transaksi pada lapisan Stacks secara otomatis di-hash dan ditetapkan pada Bitcoin L1. Blok-blok Stacks diamankan oleh 100% kekuatan hash Bitcoin. Untuk dapat mengubah urutan blok/buku transaksi Stacks, seorang penyerang harus melakukan reorganisasi (reorg) pada jaringan Bitcoin.
Pergerakan stack diprediksi akan bullish di bulan juli, hal ini atas dampak dari BRC-20 yang mulai menjadi tren untuk kripto antusias yang berdiri diatas jaringan blockchain Bitcoin.
“Untuk penutupan weekly candlestick STX berada diposisi merah dengan target koreksi di harga US$ 0,667 dan kembali bullish hingga target US$ 1,12 di bulan juli. Untuk saat ini STX sebenarnya sudah dikondisi breakoutbullish dan diprediksi akan masih bullish dalam sebulan ke depan,” pungkas Fyqieh.
Jika menggunakan fitur Price Alert di Tokocrypto, pengguna akan mendapatkan notifikasi yang muncul secara real-time ketika harga sudah menyentuh target yang telah kamu tentukan. Dengan begitu, pengguna tidak ketinggalan momentum beli dan jual di harga yang sesuai. Untuk informasi lebih lanjut dan cara menggunakan fitur ini bisa mengakses link berikut ini.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.
Pergerakan market kripto terpantau mulai bersemi kembali ke zona hijau pada Kamis (29/9) pagi. Perlu diketahui pada sehari sebelumnya Rabu (28/9), market tak berdaya lemah, karena pergerakan nilai Dolar AS yang semakin tangguh.
Melansir data CoinMarketCap pada Kamis (29/9) pukul 09.00 WIB, nilai Bitcoin (BTC) mulai naik sebesar 3,97% ke level US$ 19.416. Sementara, Ethereum (ETH) juga bernasib sama naik, 4,43% menuju harga US$ 1.337. Altcoin lainnya yang naik ada, BNB dan Solana (SOL) yang naik masing-masing di atas 4%.
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan kenaikan market kripto ini masih dipicu oleh Investor yang terlihat percaya diri melakukan akumulasi, setelah selera risikonya kembali pulih menyusul kenaikan indeks saham Amerika Serikat, dengan nilai S&P 500 dan Nasdaq Composite Index masing-masing naik 1,5% dan 2,2%.
“Kenaikan tersebut disebabkan oleh pelemahan tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang merosot dari level tertingginya selama 15 tahun terakhir, setelah bank sentral Inggris mengumumkan akan menunda rencana untuk menjual surat berharganya, atau disebut quantitative tightening,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan kondisi tersebut juga membuat memicu pemulihan instan untuk GBP/USD setelah pasangan ini mencapai posisi terendah sepanjang masa. Indeks dolar AS (DXY) pun akhirnya turun dari level tertinggi sejak dua puluh tahun lalu yang terus memberikan kembali keuntungan.
Pada saat artikel ini ditulis nilai DXY tampaknya kembali di bawah 114, turun 1,5 poin penuh hari ini. Penurunan tersebut membuat investor kembali bergairah untuk mengoleksi aset kripto, terutama yang memiliki kapitalisasi besar.
“Meski, selera risiko investor sudah mulai membaik, tapi masih ada kinerja beberapa altcoin yang masih anjlok di zona merah. Hal ini mengindikasikan bahwa investor tak mau terlampau optimistis di jajaran koin-koin yang berisiko tinggi,” tutur Afid.
Ilustrasi market aset kripto. Foto: Roy Buri, Pixabay.
Untuk pergerakan Bitcoin kemungkinan ada bounce masih ada ketika harganya menyentuh major support. Apabila berhasil bounce, target naik terdekat berada pada level US$ 19.891. Sementara, Ethereum apabila pergerakan harganya kembali pullback, maka target naik masih berada pada level US$ 1.421.
Altcoin yang menjadi top gain pagi ini adalah Helium (HNT) yang tumbuh 12,58% sehari terakhir, karena didorong sentimen Helium, jaringan nirkabel terdesentralisasi, telah resmi bermigrasi ke blockchain Solana (SOL).
“Perpindahan ke Solana memajukan misi ekosistem Helium untuk menghadirkan konektivitas yang aman, ada di mana-mana, dan terjangkau melalui model insentif yang inovatif,” pungkas Afid.
Harga Bitcoin (BTC) akhirnya mampu naik dan melewati level resisten di US$ 26.200 pada akhir pekan lalu. Meski struktur pasar dan momentum Bitcoin adalah bearish, tetapi pemantulannya kembali di atas US$ 26.000 memberi sedikit bahan pemikiran untuk reli selanjutnya.
Dikutip Ambcrypto, korelasi BTC dengan S&P 500 menjadi negatif selama bulan Mei lalu. Ini berarti indeks memiliki prospek bullish secara keseluruhan, tetapi Bitcoin cenderung berlawanan arah dalam beberapa minggu terakhir. Meningkatnya permusuhan dari badan pengatur di Amerika Serikat telah berperan dalam kemalangan BTC pada grafik harga.
Ada argumen yang dibuat bahwa Bitcoin menunjukkan beberapa tanda pemulihan. Namun, analisis aksi harga menunjukkan bahwa bias tetap berpihak pada penjual. Di sisi lain, jika Bitcoin naik ke US$ 28.000, itu bisa menandakan tren naik.
Struktur pasar Bitcoin pada jangka waktu harian adalah bearish. Struktur bergeser pada 21 April, ketika BTC turun di bawah level tertinggi baru-baru ini. Sejak itu, harga cenderung lebih rendah di grafik.
Selain itu, volume perdagangan sangat rendah dari bulan April dan seterusnya, dibandingkan dengan volume yang terlihat di bulan Februari dan Maret. Hal ini juga tercermin pada On-balance volume (OBV), yang hanya turun sedikit di bulan Mei dibandingkan dengan kenaikan cepat yang dibukukan di pertengahan Maret.
Level Fibonacci berdasarkan leg down baru-baru ini menunjukkan bahwa Bitcoin kemungkinan menuju ke US$ 24.800. Tingkat ekstensi 61,8% pada US$ 23.300 juga merupakan target yang disajikan. Aksi harga menunjukkan bahwa wilayah US$ 24.2k-US$ 24.4k dapat berfungsi sebagai support yang kuat. Di bawah itu, level US$ 22.4k dan US$ 21.5k adalah penting.
Untuk memberi sinyal pergeseran bullish dalam struktur, harga Bitcoin harus naik kembali di atas titik terendah baru-baru ini di US$ 27.400. Namun, tren naik tidak akan terbentuk di sana, karena BTC perlu membentuk titik terendah yang lebih tinggi dan terus lebih tinggi. Investor yang berhati-hati dapat menunggu pergantian peristiwa ini sebelum melakukan akumulasi.
Sirkulasi yang tidak aktif mengalami lonjakan besar pada 7 Mei, tetapi sejak saat itu, lonjakannya tidak seperti biasanya. Yang terbaru pada 15 Juni melihat BTC turun menjadi US$ 24.800. Metrik alamat aktif juga meningkat selama dua minggu terakhir.
Pasokan di bursa berkurang sebagai tanggapan terhadap pengguna yang memindahkan dana ke wallet pribadi karena takut. Keseimbangan arus pertukaran juga menunjukkan beberapa hari terakhir telah terlihat lebih banyak arus keluar daripada arus masuk.
Pada sesi akhir pekan yang tenang membuat aksi ambil untung meninggalkan BTC di zona merah karena investor mempertimbangkan kemungkinan dampak aktivitas SEC pada ruang aset digital. Obrolan Hawkish Fed dan meningkatnya taruhan kenaikan suku bunga pada bulan September juga bearish.
Namun, indikator teknis tetap bullish, menandakan pengembalian ke US$ 27.000. Kurangnya indikator ekonomi AS pada pekan ini akan meninggalkan obrolan Fed dan berita kripto ke depan.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.
Para investor mungkin akan menanti bagaimana kondisi pasar kripto di bulan Juni nanti, setelah sejumlah aset tengah mengalami pergerakan yang cukup volatil dan cenderung menurun sepanjang bulan Mei 2023. Bahkan secara month-to-date (MTD) harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan sekitar US$ 1.439 (-5.03%) dari posisi awal bulan Mei di sekitar US$ 28.640. Pada Rabu (31/5)pukul 14.00 WIB, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$ 27.150 dan turun 2,44% dalam 24 jam terakhir.
Melihat performa pasar kripto terutama Bitcoin yang terus menurun sejak awal tahun ini, bagaimana proyeksi di bulan Juni nanti?
Trader Eksternal Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, melihat secara keseluruhan potensi pasar kripto masih dalam tren bullish untuk jangka pendek. Sentimen yang masih kuat mendorong gerak harga kripto adalah kesepakatan debt ceiling alias plafon utang pemerintah Amerika Serikat (AS) yang tengah menjadi angin segar bagi investor dan pelaku industri kripto. Namun, masih ada kekhawatiran soal efek ke depannya.
“Selain ikut memicu pergerakan harga Bitcoin dan kripto lain, kesepakatan ini juga disebut membatalkan rencana pungutan pajak listrik penambang Bitcoin hingga 30%. Tapi, dibalik kesepakatan yang belum terlalu jelas masih menimbulkan kegelisahan investor tentang pemungutan suara plafon utang AS yang akan datang sehingga membuat BTC merugi,” kata Fyqieh.
Fokus Utang AS
Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Bitcoin. Sumber: Shutterstock.
Plafon utang AS kali ini diprediksi akan menjadi faktor yang mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin pada bulan Juni mendatang. Menurut Fyqieh, jika AS meningkatkan plafon utang, hal tersebut mungkin berdampak negatif pada pasar kripto karena pemerintah akan berusaha membangun saldo kas dengan menerbitkan obligasi pemerintah.
Fyqieh menjelaskan, “Penerbitan utang untuk meningkatkan pendapatan akan memiliki efek sebaliknya, di mana uang akan dialihkan dari kas dan aset berisiko ke obligasi pemerintah AS, terutama karena imbal hasil instrumen ini meningkat untuk mengimbangi peningkatan pasokan.”
Namun, di sisi lain, investor Bitcoin tidak perlu panik mengenai polemik mengenai plafon utang. Karena ini merupakan hal yang berulang dan akan terjadi pada setiap waktu jatuh tempo. Jika pemerintah AS memutuskan untuk terus meningkatkan plafon utang, maka dalam jangka panjang, nilai dolar kemungkinan akan terdevaluasi, yang dapat menguntungkan harga Bitcoin dan aset berisiko lainnya.
Menurut Fyqieh, sinyal kesepakatan debt ceiling pemerintah AS ikut mengerek proyeksi kenaikan suku bunga acuan The Fed atau bank sentral AS pada bulan Juni mendatang. Diproyeksikan The Fed akan melanjutkan kenaikan suku bunga hingga 25 basis poin (bps). Apabila ini benar akan mempengaruh pasar kripto sepanjang bulan Juni 2023.
“Kembali menurunnya tingkat inflasi di Amerika Serikat memberikan peluang bagi The Fed untuk menunda kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Kemungkinan adanya penundaan kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC 13-14 Juni 2023 dapat memberikan dampak positif bagi harga Bitcoin. Namun, situasi ini dapat berubah seiring dengan perkembangan terkini dalam kondisi makroekonomi,” jelas Fyqieh.
Analisis Teknikal
Data CME FedWatch Tool memproyeksi probabilitas kenaikan suku bunga 25 bps ke kisaran 5,25-5,50% mencapai 64,2% per 31 Mei 2023. Angka ini naik tajam dari probabilitas 17,4% yang tercatat sepekan sebelumnya.
Sisanya, 35,6% probabilitas menyatakan suku bunga tidak akan naik pada Juni. Perubahan drastis proyeksi suku bunga ini menandakan pengaruh kuat dari kesepakatan debt ceiling antara pemerintah AS dengan oposisi.
Indikator teknis BTC melihatkan ada kemungkinan Bitcoin akan mengalami penurunan di harga US$ 25.000, namun dengan adanya pola pembalikan arah ini kemungkinan BTC akan menjumpai di harga US$ 30.000 di bulan Juni mendatang.
Bitcoin mengalami pullback ke arah resisten line-nya di harga sekitar US $28.069 dan kembali mengalami koreksi setelahnya. Dengan adanya pullback ini berarti investor dan trader melakukan test apakah bisa breakout dari resisten line-nya dan mengalami lanjutan bullish.
Namun kenaikan yang tinggi ini juga akan ada gelombang koreksi. untuk penurunan berikutnya berada di area harga US$ 27.000-US$ 27.220 sehingga ini bisa menjadi kesempatan pembelian yang cukup bagus dengan sentimen yang ada. Jika Bitcoin mencoba kembali dan menembus ke harga diatas US$ 28.500 dan candlestick menutup sempurna secara timeframedaily diatas itu maka bisa saja Bitcoin akan menjumpai di harga US$ 30.000 kembali.
Saran Investor
Untuk saat ini investor bijak untuk mengambil sikap tenang. Investor Bitcoin bisa menilai volatilitas yang sideways dan cenderung jenuh. Investor sebaiknya melakukan diversifikasi portofolio dengan menambahkan berbagai aset kripto. Ini dapat membantu mengurangi risiko dan memastikan bahwa portofolio tidak terlalu bergantung pada satu jenis aset saja.
“Pertimbangkan untuk mengambil pendekatan jangka panjang dalam investasi. Pasar kripto terkenal dengan volatilitasnya, jadi bersiaplah untuk menghadapi fluktuasi harga jangka pendek dan jangan terlalu terpengaruh oleh pergerakan harian,” sara Fyqieh.
Untuk investor jangka panjang bisa mulai menabung atau DCA (dollar cost averaging) dengan rutin hingga 1 tahun ke depan setelah halving Bitcoin. Ini merupakan sentimen yang sangat bagus. Kuncinya adalah konsisten untuk melakukan DCA dan tetap melakukan riset.
DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.