Tag: bitcoin

  • Emas Rontok, Bitcoin Naik: Tahta Safe Haven Bergeser?

    Pasar global menunjukkan pergeseran menarik di tengah konflik Timur Tengah, di mana Bitcoin dan emas bergerak berlawanan arah.

    Dilaporkan Coingape, data terbaru menunjukkan Bitcoin mencatat kenaikan sekitar 7% hingga 10% sejak akhir Februari, sementara harga emas justru turun tajam hingga 19% dari sekitar $5.500 ke $4.493. Perbedaan ini memicu kembali perdebatan mengenai peran kedua aset sebagai lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik.

    Bitcoin Unggul di Tengah Arus Dana ETF

    Perbedaan kinerja ini tidak lepas dari perubahan arus likuiditas. ETF berbasis emas mengalami arus keluar sebesar $7,9 miliar atau sekitar 54,8 ton, sementara Bitcoin justru mencatat inflow lebih dari $1,1 miliar hanya dalam dua minggu awal konflik. Bahkan pada 2 Maret saja, inflow mencapai $458 juta.

    Selain itu, kenaikan yield obligasi AS 10 tahun ke level 4,415% meningkatkan opportunity cost bagi investor untuk memegang emas yang tidak menghasilkan imbal hasil. Kondisi ini mendorong institusi mengurangi eksposur terhadap emas dan beralih ke aset lain seperti Bitcoin.

    Baca juga: XAU₮ Masuk BNB Chain: Akses Emas Tokenisasi Kian Luas

    Struktur Pasar Jadi Faktor Kunci

    Keunggulan Bitcoin juga didukung oleh struktur pasar yang lebih fleksibel. Berbeda dengan pasar tradisional, Bitcoin dapat diperdagangkan 24 jam tanpa henti, memberikan likuiditas yang konsisten bahkan saat pasar lain tutup. Hal ini menjadi faktor penting selama periode volatilitas tinggi akibat konflik.

    Kenaikan harga minyak Brent hingga 40% ke $108 per barel turut mempertekan pasar global dan memperkuat pergeseran alokasi aset oleh investor.

    Tim Research Tokocrypto melihat fenomena ini sebagai indikasi perubahan narasi dalam pasar global. “Bitcoin mulai diposisikan bukan hanya sebagai aset spekulatif, tetapi juga sebagai alternatif likuid ketika sistem keuangan tradisional mengalami tekanan,” jelas tim riset.

    Namun, mereka juga menekankan bahwa pergerakan ini bukan berarti Bitcoin sepenuhnya menggantikan emas. “Kenaikan Bitcoin lebih didorong oleh faktor likuiditas dan akses, sementara emas masih memiliki peran sebagai lindung nilai jangka panjang. Ini adalah pergeseran taktis, bukan perubahan permanen,” tambahnya.

    Lebih lanjut, tim riset menyoroti bahwa dominasi ETF dalam menggerakkan harga menunjukkan semakin besarnya pengaruh institusi. “Arus dana institusional kini menjadi penggerak utama. Ketika likuiditas berpindah, harga akan mengikuti dengan cepat,” ujar mereka.

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Minggu, 29 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Minggu, 29 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Dampak Konflik Meluas ke Struktur Global

    Di luar pasar finansial, konflik juga berdampak pada rantai pasok global. Serangan terhadap fasilitas helium di Qatar yang menyuplai sekitar sepertiga kebutuhan dunia memicu lonjakan harga dan berpotensi mengganggu industri semikonduktor. Korea Selatan, misalnya, sangat bergantung pada pasokan helium dari Qatar untuk produksi teknologi.

    Selain itu, perubahan juga terlihat dalam sistem pembayaran global. Sebuah kapal yang melintas di Selat Hormuz dilaporkan menggunakan yuan China sebagai alat pembayaran, menandakan adanya potensi pergeseran dalam mekanisme settlement perdagangan internasional.

    Safe Haven Sedang Berubah?

    Perkembangan ini menunjukkan bahwa konsep safe haven sedang mengalami evolusi. Bitcoin, dengan karakteristik likuiditas tinggi dan akses global, mulai menarik perhatian sebagai alternatif di tengah krisis. Namun, volatilitas yang masih tinggi membuat posisinya berbeda dibanding emas yang telah teruji selama puluhan tahun.

    Dalam jangka pendek, dinamika Bitcoin vs emas kemungkinan akan terus dipengaruhi oleh arus likuiditas global, kebijakan moneter, serta perkembangan geopolitik yang masih penuh ketidakpastian.

    Baca Juga: Tether Integrasikan USA₮ ke Rumble Wallet, Ekspansi Pembayaran Digital


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Terlihat Kuat, Tapi Rapuh? Cek Fakta di Balik Harga

    Pasar Bitcoin saat ini menunjukkan kondisi yang tampak stabil di permukaan, namun menyimpan kerentanan struktural di dalamnya.

    Data terbaru dari CryptoQuant mengungkap bahwa permintaan Bitcoin kini semakin terkonsentrasi pada satu pemain besar, yaitu Strategy, yang dalam 30 hari terakhir mengakumulasi sekitar 45.000 BTC, laju tercepat dalam hampir satu tahun.

    Permintaan Terkonsentrasi di Satu Pemain

    Di sisi lain, pembelian dari perusahaan treasury lainnya justru anjlok drastis menjadi hanya sekitar 1.000 BTC, turun hingga 99% dari puncaknya. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan permintaan secara keseluruhan hampir berhenti, dan pasar kini bergantung pada satu sumber utama.

    Akibatnya, Strategy kini menguasai sekitar 76% dari total kepemilikan Bitcoin di antara perusahaan treasury, mempertegas struktur pasar yang semakin terpusat.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, struktur ini kelihatan kuat di permukaan karena satu pembeli besar masih menopang harga, tapi fondasinya rapuh karena breadth demand di luar Strategy nyaris hilang.

    “Kalau pembelian Strategy melambat atau berhenti, pasar bisa langsung menghadapi vacuum permintaan dan itu membuat reli Bitcoin saat ini lebih bergantung pada konsentrasi daripada ekspansi demand yang sehat,” jelasnya.

    Partisipasi Pasar Semakin Menyusut

    Penurunan tidak hanya terjadi pada volume pembelian, tetapi juga pada jumlah partisipan. Semakin sedikit perusahaan yang melakukan akumulasi Bitcoin, mencerminkan melemahnya distribusi permintaan dan berkurangnya kedalaman pasar.

    Data on-chain turut menguatkan kondisi ini, di mana Coinbase Premium yang tidak stabil menunjukkan bahwa permintaan spot, khususnya dari pasar Amerika Serikat, belum pulih secara merata.

    Baca juga: Strategy Siapkan Dana Rp1.000 Triliun untuk Borong Bitcoin?

    Kuat di Permukaan, Lemah di Struktur

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Minggu, 29 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Minggu, 29 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Struktur pasar seperti ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, pembelian konsisten dari pemain besar mampu menjaga harga tetap stabil dan mengurangi tekanan turun. Namun di sisi lain, ketergantungan pada satu entitas menciptakan risiko sistemik.

    Pasar yang sehat seharusnya ditopang oleh permintaan yang tersebar luas, bukan terkonsentrasi. Kondisi saat ini lebih mencerminkan konsolidasi daripada ekspansi.

    Risiko Demand Vacuum Mengintai

    Jika Strategy memperlambat atau menghentikan akumulasinya, pasar berpotensi menghadapi kekosongan permintaan secara tiba-tiba. Tanpa dukungan dari pemain lain, harga Bitcoin bisa kehilangan fondasi penopangnya.

    Situasi ini menegaskan bahwa kekuatan pasar saat ini bukan berasal dari banyaknya pembeli, melainkan dari satu entitas dominan. Di fase seperti ini, pertanyaan penting bukan lagi siapa yang membeli, tetapi siapa yang sudah berhenti membeli.

    Baca Juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Baru Setelah Pendanaan $711 Juta


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Naik Tipis $66.735 Masih Tertekan

    Harga Bitcoin hari ini tercatat di $66.735,61 per BTC, mencatat kenaikan 0,75% dalam 24 jam terakhir, menurut catatan Tokocrypto pada Minggu (29/3).

    Kapitalisasi pasar berada di kisaran $1,33 triliun, dengan volume perdagangan harian mencapai $20,42 miliar.

    Kenaikan ini menunjukkan adanya pemulihan jangka pendek, namun jika dilihat dari perspektif lebih luas, tren Bitcoin masih berada dalam tekanan koreksi dalam beberapa bulan terakhir.

    Baca Juga: Harga Bitcoin Sempat Tiba-Tiba Naik, Reli Sungguhan atau Bull Trap?

    Pergerakan Harian: Stabil dengan Kenaikan Terbatas

    Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin bergerak dalam rentang yang relatif sempit, dengan level terendah di $66.095,80 dan tertinggi di $67.232,86.

    Kenaikan sekitar $527,90 (+0,8%) hari ini mencerminkan stabilisasi harga setelah tekanan jual sebelumnya.

    Namun, pergerakan per jam menunjukkan sedikit pelemahan sebesar -0,21%, mengindikasikan adanya aksi ambil untung jangka pendek.

    Secara umum, kondisi ini menggambarkan pasar yang masih wait and see, tanpa dorongan kuat dari sisi volume maupun katalis besar.

    Tren Lebih Panjang Masih Bearish

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Minggu, 29 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Minggu, 29 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Jika ditarik ke timeframe yang lebih panjang, tekanan terhadap Bitcoin masih cukup signifikan:

    • 30 hari: turun 1,57%
    • 60 hari: anjlok 24,93%
    • 90 hari: melemah 26,01%

    Penurunan tajam dalam 60 hingga 90 hari terakhir menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase koreksi setelah periode bullish sebelumnya.

    Meskipun harga saat ini relatif stabil, tren besar masih belum menunjukkan tanda pembalikan yang kuat.

    Jarak dari All-Time High Masih Jauh

    Bitcoin saat ini masih jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa di $126.198,07. Artinya, harga BTC telah terkoreksi hampir 50% dari puncaknya.

    Hal ini menjadi indikator bahwa pasar masih dalam fase penyesuaian, di mana investor cenderung lebih berhati-hati dan selektif dalam mengambil posisi.

    Struktur Pasar dan Likuiditas

    Dengan kapitalisasi pasar di atas $1,3 triliun, Bitcoin tetap menjadi aset kripto terbesar dan paling dominan di pasar global.

    Sirkulasi suplai saat ini mencapai 20,01 juta BTC, atau sekitar 95,28% dari total maksimum 21 juta BTC. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar suplai sudah beredar, sehingga tekanan inflasi dari sisi suplai relatif terbatas.

    Namun, volume perdagangan harian yang berada di kisaran $20 miliar tergolong moderat dan belum menunjukkan lonjakan signifikan.

    Tanpa peningkatan volume, pergerakan harga cenderung terbatas dan rentan terhadap volatilitas.

    Sentimen Pasar: Konsolidasi

    Kombinasi antara kenaikan tipis harian dan tren penurunan jangka menengah menunjukkan bahwa pasar saat ini berada dalam fase konsolidasi.

    Investor tampaknya masih menunggu kepastian arah, baik dari faktor makroekonomi, kebijakan suku bunga global, maupun perkembangan industri kripto itu sendiri.

    Dalam kondisi seperti ini, Bitcoin biasanya bergerak dalam rentang tertentu sebelum menentukan arah berikutnya: apakah melanjutkan tren turun atau memulai pemulihan yang lebih kuat.

    Level Penting yang Perlu Diperhatikan

    Beberapa level kunci yang menjadi perhatian pelaku pasar saat ini antara lain:

    • Support terdekat: $66.000
    • Support lanjutan: $64.000
    • Resistance terdekat: $67.200
    • Resistance kuat: $69.000

    Jika Bitcoin mampu menembus resistance di atas $67.200 dengan volume yang meningkat, peluang untuk melanjutkan kenaikan akan terbuka.

    Sebaliknya, jika gagal bertahan di atas $66.000, tekanan jual bisa kembali mendominasi.

    Baca Juga: Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Turun $66.098, Ada Apa?

    Kenaikan harga Bitcoin hari ini memberikan sinyal positif jangka pendek, namun belum cukup untuk mengubah tren besar yang masih bearish.

    Dengan tekanan koreksi dalam 2–3 bulan terakhir dan volume yang belum solid, pasar masih berada dalam fase konsolidasi.

    Dengan analisa harga BTC hari ini, investor disarankan untuk memperhatikan level support dan resistance kunci serta menunggu konfirmasi arah pasar berikutnya sebelum mengambil keputusan besar.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Perpetual Futures Crypto: Apa Bedanya dengan Futures Biasa?

    Dalam dunia trading kripto, istilah futures mungkin sudah cukup familiar. Namun, ada satu jenis yang sering digunakan trader, yaitu perpetual futures.

    Sekilas, keduanya terlihat mirip karena sama-sama memungkinkan trader berspekulasi terhadap pergerakan harga aset kripto. Tapi ternyata, antara futures dan perpetual futures merupakan dua hal yang berbeda lho!

    Artikel ini akan membahas perbedaan keduanya, agar kamu bisa memilih instrumen yang sesuai dengan gaya trading. Yuk kita bedah satu per satu!

    Apa Itu Futures Biasa?

    Crypto futures trading atau perdagangan kontrak berjangka merupakan kontrak derivatif yang mengikat dua pihak untuk membeli atau menjual aset crypto tertentu dengan harga yang sudah disepakati, pada tanggal yang telah ditentukan di masa depan.

    Institusi, penambang, dan trader profesional menggunakan kontrak ini untuk hedging maupun spekulasi. Misalnya, seorang penambang Bitcoin yang memperkirakan akan menerima 5 BTC dalam dua bulan dapat menjual kontrak futures hari ini untuk mengunci harga saat ini dan melindungi diri dari potensi penurunan nilai jika ketika dalam dua bulan nanti harganya turun.

    Strategi hedging ini memberikan kepastian harga, tetapi membutuhkan margin yang tetap terkunci hingga kontrak berakhir.

    Kontrak futures sudah lama digunakan di pasar tradisional untuk komoditas dan saham, dan kini telah diadaptasi untuk aset digital di berbagai exchange besar.

    Baca juga: Crypto Futures vs Spot Trading: Mana yang Cocok untuk Trader?

    Apa Itu Futures Perpetual?

    Kontrak perpetual futures bekerja hampir sama dengan kontrak futures biasa, namun perbedaan ada pada tanggal kadaluarsa, yang mana konrak perpetual futures tidak memiliki tanggal kedaluwarsa.

    Trader bisa menahan posisi tanpa batas waktu, selama persyaratan margin terpenuhi dan posisi tidak terkena likuidasi.

    Karena tidak memiliki tanggal kadaluarsa, kontrak perpetual menjadi salah satu instrumen yang paling banyak diperdagangkan di pasar derivatif kripto. Tapi, ketiadaan tanggal kedaluwarsa dalam kontrak perpetual futures membuat para trader harus membayar biaya funding.

    Funding sendiri merupakan biaya berkala yang dipertukarkan antara trader posisi long dan short untuk menjaga harga perpetual tetap selaras dengan harga pasar spot. Pembayaran ini terjadi beberapa kali dalam sehari, sehingga biaya kecil bisa terakumulasi menjadi signifikan bagi trader yang menggunakan leverage. 

    Perbedaan Perpetual Futures vs Futures Biasa

    Agar lebih mudah memahami antara perbedaan dari keduanya, berikut perbandingan antara Perpetual Futures vs Futures Biasa dalam bentuk tabel:

    Aspek Futures Biasa Perpetual Futures
    Expiry Ada tanggal jatuh tempo Tidak ada tanggal jatuh tempo
    Pergerakan Harga Akan mendekati harga spot saat jatuh tempo Dijaga tetap dekat dengan harga spot lewat funding
    Penyelesaian Diselesaikan saat kontrak berakhir Berjalan terus selama posisi terbuka
    Biaya Fee trading + potensi biaya rollover Fee trading + funding rate
    Pengguna Umum Institusi & hedger Trader aktif & spekulator

    Baca juga: Saat Pasar Crypto Tak Menentu, Cash is King Jadi Jawaban: Apa Maksudnya?

    Kesimpulan

    Perpetual futures dan futures biasa sama-sama merupakan instrumen derivatif, tetapi memiliki perbedaan utama pada tanggal kedaluwarsa dan mekanisme tradingnya.

    Futures biasa memiliki batas waktu kontrak, sementara perpetual futures menawarkan fleksibilitas tanpa expiry dengan tambahan mekanisme funding rate.

    Dengan memahami perbedaan ini semoga dapat membantu kamu dalam memilih instrumen yang paling sesuai dengan strategi trading yang kamu miliki.

    Apa pun instrumen yang digunakan, selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan trading dan pastikan menggunakan exchange terpercaya seperti Tokocrypto yang telah terdaftar resmi, serta berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.


    Investasi dan trading crypto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset crypto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

    Sumber:

    Binance: Differences Between Perpetual Contract and Traditional Futures Contract

    Leverage Trading: Futures Contracts vs Perpetual Futures: 6 Key Differences Explained



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Cadangan Anjlok, Proyek Kota Terancam?

    Pemerintah Kerajaan Bhutan kembali melakukan penjualan Bitcoin dalam jumlah besar, menambah tekanan pada cadangan aset digital negara tersebut.

    Dilaporkan Coindesk, dalam transaksi terbaru, Bhutan memindahkan 519,707 BTC senilai sekitar $36,75 juta ke alamat eksternal, melanjutkan tren penjualan yang semakin agresif sepanjang 2026.

    Penjualan Bitcoin Tembus $150 Juta di 2026

    Sejak awal tahun, total Bitcoin yang keluar dari dompet pemerintah Bhutan telah mencapai sekitar $152 juta. Aktivitas ini meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir, termasuk transfer besar senilai $72 juta dalam satu minggu, yang menjadi periode paling aktif dalam sejarah transaksi Bitcoin negara tersebut.

    Jika sebelumnya Bhutan hanya menjual dalam kisaran $5 juta hingga $15 juta per transaksi pada Januari dan Februari, kini nilainya melonjak menjadi $35 juta hingga $45 juta per transaksi sepanjang Maret.

    Cadangan Bitcoin Turun Drastis

    Penjualan berkelanjutan ini membuat kepemilikan Bitcoin Bhutan turun signifikan dari puncaknya sekitar 13.000 BTC pada akhir 2024 menjadi hanya 4.453 BTC saat ini. Penurunan ini setara dengan sekitar 66% dari total cadangan awal.

    Nilai portofolio juga ikut tertekan, dari sempat mencapai $1,88 miliar kini tersisa sekitar $315 juta, dipengaruhi oleh kombinasi aksi jual dan penurunan harga Bitcoin dari $119.000 ke kisaran $70.000.

    Baca juga: Bhutan Jual Bitcoin Lagi! Cadangan Ratusan Juta Dolar Masih Tersisa

    Diduga Gunakan Skema OTC dengan QCP Capital

    Data menunjukkan bahwa sebagian transaksi Bitcoin Bhutan secara konsisten mengarah ke QCP Capital, perusahaan trading berbasis di Singapura. Pola ini mengindikasikan adanya skema penjualan terstruktur melalui jalur OTC (over-the-counter), bukan sekadar penjualan terbuka di pasar.

    Pendekatan ini memungkinkan Bhutan menjual dalam jumlah besar tanpa memberikan tekanan langsung terhadap harga pasar.

    Proyek Ambisius Terancam

    Penurunan cadangan ini juga menimbulkan pertanyaan terhadap komitmen Bhutan dalam proyek Gelephu Mindfulness City. Pada Desember 2024, pemerintah berjanji mengalokasikan hingga 10.000 BTC untuk mendanai proyek tersebut. Namun dengan sisa kepemilikan saat ini di bawah 4.500 BTC, target tersebut dinilai sulit dicapai tanpa menghentikan atau membalikkan tren penjualan.

    Menurut Tim Research Tokocrypto yang paling penting di sini bukan cuma Bhutan jual BTC lagi, tapi cara jualnya terlihat makin terstruktur dan makin agresif.

    “Kemunculan berulang QCP Capital sebagai counterparty membuat ini lebih mirip distribusi OTC yang disengaja daripada buang barang panik, dan itu berarti pasokan negara yang biaya perolehan-nya nyaris nol masih jadi overhang nyata di pasar Bitcoin,” analisanya.

    Bitcoin Jadi Sumber Pendapatan Negara

    Menariknya, seluruh Bitcoin yang dimiliki Bhutan berasal dari aktivitas mining berbasis tenaga hidro, yang berarti biaya produksinya relatif mendekati nol. Hal ini membuat setiap penjualan menjadi keuntungan langsung bagi negara, yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor energi ke India.

    Meski demikian, percepatan penjualan dalam skala besar memunculkan spekulasi mengenai strategi jangka panjang Bhutan terhadap aset kripto, serta dampaknya terhadap proyek-proyek berbasis Bitcoin yang sebelumnya telah diumumkan.

    Baca Juga: Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Menguat ke $70.682, Sentimen Pulih


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Smart Money Menyerah? Bitcoin Siap Melejit ke Level $70.000 Lagi

    Harga Bitcoin yang berada di kisaran $68.928 menjadikan area $70.000 sebagai medan pertempuran baru antar investor institusional.

    Dilaporkan Crypto Quant, fenomena yang disebut sebagai “institutional cannibalism” mulai terlihat, di mana whale kelas menengah (1.000–10.000 BTC) melepas sekitar 17.308,9 BTC dalam kondisi panik.

    Sementara posisi tersebut justru diambil alih oleh pemain terbesar atau “Supreme Elite” dengan kepemilikan di atas 10.000 BTC melalui transaksi OTC (over-the-counter). Perpindahan aset ini menunjukkan pergeseran kekuatan dari investor yang reaktif terhadap siklus ke pihak dengan likuiditas jauh lebih besar.

    Transaksi OTC Dominasi Perdagangan Bitcoin

    Data menunjukkan sekitar 85,74% volume Bitcoin terjadi di luar exchange, setara dengan 298.060 BTC atau sekitar US$21 miliar.

    Besarnya transaksi ini mengindikasikan bahwa tekanan jual dari whale menengah tidak berdampak signifikan ke harga pasar, karena langsung diserap oleh institusi besar melalui jalur privat. Mekanisme ini menjaga stabilitas harga dan mempertahankan level support di sekitar $70.000.

    Baca juga: Miner Menyerah, Sinyal Bitcoin Bakal Bullish

    Sinyal Kapitulasi dari Investor Jangka Panjang

    Indikator LTH SOPR yang berada di level 0,78 menunjukkan bahwa investor jangka panjang mulai merealisasikan kerugian, sebuah sinyal yang sering dikaitkan dengan fase puncak kepanikan pasar.

    Kondisi ini diperkuat dengan turunnya Inflow Mean CDD sebesar 42.900 unit dalam 24 jam, yang menandakan aliran Bitcoin ke exchange mulai mengering. Secara historis, kombinasi ini sering muncul mendekati fase dasar siklus harga.

    Tim Research Tokocrypto mengungkap ini bukan smart money menang, ini smart money dimakan oleh pemain yang lebih kaya dan lebih sabar.

    “Selama transfer kepemilikan semacam ini terus terjadi di bawah permukaan dan retail masih sibuk shorting area support, pasar Bitcoin justru sedang membangun fondasi supply shock, bukan kehancuran baru,” ujarnya.

    Retail Terjebak, Risiko Short Squeeze Menguat

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 28 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 28 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Di sisi lain, investor ritel justru mengambil posisi berlawanan dengan tren dengan membuka posisi short di area support. Data funding rate Binance yang negatif (-0,004704) menunjukkan bahwa pelaku pasar membayar untuk mempertahankan posisi jual. Kondisi ini berpotensi memicu short squeeze jika harga bergerak naik, karena likuidasi posisi short dapat mendorong kenaikan harga secara cepat.

    Secara keseluruhan, area $65.000–$70.000 kini menjadi zona penting yang ditopang oleh perpindahan kepemilikan skala besar. Selama tidak terjadi peristiwa tak terduga (black swan) yang mendorong harga turun hingga mendekati realized price di $54.000, pasar berpotensi memasuki fase kekurangan suplai (supply shock). Situasi ini dapat menjadi pemicu pergerakan harga yang lebih agresif dalam waktu dekat.

    Baca juga: Mengenal Mining Pool Kripto: Solusi Efektif untuk Miners Kecil 


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Miner Menyerah, Sinyal Bitcoin Bakal Bullish

    Pasar kripto menunjukkan sinyal perubahan struktural setelah tekanan jual dari para miner Bitcoin mengalami penurunan signifikan. Data terbaru mengindikasikan bahwa fase kapitulasinya miner mulai mencapai titik akhir, di mana aksi jual paksa yang sebelumnya membanjiri pasar kini semakin berkurang.

    Secara historis, kondisi ini sering kali menjadi penanda fase terbentuknya dasar harga (bottom), meski saat ini permintaan pasar masih terlihat lemah.

    Tekanan Jual Miner Turun Drastis

    Dilaporkan Crypto Quant, penurunan tekanan jual ini mencerminkan berkurangnya suplai Bitcoin yang masuk ke pasar. Dalam siklus sebelumnya, kondisi seperti ini kerap terjadi menjelang fase pemulihan harga. Namun, berbeda dengan pola klasik, saat ini belum diikuti oleh peningkatan permintaan yang signifikan, sehingga pergerakan harga masih cenderung tertahan.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, setup ini bullish secara struktural karena sumber supply paksa dari miner makin habis, sementara industri mining justru terkonsolidasi ke pemain yang lebih tahan banting.

    “Dalam jangka pendek ini memberi bantalan ke harga, dan dalam jangka menengah bisa menciptakan pasar Bitcoin yang lebih sehat karena tekanan jual alami dari penambang makin mengecil,” tuturnya.

    Hash Rate Naik di Tengah Profitabilitas Menurun

    Di sisi lain, hash rate Bitcoin justru terus meningkat, menandakan persaingan antar miner semakin ketat. Hal ini terjadi di tengah kondisi profitabilitas yang memburuk, di mana hash price mendekati titik terendah sepanjang sejarah. Biaya produksi Bitcoin kini diperkirakan berada di kisaran $80.000, membuat sebagian miner beroperasi dalam kondisi merugi.

    Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan besar di industri mining, terutama bagi pelaku dengan modal terbatas yang kesulitan bertahan.

    Baca juga: Solo Miner Ini Berhasil Tambang 3 BTC Senilai Rp4,5M! Kok Bisa?!

    Miner Kecil Tersingkir, Pemain Besar Menguat

    Divergensi antara kenaikan hash rate dan penurunan profitabilitas mengindikasikan terjadinya konsolidasi di sektor mining. Miner dengan skala kecil mulai tersingkir, sementara perusahaan besar dengan modal kuat justru memperluas pangsa pasar mereka.

    Selain itu, banyak perusahaan mining kini mulai mengalihkan fokus ke sektor lain seperti artificial intelligence (AI) dan high-performance computing (HPC) untuk menjaga keberlanjutan bisnis mereka, tidak lagi bergantung sepenuhnya pada hasil mining Bitcoin.

    Sinyal Awal Fase Bullish Struktural

    Secara keseluruhan, kondisi ini mengarah pada perubahan struktural dalam pasar Bitcoin. Dalam jangka pendek, berkurangnya tekanan jual memberikan ruang bagi stabilisasi harga. Sementara dalam jangka menengah hingga panjang, kombinasi antara berkurangnya suplai dan konsolidasi kekuatan mining berpotensi menciptakan fondasi bagi tren bullish yang lebih kuat.

    Perkembangan ini menjadi sinyal penting bahwa dinamika pasar Bitcoin tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan, tetapi juga oleh perubahan fundamental di sisi produksi dan distribusi aset tersebut.

    Baca juga: Mengenal Mining Pool Kripto: Solusi Efektif untuk Miners Kecil 


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Turun $66.098, Ada Apa?

    Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan signifikan dalam 24 jam terakhir, turun sekitar 3,29% ke level $66.098.

    Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan jangka pendek, di mana Bitcoin kini telah terkoreksi lebih dari 6% dalam sepekan terakhir dan lebih dari 24% dalam periode 90 hari.

    Dengan kapitalisasi pasar yang masih berada di kisaran $1,32 triliun dan volume perdagangan harian mencapai $45 miliar, Bitcoin tetap menjadi aset kripto paling dominan.

    Namun, data terbaru menunjukkan bahwa dominasi tersebut tidak membuatnya kebal terhadap tekanan makro dan perubahan sentimen investor global.

    Baca Juga: Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Turun $68.926, Tekanan Pendek

    Tekanan Jangka Pendek: Koreksi Berlanjut

    Dalam perdagangan 24 jam terakhir, Tokocrypto mencatat Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi di $68.909 sebelum akhirnya turun ke titik terendah harian di $65.532.

    Pergerakan ini mencerminkan volatilitas tinggi yang dipicu oleh aksi jual yang cukup agresif di pasar.

    Penurunan harian sebesar lebih dari $2.200 menunjukkan adanya tekanan jual yang cukup kuat, terutama di tengah kondisi pasar yang cenderung risk-off.

    Investor tampaknya mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk kripto, seiring meningkatnya ketidakpastian global.

    Selain itu, dalam jangka waktu 30 hari, Bitcoin juga mencatat penurunan sebesar 3,41%, yang mengindikasikan bahwa momentum bullish sebelumnya mulai kehilangan tenaga.

    Tren Lebih Panjang Masih Tertekan

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 28 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 28 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Jika dilihat dalam perspektif yang lebih luas, kondisi Bitcoin saat ini masih jauh dari titik optimal. Dalam 60 hari terakhir, harga telah terkoreksi lebih dari 25%, sementara dalam 90 hari penurunannya mencapai sekitar 24,5%.

    Jarak yang masih cukup jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa di $126.198 menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi panjang setelah reli besar sebelumnya. Kondisi ini sering kali diwarnai oleh volatilitas tinggi dan pergerakan harga yang tidak stabil.

    Meski demikian, suplai Bitcoin yang beredar kini telah mencapai sekitar 20,01 juta BTC, atau lebih dari 95% dari total maksimum 21 juta.

    Faktor kelangkaan ini tetap menjadi salah satu fondasi fundamental jangka panjang yang kuat bagi Bitcoin.

    Faktor Sentimen: Kombinasi Makro dan Teknis

    Untuk analisa harga BTC hari ini, penurunan harga Bitcoin saat ini tidak bisa dilepaskan dari kombinasi faktor makro dan teknikal.

    Dari sisi makro, meningkatnya ketidakpastian global, termasuk isu geopolitik dan pergerakan harga komoditas seperti minyak, telah mendorong investor untuk mengambil posisi lebih defensif.

    Sementara dari sisi teknikal, Bitcoin terlihat kesulitan mempertahankan level support penting di atas $68.000. Kegagalan ini memicu aksi jual lanjutan yang membawa harga turun ke area $66.000.

    Perubahan harga dalam satu jam terakhir yang hanya naik tipis 0,13% menunjukkan bahwa upaya rebound masih terbatas dan belum cukup kuat untuk membalikkan tren jangka pendek.

    Level Kritis yang Perlu Diperhatikan

    Dalam jangka pendek, level $65.000 menjadi area support penting yang harus dipertahankan. Jika tekanan jual berlanjut dan level ini ditembus, maka potensi penurunan lebih lanjut ke area $62.000 hingga $60.000 bisa terbuka.

    Sebaliknya, untuk memulihkan sentimen bullish, Bitcoin perlu kembali menembus dan bertahan di atas level $68.000 hingga $70.000. Level tersebut menjadi area psikologis penting yang sering menjadi acuan pelaku pasar.

    Volume perdagangan yang masih cukup tinggi menunjukkan bahwa minat terhadap Bitcoin belum hilang, namun arah pergerakan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh dinamika pasar global.

    Baca Juga: Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Naik ke $70.722, Sinyal Rebound?

    Penurunan harga Bitcoin ke level $66.098 mencerminkan tekanan yang masih kuat di pasar kripto, terutama di tengah sentimen risk-off yang mendominasi.

    Meskipun fundamental jangka panjang tetap solid, pergerakan jangka pendek masih menunjukkan potensi volatilitas tinggi.

    Investor disarankan untuk memperhatikan level support dan resistance kunci, serta perkembangan sentimen global yang dapat memengaruhi arah pasar. Dalam kondisi seperti ini, manajemen risiko menjadi faktor krusial dalam menghadapi fluktuasi harga yang cepat.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aktivitas Retail Bitcoin Masih Reaktif, Pangsa Pasar Cenderung Stabil

    Aktivitas investor retail pada jaringan Bitcoin menunjukkan dinamika yang berbeda antara volume transaksi dan kontribusinya terhadap keseluruhan aktivitas pasar.

    Dilaporkan Crypto Quant, data terbaru memperlihatkan bahwa volume transaksi kecil dengan nilai antara 0 hingga 1.000 dolar AS masih mengalami lonjakan aktivitas, dengan rata-rata 30 hari berada di kisaran 95 juta dolar AS. Kondisi ini mencerminkan perilaku investor retail yang cenderung reaktif terhadap pergerakan harga dan volatilitas pasar.

    Di sisi lain, pangsa aktivitas retail dengan rentang transaksi 0 hingga 10.000 dolar AS sempat mengalami kenaikan sejak pertengahan 2022 hingga awal 2023. Namun setelah itu, tren tersebut berbalik menurun dan kini memasuki fase stabilisasi.

    Tim Research Tokocrypto menjelaskan artinya retail belum hilang, tapi mereka sekarang lebih mirip penumpang reaktif daripada mesin penggerak pasar.

    “Selama partisipasinya cuma meledak saat harga bergerak tanpa memperbesar market share secara berkelanjutan, fondasi rally Bitcoin tetap lebih bergantung pada pemain besar daripada keterlibatan organik retail,” tuturnya.

    Kontribusi Retail Bitcoin

    Baca juga: Misteri Bitcoin: Retail Jual Rugi, Institusi Terus Akumulasi

    Saat ini, kontribusi retail terhadap total aktivitas jaringan Bitcoin bertahan di sekitar 0,7 persen, menunjukkan bahwa pertumbuhan peran retail dalam struktur pasar tidak lagi mengalami ekspansi.

    Perbedaan antara lonjakan volume transaksi dan stagnasi pangsa pasar ini menegaskan bahwa aktivitas retail lebih didorong oleh momentum jangka pendek dibandingkan partisipasi yang berkelanjutan.

    Dengan demikian, meskipun investor retail masih aktif dalam arus transaksi, perannya dalam membentuk struktur pasar Bitcoin secara keseluruhan cenderung tidak mengalami peningkatan signifikan.

    Baca juga: Pertarungan XRP di $3,13: Penentu Bull Run atau Awal Kejatuhan?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Turun $68.926, Tekanan Pendek

    Harga Bitcoin hari ini mengalami pelemahan signifikan, turun 2,7% dalam 24 jam terakhir ke level $68.926.

    Penurunan ini menandai meningkatnya tekanan jangka pendek di pasar kripto, setelah sebelumnya BTC sempat bertahan di atas level psikologis $70.000.

    Dengan kapitalisasi pasar sebesar $1,37 triliun dan volume perdagangan harian mencapai $38,87 miliar, Bitcoin masih menjadi aset kripto dominan.

    Namun, pergerakan harga terbaru menunjukkan bahwa sentimen pasar sedang berada dalam fase hati-hati.

    Baca Juga: Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Sideways di Level $70.813

    Bitcoin Gagal Bertahan di Atas $70.000

    Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi di $70.945 sebelum akhirnya turun ke titik terendah di $68.118.

    Kegagalan mempertahankan area $70.000 menjadi sinyal teknikal penting yang memicu aksi jual lanjutan. Level $70.000 selama ini berperan sebagai:

    • Area resistance psikologis
    • Zona distribusi bagi trader jangka pendek
    • Penentu arah momentum pasar

    Ketika level ini gagal dipertahankan, tekanan jual cenderung meningkat karena banyak trader memilih mengamankan profit.

    Koreksi Jangka Pendek di Tengah Tren Campuran

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Jumat, 27 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Jumat, 27 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Meski mengalami penurunan harian, performa Bitcoin dalam jangka menengah masih menunjukkan ketahanan relatif:

    • 30 hari: naik 4,33%
    • 60 hari: turun 21,42%
    • 90 hari: turun 21,25%

    Data ini menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase pemulihan parsial setelah koreksi besar sebelumnya.

    Namun, Tokocrypto mencatat volatilitas sang raja kripto tetap tinggi dan arah tren belum sepenuhnya stabil.

    Artinya, kenaikan jangka pendek masih rentan terhadap koreksi jika tidak didukung volume dan sentimen positif.

    Volume Tetap Tinggi, Tapi Sentimen Melemah

    Volume perdagangan Bitcoin dalam 24 jam terakhir mencapai hampir $39 miliar, menandakan aktivitas pasar yang masih cukup tinggi.

    Namun, tingginya volume ini lebih didominasi oleh tekanan jual dibanding akumulasi beli. Beberapa faktor yang berpotensi memengaruhi sentimen saat ini antara lain:

    • Ketidakpastian makroekonomi global
    • Pergerakan pasar saham dan komoditas
    • Aksi profit-taking setelah kenaikan sebelumnya

    Ini berarti, meski likuiditas tinggi, arah pasar masih cenderung defensif.

    Level Kunci yang Perlu Diperhatikan

    Dalam kondisi saat ini, pergerakan Bitcoin sangat bergantung pada level teknikal penting berikut:

    Support:

    • $68.000 (area psikologis terdekat)
    • $67.000 (support lanjutan)

    Resistance:

    • $70.000 (level kunci yang harus direbut kembali)
    • $71.000–$72.000 (zona breakout berikutnya)

    Jika BTC mampu kembali menembus $70.000 dengan volume kuat, potensi rebound akan terbuka. Sebaliknya, jika tekanan berlanjut dan harga turun di bawah $68.000, risiko koreksi lebih dalam akan meningkat.

    Outlook Jangka Pendek: Konsolidasi atau Lanjut Turun?

    Dalam jangka pendek, Bitcoin diperkirakan akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan bias bearish ringan. Pasar saat ini sedang mencari keseimbangan setelah volatilitas tinggi dalam beberapa hari terakhir.

    Beberapa skenario yang mungkin terjadi:

    • Bullish: BTC kembali ke atas $70.000 dan menguji $72.000
    • Sideways: bergerak di kisaran $68.000–$70.000
    • Bearish: turun ke bawah $68.000 dan menguji $67.000

    Ini berarti, arah pasar masih belum pasti dan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal.

    Baca Juga: Misteri Bitcoin: Retail Jual Rugi, Institusi Terus Akumulasi

    Penurunan harga Bitcoin sebesar 2,7% ke level $68.926 menunjukkan bahwa pasar kripto masih menghadapi tekanan jangka pendek, terutama setelah gagal mempertahankan level kunci $70.000.

    Meski demikian, struktur pasar secara keseluruhan belum sepenuhnya bearish, dengan peluang rebound tetap terbuka jika BTC mampu merebut kembali resistance penting.

    Dengan kondisi tersebut, Bitcoin saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan tekanan turun, namun belum menunjukkan tanda breakdown besar.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com