Tag: bitcoin

  • Bitcoin Naik ke $71.335, Uji Zona Resistance

    Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan penguatan dalam perdagangan 24 jam terakhir.

    Berdasarkan data pasar terbaru dari Tokocrypto pada Jumat (13/3), BTC saat ini diperdagangkan di sekitar $71.335 per koin, naik sekitar 2,78% dalam sehari.

    Kenaikan ini mendorong kapitalisasi pasar Bitcoin kembali menembus $1,42 triliun, mempertahankan posisinya sebagai aset kripto terbesar di dunia.

    Sementara itu, aktivitas perdagangan juga tetap tinggi, dengan volume transaksi harian mencapai $45,69 miliar.

    Penguatan harga ini menunjukkan bahwa minat investor terhadap Bitcoin masih kuat, meskipun pasar kripto sebelumnya mengalami fase koreksi dalam beberapa bulan terakhir.

    Baca Juga: Bitcoin Harus Tembus Level Ini Dulu, Baru Bull Market Dimulai?

    Pergerakan Harga Bitcoin dalam 24 Jam

    Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin bergerak dalam rentang harga yang cukup lebar.

    Data menunjukkan bahwa BTC sempat menyentuh level terendah di $69.230, sebelum naik hingga mencapai puncak harian sekitar $71.995.

    Saat ini harga berada di kisaran $71.300, menandakan bahwa pasar sedang mencoba mempertahankan momentum kenaikan setelah menembus kembali area psikologis $70.000.

    Dalam jangka sangat pendek, pergerakan harga terlihat relatif stabil. BTC hanya mengalami perubahan sekitar -0,09% dalam satu jam terakhir, yang menunjukkan fase konsolidasi setelah reli yang cukup cepat.

    Performa Bitcoin dalam Beberapa Periode

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Jumat, 13 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Jumat, 13 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Jika dilihat dari performa dalam berbagai periode waktu, Bitcoin menunjukkan tren yang beragam.

    Dalam 7 hari terakhir, BTC tercatat naik sekitar 1,04%, menandakan pemulihan perlahan setelah volatilitas sebelumnya.

    Sementara itu, dalam 30 hari terakhir, harga Bitcoin mengalami kenaikan sekitar 5,62%, menunjukkan adanya peningkatan sentimen positif di pasar kripto.

    Namun, jika melihat periode yang lebih panjang, Bitcoin masih berada dalam fase pemulihan setelah koreksi besar.

    Dalam 60 hari terakhir, BTC turun sekitar 22,49%, dan dalam 90 hari terakhir terkoreksi sekitar 21,08%.

    Data ini menunjukkan bahwa meskipun tren jangka pendek mulai menguat, pasar masih berusaha pulih dari tekanan sebelumnya.

    Kapitalisasi Pasar dan Suplai Bitcoin

    Bitcoin saat ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar $1,426 triliun, menjadikannya aset digital dengan nilai terbesar di industri kripto.

    Jumlah Bitcoin yang beredar saat ini mencapai sekitar 20 juta BTC, atau sekitar 95,25% dari total suplai maksimum sebesar 21 juta koin.

    Karena suplai Bitcoin terbatas, banyak investor menganggap aset ini sebagai penyimpan nilai jangka panjang, sering disebut sebagai “emas digital”.

    Jika seluruh suplai maksimum telah beredar, kapitalisasi pasar terdilusi penuh (fully diluted market cap) Bitcoin diperkirakan mencapai sekitar $1,49 triliun.

    Jarak dari Rekor Harga Tertinggi

    Meskipun saat ini berada di kisaran $71.000, harga Bitcoin masih cukup jauh dari rekor tertinggi sepanjang masa sebesar $126.198.

    Perbedaan ini menunjukkan bahwa BTC masih memiliki ruang kenaikan yang signifikan jika tren bullish kembali terbentuk di pasar kripto global.

    Namun sebelum menuju level tersebut, Bitcoin harus mampu menembus beberapa zona resistance penting di kisaran $72.000 hingga $75.000.

    Level Support dan Resistance yang Perlu Dipantau

    Dalam analisis teknikal jangka pendek, ada beberapa level harga penting yang menjadi perhatian trader.

    Area $70.000 saat ini berfungsi sebagai support psikologis utama bagi Bitcoin. Jika level ini mampu dipertahankan, BTC berpotensi melanjutkan kenaikan menuju resistance di sekitar $72.000.

    Jika harga berhasil menembus zona tersebut, target berikutnya bisa berada di kisaran $74.000 hingga $75.000.

    Namun jika tekanan jual meningkat dan harga turun kembali di bawah $70.000, pasar berpotensi menguji support berikutnya di sekitar $68.000 hingga $69.000.

    Baca Juga: Analisa Harga BTC Hari Ini: Bitcoin Stabil di $69.500 Meski Pasar Tertekan

    Prospek Pergerakan Bitcoin

    Secara keseluruhan, kenaikan harga Bitcoin dalam 24 jam terakhir menunjukkan adanya pemulihan sentimen di pasar kripto.

    Volume perdagangan yang tetap tinggi menandakan bahwa aktivitas investor masih kuat, baik dari trader jangka pendek maupun investor jangka panjang.

    Jika momentum beli dapat dipertahankan, Bitcoin berpotensi melanjutkan kenaikan dan mencoba menembus kembali zona resistance utama di sekitar $72.000.

    Namun dalam jangka pendek, pergerakan harga masih kemungkinan dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global, arus modal di pasar kripto, serta dinamika sentimen investor.

    Sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, pergerakan Bitcoin tetap menjadi indikator utama arah pasar kripto secara keseluruhan, termasuk bagi berbagai altcoin yang biasanya mengikuti tren yang dibentuk oleh BTC.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Kripto Hari Ini 13 Maret 2026: Bitcoin Tembus Lagi $71.000!

    Pasar kripto hari ini, Jumat (13/3) kembali menunjukkan pemulihan setelah sempat mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir. Bitcoin berhasil merebut kembali level psikologis $71.000, didorong oleh membaiknya sentimen global.

    Salah satu pemicunya adalah wacana dari Donald Trump terkait potensi penangguhan Jones Act, yang dipandang dapat membantu kelancaran distribusi energi dan menurunkan tekanan ekonomi. Selain itu, pelonggaran akses di Selat Hormuz oleh Iran turut meredakan kekhawatiran pasar dan memberikan dorongan bagi aset berisiko seperti kripto.

    Di tengah pemulihan tersebut, sejumlah altcoin mencatat kenaikan signifikan. TURBO memimpin dengan lonjakan 27% hingga mencapai $0,00118. FET juga menguat 16% ke level $0,185759, sementara ENSO naik 15% hingga menyentuh $1,305. Lihat lebih lengkap di bawah ini:

    Prospek Altcoin Potensial Saat Pasar Kripto Rebound

    • TURBO melesat 27% dan kini menyentuh angka $0,00118.
    • FET menguat 16% ke posisi harga saat ini $0,185759.
    • ENSO naik tajam 15% hingga mencapai level $1,305.

    Pasar Kripto Pulih Usai Wacana Penangguhan Jones Act oleh Trump

    Bitcoin kembali rebut level psikologis $71.000.
    Sentimen positif dari potensi penghentian Undang-undang Jones.
    Kripto naik setelah Iran longgarkan akses Selat Hormuz.

    Dadakan DRX! Cashback 100% Total Hadiah Rp50 JUTA*

    Trump Serukan Pemangkasan Suku Bunga Darurat Jelang FOMC

    Trump desak Powell segera turunkan suku bunga.
    The Fed Diprediksi tahan suku bunga pada FOMC pekan depan.
    Pemotongan bunga darurat terakhir terjadi pada Maret 2020.

    Dampak Kemenangan AS Atas Iran Terhadap Harga XRP?

    • Harga Ripple volatil di tengah sentimen regulasi.
    • Konflik AS-Iran picu kepanikan pasar dan tekan kripto.
    • Pasar waspada, XRP uji support $1,35.

    Baca juga: Riset Kripto 2-6 Mar 2026: Bitcoin Bullish di Tengah Ketegangan Geopolitik


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Harus Tembus Level Ini Dulu, Baru Bull Market Dimulai?

    Pergerakan harga Bitcoin dinilai masih berada dalam fase pasar bearish hingga mampu menembus level harga tertentu yang menjadi acuan bagi investor besar atau whale baru. Data terbaru menunjukkan bahwa whale yang memegang Bitcoin kurang dari 155 hari memiliki rata-rata harga beli sekitar US$85.600.

    Level tersebut kini menjadi salah satu titik resistensi penting dalam siklus pasar Bitcoin saat ini. Selama harga Bitcoin masih berada di bawah rata-rata biaya akumulasi kelompok investor tersebut, potensi bull market dinilai belum sepenuhnya terbentuk.

    Harga Bitcoin dan Siklus Pergerakan Whale

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Kamis, 12 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Kamis, 12 Maret 2026. Sumber: Tokocrypto.

    Dilaporkan Crypto Quant, dalam siklus pasar sebelumnya, terdapat pola yang relatif konsisten antara harga Bitcoin dan perilaku whale jangka pendek atau short-term holder (STH). Ketika harga Bitcoin turun di bawah harga rata-rata pembelian kelompok ini, pasar cenderung memasuki fase bearish.

    Sebaliknya, ketika harga Bitcoin kembali naik dan mampu bertahan di atas level tersebut, pasar biasanya memasuki fase bullish.

    Dalam siklus terbaru, level US$85.600 menjadi indikator penting karena mewakili harga rata-rata pembelian whale baru yang memasuki pasar dalam beberapa bulan terakhir.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, dalam siklus saat ini, area US$85.600 terlihat sebagai resistance paling kritikal karena pada Januari 2026 level tersebut sempat diuji, tertahan sebagai resistance, lalu Bitcoin kembali jatuh ke area US$60.000.

    “Artinya, selama BTC belum reclaim dan hold di atas cost basis new whales, struktur pasar masih lebih dekat ke fase pemulihan rapuh daripada awal bull market yang bersih,” katanya.

    Baca juga: Bitcoin Masuk Fase Paling Melelahkan, Investor Mulai Ragu?

    Level US$85.600 Jadi Resistensi Penting

    Level tersebut sempat diuji pada Januari 2026, namun gagal ditembus dan berubah menjadi area resistensi kuat. Setelah penolakan di area tersebut, harga Bitcoin kemudian turun kembali hingga mendekati US$60.000.

    Peristiwa ini memperkuat pandangan bahwa level harga rata-rata whale jangka pendek masih menjadi penghalang utama bagi pemulihan pasar yang lebih luas.

    Jika Bitcoin mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, banyak whale baru berpotensi kembali berada dalam kondisi profit.

    Sentimen Pasar Bisa Berubah

    Perubahan kondisi dari rugi menjadi profit bagi kelompok investor besar sering kali berdampak signifikan terhadap sentimen pasar. Ketika whale mulai mencatat keuntungan, tekanan jual biasanya berkurang dan minat beli baru dapat meningkat.

    Kondisi tersebut berpotensi menjadi pemicu awal bagi fase bullish berikutnya.

    Namun selama harga Bitcoin masih berada di bawah rata-rata biaya akumulasi whale jangka pendek, analis menilai pasar masih berada dalam fase konsolidasi dan belum memasuki bull market secara penuh.

    Baca Juga: Michael Saylor Beri Sinyal Beli Bitcoin Baru Setelah Pendanaan $711 Juta


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Nilai Transaksi Kripto RI Melesat Tembus Rp 276,45 T


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan nilai transaksi kripto Juli 2025 mencapai Rp 52,46 triliun. Dengan demikian, total transaksi kripto sepanjang 2025 tembus Rp 276,45 triliun.

    Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi mengatakan, capaian pada Juli melesat 62,26% dibandingkan Juni sebesar Rp 32,31 triliun.

    “Nilai transaksi aset kripto sepanjang periode Juli 2025 tercatat sebesar Rp 52,46 triliun yang juga meningkat signifikan sebesar 62,36% jika dibandingkan posisi Juni 2025 yang mencatat angka sebesar Rp 32,31 triliun,” kata Hasan dalam Konferensi Pers RDK Bulanan (RDKB) Agustus 2025, Kamis (4/9/2025).


    Jumlah investor kripto mencapai 16,5 juta, naik 4,11% dibandingkan Juni yang sebesar 15,85 juta. Dari sisi kapitalisasi pasar aset kripto hingga Juli mencapai Rp 36,58 triliun, tumbuh dibandingkan bulan sebelumnya sebesar Rp 31,24 triliun.

    Di samping itu, Hasan juga merespons huru-hara beberapa waktu terakhir. Menurutnya, industri aset kripto, pemeringkatan kredit alternatif, penyelenggara agregasi jasa keuangan, atau terkait inovasi teknologi sektor keuangan berjalan normal dan tidak mengalami gangguan.

    “Ini ditandai dengan kami mencatat angka permintaan data skor kredit kepada pemeringkat kredit alternatif, nilai transaksi yang diselesaikan oleh penyelenggara agregasi jasa keuangan maupun angka nilai aktivitas penempatan dan penarikan dana dan aset kripto yang tercatat di pedagang aset keuangan digital, berada dalam kisaran normal,” ujar Hasan.

    Hasan berharap kondisi ini juga dapat menunjukkan kepercayaan konsumen dan kondisi pasar pada industri Aset Keuangan Digital (AKD) tetap terjaga dengan baik.

    Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

    (shc/ara)



    Sumber : finance.detik.com

  • Transaksi Kripto RI Kebakaran, Rontok Rp 109,76 Triliun


    Jakarta

    Transaksi mata uang kripto di Indonesia mengalami penurunan jelang akhir tahun. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto melemah 24,53% secara bulanan dari Rp 49,29 triliun di bulan Oktober 2025 menjadi Rp 37,20 triliun pada November 2025.

    Kemudian secara tahunan, transaksi aset kripto juga turun 19,72% atau terkoreksi sebesar Rp 109,76 triliun. Adapun rinciannya, total nilai transaksi aset kripto hingga November 2025 sebesar Rp 446,77 triliun dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp 556,53 triliun.

    CEO Tokocrypto Calvin Kizana menjelaskan penurunan transaksi ini terjadi seiring runtuhnya harga harga Bitcoin (BTC) yang mencatat bulan terburuk kedua sepanjang 2025. Pada November, harga Bitcoin terkoreksi lebih dari 17% akibat kombinasi arus keluar dana ETF Bitcoin, melemahnya permintaan institusional, dan tekanan jual dari investor jangka pendek.


    “Tekanan pasar global semakin besar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperluas kebijakan tarif terhadap China pada 10 Oktober 2025, yang memicu penilaian ulang risiko di pasar global. Volatilitas berlanjut hingga November dan diperparah oleh penutupan pemerintahan AS yang memecahkan rekor, sehingga memperketat likuiditas di pasar keuangan tradisional,” jelas Calvin dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/12/2025).

    Selain itu, arus dana institusional BTC juga melemah yang tercermin dalam data SoSo Value, di mana ETF Bitcoin di Amerika Serikat (AS) mengalami arus keluar dana sebesar US$ 3,48 miliar sepanjang November. Kondisi ini mempengaruhi sentimen investor domestik, yang cenderung mengambil posisi wait and see menjelang akhir tahun.

    Sementara berdasarkan transaksi di Tokocrypto hingga November 2025, total nilai transaksi tercatat mendekati Rp150 triliun. Capaian ini mencerminkan tingginya minat dan partisipasi pengguna meskipun pasar global tengah berada dalam fase koreksi.

    “Kami melihat pasar kripto global memang sedang berada dalam fase koreksi yang berdampak pada psikologi investor, termasuk di Indonesia yang cenderung bersikap wait and see menjelang akhir tahun. Namun, minat terhadap aset kripto tetap kuat,” ujar dia.

    Lihat juga Video: Modus Pria Bandung Bobol Situs Kripto London Rp 6,6 M

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Harga Bitcoin Tiba-tiba Terjun Bebas!


    Jakarta

    Pasar keuangan digital kripro kompak terkoreksi pada perdagangan hari ini, Selasa (16/12/2025). Penurunan harga terjadi pada Bitcoin (BTC) yang diikuti beberapa altcoin lainnya, seperti Ethereum, BNB, hingga Solana.

    Mengutip dari data perdagangan Coinmarketcap hari ini, harga BTC melemah 4,44% selama 24 jam terakhir. BTC turun signifikan dari harga tertingginya di level US$ 89.945 atau sekitar Rp 1,50 miliar (asumsi kurs Rp 16.692) ke posisi US$ 85.595 atau sekitar Rp 1.42 miliar.

    Jika ditarik pada perdagangan sepekan terakhir, pergerakan harga BTC turun signifikan setelah mencapai level US$ 94.350 atau sekitar Rp 1,54 miliar. Dalam sepekan, harga BTC tercatat melemah sebesar 4,79%.


    Berdasarkan analisa Coinmarketcap, para investor BTC masih menanti laporan inflasi AS. Data inflasi ini disebut dapat menentukan tren harga BTC di sisa bulan Desember 2025. Adapun data yang dinanti mencakup penjualan ritel, klaim pengangguran, Indeks Harga Konsumen, hingga konsumsi rumah tangga.

    Meski begitu, koreksi harga ini tidak hanya terjadi untuk mata uang BTC. Pelemahan yang sama juga terjadi pada Ethereum (ETH) yang melemah 6,88% selama 24. ETH melemah dari harga tertingginya di level US$ 3.171 atau sekitar Rp 52,93 juta ke harga US$ 2.909 atau Rp 48,55 juta.

    Kemudian untuk BNB melemah 4,16% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir. BNB turun dari harga tertingginya US$ 892,44 ke level US$ 852,34. Sementara untuk Solana (SOL) melemah 4,61% sepanjang 24 jam terakhir, dari harga tertinggi di posisi US$ 134,58 ke level US$ 125,91.

    Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Terkuak Biang Kerok Kripto Rontok


    Jakarta

    Transaksi kripto mengalami tekanan berat jelang akhir tahun. Tekanan ini terjadi imbas kombinasi sejumlah sentimen, baik arus keluar dana ETF Bitcoin (BTC), tekanan jual investor, hingga makro ekonomi global.

    Pelemahan ini pun terjadi pada transaksi kripto di Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto melemah 24,53% secara bulanan dari Rp 49,29 triliun di bulan Oktober 2025 menjadi Rp 37,20 triliun pada November 2025.

    Kemudian secara tahunan, transaksi aset kripto juga turun 19,72% atau terkoreksi sebesar Rp 109,76 triliun. Adapun rinciannya, total nilai transaksi aset kripto hingga November 2025 sebesar Rp 446,77 triliun dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp 556,53 triliun.


    CEO Tokocrypto Calvin Kizana menjelaskan penurunan transaksi ini terjadi seiring runtuhnya Bitcoin (BTC) yang mencatat bulan terburuk kedua sepanjang 2025.

    Pada November, harga Bitcoin terkoreksi lebih dari 17% akibat kombinasi arus keluar dana ETF Bitcoin, melemahnya permintaan institusional, dan tekanan jual dari investor jangka pendek.

    “Tekanan pasar global semakin besar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperluas kebijakan tarif terhadap China pada 10 Oktober 2025, yang memicu penilaian ulang risiko di pasar global. Volatilitas berlanjut hingga November dan diperparah oleh penutupan pemerintahan AS yang memecahkan rekor, sehingga memperketat likuiditas di pasar keuangan tradisional,” jelas Calvin dalam keterangan tertulis, Kamis (18/12/2025).

    Selain itu, arus dana institusional BTC juga melemah yang tercermin dalam data SoSo Value, di mana ETF Bitcoin di Amerika Serikat (AS) mengalami arus keluar dana sebesar US$ 3,48 miliar sepanjang November.

    Kondisi ini mempengaruhi sentimen investor domestik, yang cenderung mengambil posisi wait and see menjelang akhir tahun.

    Sementara berdasarkan transaksi di Tokocrypto hingga November 2025, total nilai transaksi tercatat mendekati Rp150 triliun. Capaian ini mencerminkan tingginya minat dan partisipasi pengguna meskipun pasar global tengah berada dalam fase koreksi.

    “Kami melihat pasar kripto global memang sedang berada dalam fase koreksi yang berdampak pada psikologi investor, termasuk di Indonesia yang cenderung bersikap wait and see menjelang akhir tahun. Namun, minat terhadap aset kripto tetap kuat,” pungkasnya.

    Simak juga Video: Modus Pria Bandung Bobol Situs Kripto London Rp 6,6 M

    (ahi/hns)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bakal Ada Kejutan di Pasar Kripto Sebentar Lagi, Investor Harap Bersiap!


    Jakarta

    Diprediksi bakal terjadi geliat di pasar aset kripto menjelang Bitcoin halving. Para investor dan trader disarankan untuk mempersiapkan diri agar bisa memaksimalkan performa portofolionya.

    Untuk diketahui, Bitcoin halving adalah aktivitas yang terjadi setiap empat tahun sekali dan ditunggu semua pelaku pasar aset kripto. Dalam masa ini, imbalan atas penambangan aset kripto Bitcoin akan dipotong.

    Bitcoin halving juga akan membatasi pasokan koin BTC, yang secara total sudah ditentukan sebanyak 21 juta koin. Sesuai hukum ekonomi, berkurangnya pasokan dengan permintaan yang banyak akan membuat harga terkerek.


    CEO Bittime Ryan Lymn mengatakan pihaknya menilai Bitcoin halving bakal membuat pasar aset kripto secara keseluruhan akan menggeliat. Dalam hal ini, menurutnya masa-masa menjelang dan setelah halving akan memberikan banyak kejutan.

    “Bitcoin halving kali ini diprediksi terjadi pada pertengahan April. Sementara kita sudah melihat pasar aset kripto yang begitu bullish sejak awal tahun dan mencatatkan beberapa rekor baru. Banyak kejutan yang bisa terjadi di masa-masa yang dekat dengan halving,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/3/2024).

    Ryan menambahkan, mendekati masa halving terdapat beberapa opsi strategi yang bisa digunakan oleh trader maupun investor. Hal itu penting dipertimbangkan agar pelaku pasar bisa memaksimalkan performa portfolio.

    “Tim riset Bittime telah memantau pergerakan pasar aset kripto pada halving sebelumnya dan juga sejak awal tahun ini. Ada beberapa strategi atau tips yang bakal berguna bagi para pelaku pasar aset kripto,” jelasnya.

    Product Manager Bittime, Fransiskus Bupu Awa Du’a mengatakan pihaknya telah melihat kinerja pasar aset kripto selama historikal halving sebelumnya. Menurutnya, terdapat beberapa tips yang bisa dipertimbangkan para pelaku pasar selama masa-masa ini.

    “Pertama, yang pasti adalah buy the dip, atau melakukan aksi beli ketika harga Bitcoin turun. Pasalnya secara historis, harga BTC terpantau menguat setelah halving,” ungkapnya.

    Ia menjelaskan, strategi buy the dip cocok digunakan karena dalam dua momentum halving sebelumnya di 2020 dan 2016, harga BTC terpantau melemah cukup tajam sebelum halving. Hal itulah yang menurutnya jadi pertimbangan untuk buy the dip di masa menjelang halving, dengan catatan pelaku pasar menahan .

    “Pada halving 2016, harga Bitcoin terpantau melemah sampai minus 40% sebelum halving. Sementara pada 2020, BTC tercatat koreksi sampai minus 20% sebelum halving. Jadi ada kemungkinan pelemahan cukup besar sebelum halving,” jelas Fransiskus.

    Tips yang kedua, lanjut Frans, adalah memantau altcoin dengan proyek di jaringan Bitcoin, hingga yang menggunakan layer 2 di blockchain tersebut untuk menjadi aset diversifikasi. Hal itu dinilainya menjadi perkembangan narasi dimana jaringan Bitcoin bisa digunakan untuk hal lain selain transaksi belaka.

    “Saat ini sudah ada beberapa altcoin di jaringan Bitcoin yang secara project roadmap menarik, antara lain ORDI dan STX. Aset kripto tersebut bisa dipertimbangkan menjadi diversifikasi dalam portofolio pelaku pasar,” jelasnya.

    Sebelumnya Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat, nilai transaksi perdagangan aset kripto pada Februari 2024 sebesar Rp33,69 triliun atau naik 56,22% dari bulan sebelumnya.

    Sementara itu, jumlah investor per Februari 2024 tercatat sebanyak 19,18 juta investor. Bappebti menilai adanya peristiwa halving Bitcoin dapat mendorong transaksi dan jumlah investor lebih banyak lagi kedepannya.

    (das/das)



    Sumber : finance.detik.com

  • Apa Perbedaan Kripto dan Bitcoin? Pahami Sebelum Berinvestasi

    Jakarta

    Di era digital, tren investasi berkembang pesat dan didukung oleh berbagai teknologi baru yang canggih. Salah satu investasi digital yang populer di kalangan masyarakat adalah investasi kripto.

    Ketika ingin memasuki dunia investasi digital, mungkin detikers pernah mendengar diskusi mengenai investasi bitcoin. Oleh karena itu, mungkin sebagian orang kebingungan antara perbedaan kripto dan bitcoin.

    Sebelum berinvestasi, penting untuk mengetahui perbedaan istilah-istilah tersebut. Tak usah bingung lagi, simak artikel berikut untuk memahami perbedaan kripto dan bitcoin.


    Perbedaan Kripto dan Bitcoin

    Mengutip Tax2win, kripto atau cryptocurrency adalah mata uang digital yang digunakan untuk transaksi melalui jaringan komputer. Jadi, kripto tidak memiliki bentuk fisik seperti mata uang konvensional. Selain itu, transaksi kripto juga tidak bergantung pada otoritas sentral seperti bank atau pemerintah.

    Kalau begitu, apa perbedaannya dengan Bitcoin? Bitcoin adalah salah satu jenis cryptocurrency. Mengutip NerdWallet, Bitcoin diperkenalkan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008 sebagai cryptocurrency yang pertama. Sekarang, Bitcoin adalah salah satu mata uang kripto yang paling populer dan menginspirasi kemunculan cryptocurrency lainnya.

    Cara Kerja Bitcoin

    Jika ingin berinvestasi bitcoin atau cryptocurrency lainnya, penting untuk mengetahui cara kerjanya.

    1. Menggunakan Blockchain

    Bitcoin bekerja menggunakan sebuah blockchain, yaitu sebuah koding bersifat open source yang mengumpulkan seluruh riwayat transaksi menggunakan bitcoin. Riwayat transaksi ini diatur ke dalam berbagai blok yang terhubung satu sama lain untuk menghindari kemungkinan diutak-atik.

    Dengan adanya blockchain yang dapat dilihat oleh semua pengguna, semua riwayat transaksi tercatat secara permanen.

    2. Ada Private dan Public Key

    Mengutip Ledger, semua dompet kripto, termasuk Bitcoin, memiliki sebuah private key dan sebuah public key.

    Private key adalah dasar dari setiap akun blockchain dan diperlukan untuk semua kebutuhan yang berkaitan dengan blockchain. Jika seseorang memiliki private key, ia memiliki akses ke blockchain yang menyimpan aset kripto miliknya.

    Sementara public key bisa terlihat oleh semua pengguna dalam suatu network blockchain. Public key berperan seperti nomor akun sebagai identifikasi unik.

    3. Verifikasi dengan Bitcoin Mining

    Verifikasi transaksi dilakukan melalui proses yang disebut penambangan atau mining. Mining menggunakan proses kriptografi yang rumit untuk mencegah pemalsuan dan pencurian. Penambang atau miner bisa memperoleh Bitcoin sebagai imbalan atas kesuksesan mining.

    Jenis Kripto Selain Bitcoin

    Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa bitcoin adalah mata uang kripto pertama dan telah menginspirasi kemunculan mata uang kripto lainnya. Jika detikers tertarik berinvestasi kripto, ada berbagai pilihan cryptocurrency yang sering digunakan di Indonesia, tidak hanya bitcoin.

    1. Ether

    Ether aau ETH adalah cryptocurrency yang menggunakan blockchain bernama Ethereum. Mengutip situs perusahaan internet banking N26, Ether tidak memiliki limit, yang berarti secara teoritis, tidak ada batas berapa jumlah koin Ether yang bisa diciptakan. Ini berbeda dengan Bitcoin yang memiliki limit 21 juta koin.

    Menurut Google Finance, saat ini (1/4/2024), 1 ETH memiliki nilai sekitar $3500 atau sekitar Rp 56 juta.

    2. Solana

    SOL adalah cryptocurrency yang berjalan menggunakan blockchain Solana. Solana dapat menjalankan 50.000 transaksi setiap detiknya, sehingga performanya lebih cepat.

    Mengutip Coin Gecko, saat ini (1/4/2024), 1 SOL memiliki nilai $198 atau Rp 3,1 juta.

    3. USD Coin

    USD Coin atau USDC adalah salah satu jenis stablecoin, yakni mata uang kripto yang menggunakan referensi eksternal untuk mendasari nilainya dengan tujuan mengurangi volatilitas.

    USD coin mendasari nilainya menggunakan dolar Amerika Serikat sebagai referensi. Jadi, 1 USD Coin setara dengan 1 dolar AS atau sekitar Rp 15.800 (1/4/2024).

    Itu dia perbedaan kripto dan bitcoin. Jadi, investor pemula tak usah bingung lagi, ya. Kripto adalah istilah yang lebih luas untuk mencakup semua mata uang digital yang digunakan dalam bertransaksi, sementara Bitcoin adalah salah satu jenis kripto.

    (fds/fds)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bitcoin Melesat di Tengah Panasnya Konflik Iran vs Israel


    Jakarta

    Beberapa aset kripto mengalami penguatan siang ini. Aset kripto ini menguat di tengah panasnya kondisi Timur Tengah, usai Iran menyerang Israel.

    Dikutip dari Coindesk, Senin (15/4/2025), Bitcoin berada pada level US$ 65.039,94 siang ini. Bitcoin menguat sebanyak 1,05% dalam 24 jam terakhir.

    Ethereum juga menguat sebanyak 2,47%. siang ini, Ethereum berada pada level US$ 3.140,25.


    Sementara, Tether turun 0,22% sepanjang 24 jam terakhir ke level US$ 1 dan BNB turun 0,40% ke level US$ 567,94. Solana naik 4,72% ke level US$ 148,44 pada siang ini.

    Berdasarkan data Coin Market Cap, Bitcoin naik 0,47% selama 24 jam terakhir. Siang ini, Bitcoin berada pada level Rp 1,046 milar.

    Ethreum juga naik sebanyak 1,89%. Siang ini, Ethereum ada di posisi Rp 50,536 juta.

    BNB dan Solana juga mengalami penguatan selama 24 jam terakhir. BNB menguat 0,33% ke level Rp 9,097 juta dan Solana menguat 4,08% ke level Rp 2,390 juta. Namun, Tether turun 0,79% ke level Rp 16.094.

    (acd/das)



    Sumber : finance.detik.com