Tag: blackrock

  • BlackRock Melangkah ke Dunia Crypto! Membuka Peluang Investasi Baru

    Perusahaan investasi terbesar di dunia, BlackRock Inc., berencana menambahkan kontrak futures Bitcoin ke dalam dua dana kelolaannya. Akibatnya saat ini BlackRock menjadi salah satu perusahaan investasi yang membuka investornya ke dunia crypto.

    BlackRock Melangkah ke Dunia Crypto

    Perusahaan investasi terbesar di dunia ini baru saja memperbarui pengajuan izin ke Securities and Exchange Commission (SEC) untuk dua dana kelolaannya. Pembaruan izin ini dilakukan untuk memasukan kontrak berjangka berbasis Bitcoin sebagai salah satu aset yang dikelola untuk dana investasi tersebut.

    Baca Juga: Ini Cara DeFi Diadopsi Semakin Luas Lagi!

    Dua dana investasi yang dimaksud adalah dana investasi bernama BlackRock Strategic Income Opportunities dan BlackRock Global Allocation Fund Inc. Dua dana investas ini bersifat seperti reksadana namun memiliki aset yang bervariasi dalam alokasi dananya.

    Kedua dana investasi tersebut terlihat muncul perizinannya pada Hari Rabu kemarin yang membuat mayoritas pasar terkejut akibat sebelumnya BlackRock bukan penggemar crypto. Perizinan ini menjadi bukti nyata bahwa BlackRock telah mulai tertarik untuk masuk ke dunia crypto, mengikuti mayoritas investor institusional lainnya.

    BlackRock merupakan perusahaan investasi terbesar di dunia akibat aset yang dikelolanya saat ini sebesar $8,7 Triliun. Jika perusahaan ini mulai masuk ke dunia crypto, kemungkinan besar dampaknya akan sangat besar mengingat dana yang dimilikinya.

    Potensi Dampak dari Investasi Baru

    Pada 2018, CEO dari BlackRock, Larry Fink, menyatakan bahwa mayoritas nasabah atau investornya tidak tertarik untuk investasi dalam dunia crypto. Namun baru-baru ini ia terlihat mulai tertarik dan terbuka terhadap Bitcoin yang sering kali dianggap sebagai emas digital.

    Baca Juga: Rencana IPO Semakin Kuat, Coinbase Jadi Perbincangan Panas

    Saat ini, juru bicara dari BlackRock masih menolak untuk memberikan tanggapan mengenai pengajuan izin tersebut. Tetapi, Rick Rieder, kepala investasi dari dana pengelolaan pendapatan tetap BlackRock, menyatakan bahwa permintaan terhadap Bitcoin akan terus naik yang membuat aset tersebut cocok sebagai investasi jangka panjang.

    Jika BlackRock melanjutkan rencananya untuk mulai mengalokasikan dana terhadap kontrak jangka panjang Bitcoin dan Bitcoin itu sendiri, kemungkinan besar dampaknya akan sangat besar.

    Kemungkinan besar investasi tersebut akan menjadi langkah awal menuju gerakan baru ke dunia crypto seperti layaknya Grayscale. Grayscale memulai investasi cryptonya melalui Bitcoin dan sudah berkembang jauh hingga menciptakan Reksadana berbasis beberapa crypto dan sudah mengelola hampir $600 Juta.

    Tidak menutup kemungkinan bahwa BlackRock dapat melakukan hal yang sama, bahkan lebih besar mengingat dana yang dikelola jauh lebih tinggi dari Grayscale. Kemungkinan besar jika investasi ini terjadi pasar crypto akan melihat apresiasi yang cukup signifikan.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • BlackRock: Tahun 2022 adalah Tahun Besar untuk Metaverse

    Blackrock menduga tahun 2022 merupakan tahun besar bagi metaverse. Perusahaan teknologi besar menggelontorkan investasi di sektor ini. Perangkat Augmented Reality (AR) dan teknologi 5G turut mendorong pertumbuhan.

    Kendati demikian, kepala ekuitas Blackrock, Nigel Bolton, berkata sulit mengetahui perusahaan serta sektor mana yang akan mendominasi metaverse.

    “Kami pikir ada beberapa hal yang terjadi yang akan memicu perubahan besar dalam waktu dekat,” jelas Bolton dalam wawancara kepada kanal berita CNBC.

    Baca jugaRusia Akhirnya Mengakui Bitcoin sebagai Mata Uang (Currency)

    Ia menambahkan, di akhir tahun ini, teknologi kacamata AR akan semakin nyata. Melalui gawai inilah perubahan di sektor metaverse tersebut akan terjadi.

    Apple termasuk perusahaan yang menggarap kacamata AR, tetapi tanggal peluncuran bagi produk tersebut belum ditetapkan secara konkrit.

    Komentar Bolton menyusul laporan kuartal keempat perusahaan teknologi besar yang mengungkap minat tinggi terhadap sektor ini. Metaverse merupakan dunia virtual dimana pengguna memakai avatar untuk bermain game, bekerja, membangun hal atau menonton acara virtual.

    Penghasilan Meta menunjukkan seksi metaverse Reality Labs mengalami kerugian besar dan semakin membengkak yang mencakup US$10 milyar pada tahun 2021.

    Meta berada di posisi terdepan antara perusahaan teknologi yang memasuki metaverse. Tetapi belum lama ini, Microsoft mengakuisisi pembuat game Activision senilai US$75 milyar.

    Menanggapi hal tersebut, CEO Apple Tim cook berkata hal itu sangat menarik.

    Bolton menegaskan perluasan kecepatan internet 5G akan menjadi katalis yang mendorong orang-orang untuk semakin menggunakan teknologi terkait sektor ini.

    Baca jugaMengenal Berbagai Kelebihan Aset Kripto

    Kendati demikian, dari sisi investasi, Bolton berkata sulit bagi Blackrock untuk memahami secara persis bagaimana metaverse akan menjadi besar dan siapa pemenangnya.

    Ia menyamakan metaverse dengan masa awal internet di tahun 1990an atau penciptaan ponsel di dekade 2000an.

    Di sisi lain, sejumlah pihak yang skeptis terhadap metaverse berpendapat hal ini hanyalah sebuah penamaan ulang teknologi yang sudah beredar sejak lama.

    Ethan Zuckerman, profesor komunikasi Universitas Massachusetts Amherts, berkata sebagian besar orang enggan menjalankan kehidupan di dunia virtual.

    Sebagai contoh, menggelar rapat kerja dalam bentuk avatar tanpa ekspresi merupakan suatu aktivitas yang hanya digandrungi oleh pegiat sains komputer, tandas Zuckerman.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CEO BlackRock: Bitcoin Bisa Menjadi Aset Global

    Larry Fink, CEO Blackrock, perusahaan manajemen aset terbesar di dunia, mengatakan bahwa Bitcoin bisa tumbuh menjadi aset bernilai berskala global. Sebelumnya, jelang akhir November 2020, hal senada disampaikan oleh CIO Blackrock, yakni Rick Rieder.

    Lagi-lagi perusahaan raksasa memberikan sentimen positif terhadap Bitcoin, yang sejak 30 November 2020 lalu sudah menembus rekor harga tertinggi sepanjang masa.

    Apresiasi positif itu datang dari Larry Fink, CEO Blackrock. Dilansir dari CNBC belum lama ini, menurutnya, Bitcoin jelas-jelasa menarik perhatian banyak orang, kendati pasar aset kripto masih relatif kecil dibandingkan pasar jenis aset lain.

    Baca Juga: Analis Prediksi Bitcoin Segera Menuju $20.000 dan Melampauinya

    Blackrock diketahui sebagai salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan publik MicroStrategy yang sebelumnya mengumumkan berinvestasi di Bitcoin senilai triliunan rupiah.

    Pernyataan CEO itu disampaikan ketika ia berbincang dengan Mark Carney, Gubernur Bank Sentral Inggris di Council on Foreign Relations. Dewan itu adalah organisasi nirlaba yang menerbitkan dan melakukan penelitian tentang kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat. Dewan didirikan pada 1921 dan bermarkas di New York City.

    Kata Fink, kelas aset yang masih baru itu, [Bitcoin] bisa tumbuh menjadi aset berskala global.

    “Bitcoin memikat perhatian dan imajinasi banyak pihak. Pasar memang masih belum teruji dan masih kecil jika dibandingkan dengan pasar kelas aset lain. Sejumlah investor besar dari kalangan perusahaan berinvestasi ke Bitcoin. Apakah Bitcoin bisa tumbuh dalam pasar berskala global? Ya, mungkin saja,” kata Larry Fink.

    CNBC melansir pernyataan Fink, bahwa kepemilikan Bitcoin dan beberapa jenis aset kripto lainnya berdampak kepada pemegang dolar AS khususnya di luar Negeri Paman Sam. Itulah yang berdampak pada kurang relevannya sejumlah aset lain yang bernilai dolar.

    Fink bahkan mempertanyakan, apakah aset kripto, termasuk Bitcoin yang sedang tumbuh ini kelak bisa mengubah kebutuhan dolar AS sebagai mata uang cadangan global?

    Sebelum Fink ada pernyataan bullish lainnya milyarder pengelola hedge fund Stanley Druckenmiller dan Paul Tudor Jones II yang telah mengalokasikan sebagian aset mereka ke Bitcoin.

    BlackRock adalah pengelola aset terbesar di dunia dengan total aset dikelola mencapai US$7,4 trilyun.

    Blackrock di Indonesia

    Blackrock juga punya andil besar di pasara Indonesia. Dilansir dari Bisnis.com, perusahaan itu mengempit kepemilikan di saham berkapitalisasi pasar jumbo atau big caps RI.

    Emiten yang masuk dalam koleksi manajer investasi kenamaan asal Amerika Serikat itu bisa menjadi cetak biru bagi pelaku pasar dalam menyusun portofolio.

    Jelang akhir November 2020, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat (AS). Salah satu pihak yang akan ditemui yakni Blackrock untuk membahas kelanjutan sovereign wealth fund (SWF).

    Baca Juga: Bank DBS: Adopsi Bitcoin oleh Perusahaan Meningkat

    Luhut memproyeksi SWF atau lembaga pengelola investasi (LPI) dapat menghimpun dana hingga US$100 milyar atau sekitar Rp1.400 triliun dalam 1 tahun hingga 2 tahun ke depan. Peraturan Pemerintah (PP) pembentukan badan itu kini tengah dalam finalisasi.

    Sejalan dengan misi itu, Luhut membidik sejumlah investor mulai dari The Blackstone Group dan Blackrock yang akan ditemui di sela kunjungan kerjanya di AS. Tujuannya, untuk menanamkan modal di SWF Indonesia.

    Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com melalui Bloomberg, Blackrock saat ini mengempit kepemilikan di saham-saham berkapitalisasi pasar jumbo atau big caps. Portofolio mereka tersebar setidaknya di sembilan saham dengan kapitalisasi terbesar saat ini.

    Untuk PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) misalnya, Blackrock tercatat mengempit kepemilikan 2,95 miliar lembar pada kuartal III/2020. Selanjutnya, kepemilikan di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencapai 1,53 miliar lembar.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CEO BlackRock Sebut Bitcoin Adalah Emas Digital, Jadi Sinyal Bullish?

    CEO BlackRock, Larry Fink mengatakan kripto, khususnya Bitcoin ( BTC ), merupakan aset yang bisa dianggap sebagai emas digital. Tidak hanya itu, Fink yakin Bitcoin dapat merevolusi sistem keuangan dunia di masa depan.

    Dalam sebuah wawancara di FOX Business, Larry Fink menjelaskan potensi besar dari aset kripto, terutama Bitcoin. Sebelumnya bos BlackRock itu dikenal skeptis terhadap kripto dan BTC, Fink bertahun-tahun yang lalu mengatakan banyak penggemar kelas aset digital banyak menggunakannya untuk “aktivitas terlarang.”

    “Kami percaya bahwa jika kami dapat membuat lebih banyak tokenisasi aset dan sekuritas – itulah bitcoin – itu dapat merevolusi keuangan… Saya percaya bahwa peran kripto adalah mendigitalkan emas dalam banyak hal,” katanya dikutip CoinDesk.

    Emas telah menjadi alternatif pokok untuk mata uang fisik untuk berinvestasi waktu. Namun, dengan munculnya aset kripto selama dekade terakhir, dengan cepat menjadi investasi alternatif sebagai aset. Bitcoin adalah kripto terkemuka dalam hal nilai di pasar. Saat ini, BTC memiliki harga US$ 30.484,52, menurut CoinMarketCap, dan kapitalisasi Pasar US$ 592.101.485.120, pada saat penulisan.

    Bitcoin Lindung Nilai

    CEO BlackRock, Larry Fink. Sumber: Getty images.
    CEO BlackRock, Larry Fink. Sumber: Getty images.

    Baca juga: Harga Bitcoin Tembus Rp 466 Juta, Efek BlackRock Ajukan Ulang ETF BTC

    Fink mengatakan bahwa BTC adalah aset internasional. Ia menjelaskan bahwa BTC dapat digunakan sebagai aset alternatif selain emas. Oleh karena itu BlackRock mengajukan aplikasi ETF (exchange-traded fund) Bitcoin pada bulan Juni lalu.

    “Alih-alih berinvestasi dalam emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi, lindung nilai terhadap masalah berat di satu negara, atau devaluasi mata uang Anda di negara mana pun Anda berada – mari kita perjelas, Bitcoin adalah aset internasional, itu adalah tidak didasarkan pada satu mata uang apa pun sehingga dapat mewakili aset yang dapat dimainkan orang sebagai alternatif,” ungkapnya.

    BlackRock mengajukan dokumen ke US Securities and Exchange Commission (SEC) pada 16 Juni untuk dana ETF Bitcoin spot. Sementara BlackRock memiliki rekam jejak yang hampir sempurna untuk mendapatkan ETF yang disetujui oleh SEC, Fink tidak dapat mengatakan kapan keputusan untuk ETF Bitcoin-nya dapat diharapkan.

    “Kami berharap, seperti di masa lalu, kami dapat bekerja sama dengan regulator kami dan mendapatkan pengajuan yang disetujui suatu hari nanti, dan saya tidak tahu akan seperti apa suatu hari nanti, tetapi kami akan melihat bagaimana hasilnya nanti.”

    Analisis Harga Bitcoin

    Grafik harian BTC/USDT. Sumber: TradingView.
    Grafik harian BTC/USDT. Sumber: TradingView.

    Baca juga: Investor Tim Draper Prediksi Harga Bitcoin Capai Rp 3,7 M di Tahun 2025

    Pernyataan CEO BlackRock saat ini belum memiliki pengaruh besar ke pasar kripto dan Bitcoin. Pada hari Kamis (6/7) pagi pukul 10.00 WIB, Bitcoin (BTC) turun 1,21% di US$ 30.477 dalam 24 jam terakhir. Meskipun sesi bearish, BTC menghindari sub-US$ 30.500 untuk sesi kedua berturut-turut.

    Potensi bullish untuk membuat BTC naik ke level tertinggi harus bisa breakout di level US$ 31.391. Pergerakan awal melihat BTC menembus level resistensi atas dari band resistensi US$ 30.750–US$ 31.250.

    Grafik Harian menunjukkan penurunan BTC/USDT di bawah level dukungan psikologis US$ 31.000 karena investor menunggu keputusan SEC tentang pengajuan ETF. Kurangnya peristiwa kripto dan kekuatan pasar eksternal membuat investor menilai kemungkinan SEC menyetujui aplikasi ETF spot. BTC/USDT akan menghindari EMA 50 hari untuk menembus dari US$ 31.500 dan menargetkan US$ 32.000.

    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Tembus Rp 466 Juta, Efek BlackRock Ajukan Ulang ETF BTC

    Performa harga Bitcoin (BTC) kembali membaik dan akhirnya menembus level US$ 31.000 atau sekitar Rp 466 juta. Kenaikan harga BTC ini salah satu pendorong kuatnya adalah pengajuan ulang dari aplikasi ETF Bitcoin spot oleh BlackRock ke Securities and Exchange Commission (SEC).

    Pada hari Selasa (4/7) pukul 09.30 WIB, Bitcoin naik sebesar 1,63%. Membalik kerugian 0,02% dari hari Senin lalu, BTC mengakhiri hari di US$ 31.266. Secara signifikan, BTC memegang pegangan US$ 31.000 untuk pertama kalinya sejak Mei 2022.

    Awal yang beragam membuat BTC jatuh ke level terendah satu jam pertama di US$ 30.601. Menghindari EMA 50 hari di US$ 30.601, BTC naik ke level tertinggi baru tahun 2023 di US$ 31.433. BTC menembus resistensi US$ 30.800–US$ 31.000 untuk mengakhiri sesi di US$ 31.225.

    Grafik harian BTC/USDT. Sumber: TradingView.
    Grafik harian BTC/USDT. Sumber: TradingView.

    Baca juga: Litecoin Melonjak 30% dalam 3 Hari Jelang Halving, Potensi Naik Lagi?

    Grafik harian menunjukkan BTC/USDT bertahan di atas level dukungan psikologis US$ 31.000 karena pasar merespons berita ETF terbaru. BTC/USDT juga tetap di atas EMA 200 hari (US$ 26.102) dan 50 hari (US$ 28.540), menandakan momentum bullish dalam jangka pendek dan jangka panjang. Khususnya, EMA 50 hari terus menjauh dari EMA 200 hari dan mencerminkan momentum bullish.

    Efek BlackRock

    Setelah laporan bahwa SEC menemukan kekurangan dalam pengajuan awalnya, BlackRock mengajukan aplikasi baru untuk ETF pasar spot Bitcoin. Jika berhasil, ini akan menjadi ETF spot Bitcoin pertama yang mendapat persetujuan.

    BlackRock telah mengajukan aplikasi yang diubah untuk dana yang diperdagangkan di bursa yang akan fokus pada pasar spot Bitcoin setelah regulator menyatakan keraguan tentang upaya pertamanya.

    BlackRock makin mantap melangkah ke market kripto incar investor kaya. Sumber: Jeenah Moon/Bloomberg.
    BlackRock makin mantap melangkah ke market kripto incar investor kaya. Sumber: Jeenah Moon/Bloomberg.

    Baca juga: Daftar Aset Kripto Potensial di Bulan Juli 2023, Raih Peluang Cuan!

    Dalam pengajuan baru yang diajukan atas namanya oleh bursa Nasdaq, BlackRock mengatakan akan menyelesaikan perjanjian pengawasan dengan Coinbase (COIN), mengatasi salah satu keberatan utama yang diajukan SEC saat menolak aplikasi untuk ETF Bitcoin spot di masa lalu.

    Surveillance-sharing agreement (SSA) Spot BTC diharapkan menjadi perjanjian berbagi pengawasan bilateral antara Nasdaq dan Coinbase yang dimaksudkan untuk melengkapi program pengawasan pasar exchange,” baca pengajuan tersebut.

    ETF yang diusulkan akan bergantung pada Coinbase, bursa kripto terbesar di Amerika Serikat, sebagai pemelihara dan untuk data pasar spotnya untuk penentuan harga. Coinbase juga memiliki perjanjian untuk menyediakan layanan serupa dengan Fidelity, yang mencari ETF spot Bitcoin miliknya sendiri.

    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Tembus US$ 25K Lagi, Setelah BlackRock Ajukan Bitcoin ETF di AS

    Harga Bitcoin dan pasar kripto kembali bergairah setelah BlackRock mengajukan aplikasi pendaftaran produk spot Bitcoin ETF melalui Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) pada Jumat (16/6) pagi. Bitcoin melonjak melewati level US$ 25.000 dan alami kenaikan lebih dari 1,3 persen, dalam satu jam setelah dokumen BlackRock tersebar.

    Sehari sebelumnya pada Kamis (15/6), harga Bitcoin sempat merosot di bawah US$ 25.000 atau level psikologisnya untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Salah satu pendorong penurunan ini adalah Tether (USDT), stablecoin terbesar di pasar kripto, terlihat mengalami penurunan nilai atau “depegging” yang signifikan. Namun, pengumuman BlackRock membuat BTC melayang tepat di atas ambang itu.

    Harga BTC telah tenggelam di tengah kekhawatiran tentang sikap hawkish bank sentral AS atau The Fed dan meningkatnya pengawasan peraturan AS terhadap industri kripto. Namun pengumuman BlackRock menghidupkan kembali optimisme tentang kemungkinan spot Bitcoin ETF, bahkan setelah SEC menolak beberapa aplikasi selama 18 bulan terakhir.

    BlackRock dan Bitcoin ETF

    BlackRock makin mantap melangkah ke market kripto incar investor kaya. Sumber: Jeenah Moon/Bloomberg.
    BlackRock makin mantap melangkah ke market kripto incar investor kaya. Sumber: Jeenah Moon/Bloomberg.

    Baca juga: Michael Saylor Prediksi Dominasi Bitcoin Akan Berlipat Ganda

    BlackRock, yang mengelola aset senilai US$ 9,5 triliun pada kuartal pertama tahun 2023, bekerja sama dengan Coinbase (COIN), bursa kripto AS terbesar di AS untuk mengembangkan iShares Bitcoin Trust. Dua perusahaan raksasa itu akan meluncurkan produk ETF yang akan menggunakan Coinbase Custody, dan bergantung pada data pasar spot bursa untuk penentuan harga, sementara BNY Mellon akan menjadi penjaga kas.

    BlackRock sebelumnya menjalin kemitraan dengan Coinbase pada Agustus lalu untuk memungkinkan klien menggunakan platform manajemen investasi BlackRock Aladdin guna memiliki dan memperdagangkan aset digital, dimulai dengan Bitcoin. Kesepakatan itu memberi klien BlackRock akses ke layanan perdagangan, kustodian, pialang utama, dan pelaporan Coinbase.

    Produk itu akan diberi nama iShares Bitcoin Trust, aset dana tersebut “terutama terdiri dari bitcoin yang dipegang oleh kustodian atas nama Trust,” menurut pengajuan. Penjaga itu akan oleh crypto exchange Coinbase (COIN), kata pengarsipan.

    Jalan Terjal

    ilustrasi Bitcoin
    Ilustrasi Bitcoin. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Bitcoin Tetap Ungguli Emas Meski Turun ke Terendah 3 Bulan Terakhir

    Mendaftarkan produk Bitcoin ETF ke SEC merupakan tugas yang sulit, terutama untuk dana yang berurusan dengan perdagangan pasar spot. Hingga saat ini, tidak ada satu aplikasi pun untuk ETF spot semacam itu yang telah disetujui oleh SEC atas kekhawatiran tentang potensi penipuan atau manipulasi di pasar spot. Sebaliknya, SEC telah menyetujui empat ETF Bitcoin untuk perdagangan berjangka.

    ETF adalah jenis produk investasi yang terkait dengan komoditas, mata uang, saham, atau obligasi. Ini memungkinkan investor memiliki strategi dalam permainan tanpa benar-benar memiliki aset tertentu. Bitcoin ETF memungkinkan investor untuk berinvestasi dalam aset kripto tertua dan terbesar di dunia tanpa harus memegangnya sendiri—sebaliknya, mereka hanya membeli saham yang mengikuti harga aset.

    Keengganan SEC untuk memberi lampu hijau pada ETF untuk pasar spot Bitcoin telah menjadi poin yang menyakitkan bagi calon pelamar. Pada tahun 2016, manajer aset Grayscale mengajukan permohonan untuk ETF pasar spot Bitcoin dengan SEC, tetapi ditolak oleh SEC pada Juni 2022, mendorong Grayscale untuk menanggapi dengan gugatan.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mengapa Pasar Kripto Naik Hari Ini (21/6)? Bitcoin Menuju Harga US$ 30K

    Pasar kripto kembali ke tren positif pada hari ini, Rabu (21/6) mengalami kenaikan kapitalisasi pasar lebih dari 4%. Harga Bitcoin (BTC) pun melanjutkan tren kenaikannya dalam 24 jam terakhir dan telah naik lebih dari 6% menjadi US$ 28.770.

    Setelah harga Bitcoin mencapai level terendah tiga bulan di US$ 24,835 minggu lalu, tren bullish saat ini tampaknya akan kembali unggul. Investor berharap besar bahwa BTC dapat mematahkan penurunan beruntun 10 minggunya. Apa penyebab tren kenaikan ini?

    Pasar kripto dan harga Bitcoin naik lebih dari US$ 28.000 atau sekitar Rp 420 juta karena kegembiraan investor atas BlackRock dan Fidelity Investments yang mengajukan permohonan ETF BTC spot. Dua peristiwa itu memicu impian pemulihan harga Bitcoin, setelah berita negatif tentang Securities and Exchange Commission (SEC).

    Reli Bitcoin

    Katalis utama untuk reli pasar kripto tampaknya adalah meningkatnya minat institusional terhadap Bitcoin dari perusahaan, seperti BlackRock dan Fidelity Investments, yang tampaknya sedang dalam proses pengajuan untuk tempat ETF Bitcoin.

    koin bitcoin
    Ilustrasi aset kripto Bitcoin. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Bangun Karir Web3 Bersama Tokocrypto x IDNFT di Binus University

    Dikutip Cointelegraph, harga Bitcoin mulai naik setelah BlackRock mengajukan ETF BTC spot di Amerika Serikat pada 15 Juni. Meskipun BlackRock bukan yang pertama mengajukan permohonan ETF Bitcoin ke SEC, mereka adalah yang terbesar dari semua pengajuan saat ini.

    Sampai saat ini, SEC telah menolak untuk menyetujui produk Bitcoin ETF, meskipun banyak pengajuan termasuk ARK Cathie Wood dan 21Shares yang telah mengajukan persetujuan tiga kali. Perusahaan lain yang ditolak ETF Bitcoin adalah Grayscale. Setelah penolakan, perusahaan membawa SEC ke pengadilan untuk banding memperdebatkan kesehatan masa depan Bitcoin.

    BlackRock adalah pengelola aset terbesar di dunia dengan aset yang dikelola lebih dari US$ 8,5 triliun. Perusahaan juga akan menggunakan Coinbase untuk menyimpan BTC dalam kepercayaan sesuai dengan pengajuan SEC. Aplikasi ini juga memberikan dorongan pada ETF Grayscale. Diskon mendekati tertinggi 2023 dan di bawah 37%.

    Di samping itu, berita raksasa perbankan Jerman Deutsche Bank (DB) mengajukan permohonan lisensi penyimpanan kripto menambahkan dukungan kenaikan ke pasar. Langkah Deutsche Bank yang mengikuti Fidelity, Citadel Securities, dan Charles Schwab (SCHW) dari EDX Markets, membuat Bitcoin dalam tren bullish.

    Sentimen Positif

    Grafik harian BTC/USDT. Sumber: TradingView.
    Grafik harian BTC/USDT. Sumber: TradingView.

    Baca juga: IMF Siapkan Platform CBDC untuk Fasilitasi Transaksi Antar Negara

    Sentimen positif pasar kripto juga datang dari para investor dan trader yang percaya indeks dolar AS (DXY) yang akan mendingin bagus untuk harga Bitcoin.

    Sejak kenaikan suku bunga dihentikan oleh The Fed pada minggu lalu, beberapa pelaku pasar berpikir bahwa ekonomi AS dapat tumbuh dan dolar dapat terus melemah. Jika ini terjadi, Bitcoin dapat terus menguat di samping pasar ekuitas. Semakin baik iklim makro, semakin baik untuk harga Bitcoin.

    Sementara harga Bitcoin menunjukkan beberapa momentum bullish dalam jangka pendek setelah berita BlackRock dan pendinginan dolar AS, Fear & Greed Index Bitcoin telah mencapai level tertinggi 3 bulan, yiatu diangka 59 dengan kategori Greed yang menujukan sinyal bullish.

    Di sisi lain, beberapa analis yakin harga Bitcoin akan diperdagangkan sideways setidaknya selama 18 bulan. Meski begitu indikator teknis tetap bullish, menandakan pengembalian ke US$ 30.000 atau sekitar Rp 451 juta.

    Jika reli diperpanjang, Bitcoin kemungkinan akan menguji Level Resistensi Utama Kedua (R2) di US$ 29.479 dan resistensi di US$ 30.000. Level Resistensi Utama Ketiga (R3) berada di US$ 31.172.

    Pastikan kamu hanya melakukan Nabung kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, nabung kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CEO Blackrock Sebut Bitcoin Sebagai Kelas Aset Baru, Tandingan Emas

    Larry Fink, CEO Blackrock, salah satu perusahaan pengelola aset terbesar di dunia, semakin mengukuhkan posisi bitcoin sebagai investasi yang sah. Fink bahkan menyebut bitcoin sebagai alternatif emas dalam dunia investasi.

    “Kami percaya bitcoin adalah kelas aset tersendiri,” kata Fink, menegaskan peran penting aset digital ini dalam dunia keuangan. Meskipun regulasi terus berkembang, Fink menilai bahwa adopsi yang semakin luas dan likuiditas yang tinggi akan menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar bitcoin.

    Pertumbuhan Bitcoin dan ETF Blackrock yang Mencapai $23 Miliar

    Dengan peluncuran produk investasi seperti ETF (Exchange Traded Fund) bitcoin dari Blackrock, perusahaan telah menarik arus masuk mencapai $23 miliar dalam waktu sembilan bulan. Angka ini menjadi bukti bahwa aset digital semakin diminati oleh investor global.

    Fink memproyeksikan bahwa aset digital, termasuk bitcoin, akan terus berkembang seiring semakin luasnya penggunaan teknologi blockchain dalam sistem keuangan global.

    Inovasi Terus Berlanjut: Peluncuran ETF Ethereum

    CEO BlackRock, Larry Fink. Sumber: Getty images.
    CEO BlackRock, Larry Fink. Sumber: Getty images.

    Baca juga: 4 Altcoin yang Berpotensi Naik 10x Menurut Analis Kripto

    Tak hanya bitcoin, Blackrock juga meluncurkan ETF Ethereum melalui Ishares Ethereum Trust, yang dalam dua bulan pertama telah menarik arus masuk lebih dari $1 miliar. Inovasi ini merupakan bagian dari strategi besar Blackrock untuk mempermudah akses investasi global.

    “Kami akan terus menciptakan produk baru untuk membuat investasi lebih mudah dan terjangkau,” kata Fink.

    Regulasi Bukan Faktor Utama, Penerimaan Pasar Lebih Penting

    Mengenai potensi dampak perubahan regulasi di AS terhadap pertumbuhan aset digital, Fink menganggap hal itu tidak akan menjadi faktor utama. Ia percaya bahwa penerimaan luas dari berbagai pihak akan lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan aset digital daripada perubahan aturan politik.

    “Saya yakin penggunaan bitcoin dan aset digital lainnya akan semakin meluas di seluruh dunia,” ujarnya.

    Blockchain dan Masa Depan Teknologi Finansial

    Fink juga melihat teknologi blockchain sebagai elemen yang akan mengubah lanskap keuangan global. Dengan transparansi, likuiditas, dan data analitik yang semakin baik, ia yakin pasar aset digital akan terus berkembang. Ia menambahkan bahwa digitalisasi mata uang di negara-negara seperti India dan Brasil melalui teknologi blockchain telah menunjukkan hasil yang signifikan.

    Dalam pandangannya, blockchain akan memberikan kontribusi besar tidak hanya bagi cryptocurrency tetapi juga bagi seluruh aplikasi keuangan di masa depan, terutama dengan kombinasi kecerdasan buatan dan analitik yang lebih canggih.

    Dengan semua perkembangan ini, Larry Fink optimis bahwa bitcoin dan aset digital lainnya akan terus memainkan peran penting dalam masa depan investasi global.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMERSetiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual kripto. Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi Anda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Google Diam-diam Banyak Investasi di Perusahaan Blockchain dan Kripto

    Fakta unik baru ditemukan ketika Google ternyata diam-diam menjadi investor bagi banyak perusahaan di industri blockchain. Google memberikan modal melalui perusahaan induknya, Alphabet.

    Dikutip Cointelegraph, Alphabet diketahui menuangkan modal paling banyak ke dalam industri blockchain dibandingkan dengan perusahaan publik lainnya, total dengan investasi lebih dari US$ 1,5 miliar antara September 2021 dan Juni 2022.

    Dalam blog terbaru yang diterbitkan oleh Blockdata, Alphabet (Google) terungkap sebagai investor dengan kantong terdalam dibandingkan dengan 40 perusahaan publik teratas yang berinvestasi di perusahaan blockchain dan kripto selama periode tersebut.

    Google diketahui menginvestasikan US$ 1,5 miliar ke perusahaan di industri blockchain. Foto: Getty Images.
    Google diketahui menginvestasikan US$ 1,5 miliar ke perusahaan di industri blockchain. Foto: Getty Images.

    Baca juga: Bangun Ekosistem Metaverse di Indonesia, WIR Group Untung Rp 24 M

    Google Investasi ke Web3 dan Kripto

    Google diketahui menginvestasikan US$ 1,5 miliar ke dalam ruang, berkonsentrasi pada empat perusahaan blockchain termasuk Fireblocks, platform penyimpanan aset digital; Dapper Labs, perusahaan game Web3; Bitcoin Voltage, kripto infrastruktur; Dan Digital Currency Group, perusahaan modal ventura.

    Temuan ini sangat kontras dengan tahun lalu ketika Google mendiversifikasi upaya pendanaannya yang jauh lebih kecil senilai US$ 601,4 juta di 17 perusahaan berbasis blockchain, yang sekali lagi termasuk Dapper Labs, bersama dengan Alchemy, Blockchain.com, Celo, Helium, dan Ripple.

    Peningkatan investasi Google ke dalam industri blockchain konsisten dengan 40 perusahaan publik teratas lainnya, dengan total US$ 6 miliar diinvestasikan selama kurung waktu tersebut. Dibandingkan Januari 2021 hingga September 2021 hanya ada total investasi US$ 1,9 miliar dan US$ 506 juta di seluruh tahun 2020.

    Laporan Blockdata terkait berbagai perusahaan raksasa dunia investasi ke industri blockchain. Foto: Blockdata.
    Laporan Blockdata terkait berbagai perusahaan raksasa dunia investasi ke industri blockchain. Foto: Blockdata.

    Baca juga: Habis Rayakan HUT RI Ke-77, Market Aset Kripto Kembali Merana

    Perusahaan Raksasa Masuk ke Industri Blockchain

    Investor korporat besar lainnya termasuk perusahaan manajemen aset BlackRock , yang menginvestasikan US$ 1,17 miliar, perusahaan perbankan investasi, Morgan Stanley, menginvestasikan US$ 1,11 miliar, dan perusahaan elektronik, Samsung, dengan investasi total US$ 979,2 juta.

    Seperti Google, Morgan Stanley dan BlackRock mengadopsi pendekatan yang lebih terkonsentrasi untuk berinvestasi hanya di dua hingga tiga perusahaan selama periode tersebut. Namun, Samsung sejauh ini merupakan investor paling aktif yang berinvestasi di 13 perusahaan berbeda.

    Data Blockdata tersebut juga menemukan bahwa perusahaan yang menawarkan beberapa bentuk solusi Non-fungible Token (NFT) telah menjadi investasi paling populer. Investasi yang tersisa telah dibagi antara perusahaan yang menyediakan Blockchain-as-a-Service (BaaS), infrastruktur, platform kontrak pintar, solusi penskalaan, dan platform penyimpanan aset digital.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • BlackRock Mantap Masuk ke Market Kripto Incar Investor Kaya

    Setelah bertahun-tahun menolak, perusahaan manajemen investasi raksasa dunia, BlackRock, makin mantap melangkah ke market kripto. BlackRock, yang mengawasi aset senilai US$ 10 triliun, bermitra dengan Coinbase untuk memberikan klien investor institusionalnya akses ke kripto.

    BlackRock akan menawarkan konektivitas ke Coinbase Prime untuk menawarkan perdagangan kripto, penyimpanan, pialang utama, dan kemampuan pelaporan kepada klien. Bitcoin adalah aset digital pertama yang ditawarkan melalui kemitraan ini

    “Klien umum BlackRock dan Coinbase akan dapat mengelola eksposur Bitcoin mereka bersama dengan investasi publik dan swasta mereka untuk pandangan keseluruhan portofolio risiko,” tulis BlackRock dalam sebuah pengumuman dikutip TechCrunch.

    Ilustrasi market kripto
    Ilustrasi market kripto.

    Baca juga: Memahami Perspektif Aset Kripto Tak Ganggu Stabilitas Sistem Keuangan

    Berita Baik untuk Industri Kripto

    Berita ini menandai perubahan besar bagi BlackRock, sebelumnya sang CEO pernah menyebut Bitcoin sebagai “indeks pencucian uang” pada lima tahun lalu. Sejak itu, perusahaan manajemen aset ini telah membuat kemajuan kecil ke dalam web3, memperkenalkan perdagangan berjangka Bitcoin ke platformnya dan beberapa dananya tahun lalu.

    Fink mengatakan kepada pemegang saham dalam sebuah surat pada bulan Maret tahun ini bahwa BlackRock sedang mempelajari “mata uang digital, stablecoin, dan teknologi yang mendasarinya” untuk melihat bagaimana mereka dapat membantu perusahaan melayani kliennya.

    Sementara itu, layanan Coinbase Prime memiliki 13.000 klien institusional yang menggunakan rangkaian platformnya hari ini, menurut perusahaan. Masih belum jelas kapan perusahaan berencana untuk menambah platform penawaran aset kripto lainnya di luar Bitcoin.

    Ilustrasi aset kripto.
    Ilustrasi aset kripto.

    Baca juga: Meta Akhirnya Rilis Instagram NFT, Pengguna Bisa Pamer Koleksi

    Ini juga hari besar bagi Coinbase. CEO Meta, Mark Zuckerberg, telah mengumumkan bahwa perusahaannya telah menambahkan integrasi dengan dompet Coinbase, di antara dompet kripto pihak ketiga lainnya, ke platform Instagram.

    Saham Coinbase melonjak lebih dari 17% pada pukul 11:00 EST Kamis (5/8) lalu dan juga naik lebih dari 70% pada bulan lalu, menunjukkan bahwa perusahaan telah mulai pulih dari posisi terendah yang dicapai pada bulan Mei karena mundurnya pasar kripto.



    Sumber : news.tokocrypto.com