Tag: blockchain

  • Berbagai Brand F&B Memasuki Dunia Blockchain dengan Mendaftarkan Merk Dagangnya

    Sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang makanan baru-baru ini mulai memasuki ke dunia Web3 dengan mengajukan aplikasi merek dagang untuk Metaverse dan NFT. Mike Kondoudis sebagai Pengacara merek dagang mengumumkan dalam twitter nya bahwa Kraft Foods Group telah mengajukan merek dagang untuk Weinermobile berbentuk hotdog pada 12 oktober.

    Pengumuman tersebut mengungkapkan bahwa merek dagang yang didaftarkan berencana untuk memperluas ke NFT, token digital, barang virtual, NFT Marketplace, Makanan, Minuman dan Restoran Virtual

    Time for a virtual beer? How is food and drink affecting the metaverse? -  Business News

    Dokumen tersebut menunjukan bahwa Kraft Foods Group juga memiliki rencana untuk mengoperasikan restoran virtual, serta menampilkan barang-barang virtual untuk pengiriman ke rumah. Pada 6 Oktober, Brand makanan cepat saji In-N-Out Burger juga mengajukan merek dagang serupa dengan mengoperasikan toko ritel online yang menampilkan barang-barang virtual.

    Baca Juga: McDonald’s cabang Swiss Menerima Pembayaran BTC & USDT

    In-N-Out Burger berencana untuk menyediakan bagi pengguna untuk mengakses, mengirimkan, menukar, dan menetapkan kepemilikan barang virtual, nft, media digital, digital file di bidang makanan, minuman, restoran, dan merchandise.

    Pada 10 Oktober, Mike Kondoudis juga melaporkan bahwa Del Monte Foods telah mengajukan delapan aplikasi merek dagang untuk merek dasarnya “Del Monte” dan “The Del Monte Sheild,” dengan rencana untuk membuat NFT, media yang didukung NFT, Virtual Market, virtual restoran, toko, makanan dan minuman.

    Del Monte Foods bermaksud untuk memperluas ke ruang perangkat lunak Web3.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Korea Selatan Pakai ID Digital Blockchain untuk Ganti KTP Fisik

    Korea Selatan (Korsel) semakin dalam untuk adopsi teknologi blockchain. Terbaru, warga korsel nantinya bakal menggunakan identitas (ID) digital berbasis blockchain dan menggantikan kartu tanda penduduk (KTP) fisik.

    Pemerintah Negeri ginseng itu dilaporkan siap mengganti KTP bentuk fisik dengan ID digital berbasis blockchain pada 2024. Nantinya ID digital tersebut akan berada di dalam aplikasi perangkat seluler. Fungsinya dipastikan masih sama dengan fungsi KTP berbentuk fisik.

    ID digital berbasis blockchain ditargetkan akan diluncurkan pada 2024. Sebanyak 45 juta warga negara Korsel akan didorong secara bertahap untuk mengadopsinya dalam kurun waktu dua tahun.

    Ilustrasi blockhain di web3.
    Ilustrasi blockhain di web3.

    Baca juga: Kenal Blockchain Aptos, Pesaing Kuat Solana dari Mantan Karyawan Meta

    Simpel dan Aman

    Dibandingkan dengan KTP fisik, ID digital ini tergolong lebih simpel dan aman. ID bisa digunakan untuk sektor keuangan, kesehatan, pajak, hingga transportasi. Direktur Jenderal Biro Digital Korea Selatan, Suh Bo Ram, menambahkan, teknologi tersebut dapat membantu perusahaan yang belum sepenuhnya melakukan transisi digital.

    Menurut Suh, pemerintah Korsel juga akan mengadopsi sistem identitas terdesentralisasi. Artinya, pemerintah tidak dapat mengakses informasi yang tersimpan di ponsel penduduknya, termasuk informasi tentang ID digital mereka.

    ilustrasi blockhain di web3
    Ilustrasi blockhain di web3.

    Baca juga: Daftar Pemenang Ballon d’Or yang Dapat NFT Beserta Pialanya

    Data Terdesentralisasi

    Dikutip Cointelegraph, meski bersifat terdesentralisasi, sistem manajemen ID tersebut nantinya masih memerlukan persetujuan otoritas dan perusahaan.

    “Jika otoritas tidak memvalidasi ID blockchain, maka ID tersebut tidak dapat digunakan untuk memanfaatkan layanan publik. Ini menurut saya adalah batasan terbesar,” ujar Penasihat Blockchain dan CEO Bundlesbets.com, Brenda Gentry.

    Korsel sudah memanfaatkan solusi berbasis teknologi blockchain sejak lama. Pada Agustus 2020, lebih dari satu juta warga Korsel telah mengadopsi SIM berbasis blockchain yang beroperasi melalui aplikasi smartphone, PASS.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tokocrypto x IDNFT Gelar Edukasi Online Tentang Web3 dan Blockchain

    Industri blockchain dan Web3 terus berkembang pesat di Indonesia, dengan banyak perusahaan dan proyek yang mengadopsi teknologi ini dalam berbagai sektor seperti seni, keuangan, asuransi, logistik, dan sumber daya manusia.

    Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Web3 dan tantangan yang terkait, Tokocrypto bersama IDNFT (Indonesian NFT Community) berkolaborasi dengan ISKI (Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia) menyelenggarakan seminar online yang membahas tentang Web3 dan Blockchain.

    Dalam seminar online ini, Tokocrypto dan IDNFT memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar langsung dari para praktisi Web3. Acara ini dihadiri oleh sekitar 250 orang peserta, termasuk puluhan akademisi dan doktor dari berbagai perwakilan kampus terkemuka di Indonesia seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Bina Nusantara Jakarta, dan Universitas Indonesia.

    Dengan tema “Web3 Sebagai Paradigma Transformasi Digital: Potensi, Tantangan, dan Implikasi Bagi Masyarakat,” seminar ini menampilkan narasumber yang kompeten dalam industri Web3. Dr. Leila Mona Ganiem, M.Si., bertindak sebagai moderator, sedangkan para narasumber yang hadir adalah Yudhono Rawis (CEO Tokocrypto), Teguh Kurniawan H (Ketua ASPAKRINDO), Edo Lavika (Co-Founder & CEO Inacash), dan Yanuar (Praktisi & De-Fi Dev).

    Bantu Pemahaman Masyarakat

    Tokocrypto x IDNFT Sukses Gelar Edukasi Pemahaman tentang Web3 dan Blockchain.

    Baca juga: Bangun Karir Web3 Bersama Tokocrypto x IDNFT di Binus University

    Pendiri IDNFT, Budi Santosa, memberikan sambutan pembukaan dengan menyampaikan harapannya agar acara ini memberikan wawasan yang berdampak dan membantu masyarakat dalam mengambil peluang di industri Web3. “Semoga nanti insights yang ada bisa menjadi bahan diskusi yang harapannya benar-benar bisa impactful dan kita bisa dapat pandangan kira-kira hal apa yang kedepan bisa kita ambil peluangnya,” jelasnya.

    “Karena ini (industri Web3) masih baru, kita sebagai masyarakat dengan berbagai latar di Indonesia, harus tahu kita mau mengambil posisi apa, nih. Harapannya bisa menjadi forum yang baik dan benar-benar bisa berdampak bagi kita semua.”

    Dr. Dadang Rahmat Hidayat, S.Sos., S.H., M.Si., Ketua Umum ISKI, menjelaskan bahwa acara ini penting karena perkembangan informasi dan komunikasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Masyarakat perlu belajar terkait perkembangan terbaru seputar Web3. “Mudah-mudahan, kita semua bisa mengenal lebih jauh tentang NFT sendiri, blockchain, Web3, crypto, dan bahkan Metaverse,” tutur Dadang.

    Potensi Web3 dan Blockchain

    CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis, dalam sesi maternya menjelaskan industri Web3 dan potensi penggunaan teknologi blockchain serta aset kripto. Tokocrypto, sebagai salah satu pedagang aset kripto terbesar di Indonesia, telah berperan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia dan berkomitmen untuk membangun industri Web3 di Indonesia.

    “Sebagai salah satu pelaku industri Web3, kami melihat potensi dan pemanfaatan yang besar, termasuk salah satunya menyiapkan sumber daya manusia/talent. Untuk itu, edukasi harus terus dilakukan, seperti pada event kita hari ini. Hal ini juga sejalan dengan komitmen Tokocrypto, untuk berkontribusi membangun industri,” ucap Yudho.

    Tokocrypto x IDNFT Sukses Gelar Edukasi Pemahaman tentang Web3 dan Blockchain.

    Baca juga: Kolaborasi Tokocrypto x IDNFT Dorong Edukasi Web3 dan Blockchain

    Sesi kedua fokus pada pembahasan potensi dan peluang Web3 di Indonesia. Para narasumber menggarisbawahi pentingnya belajar dan terlibat dalam industri kripto karena masih banyak peluang yang dapat dimanfaatkan di Indonesia. Mereka juga menyoroti perkembangan teknologi blockchain yang dapat membawa kemudahan dalam keuangan dan perlindungan privasi masyarakat.

    Salah satu narasumber, Edo Lavika memberikan wawasan tentang hambatan yang mungkin dihadapi dalam mengadopsi Web3, seperti success trap dan expert trap. Peserta seminar menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam diskusi dan menganggap acara ini sangat menarik. Topik-topik yang dibahas mencakup penilaian aset crypto, pengaruh Central Bank Digital Currency (CBDC) terhadap ekosistem kripto, dan hubungan antara Web3 dengan teknologi blockchain.

    Kolaborasi antara Tokocrypto x IDNFT dan ISKI dalam menyelenggarakan seminar online ini berhasil memberikan inspirasi dan pemahaman mendalam kepada peserta terkait teknologi Web3, peluang, risiko, dan tantangan yang harus dihadapi. Dengan ilmu berharga yang didapatkan dari para narasumber, diharapkan peserta dapat mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam menghadapi perkembangan teknologi di masa depan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kenal Blockchain Aptos, Pesaing Kuat Solana dari Mantan Karyawan Meta

    Jaringan blockchain Aptos akhirnya meluncurkan mainnet pada hari Senin (17/10) lalu. Proyek yang digagas oleh beberapa mantan karyawan Meta -sebelumnya Facebook- ini diklaim siap bersaing dengan jaringan blockchain Solana.

    Dikutip Coindesk, Aptos Labs bisa dibilang adalah jaringan spin-off dari yang dibuat oleh Facebook. Aptos berangkat dari gagasan beberapa mantan karyawan Meta yang memelopori stablecoin Libra atau Diem yang gagal.

    Kode blockchain Aptos ditulis dengan Move, bahasa pemrograman berbasis Rust yang juga digunakan oleh jaringan blockchain, Sui Mysten Labs, proyek lain yang akan datang.

    Aptos Labs telah mendeklarasikan jaringannya “hidup”, ekosistemnya masih jauh dari selesai, dengan lusinan tim belum meluncurkan wallet, tempat perdagangan, dan teknologi NFT yang penting untuk keuangan terdesentralisasi (DeFi). Sampai debut itu tidak banyak yang bisa dilakukan di Aptos.

    Blockchain Aptos Labs.
    Blockchain Aptos Labs. Foto: Aptos Labs.

    Baca juga: Kenal Aset Kripto DODO, Fundamental Protokol Blockchain DeFi Optimal

    Solana Killer

    Dijuluki sebagai “Solana killer” oleh banyak orang, membuat Aptos berupaya untuk membangun blockchain yang sempurna untuk smart contract, kode yang mendukung dunia NFT, DAO, dan DeFi yang luas.

    Sementara Ethereum telah mengambil lompatan besar setelah The Merge, penantang seperti Solana membuat terobosan dengan kecepatan transaksi yang jauh lebih cepat — meskipun dengan pemadaman sesekali yang membuat pintu terbuka untuk pemain baru seperti Aptos.

    Dalam pengujian, Aptos mengklaim telah menangani 130.000 transaksi per detik, dibandingkan dengan 30 per detik di Ethereum. Kunci ekosistem Aptos yang baru lahir adalah bahasa pemrograman Move yang berafiliasi, yang memprioritaskan kelangkaan dan kontrol akses.

    Didukung Venture Capital

    Menjelang peluncurannya, Aptos telah menjadi daya tarik Venture Capital yang cukup besar. Ia menutup putaran strategis US$ 200 juta dari pemain besar seperti Andreessen Horowitz pada bulan Maret, dan putaran Seri A US$ 150 juta yang dipimpin oleh FTX awal musim panas ini dengan partisipasi dari Binance Labs. 

    Blockchain Kripto Aptos. Foto: Aptos Labs.
    Blockchain Kripto Aptos. Foto: Aptos Labs.

    Baca juga: Bappebti Sebut Transaksi Kripto RI Turun, Apa Penyebabnya?

    Putaran pendanaan ini melaporkan valuasi perusahaan mencapai pada US$ 2 miliar, empat kali lebih tinggi dari penilaian enam bulan sebelumnya. Sejumlah besar uang ventura yang dikumpulkan dalam waktu singkat menciptakan narasi di antara beberapa kalangan Web3 bahwa investor meninggalkan Solana untuk Aptos.

    Aptos juga memilih Anchorage Digital sebagai salah satu penjaga institusional pilihannya bulan lalu, setelah bertahun-tahun berkolaborasi. Pendiri Anchorage dan Presiden Diogo Mónica sebelumnya menjabat di komite pengarah teknis Diem.

    Aptos menyebut peluncuran hari ini sebagai tonggak sejarah dalam gerakan yang bertujuan untuk membawa massa ke Web3.

    “Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan panjang untuk menciptakan akses universal dan adil ke aplikasi terdesentralisasi untuk miliaran orang melalui blockchain yang aman, terukur, dan dapat ditingkatkan,” tulis pengembagn Aptos.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Google Masuk Dunia Blockchain: Terima Pembayaran Kripto

    Google akan mulai mengizinkan sebagian pelanggannya untuk membayar layanan cloud dengan aset kripto awal tahun 2023. Selain itu, Google mengatakan akan mengeksplorasi penggunaan Coinbase Prime, layanan untuk menyimpan dan memperdagangkan kripto.

    Dikutip CNBC, Google resmi menjalin kemitraan dengan Coinbase untuk saling memanfaatkan layanan keduanya. Salah satu hasil kerja sama itu, Coinbase akan memindahkan beberapa aplikasinya ke Google Cloud dari Amazon Web Services.

    Kesepakatan tersebut diumumkan pada konferensi Google Cloud Next. Bisnis cloud membantu mendiversifikasi Alphabet, induk Google dari periklanan, dan sekarang menyumbang 9% dari pendapatan, naik dari kurang dari 6% tiga tahun lalu, karena berkembang lebih cepat secara keseluruhan.

    Ilustrasi exchange Coinbase.
    Ilustrasi exchange Coinbase.

    Baca juga: Harga NFT Milik Logan Paul Anjlok hingga 99%, Kenapa?

    Google Unggul

    Google jauh lebih unggul dibanding pesaing utamanya di layanan cloud yang saat ini tidak mengizinkan klien untuk membayar dengan aset kripto. Layanan infrastruktur Platform Google Cloud pada awalnya akan menerima pembayaran kripto dari segelintir pelanggan di dunia Web3, berkat integrasi dengan layanan Coinbase Commerce

    Amit Zavery, Vice President and General Manager and Head of Platform at Google Cloud, mengatakan Web3 adalah kata kunci yang muncul untuk layanan internet terdesentralisasi dan terdistribusi yang tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan internet besar seperti Facebook atau Google.

    Seiring waktu, Google akan memungkinkan lebih banyak pelanggan untuk melakukan pembayaran dengan kripto, kata Zavery. Coinbase Commerce mendukung 10 aset kripto, termasuk Bitcoin, Bitcoin Cash, Dogecoin, Ethereum, dan Litecoin. Harga Bitcoin, Dogecoin, dan Ethereum.

    CEO Google Cloud, Thomas Kurian. Foto: Michael Short | Bloomberg | Getty Images.
    CEO Google Cloud, Thomas Kurian. Foto: Michael Short | Bloomberg | Getty Images.

    Baca juga: Apple Izinkan Penjualan NFT di App Store Dukung Industri Blockchain

    Google dan Coinbase

    Google juga mengeksplorasi bagaimana ia dapat menggunakan Coinbase Prime, layanan yang menyimpan kripto untuk institusi dengan aman dan memungkinkan mereka untuk melakukan perdagangan.

    Zavery mengatakan Google akan bereksperimen dan “melihat bagaimana kami dapat berpartisipasi” dengan mengelola aset kripto. Google sebelumnya telah mengindikasikan pada bulan Mei, bahwa mereka sedang menjajaki kemungkinan menambahkan dukungan untuk pembayaran dengan kripto.

    Teknologi Blockchain seperti NFT telah menjadi fokus yang lebih besar untuk divisi Google Cloud. Sebelumnya, kepala Google Cloud, Thomas Kurian, telah mendorong pertumbuhan di industri besar seperti media dan ritel. Tahun ini mengumumkan pembentukan tim untuk menghidupkan bisnis blockchain dan membangun alat yang dapat digunakan oleh pengembang pihak ketiga untuk menjalankan aplikasi blockchain.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apple Izinkan Penjualan NFT di App Store Dukung Industri Blockchain

    Raksasa teknologi Apple sekarang memungkinkan NFT untuk dibeli dan dijual melalui aplikasi yang terdaftar di App Store. Ini memungkinkan pengembang aplikasi saat ini untuk menjual NFT dalam aplikasi dan diklaim sebagai wujud perkembangan industri blockchain.

    Sebelum keputusan ini, aplikasi yang menyimpan atau menampilkan NFT mungkin telah melanggar aturan Apple. Sekarang, pengembang dapat menjual NFT dengan restu Apple.

    Namun, masih ada kendala dari kebijakan Apple ini. Hal penting yang perlu diketahui adalah Apple mengambil potongan 30% dari pengembang untuk semua transaksi NFT yang dilakukan melalui aplikasi.

    Toko aplikasi Android, Google Play Store pun menerapkan kebijakan yang sama.

    Ilustrasi NFT.
    Ilustrasi NFT.

    Baca juga: Kenal Aset Kripto DODO, Fundamental Protokol Blockchain DeFi Optimal

    Biaya Potongan

    Biaya potongan yang besar ini diproyeksikan akan menghalangi perkembangan proyek, pemilik game, dan aplikasi untuk menggunakan fitur ini di App Store. Ini karena pasar NFT khas lainnya, seperti OpenSea dan Magic Eden sering hanya mengambil komisi 5% yang sangat kecil.

    Seperti dilansir The Information, startup NFT, Magic Eden telah memutuskan untuk menarik layanannya dari App Store. Ini terjadi bahkan setelah Apple mengurangi komisinya menjadi 15% untuk perusahaan dengan pendapatan tahunan kurang dari US$ 1 juta.

    Apple Belum Terima kripto

    Meskipun, Apple saat ini mengizinkan aplikasi di App Store untuk menjual NFT, perusahaan masih belum menerima kripto. Selain itu, perusahaan menahan diri untuk tidak terlibat langsung dengan ruang kripto dan NFT.

    Ilustrasi Apple iPhone 14 Pro dan iPhone 14 Pro Max yang baru rilis. Foto: Apple.
    Ilustrasi Apple iPhone 14 Pro dan iPhone 14 Pro Max yang baru rilis. Foto: Apple.

    Baca juga: Grup K-pop Aespa Luncurkan Koleksi NFT Bersama Blake Kathryn

    Salah satu alasan yang jelas adalah mereka tidak ingin menimbulkan kemarahan regulasi seperti yang dihadapi Meta, sebelumnya Facebook.

    Awal Juni tahun ini, ada beberapa rumor tentang kemungkinan Apple merilis kartu perdagangan NFT di salah satu konferensi pengembang mereka. Namun, tidak pernah membuahkan hasil.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Algoritma Konsensus: Pengertian dan Jenis-Jenisnya

    Algoritma konsensus adalah mekanisme yang memungkinkan pengguna atau mesin untuk berkoordinasi dalam lingkungan terdistribusi. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa semua pihak dalam sistem dapat mencapai suatu kebenaran tunggal (single source of truth), meskipun beberapa pihak mengalami kegagalan.

    Dengan kata lain, sistem harus memiliki toleransi terhadap kesalahan (fault-tolerant).

    Dalam lingkungan yang terpusat, satu entitas memiliki kekuasaan atas sistem tersebut. Dalam kebanyakan kasus, entitas tersebut dapat melakukan perubahan sesuai keinginannya – tidak ada proses pengambilan keputusan yang rumit untuk mencapai konsensus di antara banyak administrator.

    Namun, dalam lingkungan terdesentralisasi, situasinya berbeda. Misalkan kita bekerja dengan sebuah database terdistribusi – bagaimana cara kita mencapai kesepakatan tentang entri-entri apa yang dapat ditambahkan?

    Mengatasi tantangan ini, terutama dalam lingkungan di mana entitas-entitas yang saling tidak percaya satu sama lain, telah menjadi perkembangan yang sangat penting yang membuka jalan bagi teknologi blockchain.

    Dalam artikel ini, kita akan melihat betapa pentingnya algoritma konsensus dalam aset kripto dan teknologi buku besar terdistribusi (ledger).

    Algoritma Konsensus dan Aset Kripto

    Dalam kripto, saldo pengguna dicatat dalam sebuah database yang disebut blockchain. Sangat penting bahwa setiap orang (atau lebih tepatnya, setiap node) memiliki salinan database yang identik.

    Jika tidak, akan ada informasi yang saling bertentangan, yang dapat merusak tujuan utama jaringan kripto.

    Teknologi kriptografi kunci publik (public-key) memastikan bahwa pengguna tidak dapat menghabiskan koin yang dimiliki oleh orang lain.

    Namun, tetap diperlukan adanya sumber kebenaran tunggal yang dapat dipercaya oleh semua peserta jaringan, sehingga mereka dapat menentukan apakah suatu transaksi telah terjadi.

    Satoshi Nakamoto, pencipta Bitcoin, mengusulkan sistem Proof of Work (PoW) untuk mengoordinasikan para peserta. Cara kerja PoW akan kita bahas sebentar lagi – untuk saat ini, mari kita identifikasi beberapa karakteristik umum dari berbagai algoritma konsensus yang ada.

    Pertama-tama, pengguna yang ingin menambahkan blok (disebut sebagai validator) harus menyediakan suatu jaminan (stake).

    Jaminan ini berupa nilai yang harus diserahkan oleh validator sebelumnya, yang bertujuan untuk mencegah tindakan kecurangan.

    Jika seorang validator mencoba melakukan kecurangan, maka ia akan kehilangan jaminan tersebut. Selain kerugian tersebut, validator juga dapat kehilangan daya komputasi, aset kripto, atau bahkan reputasi mereka dengan percuma.

    Mengapa validator begitu berani mempertaruhkan sumber daya mereka sendiri? Nah, hal ini dikarenakan adanya imbalan (reward) yang tersedia.

    Reward ini biasanya terdiri dari aset kripto asli dari protokol itu sendiri, yang berasal dari biaya yang dibayarkan oleh pengguna lain, atau dari unit kripto yang baru diterbitkan, atau bahkan keduanya.

    Terakhir, kita perlu adanya transparansi. Kita harus dapat mendeteksi ketika seseorang melakukan kecurangan.

    Idealnya, proses pembuatan blok harus mahal bagi pengguna, tetapi murah bagi siapa pun untuk memvalidasinya. Cara ini akan memastikan bahwa validator tetap diawasi oleh pengguna-pengguna biasa.

    Jenis-jenis Algoritma Konsensus

    Proof of Work (PoW)

    Proof of Work (PoW) dapat dianggap sebagai tokoh utama dalam algoritma konsensus blockchain. Meskipun pertama kali diterapkan dalam Bitcoin, konsep ini telah ada selama beberapa waktu.

    Dalam PoW, validator (yang disebut penambang) melakukan hash terhadap data yang ingin mereka tambahkan, hingga mereka menemukan solusi yang tepat.

    Hash adalah serangkaian karakter acak yang dihasilkan saat data dijalankan melalui fungsi hash. Namun, jika data yang sama dijalankan melalui fungsi tersebut, output yang dihasilkan akan selalu sama. Jika ada sedikit perubahan pada data, hash yang dihasilkan akan sangat berbeda.

    Melihat output hash, tidak mungkin mengetahui informasi apa yang dimasukkan ke dalam fungsi tersebut. Oleh karena itu, fungsi hash berguna untuk membuktikan bahwa Anda memiliki akses ke data sebelum waktu tertentu.

    Anda dapat memberikan hash suatu data kepada seseorang, dan ketika Anda kemudian mengungkapkan datanya, orang tersebut dapat menjalankannya melalui fungsi hash untuk memastikan bahwa outputnya sama.

    Dalam PoW, protokol menetapkan persyaratan agar sebuah blok dianggap valid. Misalnya, hanya blok yang memiliki hash yang dimulai dengan 00 yang dianggap valid. Satu-satunya cara bagi penambang untuk mencapai hasil tersebut adalah dengan mencoba sebanyak mungkin kombinasi input.

    Mereka dapat mengubah parameter dalam data untuk menghasilkan output yang berbeda setiap kali mencoba, hingga mereka menemukan hash yang tepat.

    Dalam blockchain yang besar, persaingan di antara penambang menjadi sangat ketat. Untuk bersaing dengan penambang lainnya, Anda memerlukan gudang perangkat keras hashing khusus (ASIC) agar dapat menghasilkan blok yang valid.

    Saat melakukan penambangan, “stake” Anda adalah biaya perangkat keras hashing dan konsumsi listrik yang diperlukan.

    ASIC dibangun hanya untuk satu tujuan, sehingga perangkat ini tidak berguna di luar aktivitas penambangan aset kripto.

    Satu-satunya cara untuk mendapatkan pengembalian investasi awal adalah melalui penambangan yang berhasil, yang akan menghasilkan reward yang signifikan jika Anda berhasil menambahkan blok baru ke blockchain.

    Proses verifikasi blok yang telah Anda buat sangat mudah bagi jaringan. Meskipun Anda telah mencoba triliunan kombinasi untuk mencapai hash yang tepat, jaringan hanya perlu menjalankan data Anda sekali melalui fungsi hash.

    Jika hash yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan, data tersebut akan diterima, dan Anda akan menerima reward. Jika tidak, jaringan akan menolaknya, dan waktu serta listrik yang Anda habiskan akan sia-sia.

    Proof of Stake (PoS)

    Proof of Stake (PoS) diajukan sebagai alternatif untuk Proof of Work pada awal perkembangan Bitcoin. Dalam sistem PoS, tidak ada konsep penambang, perangkat keras khusus, atau konsumsi energi yang besar. Yang Anda butuhkan hanyalah komputer biasa.

    Namun, Anda masih perlu memberikan sesuatu. Dalam PoS, Anda tidak mengorbankan sumber daya eksternal seperti listrik atau perangkat keras, tetapi sumber daya internal yaitu kripto itu sendiri.

    Aturan-aturan yang berlaku dapat berbeda di setiap protokol, tetapi umumnya ada jumlah minimum dana yang harus Anda kunci sebagai staking.

    Anda akan mengunci sejumlah dana di dalam wallet (yang tidak dapat dipindahkan selama proses staking). Biasanya, Anda akan sepakat dengan validator lain mengenai transaksi mana yang akan dimasukkan ke dalam blok berikutnya. Ini dapat dianggap sebagai Anda bertaruh pada blok yang akan dipilih oleh protokol.

    Jika blok Anda terpilih, Anda akan menerima sebagian dari biaya transaksi, tergantung pada jumlah staking yang Anda miliki.

    Semakin besar jumlah dana yang Anda kunci, semakin besar keuntungan yang Anda dapatkan.

    Namun, jika Anda mencoba melakukan kecurangan dengan mengajukan transaksi yang tidak valid, Anda akan kehilangan sebagian atau seluruh dana yang Anda kunci.

    Oleh karena itu, mekanisme ini mirip dengan PoW, di mana bertindak jujur lebih menguntungkan daripada mencoba melakukan kecurangan.

    Umumnya, tidak ada koin baru yang dihasilkan sebagai reward bagi validator dalam PoS. Mata uang asli blockchain harus didistribusikan melalui cara lain, seperti penjualan awal (ICO atau IEO), atau melalui peluncuran protokol dengan PoW yang kemudian beralih ke PoS.

    Sampai saat ini, Proof of Stake hanya digunakan dalam aset kripto dengan skala kecil. Oleh karena itu, belum jelas apakah sistem ini dapat menjadi alternatif yang layak. Meskipun secara teoritis tampak masuk akal, implementasinya dapat sangat berbeda dalam praktiknya.

    PoS akan segera diuji dalam skala yang besar, di mana Casper akan diimplementasikan sebagai bagian dari serangkaian peningkatan pada jaringan Ethereum (dikenal sebagai Ethereum 2.0).

    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai PoS, bisa baca artikel “Apa Itu Proof of Stake (PoS).”

    Algoritme Konsensus Lainnya

    Proof of Work (PoW) dan Proof of Stake (PoS) telah menjadi perbincangan yang paling luas dalam konteks algoritma konsensus. Namun, ada berbagai variasi algoritma konsensus lainnya yang juga patut diperhatikan. Setiap varian memiliki kelebihan dan kekurangan uniknya sendiri.

    Berikut adalah beberapa algoritma konsensus lainnya yang layak untuk disebut:

    Delegated Proof of Stake (DPoS)

    DPoS adalah varian dari PoS di mana pemegang token memiliki hak untuk memilih sekelompok validator yang akan bertindak atas nama mereka. Validator yang dipilih ini akan bertanggung jawab untuk menghasilkan blok dan mengamankan jaringan.

    Keuntungan dari DPoS adalah kecepatan transaksi yang lebih tinggi dan pengambilan keputusan yang lebih efisien, tetapi kelemahannya adalah terdapat potensi terpusatnya kekuasaan pada pemilik token terbesar.

    Practical Byzantine Fault Tolerance (PBFT)

    PBFT adalah algoritma konsensus yang dirancang untuk jaringan terdistribusi dengan kecilnya jumlah node. PBFT memerlukan mayoritas node yang jujur dan dapat diandalkan untuk mencapai konsensus. Setiap node memiliki peran sebagai pemimpin (leader) yang menginisiasi pemilihan blok dan node pelanggan (follower) yang menyetujui blok tersebut. PBFT memiliki kecepatan transaksi yang tinggi, tetapi memerlukan kepercayaan pada mayoritas node yang jujur.

    Proof of Elapsed Time (PoET)

    PoET adalah algoritma konsensus yang dikembangkan oleh Intel. Dalam PoET, setiap node di jaringan bersaing untuk mendapatkan izin untuk menghasilkan blok berdasarkan waktu yang terlewati.

    Node yang memenangkan izin akan tidur untuk jangka waktu yang ditentukan sebelum dapat menghasilkan blok berikutnya. Kelebihan dari PoET adalah penghematan energi yang signifikan, tetapi kekurangannya adalah ketergantungan pada kepercayaan pada pihak yang mengatur waktu dalam jaringan.

    Proof of Authority (PoA)

    PoA adalah algoritma konsensus di mana identitas dan otoritas validator yang terkait dengan entitas yang terpercaya.

    Dalam PoA, validator yang sudah ditentukan memiliki hak untuk menghasilkan blok. Keuntungan dari PoA adalah kecepatan transaksi yang tinggi dan pengambilan keputusan yang efisien, tetapi kelemahannya adalah terdapat risiko terpusatnya kekuasaan pada validator yang dipilih.

    Proof of Capacity (PoC)

    PoC adalah algoritma konsensus di mana validasi blok didasarkan pada penggunaan ruang penyimpanan yang tersedia di setiap node.

    Node-node dalam jaringan menggunakan ruang penyimpanan mereka untuk memecahkan teka-teki matematika dan menghasilkan bukti kapasitas. Keuntungan dari PoC adalah efisiensi energi yang tinggi, tetapi kekurangannya adalah ketergantungan pada penyimpanan fisik yang tersedia pada setiap node.

    Setiap algoritma konsensus memiliki trade-off dan cocok untuk situasi-situasi tertentu. Pilihan algoritma konsensus yang tepat akan bergantung pada kebutuhan, tujuan, dan karakteristik dari jaringan yang ingin dibangun.

    Kesimpulan

    Mekanisme pencapaian konsensus memainkan peran yang sangat penting dalam keberhasilan sistem terdistribusi. Banyak yang meyakini bahwa inovasi terbesar dari Bitcoin adalah penggunaan Proof of Work (PoW), yang memungkinkan pengguna untuk mencapai persetujuan tentang kebenaran bersama.

    Algoritma konsensus saat ini tidak hanya mendukung sistem uang digital, tetapi juga teknologi blockchain yang memungkinkan pengembang untuk menjalankan kode di lingkungan terdistribusi. Algoritma ini telah menjadi pondasi utama bagi perkembangan teknologi blockchain, yang sangat krusial bagi keberlanjutan berbagai jaringan yang ada.

    Dari semua algoritma konsensus yang ada, Proof of Work masih mendominasi. Saat ini belum ada alternatif yang diusulkan yang dapat menandingi keandalan dan keamanan PoW. Namun, penelitian dan pengembangan yang luas sedang dilakukan untuk mencari pengganti PoW, dan kemungkinan besar kita akan melihat munculnya lebih banyak opsi dalam beberapa tahun mendatang.

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Zaman Kuno, Abad Pertengahan, Renaisans, Era Modern

    Kriptografi, sebuah disiplin yang berkaitan dengan penulisan dan pembacaan komunikasi yang aman, merupakan salah satu elemen terpenting yang memungkinkan eksistensi mata uang digital modern dan teknologi blockchain.

    Meskipun teknik kriptografi yang digunakan saat ini adalah hasil dari perkembangan yang panjang, sejarahnya telah membawa kita melalui berbagai metode dan proses kompleks yang digunakan dalam enkripsi digital modern.

    Dalam dunia yang semakin terhubung secara digital dan mengandalkan pertukaran informasi yang cepat dan aman, penting bagi kita untuk memahami akar dan evolusi cryptography.

    Sejarah kriptografi telah memberikan landasan yang kuat bagi pengembangan teknik-teknik yang melindungi kerahasiaan dan keaslian data di era digital ini.

    Artikel ini akan membawa Anda melalui perjalanan sejarah kriptografi, mulai dari zaman kuno hingga era modern. Anda akan menjelajahi penggunaan simbol-simbol primitif dalam tulisan Mesir kuno dan Mesopotamia kuno, serta kegunaan cryptography dalam melindungi informasi militer pada masa kuno di Sparta dan India.

    Anda juga akan mempelajari tentang kemajuan kriptografi pada periode Middle Age dan Renaissance, di mana metode analisis frekuensi dan sandi polialfabetik mulai muncul.

    Kemudian, kita akan membahas perkembangan yang signifikan pada abad terakhir, termasuk penemuan roda sandi oleh Thomas Jefferson dan penggunaan Mesin Enigma pada Perang Dunia II.

    Perkembangan ini menandai transisi menuju era modern kriptografi, di mana teknologi komputer dan matematika kompleks berperan penting dalam menciptakan algoritma dan protokol kriptografi yang canggih.

    Dengan pemahaman yang lebih baik tentang sejarah kriptografi, kita dapat menghargai upaya dan inovasi yang dilakukan oleh para ahli cryptography di masa lalu untuk melindungi informasi rahasia dan menjaga keamanan komunikasi.

    Semakin kita memahami sejarah ini, semakin siap kita untuk menghadapi tantangan dan peluang di masa depan yang melibatkan kriptografi.

    Mari kita mulai petualangan kita melalui sejarah kriptografi, dan pelajari bagaimana pemikiran manusia telah mengubah cara kita melindungi dan mengamankan informasi di dunia digital yang kompleks ini.

    Akar Kriptografi di Zaman Kuno

    Teknik kriptografi primitif telah ada sejak zaman kuno, dan peradaban awal telah menunjukkan penggunaannya dalam berbagai tahap perkembangan.

    Penggunaan simbol, sebagai bentuk dasar kriptografi, muncul dalam tulisan Mesir kuno dan Mesopotamia kuno.

    Dalam catatan sejarah, salah satu contoh awal penggunaan bentuk kriptografi ini dapat ditemukan dalam kuburan seorang bangsawan Mesir bernama Khnumhotep II, yang hidup sekitar 3900 tahun yang lalu.

    Pada saat itu, simbol-simbol yang digunakan dalam tulisan Khnumhotep II bukanlah untuk menyembunyikan informasi, tetapi lebih untuk menekankan aspek linguistiknya.

    Contoh awal lain dari penggunaan kriptografi untuk melindungi informasi sensitif terjadi sekitar 3500 tahun yang lalu, ketika seorang penulis Mesopotamia menggunakan kriptografi untuk menyembunyikan formula pembuatan lapisan keramik pada tablet tanah liat.

    Menuju Masa Kuno dan Renaisans

    Pada zaman kuno, kriptografi digunakan secara luas untuk melindungi informasi penting dalam konteks militer, tujuan yang masih relevan hingga saat ini.

    Di kota Sparta kuno, misalnya, pesan-pesan ditulis dalam bentuk terenkripsi pada gulungan kulit yang kemudian dipegang oleh penerima pesan. Metode serupa juga digunakan oleh mata-mata kuno India pada abad ke-2 SM dengan menggunakan pesan berkode.

    Salah satu peradaban yang paling maju dalam penggunaan kriptografi pada zaman kuno adalah Romawi.

    Sebuah contoh cryptography Romawi yang terkenal adalah sandi Caesar, yang melibatkan pergeseran huruf dalam sebuah pesan terenkripsi dengan jumlah pergeseran yang telah ditentukan di dalam abjad Latin.

    Dengan mengetahui sistem dan jumlah pergeseran yang digunakan, penerima pesan dapat berhasil membuka pesan tersebut, sementara jika tidak, pesan tersebut akan sulit dimengerti.

    Ilustrasi kriptografi.
    Ilustrasi kriptografi.

    Perkembangan pada Abad Pertengahan dan Renaisans

    Selama periode Abad Pertengahan, kriptografi menjadi semakin penting, dan penggunaan sandi Caesar menjadi standar umum. Namun demikian, disiplin kriptoanalisis, yang berkaitan dengan dekripsi dan pemecahan kode, mulai mengikutinya.

    Pada sekitar tahun 800 M, seorang ahli matematika Arab bernama Al-Kindi mengembangkan teknik analisis frekuensi yang melangkah lebih maju daripada sandi pengganti yang lemah.

    Ini adalah upaya manusia pertama dalam membuka pesan terenkripsi dan memperoleh akses ke metode yang sistematis, dan itu memberikan kontribusi penting untuk kemajuan kriptografi.

    Pada tahun 1465, Leone Alberti mengembangkan sandi polialfabetik yang dianggap sebagai solusi terhadap analisis frekuensi yang ditemukan oleh Al-Kindi.

    Dalam sandi polialfabetik, sebuah pesan dienkripsi menggunakan dua abjad yang berbeda. Salah satunya berasal dari pesan itu sendiri, sementara yang lainnya adalah abjad yang sangat berbeda dari abjad asli pesan.

    Dengan menggabungkan penggantian huruf tradisional dengan sandi polialfabetik, tingkat keamanan informasi yang terenkripsi meningkat secara signifikan.

    Hanya jika pembaca mengetahui abjad yang digunakan dalam pembuatan pesan, analisis frekuensi tidak akan berguna.

    Metode baru dalam penyandian informasi juga dikembangkan selama periode Renaisans, termasuk metode populer seperti penyandian biner yang ditemukan oleh seorang tokoh multitalenta terkenal, Sir Francis Bacon, pada tahun 1623.

    Pengembangan pada Abad Terkini

    Kriptografi terus berkembang seiring berjalannya waktu. Ada banyak terobosan besar dalam menjelaskan cara cryptography bekerja, meskipun beberapa di antaranya hanya diungkapkan dan tidak pernah diwujudkan.

    Salah satu contohnya adalah penemuan yang dibuat oleh Thomas Jefferson pada tahun 1790 yang dikenal sebagai “wheel cipher” (roda sandi).

    Penemuan ini melibatkan penggunaan roda yang dapat diputar dengan 36 cincin huruf untuk menciptakan sandi yang kompleks. Konsep ini sangat maju dan menjadi dasar kriptografi militer Amerika hingga akhir Perang Dunia II.

    Perang Dunia II juga memberikan contoh yang sempurna dalam hal cryptography analog dengan Mesin Enigma.

    Mesin ini, yang digunakan oleh poros kekuatan Axis, menggunakan roda yang dapat diputar untuk menyandikan pesan, sehingga hampir tidak mungkin untuk membacanya tanpa memiliki mesin Enigma yang sesuai.

    Teknologi komputer awal akhirnya digunakan untuk memecahkan sandi Enigma, dan kemampuan untuk membaca pesan Enigma yang berhasil dipecahkan merupakan faktor penting dalam kemenangan Sekutu.

    Kriptografi dalam Era Komputer

    Dengan kemunculan komputer, kriptografi mengalami kemajuan pesat dibandingkan dengan era analog sebelumnya. Enkripsi matematika 128-bit, yang jauh lebih kuat daripada sandi-sandi kuno, kini menjadi standar untuk banyak perangkat sensitif dan sistem komputer.

    Pada awal tahun 1990-an, muncul bentuk baru kriptografi yang dikenal sebagai kriptografi kuantum. Ahli komputer mulai mengembangkan teknik ini dengan harapan meningkatkan tingkat perlindungan yang ditawarkan oleh enkripsi modern.

    Saat ini, teknik kriptografi juga memainkan peran penting dalam pengembangan mata uang digital. Mata uang digital memanfaatkan berbagai teknik kriptografi yang canggih, termasuk fungsi hash, cryptography kunci publik, dan tanda tangan digital.

    Teknik-teknik ini digunakan untuk menjaga keamanan data yang tersimpan dalam blockchain dan untuk mengautentikasi transaksi.

    Salah satu bentuk kriptografi khusus yang dikenal sebagai Elliptical Curve Digital Signature Algorithm (ECDSA) mendukung sistem Bitcoin dan mata uang digital lainnya untuk memberikan tingkat keamanan yang lebih tinggi dan memastikan bahwa uang hanya dapat digunakan oleh pemiliknya.

    Ilustrasi kriptografi.
    Ilustrasi kriptografi.

    Kriptografi telah ada sejak 4000 tahun yang lalu, dan perkembangannya tidak akan berhenti di sini. Selama ada data yang perlu dilindungi, kriptografi akan terus berkembang.

    Meskipun sistem cryptography yang digunakan dalam blockchain mata uang digital saat ini menawarkan bentuk ilmiah yang paling canggih, mereka juga merupakan bagian dari tradisi yang telah ada sejak permulaan peradaban manusia.

    Dalam perjalanan panjang sejarah kriptografi, manusia terus mencari cara baru untuk melindungi informasi sensitif dan memastikan kerahasiaan dan keaslian data. Kriptografi telah menjadi pondasi yang kuat bagi perkembangan teknologi modern seperti mata uang digital dan blockchain.

    Dengan terus mengembangkan teknik dan algoritma cryptography, kita dapat memastikan bahwa dunia digital yang semakin terhubung ini tetap aman dan terlindungi.

    Penutup

    Dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, kriptografi telah memainkan peran penting dalam menjaga keamanan dan kerahasiaan informasi.

    Dari penggunaan simbol-simbol primitif di zaman kuno hingga modern yang kompleks, inovasi dalam bidang ini terus mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman.

    Kriptografi telah bertransformasi dengan pesat seiring dengan kemajuan komputer dan perkembangan dunia digital.

    Teknik-tekniknya yang kuat dan canggih kini menjadi landasan bagi mata uang digital dan sistem blockchain yang memungkinkan pertukaran informasi yang aman di era digital ini.

    Namun, perjalanan kriptografi masih berlanjut. Terus ada tantangan baru yang perlu diatasi, seperti perkembangan komputasi kuantum yang dapat mengancam keamanan sistem cryptography saat ini.

    Para ahli terus bekerja keras untuk mengembangkan solusi baru yang dapat menghadapi tantangan tersebut dan menjaga keamanan informasi di masa depan.

    Dalam dunia yang semakin terhubung dan bergantung pada teknologi, penting bagi kita untuk memahami peran dan nilai kriptografi.

    Dengan pengetahuan yang lebih mendalam tentang sejarah dan perkembangan, kita dapat mengaplikasikan teknik-teknik ini dengan bijaksana dan melindungi informasi sensitif kita.

    Sebagai konklusi, cryptography telah menjadi pilar penting dalam dunia digital saat ini. Melalui upaya dan inovasi dalam bidang ini, kita dapat memastikan bahwa keamanan dan privasi data tetap terjaga di era yang semakin maju ini.

    Dengan terus mengikuti perkembangan dan mempelajari dari sejarahnya, kita dapat menghadapi tantangan masa depan dan memanfaatkan kekuatan kriptografi untuk kebaikan kita semua.

    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Apa itu Cryptocurrency? Macam-macam Kripto dan Cara Berinvestasi.”

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Peluang Karir di Industri Blockchain dan Web3: Potensi di Indonesia

    Industri blockchain dan Web3 telah menjadi sorotan utama di dunia teknologi, dan potensi karir yang menarik di sektor ini semakin berkembang di Indonesia. Sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi pemain utama dalam industri ini.

    Perkembangan teknologi blockchain, yang merupakan dasar dari mata uang kripto dan aplikasi terdesentralisasi, telah membuka pintu bagi peluang karir yang menarik di berbagai bidang, termasuk pengembangan perangkat lunak, keamanan informasi, analisis data, manajemen proyek, dan lainnya.

    Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa perusahaan dan startup di Indonesia telah mulai mengadopsi teknologi blockchain dan Web3 untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan rantai pasokan, dan menciptakan solusi inovatif dalam berbagai sektor, termasuk keuangan, logistik, e-commerce, dan administrasi publik. Dengan adopsi yang semakin luas dan pertumbuhan ekosistem blockchain yang pesat, permintaan akan tenaga kerja yang memiliki pemahaman dan keterampilan di bidang ini juga meningkat.

    Industri ini menciptakan banyak peluang karir baru. Faktanya, menurut laporan Hired 2021, permintaan untuk pengembang blockchain telah melonjak hingga 517% dibandingkan tahun sebelumnya. Di Indonesia, seiring dengan semakin tingginya adopsi teknologi ini, peluang kerja di bidang blockchain dan Web3 juga semakin beragam.

    1. Pengembang Blockchain/Web3

    Pengembang adalah tulang punggung industri blockchain dan Web3. Mereka menciptakan dan mengoptimalkan protokol blockchain, merancang smart contracts, dan membangun aplikasi desentralisasi (dApps). Penguasaan terhadap bahasa pemrograman seperti Solidity dan pengetahuan mendalam tentang kriptografi adalah beberapa keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini.

    2. Ahli Kriptografi

    Kriptografi adalah inti dari keamanan dan privasi dalam blockchain. Seorang ahli kriptografi akan merancang algoritma dan sistem keamanan untuk melindungi data dan transaksi di blockchain dari serangan dan manipulasi.

    3. Analis Blockchain

    Analis blockchain bekerja untuk memahami dan menganalisis data blockchain. Mereka mencari tren dan pola, melakukan analisis pasar, dan memberikan wawasan yang berharga bagi perusahaan, investor, dan pengguna.

    Ilustrasi teknologi blockchain. Sumber: Leewayhertz.
    Ilustrasi teknologi blockchain. Sumber: Leewayhertz.

    Baca juga: Ridwan Kamil Siapkan Beasiswa Pendidikan Teknologi Blockchain

    4. Konsultan Blockchain

    Konsultan blockchain membantu organisasi memahami bagaimana teknologi ini dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam operasi mereka. Mereka juga membantu dalam mengimplementasikan solusi blockchain dalam praktek bisnis sehari-hari.

    5. Ahli Hukum Teknologi Blockchain

    Dengan munculnya teknologi baru, juga muncul tantangan hukum baru. Ahli hukum teknologi blockchain membantu perusahaan dan individu dalam navigasi melalui hukum dan regulasi yang berlaku.

    Potensi di Indonesia

    Menurut data dari Statista, pada tahun 2021, ada sekitar 11% pengguna internet di Indonesia yang memiliki kripto, sebuah angka yang menunjukkan minat yang cukup besar terhadap teknologi blockchain. Lebih jauh lagi, Pemerintah Indonesia telah menunjukkan dukungan terhadap pengembangan industri ini. Pada tahun 2020, Indonesia meluncurkan “Indonesia Blockchain Hub”, bertujuan untuk menjadi pusat pengembangan dan inovasi blockchain di negara ini.

     CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis, berbagi visi yang sama tentang potensi karir yang ditawarkan oleh industri Web3 dan blockchain. Yudho menggambarkan Web3 dan NFT sebagai peluang besar yang masih di tahap awal.

    “Industri blockchain dan Web3 masih sangat early. Kesempatan untuk berpartisipasi masih sangat besar. Saya yakin blockchain dan Web3 yang dikombinasikan dengan AI dan machine learning adalah inovasi yang akan mengubah dunia dalam 5-10 tahun ke depan. Kita bisa berpartisipasi, baik itu sebagai player, user, atau karir.”

    CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis di Web3 On Campus - Binus University pada hari Jumat, 16 Juni 2023. Sumber: IDNFT.
    CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis di Web3 On Campus – Binus University pada hari Jumat, 16 Juni 2023. Sumber: IDNFT.

    Baca juga: Menggali Potensi Metaverse dalam Transformasi Industri Jasa Keuangan

    Dalam konteks ini, peluang karir di industri blockchain dan Web3 di Indonesia tampak sangat menjanjikan. Keterampilan yang berkaitan dengan blockchain dan Web3 semakin dicari oleh perusahaan lokal dan internasional yang beroperasi di Indonesia. Selain itu, seiring dengan perkembangan dan penerimaan yang semakin luas dari teknologi ini, peluang kerja akan terus bertambah dan beragam.

    Dengan demikian, bagi mereka yang ingin mengejar karir di era digital, industri blockchain dan Web3 dapat menjadi pilihan yang sangat baik. Seiring dengan pertumbuhan industri ini, akan ada lebih banyak peluang untuk belajar, berinovasi, dan memajukan karir di bidang yang sangat menjanjikan ini.

    “Seiring adopsi teknologi ini yang semakin meluas, permintaan akan tenaga kerja yang terampil dalam bidang ini diperkirakan akan terus meningkat. Menjelajahi karir di bidang blockchain dan Web3 dapat menjadi pilihan yang menarik,” pungkas Yudho.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa itu Proof of Stake? Cara Kerja, Manfaat, Kekurangan dan Kelebihan

    Proof of Stake (PoS) adalah salah satu mekanisme konsensus yang semakin populer sebagai alternatif dari Proof of Work (PoW) dalam dunia blockchain.

    Dalam PoS, para validator tidak perlu menggunakan daya komputasi tinggi untuk memvalidasi transaksi, namun mereka harus melakukan staking atau mengunci sejumlah koin sebagai syarat partisipasi.

    Hal ini secara signifikan mengurangi konsumsi energi yang dibutuhkan. Selain itu, PoS juga meningkatkan desentralisasi, keamanan, dan skalabilitas blockchain.

    Meskipun demikian, PoS memiliki beberapa tantangan, seperti kurangnya aksesibilitas tanpa kepemilikan kripto.

    Selain itu, blockchain dengan kapitalisasi pasar yang rendah rentan terhadap serangan 51%. Oleh karena itu, PoS memiliki variasi-variasi yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan berbagai blockchain dan kasus penggunaan.

    Sejauh ini, PoS menjadi pilihan yang paling populer untuk jaringan blockchain saat ini. Meskipun ada banyak variasi, memahami konsep inti PoS menjadi tantangan tersendiri.

    Meskipun bentuk aslinya mungkin tidak terlihat secara langsung, semua jenis PoS memiliki prinsip dasar yang sama. Memahami kesamaan tersebut akan membantu pengguna untuk membuat keputusan yang lebih baik terkait penggunaan dan pengoperasian blockchain.

    Apa Arti dari Proof of Stake?

    Proof of Stake adalah algoritme konsensus yang diperkenalkan pada tahun 2011 melalui forum Bitcointalk. Algoritme ini diusulkan sebagai solusi atas masalah PoW. PoS tidak memerlukan bukti berupa daya komputasi tinggi, melainkan peserta hanya perlu membuktikan bahwa mereka telah melakukan staking koin. Meskipun PoS dan PoW memiliki tujuan yang sama, yaitu mencapai konsensus dalam blockchain, cara kerjanya memiliki perbedaan yang signifikan.

    Bagaimana PoS Bekerja?

    Algoritme Proof of Stake menggunakan proses pemilihan pseudo-random untuk memilih validator dari sekelompok node. Pemilihan ini melibatkan kombinasi beberapa faktor, termasuk usia staking, elemen pengacakan, dan jumlah kekayaan yang dimiliki oleh masing-masing node.

    Dalam PoS, blok bukan lagi ditambang (mined) seperti dalam PoW, namun melalui proses “forging”. Meskipun istilah “mining” masih sering digunakan secara umum.

    Sebagian besar kripto yang menggunakan PoS diluncurkan dengan pasokan koin “pra-forging” agar para node dapat memulai staking segera setelah diluncurkan.

    Para pengguna yang berpartisipasi dalam proses forging harus mengunci sejumlah koin dalam jaringan sebagai staking. Besar staking yang dilakukan akan menentukan peluang node untuk dipilih sebagai validator berikutnya.

    Semakin besar jumlah staking, semakin besar peluangnya.

    Untuk menghindari dominasi oleh node dengan kekayaan yang besar, metode unik diterapkan dalam pemilihan, sehingga tidak hanya node dengan kekayaan terbesar yang dipilih. Dua metode yang umum digunakan adalah Pemilihan Blok Acak (Random Block Selection) dan Pemilihan Usia Koin (Coin Age Selection).

    Pemilihan blok acak

    Dalam metode Pemilihan Blok Acak, validator dipilih dengan mencari node yang memiliki kombinasi nilai hash terendah dan jumlah staking tertinggi. Karena informasi tentang jumlah staking bersifat publik, node lain dapat memprediksi node mana yang akan menjadi forger berikutnya.

    Pemilihan usia koin

    Metode Pemilihan Usia Koin memilih node berdasarkan usia koin yang telah masuk ke dalam staking. Usia koin dihitung dengan menggandakan jumlah hari koin tersebut berada dalam staking dengan jumlah koin yang telah masuk staking.

    Setelah node berhasil melakukan forging blok, usia koin akan direset menjadi nol, dan node harus menunggu dalam jangka waktu tertentu sebelum dapat melakukan forging blok lagi. Hal ini bertujuan untuk mencegah node dengan jumlah staking yang besar menguasai blockchain.

    Validasi transaksi

    Setiap kripto yang menggunakan PoS memiliki aturan dan metode sendiri yang dianggap sebagai kombinasi terbaik untuk jaringan dan pengguna.

    Ketika terpilih untuk melakukan forging blok berikutnya, node akan memastikan bahwa transaksi dalam blok tersebut valid. Node tersebut akan menandatangani blok dan menambahkannya ke dalam blockchain. Sebagai imbalan, node akan menerima biaya transaksi dari blok tersebut dan, dalam beberapa blockchain, juga mendapatkan reward berupa koin.

    Jika seorang node ingin berhenti menjadi forger, staking dan reward yang diperolehnya akan dilepaskan setelah jangka waktu tertentu.

    Hal ini memberikan waktu bagi jaringan untuk memastikan tidak ada blok yang ditambahkan oleh node tersebut yang merupakan blok palsu atau mencurigakan.

    Prediksi Harga BNB-Tokocrypto
    Ilustrasi aset kripto BNB.

    Daftar Blockchain yang Menggunakan Proof of Stake

    Banyak blockchain pasca-Ethereum yang menggunakan mekanisme konsensus Proof of Stake atau variasinya. Berikut ini beberapa contohnya:

    1. Binance Smart Chain (BSC)
    2. Cardano (ADA)
    3. Polkadot (DOT)
    4. Avalanche (AVAX)
    5. Solana (SOL)
    6. Tezos (XTZ)
    7. Cosmos (ATOM)
    8. Ethereum (ETH)

    Keunggulan Proof of Stake

    Proof of Stake memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan Proof of Work, yang menjadikannya pilihan utama untuk banyak blockchain. Beberapa keunggulannya antara lain:

    1. Efisiensi energi yang lebih tinggi

    Proof of Stake mengurangi konsumsi energi yang diperlukan untuk menjalankan jaringan blockchain, karena tidak ada kebutuhan untuk melakukan penambangan dengan perangkat keras khusus.

    2. Skalabilitas yang lebih baik

    Dengan Proof of Stake, penambahan validator baru ke jaringan menjadi lebih mudah dan murah, memungkinkan skalabilitas yang lebih baik seiring pertumbuhan jaringan.

    Keamanan yang lebih tinggi: Staking dalam Proof of Stake memberikan insentif finansial bagi validator untuk memproses transaksi dengan jujur ​​dan tidak memproses transaksi palsu. Serangan 51% juga lebih sulit dilakukan karena melibatkan kepemilikan mayoritas pasokan koin.

    3. Desentralisasi yang lebih besar

    Proof of Stake memungkinkan partisipasi yang lebih luas dalam validasi transaksi, sehingga meningkatkan desentralisasi jaringan.

    Kelemahan Proof of Stake

    Meskipun memiliki banyak keunggulan, Proof of Stake juga memiliki beberapa tantangan yang harus diatasi:

    1. Kekayaan dan aksesibilitas

    Untuk berpartisipasi dalam staking, pengguna harus memiliki jumlah koin yang cukup dan akses ke blockchain tersebut. Hal ini dapat menjadi hambatan bagi mereka yang tidak memiliki ketersediaan dana yang cukup atau kesulitan dalam mengakses kripto tersebut.

    2. Keamanan serangan 51% yang lebih mudah

    Dalam Proof of Stake, serangan 51% menjadi lebih mudah dilakukan jika harga koin turun atau jika blockchain memiliki kapitalisasi pasar yang rendah. Oleh karena itu, upaya perlindungan terhadap serangan semacam itu sangat penting.

    3. Masalah fork

    Proof of Stake juga rentan terhadap risiko fork ganda, di mana orang dapat melakukan staking pada kedua sisi fork. Hal ini dapat menyebabkan ketidakstabilan dalam jaringan.

    Meskipun Proof of Stake memiliki beberapa tantangan, inovasi dan penelitian terus dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Seiring dengan perkembangan teknologi blockchain, kemungkinan adopsi dan perkembangan Proof of Stake akan terus meningkat.

    perbedaan proof of stake dan proof of work, apa saja?
    Perbedaan proof of stake dan proof of work, apa saja?

    Proof of Work vs Proof of Stake

    Jika kita membandingkan kedua mekanisme konsensus ini, terdapat beberapa perbedaan utama.

    Namun, terdapat beragam mekanisme Proof of Stake di berbagai blockchain. Kebanyakan perbedaannya akan bergantung pada mekanisme yang digunakan. Beberapa perbedaan utama antara Proof of Work dan Proof of Stake.

    1. Konsumsi Energi

    Salah satu perbedaan utama antara Proof of Work dan Proof of Stake adalah dalam hal konsumsi energi. Proof of Work memerlukan daya komputasi yang tinggi untuk menyelesaikan algoritme kriptografis yang rumit.

    Hal ini menghasilkan penggunaan energi yang sangat besar, terutama dalam kasus blockchain besar seperti Bitcoin. Di sisi lain, Proof of Stake mengurangi konsumsi energi dengan mengandalkan staking koin sebagai syarat partisipasi, tanpa memerlukan perangkat keras khusus.

    2. Keamanan

    Meskipun Proof of Work telah terbukti aman selama bertahun-tahun, Proof of Stake juga menawarkan keamanan yang tinggi.

    Dalam Proof of Work, serangan 51% dapat terjadi jika penambang memiliki lebih dari 50% kekuatan komputasi jaringan. Namun, dalam PoS, serangan serupa akan memerlukan kepemilikan mayoritas pasokan koin dalam jaringan.

    Selain itu, mekanisme tambahan seperti pemilihan acak validator dan penalitas finansial bagi pelanggaran aturan meningkatkan keamanan jaringan.

    3. Desentralisasi

    Proof of Stake mendorong desentralisasi yang lebih besar daripada Proof of Work. Dalam Proof of Work, penambangan yang efisien biasanya membutuhkan peralatan khusus yang mahal. Ini dapat mengarah pada sentralisasi kekuatan penambang di tangan beberapa pemain besar.

    Dalam PoS, individu dengan jumlah staking yang lebih besar memiliki peluang yang lebih tinggi untuk menjadi validator. Ini mengurangi kecenderungan sentralisasi dan mendorong partisipasi yang lebih luas.

    4. Skalabilitas

    Proof of Stake cenderung lebih mudah diskalakan daripada Proof of Work. Dalam Proof of Work, semakin banyak penambang yang terlibat, semakin sulit dan memakan waktu untuk menyelesaikan algoritme kriptografis.

    Dalam PoS, penambahan validator baru dapat dilakukan dengan biaya yang lebih rendah dan lebih cepat. Ini memungkinkan jaringan untuk skalabilitas yang lebih baik dengan meningkatkan kecepatan verifikasi transaksi.

    5. Pemilihan mekanisme Proof of Stake yang berbeda

    Setiap blockchain yang menggunakan Proof of Stake memiliki variasi mekanisme sendiri untuk mencapai konsensus. Misalnya, beberapa blockchain menggunakan kombinasi pemilihan acak dan pemilihan usia koin untuk memilih validator, sedangkan yang lain menggunakan metode lain yang unik.

    Pilihan mekanisme PoS yang berbeda ini bergantung pada kebutuhan khusus jaringan dan tujuan yang ingin dicapai. Setiap mekanisme memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri dalam hal efisiensi, keamanan, desentralisasi, dan skalabilitas.

    6. Pengembangan dan penelitian yang terus berkembang

    Seiring dengan perkembangan industri blockchain, pengembangan dan penelitian terus dilakukan untuk meningkatkan mekanisme Proof of Stake dan mengatasi tantangan yang ada.

    Banyak proyek blockchain terus berinovasi dan mengadopsi variasi PoS yang baru untuk meningkatkan kinerja dan keamanan jaringan mereka.

    Beragam Mekanisme Konsensus Proof of Stake

    Proof of Stake (PoS) merupakan mekanisme konsensus yang sangat fleksibel. Para pengembang dapat mengadaptasi mekanisme ini sesuai dengan kebutuhan khusus dari suatu blockchain. Berikut ini beberapa contoh mekanisme PoS yang umum digunakan:

    1. Delegated Proof of Stake (DPoS)

    Delegated Proof of Stake memungkinkan pengguna untuk melakukan staking koin tanpa harus menjadi validator langsung. Dalam DPoS, pengguna dapat melakukan staking di belakang validator tertentu dan berbagi reward blok dengan mereka.

    Semakin banyak delegator yang melakukan staking di belakang calon validator, semakin tinggi peluangnya untuk dipilih. Validator dapat mengatur jumlah reward yang dibagi dengan para delegator sebagai insentif. Selain itu, reputasi validator juga menjadi faktor penting bagi para delegator.

    2. Nominated Proof of Stake (NPoS)

    Nominated Proof of Stake adalah model konsensus yang dikembangkan oleh Polkadot. Model ini memiliki kesamaan dengan DPoS, namun dengan satu perbedaan utama. Jika seorang nominator (delegator) melakukan staking di belakang validator yang bermasalah, mereka juga akan kehilangan staking mereka sebagai sanksi.

    Nominator dapat memilih hingga 16 validator untuk melakukan staking di belakangnya. Jaringan kemudian akan mendistribusikan staking mereka secara merata di antara validator yang dipilih.

    Polkadot juga menggunakan pendekatan berdasarkan teori permainan dan teori pemilihan untuk menentukan siapa yang akan melakukan forging blok baru.

    3. Proof of Staked Authority (PoSA)

    BNB Smart Chain menggunakan Proof of Staked Authority untuk mencapai konsensus dalam jaringannya.

    Mekanisme ini menggabungkan elemen Proof of Authority dan Proof of Stake, di mana validator dapat bergantian untuk melakukan forging blok.

    Terdapat kelompok validator aktif sebanyak 21 orang yang memenuhi syarat untuk berpartisipasi. Pemilihan kelompok dilakukan berdasarkan jumlah BNB yang di-stake atau yang telah didelegasikan kepada mereka.

    Penentuan kelompok ini dilakukan setiap hari, dan BNB Chain mencatat hasil pemilihan tersebut.

    Kesimpulan

    Proses penambahan blok transaksi dalam sebuah jaringan telah mengalami perubahan signifikan sejak munculnya Bitcoin.

    Sekarang, tidak lagi dibutuhkan daya komputasi yang tinggi untuk mencapai konsensus dalam dunia kripto. PoS memiliki sejumlah keunggulan, dan sejarah telah membuktikan keberhasilannya.

    Meskipun Bitcoin masih menggunakan Proof of Work, tampaknya Proof of Stake akan terus bertahan dan menjadi pilihan utama untuk banyak jaringan blockchain saat ini.

    Jika kamu ingin mempelajari mekanisme Proof of Work bisa baca di artikel “Apa Itu Proof of Work“.

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com