Tag: blockchain

  • Tokocrypto Tingkatkan Keamanan Data Pengguna

    Maraknya kasus kebocoran data dan aksi peretasan tentu mengkhawatirkan masyarakat soal aspek keamanan mereka di dunia digital. Tokocrypto, sebagai pedagang aset kripto yang termasuk platform Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) selalu mengutamakan keamanan akun dan data pengguna. 

    VP of Technology Tokocrypto, Muhammad Wendy Taufik, mengatakan perusahaan telah melakukan banyak langkah dari segi pengembangan teknologi dan edukasi untuk melindungi data pengguna agar aman. Dia menyebutkan Tokocrypto memiliki tanggung jawab menjamin keamanan data pribadi pengguna serta karyawan untuk tetap terjaga kerahasiaannya.

    “Kita selalu punya mindset bahwa ini merupakan tanggung jawab yang penting. Soal keamanan kita tidak bisa mentolerir, selalu mengaplikasikan teknologi keamanan yang terkini dan melakukan edukasi kepada pengguna dan juga karyawan,” kata Wendy.

    Wendy menambahkan persoalan keamanan data pengguna menjadi perhatian serius perusahaan, lantaran bergerak di bisnis perdagangan aset kripto dan blockhain yang umumnya mengandalkan kepercayaan. Tokocrypto tidak ingin memiliki trust issue, sehingga mengakibatkan citra yang buruk kepada perusahaan.

    Ilustrasi Tokocrypto. Foto: Tokocrypto.
    Ilustrasi Tokocrypto. Foto: Tokocrypto.

    Baca juga: Masuk ke Industri Blockchain, FIFA Resmi Luncurkan Platform NFT FIFA+

    Untuk menjaga kerahasiaan data, Tokocrypto menunjukkan komitmennya berperan aktif menjadi pionir dalam menumbuhkan kenyamanan dan kepercayaan pengguna dengan mengantongi sertifikat ISO 27017. Ini merupakan standar guna membuat layanan berbasis cloud yang lebih aman dan mengurangi resiko terkait masalah keamanan. Sebelumnya, Tokocrypto juga telah berhasil meraih ISO 27001.

    “Standar ISO 27001 menetapkan persyaratan untuk manajemen keamanan informasi yang efektif melalui Sistem Manajemen Keamanan Informasi atau Information Security Management System (ISMS) dan memberikan dasar untuk program keamanan yang efektif,” jelasnya.

    Investasi Perangkat dan SDM

    Di samping itu, Tokocrypto senantiasa melakukan investasi untuk peningkatan keamanan, baik dari sisi perangkat hingga sumber daya manusia (SDM) yang mendukung pengembangan dari sisi proteksi.

    Tokocrypto terus melakukan pembaruan terhadap perangkat yang digunakan untuk keamanan data pengguna. Pembaruan atau update diperlukan agar sistem yang dipakai perusahaan tidak mudah alami gangguan peretasan.

    Tak hanya itu, Tokocrypto memiliki tim internal dengan banyak anggota yang menempati berbagai fungsi. Mulai dari tim khusus yang akan menangani masalah security data protection, fraud hingga risk mitigation.

    “Kita terus melakukan inovasi. Sebagai startup blockchain, kita juga memanfaatkan keunggulan teknologi blockchain yang sulit diretas. Selain itu peningkatan keamanan juga dilakukan melalui edukasi untuk menciptakan awareness,” jelas Wendy.

    Ilustrasi Tokocrypto
    Ilustrasi Tokocrypto. Foto: Tokocrypto.

    Baca juga: KunciCoin Gandeng Qoinpay Perluas Utilitas Project Kripto, Apa Itu?

    Edukasi Keamanan

    Tokocrypto juga melakukan edukasi awareness pentingnya menjaga keamanan akun digital. Saat ini, Tokocrypto mulai mewajibkan para penggunanya mengaktifkan 2FA (Two-Factor Authentication), sebuah fitur keamanan untuk melakukan verifikasi identitas. Kegunaan fitur keamanan 2FA ini agar akun, data, aset, serta history transaksi tidak mudah diketahui oleh orang lain yang tidak bertanggung jawab.

    Pengguna Tokocrypto dapat mengaktifkan 2FA SMS dan Google Authenticator sebagai pelapis keamanan ganda. Selain itu, diimbau agar mengaktifkan keduanya, karena 2FA SMS saja tidak cukup untuk menghindari peretasan akun. Hacker masih bisa menebak kode OTP atau membajak kartu SIM untuk mendapatkan akses.

    Selain itu, Tokocrypto bekerja sama dengan mitra strategis dan menggandeng auditor untuk melakukan audit security secara berkala. Kemudian, berkoordinasi dengan regulator, baik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Masuk ke Industri Blockchain, FIFA Resmi Luncurkan Platform NFT FIFA+

    Menjelang Piala Dunia 2022, FIFA dengan senang hati mengumumkan FIFA+ Collect, platform yang diluncurkan untuk memberikan kesempatan kepada penggemar sepak bola di seluruh dunia untuk memiliki koleksi digital unik atau NFT dengan harga terjangkau.

    FIFA+ Collect akan menyediakan koleksi NFT mulai dari momen permainan terhebat hingga FIFA World Cup paling ikonik dan FIFA Women’s World Cup. Langkah FIFA ini menegaskan bahwa industri blockchain memiliki potensi yang sangat besar.

    “Fandom berubah dan penggemar sepak bola di seluruh dunia terlibat dengan permainan dengan cara baru dan menarik,” kata Chief Business Officer FIFA, Romy Gai.

    Jaringan blockchain Algorand

    Platform NFT FIFA ini dibangun di atas infrastruktur jaringan blockchain Algorand. Hal ini terjadi menyusul pengumuman keja sama antara FIFA dan Algorand pada bulan Mei lalu.

    FIFA mengumumkan kemitraan dengan inovator blockchain Algorand. Foto: FIFA.
    FIFA mengumumkan kemitraan dengan inovator blockchain Algorand. Foto: FIFA.

    Baca juga: Riset: Pajak Kripto di Indonesia Salah Satu yang Terendah di Dunia

    Algorand merupakan salah satu alternatif jaringan ekosistem Ethereum yang cukup populer di dunia NFT, utamanya berkat mekanisme konsensus proof-of-stake yang diusung. Menariknya, biaya transaksi yang relatif rendah. Algorand juga dipercaya untuk menjalankan ekosistem marketplace NFT LimeWire.

    “Platform FIFA –melalui blockchain publik yang benar-benar terdesentralisasi dan terukur– adalah representasi nyata pertama dari kemitraan teknis yang baru-baru ini diumumkan antara FIFA dan Algorand,” kata W. Sean Ford, interim CEO of Algorand.

    “Komitmen yang dibuat FIFA untuk menjembatani ke Web3 yang diaktifkan oleh Algorand, adalah bukti semangat dan keinginan inovatif mereka untuk terlibat secara langsung dan lancar dengan penggemar sepak bola di seluruh dunia.”

    FIFA+ Collect Bisa Diakses Segera

    Diluncurkan akhir bulan ini, FIFA+ Collect akan merilis serangkaian koleksi awal dan detail koleksi eksklusif dan edisi terbatas mendatang yang akan segera dirilis.

    Aplikasi FIFA+, platform digital kelas dunia. Foto: FIFA.
    Aplikasi FIFA+, platform digital kelas dunia. Foto: FIFA.

    Baca juga: KunciCoin Gandeng Qoinpay Perluas Utilitas Project Kripto, Apa Itu?

    FIFA+ Collect akan tersedia di FIFA+, platform digital kelas dunia yang dibuat untuk menghubungkan penggemar sepak bola di seluruh dunia lebih dalam dengan game yang mereka sukai. FIFA+ menyediakan akses ke pertandingan sepak bola langsung dari setiap sudut dunia, permainan interaktif, berita, informasi turnamen,

    Sejak diluncurkan, FIFA+ Collect akan tersedia di semua web dan perangkat seluler dan dalam tiga edisi bahasa (Inggris, Prancis, dan Spanyol), dengan beberapa bahasa tambahan akan di tambahkan dalam waktu dekat.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Para Peneliti Cari Rumus Terbaik Kebijakan Blockchain di Indonesia

    Industri blockchain di Indonesia terus tumbuh dalam dua tahun terakhir. Proyeksi potensi ekonomi yang dihasilkan oleh teknologi ini tidak main-main.

    Indonesia diyakini bisa menjadi pusat perkembangan blockchain di Asia Tenggara. Kementerian Perdagangan RI mencatat teknologi blockchain bersamaan dengan 5G, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan, dan cloud computing bisa mendorong ekonomi digital Indonesia menjadi Rp 4.531 triliun pada 2030.

    Riset PwC bahkan mengungkap teknologi blockchain dapat meningkatkan ekonomi global US$ 1,76 triliun pada tahun 2030. Sektor administrasi publik, pendidikan dan kesehatan akan paling banyak diuntungkan. 

    Potensi ekonomi yang besar itu mengerakan Sunu Puguh Hayu Triono bersama dua orang rekannya, yaitu Dr. Andry Alamsyah, S.Si, M.Sc dan Dr. Helni Mutiarsih Jumhur SH, MH merancang penelitian yang bertajuk “Brief Policy to Blockchain Based Industry In Indonesia: It Is Now or Later?

    “Industri blockhain itu punya potensi yang sangat besar sebenarnya. Kita melihat di situ, industri ini bisa berkembang. Tapi di sisi lain, banyak tindakan yang kurang baik hingga merugikan masyarakat atau investor kripto, seperti rugpull dan token-token kripto yang tidak jelas. Kita bicara investor sudah meningkat dan menjadi kebutuhan, literasi juga diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan,” kata Sunu dalam wawacara dengan tim TokoNews, Senin (8/8).

    Ilustrasi blockchain.
    Ilustrasi blockchain.

    Baca juga: Belajar Kripto dan Blockchain Dapat Sertifikat Gratis di Tokoscholar

    Sunu melihat perkembangan industri blockchain di Indonesia belum dibarengi dengan policy atau kebijakan yang tujuannya untuk melindungi masyarakat dan mengembangkan inovasinya. Sehingga menurutnya banyak orang yang mungkin akan ragu-ragu untuk mengembangkan teknologi blockchain, karena tidak ada guidance yang jelas.

    Bantu Formulasikan Kebijakan Blockchain di indonesia

    Tiga orang peneliti yang berasal dari institusi Telkom Univesity ini menjelaskan ada dua tujuan dari penelitian yang nanti akan mereka jalankan. Keduanya harus memiliki nilai pengembangan ekosistem dan melindungi masyarakat.

    “Di satu sisi, mengembangkan ekosistem industri berbasis blockchain dan melindungi para pelaku yang terlibat di dalamnya. Hal menarik dari penelitian ini, karena teknologi ini masih baru secara penerapannya belum mainstream, dan dikaitkan hanya dengan aset kripto, jadi kami melihat di blockchain ini yang utamanya token, itu akan berlaku seperti uang, apapun yang nanti dikembangkan akan menjadi potensi yang besar, seperti GameFi, move-to-earn dan lainnya,” jelas Sunu.

    Menurut para peneliti, teknologi blockchain memiliki potensi besar untuk digunakan, tidak ada kebijakan pemerintah yang komprehensif untuk mengatur, melindungi pihak-pihak yang terlibat, dan mendukung penciptaan inovasi berbasis blockchain. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu langkah untuk memberikan rekomendasi kebijakan bagi ekosistem blockchain di Indonesia.

    (ki-ka) Dr. Andry Alamsyah, S.Si, M.Sc, Dr. Helni Mutiarsih Jumhur SH, dan Sunu Puguh Hayu Triono ingin melakuikan penelitian terkait blockchain di Indonesia. Foto: Dok. Pribadi.
    (Ki-ka) Dr. Andry Alamsyah, S.Si, M.Sc, Dr. Helni Mutiarsih Jumhur SH, dan Sunu Puguh Hayu Triono ingin melakuikan penelitian terkait blockchain di Indonesia. Foto: Dok. Pribadi.

    Baca juga: Kolaborasi Tokocrypto & UNS Surakarta Bangun Pusat Inovasi dan Literasi Blockchain

    Metode Penelitian

    Seperti dijelaskan di awal, penelitian ini akan merumuskan beberapa rekomendasi kebijakan dalam untuk melindungi publik dan pemangku kepentingan dalam industri berbasis blockchain, dan juga untuk mendorong terciptanya inovasi. Target keluaran Rumusan dalam penelitian ini adalah publikasi pada jurnal ilmiah internasional yang terindeks Scopus.

    Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara dan studi pustaka semisistematis tinjauan. Wawancara dilakukan dengan pakar industri blockchain yang terdiri dari praktisi, akademisi di bidang ekonomi dan bisnis, serta akademisi di bidang publik aturan. Metode analitik bersifat deskriptif atau naratif untuk mensintesiskan temuan-temuan wawancara dan tinjauan literatur.

    Penelitian Didukung Tokocrypto

    Sunu dan dua rekannya berhasil mendapatkan bantuan penelitian dari Tokocrypto melalui ekosistem TokoScholar, salah satu platform yang fokus memberikan edukasi dan meningkatkan literasi terkait kripto dan teknologi blockchain. Para peneliti telah menerima dana hibah sebesar Rp 50 juta untuk menjalankan penelitiannya dari proposal yang terpilih.

    Sunu dan tim akan diberikan waktu tiga bulan untuk menjalankan program penelitiannya. Nantinya, hasil penelitian tersebut akan dipresentasikan kepada tim Tokocrypto untuk ditindak lanjuti untuk memajukan industri blockchain di Indonesia.

    Tokocrypto Researcher Grants
    Ilustrasi Tokocrypto Researcher Grants.

    Baca juga: Giatkan Literasi Aset Kripto, Tokocrypto Gelar TokoInvasion di Surabaya

    Program Lead TokoScholar by Tokocrypto, Dimas Surya Al-Faruq, mengatakan teknologi blockchain telah digunakan di Indonesia sejak generasi awal perkembangannya. Namun, penggunanya masih terfokus pada aplikasi transaksi finansial. 

    “Potensinya bisa untuk membantu sektor lain di Indonesia yang masih tertinggal, seperti pertanian dan kesehatan. Butuh riset yang mendalam untuk mengembangkan blockchain dan aset kripto di Indonesia,” kata Dimas.

    Dimas menambahkan, salah satu tujuan utama TokoScholar adalah membawa riset dan inovasi aset kripto dan blockchain pada level yang bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat atau inklusif. Oleh karena itu, tentunya peran dan kolaborasi sangat diperlukan dengan berbagai pihak untuk peningkatan dan optimalisasi bidang riset di Indonesia.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Peneliti Ini Riset Cari Produk Kripto yang Sesuai di Indonesia

    Berbicara investasi aset kripto, rasanya tidak afdal jika tak membicarakan project atau produk di dalamnya. Terlebih pertumbuhan industri kripto di Indonesia, kini semakin ramai dengan produk-produk kripto lokal yang bermunculan.

    Namun di sisi lain, banyak investor dan masyarakat yang bingung untuk mencari project atau produk kripto mana yang sejalan dengan kebutuhan mereka dan pengaplikasiannya sesuai dengan konteks di Indonesia. Maka dari itu, hal ini membutuhkan penelitian yang lebih lanjut.

    Adalah Nicolaus Euclides Wahyu Nugroho bersama rekannya Sisilia Thya Safitri mencoba melakukan penelitian dengan tajuk “Analisis Produk Kripto yang Sesuai di Indonesia.” Mereka ingin melihat lebih jauh lagi potensi yang bisa dikembangkan dari produk kripto di Indonesia.

    Potensi Produk Kripto di Indonesia

    Kripto kini sudah dipandang menjadi salah satu instrumen investasi yang potensial dan menjanjikan untuk jangka panjang. Kementerian Perdagangan melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat per Juli 2022, jumlah investor aset kripto capai lebih 15,57 juta dengan nilai transaksi perdagangan aset kripto di Indonesia tercatat sebesar Rp 232,4 triliun.

    Prospek project kripto lokal atau dalam negeri saat ini semakin cerah dengan adanya regulasi baru. Bappebti telah menerbitkan Peraturan Bappebti (Perba) Nomor 11 Tahun 2022 tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto. 

    Ilustrasi aset kripto
    Ilustrasi aset kripto dan bendera Indonesia.

    Baca juga: Apple Rilis iPhone 14, Harga Kripto Ikut Semangat Naik

    Dalam aturan tersebut memuat daftar 383 jenis aset kripto yang boleh diperdagangkan di Indonesia. Di antara ratusan jenis itu, terdapat sejumlah project kripto lokal yang masuk. Artinya beberapa project aset kripto lokal sudah diakui kualitas dan prospek ke depannya oleh regulator di Indonesia.

    “Aset kripto semakin dikenal oleh masyarakat, namun banyak juga yang berpikiran negatif. Kita itu selain ingin mengetahui produk yang bagus, jadi karena tujuan penelitian ini memang cari produk yang cocok, kira-kira produk yang sudah dicari oleh orang-orang di Indonesia, apakah itu cocok? Atau ada kemungkinan tidak untuk creation produk baru, juga harus sudah menjawab produk yang dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Nicolaus kepada TokoNews pada Senin (8/8).

    Menurut Nicolaus, dengan adanya penelitian ini bisa memberikan referensi kepada masyarakat untuk melihat investasi kripto secara keseluruhan. Dan membandingkannya dengan instrumen investasi lainnya, seperti  pasar uang, obligasi, dan saham.

    Metode Penelitian

    Nicolaus menjelaskan akan melakukan penelitian akan dimulai dari studi literatur, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan instrumen pengukuran dan dibuatkan kuisioner.

    Penentuan Variable Bebas (VB) dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan studi literatur pada penelitian terkait untuk menentukan pengaruh terhadap variable terikat (VT) yaitu penentuan produk kripto sebagai aset di Indonesia, disingkat Cypto Product (CP). 

    Menurut penelitian yang telah dilakukan, terdapat kelebihan dan kelemahan pada masing–masing jenis kripto. Kelebihan dan kelemahan tersebut yang akan dijadikan Variabel bebas pada penelitian inI, yaitu:

    • Hash Rate (HR).
    • Access Speed (AS).
    • Currency Exchange Process (CE).
    • Block Generation Time (BG).
    Aset kripto lokal yang masuk daftar legal Bappebti.
    Aset kripto lokal yang masuk daftar legal Bappebti.

    Baca juga: Video: Penting Perempuan Mandiri Finansial dan Lebih Dekat Aset Digital

    Dengan rangkaian metode yang digunakan tersebut, diharapkan dapat mengetahui produk kripto apa yang paling diminati di Indonesia dan kemungkinan dalam pembuatan produk kripto baru yang memenuhi keinginan dari masyarakat Indonesia.

    TokoScholar Dukung Penelitian Kripto dan Blockchain

    Proposal penelitian yang dikeluarkan oleh Nicolaus dan Sisilia mendapat dukungan penuh dari Tokocrypto melalui ekosistem TokoScholar, salah satu platform yang fokus memberikan edukasi dan meningkatkan literasi terkait kripto dan teknologi blockchain. 

    Para peneliti telah mendapatkan dana hibah kurang lebih Rp 50 juta untuk menjalankan penelitiannya dari proposal yang mereka buat. Jangka waktu penelitian yang diberikan maksimal tiga bulan. Nantinya, hasil penelitian akan dipublikasi oleh peneliti dan akan ditindak lanjuti oleh Tokocrypto dalam mengembangkan produk serta bisnis ke depan.

    Program Lead of TokoScholar by Tokocrypto, Dimas Surya Al-Faruq, mengatakan mencari produk kripto yang sesuai dengan kebutuhan dan manfaat bagi masyarakat Indonesia merupakan hal yang penting. Oleh karena itu, Tokoscholar memutuskan menfasilitasi penelitian yang dilakukan oleh Nicolaus dan Sisilia.

    Tokocrypto Researcher Grants
    Ilustrasi Tokocrypto Researcher Grants.

    Baca juga: Kolaborasi Tokocrypto dan UKI Dirikan Pusat Inovasi dan Literasi Blockchain

    “Perkembangan investasi aset kripto kini sudah semakin eksponensial. Namun, di sisi lain, kebutuhan masyarakat Indonesia akan produk atau project kripto yang sesuai dengan mereka, belum dipahami sepenuhnya. Sehingga, banyak di antara mereka yang ikuti melakukan investasi atas dasar FOMO, tanpa melakukan riset,” kata Dimas.

    Dimas menambahkan, perlu diingat dalam investasi aset kripto, investor harus melakukan riset terlebih dahulu. Jangan terpengaruh dengan FOMO yang mendukung aset kripto lokal, namun lihat whitepaper, roadmap, hingga profil pengembangnya. Maka dari itu, edukasi dan literasi mengenai kripto dan blockchain sangat dibutuhkan.

    Salah satu tujuan utama TokoScholar adalah membawa riset dan inovasi aset kripto dan blockchain pada level yang bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat atau inklusif. Oleh karena itu, tentunya peran dan kolaborasi sangat diperlukan dengan berbagai pihak untuk peningkatan dan optimalisasi bidang riset di Indonesia. 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Masa Depan Terang Blockchain: Sentimen Positif Terhadap Kripto

    Dunia menemukan kasus penggunaan blockchain baru setiap saat, memperluas manfaat tidak hanya soal aset kripto saja. Kripto hanyalah permulaan, sekarang Blockchain telah muncul dari bayang-bayang untuk memasuki pasar arus utama.

    Baru-baru ini, seorang ilmuwan komputer dan seorang profesor di Universitas Birmingham, Yu Chen, menjelaskan bagaimana teknologi blockchain dapat digunakan selain mata uang virtual. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh The Conversation, Chen menjelaskan beberapa implikasi blockchain di berbagai industri.

    Saat ini, teknologi ini terutama digunakan oleh aset kripto. Tahun lalu, sektor blockchain bernilai hampir US$ 7 Miliar.

    “Sebagai seorang ilmuwan komputer yang mengeksplorasi teknologi baru untuk jaringan komunikasi pintar di masa depan, saya, bersama dengan banyak insinyur dan pengembang, telah menunjukkan bahwa blockchain adalah solusi yang menjanjikan untuk banyak masalah yang menantang dalam kepercayaan dan keamanan jaringan generasi mendatang- berbasis aplikasi.”

    Dia menambahkan, “Saya melihat beberapa cara blockchain membuktikan dirinya berguna yang tidak terikat dengan aset kripto.”

    Manfaat Blockchain

    Ilustrasi teknologi blockchain. Sumber: Leewayhertz.
    Ilustrasi teknologi blockchain. Sumber: Leewayhertz.

    Baca juga: Menggali Potensi Metaverse dalam Transformasi Industri Jasa Keuangan

    Kondisi saat ini, perusahaan kesulitan melacak dan memelihara data rantai pasokan. Metode pelacakan tradisional tidak dapat mengikuti. International Business Machine (IBM), sebuah perusahaan teknologi multinasional, menggunakan blockchain untuk IBM Food Trust untuk melacak produk dari asalnya hingga pengiriman.

    Perawatan kesehatan yang efektif dan mudah diakses adalah salah satu fondasi masyarakat yang sehat. Chen menyarankan blockchain dapat menawarkan solusi yang lebih efisien untuk privasi data dalam perawatan kesehatan. Baru-baru ini, U.S. National Library of Medicine (NLM), perpustakaan medis terbesar di dunia, mengusulkan solusi blockchain untuk memelihara electronic health records (EHR).

    Chen menyoroti sektor perbankan yang dapat memanfaatkan blockchain untuk penyimpanan data. Pasar menyaksikan penurunan yang signifikan setelah kegagalan institusi terkemuka termasuk Silicon Valley Bank, Signature Bank, dan lainnya. Bank sentral di seluruh dunia sedang bereksperimen dengan central bank digital currencies (CBDC) yang dibangun di atas blockchain.

    Chen juga percaya masa depan teknologi informasi (TI) adalah desentralisasi, dan untuk itu blockchain adalah kuncinya.

    Ramah Lingkungan

    Ilustrasi pelestarian lingkungan dengan kripto.
    Ilustrasi pelestarian lingkungan dengan kripto.

    Baca juga: Proyeksi Gerak Pasar Kripto Bulan Juni: Bitcoin dan Kebijakan The Fed

    Ada kekhawatiran tentang dampak lingkungan dari blockchain terhadap lingkungan, terutama karena aset digital seperti kripto karena bahan bakar fosil adalah sumber energi utama bagi perusahaan penambangan kripto. Menurut Badan Lingkungan Eropa (EEA), transaksi Bitcoin 20.000 kali lebih haus energi daripada Visa, yang mengonsumsi 635 kWh. Konsumsi daya sebesar itu dapat menjalankan 21 rumah tangga selama sehari.

    Ethereum, aset kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, mengubah operasi mereka dari mekanisme proof-of-work (PoW) intensif energi menjadi proof-of-stake (PoS) selama The Merge. Transisi ini mengurangi lebih dari 99% emisi rumah kaca dari blockchain-nya. Menurut penelitian Universitas Columbia, mata uang virtual bertanggung jawab atas 0,3% jejak karbon secara global.

    Meskipun utilitas blockchain lainnya mungkin tampak ramah lingkungan, teknologi yang menangani tumpukan data besar membutuhkan ‘alat berat.’ Bahkan jika bahan bakar tradisional digantikan oleh energi terbarukan, pusat data seukuran aslinya masih akan menghasilkan panas yang cukup untuk mengubah planet menjadi raksasa merah.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kolaborasi Tokocrypto x IDNFT Dorong Edukasi Web3 dan Blockchain

    Dalam kemitraan yang inovatif, Tokocrypto, crypto exchange terkemuka di Indonesia, dan IDNFT, sebagai komunitas penggemar NFT, bergabung untuk meluncurkan program Web3 on Campus. Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menjelajahi dan memahami potensi Web3, NFT, kripto, dan blockchain di berbagai bidang studi dan mendukung Tridharma Perguruan Tinggi serta memberikan sosialisasi dan edukasi tentang perkembangan industri tersebut di Indonesia.

    Kampus pertama yang menjadi tujuan acara Web3 on Campus IDNFT x Tokocrypto adalah Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Acara ini telah terselenggara dengan sangat baik pada Senin, 29 Mei 2023 dengan jumlah peserta lebih dari 280 peserta, baik secara daring maupun luring. Peserta tersebut pun terdiri dari berbagai jurusan, mulai dari Manajemen Bisnis, Desain Komunikasi Visual, Teknik Elektro, Teknik Informatika, Desain Interior, Desain Produk, dan berbagai jurusan lainnya.

    CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis menjadi pembicara di Web3 on Campus - ITS Surabaya pada Senin, 29 Mei 2023. Sumber: Tokocrypto.
    CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis menjadi pembicara di Web3 on Campus – ITS Surabaya pada Senin, 29 Mei 2023. Sumber: Tokocrypto.

    Baca juga: Tokocrypto Rilis Proof of Reserves Kuatkan Komitmen Transparansi

    Sebagai pelopor industri blockchain di Indonesia, Tokocrypto berkomitmen untuk mendorong perubahan melalui desentralisasi, serta memperluas akses ke teknologi Web3 dan blockchain. Web3 on Campus di ITS Surabaya menjadi event pertama Tokocrypto bersama Binance Academy dan IDNFT.

    “Web3, blockchain, dan aset kripto terus berkembang. Kami berjuang agar industri ini dapat membawa banyak perubahan dengan desentralisasi yang lebih luas, sambil memperluas akses dan manfaat bagi masyarakat secara umum. Melihat potensinya yang sangat besar, harapan saya teman-teman yang terlibat di Web3 on Campus dapat menjadi bagian dari industri bahkan mengembangkan proyek-proyek lokal yang berkualitas,” Yudhono Rawis, CEO Tokocrypto.

    Fokus Edukasi

    Meskipun Indonesia memiliki lebih dari 17 juta investor aset kripto, Tokocrypto menyadari kebutuhan akan pendidikan dan literasi yang lebih baik. Yudho menekankan kesenjangan pengetahuan yang ada dan menyoroti pentingnya program pendidikan inklusif yang dapat menarik minat masyarakat terhadap aset kripto. 

    “Di Tokocrypto, edukasi dan literasi menjadi inti dari aktivitas harian kami. Kami percaya bahwa dengan menyediakan program pendidikan inklusif, kita dapat menumbuhkan minat dan pemahaman yang lebih besar tentang aset kripto di kalangan masyarakat umum,” tegasnya.

    Budi Santosa, Founder IDNFT, menyampaikan harapannya bahwa program ini akan menciptakan lingkungan pembelajaran di mana mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dapat berinteraksi langsung dengan para ahli di bidang ini. Beliau menekankan, “Keberadaan program Web3 on Campus dapat memberi kesempatan bagi mahasiswa-mahasiswa di Indonesia untuk belajar langsung dari pakar NFT dan Web3. Dengan begitu, program ini dapat memperkenalkan jalur karir baru dan membuka kesempatan bagi para mahasiswa untuk memanfaatkan NFT, blockchain, crypto, metaverse, dan Web3 di kampus.”

    Acara Web3 on Campus - ITS Surabaya pada Senin, 29 Mei 2023. Sumber: IDNFT.
    Acara Web3 on Campus – ITS Surabaya pada Senin, 29 Mei 2023. Sumber: IDNFT.

    Baca juga: Tokocrypto Komitmen Patuhi Regulasi Terkait Perdagangan Kripto

    Target program Web3 on Campus akan diselenggarakan ke lebih dari 10 universitas di Indonesia, selama tahun 2023 ini. “Harapannya program ini juga membuka jalur karir baru dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa,” tutur Budi.

    Ada dua sesi yang diselenggarakan dengan berbagai pembicara yang berpengalaman di bidang Web3, Blockchain, Crypto, dan Metaverse. Sesi pertama dimulai dengan pembahasan Potensi Industri Web3, Blockchain, Crypto, dan Metaverse bersama Yanuar (Smart Contract Developer) dan Juliaja Soethahja (IT Project Manager Tokocrypto). Dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu, mengenaiPotensi NFT sebagai industri kreatif baru yang dibawakan oleh Thomas Hanandry (Illustrator & NFT Creator) dan Akbar “Madwork” (Graphic Designer & NFT Creator).

    Kunci Riset

    Juliana Soetjahja, IT Project Manager Tokocrypto, menekankan peluang yang sangat luas yang ditawarkan oleh Web3 dan blockchain. Mengakui perkembangan industri yang terbatas di Indonesia, Juliana mengungkapkan, “Kita harus berusaha menjadi individu yang unggul tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tingkat global, karena sektor-sektor ini menawarkan potensi yang besar.”

    Juliana juga menyadari risiko yang terkait dengan industri blockchain dan Web3, terutama kurangnya regulasi yang memadai. Namun, beliau mendorong para pembelajar dengan mengatakan, “Meskipun benar bahwa blockchain dan Web3 belum memiliki regulasi yang komprehensif, tidak perlu takut untuk mengejar pengetahuan di bidang ini. Industri ini tetap terbuka dan kuncinya ada pada melakukan riset sendiri (DYOR).”

    Seiring dengan prediksi bahwa Web3 dan blockchain akan menjadi inovasi industri terbesar dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang, kolaborasi antara Tokocrypto dan IDNFT bertujuan untuk melengkapi mahasiswa Indonesia dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk merangkul teknologi yang sedang muncul ini. Program Web3 on Campus tidak hanya akan membentuk tenaga kerja masa depan, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan dan pengembangan ekosistem blockchain di Indonesia.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa itu Altcoin Seasons?, Yuk Kenalan Dengan Istilah Trading Ini

    Kini, dunia aset kripto telah diramaikan oleh banyaknya aset yang menarik dan tentunya potensial, tidak kalah dengan pamor Bitcoin. Banyak investor dan trader yang ikut mencoba peruntungan di berbagai aset kripto tersebut dan membuat dominasinya meluas. Ternyata, tren ini dikenal dengan sebutan altcoin season. Ingin tahu lebih lanjut? Yuk, baca artikel ini sampai selesai!

    Altcoin Season dan Penyebab Terjadinya

    Sebelum membahas mengenai altcoin season, yuk, kenali apa itu altcoin terlebih dahulu. 

    Apa itu Altcoin?

    Altcoin, kependekan dari alternative coin, merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan aset kripto yang diterbitkan dan diperjualbelikan setelah Bitcoin. Seperti namanya, altcoin ini hadir dengan tujuan memberikan alternatif bagi para pegiat aset kripto dalam berinvestasi.

    Apa itu Altcoin Season?

    Jadi, altcoin season atau alt season berarti suatu musim di mana beberapa altcoin teratas memiliki kinerja dan potensi yang sangat baik, bahkan harganya melampaui harga Bitcoin dan US Dollar. Periode alt season ini biasanya dihitung selama 90 hari. 

    Kapan Alt Season Terjadi?

    Alt season pertama kali terjadi pada tahun 2017, di mana Bitcoin sedang dalam perjalanan menuju kejayaannya dan mulai banyak altcoin yang diluncurkan di blockchain Ethereum dengan memanfaatkan smart contract. 

    Hal ini menarik perhatian banyak investor sehingga bermigrasi dan mencari peruntungan di altcoin. Dikutip dari Mail & Guardian, tidak menutup kemungkinan bahwa alt season akan terjadi di penghujung tahun 2021, dengan kenaikan ETH yang signifikan saat ini sebagai katalisnya.

    Apa indikator Alt Season sedang terjadi?

    Jika 75% dari 50 aset kripto teratas pada market cap memiliki kinerja lebih baik dari Bitcoin dalam 90 hari terakhir, maka dapat dikatakan bahwa sedang terjadi alt season. Namun, terdapat beberapa aset kripto yang tidak termasuk dalam 50 aset kripto teratas yaitu Stablecoin, misalnya Tether dan DAI, juga Asset Backed Tokens seperti wBTC, stETH, hingga cLINK.

    Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai apakah saat ini sedang terjadi alt season atau tidak, Anda bisa melihat Altcoin Season Index di situs Blockchain Center.

    Apa Penyebab Altcoin Season?

    Peristiwa ini tidak semerta-merta terjadi begitu saja lho, walaupun memang tidak memiliki penyebab yang pasti. Namun, ada tiga hal yang mendorong terjadinya alt season, nih

    Pertama, maraknya migrasi investor ke altcoin yang disebabkan oleh bull-run pada pasar Bitcoin. Di mana para investor yang mengantongi keuntungan dari Bitcoin akan membelanjakan keuntungan tersebut di pasar altcoin. 

    Kedua, mulai ramai pembaharuan teknologi yang dilakukan oleh proyek kripto termasuk altcoin, salah satu contohnya adalah penggunaan mekanisme Proof of Stake (PoS). 

    Ketiga, pengaruh dari para influencer aset kripto. Sebagai contoh, tweet Elon Musk pada awal 2021 mengenai Dogecoin berhasil membuat harganya meroket.

    tweet dogecoin elon musk 1

    Salah satu cuitan Elon Musk pada April 2021 yang berhasil mendongkrak harga Dogecoin sehari setelahnya

    Selayaknya siklus musim yang berganti dari musim panas menjadi musim dingin, peristiwa ini juga terjadi di dunia kripto, lho. Di mana selain terdapat altcoin season, juga terdapat musim lainnya yang disebut dengan crypto winter. Namun, apa saja perbedaan di antara keduanya? 

    Perbedaan antara Altcoin Season dan Crypto Winter

    1. Berdasarkan pengertian atau definisi

    Sebenarnya, secara terminologi keduanya memiliki arti yang berbeda. Alt season mendefinisikan sejumlah altcoin yang kinerja dan harganya lebih unggul dari pasar Bitcoin. Sementara itu, crypto winter mengacu pada pasar kripto yang mulai dingin dan hilang peminat, bahkan pergerakan harga pun tidak menolong. 

    2. Berdasarkan kondisi pasar

    Berkat definisi tersebut, lahirlah perbedaan selanjutnya, yaitu kondisi pasar. Jika alt season menunjukkan pasar aset kripto yang menghijau terutama yang terjadi pada altcoin, maka crypto winter menunjukkan pasar aset kripto yang lesu khususnya Bitcoin, ditandai dengan penurunan harga sebesar 80 sampai 90 persen dari all-time high.

    3. Berdasarkan periode berlangsungnya

    Perbedaan lainnya adalah periode berlangsungnya. Seperti yang sudah disinggung di atas, alt season umumnya berlangsung selama 90 hari saja. Sementara itu, crypto winter bisa terjadi dan bertahan selama 2 hingga 3 tahun lamanya. Saat pasar sudah kembali diminati dan perdagangan meningkat, maka sebutannya berubah menjadi crypto spring.

    4. Berdasarkan waktu terjadinya

    Selain itu, perbedaan selanjutnya adalah waktu terjadinya. Jika alt season terakhir kali terjadi pada 2017 hingga awal 2018, maka crypto winter terjadi sepanjang tahun 2018 dan yang paling baru adalah 2021. Sebagaimana yang telah disebutkan, crypto winter lekat dengan kondisi pasar Bitcoin, sehingga ditandai dengan anjloknya harga Bitcoin dalam waktu yang lama.

    Sebenarnya, alt season masih berhubungan dengan crypto winter, terutama yang melibatkan Bitcoin atau Bitcoin winter. Dikarenakan saat alt season terjadi, otomatis harga Bitcoin akan melemah dan berpotensi menyebabkan Bitcoin winter. Akan tetapi, hal ini tentunya tidak selalu terjadi saat harga Bitcoin melemah, ya, karena bisa saja hanya menandakan bearish market. Bitcoin winter hanya terjadi saat harganya jatuh dalam waktu lama dan terlihat sulit untuk bangkit lagi.

    5 Altcoin Terpopuler Sepanjang Tahun 2021

    Setelah membahas altcoin season dan perbedaannya dengan crypto winter, berikut ini sudah kami rangkum 5 altcoin terpopuler sepanjang tahun 2021 yang bisa Anda jadikan referensi:

    1. Ethereum (ETH)

    Sebagaimana yang telah kita semua tahu, bahwa Ethereum (ETH) menjadi salah satu altcoin yang populer di tahun 2021. Bagaimana tidak, sepanjang tahun 2021, ETH terus melakukan pengembangan yang membuat harganya juga ikut meningkat dan bertahan di peringkat 2 market cap. ETH mencatat all-time high terbarunya pada 9 November 2021 lalu di angka 4,837.59 USD. 

    2. Cardano (ADA)

    Selain ETH, altcoin yang tak kalah melejit adalah Cardano (ADA). Sejak awal kemunculannya di 2017, mekanisme Proof of Stake (PoS) ADA berhasil menarik banyak investor untuk membelinya. Meskipun sempat mengalami pasang surut, ADA berhasil meraih all-time high di angka 3.10 USD pada September lalu dan kini menduduki peringkat 4 sebagai aset kripto terbesar yang ada di market cap.

    3. Solana (SOL)

    Menyusul ADA, di peringkat 6 market cap terdapat altcoin Solana (SOL) yang juga populer sepanjang tahun 2021. SOL memang telah mengalami kenaikan harga di awal tahun, tetapi di pertengahan tahun harganya signifikan meningkat. Hal ini disebabkan adanya inovasi yang dilakukan para developer SOL, membuat SOL banyak diminati. Pada 6 November 2021, SOL mencetak rekor harga tertingginya sebesar 260.06 USD.

    4. Polkadot (DOT)

    Altcoin yang satu ini cenderung lesu di awal 2021. Namun, kini Polkadot (DOT) berhasil menduduki peringkat 8 di market cap. Salah satu penyebabnya adalah peluncuran parachain pada blockchain Polkadot, yang memungkinkan blockchain untuk meng-handle satu juta transaksi per detik dan menjadi lebih terukur dalam koneksi antar blockchain. DOT meraih all-time high sebesar 55 USD pada 4 November 2021 lalu.

    5. Dogecoin (DOGE)

    Dogecoin (DOGE) juga berhasil menjadi altcoin yang paling populer dan menarik perhatian. Altcoin yang juga dianggap sebagai memecoin ini bertengger di peringkat 9 pada market cap. Puncak popularitas DOGE terjadi pada Mei 2021, dengan mencetak all-time high senilai 0.7376 USD. Hal ini dapat terjadi salah satunya berkat cuitan Elon Musk mengenai koin yang berlogo hewan anjing ini. Meski sempat koreksi, DOGE masih menjadi altcoin pilihan di 2021.

    Baca Juga: Harga Dogecoin Melejit, Elon Musk Pemicu Naiknya Dogecoin?

    Sambil menunggu altcoin season yang diprediksi akan terjadi di akhir tahun 2021, Anda bisa mencoba membeli sederet altcoin terpopuler tersebut di Tokocrypto, lho. Yuk, langsung daftarkan diri dan selesaikan KYC Anda di www.tokocrypto.com sekarang!  Masih bingung dengan investasi/trading kripto? Gabung juga dengan Group Telegram Tokocrypto!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Metaverse? Masa Depan Dunia Virtual

    Metaverse menjadi topik hangat yang menarik untuk dibahas secara mendalam. Kamu mungkin baru-baru ini mendengar bagaimana metaverse akan mengantarkan era baru konektivitas digital ke dalam dunia virtual yang bisa diadaptasi di hampir semua sektor.

    Sudah lebih dari enam bulan sejak Facebook mengumumkan rebranding ke Meta dan akan memfokuskan masa depannya pada “metaverse” yang akan datang. Sejak saat itu, arti istilah metaverse itu belum menjadi lebih jelas.

    Di sisi lain, ada banyak hype marketing yang terbungkus dalam menjual gagasan “metaverse.” Untuk membantu kamu memahami betapa kabur dan kompleksnya istilah “metaverse”, berikut penjelasan yang komprehensifnya.

    Serius, Apa Itu Metaverse?

    Berbicara tentang metaverse terasa sangat mirip dengan membahas tentang internet di tahun 70-an dan 80-an. Saat blok bangunan dari bentuk komunikasi baru sedang diletakkan, hal itu memicu spekulasi tentang seperti apa bentuknya dan bagaimana orang akan menggunakannya.

    Semua orang membicarakannya tetapi hanya sedikit yang tahu apa artinya atau bagaimana cara kerjanya. Melihat ke belakang, ternyata tidak persis seperti yang dibayangkan beberapa orang.

    Istilah metaverse telah beredar selama beberapa tahun terakhir, kata “metaverse” sebenarnya diciptakan oleh penulis Neal Stephenson dalam novel fiksi ilmiahnya tahun 1992, “Snow Crash.” Dalam bukunya, Stephenson menyebut metaverse sebagai dunia digital yang mencakup semua yang ada paralel dengan dunia nyata.

    Namun pada tahun 2022, para ahli masih belum yakin apakah metaverse di dunia nyata dapat berevolusi menjadi sesuatu yang serupa.

    Avatar CEO Meta, Mark Zuckerberg di Metaverse.
    Avatar CEO Meta, Mark Zuckerberg di Metaverse.

    Baca juga: Nilai Pasar Metaverse Diramalkan Menjadi US$ 5 Triliun pada Tahun 2030

    Metaverse Hanya Dunia Game Saja?

    Banyak ahli melihat metaverse sebagai model 3D dari internet. Pada dasarnya, tempat yang sejajar dengan dunia fisik, di mana kamu menghabiskan kehidupan digital secara virtual. Tempat di mana kamu dan orang lain memiliki avatar, dan berinteraksi dengan mereka melalui avatar juga. Beberapa berpendapat bahwa metaverse dalam arti sebenarnya dari istilah tersebut sebenarnya belum ada.

    Pada dasarnya, metaverse seharusnya menjadi versi 3D dari internet yang dilihat sebagai tahap pengembangan selanjutnya yang logis, dan idealnya akan diakses melalui satu gateway. Namun, itu tidak mengharuskan ruang tersebut diakses secara eksklusif melalui VR atau AR. Dunia virtual —seperti aspek Fortnite yang dapat diakses melalui PC, konsol game, dan bahkan ponsel— sudah mulai menyebut diri mereka sebagai “metaverse.”

    Mengapa Metaverse Melibatkan Avatar?

    Metaverse adalah dunia realitas virtual yang digambarkan sebagai pasar yang mengelilingi planet di mana real estat virtual dapat dibeli dan dijual, dan di mana pengguna yang memakai kacamata VR menghuni avatar 3D yang bentuknya bebas untuk mereka pilih.

    Ketiga elemen ini —VR, kepemilikan digital, dan avatar— masih menonjol dalam konsep metaverse saat ini. Tetapi tidak satu pun dari mereka yang benar-benar penting untuk gagasan itu. Dalam istilah yang paling luas, metaverse dipahami sebagai ruang virtual yang kaya grafis, di mana orang dapat bekerja, bermain, berbelanja, bersosialisasi.

    Pendukung metaverse sering berfokus pada konsep “kehadiran” sebagai faktor penentu: Merasa seperti kamu benar-benar ada di sana, dan merasa seperti orang lain juga benar-benar ada di sana bersama kamu. Versi metaverse ini bisa dibilang sudah ada dalam bentuk video game. Tapi ada definisi lain dari metaverse yang melampaui dunia virtual yang kita kenal.

    gambaran bermain di metaverse
    Ilustrasi Metaverse.

    Baca juga: Token Kripto Metaverse Terus Tumbuh, meski Market Bearish

    Definisi tersebut sebenarnya tidak menggambarkan metaverse sama sekali, tetapi menjelaskan mengapa semua orang menganggapnya sangat penting. Definisi ini bukan tentang visi untuk masa depan atau teknologi baru. Sebaliknya, ini melihat ke masa lalu dan ke teknologi internet dan smartphone yang sekarang biasa, dan mengasumsikan bahwa perlu untuk menemukan metaverse untuk menggantikannya.

    Hambatan Wujudkan Metaverse Jadi Realitas Virtual

    Tetapi ada tantangan yang harus diatasi sebelum metaverse dapat mencapai adopsi global yang luas. Dan satu tantangan utama adalah bagian “virtual” dari alam semesta ini.

    Sementara, VR dianggap sebagai bahan utama resep metaverse, masuk ke metaverse tidak (dan tidak boleh) dibatasi dengan memiliki headset VR. Dalam arti tertentu, siapa pun yang memiliki komputer atau smartphone dapat memanfaatkan pengalaman metaverse secara nyata.

    Menawarkan aksesibilitas yang luas adalah kunci untuk membuat metaverse bekerja berdasarkan perjuangan berat VR yang berkelanjutan untuk mendapatkan daya tarik dengan konsumen.

    Pasar VR telah melihat inovasi luar biasa dalam waktu singkat. Beberapa tahun yang lalu, orang yang tertarik dengan VR rumahan harus memilih antara sistem berbasis komputer yang mahal yang menambatkan pengguna atau headset berbasis ponsel cerdas yang murah namun sangat terbatas.

    Lima Aset Kripto Metaverse Paling Top
    Ilustrasi memakai VR untuk akses metaverse.

    Baca juga: Kenalan dengan Decentraland, Salah Satu Proyek Metaverse

    Riset dari PwC, teknologi VR dan AR untuk metaverse meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) global US$ 1,4 triliun pada 2030. Selain kontribusi ke PDB global, VR dan AR memberikan dampak ke pekerjaan.

    Pengembangan kedua teknologi ini dinilai mampu mendorong terciptanya 23,3 juta pekerjaan baru pada 2030. Teknologi metaverse juga mampu menyusup ke semua lini ekonomi. Sebanyak 25% masyarakat dunia diperkirakan menghabiskan waktunya satu jam per hari di metaverse pada 2026.

    Metaverse, Kripto, NFT dan Blockchain

    Metaverse adalah kombinasi dari beberapa elemen teknologi, termasuk blockchain, kripto, NFT, web3, virtual reality (VR) dan augmented reality (AR), di mana pengguna dapat merasakan hidup dalam dunia digital.

    Crypto is the key to the metaverse. Faktanya, metaverse membutuhkan aset kripto untuk beroperasi dengan baik dan maksimal. Konsep metaverse cenderung masih berfokus pada dunia games, NFT dan ada beberapa token kripto yang khusus diaplikasikan pada platform metaverse.

    Co-Founder & Chariman VCGamers, Wafa Taftazani, menjelaskan metaverse merupakan konsep kolaboratif yang menggabungkan interaksi manusia dengan avatar serta berbagai produk dan layanan antara dunia nyata dengan dunia digital tanpa batas, di mana semua bisa berlangsung secara simultan dan paralel di dalam jaringan blokchain.

    “Metaverse pada dasarnya adalah menggabung NFT, crypto asset, blockchain, smart contract di dalam satu lingkungan virtual. Metaverse itu kolektif seperti menjadi seperti dunia nyata, tapi terjadi di dalam blockchain. Jadi orang bertransaksi dengan crypto asset, tanah dan bangunan virtual jadi NFT, semua transaksi tercatat di blockchain,” ujar Wafa dikutip CNBC Indonesia.

    Ilustrasi Ketika lembaga pemerintahan Indonesia melirik pengembangan metaverse. Foto: Pusat Penerangan Kemendagri.
    Ilustrasi Ketika lembaga pemerintahan Indonesia melirik pengembangan metaverse. Foto: Pusat Penerangan Kemendagri.

    Baca juga: Tanah Cluster Metaverse Pertama di Indonesia Laku Terjual Rp 150 Juta

    Metaverse memiliki potensi yang besar untuk masyarakat bisa berinteraksi, bekerja, belajar dan berkarya. Tentu saja butuh waktu untuk mengembangkan dunia virtual yang optimal dan bisa digunakan oleh semua orang.

    Potensi dan Tantangan Besar Metaverse di Indonesia

    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, menyebutkan potensi metaverse di Indonesia sangat besar. Menurut Sandiaga, metaverse harus dioptimalkan untuk kepentingan pemulihan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

    Metaverse bisa mendorong ekonomi digital di mana Indonesia memiliki potensi yang luar biasa dengan 600.000 talenta digital per tahun. Dan ada potensi 30 juta UMKM serta kontribusi ekonomi yang diprediksi bisa mencapai 150 miliar dolar AS pada 2025.

    “Indonesia memiliki potensi luar biasa dan ini jadi peluang usaha kita untuk bisa meningkatkan aktivitas pembiayaan dan usaha sehingga bisa membuka lapangan kerja baru dan salah satunya di space metaverse ini,” kata Sandiaga dikutip dari siaran pers Kemenparekraf.

    Senada dengan Sandiaga, Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo), Teguh Kurniawan Harmanda, mengatakan metaverse adalah sebuah keniscayaan. Menurutnya cepat atau lambat perkembangan metaverse akan begitu masif seiring dengan adopsi aset kripto dan blockchian yang bisa menjadi bagian dunia virtual yang dibangun nantinya.

    “Adopsi kripto dan blockchain akan mempercepat pengembangan metaverse yang memiliki potensi besar di Indonesia. Bayangkan akan banyak inovasi yang muncul saat ini akan lari ke arah metaverse di masa depan. Apa yang kita rasakan di dunia nyata, semua akan bisa terjadi juga di metaverse,” kata pria yang akrab disapa Manda.

    Ilustrasi token kripto dan dunia Metaverse.
    Ilustrasi dunia metaverse.

    Baca juga: Ketika Lembaga Pemerintahan Indonesia Melirik Pengembangan Metaverse

    Peluang Ekonomi Digital dari Metaverse

    Riset dari The Analysis Group, metaverse pada 2031 akan memiliki kontribusi terhadap perekonomian global mencapai US$ 3,01 triliun. Kajian yang bertajuk “The Potential Global Economic Impact of Metaverse” ini menyebut angka itu setara dengan 2,8 persen dari pertumbuhan ekonomi dunia.

    Peluang ekonomi metaverse pun, menurut McKinsey, tak bisa dianggap remeh. Sektor teknologi ini ditaksir akan mencapai nilai US$5 triliun atau lebih dari Rp74.152 triliun pada 2030.

    Dari jumlah tersebut, sektor e-commerce akan menjadi ceruk terbesar, dengan nilai mencapai sekitar US$ 2 triliun, diikuti pembelajaran virtual mencapai US$ 180 miliar sampai US$ 270 miliar, iklan virtual US$ 144 miliar sampai US$ 206 miliar, dan gim US$ 108 miliar sampai US$ 125 miliar.

    Menurut Manda, metaverse nantinya bukan hanya akan menjadi tren baru dalam dunia virtual untuk media sosial dan lainnya, tapi juga memunculkan solusi-solusi baru atas berbagai masalah yang dihadapi Indonesia saat ini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Rupiah Digital? – Tokocrypto News

    Central Bank Digital Currency (CBDC) atau mata uang digital telah mencuri perhatian banyak bank sentral di berbagai negara, termasuk Indonesia. Keberadaan aset kripto juga melatarbelakngi bank sentral dalam menjajaki desain dan penerbitan CBDC.

    Mayoritas bank sentral dunia telah mulai melakukan tahapan riset dan percobaan terkait desain CBDC sesuai dengan karakteristik negaranya masing-masing. Berbagai bank sentral berhati-hati dan terus mempelajari kemungkinan dampak dari CBDC tersebut, termasuk Indonesia.

    Bank Indonesia terus mendalami CBDC dan akhir tahun ini berada pada tahap untuk mengeluarkan white paper pengembangan Rupiah Digital. Lantas, apa itu Rupiah Digital?

    Apa Itu CBDC?

    Sebelum melangkah lebih jauh membahas Rupiah Digital, sebaiknya kita tahu dulu apa itu CBDC? CBDC mewakili versi digital dari mata uang fiat suatu negara yang dikeluarkan oleh bank sentral masing-masing, baik itu menggunakan teknologi blockchain ataupun non-blockchain.

    Secara tradisional, mata uang sebagian besar negara datang dalam bentuk uang kertas dan koin yang berfungsi sebagai alat pembayaran yang diterima secara umum di wilayah ekonomi. Namun, melalui kemajuan teknologi, penggunaan uang telah bergeser ke ranah digital.

    Di permukaan, CBDC terlihat sangat mirip dengan uang digital saat ini, seperti yang ada di walllet GoPay, OVO, ShopeePay, Dana dan lainnya. Namun, mekanisme yang mendasarinya bekerja sangat berbeda.

    Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).
    Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).

    Baca juga: Pemuda Indonesia Bobol Wallet Coinbase Raup Rp 16 M Ditangkap FBI

    Berbeda dengan uang digital hari ini, CBDC mewakili kewajiban langsung bank sentral dan bukan bank komersial. Dengan demikian, mereka didasarkan pada kerangka kerja teknologi yang berbeda.

    Meskipun tidak ada kerangka kerja umum untuk CBDC, sebagian besar penelitian dan eksperimen bank sentral berkisar pada teknologi yang diperkenalkan oleh Bitcoin pada tahun 2009.

    Saat ini ada lebih dari 80 negara di seluruh dunia sedang meneliti atau mengembangkan CBDC, dan mereka berada di berbagai tahap proses. CBDC dapat menghasilkan transaksi yang jauh lebih cepat, lebih murah, dan lebih aman, yang menguntungkan semua orang yang terlibat.

    “Dengan mengizinkan setiap individu untuk melakukan transaksi melalui CBDC akan sangat efisien dan hemat biaya dalam memediasi pembayaran antar bank dan transaksi pinjaman, mengurangi kebutuhan akan uang tunai, rekening bank tradisional, dan bahkan layanan pembayaran digital,” kata Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ASPAKRINDO), Teguh Kurniawan Harmanda.

    Apa Itu Rupiah Digital?

    Bank Indonesia (BI) mengatakan terdapat perbedaan CBDC alias Rupiah Digital dengan uang elektronik atau e-money. Secara sederhana, uang elektronik didefinisikan sebagai alat pembayaran dalam bentuk elektronik di mana nilai uangnya disimpan dalam media elektronik tertentu.

    Pengguna uang elektronik harus menyetorkan uangnya terlebih dahulu kepada penerbit dan disimpan dalam media elektronik sebelum menggunakannya untuk keperluan bertransaksi.

    Sementara, CBDC adalah uang digital yang diterbitkan dan peredarannya dikontrol oleh bank sentral, dan digunakan sebagai alat pembayaran yang sah untuk menggantikan uang kartal. CBDC akan bertindak sebagai representasi digital dari mata uang suatu negara.

    Bank Indonesia: Kripto Tingkatkan Inklusi Keuangan
    Bank Indonesia: Kripto Tingkatkan Inklusi Keuangan.

    Baca juga: Bank Indonesia: Aset Kripto Ciptakan Inklusi Keuangan

    Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ryan Rizaldy, mengatakan perbedaan yang paling sederhana adalah Rupiah Digital diterbitkan Bank Indonesia selaku otoritas moneter, sementara uang elektronik bisa diterbitkan oleh pihak swasta atau lembaga non perbankan.

    “Gampangnya kalau CBDC yang diterbitkan bank sentral. Kalau kartu debit itu uangnya bank umum. Kalau e-money, gopay, ovo ini kan diterbitkan lembaga non bank,” kata Ryan dalam Taklimat Media di Bali, Selasa (12/7).

    Apa Keuntungan Rupiah Digital?

    Ryan menjelaskan CBDC yang diterbitkan BI berisiko rendah. Oleh sebab itu, Rupiah Digital akan semakin dipercaya oleh masyarakat.

    Di sisi lain, Rupiah Digital tidak akan menghilangkan keberadaan uang tunai dan uang elektronik. Rupiah Digital hanya akan menambah opsi transaksi selain dengan uang tunai dan uang elektronik. Harapannya, masyarakat bisa bertransaksi dalam berbagai situasi.

    Ada eksplorasi penerbitan CBDC atau Rupiah Digital yang dilakukan berdasarkan enam tujuan yaitu:

    1. Menyediakan alat pembayaran digital yang risk-free menggunakan central bank money.
    2. Memitigasi risiko non-sovereign digital currency.
    3. Memperluas efisiensi dan ketahapan sistem pembayaran, termasuk cross border.
    4. Memperluas dan mempercepat inklusi keuangan.
    5. Menyediakan instrumen kebijakan moneter baru.
    6. Memfasilitasi distribusi fiscal subsidy.

    Penerbitan CBDC juga membutuhkan tiga pre-requisite yang perlu dipastikan untuk dimiliki suatu negara:

    1. Desain CBDC yang tidak mengganggu stabilitas moneter dan sistem keuangan. 2. Desain CBDC yang 3i (Integrated, interconnected, and Interoperable) dengan infrastruktur FMI-Sistem Pembayaran.
    2. Pentingnya teknologi yang digunakan pada tahap eksperimen untuk memahami bagaimana CBDC dapat diimplementasikan (DLT-Blockchain dan non-DLT).

    Tantangan Penerbitan Rupiah Digital

    Teguh mengharapkan CBDC bisa meningkatkan sistem moneter tradisional melalui transmisi kebijakan fiskal yang lebih mudah, sambil membantu market kripto dengan menjembatani kesenjangan antara layanan keuangan tradisional dan keuangan terdesentralisasi (DeFi). Selama ada interoperabilitas antara CBDC dan infrastruktur kripto yang ada, akan ada jalan tengah di mana keduanya dapat hidup berdampingan.

    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda. Foto: Tokocrypto.

    Baca juga: CBDC dan Aset Kripto Bisa Tingkatkan Inklusi Keuangan di Indonesia

    “Seperti yang dikaji oleh beberapa bank sentral, termasuk Reserve Bank of Australia, sedang menjajaki pengembangan bentuk CBDC pada platform berbasis Ethereum. Artinya, CBDC bisa menggunakan blockchain sebagai infrastruktur tenologinya, sama seperti kripto,” jelasnya.

    Maka dari itu, ASPAKRINDO sebagai pemain yang sudah familiar dengan teknologi blockchain, siap melakukan diskusi dengan stakeholder untuk tahap eksperimen memahami bagaimana CBDC dapat diimplementasikan, baik menggunakan teknologi DLT-Blockchain maupun non-DLT.

    “Dengan terbitnya CBDC, masyarakat bisa mengenal lebih tentang aset kripto dan blockchain. Mereka bisa mengetahui soal regulasi dan tujuan dari penggunaan aset kripto di Indonesia yang hanya sebatas komoditi bukan alat pembayaran. Kripto dapat diperdagangkan sebagai instrumen investasi,” terangnya.

    Risiko yang Perlu Diantisipasi Penerbitan Rupiah Digital?

    Pertama, bisa dari penerapan teknologi yang digunakan, baik nantinya BI akan menggunakan teknologi blockchain (desentralisasi) atau konvesional (sentralisasi). Pemilihan teknologi ini akan berkaitan dengan sistem keamanan dan privasi, serta kecepatan transaksi.

    “Selanjutnya, CBDC memerlukan kerangka peraturan yang kompleks termasuk perlindungan konsumen dan standar anti pencucian uang yang perlu dibuat lebih kuat sebelum mengadopsi teknologi ini. Misalnya aturan mengenai hak privasi konsumen, memberikan transparansi yang diperlukan untuk mencegah aktivitas kriminal, serta membangun model transaksi yang tepat, seperti verifikasi identitas,” ungkap Teguh.

    Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).
    Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).

    Baca juga: PBB Imbau Negara Berkembang Rancang Regulasi Kripto

    CBDC sebagai alat pembayaran yang bisa diakses secara luas, harus bisa dengan mudah dipindahtangankan antara pelanggan/konsumen dari perantara berbeda. Sistem pembayaran yang lebih efisien ini memungkinkan uang bergerak bebas di seluruh sektor perekonomian.

    Kemudian, satu hal yang menarik belajar dari CBDC yang di terbitkan oleh Baham yaitu Sand Dollar. CBDC mereka punya sistem fungsi offline, jika komunikasi antar pulau terputus. Ada perlindungan yang memungkinkan pengguna melakukan pembayaran dengan nilai dolar yang telah ditentukan sebelumnya, saat akses komunikasi ke jaringan Sand Dollar terganggu. Dompet akan diperbarui terhadap jaringan setelah komunikasi terjalin kembali.

    “Bahama juga melakukan pembatasan CBDC hanya untuk penggunaan domestik. Sand Dollar hanya untuk penggunaan domestik dan dilarang diterima oleh penerima pembayaran non-domestik. Peredaran Sand Dollar juga dibatasi, hal ini untuk menjaga stabilitas keuangan,” pungkasnya.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Trust Wallet Vs MetaMask, Mana Lebih Baik?

    Trust Wallet dan MetaMask adalah wallet atau dompet digital tempat Anda dapat menyimpan, mengirim, menerima, menukar, dan membeli aset kripto. Kedua merupakan dua wallet kripto yang paling populer dan sering digunakan oleh banyak penggiat kripto. Pertanyaannya, mana yang lebih baik?

    Baik, Trust Wallet dan MetaMask adalah platform sederhana dan ramah bagi pemula di dunia kripto. Keduanya dapat digunakan oleh investor atau traders untuk masuk ke market dengan mudah dan percaya diri.

    Kedua dompet ini masing-masing juga memiliki aplikasi mobile, namun ada beberapa perbedaan antara keduanya. Yuk kita bahasa secara detail mengutip artikel dari Coindesk di bawah ini.

    Apa Itu Trust Wallet?

    Trust Wallet telah menjadi dompet terdesentralisasi resmi dari exchange kripto, Binance sejak diakuisisi pada November 2017. Trust Wallet secara luas dianggap sebagai dompet yang ramah pengguna, aman, dan mudah digunakan. Ini mendukung lebih dari 4,5 juta jenis aset kripto di lebih dari 65 jaringan blockchain.

    Ilustrasi dompet kripto, Trust Wallet. Foto: Trust Wallet.
    Ilustrasi dompet kripto, Trust Wallet. Foto: Trust Wallet.

    Baca juga: Cara Menghasilkan Uang dengan Bermain Game Gods Unchained

    Trust Wallet menyediakan lebih banyak fitur daripada sekadar menyimpan aset kripto pengguna. Anda dapat dengan mudah mengakses lebih dari 60 jaringan blockchain, seperti Ethereum dan Polygon dan menggunakan aplikasi terdesentralisasi (dapps) yang populer.

    Platform dapps-nya bertindak sebagai jembatan sehingga pengguna bisa mendapatkan akses ke Decentralized Exchange (DEX) populer seperti PancakeSwap dan SushiSwap. Pengguna juga dapat membeli, menukar, dan staking kripto di dalam Trust Wallet.

    Soal keamanan, Trust Wallet merupakan hot wallet, artinya terhubung langsung dengan internet. Trust Wallet, bagaimanapun, adalah dompet non-kustodian yang artinya hanya memungkinkan pemiliknya saja yang memiliki dan mengontrol kunci privat dan aset Anda di blockchain. Bagi pengguna yang menginginkan kontrol penuh terhadap dananya, dompet non-kustodian adalah pilihan terbaik.

    Apa Itu MetaMask?

    MetaMask memiliki konsep dan fungsi yang sama seperti Trust Wallet. MetaMask kompatibel dengan sistem operasi mobile, iOS dan Android, tetapi tidak seperti Trust Wallet, MetaMask juga dapat digunakan di perangkat komputer/laptop.

    Ilustrasi dompet kripto, MetaMask. Foto: Getty Images.
    Ilustrasi dompet kripto, MetaMask. Foto: Getty Images.

    Baca juga: Jelang The Merge, Tokocrypto Bebaskan Biaya Trading Beli Ethereum

    MetaMask memungkinkan pengguna berinteraksi dengan berbagai blockchain, seperti Binance Smart Chain dan jaringan Ethereum melalui browser desktop mereka. Sederhananya, ini adalah ekstensi browser web yang dapat terhubung ke dapps seperti platform decentralized finance (DeFi) yang berbeda dan pasar non-fungible token (NFT).

    Secara standar, MetaMask dirancang untuk mengakses jaringan Ethereum dan terhubung ke platform, seperti Uniswap dan Compound. Ini mendukung standar token ERC-20, sehingga pengguna dapat menyimpan hampir semua token di jaringan Ethereum.

    Salah satu fitur penting dari MetaMask adalah user interface (UI) atau antarmukanya yang sederhana untuk menukar aset kripto. Dari ekstensi atau aplikasi browser web, pengguna dapat mengeklik tombol “Swap” yang memungkinkan untuk menukar berbagai aset kripto dengan cepat dan mudah.

    Untuk keamanan, MetaMask sama kuatnya dengan Trust Wallet karena non-kustodian dan hot wallet. Pengguna akan memerlukan dompet non-kustodian saat berinteraksi dengan bursa terdesentralisasi (DEX) atau aplikasi terdesentralisasi (DApp).

    Trust Wallet atau MetaMask, Pilih yang Mana?

    Pertimbangkan kebutuhan masing-masing pengguna akan mempengaruhi keputusan dalam memilih antara Trust Wallet atau MetaMask. Secara umum, Trust Wallet dan MetaMask berbeda dalam manfaat, fitur, dan pengoperasian.

    Pengguna perlu membandingkan dan membedakan kedua dompet tersebut. Daftar ini akan membantu menganalisis dan memutuskan dompet mana yang cocok untuk Anda.

    Trust Wallet

    Ilustrasi dompet kripto, Trust Wallet. Foto: Trust Wallet.
    Ilustrasi dompet kripto, Trust Wallet. Foto: Trust Wallet.

    Dompet ini cocok untuk Anda, jika membutuhkan fungsi berikut:

    • Anda membutuhkan fleksibilitas untuk dapat menyimpan lebih dari 4,5 juta jenis aset kripto dan memiliki akses ke lebih dari 60 blockchain.
    • Anda menginginkan opsi untuk membeli aset kripto dengan kartu kredit.
    • Anda ingin mengakses berbagai macam aplikasi terdesentralisasi (dapps) secara langsung melalui aplikasi itu sendiri.

    Keterbatasan untuk Dipertimbangkan

    • Tidak ada ekstensi desktop atau browser yang tersedia.

    Baca juga: Menimbang Penghentian Izin Baru Exchange Kripto di Indonesia

    MetaMask

    Ilustrasi dompet kripto, MetaMask. Foto: Getty Images.
    Ilustrasi dompet kripto, MetaMask. Foto: Getty Images.

    Dompet ini cocok untuk Anda, jika membutuhkan fungsi berikut:

    • Anda terutama tertarik pada dapps berbasis Ethereum dan bertransaksi dengan jaringan Ethereum.
    • Anda memerlukannya agar kompatibel dengan sebagian besar browser dan perangkat mobile berbasis iOS dan Android.
    • Koneksi mudah ke platform, cepat, dan sederhana untuk mengirim ETH ke alamat mana pun dalam aplikasi dalam beberapa detik.

    Keterbatasan untuk dipertimbangkan

    • Ekstensi MetaMask berfungsi di sebagian besar, tetapi tidak semua, browser web. Ini kompatibel dengan Chrome, Edge, Brave, dan Firefox.
    • Itu tidak memiliki menu dapps untuk dijelajahi.
    • Itu tidak mendukung Bitcoin.



    Sumber : news.tokocrypto.com