Tag: BTC 2021

  • Tiga Faktor yang Bikin Bitcoin Akan Kembali Injak All Time High

    Tren harga mata uang kripto Bitcoin (BTC) saat ini masih berada di zona sideways. Bahkan, beberapa hari yang lalu, Bitcoin hampir mengalami koreksi yang cukup dalam.

    Sepertinya, all time high atau harga tertinggi Bitcoin pada 13 Maret 2021, membuat harga Bitcoin setelahnya terus mengambang. Namun, terdapat titik di mana Bitcoin nampak sedang mengkonsolidasikan harganya beberapa hari terakhir.

    Analisa kami, harga BTC berpotensi turun menyentuh area harga $55,378 – $54,472 dalam waktu dekat. Skenario ini bisa lebih buruk apabila penurunan area harga BTC tersebut ditembus, maka pergerakan harga BTC akan mengejar titik support berikutnya yaitu pada $50,802.

    Baca Juga: Bitcoin Kemungkinan Besar Akan Koreksi Dalam Bila Sentuh Titik Ini

    Namun, apabila melihat sisi fundamental atau peristiwa yang terjadi di kuartal pertama tahun ini, Bitcoin bisa saja dalam waktu dekat kembali mencetak harga tertingginya kembali.

    Berikut tiga alasan, Bitcoin bisa kembali menyentuh ATH:

    Pemegang Besar BTC (whales) Berhenti Menjual

     

    Salah satu faktor harga Bitcoin cenderung melambat setelah menginjak ATH pada Maret 2021, adalah terdapat aksi jual besar-besaran yang dilakukan pemilik Bitcoin dalam jumlah besar atau whales.

    Kriteria investor yang disebut sebagai whales itu apabila memilki saldo lebih dari 1.000 BTC.

    Berdasarkan data Glassnode, penjualan yang dilakukan whales sejak 8 Februari telah turun 10%. Dan puncaknya, sejak 31 Maret 2021, pemegang besar BTC telah berhenti menjual.

    Di akhir kuartal ini rata-rata menjadi waktu yang pas untuk pemilik besar Bitcoin menjual asetnya. Namun, nyatanya di akhir kuartal akumulasi harga Bitcoin belum menyentuh harga yang diharapkan. Meskipun, harga BTC telah mengalami kenaikan 104% sejak awal tahun.

    Namun, di awal kuartal kedua ini, April 2021, manajer aset digital terbesar Grayscale mengumumkan bahwa mereka telah menyeimbangkan dana digital dalam jumlah besar untuk menahan penjualan BTC.

    Hal ini bisa saja menjadi momen terdekat untuk Bitcoin kembali pumping dan mencetak harga tertingginya kembali.

    Long Term Holder Bitcoin Semakin Mengencangkan Dompetnya

    Pemegang jangka panjang Bitcoin saat ini terlihat semakin lama menahan aset mereka untuk tidak dijual. Analisa dari laporan mingguan Glassnode pekan ini menyatakan bahwa pemegang Bitcoin semakin percaya harga BTC akan kembali pumping dalam waktu dekat.

    Data Glassnode pun menunjukan perlambatan ini terjadi sejak Januari 2021. Di mana para pemegang jangka panjang ini masih banyak menahan asetnya.

    Hal ini persis dengan peristiwa yang terjadi pada momen ATH Bitcoin di tahun 2019. Di mana sebelumnya terdapat perlambatan aksi penjualan yang dilakukan long term holder ini.

    Baca Juga: BNB Sentuh Harga Tertinggi Baru!

    Permintaan Investor Institusional Masih Tinggi

    Permintaan dari investor institusional atau perusahaan di kuartal pertama 2021 ini cukup menggembirakan.

    Volume transfer bersih Bitcoin dari atau ke bursa sejak Januari 2021, menunjukan arus volume BTC lebih banyak yang ditarik dibandingkan disimpan. Ini adalah tanda bahwa koin-koin ini berpindah ke penyimpanan dingin. Dan ini sangat khas dengan perilaku institusi.

    Mereka cenderung melakukan investasi jangka panjang dan lebih memilih solusi penahanan yang lebih aman daripada membiarkannya di bursa. Sampai saat ini terdapat institusi besar, seperti Tesla, MicroStrategy, Meitu, dan lainnya,  yang masih mengakumulasi Bitcoin hingga saat ini.

    Disclaimer:

    Perdagangan atau investasi digital asset atau mata uang kripto (Bitcoin, Ethereum, dll) merupakan aktivitas beresiko tinggi. Sebelum memutuskan untuk mulai berinvestasi ketahui dulu resikonya. Perdagangan Digital Asset sebaiknya dilakukan pada platform exchange yang terdaftar di Bappebti.

    Kami tidak memaksa Anda untuk membeli atau menjual aset digital ini, sebagai investasi, atau aksi mencari keuntungan. Pahami dulu lebih dalam sebelum memutuskan berinvestasi mata uang kripto.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Prediksi Harga Bitcoin: Berpotensi ke US$63-80 Ribu

    Setelah menjebol all time high (ATH) dan melaju lebih dari US$60 ribu, Bitcoin diprediksi ke US$63-80 ribu.

    Setelah dip selama 7 hari dari US$58 ribu ke US$40 ribu, dilanjut dengan memanjat perlahan selama hampir 2 minggu, akhirnya Bitcoin kembali menembus titik tertingginya pada Sabtu, 13 Maret 2021.

    Raja aset kripto itu diproyeksikan akan segera menuju US$63 ribu, bahkan berpotensi US$80 ribu. Hal ini didukung oleh beberapa aspek teknikal dan fundamental.

    Baca Juga: Simak Cara Mendapatkan Penghasilan Tambahan dengan BSC Farm!

    Sisi Teknikal: Fibonacci Extension di Timeframe Mingguan
    Hal pertama yang mendasari potensi kenaikan Bitcoin adalah Fibonacci extension di timeframe mingguan.

    Proyeksi yang ditarik sejak ATH 2017 dan titik rendah 2019, memproyeksikan bahwa Bitcoin berpotensi menuju US$63,5 ribu di titik 3,618 dan US$80 ribuan di titik 4,618. Secara teori, para pelaku pasar akan mulai mengambil keuntungan di titik-titik tersebut. Sehingga kuat kemungkinan harga Bitcoin akan terus didorong ke sana.

    prediksi bitcoin

    Ditambah lagi, di timeframe harian, kita dapat melihat terbentuknya channel yang memproyeksikan harga dapat menuju zona US$60-70 ribu.

    Faktor teknikal lainnya adalah Moving Average Exponential (EMA) 21 dan 55 yang sudah “merestui” Bitcoin untuk menjadi bullish.

    prediksi bitcoin

    Faktor teknis pada Bitcoin, yakni EMA 21 dan 55 yang sudah di-test, channel yang memproyeksi pergerakan Bitcoin ke zona US$60-70 ribu.

    Baca Juga: Petisi Daring: Bank Sentral Prancis Harus Bisa Beli Bitcoin

    Faktor Fundamental: Banyaknya Institusi yang Membeli Bitcoin dan Stimulus
    Faktor fundamental yang mungkin mempengaruhi bullish-nya Bitcoin adalah semakin banyaknya perusahaan besar yang membeli Bitcoin dan menjadikannya sebagai aset dalam perbendaharaan mereka, seperti Microstrategy dan Grayscale Bitcoin Trust.

    Selain itu, kabar bahwa semakin banyaknya investor retail yang mulai melek aset kripto dan menggunakan stimulus check yang diberikan oleh Amerika Serikat, semakin memperkuat momentum bullish dari Bitcoin.

    Apakah Ini Pucuk Atas?
    Sejalan dengan semakin naiknya Bitcoin, penulis merasa perlu juga mengingatkan bahwa “bull run” bagi Bitcoin sudah berlangsung selama 1 tahun, dimulai sejak “Corona crash” Maret tahun lalu.

    Harga Bitcoin naik dari sekitar US$4 ribu, ke US$60 ribu dalam setahun, naik 15 kali lipat. Alangkah baiknya jika kita juga berhati-hati jika koreksi datang. Happy trading!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bloomberg: Harga Bitcoin Bisa US$100 Ribu Tahun Ini

    Bloomberg Intelligence meramalkan harga Bitcoin bisa mencapai US$100 ribu (Rp1,4 milyar) pada tahun ini juga. Bitcoin juga disebut dalam proses menggantikan peran emas.

    “Pada Februari ketika Bitcoin mendekati US$60 ribu [lalu terkoreksi-Red], pembelian kuat akan terjadi di US$40 ribu. Meningkatnya permintaan dibandingkan pasokan yang semakin berkurang, mendukung pola kenaikan seperti masa lalu. Bitcoin berpotensi ‘menambahkan satu angka nol’ di harganya, US$10.000 ribu [menjadi US$100.000-Red] pada tahun 2021,” sebut Bloomberg dalam kajian terbarunya, ‘Bloomberg Crypto Outlook 2021‘ edisi Maret 2021.

    Baca Juga: Inilah Beberapa Alasan Penyebab Harga Bitcoin Fluktuatif

    Menurut Mike McGlone yang menyusun kajian itu, peningkatan permintaan dibandingkan pasokan unit BTC yang kian berkurang [akibat Halving-Red], berpadu dengan kondisi ekonomi makro.

    Itu disebut menguntungkan peran Bitcoin menggantikan emas dari aset berisiko dan kelak menjadi store of value.

    prediksi bitcoin

    McGlone juga menyebutkan, ketika Bitcoin masuk di US$50 ribu di awal tahun 2021 dan mencapai kapitalisasi pasar US$1 triliun, menjadikan Raja Aset Kripto itu memiliki asas untuk menjadi lebih stabil.

    Bitcoin dalam Proses Gantikan Peran Emas
    Bloomberg juga tampaknya kian yakin menyorongkan wacana, bahwa Bitcoin saat ini dalam proses menggantikan peran emas sebagai store-of-value. Wacana seperti ini sudah sejak lama disampaikan Bloomberg dalam kajian edisi yang lampau.

    “Proses Bitcoin menggantikan emas sebagai portofolio investasi semakin cepat. Kami juga melihat risikonya yang tinggi cenderung serupa. Pada 2021, kami melihat alokasi emas hanya digunakan sebagai diversifikasi investasi yang masih penting,” sebut Bloomberg.

    Kajian itu juga menekankan, arus masuk modal ke Bitcoin memang sangat besar dibandingkan ke emas.

    Inilah yang membentuk tren arus balik dari emas menuju aset kripto besar itu. Grafik Bllomberg menunjukkan, total kepemilikan ETF Emas turun ke tingkat terendah sejak Juli 2020,setelah mencapai puncaknya pada November 2020. Nilai yang meningkat terlihat pada pembelian “Bitcoin saham”, yakni Grayscale Bitcoin Trust (GBTC), yang mewakili nilai permintaan Bitcoin di pasar spot.

    Baca Juga: Emas versus Bitcoin, Ini Kata Dewan Emas Dunia

    Bitcoin Kembali ke US$50 Ribu Lagi
    Ketika artikel disusun, beberapa jam sebelumnya Bitcoin berhasil kembali sekali lagi ke US$50.000, setelah terkoreksi dalam mulai US$58 ribu pada 22 Februari 2021 [sebagai all time high baru]. Capaian serupa sebelumnya terjadi pada 3 Maret 2021 hingga US$51.607.

    prediksi bitcoin
    Bitcoin berhasil kembali ke US$50.000, setelah terkoreksi dalam dari US$58 ribu. Sumber: Tradingview.com.

    Dari harga itu, harga Bitcoin terkoreksi 26 persen, lebih kecil daripada koreksi sebelumnya, yakni 28 persen (awal hingga akhir Januari 2021).

    Pada timeframe 4 jam, berdasarkan data di Tradingview, tampak MA30 sudah menyodok MA50 sejak 5 Maret 2021. Kepastian kenaikan lebih lanjut, setidaknya dapat dilihat, ketika dalam beberapa hari MA30 menyilang bawah MA100.

    prediksi bitcoin
    Support cukup kuat di US$46.300 berdasarkan indikator Auto Fib Extension. Sumber: Tradingview.com.

    Pun lagi, berdasarkan indikator Auto Fib Extension di timeframe serupa, support cukup besar berada di US$46.300.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Direktur Fidelity: Bitcoin Unggul Dibanding Emas

    Jurrien Timmer, Direktur Makro Global di perusahaan layanan keuangan Fidelity yang mengelola aset lebih dari US$3,3 trilyun, mengatakan Bitcoin memiliki keunggulan unik dibanding emas.

    Bulan lalu, Timmer menerbitkan tulisan yang menyatakan manajer investasi sebaiknya melihat Bitcoin sebagai pengganti emas atau obligasi.

    “Investor mungkin ingin menambah Bitcoin dan alternatif lain sebagai satu komponen sisi obligasi dalam portofolio 60/40 saham dan obligasi,” katanya.

    Baca Juga: Warga Amerika Latin Ingin Belanja Pakai Bitcoin Cs

    Timmer menyoroti fitur Bitcoin yang menjadikannya bernilai, yaitu kelangkaan, kurva penambahan suplai yang berkurang, reputasi dan menuruti Hukum Metcalfe (Network Effect) yang menyatakan nilai jaringan tumbuh lebih cepat dengan bertambahnya pengguna.

    uncaptioned

    Direktur Fidelity itu berpendapat berinvestasi Bitcoin selain emas masuk akal, sebab sama-sama langka dan berfungsi sebagai alat simpan nilai (store of value).

    Timmer menekankan, sistem moneter dunia tidak didukung oleh emas dan ekonomi global semakin bergantung kepada kebijakan moneter bank sentral.

    Dalam era fiat money ini, semakin sedikit emas yang mendukung sistem moneter ketika uang baru diterbitkan dengan sangat cepat dan dalam jumlah banyak, tambahnya.

    “Bagi sebagian orang, hal ini menjadikan emas semakin menggiurkan, dan akhir-akhir ini Bitcoin mulai diperbincangkan sebagai bentuk emas digital,” jelas Timmer.

    Baca Juga: 4 Cara Mendapatkan Uang dari Internet dengan Cepat

    Sambil menegaskan pendapatnya hanya satu di antara yang lain, Timmer menambahkan Bitcoin bukan investasi yang aman. Kendati emas dan Bitcoin sama-sama langka, Bitcoin bersifat digital dan dapat diregulasi ketat.

    “Percaya sesuatu yang konseptual dan belum terbukti dapat bersaing dengan kelangkaan nyata yang telah dihargai selama ribuan tahun butuh keyakinan tinggi,” kata Timmer.

    Tetapi Bitcoin memiliki keunggulan unik dibanding emas. Pasokan Bitcoin dirancang terbatas, ketika pasokannya mendatar, produksi emas tetap konstan. Emas langka tetapi tidak semakin langka, sebut Timmer.

    Baik emas dan Bitcoin perlu dipertimbangkan investor ketika investasi dalam surat utang (obligasi) berimbal hasil rendah mendekati nol.

    Pekan lalu, investor milyarder Warren Buffett berkata investor obligasi menghadapi masa depan yang suram.

    Menurut Timmer, Bitcoin belum tentu lebih baik dari saham, terutama untuk jangka pendek, sebab harga Bitcoin sangat volatil.

    Saham menawarkan imbal hasil dan membayar deviden sehingga hasil investasi bertambah seiring waktu. Hanya, di saat hiperinflasi emas dan Bitcoin lebih unggul.

    Terlepas dari itu, karakteristik Bitcoin dan pasar kripto yang berkembang menjadikannya alternatif menarik selain emas atau obligasi.

    Bitcoin semakin dipercaya, dan sebagai emas digital, Timmer meyakini Bitcoin akan mengambil pangsa pasar lebih besar seiring waktu.

    Kini, manajer portofolio tidak lagi bertanya untuk berinvestasi Bitcoin atau tidak, melainkan bertanya seberapa banyak beli Bitcoin.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Sentuh Rp719,3 Juta, Pertanda Mulai Pulih?

    Bitcoin baru saja kembali menyentuh daerah Rp719,3 Juta akibat sentimen positif dari beberapa perusahaan besar.

    Semua ini terjadi pada 1 Maret 2021 setelah daerah Rp629,89 berhasil terjaga beberapa hari terakhir.

    Bitcoin Kembali Naik ke Rp719,3 Juta

    Apresiasi pada awal bulan tersebut terlihat lebih dari 16% yang membawa Bitcoin berhasil keluar dari batas atasnya.

    Pergerakan ini dibuat lebih kuat setelah kemarin, Michael Saylor, CEO dari MicroStrategy membuat pernyataan melalui Twitter.

    Pernyataan tersebut adalah publikasi bahwa MicroStrategy telah kembali membeli 90.859 Bitcoin senilai Rp214,7 Miliar pada harga Rp644,2 Juta.

    Pembelian oleh MicroStrategy adalah salah satu cerminan bahwa investor institusional mulai kembali membeli Bitcoin.

    Baca juga: JPMorgan Sarankan Kepemilikan Bitcoin di Portofolio untuk Lindung Nilai

    Namun, perhatian utama nampaknya masih tertuju pada Goldman Sachs akibat pengumuman untuk kembali melakukan perdagangan crypto.

    Selain itu, sentimen positif nampak juga tertuju pada Citigroup yang baru saja mengumumkan kepercayaannya terhadap Bitcoin.

    Citigroup baru saja membuat laporan dengan 105 halaman mengenai kepercayaan dan komentarnya tentang mata uang crypto utama ini.

    Citigroup menyatakan bahwa Bitcoin memiliki potensial yang sangat besar terutama untuk adopsi perdagangan internasional.

    Tapi, perusahaan tersebut tetap menyatakan bahwa Bitcoin memiliki beberapa permasalahan terutama dalam volatilitasnya.

    Walau begitu, tiga sentimen ini nampak menjadi penyebab mengapa Bitcoin kembali pulih yang juga memperkuat bukti kepercayaan investor institusional.

    Beberapa Pihak Belum Yakin

    Sayangnya walau sudah banyak sentimen positif, masih terdapat beberapa tokoh besar yang belum yakin bahwa Bitcoin sudah mulai pulih.

    Peter Brandt, trader yang cukup terkenal di pasar keuangan, menyatakan bahwa ia belum yakin bahwa koreksi sudah selesai.

    Pernyataan ini disetujui oleh David Lifchitz, Kepala Bidang Investasi ExoAlpha.

    Ia menyatakan bahwa saat ini masih terlalu awal untuk menyatakan bahwa koreksi sudah selesai.

    Baca juga: Bitcoin dan Musim Pajak, Ini Hubungannya

    Tapi, ia yakin bahwa Rp629,89 Juta telah menjadi batas bawah yang kuat walau masih terdapat keraguan akibat Maret menjadi bulan relatif negatif.

    Lifchitz juga percaya bahwa musim pajak masih signifikan akibat keperluan membayar pajak akan mendorong penjualan crypto. Ia menyatakan,

    “Saat ini musim pajak memberi dampak signifikan akibat penjualan untuk membayar pajak keuntungan sebelumnya. Namun walau terjadi koreksi 20%, saat ini pergerakan masih terlihat naik sejak Oktober 2020. Semua fokus masih tertuju pada penambang akibat tekanan jualnya.”

    Pernyataan tersebut menandakan bahwa saat ini risiko terbesar berasal dari penambang yang nampak memberi risiko jangka pendek akibat perannya sebagai penjual.

    Surat Utang Negara Mulai Stabil

    Surat utang negara terlihat mulai stabil dalam keuntungan dan transaksinya yang sebelumnya menjadi sentimen negatif untuk Bitcoin dan crypto.

    Stabilisasi ini terjadi akibat dorongan dari dana bantuan pemerintah dan juga vaksin Covid-19 yang memberi harapan positif terhadap perekonomian.

    Pasar saham Amerika terlihat mengalami apresiasi yang signifikan dengan penutupan yang positif pada ketiga indeks utama.

    Baca Juga: Citi: Bitcoin di Awal Perubahan Besar-besaran, Kian Popular!

    Semua juga terjadi akibat dukungan dari mayoritas bank sentral di dunia yang terlihat masih mendorong kebijakan ekspansif.

    Dengan positifnya pandangan terhadap perekonomian, saat ini beberapa mata uang crypto juga terlihat mulai pulih bersama Bitcoin.

    Binance Coin (BNB) naik sekitar 21% ke Rp3,55 Juta, bersama Ethereum (ETH) yang naik 9.46% menuru Rp21,8 Juta.

    PancakeSwap (CAKE) dan Fantom (FTM) berhasil naik sekitar 36% dan saat ini berada di sekitar Rp176.083 dan Rp7.988 secara berurutan.

    Saat ini keseluruhan kapitalisasi pasar crypto berada di Rp21.759 Triliun dengan dominasi Bitcoin yang berada di 61%.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Citi: Bitcoin di Awal Perubahan Besar-besaran, Kian Popular!

    Citi, perusahaan multinasional mengatakan, bahwa Bitcoin saat ini berada di awal perubahan besar-besaran, kian popular yang belum terjadi sebelumnya.

    “Bitcoin kini berada di titik penting dan bisa menjadi mata uang (currency) pilihan dalam perdagangan internasional. Bitcoin juga menghadapi ‘ledakan spekulatif,” sebut seorang analis Citi, dilansir dari Reuters, Senin (1/3/2021).

    Citi menyandarkan analisisnya pada dukungan besar Bitcoin oleh Tesla dan Mastercard.

    Baca Juga: Di Australia, Bitcoin Lebih Digemari Daripada Emas

    “Inilah yang menjadikan Bitcoin mendapatkan waktu tepat sebagai awal dari transformasi besar-besaran dan menjadi arus utama,” sebut Citi.

    Keterlibatan yang tumbuh dari investor institusional dalam beberapa tahun terakhir, jauh berbeda dengan dominasi kalangan ritel dalam satu dekade terakhir.

    Jelas Citi, meningkatnya popularitas Bitcoin juga dilengkapi dengan penerbitan “mirip stablecoin” oleh bank sentral, alias Central Bank Digital Currency (CBDC).

    CBDC juga disebut sebagai “digital fiat money” yang sebagian menggunakan teknologi mirip seperti blockchain, yakni Decentralized Ledger Technology (DLT).

    Baca Juga: 5 Crypto Potensial Saat Pasar Turun

    Lonjakan minat mendorong Bitcoin ke rekor tertinggi US$58.354 pada beberapa hari lalu. Kapitalisasi pasarnya pun genap menjadi US$1 triliun untuk kali pertama sejak ia dibidani oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008.

    “Sejumlah risiko dan hambatan memang masih menghalangi popularitas Bitcoin. Tapi, dalam jangka panjang, peluangnya masih sangat besar,” jelas Citi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Peter Brandt: Harga Bitcoin Bergerak Parabolik, Bullish!

    Peter Brandt, analis teknikal berpengaruh mengatakan bahwa harga Bitcoin sedang bergerak parabolik. Ini menandakan bullish, harga Bitcoin bisa naik berlipat-lipat. Dalam grafik, harga diperkirakan lebih dari US$130 ribu per BTC pada tahun ini.

    Berita Terkait: Memasuki Tahun Kerbau, BTC Mampu Menembus Area Resistensi

    “Bitcoin sedang mengalami kelajuan parabolik ketiga dalam satudekade terakhir. Kelajuan parabolik pada skala aritmatika sangat jarang. Ini terjadi tiga kali pada skala logaritmik. Ini bersejarah!” kata Brandt di Twitter, Rabu (17/2/2021).

    bitcoin bullish

    Namun, Brandt yakin, seperti data harga sebelumnya, ketika harga Bitcoin melampaui kelajuan parabolik itu, maka harga bisa terkoreksi hingga 80 persen.

    Pada cuitan Brandt sebelumnya, tren parabolik cenderung sangat berbahaya, karena sangat sulit untuk menentukan kapan harga akan berpuncak, karena harga naik dengan kecepatan gila.

    Baca Juga: US$900 Juta! MicroStrategy Siap Beli Bitcoin

    Namun, kata Brandt, pergerakan vertikal yang sangat besar tidak dapat dipertahankan selamanya, itulah sebabnya biasanya diikuti oleh pembalikan tren yang tajam, alias koreksi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Prinsip dan Kiat Trading Bitcoin Cs

    Prinsip dan kiat trading Bitcoin Cs (aset kripto) tergolong relatif sederhana, tetapi menantang berkat volatilitasnya yang terkenal tinggi. Nilai artikel ini bersifat relatif dan sangat subjektif.

    Soal volatilitas Bitcoin, sejak tahun 2018 sebenarnya sudah menurun, sebagai akibat dari dua faktor. Pertama, semakin banyaknya investor berwawasan jangka panjang dari kalangan institusional yang membeli Bitcoin.

    Kedua, pasarnya kian beragam, tak hanya spot market, namun pula derivatif seperti kontrak berjangka. Ada pula yang menghadirkan dalam bentuk seperti saham, misalnya Grayscale Bitcoin Trust (GBTC). Sarana pendukungnya juga semakin banyak seperti layanan kustodian (misalnya oleh Fidelity) dan banyak lagi.

    Semakin turunnya nilai mata uang dolar AS juga turut menjadi faktor meningkatnya permintaan terhadap Bitcoin dan beberapa aset kripto lainnya.

    Turunnya nilai dolar AS didorong oleh beragam program stimulus pemerintah AS, termasuk penambahan pasokan uang beredar oleh The Fed. Langkah itu dianggap efektif untuk menormalkan kembali pertumbuhan ekonomi akibat pandemi.

    Prinsip-prinsip Trading

    Pertama, kami anggap Anda sudah mengetahui dan memahami apa itu Bitcoin, bagaimana cara kerjanya dan mengapa ia diciptakan oleh Satoshi Nakamoto. Termasuk pelajari baik-baik aset kripto yang ingin Anda perdagangkan.

    APA ITU BITCOIN?

    Mulailah dari whitepaper-nya, tujuan proyeknya, siapa di baliknya, keunggulan dan kelemahannya, peluang dan strateginya, sifat kelangkaan asetnya, teknologi blockchain-nya.

    Termasuk kerjasama dan kemitraan, penambahan produk baru, termasuk kemantapan smart contract dan source code-nya (jikalau tersedia), regulasi, termasuk keandalan bursa aset kripto yang Anda gunakan. Ini yang kami sebut sebagai analisis fundamental.

    Kedua, saya anggap Anda sudah mengetahui dan memahami prinsip dasar trading (perdagangan) alias jual-beli Bitcoin dan aset kripto lainnya, bahwa semakin banyak permintaan (demand) dari supply (penawaran), maka semakin tinggi harganya.

    Ketiga, semua yang kami sampaikan di artikel ini bukanlah nasihat ataupun petunjuk investasi, tetapi sekadar langkah edukasi tentang kelas aset baru ini. Karena bagaimanapun juga Bitcoin misalnya masih tergolong “experimental money” sebagaimana yang tercantum di situsnya, Bitcoin.org.

    Keempat, wajib dipahami bahwa perdagangan aset kripto sangat berisiko tinggi, karena Anda berpotensi kehilangan seluruh modal Anda, terlebih-lebih di pasar derivatif yang berfitur leverage.

    Kelima, untuk trading jenis aset apapun, termasuk aset kripto, gunakanlah modal berupa “uang dingin” bukan “uang panas”.

    Uang dingin adalah uang yang memang Anda persiapkan untuk digunakan untuk investasi, untuk trading.

    Dan uang dingin itu harus Anda relakan untuk kelak hilang atas kerugian yang diakibatkan oleh Anda sendiri.

    Sedangkan “uang panas” adalah uang untuk kebutuhan sehari-hari yang digunakan untuk bertahan hidup, makan sehari-hari, uang sekolah dan lain sebagainya. Jangan gunakan uang jenis untuk trading ataupun investasi.

    Keenam, uang modal trading bukan berasal dari utang atau pinjaman dari pihak lain, baik itu personal atau bank ataupun kartu kredit.

    Uang modal trading adalah modal dan milik Anda sendiri dan Anda harus siap dengan kehilangan sebagian atau semua modal itu.

    Ketujuh, lakukan penelitian oleh Anda sendiri, bukan ikut-ikutan jejak atau langkah oleh orang lain. Jangan percaya orang lain, percaya dengan diri sendiri. Pernyataan orang lain hanyalah sekadar panduan relatif, bukan yang utama. Keputusan akhir berada di tangan Anda sendiri.

    Kedelapan, pelajari baik-baik ilmu analisis teknikal alias membaca grafik/chart perdagangan.

    Pelajari cara menggunakan indikator yang tersedia sebagai bagian dari strategi dalam mengambil keputusan.

    Fasih ilmu analisis teknikal membuat Anda terhindar dari spekulasi terlalu tinggi, bahkan anggapan bahwa trading adalah judi.

    Analisis teknikal sangat ampuh membantu Anda memutuskan kapan harus beli (entry) dan kapan harus jual (exit).

    Ingatlah bahwa analisis teknikal pada dasarnya adalah ilmu statistik, di mana ada sekelompok probabilitas berdasarkan data masa lampau untuk memproyeksikan tren di masa depan.

    Dalam analisis teknikal berlaku prinsip umum, bahwa “history repeat itself“, bahwa harga naik dan turun akan berulang, bahwa kenaikan di masa lalu, bisa terjadi kembali di masa depan dengan penguatan yang lebih besar.

    Kesembilan, tentukan horizon time investasi/trading Anda. Apakah short term atau long term.

    Untuk short term (harian atau pekan), Anda memerlukan analisis teknikal yang lebih rinci. Untuk long term, perlu analisis fundamental yang lebih rinci plus analisis teknikal.

    Kesepuluh, bersikap tenang, jaga emosi dan tidak rakus alias serakah, karena ada pihak yang lebih besar modalnya daripada Anda dan memiliki pengetahuan yang lebih banyak daripada Anda.

    Baca Juga: Memasuki Tahun Kerbau, BTC Mampu Menembus Area Resistensi

    Kapan Saatnya Beli dan Jual?

    Pertama, ini sangat tergantung pada horizon time investasi/trading Anda. Jika memilih short term, maka Anda memerlukan analisis teknikal yang lebih rinci, disiplin memantau dan tidak emosional.

    Mengingat jika kenaikan tipis dalam tempo menit atau jam, maka modal Anda diharapkan cukup besar.

    Kedua, indikator sederhana kapan beli dan jual, Anda bisa menggunakan indikator Moving Average (MA). Itu pun tergantung pada time frame (rentang waktu) yang Anda gunakan.

    Misalnya untuk time frame 4 jam-1 harian yang umum digunakan, bisa menggunakan MA50 dan MA100. Atau time frame lebih tinggi, misalnya harian (daily), tambahkan MA200.

    Untuk time frame yang lebih pendek, misalnya 1 menit, 5 menit, 15 menit, umumnya menggunakan MA5, MA8 dan MA13 sekaligus. Lazimnya digunakan dalam teknik scalping.

    Ketiga, Moving Average adalah indiaktor harga bergerak rata-rata dalam kurun waktu tertentu yang prinsipnya menghaluskan data pergerakan harga alias sebagai penyaring.

    Dalam time frame 1 menit misalnya harga bergerak naik turun cepat. MA membantu Anda mencari gerak harganya secara rata-rata, sehingga memudahkan Anda membaca tren harganya.

    Keempat, katakanlah dalam time frame 4 jam, menggunakan MA50 dan MA200 (long term).

    Jika garis MA50 bergerak ke atas menyilang (crossing) MA200, maka itu adalah indikasi kuat harga akan bergerak naik.

    Dan sebaliknya, jika MA50 bergerak ke bawah menyilang garis MA200, maka itu adalah indikasi kuat harga akan bergerak turun.

    Kelima, Perpotongan antara garis MA50 dan MA200 dalam time frame 4 jam adalah indikasi “Golden Cross” dan “Death Cross”.

    Jika garis MA50 bergerak ke atas menyilang garis MA200, maka itu disebut sebagai Golden Cross dan sebaliknya, disebut Death Cross.

    Keenam, Golden Cross menandakan harga akan terus bergerak naik dalam kurun waktu cukup panjang. Golden Cross terbaru di Bitcoin terjadi pada 5 Februari 2021 lalu.

    BACA ANALISISNYA DI SINI

    Ketujuh, Golden Cross sebelumnya lagi terjadi pada Oktober 2020. Harga Bitcoin bergerak naik dari US$10.697 yang memuncak pada US$41 ribu pada 8 Januari 2021. Perlu waktu sekitar 90 hari untuk naik sekitar 300 persen, dari dimulainya Golden Cross hingga puncak lalu terkoreksi (Death Cross).

    Tetapi, antara Golden Cross dengan Golden Cross lainnya memiliki rentang waktu yang berbeda untuk naik tinggi.

    Kedelapan, Anda bisa menggunakan indikator lainnya, sebagai tambahan untuk Moving Average, di antaranya: “Market Cipher A”, “Bitcoin Halvening Shadowed Past Dates”, “Super Trend”, “RSI” dan Squeeze Momentum”.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bloomberg: Bitcoin Kuat Menuju Rp700 Juta, Emas Lemas

    Mike McGlone Analisis dari Bloomberg Intelligence meramalkan bahwa Bitcoin kuat menuju US$50 ribu (Rp700 juta) per BTC. Sementara emas kian lemas, karena arus dana keluar semakin besar.

    Kajian Bloomberg masih bullish terhadap aset kripto nomor wahid itu. Kajian terbaru yang diterbitkan kemarin masih selaras dengan analisis bulan sebelumnya, bahwa ada support kuat BTC menuju US$50 ribu. Pasalnya, sokongan terbesar muncul sebelumnya di level US$30 ribu.

    Baca Juga: Doge Jadi Trending Topic di Twitter Indonesia

    “BTC menunjukkan support yang kuat di US$30 dan terus diadopsi oleh institusi dan berpotensi BTC menjadi aset cadangan global. Ini dapat mendorong harga menjadi US$50 atau lebih tinggi,” tulis McGlone.

    McGlone juga menyoroti semakin besarnya dana arus keluar dari pasar emas khususnya dari Gold ETF.

    Itu berbanding terbalik dengan kuatnya dana masuk ke instrumen investasi berbasis nilai Bitcoin yakni ke Grayscale Bitcoin Trust (GBTC).

    “Perusahaan Grayscale telah menumbuhkan dana GBTC dari 1 persen menjadi 10 persen sepanjang tahun 2020,” sebut McGlone.

    Baca Juga: Menapaki Jejak Perjalanan Bitcoin

    “Di dunia yang serba digital, sangat masuk lebih banyak arus dana mengalir ke Bitcoin dan menjauh dari logam mulia,” tegasnya lagi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Menapaki Jejak Perjalanan Bitcoin – Tokocrypto News

    Menapaki jejak perjalanan Bitcoin secara satu persatu memang tak cukup termaktub dalam satu artikel pendek ini. Tapi, setelah 12 tahun berjalan, kelas aset baru itu sukses menjadi buah bibir, sebagai instrumen investasi amat bernilai. Artikel ini hanya secuil penapakan kita, sebagai penyegar pemikiran.

    Sejak muncul pertama kali pada tahun 2008 kehadiran Bitcoin sukses menghadirkan kejutan bagi para investor dan seluruh kalangan di berbagai belahan dunia.

    Harganya yang kini mencapai ratusan juta rupiah, meski bergerak begitu dinamis, menjadikan Bitcoin banyak dilirik oleh berbagai kalangan.

    Bahkan tak sedikit yang percaya bahwa aset kripto—sebagian lebih suka menyebutnya mata uang alias currency—ini telah membantu membuka jalan bagi munculnya aset kripto lain. Pada akhirnya itu mengubah cara pandang dunia soal definisi alat tukar.

    Baca Juga: Pasar Crypto Mulai Hijau, Altcoins Ini Diprediksi Naik 1.000 Kali Lipat

    Langkah Awal Bitcoin
    Ide awal Bitcoin pertama kali diutarakan pada 31 Oktober 2008 oleh Satoshi Nakamoto melalui makalah ilmiah-nya “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System”. Sosok asli Nakamoto masih misteri hingga detik ini.

    Gagasan dasar Nakamoto pada dasarnya sederhana, yakni menciptakan sistem uang elektronik yang berada di luar sistem negara.

    Dalam sistem itu ada dua komponen utama, yakni sistem transfer, penciptaan unit nilai uangnya (monetary unit), juga disebut Bitcoin (BTC) dan sistem moneternya (kendali jumlah unit uangnya yang sangat terbatas).

    Untuk mewujudkan gagasan itu, tulis Nakamoto, semua data transaksi (ledger) harus dibuat terbuka dan disimpan serupa oleh semua pihak yang berada di jaringan itu.

    Karena catatan transaksi didistribusikan secara peer-to-peer, maka sifat desentralistik bisa dimunculkan.

    Itulah sebabnya tidak ada entitas terpusat yang menguasai sistem itu, yang belakangan kita sebut dengan blockchain, karena sekumpulan data terkait secara kronologis

    Berkat jaringan peer-to-peer itu pulalah, potensi double spending terhadap unit uangnya bisa ditekan semaksimal mungkin dan BTC bisa ditransfer secara langsung tanpa melalui lembaga keuangan.

    Penegasan soal itu, menurut Kris Marszalek, CEO Crypto.com, BTC pada prinsipnya secara langsung dikirimkan tanpa melibatkan pihak perantara.

    Baca Juga: Setelah Harga ETH Tembus Rp21 Juta, Apalagi?

    Nilai Awal
    31 Oktober 2008 adalah sekadar pengenalan gagasan besar Nakamoto. Baru pada 3 Januari 2009, block Bitcoin perdana (genesis block) ditambang.

    Itu penanda penting awal sistem blockchain Bitcoin itu berjalan, sekaligus penciptaan unit uangnya, yakni 50 BTC.

    Meski demikian, menurut Profesor Mark Grabowski di Universitas Adelphi, ketika itu BTC masih belum memiliki nilai tukar apapun.

    Seluruh transaksi yang melibatkan pengiriman Bitcoin kala itu dilakukan tak lebih dari sebatas “bersenang-senang” atau sekadar eksperimen teknologi komputer bersalut kriptografi.

    Setidaknya butuh lebih dari setahun kemudian untuk mencatatkan nilai ekonomi pertama dari aset kripto itu, ketika 10.000 BTC ditukar dengan 2 loyang pizza porsi besar bermerek Papa John.

    Transaksi itu terjadi pada 22 Mei 2010 silam oleh Laszlo Hanyecz di Florida, Amerika Serikat melalui Bitcointalk. Ketika itu harga dua loyang pizza setara US$25 (Rp350 ribu dengan kurs hari ini).

    Berpatokan pada transaksi itu, menurut Grabowski, maka nilai awal Bitcoin setidaknya sekitar US$0,0025 per BTC.

    Lantas peristiwa fenomenal itu kelak diperingati setiap tanggal 22 Mei sebagai “Bitcoin Pizza Day” oleh pendukung Bitcoin.

    Bursa Bitcoin Pertama
    Sebelum transaksi pizza itu, pada 15 Januari 2010, seorang pengguna di Bitcointalk membuka bursa Bitcoin pertama, yakni Bitcoinmarket.com. Nilai BTC pun dipatok dengan nilai dolar AS yang disesuaikan dengan permintaan dan penawaran.

    Dari yang awalnya hanya bernilai US$0,0025, per 20 Desember 2020 saja, nilai 1 BTC setara dengan US$23.548,90.

    Dengan valuasi setinggi itu, tidaklah berlebihan jika Bitcoin dianggap sukses mendominasi pasar mata uang kripto. Nyatanya demikian dan sulit dibantah.

    Gejolak Harga Bitcoin
    Ada satu hal yang pasti mewarnai perjalanan sejarah Bitcoin, yaitu harganya yang bergerak demikian dinamis, naik turun alias volatil.

    Menurut penuturan Learncrypto, per Februari 2011 silam, nilai Bitcoin tercatat berhasil menembus US$1. Ini untuk kali pertama sepanjang sejarah. Namun, hanya butuh 4 bulan yakni, pada Juni 2011 harganya meroket ke US$31.

    Momen itu sekaligus menandai “penggelembungan” harga Bitcoin yang terjadi untuk pertama kalinya.

    Dua tahun berselang, pada April 2013, nilainya kembali merangkak naik ke US$200. Nilainya kemudian kembali naik secara signifikan menjadi US$1.000 pada November di tahun yang sama. Setelah beranjak 4 tahun, nilainya menjadi 10 kali lipat.

    Kini, 12 tahun berselang, sejak konsep awalnya dikemukakan, Bitcoin telah mencatat nilai rekor, US$42.000 per BTC (Rp588 juta).

    Nilai tukarnya yang demikian tinggi membuat aset kripto yang satu ini diincar oleh banyak kalangan, tapi bukan berarti harga Bitcoin terus mengalami kenaikan.

    Tercatat di awal tahun 2018, aset kripto ini mencatatkan penurunan nilai tukar secara drastis.

    Beberapa kalangan menyebut bahwa hal itu terjadi di tengah ketidakpastian akibat tingginya tingkat penipuan menggunakan Bitcoin yang terjadi kala itu.

    Di samping itu, awal tahun 2018 juga ditandai dengan rendahnya rasa percaya di antara para penambang Bitcoin.

    Besarnya ketidakpastian di dunia Bitcoin kala itu juga yang kemudian mendorong para pelaku perbankan di berbagai negara untuk mulai masuk ke ranah uang digital itu. Langkah ini kemudian terbukti berdampak positif.

    Hal ini bisa dilihat dari kondisi pasar Bitcoin yang semakin matang. Sistem transaksi Bitcoin menjadi semakin canggih, efisien dan beragam. Pasar spot dibarengi dengan pasar derivatif oleh perusahaan besar seperti CME Groups.

    Para pelaku yang terlibat mulai menerapkan praktik-praktik inti setara lembaga perbankan. Hal ini dilakukan untuk menerapkan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk membangun pasar Bitcoin yang tidak hanya berkesinambungan, tetapi juga layak untuk seluruh aktivitas perdagangan dan investasi Bitcoin.

    Sebuah Ikhtisar
    Perjalanan panjang Bitcoin sungguh menarik untuk disimak, karena belum perlu ada tanda titik yang perlu ditorehkan. Pasalnya, karena Bitcoin mampu mengundang kita untuk kembali mempertimbangkan dua hal penting terkait uang.

    Pertama, sejarah Bitcoin mengajarkan kita bahwa uang pada dasarnya adalah sebuah barang (komoditi), seperti uang dolar di pasar valas.

    Dan Kedua, uang tidaklah muncul begitu saja, melainkan dari sebuah proses pasar yang berkelanjutan, hingga kita menggambarkan nilainya untuk masa depan.



    Sumber : news.tokocrypto.com