Tag: btc

  • Angin Segar dari Amerika, 5 Crypto Bisa Terimbas Positif Pekan ini

    Beberapa hari yang lalu, Pemerintah Amerika baru saja memberikan angin segar untuk pasar crypto akibat persetujuan dana stimulus Joe Biden.

    Sebelumnya pasar crypto dan beberapa pasar aset berisiko dibuat khawatir akibat data ketenagakerjaan yang positif, namun semua ditenangkan oleh dana stimulus.

    5 Crypto Berpotensi Positif Pekan Ini

    Akibat dari kabar tersebut, pada pekan ini terdapat lima mata uang crypto yang berpotensi mengalami apresiasi.

    Seluruh apresiasi ini akan dipimpin oleh Bitcoin yang mulai bergerak naik akibat korelasi negatifnya dengan Dolar Amerika dan kabar stimulus.

    1. Bitcoin (BTC)

    Bitcoin kemungkinan besar akan kembali dituju sebagai alat pelindung alternatif terhadap potensi depresiasi Dolar Amerika.

    Dengan adanya potensi depresiasi Dolar Amerika akibat kabar dana stimulus ini, Bitcoin memiliki potensi apresiasi yang lebih tinggi.

    Selain itu, dengan mulai menenangnya pasar futures yang sebelumnya volatil akibat pergantian bulan, Bitcoin kemungkinan memulai apresiasinya kembali.

    Salah satu pendorong positif yang memulai apresiasi ini adalah MicroStrategy yang membeli Bitcoin senilai sekitar $10 Juta atau Rp143,6 Miliar.

    Selain itu perbedaan antara harga Bitcoin di Coinbase dan Binance atau efek Coinbase Premium yang terlihat mulai tinggi dapat menjadi pertanda kuat apresiasi Bitcoin.

    Namun, terdapat satu penghalang yang kemungkinan menghambat apresiasi Bitcoin yaitu musim pajak.

    Baca juga: Bitcoin dan Musim Pajak, Ini Hubungannya

    Secara teknikal Bitcoin masih terus bergerak naik walau terlihat akan mengalami koreksi kecil.

    Selama batas bawah pada $48.000 tidak ditembus, kemungkinan apresiasi masih akan kuat.

    prediksi bitcoin
    Grafik 4 Jam Bitcoin

    Indikator RSI dan MACD juga masih mendukung apresiasi akibat MACD yang masih terlihat naik setelah cross bersama RSI yang masih berada di zona positif.

    Harga juga masih berada di atas MA Cross yang menandakan potensi apresiasi masih cukup kuat untuk mendorong Bitcoin naik.

    Target apresiasi berada di $52.000 yang jika ditembus dapat membawa Bitcoin ke $54.000 pekan ini.

    Namun jika $48.000 ditembus, batas pengaman kuat berada di sekitar $44.000 hingga $43.000.

    2. Ethereum (ETH)

    Ethereum umumnya memiliki korelasi positif dengan Bitcoin sehingga saat harganya naik, kemungkinan besar Ethereum juga akan naik.

    Di luar korelasi tersebut, Ethereum juga memiliki sentimen positif dari perusahaan publik di Cina bernama Meitu.

    Meitu dikabarkan baru saja membeli $22,1 Juta atau sekitar Rp317,4 Miliar dalam Ethereum dan $17,9 Juta atau sekitar Rp257 Miliar dalam Bitcoin.

    Kabar ini dapat menjadi sentimen positif untuk harga Ethereum, bersama biaya transaksinya yang mulai turun akibat volume yang turun.

    Baca juga: Ethereum Terus Berkembang, Ini 10 Proyek Utama 2021

    Dari sisi teknikal, Ethereum memperlihatkan pergerakan yang positif sama seperti Bitcoin dan memperlihatkan pola bullish flag.

    prediksi ethereum
    Grafik 4 Jam Ethereum

    Indikator RSI dan MACD juga mendukung apresiasi walau terdapat potensi koreksi akibat pergerakan naik yang sudah cukup signifikan sebelumnya.

    Namun harga masih berada di atas MA Cross yang menandakan potensi apresiasi positif.

    Target apresiasi kemungkinan besar berada pada $1.752 sebelum mencapai daerah $1.800.

    Tetapi, saat ini kemungkinan besar koreksi kecil akan terjadi yang kemungkinan menuju ke $1.681 dengan pengaman apresiasi pada $1.600.

    3. Uniswap (UNI)

    Uniswap nampaknya juga terdampak oleh Ethereum akibat bergerak pada blockchainnya sehingga memiliki sentimen positif.

    Apresiasi pada pekan ini kemungkinan akan melanjutkan apresiasi pada pekan sebelumnya yang telah mencapai lebih dari 50%.

    Akibat apresiasi tersebut, saat ini Uniswap menjadi anggota DeFi pertama yang masuk ke peringkat 10 besar dalam kapitalisasi pasar.

    Apresiasi ini disebabkan oleh meningkatnya frekuensi pernyataan yang dikeluarkan oleh pihak Uniswap pada Twitter.

    Umumnya, peningkatan tersebut menandakan adanya potensi pengumuman besar terutama mengenai perkembangan Uniswap V3.

    Saat ini sisi teknikal memperlihatkan adanya potensi koreksi menuju $33 sebelum bergerak naik kembali dan membentuk pergerakan retest.

    prediksi uni
    Grafik 4 Jam UNIUSD

    Tujuan selanjutnya kemungkinan besar berada pada $35 yang merupakan harga tertinggi sebelum koreksi.

    Pekan ini ada kemungkinan Uniswap dapat mencapai $37 hingga $40 dengan target jangka panjang pada $50.

    Batas pengaman apresiasi berada pada sekitar $31 bersama Indikator RSI dan MACD yang memperlihatkan potensi koreksi.

    Namun melihat MA Cross yang masih jauh berada di bawah harga, kemungkinan apresiasi masih terlihat kuat.

    4. Polkadot (DOT)

    Polkadot menjadi salah satu mata uang crypto yang memiliki potensi apresiasi di pekan ini bersama potensi pulihnya pasar crypto.

    Salah satu sentimen positif yang datang dari DOT adalah kabar dari Moonrock Capital, perusahaan investasi yang mengelola DOT.

    Dikabarkan bahwa perusahaan investasi ini telah naik hingga delapan kali lipat dalam dana kelolaannya yang diinvestasikan pada DOT.

    Sentimen positif lainnya adalah Polkastarter yang merupakan salah satu proyek yang mulai menarik perhatian dan bergerak pada Polkadot.

    Peluncuran parachain sendiri juga menjadi salah satu sentimen positif yang dapat mendorong harga DOT naik.

    Dari sisi teknikal saat ini DOT sedang membentuk pergerakan konsolidasi dengan pola symmetric triangle.

    prediksi dot
    Grafik 4 Jam DOTUSD

    Jika harga berhasil bergerak naik keluar dari pola tersebut, kemungkinan besar apresiasi akan berlanjut pekan ini.

    Batas atas yang harus ditembus berada pada $35 hingga $37 untuk mencapai $42 pada pekan ini. Batas pengaman saat ini berada pada $32.

    Indikator RSI menunjukkan potensi koreksi kecil. Tapi, MACD menunjukkan potensi apresiasi bersama harga yang berada di atas MA Cross.

    5. Luna (LUNA)

    Crypto ini menjadi rekomendasi akibat fenomena di sekitarnya sama seperti mata uang crypto Litentry pada rekomendasi pekan lalu.

    Luna sedang menjadi pembahasan akibat adanya sentimen positif dari beberapa influencer seperti Coin Berau yang mempromosikan crypto ini.

    Sentimen positif juga datang dari Terra, perusahaan blockchain Korea Selatan yang mengadopsi Luna sebagai dana cadangan.

    Perusahaan ini dikabarkan akan melakukan inovasi dalam platform pembayaran desentralisasinya yang membuat harga Luna naik.

    Sisi teknikal juga mendukung akibat koreksi yang nampaknya sudah selesai dengan harga yang keluar dari pergerakan ke bawah.

    prediksi luna
    Grafik 4 Jam LUNAUSD

    Batas pengaman apresiasi berada di sekitar $7,8 dan $7,6 dengan tujuan apresiasi pada $8,6 hingga $9 pekan ini jika $8,3 dapat ditembus.

    Terdapat beberapa mata uang crypto lain yang direkomendasikan seperti LTC, VET, dan THETA, namunperlu diperhatikan kembali manajemen risiko yang digunakan.

    Baca Juga: Bloomberg: Harga Bitcoin Bisa US$100 Ribu Tahun Ini

    *Disclaimer

    Seluruh pernyataan dalam artikel ini adalah pandangan dan analisis penulis pribadi dan bukan saran resmi untuk investasi atau trading. Kerugian dan keuntungan yang didapat dari analisis ini bukan tanggung jawab Coinvestasi dan merupakan tanggung jawab investor atau trader masing-masing.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Prediksi 5 Crypto Berpotensi Cuan Pekan Ini

    Pasar crypto masih terlihat hijau dengan hampir seluruh anggotanya mengalami apresiasi dalam beberapa hari terakhir.

    Apresiasi ini masih terus di pimpin oleh Bitcoin yang saat ini masih terus bergerak naik menuju $60.000 atau Rp847 Juta.

    Sehingga dalam artikel ini akan dibahas lima dari beberapa mata uang crypto yang berpotensi memberikan kalian cuan di pekan ini.

    1. Bitcoin

    Mata uang crypto pertama yang patut dilirik untuk mencari keuntungan pada pekan ini adalah Bitcoin.

    Saat ini Bitcoin masih terlihat bergerak naik dan sedang berada di $55.000 setelah terkoreksi dari titik tertingginya pada sekitar $58.300.

    Baca juga: Bitcoin Sentuh Rp739 Juta, Adopsi Investor Institusional Terus Meningkat

    Apresiasi ini terjadi akibat beberapa sentimen positif yang berasal dari investor institusional dengan berlanjutnya pembelian mata uang crypto ini.

    Kabar terbaru berasal dari MicroStrategy dan juga Grayscale yang terlihat berencana dan sedang menambah muatan Bitcoinnya.

    bitcoin
    Grafik 4 Jam Bitcoin

    Dari sisi teknikal nampaknya saat ini Bitcoin masih terus bergerak naik sejak awal Februari 2021, dan belum terlihat melemah kembali.

    Namun setelah menyentuh harga tertingginya, saat ini koreksi nampak masih kuat yang terlihat dari beberapa indikator sehingga tujuan berada di sekitar $55.000.

    Jika naik kembali, saat ini batas atas utama yang perlu ditembus kembali adalah $56.600 sebelum melewati $58.100 dan menuju $60.000 yang bertepatan dengan titik 161,8% Fibonacci.

    Baca Juga: Bobby Lee: Bitcoin US$200 Ribu Akhir 2021

    2. Ethereum

    Bersama apresiasi Bitcoin, umumnya Ethereum akan ikut serta, dan korelasi tersebut masih terbukti benar dengan harganya yang menyentuh daerah atas $2.000 pertama kali dalam sejarah.

    Apresiasi ini disebabkan oleh tiga sentimen yaitu pertumbuhan sektor DeFi yang bergerak di jaringan ETH, kontrak futures yang digemari institusi, dan juga peningkatan dalam staking Ethereum.

    Semua hal tersebut menunjukkan bahwa investor percaya terhadap Ethereum dalam jangka panjang yang membuat sentimen terhadapnya naik secara signifikan.

    Dari sisi teknikal, dapat dilihat bahwa Ethereum juga sedang mengalami koreksi yang membuat kesempatan baik untuk membeli.

    ethereum
    Grafik 4 Jam Ethereum

    Saat ini beberapa indikator juga mendukung koreksi yang kemungkinan akan menuju daerah $1.800. Jikanaik kembali, kemungkinan besar target selanjutnya berada pada $2.100 untuk pekan ini.

    3. Polkadot

    Selain kedua pemain besar tersebut, Polkadot (DOT) juga dapat menjadi perhatian untuk pekan ini. Hal ini disebabkan sentimen positif yang berada di sekitarnya.

    Dua hal utama adalah pembelian Exchange Traded Product (ETP) Polkadot atau semacam reksadana Polkadot yang meningkat oleh investor institusional.

    Selain itu sentimen positif kedua adalah perkembangan pembaharuan sistem yang nampaknya semakin cepat untuk penerbitan parachain barunya.

    Dari sisi teknikal pergerakan DOT juga terlihat sedang terkoreksi setelah menyentuh harga tertingginya di sekitar $42.

    polkadot
    Grafik 4 Jam Polkadot

    Kemungkinan besar tujuan saat ini berada di sekitar $35 hingga $34 sebelum naik kembali menyentuh harga tertinggi barunya.

    Pekan ini kemungkinan besar tujuan selanjutnya adalah pada beberapa batas atas utama yang telah dilewati sebelumnya dan kemudian menyentuh $43 pekan ini.

    4. Aave

    Aave juga menjadi salah satu mata uang crypto yang layak dilirik akibat banyaknya analis yang memprediksi bahwa Aave akan naik pekan ini.

    Salah satu sentimen positif utama adalah pencapaiannya yang didapatkan dari pendapatan pinjaman dan juga jumlah deposit jaminan yang mencapai nilai tertinggi pekan lalu.

    Baca juga: Aave Naik 76% Seminggu, Adopsi Institusional Bertambah

    Aliran dana ini membuktikan bahwa ketertarikan terhadap protokol pinjaman ini terus meningkat yang mendorong harga mata uang cryptonya juga naik secara signifikan.

    aave
    Grafik 4 Jam AAVE

    Dari sisi teknikal, saat ini Aave sedang berkonsolidasi di antara $454 dan $428 setelah keluar dari pergerakan depresiasi beberapa hari terakhir.

    Hal ini menandakan adanya potensi apresiasi bersama beberapa sentimen positif di sekitarnya. Target berikutnya jika bergerak naik ada pada daerah sekitar $500 hingga $550 pekan ini.

    5. Neo

    Neo menjadi crypto terakhir yang terlihat positif untuk pekan ini akibat setelah menyentuh harga tertingginya saat ini pergerakan masih terlihat baik.

    Walau sedang terkoreksi, secara garis besar, pergerakan harga Neo masih positif yang membuat adanya kesempatan beli yang baik.

    Sentimen positif di sekitar Neo saat ini adalah pembaharuan sistemnya dan beberapa adopsi baru yang nampaknya telah menarik perhatian mayoritas pasar.

    neo
    Grafik 4 Jam Neo

    Dari sisi teknikal Neo saat ini terlihat terkoreksi namun masih dalam pergerakan naik yang kemungkinan akan menuju $47,6 sebagai kesempatan untuk membeli.

    Jika kembali naik, kemungkinan besar tujuan selanjutnya berada pada $54,9 yang merupakan harga tertinggi sebelumnya.

    Pada pekan ini, kemungkinan target berada pada $59 hingga $62 yang berdekatandengan titik 161,8% Indikator Fibonacci.

    Beberapa mata uang crypto lain yang dapat diperhatikan juga adalah BNB, CAKE, ADA, LINK, SUSHI, UNI, dan XRP yang hari ini akan melaksanakan sidang penentuan.

    *Disclaimer

    Seluruh pandangan yang ditulis dalam artikel ini adalah pandangan dan analisis pribadi penulis. Keuntungan dan kerugian yang dialami dari analisis ini bukan merupakan tanggung jawab Coinvestasi akibat keputusan investasi murni berasal dari investor.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Menapaki Jejak Perjalanan Bitcoin – Tokocrypto News

    Menapaki jejak perjalanan Bitcoin secara satu persatu memang tak cukup termaktub dalam satu artikel pendek ini. Tapi, setelah 12 tahun berjalan, kelas aset baru itu sukses menjadi buah bibir, sebagai instrumen investasi amat bernilai. Artikel ini hanya secuil penapakan kita, sebagai penyegar pemikiran.

    Sejak muncul pertama kali pada tahun 2008 kehadiran Bitcoin sukses menghadirkan kejutan bagi para investor dan seluruh kalangan di berbagai belahan dunia.

    Harganya yang kini mencapai ratusan juta rupiah, meski bergerak begitu dinamis, menjadikan Bitcoin banyak dilirik oleh berbagai kalangan.

    Bahkan tak sedikit yang percaya bahwa aset kripto—sebagian lebih suka menyebutnya mata uang alias currency—ini telah membantu membuka jalan bagi munculnya aset kripto lain. Pada akhirnya itu mengubah cara pandang dunia soal definisi alat tukar.

    Baca Juga: Pasar Crypto Mulai Hijau, Altcoins Ini Diprediksi Naik 1.000 Kali Lipat

    Langkah Awal Bitcoin
    Ide awal Bitcoin pertama kali diutarakan pada 31 Oktober 2008 oleh Satoshi Nakamoto melalui makalah ilmiah-nya “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System”. Sosok asli Nakamoto masih misteri hingga detik ini.

    Gagasan dasar Nakamoto pada dasarnya sederhana, yakni menciptakan sistem uang elektronik yang berada di luar sistem negara.

    Dalam sistem itu ada dua komponen utama, yakni sistem transfer, penciptaan unit nilai uangnya (monetary unit), juga disebut Bitcoin (BTC) dan sistem moneternya (kendali jumlah unit uangnya yang sangat terbatas).

    Untuk mewujudkan gagasan itu, tulis Nakamoto, semua data transaksi (ledger) harus dibuat terbuka dan disimpan serupa oleh semua pihak yang berada di jaringan itu.

    Karena catatan transaksi didistribusikan secara peer-to-peer, maka sifat desentralistik bisa dimunculkan.

    Itulah sebabnya tidak ada entitas terpusat yang menguasai sistem itu, yang belakangan kita sebut dengan blockchain, karena sekumpulan data terkait secara kronologis

    Berkat jaringan peer-to-peer itu pulalah, potensi double spending terhadap unit uangnya bisa ditekan semaksimal mungkin dan BTC bisa ditransfer secara langsung tanpa melalui lembaga keuangan.

    Penegasan soal itu, menurut Kris Marszalek, CEO Crypto.com, BTC pada prinsipnya secara langsung dikirimkan tanpa melibatkan pihak perantara.

    Baca Juga: Setelah Harga ETH Tembus Rp21 Juta, Apalagi?

    Nilai Awal
    31 Oktober 2008 adalah sekadar pengenalan gagasan besar Nakamoto. Baru pada 3 Januari 2009, block Bitcoin perdana (genesis block) ditambang.

    Itu penanda penting awal sistem blockchain Bitcoin itu berjalan, sekaligus penciptaan unit uangnya, yakni 50 BTC.

    Meski demikian, menurut Profesor Mark Grabowski di Universitas Adelphi, ketika itu BTC masih belum memiliki nilai tukar apapun.

    Seluruh transaksi yang melibatkan pengiriman Bitcoin kala itu dilakukan tak lebih dari sebatas “bersenang-senang” atau sekadar eksperimen teknologi komputer bersalut kriptografi.

    Setidaknya butuh lebih dari setahun kemudian untuk mencatatkan nilai ekonomi pertama dari aset kripto itu, ketika 10.000 BTC ditukar dengan 2 loyang pizza porsi besar bermerek Papa John.

    Transaksi itu terjadi pada 22 Mei 2010 silam oleh Laszlo Hanyecz di Florida, Amerika Serikat melalui Bitcointalk. Ketika itu harga dua loyang pizza setara US$25 (Rp350 ribu dengan kurs hari ini).

    Berpatokan pada transaksi itu, menurut Grabowski, maka nilai awal Bitcoin setidaknya sekitar US$0,0025 per BTC.

    Lantas peristiwa fenomenal itu kelak diperingati setiap tanggal 22 Mei sebagai “Bitcoin Pizza Day” oleh pendukung Bitcoin.

    Bursa Bitcoin Pertama
    Sebelum transaksi pizza itu, pada 15 Januari 2010, seorang pengguna di Bitcointalk membuka bursa Bitcoin pertama, yakni Bitcoinmarket.com. Nilai BTC pun dipatok dengan nilai dolar AS yang disesuaikan dengan permintaan dan penawaran.

    Dari yang awalnya hanya bernilai US$0,0025, per 20 Desember 2020 saja, nilai 1 BTC setara dengan US$23.548,90.

    Dengan valuasi setinggi itu, tidaklah berlebihan jika Bitcoin dianggap sukses mendominasi pasar mata uang kripto. Nyatanya demikian dan sulit dibantah.

    Gejolak Harga Bitcoin
    Ada satu hal yang pasti mewarnai perjalanan sejarah Bitcoin, yaitu harganya yang bergerak demikian dinamis, naik turun alias volatil.

    Menurut penuturan Learncrypto, per Februari 2011 silam, nilai Bitcoin tercatat berhasil menembus US$1. Ini untuk kali pertama sepanjang sejarah. Namun, hanya butuh 4 bulan yakni, pada Juni 2011 harganya meroket ke US$31.

    Momen itu sekaligus menandai “penggelembungan” harga Bitcoin yang terjadi untuk pertama kalinya.

    Dua tahun berselang, pada April 2013, nilainya kembali merangkak naik ke US$200. Nilainya kemudian kembali naik secara signifikan menjadi US$1.000 pada November di tahun yang sama. Setelah beranjak 4 tahun, nilainya menjadi 10 kali lipat.

    Kini, 12 tahun berselang, sejak konsep awalnya dikemukakan, Bitcoin telah mencatat nilai rekor, US$42.000 per BTC (Rp588 juta).

    Nilai tukarnya yang demikian tinggi membuat aset kripto yang satu ini diincar oleh banyak kalangan, tapi bukan berarti harga Bitcoin terus mengalami kenaikan.

    Tercatat di awal tahun 2018, aset kripto ini mencatatkan penurunan nilai tukar secara drastis.

    Beberapa kalangan menyebut bahwa hal itu terjadi di tengah ketidakpastian akibat tingginya tingkat penipuan menggunakan Bitcoin yang terjadi kala itu.

    Di samping itu, awal tahun 2018 juga ditandai dengan rendahnya rasa percaya di antara para penambang Bitcoin.

    Besarnya ketidakpastian di dunia Bitcoin kala itu juga yang kemudian mendorong para pelaku perbankan di berbagai negara untuk mulai masuk ke ranah uang digital itu. Langkah ini kemudian terbukti berdampak positif.

    Hal ini bisa dilihat dari kondisi pasar Bitcoin yang semakin matang. Sistem transaksi Bitcoin menjadi semakin canggih, efisien dan beragam. Pasar spot dibarengi dengan pasar derivatif oleh perusahaan besar seperti CME Groups.

    Para pelaku yang terlibat mulai menerapkan praktik-praktik inti setara lembaga perbankan. Hal ini dilakukan untuk menerapkan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk membangun pasar Bitcoin yang tidak hanya berkesinambungan, tetapi juga layak untuk seluruh aktivitas perdagangan dan investasi Bitcoin.

    Sebuah Ikhtisar
    Perjalanan panjang Bitcoin sungguh menarik untuk disimak, karena belum perlu ada tanda titik yang perlu ditorehkan. Pasalnya, karena Bitcoin mampu mengundang kita untuk kembali mempertimbangkan dua hal penting terkait uang.

    Pertama, sejarah Bitcoin mengajarkan kita bahwa uang pada dasarnya adalah sebuah barang (komoditi), seperti uang dolar di pasar valas.

    Dan Kedua, uang tidaklah muncul begitu saja, melainkan dari sebuah proses pasar yang berkelanjutan, hingga kita menggambarkan nilainya untuk masa depan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Perkembangan Teknologi Penambangan Bitcoin Dengan Komputer

    Selama beberapa dekade terakhir, mesin pemelihara jaringan atau penambangan Bitcoin telah mengalami perkembangan teknologi dengan cepat.

    Peralatan penambangan adalah fitur mendasar dari keberhasilan jaringan Bitcoin karena mesin ini menentukan keuntungan bagi para penambang untuk melakukan apa yang mereka lakukan, yaitu memproses perhitungan yang diperlukan untuk menanamkan blok transaksi pada blockchain.

    Meskipun sedikit terabaikan, sejarah peralatan pertambangan bitcoin ini merupakan penjelasan utama mengapa aktivitas penambangan selama bertahun-tahun ini berkembang menjadi industri bernilai miliaran dolar. Industri tersebut terus berkembangan hingga saat ini, meski terlihat adanya tanda-tanda perlambatan pada perkembangan tersebut.

    Pada artikel ini kita akan melihat sejarah lengkap teknologi penambangan Bitcoin, dan ke arah mana selanjutnya inovasi akan bergerak.

    CPU untuk Penambangan

    Pada 3 Januari 2009, dengan nama samaran Satoshi Nakamoto, ia pertama kali menciptakan penambangan blok Bitcoin. Sebagai satu-satunya penambang di jaringan Bitcoin saat itu, Nakamoto tidak memerlukan peralatan khusus untuk meluncurkan blockchain Bitcoin. Dia mampu membuat blok bitcoin menggunakan komputer pribadi rata-rata.

    Komputer-komputer yang misalnya digunakan untuk menjelajah internet, membuat Microsoft Word, atau sejumlah aplikasi lainnya yang tak terhitung jumlahnya tersebut, semuanya mengandung apa yang disebut Central Processing Unit (CPU). Perangkat ini mengontrol bagaimana perintah di komputer diproses dan dijalankan. Karena kurangnya persaingan penambang, pada awal waktu bitcoin ini, energi komputasi yang diperlukan untuk membuat blok baru dan mendapatkan rewards dari penambangan dapat dengan mudah diproses pada perangkat CPU.

    Perangkat keras yang diperlukan untuk menambang koin baru lalu berevolusi seiring berjalannya waktu ketika para penambang baru bergabung dengan jaringan Bitcoin dan mulai bersaing untuk mendapatkan blok rewards.

    grafik bitcoin mining difficulty

    GPU dan FPGA untuk Penambangan

    Inovasi besar pertama untuk perangkat keras penambangan Bitcoin datang tidak lama setelah nilai pasar untuk Bitcoin didirikan.

    Pada 22 Mei 2010, programmer komputer Laszlo Hanyecz membayar sekitar 10.000 BTC untuk dua pizza Papa John. Jika dalam dolar Pizza tersebut bernilai sekitar $25. Menurut penyedia data cryptocurrency, Coin Metrics, harga pasar Bitcoin kemudian naik di bulan Juli menjadi sekitar 8 sen. Pada saat harga Bitcoin mencapai 10 sen pada Oktober 2010, perangkat penambangan pertama yang memanfaatkan Graphics Processing Units (GPU) kemudian dikembangkan.

    Baca juga: Cara Memilih Mining Pool Terbaik untuk GPU dan CPU

    Tidak seperti CPU, perangkat GPU dioptimalkan untuk melakukan berbagai tugas komputasi yang terbatas. Awalnya GPU dibangun untuk aplikasi game dan unggul dalam komputasi operasi matematika sederhana secara paralel, daripada satu per satu, dalam menghasilkan ribuan piksel gambar yang sensitif terhadap waktu. Perangkat ini juga dapat diprogram ulang untuk menghitung operasi matematika lainnya seperti yang diperlukan untuk penambangan Bitcoin baru.

    gpu mining

    Inovasi penambangan Bitcoin pada perangkat GPU ini, membuat produksi blok Bitcoin dan mendapatkan blok reward rata-rata sekitar enam kali lebih efisien menurut analisis yang dilakukan oleh CEO perusahaan konsultan pertambangan Navier, Josh Metnick. Keuntungan efisiensi ini menggunakan biaya rata-rata perangkat GPU hanya dua kali lipat dari rata-rata perangkat CPU.

    Pada tahun berikutnya, tahun 2011, keuntungan tersebut dengan cepat disusul ketika Field-Programmable Gate Arrays (FPGA) dirombak untuk keperluan penambangan Bitcoin.

    Menurut perhitungan Metnick, FPGA dapat menghitung operasi matematika yang diperlukan untuk menambang Bitcoin dua kali lebih cepat dari GPU kelas tertinggi. Namun, perangkat ini lebih padat karya untuk dibuat.

    FPGA juga memerlukan konfigurasi pada tingkat perangkat lunak dan perangkat keras, yang berarti perangkat harus diprogram untuk menjalankan kode yang disesuaikan, serta dirancang untuk menjalankan kode tersebut secara efisien. Kemampuan dalam menyesuaikan komponen perangkat keras pada FPGA membuat jenis perangkat ini lebih optimal untuk penambangan Bitcoin daripada GPU.

    ASIC untuk Penambangan

    Lalu, selanjutnya ada inovasi besar lain untuk penambangan Bitcoin. Inovasi ini kemungkinan membutuhkan jumlah yang lebih besar pada sumber daya khusus, waktu, dan pengembangan untuk dicapai. Dibandingkan mengubah parameter perangkat lunak dan perangkat keras dari mesin yang ada, terdapat upaya untuk menciptakan mesin baru khusus untuk penambangan bitcoin. Hal ini akhirnya terbayarkan pada tahun 2013, produsen perangkat keras komputer berbasis di Tiongkok bernama Canaan Creative merilis rangkaian pertama Application-Specific Integrated Circuits (ASIC) untuk penambangan Bitcoin.

    Tidak seperti CPU, GPU, dan FPGA, perangkat ini sudah dari awal perancangannya memang dikhususkan untuk menambang Bitcoin. Ini berarti semua komponen perangkat keras dan perangkat lunak dari perangkat ASIC ini telah dirancang dan dioptimalkan untuk menghitung secara ketat perhitungan yang diperlukan untuk membuat blok Bitcoin baru. Keuntungan secara efisien dari ASIC ini tidak dapat ditandingi oleh perangkat-perangkat yang sudah lebih mendahuluinya.

    Sementara itu, Canaan Creative, Produsen ASIC Bitcoin pertama dan produsen seperti Bitamin dan MicoBT juga menghadirkan versi baru perangkat penambangan Bitcoin ASIC dengan perangkat keras yang semakin canggih. Salah satu perkembangan yang paling mencolok dalam teknologi penambangan ASIC sejak 2013 ini adalah pengurangan ukuran chip yang stabil. Ukuran chip ASIC yang mulanya berukuran 130nm pada 2013 telah menyusut menjadi hanya 7nm dalam model perangkat keras terbaru.

    “Tanpa pemasangan teknologi dasar baru yang revolusioner ini, penambang Bitcoin akan segera berhenti aktif melakukan persaingan dasar pada perangkat keras dan peralatan lain seperti yang terjadi selama dekade terakhir”

    Pentingnya ukuran chip akan mengukur pula efisiensi penambangan. Semakin lebar permukaan chip ASIC, semakin besar pula saluran komunikasinya dan oleh karena itu semakin banyak listrik yang diperlukan untuk mengirimkan data pada permukaannya. Menurut perhitungan Metnick, perangkat penambangan Bitcoin ASIC hari ini memiliki 100 miliar kali kecepatan rata-rata CPU pada tahun 2009.

    Baca juga: Transaksi Bitcoin Habiskan Listrik Setara Kebutuhan Rumah Tangga di Inggris Selama 2 Bulan!

    Rakesh Kumar, associate professor Teknik Elektro dan Komputer di University of Illinois, percaya faktor pendorong kuat dari evolusi perangkat keras penambangan selama bertahun-tahun sejak penciptaan Bitcoin ini adalah meningkatnya nilai dolar Bitcoin, yang menjadikan kegiatan penambangan semakin menguntungkan.

    Semakin tinggi nilai pasar dari blok rewards, semakin tinggi pula harga untuk inovasi dalam teknologi penambangan ini yang meningkatkan margin keuntungan penambang seraya mengurangi biaya operasi.

    perkembangan harga bitcoin

    Masa Depan Penambangan Bitcoin

    Sejak 2015, pengurangan ukuran chip pada perangkat penambangan Bitcoin ASIC menjadi lebih lambat dan kurang dramatis dibandingkan tahun 2013 dan 2014. Terlebih lagi, sejak penambang ASIC Bitcoin pertama, belum ada lagi teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi penambangan dengan cara yang sama dengan penambangan GPU untuk penambangan CPU atau penambangan FPGA untuk penambangan GPU.

    asic mining

    “Kami mencapai batas fundamental,” ujar Kumar. “Masalah ini ada di seluruh industri, bukan hanya penambangan (Bitcoin saja), tetapi seluruh industri semikonduktor … Kami membutuhkan perangkat jenis baru.”

    Tanpa teknologi terobosan baru yang revolusioner, penambang Bitcoin akan segera berhenti aktif melakukan persaingan dasar pada perangkat keras dan peralatan lain seperti yang terjadi selama dekade terakhir. Jika perangkat keras penambangan Bitcoin menjadi komoditas di mana keuntungan efisiensi dari satu model sangat berbeda dari model yang lebih baru, penambang akan dipaksa untuk mempertimbangkan bidang lain untuk mendapatkan keunggulan kompetitif. Hal ini dapat terjadi pada inovasi dalam sumber energi, perencanaan keuangan, atau bahkan diversifikasi produk.

    Sementara evolusi perangkat keras penambangan Bitcoin secara historis menjadi sumber peningkatan besar pada efisiensi penambangan, ini mungkin tidak akan terjadi lagi di masa depan, hal itu terutama disebabkan karena inovasi teknologi berbasis perangkat keras menjadi lebih sedikit dan lebih jauh. Persaingan terhadap rewards penambangan Bitcoin akan terus memacu evolusi teknologi. Namun, tidak jelas akan seperti apa lompatan besar berikutnya dalam teknologi pertambangan Bitcoin ini.

    Sumber

     

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 7 Tips Investasi Bitcoin Saat Halving Oleh Pelaku Pasar

    Bitcoin hingga saat ini masih menjadi kripto dengan  kapitalisasi terbesar, mendekati halving popularitas aset ini juga semakin tinggi.  Dengan adanya halving pelaku pasar juga bersiap untuk melihat pergerakan harga Bitcoin. Lalu bagi pengguna aset kripto apakah ini saat yang tepat untuk melakukan investasi Bitcoin ?

    Sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, Ada baiknya Anda memperhatikan tips-tips investasi Bitcoin di situasi halving yang diberikan oleh para pelaku pasar berikut ini.

    Jangan All-in, Masuk Bertahap

    Momen halving memang menggiurkan, pasar juga dikabarkan akan ramai karena trader akan memantau pergerakan harga. Jika Anda sudah merasa yakin masuk ke pasar di situasi halving.

    Menurut Jeth Soetoyo CEO Rupiah Token dan Pintu menyarankan bagi para trader untuk bersikap waspada dan jangan asal memasukkan semua uang dalam crypto, kalau pun ingin masuk lakukan secara bertahap.

    Hal ini bukan tanpa alasan, meski dalam situasi halving para pengguna aset kripto yang ingin melakukan trading tetap harus memperhatikan manajemen risiko yang ada agar trading bisa dilakukan dengan aman dan tenang.

    Baca Juga: “Paus” Bitcoin Tidak Berniat Menjual dengan Harga Saat Ini

    Salah satu cara manajemen risiko adalah membagi modal trading secara bertahap, istilahnya jika modal pertama gagal Anda masih memiliki modal untuk trading selanjutnya.

    Pilih Investasi Menengah dan Jangka Panjang

    Kenaikan harga Bitcoin karena halving baru bisa dilihat dalam waktu beberapa bulan atau bahkan tahun tergantung dari kondisi yang ada. Oleh karena itu, momen halving ini bisa dimanfaatkan oleh para trader  atau holder untuk membeli Bitcoin dan menyimpannya lebih dulu kemudian dijual kembali ketika harga naik.

    Investasi ke Altcoin

    Menurut Vincent Poon Vice President Bithumb Global,  memilih investasi altcoin saat halving bisa jadi pilihan yang tepat. Karena kapitalisasi pasarnya lebih kecil dan mudah dimanipulasi jika ada kabar baik. Walau Bitcoin memang lebih stabil, namun menurut Vincent saat halving pasokannya akan berkurang dan ini bisa menyebabkan BTC mengalami fluktuasi harga yang besar.

    Karena itu jika Anda memang belum memiliki teknik analisis yang baik. Ada baiknya saat halving ini menggunakan altcoin untuk berinvestasi sambil melihat arah pergerakan harga Bitcoin selama halving ini.

    Baca Juga: Perkembangan Teknologi Penambangan Bitcoin

    Convert Keuntungan ke Stablecoin

    Apabila Anda sudah mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan momentum ini, menurut Teguh Harmanda, COO Tokocrypto cara yang bisa dilakukan adalah konversikan keuntungan tersebut ke dalam stablecoin agar lebih efektif dan mudah jika Anda ingin trading tanpa harus melakukan withdraw

    Tetap Disiplin

    Saat trading pastikan Anda tetap disiplin, Douglas Tan Founder Bullwhales yang juga seorang trader mengimbau kepada pengguna kripto bahwa trading atau investasi di situasi halving tetap harus dilakukan dengan disiplin dan hati-hati.

    Jangan terburu-buru yang bisa mengakibatkan kerugian dibandingkan keuntungan. Banyak investasi waktu untuk belajar sentimen pasar global terutama Bitcoin. Kemudian, menurut Wicky Zeroski trader profesional trading pun  harus dilakukan dengan membuat range trading plan yang cukup besar antara risiko dan imbalan yang didapat.

    Lihat Keadaan Market Global

    Menurut CEO TRIV, Gabriel Rey investasi saat halving masih harus menunggu kepastian pasar yang saat ini sangat tidak menentu, dan belum ada kepastian jelas kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

    Namun untuk trader saya sarankan lakukan eksekusi setelah mendapat kepastian pada kondisi pasar. Tapi jika memilih long term investor cara terbaik adalah DCA per harinya dan tidak memperhatikan short-term market, karena dalam 5-10 tahun aset pasti akan naik.

    Trading Derivatif BTC

    Saat halving menurut Chris Tahir, trader dan pendiri dari Cryptowatch menyarankan untuk melakukan trading dengan trading derivatif BTC. Karena dengan trading derivatif mobilitas lebih mudah untuk jual atau beli, dikarenakan dengan melakukan derivatif, harga turun pun bisa mendapatkan keuntungan. Namun apabila ada prediksi harga akan naik, maka boleh dilakukan transaksinya di pasar fisik (spot).


    Itu dia beberapa tips yang diberikan oleh pelaku pasar baik dari exchange atau para trader profesional. Berbagai tips ini bisa Anda gunakan atau dijadikan bahan pertimbangan, namun yang paling penting adalah tetap berhati-hati selama trading meski sedang halving.

    Sebaiknya Anda memiliki manajemen risiko yang baik dan tidak serakah serta gegabah jika melihat harga Bitcoin turun, karena perlu diingat biasanya dalam waktu beberapa bulan harga BTC akan meroket naik.

    Ini adalah artikel seri terakhir dari Bitcoin Halving, seri sebelumnya bisa Anda lihat di sini

    Ingin mengetahui pendapat mereka soal Bitcoin Halving? Anda dapat melihatnya di video berikut ini.

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analis Prediksi Bitcoin Akan Terus Alami Koreksi

    Bitcoin (BTC) turun di bawah $18.000 pada 9 Desember sebagai aksi lanjutan dari penurunan setelah mencapai nilai all-time-high-nya.

    bitcoin turun

    Analis: Harga BTC “Akan Terus Alami Koreksi”

    Dilansir dari data dari Cointelegraph Markets, Coin360 dan TradingView, pasangan BTC/USD kehilangan level support-nya di $18.000. Hal ini dilakukan beberapa jam setelah pergerakan krusial di level moving avarage.

    Baca Juga: Semakin Luas, Polkadot Luncurkan Aliansi DeFi dengan Chainlink

    Pada saat penulisan, posisi terendah baru tercipta di di dekat $17.600. Artinya, selama 24 jam mata uang terbesar ini telah mengalami penurunan lebih dari 7%.

    bitcoin turunBitcoin sedang berada di kondisi yang cukup lemah setelah meninggalkan nilai all-time-high-nya. Beberapa bursa pertukaran mengindikasikan adanya tekanan beli di level $16.200. Sedangkan, tekanan jual juga menguat dan mengkonfirmasi bahwa Bitcoin sedang melaju dengan tren bearish meninggalkan nilai all-time-high $20.000.

    bitcoin turun

    Pengujian Level Bitcoin

    Menurut analis Cointelegraph Markets, Michaël van de Poppe, “Pengujian ketiga pada level support dan breakdown.”

    Baca Juga: CEO BlackRock: Bitcoin Bisa Menjadi Aset Global

    “Pengujian level berkali-kali tidak akan membuat level lebih kuat. Tren turun kemungkinan akan berlanjut? Saya kira begitu, kecuali $18.500-18.700 dapat diklaim kembali. Saya berpendapat kita akan terus mengalami koreksi.”

    Pada waktu pers terdapat topik yang dibahas di antara para trader, lantaran terdapat kekhawatiran pada kesenjangan kontrak berjangka sebanyak $1.300 CME yang belum terpenuhi. Dengan level berada tepat di bawah $17.000, hal ini mewakili dorongan lebih lanjut pada tren turun dalam jangka pendek.

    Namun, Van de Poppe dan analis lainnya secara luas masih optimis, bagaimanapun, level yang lebih rendah akan memberikan kesempatan untuk pembelian kembali dalam jumlah besar.

    sumber.

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analis Ini Sebut 4 Alasan yang Membuat Harga Bitcoin $22.000!

    Harga Bitcoin berada di jalur untuk mencapai $22.000 setara dengan Rp312 juta. Analis ini mengutip empat faktor utama yang dapat meningkatkan momentumnya.

    Philip Swift, seorang analis Bitcoin (BTC) dan pencipta Lookintobitcoin.com, menguraikan empat alasan mengapa harga BTC menuju ke $22.000. Baik faktor fundamental dan teknis menunjukkan momentum cryptocurrency teratas sedang menguat.

    Baca Juga: Survei: Pandemi Covid-19 Tingkatkan Minat Beli Bitcoin

    Faktor tersebut adalah persentase HODL satu tahun, penurunan cadangan pertukaran Bitcoin, tingkat pendanaan netral, dan akumulasi institusional menuju reli BTC yang berkepanjangan.

    “1 thn HODL% masih sangat tinggi? Ya. Bitcoin dikeluarkan dari bursa? Ya. Pendanaan masih netral? Ya. Lembaga masih membeli? Ya. Keren, Sampai jumpa di $ 22K dalam beberapa minggu ketika harga mencapai 350dma x 2 Pengali Rasio Emas,” tulisnya.

    Berikut ini uraiannya.

    Alasan Harga Bitcoin $22.000

    Persentase HODL Menunjukkan Kepercayaan Investor

    Ruang Bitcoin mengacu pada pemegang BTC lama sebagai “HODLers.” Gelombang HODL Satu Tahun menunjukkan pertumbuhan jumlah investor yang memegang BTC selama lebih dari setahun.

    Sejak harga Bitcoin yang anjlok pada Maret, Gelombang HODL Satu Tahun naik dari 59% menjadi lebih dari 62%. Sekarang berada pada titik tertinggi sepanjang masa, menandakan tren akumulasi yang jelas.

    bitcoin bullishGelombang HODL Bitcoin Satu Tahun. Sumber: lookintobitcoin.comKetika jumlah HODLers meningkat, itu menunjukkan keinginan untuk membeli dan menahan Bitcoin untuk waktu yang lama. Tren yang sedang berlangsung mungkin menunjukkan bahwa investor mengharapkan reli Bitcoin yang lebih luas dalam jangka panjang.

    Tingkat Pendanaan Netral

    Selama siklus naik, tingkat pendanaan Bitcoin dapat melonjak secara signifikan karena pemegang atau pembeli lama membanjiri short sellers.

    Pasar berjangka Bitcoin menggunakan mekanisme tingkat pendanaan untuk memastikan keseimbangan di pasar. Jika ada lebih banyak long daripada short, tingkat pendanaan menjadi positif. Jika demikian, pembeli harus mengkompensasi penjual pendek dan sebaliknya.

    Tingkat pendanaan rata-rata dari kontrak berjangka abadi Bitcoin adalah sekitar 0,01%. Selama beberapa bulan terakhir, tingkat pendanaan tetap di sekitar 0,01% atau terkadang di bawahnya.

    Ini menunjukkan bahwa ada keseimbangan yang layak antara pembeli dan penjual, dan pasar belum terlalu bergejolak.

    Seperti yang dilaporkan Cointelegraph, sekitar 145.000 BTC telah keluar dari bursa selama sebulan terakhir. Arus keluar pertukaran Bitcoin bulanan $ 2,3 miliar menunjukkan niat investor untuk mempertahankan kepemilikan BTC mereka sepanjang jangka panjang.

    Investor harus menyetor BTC ke bursa untuk menjual kepemilikan mereka. Oleh karena itu, ketika arus keluar meningkat, ini biasanya mengindikasikan bahwa investor berencana untuk menahan BTC untuk periode yang lama.

    Baca juga: Kenapa sih Harga Bitcoin Bisa Mahal?

    Institusi Membeli Bitcoin

    Di Amerika Serikat, Grayscale tetap menjadi titik masuk yang disukai bagi investor institusional ke Bitcoin. Grayscale Bitcoin Trust adalah sarana investasi terdekat dengan dana yang diperdagangkan di bursa, karena diperdagangkan secara publik di AS.

    Menurut Grayscale, perusahaan tersebut sekarang memiliki lebih dari 500.000 BTC, yang pada titik harga $ 16.700, bernilai lebih dari $ 8,35 miliar.

    Institusi terus mengakumulasi Bitcoin karena mencatat pemulihan yang kuat sejak awal 2020. Ketahanan BTC, terutama karena secara konsisten mengungguli emas, telah membuat penyimpanan proposisi nilai lebih menarik bagi institusi sepanjang tahun.

    Baca juga: Harga Bitcoin Melambung Tinggi, Ini yang Mungkin Terjadi Selanjutnya

    Harga Bitcoin 2017 VS Harga Bitcoin 2020

    Beberapa bulls menyatakan bahwa reli dalam bitcoin ini berbeda dari yang terjadi tiga tahun lalu yang menghasilkan pemalsuan dan membuat harga jadi sangat jatuh lebih rendah.

    Seperti yang ditunjukkan grafik di bawah ini, dilansir dari marketwatch harga bitcoin jauh lebih tinggi daripada saat ini tiga tahun lalu, tulis Matthew Weller, kepala riset pasar di GAIN Capital dalam catatan penelitian.

    Bloomberg, Matthew Weller.Weller menyarankan bahwa ada sedikit sensasi dalam pergerakan bitcoin kali ini dan oleh karena itu, mungkin lebih berkelanjutan bahkan jika ada kemunduran dalam beberapa minggu mendatang.

    “Bitcoin jelas overbought di sebagian besar kerangka waktu jangka pendek dan menengah, jadi kemunduran / konsolidasi singkat kemungkinan akan segera terjadi, tetapi cryptocurrency ini itutup tepat tiga hari di atas harga saat ini di dekat $18.000, jadi ada sedikit yang menghalangi resistensi overhead untuk mencegah tertinggi baru sepanjang masa tahun ini, ”tulisnya.

    Namun tyrader disarankan tetap berhati-hati dan memantau pergerakan Bitcoin, dan jika ingin melakukan perdagangan harap tetap perhatikan risiko yang ada. Sebab, Bitcoin hingga saat ini masih jadi aset yang fluktuatif jadi jangan serakah dan gegabah dalam menjual atau membeli Bitcoin.

    sumber.

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin, Jalan Alternatif? – Tokocrypto News

    Ibarat sel tubuh yang tumbuh tanpa hambatan (proliferasi), Bitcoin (BTC) yang berteknologi blockchain kian merasuki kelompok usia muda (Generasi Z). BTC sebagai mata uang digital (MUD) baru, setidaknya selama satu dekade terakhir adalah sebuah kelaziman bagi kaum “ber-DNA digital” itu. Bitcoin sebagai jalan alternatif?

    BTC semakin dianggap sebagai mata uang (currency) alternatif dengan “nilai paling stabil” dibandingkan mata uang resmi alias fiat currency yang diterbitkan oleh negara dan emas.

    Ketika tulisan ini disusun, harga tertinggi 1 BTC mencapai Rp587 juta dalam dua pekan terakhir. Bandingkan dengan Maret 2020 yang hanya Rp76 juta. Atau ketika diciptakan pertama kali, tidak sampai Rp5 ribu, pada tahun 2009.

    Tentu BTC adalah salah satu dari sekitar 4.800 jenis MUD yang lahir setelahnya dalam sepuluh tahun terakhir. Tetapi, lebih dari separuhnya gagal berkembang (Johnson dan Green, 2019). Universitas Cambridge merilis studi yang memperlihatkan peningkatan pengguna MUD sudah mencapai 101 juta orang hingga September 2020 (2019).

    Cryptocurrency (mata uang digital/elektronik berbasis kriptografi) pada prinsipnya tidak diterbitkan oleh negara, melainkan oleh individu ataupun kelompok-kelompok termasuk perusahaan, melalui pemrograman.

    Baca Juga: Warga AS akan Dapat Stimulus, Harga Bitcoin Diprediksi …

    Bitcoin sebagai Sebuah Sistem

    Oleh perancangnya, Satoshi Nakamoto (2008), Bitcoin didefinisikan sebagai “A Peer-to-Peer Electronic Cash System”; sistem uang elektronik peer-to-peer.

    Tulis Nakamoto dalam paper-nya: Versi uang elektronik murni peer-to-peer akan memungkinkan pembayaran daring (online) dilakukan langsung dari satu pihak kepada pihak lain tanpa melalui lembaga keuangan.

    Sebagai sebuah sistem, yang dimaksud dengan Bitcoin adalah peranti lunak untuk bertransaksi objek bernilai (uang), sekaligus penerbitan bentuk uang (money) dan mata uangnya/nilai uang (currency). Wujud mata uangnya adalah digital (juga disebut Bitcoin [BTC]) dan ditransaksikan melalui Internet.

    Memanfaatkan jaringan transaksi peer-to-peer, bagi Nakamoto, guna mencegah terjadinya double spending (uang digunakan dalam beberapa kali transaksi).

    Nakamoto memang tak menyebut sistem itu dengan istilah “blockchain” dalam paper-nya itu. Istilah “block” dan “chain” ditulis terpisah didalamnya, tetapi mengandung makna serupa terhadap makna “blockchain” yang dikenal dunia saat ini.

    Istilah “block chain” (ditulis dengan spasi) kali pertama disebut oleh Hal Finney, seorang pakar kriptografi asal Amerika Serikat yang juga terlibat memberikan masukan soal “sistem Bitcoin” itu kepada Nakamoto, sebelum sistem itu diluncurkan pada awal tahun 2009.

    Disebut dengan blockchain, karena setiap kumpulan transaksi dicatatkan ke dalam block (sebuah jenis berkas/file khusus). Lantas, setiap block ditautkan/dirantai secara kronologis dan diamankan secara kriptografis (hash). Dalam konteks sistem Bitcoin, kemunculan setiap block ditetapkan rata-rata setiap 10 menit.

    Sedangkan BTC sebagai bentuk uang digitalnya, diterbitkan dalam bentuk imbalan (reward) kepada pihak yang memverifikasi dan memvalidasi transaksinya. Pihak itu disebut dengan istilah miner (penambang), menggunakan alat khusus. Alat ini lazimnya “sangat haus” energi listrik karena perlu daya yang besar.

    Jadi, setiap block terbit, miner yang berhasil memverifikasinya, berhak mendapatkan reward dalam bentuk BTC yang baru.

    Kali pertama sistem Bitcoin diluncurkan, reward yang diperoleh miner adalah 50 BTC per block. Nah, karena Bitcoin menganut faham “deflationary system”, setiap 210.000 block berlaku mekanisme Halving. Mekanisme itu memastikan reward akan berkurang sebanyak separuh.

    210.000 block itu setara dengan periode 4 tahun. Jadi setiap 4 tahun, reward yang diperoleh miner berkurang, mulai dari 50 BTC menjadi 25 BTC. Lalu 25 BTC menjadi 12,5 BTC. Saat ini, sejak Mei 2020 reward-nya (penerbitan BTC yang baru) adalah 6,25 BTC per 10 menit (rata-rata).

    Kelak pada tahun 2024 berkurang separuh lagi, yakni menjadi 3,125 dan seterusnya seperti itu, setiap 4 tahun.

    Pada akhirnya, sekitar tahun 2140 nanti, total BTC yang terakumulasi adalah 21 juta BTC. Tak ada BTC baru yang diterbitkan setelahnya. Saat ini BTC yang sudah ditambang adalah 18.602.600 BTC.

    Dengan kata lain, pasokan (supply) BTC sudah ditetapkan (diprogram) oleh sistem, yakni terbatas hanya 21 juta unit.

    Mata Uang Digital (MUD)  Baru dan Semangat Jalan Alternatif

    Jika dirunut asal muasalnya, kemunculan MUD dipicu oleh ketidakpastian atas nilai uang resmi yang diakui oleh pemerintah, tingginya inflasi, kelambanan operasi dan biaya tinggi perbankan.

    Selain itu, lembaga otoritas keuangan dianggap tidak mampu menjaga nilai tukar uang yang terus menerus terdepresiasi.

    Ratusan orang berlatar belakang disiplin filsafat, matematika, komputer sains, kriptografi dan politik bergabung dalam grup diskusi virtual-mailing list-diberi nama cypherpunk sejak tahun 1992. Mereka adalah sekelompok ahli dan aktivis multidisiplin yang gusar terhadap keadaan dan rute teknologi, ekonomi, sosial, dan politik pada era proliferasi internet jaman itu (Assange, 2016).

    Secara khusus, diskusi awal dimulai dengan kekhawatiran semakin hilangnya privacy dalam dunia digital, yang dilanjutkan dengan diskusi mendasar lainnya yang menantang kemapanan sekaligus kerentanan sistem ekonomi mainstream.

    Pertanyaan penting lainnya yang ingin dijawab adalah bagaimana epistemologi nilai dikembalikan kepada setiap individu.

    Sebagai contoh dalam bentuk operasional; bisakah bank disebut sebagai tempat penitipan aset bernilai, digantikan dan dikembalikan kepada setiap individu itu sendiri? Nah, sampai disini, jawabannya ditemukan: Bitcoin.

    Di sinilah muncul pemberontakan saintifik para cypherpunk; desentralisasi versus sentralisasi. Bank tersentralisasi di pihak ketiga bergeser ke pengertian bahwa “setiap individu adalah bank berjalan”.

    Mata uang dengan nilai tukar yang sama secara permanen versus mata uang resmi dengan nilai tukar yang terdepresiasi. Ide mengembalikan transaksi purba: barter secara adil.

    Blockchain, ekosistem yang dipakai MUD, diletakkan secara saintifik-teknologis plus semangat idealisme gerakan sosial di dalamnya.

    Idealisme otentik dalam sistem blockchain menegaskan bahwa individu harus memiliki kedaulatan atas nilai, tidak tersubordinasi dalam sistem yang eksploitatif; solidaritas (ekonomi) versus individualisme.

    Akademisi di berbagai jurnal ilmiah pun memberikan justifikasi bahwa mata uang berbasis blockchain memang layak dipercaya.

    Baca Juga: Ini Sejarah Lahirnya Logo Bitcoin

    Dari Ide ke Materi

    Kalam telah menjadi materi dan materi telah menciptakan revolusi. MUD ini menggelembung seperti tsunami raksasa lintas negara, menciptakan semacam “chaos” baru.

    Memang, uang ini tidak memposisikan restu negara sebagai prinsip. Jikapun mendapat restu, itu hanya sekadar pelengkap.

    Pada awalnya ada upaya memberangus MUD, namun upaya itu gagal di berbagai negara.

    Para penggagas awalnya memiliki impian akan suatu dunia tanpa penghisapan manusia atas manusia, dunia yang sebisanya tanpa pihak ketiga dalam bertransaksi untuk memastikan nilai yang utuh, akuntabel, rahasia, dan dapat dipercaya.

    Namun, tidak seperti impian ideal para penciptanya, uang digital ini tidak hanya digunakan oleh kelompok Generasi Z untuk bertransaksi.

    Penggunaannya meluas dan mengglobal, tidak hanya sebagai alat tukar, tetapi menjadi komoditi, hingga munculnya kembali jebakan pihak ketiga; broker jual beli mata uang kripto, layaknya jual beli mata uang resmi (valas/valuta asing).

    Tak Berdaulat atas Private Key

    Contohnya, “kode rahasia” (private key) Bitcoin yang sejatinya harus dipegang oleh masing masing pemiliknya, justru disimpan oleh pihak ketiga dengan jaminan rekognisi negara sebagai barang komoditi.

    Seperti pernak pernik terkait Che Guevara yang dikapitalisasi, demikian juga blockchain. Dalam hal ini satu produknya mata uang kripto, pun dibajak kembali oleh kapitalisme.

    Tercatat beberapa negara gagal juga mencoba MUD. Zimbabwe melegalkan MUD untuk mengatasi kehancuran mata uang dolar setempat.

    Kehancuran mata uang bolivar tahun 2018 memaksa presiden Venezuela, Nicholas Maduro untuk menciptakan MUD petro.

    Tidak hanya negara gagal, negara adikuasa seperti Rusia dan Tiongkok telah menciptakan MUD sendiri, termasuk negara tetangga kita, Singapura.

    Hingga tulisan ini dibuat, total perdagangan global uang digital telah mencapai lebih dari satu triliun dolar AS, dimana lebih dari separuhnya bertumbuh pada saat pandemi COVID-19 dimulai sejak tahun 2020.

    Hal ini dipicu krisis dan plus suntikan uang besar besaran berbagai bank sentral negara-negara di dunia ke dalam pasar (UC, 2020).

    Badan resmi PBB dan LSM internasional pun mulai melirik uang digital sebagai alat transaksi dan donasi yang sah.

    Oktober 2019, UNICEF meresmikan UNICEF Cryptocurrency Fund, unit resmi yang beroperasi menerima donasi publik, dan menyalurkan donasi ke seluruh dunia dalam bentuk uang digital.

    Save the Children, sebuah LSM internasional yang ternama, tercatat sebagai LSM pertama yang menerima dan menyalurkan uang digital sejak tahun 2013.

    Setelah itu, ribuan LSM di seluruh dunia mulai menerima dan menyalurkan donasi uang digital.

    Sebagai Komoditi di Indonesia

    Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) telah mengakui beberapa jenis MUD sebagai komoditi, meskipun belum menerimanya sebagai alat tukar yang sah.

    Bak jamur di musim hujan, perusahaan jual beli aset digital/aset kripto bermunculan, dan pengguna nasional meningkat tajam.

    Kapitalisasi uang digital di Indonesia pada minggu pertama Januari 2021 telah mencapai lebih dari Rp6 ribu triliun (Fiat, 2021).

    Lebih jauh, mata uang ini tidak hanya dikejar oleh perusahaan keuangan, korporasi dan hedge fund. MUD berpotensi dipakai sebagai alat transaksi ‘uang panas’ oleh para koruptor, mafia, hingga kelompok bersenjata dan teroris, karena tingkat kerahasiaannya yang nyaris sempurna (RAND, 2019).

    Alhasil, mata uang kripto ini tertelan oleh dunia kapitalisme yang gelap dan mengikuti karakter uang, pendahulunya; aset baru dengan tingkat volatilitas dan berisiko tinggi.

    Kontribusi untuk Bumi yang Lebih Baik, Mungkinkah?

    Sejauh ini, perlu digarisbawahi berjaraknya antara pikiran gerakan (keadilan sosial, ekonomi, dan politik) tentang blockchain dengan para pelaku gerakan itu di berbagai lapangan.

    Pemikirannya melesat jauh, sementara pelaku gerakan sosial terlambat jauh dan tertinggal.

    Ide blockchain semakin condong pada sektor keuangan semata. Alhasil, pelaku utama pengguna gagasan besar ini bergeser cepat dan disambar oleh pasar.

    Sebagai promosi kembali ke “khittah” ideal blockchain, sudah selayaknya pelaku gerakan sosial politik melirik penggunaan teknologi ini sebagai alat perlindungan alam.

    Penghancuran sumber daya alam khususnya hutan di Indonesia sebagai emitter tertinggi karbon penyebab perubahan iklim, terjadi karena ketidak-jelasan tenurial yang sudah berlangsung puluhan tahun.

    Penggunaan teknologi blockchain berbasis rakyat masif, dengan menciptakan aplikasi murah yang tersedia di ponsel, berpotensi melindungi hak atas sumberdaya alam dan menjaga keutuhan keanekaragamannya, termasuk menghindari potensi pencurian hak atas kekayaan hayati.

    Sebagai contoh, jika teknologi blockchain digunakan untuk tatakelola tanah berbasis rakyat di Indonesia, maka kemungkinan munculnya perijinan keliru dan tumpang tindih hak atas tanah akan bisa dihindari, dan dengan sendirinya mengurangi konflik tanah.

    Salah satu perhatian penting para pengkritik aset kripto khususnya terhadap Bitcoin adalah penggunaan listrik berskala besar yang digunakan untuk komputer canggih para penambang di berbagai belahan dunia, utamanya di Tiongkok, Amerika Serikat dan Eropa, pusat-pusat penambangan uang digital.

    Namun, penggunaan listrik para penambang virtual ini tidak apple to apple dengan tambang emas, salah satu pesaing penting uang digital.

    Tambang emas yang murni fisik sejatinya menghancurkan bentang alam dan menghasilkan limbah berskala besar, termasuk mencemari air bersih.

    Secara metaforik, satu cincin emas nikah meninggalkan 20 ton limbah terkontaminasi merkuri dan sianida.

    Dengan kehadiran Bitcoin yang kompetitif berhadapan dengan emas, ada harapan perlambatan penghancuran sumberdaya alam dan hutan.

    Tentu gerakan kolektif dan investasi teknologi diperlukan sehingga ekosistem blockchain mampu dipergunakan secara mudah dan murah oleh masyarakat utamanya petani, masyarakat adat, nelayan, dan berbagai pemangku sumberdaya alam dan hutan di Indonesia.

    Penggunaan MUD untuk menerima dan menyalurkan donasi kepada kelompok sosial rentan yang membutuhkan dukungan sosial di Indonesia, adalah salah satu alternatif yang patut dipertimbangkan, sebagaimana telah dimulai lembaga resmi dibawah Perserikatan Bangsa Bangsa dan lembaga internasional lainnya.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Melewati Batas Atas, Harga Mulai Naik Kembali?

    Bitcoin baru saja berhasil naik melewati batas atas pada $35.000 dan terus berhasil melewati $36.350 yang merupakan batas konsolidasinya beberapa hari terakhir. Akibatnya banyak pihak yang memprediksi bahwa Bitcoin akan kembali menyentuh $40.000 dalam waktu dekat.

    Bitcoin Melewati Batas Atas

    Bitcoin berhasil melewati batas atas konsolidasinya setelah beberapa hari terakhir terlihat stagnan dari sentimen Dolar Amerika. Akibatnya saat ini diprediksi bahwa harga akan mulai menyentuh $38.000 bahkan $40.000 dalam jangka waktu dekat.

    Apresiasi ini juga membuat pola head and shoulders pada grafik 4 Jam rusak yang menandakan bahwa kemungkinan pergerakan ke bawah menjadi lebih kecil. Hal ini disebabkan pada umumnya pola tersebut menandakan bahwa harga akan bergerak turun, yang jika rusak berarti tanda tersebut juga rusak.

    bitcoin ath
    Pergerakan Harga Bitcoin 4 Jam

    Jika apresiasi terjadi dan membalik $36.000 menjadi batas bawah dapat menggagalkan narasi bahwa Bitcoin sedang menuju pergerakan turun setelah jatuh 26,5% pekan ini. Narasi ini muncul juga akibat kapitalisasi pasarnya yang jatuh sekitar $200 Miliar pekan ini.

    Walaupun terjadi depresiasi ini, mayoritas pelaku pasar keuangan masih terus memiliki pandangan positif terhadap Bitcoin dan pasar crypto secara menyeluruh. Pandangan positif ini mendapat dorongan besar dari Office of the Comptroller of the Currency (OCC).

    Baca juga: 3 Cara Aman Beli Bitcoin Saat Harganya Meroket

    Biro independen yang mengurus tentang mata uang di Kementerian Keuangan ini baru saja memperbolehkan penggunaan stablecoins. Penggunaan ini dikhususkan untuk bank dalam melaksanakan transaksi dan untuk menjadi kustodian bagi stablecoins itu sendiri.

    Salah satu bukti nyatanya adalah Anchorage yang baru saja diizinkan oleh OCC untuk menjadi kustodian bank digital pertama. Hasilnya dengan adanya pernyataan positif tentang mata uang crypto dari Kepala OCC, pelaku asar crypto melihat kabar ini sebagai sentimen positif dan terus mendukung crypto walau sedang turun.

    Sektor DeFi dan Altcoins Juga Menguat

    Kondisi pasar saat ini sangat mencerminkan pergerakan pasar sebelumnya dimana Bitcoin mengalami koreksi tajam yang berujung pada konsolidasi setelah adanya apresiasi berbentuk parabola.

    Saat fase konsolidasi ini, mayoritas investor lebih sering mengalokasikan dananya pada altcoins. Pergerakan ini nampaknya telah terjadi lagi dengan volume perdagangan altcoins hari ini yang naik bersama apresiasi harganya.

    Baca juga:Coinfest 2021: Prediksi Koin DeFi Berpotensi Naik di 2021

    Dengan Bitcoin yang baru saja berkonsolidasi di $32.000 dan $35.000 beberapa hari terakhir, Ethereum mengalami apresiasi. Pada saat konsolidasi tersebut, ETH naik sekitar 3,96% dan berada di harga $1.120.

    Selain itu, Polkadot (DOT) juga terlihat mencetak rekor baru dengan apresiasinya yang hampir mencapai 37% bersama Kusama (KSM) yang naik lebih dari 21%. Secara keseluruhan kapitalisasi pasar crypto telah mengalami apresiasi dan berada di $983,5 Miliar.

    Bitcoin Masih Mendominasi

    Walaupun terjadi apresiasi di seluruh pasar crypto, saat ini Bitcoin masih terlihat mendominasi. Tingkat dominasi Bitcoin di pasar crypto saat ini terlihat telah mencapai 68,7% yang walau turun, tetap menunjukkan kekuatan Bitcoin.

    Oleh karena itu, dengan mayoritas altcoins yang kembali konsolidasi setelah mengalami apresiasi signifikan, nampaknya saat ini Bitcoin akan mulai naik kembali. Kemungkinan besar, dengan adanya apresiasi sebelumnya, target pada $40.000 saat ini masih sangat mungkin.

    bitcoin ATH
    Pergerakan Harga Bitcoin 1 Jam

    Tetapi sayangnya saat ini apresiasi tersebut masih terhalang oleh batas atas yang jika berhasil dilewati dapat membawa Bitcoin kembali ke zona pergerakan naik sebelumnya. Pada grafik 1 Jam, saat ini volume perdagangan masih belum besar, yang membuat Bitcoin masih kesulitan untuk naik.

    Ada kemungkinan bahwa pergerakan naik saat ini hanya sebuah retest akibat setelah menyentuh zona apresiasi sebelumnya, Bitcoin bergerak turun. Namun, sesi perdagangan Amerika dapat merubah semua akibat volume umumnya memuncak pada sesi tersebut.

    Kemungkinan besar harga saat ini akan turun mencapai $36.350 sebelum naik kembali menuju $37.445. Jika berhasil naik kembali dan menembus batas tersebut, kemungkinan target selanjutnya berada di $38.700 sebelum menuju $40.000.

    Baca Juga: Perusahaan Penasihat Keuangan Borong Bitcoin?

    Namun, jika turun kemungkinan besar batas selanjutnya berada pada $35.600 yang kemungkinan akan menjadi batas pengaman terakhir. Jika ditembus, kemungkinan harga akan kembali bergerak turun walau kemungkinannya sangat kecil.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Perusahaan Penasihat Keuangan Borong Bitcoin?

    Hasil survei yang diterbitkan belum lama ini oleh Bitwise, mengungkap jumlah perusahaan penasihat keuangan asal Amerika Serikat yang memborong Bitcoin melonjak 50 persen antara tahun 2019 dan 2020.

    Bitwise mensurvei hampir seribu perusahaan penasihat keuangan dan menemukan beberapa indikator yang menunjukkan industri penasihat keuangan lebih berminat terhadap aset kripto itu pada tahun 2020 dibanding tahun 2019.

    Baca Juga: Perencana Keuangan yang Investasi Crypto Dikabarkan Naik 50%

    “Adopsi dan minat bertumbuh, survei ini menegaskan jumlah penasihat yang membeli bisa berlipat ganda dalam setahun ke depan,” jelas Hougan dari Bitwise.

    Menurut Bitwise, ada peningkatan 50 persen dalam jumlah penasihat yang membeli kripto. Angka ini bertumbuh dari 6,3 persen menjadi 9,4 persen di tahun 2020.

    Selain itu, 17 persen penasihat keuangan mempertimbangkan untuk membeli kripto pertama kalinya tahun ini.

    Di antaranya, 2 persen pasti membeli kripto tahun ini, sedangkan 15 persen mungkin akan melakukannya.

    Bila 17 persen melakukannya, Bitwise mengklaim hal ini akan menggandakan jumlah penasihat yang memborong kripto, sehingga adopsi mencakup satu diantara lima penasihat.

    Ketika ditanya apa motivasi utamanya, 54 responden survei berkata mengincar imbal hasil. Menurut Bitwise, hasil ini sesuai dengan hasil survei tahun lalu.

    Baca Juga: Konsumsi Listrik Tambang Bitcoin Lampaui Belanda, Dekati Uni Emirat Arab

    Sebagai perbandingan, perlindungan terhadap inflasi adalah tanggapan yang mengalami peningkatan persentase paling besar antara 2020 dan 2019. Tahun 2020, perlindungan inflasi diprioritaskan oleh 25 persen penasihat dibanding 9 persen tahun lalu.

    Survei juga memperlihatkan 81 persen penasihat ditanya soal kripto oleh kelian mereka. Poin ini meningkat 76 persen dari tahun 2019.

    Penasihat keuangan juga semakin optimis soal harga Bitcoin. Menurut survei, 15 persen responden memrediksi harga Bitcoin akan melampaui US$100 ribu dalam lima tahun. Di tahun 2019, hanya 4 persen penasihat keuangan yang optimis.

    Selain itu, persentase penasihat keuangan yang menduga harga Bitcoin akan menjadi nol berkurang dari 8 persen menjadi 4 persen.



    Sumber : news.tokocrypto.com