Tag: btc

  • Bitcoin Koreksi Lebih Dalam! Menurut Analis Masih Sehat dan Wajar

    Bitcoin dikabarkan telah koreksi dalam, kemarin malam pukul 23.00 WIB ke sekitar $30.200 bersama kapitalisasi pasarnya yang jatuh $200 Miliar. Koreksi ini membuat mayoritas pasar crypto turun karena terimbas efek sentimen depresiasi.

    Walaupun koreksi terjadi sangat dalam, mayoritas analis menyatakan bahwa koreksi ini adalah pergerakan yang sehat dan wajar. Tetapi banyak pihak yang bertanya jika terus turun apakah pergerakan tersebut akan menghilangkan potensi apresiasi dari pergerakan beberapa pekan terakhir.

    Bitcoin Koreksi Lebih Dalam

    Mayoritas altcoins terlihat jatuh bersama Bitcoin kemarin pada 11 Januari 2021. Setelah berada di atas $41.500 Bitcoin mengalami koreksi yang cukup dalam yang membawanya turun ke sekitar $30.200 kemarin.

    Koreksi ini berdampak pada beberapa pasar lain yang salah satunya adalah pasar future dimana sekitar $2,7 Miliar kontrak future atau berjangka terlihat dilikuidasikan. Likuidasi ini terlihat jelas terjadi bersamaan akibat pergerakan grafik candlestick yang terjadi bersamaan antara kedua pasar.

    Baca juga: Dolar Menguat, Rp34,07 Triliun Crypto Dijual Hari Ini!

    Koreksi ini telah membuat beberapa analis dan tokoh keuangan membuka suara untuk menyatakan pandangan mereka ke depannya. Salah satu pihak yang terlihat membuka suara adalah Mark Cuban, salah satu tokoh terkenal di dunia keuangan.

    Beberapa Tokoh Buka Suara

    Mark Cuban menyatakan bahwa koreksi yang terjadi saat ini mirip dengan apa yang terjadi pada saham di 1990 dimana terjadi internet stock bubble. Kejadian ini adalah kejadian dimana pasar saham naik secara signifikan sebelum turun akibat fenomena terbukanya internet pertama kali kepada masyarakat.

    Fenomena tersebut adalah salah satu fenomena yang membuat Mark Cuban menjadi Miliuner saat ini, sehingga beliau sangat memahaminya. Beliau saat ini melihat bahwa kondisi crypto sedang sangat mirip dengan kejadian 1990 tersebut.

    Baca juga:CEO ShapeShift Prediksi Kapitalisasi Pasar Crypto $2 Triliun

    Namun, beliau melihat perbedaan dimana Bitcoin, Ethereum, dan beberapa lainnya akan sama seperti saham Amazon dan eBay, dimana mereka akan naik setelah koreksi ini. Pernyataan ini juga didukung oleh salah satu tokoh di dunia keuangan yaitu CEO dari Celsius, Alex Mashinsky.

    Alex menyatakan bahwa beliau melihat koreksi ini sebagai pergerakan yang sehat dan wajar. Beliau menyatakan bahwa terdapat kemungkinan koreksi mencapai $16.000 sebelum harga naik kembali, dan menurutnya hal tersebut sangat wajar.

    Mayoritas Analis Mendukung

    Mengingat Bitcoin naik dari $17.000 ke $41.000 hanya dalam kurang dari satu bulan, David Lifchitz, CIO dari ExoAlpha melihat bahwa koreksi ini adalah koreksi sehat. Beliau melihat bahwa koreksi ini terjadi akibat institusi yang membeli di sekitar $20.000 dan $30.000.

    Beliau merasa bahwa koreksi ini masih wajar akibat volume dari perdagangan yang terlihat terus naik dari hari ke hari. Sehingga dengan naiknya volume perdagangan maka volatilitas juga akan naik yang membuat koreksi ini terjadi semakin dalam.

    Baca Juga:Mendalami Hubungan Pasar Future dan Spot Bitcoin

    David juga melihat pergerakan ini sangat dipengaruhi oleh Twitter, dimana terjadi korelasi antara pergerakan harga dan cuitan mengenai Bitcoin di Twitter. Penemuan ini membuat beliau percaya bahwa harga Bitcoin masih dapat terus naik sehingga koreksi ini hanya sementara.

    Hal ini disebabkan dengan naiknya cuitan maka umumnya harga akan ikut naik, dan saat ini cuitan masih terlihat terus naik. Sehingga setelah koreksi ini masih ada potensi yang sangat besar untuk Bitcoin dan keseluruhan pasar crypto untuk naik kembali.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tom Lee: Harga Bitcoin Bisa Lebih dari US$40 Ribu Pada Tahun Ini

    Tom Lee dari Fundstrat Global Advisors mengatakan, bahwa harga Bitcoin bisa lebih dari US$40 ribu (Rp564 juta) pada tahun ini. Prediksi Lee pada Desember 2019, bahwa tahun 2020 Bitcoin berkinerja lebih baik memang jadi kenyataan.

    Pada 30 Desember 2020 lalu, David Grider Direktur Strategi Aset Digital di Fundstrat Global Advisors, telah menaikkan target harga enam hingga dua belas bulan untuk Bitcoin menjadi US$40.000. Namun, Tom Lee mengharapkan harga Bitcoin jauh lebih tinggi daripada tahun 2021.

    Menurut laporan yang diterbitkan oleh Barron’s pada hari Rabu (30/12/2020), Grider menulis dalam sebuah catatan kepada kliennya.

    “Reli lanjutan akan terjadi hingga tahun depan. Kami tetap bullish dan menaikkan target harga Bitcoin kami dari US$25.000 menjadi US$40.000. Kami merekomendasikan investor yang ingin menambah investasi Bitcoin-nya mengingat kinerja baru-baru ini dan valuasi yang lebih tinggi,” sebut Grider.

    Kemarin, 31 Desember 2020, Melissa Lee, pembawa acara “Fast Money” di CNBC bertanya kepada Thomas LeeCo-Founder, Managing Partner dan Kepala Riset di Fundstrat, apa pendapatnya tentang prediksi harga Grider.

    Lee menjawab, “Angka itu berasal dari David Gride, tapi saya pikir dalam angka bulat, tahun 2021 akan menjadi seperti 2017, yang berarti Bitcoin akan bekerja lebih baik pada 2021 daripada pada tahun 2020, jadi naik lebih dari 300 persen.“

    Dia pun menambahkan, bahwa nilai Bitcoin relatif berbandingkan nilai dolar AS, jika dolar melemah, tetapi Bitcoin menahan nilainya, maka harga Bitcoin naik.

    “Tetapi efek yang lebih penting adalah, tahun ini, kami melihat banyak likuiditas bank sentral. Dolar benar-benar kuat, tetapi kelemahannya sekarang benar-benar akan membuat orang berpikir bagaimana Anda menyimpan sesuatu pada aset lain agar nilai uang Anda sehat. Saya rasa Bitcoin adalah aset digital yang ingin mereka pegang untuk menjaga nilainya,” kata Lee.

    Prediksi 2019 Menjadi Nyata di 2020
    Pada akhir Desember 2019 Tom Lee pernah menegaskan bahwa pada tahun 2020 Bitcoin akan berkinerja lebih baik. Sebagai sebuah prediksi, setidaknya ia benar dan di ujuang tahun 2020, Raja Aset Kripto itu berhasil menembus lebih dari US$28.000, lalu hari ini pada Tahun Baru lebih dari US$29.000 per BTC.

    Kala itu Lee mengatakan pelemahan harga Bitcoin sejak Juli 2019 dapat dimaklumi. Sebab, tekanan datang dari regulator dari sejumlah negara. Tapi, Lee berpendapat bahwa Bitcoin bisa berkinerja lebih baik pada tahun 2020.

    Katanya, pelemahan dan sikap resisten datang melalui sidang senat dan DPR Amerika Serikat yang mempersoalkan proyek Libra yang melibatkan Facebook dan beberapa perusahaan swasta ternama lainnya. Pemerintah Amerika Serikat juga secara-terangan tidak menyukai Bitcoin.

    “Saya tidak melihat pertumbuhan adopsi Bitcoin yang besar sejak Juli 2019. Namun, dalam beberapa tahun ke depan, saya melihat adopsi yang lebih besar akan terjadi terhadap aset kripto dan Bitcoin, khususnya terkait dengan Bitcoin Reward Halving. Untuk saat ini pasar modal tradisional sedang di puncak tertingginya. Dan investor cenderung tidak membeli Bitcoin, karena dianggap lebih berisiko tinggi. Dan Tiongkok sendiri memberikan penegasan yang sangat kuat kepada dunia, bahwa mereka mendukung soal aset digital/aset kripto, yang merupakan produk dari teknologi blockchain,” kata Lee kepada CNBC, Rabu (27/11/2019.

    Di samping itu, Lee mengatakan bahwa penurunan 50 persen baru-baru ini tidak mengubah prospek jangka panjang untuk Bitcoin. Prospeknya tetap positif. Memang, sejumlah analis mencatat bahwa tahun-tahun di mana Bitcoin berkinerja sangat baik, berkorelasi dengan tahun-tahun yang kuat pada indeks S&P 500 dan indeks aset lainnya.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Riset: Hanya 4,2 Juta Bitcoin yang Likuid, Tanda Kenaikan Besar Lagi?

    Perusahaan peneliti Glassnode mengungkapkan bahwa hanya 4,2 juta Bitcoin (BTC) yang bersifat likuid dari 18,5 juta BTC saat ini yang beredar (circulating supply). Selebihnya, sekitar 14,5 juta BTC bersifat “tidak likuid”, karena di-hold.

    “Likuiditas Bitcoin didefinisikan sebagai nisbah (ratio) rata-rata BTC yang diterima dan dikirim oleh pemiliknya. Saat ini, sekitar 14,5 juta BTC masuk golongan tidak likuid, sehingga hanya 4,2 juta BTC yang beredar secara konstan dan tersedia untuk diperdagangkan,” jelas Glassnode.

    Baca Juga: Ini Alasannya Kalian Harus Masukkan Bitcoin Sebagai Investasi di 2021

    Pernyataan Glassnode mengindikasikan, bahwa tekanan jual terhadap Bitcoin mungkin akan semakin kecil. Dari 14,2 juta BTC itu pula, yang disebut tidak likuid, sebagian bisa saja tidak dapat diakses karena pemiliknya lupa private key atas wallet-nya, atau pula bisa saja sang pemilik sudah meninggal dunia alias “aset beku”.

    Protokol Bitcoin memiliki keunggulan sistem yang terbukti secara matematis serta memungkinkan jumlah unit BTC menjadi langka. Satoshi Nakamoto menentukan batas pasokan maksimal hanya 21 juta BTC, dan saat ini beredar sekitar 18,5 BTC.

    Soal pasokan Bitcoin, periset dari perusahaan analisis Glassnode menyebutkan, bahwa jumlah BTC yang likuid dan tidak likuid.

    Data tersebut menemukan bahwa sekitar 78 persen dari pasokan beredar Bitcoin tidak likuid dan hanya 4,2 juta BTC yang beredar secara konstan.

    Kendati bursa-bursa aset kripto memiliki jumlah Bitcoin banyak untuk diperjualbelikan, menurut Glassnode, 78 persen dari pasokan beredar saat ini bersifat tidak likuid.

    Maksudnya adalah, besaran 78 persen itu tidak tersedia untuk dibeli, menandakan sentimen positif dari investor, sebab sebagian besar BTC disimpan sehingga mengurangi tekanan jual.

    Data on-chain menandakan tren positif di harga aset kripto saat ini didorong oleh isu likuiditas.

    Selama setahun terakhir, lembaga keuangan besar dan pengelola hedge fund ternama membeli Bitcoin dalam jumlah banyak.

    Daftar perusahaan dengan Bitcoin dalam perbendaharaannya meningkat pesat tahun ini, di mana 29 perusahaan tenar membeli total 1,1 juta BTC untuk disimpan sebagai aset cadangannya agar nilai uangnya tidak tergerus pelemahan nilai dolar AS.

    Periset Glassnode menambahkan, selama tahun 2020, total 1 juta BTC menjadi tidak likuid. Ini menandakan semakin banyak investor yang menyimpannya. Hal ini dapat ditafsirkan, bahwa bull run saat ini tampaknya didorong oleh krisis likuiditas. Dan berlanjut pada awal tahun 2021 ini.

    Glassnode menyimpulkan jumlah Bitcoin likuid dan tidak likuid dalam peredaran memiliki tautan jelas dengan pasar Bitcoin.

    Data menunjukkan, sejak tahun 2017 pasokan Bitcoin tidak likuid menggelembung lebih dari Bitcoin yang diterbikan oleh para penambang. Pola ini sebelumnya terjadi pada bull market tahun 2017 silam.

    Menurut data Bituniverse yang bersumber dari Peckshield, Etherscan dan Chain.info, bursa-bursa aset kripto menyimpan lebih sedikit Bitcoin dibanding tahun lalu.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin dan Ethereum Sedang Mainkan Pullback Sebelum Bullish

    Mengutip dari surat kabar Technical Roundup edisi terbaru, seorang analis crypto yang diikuti dengan cermat mengatakan bahwa aset digital terkemuka Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) menunjukkan pergerakan bullish tetapi pullback sedang dimainkan sekarang.

    Analis yang biasanya dipanggil Cred mengatakan bahwa Bitcoin berpotensi kembali menetapkan harga di kisaran $38.000 dan $40.000 saat bergerak dari support ke resistance karena disitulah pullback dimainkan.

    “Metrik tren Bitcoin bergerak lambat yang kami lihat dari waktu ke waktu (rata-rata pergerakan Bitcoin selama 21 minggu, rata-rata pergerakan 50 minggu, dan rata-rata pergerakan 200 hari) semuanya berkerumun di sekitar $50.000. Di titik itu pullback mulai berhenti.”

    Baca jugaManchester United Lakukan Kemitraan Eksklusif dengan Tezos

    Pergerakkan Harga Bitcoin

    Sementara ketika Ethereum menguji ulang level $3,050 hingga $3,310. Cred juga memberikan target harga potensial apakah ETH akan breaks out atau bounces dari titik harga ini.

    Hasil menunjukkan Ethereum menetapkan harga ditengah-tengah level harga yang diuji, berkisaran $3,230 pada saat penulisan.

    “Jika rentan harga $3,050-$3,310 ditetapkan sebagai area pullback, area rendah yang lebih tinggi dapat ditemukan di kisaran harga $2,700. Jika tidak, perhatian kami tertuju pada kisaran rendah yang belum teruji di $1.900.”

    Pergerakkan Harga Ethereum

    Diluar dari sebagian aset raksasa crypto yang sedang berjuang mengejar bullish. Berita baik datang dari manajer aset digital CoinShares yang mengatakan pemulihan pasar crypto minggu lalu sedang berjalan disertai inflows investasi institusional yang signifikan.

    Menurut laporan Digital Asset Fund Flows terbaru, crypto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar. Bitcoin, menikmati bagian terbesar dari investasi institusional minggu lalu.

    Baca jugaKetahui Definisi dan Cara Membaca Doji Candlestick Crypto!

    “Bitcoin terus memimpin inflows dengan keuntungan $71 juta minggu lalu. Terbesar sejak awal Desember dengan inflows 3 minggu ini berjumlah total $108 juta.”

    Sementara platform smart contract Ethereum, sayangnya harus mengalami outflows minggu kesembilan berturut-turut, dan mencatat kehilangan $8,5 juta dalam investasi institusional minggu lalu.

    Berbeda nasib dengan Ethereum, Solana (SOL), Polkadot (DOT), Terra (LUNA) dan Cardano (ADA) semuanya melihat inflows masing-masing sebesar $2,4 juta, $2,2 juta, $1,4 juta dan $1,1 juta.

    Ini juga menandakan minggu pertama inflows investasi institusional yang signifikan untuk LUNA.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bidikan Harga Bitcoin US$100 Ribu per BTC, Masih Terlalu Kecil

    Willy Woo, Analis Bitcoin (BTC) mengatakan bahwa bidikan harga Bitcoin US$100 ribu per BTC, masih terlalu kecil. Woo meramalkan kenaikan lebih tinggi lagi. Waspadai pula banyak “whale” mulai masuk kembali ke bursa.

    Hal itu disampaikan Woo ketika Bitcoin pada 17 Desember 2020 lalu berhasil menyentuh capaian tertinggi baru lagi, yakni US$23.000 per BTC.

    Baca Juga: Surat kepada SEC: Yuan Digital Ancam Amerika Serikat (AS)

    “US$100 per BTC adalah sasaran yang sangat rendah pada lintasan saat ini. Sasaran berikutnya US$55 ribu. Ketika itu Bitcoin menjadi aset bernilai sekitar US$1 triliun,” kata Woo, dilansir dari Cointelegraph, 17 Desember 2020.

    Woo bersandar pada model ramalan Bitcoin “Bitcoin Top Cap“. Grafik model itu mengungkapkan bahwa sasaran menuju US$100.000 masih tergolong “konservatif”, yang mencerminkan penguatan lebih lanjut di atas itu.

    harga bitcoin

    Woo juga menekankan bahwa level US$55.000 sebagai harga tonggak penting bagi Bitcoin karena itu berarti aset kripto akan mencapai 10 persen dari kapitalisasi pasar emas.

    Saat ini, kapitaliasi  emas diperkirakan sekitar US$9 triliun. Di atas harga US$50.000, per BTC, maka Bitcoin akan mulai merambah sebagian besar kapitalisasi pasar emas, yang tetap menjadi aset safe-haven yang dominan.

    Order book dan tren volume perdagangan Bitcoin di sejumlah bursa juga menandakan adanya sentimen positif membidik US$30.000.

    Baca Juga: Grayscale: Permintaan Terhadap Ether (ETH) Meningkat Tajam

    Jika momentum pasar berjangka, options, dan spot dipertahankan selama beberapa hari mendatang, kemungkinan Bitcoin bisa mencapai US$30.000.

    harga bitcoin
    Potensi ancaman harga Bitcoin terkoreksi dalam, ketika sejumlah pemain besar Bitcoin masuk kembali ke sejumlah bursa aset kripto. Sumber: CryptoQuant.

    Namun, di masa mendatang, salah satu ancaman bagi Bitcoin adalah arus masuk “whale“. Data dari CryptoQuant menunjukkan arus masuk Bitcoin oleh Whale ke sejumlah bursa meningkat. Ini belum pernah terlihat sejak Maret 2020, ketika Bitcoin ambruk parah.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Faktor Ini Diduga Jadi Penyebab Harga Bitcoin Sentuh $24.000

    Bitcoin pecahkan rekor lagi, Sabtu tengah malam (19/12/2020) harga Bitcoin (BTC) berhasil menyentuh di atas $24.000. Di coinbase harga BTC sempat terpantau berada di harga $24.200, di Binance  $24.171, di Coingecko  $24.072 dan di Coinmarketcap tercatat harga Bitcoin berhasil menyentuh $24.085.

    Tiga faktor yang diduga mendorong harga BTC naik dalam waktu singkat, adalah tekanan shorts yang besar, pesanan jual yang bertumpuk pada $23.600, dan reaksi pasar terhadap proposal aturan self custodiad wallet Departemen Keuangan AS.

    Baca Juga: Langganan Streaming Spotify Akan Bisa Dibayar Dengan Bitcoin

    Faktor Bitcoin Sentuh $24.000

    Penurunan Harga Besar-besaran Terjadi Lagi pada $23.600

    Menurut data dari Bybt.com,  shorts contract senilai $138 juta telah dilikuidasi.  Likuidasi massal shorts contract terjadi tepat ketika Bitcoin melampaui $23.600. Area $23.600 adalah level resistensi utama karena pesanan jual yang bertumpuk di seluruh bursa utama.

    Data likuidasi pertukaran Bitcoin. Sumber: Bybt.com

    Di Bitfinex, level resistensi $23.600 dan $ 23.800 memiliki pesanan jual yang besar sebelum reli terjadi. Ketika harga Bitcoin mulai meningkat, ia mengurangi posisi jual dan penjual di kisaran resistensi $23.600 hingga $23.800.

    Dilansir dari Cointelegraph, biasanya, tekanan short  terjadi ketika penjual dipaksa untuk membeli posisi pasar mereka karena harga Bitcoin naik. Hal ini menyebabkan permintaan pembeli melonjak dalam waktu singkat, seringkali menyebabkan penembusan besar ke sisi atas.

    Pasar Tidak Terpengaruh oleh Aturan FinCEN A.S.

    Pada 19 Desember, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengungkapkan proposal aturan tentang self custodiad wallet.  Aturan tersebut mengharuskan bursa untuk melacak penarikan dan setoran di atas $3.000 yang berasal dari dompet non-kustodian. Jika transaksinya melampaui $10.000, maka bursa harus melaporkan langsung ke Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN).

    Namun, seperti yang dijelaskan para analis, aturan itu sendiri tidak seburuk yang diperkirakan para eksekutif industri. Cointelegraph melaporkan bahwa kecuali proposal tersebut menjadi undang-undang, harga Bitcoin dan pasar crypto yang lebih luas kemungkinan akan mengabaikan berita tersebut. Namun, terlepas dari katalis positif, dalam waktu dekat, pedagang percaya Bitcoin dapat berkonsolidasi atau mundur yang disebabkan perpanjangan reli yang berlebihan.

    Baca juga: Bitcoin Berhasil Lewati Rp330 Juta, Ini Dia Penyebabnya

    Ttitik Support $18.500 Perlu Diperhatikan

    Pergerakan ini melanjutkan tren yang telah berkembang dalam beberapa minggu terakhir, pergerakan harga yang signifikan terjadi selama akhir pekan daripada hanya selama seminggu. Pada hari Sabtu, Van de Poppe mendesak agar berhati-hati, dengan alasan bahwa support penting masih jauh lebih rendah pada grafik BTC / USD di $ 18.500.

    “Reli vertikal seperti itu tidak akan bertahan lama. Jadi, koreksi akan terjadi di beberapa titik. Namun, memprediksi kapan itu terjadi masih dugaan dan bisa saja dengan mudah mencapai $30.000 dan kemudian melihat koreksi 30%,” katanya.

    Jika melakukan kilas balik di Maret 2020 di mana harga Bitcoin bertengger di kisaran angka $4.000-$5.000, maka dengan harga $24.000 semalam artinya Bitcoin sudah berhasil mencatatkan peningkatan lebih dari empat kali lipat kurang dari satu tahun.

    Baca juga: Ikutan Bitcoin, Ethereum Capai Harga Tertinggi 2020!

    Perbaikan harga yang mengesankan bagi aset yang  baru berusia 11 tahun ini. Dengan kenaikan harga terbaru, persentase keuntungan Bitcoin dari tahun ke tahun telah tumbuh menjadi lebih dari 225%. Kenaikan Bitcoin ini juga mendorong altcoins lainnya, contohnya adalah Litecoin yang melonjak lebih dari 50% minggu ini.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Berhasil Lewati Rp330 Juta, Ini Dia Penyebabnya

    Bitcoin berhasil naik dan sempat melewati $23.400 atau sekitar Rp330 Juta. Sejak kemarin malam, beberapa penyebab Bitcoin mengalami pergerakan kuat nampaknya didasari pada FOMO.

    Bitcoin Berhasil Naik Akibat dari The Fed

    Saat ini mayoritas sentimen terhadap Bitcoin nampaknya sedang dipenuhi oleh banyak FOMO yang disebabkan The Fed. Setelah adanya percakapan dari FOMC (The Foreign Open Market Committee) dan juga pernyataan resmi Jerome Powell, pasar crypto nampaknya terus terdorong.

    Koin pertama yang merasakannya adalah Bitcoin yang merupakan pemimpin dari pasar crypto hingga saat ini. Hal ini disebabkan oleh Bank Sentral Amerika yang secara keseluruhan membuat pernyataan bahwa mereka akan terus dovish.

    Baca Juga: CEO BlockFi: Milenial Berperan Tingkatkan Adopsi Bitcoin Masa Depan

    Maksud dari dovish adalah mereka akan terus memiliki pandangan ekspansif terhadap kebijakan moneternya hingga beberapa tahun ke depan. Akibatnya banyak pihak yang merasa bahwa nilai Dolar Amerika akan terus tergerus.

    Hal ini disebabkan oleh kebijakan moneter ekspansif yang bukan dilakukan melalui suku bunga acuan namun melalui operasi pasar terbuka. Caranya adalah kebijakan The Fed yaitu pembelian surat utang dalam lingkungan suku bunga acuan yang mendekati 0%.

    Hasilnya yield dari surat utang Amerika menjadi turun bersama dengan jumlah uang beredar yang bertambah. Sehingga nilai dari Dolar Amerika sendiri terus menurun yang membuat banyaknya likuidasi cadangan besar berbasis Dolar Amerika.

    Investor Institusional Pendorong Terbesar

    Mengingat banyaknya institusi dan perusahaan yang memiliki cadangan dana dalam Dolar Amerika, kabar ini bukanlah kabar yang baik. Sehingga, nampaknya mulai banyak pencarian alternatif lain untuk mengamankan kekayaan.

    Di saat yang bersamaan, volume perdagangan Bitcoin terlihat meningkat sebelum harga melewati $20.000. Volume yang naik ini berasal dari volume jual yang mencapai all time high yang menurut CryptoQuant adalah hasil dari whales yang menjual kepada institusi.

    Namun, data CryptoQuant juga menunjukkan bahwa data pembelian masih mengalahkan data penjualan walaupun mencapai ATH. Sehingga ada kemungkinan bahwa adanya aliran dana besar Bitcoin tersebut benar berasal dari investor institusi.

    Oleh karena adanya gabungan antara berkurangnya persediaan, dan institusi yang membeli dalam jumlah besar, harga Bitcoin menjadi naik secara signifikan. Kemungkinan besar, akibat hal ini mulai muncul banyak FOMO atau fear of missing outdari investor ritel yang khawatir akan tertinggal dalam keuntungan.

    FOMO Terbentuk untuk Investor Ritel

    Oleh karena itu, saat ini kemungkinan besar harga yang masih terus naik adalah dampak dari salah satu institusi yang membeli diikuti oleh investor ritel. Akibatnya apresiasi ini memiliki risiko yang cukup tinggi mengingat kemungkinan dorongan berasal dari investor ritel atau whale yang memiliki kesempatan untuk pump and dump.

    Kekhawatiran akan tertinggal atau FOMO ini dapat berujung buruk akibat adanya satu pihak atau pemain besar yang bisa memanfaatkan harga. Sehingga kemungkinan ada beberapa pihak yang dirugikan akibat masuk di harga yang tinggi.

    Baca juga: Coinfest 2021: Bitcoin Diprediksi Sentuh Harga $28.000 Tahun Depan!

    Saat ini harga sedang berusaha terus naik melewati Rp 330 Juta yang walau sudah berhasil dilewati masih terus berkonsolidasi dan memiliki kemungkinan turun. Maka dari itu, investor ritel tetap diharapkan berhati-hati walau terdapat banyak kabar dari institusi seperti MicroStrategy dan Grayscale yang dapat terus mendorong harga naik.

    Tetapi kabar baik yang dapat menjadi pertimbangan adalah pasar options Bitcoin yang masih menandakan pergerakan positif untuk pasar spot. Selain itu prediksi dari Top Cap Model masih memperlihatkan kemungkinan apresiasi ke Rp770 Juta bersama Bitcoin heat map yang menunjukkan pergerakan beli masih kuat.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Lebih dari US$20 Ribu, Bitcoin Terlampau Perkasa!

    Bitcoin terlampau perkasa! Untuk kali pertama sepanjang sejarah, akhirnya Bitcoin lampaui $20.000. Level berikutnya sangat tak terhingga!

    Rabu, 16 Desember 2020, tepat pukul 20:42 WIB, Bitcoin menclok di US$20.089 per BTC. Kali terakhir harga itu tercipta pada 17 Desember 2017 silam, sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah sebelumnya, versi Coinmarketcap.com.

    Baca Juga: CEO BlockFi: Milenial Berperan Tingkatkan Adopsi Bitcoin Masa Depan

    bitcoin ATH
    Harga Bitcoin tertinggi sepanjang masa sebelumnya, versi Coinmarketcap.com, 17 Desember 2017.

    Bitcoin kemarin tak berhenti di titik penentu itu, namun melanjutkan penguatan hingga US$20.898 di hari yang sama, pukul 23:58 WIB.

    bitcoin ATH

    Ketika artikel ini ditulis, 17 Desember 2020, pukul 00:39 WIB, Raja Aset Kripto itu turun tipis ke US$20.600.

    bitcoin ATH
    Keperkasaan Bitcoin, 14 Desember 2017 silam. Sumber: Kontan.

    Sukses menembus resisten US$20.000 itu adalah peristiwa yang amat sangat monumental, karena praktis membuka apresiasi tinggi untuk mencapai harga tertinggi baru lagi.

    Jikalau mengacu pada ramalan Mike McGlone dari Bloomberg Intelligence,capaian US$20.000 ini dapat dengan luwes menembus lebih dari US$55 ribu per BTC pada tahun 2021 atau 2022.

    Di sisi lain, narasi “Bitcoin kian kalahkan emas” semakin telanjang untuk dinikmati, karena faktanya publik belajar sendiri untuk memahami, bahwa kelangkaan Bitcoinitu lebih pasti daripada kelangkaan emas.

    Pun lagi, keunggulan Bitcoin tentu saja dari teknologi digital dan kriptografi yang diusungnya, sesuatu yang tidak dimiliki oleh emas yang benar-benar fisik.

    Sifat terbuka dan transparansi Bitcoin malah semakin merampas kedigdayaan emas sebagai aset yang sangat bernilai selama ribuan tahun.

    Secara year-to-date, emas pun hanya mampu tumbuh 15,95 persen. Sedangkan Bitcoin lebih dari 191 persen! Pun kelak agak tidak adil membandingkan dua kelas aset itu, ketika masing-masing memiliki pangsa pasar sendiri, selayak saham versus emas, atau emas versus fiat money.

    Hari Bersejarah dan Penting
    Rasanya tidak berlebihan mengatakan bahwa 16 Desember 2020 adalah hari yang sangat bersejarah bagi umat manusia, karena untuk kali pertamanya (lagi), kita memiliki aset bernilai, jauh lebih bernilai dari emas yang dikenal dari generasi ke generasi.

    Dunia puan menyongsong era baru, era Bitcoin, era aset kripto, era keuangan digital yang menjanjikan sebuah kemakmuran tanpa eksklusifitas.

    Dari titik ini pula, adopsi terhadap Bitcoin oleh perusahaan-perusahaan besar lainnya akan terus berlanjut. Setidaknya, jikalau tetap mengacu pada narasi tulen ini: pandemi, krisis, inflasi buruk, emas lemah, Bitcoin menguat.

    Pun ke depan, tanpa narasi itu, ketika pandemi usai, pekerjaan rumah pasca resesi ekonomi masihlah panjang. Ini serupa dengan krisis ekonomi global 2008 yang hingga detik ini dampaknya masih terasa, belum sembuh.

    bitcoin ATH

    Ramalan harga Bitcoin menjadi lebih dari US$377 ribu per BTC pada 23 Oktober 2021. Ramalan ini berdasarkan harga terkini Us$20.700 per BTC dalam konsep “Cycle Repeat, 1458 Days”. Sumber: Digitalik.net.

    Artinya, pembenahan ekonomi akan berlangsung selama beberapa dekade ke depan, sebagai “lahan basah tambahan” bagi harga Bitcoin untuk terus naik.

    Universe is the limit!

    OLEH: Vinsensius Sitepu
    Pemimpin Redaksi Blockchainmedia.id



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Alasan Harga Bitcoin Diprediksi akan Terus Naik di 2021

    Tahun 2020 ini telah menjadi tahun yang membuat sorotan utama terhadap Bitcoin sebagai mata uang kripto utama. Hal ini disebabkan pergerakannya yang cukup mengesankan setelah mengalami penurunan hingga di bawah $5,000 dapat kembali naik ke $19,000.

    Salah satu pendorong apresiasi ini adalah PayPal yang terlihat mulai mengadopsi mata uang kripto ke operasionalnya. Dorongan lain juga muncul dari beberapa tokoh utama dan institusi besar di dunia keuangan yang juga mulai menganggap bahwa Bitcoin adalah salah satu aset yang harus dimiliki.

    Di luar sentimen tersebut, terdapat beberapa faktor lain yang nampaknya juga menjadi pendorong apresiasi harga di akhir 2020 ini. Nampaknya, beberapa faktor ini juga akan menjadi penyebab utama pasar kripto terutama Bitcoin akan terus naik di tahun 2021.

    Baca Juga: CEO BlockFi: Milenial Berperan Tingkatkan Adopsi Bitcoin Masa Depan

    Faktor Penambangan

    Salah satu faktor internal yang menjadi pengaruh terhadap dorongan harga Bitcoin ke depannya adalah valuasi dari penambangannya. Salah satu yang dapa dianalisis adalah Riot Blockchain yang memulai penambangannya di 2017.

    Saat ini Riot terlihat akan meningkatkan hash ratenya dari 1,5 exahashes per detik dengan perangkat baru yang akan digunakan pada awal 2021. Selain itu Riot bertanggung jawab atas 1,11% dari keseluruhan jaringan Bitcoin dengan hash ratesebesar 135 EH/s.

    Perusahaan ini telah berhasil menambang 224 BTC pada kuartal ketiga yang berarti pendapatan pada $4,1 Juta pada harga $18,500 per BTC. Tetapi, banyak investor yang meragukan valuasinya saat ini.

    Hal ini sebab kapitalisasi pasar sebesar $670 Juta yang didasari pendapatan $8 Juta. Namun di luar hal tersebut, selain naiknya penambangan dari mayoritas perusahaan, ke depannya ada juga beberapa hal yang dapat membenarkan apresiasi jaringan Bitcoin di 2021.

    Kesamaan dengan Emas

    Salah satu hal yang juga mempengaruhi dalam aspek penambangannya adalah kesamaan Bitcoin dengan emas. Kesamaan yang terlihat juga datang dari teknologi yang mempengaruhi hasilnya.

    Yang dimaksud dari pernyataan ini adalah bahwa semakin canggih perangkatnya semakin cepat juga hasilnya dari penambangan yang dilakukan. Namun pengaruhnya terhadap harga nampaknya tidak terlalu signifikan, akibat dalam era ketidakstabilan saat ini, faktor sentimen global terlihat berperan lebih besar.

    Namun, kedua aset ini memiliki kelangkaan yang secara naluri akan mempengaruhi harganya. Kedua aset ini naik harganya saat persediaannya mulai berkurang sehingga walau valuasi Bitcoin masih sepertiga emas, naluri sifatnya sama.

    Hal ini akan mempengaruhi pergerakan Bitcoin ke depannya, terutama dengan pandangan hedging yang dimiliki investor terhadap emas dan Bitcoin. Sehingga, ke depannya kemungkinan besar Bitcoin akan terus berjaya, bahkan mengalahkan performa emas.

    Ekspektasi Kenaikan Harga

    Faktor lain yang menjadi pendorong apresiasi Bitcoin adalah ekspektasi atau asumsi mayoritas investor bahwa harga akan terus naik. Saat ini sentimen pasar sedang dipenuhi oleh target harga dari Mike Novogratz, PlanB, dan CitiBank, yang berjangka dari $65,000 hingga $500,000.

    Riot sendiri juga memprediksi bahwa jumlah penambangannya akan terus naik bersama dengan harga Bitcoin yang akan naik. Sehingga hal ini juga yang membenarkan valuasi perusahaan yang mencapai angka jauh di atas pendapatannya.

    Namun, dengan naiknya hashrate yang juga datang bersama permintaan Bitcoin yang terus naik, penambang mulai bergabung menjadi satu. Sehingga yang bergabung akan membuat mining pool yang nampaknya akan menjadi penguasa pangsa.

    Baca juga: Bull di bawah Kendali, Harga Bitcoin Pulih Kembali

    Sehingga, pemula akan kesulitan untuk mengalahkan pemain besar, kecuali dengan Antminer S19 dari Bitmain, yang baru akan tersedia April 2021. Tetapi, jika kondisi buruk seperti 2017 terjadi dimana permintaan lebih tinggi dari pada persediaan, pemilik perangkat yang lebih maju dapat mengalahkan pemain besar yang tertinggal dari segi perangkat.

    Namun, secanggih apa pun perangkatnya, kecepatan tertinggi masih dibatasi pada 6,25 Bitcoin setiap 10 menit akibat sistem yang dibentuk. Tetapi, dengan mulai masuknya gelombang penambang, permintaan terhadap Bitcoin juga akan terus naik, akibat hukum permintaan dan persediaan.

    Hukum Permintaan dan Persediaan

    Untuk melihat lebih dalam berapa jumlah Bitcoin yang tersedia, setiap hari jika dihitung terdapat 900 persediaan Bitcoin baru. Menurut laporan mayoritas perusahaan penambang, saat ini permintaan terhadap Bitcoin selalu melebihi persediaan sebesar 6,9 kali.

    Baca juga: Kenapa sih Harga Bitcoin Bisa Mahal?

    Akibat perbedaan jumlah ini, harga Bitcoin kemungkinan akan terus naik akibat terjadinya transaksi yang juga dibentuk atas investor-investor baru. Sehingga, mengingat permintaan terhadap Bitcoin yang juga terlihat terus naik, terutama akibat institusi, hukum permintaan dan persediaan akan terus terjadi.

    Jika berasumsi dari pergerakan sebelumnya kemungkinan besar saat ini hal yang sama juga akan terus terjadi. Namun, mengingat saat ini mayoritas dorongan datang dari investor institusional, dorongan beli akan lebih kuat.

    Faktor Reksadana

    Salah satu hal yang menjadi pendorong terhadap apresiasi harga juga berasal dari Reksadana Bitcoin Grayscale. Reksadana ini mempermudah investor ritel untuk terus membeli bitcoin tanpa perlu menanggung risiko besarnya.

    Satu kepemilikan mencerminkan reksadana tersebut sama dengan 0.00095346 Bitcoin. Berikut adalah grafik perbandingan antara harga Bitcoin dan Reksadana Bitcoin Grayscale.

    prediksi bitcoinReksadana Bitcoin Grayscale atau GBTC cenderung bergerak lebih baik dari Bitcoin akibat juga permintaan pasar dari investor pemula. Pergerakan ini dapat dilihat dari perbedaan antara keduanya dalam dua bulan terakhir dan juga dalam 12 bulan terakhir yang terlihat pada grafik berikut.

    prediksi bitcoinDapat dilihat dari perbandingan premium yang diberikan oleh kedua aset bahwa performa bergerak sama namun lebih baik GBTC. Sehingga faktor ini juga dapat menjadi pendorong apresiasi Bitcoin ke depannya akibat didasari kembali oleh dorongan beli dan ketertarikan baru.

    sumber. 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CEO BlockFi: Milenial Berperan Tingkatkan Adopsi Bitcoin Masa Depan

    Milenial, generasi dengan banyak problematika terkait keuangan dapat berperan dalam meningkatkan adopsi Bitcoin di masa mendatang. Topik tersebut masuk ke dalam diskusi pada KTT BlockShow di Singapura.

    Dengan tema utama “Tren Investasi Milenial – Gelombang Baru Keuangan Pribadi” yang menghadirkan Aya Kantorovich dari FalconX, Zac Prince dari BlockFi, dan Michael Sonnenshein dari Grayscale. Panel tersebut berfokus pada dampak generasi Milenial terhadap masa depan aset digital.

    Baca Juga: 10 Prediksi Bitcoin Tahun 2021

    Selama diskusi, Zac Prince mengidentifikasi tiga tren adopsi Bitcoin utama yang terkait erat dengan Milenial dan investor muda: Transfer kekayaan yang sedang berlangsung dari Generasi Baby Boom ke kaum muda melalui warisan, pertumbuhan aset alternatif, dan pergeseran preferensi untuk segala sesuatu yang digital.

    Menurut penyedia data Preqin, Aset alternatif yang dikelola mencapai $10 triliun di seluruh dunia pada bulan Juni, naik lebih dari 55% dari tahun 2013 silam. Meskipun angka tersebut sebenarnya banyak melibatkan tingkat kelembagaan, kaum Milenial nantinya juga akan memainkan peran penting dalam pasar ini.

    Zac Prince berkata ia berharap agar crypto terus “tumbuh sebagai bagian dari alternatif dunia baru tersebut.”

    “Milenial yang berinvestasi crypto merupakan kelompok yang sangat penting (…) Mereka adalah orang-orang yang berada di depan tren ini.”

    Dalam pandangan CEO BlockFi, hanya masalah waktu sebelum akhirnya lebih banyak lembaga keuangan membuat landasan terkait dengan layanan ini secara demografi.

    “Ini benar-benar masalah aksesibilitas,” tambah Aya Kantorovich, kepala cakupan institusional di FalconX. Meskipun sempat mengalami penurunan pada tren saat ini, Kantorovich mengatakan perusahaannya melihat masuknya sejumlah besar agregator yang menangani langsung investor ritel (perorangan) dan penyedia pembayaran dengan likuiditas yang baik. Hal ini jelas masuk ke dalam indikator dari peningkatan adopsi di tingkat konsumen.

    Baca Juga: Standard Chartered Luncurkan Layanan Kustodian Bitcoin pada 2021

    Michael Sonnenshein, direktur pelaksana Grayscale, juga mengidentifikasi perubahan penting dalam cara orang, terutama generasi muda, memandang diversifikasi kripto.

    Meskipun banyak yang percaya bahwa diversifikasi ke dalam crypto adalah keputusan penting, diversifikasi dalam crypto juga semakin penting. Investor mulai melihat melampaui Bitcoin dan aset lain yang dapat bertahan, seperti Ethereum (ETH) dan Litecoin (LTC).

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com