Tag: btc

  • Gabriel Rey, CEO Triv: Bitcoin Bakal Alami Koreksi

    Gabriel Rey, CEO bursa aset kripto Triv, mengungkapkan bahwa harga Bitcoin bakal alami koreksi dalam beberapa pekan mendatang. Waspadai “MtGox Effect” bernilai Rp37,9 triliun.

    “Harga Bitcoin kemungkinan besar mengalami tekanan dalam beberapa pekan mendatang. Per 10 Desember 2020 misanya, data on-chain menunjukkan outflowterbesar sejak tahun 2018 oleh sejumlah penambang Bitcoin. Ini adalah aksi jual oleh pemasok Bitcoin baru itu,” tegas Rey dihubungi melalui Telegram hari ini.

    Baca Juga: Tanda-tanda Ini Tunjukkan Potensi Ethereum Bullish Semakin Kuat!

    Selain itu, tambah Rey, banyak holder lama yang mulai menjual Bitcoin-nya untuk take profit. Data itu terlihat jelas berdasarkan data dari Glassnode.

    Sejumlah data senada terkait “MtGox liquidation” menunjukkan akan mencairkan Bitcoin kepada para nasabah MtGox paling lambat 15 Desember 2020 ini.

    “Jumlahnya mungkin cukup signifikan, yakni 150.000 BTC atau setara dengan Rp37,9 triliun dengan kurs hari ini,” sebutnya.

    Rey menyoroti, bahwa selama lebih dari 4 tahun, bulan Januari selalu merupakan masa Bitcoin mengalami koreksi, belum lagi terkait Chinese New Year dan tax calendar di AS.

    Baca Juga: CEO Citigroup: Kami Bantu Banyak Negara Rancang Uang Digital

    “Menurut saya tidak pernah salah untuk mengambil profit, karena tidak mungkin untuk memprediksi harga tinggi dari sebuah market. Namun secara struktural saya meyakini tahun 2021 merupakan siklus 4 tahunan yang bullish bagi Bitcoin, sehingga dip yang nanti terjadi bisa dijadikan waktu untuk membeli Bitcoin,” pungkasnya.

    Berdasarkan pantauan Redaksi, harga Bitcoin terkoreksi sangat dalam sejak 1 Desember 2020, sekitar 24 jam setelah mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa. Kala itu sempat memuncak di US$19.900 per BTC.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 10 Prediksi Bitcoin Tahun 2021

    2020 merupakan tahun yang sulit, tetapi sekaligus menguntungkan bagi teknologi keuangan dan aset kripto, termasuk Bitcoin. Henri Arslanian, Global Crypto Leader di PwC dan Profesor dari Universitas Hong Kong, memberikan sejumlah prediksi tentang Bitcoin pada tahun 2021.

    Pertama, Tiongkok akan memimpin perlombaan terkait mata uang digital bank sentral (CBDC). Pada tahun 2020, 80 persen bank sentral aktif mengembangkan CBDC. Arslanian berpendapat bank sentral akan fokus ke sektor CBDC ritel. Tiongkok akan menjadi pusat perhatian yuan digital dalam sistem DC/EP, di mana lebih dari 2 milyar RMB (US$300 juta) telah ditransaksikan dalam tahap uji coba.

    Kedua, lembaga keuangan tradisional akan terus melirik Bitcoin. Tahun ini, sejumlah pemain institusi memasuki sektor kripto, termasuk bank besar seperti JPMorgan dan Standard Chartered. Tren ini akan berlanjut dan mendorong investor institusi lain membeli aset kripto besar itu melalui perantara sebagai ketentuan regulasi.

    Ketiga, telah ada kejelasan perpajakan kripto. Tahun ini terjadi terobosan soal aturan perpajakan aset kripto. Laporan oleh PwC menunjukkan, otoritas pajak di beragam negara mulai memberikan panduan perpajakan aset kripto yang meliputi keuntungan pembelian dan penghasilan penambangan. Kejelasan aturan ini sangat penting bagi investor besar.

    Baca Juga: Si Kembar Winklevoss: Bitcoin Akan Kalahkan Emas

    Keempat, merger dan akuisisi unicorn menjadi decacorn. Total merger dan akuisisi yang terjadi di sektor kripto melampaui nilai tahun sebelumnya, dengan transaksi rata-rata bernilai US$45,9 juta. Tren ini akan berlanjut, hingga terbentuk proyek-proyek kripto besar, dimana mayoritas aktivitas ini terjadi di benua Asia, Eropa dan Afrika.

    Kelima, investor ritel bisa membeli Bitcoin dengan mudah. Investor ritel kini semakin berminat terhadap Bitcoin sebab proses membelinya menjadi semakin gampang. Pemain besar, seperti PayPal dan Square, turut membantu proses membeli dan menjual aset kripto. Faktor makroekonomi, seperti pencetakan uang dan pembatasan transaksi, membuat warga dunia semakin melirik Bitcoin.

    Keenam, hedge fund dan family office memburu kripto. Di tahun 2020, hedge fundbesar secara serius mulai memasuki sektor kripto. Sosok hedge fund seperti Paul Tudor Jones dan Stanley Druckenmiller secara publik menyatakan telah membeli Bitcoin. Tren ini akan berlanjut berkat produk-produk yang membantu investor besar membeli aset kripto sehingga berpotensi membuat nilai kripto meroket.

    Ketujuh, bursa derivatif aset kripto semakin matang. Volume bursa derivatif aset tradisional berkali lipat lebih besar dibanding pasar spot. Tetapi di kripto tidak demikian sebab banyak bursa derivatif tidak diregulasi sehingga tidak dipakai investor besar. Tahun depan, volume tersebut akan bertambah jika kebutuhan investor institusi bisa dipuaskan.

    Kedelapan, sektor kripto semakin diisi oleh profesional. Generasi pertama pegiat kripto terdiri dari sosok yang pintar teknologi. Dengan adanya banyak lembaga yang memasuki sektor kripto, banyak pula individu berlatarbelakang bisnis untuk menjalankan usaha di bidang ini. Bedanya, sektor aset kripto hidup 24 jam sehari, sehingga sosok yang tidak mampu beradaptasi akan cepat tertinggal.

    Kesembilan, regulasi baru mendorong orang ke DeFi. Tahun ini, DeFi meledak pesat dan total modal yang ditanamkan mencapai lebih dari US$15 milyar. Tahun depan, terobosan-terobosan baru akan ditemukan dalam sektor ini, dan layanan keuangan akan direvolusi. Bila kebijakan keuangan semakin ketat, warga dunia akan semakin terdorong untuk beralih cepat ke DeFi.

    Kesepuluh, peran stablecoin semakin besar. Momentum stablecoin akan terus meningkat, dari nilai US$5 milyar pada awal tahun 2020 menjadi US$25 milyar di akhir tahun. Stablecoin banyak dipakai dalam perdagangan aset kripto, tetapi ke depannya stablecoin juga dapat mengurangi biaya transfer antar negara dan remitansi, seperti di Amerika Latin dan Asia Tenggara.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Prediksi BTC Pada Bulan-bulan Berikutnya Versi JPMorgan

    Ketertarikan investor terhadap Bitcoin diprediksi akan menekan harga emas dalam jangka panjang. Menurut ahli strategi, JPMorgan yang dipimpin oleh Nikolas Panigirtzoglou pada Selasa (8/12/2020) mengatakan harga BTC condong ke sisi bawah, sementara emas terlihat lebih positif.

    Namun, kabar baiknya pergerakan harga BTC dalam jangka menengah dan panjang memiliki arah yang berlawanan.

    Baca Juga: CEO BlackRock: Bitcoin Bisa Menjadi Aset Global

    “Bitcoin adalah investasi yang baru mulai dilirik oleh investor institusi, sedangkan investasi emas memang sudah sangat maju.”

    “Jika prediksi pergerakan BTC itu benar dalam jangka menengah dan panjang, harga emas akan mengalami hambatan aliran struktural selama beberapa tahun mendatang,” pungkas JPMorgan.

    Para ahli strategi JPMorgan, mencatat bahwa dalam dua bulan terakhir, kepercayaan Bitcoin manajer aset digital Grayscale melihat arus masuk hampir $2 miliar, sementara ETF emas melihat arus keluar lebih dari $7 miliar.

    Walaupun begitu, investor institusi yang merupakan keluarga kaya raya tercatat masih lebih banyak memiliki emas dibanding Bitcoin, hal ini diungkapkan oleh JPMorgan.

    Bagi investor, investasi tradisional seperti emas masih dianggap sebagai “safe haven”, sementara Bitcoin yang merupakan media investasi baru akan mendapatkan keuntungan dari semakin banyak investor institusi yang melirik mata uang digital ini.

    Para ahli strategi JPMorgan, mengatakan bahwa nilai intrinsik Bitcoin akan naik secara signifikan selama beberapa bulan mendatang karena aktivitas penambangan meningkat. Menurut pengamatan JPMorgan, nilai intrinsik Bitcoin saat ini $11.000 – $12.000. Bila dibandingkan dengan harga pasar saat ini yang sekitar $18.200.

    Baca Juga: Bull di bawah Kendali, Harga Bitcoin Pulih Kembali

    Sebelumnya, selisih antara nilai intrinsik dan harga pasar begitu lebar. Aktivitas penambangan akan meningkat dan menjadi lebih sulit dan mahal.

    Namun hal ini belum terjadi saat ini, sebagian terjadi gegara gangguan pada aktivitas penambangan dari pasokan listrik karena topan dan curah hujan tinggi di Tiongkok. Saat kondisi sudah mulai normal kembali, aktivitas penambangan akan meningkat dan nilai intrinsik Bitcoin pun demikian.

    “Kami memperkirakan bahwa peningkatan 70% dalam kesulitan, semuanya sama, akan melihat nilai intrinsik mendekati harga pasar saat ini.”

    “Meskipun ini adalah peningkatan yang besar, peningkatan dengan besaran serupa juga pernah terjadi pada akhir 2017 dan pertengahan 2019. Ini berarti kami berpikir kemungkinan besar bagian yang lebih besar dari penutupan akhirnya dari kesenjangan antara harga pasar dan biaya produksi bisa datang dari yang terakhir daripada di rentang waktu akhir 2017 dan pertengahan 2019 lalu.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CTO Glassnode: Harga Bitcoin Bisa Naik 10 Kali Lipat

    Rafael Schultze-Kraft, CTO Glassnode, perusahaan penghimpun data pasar aset kripto, memberikan sejumlah indikator Bitcoin yang mengisyaratkan pergerakan harga bullish. Ia memrediksi harga Bitcoin bisa meningkat hingga 10 kali lipat, yakni menjadi US$286 ribu per BTC.

    Pada Selasa (09/12/2020), Schultze-Kraft mencuit data yang menjadi basis prediksi tersebut. Ada enam indikator on-chain yang saat ini berada di tingkat yang mirip dengan kondisi awal tahun 2017.

    Baca Juga: Si Kembar Winklevoss: Bitcoin Akan Kalahkan Emas

    Masing-masing perkiraan harga yang diberikan indikator tersebut berada di angka ratusan ribu dolar per Bitcoin. Hampir semuanya menargetkan harga Bitcoin akan melampaui US$200 ribu.

    Bagi setiap indikator, Schultze-Kraft mengukur keuntungan yang diraih ketika indikator itu bergerak dari posisi yang mirip di tahun 2017 hingga mencapai titik tertinggi. Ia kemudian mengalikan harga Bitcoin saat ini dengan peningkatan persentase yang sama.

    harga bitcoin

    Schultze-Kraft menyoroti Net Unrealized Profit/Loss atau NUPL Bitcoin, yaitu perbedaan antara untung dan rugi belum final berdasarkan pergerakan terakhir, telah meningkat kembali ke 78 persen titik tertinggi tahun 2017.

    Harga Bitcoin melonjak 1.400 persen ke puncaknya, saat NUPL meroket dari kisaran yang mirip hari ini pada awal 2017. Bila skenario yang sama terjadi, Kraft mengestimasi Bitcoin bisa mencapai US$286 ribu per BTC.

    harga bitcoin

    Rasio kapitalisasi pasar Bitcoin terhadap thermocap, yang mengukur harga Bitcoin relatif terhadap pengeluaran penambang, sedang berada di posisi seperempat titik tertinggi 2017. Di tahun 2017, harga Bitcoin naik 625 persen saat indikator ini melambung ke titik tertinggi, sehingga Bitcoin bisa mencapai US$138 ribu di masa depan.

    Baca Juga: Ray Dalio: Bitcoin Menarik Selain Emas

    MVRV Z-Score Bitcoin, yang mengidentifikasi apakah Bitcoin dinilai berlebih atau kurang menurut nilai adilnya, saat ini berada di angka 34 persen tahun 2017. Pada tahun itu, indikator ini disertai peningkatan harga 1.150 persen. Jika  Bitcoin reli dengan kekuatan yang sama, Schultze-Kraft mengestimasi harganya bisa mencapai US$240 ribu.

    Indikator yang mengukur perilaku jangka panjang memberikan target harga yang lebih tinggi.

    harga bitcoin

    Long-Term Holder MVRV, yang merupakan rata-rata untung atau rugi semua Bitcoin yang beredar, dan Long-Term Holder SOPR, yang mengukur untung dan rugi menurut pergerakan terakhir koin, masing-masing berada di angka 13 persen dari titik tertinggi. Dengan riwayat peningkatan 1.340 persen dan 1.620 persen, Bitcoin bisa mencapai US$274 ribu atau US$328 ribu di masa depan.

    Reverse risk, yang mengukur keyakinan penyimpan Bitcoin terhadap harganya, mengindikasikan harga US$240 ribu. Indikator ini berada di tingkat 11 persen dari tertingginya.

    Kendati demikian, Schultze-Kraft mengingatkan agar angka-angka ini tidak ditelan bulat-bulat. Ia hanya menegaskan Bitcoin masih jauh dari titik puncak pasarnya.

    Data Glassnode menunjukkan Bitcoin akan menurun sebelum melanjutkan reli ke harga tertinggi baru. Kendati ada peringatan tekanan menjual dari spekulan jangka pendek, laporan Glassnode menyoroti pergerakan jangka panjang Bitcoin adalah tren meningkat.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analis Prediksi Bitcoin Segera Menuju $20.000 dan Melampauinya

    Bitcoin mengalami fase konsolidasi kuat selama seminggu terakhir. Mata uang crypto ini diperdagangkan dalam kisaran ketat antara $18.500 dan $19.500.

    Banyak sentimen pasar yang berpikir bahwa kisaran harga ini merupakan permulaan dari penurunan harga yang cukup kuat, tetapi menurut seorang analis proses ini memungkinkan Bitcoin untuk naik ke harga yang lebih tinggi lagi.

    Baca Juga: Pemred Forbes: Bitcoin Kelak Menjadi Store-of-Value Seperti Emas

    Seorang analis aset kripto membagikan grafik di bawah ini.

    prediksi bitcoinGrafik ini menunjukan Bitcoin sedang dalam pola Elliot Wave, yang berpotensi untuk menuju pergerakan pasar yang lebih tinggi menuju $20.000 dan seterusnya.

    Elliot Wave merupakan bentuk analisis teknis yang menunjukkan pasar bergerak dalam gelombang yang diprediksi berdasarkan psikologi investor dan tren lainnya. Menurut penjelasan,

    “Elliott melihat adanya tren harga keuangan berdasarkan hasil dari psikologi dominan investor. Ia menunjukan perubahan dalam psikologi massa selalu muncul dalam pola fraktal berulang yang sama, atau “gelombang”, di pasar keuangan.”

    Jika melihat grafik ini, analis optimis pasar sedang berada dalam pergerakan untuk mencapai level tertinggi baru.

    Baca Juga: Kilas Balik: Ada Apa dengan Bitcoin Minggu Lalu?

    “Bagaimana jika saya berpendapat bahwa 3 minggu terakhir pergerakan Bitcoin yang sideways merupakan koreksi besar kita? $Bitcoin.”

    Pertanyaannya, Kapan?

    Langkah berikutnya yang dapat membawa Bitcoin di atas level resistance $20.000 dapat dimulai dalam beberapa minggu mendatang. Analis aset kripto Philip Swwift mencatat, selama empat tahun terakhir, BTC selalu mengalami pembalikan krusial di pertengahan Desember, di antara tanggal 15 dan 18 Desember.

    “Sifat siklus Bitcoin: 15-18 Des 2016: Parabolic bull rundimulai; 15-18 Des 2017: Siklus teratas; 15-18 Des 2018:Siklus terbawah; 15-18 Des 2019: Post Plustoken rendah; 15-18 Des 2020: ?? Mungkin tidak akan terjadi apapun tahun ini ATAU… kemunduran kecil hingga pertengahan Desember sebelum akhirnya kenaikan parabola baru berjalan?”

    Siklus ini menunjukkan Bitcoin mungkin menjalani awal siklus eksponensial berikutnya pada pertengahan Desember.

    bitcoin 2021

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • S&P Dow Jones Luncurkan Indeks Crypto di 2021, Bakal Dorong Bitcoin Lebih Tinggi?

    S&P Dow Jones Indices, divisi dari penyedia data keuangan S&P Global Inc mengungkapkan pada hari Jumat, 4 Desember 2020, bahwa perusahaan akan meluncurkan indeks mata uang crypto pada 2021 mendatang. Peristiwa ini juga masuk sebagai momentum pengadopsian Bitcoin dan crypto yang lebih luas lagi.

    Baca Juga: VISA Umumkan Kerja Sama dengan USDC, Bukti Adopsi Crypto Makin Luas

    Indeks tersebut akan diberinakan S&P DJI dan menggunakan data dari perusahaan mata uang virtual yang berbasis di New York, Lukka. Data tersebut akan memasukan lebih dari 550 koin di daftar perdagangan teratas.

    Selanjutnya, S&P dan Lukka mengatakan, nantinya klien S&P akan bisa menggunakan penyedia indeks sesuai dengan kebutuhan dan alat benchmarking lainnya pada mata uang crypto.

    S&P dan Lukka berharap data harga yang lebih andal akan memudahkan investor untuk mengakses kelas aset baru, dan mengurangi beberapa risiko pasar yang sangat fluktuatif dan spekulatif.

    “Dengan aset digital seperti mata uang crypto menjadi kelas aset yang berkembang pesat, ini adalah waktu yang tepat (untuk menjadikan indeks tersebut) sebagai tolak ukur yang independen, andal, dan ramah pengguna,” ujar Peter Roffman, kepala inovasi dan strategi global di S&P Dow Jones Indices.

    Langkah salah satu penyedia indeks paling terkenal di dunia dapat membantu adopsi semakin cepat dan menjadi aset investasi utama.

    Terlebih, Bitcoin berhasil menunjukan jati dirinya dengan terus melonjak naik dan mengungguli nilainya terhadap dolar. Ditambah, peningkatan permintaan dari investor yang mengatakan mata uang virtual sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan aset safe-haven.

    Adopsi Bitcoin Semakin Luas

    Dengan semakin banyak perusahaan dan investor besar yang masuk ke dalam dunia crypto, semakin besar pula peluang harga crypto akan terus naik dan menjadi aset investasi utama.

    Saat penulisan, harga Bitcoin hari ini berada di kisaran harga $19.230. Banyak analis yang memprediksi Bitcoin akan terus melonjak ke arah yang lebih tinggi lagi.

    Baca juga: Harga Bitcoin Diprediksi Rally ke $20.000 Jika lewati Harga $19.300

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Sudah Senilai Apple dan Amazon?

    Beragam prediksi harga Bitcoin akhir-akhir ini dilemparkan tanpa konteks. Menanggapi hal itu, kanal berita AmbCrypto membahas pencapaian Bitcoin dibandingkan dengan nilai aset tradisional, seperti nilai saham Apple dan Amazon.

    Hal pertama adalah kemiripan Bitcoin dengan emas. Kapitalisasi pasar serta rasio stock to flow emas lebih tinggi daripada Bitcoin. Untuk mencapai kapitalisasi pasar yang sama, maka harga Bitcoin perlu berada di angka US$600 ribu per BTC.

    Kinerja Bitcoin mengalahkan emas selama tahun 2020. Sejak awal tahun, Bitcoin meningkat 7,5 kali lebih tinggi dibanding emas. Kendati demikian, bukan berarti Bitcoin sepenuhnya menang atas emas.

    Data dari Bloomberg memberikan arus masuk modal ke Exchangetraded Products (ETP) emas dan Bitcoin. Sesuatu terjadi pada musim panas 2020 saat arus masuk emas tiba-tiba longsor dan arus masuk Bitcoin meroket.

    Dari data ini, dapat disimpulkan bahwa Bitcoin lebih diminati dibanding emas. Tetapi, hal tersebut juga bisa berarti sebagian modal yang keluar dari ETP emas masuk ke Bitcoin, kendati belum pasti.

    Jika Bitcoin mencapai harga US$600 ribu, maka kapitalisasi pasarnya lebih besar dari neraca Bank Sentral AS, aset yang dikelola perusahaan investasi BlackRock, kekayaan Jeff Bezos, valuasi Apple, Amazon, Microsoft dan lainnya.

    Tetapi hal tersebut mungkin sulit dicapai, atau butuh waktu lama dan bukan merupakan jaminan. Angka yang lebih realistis adalah Bitcoin US$100 ribu per BTC. Target ini sudah diprediksi banyak analis dan investor pasar aset kripto.

    Jika Bitcoin berhasil tiba di harga tersebut, artinya adopsi Bitcoin sudah menginfiltrasi beragam lapisan dibanding saat ini. Bitcoin akan melampaui kekayaan Jeff Bezos, kapitalisasi pasar JP Morgan, Facebook, Microsoft, Amazon, PayPal, Visa, Google, Tesla dan lainnya.

    Di masa depan, bukan tidak mungkin kanal-kanal berita akan melaporkan Bitcoin telah melampaui kapitalisasi pasar aset atau perusahaan tertentu. Fundamental Bitcoin semakin kuat, tetapi soal skalabilitas [lambat dan transaksi sedikir per detik–] belum dipecahkan sepenuhnya.

    Kendati demikian, skalabilitas bukanlah prioritas, sebab Bitcoin menjadi standar emas untuk disimpan sebagai alat simpan nilai, bukan sebagai sistem transfer dana setara VISA. Jika Bitcoin berhasil mencapai skalabilitas on-chain, adopsi Bitcoin sebagai alat tukar dan unit perhitungan akan terjadi secara alamiah.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Lagi! Robert Kiyosaki Sarankan Beli Bitcoin

    Penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, berpendapat soal tiga aset pelindung terhadap inflasi, yaitu perak, emas dan Bitcoin. Kiyosaki dikenal sebagai penulis yang mengusung pentingnya pendidikan keuangan dan membangun kekayaan melalui investasi aset, properti serta bisnis.

    Kiyosaki telah berulang kali mengkritik tanggapan Federal Reserve terhadap masalah ekonomi akibat pandemi. Ia mendesak para pengikutnya untuk melindungi diri dari inflasi tinggi di masa depan dengan cara membeli perak, emas dan Bitcoin.

    Dalam podcast oleh Anthony Pompliano pada April 2020 lalu, Kiyosaki diwawancara mengenai aset perlindungan terhadap inflasi. Ia mengatakan emas dan perak adalah uang dari Tuhan, Bitcoin adalah uang “open source” dari rakyat.

    Pada 26 November 2020 lalu, Kiyosaki mengatakan kepada 1,4 juta pengikutnya di Twitter bahwa Bitcoin akan “meroket ke bulan” dan juga menyarankan membeli perak jika harganya jatuh ke US$19 per ons dan emas bila harganya mencapai US$1.750 per ons.

    Kendati Kiyosaki menyukai ketiga aset tersebut, ia mengakui Bitcoin memiliki kinerja jauh di atas perak dan emas.

    Ia mengatakan lebih baik membeli Bitcoin sebanyak mungkin sekarang, sebab dolar mulai mati. Seiring runtuhnya dolar, yang penting adalah seberapa banyak emas, perak dan Bitcoin yang dimiliki investor.

    Kemudian pada Agustus 2020, ketika Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$11.770 dan emas sekitar US$2.032 per ons, Kiyosaki memrediksi Bitcoin akan menjadi kuda yang lebih cepat.

    Baca Juga: AllianceBernstein: Bitcoin adalah Store of Value Jangka Panjang

    “Emas naik 35 persen di 2020. S&P hanya naik 3 persen. Perak masih terbaik, 30 persen di bawah all time high, dan terbatas kuantitasnya, digunakan di industri serta dapat dibeli oleh investor dengan dana terbatas. Tetapi Bitcoin bisa menjadi kuda paling cepat,” cuit Kiyosaki.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • AllianceBernstein: Bitcoin adalah Store of Value Jangka Panjang

    Divisi penelitian perusahaan manajemen aset, AllianceBernstein, asal New York berubah sikap. Kali ini mereka menegaskan bahwa Bitcoin berperan besar dalam portofolio investor, khususnya sebagai store of value jangka panjang.

    Baca Juga: Lima Koin Teratas Mulai Bangkit dari Sell Off!

    AllianceBernstein cukup ternama dengan total aset dikelola mencapai US$631 milyar. Dalam catatan penelitian yang diberikan kepada kliennya, Kepala Tim Strategi Portofolio Bernstein Research, Inigo Fraser Jenkins, mengatakan pihaknya sebelumnya tidak menganggap Bitcoin sebagai instrumen investasi, pada Januari 2018 silam ketika harga Bitcoin mulai longsor dari harga tertingginya.

    Tetapi, perubahan kebijakan akibat pandemi, tingkat utang dan opsi diversifikasi bagi investor, perusahaan akhirnya mengakui Bitcoin memegang peran penting dalam alokasi aset untuk periode jangka panjang.

    Jenkins menjelaskan, berkurangnya volatilitas harga Bitcoin menjadikannya menarik, baik dari sisi alat simpan nilai (store of value) dan sebagai alat pertukaran.

    Selama pandemi, korelasi Bitcoin dengan aset besar lain meningkat. Di sisi lain, Bitcoin adalah aset likuid yang bisa dijual cepat, seperti yang terjadi saat market crash pada Maret 2020 lalu, lalu rebound tak kalah cepatnya.

    “Dari sudut pandang empiris, berkurangnya volatilitas Bitcoin menjadikannya lebih menarik, tetapi korelasi yang meningkat menunjukkan arah sebaliknya,” sebut Fraser Jenkins.

    Soal perlindungan terhadap inflasi, Bitcoin kiranya mirip seperti emas. Kendati demikian, aset kripto tersebut tidak akan bergerak sepenuhnya untuk melawan inflasi dalam mata uang fiat

    Isu lain seperti penggunaan aset kripto dalam tindak kriminal dan konsumsi energi penambangan Bitcoin yang berat disebut sebagai kekhawatiran mengenai aset itu, dan juga soal pengawasan pemerintah.

    Baca Juga: Perusahaan Australia Ini Beralih ke Bitcoin dari Emas

    Jenkins berpendapat, jika jadi ada isu lain untuk Bitcoin di masa depan. Pandemi membuat pemerintah lebih berkuasa dan berperan mengelola ekonomi, sehingga jika aset kripto semakin besar, regulator bisa merasa terganggu oleh kehadirannya.

    “Aset kripto berperan dalam alokasi aset, selama mereka legal,” tegas Jenkins.

    Bernstein Research menyarankan investor menyimpan Bitcoin sebanyak 1,5 hingga 10 persen dari portofolio investasi, tergantung kepada imbal hasil bulanannya.

    “Hasil alokasinya rendah, tetapi dalam kerangka optimasi sederhana ini, alokasi terhadap aset lain bisa mencapai nol, sehingga Bitcoin tampaknya signifikan,” pungkas Jenkins.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Lima Koin Teratas Mulai Bangkit dari Sell Off!

    Lima koin teratas BTC, ETH, XRP, litecoin, dan chainlink telah menunjukkan kebangkitannya setelah aksi jual minggu ini.

    Harga BTC naik menjadi lebih dari $18.000 setelah jatuh ke $16.000 pada hari Kamis karena ETH, XRP, Litecoin, dan chainlink mencatatkan  swing yang lebih liar.

    Baca Juga: Meski Turun Tajam, Ini Alasan Bitcoin Masih Bullish

    Kenaikan dipimpin oleh XRP, yang mengalami kenaikan lebih dari 10% selama 24 jam terakhir, diikuti Bitcoin, Ethereum, litecoin, dan chainlink naik sebesar sekitar 5%.

    Gabungan nilai cryptocurrency sudah berayun sekitar $100 miliar minggu ini setelah Bitcoin hampir mencapai level tertingginya sepanjang masa hampir $20.000 saat 2017 lalu.

    Aksi jual, yang membuat harga Bitcoin menurun 10% dalam hitungan jam, dianggap oleh pengamat pasar Bitcoin dan cryptocurrency adalah hanyalah koreksi sementara saja.

    “Harga BTC bisa menunjukkan fluktuasi yang tajam, jadi hal utama yang perlu diketahui adalah tahapan ini diperlukan untuk melanjutkan reli,” kata Alex Kuptsikevich, analis keuangan senior FxPro.

    “Indikator teknis telah berada di wilayah overbought yang ekstrim untuk waktu yang lama. Reli mulai tersendat menuju $20.000. Ini adalah level psikologi dan teknis yang serius dari resistensi untuk pasar, dan tidak ada keraguan bahwa hambatan ini akan terjadi dan menguji optimisme investor.”

    koin teratasBitcoin telah mengalami kenaikan sebesar 40% hingga November, didorong oleh kepopulerannya yang berkembang sebagai emas digital. Karena bunga bank-bank besar yang masih kalah jauh dengan tingkat pengembalian yang diberikan oleh Bitcoin. Oleh karenanya, bank-bank besar di Wall Street, dan sekumpulan investor terkenal memberikan nama kepada Bitcoin sebagai emas digital “lindung nilai potensial terhadap inflasi”.

    Baca Juga: Rumor Peraturan Baru, CEO Coinbase “Amerika Akan Tertinggal Soal Crypto”

    Reli Bitcoin dipicu oleh perusahaan pembayaran raksasa PayPal yang berencana menambahkan layanan pembelian dan penjualan Bitcoin. Hal ini menyebabkan cryptocurrency yang memiliki nilai yang lebih kecil, termasuk koin teratas di pasar seperti XRP, ETH, Ripple, litecoin, dan chainlink melonjak. Di bulan November ini saja, XRP sudah mengalami kenaikan sebesar 150%.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com