Tag: btc

  • Pasar Kripto Akan Menguat Mengikut Pasar Modal

    Korelasi Bitcoin (BTC) dengan pasar modal AS mencapai rekor tertinggi. Bila pasar saham pulih kembali, maka hal itu dapat mengangkat BTC dan aset kripto lain.

    Berbeda dengan sebelumnya, BTC bergerak beriringan dengan saham saat dua-duanya mengalami kelesuan. Tetapi korelasi tersebut justru dapat membawa kelegaan bagi BTC bila saham menguat.

    Koefisien korelasi 40-hari bagi BTC dan indeks saham Nasdaq 100 hampir mencapai 0,66. Angka ini merupakan rekor tertinggi menurut data yang dikompilasi oleh Bloomberg sejak tahun 2010.

    Baca jugaManajer Dana Raksasa Ini Ajukan ETF Terkait Teknologi Blockchain

    Selain itu, korelasi serupa turut terjadi dengan indeks S&P 500 dan mencapai rekor pula.

    Pakar strategi Ed Yardeni, presiden Yardeni Research, mengutarakan ide bahwa sentimen terhadap pasar modal akan segera mengalami pemulihan kembali. Hal ini dapat berakibat kepada penguatan saham setelah masa kelesuan akhir-akhir ini.

    Saham yang menguat dapat turut mendongkrak Bitcoin dan aset kripto lain.

    “Saham seharusnya pulih selama beberapa bulan ke depan seiring pasar obligasi menjadi stabil dan keuntungan perusahaan terus bertambah berkat ekonomi global yang menguat,” jelas Peter Berezin, kepala strategi global BCA Research Inc.

    Ia menambahkan, hal tersebut dapat mendorong kripto ke atas, walau sementara.

    Aset kripto terpeleset di tengah berita pengurangan stimulus dari Federal Reserve yang sebelumnya mendongkrak aset spekulatif selama masa pandemi. Valuasi senilai lebih dari US$1 trilyun telah terhapus dari kapitalisasi pasar aset kripto sejak puncaknya di bulan November.

    Saat ini, Bitcoin terus mengalami tren menurun dan jatuh hingga ke harga US$36.506.

    Chris Weston, kepala riset Pepperstone Financial Pty Ltd, berkata sektor kripto terlampau berada di area oversold. Kendati demikian, momentum menurun memang kuat dan reli ke atas akan menjadi peluang bagi spekulan untuk menjual.

    Baca juga Google Kembangkan Kartu Bitcoin (BTC)

    Berezin bersikap skeptis terhadap Bitcoin secara keseluruhan kendati ia melihat adanya penguatan singkat bila saham pulih. Target jangka panjang Berezin bagi Bitcoin hanyalah US$5 ribu.

    “Investor yang ingin melindungi terhadap resiko perlu mempertimbangkan membeli Cardano (ADA), Solana (SOL) dan Polkadot (DOT) daripada BTC, Litecoin (LTC) dan Dogecoin (DOGE),” pungkas Berezin.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Mungkin akan Mengalami Volatilitas Harga Besar pada Awal Desember

    Faktor-faktornya adalah ketidakpastian umum seputar harga BTC, aktivitas perdagangan berjangka (Futures) tertinggi dan Open Interest, serta grafik mingguan yang kuat.

    Sementara itu, para trader telah mengantisipasi kemungkinan Pullback dalam waktu dekat meskipun harga telah rebound dari kisaran level $ 18.552 (Rp 262 juta) pada 30 November.

    Baca Juga: Peneliti Menerbitkan Email yang Belum Pernah Dilihat Antara Satoshi Nakamoto dan Hal Finney

    Ada dua trend utama yang dapat memicu pemulihan BTC. Pertama, Guggenheim Investments, sebuah firma manajemen aset global dengan aset kelolaan lebih dari $ 233 miliar, yang mendapatkan hak untuk menginvestasikan $ 500 juta di Grayscale Bitcoin Trust.

    Di AS, di mana Fund yang diperdagangkan di bursa Bitcoin (ETF) tidak ada, Grayscale Bitcoin Trust adalah titik masuk pertama bagi sebagian besar investor institusional. Deribit melaporkan bahwa berita tersebut memicu aktivitas pembelian yang signifikan di pasar opsi. Perusahaan itu berkata :

    “Laporan dari Fund Behemoth Guggenheim Macro Opps berusaha untuk menetapkan $ 500 juta, diumumkan pada akhir pekan, menangkap short + alokasi mundur TA secara mengejutkan karena BTC memantul 2 ribu dari posisi terendah. Pasar opsi minggu terjadi. Desember Call dibeli, didanai oleh Put; Hedge dibatalkan.”

    Kedua, investor dan Whale dengan kekayaan bersih tinggi mungkin akan membeli penurunan untuk mengantisipasi hari Senin. Dalam beberapa minggu terakhir, seperti yang ditunjukkan oleh pedagang kuantitatif, sebagian besar permintaan pembeli berasal dari AS.

    Beberapa berspekulasi bahwa permintaan tersebut berasal dari algoritma Time-weighted Average Price (TWAP), biasanya digunakan oleh lembaga dan Fund. Karena algoritma TWAP akan diaktifkan kembali pada hari Senin, ini dapat menambah permintaan pembeli untuk BTC.

    Ketiga, para Whale lebih condong masuk kedalam pasar Futures sambil tetap mengamati bagaimana sentimen dan level teknikal utama Bitcoin bekerja untuk menetapkan sinyal trend yang lebih baik pasca tersungkur dari level $ 19.000-an yang masih membingungkan banyak trader dan analis.

    sumber.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Google Kembangkan Kartu Bitcoin (BTC)

    Bloomberg melansir, Google akan memperluas fitur pembayaran berbasis Bitcoin. Keputusan itu dilakukan dalam rangka bersaing dengan kompetitor di bidang layanan daring.

    Google berusaha meningkatkan daya saing dengan menjadikan Bill Ready sebagai Presiden Perdagangan dan merekrut Arnold Goldberg, mantan eksekutif PayPal, sebagai Kepala Divisi Pembayaran.

    Raksasa teknologi itu turut mengkonsolidasikan kemitraan demi mencapai tujuan tersebut.

    Baca jugaMemindai Nilai Bisnis Metaverse di Masa Depan

    Google bermitra dengan Coinbase Global dan BitPay untuk menghadirkan fitur dimana pengguna dapat menyimpan Bitcoin dan aset kripto lain. Berkat ini, pengguna bisa memakai tabungan kripto untuk membiayai pembelian sama seperti memakai uang fiat.

    Menurut Bloomberg, Google telah gagal mencapai sasaran dengan fitur Google Pay. Layanan itu hanya berhasil di India tetapi tidak di negara lain.

    Google Pay tidak berhasil menarik pengguna dan mengalami kesulitan. Sebab itu, Google akan menambahkan fitur tambahan terhadap layanan belanjanya.

    Menurut Ready, gerakan ini akan membantu pengguna memanfaatkan semua pilihan layanan keuangan yang ada. Pemaduan Bitcoin dan aset kripto lain adalah langkah logis dikarenakan peningkatan adopsi dan aksesibilitas di seluruh dunia.

    “Kami bukan bank, kami tidak berniat menjadi bank. Usaha di masa lalu terkadang mulai merambah ke sektor perbankan secara tidak sengaja,” jelas Ready.

    Ia menambahkan, tujuan Google adalah membantu menjalin koneksi dan menjadi pihak yang bebas dari konflik kepentingan.

    Baca jugaNFT untuk Sektor Musik, Apa Saja Manfaatnya?

    Ready dan Goldberg bekerja di PayPal hingga Ready bergabung ke Google untuk mengawasi divisi pembayaran. Kini, Ready mengajak Goldberg menjadi wakil presiden dan general manager bagi proyek Google baru bernama Satu Milyar Pengguna Baru.

    Data dari Bloomberg mengklaim dompet Google, yang akan terpadu dengan Bitcoin dan aset kripto lain, mencatat 150 juta pengguna aktif di seluruh dunia.

    Kendati demikian, alternatif pembayaran dari Apple menjadi hambatan bagi ambisi Google, bahkan bagi gawai yang menjalankan operating system Android.

    Selain itu, metode pembayaran dari perusahaan pesaing menjadi penyebab gagalnya fitur Google Pay. Hanya 4 persen dari semua pembayaran non-tunai di AS memakai metode Google Pay.

    Sebab itu, Google akan memfokuskan usaha menjadikan dompet mereka lebih komprehensif.

    Soal pasar aset kripto, Presiden Perdagangan Google berkata, “Kripto adalah suatu hal yang kami perhatikan secara seksama. Seiring minat pengguna dan peritel berubah, kami akan ikut berubah.”

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin vs Altcoins Kembali Memanas di Tahun 2020

    Debat Bitcoin vs Altcoins memanas sekali lagi! Hal ini disebabkan karena raja cryptocurrency, Bitcoin yang mendominasi pasar dengan selisih yang sangat jauh.

    Saat ini pangsa pasar raja cryptocurrency Bitcoin, telah mencapai dua kali lipat dari posisi terendahnya atau naik sebesar 33 persen. Hal tersebut menjaga dominasi Bitcoin pada pasar cryptocurrency tetap utuh. Sementara di sisi lain, berbagai macam altcoin telah kehilangan kekuatan mereka karena masalah pendanaan dan tidak adanya rasa ingin tahu publik.

    Namun, hal ini tidak membuat gentar pengembang Altcoins. Secara kumulatif Altcoin-Altcoin yang mungkin sudah bernilai ratusan bahkan ribuan dollar ini, tetap menjanjikan bahwa mereka akan dapat mengungguli Bitcoin atau setidaknya menggeser posisi Bitcoin saat ini.

    Sementara itu dalam menanggapi hal ini, Max Keiser, pada salah satu ‘Keiser Report’ dan salah satu bull BTC paling awal menyatakan bahwa Altcoin itu tidak memiliki nilai bawaan.

    Baca juga: Harga Bitcoin Tak Akan Jatuh Lagi ke US$6 Ribu, Tapi Naik Menjadi US$100 Ribu

    Bitcoin Mungkin Lebih Kuat Daripada Altcoin

    Dalam wawancara terakhir dengan London Actual, Max Keiser tampaknya memperdalam sentimennya mengenai Bitcoin vs Altcoins, hal ini dirasa jika dibandingkan Bitcoin, Altcoins hampir tidak memiliki nilai.

    Agar pendapat Keiser mengenai Bitcoin vs Altcoins ini tidak menambah panas isu yang sedang beredar, hal tersebut merupakan jawabannya saat ditanya oleh pewawancara, Brian Rose. Pertanyaan tersebut mengenai apakah ada mata uang crypto lain yang “sepadan dengan Bitcoin”, kemudian dengan suara biasa saja dan ekspresi tenang Keiser menjawab “Tidak”.

    Selain itu, ia menyatakan bahwa tidak ada koin crypto yang dapat melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Bitcoin atau yang dapat Bitcoin lakukan dalam beberapa waktu ke depan.

    Dia juga menambahkan bahwa keamanan Bitcoin dari sebagian besar energi hash dan bagian besar di pasar crypto membuat Bitcoin menjadi pertaruhan yang lebih baik daripada altcoin apa pun

    Sentimen Luas Bitcoin vs Altcoins

    Keiser bukan satu-satunya yang menggembar-gemborkan sentimen mengenai altcoin lebih “tidak berwarna” dibandingkan dengan Bitcoin, terlepas dari perkembangan teknis dan miliaran dolar pendanaan.

    Selain itu, dalam debat Bitcoin vs Altcoins dengan Kevin Rose, salah satu pendiri Digg, sebuah situs web media digital belakangan ini menjadi penasihat TechCrunch, menyatakan bahwa sekitar 99 persen orang yang terlibat dalam sebuah proyek hanya mengejar keuntungan finansial. Selain itu, ada banyak sampah juga di dalam proyek-proyek tersebut. Seluruh situasi ini pada akhirnya akan menciptakan skenario yang tidak menguntungkan, hal ini disebabkan akan banyak proyek-proyek berkualitas tinggi yang terseret ke bawah, yang pada akhirnya justru akan mencemari ruang cryptocurrency.

    Informasi selengkapnya dapat dibaca di sini

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Meski Turun Tajam, Ini Alasan Bitcoin Masih Bullish

    Bitcoin alami crash beberapa hari lalu. Penurunan tersebut bahkan sempat menginjak Rp43 juta dari nilai tertinggi ke rendahnya. Ditambah, kejadian ini hanya kurang dari 3% dari nilai all-time-high Bitcoin dan membuat likuiditas besar-besaran di beberapa bursa ternama.

    Para analis menjabarkan beberapa alasan terkait dengan penurunan Bitcoin ini.

    Baca Juga: Fidelity: Institusi Semakin Mengadopsi Bitcoin

    1. Leverage yang Berlebihan

    CEO Stack Funds, Matthew Dibb masuk ke dalam jajaran korban dari likuiditas besar-besaran perdagangan leverage dalam bursa derivatif yang terjadi di seluruh bursa utama.

    Menurut sumber data Bybit, posisi derivatif senilai hampir $2 miliar dilikuidasi dalam 24 jam terakhir. Dari jumlah itu, lebih dari $1,6 miliar telah ditutup dalam 12 jam terakhir.

    Lepasnya perdagangan dengan leverage ini diharapkan oleh banyak pihak, mengingat biaya memegang posisi buy di pasar perpetual future atau dikenal sebagai tingkat pendanaan meningkat tajam ke level tertinggi bulanan hingga 0,098% dalam beberapa hari terakhir. Hal ini menjadi tanda dari adanya overleveraging atau overheating di pasar. Tingkat pendanaan ini ditentukan dan dibayarkan setiap delapan jam.

    bitcoin tetap bullishMenurut data Glassnode, dengan penurunan harga Bitcoin ini, tingkat pendanaan telah turun kembali menjadi 0,011%. Ini membuat pemegang leverage berlebih keluar pasar secara “paksa”.

    2. Pullback Teknis

    Jika melihat grafik teknis, rally Bitcoin dari $10.000 menjadi $19.400 selama tujuh minggu terakhir dinilai terlalu bersemangat.

    Hal tersebut mengingat, momentum bagi Bitcoin begitu kuat sehingga raja crypto tersebut secara konsisten diperdagangkan di atas MA 10 hari selama rally. Meski ada overbought pada indeks kekuatan relatif (RSI) 14 hari.

    bitcoin tetap bullishTerlebih, rally berlebih akan cenderung menguntungkan para spekulan yang mencari keuntungan secara berkala. Mata uang crypto biasanya akan mengalami beberapa pullback selama pasar bullish sebelumnya.Penurunan harga ini akhirnya membawa Bitcoin masuk ke bawah rata-rata 10 hari dan memungkinkan RSI menyesuaikan kembali dengan bullish yang ada.

    “Ini pullback yang sehat,” ujar Stack Funds Dibb.

    Menurut analis grafik, rally harga dengan adanya penurunan secara reguler akan membuatnya berkelanjutan daripada rally terus menerus.

    Baca Juga: Cypherpunk Holdings Miliki Bitcoin Terbanyak ke-9 Dunia

    3. Faktor Lain Perkuat Aksi Jual

    Menurut trader dan analis Alex Kruger alasan penurunan harga ini terkait dengan rencana Departemen Keuangan AS yang dikabarkan akan dapat melacak pemilik dompet cryptocurrency yang dihosting sendiri.

    Dilansir dari CoinDesk, Alex Kruger menyatakan,

    “(Masalah peraturan) ini, dengan latar belakang euforia dan leverage tinggi yang tidak berkelanjutan untuk jangka panjang menyebabkan penurunan terbesar selama 24 jam sejak Maret lalu.”

    Tidak hanya itu, bursa pertukaran crypto terkemuka OKEx yang sempat dibekukan terkait masalah hukum dan menutup layanan withdrawal, kembali membuka layanan tersebut kepada pengguna.

    Sui Chung, CEO CF Benchmarks menjelaskan,

    “Sebagian besar bitcoin beku (di OKEx) telah diperdagangkan sekitar 70%. Ada banyak keuntungan yang belum direalisasikan yang terkunci di sana. (…) setelah koin-koin ini bebas bergerak, kemungkinan akan ada banyak trader yang menjualnya dengan dolar atau stablecoin lainnya untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini menambah tekanan besar penjualan (bitcoin).”

    Pasar Bitcoin Masih Bullish

    “Penurunan harga terbaru hanyalah sedikit gangguan dari tren bullish yang lebih besar,” ujar Alex Kruger.

    Pasar Bitcoin masih menunjukan faktor makro yang bersifat bullish. Misalnya saja, peningkatan partisipasi perusahaan institusional yang terus berlanjut, pencetakan uang besar-besaran oleh Federal Reserve di Amerika, dan pencarian imbal hasil tetap untuh meskipun harga turun.

    Sentimen bullish juga tetap kuat meski jumlah koin tersimpan di beberapa bursa ternama mencapai nilai terendahnya sejak Agustus 2018.

    bitcoin tetap bullishGrafik dari Glassnode di atas mengindikasikan investor melihat penurunan harga saat ini sebagai pullback besar, tetapi masih yakin terkait dengan prospek jangka panjang mata uang crypto.Ditambah, hilangnya posisi leverage berlebihan di pasar membuat rally di pasar dapat terus berlanjut.

    Heusser dari Crypto Broker mengharapkan raja crypto Bitcoin untuk berkonsolidasi di kisaran saat ini hingga $19.000 sebelum akhirnya melanjutkan trennya.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Adopsi Bitcoin Cs, Chainalysis: Indonesia di Peringkat ke-32

    Ranumnya pasar Bitcoin Cs (aset kripto) di Indonesia mungkin bukanlah isapan jempol, setidaknya jika mengacu pada data terkini Chainalysis. Per tahun 2020, Indonesia berada di peringkat ke-32 untuk kategori tingkat adopsi aset kripto, mengalahkan Jerman dan Estonia.

    Chainalysis adalah perusahaan ternama di bidang pengkajian aset kripto. Perusahaan asal Amerika Serikat itu kerap membantu penegak hukum negara itu dalam penyelidikan kejahatan terkait aset kripto, termasuk penyitaan Bitcoin senilai US$1 miliar belum lama ini.

    Berdasarkan data terbaru yang diterbitkan di situs Chainalysis, Indonesia berada di peringkat ke-32 soal adopsi aset kripto. Data itu dikumpulkan Juli 2019-Juni 2020.

    bitcoin indonesia

    Di kawasan Asia Tenggara, Vietnam memimpin di peringkat ke-10. Sedangkan Filipina di peringkat ke-16.

    bitcoin indonesia

    Di nomor wahid ada Ukraina, disusul oleh Rusia, lalu Venezuela. Sedangkan Tiongkok, sebagai sentra tambang Bitcoin global, berada di peringkat ke-4. Dari 10 besar, hanya Vietnam yang mewakili Asia Tenggara.

    Baca Juga: Fidelity: Institusi Semakin Mengadopsi Bitcoin

    Sedangkan Korea Selatan, yang cukup terkenal ramah aset kripto, hanya berada di peringkat ke-17, satu tingkat di bawah Filipina.

    Negara dari kawasan Asia Tenggara lainnya, yakni Malaysia cukup hepi di peringkat ke-25, mengalahkan Belanda (26) dan Jerman (33).

    Kemudian Singapura yang dikenal cukup matang soal peraturan aset kripto, hanya berada di peringkat ke-50. Berturut-turut, Singapura berada di atas Panama, Iran, El Salvador dan Austria.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Fidelity: Institusi Semakin Mengadopsi Bitcoin

    Akibat kelesuan ekonomi global yang disebabkan pandemi COVID-19, Bitcoin dan aset kripto lain mendapat dorongan adopsi besar oleh investor institusi. Hal tersebut diutarakan Christine Sandler, Kepala Pemasaran dan Penjualan Fidelity Digital Assets.

    Sejak tahun 2014, Fidelity telah mulai mempelajari teknologi distributed ledger itu. Mereka menyadari ada sejumlah friksi yang dihadapi institusi dalam hal penyimpanan dan perdagangan aset kripto, serta kurangnya infrastruktur. Sebab itu, Fidelity memutuskan untuk menciptakan layanan dan produk bagi institusi.

    Perusahaan tersebut umumnya memiliki klien dari kalangan investor ritel, individu kaya, family office, penasihat investasi, dana lindung nilai dan hibah, sehingga memungkinkan Fidelity menghadirkan produk-produk baru serta memudahkan penggunaan bagi pelanggan yang belum mengenalnya.

    Kendati demikian, baru pada tahun 2020 terjadi pergeseran investasi Bitcoin oleh institusi. Faktor yang mendorongnya adalah pandemi dan regulasi produktif oleh organisasi seperti Komisi Pertukaran dan Sekuritas AS (SEC) serta Kantor Pengawas Mata Uang AS.

    Sandler menjelaskan, pada tahun ini terjadi adopsi narasi emas digital. Bitcoin mulai diminati oleh investor institusi, seperti dana lindung nilai, individu kaya dan family office. Terjadi perluasan jenis klien yang berinteraksi dengan ekosistem aset kripto.

    Pada Agustus 2020, presiden Fidelity, Peter Jubber, mengumumkan rencana untuk meluncurkan dana indeks Bitcoin.

    Dengan investasi minimal US$100 ribu, produk ini ditujukan bagi institusi serta investor terakreditasi yang tidak bisa membeli Bitcoin langsung.

    Sandler berkata dana indeks tersebut diperuntukkan pihak yang terkendala menyimpan Bitcoin spot dalam portofolio mereka.

    Soal Bitcoin exchange-traded funds (ETF), suatu inisiatif yang telah berulang kali diajukan berbagai perusahaan dan ditolak SEC, Sandler berkata hal tersebut akan fantastis.

    Jika terjadi, layanan tersebut akan memberikan akses instan terhadap Bitcoin bagi investor tradisional, dan mampu menggenjot permintaan.

    Kendati institusi mulai serius terhadap Bitcoin, sikap tersebut tidak diberikan kepada aset kripto lain seperti Ethereum. Sandler menjelaskan klien Fidelity menunjukkan minat terhadap Ethereum hanya sesekali, dan minat utama masih ditujukan kepada narasi Bitcoin. Narasi emas digital lebih tepat mengena investor tradisional.

    Tetapi, dukungan bagi Ethereum ada di rencana Fidelity Digital Assets. Dengan adanya fitur Proof-of-Stake sebagai bagian Ethereum 2.0, Fidelity berencana menambahkan dukungan bagi layanan terkait di masa depan.

    “Sebagai kustodian aset digital, kita harus menawarkan layanan staking. Saya pikir kami akan menciptakan layanan tersebut setelah kami resmi mendukung Ethereum, tapi saat ini yang kami dengar kebanyakan adalah Bitcoin,” tambah Sandler.

    Baca Juga: Filecoin Capai Kapasitas 1 Exabyte, Lebih Besar dari Netflix!

    Sandler juga menyoroti lembaga keuangan tradisional yang mulai menyusul masuk ke industri aset kripto, dan uang digital bank sentral akan hadir dalam beberapa tahun ke depan. Ekosistem kripto berkembang cepat, terutama dengan adanya kegunaan tokenisasi aset nyata serta kontrak pintar (smart contract).

    Ia berpikir bukan tidak mungkin dolar digital atau uang digital bank sentral akan digunakan untuk berinteraksi dengan ekosistem tersebut. Kripto dan uang fiattradisional akan hidup berdampingan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Dapat Meningkat 20x Lipat dan Ungguli Emas!

    Salah satu pendiri Gold Bullion International, Dan Tapiero percaya hanya masalah waktu sebelum harga Bitcoin melonjak ke nilai dengan enam digit.

    Dilansir dari Pomp Podcast bersama Anthony Pompliano, Tapiero menegaskan dalam hal apresiasi harga, Bitcoin adalah rajanya. Namun, ia juga percaya sebagai seorang investor harus memiliki kedua aset berharga tersebut, emas dan Bitcoin,

    Baca Juga: Filecoin Capai Kapasitas 1 Exabyte, Lebih Besar dari Netflix!

    “Dalam lima tahun ke depan, saya bisa mengindikasikan emas akan seharga $4.000, bertambah nilainya dua kali lipat. Namun, jika emas dapat bernilai $4.000, Bitcoin mungkin akan berada di antara $300.000 dan $500.000, nilai itu dapat berlipat ganda hingga 20x hingga 30x.”

    Tapiero percaya, investor institusional dan whales bidang keuangan kemungkinan besar akan berinvestasi antara lima hingga 15 persen dari portofolio mereka pada Bitcoin. Ia juga percaya bahwa ruang mata uang crypto ini akan bernilai lebih dari $100 triliun,

    “Bagian tersebut sangat besar. Maksud saya, 15% dari $100 triliun adalah $15 triliun. ”

    Ia juga menganggap, Bitcoin sebagai lindung nilai untuk sistem fiat saat ini dan begitu kapitalisasi pasarnya mencapai triliunan dolar, akan menjadi lebih mudah untuk investor yang lebih besar masuk ke dalam ruang ini. Hal ini mirip dengan pasar emas yang ada.

    Baca juga: 4 Persamaan Bitcoin dan Emas Sebagai Alat Investasi Masa Kini

    Saat ini, emas merupakan penyimpan nilai yang tidak diragukan lagi lantaran cara kerja aset tersebut selama ribuan tahun, dan aspek ini juga dipercaya ada pada Bitcoin. Bitcoin merupakan keseluruhan jaringan (entitas) dan itu alasan Tapiero yakit bahwa Bitcoin akan jauh lebih besar dari emas,

    “Tidak diragukan lagi bahwa Bitcoin akan mengungguli emas.”

    Baca juga: Seberapa Profit Bitcoin Dibandingkan Emas dalam 10 Tahun?

    Analis lain juga bersikap optimis terkait dengan Bitcoin ini. Bersama kepala investasi Off the Chain Capital Brian Estes mengatakan kepada Reuters Bitcoin akan dapat melampaui nilai $100.000 dalam satu tahun, dan memperkirakan bahkan Bitcoin bisa mencapai nilai $288.000 di akhir 2021.

    Pembawa acara CNBC Jim Cramer juga percaya pada masa depan Bitcoin, seperti yang terungkap di podcast lain dengan Pompliano. Cramer, yang dahulu merupakan seorang skeptis Bitcoin pada bull market 2017, baru-baru ini menyatakan bahwa ia menyadari Bitcoin merupakan lindung nilai yang baik terhadap inflasi,

    “Saya rasa anak-anak saya nanti, ketika mereka mendapatkan warisan, tidak akan terlalu nyaman dengan emas, dan akan merasa lebih nyaman dengan crypto.”

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Tembus Nilai Tertinggi Sejak 2018!

    Setelah mengalami pasang surut lantaran pandemi, Bitcoin berhasil menembus nilai tertingginya sejak 2018 silam!

    Bitcoin sempat memecahkan nilai tertinggi tahun ini pada 28 Oktober 2020 lalu di kisaran $13863. Ada beberapa koreksi, tetapi berhasil rebound dan stabil di kisaran $13281.

    Ditutup pada hari Jumat kemarin dengan $13.680, Bitcoin berhasil memecahkan rekor $14.100 alias menembus lebih dari Rp200 juta di hari ulang tahunnya yang ke-12 di 31 Oktober 2020 ini.

    Bitcoin Naik ke Nilai Tertinggi Baru

    Bitcoin mengalami kenaikan sejak turun drastis pada pertengahan Maret 2020 lalu, ketika pasar dunia anjlok sebab pandemi.

    Bagi para trader swing dan sedang menemptakan posisi, Bitcoin sedang mengalami tren bullish sejak Maret lalu. Jika tren berlanjut, support terkuat saat ini mendekati $11.500 dengan level resistance di atas $14.500. Level ini belum pernah ditembus sejak awal 2018 silam, ketika pergerakan bearish pada Bitcoin terjadi setelah mengalami bubble di Desember 2017.

    Dari sudut pandang teknis, Bitcoin berada dalam zona overbought. RSI diatas 70 poin, analis memprediksi akan ada aksi jual di beberapa hari ke depan. Namun, sentimen pasar dan banyaknya perusahaan besar yang terus mendukung Bitcoin, membuat akan terus ada dorongan harga naik.

    Baca juga: Perusahaan Besar Dukung Bitcoin, Sebentar Lagi Giliran Bank

    Jangka Pendek Bitcoin

    Jika dilihat kondisi jangka pendek, Bitcoin belum menembus koreksi support indikator Fibonacci di $12.900, dan RSI dan MACD memungkinkan koreksi harga setelah pemulihan terjadi.

    Pemilihan presiden di AS juga berdampak besar pada sentimen pasar di sana. Hal itu tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi pasar mata uang crypto, terutama Bitcoin. Jika pasar saham menguat, investor optimis ini juga akan mengangkat pasar crypto.

    Baca Juga: Kenali Jenis-jenis Investasi Decentralized Finance (DeFi)

    Jika itu terjadi, atau paling tidak semuanya berjalan “normal”, analis memprediksi Bitcoin dapat menyentuh ATH pada pertengahan tahun depan. Tahun 2020 ini menjadi tahun gemilang bagi Bitcoin, pasalnya pada tahun ini Bitcoin berhasil menembus angka $10.000 untuk waktu yang lama.

    Perjalanan bullish dalam beberapa bulan terakhir juga merupakan tren naik sejak harga bubble pada 2017 lalu.

    sumber.

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Hal yang Harus Diketahui Sebelum Membeli Bitcoin atau Aset Kripto Pertamamu!

    Artikel ini berisi tentang beberapa hal yang perlu dipahami sebelum mengambil lompatan dan memulai investasi aset kripto:

    Penting memahami bahwa gerakan kripto global adalah tentang desentralisasi kontrol keuangan, desain dan penyelesaian keuangan. Saat yang tepat untuk melakukan investasi aset kripto dan memahami cara kerjanya adalah ketika anda ingin mencari penyelesaian akan masalah-masalah yang dihadapi seperti kesal karena harus membayar biaya transaksi yang besar untuk memindahkan uang, kesal karena bank tutup di hari Minggu dan tanggal merah dan sebagainya. Dengan kripto, para nasabah tidak perlu bergantung terhadap bank, karena siapapun bisa menjadi bank nya sendiri dengan adanya aplikasi perdagangan aset kripto

    Baca Juga: Bitcoin akan Capai $ 400.000 Dalam Siklus Bulls Berikutnya Jika Sejarah Berulang

    Terdapat begitu banyak jenis aset kripto saat ini, dan penting bagi para trader untuk memahami mengapa beberapa diantaranya lebih banyak digunakan daripada yang lain. Mirip dengan bagaimana mata uang nasional memiliki harga yang berbeda dan tingkat inflasi yang berbeda, hanya karena harganya murah bukan aset tersebut bagus. Riset perlu dilakukan. Sebagai contoh, hanya akan ada 21 juta bitcoin yang beredar, yang mungkin kedengarannya tidak banyak. Tetapi pada kenyataannya, bitcoin dapat dibagi menjadi potongan-potongan kecil. Para trader dapat memiliki sebagian kecil dari satu bitcoin. Bitcoin dapat di denominasi sedikit demi sedikit. 

    Saat ini terdapat 1,7 miliar orang di dunia yang tidak memiliki rekening bank, tetapi dengan smartphone, mereka dapat mengunduh dompet kripto yang memungkinkan mereka bertransaksi dengan siapapun, kapanpun dan dimanapun di dunia ini. Jika peduli terhadap inklusi keuangan, ini adalah cara yang bagus untuk membawa miliaran orang ke dalam struktur keuangan global

    Beberapa orang membeli aset kripto karena ingin berinvestasi di kelas aset baru. Sebagian orang lainnya menggunakan aset kripto untuk pembayaran lintas batas. Hal ini karena aset kripto menggunakan jaringan peer-to-peer yang segera mengkonfirmasi dan menyelesaikan transaksi dalam waktu yang singkat. Di Indonesia, aset kripto dinilai legal sebagai sebuah komoditi yang diperjualbelikan di bursa berjangka. 

    Masa pandemi seperti ini jauh lebih aman untuk melakukan transaksi dalam bentuk digital dibandingkan dengan menggunakan uang kertas. Di aset kripto, kita dapat menemukan stablecoin, yaitu aset kripto dengan nilai yang setara dengan mata uang nasional. Salah satu contohnya adalah USDT (setara dengan USD) atau BIDR (setara dengan Rupiah Indonesia). Stablecoin juga menggunakan jaringan peer-to-peer yang sama untuk menyelesaikan transaksi. 

    Sangat penting untuk selalu menggunakan kata sandi yang kuat dan amankan dompet dan semua info dengan 2 Factor Authentication. Hal ini dilakukan untuk mencegah peretas mengakses aset kripto anda.

    Baca Juga: Bitcoin Jadi Aset Wajib Dimiliki oleh Investor di 2025

     



    Sumber : news.tokocrypto.com