Tag: btc

  • Analisis Tunjukkan 2023 Mungkin Waktu Terbaik untuk Akumulasi Bitcoin

    Laporan analisis dari penyedia data kripto, CryptoQuant telah menunjukkan bahwa tahun 2023 adalah waktu terbaik untuk mengakumulasi Bitcoin. Aset kripto paling populer di dunia itu mengalami tahun 2022 yang buruk, tetapi telah pulih dengan beberapa keuntungan di awal 2023 ini.

    Analisis tersebut dilaporkan oleh Tekedia, yang mencatat laporan harga Bitcoin penulis CryptoQuant, Dan Lim. Di dalamnya, Lim mendukung penilaiannya dengan mencatat rasio nilai Pasar BTC terhadap Market value to realized value (MVRV).

    Meskipun November lalu Bitcoin berada di sekitar harga mendekati US$ 16.000, itu telah menandai titik terendah di akhir tahun 2022 yang sangat rendah bagi industri secara keseluruhan. Hampir 300 hari crypto winter telah berdampak buruk pada industri.

    2023 Adalah Waktu Terbaik untuk BTC?

    Rasio Bitcoin MVRV. Sumber: Dan Lim/CryptoQuant.
    Rasio Bitcoin MVRV. Sumber: Dan Lim/CryptoQuant.

    Baca juga: BLK 2023: Ekosistem Blockchain & Aset Kripto Tumbuh Subur di Indonesia

    Selanjutnya, tahun 2023 dimulai dengan banyak optimisme untuk industri dan BTC. Meskipun telah naik level sekitar US$ 22.000, satu analisis menyatakan bahwa tahun 2023 masih merupakan waktu terbaik untuk mengakumulasi Bitcoin berdasarkan pengamatan penyedia data crypto, CryptoQuant.

    Analisis dipusatkan di sekitar rasio MVRV, yang digambarkan sebagai “indikator menonjol yang membantu trades dalam menentukan apakah suatu aset dinilai terlalu tinggi atau terlalu rendah pada posisinya saat ini.” Selain itu, indikator tersebut digunakan untuk mengidentifikasi tekanan jual pada investor.

    Laporan tersebut menyatakan rasio MRV naik di atas angka 1,0 pada tanggal 19 Januari. Saat ini, indikatornya berada di 1.112, masih melayang di atas tanda undervalued sesuai dengan “tren historis.” Selanjutnya, analisis menyatakan BTC tidak pernah jatuh di bawah angka 1,0 tanpa segera kembali ke atas.

    Tetap Cermat

    Ilustrasi Bitcoin.
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Gerak Bitcoin Bentuk Pola Golden Cross, Pertanda Harga BTC Naik?

    Namun, laporan tersebut mencatat faktor makroekonomi dan koneksi BTC ke keuangan tradisional “mendorong investor untuk menggunakan teknik beli terpisah jangka panjang untuk melakukan lindung nilai terhadap peristiwa yang tidak terduga.” Secara meyakinkan, laporan tersebut menyatakan bahwa jika bull market muncul, investor akan secara retrospektif mengamati tahun 2022 dan 2023 sebagai “zona pembelian Bitcoin yang paling menarik”.

    Penting juga untuk dicatat bahwa beberapa analis telah memperkirakan bahwa peristiwa Bitcoin halving berikutnya, yang dijadwalkan pada tahun 2024, akan secara dramatis ‘mendorong’ harga Bitcoin, termasuk pakar komoditas senior Bloomberg, Mike McGlone, yang percaya bahwa BTC dapat mencapai US$ 100.000 di kisaran itu. waktu.

    Pastikan kamu hanya melakukan trading kripto Bitcoin (BTC) di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah. Kamu juga bisa menyimak berbagai informasi terbaru mengenai kripto dengan mengunjungi website TokocryptoInstagramTwitter, serta komunitas Tokocrypto!

    DISCLAIMERBukan saran atau ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Banyak Generasi Milenial Memandang Bitcoin sebagai Safe Haven

    Aset kripto, seperti Bitcoin (BTC) sudah terlihat sebagai investasi yang menjanjikan di masa depan. Sebuah survei terbaru bahkan menyebutkan banyak generasi milenial yang memandang Bitcoin sebagai safe haven dari investasi mereka.

    Sebuah studi oleh BanklessTimes mengungkapkan bahwa 67% responden berusia 27-42 menganggap Bitcoin sebagai instrumen yang aman untuk investasi.

    Jajak pendapat sebelumnya menunjukkan bahwa kaum milenial adalah salah satu kelompok demografis paling aktif di ruang kripto dan memiliki pandangan yang lebih ramah daripada generasi yang lebih tua.

    Investasi Aman

    Dikutip Crypto Potato, sebanyak 67% dari generasi milenial yang disurvei menganggap BTC sebagai tempat yang aman karena sifatnya yang terdesentralisasi dan batas pasokan tetap.

    Menurut Jonathan Merry, CEO BanklessTimes, aset kripto utamanya adalah instrumen investasi vital bagi kaum milenial karena menawarkan kebebasan finansial dan memungkinkan mereka melakukan diversifikasi di saat ketidakpastian ekonomi.

    Mereka yang lahir antara tahun 1981-1996 lebih terbuka terhadap inovasi digital dan lebih cenderung berurusan dengan BTC daripada Generasi X dan Baby Boomers. Individu yang lebih tua tetap dominan konservatif dengan tetap berpegang pada mata uang fiat dan mengekspresikan skeptisisme terhadap sektor kripto.

    Ilustrasi generasi milenial semakin tertarik investasi aset kripto.
    Ilustrasi generasi milenial semakin tertarik investasi aset kripto. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Bitcoin Menuju Level Harga Tertinggi 6 Bulan, Akankah Terus Naik?

    Sebagian besar milenium yang berpartisipasi dalam survei percaya bahwa Bitcoin akan menjadi arus utama di tahun-tahun berikutnya. Mereka juga melihatnya sebagai alat moneter yang lebih baik daripada Dolar AS, Euro, atau mata uang nasional lainnya.

    Bitcoin Menarik Minat

    Sifat aset Bitcoin yang terdesentralisasi dan batas persediaan yang terbatas tampaknya menjadi manfaat paling penting bagi kelompok demografis untuk mengklasifikasikannya sebagai instrumen investasi yang aman atau safe haven.

    Berada di luar jangkauan bank sentral berarti Bitcoin bukan subjek dari kebijakan moneter yang meragukan yang diperkenalkan oleh pemerintah. Pasokan maksimum 21 juta koin yang pernah ada membuat banyak orang percaya bahwa itu bisa berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Kelangkaan juga dapat meningkatkan valuasi USD aset di masa mendatang jika permintaan tetap sama atau meningkat.

    Di sisi lain, banyak bank sentral mencetak uang dalam jumlah besar selama krisis COVID-19 untuk mendukung rumah tangga dan bisnis tertutup. Langkah tersebut, antara lain, mendorong rekor inflasi di banyak negara. Tingkat di AS mencapai 9,1% pada Juni tahun lalu, tertinggi empat dekade.

    Ilustrasi Bitcoin.
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Xendit x Tokocrypto: Kolaborasi Bangun Ekosistem Aset Kripto di Indonesia

    Milenial dan Kecintaan Kripto

    Studi lain yang dilakukan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa hampir 50% miliader milenial telah menginvestasikan setidaknya seperempat dari kekayaan mereka dalam aset kripto.

    36% generasi milenial dan 51% Generasi Z bersedia menerima sebagian dari gaji mereka dalam Bitcoin pada November 2021. Saat itu, aset kripto utama diperdagangkan sekitar US$ 65.000 (cukup dekat dengan harga tertinggi sepanjang masa hampir US$ 70 ribu).

    Terlepas dari bear market pada tahun 2022, kelompok demografis tidak kehilangan minat pada kelas aset. Survei Alto dari musim panas lalu mengungkap bahwa 40% dari generasi milenial AS adalah HODLers. Mereka juga memandang kripto sebagai alat investasi yang lebih menarik daripada reksa dana.

    Selain itu, 45% generasi milenial dan 46% Gen Z mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam aset digital sebagai bagian dari rencana pensiun mereka.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Menuju Level Harga Tertinggi 6 Bulan, Akankah Terus Naik?

    Bitcoin, aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, sedang mengalami kenaikan harga pada hari Rabu (16/1) menembus level US 24.000 atau sekitar Rp 364 juta. Hal tersebut sangat kontras dengan performa pasar saham yang tengah lesu.

    Dilaporkan Coindesk, investor telah melikuidasi sekitar US$ 60 juta pada posisi pendek atau short positions BTC selama 24 jam terakhir, sehingga mendorong harga lebih tinggi dan kripto lain, seperti Ethereum (ETH) juga mengalami kenaikan.

    Persentase kenaikan tersebut merupakan yang terbesar sejak BTC melonjak 10,5% pada 9 September lalu. BItcoin juga tengah menargetkan kenaikan harga tertinggi enam bulannya di posisi US 24.829 atau sekitar Rp 377 juta.

    Sentimen Pasar

    Grafik harian BTC/USDT. Sumber: TradingView.
    Grafik harian BTC/USDT. Sumber: TradingView.

    Baca juga: Dogecoin & Shiba Inu Naik Saat Elon Musk Umumkan ‘CEO’ Twitter Baru

    Kenaikan harga Bitcoin yang signifikan menjadi pemicu positif terhadap kondisi pasar kripto secara keseluruhan. Meskipun Indeks Dolar AS (DXY) melonjak, pasar kripto telah berhasil menunjukkan ketahanan.

    Menurut data yang diberikan oleh situs CoinGecko, harga Bitcoin (BTC) kini telah melonjak lebih dari 11% dalam 24 jam terakhir. Namun, itu tetap di bawah level make-it-or-break-it di US$ 25.000. Altcoin utama, seperti Ethereum (ETH) dan XRP juga naik lebih dari 2%. Dogecoin (DOGE) memimpin di antara 10 koin teratas terbesar dengan kenaikan 3%.

    Sebelumnya Bitcoin telah turun di bawah US$ 21.600 pada titik yang berbeda dalam beberapa hari terakhir di tengah meningkatnya kegelisahan investor tentang regulasi kripto, terutama menargetkan pasar stablecoin, dan tentang langkah-langkah bank sentral AS di masa depan untuk menjinakkan inflasi. Tetapi kekhawatiran itu tampaknya memudar dengan cepat karena BTC melonjak melewati US$ 24.100.

    Ketahanan Kripto

    market aset kripto
    Ilustrasi market aset kripto.

    Baca juga: Riset: Investor Lebih Percaya Simpan Kripto di Exchange Dibanding Wallet

    Craig Erlam, seorang analis di broker Oanda, mengatakan bahwa ketahanan kripto cukup menggembirakan meskipun ada berita utama peraturan yang negatif. Meski pasar saham jatuh, Bitcoin tetap tangguh.

    Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 turun setelah pembacaan inflasi indeks harga konsumen (CPI) terbaru, yang memupus harapan The Fed akan segera beralih ke kebijakan moneter yang kurang agresif. Korelasi antara saham dan kripto telah menguat karena The Fed menaikkan suku bunga secara signifikan selama setahun terakhir untuk mengekang inflasi.

    Tindakan harga terbaru Bitcoin mungkin mengindikasikan bahwa hubungannya dengan saham melemah, yang belum tentu merupakan hasil yang positif. Sentimen investor terhadap kripto tampaknya memburuk bahkan setelah reli 40% yang dimulai pada tahun 2023. Tim firma riset Crypto Arcane baru-baru ini mencatat bahwa partisipasi institusional sedang menurun berdasarkan penurunan minat terbuka CME Group.

    Pastikan kamu hanya melakukan trading kripto Bitcoin (BTC) di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah. Kamu juga bisa menyimak berbagai informasi terbaru mengenai kripto dengan mengunjungi website TokocryptoInstagramTwitter, serta komunitas Tokocrypto!

    DISCLAIMERBukan saran atau ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kisah Simpan Bitcoin 11 Tahun, Saldo Rp 121 Ribu Naik Jadi Rp 144 Miliar

    Ada kisah menarik soal bukti nyata simpan Bitcoin (BTC) bisa membawa keuntungan investasi jangka panjang. Jadi ada sebuah wallet Bitcoin yang tidak aktif selama lebih dari satu dekade, lalu hidup kembali dan mendapatkan keuntungannya yang fantastis hingga miliaran rupiah.

    Sejak 1 Oktober 2012, wallet Bitcoin ‘1MMXRA’ menampung 412,12 BTC yang terakumulasi dalam empat transaksi, seluruhnya hanya bernilai US$ 8 atau sekitar Rp 121 ribu pada saat itu. Tidak ada koin masuk atau keluar dari wallet tersebut sampai tanggal 8 Februari terjadi transaksi dengan nilai Bitcoin telah melonjak seharga US$ 23.000 pada hari itu.

    Jumlah 412,12 BTC dipindahkan dari wallet dalam satu transaksi, menyisakan saldo 0,11 BTC senilai US$ 2.572. Menurut data dari bitinfocharts, wallet tersebut menghasilkan keuntungan sebesar US$ 9,5 juta atau sekitar Rp 144 Miliar, karena perubahan harga atau apresiasi. Dengan begitu ada keuntungan mencapai 120.000.000%.

    Ilustrasi Bitcoin.
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Rihanna Rilis NFT Lagu Terpopulernya, Kolektor Bisa Dapat Royalti

    Meskipun seseorang tidak dapat mengesampingkan daya tahan dan keyakinan pemilik untuk dapat “bertahan” selama lebih dari 11 tahun, wallet juga mungkin diaktifkan kembali setelah pemiliknya dapat akses untuk membukanya.

    Nilai Bitcoin Naik

    keuntungan yang mencapai ratus jutaan persen itu terjadi karena Bitcoin telah tumbuh nilainya selama bertahun-tahun. Bitcoin diperdagangkan mendekati US$ 12,36 sekitar waktu alamat tersebut membeli simpanan Bitcoinnya pada akhir September 2012.

    Glassnode dari bulan lalu menunjukkan bahwa jumlah koin yang disimpan dalam jangka panjang tumbuh pada tingkat 100.000 per bulan, meskipun pemegang jangka pendek mengambil kesempatan untuk mendapat untung dari reli aset baru-baru ini.

    Pada bulan Maret 2022, wallet yang lebih tua juga diketahui menyimpan 489 Bitcoin sejak Oktober 2010, ketika harga Bitcoin hanya US$ 0,19. Itu terjadi berbulan-bulan sebelum pencipta nama samaran Bitcoin, Satoshi Nakamoto meninggalkan proyek.

    Ilustrasi Satoshi Nakamoto. Foto: Getty Images.
    Ilustrasi Satoshi Nakamoto. Foto: Getty Images.

    Baca juga: Riset: Investor Lebih Percaya Simpan Kripto di Exchange Dibanding Wallet

    Satoshi diduga memegang sebanyak 5% dari seluruh pasokan Bitcoin karena penambangan di masa-masa awal jaringan, tetapi banyak yang tidak percaya koin itu akan bergerak lagi.

    Aksi Harga Bitcoin

    Aksi harga Bitcoin pada saat artikel ini terbit diperdagangkan pada US$ 22.152, naik 1,78% dalam 24 jam terakhir. Pasar kripto rebound pada hari Rabu (15/2) karena investor menyambut data CPI Januari 2023 yang menyebutkan inflasi AS tengah melambat.

    Harga Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) terpantau naik pada Rabu (15/2) pagi imbas data consumer price ondex (CPI) yang menunjukan inflasi mereda selama tujuh bulan berturut-turut di bulan Januari 2023. Meski begitu, banyak analis menilai investor masih mencerna data tersebut sehingga kenaikan pasar kripto belum signifikan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Proyeksi Harga Bitcoin yang Tertekan di Awal Mei 2022, Terus Turun?

    Kondisi aset kripto, seperti Bitcoin dan market secara keseluruhan terpantau tertekan sepanjang awal Mei 2022. Melansir CoinMarketCap pada Senin (9/5) pukul 12.00 WIB, 10 aset kripto utama terlihat masuk ke zona merah dalam 24 jam terakhir.

    Nilai Bitcoin (BTC) terjerembab 2,27% dalam 24 jam terakhir dan bertengger di $ 33.602,87 per keping. Sementara itu, nilai Ethereum (ETH) turun 3,27% ke $ 2.450,26 per keping di waktu yang sama.

    Altcoin lainnya pun bernasib serupa. Nilai BNB merosot 3,14% dalam sehari belakangan. Sementara itu, nilai Solana (SOL), Cardano (ADA), dan Terra (LUNA) masing-masing anjlok 3,46%, 4,46% dan 3,72% di waktu yang sama.

    Tren Turun Bitcoin

    Nasib Bitcoin kini sedang mendung. BTC gagal menembus tren naik jangka pendek karena sinyal momentum berubah negatif. BTC menahan reli di level $ 40.000 selama beberapa bulan terakhir dan turun 47% dari level tertinggi sepanjang masa sekitar $ 69.000 yang dicapai pada November tahun lalu.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan ada beberapa faktor fundamental yang membuat harga BTC tertekan. Mulai dari kebijakan bank sentral AS, the Fed, telah memberi dampak besar pada Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.
    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.

    Baca juga: Mengenal Kripto AC Milan Fan Token (ACM) dan TrueFi (TRU)

    “Jadi peningkatan volatilitas pasar dalam beberapa waktu terakhir ini dapat dikaitkan dengan kenaikan inflasi, krisis geopolitik dan kekhawatiran atas kebijakan moneter yang lebih ketat oleh The Fed. Nilai BTC terus terbebani oleh tekanan makroekonomi dan sentimen umum pasar yang belum pulih,” kata Afid pada Senin (9/5).

    Lebih lanjut, Afid menambahkan fluktuasi harga Bitcoin baru-baru ini juga masih berhubungan dengan ketidakpastian yang berkelanjutan atas pandemi COVID-19 dan tindakan regulasi baru oleh pemerintah AS, termasuk perintah eksekutif Joe Biden.

    Pergerakan Bitcoin dan altcoin, saat ini berkorelasi dengan aset sensitif risiko lainnya seperti saham, terutama saham teknologi, selama beberapa bulan terakhir. Saham-saham teknologi pun berguguran. Nilai saham Alphabet, Microsoft, Amazon, dan Meta kompak terjerumus lebih dari 1%.

    Secara lebih umum, dari data analisis on-chain sebagian besar investor jangka pendek telah menjual kepemilikan BTC mereka sebagai reaksi terhadap penurunan harga. Aksi jual mereka mungkin berkontribusi terhadap penurunan nilai Bitcoin. Nilai pasar BTC saat ini sekitar $ 662 miliar, setara dengan 39,4% dari ekonomi crypto senilai $ 1,68 triliun.

    Ilustrasi Bitcoin
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: 5 Crypto Potensial Bulan Mei 2022: KAVA, EOS, RUNE, NEAR dan SCRT

    Proyeksi Harga Bitcoin Awal Mei 2022

    Afid mengatakan secara keseluruhan market kripto masih cenderung terus turun. Pada grafik Bitcoin: Estimated Leverage Ratio dari CryptoQuant, BTC berisiko menembus di bawah rata-rata pergerakan tembus sekitar $ 30.000. Namun, tidak menutup kemungkinan akan terjun ke area $ 25.000—$ 27.000 yang faktanya bakal sangat menyakitkan bagi banyak investor.

    “Jika BTC tembus ke harga $ 27.000, berarti capai level terendah dari Juli 2021 lalu. Meski begitu, penurunan ini mungkin akan berlangsung lama dan pemulihan harga tampaknya lebih cepat,” ucapnya.

    Grafik Bitcoin: Estimated Leverage Ratio dari CryptoQuant.
    Grafik Bitcoin: Estimated Leverage Ratio dari CryptoQuant.

    Dari analisis teknikal, harga BTC lagi berusaha mempertahankan posisi di level support-nya $ 34.000. Jika harga terus menuju ke bawah level support, berarti ini konfirmasi bahwa harga akan terus mengalami penurunan ke level selanjutnya di sekitar $ 30.000.

    “Tapi mungkin Bitcoin akan bertahan di level support $ 34.000, selama beberapa hari baru akan ada konformasi selanjutnya, yaitu terus mengalami penurunan ke $ 30.000,” jelasnya.

    Analisis teknikal harga Bitcoin awal Mei 2022.
    Analisis teknikal harga Bitcoin awal Mei 2022.

    Dalam grafik CryptoQuant, Bitcoin masih menunggu konfirmasi, baik Short Squeeze maupun Long Squeeze. Jika garis ungu mengalami kejatuhan, berarti akan dampak likuidasi untuk posisi long, maka berkurangnya leverage membuat harga mengalami penurunan berkelanjutan atau Short Squeeze.

    “Untuk Short Squeeze sebaliknya, tapi market lebih melihat ke arah Short Squeeze daripada Long Squeeze. Tidak ada penahanan lagi untuk mengalami kenaikan dan akhirnya market ambrol,” pungkasnya Afid.

    Baca juga: Ini Skema Perhitungan Pajak Kripto di Tokocrypto Berlaku 1 Mei 2022



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisis Potensi Kenaikan Harga Bitcoin Jelang Laporan CPI Terbaru

    Harga Bitcoin (BTC) memang tengah terpuruk, namun laporan data Consumer Price Index (CPI) alias Indeks harga konsumen Amerika Serikat (AS) yang diumumkan pada Selasa, 14 Februari 2023 malam WIB bisa menjadi sentimen pendorong kenaikan selanjutnya.

    Pasar kripto memiliki periode bullish di awal tahun, tetapi risiko regulasi dan ketakutan The Fed masih akan menjadi hambatan, membatasi keuntungan jangka pendek. Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) baru-baru ini mengambil sikap keras terhadap bursa kripto, Kraken, menempatkan sektor aset kripto secara keseluruhan di bawah tekanan. Sebuah langkah yang menyebabkan kerugian dua digit untuk beberapa aset kripto.

    Bitcoin turun di bawah US$ 22.000 untuk harga pertama dalam tiga minggu di tengah kabar suram ini, dan pangsa pasar kripto turun lebih dari US$ 40 miliar. Untuk menambah bahan bakar pendorong, pada 14 Februari nanti, data CPI atau inflasi AS bulan Januari diharapkan bisa menaikan harga Bitcoin dan altcoin lainnya.

    Optimis Data Inflasi Positif

    Baca juga: Menakar Peluang Token Kripto AI yang Hype, Potensi Bawa Cuan?

    Alex Krüger, seorang ekonom dan investor mengklaim bahwa Ethereum (ETH) dan Bitcoin (BTC) mungkin memiliki potensi penurunan tambahan, tetapi reli kripto baru sudah dekat. Krüger mengklaim bahwa penurunan harga kripto adalah reaksi logis atas penutupan layanan staking Kraken oleh SEC. Tetapi menurut ramalannya, pasar kripto mungkin pulih segera setelah beberapa hari berikutnya.

    “Pandangan pasar kripto cepat. Belum nambah size. Pikirkan bull run berikutnya dimulai dengan CPI atau akhir bulan. Bitcoin dan ETH masih memiliki level putaran di bawah untuk dilindas. Tidak stres tentang pasar juga. Lihat ini sebagai kemunduran yang sehat. Aktifkan sentimen bearish penuh hanya jika CPI mengalahkan 0,2%,” kata Krüger.

    CPI adalah statistik yang sering diamati karena investor menginterpretasikan data baru sebagai tanda apa yang akan dilakukan The Fed selanjutnya untuk melawan inflasi. The Fed dapat memutuskan untuk menunda kenaikan suku bunga yang agresif sebagai tanggapan atas laporan CPI yang berada di bawah ekspektasi konsensus, yang biasanya ditafsirkan sebagai indikator bullish.

    Analisis Teknikal

    Grafik harga harian BTC/USD. Sumber: Crypto Tony/Twitter.
    Grafik harga harian BTC/USD. Sumber: Crypto Tony/Twitter.

    Baca juga: Ini Alasan Harga Kripto Gifto (GFT) Melonjak Tinggi Lebih dari 300%

    Tim Riset Tokocrypto menjelaskan banyak analis berharap ada penurunan 0,4% dalam CPI untuk Januari menjadi 6,1% dari 6,5%. Data inflasi ini akan digunakan oleh The Fed untuk menetapkan suku bunga. Dengan begitu peluang bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada pertemuannya bulan depan semakin terbuka lebar.

    “Diharapkan apabila tingkat inflasi AS mengalami penurunan, Bitcoin kembali menghijau. Ini akan merangsang market kripto bergerak reli untuk menembus kerugian sebelumnya,” tulis analisisnya.

    Dari segi analisis teknikal, candle weekly Bitcoin ditutup merah dengan penurunan sebesar 5,32%. Penutupan mingguan tersebut melihatkan tingginya aksi jual. Ini juga menjadi sinyal adanya penurunan kekuatan dari laju naik Bitcoin.

    Relative strength index (RSI) masih bergerak sideways di area oversold, belum ada pergerakan agresif setelah penurunan tajam. BTC masih bersusah payah untuk kembal rebounce ke level US$ 22.000. Level support terdekat BTC pada level US$ 21.437, ini penting untuk menjaga sentimen bullish Bitcoin.

    Proyeksi bila data inflasi AS sesuai prediksi hasilnya positif adanya penurunan, laju Bitcoin bisa kembali naik untuk tembus level US$ 22.000 atau sekitar Rp 335 juta. Kemudian kuat untuk menargetkan kenaikan capai level US$ 22.437.

    DISCLAIMERBukan saran atau ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Misterius Harga Bitcoin 60% Lebih Tinggi di Nigeria, Kenapa?

    Banyak investor yang bertanya-tanya mengapa harga Bitcoin (BTC) di Nigeria, bisa 60% lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain di dunia. Kenapa bisa terjadi?

    Dilaporkan Cointelegraph, harga Bitcoin di Nigeria telah meroket jauh di atas tingkat pasar global. Penyebab perbedaan ini adalah kurs resmi naira-ke-dolar AS yang digunakan untuk perhitungan.

    Pada saat artikel ini ditulis, harga 1 BTC di bursa kripto Nigeria, NairaEX adalah 17,8 juta naira, setara dengan US$ 38.792 dalam kurs resmi. Namun, media lokal menunjukkan bahwa kurs mata uang asing resmi yang dicantumkan oleh Bank Sentral Nigeria (CBN) tidak mencerminkan harga USD sebenarnya yang tersedia untuk warga negara Nigeria.

    Perbedaan Kurs

    Ilustrasi Bitcoin.
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: BPS Pakai Teknologi Blockchain Olah Data Penduduk Indonesia

    Sesuai nilai tukar CBN resmi, US$ 1 sama dengan 460 Naira Nigeria per 30 Januari. Namun, nilai tukar USD di pasar, atau harga sebenarnya yang dapat ditukarkan Naira Nigeria dengan dolar AS mendekati 750 Naira Nigeria.

    Perbedaan antara kurs resmi naira-ke-USD dan kurs pasar riil USD untuk pedagang Nigeria menyebabkan Bitcoin tampak memiliki “premium” 60% di atas harga pasar saat ini, yaitu sekitar $23.124 pada saat penulisan.

    Baru-baru ini, CBN memperkenalkan uang kertas naira baru dengan tujuan membatasi inflasi dan pencucian uang. Bank sentral memberlakukan tenggat waktu 24 Januari bagi warga Nigeria untuk menukar uang kertas denominasi lama mereka yang lebih tinggi dengan mata uang baru.

    Namun, terjadi antrean panjang dan keluhan karena tidak cukup waktu untuk memenuhi tenggat waktu. Bank sentral sekarang telah memperpanjang tenggat waktu itu hingga 10 Februari, BBC melaporkan pada 29 Januari.

    Nigeria dan Bitcoin

    Presiden Nigeria, Muhammadu Buhari (tengah) dan Gubernur Bank Sentral, Godwin Emefiele (kanan) saat meluncurkan mata uang digital, eNaira.
    Presiden Nigeria, Muhammadu Buhari (tengah) dan Gubernur Bank Sentral, Godwin Emefiele (kanan) saat meluncurkan mata uang digital, eNaira. Foto: Sunday Aghaeze/Nigeria State House via AP

    Baca juga: Mengenal eNaira, Mata Uang Digital Nigeria yang Hebohkan Dunia

    Nigeria telah menjadi negara terdepan untuk pencarian web Bitcoin, menurut Google Trends . Nigeria juga menjadi negara Afrika pertama yang meluncurkan mata uang digital, eNaira.

    Bank Sentral Nigeria telah bergabung dengan daftar pasar negara berkembang yang bertaruh pada aset kripto untuk mengurangi biaya transaksi dan mempromosikan partisipasi dalam sistem keuangan formal.

    Central Bank Digital Currency (CBDC) adalah mata uang digital tak sama seperti aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum yang memiliki nilai sebagian karena tidak terikat dengan mata uang fiat. eNaira akan sama dengan Naira fisik, yang telah mengalami penurunan nilai 5,6% akibat inflasi pada tahun 2021 lalu, meskipun ada upaya stabilisasi moneter bank sentral.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Miliarder Ini Proyeksi Harga Bitcoin Mentok di $ 50.000, Kenapa?

    Banyak spekulasi kenaikan suku bunga oleh The Fed dan banyaknya institusi yang terjun ke industri kripto bisa mendongkrak pergerakan positif harga Bitcoin hingga $ 100.000. Namun, ada sosok miliader yang tidak setuju dengan hal itu.

    Michael Novogratz, CEO Galaxy Digital Holdings Ltd., skeptis dengan kemungkinan Bitcoin akan memecahkan rekor harga tertinggi pada tahun 2022 ini atau bisa menembus harga $ 100.000.

    Menurutnya, harga BTC sepanjang tahun ini, hanya akan bergerak di wilayah $ 30.000 hingga $ 50.000.

    “Saya pikir secara harfiah The Fed belum mulai menaikkan suku bunga, mereka belum mulai menarik likuiditas dari sistem, sehingga sepanjang tahun diperkirakan akan menjadi kisaran $ 30.000 hingga $ 50.000 dalam risiko bitcoin ke atas, bukan ke bawah,” kata Michael Novogratz dikutip Bloomberg.

    Ilustrasi Bitcoin.
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Tokocrypto Market Signal 23 Maret 2022: Kripto Tampil Menawan, Mulai Siuman?

    Investor Belum Investasi Besar di Kripto

    Lebih lanjut, Novogratz menyebutkan, meskipun The Fed mengerek suku bunga, investor nyatanya belum mau menginvestasikan banyak uang ke kripto selama pandemi COVID-19. Dampaknya Bitcoin belum bisa mencapai level tertinggi baru.

    Investor akan selalu mengevaluasi tingkat risiko dengan mempertimbangkan aksi The Fed yang melakukan pengetatan pasar dalam upaya untuk mengatasi inflasi. Ini berarti, memungkinkan mengembosi nilai Bitcoin jauh lebih rendah tahun ini.

    Novogratz menambahkan, perang yang sedang berlangsung di Ukraina juga akan mempengaruhi pilihan investor. Perang yang sedang berlangsung telah membawa pasar saham dan kripto ke dalam serangkaian pergerakan yang tidak terduga.

    Pada saat awal ketegangan Rusia-Ukraina terjadi, harga Bitcoin sempat bereaksi positif, karena diyakini Rusia bakal menggunakan kelas aset untuk menghindari sanksi. Namun, nampaknya tidak terlalu berpengaruh pada pergerakan nilai BTC.

    Ilustrasi aset kripto Bitcoin.
    Ilustrasi aset kripto Bitcoin.

    Baca juga: Kecerdasan Buatan Bisa Digunakan untuk Investasi Aset Kripto

    Harga Bitcoin Bisa $ 500.000 Per Keping

    Dalam wawancara dengan Bloomberg tersebut, Novogratz juga memperkirakan bahwa Bitcoin (BTC) akan mencapai angka $ 500.000 per keping dalam lima tahun ke depan.

    “Anda tahu lima tahun ke depan, jika Bitcoin tidak mencapai $ 500.000, saya salah dalam memprediksi siklus,” katanya.

    Dia percaya bahwa aset kripto terbesar di dunia, Bitcoin telah tumbuh jauh lebih cepat tahun lalu daripada internet pada 1990-an. Novogratz percaya bahwa kita perlu mendapatkan jeda jika Bitcoin ingin reli secara agresif karena cerita naratif BTC adalah untuk membawa orang ke dalam komunitas.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Terus Jatuh, Metrik Tunjukan Fase Extreme Fear

    Penurunan harga Bitcoin (BTC) dalam beberapa pekan ini, membuat metrik Fear and Greed Index menunjukan posisi fase ketakutan ekstrem atau Extreme Fear. Faktanya, metrik tersebut berada dalam kondisi yang terburuk sejak akhir Januari lalu, ketika harga aset turun menjadi $33.000.

    Berdasarkan pantauan situs CoinMarketCap, nilai Bitcoin terus anjlok hingga hari Selasa (10/5) pukul 08.00 WIB, harga BTC berada di $ 31.027,13, turun 9,15% dalam 24 jam terakhir. Sementara, laporan data dari Coingecko, harga BTC anjlok 13,4 persen dalam dua pekan terakhir.

    Jatuhnya harga BTC yang hebat ini mengakibatkan perubahan dalam sentimen pasar secara keseluruhan, yang ditunjukkan oleh Bitcoin Fear dan Green Index. Dengan memeriksa posting media sosial komunitas, survei, volatilitas, volume perdagangan dan lainnya menentukan perasaan umum terhadap aset kripto terpopuler tersebut.

    Bitcoin Fear dan Green Index
    Bitcoin Fear dan Green Index masuk fase Extreme Fear.

    Baca juga: Proyeksi Harga Bitcoin yang Tertekan di Awal Mei 2022, Terus Turun?

    Investor Bitcoin Merasa Takut

    Metrik Bitcoin Fear dan Green Index menunjukkan hasil akhir dari 0 (ketakutan ekstrem) hingga 100 (ketamakan ekstrem). Hasilnya Bitcoin telah berada di wilayah ketakutan sejak pertengahan April, tetapi penurunan harga terbaru mendorongnya ke ketakutan yang ekstrem.

    Menurut laporan Crypto Potato, metrik menunjukan posisi BTC yang berada di posisi terendah sejak penurunan akhir Januari lalu. Performa Bitcoin di awal Mei juga tidak begitu bagus.

    Anjloknya harga BTC membuat para investor dan trader mengalami ketakutan hingga melakukan penjualan. Aksi jual ini turut memicu penurunan harga BTC. Tidak berhenti sampai di situ, anjloknya harga Bitcoin turut memicu penurunan harga altcoin.

    Tren Bitcoin Bakal Terus Turun

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat dari analisis teknikal, harga BTC lagi berusaha mempertahankan posisi di supportnya $ 34.000. Sekarang masih berada di bawah level support-nya dan menunggu konfirmasi pada candle daily.

    “Jika harga menutup di bawah garis level support, berarti ini konfirmasi bahwa harga akan terus mengalami penurunan ke level selanjutnya di sekitar $ 30.000. Tapi, mungkin Bitcoin akan bertahan di level support $ 34.000 selama beberapa hari baru akan ada konformasi selanjutnya, yaitu terus mengalami penurunan hingga capai $ 30.000,” kata Afid.

    Analisis teknikal harga Bitcoin awal Mei 2022.
    Analisis teknikal harga Bitcoin awal Mei 2022.

    Baca juga: Proyeksi Analis: Harga Bitcoin Menguat Pasca $ 25 Ribu, November 2022

    Bulan Mei biasanya merupakan periode musiman yang kuat untuk saham dan kripto. Alasannya secara historis, Bitcoin telah mengalami kenaikan transaksi 17% di bulan Mei dalam 9 tahun terakhir.

    Hal ini dapat memberikan kesempatan bagi investor untuk memasuki pasar setelah tiga bulan melakukan perdagangan sideways. Namun, melihat penurunan yang hebat dan banyaknya sentimen negatif, membuat pergerakan naik akan jauh lebih sulit.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Miliarder Ini Tak Heran Jika Harga Bitcoin Turun Jadi US$ 10 Ribu

    Di tengah kesengsaraan pasar kripto, miliarder ini tak heran jika harga Bitcoin (BTC) akan terus turun, hingga US$ 10.000.

    Saat ini, harga Bitcoin masih belum dapat pulih, terus turun dan mencetak low baru, meski dolar AS mulai melemah akibat langkah The Fed yang menaikkan suku bunga ke 75 basis poin.

    Harga Bitcoin Turun ke US$ 10.000

    Berdasarkan laporan Finbold, miliarder dan CEO dari DoubleLine Capital, Jeffrey Gundlach, yakin bahwa harga Bitcoin akan turun jauh dari US$20.000, yang dianggap orang-orang sebagai titik potensial untuk membangun pijakan pemulihan.

    Jeffrey beranggapan bahwa harga kripto utama akan terus turun, tidak lebih dari US$10.000, yang telah ia ungkapkan dalam wawancara CNBC’s Closing Bell: Overtime.

    Saat pewawancara menanyakan prediksi Jeffrey tentang seberapa rendah Bitcoin akan jatuh, ia mengatakan bahwa tren kripto jelas tidak positif saat ini.

    Baca juga: Harga Bitcoin Agresif, Pasca The Fed Naikkan Suku Bunga Tertinggi

    “Pada Juli tahun lalu, Bitcoin naik menjadi US$60.000 atau lebih, kemudian turun menjadi US$30.000… Pada akhirnya itu akan jatuh dan kemudian harus bangkit kembali tetapi terus masuk, sepertinya sedang dilikuidasi. Jadi saya tidak bullish pada US$20.000 atau US$21.000 pada Bitcoin. Saya tidak akan terkejut sama sekali jika harganya mencapai US$10.000,” tambahnya.

    Di sisi lain, sudut pandang Jeffrey tampak berseberangan dengan ahli strategi komoditas dari Bloomberg, Mike McGlone, yang justru melihat US$20.000 sebagai titik terendah untuk BTC, alias bottom level.

    Baca juga: Era Bearish Pasar Kripto Semakin Tegas, Kapan Akan Berakhir?

    Mike pun meyakini bahwa BTC nantinya akan menjadi produk investasi penting, sehingga harganya akan melesat ke US$100.000 pada tahun 2025, satu tahun pasca halving terbaru BTC.

    Dan yang patut disorot saat ini adalah, kekhawatiran terjadinya resesi, pasca langkah agresif the Fed dalam menaikkan suku bunga. Beberapa analis memperkirakan ini akan terjadi pada pertengahan 2023.

    Dan jika resesi terjadi, maka pernyataan Robert Kiyosaki, penulis buku keuangan terlaris, Rich Dad Poor Dad, akan menjadi kenyataan.

    Robert berpendapat bahwa, AS akan jatuh ke dalam resesi karena ulah the Fed, sehingga emas, perak dan Bitcoin akan menyelamatkan kekayaan Anda. Ia pun mengatakan bahwa ini layak untuk dibeli sebanyak-banyaknya.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com