Tag: CBDC

  • Mengenal eNaira, Mata Uang Digital Nigeria yang Hebohkan Dunia

    Nigeria menjadi negara Afrika pertama yang meluncurkan mata uang digital, eNaira. Bank Sentral Nigeria telah bergabung dengan daftar pasar negara berkembang yang bertaruh pada cryptocurrency untuk mengurangi biaya transaksi dan mempromosikan partisipasi dalam sistem keuangan formal. 

    “Nigeria telah menjadi negara pertama di Afrika dan salah satu yang pertama di dunia yang memperkenalkan mata uang digital kepada warganya,” kata Presiden Muhammadu Buhari dalam pidato di televisi pada pemutaran perdana di ibukota, Abuja. 

    “Adopsi mata uang digital bank sentral dan teknologi dasarnya, yang dikenal sebagai blockchain, dapat meningkatkan produk domestik bruto Nigeria sebesar $29 miliar selama 10 tahun ke depan.”

    eNaira dan Kritik Kegunaannya

    International Monetary Fund (IMF) memperkirakan bahwa PDB ekonomi terbesar Afrika akan tumbuh menjadi $480 miliar pada tahun 2021, karena menimbulkan ancaman bagi sistem keuangan. 

    Gubernur Bank Sentral Nigeria, Godwin Emefiele, mengatakan sejak peluncurannya, eNaira telah menerima lebih dari 2,5 juta kunjungan setiap hari, dengan 33 bank terintegrasi pada platform, 500 juta Naira ($ 1,2 juta) diterbitkan untuk publik dan lebih dari 2.000 pelanggan terintegrasi.

    Presiden Nigeria, Muhammadu Buhari (tengah) dan Gubernur Bank Sentral, Godwin Emefiele (kanan) saat meluncurkan mata uang digital, eNaira.

    Presiden Nigeria, Muhammadu Buhari (tengah) dan Gubernur Bank Sentral, Godwin Emefiele (kanan) saat meluncurkan mata uang digital, eNaira. Foto: Sunday Aghaeze/Nigeria State House via AP

    Baca Juga Apa yang Membuat CEO Apple Tertarik pada Cryptocurrency?

    Tetapi, para ahli dan pengguna eNaira itu mengatakan fakta bahwa ada lebih banyak pertanyaan daripada jawaban mengenai mata uang digital itu. Sejumlah besar kekhawatiran atas konsistensi aturan Bank Sentral menyebabkan pemerintah menghadapi jalan yang sulit untuk membuat eNaira sukses.

    Populasi muda Nigeria yang paham teknologi bersemangat mengadopsi mata uang digital. Penggunaan mata uang kripto telah berkembang dengan cepat, meskipun ada larangan untuk bank dan lembaga keuangan di Negeria yang berurusan atau memfasilitasi transaksi cryptocurrency di dalamnya.

    eNaira yang Tak Sama dengan Bitcoin

    Central Bank Digital Currency (CBDC) adalah mata uang digital tak sama seperti cryptocurrency seperti Bitcoin dan Ethereum yang memiliki nilai sebagian karena tidak terikat dengan mata uang fiat. eNaira akan sama dengan Naira fisik, yang telah mengalami penurunan nilai 5,6% akibat inflasi pada tahun 2021 lalu, meskipun ada upaya stabilisasi moneter bank sentral. 

    “eNaira dan Naira fisik memiliki nilai yang sama dan kami akan selalu menukar 1 Naira dengan 1 eNira,” kata Emefiel.

    Menurut bank sentral, mata uang digital diharapkan untuk meningkatkan perdagangan lintas batas dan integrasi keuangan, membuat transaksi lebih efisien dan meningkatkan kebijakan moneter.

    “Dikombinasikan dengan transformasi digital, CBDC dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan efisiensi kebijakan moneter,” kata Buhari.

    Ilustrasi cryptocurrency.

    Ilustrasi cryptocurrency.

    Mata Uang Digital Dorong Pemasukan Pajak

    Mata uang digital juga dapat membantu meningkatkan basis pajak negara dengan memindahkan lebih banyak orang dan bisnis dari sektor informal ke sektor formal. Mata uang digital resmi didukung dan dikendalikan oleh bank sentral, tidak seperti mata uang kripto Bitcoin.

    Nigeria berada di peringkat ketujuh dalam Global Crypto Adoption Index 2021 yang disusun oleh firma riset Chainalysis. Bank Sentral Nigeria memilih Bitt Inc pada Agustus 2021 lalu sebagai mitra teknologi untuk membantu menciptakan mata uang digital.

    Baca Juga IMF Merekomendasikan CBDC dan Standar Crypto Global untuk Stabilitas Keuangan

    Nigeria bergabung dengan Bank Sentral Bahama dan Karibia Timur untuk menjadi salah satu yurisdiksi pertama di dunia yang mendistribusikan mata uang digital nasional.

    Awal tahun ini, China meluncurkan versi percontohan Yuan digital. Di Afrika, negara-negara dari Ghana hingga Afrika Selatan sedang menguji mata uang fiat dalam bentuk digital untuk memungkinkan transaksi uang yang lebih cepat dan lebih murah tanpa kehilangan kendali atas sistem moneter.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pendiri Alibaba: Mata Uang Digital Adalah Masa Depan

    Miliarder asal China dan Pendiri market place Alibaba, Jack Ma mengatakan bahwa mata uang digital adalah masa depan. Menurutnya mata uang digital dapat memainkan peran dalam sistem keuangan global yang baru – sekaligus “menyerang regulasi keuangan dunia.”

    Baca Juga: Ethereum, Blockchain Pertama dengan Transaksi $1 Triliun Setahun

    Melansir dari decrypt, Jack Ma menyampaikan komentar tersebut dalam sebuah pidato di acara Bund summit di Shanghai.

     

    “Mata uang digital bisa menciptakan nilai dan kita harus memikirkan tentang bagaimana membangun sistem keuangan jenis baru melalui mata uang digital,” kata Jack Ma.

    Meski Jack Ma mengatakan demikian, tapi dia tidak spesifik mengatakan jenis mata uang digital yang dimaksud. Jadi, hal ini membuat komunitas crypto cepat berspekulasi tentang apa yang Jack Ma maksud dengan mata uang digital.

    Vitalik Buterin, penemu Ethereum, menanggapi pidato Jack Ma dengan menulis komentarnya di Twitter. “Apakah yang dimaksud adalah cryptocurrency atau mata uang digital yang lebih terdesentralisasi?”

    “Secara literasi yang dia maksud adalah ‘mata uang digital’. Dalam bahasa Mandarin bisa tergantung interpretasi,” balas pendiri Binance.

    Zhao juga menegaskan kata-kata ini sengaja ditulis seperti itu karena masih rahasia dan menjelaskan lebih detil bisa membuat Jack Ma dalam masalah.

    Cryptocurrency dilarang di China, tetapi Bitcoin dan aset digital lainnya masih bisa ditambang dan diperdagangkan di wilayah tersebut. Mungkin saja maksud Jack Ma adalah Central Bank Digital Currency (CBDC), seperti yuan digital.Negara-negara di seluruh dunia berlomba untuk mengembangkan mata uang digitalnya yang terdesentralisasi, dan China sudah sampai ke tahap pengujian.

    Dalam pidatonya, Jack Ma juga mengatakan peraturan global, khususnya Basel Accords (kerangka pengawasan perbankan internasional yang mulai diperkenalkan pada tahun 2010), sudah ketinggalan zaman dan seperti klub orang tua.

    Dia menyebutkan peraturan di seluruh dunia menghambat perkembangan di China dan tidak memikirkan peluang kaum muda atau negara berkembang lainnya.

    Baca Juga: Zcash Halving: Apa Yang Anda Harus Tahu (November 2020)

    Jika Jack Ma menyetujui penggunaan mata uang digital, maka harga uang digital tersebut akan naik karena perusahaan Alibaba mempunyai ratusan juta customer.

    Kemungkinan besar, uang digital yang dimaksud adalah Yuan Digital.

    sumber.

     



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Deutsche Bank: Mata Uang Digital Bank Sentral Akan Gantikan Uang Tunai!

    Deutsche Bank (DB), lembaga perbankan terbesar di Jerman, yakin keberadaan mata uang digital bank sentral (CBDC) akan menggantikan uang tunai di masa depan.

    Deutsche Bank Research menerbitkan laporan baru berjudul “What we must do to rebuild” pada 10 November lalu. Laporan tersebut berisikan estimasi ekonomi dan proposal dalam membantu ekonomi global yang dilanda pandemi virus corona.

    Baca Juga: Robert Kiyosaki: Bitcoin Kalahkan Emas dan Perak

    Revolusi Mata Uang Digital

    Laporan tersebut menyatakan pandemi Covid-19 ini telah mempercepat revolusi uang digital. Menurut pihak DB, revolusi ini pada akhirnya akan memungkinkan CBDC seperti yuan digital China atau e-krona Swedia untuk menggantikan uang tunai dalam jangka panjang.

    Selain itu, DB juga meminta pemerintah dan perusahaan swasta lain di Jerman untuk mencari alternatif selain kartu kredit, dengan menyatakan:

    “Pembatasan sosial yang dilakukan di seluruh dunia dan sikap jaga jarak sosial meningkatkan penggunaan kartu dibandingkan dengan uang tunai. Untuk merespon lebih lanjut, perusahaan dan pembuat kebijakan seharusnya merancang alternatif pada kartu kredit dan menghapus biaya perantara. […] Untuk saat ini, sistem pembayaran digital regional harus diutamakan. Dalam jangka panjang, mata uang digital bank sentral akan menggantikan uang tunai. “

    Laporan ini juga memperingatkan para pemangku kebijakan Eropa terkait dengan risiko yang ada jika mereka tidak dengan segera mengembangkan proyek mata uang digital mereka sendiri sebagai respon terhadap kemajuan sistem pembayatan di China dan Swedia.

    Baca juga: Visa Gunakan Blockchain, Bantu Integrasi Mata Uang Digital Bank Sentral 

    Pihak bank juga berpendapat, ketertinggalan ini akan memaksa penerapan kebijakan yang seharusnya dilakukan penggerak pertama:

    “Jika negara lain tidak mengejar hal ini, mereka mungkin akan terpaksa mengadopsi mata uang digital dan kebijakan negara lain sebagai media pembayaran.”

    Solusi Mata Uang Digital

    DB juga  meminta Eropa mengembangkan solusi mata uang digital untuk memperkuat Euro dan geopolitik yang ada. “Untuk melakukan ini, kita harus memiliki solusi pembayaran Eropa yang independen,” tulis Deutsche Bank Research.

    Meskipun Deutsche Bank mendorong percepatan pengembangan mata uang digital global, sejumlah negara belum mau terburu-buru untuk menerbitkan CBDC.

    Pada bulan Oktober 2020, Jerome Powell dari Federal Reserve Amerika Serikat menyatakan, AS tidak memiliki kekhawatiran terkait dengan negara lain yang sudah menerbitkan CBDC. Ketua Fed itu mengatakan, pemerintah AS tidak akan membuat keputusan untuk mengeluarkan dolar digital sampai risiko terkait CBDC seperti serangan dunia maya dan privasi rampung.

    Selain itu, pejabat di Selandia Baru dan Rusia juga menyatakan sikap yang sama dan menyatakan akan mengambil pendekatan lebih dalam.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Korsel Ujicoba Penerbitan dan Transaksi Won Digital pada Tahun Depan

    Bank Sentral Korea Selatan (Korsel) siap mengujicoba penerbitan dan transaksi won digital pada tahun depan. Langkah itu adalah lanjutan, setelah bulan lalu membentuk Dewan Penasihat Hukum.

    Baca Juga: Inilah Strategi Veteran Bitcoin Yang Menghasilkan Keuntungan $ 10 Miliar

    “Ujicoba itu akan serupa dengan proses peredaran uang kertas,” kata seorang pejabat Bank Sentral Korsel, dilansir oleh media lokal, KoreaHerald, 7 Oktober 2020.

    Bank sentral mengatakan langkah terkait tidak dimaksudkan untuk mempersiapkan penerbitan won digital yang sebenarnya, tetapi bank membuat persiapan yang diperlukan untuk berjaga-jaga.

    Sejumlah bank sentral di banyak negara mempercepat penelitian mereka tentang mata uang digital (CBDC) untuk mengantisipasi penurunan permintaan uang tunai (fisik/giral) dan munculnya aset kripto alias mata uang kripto oleh sektor swasta.

    Bank sentral Tiongkok tampak lebih agresif dalam mempersiapkan penerbitan CBDC. Negeri Panda itu telah meneliti dan mengembangkan yuan digital sejak tahun 2014 dan mulai mengujicoba sejak medio tahun 2020. Mereka juga berencana mengujicoba lebih luas pada Olimpiade mendatang.

    CBDC adalah wujud digital uang dan mata uang yang fisik. Kelak akan melengkapi dan menggantikan 10 persen uang giral itu, selayaknya uang elektronik yang masif sejak beberapa tahun terakhir.

    CBDC yang sebagian besar berteknologi blockchain ataupun distributed ledger technology memastikan efisiensi dari segi waktu, biaya dan jangkauan mata uang, sebagaimana yang terjadi pada stablecoin USDT yang bernilai dolar.

    Baca Juga: Kembangkan Teknologi Blockchain, Agen CIA Bisa Dapat Cuan



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • CEO Visa: Stablecoin dan CBDC Punya Peran Penting dalam Pembayaran

    Perusahaan layanan pembayaran, Visa mulai mengerjakan proyek interoperabilitas blockchain untuk mendukung central bank digital currencies (CBDC) dan pengadopsian stablecoin. Mereka yakin CBDC dan stablecoin akan memiliki peran penting dalam layanan pembayaran di masa depan.

    CEO Visa, Al Kelly, tetap yakin bahwa solusi teknologi blockchain dapat diintegrasikan ke dalam layanan dan penawarannya untuk menggerakkan pembayaran generasi berikutnya. Kelly secara singkat membagikan rencana perusahaan untuk CBDC dan stablecoin dalam adopsi di industri pembayaran digital.

    “Ini masih sangat awal, tetapi kami terus percaya bahwa stablecoin dan mata uang digital bank sentral memiliki potensi untuk memainkan peran yang berarti dalam ruang pembayaran, dan kami memiliki sejumlah inisiatif yang sedang berjalan,” kata Kelly dikutip Cointelegraph.

    Investasi Visa

    Huobi dan Visa kolaborasi rilis kartu debit kripto buat belanja.
    Huobi dan Visa kolaborasi rilis kartu debit kripto buat belanja.

    Baca juga: Stablecoin Berbasis Cardano Siap Rilis, Harga ADA Bakal Naik?

    Selama bertahun-tahun, Visa telah mengerjakan sejumlah inisiatif terkait blockchain dan kripto.

    “Kami memiliki jumlah investasi yang tidak material dalam dana dan perusahaan kripto saat kami berusaha untuk berinvestasi dalam ekosistem pembayaran,” jelas CEO yang akan mundur dari Visa pada Februari mendatang.

    Kelly juga mengonfirmasi bahwa neraca Visa tidak terpengaruh oleh beberapa “kegagalan profil tinggi” yang mengguncang dunia aset kripto pada tahun 2022 lalu.

    “Kami tidak mengalami kerugian kredit terkait kegagalan ini […] Dalam segala hal yang kami lakukan, ketahuilah bahwa kami sangat fokus untuk menjaga integritas sistem pembayaran Visa dan sistem pembayaran secara keseluruhan dan tentu saja, reputasi merek kami berdiri untuk kepercayaan,” jelasnya.

    Fokus Blockchain dan kripto

    Ilustrasi aset kripto.
    Ilustrasi aset kripto.

    Baca juga: Sambut Imlek, Tokocrypto Gelar Kompetisi Trading Hadiah Rp 200 Juta

    Tim riset Visa sendiri mulai mengerjakan proyek interoperabilitas blockchain pada September 2021 bernama inisiatif Universal Payment Channel (UPC). Proyek ini dirancang untuk membangun jaringan untuk CBDC dan stablecoin pribadi untuk melewati berbagai saluran pembayaran.

    Namun, Visa belum memberikan pembaruan tentang UPC selama lebih dari 12 bulan.

    Baru-baru ini, pada 20 Desember 2022, Visa mengumumkan sedang menyusun rencana untuk memungkinkan pembayaran tagihan otomatis dari dompet bertenaga Ethereum milik pengguna.

    Visa juga telah meluncurkan beberapa kartu debit aset kripto “tanpa biaya” akhir-akhir ini termasuk perjanjian yang sekarang dihentikan dengan FTX dan kemitraan dengan Blockchain.com pada 26 Oktober, yang masih berlaku.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mastercard Uji CBDC dengan Jaringan Ethereum di Australia

    Mastercard baru-baru ini menyelesaikan uji coba central bank digital currency (CBDC) bekerja sama dengan Reserve Bank of Australia (RBA) dan Digital Finance Cooperative Research Centre (DFCRC). Proyek ini mengeksplorasi kemampuan Mastercard untuk mengaktifkan transaksi CBDC di jaringan blockchain Ethereum publik.

    Secara khusus, Mastercard menunjukkan bagaimana teknologinya memungkinkan pemegang CBDC percontohan untuk membeli non-fungible token (NFT) yang terdaftar di blockchain Ethereum publik. Untuk mengaktifkan hal ini, solusi tersebut mengunci jumlah CBDC yang diperlukan pada platform RBA sambil mencetak token yang dibungkus di Ethereum.

    Hal ini menunjukkan kemampuan Mastercard untuk mempertahankan kontrol dan kepatuhan yang diperlukan bahkan ketika bertransaksi CBDC di blockchain publik seperti Ethereum. Perusahaan memanfaatkan penawaran Jaringan Multi Token dan Kredensial Kripto yang berfokus pada standar verifikasi dan interoperabilitas yang dapat diskalakan.

    “Mastercard telah melihat adanya permintaan dari konsumen untuk berpartisipasi dalam perdagangan di berbagai blockchain, termasuk blockchain publik,” kata Richard Wormald, Presiden Australasia di Mastercard.

    Selain Mastercard, proyek ini juga melibatkan perusahaan pembayaran Australia Cuscal dan pasar NFT Mintable.

    Membuka Jalan Masa Depan Perbankan di Australia

    Ilustrasi perdagangan aset kripto di Australia. Sumber: Shutterstock.
    Ilustrasi perdagangan aset kripto di Australia. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Inflasi AS Diumumkan Tetap Tinggi, Ini Reaksi Pasar Kripto dan Bitcoin

    Zach Burks , CEO dan pendiri Mintable, peserta program pengembangan Start Path Mastercard mengatakan: “Potensi besar NFT terlihat jelas selama percontohan CBDC progresif ini. Bersama Mastercard, kami telah mengidentifikasi kasus penggunaan di mana mata uang digital dan NFT dapat dengan mudah dihubungkan, sehingga berpotensi menghilangkan penipuan dan pencurian, mengakhiri hilangnya dokumentasi dan catatan, dan membuka kemungkinan baru untuk perdagangan.

    “Mintology, cabang B2B Mintable, membuat NFT lebih mudah diakses dan bernilai dengan penggunaan baru yang inovatif. Meskipun mata uang digital masih dalam tahap awal, NFT sudah digunakan untuk media baru, gamifikasi, identitas digital, program loyalitas, tiket, otentikasi, sertifikasi, dan banyak lagi.”

    Nathan Churchward , pemimpin domain, pembayaran di Cuscal, menambahkan: “Sangat menyenangkan bisa bermitra lebih jauh dengan Mastercard untuk mendukung masa depan perbankan dan pembayaran di Australia.”

    Proyek percontohan CBDC Reserve Bank of Australia (RBA) dengan Digital Finance CRC (DFCRC) mengeksplorasi potensi kasus penggunaan CBDC di Australia. Proyek ini melibatkan RBA yang mengeluarkan CBDC ‘percontohan’ skala terbatas yang merupakan klaim hukum nyata terhadap RBA. CBDC percontohan digunakan oleh peserta industri terpilih untuk menunjukkan bagaimana CBDC dapat digunakan untuk menyediakan layanan pembayaran dan penyelesaian yang inovatif kepada rumah tangga dan bisnis Australia.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bos BI: Belanja hingga Beli Rumah di Metaverse Bisa Pakai Rupiah Digital

    Rupiah Digital yang akan dirilis oleh Bank Indonesia bisa dipakai untuk belanja dan beli rumah di metaverse. Hal tersebut merupakan salah satu keunggulan dan manfaat dari Central Bank Digital Currency (CBDC).

    Bank Indonesia (BI) telah merilis white paper pengembangan Rupiah Digital yang dinamakan proyek “Garuda,” yaitu sebuah inisiatif yang memayungi berbagai eksplorasi dan diharapkan menjadi katalisator pengembangan desain CBDC ke depan.

    Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan Rupiah Digital merupakan alat pembayaran yang sah seperti halnya mata uang fiat dalam bentuk kertas maupun logam. Salah satu keunggulannya adalah nantinya bisa digunakan untuk membayar belanja hingga membeli rumah di dunia virtual atau metaverse.

    “Rupiah digital bisa untuk beli sepatu, bisa untuk beli rumah, mobil, dan untuk beli barang di metaverse. Bedanya dengan uang kertas, saat ini itu tidak bisa digunakan untuk membeli di metaverse,” kata Perry pada Senin (5/12).

    Kesamaan Uang Biasa

    Ilustrasi CBDC Digital Rupiah. Foto: Bank Indonesia.
    Ilustrasi CBDC Digital Rupiah. Foto: Bank Indonesia.

    Baca juga: Vitalik Buterin: Fokus Teknologi, Bukan Pergerakan Harga Kripto

    Perry menegaskan prinsipnya CBDC yang dikembangkan yang sama dengan uang logam dan kertas. Nantinya, dalam uang digital atau CBDC tersebut, terdapat logo Negara Kesatuan Republik Indonesia termasuk memuat foto pahlawan, seperti Soekarno dan Mohammad Hatta.

    “Rupiah digital satu-satunya alat pembataran sah yang dikeluarkan BI. Bentuknya adalah coding-coding yang semuanya terenskripsi. Hanya BI yang mengetahui dan akan ada spesial tim di BI,” jelas Perry.

    Nantinya akan diimplementasikan secara bertahap, dimulai dari wholesale CBDC untuk penerbitan, pemusnahan dan transfer antar bank. Kemudian diperluas dengan model bisnis operasi moneter dan pasar uang, dan akhirnya pada integrasi wholesale dengan ritel secara end-to-end.

    Apresiasi Pedagang Kripto

    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda.
    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda. Foto: Tokocrypto.

    Baca juga: Digital Rupiah Bakal Jadi Alat Transaksi di Ekosistem Web3

    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ASPAKRINDO), Teguh Kurniawan Harmanda, menyambut baik dan mengapresiasi diterbitkannya white paper (WP) CBDC Rupiah Digital yang telah dinantikan cukup lama. Dengan adanya WP ini menjadi langkah baik untuk mengekplorasi desain CBDC yang tepat untuk Indonesia ke depan dan hubungannya dengan perdagangan aset kripto, serta pengembangan adopsi blockchain.

    “Ini sebuah kemajuan besar dalam pendekatan penerbitan CBDC di Indonesia solusi future proof yang prospektif. Benar, perkembangan CBDC bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan. Cepat atau lambat Indonesia harus mengarah ke sana. Jika CBDC dirancang dengan hati-hati, berpotensi menawarkan lebih banyak ketahanan, lebih aman, ketersediaan lebih besar, dan biaya lebih rendah,” kata pria yang akrab disapa Manda.

    Manda menjelaskan pihaknya siap bersinergi dengan Bank Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan dalam mencapai penerbitan CBDC ini. Hal ini terkait sinergi dalam proyek Garuda akan menyasar tujuh area prioritas yang bersifat non-exhaustive. Salah satunya area perdagangan aset kripto, termasuk penggunaan Rupiah Digital pada ekosistem Web3.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Digital Rupiah Bakal Jadi Alat Transaksi di Ekosistem Web3

    Bank Indonesia akhir merilis white paper pengembangan Central Bank Digital Currency (CBDC) yang dinamakan Digital Rupiah. Penerbitan white paper (WP) ini merupakan langkah awal “Proyek Garuda”, yaitu sebuah inisiatif yang memayungi berbagai eksplorasi dan diharapkan menjadi katalisator pengembangan desain CBDC ke depan.

    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ASPAKRINDO), Teguh Kurniawan Harmanda, menyambut baik dan mengapresiasi diterbitkannya white paper CBDC Digital Rupiah yang telah dinantikan cukup lama. Dengan adanya WP ini menjadi langkah baik untuk mengekplorasi desain CBDC yang tepat untuk Indonesia ke depan dan hubungannya dengan perdagangan aset kripto, serta pengembangan adopsi blockchain.

    “Ini sebuah kemajuan besar dalam pendekatan penerbitan CBDC di Indonesia solusi future proof yang prospektif. Benar, perkembangan CBDC bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan. Cepat atau lambat Indonesia harus mengarah ke sana. Jika CBDC dirancang dengan hati-hati, berpotensi menawarkan lebih banyak ketahanan, lebih aman, ketersediaan lebih besar, dan biaya lebih rendah,” kata pria yang akrab disapa Manda.

    Pengoptimalan

    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda. Foto: Tokocrypto.
    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda. Foto: Tokocrypto.

    Baca juga: Bank Indonesia Rilis White Paper Proyek Garuda CBDC Digital Rupiah

    Manda menjelaskan pihaknya siap bersinergi dengan Bank Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan dalam mencapai penerbitan Digital Rupiah. Hal ini terkait sinergi dalam proyek Garuda akan menyasar tujuh area prioritas yang bersifat non-exhaustive. Salah satunya area perdagangan aset kripto, termasuk penggunaan Digital Rupiah pada ekosistem Web3.

    “Sebagai pelaku usaha di industri perdagangan aset kripto dan web3, kami dari asosiasi siap melakukan koordinasi dan kerja sama untuk pengoptimalan Digital Rupiah ke depan. Tidak ada satu ukuran pun yang cocok untuk semua. Tidak ada kasus universal untuk CBDC karena setiap ekonomi negara berbeda,” jelas Manda.

    Dijelaskan dalam white paper Digital Rupiah didesain untuk dilengkapi dengan berbagai jenis penggunaan (use cases), baik di ekosistem wholesale maupun ritel. 

    Digital Rupiah dan Web3

    Bank Indonesia: Kripto Tingkatkan Inklusi Keuangan
    Bank Indonesia akhir merilis white paper pengembangan Central Bank Digital Currency (CBDC) yang dinamakan Digital Rupiah. Foto: Reuters.

    Baca juga: Negara Tuvalu Terancam Tenggelam, Rencana Pindah ke Metaverse

    Digital Rupiah akan menjadi aset settlement untuk berbagai jenis transaksi di pasar barang dan jasa maupun pasar keuangan, baik yang berada di ekosistem tradisional maupun ekosistem digital, seperti ekosistem Web3 termasuk di dalamnya decentralized finance (DeFi) dan metaverse.

    “Kami menyambut positif keberadaan Digital Rupiah. Ini bisa menjadi gateway untuk berbagai layanan di ekosistem Web3, termasuk di dalamnya DeFi dan metaverse. Dengan begitu pengembangan dan adopsi teknologi blockchain akan semakin masif di Indonesia dan menciptakan talenta serta peluang untuk developer lokal mengembangkan bisnisnya,” jelas Manda.

    Di sisi lain, peraturan setingkat Undang-Undang yang ada belum dapat menjadi landasan bagi Digital Rupiah untuk berstatus legal tender. Status tersebut diperlukan Digital Rupiah untuk menjadi jangkar dalam berbagai use cases ekosistem Web3, termasuk DeFi dan metaverse.

    Sementara itu, status legal tender menurut UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang melekat pada uang kertas dan uang logam yang pada prinsipnya tidak dapat digunakan di dalam ekosistem Web3.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bank Indonesia Rilis White Paper Proyek Garuda CBDC Digital Rupiah

    Bank Indonesia (BI) akhirnya merilis white paper pengembangan CBDC Digital Rupiah dalam momentum Pertemuan Tahunan Bank Indonesia pada Rabu (30/11). Penerbitkan desain (high level design) ini menguraikan rumusan CBDC bagi Indonesia dengan mempertimbangkan asas manfaat dan risiko.

    Penerbitan white paper ini merupakan langkah awal “Proyek Garuda”, yaitu proyek yang memayungi berbagai inisiatif eksplorasi atas berbagai pilihan desain arsitektur Digital Rupiah. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyoroti Digital Rupiah sebagai salah satu dari kebijakan sistem pembayaran untuk akselerasi digitalisasi.

    “Digital Rupiah akan diimplementasikan secara bertahap, dimulai dari wholesale CBDC untuk penerbitan, pemusnahan dan transfer antar bank. Kemudian diperluas dengan model bisnis operasi moneter dan pasar uang, dan akhirnya pada integrasi wholesale dengan ritel secara end-to-end,” tutur Perry.

    Key Driver CBDC

    Bank Indonesia: Kripto Tingkatkan Inklusi Keuangan
    Bank Indonesia: Kripto Tingkatkan Inklusi Keuangan. Foto: Reuters.

    Baca juga: World Blockchain Summit Bangkok 2022 Digelar Desember Mendatang

    Perry menambahkan penerbitan white paper ini diharapkan menjadi katalisator pengembangan desain CBDC ke depan, agar penerapan dapat sesuai konteks dan karakteristik kebijakan. Bank Indonesia meyakini manfaat CBDC mampu menjaga kedaulatan Rupiah di era digital, termasuk mendukung integrasi ekonomi dan keuangan digital serta membuka peluang inklusi keuangan yang lebih merata dan berkelanjutan.

    Adapun key driver pengembangan CBDC ini adalah:

    • Menegaskan fungsi BI sebagai otoritas tunggal dalam menerbitkan mata uang termasuk mata uang digital;
    • Memperkuat peran BI di kancah internasional;
    • Mengakselerasi integrasi EKD secara nasional.

    Pengembangan CBDC sendiri memerlukan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk kerja sama dengan bank sentral lain dan lembaga internasional. Perkembangan mata uang digital bank sentral di masa depan bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan.

    “Bank sentral masih perlu melakukan eksplorasi dan uji coba untuk mengantisipasi perkembangan mata uang digital di masa depan,” ujar Perry.

    Proyek Garuda

    Roadmap Digital Rupiah. Foto: Bank Indonesia.
    Roadmap Digital Rupiah. Foto: Bank Indonesia.

    Baca juga: Raja Kripto Hong Kong Tiantian Kullander Meninggal Dunia

    Proyek Garuda merupakan sebuah inisiatif yang memayungi eksplorasi desain CBDC Indonesia. Digital Rupiah merupakan sumbangsih Bank Indonesia kepada negara dalam perjuangan menjaga kedaulatan mata uang fiat di era digital.

    Proyek ini melengkapi berbagai inisiatif Bank Indonesia dalam mendorong agenda transformasi digital nasional, khususnya upaya mengintegrasikan ekonomi dan keuangan digital secara end-to-end yang saat ini sudah didorong dari jalur Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025 (BSPI 2025) dan Blueprint Pengembangan Pasar Uang 2025 (BPPU 2025)​.

    Pengembangan Digital Rupiah akan dibagi ke dalam tiga tahapan, yaitu Immediate state, Intermediate state, dan End state. Sekuens akan dimulai dari konsultasi publik (consultative paper dan focus group discussion), eksperimen teknologi (proof of concept, prototyping, dan piloting/sandboxing), dan diakhiri reviu atas stance kebijakan.​

    Bank Indonesia meyakini manfaat CBDC mampu menjaga sovereignty Rupiah di era digital, termasuk mendukung integrasi ekonomi dan keuangan digital serta membuka peluang inklusi keuangan yang lebih merata dan berkelanjutkan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Jepang Bakal Uji Coba CBDC Yen Digital di Tahun 2023, Indonesia?

    Bank sentral Jepang telah merencanakan uji coba central bank digital currency (CBDC) dengan tiga bank besar pada tahun 2023. Peluncuran percontohan akan sejalan dengan eksperimen awal CBDC sebelumnya selama satu tahun yang akan berakhir pada April 2023.

    Uji coba ini akan memeriksa apakah infrastruktur beroperasi dengan baik untuk mengantisipasi bencana alam dan gangguan tanpa koneksi internet. Eksperimen ini juga akan mengeksplorasi bagaimana setoran dan penarikan dapat bekerja dengan Yen Digital.

    Jika semua berjalan lancar sesuai rencana, Bank sentral Jepang dapat melanjutkan dan merilis CBDC Yen Digital pada tahun 2026.

    Ekplorasi CBDC

    Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).
    Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).

    Baca juga: Penerbitan CBDC Semakin Dekat, Australia Luncurkan Proyek Pilot

    Sebelumnya, Gubernur Bank of Japan mengatakan pada Mei 2022 bahwa, meskipun Bank of Japan belum memutuskan apakah akan meluncurkan CBDC, namun pihaknya akan terus mengembangkan infrastruktur mata uang digital yang aman dan mulus di negara tersebut.

    CBDC adalah versi digital mata uang fiat suatu negara—seperti dolar AS atau euro yang didukung oleh bank sentral. CBDC adalah aset digital, tetapi berbeda dari Bitcoin, Ethereum, atau Dogecoin.

    China jauh di depan permainan — beberapa warganya saat ini sudah dapat berbelanja dengan Yuan Digital. Sementara itu, Bahama meluncurkan CBDC sendiri pada tahun 2020.

    CBDC di Indonesia

    Bank Indonesia terus mengembangkan CBDC atau yang akan dikenal sebagai Rupiah Digital. BI juga bersiap mengeluarkan Whitepaper pengembangan CBDC di akhir tahun 2022.

    Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).
    Ilustrasi Central Bank Digital Currency (CBDC).

    Baca juga: CBDC dan Aset Kripto Bisa Tingkatkan Inklusi Keuangan di Indonesia

    Whitepaper pengembangan digital rupiah berisi laporan mengenai latar belakang dan rencana pengembangan CBDC. Penerbitan Whitepaper ini merupakan sebuah bentuk komunikasi kepada publik terkait rencana pengembangan Rupiah Digital serta untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak.

    BI melihat pertumbuhan aset kripto dan CBDC memiliki potensi untuk mengembangkan inklusi dan efisiensi dalam sistem keuangan walaupun dengan berbagai risiko yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi perekonomian.

    Sebagian besar bank sentral di dunia terdorong untuk mengembangkan CBDC yang bertujuan mendukung mandat penguatan kebijakan moneter, tidak serta merta hanya menjaga stabilitas keuangan, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan ketahanan sistem pembayaran.



    Sumber : news.tokocrypto.com