Tag: crypto

  • 3 Altcoin yang Perlu Dibeli di Tahun 2022

    Bitcoin sudah turun dari $ 30.000 menjadi $ 29.200 pada saat berita ini tayang. Banyak orang bertanya apakah saat ini bisa beli buy the dip untuk Bitcoin dan altcoin?

    Cryptoharian memprediksi penurunan lebih dalam masih akan terjadi (bukan finansial advice).

    Kapan akan turun? Menurut Cryptoharian, setelah FOMC meeting yang akan terjadi di tanggal 14-15 Juni menurut website the FED.

    Kenapa?

    Karena Jerome Powell, ketua FED, sudah mengatakan bahwa The Fed akan mengambil tindakan tegas untuk mengurangi inflasi dan menetral kan pasar. Netral pasar berada di 2-3% menurut beberap analis, tapi The Fed mempunyai kalkulasi mereka sendiri.

    Sebagai perbandingan, saat ini pasar berjangka berada di 3.2% di Desember.

    Ketika the Fed menaikan suku bunga, DXY, dollar index, akan naik yang akan menyebabkan semua pasar saham akan anjlok. Karena Bitcoin (BTC) mempunyai korelasi positif dengan pasar saham, Bitcoin juga akan anjlok.

    Apa hubungannya dengan altcoin?

    Ketika Bitcoin anjlok, altcoin juga akan anjlok. Bahkan terkoreksi lebih dalam.

    Di artikel sebelumnya, saya sudah menulis berapa Bottom Bitcoin. Anda bisa membaca di sini.

    Ini beberapa altcoin yang sedang saya perhatikan dan akan membeli dikemudian hari.

    1. Cardano (ADA)

    ADA sudah turun sekitar 87% dari ATH. Jika dilihat dengan chart, masih ada kemungkinan untuk ADA turun sekitar 10% lagi.

    Baca juga: Investor Terra LUNA Siap Laporkan Do Kwon Atas Dugaan Penipuan Investasi

    Garis biru adalah support, dan garis support diatas, WICK sudah hampir menyentuh di ($ 0,35), jika hilang ADA akan ke (0.1441).

    Sangat besar kemungkinan ini akan terjadi, mengingat harga BTC sedang naik turun. Bahkan jika Bitcoin naik menjadi $ 40.000 dalam 1 malam.

    Kemungkinan ADA untuk turun sangat besar karena ketika Bitcoin naik atau turun, altcoin juga akan turun. Ini sudah terjadi di tahun 2019, dimana ADA turun ketika Bitcoin naik dengan cepat.

    Link sudah turun 89%-an sejak ATH.

    Fundamental Link sangat bagus, jadi ini adalah salah satu investasi crypto yang lebih aman jika dibandingkan dengan Shiba Inu.

    Kenapa?

    Karena Chainlink Lab adalah sebuah oracle dan memberikan feed harga kepada semua pengguna.

    LINK sudah digunakan oleh ratus hingga ribu perusahaan crypto.

    Mengingat tahun 2018 Bubble, harga semua crypto hampir turun 99% dari harga tertinggi.

    Jadi, sangat sensible atau masuk akal jika Bitcoin benar-benar capitulate (turun), Harga Bottom LINK bisa berada di sekitar $ 1,50 hingga $ 5. Apalagi jika Bitcoin tidak bisa membuat ma200 harga terendahnya.

    Pada saat berita ini tayang, harga LINK berada di $6.90.

    Baca juga: Prediksi Harga Bitcoin 2022: Analisa BTC Mingguan

    3. Cosmos(ATOM)

    Salah satu altcoin yang berperforma bagus ketika bull-run. Coin ini juga sebuah rival dari Ethereum.

    Disamping itu, coin ini juga memiliki banyak pendukung dan sudah digunakan oleh banyak perusahaan.

    Jika dilihat dari grafik, ATOM sudah turun 81% dari ATH. Menurut Cryptoharian, daerah sekitar $ 4,00 adalah harga yang sangat bagus untuk mengakumulasi ATOM.

    Harga saat ini juga sangat menarik untuk melakukan partial-buy.

    Kesimpulan

    Tidak ada yang tahu kemana harga Bitcoin akan mengarah. Jika Bitcoin bisa bounce back, ada kemungkinan semua altcoin akan mengalami kenaikan juga.

    Jika Bitcoin benar-benar ke ma200, harga altcoin bisa minus 50% dari harga saat ini. Jika benar-benar ke $ 15.000, harga altcoin bisa minus 99% dari saat ini.

    Note: Bukan finansial advice.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apakah Do Kwon Layak Dipenjara atas Keruntuhan Terra LUNA

    Tanggal 9 Mei 2022 adalah waktu yang akan tercatat dalam sejarah industri aset kripto. Di mana tanggal tersebut merupakan hari dimulainya kehancuran sebuah bulan yang sebelumnya sempat bersninar terang di pasar kripto. 

    Tanggal tersebut menjadi penanda awal jaringan Terra runtuh berserta semua ekosistemnya. Stablecoin UST yang sebelumnya diagung-agungkan sebagai koin stabil paling “canggih” hancur berkeping-keping. UST jauh kehilangan pasaknya dari nilai dollar AS. 

    Keruntuhan Terra bisa disebut sebagai salah satu bencana terbesar di industri kripto. Banyak orang yang kehilangan uangnya. Investor kecil hingga kakap pun sama-sama gigit jari. Dan yang tak kalah penting, kehancuran Terra menggerus kepercayaan pasar pada industri yang baru saja berkembang ini. 

    LUNA/USDT 1 day. Tradingview
    Analisis teknikal Terra (LUNA).

    Lantas, apakah yang dilakukan oleh developer Terra adalah tindakan kriminal atau sebuah penipuan. Atau hal tersebut merupakan sebuah keteledoran sebuah jaringan?

    Perlu sebuah kajian hukum yang mendalam untuk mengkategorikan apakah kasus Terra ini adalah sebuah penipuan yang layak dipidanakan atau mungkin hal ini merupakan ketelodran yang menjadikan jaringan mereka rusak. 

    Baca juga: Tips Cuan Investasi Kripto Kala Market Bearish dan Kekhawatiran Stablecoin

    Namun, banyak pihak terutama investor dan ritel telah menyeret kasus ini ke ranah pidana. Pendiri Terra Do Kwon mendapat kritkan tajam dan dilaporkan ke penegak hukum, terutama oleh masyarakat Korea Selatan–di mana Do Kwon berdomisili.

    Dikutip dari Decrypt, seorang profesor hukum dan mantan jaksa yang berspesialisasi dalam kejahatan kerah putih Randall Eliason, mengatakan, untuk menjatuhkan klaim bahwa Do Kwon dan developer Terra telah melakukan penipuan, diperlukan bukti-bukti yang cukup. Dan menurutnya, hal tersebut bukanlah hal yang mudah. 

    Eliason pun membandingkan kasus Terra ini dengan penyebab krisis tahun 2008. Di mana saat itu sebuah bank terbesar Amerika Serikat, Lehman Brother, bangkrut dan mengakibatkan pasar keuangan jatuh dan menjalar pada krisis keuangan ke hampir seluruh dunia. 

    Eliason mengatakan, dalam kasus tersebut tidak ada yang dipenjara seoarang pun meski telah  menyebabkan krisis keuangan 2008. Menurutnya, kasus tersebut lebih pada kesembronoan lembaga.

    Namun, ini tidak berarti, bahwa Kwon akan lolos dari tuntutan pidana. Penegak hukum masih bisa menyelidiki kasus ini lebih dalam lagi. Karena, dari beberapa isu yang mencuat, terdapat masalah pada platform investasi Terra, Anchor, yang menjanjikan pengembalian yang dijamin sebesar 20%. Meski, jumlah pengembalian  ini masih sangat masuk akal di dunia crypto.

    Selemah-lemahnya, komunitas kripto hisa mengharapkan badan pengatur non-kriminal seperti SEC untuk menindak Kwon dengan semua yang mereka miliki dalam hal denda dan hukuman profesional. 

    Ini adalah konsekuensi  yang nampaknya lebih adil, bahwa Kwon akan dilarang dari segala jenis perusahaan yang terkait dengan sekuritas di AS, dan bahwa ia akan menghindari menginjakkan kaki di tanah Amerika di masa mendatang.

    Baca juga: Apa Itu Aset Kripto Nexo (NEXO) dan Mobilecoin (MOB)?

    Sistem Jaringan Terra Mempunyai Kelemahan Fatal

    Kehancuran Terra dan jatuhnya harga UST dan LUNA lebih pada kelemahan jaringan yang sangat fatal. Hal tersebut dikatakan oleh seorang developer blockchain sekaligus CTO Ansvia dan Founder Rantai Nusantara Foundation, Robin Syihab

    Robin dalam utasnya di Twitter mengatakan, bahwa sistem jaringan di Terra mempunyai celah yang dapat “dipermainkan” oleh entitas yang mempunyai jumlah token UST dalam jumlah besar. 

    Selama beroperasi, Terra disokong oleh sejumlah entitas venture capital. Di mana para VC ini yang memodali jaringan Terra untuk menjalankan skema algoritmik bagi stablecoin mereka.

    Robin menduga, kehancuran jaringan ini dilakukan oleh seseorang atau sekelompok dengan menggunakan gaya serangan George Soros yang pernah membuat krisis moneter di Asia termasuk Indonesia pada tahun 1998.

    “Selain bisa menghancurkan sistem Terra LUNA serangan ala George Soros juga bisa menguntungkan penyerangnya,” tulis Robin. 

    Kendati demikian, kasus ambruknya Terra menjadi sebuah pelajaran yang penting bagi komunitas kripto. Dan menjadi tantangan bagi sebuah regulasi yang adil bagi para investor maupun pengembang proyek. 

    DISCLAIMER : Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.

    Baca juga: Investasi Aset Kripto Sarana Pengembangan Ekonomi Anak Muda

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Nilai Burn Shiba Inu (SHIB) Lompat 800% Setelah Hadiah Didistribusikan

    Nilai dari mekanisme pembakaran (burning) token Shiba Inu (SHIB) melompat dengan hebat, sebanyak 800% dan mencetak rekor baru di 12,8 miliar token.

    Lonjakan fantastis tersebut datang setelah didistribusikannya hadiah bagi kontributor burning melalui portal pembakaran mereka di ShibaSwap. Para kontributor, yakni investor, akan mendapatkan hadiah berupa token yang berbeda ekosistem dengan SHIB, yaitu RYOSHI.

    Sejak diluncurkan pada akhir April lalu, portal pembakaran tersebut telah menarik lebih banyak peserta dan jumlah token yang dibakar, untuk dihilangkan dari peredaran untuk selamanya, mengurangi pasokan tetapnya.

    Dan sejak hadirnya portal dan pendistribusian hadiah tersebut, para pendukung Shiba Inu, ShibaArmy, telah membakar sekitar 29,5 miliar token SHIB. Setelahnya, angka terus melesat hingga 42,47 miliar token.

    Baca juga: Lebih Memahami Ekonomi Kreatif: Pengertian, Pendorong dan Contohnya

    Ini adalah rekor yang luar biasa, menunjukkan betapa besar antusias para investor untuk menekan pasokan beradar SHIB, guna mengangkat harganya di masa depan. Setidaknya, itulah tujuan dari burning SHIB.

    Diketahui, ada satu alamat burn SHIB besar yang menghancurkan 1,3 miliar token sejauh ini. Itu telah menerima hampir $ 6,5000 dalam bentuk RYOSHI

    Portal Burning di ShibaSwap memungkinkan para peserta mendapatkan token RYOSHI. Dan untuk mengklaimnya, peserta harus menggunakan fitur “WOOF” pada ShibaSwap, mengunci aset mereka untuk mencegah peserta menjual RYOSHI mereka setelah didapatkan.

    Baca juga20 Pola Candlestick Pattern Lengkap Untuk Trading Saham, Crypto, Forex, Konfirmasi dan Open Posisi

    Namun, pada saat pers, harga SHIB berada di $0,00001185 menurut Coingecko. Walaupun ada pembaharuan yang begitu significan, harga tetap tidak kunjung naik. Ini dikarenakan Bitcoin masih indecisive kemana harga jalan.

    Saat pasokan terus menyusut, diharapkan kelak permintaan akan token SHIB juga akan meningkat melalui ekosistem mereka, seperti Metaverse, NFT, Game dan lainnya, sehingga permintaan tinggi di kala pasokan menipis, dapat mengangkat harganya lebih baik, bahkan mencetak ATH baru yang diidam-idamkan. Kita lihat saja!

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Beranjak dari Kasus Terra UST, Apa Itu Stablecoin dan Apa Saja Jenisnya?

    Kasus Terra UST telah menarik perhatian lebih pada stablecoin, termasuk urusan regulasi dari para pemangku kepentingan di sektor keuangan. Lalu, apa itu stablecoin dan apa saja jenisnya? Dan apa respons dari Robby, Direktur Rekeningku.com?

    Apa Itu Stablecoin?

    Secara umum, stablecoin adalah aset kripto berupa token, yang nilainya dipatok dengan aset bernilai tetap atau stabil, seperti mata uang negara (fiat money), yakni dolar AS dan euro. Ada pula stablecoin yang dipatok dengan harga emas (gold).

    Selain menggunakan mata uang yang asli disimpan di bank, nilainya dipatok dengan surat utang perusahaan ataupun surat utang negara, seperti yang diterapkan oleh perusahaan Tether untuk USDT. Perusahaan penerbit harus berusaha menstabilkan USDT agar nilainya tetap 1 banding 1 terhadap dolar AS.

    Hadirnya stablecoin ini untuk memberikan bentuk token yang tidak bervolatilitas seperti Bitcoin dan altcoin lainnya. Juga, ini biasanya disimpan sebagai dana cepat jika investor tertarik untuk berinvestasi di aset kripto lain, tanpa perlu mengubahnya menjadi uang yang ada di rekening bank, melainkan tetap di akun di bursa kripto.

    Seperti yang disebutkan di atas, stablecoin juga ada yang nilainya dipatok dengan komoditas seperti emas, yang ditujukan sebagai bentuk dari tokenisasi emas fisik itu sendiri. Nilai satu token akan sama dengan emas satu troy ounce. Contohnya adalah Pax Gold (PAXG), yang dikeluarkan oleh perusahaan Paxos.

    Juga, secara umum ada dua jenis stablecoin, yakni yang memiliki underlying asset asli dan yang menggunakan kode, alias algoritmik.

    Jenis pertama adalah stablecoin USDT dan USDC. Sedangkan jenis kedua adalah DAI dan UST. DAI ini cukup bertahan hingga saat ini dan punya keunikan sendiri.

    Baca juga: Harga Terra LUNA Hari Ini Menguat 50 Persen, Bos Binance Soroti Penyebab Keruntuhan Parah Sebelumnya

    Jika membahas, stablecoin jenis pertama, maka kita pasti sudah banyak menggunakannya untuk membeli aset kripto lain di berbagai bursa.

    Karena ini nilainya stabil, investor menyimpannya tidak untuk mencari keuntungan dari capital gain (pertumbuhan nilai), melainkan melalui produk staking layaknya deposito di bank, yang disediakan oleh beberapa bursa kripto utama. Bunganya pun tak kalah menarik.

    Dan salah satu fungsi utama dari stablecoin adalah, Anda dapat melakukan transfer uang lintas negara dengan lebih cepat dan murah dibandingkan melalui transfer antar bank.

    Melirik Kasus Terra UST 

    Meski sejatinya stablecoin dirancang untuk tetap stabil, namun kasus dari Terra UST membuat banyak orang berfikir kembali akan kemampuan stablecoin, terutama yang berjenis algoritmik.

    UST, yang menerapkan mekanisme penyeimbang secara algoritmik, telah berhasil dihancurkan melalui serangan aksi jual skala besar, hingga nilainya benar-benar jauh dari kata stabil, di bawah US$1.

    Pada saat penulisan, berdasarkan data dari CoinMarketCap, nilai dari UST kini telah merosot lebih dari 94 persen, berada di US$0,055.

    UST juga menyeret token tata kelola Terra, LUNA, ke dalam kehancuran karena algoritmiknya akan mencetak LUNA secara otomatis untuk menyeimbangkan UST. Alhasil, pasokan beredar LUNA membludak, menjatuhkan harganya lebih dari 99 persen.

    Lalu, bagaimana nasib Terra LUNA dan UST hari ini?

    Baca juga: Tips Cuan Investasi Kripto Kala Market Bearish dan Kekhawatiran Stablecoin

    Voting Terra LUNA di Mata Bos Rekeningku.com

    Apa yang menjadi perhatian investor dan pengamat saat ini adalah, voting Terra untuk proposal pemulihan ekosistem di Terra Station.

    Nantinya, itu akan menghadirkan jaringan Terra 2.0, yang benar-benar baru melalui forking. Juga, token LUNA 2.0 akan hadir dengan jumlah pasokan yang tetap. Ini tidak terkait lagi dengan UST.

    Sementara, jaringan lama akan berubah nama menjadi Terra Classic, begitu pula dengan token LUNA saat ini, berubah menjadi Luna Classic (LUNC). Sedangkan ini, masih akan terkait dengan UST.

    Voting saat ini sudah mencapai kesepakatan di 62,06 persen, meski total suara yang masuk belum seluruhnya. Voting akan berakhir pada 25 Mei 2022.

    “Apa yang benar-benar diharapkan adalah, keberhasilan forking jika pada akhirnya proposal sah dilaksanakan. Investor masih berharap, tetapi belum ada rincian kegiatan nyata yang mampu menyelamatkan harga LUNA,” ujar Direktur Rekeningku.com, Robby kepada Blockchainmedia.id, Minggu (22/5/2022).

    Robby pun menambahkan bahwa, tentu saja forking akan menjadi ide yang menarik dari Do Kwon dan tim, tetapi eksekusinya adalah apa yang benar-benar perlu dipantau.

    Selain itu, di Terra Station juga telah ada proposal voting baru untuk UST, di mana ada ide untuk burn UST melalui pool komunitas untuk menolong harganya.

    Namun, jumlah peserta masih sangat sedikit, kurang dari 30 persen total peserta, dan ini masih akan berakhir pada 27 Mei. Sehingga, akan terlaksana atau tidaknya masih belum dapat dipastikan. 

    Baca juga: Investasi Aset Kripto Sarana Pengembangan Ekonomi Anak Muda

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Sepekan: Market Kembali Beraksi, Mulai Reli?

    Kondisi market aset kripto pada pekan ketiga Mei ini mulai menunjukan arah yang positif. Terpantau dari situs CoinMarketCap pada Jumat (20/5) sejumlah kripto, terutama 10 aset yang berkapitalisasi besar atau big cap mulai bergerak menuju zona hijau dalam 24 jam terakhir.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan ada angin segar pada perdagangan aset kripto menjelang akhir pekan ini. Kondisi pasar kripto juga secara mengejutkan tidak mengikuti situasi di pasar modal seperti biasanya. Sejak awal tahun, pasar kripto dan saham terbilang bergerak senada, karena sama-sama tergolong aset berisiko.

    “Jika dilihat dari sisi teknikalnya, terlihat kondisi imbas dari para pelaku pasar yang kembali melancarkan aksi beli setelah meyakini sejumlah aset kripto sudah memasuki keadaan oversold. Kondisi ini secara teknikal membuat adanya kemungkinan investor melakukan pembelian sehingga harga kripto berpeluang naik,” kata Afid.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.
    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono. Foto: Tokocrypto

    Baca juga: Mendag Rusia Akan Melegalkan Perdagangan Kripto

    Lebih lanjut Afid mencontohkan pergerakan Bitcoin yang sudah oversold di mana pergerakan downtrend yang signifikan dan konsisten dalam waktu lama. Kini, BTC bergerak dan diperdagangkan pada harga kisaran $ 30.000-$ 31.000. Level support BTC kini berada di titik $ 27.500 dan resistance di $ 35.000 untuk bull run.

    Kendati demikian, Afid mengingatkan bukan berarti sentimen di pasar kripto sudah sepenuhnya stabil. Market dan tindakan pelaku pasar masih dibayangi tekanan oleh ketidakpastian makroekonomi yang terdiri dari meroketnya inflasi, kebijakan agresif bank sentral dan potensi resesi.

    “Investor khawatir pelemahan ekonomi global ke depan, bisa berujung pada resesi. Dampaknya daya beli masyarakat menurun. Bank sentral berbagai negara bakal mengerek suku bunga acuannya dengan agresif demi menangkal inflasi. Namun, jika itu terjadi, maka pertumbuhan konsumsi dan investasi bisa terhambat,” terangnya.

    belajar memahami grafik trading
    Ilustrasi market kripto. Foto: Shuterstock.

    Baca juga: Founder Coinmetrics: Stablecoin Tetap Kuat, Kecuali UST

    Kondisi itu tentu membuat investor akan mengalihkan uangnya dari pasar modal ke aset yang lebih aman. Market kripto pun ikut menjadi korban.

    Di sisi lain, dampak dari drama stablecoin UST dan mutualnya LUNA mungkin akan memperlambat antusiasme investor dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang tidak. Kejadian itu tidak akan menimbulkan risiko besar bagi ekosistem kripto dalam jangka panjang.

    Market kripto ya terpukul dan berdampak, tapi itu jadi efek jangka pendek. Dalam jangka panjang, permintaan kripto terutama stablecoin sebagai instrumen investasi dan lindung nilai terhadap inflasi fiat akan terus tumbuh,” yakin Afid.

    Baca juga: Tanah Cluster Metaverse Pertama di Indonesia Laku Terjual Rp 150 Juta



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Elon Musk Ingin Twitter Jadi Super App, Ada Fitur Pembayaran Kripto

    CEO Tesla, Elon Musk, memastikan proses akuisisi Twitter masih berlanjut. Bahkan, ia mengatakan, ingin platform media sosial itu menjadi aplikasi super (super app) yang memiliki fitur pembayaran seperti WeChat dari China.

    Keinginan bos SpaceX ini disampaikan dalam podcast ‘All In’ dengan host Chamath Palihapitiya, Jason Calacanis, David Sacks, dan David Friedberg.

    “Salah satu hal menarik yang muncul dalam roadmap produk Anda adalah kemungkinan Twitter menjadi semacam aplikasi super yang mendukung pembayaran, termasuk dengan Dogecoin,” kata Host Podcast All-In Jason Calacanis, dikutip Decrypt.

    Musk kemudian menyinggung keunggulan WeChat. Menurutnya, WeChat memiliki model ideal untuk ditiru dan platform semacam ini bisa dikembangkan di luar China.

    “Jika Anda berada di China, Anda seperti tinggal di dalam WeChat. (Aplikasi) itu melakukan segala hal. Fungsinya seperti Twitter, ditambah PayPal, ditambah banyak hal lainnya. Dan semuanya digabung menjadi satu antarmuka yang hebat. Ini benar-benar aplikasi yang luar biasa.” kata Musk.

    Baca juga: Tanah Cluster Metaverse Pertama di Indonesia Laku Terjual Rp 150 Juta

    Ia beranggapan tidak ada aplikasi seperti WeChat di luar China. Aplikasi ini bisa memberi para content creator pendapatan tambahan, misalnya dengan menggunggah video, sementara pengguna lain bisa memberikan komentar bebas spam.

    Ia mengatakan, fitur pembayaran menggunakan kripto maupun fiat merupakan hal yang masuk akal untuk mewujudkan Twitter sebagai super app. Meski demikian, ia tidak memaksakan Twitter untuk berubah dan super app yang ia maksud bisa dikembangkan dari awal menjadi sebuah aplikasi baru.

    “Ini bisa menjadi sesuatu yang baru, dan saya pikir aplikasi ini perlu ada. Ini harus menjadi platform yang terpercaya dan inklusif secara maksimal di mana orang dapat melakukan berbagai aktivitas digital,” ujar miliarder itu.

    Baca juga: Jadi, Crypto Halal atau Haram? Ketahui Selengkapnya Berikut!

    Perjalanan Musk Mengakuisisi Twitter

    Musk secara resmi mengumumkan ketertarikannya untuk membeli Twitter pada April 2022. Ia bahkan telah memaparkan beberapa rencana termasuk membuat kode open source Twitter, menyediakan tombol “Edit” untuk cuitan, serta memerangi scam dan spam.

    Ia juga mengungkapkan ide untuk menambahkan kripto meme Dogecoin (DOGE) sebagai alat pembayaran bagi pengguna layanan berlangganan premium Twitter. Musk dikenal sebagai penggemar nomor satu token DOGE.

    Pada 25 April 2022, Dewan direksi Twitter menerima tawaran Musk untuk membeli seluruh saham perusahaan tersebut senilai $44 miliar. Beberapa investor juga ikut mendukung akuisisi tersebut secara finansial, salah satunya adalah perusahaan exchange kripto Binance.

    Pekan lalu Musk menyatakan menunda akuisisi untuk menverifikasi klaim Twitter terkait akun palsu/spam. Twitter menyatakan hanya kurang dari 5% pengguna media sosial itu adalah spam.

    Namun, Musk kemudian menyatakan bahwa sebanyak 20% akun Twitter merupakan akun palsu. Tidak menutup kemungkinan hal ini membuat ia menegosiasikan kembali kesepakatan akuisisi untuk bisa membayar dengan harga yang lebih rendah.

    Baca juga: Founder Coinmetrics: Stablecoin Tetap Kuat, Kecuali UST

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Crypto Halal atau Haram Begini Ketentuannya

    Akhir-akhir ini, crypto sedang menjadi pembicaraan hangat. Topik yang berkaitan dengan crypto selalu menjadi pembahasan menarik. Salah satunya adalah mengenai apakah crypto halal atau haram.

    Hal ini sebenarnya tidak mengherankan. Beberapa instansi pemerintahan dunia memang belum punya aturan yang jelas mengenai crypto. Komisi Layanan Keuangan Amerika Serikat bahkan baru menetapkan regulasi crypto pada 2020. Itu pun masih terus mengalami perubahan karena sifat crypto yang dinamis.

    Pemerintah Indonesia sendiri telah mengumumkan daftar mata uang crypto yang diakui. Di samping itu, aset kripto juga dikenai PPh (Pajak Penghasilan) dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68 Tahun 2022 (mulai berlaku sejak 1 Mei 2022). Lalu, bagaimana dengan hukum Islam, apakah crypto halal atau haram?

    Crypto, Halal atau Haram?

    Sebenarnya, masih terdapat perbedaan pendapat mengenai crypto dari para pakar syariat Islam. Beberapa lembaga menganggap penggunaannya haram, tapi ada juga yang menilainya halal. Jika menyesuaikan dengan ajaran dalam syariat Islam, memang ada beberapa aspek dalam crypto yang masih sulit untuk ditetapkan. Berikut beberapa pendapat dari para ahli mengenai halal atau haramnya crypto.

    Alasan Crypto Dianggap Haram

    Salah satu lembaga yang menilai crypto haram adalah Dar al-Ifta Mesir. Menurut Grand Mufti Mesir, Sheikh Shawki Allam, crypto haram karena mengandung unsur risiko penipuan, kurangnya pengetahuan, dan kecurangan.

    Lembaga lain yang mengharamkan crypto adalah Direktorat Urusan Agama Turki. Pada 2017 lalu, instansi yang juga disebut Diyanet tersebut mengumumkan bahwa investasi mata uang crypto dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama Islam karena mengandung unsur spekulasi dalam mengukur nilainya.

    Alasan Crypto Dianggap Halal

    Perdebatan crypto halal atau haram memang masih bergulir hingga saat ini. Selain lembaga dan pakar yang menganggap haram, ada juga yang berpendapat bahwa mata uang crypto halal. Pendapat yang menyatakan kehalalan aset digital tersebut datang dari Darul Uloom Zakariyya.

    Darul Uloom Zakariyya merupakan sebuah universitas Islam yang berada di Afrika Selatan. Para pakar ekonomi syariah di universitas tersebut menilai bahwa penggunaan crypto termasuk halal. Namun, perlu diingat, kehalalan tersebut juga harus menimbang beberapa aspek. Crypto akan berubah menjadi haram jika penggunaannya bertentangan dengan kaidah syariat Islam.

    Baca juga: Amankan Masa Depan Anda dengan Investasi Bitcoin

    Bagaimana Pernyataan MUI Terkait Crypto Halal atau Haram?

    ilustrasi membeli bitcoin

    Lalu, bagaimana dengan Indonesia sendiri? Sebagai negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia, Indonesia tentu memiliki lembaga yang khusus mengatur halal-haramnya suatu hal. Lembaga yang memiliki kewenangan tersebut adalah MUI atau Majelis Ulama Indonesia.

    MUI sendiri sebenarnya sudah mengeluarkan fatwa mengenai penggunaan crypto. Fatwa hukum crypto telah disetujui dan disahkan pada gelaran Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI VII pada 9-11 November 2021 lalu. Dalam kegiatan rutin tiga tahunan tersebut, MUI menetapkan tiga aturan mengenai crypto, yaitu:

    1. Crypto dianggap haram jika dipergunakan sebagai mata uang. Sebab, crypto memiliki sifat dharar atau mengandung potensi kerugian. Di samping itu, crypto juga dinilai bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang dan juga Peraturan Bank Indonesia Nomor 17 Tahun 2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
    2. Crypto dianggap halal jika dipergunakan sebagai aset atau komoditi digital selama memenuhi syarat sebagai sil’ah (sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan manusia dan mengandung manfaat). Aset digital tersebut sah untuk diperjualbelikan.
    3. Crypto yang tidak memenuhi syarat sebagai sil’ah secara syar’i maka dianggap tidak sah untuk diperjualbelikan. Aset yang dianggap tidak bisa menjadi sil’ah berarti mengandung unsur gharar (ketidakpastian), dharar (kerugian), dan qimar (transaksi yang tidak baik).

    Dari sini, pertanyaan mengenai crypto halal atau haram pun telah terjawab. Mengikuti fatwa MUI, hukum crypto mengikuti penggunaannya. Jika crypto dijadikan mata uang, maka dianggap haram. Namun, diperbolehkan untuk menggunakan crypto sebagai aset digital yang diperjualbelikan asal telah memenuhi syarat sebagai sil’ah.

    Baca juga: Apakah Bitcoin Aman? Inilah Status Legalitasnya di Indonesia

    Peredaran crypto sebagai aset digital sendiri diawasi ketat oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi atau Bappebti. Lembaga yang berada di bawah naungan Kementerian Perdagangan tersebut memastikan bawa aset crypto yang beredar legal di Indonesia memiliki underlying jelas sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Tertarik untuk mulai investasi aset crypto? Tokocrypto adalah jawabannya. Di Tokocrypto, Anda bisa menemukan aset crypto yang legal dan tentunya memenuhi syarat yang ditetapkan oleh MUI. Masih ragu? Anda bisa mempelajari crypto terlebih dulu di portal informasi Tokonews. Semoga artikel ini dapat menjawab pertanyaan Anda mengenai ketentuan crypto halal atau haram. 

    Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait dunia kripto, Anda bisa mendaftarkan diri Anda di Tokocrypto dan gabung di komunitas Tokocrypto di Telegram dan Discord sekarang juga! 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Founder Coinmetrics: Stablecoin Tetap Kuat, Kecuali UST

    Stablecoin dianggap sebagai inovasi terkuat di dunia crypto karena memberikan kemampuan desentralisasi dari sisi transaksi. 

    Pernyataan tersebut dituturkan oleh Nic Carter, Pendiri Coinmetrics dan Petinggi Castle Island Ventures dalam acara Permissionless oleh Blockworks. 

    Acara Permissionless Bahas Stablecoin 

    Ia menyatakan pandangannya dengan menyatakan bahwa pemerintah tidak bisa memberikan apa yang diberikan oleh inovasi stablecoin.

    Pernyataan ini disampaikan dengan adanya beberapa petinggi di dunia crypto seperti 

    Kepala Bidang CBDC Visa, Catherine Gu, Developer Utama MakerDAO Sam MacPherson, Pendiri Frax Sam Kazemian.

    Acara ini juga seharusnya menyambut CEO Terra, Do Kwon terkait kasus stablecoin yang sedang ramai, tapi ia tidak hadir. 

    Perbincangan ini juga menyangkut kondisi USTerra atau UST yang sedang turun jauh di bawah $1 menjadi sekitar $ 0,1 keluar dari statusnya sebagai stablecoin

    Menanggapi kondisi ini banyak stablecoin yang juga terimbas sentimen negatif, tapi satu stablecoin berdiri kuat yaitu USDC. Circle, perusahaan yang bertanggung jawab atas USDC menyatakan, 

    “Cara kerja kami sangat membosankan, sistemnya sangat mudah, terdasari uang fiat. Pengguna memberi 1 Dolar Amerika, kita memberi 1 USDC dan sebaliknya.”

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    USDC menjadi salah satu topik yang dibahas dalam acara ini karena perbedaannya yang sangat drastis dengan UST dari Terra. 

    Sebab untuk sistem USDC stablecoin-nya adalah stablecoin tradisional tapi UST menggunakan sistem stablecoin algoritma. 

    Stablecoin tradisional adalah stablecoin yang didasari uang fiat sedangkan stablecoin algoritma didasari oleh token atau koin yang terikat dengannya dari sisi nilai. 

    Baca juga: Mengenal Dekat Kripto Wrapped Bitcoin (WBTC) dan Kava Lend (HARD)

    Kehancuran Terra Sudah Diprediksi 

    Nic Carter juga menyatakan bahwa Terra adalah sebuah proyek yang sudah diprediksi akan hancur dalam jangka panjang. Ia menyatakan, 

    “Luna Terra jelas adalah sebuah bom waktu di dunia crypto, jelas sekali proyek yang paling rentan.”

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    Carter menyatakan bahwa Terra adalah sebuah sistem keuangan yang sangat teledor dari sisi infrastrukturnya dan menganggap bahwa kehancurannya sudah dapat diprediksi sejak lama bagi yang memiliki “pandangan jernih”.

    Ia menambahkan bahwa sistem algoritma UST membuatnya rumit bahkan terlalu rumit dan sulit dimengerti oleh para investor yang tertarik.  

    Selain itu Carter juga menambahkan bahwa mekanisme ini tidak pernah dikoreksi karena Do Kwon sangat agresif dan aktif di Twitter, membuat investor jengkel saat memberi kritik. 

    “Investor tidak bisa memberi kritik terhadap UST karena Do Kwon sangat vokal di Twitter. Terdapat kondisi dimana kritik menjadi sebuah hal yang menyinggung bagi komunitas Terra, jadi besar insentifnya untuk tidak memberi kritik ke Terra.” 

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    MacPherson, developer utama dari MakerDAO juga setuju dengan pernyataan tersebut dimana Terra dianggap olehnya sebagai proyek yang teledor sejak awal berdiri. 

    Ia juga menambahkan bahwa kasus UST membuat adanya kebutuhan yang tinggi terkait penjagaan nilai stablecoin berdasarkan nilai uang fiat asli yang ada di dana cadangan penerbit. 

    MacPherson juga menyinggung DAI yang memiliki cadangan 1,64 kali dari stablecoin yang diterbitkannya sehingga dianggap sebagai stablecoin yang aman. 

    DAI juga diangkat dalam perbincangan tersebut karena sebelumnya Do Kwon menyinggung DAI dan berjanji untuk mematikan proyek tersebut. 

    Terlihat bahwa saat ini DAI masih hidup dan UST mati yang juga menjadi salah satu topik hangat di dunia crypto saat ini. 

    Baca juga: 3 Tanda Onchain Menunjukkan Bitcoin Mulai Pulih

    Masih Menjadi Inovasi Terkuat Crypto

    Dalam acara tersebut, perwakilan dari Visa, Catherine Gu, juga menyatakan pendapatnya terkait kasus Terra.

    Ia menyatakan bahwa Visa menginginkan kegunaan yang unik dari stablecoin dan fokus Visa saat ini memang masih hanya di stablecoin yang didasari fiat. Gu menyatakan:

    “Kita harus memikirkan tentang pembentukan proyek crypto yang ada saat ini karena adanya standar keamanan merupakan hal yang penting untuk konsumen, investor ritel, dan institusi. Penting untuk tau proses audit dari stablecoin dan bagaimana mereka menguji kestabilan stablecoin tersebut.” 

    Kepala Bidang CBDC Visa, Catherine Gu

    Selain itu Gu juga menggarisbawahi bahwa banyak institusi yang saat ini lebih percaya terhadap CBDC atau mata uang digital bank sentral, dibandingkan stablecoin.  

    MacPherson dari MakerDAO juga menyetujui pandangan positif terhadap stablecoin dengan menyatakan bahwa jika CBDC masuk ke blockchain terbuka maka bisa menjadi stablecoin yang lebih aman. 

    Reginatto dari Circle, perusahaan terkait USDC memiliki tanggapan yang berbeda. Ia menyatakan bahwa bank sentral akan kesulitan jika diberi tanggung jawab mengendalikan fiat di blockchain karena sistemnya yang berbeda dan lebih rumit.

    Ia juga berargumen bahwa sistem antara CBDC dan stablecoin itu berbeda dimana CBDC bersifat terpusat dan stablecoin tidak terpusat serta transparan. 

    Namun kritik terkait CBDC datang dari Nic Carter yang menyatakan bahwa stablecoin lebih mendukung konsumen. Ia menyatakan: 

    Stablecoin adalah inovasi terkuat dari crypto sejauh ini, tidak ada perbandingannya. Stablecoin bertanggung jawab atas transisi autonomi transaksi yang besar di dunia keuangan saat ini.” 

    Pendiri Coinmetrics, NIC CARTER

    Carter menambahkan bahwa CBDC tidak bisa memberikan transparansi dan sifat anonim yang datang dari CBDC.  

    Jadi ia percaya bahwa walau sekarang terjadi kekacauan di sekitar stablecoin, dengan adanya infrastruktur dan sistem audit yang tepat, maka stablecoin akan tetap kuat sebagai produk utama dunia crypto

    Baca juga: Mendag Rusia Akan Melegalkan Perdagangan Kripto

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bagaimana Cara CEO Binance Melindungi Pemilik UST (Luna)?

    Binance CEO, Changpeng Zhao, memberikan wawasan bagaimana Binance mengambil tindakan untuk memastikan pengguna Binance dilindungi dengan runtuhnya UST Terra Luna.

    Pada tanggal 16 Mei lalu, Boss Binance men-tweet secara terinci bagaimana koneksi Binance dan proyek Luna dan cara mereka untuk memastikan pengguna tetap terlindungi.

    Dalam serangkaian tweet ini, CZ (sapaan Changpeng Zhao), mengakui Binance memegang 15 juta Luna yang pada ATH bernilai $ 1,6 miliar.

    Token tersebut diberikan kepada luna sebagai hadiah atas investasi awal yang dilakukan oleh Binance kepada Proyek sebesar $3 juta.

    Sudah pasti ini adalah investasi yang sangat menguntungkan, mengingat Luna naik beribu-ribu persen.

    Sangat disayangkan LUNA hanya berharga $ 0,000184615 dan Binance investasi hanya bernilai $ 2,7 juta-an.

    Baca jugaApakah Kamu Menjual Aset Crypto Selama Crash? CEO Ini Bilang TIDAK!

    Bisa dibilang bahwa Binance hanya rugi $ 300.000. Jumlah ini terbilang kecil jika kita bandingkan dengan beberapa orang yang hilang hingga $ 20 juta UST.

    CZ juga menekankan bahwa Binance tidak pernah menjual Luna yang mereka pegang. Anda bisa mencheck di sini.

    Diserangkaian tweet tersebut, CZ menegaskan bahwa Luna harus berfokus untuk melindungi pengguna dan memberikan kompensasi kepada mereka, sebelum ke Binance.

    Karena Luna masih terlisting di Binance, CZ berhak untuk mendapatkan ganti rugi. Namun, dia mengatakan:

    Untuk memberikan contoh tentang MELINDUNGI PENGGUNA, Binance akan ‘memaafkan’ untuk kali ini dan meminta tim Terra untuk memberikan kompensasi kepada pengguna ritel dan Binance terakhir (JIKA TERJADI).

    Cryptoharian sudah memberikan kenapa Terra Luna terjadi seperti ini. Secara singkat, ini terjadi karena UST/USD kehilangan peg $1.

    Sebagai stablecoin 1 UST=$ 1. Namun, dalam kasus ini, 1 UST tidak $ 1

    Baca juga: Ahli Strategi Bloomberg: Bitcoin dan Ethereum akan Ungguli Pasar Saham

    Untuk mempertahankan PEG, tim Terra Luna juga menjual cadangan BTC mereka. Ini-lah kenapa harga Bitcoin sempat mencapai $ 26 ribu di Binance.

    Beberapa artikel dan Youtuber mengatakan ini adalah sebuah koordinasi attack yang mau menghancurkan Luna.

    Namun, Cryptoharian tidak bisa memberikan komentar untuk ini. Salah satu Youtuber yang mengatakan hal ini adalah Crypto Banter.

    DISCLAIMER: Cryptocurrency adalah aset yang sangat volatil, trade dengan berhati-hati.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mendag Rusia Akan Melegalkan Perdagangan Kripto

    Menteri Keuangan Rusia, Denis Manturov, menyatakan bahwa negaranya akan melegalkan perdagangan aset kripto.

    “Pertanyaannya adalah kapan ini akan terjadi, bagaimana itu dilakukan, dan bagaimana hal itu akan diatur. Sekarang baik Bank Sentral maupun pemerintah aktif membahas jal tersebut,” jelas Manturov.

    Rusia sebenaranya sudah mendalami berbagai aspek soal perdagangan kripto ini sejak 2022, namun belum membuat atau menghasilkan kebijakan yang mendukungnya. Meski demikian secara mendasar, Kementerian Keuangan Rusia telah mengusulkan landasan hukum dasar soal perdagangan kripto ini melalui RUU “On Digital Currency” pada April silam.

    Ilustrasi Presiden Rusia, Vladimir Putin isyaratkan toleransi terhadap cryptocurrency
    Ilustrasi Presiden Rusia, Vladimir Putin isyaratkan toleransi terhadap cryptocurrency.

    Baca juga: 3 Tanda Onchain Menunjukkan Bitcoin Mulai Pulih

    RUU ini disambut antusias komunitas kripto di negeri yang sedang konflik dengan Ukraina ini. Dalam berbagai kesempatan, Manturov ditanyai sampai sejauh mana perkembangan rencana perdagangan kripto menjadi legal.

    “Dalam waktu yang cepat atau lambat rencana ini akan dilakukan. Tapi, sekali lagi harus legal, benar, sesuai dengan aturan yang akan dirumuskan,” imbuhnya.

    Bank Sentral Rusia (CBR) dan Kementerian Keuangan hingga saat ini memiliki pandangan yang berbeda tentang regulasi kripto, dimana bank sentral tidak menyetujui perdagangan kirpto sementara kementerian mencari solusinya dengan kemungkinan menerapakan aturan perpajakan.

    Rusia Rampungkan RUU Kripto Sebagai Alat Pembayaran
    Ilustrasi bendera Rusia.

    Baca juga: TokoCare Bersama BeKind dan WeCare.id Distribusikan Kado Lebaran ke 200 Anak Spesial

    Pada Januari lalu, CBR telah mengusulkan larangan menyeluruh pada perdagangan dan penambangan kripto lokal karena potensi risiko stabilitas keuangan yang terkait dengan sektor ini.

    Namun, setelah invasi ke Ukraina, CBR menyatakan sikapnya terlalu kaku terhadap perdagangan kripto sehingga menghambat pertumbuhannya.

    Gubernur bank sentral, Elvira Nabiullina, mengatakan sanksi ekonomi Eropa dan Amerika Serikat yang dijatuhkan kepada negaranya memberikan perspektif lain soal potensi kripto.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com