Tag: defi

  • BGD Labs Hengkang dari Aave DAO, Ini Intaian Risiko yang Menanti

    Ekosistem decentralized finance (DeFi) kembali diguncang kabar penting.

    Sebagaimana dilansir dari News Bitcoin, BGD Labs mengumumkan akan mengakhiri kerja samanya dengan Aave DAO, efektif mulai 1 April 2026.

    Keputusan ini mengakhiri empat tahun kolaborasi strategis, di mana BGD Labs berperan sebagai kontributor utama dalam pengembangan teknis dan keamanan protokol Aave.

    Dalam pernyataan resminya, BGD Labs menyebut adanya ketidakseimbangan organisasi sebagai alasan utama tidak diperpanjangnya kontrak kerja sama tersebut.

    Mereka menyoroti dominasi Aave Labs, yang dinilai memiliki kontrol signifikan terhadap brand dan proses voting dalam ekosistem Aave.

    Baca Juga: AAVE Naik 5% Usai Semua Revenue Dialihkan ke DAO Treasury

    Isu Sentralisasi dalam DAO

    Sebagai organisasi otonom terdesentralisasi (DAO), Aave selama ini diposisikan sebagai protokol yang dikelola komunitas melalui mekanisme tata kelola berbasis token.

    Namun, BGD Labs menilai struktur saat ini berpotensi menciptakan risiko sentralisasi.

    Dominasi entitas komersial dalam pengambilan keputusan dinilai bertentangan dengan prinsip dasar desentralisasi.

    Ketika satu pihak memiliki pengaruh besar terhadap arah pengembangan dan branding, muncul kekhawatiran bahwa independensi DAO dapat tergerus.

    Isu ini bukan hal baru di dunia DeFi. Banyak DAO menghadapi dilema antara efisiensi operasional dan desentralisasi murni.

    Ketika proyek berkembang pesat dan membutuhkan koordinasi skala besar, entitas komersial sering kali mengambil peran sentral untuk memastikan eksekusi berjalan lancar.

    Namun, situasi tersebut juga berpotensi menimbulkan ketegangan internal, seperti yang kini terjadi di Aave.

    Dampak terhadap Infrastruktur Teknis

    BGD Labs dikenal sebagai salah satu pilar teknis utama dalam pengembangan Aave, khususnya dalam aspek keamanan smart contract dan audit teknis.

    Kepergian mereka memunculkan pertanyaan tentang kesiapan DAO dalam menjaga stabilitas protokol ke depan.

    Tim Research Tokocrypto menilai langkah ini sebagai kehilangan signifikan bagi ekosistem Aave.

    “Keluarnya BGD Labs adalah kehilangan besar bagi infrastruktur teknis Aave. Ini mencerminkan tensi internal klasik dalam DAO antara entitas komersial (Aave Labs) dan kontributor independen. Pergeseran ini bisa memperlambat migrasi ke Aave v4 dan memaksa DAO untuk mencari auditor atau pengembang baru dalam waktu singkat guna menjaga stabilitas protokol,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Potensi Dampak ke Aave v4

    Salah satu agenda besar yang tengah dinanti komunitas adalah migrasi ke Aave v4. Versi terbaru ini diharapkan membawa peningkatan efisiensi modal, fleksibilitas arsitektur, serta sistem manajemen risiko yang lebih canggih.

    Namun, tanpa dukungan teknis dari BGD Labs, proses transisi tersebut berpotensi mengalami penundaan.

    DAO kini dihadapkan pada kebutuhan mendesak untuk menunjuk kontributor teknis baru, baik dalam bentuk firma audit independen maupun tim pengembang tambahan.

    Keterlambatan dalam migrasi dapat berdampak pada daya saing Aave di tengah persaingan ketat protokol lending DeFi lainnya.

    Tantangan Tata Kelola DAO

    Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas mengenai tata kelola DAO.

    Apakah model desentralisasi penuh dapat berjalan efektif tanpa ketergantungan pada entitas komersial? Atau justru keseimbangan antara keduanya yang menjadi kunci keberlanjutan?

    Bagi investor dan pengguna Aave, fokus utama saat ini adalah stabilitas protokol dan keamanan dana yang terkunci (TVL).

    Selama tata kelola berjalan transparan dan proses transisi dilakukan secara terstruktur, dampak jangka pendek mungkin dapat dikelola.

    Namun dalam jangka panjang, keseimbangan kekuasaan dalam DAO akan menjadi faktor krusial bagi reputasi dan keberlanjutan proyek.

    Baca Juga: Jupiter DAO Gelar Voting Net-Zero Emissions, Dampak ke Harga JUP?

    Keputusan BGD Labs untuk hengkang dari Aave DAO menandai babak baru dalam dinamika internal salah satu protokol DeFi terbesar.

    Isu sentralisasi, tata kelola, dan kesiapan teknis kini menjadi sorotan utama komunitas.

    Ke depan, kemampuan Aave DAO dalam mencari mitra teknis baru dan menjaga momentum pengembangan, khususnya menuju Aave v4, akan menjadi ujian penting bagi ketahanan ekosistemnya.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Founder Zigchain Perpanjang Lock Token hingga 2026, Sinyal Kenaikan?

    Proyek blockchain Zigchain kembali menjadi sorotan setelah para pendirinya (founders) secara resmi memperpanjang periode lock token mereka selama satu tahun hingga Januari 2026, menurut laporan Coinmarketcal pada Sabtu (31/1).

    Keputusan ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap pengembangan ekosistem, sekaligus mengurangi kekhawatiran pasar terkait potensi aksi jual besar-besaran (dump) dari insider.

    Dalam industri kripto, isu tokenomics dan perilaku insider sering kali menjadi faktor krusial yang memengaruhi kepercayaan investor.

    Oleh karena itu, kebijakan perpanjangan lock-up dari pihak founder Zigchain ini dinilai sebagai sinyal positif yang dapat memperbaiki sentimen pasar terhadap proyek tersebut.

    Baca Juga: Wall Street Menghijau, Saham Blockchain AS Melejit Tajam! Ini Pemicunya

    Apa Arti Perpanjangan Lock Token bagi Investor?

    Perpanjangan lock token berarti token yang dimiliki oleh founder tetap tidak dapat diperdagangkan atau dijual di pasar hingga periode tertentu berakhir.

    Dengan memperpanjang lock-up hingga Januari 2026, para pendiri Zigchain secara efektif menunda potensi tekanan jual dari token insider dalam jangka menengah.

    Langkah ini penting karena salah satu risiko utama dalam proyek kripto tahap awal adalah dump token oleh founder atau tim inti, yang dapat memicu penurunan harga tajam dan merusak kepercayaan komunitas.

    Dengan meniadakan risiko tersebut dalam satu tahun ke depan, Zigchain memberikan kepastian tambahan bagi investor ritel maupun institusional.

    Sinyal Kepercayaan Founder terhadap Masa Depan Proyek

    Tim Research Tokocrypto menilai keputusan ini sebagai sinyal kepercayaan internal yang kuat. Dalam keterangannya, mereka menyebut bahwa lock-up extension mencerminkan keyakinan founder terhadap prospek jangka panjang Zigchain, bukan sekadar mengejar keuntungan jangka pendek dari fluktuasi harga.

    “Lock-up extension adalah sinyal kepercayaan founder yang kuat, berpotensi meningkatkan trust investor dan demand. Media coverage positif memperkuat efek ini, mengindikasikan probabilitas price movement yang baik,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Dalam konteks psikologi pasar, tindakan ini juga memiliki efek reputasional.

    Founder yang bersedia mengunci aset mereka lebih lama menunjukkan bahwa mereka “berada di perahu yang sama” dengan investor, sehingga kepentingan jangka panjang kedua belah pihak menjadi selaras.

    Dampak terhadap Sentimen dan Potensi Harga

    Secara historis, pengumuman perpanjangan lock token sering kali direspons positif oleh pasar, terutama pada proyek dengan kapitalisasi kecil hingga menengah.

    Berkurangnya risiko suplai mendadak dapat menciptakan supply shock positif, di mana jumlah token yang beredar lebih terbatas dibandingkan potensi permintaan.

    Selain itu, liputan media yang positif terhadap keputusan ini berpotensi meningkatkan eksposur Zigchain di kalangan investor baru.

    Kombinasi antara sentimen positif dan narasi “founder commitment” sering kali menjadi katalis jangka pendek hingga menengah bagi pergerakan harga.

    Namun demikian, analis juga mengingatkan bahwa efek lock-up extension bukanlah jaminan kenaikan harga secara instan.

    Faktor fundamental lain seperti perkembangan produk, adopsi jaringan, serta kondisi pasar kripto secara keseluruhan tetap menjadi variabel penentu.

    Konteks Lebih Luas: Tren Transparansi di Industri Kripto

    Keputusan Zigchain ini sejalan dengan tren yang lebih luas di industri kripto, di mana proyek-proyek mulai menekankan transparansi tokenomics dan tata kelola yang sehat. Investor kini semakin kritis terhadap distribusi token dan jadwal unlock, terutama setelah banyak kasus insider dump yang merugikan pasar dalam beberapa tahun terakhir.

    Dengan memperpanjang lock token secara sukarela, Zigchain berusaha menempatkan dirinya sebagai proyek yang mengedepankan keberlanjutan dan akuntabilitas, bukan sekadar spekulasi jangka pendek.

    Baca Juga: BNB Chain Cetak Rekor US$20,9 Miliar, Harga BNB Bangkit ke US$860

    Perpanjangan periode lock token founder Zigchain hingga Januari 2026 merupakan langkah strategis yang memperkuat narasi komitmen jangka panjang proyek.

    Kebijakan ini mengurangi risiko tekanan jual dari insider, meningkatkan kepercayaan investor, serta berpotensi memperbaiki sentimen pasar terhadap token Zigchain.

    Meski dampak positif terhadap harga tidak bisa dijamin secara langsung, langkah ini memberikan fondasi psikologis dan struktural yang lebih sehat bagi pertumbuhan ekosistem Zigchain ke depan.

    Bagi investor, keputusan ini dapat dipandang sebagai sinyal positif, terutama jika diiringi dengan progres nyata dalam pengembangan produk dan adopsi jaringan dalam beberapa bulan mendatang.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Citrea Luncurkan Mainnet untuk Skalabilitas Bitcoin

    Proyek Layer 2 Bitcoin berbasis teknologi Zero-Knowledge (ZK), Citrea, kini secara resmi telah meluncurkan mainnet-nya.

    Peluncuran ini sekaligus menandai tonggak penting dalam perkembangan teknologi scaling dan smart contract di jaringan Bitcoin.

    Menurut laporan The Block pada Rabu (28/1), pengumuman ini menghadirkan optimisme baru di komunitas kripto karena membawa kemampuan eksekusi aplikasi kompleks, termasuk potensi DeFi, ke Bitcoin tanpa mengorbankan keamanan on-chain yang sudah menjadi fondasi kuat jaringan ini.

    Baca Juga: Altcoin Season Melemah, DeFi Muncul Sebagai Penyelamat Harga

    Apa Itu Citrea dan Bagaimana Cara Kerjanya?

    Citrea merupakan solusi Layer 2 yang dibangun di atas Bitcoin dengan memanfaatkan teknologi Zero-Knowledge Rollups (ZK-Rollup).

    Secara teknis, Citrea memproses transaksi dan smart contract di luar jaringan Bitcoin (off-chain) menggunakan mesin virtual zkEVM, kemudian menghasilkan bukti kriptografis yang disimpan ke chain Bitcoin.

    Proses ini memungkinkan throughput transaksi yang jauh lebih tinggi, biaya lebih rendah, dan tetap mengandalkan keamanan jaringan Bitcoin sebagai anchor terakhir.

    Dibandingkan dengan beberapa solusi lain yang bergantung pada mekanisme eksternal atau multi-signature tradisional, Citrea menggunakan Bitcoin secara langsung untuk settlement dan data availability, yang berarti setiap aktivitas Layer 2 dapat diverifikasi melalui data yang tersedia di blockchain Bitcoin.

    ctUSD: Stablecoin yang Memperkuat Ekosistem

    Bersamaan dengan peluncuran mainnet, Citrea memperkenalkan stablecoin native bernama ctUSD.

    Stablecoin ini diterbitkan oleh MoonPay dan didukung infrastruktur oleh M0, dengan cadangan penuh berupa short-term U.S. Treasury bills dan kas.

    Keberadaan ctUSD ini berfungsi sebagai jembatan finansial antara aktivitas DeFi di Citrea dan sistem fiat di luar jaringan, memberikan likuiditas yang stabil tanpa harus bergantung pada BTC yang volatile untuk setiap transaksi.

    Dengan ctUSD, pengguna dapat melakukan lending, borrowing, maupun fungsi pasar modal lainnya dengan denominasi yang lebih stabil—suatu kebutuhan penting untuk adopsi DeFi yang lebih luas.

    Mendukung Aktivitas Finansial Lanjutan di Bitcoin

    Tim Research Tokocrypto menjelaskan, peluncuran mainnet Citrea membuka jalan bagi berbagai aplikasi Bitcoin-native seperti BTC-backed lending, structured products, dan aplikasi DeFi lain yang umumnya hanya tersedia di ekosistem lain seperti Ethereum.

    Ratusan bitcoin capital yang selama ini “tidur” karena keterbatasan jaringan dasar Bitcoin kini berpeluang dialirkan ke aplikasi produktif di atas Layer 2.

    “Peluncuran ini memperkuat narasi BTCFi (Bitcoin DeFi) yang sedang tren. Dengan membawa programabilitas (ZK-Rollup) ke Bitcoin, Citrea membuka jalan bagi aplikasi DeFi kompleks untuk dibangun di atas likuiditas aset terbesar di dunia (BTC), berpotensi menyaingi ekosistem L2 Ethereum,” papar Tim Research Tokocrypto.

    Selain itu, Citrea sudah bermitra dengan sejumlah pelaku DeFi dan pasar modal, termasuk Morpho, UltraYield, dan Keyrock, yang mengembangkan infrastruktur bagi produk-produk finansial canggih yang berjalan langsung di atas Bitcoin.

    Para pendukung juga melihat peluncuran Citrea sebagai penguat narasi BTCFi (Bitcoin DeFi), di mana Bitcoin tidak hanya berfungsi sebagai store of value (SOV) tetapi juga sebagai jaringan tempat modal dapat dikelola, dipinjamkan, dan diperdagangkan secara on-chain.

    Tantangan & Potensi Adopsi

    Meski potensi Citrea sangat besar, adopsi nyata masih menghadapi sejumlah tantangan.

    Pertama, kehati-hatian developer dan pengguna terhadap keamanan serta pengalaman pengguna sangat penting karena teknologi ZK masih relatif baru di jaringan Bitcoin.

    Sertifikasi dan audit sangat diperlukan agar jembatan seperti Clementine bridge serta sistem bukti ZK dapat beroperasi secara aman.

    Kedua, meskipun strukturalnya kuat, ekosistem DeFi yang hidup dan dinamis memerlukan network effect.

    Artinya, developer perlu terdorong untuk membangun aplikasi, dan pengguna harus merasa nyaman menggunakan sistem baru ini.

    Kebijakan jembatan likuiditas dan integrasi dengan dompet serta bursa juga memainkan peran penting dalam adopsi jangka panjang.

    Dengan peluncuran mainnet Citrea, Bitcoin mendapatkan momentum baru yang bergerak dari sekadar aset digital untuk disimpan, menuju sistem keuangan programmable yang dapat mendukung aplikasi kompleks secara native.

    Hal ini menjadikan Bitcoin bukan hanya digital gold tetapi juga programmable financial infrastructure, yang dapat bersaing di ruang DeFi yang sebelumnya didominasi oleh jaringan lain.

    Baca Juga: White Paper ⁠Bitcoin Mejeng di Bursa Efek New York

    Peluncuran mainnet Citrea merupakan milestone besar dalam evolusi teknologi Bitcoin.

    Dengan menghadirkan ZK-Rollup dan smart contract, serta stablecoin ctUSD, Citrea membuka jalan bagi era baru Bitcoin DeFi yang lebih fungsional dan terprogram tanpa meninggalkan keamanan jaringannya.

    Meski masih banyak tantangan, langkah ini menjadi bagian penting menuju masa depan di mana Bitcoin berperan lebih luas dalam sistem keuangan terdesentralisasi global.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Alabama Legalkan DAO Lewat DUNA Act: Status Hukum Web3 Kini Jelas!

    Langkah besar dalam evolusi regulasi kripto kembali datang dari Alabama.

    Negara bagian tersebut resmi mengesahkan DUNA Act, menjadikannya yurisdiksi kedua di Amerika Serikat setelah Wyoming yang memberikan status badan hukum kepada DAO (Decentralized Autonomous Organization).

    Kebijakan ini dinilai sebagai terobosan penting dalam menjembatani kesenjangan antara dunia blockchain dan sistem hukum tradisional.

    Dengan pengesahan ini, DAO kini tidak lagi sekadar entitas digital tanpa bentuk legal, melainkan dapat beroperasi secara resmi layaknya organisasi konvensional.

    Baca Juga: Cara Memilih Proyek DAO yang Tepat dan Contoh Proyek DAO

    Status Hukum yang Selama Ini Ditunggu

    Melalui DUNA Act, DAO di Alabama memperoleh sejumlah hak fundamental yang sebelumnya sulit diakses.

    Mereka kini dapat memiliki properti, menandatangani kontrak, hingga terlibat dalam proses hukum, baik sebagai pihak yang menggugat maupun digugat.

    Lebih dari itu, regulasi ini juga memberikan perlindungan hukum bagi anggota dan administrator DAO dari tanggung jawab pribadi, selama organisasi tersebut memenuhi kriteria tertentu.

    Salah satu syarat utama adalah memiliki minimal 100 anggota dan beroperasi untuk tujuan nonprofit bersama.

    Perkembangan ini menjadi jawaban atas salah satu tantangan terbesar yang selama ini dihadapi DAO, yakni ketidakjelasan status hukum di dunia nyata.

    Tanpa pengakuan legal, banyak DAO kesulitan menjalankan aktivitas dasar seperti membuka rekening bank, mengelola treasury, atau menandatangani perjanjian formal.

    Dari Eksperimen ke Struktur Formal

    Selama beberapa tahun terakhir, DAO berkembang pesat sebagai model organisasi berbasis blockchain yang mengedepankan transparansi dan tata kelola terdesentralisasi.

    Namun, di balik inovasi tersebut, banyak DAO masih beroperasi di “area abu-abu” dari sisi regulasi.

    Sebuah laporan dari Cointelegraph menyoroti bahwa langkah Alabama ini menjadi sinyal kuat bahwa regulator mulai serius mengakomodasi model organisasi Web3 dalam kerangka hukum yang ada.

    Perjelas Status Hukum

    Tim Research Tokocrypto melihat pengesahan ini sebagai momen krusial bagi perkembangan DAO, khususnya di Amerika Serikat.

    “Ini langkah regulasi yang penting karena salah satu masalah terbesar DAO selama ini memang status hukum di dunia nyata, bukan narasi governance-nya. Kalau tren ini diikuti negara bagian lain, DAO berbasis AS bakal punya pijakan operasional yang jauh lebih solid untuk bangun treasury, kontrak, dan struktur organisasi tanpa terus hidup di area abu-abu,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Pernyataan ini menegaskan bahwa tantangan utama DAO bukan lagi pada konsep atau teknologi, melainkan pada legitimasi hukum yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan sistem keuangan dan hukum tradisional.

    Dampak Lebih Luas bagi Ekosistem Web3

    Legalisasi DAO di Alabama berpotensi menciptakan efek domino di tingkat nasional.

    Jika negara bagian lain mengikuti langkah serupa, maka Amerika Serikat bisa menjadi salah satu pusat utama pengembangan DAO secara global.

    Dengan kepastian hukum, DAO akan lebih mudah menarik partisipasi institusi dan investor besar.

    Struktur organisasi yang lebih jelas juga membuka peluang untuk pengelolaan dana yang lebih profesional, termasuk dalam pembangunan treasury skala besar.

    Di sisi lain, regulasi ini juga membantu mengurangi risiko bagi individu yang terlibat dalam DAO.

    Perlindungan terhadap tanggung jawab pribadi menjadi faktor penting, terutama dalam ekosistem yang sebelumnya minim kepastian hukum.

    Namun, seperti halnya regulasi kripto lainnya, implementasi DUNA Act juga akan menjadi kunci. Bagaimana aturan ini diterapkan dalam praktik akan menentukan seberapa efektif ia dalam mendorong adopsi DAO secara lebih luas.

    Baca Juga: Threshold Network Restrukturisasi DAO, Fokus pada Profit Token T

    Menuju Masa Depan DAO yang Lebih Legal dan Terstruktur

    Langkah Alabama menandai fase baru dalam perjalanan DAO dari eksperimen digital menuju entitas yang diakui secara hukum.

    Dengan fondasi regulasi yang semakin jelas, DAO kini memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi alternatif organisasi yang kompetitif di era digital.

    Meski demikian, tantangan masih ada, terutama dalam harmonisasi regulasi antar negara bagian dan integrasi dengan sistem hukum federal.

    Namun satu hal yang pasti, arah pergerakan sudah semakin jelas: DAO tidak lagi sekadar konsep futuristik, melainkan mulai menjadi bagian nyata dari lanskap ekonomi global.

    Bagi pelaku industri kripto, perkembangan ini menjadi sinyal positif bahwa inovasi Web3 perlahan mendapatkan tempat dalam sistem hukum yang lebih luas.

    Dan jika tren ini berlanjut, masa depan DAO bisa jadi jauh lebih terstruktur, kredibel, dan berkelanjutan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • DeFi Diserang Lagi! Venus Protocol Kehilangan Jutaan Dolar Sekejap

    Platform decentralized finance (DeFi) Venus Protocol dilaporkan mengalami serangan yang menyebabkan kerugian lebih dari US$3,7 juta. Insiden ini terjadi akibat dugaan eksploitasi “supply cap” yang memanfaatkan celah dalam sistem likuiditas platform.

    Dilaporkan Cointelegraph, pihak Venus Protocol mengonfirmasi adanya aktivitas perdagangan mencurigakan yang berfokus pada pool token Thena (THE), sehingga memicu langkah darurat untuk membatasi potensi kerugian lebih lanjut.

    Serangan Berawal dari Manipulasi Token THE

    Dalam pernyataan resminya, Venus Protocol menyebut aktivitas abnormal terjadi pada pool likuiditas token THE dan CAKE.

    Tim segera mengambil langkah pencegahan dengan menghentikan sementara seluruh aktivitas peminjaman (borrowing) dan penarikan (withdrawal) untuk token THE.

    Langkah ini dilakukan guna mencegah penyalahgunaan lebih lanjut selama proses investigasi berlangsung.

    Baca juga: PancakeSwap Rilis Pancake Town, Padukan AI Agent dan DeFi

    Modus “Supply Cap Attack” Rugikan Platform

    Menurut analisis dari Allez Labs, serangan ini dilakukan melalui dua tahap utama.

    Pertama, pelaku mengakumulasi sekitar 84% dari total kapitalisasi pasar token THE. Selanjutnya, token tersebut digunakan sebagai jaminan untuk melakukan aksi peminjaman dalam jumlah besar.

    Melalui metode ini, pelaku berhasil meminjam berbagai aset digital, termasuk 6,67 juta CAKE, 1,58 juta USDC, 2.801 BNB, serta 20 Bitcoin.

    Total kerugian dari insiden ini diperkirakan mencapai lebih dari US$3,7 juta.

    Platform Perketat Akses untuk Cegah Risiko Lanjutan

    Sebagai langkah tambahan, Venus Protocol juga menghentikan sementara aktivitas pada beberapa aset lain dengan likuiditas rendah.

    Keputusan ini diambil untuk menghindari potensi eksploitasi lanjutan di area yang rentan.

    Sementara itu, harga token THE tercatat turun lebih dari 17% dalam 24 jam terakhir, mencerminkan dampak langsung dari insiden tersebut terhadap pasar.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, kasus ini penting secara onchain karena menunjukkan bahwa risiko DeFi tidak hanya datang dari smart contract bug klasik, tetapi juga dari manipulasi likuiditas dan konsentrasi supply pada aset berkapitalisasi kecil.

    “Fakta bahwa Venus sampai harus menghentikan borrow dan withdrawal untuk pasar THE serta beberapa market lain seperti BCH, LTC, UNI, AAVE, FIL, dan TWT menegaskan bahwa ancaman berbasis desain pasar dan collateral composition masih sangat nyata di protokol lending besar,” analisanya.

    Ancaman Keamanan DeFi Semakin Kompleks

    Insiden ini kembali menyoroti risiko keamanan yang masih menjadi tantangan besar dalam ekosistem DeFi.

    Seiring pertumbuhan industri, metode serangan juga semakin kompleks, mulai dari eksploitasi smart contract hingga manipulasi likuiditas.

    Meski nilai kerugian akibat peretasan kripto sempat menurun dalam beberapa bulan terakhir, laporan terbaru menunjukkan peningkatan pada metode penipuan lain seperti phishing dan social engineering.

    Perkembangan ini menjadi pengingat bagi pelaku industri dan pengguna untuk terus meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat sistem keamanan dalam menghadapi risiko di dunia kripto.

    Baca Juga: BNB Bertahan di $668, Didukung PancakeSwap dan Strategi Binance


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Glitch Aave Picu Likuidasi Rp400 Miliar

    Platform pinjam-meminjam kripto berbasis decentralized finance (DeFi), Aave, mengalami likuidasi besar-besaran senilai sekitar US$27 juta atau lebih dari Rp400 miliar dalam waktu 24 jam pada 10 Maret 2026. Peristiwa ini diduga dipicu oleh kesalahan sementara pada sistem oracle harga yang digunakan protokol untuk menentukan nilai jaminan pinjaman.

    Data blockchain yang dianalisis oleh perusahaan manajemen risiko Chaos Labs menunjukkan lonjakan likuidasi yang tidak biasa dalam periode tersebut. Beberapa pengamat pasar menduga masalah ini berkaitan dengan perbedaan harga token wstETH terhadap ETH yang dilaporkan oleh sistem oracle Aave.

    Lonjakan Likuidasi di Platform Aave

    Dilaporkan Coindesk, likuidasi terjadi ketika nilai jaminan pinjaman pengguna turun di bawah ambang batas keamanan yang ditentukan oleh protokol. Dalam kondisi tersebut, posisi pinjaman otomatis ditutup untuk melindungi sistem dari risiko kerugian.

    Menurut data Chaos Labs, lonjakan likuidasi terlihat jelas dalam grafik aktivitas selama 24 jam terakhir. Nilai total likuidasi mencapai sekitar US$27 juta, menjadikannya salah satu kejadian paling signifikan di Aave dalam beberapa waktu terakhir.

    Namun, pihak Aave menegaskan bahwa insiden tersebut tidak berdampak pada keamanan protokol secara keseluruhan.

    Dugaan Masalah pada Harga wstETH

    Beberapa analis mengaitkan kejadian ini dengan perbedaan harga wstETH yang dilaporkan oleh oracle Aave dibandingkan harga pasar sebenarnya.

    wstETH merupakan token yang diterbitkan oleh Lido sebagai representasi dari ether yang telah di-stake. Karena token tersebut terus mengakumulasi imbal hasil staking, nilainya biasanya sedikit lebih tinggi dibandingkan ETH biasa.

    Saat kejadian berlangsung, oracle Aave dilaporkan menilai 1 wstETH sekitar 1,19 ETH, sementara harga pasar saat itu berada di sekitar 1,23 ETH. Selisih harga ini menyebabkan sistem menilai jaminan pengguna lebih rendah dari nilai sebenarnya.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, secara onchain, peristiwa seperti ini penting karena menyorot risiko laten pada infrastruktur DeFi yang sering diabaikan saat pasar tenang.

    “Bagi Aave dan sektor lending secara umum, price glitch yang berujung likuidasi massal bisa mengikis kepercayaan pengguna dan mengingatkan pasar bahwa efisiensi protokol tetap harus dibayar dengan ketergantungan tinggi pada akurasi data harga,” ungkapnya.

    Baca Juga: Uniswap Gelar UNIfication Jadi Mesin Pendapatan DeFi, Dampak Harga?

    Masalah Konfigurasi Sistem Oracle

    Chaos Labs kemudian menjelaskan bahwa sumber masalah bukan berasal dari data harga utama, melainkan dari konfigurasi sistem CAPO risk oracle yang digunakan Aave.

    Sistem tersebut dirancang untuk membatasi seberapa cepat nilai token berbasis yield seperti wstETH dapat meningkat. Namun, parameter dalam smart contract tidak diperbarui secara sinkron, termasuk nilai referensi kurs dan timestamp.

    Akibatnya, sistem sementara menghitung nilai maksimum wstETH lebih rendah dari harga pasar sebenarnya, sekitar 2,85% lebih rendah. Penurunan nilai ini membuat sejumlah posisi pinjaman terlihat lebih berisiko dari kondisi sebenarnya, sehingga memicu likuidasi otomatis.

    Tidak Ada Kerugian Protokol

    Meskipun likuidasi terjadi dalam jumlah besar, Chaos Labs menegaskan bahwa protokol Aave tidak mengalami bad debt atau kerugian sistemik.

    Sebaliknya, para likuidator, trader atau bot yang menutup posisi pinjaman bermasalah, justru memperoleh keuntungan dari bonus likuidasi. Secara total, mereka memperoleh sekitar 499 ETH dari bonus dan selisih harga selama kejadian tersebut.

    CEO Chaos Labs, Omer Goldberg, menekankan bahwa sistem risk oracle merupakan infrastruktur penting bagi Aave untuk mengelola pasar yang sangat volatil.

    Sementara itu, kontributor dari Lido juga menegaskan bahwa insiden tersebut tidak berkaitan dengan mekanisme wstETH maupun protokol Lido itu sendiri.

    Sebagai langkah lanjutan, pihak pengembang menyatakan bahwa pengguna yang terdampak oleh kejadian ini akan mendapatkan penggantian penuh atas kerugian yang terjadi.

    Baca Juga: Uniswap Usulkan Fee Switch di 8 Jaringan, Siap Buyback


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aplikasi Kripto Ini Yakin RI Bisa Jadi Pemain Pasar Global


    Jakarta

    PT Pintu Kemana Saja (PINTU), aplikasi crypto all-in-one meyakini Indonesia bisa menjadi pemain kunci pasar kripto global. Indonesia dianggap menjadi negara yang tanggap dalam mengatur perdagangan aset kripto dengan berbagai regulasi yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Berjangka Perdagangan Komoditi (BAPPEBTI).

    “Saya percaya Asia Tenggara merupakan kawasan yang sangat penting bagi industri crypto secara global khususnya Indonesia yang bisa menjadi pemain kunci yang menonjol di Asia Tenggara,” kata Chief Marketing Officer (CMO) PINTU, Timothius Martin dalam keterangan tertulis, Minggu (1/9/2024).

    Indonesia dinilai bisa menjadi pemain kunci pasar kripto yang menonjol di Asia Tenggara karena didukung banyak faktor positif di antaranya jumlah investor kripto yang mencapai 20 juta orang dengan nilai transaksi dalam enam bulan terakhir mencapai US$ 20 juta.


    “Angka tersebut sangat besar yang disumbang dari satu negara saja. Jadi pasar crypto di Asia Tenggara punya potensi yang besar karena didukung oleh regulasi yang ramah sehingga membuat penggunanya bisa berinvestasi dengan aman,” ucapnya.

    Indonesia menjadi negara yang tanggap dalam mengatur perdagangan aset kripto dengan berbagai regulasi di antaranya aturan yang mengkategorikan bahwa aset kripto diakui sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan di bursa berjangka, aturan tentang deretan aset kripto yang diizinkan untuk diperdagangkan, hingga peluncuran lembaga Self-Regulatory Organizations (SRO) yang diresmikan oleh BAPPEBTI untuk mengawasi perdagangan para pelaku usaha kripto agar dapat berlangsung dengan aman dan transparan.

    “Kerangka regulasi yang jelas dari BAPPEBTI hingga dukungan infrastruktur berbagai mitra dari bank-bank besar menjadikan industri crypto dalam negeri dapat tumbuh dengan baik. Saya meyakini juga, adopsi crypto yang sekarang baru mencapai 7% dari total jumlah populasi ini akan terus tumbuh karena potensinya masih sangat besar. Untuk mendukung peningkatan tersebut, kami akan fokus mengedukasi pasar domestik melalui platform aplikasi crypto all-in-one yang bisa digunakan untuk belajar menjelajahi dunia crypto,” ujar Timo.

    Aplikasi PINTU menjadi perusahaan berbasis teknologi blockchain yang menghadirkan fitur investasi crypto terlengkap di Indonesia. Tiga fitur utamanya antara lain aplikasi PINTU yang fokus pada investor pemula yang di dalamnya juga banyak fitur seperti Pintu Earn, Limit Order, dan Auto Dollar-Cost Averaging (DCA).

    Fitur kedua adalah Pintu Web3 Wallet, sebuah wallet kripto yang memberikan kemudahan akses ke berbagai aset crypto, mengoleksi non-fungible token (NFT), berinteraksi ke beragam Decentralized Applications (dApps), platform Decentralized Finance (DeFi), hingga Decentralized Exchange (DEX). Fitur ketiga yang terbaru adalah Pintu Pro dengan advanced fitur bagi trader Pro.

    “Coinfest Asia dihadiri dari berbagai negara tak terkecuali Eropa dan Amerika Serikat (AS). Saya melihat terdapat antusias dan minat yang besar untuk belajar tentang pasar crypto di Asia Tenggara ini yang memiliki banyak sekali keunikan dan use-cases crypto yang dapat dikembangkan seperti crypto remittance & industri game,” jelasnya.

    Spesifik pada industri game sendiri menjadi sektor yang sangat bersinggungan dengan kripto, ditambah jumlah gamers di Indonesia lebih dari 100 juta yang menjadikan potensi pengembangannya sangat besar.

    “Hemat saya, pasar crypto Indonesia bisa menjadi crypto hub di Asia Tenggara dan dapat membentuk tren global dunia crypto saat ini dan masa depan,” tutup Timo.

    (aid/das)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bitcoin Mendekati All Time High, Pakar Sebut Ini Faktor Penyebabnya


    Jakarta

    Menjelang penutupan bulan Oktober 2024, bitcoin (BTC) melanjutkan kenaikannya, mendekati level all-time high di sekitar US$73.750. Pada hari ini, harga BTC mencapai US$72.785 sebelum sedikit turun dan bertengger di angka US$72.290 pada pukul 08.00 WIB.

    Bahkan dalam 24 jam terakhir, bitcoin mengalami penguatan sebesar 2,80% dan naik 7,5% dalam seminggu terakhir. Secara Year to Date (YTD) kenaikan bitcoin tercatat sekitar 66%.

    Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha mengatakan momentum penguatan ini muncul di tengah optimisme pasar menjelang pemilihan umum di Amerika Serikat pada 5 November mendatang. Diperkirakan Pemilu Amerika Serikat akan berdampak pada kebijakan ekonomi dan sektor keuangan AS, termasuk pasar kripto.


    Kenaikan ini juga dapat dikaitkan dengan sentimen ‘risk-on’ di tengah ekspektasi bahwa suku bunga The Fed mungkin akan kembali memotong suku bunganya sebesar 25 bps pada FOMC 7 November, yang memberikan ruang bagi Bitcoin untuk terus bergerak naik.

    “Dari perspektif teknikal, Bitcoin telah berhasil breakout dari resistance trendline descending broadening wedge pattern hingga sempat mencapai US$72.785. Saat ini, terdapat potensi pelemahan terlebih dahulu yang dapat membawa BTC untuk menguji ulang area resistance trendline sebelumnya, yang kini juga menjadi area support di level US$ 69.000. Jika berhasil rebound maka besar peluang BTC untuk mencetak new All Time High dalam beberapa hari kedepan,” kata Panji dalam keterangan tertulis, Rabu (30/10/2024).

    Dia mengatakan dalam beberapa bulan terakhir, produk ETF ini berhasil menarik miliaran dolar ke pasar kripto, terutama setelah penundaan persetujuan di awal tahun.

    “ETF kripto memberikan cara baru bagi investor institusi untuk masuk ke pasar kripto yang sebelumnya dianggap terlalu berisiko,” ujar Panji.

    Hingga kini, momentum positifETFbitcoin spot masih berlanjut terbukti bahwa adanyainflow sebesar US$479 juta pada perdagangan Senin (28/10/2024). Hal itu melanjutkan tren positif minggu lalu dengan lonjakan arus masuk hingga US$997 juta dalam periode perdagangan 21-25 Oktober 2024, dikutip dariSoSo Value.

    Bitcoin mencapai rekor tertinggi baru di angka US$73,737 pada bulan Maret tepat dua bulan setelah ETF ini diluncurkan. Namun, aset ini mengalami tekanan pasca ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian mengenai suku bunga yang masih tinggi. Namun, keputusan bank sentral untuk menurunkan suku bunga bulan lalu kembali meningkatkan minat investor pada aset berisiko seperti bitcoin.

    Dia pun optimistis hal itu bisa membuat bitcoin dan altcoin akan naik signifikan dalam beberapa waktu ke depan.

    “Lingkungan suku bunga rendah memungkinkan investasi berisiko seperti kripto lebih menarik karena biaya pinjaman yang lebih rendah,” jelasnya.

    Altseason 2024: Momentum bagi Altcoin?

    Tidak hanya bitcoin yang mengalami kenaikan, altcoin diprediksi akan kembali bersinar layaknya altcoin season di tahun 2021 di mana ketika itu DeFi dan NFT menjadi sorotan. Saat ini, dominasi bitcoin (BTC.D) di pasar kripto telah mencapai angka 59,52%, mendekati 60%, angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

    Namun, kondisi ini juga membuka spekulasi mengenai datangnya ‘altseason’ atau periode di mana altcoin seperti Ethereum dan Solana cenderung mencatatkan performa yang lebih baik dibandingkan bitcoin.

    “Pola ini sering kali terjadi setelah Bitcoin mencapai puncaknya, di mana investor mulai beralih ke aset kripto lain atau altcoin,” ungkapnya.

    Pola teknikal rising wedge wedge yang terlihat dalam BTC.D menandakan potensi koreksi BTC.D yang bisa membuka jalan bagi altseason.

    “Jika dominasi Bitcoin menurun, ini bisa menjadi sinyal awal altseason, di mana altcoin memiliki peluang untuk tumbuh dengan cepat,” lanjut Panji.

    Beberapa altcoin utama seperti Ethereum, Solana, hingga meme coin dapat menjadi pilihan menarik bagi trader.

    BTC Siap Cetak Rekor Tertinggi Baru?

    Dia mengatakan dengan dukungan ETF dan tren peningkatan minat investor institusi membuat bitcoin berada di jalur untuk mencapai rekor tertinggi baru. Potensi untuk menembus level rekor baru tentu ada, terutama jika bitcoin berhasil bertahan di atas level US$70,000.

    “Namun, investor juga harus berhati-hati terhadap potensi koreksi yang bisa terjadi kapan saja, terutama di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global. Dengan demikian, kombinasi antara faktor teknikal dan sentimen pasar menjelang pemilu akan menjadi penentu apakah bitcoin mampu bertahan atau bahkan mencetak rekor baru dalam waktu dekat,” tutupnya.

    Lihat Video: Elon Musk Dinyatakan Tak Bersalah Atas Tudingan Manipulasi Dogecoin

    [Gambas:Video 20detik]

    (anl/ega)



    Sumber : finance.detik.com

  • Simak! Ini 5 Koin Kripto yang Diramal Bawa Cuan di 2025


    Jakarta

    Tahun 2024 menandai dimulainya pertumbuhan pasar kripto. Hal itu didorong oleh peluncuran ETF Bitcoin dan Ethereum spot di Amerika Serikat, serta meningkatnya kepercayaan masyarakat secara umum terhadap Bitcoin dan aset kripto lainnya.

    Crypto Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin mengatakan tahun 2024 menandai dimulainya fase bullish yang telah membawa Bitcoin melewati level harga US$ 100.000 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

    “Outlook inflasi yang fluktuatif dan rencana The Fed yang akan lebih berhati-hati mungkin dapat menjadi penghambat reli yang akan terjadi di tahun depan, namun optimisme terhadap kebijakan pemerintah AS yang akan lebih akomodatif terhadap pasar dan industri kripto berpotensi menjadi katalis positif yang kuat, yang jika terjadi, berpotensi membawa Bitcoin melanjutkan kenaikan melewati level US$ 150.000,” kata Fahmi dalam keterangan tertulis, Selasa (31/12/2024).


    Selain Bitcoin, investor juga bisa memantau sejumlah aset kripto lainnya untuk mengoptimalkan portofolio di tahun depan. Beberapa sektor yang telah membuktikan relevansinya pada siklus-siklus pasar sebelumnya seperti DeFi, L1, NFT, Stablecoin, Memecoin, telah sedikit banyak menunjukkan potensi masih relevannya proposisi nilai yang mereka bawa.

    Berikut lima aset kripto yang menarik di 2025 menurut analis:

    1. Lido DAO (LDO)

    LDO berada pada posisi yang strategis di tengah potensi integrasi ETH staking dengan produk ETF Ethereum seiring dengan outlook regulasi crypto AS yang semakin positif.

    “Sepanjang tahun 2024, Lido telah membuktikan relevansinya sebagai platform lliquid staking yang profitable dengan pendapatan mingguan terendah berada di US$ 14,37 juta, sebuah angka yang cukup fantastis khususnya karena terjadi pada periode di mana hype terhadap Ethereum masih relatif tidak terlalu tinggi sepanjang tahun ini,” imbuh Fahmi.

    2. Ethereum (ETH)

    ETH berpotensi semakin diminati di fase bullish tahun 2025 nanti. Tidak hanya karena dominasi Ethereum sebagai platform smart contract dan aplikasi terdesentralisasi, namun juga performa ekosistem Ethereum yang semakin akomodatif terhadap adopsi stablecoin.

    “Stablecoin menjadi salah satu motor distribusi likuiditas utama di fase bullish dengan tingkat penerimaan pengguna yang semakin meningkat. Pencapaian Ethereum pada akhir November lalu dengan menggeser Tron sebagai jaringan blockchain yang mengakomodasi suplai USDT terbesar turut memperkuat potensi Ethereum ke depan,” tambahnya.

    USDT sebagai stablecoin terbesar dengan kapitalisasi pasar hampir menyentuh US$ 150 miliar disebut telah menjadi salah satu penyumbang utama transaksi dan pendapatan di jaringan Tron sejak periode-periode awal kemunculannya karena biaya transaksi yang rendah dan performa blockchainnya yang baik.

    “Kini, pengembangan yang terjadi di Ethereum yang mampu menghadirkan performa dan biaya transaksi yang sama baiknya namun dengan potensi tingkat keamanan dan basis pengguna yang lebih tinggi, menjadi penantang yang serius untuk menangkap peluang di sektor stablecoin yang strategis tersebut,” katanya.

    3. USUAL

    USUAL menjadi salah satu aset crypto di sektor RWA dengan pertumbuhan adopsi tercepat sejauh ini. Posisi Usual sebagai platform RWA dan stablecoin terdesentralisasi membawa semangat origin Bitcoin sebagai sebuah aset dan platform publik yang tidak dikelola oleh entitas terpusat tertentu, sebuah keunikan yang jarang dimiliki oleh kebanyakan proyek besar di sektor serupa saat ini.

    4. PNUT

    PNUT menjadi aset crypto bertema hewan dengan pertumbuhan kapitalisasi pasar tercepat pada siklus kali ini. Kekuatan likuiditas yang tinggi dipadukan dengan naratif menarik serta asosiasi dengan beberapa figur berpengaruh membuat kepercayaan investor terhadap proyek meme coin ini berpotensi dapat semakin berkembang di tahun 2025.

    5. LINK

    LINK sebagai aset kripto utama di ekosistem infrastruktur Chainlink dianggap aset yang semakin strategis dengan semakin luasnya ekosistem teknologi Chainlink serta adopsinya. Kolaborasi dan keterlibatan Chainlink pada proyek-proyek besar oleh institusi-institusi strategis seperti Swift misalnya dapat berpotensi mengakselerasi adopsi dari teknologi yang dikembangkan secara signifikan.

    “Tahun 2025 menjadi tahun yang mungkin akan menandai capaian-capaian menarik dari hasil kolaborasi-kolaborasi tersebut yang berpotensi tidak hanya meningkatkan perhatian investor terhadap proyek ini namun juga meningkatkan permintaan organik terhadap aset kripto LINK,” imbuhnya.

    (aid/rrd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Trump Teken Aturan Baru Kripto, Batalkan Kebijakan IRS


    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani undang-undang yang membatalkan aturan Internal Revenue Service (IRS) tentang laporan transaksi kripto.

    Langkah ini sejalan dengan janji politik Trump pada saat kampanye pemilihan presiden (Pilpres) AS. Saat itu, Trump berjanji menjadi ‘Presiden Kripto’ dan serta mempromosikan aset digital.

    Pada minggu pertamanya menjabat, Trump memerintahkan pembentukan kelompok kerja kripto yang bertugas mengusulkan regulasi aset digital baru. Kemudian pada bulan Maret, ia menandatangani perintah eksekutif untuk membuat persediaan bitcoin federal.


    Mengutip Reuters, Jumat (11/4/2025), aturan wajib lapor transaksi kripto digulirkan IRS dimulai pada akhir periode jabatan Presiden Joe Biden. Aturan tersebut mewajibkan DeFI, selaku bursa kripto, melakukan pelaporan transaksi ke IRS dan mengklasifikasikan broker.

    Baik Parleman maupun Senat AS telah memberikan suara untuk membatalkan aturan tersebut melalui Undang-Undang Peninjauan Kongres, yang memungkinkan untuk membatalkan aturan federal baru dengan mayoritas sederhana.

    Industri kripto pun sempat menyuarakan kecaman atas aturan aturan tersebut. Mereka mengklaim bahwa aturan tersebut tidak dapat diterapkan pada platform DeFi, kemudian mendesak Partai Republik untuk mencabutnya.

    Bursa kripto seperti Coinbase dan Kraken bertindak sebagai perantara antara pembeli dan penjual, sementara bursa DeFi bertujuan untuk menghilangkan perantara dan memungkinkan pengguna bertransaksi langsung pada jaringan blockchain yang mendukung mata uang kripto.

    Pelaku industri kripto berpendapat, bursa DeFi tidak bertindak sebagai perantara lantaran tidak memiliki visibilitas penggunanya, sehingga mustahil mengikuti aturan IRS.

    Adapun kerangka kerja IRS baru bertujuan untuk menindak tegas pengguna kripto yang tidak membayar pajak, di mana berdasarkan Undang-Undang Investasi Infrastruktur dan Pekerjaan, pengguna kripto mesti membayar senilai US$1 triliun tahun 2021.

    Undang-undang ini mengharuskan pialang aset digital untuk mengirimkan formulir kepada IRS dan pemegang aset digital untuk membantu persiapan pajak.

    (hns/hns)



    Sumber : finance.detik.com