Tag: diet

  • 6 Cara Menghilangkan Perut Buncit Tanpa Diet Ketat

    Jakarta

    Bagi sebagian besar orang, memiliki perut buncit dapat menimbulkan beragam masalah dalam kehidupannya. Mulai dari mengganggu penampilan, menurunkan rasa percaya diri, menyulitkan saat memilih pakaian, dan lain sebagainya.

    Tak hanya itu, perut buncit juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan. Sejumlah penelitian mengaitkan perut buncit sebagai faktor risiko dari beragam penyakit, seperti diabetes dan penyakit jantung.

    Karenanya, tak heran orang-orang rela melakukan hampir segala cara demi menghilangkan perut buncit, termasuk menjalani diet. Diet adalah aturan makanan khusus yang diikuti demi kebutuhan kesehatan dan sebagainya.


    Namun, diet untuk menghilangkan perut buncit tak jarang melibatkan aturan yang cukup ekstrem. Misalnya, tidak makan selama berjam-jam, atau hanya mengonsumsi jenis makanan tertentu saja.

    Cara Menghilangkan Perut Buncit Tanpa Diet Ketat

    Meski diet memang menjadi cara efektif untuk menghilangkan perut buncit, tidak semua orang bisa melakukannya. Ada sejumlah alasan mengapa orang-orang enggan melakukan diet, seperti karena sedang menyusui atau mengidap kondisi medis tertentu.

    Dikutip dari berbagai sumber, berikut cara menghilangkan perut buncit tanpa diet yang bisa dicoba.

    1. Makan dengan piring kecil

    Dikutip dari Healthline, orang yang makan dengan piring berukuran besar cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan sehingga lebih berisiko mengalami kenaikan berat badan. Piring besar dapat membuat makanan terlihat sedikit, sehingga mendorong keinginan untuk mengambil lebih banyak makanan.

    Sebaliknya, makan dengan piring yang lebih kecil dapat membuat porsi makanan yang diambil tampak lebih banyak sehingga membantu mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi.

    2. Minum sebelum makan

    Sebuah penelitian yang dipublikasikan di situs National Library of Medicine mengungkapkan minum air sebelum makan dapat membantu mengurangi jumlah makanan yang kelak dikonsumsi.

    Sementara itu, penelitian lain juga menyebutkan minum sekitar 568 mililiter air sebelum makan dapat mengurangi asupan kalori sekaligus meningkatkan rasa kenyang.

    3. Tidur malam yang cukup

    Tidur malam yang cukup dan berkualitas memiliki peran yang sangat signifikan untuk menghilangkan perut buncit. Dikutip dari laman Sleep Foundation, kurang tidur dapat meningkatkan produksi hormon ghrelin dalam tubuh. Hormon ini bertugas untuk memberitahu otak kalau tubuh merasa lapar.

    Tak hanya itu, kurang tidur juga bisa menurunkan hormon leptin yang membuat tubuh merasa kenyang. Kombinasi kedua hal itulah yang dapat mendorong seseorang untuk makan lebih banyak keeseokan harinya, sehingga meningkatkan risiko kenaikan berat badan.

    4. Mengunyah makanan dengan perlahan

    Mengunyah makanan secara perlahan juga menjadi salah satu cara menghilangkan perut buncit tanpa diet. Hal ini berhubungan dengan cara otak merespons aktivitas hormon yang memengaruhi rasa kenyang.

    Setelah makan, tubuh tidak akan langsung merasa kenyang. Sebab, otak membutuhkan waktu untuk menerima sinyal dari hormon yang memunculkan rasa kenyang tersebut. Di saat yang sama, perut akan menekan hormon ghrelin yang memunculkan rasa lapar. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit, jadi mengunyah makanan secara perlahan akan memberikan waktu bagi otak untuk menerima sinyal tersebut.

    5. Perbanyak asupan protein

    Protein memiliki dampak yang luar biasa dalam mengendalikan nafsu makan. Tidak hanya membuat perut merasa kenyang, protein juga dapat mengurangi rasa lapar dan mengurangi keinginan untuk mengonsumsi makanan berkalori.

    Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2017 menemukan orang yang menjalani diet tinggi protein mengalami penurunan berat badan yang lebih signifikan dibanding mereka yang mengonsumsi protein dalam jumlah normal.

    Sementara itu, penelitian lain mengungkapkan orang-orang yang mengonsumsi sarapan berprotein tinggi berupa telur dan roti panggang tidak merasa terlalu lapar dan mengonsumsi lebih sedikit kalori di waktu makan selanjutnya.

    6. Kelola stres dengan baik

    Dikutip dari Medical News Today, stres yang terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan kenaikan berat badan.

    Saat seseorang mengalami stres, tubuh akan melepaskan sejumlah hormon untuk membantu tubuh menghadapi tekanan yang dirasakan. Hormon tersebut akan mengalihkan aliran darah dari sistem pencernaan ke otot dan organ tubuh yang penting untuk merespons ‘ancaman’. Alhasil, sistem pencernaan menjadi melambat.

    Selain itu, hormon kortisol yang dilepaskan tubuh saat stress dapat mendongkrak kadar glukosa dalam darah. Sebuah studi pada 2022 mengungkapkan orang sering mengalami stres berisiko mengalami resistensi insulin akibat kadar glukosa yang terus terusan tinggi. Akibatnya, tubuh tidak bisa memanfaatkan hormon insulin secara efektif, sehingga berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan.

    (ath/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com / Demi DeHerrera
  • 7 Makanan yang Bikin Kenyang Tahan Lama, Cocok Buat Diet

    Jakarta

    Saat ingin memilih makanan dengan rasa kenyang lebih lama, tiga kandungan yang setidaknya menjadi faktor penting adalah protein, serat, serta lemak sehat, seperti omega 3.

    Makanan yang bebas bahan tambahan, cenderung semakin mengenyangkan. Sederet makanan ini cocok saat seseorang sedang menjalani diet atau mencoba memperbaiki pola makan sehat.

    Apa Saja Makanan Mengenyangkan? Berikut rangkumannya dikutip dari Healthline:


    1. Gandum Utuh

    Biji-bijian utuh, seperti nasi merah, roti gandum utuh, dan pasta gandum utuh, dikaitkan dengan pengendalian berat badan dan menjaga berat badan yang sehat. Kandungan serat, nutrisi, dan senyawa tumbuhan yang ditemukan dalam biji-bijian dapat meningkatkan rasa kenyang dan membantu seseorang mengonsumsi lebih sedikit kalori sekaligus.

    Biji-bijian utuh juga baik untuk kesehatan secara keseluruhan, dan cenderung membantu mencapai berat badan yang sehat secara lebih konsisten dibandingkan biji-bijian olahan.

    2. Yoghurt

    Yoghurt juga menjadi makanan yang mengenyangkan. Penting untuk mencoba memilih variasi tambahan topping dalam yoghurt, yang rendah gula tambahan saat sedang diet.

    Menambahkan buah seperti persik atau stroberi akan memberikan rasa manis yang diperlukan, dengan tambahan manfaat vitamin, mineral, antioksidan, dan serat. Topping seperti granola rendah gula atau kacang-kacangan juga dapat menambah serat, serta meningkatkan rasa kenyang.

    3. Alpukat

    Alpukat adalah makanan padat nutrisi. Buah ini kaya akan lemak yang menyehatkan jantung, dan merupakan sumber serat yang baik, sekitar 3 gram per 1⁄3 alpukat, adalah ukuran porsi yang disarankan.

    Lemak sehat dalam alpukat juga membantu memuaskan nafsu makan lebih lama, terlebih rasanya enak.

    4. Oat

    Oat cukup rendah kalori dan merupakan sumber serat larut yang baik, yang memiliki kemampuan menyerap air, membantu merasa kenyang. Oatmeal juga dapat membantu melepaskan hormon kenyang dan menunda pengosongan lambung. Cobalah untuk memilih variasi topping yang polos dan tanpa rasa untuk menghindari tambahan gula yang berlebihan.

    Kamu bisa menambahkan oatmeal dengan buah atau kacang-kacangan agar lebih mengenyangkan dan meningkatkan kandungan nutrisinya.

    5. Ikan

    Ikan adalah sumber protein yang ramping, sehat, dan mengenyangkan. American Heart Association dan Dietary Guidelines 2015-2020 merekomendasikan minimal dua porsi ikan per minggu, terutama ikan berlemak tinggi. Satu porsi setara dengan 3,5 ons atau 3⁄4 cangkir ikan serpihan.

    Ikan tidak hanya memberi protein yang tersedia secara hayati, tetapi juga merupakan sumber asam lemak omega-3 yang baik. Lemak sehat ini bagus untuk melindungi jantung dan menurunkan peradangan di tubuh. Ikan dengan kandungan omega-3 tertinggi adalah salmon, mackerel, herring, lake trout, sarden, dan tuna albacore.

    6. Kacang

    Kacang adalah pilihan camilan yang bagus untuk membantu mengisi waktu di antara waktu makan pokok. Mereka adalah sumber yang baik untuk ketiga penambah rasa kenyang: protein, serat, dan lemak sehat.

    Faktanya, sebuah penelitian menemukan bahwa kacang campur meningkatkan rasa kenyang pada orang dewasa yang kelebihan berat badan dan obesitas sekaligus menjaga kestabilan kadar glukosa darah dan insulin.

    Kacang campuran juga memiliki vitamin, mineral, dan antioksidan yang membantu meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Cobalah untuk memilih kacang tanpa garam dan tanpa pemanis untuk mendapatkan manfaat kesehatan paling banyak.

    7. Telur

    Telur adalah sumber protein berkualitas tinggi, yang dapat dijadikan makanan mengenyangkan, serta vitamin, mineral, dan antioksidan karotenoid,yang membantu melindungi kesehatan mata.

    Telur berukuran besar mengandung sekitar 6 gram protein, termasuk kesembilan asam amino esensial. Faktanya, penelitian telah menunjukkan bahwa memasukkan telur lebih sering ke dalam makanan kita dapat meningkatkan rasa kenyang dan secara signifikan mengurangi asupan makanan jangka pendek.

    Sebuah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi telur untuk sarapan pagi mengakibatkan berkurangnya variasi glukosa plasma dan insulin, penekanan respons ghrelin, dan berkurangnya asupan energi. Cobalah menambahkan sayuran ke dalam telur dadar yang lezat seperti bayam, jamur, dan brokoli) untuk lebih membantu meningkatkan rasa kenyang, dan juga asupan sayuran harian secara keseluruhan.

    (naf/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Source : unsplash.com / Online Marketing
  • Bantah Sedot Lemak, Marion Jola Beberkan Rahasia Turun BB 9 Kg


    Jakarta

    Netizen dibuat pangling dengan penampilan baru Marion Jola. Penyanyi jebolan ajang bakat Indonesian Idol itu rupanya berhasil menurunkan berat badan sampai sembilan kg dalam waktu tujuh bulan.

    Tidak sedikit yang menuding proses penyusutan bobot tubuhnya dibantu operasi sedot lemak. Melalui akun TikTok pribadinya, Marion Jola jelas membantah hal tersebut.

    “Ada yang bilang aku sedot lemak, ada yang bilang aku suntik ini, itu, jd aku mau address dikit ke kalian aku mulai benar-benar diet itu dari bulan Agustus, aku mencoba dietnya bagaimana sih?” tuturnya dalam postingan yang diunggah Sabtu (24/2/2024).


    Marion yang kerap disapa Lala ini memulai rutin olahraga gym sejak 26 Juni tahun lalu. Dibantu dengan personal trainer, Lala mencoba membiasakan diri untuk angkat beban sampai olahraga cardio.

    Di tengah rutinitas olahraga, tantangan menurunkan berat badan berikutnya adalah menahan nafsu makan. Wanita asal Kupang itu kemudian memutuskan untuk mencari bantuan dokter gizi.

    “Kalau ke dokter gizi, itu kita dicek badannya itu butuh untuk mengurangi berapa banyak fat dan juga meningkatkan berapa banyak muscle massa,” terang dia.

    Dokter gizi kemudian memberikan meal plan yang cocok untuknya, sambil terus menyempatkan olahraga dalam seminggu. Lala bahkan tidak pernah sekalipun melewatkan satu minggu untuk berolahraga minimal tiga kali.

    “Ini aku 7 bulan ini, dari awalnya 61 sekarang 52, jadi kurang 9 kg, jadi dalam 7 bulan ini aku sudah turun 9 kilo pergi ke gym, angkat beban, mengurangi makan,” jelas Lala.

    “Melelahkan juga pasti karena mencoba melakukan perubahan gaya hidup,” pungkas dia.

    (naf/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Source : unsplash.com / Online Marketing
  • 7 Kebiasaan ‘Terlarang’ untuk Cegah Perut Buncit, yang Diet Wajib Tahu

    Jakarta

    Perut buncit merupakan salah satu permasalahan yang dialami banyak orang, termasuk di Indonesia. Selain mengganggu penampilan, perut buncit juga dapat meningkatkan risiko penyakit berbahaya, seperti jantung dan diabetes tipe 2.

    Biasanya, perut buncit sering dikaitkan dengan asupan makanan. Namun, ternyata perut buncit juga bisa disebabkan oleh beragam kebiasaan yang kita jalani sehari-hari.

    Apa saja kebiasaan tersebut? Dikutip dari berbagai sumber, berikut sejumlah kebiasaan yang perlu dihindari agar perut tidak buncit.


    1. Duduk terlalu lama

    Di zaman seperti sekarang ini, tidak sedikit orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk di depan laptop. Bahkan, pekerjaan tertentu bisa menuntut seseorang untuk duduk selama 9 hingga 11 jam setiap hari.

    Faktanya, orang yang duduk terlalu lama lebih rentan mengalami obesitas dan penyakit kronis. Sebuah studi juga menemukan orang yang duduk lebih dari 10 jam setiap hari, misalnya seperti pegawai kantoran, memiliki risiko 34 persen lebih tinggi mengalami kematian lebih awal.

    Tak hanya itu, studi juga menemukan orang yang terlalu lama duduk cenderung tidak mengimbangi dengan berolahraga. Hal ini juga berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan membuat perut menjadi buncit.

    2. Makan terlalu cepat

    Selain jenis makanan, kebiasaan saat makan juga dapat meningkatkan risiko perut buncit dan obesitas. Salah satunya adalah makan terlalu cepat.

    Tubuh membutuhkan waktu untuk mengirimkan sinyal dan memberitahu otak jika sudah kenyang. Karena itu, orang yang makan terlalu cepat bisa saja mengonsumsi makanan dalam jumlah yang lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh tubuh. Jadi, jangan heran jika orang yang makan terlalu cepat gampang memiliki perut buncit.

    3. Makan sambil nonton TV

    Meski terkesan sepele dan tidak berisiko, makan sambil menonton TV ternyata juga bisa meningkatkan risiko perut buncit.

    Sebuah studi menyebut orang yang makan sambil menonton TV dapat mengonsumsi lebih banyak makanan.

    Tak hanya itu, orang yang makan sambil menonton TV cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan di waktu makan berikutnya. Peneliti menjelaskan, hal tersebut lantaran orang yang makan sambil teralihkan tidak menyadari jumlah makanan yang sudah dikonsumsi saat makan.

    4. Begadang

    Sering begadang juga dapat membuat perut menjadi buncit. Sebab, kebiasaan begadang atau kurang tidur dapat mengubah pola makan.

    Dikutip dari Sleep Foundation, ada dua hormon yang terdampak akibat kurang tidur, yakni ghrelin dan leptin. Ghrelin adalah hormon yang mengatur rasa lapar, sementara leptin mengatur nafsu makan dan rasa kenyang.

    Jika seseorang kurang tidur, maka jumlah ghrelin akan meningkat dan leptin menurun. Akibatnya, tubuh menjadi lebih lapar saat bangun tidur keesokan hari. Peningkatan hormon ghrelin juga membuat tubuh ingin mengonsumsi makanan berkalori tinggi. Kedua hal tersebutlah yang menjadi pemicu perut buncit pada orang yang suka begadang.

    5. Telat makan

    Orang yang telat atau sering melewatkan waktu makan juga rentan memiliki perut buncit. Sebuah studi mengungkapkan orang yang sering telat makan cenderung merasa lebih lapar sehingga mengonsumsi lebih banyak makanan saat makan.

    Tak hanya itu, orang dengan jam makan yang tidak teratur juga rentan terkena penyakit kronis, seperti sindrom metabolik, penyakit jantung, resistensi insulin, dan kadar gula darah yang buruk.

    6. Makan dengan piring besar

    Percaya atau tidak, ukuran piring atau wadah makan ternyata juga bisa meningkatkan risiko perut buncit. Sebuah studi menyebutkan orang yang makan dengan piring besar cenderung mengambil makanan dalam porsi yang lebih banyak. Akibatnya, jumlah kalori yang dikonsumsi pun semakin tinggi sehingga menyebabkan perut buncit.

    Sebuah teori menarik menjelaskan, wadah besar dapat membuat makanan menjadi tampak lebih kecil. Hal ini yang kemudian ‘mengecoh’ otak dan membuatnya berpikir kalau makanan yang diambil masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan.

    7. Sering stres

    Stres yang tidak dikelola dengan baik juga dapat meningkatkan risiko perut buncit. Orang yang mengalami stres kerap membutuhkan ‘pelampiasan’ untuk meluapkan apa yang dirasakan. Pada beberapa orang, bentuk pelampiasannya adalah dengan mengonsumsi makanan yang tidak sehat atau makan dalam jumlah banyak. Fenomena ini dikenal juga istilah ‘stress eating’.

    Artinya, semakin sering seseorang mengalami stres maka semakin banyak pula makanan tidak sehat yang mungkin dikonsumsi untuk menghilangkan stres tersebut. Inilah yang nantinya berkontribusi terhadap obesitas dan sejumlah masalah kesehatan lain.

    (ath/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Source : unsplash.com / Online Marketing
  • Takut Mandul Jadi Motivasi Pria Berbobot Nyaris 200 Kg Jalani Diet Ketat


    Jakarta

    Seorang pria di Missouri, Amerika Serikat (AS) Isaiah Caldwell (28) berhasil menurunkan berat badannya dengan pola diet ketat. Takut mandul dan terobsesi menjadi ayah adalah motivasinya dalam menjalani pola makan sehat.

    Dia mulai mengubah gaya hidupnya setelah diberi tahu bahwa berat badannya mungkin menyebabkan masalah kesuburan. Tak mengherankan karena pada saat itu bobotnya 434 pound, nyaris 200 kg.

    “Kami mulai mencobanya selama setahun sebelum kami mulai curiga bahwa mungkin ada beberapa masalah yang berkaitan dengan kesuburan. Saya tahu jika ada yang bisa saya lakukan untuk memberi kami kesempatan, saya akan melakukannya,” katanya dikutip dari DailyMail.


    Demi menurunkan risiko mandul, dia menjalani diet karnivora, mengonsumsi makanan yang hanya terdiri dari daging dan telur dalam upaya meningkatkan kesuburannya. Mereka yang mengikuti diet karnovora biasanya hanya makan daging, tanpa karbohidrat, sayuran, buah, biji-bijian, atau kacang-kacangan.

    Para ahli berpendapat bahwa pengikut pola makan seperti itu berisiko kehilangan serat, antioksidan, dan vitamin. Kekurangan nutrisi tersebut dapat mempengaruhi imunitas, pencernaan, sirkulasi dan fungsi kognitif seseorang.

    Setelah beberapa lama, Caldwell akhirnya mulai menjalani pola makan lainnya dan berolahraga rutin. Dia dan istrinya, Amanda berencana kembali ke dokter dalam beberapa bulan mendatang untuk melihat apakah upayanya berdampak pada kesuburannya.

    “Kami sangat optimis. Saya akan melakukan pengujian (fertilitas), namun saya telah meningkatkan peluang dari nol menjadi setidaknya sesuatu,” ujarnya.

    “Saya dalam kondisi terbaik dalam hidup saya dan kami bersemangat untuk menemukan cara untuk menjadi orang tua, apa pun yang terjadi,” tandasnya.

    (kna/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Source : unsplash.com / Online Marketing
  • Tips Diet Buat yang Insecure sama Pipi Tembem, Begini Saran Ahli Gizi


    Jakarta

    Memiliki berat badan ideal merupakan salah satu impian banyak orang. Selain menjadi lebih sehat, memiliki berat badan ideal juga dapat membuat penampilan menjadi lebih menarik.

    Pipi yang besar atau ‘tembem’ menjadi salah satu hal yang kerap ingin disingkirkan ketika proses penurunan berat badan. Apakah ada makanan tertentu yang dapat dihindari untuk ‘menyingkirkan’ pipi besar?

    Ahli diet teregistrasi mengungkapkan terdapat beberapa jenis makanan yang harus dibatasi untuk mendapatkan wajah yang lebih ramping. Makanan yang dimaksud adalah makanan daging olahan seperti sosis, ham, bacon, dan daging yang diawetkan. Makanan daging olahan cenderung mengandung natrium yang tinggi.


    “Disarankan untuk membatasi asupan makanan tinggi natrium karena dapat menahan air hingga menyebabkan pembengkakan dan pembesaran,” ucap Lauren Manaker dikutip dari NY Post, Senin (4/3/2024).

    Lauren menuturkan bahwa jenis-jenis bahan tertentu dapat menyebabkan bengkak karena meningkatkan retensi air dan peradangan. Garam atau natrium klorida menjadi salah satu penyebab utama apabila dikonsumsi dalam jumlah banyak.

    Tidak hanya kandungan garam, makanan olahan umumnya juga mengandung gula yang tinggi. Hal ini dapat menjadi salah satu pemicu penambahan berat badan.

    “Makanan ultra-proses mengandung sejumlah besar natrium dan gula tambahan, yang juga dapat berkontribusi terhadap penambahan berat badan,” kata Manaker.

    Contoh makanan ultra-proses yang mungkin sering ditemukan termasuk pizza beku, sosis, permen, donat, hingga es krim. Jenis-jenis makanan ini umumnya sulit untuk dihindari karena begitu lezat.

    Makanan ultra-proses umumnya mengandung bahan kimia tambahan. Kandungan lemak yang ada di makanan jenis ini juga cenderung tinggi. Hal ini dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, penurunan kognitif, hingga kematian dini.

    Hal yang menjadi perhatian, makanan ultra-proses justru memiliki kecenderungan untuk membuat konsumen ‘ketagihan’ dan sulit untuk berhenti makan.

    “Sekitar 60 persen kalori dalam makanan kita berasal dari makanan yang diklasifikasikan sebagai makanan ultra-proses, yang cenderung memiliki kombinasi kelebihan natrium, gula, dan karbohidrat olahan,” kata pakar nutrisi dan kesehatan Samatha Cassetty.

    “Makanan ini dapat menyebabkan peradangan dan retensi air, sehingga dapat menyebabkan tampilan bengkak. Kita harus mencoba untuk mengurangi konsumsi makanan-makanan ini dengan menggantinya dengan makanan utuh atau makanan yang diproses secara minimal,” tambahnya.

    Samantha menambahkan jenis makanan seperti kecap dan sup asin yang tinggi sodium juga dapat memberikan efek pembesaran. Karbohidrat yang banyak diproses seperti roti putih, sereal olahan, makanan ringan, atau minuman beralkohol juga dapat memberikan efek serupa.

    (avk/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Source : unsplash.com / Online Marketing
  • Berencana Diet Saat Puasa? Catat Saran Dokter Gizi


    Jakarta

    Banyak orang memanfaatkan momen puasa Ramadan untuk sekalian diet, supaya saat lebaran tubuh menjadi lebih slim. Bisa-bisa saja kok, cuma memang banyak yang gagal.

    Beberapa kesalahan diet saat puasa Ramadan diungkap oleh Dr dr Nurul Ratna Mutu Manikam M.Gizi, SpGK (K), dokter spesialis gizi klinis dari Alia Hospital Jakarta Timur.

    Menurutnya, salah satu tantangan paling terbesar adalah saat berbuka. Beragam sajian yang memanjakan lidah kerap membuat seseorang lapar mata, sehingga justru lebih kalap makan dibandingkan saat tidak puasa.


    “Kalau ingin menurunkan berat badan, jangan makan gorengan. Jadi supaya kita terisi, kita makan buah. Buah yang berair supaya nggak dehidrasi,” saran dr Nurul dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (8/3/2024).

    Ia juga mengingatkan, saat berbuka sebisa mungkin tidak terlalu banyak mengonsumsi makanan dan minuman yang manis-manis. Begitu juga dengan makanan olahan tepung, sebaiknya diganti karbohidrat yang kompleks.

    “Bonusnya pas mau lebaran badannya lebih slim. Asalkan nanti bulan Syawal jangan kalap,” kata dr Nurul.

    Sementara itu, beberapa orang menganggap diet saat puasa berarti harus mengurangi porsi sahur. Menurutnya, hal itu justru kontraproduktif.

    “Nggak. Kalau sahurnya kita kurangin, jadinya kita lebih laper. Nanti pas buka puasa, balas dendam, makin lapar mata,” jelas dr Nurul.

    Bagi yang mau diet, dr Nurul menyarankan sebaiknya puasa Ramadan tidak dipandang terlalu rumit. Sama saja seperti pola makan sehari-hari, hanya sedikit digeser waktunya.

    “Seperti makan pagi digang ke sahur, makan siang diganti ke buka puasa,” katanya.

    Apa saja yang harus diperhatikan biar kebutuhan nutrisi selama puasa selalu terjaga? Nantikan terus ulasannya di detikHealth!

    (up/up)

    Sumber : health.detik.com

    Source : unsplash.com / Online Marketing
  • 5 Menu Sarapan ‘Anti-Gemuk’ yang Bisa Dicoba untuk Turunkan BB, Mau Coba Nggak Nih?


    Jakarta

    Proses penurunan berat badan mungkin tidak akan berjalan dengan mudah untuk beberapa orang. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor mulai dari kurangnya berolahraga hingga masalah menu makanan yang dikonsumsi.

    Tak banyak yang menyadari, bahwa menu sarapan adalah salah satu faktor penting dalam proses penurunan berat badan. Jika sembarangan memilih, menu sarapan yang dikonsumsi bisa justru mengakibatkan kenaikan berat badan. Dikutip dari Eating Well, berikut ini adalah beberapa menu sarapan yang bisa jadi alternatif:

    1. Oatmeal

    Oatmeal sudah lama dikenal sebagai salah satu menu makanan yang ‘ramah’ dalam proses penurunan berat badan. Dalam banyak penelitian, oatmeal dinilai sebagai sumber makanan yang bisa membuat perasaan kenyang menjadi lebih lama.


    Oatmeal merupakan salah satu jenis sumber karbohidrat ‘slow-release’ yang dapat membuat tubuh tidak mengalami lonjakan gula darah seperti mengonsumsi karbohidrat olahan. Mengonsumsi oatmeal membuat tubuh insulin tidak melonjak tinggi.

    2. Telur

    Satu butir telur mengandung enam gram protein dan 72 kalori. Bila dibandingkan dengan karbohidrat dan lemak, protein memiliki kemampuan membuat seseorang kenyang lebih lama yang lebih baik.

    Sebuah studi Penelitian Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat tahun 2020 menemukan bahwa mengonsumsi telur untuk sarapan meningkatkan kepuasan makan dan menurunkan konsumsi kalori pada waktu makan selanjutnya. Telur sangat mengenyangkan dan dapat membantu mencegah rasa lapar, terlebih bila dikombinasikan dengan biji-bijian, buah, atau sayuran.

    Tidak hanya tinggi protein, bagian kuning telur juga kaya akan nutrisi sehat, seperti kalsium dan antioksidan yang baik untuk mata seperti lutein dan zeaxanthin.

    3. Yogurt

    Dalam laporan tahun 2020 yang diterbitkan di New England Journal of Medicine, yogurt merupakan salah satu makanan teratas yang dapat mendorong proses penurunan berat badan. Kandungan protein, termasuk protein whey secara alami dapat ditemukan di dalam yogurt.

    Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kandungan protein dapat membuat seseorang kenyang lebih lama. Yogurt juga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dicerna apabila dibandingkan dengan karbohidrat sederhana.

    Untuk tetap menjaga asupan kalori, pilihlah yogurt tanpa gula dan kombinasikan dengan buah segar jika ingin menambahkan rasa manis.

    4. Pisang

    Dikutip dari Healthline, pisang merupakan salah satu buah yang tinggi serat namun rendah kalori. Satu buah pisang berukuran sedang hanya memiliki lebih dari 100 kalori namun mengandung 3 gram serta makanan. Jumlah tersebut memenuhi 11 persen kebutuhan serat harian seseorang.

    Penelitian telah menemukan bahwa meningkatkan asupan serat dari buah-buahan dan sayuran dikaitkan dengan proses penurunan berat badan. Selain itu, pisang mentah merupakan sumber pati resisten yang baik, sejenis pati yang tidak dapat dicerna oleh lambung dan usus kecil Anda.

    Penelitian menunjukkan bahwa pati resisten dapat membantu mengurangi asupan makanan dan mengurangi lemak perut.

    5. Kacang-kacangan

    Kacang merupakan sumber makanan yang memiliki keseimbangan ‘sempurna’ antara serat, protein, dan lemak yang menyehatkan jantung. Menambahkan kacang-kacangan sebagai menu diet dapat membantu mendukung proses penurunan berat badan.

    Namun, perlu diingat kacang-kacangan merupakan makanan yang cukup tinggi kalorinya. Batasi asupan hingga sekitar 28 gram atau satu ons agar kalori tidak menumpuk.

    (avk/suc)

    Sumber : health.detik.com

    Source : unsplash.com / Online Marketing
  • Diet saat Puasa Ramadan, Bisa Nggak Ya? Begini Saran Ahli Gizi


    Jakarta

    Ramadan menjadi momen tepat bagi umat muslim untuk meningkatkan ibadah dan kesehatan. Tak jarang juga yang memanfaatkan bulan Ramadan untuk diet demi mendapatkan berat badan yang ideal.

    Hanya saja seringkali, Ramadan malah bikin berat badan naik alih-alih turun. Kok bisa ya?

    Ahli gizi Putri MJ, SGz mengatakan hal yang membuat seseorang semakin berisi ketika berpuasa adalah kebiasaan makan yang tidak tepat. Biasanya makanan yang dikonsumsi saat berbuka atau sahur tidak memenuhi standar gizi sehingga memicu berat badan berlebih.


    Saat sahur dan buka puasa, Putri mendorong untuk mengonsumsi real food atau makanan yang belum diolah berkali-kali agar gizi yang masuk dalam tubuh lebih utuh. Mengonsumsi makanan real food pun penting untuk memberikan energi dan kenyang lebih lama saat puasa.

    “Contohnya daripada makan mie instan untuk sahur, lebih baik makan nasi terus sama lauk yang proper kayak telur ayam atau ada sumber protein lainnya sama sayur. Jadi tetap makan gizi seimbang selama sahur,” bebernya saat ditemui detikcom di Jakarta Selatan belum lama ini.

    Saat berbuka puasa pun, Putri menyarankan untuk menghindari gorengan dan makanan tinggi lemak saat perut kosong agar kalori harian tetap terjaga. Ini penting agar tidak melebihi asupan kalori harian dan tidak overeating.

    “Makan makanan yang rendah lemak dulu. Contohnya kayak es buah, buah segar, kurma, minum air. Itu nanti di jeda baru makan makanan berat gitu. Jangan kalap makan saat buka puasa,” tandasnya.

    (kna/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Source : unsplash.com / Online Marketing
  • 4 Resep Diet Kim Ji Won yang Tampil Langsing di Queen of Tears

    Jakarta

    Serial Queen of Tears berhasil mencuri perhatian para penggemar K-drama. Bukan hanya karena alur ceritanya yang menarik, tetapi juga berkat penampilan sang aktris, Kim Ji Won.

    Ji Won memerankan Hong Hae In, istri dari Baek Hyun Woo (diperankan oleh Kim Soo Hyun) sekaligus CEO dari Queens Department Store. Selain menunjukkan kemampuan akting yang ciamik, penampilan Ji Won dalam drama tersebut sempat bikin pangling para penggemar.

    Pasalnya, Ji Won tak lagi tampil dengan pipi chubby-nya dan tampak lebih langsing. Ternyata, itu adalah hasil diet ketat yang dia lakukan selama setahun penuh demi mendalami peran sebagai Hong Hae In.


    Dikutip dari Koreaboo, berikut pola diet yang dijalani oleh Ji Won hingga akhirnya memiliki tubuh langsing dan body goals.

    1. Tidak Mengonsumsi Makanan ‘Berat’

    Saat menjadi bintang tamu di acara Salon Drip, Ji Won berbagi tentang pengalaman dietnya. Aktris berusia 31 tahun itu mengaku selama setahun, dirinya tidak mengonsumsi makanan yang terlalu berat. Bahkan, dia juga menahan diri untuk tidak menyantap chinese food dan jjapaghetti yang menjadi makanan favoritnya.

    2. Mengatur Porsi Makan

    Selain menghindari makanan tertentu, Ji Won juga sangat menjaga porsi makannya. Dia memastikan untuk tidak makan secara berlebihan dan selalu menyisakan sedikit makanan di piringnya.

    3. Memperbanyak Asupan Protein

    Untuk mendukung program dietnya, Ji Won juga mengonsumsi makanan berprotein tinggi, seperti dada ayam, daging ikan, dan telur rebus.

    Dikutip dari Health, diet tinggi protein dapat membantu menurunkan berat badan dengan cara meningkatkan rasa kenyang dan metabolisme tubuh.

    4. Rutin Berolahraga

    Ji Won pun rutin berolahraga untuk membantu membakar kalori dan menjaga bentuk tubuhnya. Dikutip dari KDrama Stars, salah satu olahraga yang dilakukan Ji Won adalah gimnastik. Bahkan, dia berlatih hingga enam jam setiap hari.

    (ath/naf)

    Sumber : health.detik.com

    Source : unsplash.com / Online Marketing