Tag: emas

  • Direktur Fidelity: Bitcoin Unggul Dibanding Emas

    Jurrien Timmer, Direktur Makro Global di perusahaan layanan keuangan Fidelity yang mengelola aset lebih dari US$3,3 trilyun, mengatakan Bitcoin memiliki keunggulan unik dibanding emas.

    Bulan lalu, Timmer menerbitkan tulisan yang menyatakan manajer investasi sebaiknya melihat Bitcoin sebagai pengganti emas atau obligasi.

    “Investor mungkin ingin menambah Bitcoin dan alternatif lain sebagai satu komponen sisi obligasi dalam portofolio 60/40 saham dan obligasi,” katanya.

    Baca Juga: Warga Amerika Latin Ingin Belanja Pakai Bitcoin Cs

    Timmer menyoroti fitur Bitcoin yang menjadikannya bernilai, yaitu kelangkaan, kurva penambahan suplai yang berkurang, reputasi dan menuruti Hukum Metcalfe (Network Effect) yang menyatakan nilai jaringan tumbuh lebih cepat dengan bertambahnya pengguna.

    uncaptioned

    Direktur Fidelity itu berpendapat berinvestasi Bitcoin selain emas masuk akal, sebab sama-sama langka dan berfungsi sebagai alat simpan nilai (store of value).

    Timmer menekankan, sistem moneter dunia tidak didukung oleh emas dan ekonomi global semakin bergantung kepada kebijakan moneter bank sentral.

    Dalam era fiat money ini, semakin sedikit emas yang mendukung sistem moneter ketika uang baru diterbitkan dengan sangat cepat dan dalam jumlah banyak, tambahnya.

    “Bagi sebagian orang, hal ini menjadikan emas semakin menggiurkan, dan akhir-akhir ini Bitcoin mulai diperbincangkan sebagai bentuk emas digital,” jelas Timmer.

    Baca Juga: 4 Cara Mendapatkan Uang dari Internet dengan Cepat

    Sambil menegaskan pendapatnya hanya satu di antara yang lain, Timmer menambahkan Bitcoin bukan investasi yang aman. Kendati emas dan Bitcoin sama-sama langka, Bitcoin bersifat digital dan dapat diregulasi ketat.

    “Percaya sesuatu yang konseptual dan belum terbukti dapat bersaing dengan kelangkaan nyata yang telah dihargai selama ribuan tahun butuh keyakinan tinggi,” kata Timmer.

    Tetapi Bitcoin memiliki keunggulan unik dibanding emas. Pasokan Bitcoin dirancang terbatas, ketika pasokannya mendatar, produksi emas tetap konstan. Emas langka tetapi tidak semakin langka, sebut Timmer.

    Baik emas dan Bitcoin perlu dipertimbangkan investor ketika investasi dalam surat utang (obligasi) berimbal hasil rendah mendekati nol.

    Pekan lalu, investor milyarder Warren Buffett berkata investor obligasi menghadapi masa depan yang suram.

    Menurut Timmer, Bitcoin belum tentu lebih baik dari saham, terutama untuk jangka pendek, sebab harga Bitcoin sangat volatil.

    Saham menawarkan imbal hasil dan membayar deviden sehingga hasil investasi bertambah seiring waktu. Hanya, di saat hiperinflasi emas dan Bitcoin lebih unggul.

    Terlepas dari itu, karakteristik Bitcoin dan pasar kripto yang berkembang menjadikannya alternatif menarik selain emas atau obligasi.

    Bitcoin semakin dipercaya, dan sebagai emas digital, Timmer meyakini Bitcoin akan mengambil pangsa pasar lebih besar seiring waktu.

    Kini, manajer portofolio tidak lagi bertanya untuk berinvestasi Bitcoin atau tidak, melainkan bertanya seberapa banyak beli Bitcoin.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bank of Singapore: Bitcoin Bisa Gantikan Emas, Fiat Tetap Bertahan

    Bank of Singapore (BOS), yang terafiliasi dengan Bank OCBC dari ING Group mengatakan, Bitcoin (BTC) bisa menggantikan peran emas sebagai store-of-value. Sedangkan uang fiat tetap bertahan.

    “Bitcoin bisa menggantikan emas sebagai store-of-value setelah rintangan utama, seperti kepercayaan, volatilitas, penerimaan peraturan dan risiko reputasi bisa diatasi,” kata BOS dalam kajian terbarunya, dilansir dari TheNationalNews, Minggu (24/1/2021).

    Namun bank besar itu dengan tegas menyatakan, bahwa uang fiat yang diterbitkan oleh negara tidak bisa tergantikan oleh Bitcoin sebagai alat pembayaran.

    “Setelah kerugian rintang itu bisa diatasi, maka Bitcoin juga dapat digunakan dalam portofolio investor sebagai aset safe-haven potensial dan untuk diversifikasi aset,” sebut BOS lagi.

    Menurut BOS, investor memerlukan lembaga keuangan yang benar-benar terpercaya untuk dapat menyimpan Bitcoin secara aman.

    “Hal lainnya, likuiditas perlu ditingkatkan secara signifikan untuk mengurangi volatilitas ke tingkat yang dapat dikelola,” kata Mansoor Mohi-uddin, Kepala Ekonom Bank of Singapore.

    Terkiat volatilitas alias naik turunya harga dalam tempo yang sangat cepat, diakibatkan karena adanya konsentrasi kepemilikan Bitcoin dan volume pasar yang tipis.

    Ini merupakan salah satu hambatan terbesar untuk adopsi besar Bitcoin dalam transaksi dunia nyata, menurut Swiss Lombard Odier belum lama ini.

    “Bitcoin terkenal sangat tidak stabil karena reli selama setahun terakhir dari US$4.000 (Maret 2020) menjadi lebih dari US$40.000 (awal Januari 2021) dan kemudian kembali ke US$30.000,” kata Mohi-uddin.

    Bagai Mohi-uddin Bitcoin juga berkorelasi dengan pasar saham dan aset berisiko lainnya. Dalam krisis keuangan, aset kripto, khususnya Bitcoin lebih mungkin dijual oleh investor selama krisis pasar, seperti yang terjadi pada awal pandemi pada Maret 2020.

    Namun peningkatan partisipasi oleh investor institusional seperti manajer aset dengan cakrawala waktu jangka panjang, daripada pembeli ritel atau dana lindung nilai dapat membantu meningkatkan likuiditas, menurunkan volatilitas dan menyebabkan aksi harga lebih didorong oleh fundamental daripada spekulasi, menurut BOS.

    Baca Juga: CEO MicroStrategy: Regulasi Meningkatkan Investasi Bitcoin

    “Daya tarik mata Bitcoin di kalangan anak muda sebagian karena adanya nuansa kenyamanan. Bitcoin dan aset kripto lainnya juga mudah disimpan di dompet digital. Ini berbeda dengan logam mulia yang seringkali perlu disimpan di lokasi fisik yang aman dan tidak dapat digunakan dengan mudah untuk transaksi sehari-hari,” tambahnya.

    Sisi lain dari ini, adalah, mereka lebih mudah untuk dicuri oleh penipu. Ada juga risiko reputasi karena aset kripto telah banyak digunakan oleh penjahat, pencucian uang, dan pihak lain yang ingin memanfaatkan anonimitas mereka.

    Kerugian potensial lainnya adalah bahwa kendati pasokan logam mulia relatif terbatas, peluncuran aset kripto baru di masa depan berpotensi dapat mendevaluasi aset kripto lain yang ada saat ini.

    Volatilitas aset kripto, katanya tidak memungkinkan aset kripto digunakan dalam transaksi sehari-hari.

    Pasokan aset kripto, seperti Bitocin yang terbatas membuatnya tidak dapat memfasilitasi pertumbuhan aktivitas ekonomi. Bahkan pemerintah saat ini cenderung tidak mentolerir tantangan langsung terhadap kedaulatan moneter. Itulah sebabnya beberapa bank sentral telah mengembangkan mata uang digital mereka sendiri menggunakan teknologi blockchain.

    “Pemerintah sangat waspada terhadap teknologi apa pun yang berpotensi menggantikan mata uang nasional. Ini akan mengurangi kemampuan pembuat kebijakan untuk menerbitkan uang baru selama krisis ekonomi,” pungkas Mohi-uddin.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bidikan Harga Bitcoin US$100 Ribu per BTC, Masih Terlalu Kecil

    Willy Woo, Analis Bitcoin (BTC) mengatakan bahwa bidikan harga Bitcoin US$100 ribu per BTC, masih terlalu kecil. Woo meramalkan kenaikan lebih tinggi lagi. Waspadai pula banyak “whale” mulai masuk kembali ke bursa.

    Hal itu disampaikan Woo ketika Bitcoin pada 17 Desember 2020 lalu berhasil menyentuh capaian tertinggi baru lagi, yakni US$23.000 per BTC.

    Baca Juga: Surat kepada SEC: Yuan Digital Ancam Amerika Serikat (AS)

    “US$100 per BTC adalah sasaran yang sangat rendah pada lintasan saat ini. Sasaran berikutnya US$55 ribu. Ketika itu Bitcoin menjadi aset bernilai sekitar US$1 triliun,” kata Woo, dilansir dari Cointelegraph, 17 Desember 2020.

    Woo bersandar pada model ramalan Bitcoin “Bitcoin Top Cap“. Grafik model itu mengungkapkan bahwa sasaran menuju US$100.000 masih tergolong “konservatif”, yang mencerminkan penguatan lebih lanjut di atas itu.

    harga bitcoin

    Woo juga menekankan bahwa level US$55.000 sebagai harga tonggak penting bagi Bitcoin karena itu berarti aset kripto akan mencapai 10 persen dari kapitalisasi pasar emas.

    Saat ini, kapitaliasi  emas diperkirakan sekitar US$9 triliun. Di atas harga US$50.000, per BTC, maka Bitcoin akan mulai merambah sebagian besar kapitalisasi pasar emas, yang tetap menjadi aset safe-haven yang dominan.

    Order book dan tren volume perdagangan Bitcoin di sejumlah bursa juga menandakan adanya sentimen positif membidik US$30.000.

    Baca Juga: Grayscale: Permintaan Terhadap Ether (ETH) Meningkat Tajam

    Jika momentum pasar berjangka, options, dan spot dipertahankan selama beberapa hari mendatang, kemungkinan Bitcoin bisa mencapai US$30.000.

    harga bitcoin
    Potensi ancaman harga Bitcoin terkoreksi dalam, ketika sejumlah pemain besar Bitcoin masuk kembali ke sejumlah bursa aset kripto. Sumber: CryptoQuant.

    Namun, di masa mendatang, salah satu ancaman bagi Bitcoin adalah arus masuk “whale“. Data dari CryptoQuant menunjukkan arus masuk Bitcoin oleh Whale ke sejumlah bursa meningkat. Ini belum pernah terlihat sejak Maret 2020, ketika Bitcoin ambruk parah.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Prediksi BTC Pada Bulan-bulan Berikutnya Versi JPMorgan

    Ketertarikan investor terhadap Bitcoin diprediksi akan menekan harga emas dalam jangka panjang. Menurut ahli strategi, JPMorgan yang dipimpin oleh Nikolas Panigirtzoglou pada Selasa (8/12/2020) mengatakan harga BTC condong ke sisi bawah, sementara emas terlihat lebih positif.

    Namun, kabar baiknya pergerakan harga BTC dalam jangka menengah dan panjang memiliki arah yang berlawanan.

    Baca Juga: CEO BlackRock: Bitcoin Bisa Menjadi Aset Global

    “Bitcoin adalah investasi yang baru mulai dilirik oleh investor institusi, sedangkan investasi emas memang sudah sangat maju.”

    “Jika prediksi pergerakan BTC itu benar dalam jangka menengah dan panjang, harga emas akan mengalami hambatan aliran struktural selama beberapa tahun mendatang,” pungkas JPMorgan.

    Para ahli strategi JPMorgan, mencatat bahwa dalam dua bulan terakhir, kepercayaan Bitcoin manajer aset digital Grayscale melihat arus masuk hampir $2 miliar, sementara ETF emas melihat arus keluar lebih dari $7 miliar.

    Walaupun begitu, investor institusi yang merupakan keluarga kaya raya tercatat masih lebih banyak memiliki emas dibanding Bitcoin, hal ini diungkapkan oleh JPMorgan.

    Bagi investor, investasi tradisional seperti emas masih dianggap sebagai “safe haven”, sementara Bitcoin yang merupakan media investasi baru akan mendapatkan keuntungan dari semakin banyak investor institusi yang melirik mata uang digital ini.

    Para ahli strategi JPMorgan, mengatakan bahwa nilai intrinsik Bitcoin akan naik secara signifikan selama beberapa bulan mendatang karena aktivitas penambangan meningkat. Menurut pengamatan JPMorgan, nilai intrinsik Bitcoin saat ini $11.000 – $12.000. Bila dibandingkan dengan harga pasar saat ini yang sekitar $18.200.

    Baca Juga: Bull di bawah Kendali, Harga Bitcoin Pulih Kembali

    Sebelumnya, selisih antara nilai intrinsik dan harga pasar begitu lebar. Aktivitas penambangan akan meningkat dan menjadi lebih sulit dan mahal.

    Namun hal ini belum terjadi saat ini, sebagian terjadi gegara gangguan pada aktivitas penambangan dari pasokan listrik karena topan dan curah hujan tinggi di Tiongkok. Saat kondisi sudah mulai normal kembali, aktivitas penambangan akan meningkat dan nilai intrinsik Bitcoin pun demikian.

    “Kami memperkirakan bahwa peningkatan 70% dalam kesulitan, semuanya sama, akan melihat nilai intrinsik mendekati harga pasar saat ini.”

    “Meskipun ini adalah peningkatan yang besar, peningkatan dengan besaran serupa juga pernah terjadi pada akhir 2017 dan pertengahan 2019. Ini berarti kami berpikir kemungkinan besar bagian yang lebih besar dari penutupan akhirnya dari kesenjangan antara harga pasar dan biaya produksi bisa datang dari yang terakhir daripada di rentang waktu akhir 2017 dan pertengahan 2019 lalu.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Si Kembar Winklevoss: Bitcoin Akan Kalahkan Emas

    Si Kembar Winklevoss, Cameron dan Tyler mengatakan, kelak kapitalisasi pasar Bitcoin akan mengalahkan emas, ketika harga Raja Aset Kripto itu US$500 ribu per BTC.

    Baca Juga: Ekspatriat Nigeria Pakai Bitcoin untuk Hindari Mahalnya Transfer Uang via Bank

    Menurut pemilik bursa aset kripto Gemini asal AS itu, kalahnya kapitalisasi pasar emas ketika kelak harga Bitcoin mencapai US$500.000 per BTC.

    Selayaknya sebuah ramalan penuh keyakinan, si kembar yang pernah jadi musuh Mark Zuckerberg soal konsep dasar Facebook itu mencatat, bahwa US$500.000 per BTC didasarkan pada asumsi bahwa kapitalisasi pasar Bitcoin akan meningkat 40 kali lipat untuk melampaui kapitalisasi pasar emas sekitar $ US$9 triliun.

    Cameron merujuk pada sejumlah fakta bahwa penambahan pasokan fiat money saat ini mengkhawatirkan banyak pihak soal inflasi yang buruk di masa depan. Menurut Cameron, inflasi ini akan terus mendorong masyarakat untuk membeli emas dan Bitcoin.

    Baca Juga: CEO BlackRock: Bitcoin Bisa Menjadi Aset Global

    “Jika orang ingin membeli Bitcoin dan ini memang masih sangat baru, maka perlu jembatan di antaranya, yakni perbankan,” kata Cameron Winklevoss, menyinggung perihal keterlibatan bank di masa depan soal aset kripto itu.

    Cameron menyatakan bahwa Bitcoin menawarkan keunggulan yang signifikan dibandingkan emas sebagai komoditas moneter, seperti kemudahan transfer dan kekebalannya terhadap kekuatan eksternal yang memengaruhi laju produksinya.

    “Perhatikanlah Bitcoin dan aset kripto dan didiklah diri Anda sendiri, karena ini adalah uang terbesar dan revolusi teknologi sejak Internet itu sendiri. Ini bukan lagi main-main dan akan bertahan. Dan sekarang itu sedang dimulai,” sebut Cameron yakin.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pemred Forbes: Bitcoin Kelak Menjadi Store-of-Value Seperti Emas

    Steve Forbes, Pemimpin Redaksi Forbes Media mengatakan bahwa Bitcoin kelak bisa menjadi store-of-value seperti emas.

    “Bitcoin belum bisa menjadi emas baru sebagai pelindung nilai terhadap inflasi. Emas, kendati harganya tertekan dibandingkan harga Bitcoin, tetap mempertahankan nilai intrinsiknya. Emas lebih baik daripada aset lainnya di muka bumi, karena teruji selama 4 ribu tahun. Ketika Anda melihat harga emas dalam dolar berfluktuasi, nilai emas tidak berubah, melainkan nilai dolar itu sendiri. Nilai emas terbilang konstan. Itulah yang tak terjadi pada Bitcoin,” ujar Forbes di Forbes.com, 4 Desember 2020 lalu.

    Baca Juga: S&P Dow Jones Luncurkan Indeks Crypto di 2021, Bakal Dorong Bitcoin Lebih Tinggi?

    Steve berpendapat, bahwa fluktuasi yang sangat tinggi pada harga Bitcoin, tidak memungkinkan kelas aset baru itu sebagai store-of-value alias menjaga nilai uang di masa depan.

    “Bitcoin terlalu volatil sebagai aset store-of-value jangka panjang. Bahkan pasokan terbatas Bitcoin menjadi tantangan tersendiri soal kegunaannya di masa depan. Lihat pasokan emas yang sekitar 2 persen setiap tahun. Itu yang membuatnya langka, tetapi tak terlalu langka. Jadi, belum saatnya Bitcoin sebagai emas baru. Justru emaslah saat ini sebagai aset terbaik untuk melawan inflasi,” ungkapnya.

    Sejak 1 Januari-5 Desember 2020, imbal hasil emas hanya 20,98 persen (US$1835 per oz). Di saat yang sama, Bitcoin naik gila-gilaan hingga 165 persen (US$19.000 per BTC). Indeks dolar AS sendiri tertekan hebat hingga minus 5 persen (90,81).

    Steve Forbes memang terkenal mengapresiasi Bitcoin sebagai kelas aset baru. Pada Juni 2020 misalnya ia mengatakan bahwa Bitcoin dan sejumlah aset kripto lainnya adalah pelindung dari ketidakpastian kebijakan keuangan saat ini.

    Steve juga percaya bahwa aset kripto Bitcoin membantu menstabilkan sistem keuangan yang dikendalikan pemerintah dan mendesak pengembangan teknologi blockchain Bitcoin.

    Hal itu ia sampaikan pada dalam satu wawancara dengan US Center for Natural dan Artificial Intelligence pada 12 Juni 2002 lalu.

    “Aset kripto adalah sebuah respons ketika bank sentral mengeluarkan kebijakan pelonggaran kuantitatif dan pinjaman murah untuk merevitalisasi ekonomi mereka. Namun, kebijakan untuk menambah pasokan uang ke dalam pasar itu justru menyebabkan ketidakstabilan keuangan dalam jangka panjang,” kata Steve.

    Steve mencontohkan Jepang. Mereka menjalankan program pelonggaran kuantitatif pada akhir 1980-an, yang mengarah ke “The Lost Decade” dari 1990-2000, sebuah periode penurunan output ekonomi dan inflasi.

    Jepang sejatinya masih belum pulih, bahkan tiga puluh tahun setelah program itu. Para kritikus mengatakan, Amerika menuju nasib yang serupa seperti Jepang, jika langkah-langkah penanangan tidak segera dilakukan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Dapat Meningkat 20x Lipat dan Ungguli Emas!

    Salah satu pendiri Gold Bullion International, Dan Tapiero percaya hanya masalah waktu sebelum harga Bitcoin melonjak ke nilai dengan enam digit.

    Dilansir dari Pomp Podcast bersama Anthony Pompliano, Tapiero menegaskan dalam hal apresiasi harga, Bitcoin adalah rajanya. Namun, ia juga percaya sebagai seorang investor harus memiliki kedua aset berharga tersebut, emas dan Bitcoin,

    Baca Juga: Filecoin Capai Kapasitas 1 Exabyte, Lebih Besar dari Netflix!

    “Dalam lima tahun ke depan, saya bisa mengindikasikan emas akan seharga $4.000, bertambah nilainya dua kali lipat. Namun, jika emas dapat bernilai $4.000, Bitcoin mungkin akan berada di antara $300.000 dan $500.000, nilai itu dapat berlipat ganda hingga 20x hingga 30x.”

    Tapiero percaya, investor institusional dan whales bidang keuangan kemungkinan besar akan berinvestasi antara lima hingga 15 persen dari portofolio mereka pada Bitcoin. Ia juga percaya bahwa ruang mata uang crypto ini akan bernilai lebih dari $100 triliun,

    “Bagian tersebut sangat besar. Maksud saya, 15% dari $100 triliun adalah $15 triliun. ”

    Ia juga menganggap, Bitcoin sebagai lindung nilai untuk sistem fiat saat ini dan begitu kapitalisasi pasarnya mencapai triliunan dolar, akan menjadi lebih mudah untuk investor yang lebih besar masuk ke dalam ruang ini. Hal ini mirip dengan pasar emas yang ada.

    Baca juga: 4 Persamaan Bitcoin dan Emas Sebagai Alat Investasi Masa Kini

    Saat ini, emas merupakan penyimpan nilai yang tidak diragukan lagi lantaran cara kerja aset tersebut selama ribuan tahun, dan aspek ini juga dipercaya ada pada Bitcoin. Bitcoin merupakan keseluruhan jaringan (entitas) dan itu alasan Tapiero yakit bahwa Bitcoin akan jauh lebih besar dari emas,

    “Tidak diragukan lagi bahwa Bitcoin akan mengungguli emas.”

    Baca juga: Seberapa Profit Bitcoin Dibandingkan Emas dalam 10 Tahun?

    Analis lain juga bersikap optimis terkait dengan Bitcoin ini. Bersama kepala investasi Off the Chain Capital Brian Estes mengatakan kepada Reuters Bitcoin akan dapat melampaui nilai $100.000 dalam satu tahun, dan memperkirakan bahkan Bitcoin bisa mencapai nilai $288.000 di akhir 2021.

    Pembawa acara CNBC Jim Cramer juga percaya pada masa depan Bitcoin, seperti yang terungkap di podcast lain dengan Pompliano. Cramer, yang dahulu merupakan seorang skeptis Bitcoin pada bull market 2017, baru-baru ini menyatakan bahwa ia menyadari Bitcoin merupakan lindung nilai yang baik terhadap inflasi,

    “Saya rasa anak-anak saya nanti, ketika mereka mendapatkan warisan, tidak akan terlalu nyaman dengan emas, dan akan merasa lebih nyaman dengan crypto.”

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Robert Kiyosaki: Bitcoin Kalahkan Emas dan Perak

    Robert Kiyosaki, pengusaha dan motivator ternama mengakui Bitcoin mampu mengalahkan kinerja emas dan perak. Pernyataan itu menegaskan lagi dukungannya terhadap Bitcoin, selain emas yang dia unggulkan sejak tahun 1971 sebagai store-of-value asset.

    Baca Juga: Perusahaan Investasi: Blockchain Akan Memimpin Globalisasi Digital

    “Bitcoin naik mengalahkan emas dan perak. Artinya sekarang Anda harus membelinya sebanyak yang Anda mampu. Dolar AS merana dan perak masih terjangkau. Selama dolar AS jatuh, bukan harga yang jadi pertimbangan untuk membelinya, tetapi seberapa banyak emas, Bitcoin dan perak yang kaumliki,” kata Kiyosaki melalui Twitter, 13 November 2020 lalu.

    Faktanya memang demikian, selama tahun 2020, emas hanya mampu tumbuh 50 persen. Sedangkan Bitcoin lebih disukai, hingga berkinerja baik hingga lebih dari 100 persen. Kini Raja Aset Kripto itu naik tinggi lebih dari US$16.000 per BTC.

    Bukan kali itu saja Kiyosaki berkicau mendukung Bitcoin, bahkan hampir setiap hari, termasuk di Kanal Youtube-nya.

    Yang terbaru sebelum itu, pada 4 November 2020 terkait pilpres AS, dia mengatakan siapapun nanti yang menang, tetaplah membeli emas, perak dan Bitcoin.

    “Bitcoin lahir pada tahun 2009, musuh nyata The Fed dan Kementerian Keuangan. Tetaplah membeli emas, perak dan Bitcoin,” kata penulis buku Rich Dad, Poor Daditu.

    Kaitan Bitcoin dengan melemahnya kinerja bank pernah ia utarakan pada Agustus 2020 lalu. Dia menyarankan lebih pro Bitcoin lagi, karena menurutnya bank akan mengalami krisis.

    Kiyosaki sangat terkenal dengan sikap moderatnya terhadap teknologi digital, khususnya yang terkait dengan teknologi keuangan alias fintech. Selain emas yang tetap ia sokong sejak ia berusia muda, kehadiran Bitcoin yang kian popular di kalangan generasi milenial saat turut mendapatkan dukungan Kiyosaki.

    Bahkan jauh sebelum resesi akibat pandemi COVID-19, Kiyosaki sudah jauh-jauh memprediksi ada gonjang-ganjing ekonomi akibat kegagalan bank sentral dan pasar saham yang memang sudah retak.

    Ketika itu ia menyarankan publik untuk memulai kembali mengakumulasi emas secara besar-besaran termasuk perak yang tergolong kurang popular.

    Dan pada Agustus 2020 lalu, kita menyaksikan harga emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa dan perak melonjak gila-gilaan akibat resesi ekonomi yang belum pernah ada sebelumnya setelah tahun 2008, akibat pandemi parah.

    Di sisi lain, Bitcoin sebagai kelas aset baru yang sifat langkanya mirip seperti emas dan perak, didukung penuh oleh Kiyosaki. Sudah berulangkali dia bicara soal dukungannya itu di Twitter dan di beragam kesempatan, bahkan di channel Youtube-nya.

    Dia juga pernah bilang bahwa krisis akan menimpa sejumlah bank-bank besar, masih terkait dampak resesi saat ini. Oleh sebab itu, katanya masyarakat sangat disarankan mengakumulasi lebih lagi terhadap emas dan Bitcoin.

    “Mengapa Buffett keluar [menjual sebagian sahamnya] dari bank? Bank bangkrut. Krisis perbankan besar akan tiba tak lama lagi. Apakah kelak Bank Sentral AS dan Kementerian Keuangan akan mengambil alih sistem perbankan dan menggelontorkan lebih banyak uang kepada warga. Mungkin bukan waktunya memikirkan itu. Berapa banyak emas, perak dan Bitcoin yang Anda miliki?” kata Kiyosaki, 21 Agustus 2020 lalu.

    Pernyataan Kiyosaki itu mengacu pada langkah taipan Warren Buffett belum lama ini yang menjual sebagian sahamnya di sejumlah bank besar dan berinvestasi di perusahaan tambang emas, Barrick.

    Ia kembali menegaskan itu pada 22 Agustus lalu: “Buffett membeli untuk Menjual. Dia menjual [saham] CocaCola, Asuransi Geico, pisau cukur Gillette. Dia sekarang menjual emas Barrick. Emasnya berharga US$1000 untuk menambang. Dijual seharga US$2000. Barrick memiliki banyak emas untuk dijual di masa masa depan. Cerdas! Berapa banyak Bitcoin, emas dan perak yang harus Anda jual di masa depan?” 

    Baca Juga: Perbandingan Pasar Bitcoin dan Forex

    Sentimen Kuat dan Buas
    Selama tahun 2020 memang terbukti emas kalah dibandingkan Bitcoin. God’ Money itu hanya tumbuh 50 persen, sedangkan Bitcoin mampu tumbuh lebih dari 100 persen. Kini Raja Aset Kripto itu naik tinggi lebih dari US$16.000 per BTC.

    Beberapa aset kripto lain, seperti Ether (ETH), Cardano (ADA), Ripple (XRP) harganya diproyeksikan akan terus menguat di masa depan.

    Pun dari segi fundamental pun sangat apik, karena bank-bank mulai melirik aset kripto sebagai bagian dari layanannya kepada nasabah.

    Sebut saja di Korea Selatan, Swiss dan khususnya di Amerika Serikat, akibat restu oleh Badan Pengawas Dolar AS (OCC).

    Sejumlah bank-bank besar di AS sendiri malah terus menggenjot teknologi blockchain-nya sendiri agar sistem transfer uang mereka sama efisien dengan aset kripto masa kini.

    Lihat pula PayPal, Square dan MicroStrategy yang kian erat memeluk Bitcoin.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 2 Tokoh Ini Percaya Bitcoin Lebih Baik dari Emas!

    Lagi, perdebatan sengit antara Bitcoin dan emas kembali mencuat. Mengingat Bitcoin baru-baru ini rally meninggalkan posisi terendahnya dan diharapkan akan bergerak melaju ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

    Menurut beberapa laporan, bahkan analis JP Morgan, Nikolaos Panigirtzoglou menjelaskan bahwa di masa mendatang Bitcoin akan bisa menyaingi emas sebagai aset. Ia juga percaya mata uang crypto nantinya akan lebih berharga dibandingkan dengan hanya dijadikan sebagai penyimpan nilai.

    Baca juga: 4 Persamaan Bitcoin dan Emas Sebagai Alat Investasi Masa Kini

    Pendapat analis ini juga didasari dengan fakta bahwa Bitcoin memiliki kapitalisasi pasar cukup besar untuk disandingkan dengan jumlah keseluruhan Exchange-Trade FundsEmas dan juga total emas dalam bentuk batangan dan koin yang ada.

    Meskipun Bitcoin masih dalam perjalanan panjang untuk bisa benar-benar menyaingi emas, dengan adanya beberapa investor besar dan pengadopsian mata uang crypto, ini cukup untuk mendorong Bitcoin berjalan lebih jauh lagi.

    Baca juga: Seberapa Profit Bitcoin Dibandingkan Emas dalam 10 Tahun?

    Selain, Nikolaos Panigirtzoglou, Michael Saylor sebagai CEO MicroStrategy juga mengemukakan pendapat bahwa Bitcoin jauh lebih baik dari pada emas.

    Dilansir dari wawancara bersama media seputar berita finansial, Real Vision, jutawan tersebut membeberkan bahwa Bitcoin lebih baik daripada emas. Ia juga mengatakan bahwa perusahaannya MicroStrategy akan menyimpan Bitcoin bahkan hingga 100 tahun.

    Baca Juga: Yuan Digitan Ampuh Tebas Dominasi Dollar?

    Tidak hanya disandingkan dengan emas, CEO ini juga percaya bahwa Bitcoin merupakan sebuah aset jangka panjang dan dapat menjadi penyelamat banyak negara dengan keadaan ekonomi dan mata uang yang sedang runtuh.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin sebagai Emas Digital – Tokocrypto News

    Walaupun berwujud digital, aset kripto Bitcoin memiliki banyak kemiripan dengan emas. Kemiripan keduanya, yang utama adalah jumlahnya sama-sama langka dan memerlukan energi dan biaya besar dalam proses produksinya. Akibatnya Bitcoin dan emas dianggap sebagai aset bernilai, terutama untuk jangka panjang.

    Bagi Anda pendatang baru di dunia Bitcoin, memahami kesamaan karakter itu cukup sulit dipahami. Hal itu dapat dimaklumi, karena Bitcoin baru tumbuh sekitar 11 tahun dan popular terbatas di kalangan tertentu. Sedangkan emas sudah berusia ribuan tahun, jauh sebelum Masehi.

    Emas, seperti yang Anda pahami adalah entitas mineral yang terbentuk secara alami dari perut bumi. Ia berwujud fisik, dapat dilihat dan diraba. Ia disebut sebagai logam mulia karena tak bisa berkarat dan jumlahnya langka.

    Ia dinilai baik karena kemilau kuningnya, sehingga layak dijadikan perhiasan. Ia juga dijadikan sebagai instrumen investasi dari generasi ke generasi, tidak lekang dimakan zaman.

    Sebaliknya, Bitcoin murni berwujud digital, hasil dari pemrograman berbalut kriptografi, dan teknologi jaringan komunikasi.

    Karenanya Bitcoin tidak bisa disimpan dalam brankas fisik seperti emas. Ia juga bukan bahan mentah untuk membuat perhiasan. Bagaimana Bitcoin bisa bernilai tinggi, sama dengan atau bahkan lebih tinggi daripada emas? Jawabannya adalah “kepercayaan” alias trust.

    Umat manusia mulai percaya pada Bitcoin sebagai bentuk baru dari uang digital (digital money) ini. Dalam perkembangannya dia dikenal juga sebagai electronic cashcryptocurrency dan crypto asset.

    Bitcoin dirancang oleh Satoshi Nakamoto sebagai entitas yang berseberangan dengan sistem uang fiat (berasal dari bahasa Latin: let it be done) oleh negara melalui bank sentral. Uang fiat (dolar AS, rupiah, yen, yuan dan lain-lain) adalah uang logam dan uang kertas yang tidak dijamin apa-apa, selain bahan logam, kertas dan tinta yang digunakan untuk menerbitkannya.

    Dengan sistem fiat, sesuai dengan arti harfiahnya, pemerintah serta bank sentral dan bank swasta memiliki kendali atas keuangan dan ekonomi dunia. Hal ini menguntungkan sekelompok elit yang selalu menjaga kendali atas mata uang ini, sekaligus mengendalikan ekonomi dan kehendak rakyat.

    Sebab itu, pada tahun 2009 Bitcoin lahir sebagai pemberontakan keuangan digital yang melawan sistem uang fiat demi memberikan umat manusia jalur keuangan yang lebih baik untuk diikuti. Hal inilah yang telah dicapai Bitcoin sejak penciptaannya.

    Bitcoin juga memecahkan serangkaian masalah dan kebutuhan masyarakat, utamanya memberdayakan rakyat jelata dengan menjamin kebebasan memilih bagi semua orang.

    PBB mendefinisikan hak sebagai “kebebasan untuk memilih.” Mengapa tidak rakyat memiliki hak untuk memilih jenis mata uang yang dipakai, mata uang tanpa perantara, tanpa pajak yang tidak proporsional, tanpa pembatasan transaksi internasional?

    Kendati Bitcoin belum bisa ditransfer secara instant, transfer secara internasionalnya lebih cepat, berbiaya murah dan desentralistik dibandingkan uang fiat. Lebih penting lagi, Bitcoin menginspirasi lahirnya aset kripto lain.

    Alasan Bitcoin lebih berharga dan bernilai daripada emas adalah Bitcoin menjadi pembebas keuangan manusia dan menginspirasi beragam ciptaan baru di sektor aset kripto.

    Sama seperti hak untuk mengekspresikan diri melalui media sosial, kini manusia berhak memerdekakan diri di bidang keuangan. Hal ini bisa dicapai berkat Bitcoin dan aset kripto desentralistik lain.

    Penting dicatat, bahwa Bitcoin secara sistem adalah platform yang menghadirkan teknologi blockchain. Blockchain mengusung transparansi, kekekalan, kredibilitas, demokrasi dan kebebasan.

    Nilai-nilai itulah yang menjadi tiang sandaran yang diberikan umat manusia kepada Bitcoin. Hal ini menjelaskan mengapa Bitcoin merupakan aset dengan valuasi terbesar di dunia, menurut Bank of America, Bitcoin bahkan melampaui aset yang telah dominan selama berabad-abad lamanya, yaitu emas.

    Kemiripan Teknis Bitcoin-Emas

    Menurut World Gold Council, sekitar 197.576 ton emas yang telah ditambang. Jumlah Bitcoin yang bisa diedarkan terbatas pada angka 21 juta Bitcoin. Saat ini, 6,25 Bitcoin baru dihasilkan rata-rata setiap 10 menit dan sudah ada 18.420.000 Bitcoin yang beredar.

    Kendati Bitcoin baru 11 tahun, aset ini sudah menjadi alat simpan nilai yang kuat. Bitcoin memang volatil di jangka pendek, tetapi berhasil menjaga dan meningkatkan harganya di dalam jangka panjang.

    Kami berpendapat emas tidak kehilangan nilainya seiring waktu, berkat sifat logam Aurum (Au) yang anti karat. Sifat ini menjadikan emas lebih dipilih dibanding logam lain seperti tembaga yang berkarat seiring waktu.

    Mirip dengan emas, Bitcoin tahan lama dan tidak dapat diutak-atik. Sifat ini bergantung kepada jaringan desentralistik yang menopang Bitcoin, yaitu blockchain.

    Setiap simpul menyimpan salinan data transaksi dan memverifikasinya untuk memastikan tidak ada yang memakai Bitcoin yang mereka tidak miliki. Sementara itu, jaringan penambang (miner) Bitcoin bertanggung jawab memvalidasi transaksi dan berperan menjaga sirkulasi jumlah Bitcoin.

    Selama ada simpul yang bekerja dengan benar, Bitcoin yang disimpan dalam dompet digitalnya akan tetap aman. Tidak ada yang bisa memodifikasinya, sebab datanya diawasi oleh semua komputer dalam jaringan blockchain.

    Sifat dan mutu emas sama di negara manapun di dunia, meski bentuknya bisa beraneka macam. Bitcoin lebih universal, sebab unit digitalnya tidak berubah dan tidak ada bentuk lain. Bitcoin, atau satuan satoshi, memiliki nilai yang sama di Venezuela, Jepang atau negara lain.

    Baik emas dan Bitcoin bisa dipecah menjadi unit sangat kecil. Belum ditentukan emas bisa dipecah sampai unit terkecil apa, tetapi batas paling kecil Bitcoin sudah jelas yaitu 0,00000001. Unit kecil ini dinamai satoshi, sesuai nama penciptanya. Tidak seperti emas, pemecahan Bitcoin lebih murah, sebab merupakan uang digital dan bukan komoditas fisik.

    Berita Terkait: Bitcoin, Ethereum dan XRP Bersiap untuk Rally Yang Lebih Tinggi Dari 2017

    Bitcoin Sulit Dipalsukan

    Bitcoin dan emas sama-sama sulit dipalsukan. Emas memiliki warna yang unik dan merupakan logam yang sangat padat, tetapi pemalsuan emas semakin banyak akibat nilainya yang naik.

    Teknologi blockchain pada Bitcoin membuat unit atau transaksi Bitcoin hampir mustahil dipalsukan, sehingga mencegah pembelanjaan ganda (double spending) yang lazim terjadi pada bentuk uang digital di masa lampau.

    Baik emas dan Bitcoin bisa berfungsi sebagai komoditas dan mata uang. Selain itu, komersialisasi Bitcoin dan emas tidak dikendalikan politik atau bank sentral manapun sehingga kedua aset itu bersifat desentralistik. Penyebabnya karena kedua-duanya berada di luar struktur negara, tidak seperti uang fiat di bawah kendali negara secara langsung.

    Bitcoin Tidak Dicuri Secara Fisik


    Tidak ada yang bisa mencuri Bitcoin secara fisik, sebab Bitcoin tidak disimpan di dompet fisik, melainkan dompet digital dan hanya bisa ditransfer dengan persetujuan pemilik dompet, seperti melalui bursa aset kripto yang membutuhkan kata sandi dan verifikasi identitas.

    Kendati demikian, semua pergerakan abnormal dalam akun seseorang akan terlacak oleh semua simpul di seluruh dunia. Artinya, perlindungan pribadi sangat penting bagi rekening dan peralatan Bitcoin seorang individu.

    Hal ini masih jauh lebih aman dibanding membawa emas sebagai cara pembayaran. Tidak diragukan lagi, di negara manapun membawa emas cukup berbahaya, sehingga Bitcoin lebih aman dari sisi ini.

    Jika emas digunakan sebagai alat pembayaran, digadaikan atau dibawa dalam perjalanan, baik dalam jumlah kecil atau besar, biaya pengangkutannya cukup mahal.

    Sementara Bitcoin bisa dibawa dalam perjalanan tanpa membawa apa-apa selain nama rekening dan kata sandi. Pemilik Bitcoin bisa mengakses dompet dan mengelola transaksi dari manapun di dunia selama ada koneksi Internet.

    Emas unggul dari Bitcoin di aspek kestabilan harga. Bitcoin merupakan aset kripto yang fluktuatif, harganya bisa meroket atau merosot tajam, sehingga bukan merupakan investasi ideal di jangka pendek. Untuk investasi jangka pendek, emas dirasa lebih baik.

    Semua faktor di atas menunjukkan Bitcoin dan emas memiliki kemiripan. Bahkan selama tiga tahun terakhir, kedua aset ini memperlihatkan korelasi yang meningkat.

    Bloomberg melaporkan bahwa korelasi antara emas dan Bitcoin meningkat dari 0,496 di tahun 2018 menjadi 0,827 di penghujung 2019. Koefisien korelasi 1 berarti dua aset bergerak persis sama, sedangkan -1 berarti dua aset bergerak bertolak belakang.

    Kesimpulan


    Kesimpulannya, selama ribuan tahun emas mendominasi sebagai alat simpan nilai (store of value). Tetapi di tahun 2009, semuanya berubah ketika Satoshi Nakamoto membaca kebutuhan manusia untuk bebas di bidang keuangan. Hal ini diberikan Bitcoin melalui beragam manfaat teknologi blockchain.

    Semua ini, bersama dengan transparansi, kredibilitas dan valuasi eksponensial Bitcoin, menjadikan aset ini sebagai emas masa kini, emas digitak. Bukan hanya komunitas Bitcoin yang berpikir demikian, David Andolfatto, Wakil Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, melihat Bitcoin sebagai aset safe haven bagi seluruh dunia. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com