Pasar kripto hari ini, Senin (28/7) difokuskan menjelang keputusan suku bunga The Fed dan laporan pendapatan raksasa teknologi, Bitcoin tetap stabil sementara trader awasi arus ETF. Tiga altcoin — PEPE, CVX, dan XTZ — menunjukkan pola akumulasi yang kuat, berpotensi reli jika dukungan teknikal bertahan.
Sementara itu, Ethereum juga jeda reli di sekitar $3.666 dan siap menembus $4.000 dengan dukungan minat ritel dan sinyal NUPL yang positif. Lihat lebih banyak insight di bawah ini:
Bitcoin Stabil Jelang Pengumuman Fed, Pendapatan Teknologi & Data ETF
Bitcoin dan altcoin akan bereaksi terhadap keputusan suku bunga The Fed pada hari Rabu (30/7).
Perusahaan teknologi terkemuka seperti Microsoft, Amazon, dan Meta akan menerbitkan pendapatan.
Trader akan mengamati arus masuk ETF Bitcoin dan Ethereum.
Tiga Altcoin Menunjukkan Akumulasi Minggu Ini
Pepe (PEPE): Akumulasi di atas $0,00001216; bisa naik ke $0,00001389, risiko turun jika di bawah $0,00001216.
Convex Finance (CVX): Naik 21%, uji $5,88; bisa naik jika tembus $6,00, batal jika turun di bawah $4,16.
Tezos (XTZ): Akumulasi kuat di atas $0,87, Golden Cross; target $0,99/$1,08, risiko turun ke $0,76 jika di bawah $0,87.
CASHBACK DADAKAN IS BACK 100% Raih Rp20 JUTA*
🎉 Cashback 100% + Total Hadiah 20 JUTA*?!
Yes, kamu nggak salah baca! Cuma dengan deposit & trading token pilihan MEW, GOAT, ALCH, JELLYJELLY, MOODENG, SPX, GRASS, atau POP CAT, kamu bisa dapetin cashback 100% dan peluang menang hingga 5 JUTA RUPIAH*! 💸
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Pasar kripto mengalami lonjakan tajam hanya beberapa jam sebelum pengumuman kebijakan suku bunga The Fed (FOMC), Rabu (10/12). Pergerakan agresif ini disebut analis sebagai “taruhan total” pasar terhadap dua kemungkinan: penurunan suku bunga atau setidaknya dovish pause.
Harga Bitcoin (BTC) naik sekitar 2,37%, sementara Ethereum (ETH) melonjak lebih dari 6%, menandai lonjakan pra-pengumuman yang menurut analis merupakan aksi front-running oleh investor besar atau whale. Mereka diyakini melakukan akumulasi lebih awal untuk mengamankan harga bawah sebelum kabar resmi rilis.
Mengapa Suku Bunga Jadi Penentu Besar?
Analis kripto @fhiyyerh menjelaskan bahwa perubahan suku bunga sangat menentukan jumlah likuiditas murah di pasar global.
Suku bunga turun = aset berisiko naik Saat The Fed memberi sinyal pelonggaran, arus modal biasanya keluar dari obligasi berimbal hasil rendah dan berpindah ke aset spekulatif, termasuk kripto.
Kondisi ini memicu apa yang disebut sebagai Liquidity Cascade, di mana Bitcoin dan Ethereum mendapat aliran dana institusi terlebih dahulu. Namun, keuntungan persentase terbesar biasanya muncul di altcoin mid-cap yang lebih sensitif terhadap sentimen risiko.
Altcoin Mana yang Paling Berpotensi ‘Melejit’ Jika Fed Dovish?
Solana disebut sebagai kandidat terkuat penerima limpahan likuiditas. Kecepatan transaksi dan biaya murah membuatnya berkali-kali menjadi pemenang di momen risk-on.
Dengan suku bunga rendah, sektor berisiko tinggi seperti gaming dan metaverse kembali diminati karena memerlukan modal murah untuk berkembang.
3. Token DeFi
Penurunan suku bunga tradisional membuat yield DeFi terlihat lebih menarik. Lonjakan TVL dan aktivitas swap berpotensi mengangkat harga token governance berbagai protokol.
4. Layer-2 (Optimism, Arbitrum)
Menurut akun analis @Crypto_bannks, L2 diperkirakan ikut terangkat karena peningkatan aktivitas jaringan dan dukungan institusional pada ekosistem Ethereum.
5. AI Tokens & Mid-cap Layer-1 (FET/AGI, KAS, SUI)
Analis @bellezza_ melihat aliran modal sudah bergerak diam-diam ke sektor ini. Konsolidasi ketat yang terjadi belakangan dianggap sebagai tanda awal potensi ledakan volatilitas.
Tidak Semua Analis Sepakat
Walau euforia meningkat, beberapa analis memperingatkan bahwa pasar mungkin sudah terlebih dahulu mencerminkan (priced in) skenario dovish. Jika The Fed memberikan nada hawkish, volatilitas ekstrem bisa muncul dalam hitungan menit.
Selain itu, pola historis menunjukkan bahwa:
Kapital biasanya mengalir ke BTC dan ETH lebih dulu,
Altcoin baru menyusul setelah tren utama benar-benar terbentuk.
Semua Mata Tertuju pada FOMC
Antisipasi pasar kini sangat jelas: keputusan dovish dapat memicu rotasi besar ke altcoin. Namun pemenang sebenarnya akan ditentukan oleh kombinasi likuiditas, fundamental proyek, dan katalis jangka pendek.
Dengan volatilitas yang sudah meningkat sebelum pengumuman, para trader kini bersiap menghadapi salah satu momen paling menentukan dalam pasar kripto sepanjang kuartal ini.
Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Bersamaan dengan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4%, The Federal Reserve (FED) resmi mengumumkan bahwa program Quantitative Tightening (QT) akan berakhir pada 1 Desember 2025.
QT sering dianggap sebagai sinyal bullish oleh para investor, karena karena tekanan pengetatan berkurang, sehingga modal bisa kembali mengalir ke aset berisiko.
Tapi apa itu Quantitative Tightening (QT) dan apa aartinya bagi pasar kripto? Apakah ini jadi pertanda bullish? Simak uraiannya di bawah ini.
Apa Itu Quantitative Tightening (QT)?
QT adalah kebijakan moneter di mana bank sentral Amerika (FED) mengurangi ukuran neracanya dengan tidak membeli kembali aset yang jatuh tempo, seperti Treasury dan Mortgage-Backed Securities (MBS). Ini bertujuan untuk mengendalikan inflasi dengan mengurangi uang beredar di pasar.
Sejak dimulai pada 2022, QT telah mengurangi neraca FED dari puncak $9 triliun menjadi sekitar $6.6 triliun saat ini, yang berarti sekitar $1 triliun likuiditas telah ditarik dari sistem keuangan.
Selain QT ada juga QE atau Quantitative Easing, QE adalah kebijakan lawan dari QT di mana bank sentral memperluas neracanya dengan membeli aset seperti Treasury dan Mortgage-Backed Securities (MBS) dari pasar.
Tujuan utamanya adalah untuk menyuntikkan likuiditas ke dalam sistem keuangan, menekan suku bunga jangka panjang, dan merangsang aktivitas ekonomi.
The FED Umumkan Quantitative Tightening (QT) Berakhir Desember
Statement resmi FOMC dari laman The FED.
Pada tanggal 29 Oktober 2025 kemarin, The FED baru saja mengumumkan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3.75%-4% dalam sabda FOMC.
Dalam FOMC tersebut The FED juga mengumumkan bahwa pengurangan holding Treasury akan dihentikan mulai 1 Desember. Hal ini menjadi pertanda bahwa Quantitative Tightening (QT) yang telah berjalan dari Juni 2022 akibat tingginya angka inflasi pasca-pandemi, akan berakhir di Desember mendatang.
Dikutip dari Reuters, ketua FED Jerome Powell menekankan bahwa langkah diambil untuk menjaga likuiditas yang cukup guna mengendalikan suku bunga, di tengah tanda-tanda ketatnya pasar uang seperti kenaikan suku bunga jangka pendek dan penggunaan fasilitas repo FED.
Powell juga menyatakan bahwa FED mungkin perlu menambah holding sebesar $20 miliar per bulan untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi.
Korelasi Quantitative Tightening (QT) dengan Pasar Kripto
Penghentian Quantitative Tightening (QT) sering dilihat sebagai sinyal bullish untuk aset kripto, karena The Fed mulai berhenti menarik likuiditas dari pasar sehingga kondisi finansial terasa lebih longgar.
Berdasarkan data historis, penghentian Quantitative Tightening (QT) oleh The Fed tidak serta-merta menjadi katalis positif bagi pasar kripto.
Misalnya, ketika QT berakhir pada Oktober 2019, alih-alih mengalami lonjakan harga, aset kripto justru terkoreksi cukup dalam dengan penurunan sekitar-42% yang menunjukkan bahwa sekadar berakhirnya kebijakan pengetatan likuiditas belum cukup untuk memicu arus modal masuk ke aset berisiko seperti kripto.
Grafik harga total kapitalisasi pasar kripto setelah QT berakhir dan mulainya QE. Sumber: X @TedPillows
Reli besar baru terjadi setelah Maret 2020, ketika The Fed kembali meluncurkan Quantitative Easing (QE) sebagai respons terhadap pandemi yang membuat likuiditas membanjiri pasar.
Di Tengah siklus Halving Bitcoin yang tengah menuju masa akhir, QT seakan menjadi harapan para investor kripto untuk membuat sebuah keajaiban dimana siklus 4 tahunan ini bisa dipatahkan.
Percakapan di sosial media, khususnya X ramai membahas tentang efek QT terhadap aset kripto dan menunjukkan spektrum opini yang beragam.
QT is ending soon and the Fed is likely to start expanding its balance sheet in the coming months
But it’s NOT QE
It’s simply shifting from slow reduction (QT) to steady growth in line with GDP
Expect Treasury bill purchases, not long-duration QE
Ada yang skeptis, menilai bahwa sekadar berhentinya QT tidak cukup kuat untuk mendorong reli besar tanpa adanya stimulus nyata seperti QE.
Sebagian lain justru bullish, percaya bahwa berkurangnya tekanan likuiditas global akan membuka jalan bagi aliran dana baru ke aset berisiko, termasuk kripto.
In 8 hours, the FOMC will drop its decision, and while everyone expects a 25bps rate cut, that move is already priced in. The real game begins with Powell’s words. Here’s what 99% of the market doesn’t get: the end of QT doesn’t mean the start of QE.…
Sementara itu, kubu bearish mengingatkan bahwa euforia semacam ini sering dimanfaatkan oleh pelaku besar (whales) untuk melakukan distribusi, sehingga potensi koreksi tetap terbuka.
Periode QT dan QE disandingkan dengan dominasi Bitcoin (BTC.D). Sumber X @Brett_ETH
Altcoin di sisi lain, jika dilihat dari data historis sebelumnya, dominasi Bitcoin (BTC.D) cenderung turun di tengah berakhirnya QT dan mulainya QE. Menandakan bahwa altcoin menerima rotasi likuiditas dari Bitcoin dan guyuran likuiditas baru yang masuk ke pasar. Tapi, data historis tentu tidak bisa dijadikan patokan pasti.
Dengan demikian, efek QT terhadap pasar kripto masih sarat ketidakpastian karena, QT ≠ QE. Sebab jika QE berarti injeksi likuiditas baru yang langsung mendorong arus modal masuk ke aset berisiko, maka penghentian QT hanya sebatas menghentikan pengetatan—tidak serta-merta menambah suplai uang segar ke pasar.
Inilah sebabnya, meskipun sebagian investor berharap akhir QT bisa menjadi katalis bullish, dihentikannya QT seperti pada periode sebelumnya membawa respons pasar yang beragam, bahkan negatif dalam jangka pendek.
Oleh karena itu, investor kripto perlu lebih cermat membaca dinamika makro global, termasuk arah kebijakan The Fed, kondisi likuiditas, dan sentimen pasar, sebelum mengambil keputusan investasi.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Sumber:
Reuters: Fed winding down balance sheet contraction amid tightening money markets. Diakses 30 Oktober 2025
Cmegroup: How the Fed Uses Quantitative Tightening to Address Inflation. Diakses 30 Oktober 2025
Investopedia: Understanding Quantitative Tightening: How the Fed Reduces Market Liquidity. Diakses 30 Oktober 2025
Mungkin kamu sering kali mendengar nama Jerome Powell selama beberapa bulan sekali, terutama ketika menjelang FOMC atau pengumuman pengumuman kebijakan suku bunga The Fed.
Tapi, sebenarnya siapa sih Jerome Powell ini? Dan kenapa setiap pidatonya selalu ditunggu oleh para investor terutama investor kripto? Simak penjelasan mengenai siapa itu Jerome Powell lebih lengkap di bawah ini yuk!
Siapa Jerome Powell?
Jerome Powell adalah Ketua Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, pertama kali menjabat sejak 2018 dan kembali diperpanjang masa jabatannya pada 2022.
Ia lahir di Washington D.C. pada Februari 1953, Powell memiliki latar belakang sebagai pengacara, bankir investasi, serta pernah menjabat di Departemen Keuangan AS di era Presiden George H.W. Bush.
Sebagai pemimpin Federal Open Market Committee (FOMC), Powell berperan penting dalam menentukan arah kebijakan moneter, termasuk suku bunga dan pengendalian inflasi, yang berdampak langsung pada pasar global, nilai tukar dolar, saham, hingga aset kripto.
Karena memegang jabatan sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed), lembaga yang menentukan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pidato Powell sering kali ditunggu oleh para investor ketiga menyangkut acara yang berkaitan dengan kebijakan yang akan diambil ke depannya, seperti FOMC dan Jackson Hole.
Pidatonya sering kali ditunggu sebab setiap kata yang diucapkan bisa menjadi sinyal penting bagi investor, pelaku pasar, hingga pemerintah di seluruh dunia.
Misalnya, interpretasi investor seperti:
Jika Powell bernada hawkish, artinya The Fed masih akan menaikkan suku bunga demi menekan inflasi. Biasanya, pasar saham dan kripto akan turun karena biaya pinjaman naik dan likuiditas berkurang.
Jika Powell bernada dovish, pasar akan bereaksi positif karena sinyal bahwa kebijakan moneter akan longgar, mendorong lebih banyak aliran dana ke aset berisiko.
Bahkan dalam dunia investasi, di media sosial reaksi terhadap pidatonya bahkan sering disebut sebagai “Powell Effect” — fenomena di mana pasar global bergerak signifikan hanya dalam beberapa menit setelah ia berbicara.
Dampaknya terhadap Pasar Kripto
Meskipun The Fed tidak memiliki hubungan langsung dengan kripto, arah kebijakan suku bunga yang ditetapkan Powell berpengaruh besar terhadap Bitcoin dan altcoin. Saat suku bunga tinggi misalnya, investor cenderung menjauhi aset spekulatif dan memilih instrumen yang lebih aman. Sebaliknya, ketika Powell memberi sinyal pelonggaran kebijakan, minat terhadap kripto biasanya melonjak.
Contohnya pada tahun 2020–2021, ketika The Fed menurunkan suku bunga ke hampir 0% dan mencetak uang besar-besaran untuk stimulus pandemi. Likuiditas melimpah itu menjadi bahan bakar utama bagi reli besar di pasar kripto dan saham global.
Kesimpulan
Jerome Powell adalah figur paling berpengaruh dalam ekonomi dunia modern. Sebagai Ketua The Fed, setiap kata yang diucapkan bisa mempengaruhi arah pasar global, mulai dari Wall Street, pasar kripto, bahkan hingga pasar saham di Indonesia.
Pidatonya selalu ditunggu karena menjadi cerminan arah kebijakan moneter Amerika Serikat, yang pada akhirnya menentukan seberapa besar arus modal bergerak di seluruh dunia. Dalam dunia ekonomi yang saling terhubung seperti sekarang, memahami “bahasa Powell” menjadi salah satu cara untuk mengetahui arah pergerakan ekonomi global ke depannya.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Menjelang rilis risalah FOMC, pasar kripto hari ini Rabu, (18/2) bergerak dinamis dengan sejumlah altcoin mencatat lonjakan signifikan. CYBER memimpin reli dengan kenaikan 30% ke level $0,73 pada Rabu (18/2), disusul STEEM yang naik 25% ke $0,0655 dan ORCA yang menguat 18% hingga $1,234.
Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya spekulasi jangka pendek menjelang katalis makro penting dari The Fed. Lihat lebih lengkap di bawah ini:
Daftar Altcoin Potensial Hari Ini Jelang Risalah FOMC
CYBER meroket 30% ke level $0.73 hari ini, Rabu (18/2).
BTC anjlok 22%, kinerja kuartalan terburuk sejak 2018.
Naik 9% picu risiko jatuh akibat pasar terlalu bullish.
Support $66rb; tembus berisiko ke $58rb, batal jika lewati $79rb.
Deposit & Trade $AT PART 2! Rebut Hadiah Rp400 JUTA
Yuk ikutan Tokocrypto Deposit & Trade PART 2 🔥
Cukup deposit & trade dalam pair IDR/USDT, kamu berkesempatan dapetin total hadiah sampai: 🎁 Total hadiah Rp400 JUTA* dalam bentuk $AT 📅 Periode: 9 – 22 Februari 2026
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Menjelang keputusan FOMC The Fed, pasar kripto hari ini, Rabu (28/1) bergerak selektif dengan sejumlah altcoin seperti ENSO, 0G, dan FRAX memimpin penguatan harian, mencerminkan meningkatnya spekulasi jangka pendek.
Di sisi lain, aktivitas whale mulai terlihat menjelang Februari 2026, dengan akumulasi pada ASTER dan CHZ, sementara lonjakan tajam AXS memicu kewaspadaan potensi aksi ambil untung. Lihat lebih lengkap di bawah ini:
Daftar Altcoin Potensial Jelang Keputusan FOMC The Fed
ENSO melonjak 45% hari ini, capai level harga $1,37.
0G catat kenaikan signifikan 25% sentuh $0,841.
FRAX tumbuh positif 21%, harga kini di level $0,97721.
3 Altcoin yang Dibeli oleh Whale Kripto untuk Februari 2026
Whales akumulasi ASTER, targetkan pemulihan ke $1,00.
Borongan paus dongkrak CHZ 30%, incar target $0,066.
AXS melonjak 213% berkat whales, namun rawan aksi untung.
Deposit & Trade $AT! Rebut Total Hadiah Rp100 JUTA
Tokonauts baru yuk merapat!!👋 Ada hadiah spesial yang nungguin kamu nih🔥
Cukup deposit & trade $AT sekarang, kamu bisa rebut total hadiah hingga Rp100 JUTA* lho!! 🚀
Yuk deposit & trade sekarang sebelum periodenya habis! 🤩
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Seiring dengan memasuki kuartal terakhir (Q4) 2024, ada sejumlah faktor positif yang diprediksi akan mendorong pasar kripto, khususnya Bitcoin (BTC).
Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha menjelaskan Bitcoin telah diperdagangkan dalam kisaran US$ 52.000 hingga US$73.750 dalam tujuh bulan terakhir. BTC juga telah kembali ke tren bullishnya di mana mendekati level US$ 70.000.
“Walaupun sempat stagnan di kuartal ketiga dengan kenaikan moderat 0,96%, tren historis menunjukkan bahwa kuartal keempat biasanya menjadi periode bullish bagi Bitcoin,” ujar Panji, dalam keterangan tertulis, Kamis (24/10/2024).
Beberapa katalis positif yang berperan penting mendorong pasar kripto adalah:
1. ETF Bitcoin
Salah satu perkembangan signifikan yang mendukung pasar Bitcoin adalah perdagangan Exchange Traded Funds (ETF) Bitcoin Spot yang mengalami lonjakan besar. Dikutip dari SoSo Value, total net asset dari seluruh ETF Bitcoin Spot di AS mencapai US$ 65,12 miliar, atau 4,88% dari kapitalisasi pasar Bitcoin.
“Meski baru mulai diperdagangkan pada 11 Januari 2024, ETF BTC spot ini menjadi alat penting yang memperkuat sentimen bullish ke depan, memperluas akses investor institusional ke Bitcoin,” kata Panji.
2. Pemilu Presiden AS
Pemilihan Presiden Amerika Serikat yang akan berlangsung pada 4 November 2024 mendatang juga menjadi faktor penting. Kedua kandidat besar, baik Donald Trump maupun Kamala Harris, mendukung perkembangan aset kripto. Oleh karena itu, hasil pemilu diharapkan tidak akan berdampak negatif pada regulasi kripto.
3. Kebijakan Suku Bunga Federal Reserve (FED)
Kebijakan moneter AS dengan pemangkasan suku bunga oleh FED membawa dampak positif bagi aset kripto seperti Bitcoin. Setelah penurunan suku bunga sebesar 50 basis poin pada bulan September, spekulasi pasar memperkirakan pemotongan tambahan sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC di bulan November. Hal ini berpotensi mendukung tren bullish Bitcoin hingga akhir tahun 2024.
Akankah Bitcoin Berpotensi New ATH Menjelang Akhir Tahun?
Banyak investor optimistis bahwa Bitcoin bisa mencapai US$ 100.000 di penghujung 2024. Dilihat secara historis, pada Q4 periode 2013-2023, secara rata-rata Bitcoin ditutup di angka 81%. Pada kuartal keempat 2023, BTC ditutup naik sebesar 56,9%.
“Jika pola serupa terjadi, ada potensi Bitcoin mencapai level tertinggi baru atau All-Time High (ATH), di atas US$ 73.750 dengan target kami di kisaran US$ 90.000-US$100.000 menjelang akhir tahun 2024,” pungkasnya.
Disclaimer: Investasi aset kripto mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Kripto membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli aset kripto.
Harga aset kripto berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat mencatat level indeks sebesar 315,493 untuk November 2024, meningkat 2,7% dari sebelumnya 2,6% pada bulan Oktober. Angka ini mencerminkan kenaikan harga barang dan jasa yang biasa dikonsumsi masyarakat.
Kenaikan ini juga menjadi salah satu aspek potensial pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh Federal Reserve dalam pertemuan FOMC mendatang.
Selain itu, dampak positif dari data tersebut mulai terlihat di pasar aset kripto. Bitcoin (BTC), yang sebelumnya sempat berfluktuasi, kembali menunjukkan pemulihan signifikan. Saat berita ini ditulis pada 12 September 2024, harga Bitcoin berada di sekitar US$100,000, naik sekitar 2,6% dalam 24 jam terakhir.
Altcoin teratas seperti Ethereum mencatatkan lonjakan harga 7,2% dalam 24 jam, XRP 4,7%, dan Solana 5,2%.
Kenaikan harga Bitcoin juga diiringi oleh Fear and Greed Index pasar kripto yang berada di angka 76 dari 100, menunjukkan dominasi sentimen “greed” atau optimisme yang kuat. Jika tren ini berlanjut, tidak menutup kemungkinan bahwa Bitcoin akan menembus level psikologis di atas US$104.000, melampaui rekor tertingginya yang tercatat minggu lalu.
Perkembangan ini menunjukkan bagaimana dinamika makroekonomi global memiliki pengaruh besar terhadap pasar kripto. Dengan prospek pemotongan suku bunga dan momentum positif di pasar, Bitcoin dan aset kripto lainnya memiliki peluang besar untuk melanjutkan tren kenaikan dalam beberapa minggu ke depan.
CEO INDODAX Oscar Darmawan, mengomentari dampak data inflasi ini terhadap pasar kripto. “Data CPI yang sesuai ekspektasi telah memberikan angin segar bagi pasar, tidak terkecuali aset kripto. Selain itu optimisme terhadap kebijakan suku bunga yang lebih longgar dari Federal Reserve dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya ke depan,” ujar Oscar.
Menurut Oscar, kenaikan harga Bitcoin baru-baru ini juga mencerminkan minat institusional yang meningkat. “Investor institusional mulai memahami peran Bitcoin dalam portofolio mereka, menunjukkan pergeseran perspektif terhadap pasar keuangan tradisional,” ujar Oscar dalam keterangannya, Jumat (13/12/2024).
Oscar juga menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap kripto. “Ketika semakin banyak orang memahami manfaat Bitcoin dan teknologi blockchain, tingkat adopsi akan tumbuh secara alami,” jelasnya.
Ia juga mencatat bahwa pemotongan suku bunga oleh The Fed dapat mendukung tren kenaikan aset berisiko seperti Bitcoin. “Dengan meningkatnya likuiditas di pasar, Bitcoin memiliki peluang besar untuk melanjutkan penguatannya. Selain itu, Fear and Greed Index, yang saat ini berada di angka 76, dapat menjadi indikator positif. Sentimen greed di pasar menunjukkan optimisme investor, tetapi kita harus tetap waspada terhadap volatilitas yang dapat mempengaruhi stabilitas pasar, karena semakin tinggi kepercayaan terhadap pasar, maka sebagian orang akan melakukan aksi jual,” sarannya.
Ia juga menyoroti peran teknologi blockchain sebagai daya tarik utama. “Keamanan dan transparansi yang ditawarkan blockchain semakin relevan di tengah ketidakpastian ekonomi global,” kata Oscar.
Melihat prospek ke depan, Oscar percaya Bitcoin memiliki peluang besar untuk mencapai level baru. “Jika data ekonomi terus mendukung dan kebijakan moneter global tetap kondusif, Bitcoin bisa mencetak rekor tertinggi baru,” ujarnya.
Oscar menutup dengan menekankan pentingnya regulasi yang mendukung. “Regulasi yang jelas dan proaktif dapat menciptakan ekosistem yang sehat bagi pertumbuhan aset digital di Indonesia maupun secara global,” ujar dia.
Setelah Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuan 4,50% harga Bitcoin (BTC) berhasil bertahan di atas level $80.000. Keputusan ini memberikan kelegaan bagi investor setelah periode ketidakpastian yang cukup panjang.
Sebelum pengumuman FOMC pada 19 Maret 2025, harga Bitcoin berada di level $82.719, turun 1,61% dibanding hari sebelumnya. Namun, setelah keputusan diumumkan, harga Bitcoin melonjak 5,00% menjadi $86.854.
Ethereum juga mengalami kenaikan signifikan, dari $1.932,54 pada 18 Maret 2025 menjadi $2.057,75 pada 19 Maret 2025, mencatatkan kenaikan sebesar 6,48% setelah sebelumnya hanya menguat tipis 0,29%.
Optimisme investor semakin menguat karena The Fed berencana melakukan dua kali pemangkasan suku bunga pada tahun 2025. Sebelum pengumuman ini, ekspektasi investor terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga relatif rendah, sekitar 1% berdasarkan alat FedWatch dari CME.
CEO INDODAX, Oscar Darmawan, menyatakan bahwa keputusan The Fed ini mencerminkan stabilitas kebijakan moneter yang berdampak positif pada pasar aset kripto. “Stabilitas suku bunga cenderung mendorong investor mencari alternatif investasi dengan potensi pertumbuhan tinggi seperti Bitcoin,” ujar Oscar dalam siaran pers, Minggu (23/3/2025).
Dia menyoroti bahwa proyeksi dua kali pemangkasan suku bunga di tahun 2025 menjadi pendorong utama optimisme pasar. “Dengan ekspektasi suku bunga yang lebih rendah, likuiditas di pasar keuangan cenderung meningkat, yang sering kali berujung pada apresiasi harga aset kripto,” tambahnya.
Lebih lanjut, Oscar menjelaskan bahwa volatilitas harga Bitcoin pasca keputusan FOMC menunjukkan bahwa aset kripto sensitif terhadap kebijakan ekonomi makro. “Investor global kini semakin memandang Bitcoin sebagai alat diversifikasi portofolio yang mampu memberikan perlindungan terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik,” jelasnya.
Di sisi lain, Oscar menilai kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump yang menetapkan tarif 25% terhadap Kanada, Meksiko, China, dan kemungkinan Uni Eropa turut berpotensi memicu inflasi.
“Kenaikan harga barang akibat tarif ini dapat mendorong masyarakat untuk mencari alternatif aset yang dapat mempertahankan daya beli mereka. Bitcoin, sebagai aset terdesentralisasi, bisa menjadi pilihan yang relevan dalam kondisi ekonomi yang penuh tekanan,” jelas Oscar.
Oscar juga mengingatkan bahwa meskipun Bitcoin menunjukkan ketahanan yang baik, investor tetap perlu memperhatikan dinamika ekonomi global. “Dalam kondisi seperti ini, strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) dapat menjadi pendekatan bijak bagi investor ritel untuk menghadapi volatilitas pasar dan memperkuat portofolio investasi mereka,” ujar dia.
Dengan kebijakan moneter yang stabil serta meningkatnya minat terhadap Bitcoin sebagai aset lindung nilai, Oscar Darmawan optimistis bahwa pasar kripto akan terus menunjukkan ketahanan dan potensi pertumbuhan di tahun mendatang.
Pasar kripto anjlok. Harga Bitcoin turun di bawah US$ 105.000 di tengah memanasnya ketegangan geopolitik dan likuidasi besar-besaran di pasar derivatif dan spot,
Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai hal tersebut memberikan tekanan negatif yang luas bagi pasar kripto. Antony menilai penurunan terjadi saat serangan Israel terhadap Iran tengah menjadi pusat perhatian. Hal inilah yang mendorong para investor lebih memilih untuk mencari instrumen yang lebih aman dan menjauh dari risiko.
Berdasarkan data Coinglass, likuidasi mencapai US$1,148 juta, saat berita ini ditulis. Volume perdagangan Bitcoin juga mencapai US$369 miliar. Sementara total kapitalisasi pasar kripto turun 3,38%. Ethereum (ETH) turun 9,5%, XRP turun 5,71%, dan Solana (SOL) turun 10,16%.
Penurunan tersebut memberi sinyal lebih hati-hati bagi pasar, apalagi saat pergerakan saat ini tampak mirip dengan yang terjadi pada Januari 2025.
IIni memang sebuah proses yang normal dan masih sehat di tengah uptrend yang tengah terjadi. Investor tengah melakukan proses pengambilan reposition, sambil menunggu momentum yang lebih matang untuk melangkah lebih jauh,” ujar Antony dalam keterangannya, Jumat (13/6/2025).
Antony juga melihat bahwa proses likuidasi massal saat ini bukan sebuah sinyal negatif yang harus ditakuti. Menurut dia, hal itu justru sebuah pembersihan leverage yang memang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas pasar.
Antony menekankan bahwa investor yang mampu menjaga visi jangka panjang dan mampu melakukan pembelian saat terjadi kepanikan justru dapat memperoleh peluang yang lebih besar.
“Ini seperti proses detoksifikasi. Pasar tengah membersihkan posisi yang dianggap overleveraged sehingga nantinya pergerakan lebih sehat dan lebih matang saat terjadi rebound. Ketidakpastian memang selalu menjadi tantangan, tapi juga peluang, jika kita mampu belajar dan menjaga mental yang matang saat terjadi gejolak di pasar,” tambah Antony
Lebih lanjut, proses likuidasi juga terjadi seiring proses adopsi yang terus meluas dan perbaikan aspek teknologi yang tengah terjadi di ekosistem kripto. Selain tekanan dari likuidasi dan pola pergerakan yang serupa, Bitcoin juga tengah terhimpit oleh kondisi makroekonomi, yaitu peluang penurunan suku bunga The Fed yang kian menipis.
The FedWatch tool mencatat bahwa probabilitas untuk terjadi penurunan suku bunga saat pertemuan FOMC 18 Juni 2025 mencapai 0%. Investor tengah meletakkan probabilitas lebih besar (99,8%) bahwa The Fed akan menahan tingkat bunga saat pertemuan tersebut.
Selain Fed dan inflasi, investor juga tengah mencermati rilis data Producer Price Index (PPI) AS pada 12 Juni 2025. Indeks harga konsumen (CPI) AS tercatat 2,4%. Rilis data PPI tersebut juga berpotensi menambah tekanan negatif bagi pergerakan Bitcoin.
Antony juga mengimbau investor untuk belajar lebih mandiri, melakukan riset, dan memahami instrumen yang dibelinya, bukan hanya berdasarkan rumor atau pergerakan sesaat.
“Ini saatnya melakukan due diligence, mencari peluang yang sesuai dengan visi dan toleransi risiko masing-masing, sehingga dapat mencapai tujuan investasi yang lebih matang dan maksimal,” tambah Antony.
Antony juga menekankan bahwa penurunan saat ini bukan sebuah kiamat. Dia menilai kondisi ini menjadi proses penting yang harus dilalui sebelum momentum positif selanjutnya tiba.
“Ini adalah proses yang harus dibarengi dengan kesabaran, kedewasaan, dan visi jangka panjang. Dengan memahami apa yang terjadi dan belajar darinya, para investor dapat lebih siap dan lebih unggul di tengah tantangan yang tengah terjadi di pasar kripto saat ini,” jelas dia.
Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’: