Tag: gunung

  • 8 Wisata Edukasi di Jember, Cocok untuk Liburan Sambil Belajar



    Jakarta

    Ingin liburan ke Jember? Temukan informasi lengkap tentang wisata Jember di situs web jembertourism.com agar pengalaman traveling Anda menyenangkan.

    Jember tidak hanya menyajikan pantai yang indah atau wisata kuliner yang menggugah selera. Tidak hanya dikenal dengan keindahan alam dan budayanya, Jember juga menyajikan berbagai destinasi wisata edukasi yang menarik.

    Jember memiliki beragam destinasi wisata edukasi yang cocok untuk semua usia, mulai dari taman botani yang asri, museum bersejarah, hingga pusat penelitian inovatif. Tempat-tempat ini memberikan pembelajaran yang menyenangkan bagi pengunjung dari berbagai kalangan.


    Mari jelajahi 8 wisata edukasi di Jember yang membuat liburan lebih berkesan dan bermanfaat.

    1. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka)

    Sebagai pusat penelitian terbesar di Asia Tenggara dalam bidang ini, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (PPKK) di Jember tidak hanya menjadi laboratorium riset bagi para ilmuwan, tetapi juga bagi wisatawan yang ingin belajar tentang budidaya dan pengolahan kopi serta kakao.

    Wisatawan dapat mengikuti tur perkebunan untuk melihat langsung bagaimana tanaman kopi dan kakao dibudidayakan, mulai dari proses pembibitan, perawatan, hingga panen. Terdapat juga fasilitas pengolahan agar wisatawan dapat menyaksikan langsung tahapan pasca-panen, seperti fermentasi biji kakao dan pengolahan kopi dari biji hingga menjadi bubuk siap seduh.

    Di area ini juga terdapat ruang edukasi yang menampilkan berbagai inovasi teknologi dalam industri kopi dan kakao. Bahkan, wisatawan juga bisa mengikuti sesi cupping atau mencicipi berbagai jenis kopi dan cokelat sehingga berwisata di tempat ini tidak hanya informatif, tetapi juga menyenangkan.

    2. Kampung Batja

    Destinasi wisata ini berfokus pada penguatan budaya literasi di Jember. Tempat ini dirancang sebagai ruang baca terbuka yang mengajak masyarakat, khususnya anak-anak, untuk lebih mencintai buku dan dunia literasi.

    Berlokasi di Kecamatan Patrang, Kampung Batja menyediakan koleksi buku yang bisa diakses secara gratis. Selain itu, terdapat program menarik seperti kelas menulis, diskusi buku, serta kegiatan mendongeng yang melibatkan para relawan dan komunitas literasi setempat.

    Kampung Batja juga memiliki ruang kreatif untuk berbagai kegiatan seni, seperti menggambar, mewarnai, dan pertunjukan teater kecil yang bertujuan untuk meningkatkan imajinasi dan kreativitas anak-anak.

    3. Kebun Teh Gunung Gambir

    Destinasi berikut ini menawarkan pengalaman belajar proses budidaya dan pengolahan teh. Terletak di ketinggian sekitar 900-1.200 mdpl, pengunjung dapat mengikuti tur kebun untuk melihat langsung cara pemetikan daun teh yang benar, proses pengeringan, hingga pengolahan menjadi teh siap seduh.

    Tersedia pula fasilitas rumah produksi yang memperkenalkan berbagai jenis teh dengan metode penyeduhan terbaik.

    4. Jember Mini Zoo

    Kebun binatang mini ini menghadirkan berbagai hewan, mulai dari unggas, reptil, hingga mamalia. Bukan hanya dapat melihat satwa dari dekat, Anda juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan beberapa hewan jinak melalui sesi feeding atau pemberian makan.

    Jember Mini Zoo juga memiliki berbagai fasilitas pendukung seperti taman bermain, area piknik, serta spot foto bertema alam. Tempat ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, anak-anak dapat bermain sambil mengenal lebih jauh tentang keanekaragaman fauna.

    5. Taman Botani Sukorambi

    Terletak di lereng perbukitan, taman ini memiliki lebih dari 300 jenis tanaman obat, buah-buahan, serta tanaman hias yang bisa dipelajari oleh pengunjung. Taman ini menyediakan berbagai wahana, seperti kolam renang, rumah kelinci, dan area permainan edukatif untuk anak-anak.

    6. Museum Tembakau

    Museum ini menampilkan koleksi artefak, seperti alat pengolahan tembakau, dokumen sejarah, serta berbagai jenis daun tembakau khas Jember, termasuk tembakau Na Oogst (berasal dari bahasa Belanda yang berarti ‘setelah panen’) yang terkenal di pasar internasional.

    Pengunjung dapat belajar tentang proses budidaya, panen, hingga pengolahan tembakau menjadi produk jadi. Terdapat pula ruang penelitian yang memperlihatkan inovasi dalam industri tembakau.

    7. Kampung Wisata Belajar Tanoker

    Terkenal dengan permainan egrang, kampung ini sering mengadakan festival untuk melestarikan budaya lokal dan memperkenalkan aktivitas kreatif kepada anak-anak. Pengunjung dapat mengikuti berbagai workshop, seperti kerajinan tangan dan kuliner khas desa.

    8. Desa Wisata Kemiri

    Berada di Kecamatan Panti, desa ini menawarkan pengalaman menyeluruh tentang dunia perkopian, mulai dari proses budidaya, panen, hingga pengolahan biji kopi. Pengunjung dapat mengikuti tur perkebunan, menyaksikan teknik pemetikan kopi yang tepat, serta belajar mengenai metode pengolahan pasca-panen seperti fermentasi dan penjemuran.

    Desa ini juga memiliki Usaha Kecil Menengah (UKM) yang mengolah kopi menjadi berbagai produk, seperti bubuk kopi khas Jember yang siap diseduh. Terdapat berbagai kegiatan menarik, seperti workshop menyeduh kopi dengan teknik manual brewing, serta sesi mencicipi berbagai varian rasa kopi yang dihasilkan desa ini.

    Dengan mengunjungi destinasi-destinasi tersebut, Anda tidak hanya mendapatkan hiburan tetapi juga pengetahuan yang bermanfaat. Tunggu apalagi? Yuk, rencanakan liburan edukatif di Jember bersama keluarga tercinta!

    (anl/ega)



    Sumber : travel.detik.com

  • Mengulik Gunung Haruman Garut, Keindahan Alam dan Sejarah di Baliknya


    Jakarta

    Lebih dari sekadar puncak yang menawarkan panorama Garut dari ketinggian, Gunung Haruman adalah persimpangan antara keindahan alam dan jejak sejarah Islam. Di sinilah, para pencari ketenangan mendaki dan para peziarah menemukan kedamaian di makam-makam tokoh suci.

    Berikut fakta dan hal-hal menarik lainnya seputar Gunung Haruman di Garut:

    1. Punya Pemandangan yang Indah

    Gunung ini memiliki pemandangan yang bisa memanjakan mata. Mulai dari view hijau sejauh mata memandang, Garut dari ketinggian, hingga udara segar.

    “Kami bangun dan menikmati pemandangan sunrise yang sangat indah di hari baru dan tak lupa menikmati kopi. Kami mengabadikan keindahan dengan berfoto foto sambil menikmati awan yang semakin terang semakin terbuka,” ujar salah satu pengalaman dTraveler Faulla Bagus Mauluddin saat menjajaki Gunung Haruman Garut, dikutip dari catatan detikTravel yang tayang pada 3 Agustus2023.


    Selain itu, Gunung ini juga kerap kali dijadikan sebagai lokasi wisata paralayang oleh pegiat alam bebas.

    2. Dianggap Jadi Lokasi Pusat Penyebaran Islam Di Garut

    Mengutip informasi dari media lokal Garut, Gunung Haruman merupakan gunung yang awalnya berasal dari nama sebuah tempat bernama Ciharuman. Konon, tempat itu menjadi lokasi pusat penyebaran Islam di Garut oleh seorang wali bernama Embah Wali Jafar Sidik.

    Mengutip buku Sejarah Pesantren: Jejak, Penyebaran, dan Jaringannya di Wilayah Priangan oleh Ading Kusdiana, berdasarkan informasi dari tradisi lisan yang berkembang di kalangan masyarakat Garut, Sunan Jafar Sidiq merupakan penyebar Islam di wilayah Garut Utara, khususnya di wilayah Cibiuk dan Limbangan.

    Ia diperkirakan hidup antara akhir abad ke- 17 dan awal abad ke-18. Di kalangan masyarakat Garut, sosok ini dikenal juga dengan nama Embah Wali Jafar Sidik dan Sunan Haruman.

    3. Ada Makam Tokoh Agama

    Terdapat 3 makam tokoh agama yang dirawat oleh pihak pengelola di Gunung Haruman. Ketiga makam tersebut adalah makam Syekh Jafar Asidiq, Syekh Maulana Malik Ibrahim, dan makam Nyai Fatimah.

    Sampai sekarang, masyarakat masih banyak yang sengaja berziarah ke makam-makam yang ada di Gunung Haruman.

    (khq/fds)



    Sumber : travel.detik.com

  • Ini 10 Destinasi Liburan Menarik di Palangkaraya, Cocok bagi Pencinta Alam



    Jakarta

    Palangkaraya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, merupakan salah satu destinasi liburan yang menarik di Indonesia. Terkenal dengan keindahan alamnya yang masih asri dan budaya yang kaya, kota ini menawarkan berbagai pilihan tempat wisata yang cocok bagi para pecinta alam, petualangan, dan budaya.

    Berikut adalah beberapa destinasi liburan yang wajib dikunjungi ketika berlibur di Palangkaraya.

    1. Taman Nasional Sebangau


    Taman Nasional Sebangau merupakan salah satu kawasan konservasi hutan rawa yang terletak di Palangkaraya. Dikenal sebagai rumah bagi satwa liar seperti orangutan, beruang madu, dan berbagai jenis burung, taman nasional ini menawarkan pengalaman wisata alam yang luar biasa.

    Anda bisa melakukan trekking menyusuri hutan rawa dan menikmati keindahan alam sambil mengamati satwa liar di habitat aslinya. Taman ini juga menjadi tempat yang cocok bagi para pengamat burung dan pecinta fotografi alam.

    2. Bukit Tangkiling

    Bukit Tangkiling adalah destinasi wisata yang menawarkan panorama alam yang memukau. Terletak sekitar 25 km dari pusat kota Palangkaraya, bukit ini memberikan pemandangan hutan tropis Kalimantan yang sangat menawan.

    Di puncaknya, pengunjung dapat menikmati pemandangan Kota Palangkaraya dan sekitarnya. Bukit Tangkiling juga terkenal dengan tradisi adat Dayak yang masih dijaga oleh masyarakat sekitar, menjadikannya tempat yang menarik untuk belajar tentang budaya lokal.

    3. Kuala Kurun

    Kuala Kurun adalah ibu kota Kabupaten Gunung Mas yang terletak sekitar 100 km dari Palangkaraya. Kawasan ini dikenal dengan keindahan alamnya yang masih sangat alami.

    Jika Anda tertarik dengan wisata alam yang lebih tenang dan jauh dari keramaian, Kuala Kurun adalah pilihan yang tepat. Anda dapat menikmati pemandangan sungai, hutan tropis, dan budaya lokal suku Dayak yang khas.

    4. Danau Tahai

    Danau Tahai adalah sebuah danau alami yang terletak sekitar 20 km dari Palangkaraya. Danau ini dikelilingi oleh hutan rawa yang memberikan kesan tenang dan damai.

    Anda bisa menikmati kegiatan seperti perahu dayung atau sekadar menikmati keindahan alam sambil duduk di tepi danau. Keindahan Danau Tahai sangat cocok untuk wisatawan yang mencari ketenangan dan kedamaian di alam.

    5. Pusat Budaya Dayak

    Kalimantan Tengah, khususnya Palangkaraya, adalah rumah bagi suku Dayak yang memiliki budaya yang kaya dan unik. Di Palangkaraya, Anda bisa mengunjungi Pusat Budaya Dayak yang terletak di kawasan Tangkiling.

    Di sini, pengunjung bisa belajar tentang tradisi, adat istiadat, dan kerajinan tangan suku Dayak. Anda juga bisa menyaksikan berbagai pertunjukan seni tradisional Dayak yang menggambarkan kehidupan mereka sehari-hari.

    6. Cultural Park Palangkaraya

    Cultural Park Palangkaraya adalah sebuah taman budaya yang memiliki berbagai fasilitas untuk wisatawan. Di tempat ini, pengunjung bisa menikmati berbagai atraksi budaya, mulai dari pertunjukan seni, pameran kerajinan tangan, hingga acara tradisional yang menggambarkan kekayaan budaya masyarakat Kalimantan Tengah. Taman ini juga sering menjadi tempat untuk acara-acara besar, seperti festival seni dan budaya.

    7. Sungai Kahayan

    Sungai Kahayan adalah sungai terbesar di Kalimantan Tengah yang mengalir melalui Palangkaraya. Sungai ini sangat penting bagi kehidupan masyarakat setempat dan menawarkan pemandangan yang indah.

    Anda bisa menyewa perahu untuk berkeliling sungai, menikmati keindahan alam sekitar, dan merasakan kesejukan angin sungai. Sungai Kahayan juga menjadi jalur transportasi utama bagi masyarakat lokal, sehingga Anda dapat melihat kehidupan sehari-hari masyarakat setempat di sepanjang sungai.

    8. Masjid Raya Palangkaraya

    Masjid Raya Palangkaraya adalah salah satu masjid terbesar dan terindah di Kalimantan Tengah. Masjid ini memiliki arsitektur yang megah dengan desain yang memadukan gaya modern dan tradisional. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Masjid Raya juga menjadi salah satu ikon kota Palangkaraya yang wajib dikunjungi.

    9. Hutan Kota Palangkaraya

    Hutan Kota Palangkaraya adalah ruang hijau yang terletak di pusat kota. Tempat ini sangat cocok untuk berolahraga, berjalan-jalan santai, atau sekadar menikmati udara segar di tengah kota. Hutan Kota Palangkaraya juga menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna lokal, menjadikannya tempat yang menyenangkan untuk bersantai sambil menikmati keindahan alam kota.

    10. Jembatan Kahayan

    Jembatan Kahayan adalah salah satu ikon utama Palangkaraya yang menghubungkan kedua sisi Sungai Kahayan. Dengan panjang lebih dari 700 meter, jembatan ini menjadi jalur utama transportasi di kota ini dan sekaligus menjadi tempat yang ideal untuk menikmati pemandangan sungai dan kota dari ketinggian. Pada malam hari, Jembatan Kahayan terlihat sangat indah dengan cahaya lampu yang memantul di permukaan sungai.

    Palangkaraya menawarkan berbagai macam destinasi wisata yang bisa memuaskan hasrat liburan Anda, mulai dari wisata alam yang menakjubkan! Ikuti dan menangkan liburan ke Palangkaraya dengan Jerome Polin di sini. Jangan lupa untuk menjelajahi keindahan alam Palangkaya dengan booking tiketnya di BookCabin.

    (akn/ega)





    Sumber : travel.detik.com

  • Tak Ada yang Tahu Siapa Pendirinya



    Lombok Timur

    Ada sebuah masjid tua di Lombok Timur yang punya misteri. Tidak ada orang yang tahu siapa pendiri masjid tersebut. Kok bisa?

    Masjid Songak merupakan situs budaya di Desa Songak, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Warga menyebutkan sebagai masjid bengan (tua).

    Sebutan itu bukan tanpa alasan. Sebab, Masjid Tua Songak telah berdiri sejak lama. Bahkan, masjid itu telah ada sebelum masyarakat di Desa Songak bermukim.


    Walhasil, tidak satu pun masyarakat desa setempat yang mengetahui waktu pendirian masjid tersebut.

    “Pada dasarnya semua orang di Desa Songak ini tidak tahu persis kapan didirikan masjid ini,” ungkap Murdiyah, salah satu tokoh lembaga adat di Desa Songak, ketika ditemui di pelataran Masjid Tua Songak, Minggu (23/3/2023).

    Sampai saat ini, belum ada bukti maupun catatan sejarah mengenai waktu dan tokoh yang mendirikan Masjid Tua Songak. Maka dari itu, waktu pendirian dan sosok yang membangun masjid itu belum terungkap.

    Saat ditemukan, di dalam masjid hanya terdapat beberapa benda, seperti tombak dan juga gulungan berisi teks khotbah. Berbagai benda yang dianggap bersejarah itu hingga kini masih disimpan di Masjid Tua Songak.

    Namun, menurut Murdiyah, beberapa sumber dari hasil penelitian para akademisi mengungkapkan keberadaan masjid tersebut telah ditemukan 30 tahun sebelum Gunung Samalas meletus. Menurut catatan sejarah, Gunung Samalas meletus pada tahun 1.258 Masehi.

    Murdiyah juga menuturkan asal muasal keberadaan Desa Songak. Salah satu desa di Pulau Lombok ini pertama kali ditempati seorang tokoh bernama Guru Kodan yang berasal dari Jurang Koak.

    “Konon Guru Kodan ini asalnya dari Desa Leaq atau dikenal dengan Desa Pamatan, beliau dan pengikutnya awalnya dahulu mengungsi ke Jurang Koak karena letusan Gunung Samalas,” tutur Murdiyah.

    Guru Kodan dan pengikutnya mendatangi Desa Songak dan menemukan Masjid Kuno Songak. Sejak saat itulah Guru Kodan dan pengikutnya menetap di desa tersebut.

    Masjid Sudah Direnov Berulang Kali

    Masjid Tua Songak sudah dilakukan beberapa kali direnovasi. Tujuannya supaya bisa dimanfaatkan untuk beribadah oleh masyarakat desa setempat.

    Pantauan detikBali, beberapa struktur bangunan sudah dilakukan perbaikan, seperti lantai masjid yang dipasangi keramik dan bagian atap dari ilalang sudah dilakukan peremajaan. Bangunan masjid juga mengalami perluasan di area teras agar bisa menampung jemaah lebih banyak.

    “Ada sebuah kaidah Nahdlatul Ulama yang mengatakan peliharalah apa adanya dan manfaatkanlah sebagaimana fungsinya, jadi ini yang kami pegang selama ini,” terang Murdiyah.

    Situs Budaya Masjid Tua Songak di Desa Songak, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, NTB, tampak dari halaman depan, Minggu (23/3/2025). (Sanusi Ardi W/detikBali)Situs Budaya Masjid Tua Songak di Desa Songak, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, NTB (Sanusi Ardi W/detikBali)

    Berdasarkan kaidah itu, tutur Murdiyah, masyarakat Desa Songak melakukan pemeliharaan bangunan masjid dan menggunakan sebagaimana fungsinya, yakni sebagai fasilitas untuk beribadah. “Jadi ini tujuan kami merehabnya supaya bisa digunakan untuk beribadah,” ungkapnya.

    Meski berulang kali direhabilitasi, beberapa keaslian bentuk bangunan masih dipertahankan. Salah satunya empat tiang yang menjadi penyangga di dalam areal masjid. Luas masjid juga masih dipertahankan sampai sekarang, yakni 9×9 meter persegi.

    “Itu kami tidak boleh ubah. Sampai sekarang ukurannya tetap sama, yaitu 9×9 meter. Kalau di bagian atap itu sudah diperbaiki 15 tahun sekali. Begitu juga dengan lantainya, kami pasang keramik supaya masyarakat nyaman beribadah,” ungkap Murdiyah.

    3 Ritual Adat di Masjid Tua Songak

    Terdapat tiga ritual khusus di Masjid Tua Songak, yaitu Ritual Bubur Beaq yang dilaksanakan pada Muharram, Bubur Puteq pada Safar, dan Maulid Adat pada Rabiul Awal. Bubur Puteq dilaksanakan seperti ritual batiniah, yaitu zikir dan doa.

    Sementara Bubur Beaq adalah ritual khusus bagi orang-orang yang lahir pada Safar. “Mereka ke sini biasanya mengambil air untuk diminum setelah zikir dan doa supaya sifat-sifat buruk pada dirinya bisa hilang,” jelas Murdiyah.

    Kemudian, Mulud Adat dilakukan pada 12 Rabiul Awal, tepat saat kelahiran Rasulullah SAW. Sesuai keyakinan masyarakat setempat, orang-orang beramai-ramai untuk membuat Minyak Songak, obat yang terkenal manjur di Lombok.

    Proses pembuatannya dilakukan secara tradisional dan dikerjakan selama satu malam suntuk sebelum matahari terbit.

    “Setelah Minyak Songak ini selesai dibuat oleh masyarakat di tempatnya masing-masing, barulah keesokan harinya mereka membawanya ke masjid untuk dibacakan doa dan zikir oleh para tokoh adat dan tokoh agama,” tutur Murdiyah.

    Tak hanya minyak, masyarakat Desa Songak yang memiliki senjata pusaka juga dibawa ke masjid untuk dimandikan air kembang atau yang disebut ‘wukuf’.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikBali.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • 9 Fakta Menarik Dieng, Negeri Para Dewa-Tempat Anak Bajang


    Jakarta

    Dataran tinggi Dieng termasuk destinasi primadona banyak wisatawan. Alamnya yang memukau bikin siapa saja yang berkunjung jatuh hati.

    Jajaran perbukitan yang membentang sepanjang sisi utara dan selatan, danau yang menawan, hingga view sunrise yang elok akan menyambut para pelancong. Budaya lokalnya yang lestari juga menjadikan Dieng semakin memikat.

    Tertarik berkunjung ke dataran tinggi satu ini? Simak dulu deretan fakta atau keistimewaan Dieng berikut.


    Fakta Menarik Dataran Tinggi Dieng

    Mulai dari lokasinya yang berada di dua kabupaten, wilayahnya ‘dituruni’ salju, hingga sederet julukan, berikut daftar fakta unik Dieng, dikutip dari pemberitaan detikcom dan laman Desa Dieng Kejajar:

    1. Terletak di Dua Kabupaten

    Meski dikenal berada di Wonosobo, sebagian kawasan Dieng sebetulnya juga masuk ke wilayah Banjarnegara. Keduanya merupakan kabupaten di Jawa Tengah. Bagian barat Dieng terletak di Banjarnegara dan bagian timurnya di Wonosobo.

    2. Dikelilingi Pegunungan

    Pemandangan alam di Dieng, dataran tinggi yang terletak antara Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah menakjubkan. Belum lagi aneka peninggalan bersejarah seperti candi di Dieng ini menjadi daya tarik tersendiri.Deretan pegunungan di Dieng, dataran tinggi yang terletak antara Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah. (Arbi Anugrah)

    Penamaan Dieng kerap disandingkan dengan sebutan ‘dataran tinggi’ sebab topografinya yang pegunungan. Kawasan itu dikelilingi oleh Gunung Prau, Pangonan, dan Pakuwojo. Lokasinya juga berdekatan dengan si kembar Gunung Sindoro dan Sumbing.

    3. Tempat ‘Bersemayamnya’ Para Dewa

    Nama Dieng berasal dari bahasa Sanskerta ‘Die Hieyang’ yang artinya indah dan langka. Dieng juga terdiri dari dua suku kata; ‘Di’ dan ‘Hyang’. ‘Di’ memiliki arti gunung atau tempat tinggi, dan ‘Hyang’ diartikan sebagai dewa-dewi atau ruh leluhur. Secara harfiah, nama Dieng berarti pegunungan atau tempat persemayaman para dewa.

    4. Dijuluki ‘Negeri di Atas Awan’

    Kawasan Dieng berada di ketinggian rata-rata 2.090 mdpl (meter di atas permukaan laut). Lokasinya juga dikelilingi pegunungan yang membuat pemandangan samudra awan tak jarang ditemukan, bahkan terlihat jelas oleh mata. Oleh karena itu, dataran tinggi Dieng kerap disebut ‘Negeri di Atas Awan’.

    5. Ada Desa Tertinggi di Pulau Jawa

    Di Dieng ada Desa Sembungan yang disebut sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa. Berada di ketinggian 2.300 mdpl, desa ini menawarkan panorama menawan dengan hamparan sawah berundak dan latar perbukitan hijau yang diselimuti kesejukan udara pegunungan. Pesonanya yang memikat berhasil menyabet gelar salah satu Desa Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.

    6. Wilayah ‘Bersalju’

    Kain lap diletakkan di kompleks Candi Arjuna, Dieng, berubah menjadi kaku atau membeku, Jumat (21/6/2024) pagi.Dieng ‘bersalju’ (Uje Hartono/detikJateng)

    Kabar dataran tinggi Dieng diselimuti ‘salju’ pada beberapa tahun silam sempat menyita perhatian publik. Nyatanya, salju di Dieng disebabkan oleh fenomena embun es (frost).

    Mengutip situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena embun es terjadi ketika suhu udara sangat dingin dan embun yang terkondensasi membeku. Alhasil, lapisan es akan muncul dan menutupi tumbuhan serta permukaan tanah.

    Ada kemungkinan fenomena frost terjadi di wilayah dataran tinggi seperti Dieng saat beberapa kondisi cuacanya terpenuhi. Fenomena Dieng ‘bersalju’ ini dapat terjadi pada musim kemarau (Juni-Oktober) dan berlangsung selama waktu terbatas.

    7. Terdapat 22 Kawah

    Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), terdapat 22 kawah di seluruh kawasan Dieng. Kawah ini tersebar di Gunung Api Dieng, Banjarnegara, area Wonosobo, dan Kabupaten Batang.

    Delapan kawah di Gunung Api Dieng antara lain Kawah Timbang, Kawah Sinila, Kawah Sigludug, Kawah Sileri, Kawah Condrodimuko, Kawah Sikidang, Kawah Sibanteng, dan Kawah Bitingan.

    Empat kawah di Wonosobo yaitu Kawah Sikidang, Kawah Sikunang, Kawah Pulosari, dan Kawah Pakuwojo. Serta lima kawah di Kabupaten Batang; Kawah Sibanger, Kawah Wanapria, Kawah Wanasida, Kawah Siglagah, dan Kawah Pagerkandang.

    Kawah Timbang, Sinila, dan Sikidang disebut berpotensi mengeluarkan gas beracun. Untuk Kawah Timbang, statusnya punya peluang berkembang menjadi berbahaya.

    8. Punya Deretan Candi

    Kompleks Candi Arjuna di Dieng, yang merupakan lokasi gelaran DCF 2022.Kompleks Candi Arjuna di Dieng (Uje Hartono/detikJateng)

    Dieng sebagai tempat bersemayam para dewa, telah lama menjadi lokasi peribadatan masyarakat Hindu. Hal ini diketahui lewat beberapa candi beraliran Hindu Siwa yang ditemukan di dataran tinggi tersebut.

    Deretan candi di Dataran Tinggi Dieng adalah Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Gatotkaca, Dwarawati, dan Bima. Nama delapan candi ini berasal dari para tokoh dalam kisah Bharatayuddha. Di candi inilah, masyarakat Hindu ketika itu beribadah pada dewa yang dikenal sebagai Trimurti.

    9. Anak Bajang Berambut Gimbal

    Bocah atau anak bajang adalah warisan budaya khas di Dataran Tinggi Dieng. Para anak bajang ini memiliki rambut gimbal panjang yang hanya bisa dipotong setelah melewati ruwatan. Dikutiip dari situs Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, prosesi ini bisa disaksikan selama Dieng Culture Festival.

    Anak bajang dipercaya merupakan titisan leluhur Dieng, yaitu Kyai Kolodethe untuk laki-laki dan Nyai Dewi Roro Ronce bagi perempuan. Sebelum ruwatan untuk memotong rambut gimbal tersebut, anak bajang biasanya memiliki permintaan yang dituruti orang tua atau lingkungan sekitar.

    (azn/row)



    Sumber : travel.detik.com

  • 7 Gunung Tertinggi di Indonesia yang Berjuluk ‘The Seven Summits’


    Jakarta

    Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak pegunungan. Bahkan, beberapa di antaranya memiliki ketinggian hingga lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga dinobatkan sebagai gunung tertinggi di Tanah Air.

    Sebagai informasi, total terdapat 629 gunung di Indonesia dan tujuh di antaranya memiliki puncak tertinggi yang paling fenomenal. Kemudian, ketujuh puncak gunung itu dijuluki sebagai The Seven Summits of Indonesia.

    Adapun sejumlah puncak gunung tertinggi di Indonesia yang menjadi favorit para pendaki, misalnya Gunung Semeru dan Gunung Kerinci. Selain itu, masih ada sejumlah puncak gunung tertinggi di Tanah Air yang tak hanya menarik minat pendaki lokal, tapi juga datang dari mancanegara.


    Penasaran, apa saja tujuh gunung tertinggi di Indonesia yang disebut sebagai The Seven Summits? Simak daftarnya dalam artikel ini.

    7 Gunung Tertinggi di Indonesia

    Mengutip laman Kementerian Kehutanan, tujuh gunung tertinggi di Indonesia merupakan puncak-puncak gunung tertinggi yang mewakili tujuh pulau besar dan wilayah kepulauan di Indonesia. Berikut daftar gunungnya:

    1. Gunung Jayawijaya

    Gunung Jayawijaya merupakan gunung tertinggi di Indonesia. Gunung ini memiliki beberapa puncak, salah satu yang tertinggi adalah Puncak Carstensz dengan ketinggian 4.884 mdpl. Puncak gunung ini tersusun dari karang (limestone) dan bagian puncaknya tertutup oleh salju abadi.

    Gunung Jayawijaya juga terdiri dari sejumlah puncak lainnya yang juga tak kalah tinggi, yakni Puncak Jaya (4.862 mdpl), Puncak Mandala (4.760 mdpl), Puncak Trikora (4.730 mdpl), Puncak Idenberg (4.673 mdpl), Puncak Yasmin (4.535 mdpl), dan Puncak Carstensz Timur (4.400 mdpl).

    Pada 1999, Gunung Jayawijaya menjadi bagian dari Indonesia Seven Summits, menyusul status World Seven Summits yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia. Gunung Jayawijaya sendiri terletak di Provinsi Papua,

    2. Gunung Kerinci

    Gunung Kerinci merupakan gunung tertinggi kedua di Indonesia, sekaligus paling tertinggi di Pulau Sumatera. Gunung yang terletak di perbatasan Kerinci, Provinsi Jambi, dengan Provinsi Sumatera Barat di Kabupaten Solok Selatan, memiliki ketinggian mencapai 3.805 mdpl.

    Gunung Kerinci menyandang status sebagai World Heritage Site dengan kategori Tropical Rainforest Heritage of Sumatera. Gunung tersebut juga dinobatkan sebagai gunung berapi tertinggi di Indonesia serta Asia Tenggara.

    3. Gunung Rinjani

    Gunung Rinjani terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Gunung yang memiliki ketinggian mencapai 3.762 mdpl ini termasuk salah satu yang jadi favorit banyak pendaki.

    Gunung Rinjani termasuk gunung berapi aktif dan memperlihatkan keaktifannya dari kepundan anak gunung yang muncul di tengah kaldera gunung, yaitu Danau Segara Anak.

    4. Gunung Semeru

    Gunung Semeru memiliki ketinggian mencapai 3.676 mdpl. Bagian puncak tertinggi dari gunung ini dikenal dengan nama Mahameru. Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi keempat di Indonesia sekaligus gunung tertinggi di Pulau Jawa.

    Secara administratif, Gunung Semeru termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Gunung ini tergolong gunung berapi aktif dan setiap kurang lebih 20 menit sekali mengeluarkan abu vulkanik berwarna hitam bercampur pasir dan batu-batu kecil.

    5. Gunung Latimojong

    Di daftar berikutnya adalah Gunung Latimojong. Gunung yang terletak di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, ini merupakan sebuah jajaran pegunungan yang terdiri dari beberapa puncak.

    Puncak tertinggi Gunung Latimojong bernama Rante Mario dengan ketinggian mencapai 3.430 mdpl, menjadikannya sebagai tempat tertinggi di Pulau Sulawesi. Sedangkan puncak kedua tertingginya bernama Nenekmori.

    6. Gunung Binaiya

    Gunung Binaiya merupakan gunung tertinggi di Kepulauan Maluku. Terletak di Pulau Seram, Kabupaten Maluku, puncak dari Gunung Binaiya memiliki ketinggian 3.027 mdpl. Gunung Binaiya termasuk gunung non-vulkanologi dan terdiri dari pegunungan karst.

    7. Gunung Raya

    Pulau Kalimantan juga memiliki gunung yang masuk dalam daftar The Seven Summits of Indonesia, yakni Gunung Raya. Gunung yang juga disebut Bukit Raya ini memiliki ketinggian 2.278 mdpl. Lokasi gunung ini berada di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

    Sebenarnya, Pulau Kalimantan memiliki gunung tertinggi, yaitu Gunung Kinabalu. Namun, gunung tersebut berada di bawah kedaulatan negara Malaysia, sehingga tidak bisa dimasukkan dalam kategori Seven Summits Indonesia.

    Itu dia tujuh gunung tertinggi di Indonesia yang masuk dalam daftar The Seven Summits of Indonesia. Tertarik untuk mendaki salah satu gunung tersebut?

    (ilf/fds)



    Sumber : travel.detik.com

  • Daya Tarik dan Harga Tiket Masuk di 2025


    Jakarta

    Kuningan memiliki berbagai tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah Ghiffari Valley. Apabila kamu ingin menghabiskan waktu bersama keluarga atau ingin mengajak main si kecil, tempat ini wajib dikunjungi.

    Saat weekend dan musim liburan, Ghiffari Valley selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik dari warga Kuningan maupun kota lainnya. Harga tiket masuk (HTM) yang terjangkau membuat objek wisata ini tak pernah sepi pengunjung.

    Selain itu, Ghiffari Valley memiliki daya tarik tersendiri jika dibandingkan dengan sejumlah tempat wisata lain di Kuningan. Ingin tahu aktivitas seru yang bisa dilakukan di Ghiffari Valley? Simak ulasan singkatnya dalam artikel ini.


    Daya Tarik Ghiffari Valley

    Ghiffari Valley merupakan rumah makan berkonsep tempat wisata. Tak hanya mencicipi aneka makanan dan minuman yang lezat, pengunjung juga bisa berkeliling sambil mencoba berbagai wahana seru.

    Mengutip catatan detikTravel, ada sejumlah fasilitas di Ghiffari Valley yang menjadi daya tarik tersendiri, mulai dari kolam ikan terapi, kolam pemancingan, taman kelinci, taman burung, hingga kolam renang.

    Lalu, di dalam kawasan Ghiffari Valley juga terdapat taman burung, kebun binatang mini, hingga taman teletubbies. Selain itu, ada juga berbagai wahana yang seru dan menantang untuk orang dewasa, di antaranya flying fox hingga jalan-jalan sambil menaiki kuda.

    Lokasinya yang berada di dekat kaki Gunung Ciremai membuat suasana di Ghiffari Valley terasa sejuk dan segar. Tempat ini sangat cocok bagi travelers yang ingin healing sejenak dari hiruk pikuk perkotaan.

    Fasilitas dan wahana yang ditawarkan membuat Ghiffary Valley menjadi objek wisata ramah anak dan keluarga di Kuningan. Maka tak heran, tempat ini ramai dikunjungi saat akhir pekan dan waktu libur tertentu, seperti libur sekolah atau libur Lebaran.

    Harga Tiket Masuk Ghiffari Valley

    Bagi travelers yang ingin berwisata ke Ghiffari Valley, akan dikenakan tiket masuk per orangnya. Berikut harga tiket masuk (HTM) Ghiffary Valley di 2025:

    • Hari biasa: Rp 20.000/orang
    • Akhir pekan: Rp 15.000/orang.

    Selain itu, pihak pengelola juga menawarkan perjalanan pulang pergi dari Ghiffari Valley ke Lima Kisah Kopi. Setiap pengunjung akan dikenakan tarif sebesar Rp 10.000 untuk pulang pergi.

    Sedikit informasi, Lima Kisah Kopi merupakan kedai kopi yang terletak di Desa Linggasana, Kecamatan Cilimus, Kuningan. Sebenarnya, jarak dari Ghiffari Valley ke kedai kopi tersebut tidak terlalu jauh, kurang lebih sekitar 10 menit saja.

    Selama di Lima Kisah Kopi, travelers bisa menikmati berbagai aneka hidangan yang lezat sambil menikmati pemandangan alam yang indah. Sebab, kedai kopi ini berada di kaki Gunung Ciremai.

    Suasana di Lima Kisah Kopi juga begitu tenang dan menyejukkan. Jadi, kalau detikers butuh ketenangan sambil menyeruput kopi hangat, tempat ini wajib dikunjungi.

    Jam Buka Ghiffari Valley

    Ghiffari Valley buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Bagi travelers yang ingin berwisata, sebaiknya datang sejak pagi hari agar puas berkeliling dan mencoba semua wahana.

    Selain itu, kamu juga bisa mengajak keluarga, saudara, atau pasangan untuk santap siang di restoran Ghiffari Valley. Disarankan datang sejak awal agar kamu bisa mendapatkan meja.

    Lokasi Ghiffari Valley

    Ghiffari Valley terletak di Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Apabila detikers berangkat dari pusat kota Kuningan, jaraknya sekitar 15 kilometer atau 30 menit perjalanan dengan mengendarai mobil.

    Demikian ulasan singkat mengenai Ghiffari Valley, salah satu tempat wisata keluarga dan anak-anak yang terkenal di Kuningan. Jadi, tertarik untuk liburan ke sana?

    (ilf/fds)



    Sumber : travel.detik.com

  • Sejarah Tebing Breksi, Lengkap dengan Fasilitas dan Harga Tiket Masuknya


    Jakarta

    Tebing Breksi merupakan salah satu destinasi wisata alam yang cukup populer di Yogyakarta. Seperti namanya, tempat ini adalah kawasan perbukitan batuan breksi.

    Uniknya, tebing-tebing di sini memiliki pola alami yang menarik dan estetik, menjadikannya daya tarik utama bagi para wisatawan. Simak berikut sejarahnya, lengkap dengan informasi terkait daya tarik, fasilitas, dan harga tiket terkininya.

    Sejarah Tebing Breksi

    Tebing BreksiTebing Breksi Foto: Titry Frilyani/d’traveler

    Tebing Breksi adalah salah satu destinasi wisata alam yang berada di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya berada di bagian selatan Candi Prambanan, dan cukup dekat dengan Candi Ijo serta kompleks Keraton Ratu Boko. Tempat ini terletak tepatnya di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan.


    Dirangkum dari laman Kapanewon Kecamatan Prambanan dan Geopark Jogja, tempat ini dulunya adalah kawasan pertambangan batu breksi. Tebing Breksi mulanya merupakan area tambang batuan yang menjadi mata pencaharian warga sekitar.

    Batuan breksi di lokasi ini terbentuk dari material letusan Gunung Api Nglanggeran yang mengendap selama jutaan tahun. Akhirnya pada tahun 2014, aktivitas tambang dihentikan karena batuan di area ini termasuk batu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran yang perlu dilindungi.

    Penelitian yang dilakukan pada tahun 2014 oleh tim gabungan dari ITB dan UPN mengungkap bahwa batuan di sini termasuk jenis tufan yang langka, sehingga kegiatan penambangan dihentikan.

    Lokasi ini kemudian dikembangkan menjadi tempat wisata, yang pada 30 Mei 2015 secara resmi dibuka oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tebing Breksi kini telah berkembang menjadi destinasi unggulan dari Desa Wisata Dewi Sambi dan ditetapkan sebagai salah satu situs geoheritage di Yogyakarta.

    Bahkan dalam laman Portal Informasi Indonesia, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ke-13, Sandiaga Uno pernah mengatakan Tebing Breksi masuk dalam 50 besar desa wisata terbaik. Keunikan utama Tebing Breksi terletak pada dinding-dinding tebingnya yang kini dihiasi relief dan pahatan karya seniman lokal.

    Mulai dari tokoh pewayangan seperti Arjuna dan Buto Cakil, hingga naga berkepala mahkota, semua memberi sentuhan budaya yang khas. Bekas guratan aktivitas tambang juga menciptakan motif alami di batuan, menjadikan tebing ini tampak artistik.

    Daya Tarik Wisata Tebing Breksi

    Tebing BreksiTebing Breksi. Foto: Titry Frilyani/d’traveler

    Tebing Breksi menyuguhkan pemandangan unik berupa tebing-tebing tinggi dengan tekstur dan pola alami yang terbentuk sejak jutaan tahun lalu. Sisa-sisa pahatan bekas tambang kerap dijadikan latar foto yang menarik, termasuk untuk sesi prewedding.

    Untuk naik ke puncak tebing, pengunjung tak perlu bersusah payah memanjat karena telah tersedia tangga yang dipahat langsung di batu. Dari atas, pengunjung bisa menikmati pemandangan Kota Jogja dari ketinggian.

    Dari atas tebing, pengunjung bisa melihat panorama indah seperti Candi Prambanan, Gunung Merapi, hingga pesawat yang melintas di langit Jogja. Momen matahari terbenam juga jadi favorit wisatawan.

    Selain itu, berkunjung ke Tebing Breksi bisa sekalian mampir ke beberapa tempat menarik di sekitarnya. Terletak di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Tebing Breksi berada tak jauh dari ikon-ikon wisata seperti Candi Prambanan, Candi Ijo, dan kompleks Keraton Boko.

    Akses ke lokasi pun cukup mudah, hanya sekitar 1 km sebelum Candi Ijo, lewat jalur utama Prambanan-Piyungan. Dari pusat Kota Yogyakarta, jaraknya sekitar 17 km atau 30 menit perjalanan darat. Meskipun jalannya agak menanjak, kendaraan mulai dari motor hingga bus wisata tetap bisa mencapai area ini dengan lancar.

    Fasilitas dan dan Harga Tiket Wisata Tebing Breksi

    Selain bisa berfoto di lokasi wisata, kamu juga dapat melihat suguhan budaya seperti tari-tarian, jathilan, gamelan tembang Jawa, wayang, dan ketoprak. Sebab di Tebing Breksi juga terdapat Tlatar Seneng, sebuah panggung pertunjukan berbentuk melingkar dengan kursi-kursi di sekelilingnya. Bentuknya sekilas menyerupai Colosseum mini.

    Tak cuma itu, kalau kamu suka berkemah, ada area Watu Tapak yang disediakan sebagai tempat perkemahan. Nah kalau mau pengalaman yang lebih seru, bisa coba naik jeep wisata dengan berbagai pilihan rute dan paket.

    Rute singkat membawa pengunjung menjelajahi Tebing Breksi, Candi Ijo, Watu Payung, dan Obelix Hills. Sedangkan rute panjang mencakup lebih banyak titik seperti Bukit Teletubbies, Desa Wisata Pereng, dan berakhir di Rumah Domes.

    Wisatawan juga dimanjakan dengan kemudahan teknologi seperti tiket online dan akses wifi di area tertentu, termasuk tempat makan. Soal operasional dan harga tiketnya, dilansir dari akun instagram resmi Tebing Breksi buka setiap hari pukul 08.00-23.00 WIB dengan harga tiket weekdays Rp 10 ribu dan hari libur Rp 15 ribu.

    Jadi, kamu tertarik berlibur ke Tebing Breksi? Semoga informasi ini membantu, ya!

    (aau/fds)



    Sumber : travel.detik.com

  • View-nya Bikin Takjub! Khofifah Ajak Wisatawan Coba Jembatan Kaca di Bromo



    Probolinggo

    Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi Jembatan Kaca Seruni Point yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo.

    Khofifah mengaku takjub atas keindahan Gunung Bromo yang disuguhkan dari sisi Jembatan Kaca Seruni Point. Ia optimis bahwa ikon wisata yang menawarkan sensasi berbeda ini akan menjadi magnet bagi pariwisata di kawasan TNBTS Probolinggo.

    Khofifah melanjutkan, keberadaan Jembatan Kaca ini diharapkan bisa memaksimalkan waktu kunjungan wisatawan, utamanya wisatawan mancanegara yang datang dengan kapal Cruise.


    “Kalau di daerah Jawa Tengah bisa dua hari untuk mengunjungi Borobudur dan Prambanan yang ditambah wisata budaya di Jogja, kemudian dilanjutkan ke Jawa Timur harapan kami juga bisa dua hari di Bromo dan sekitarnya,” kata Khofifah, Minggu (4/5/2025).

    Rencana tersebut disebutnya sangat mungkin, ketika nantinya pentas budaya dan tenant-tenant di sekitar Jembatan Kaca bisa diperkuat. Sehingga ada tambahan titik di Bromo yang bisa dinikmati keindahannya oleh wisatawan di siang maupun sore hari.

    Keindahan Bromo sendiri disebutnya juga sudah mendapat pengakuan dari berbagai pihak baik lokal maupun internasional. Terutama di media sosial, banyak exposure atau promosi terhadap keindahan Bromo.

    “Dan berbagai lembaga juga memberikan review yang luar biasa. Tentu ini jadi benefit yang baik bagi Bromo, Probolinggo, Jawa Timur dan Indonesia,” ucapnya.

    Untuk itu, melalui Jembatan Kaca Seruni Point ini, Khofifah mengajak seluruh masyarakat untuk bisa berkunjung dan menikmati eksotisnya Gunung Bromo dari sisi lain.

    “Sekarang kita berdiri di atas jembatan kaca Bromo, dan bisa disampaikan pada dunia bahwa sisi sisi eksotis Bromo juga bisa dilihat dari titik ini selain di kawah Bromo, pasir berbisik, Seruni Point,” tuturnya.

    Khofifah menegaskan bahwa keamanan tetap menjadi prioritas dalam pengoperasian Jembatan Kaca tersebut. Akan ada pembatasan di saat wisatawan baik dalam dan luar melewati jembatan Kaca Seruni Point.

    “Saya rasa ini jadi area dimana kita bisa punya peluang lebih luas menikmati keindahan yang Allah anugerahkan di bumi Probolinggo,” kata Khofifah.

    “Mudah mudahan hadirnya jembatan kaca ini bisa menguatkan gravitasi seluruh wisatawan untuk masuk area wisata Bromo yang luar biasa ini,” katanya.

    Artikel ini sudah naik di detikJatim. Simak selengkapnya di sini.

    (ddn/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Cara Booking Online Pendakian Gunung Gede TNGGP


    Jakarta

    Prosedur pendakian Gunung Gede diawali dengan booking online untuk menjamin keselamatan pendaki hingga puncak. Booking juga memastikan pendaki tidak melebihi kuota yang telah ditetapkan pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

    Pendakian Gunung Gede dibuka kembali sejak 22 April 2025, setelah sebelumnya ditutup akibat peningkatan gempa vulkanik di lokasi tersebut. Tentunya, pendaki wajib taat aturan untuk menjamin keselamatan serta kelestarian lingkungan.

    Cara Booking Online Pendakian Gunung Gede

    Dikutip dari laman resminya, tahapan booking online terdiri dari:


    1. Klik menu Pendaftaran Pendakian di situs resmi TNGGP
    2. Pahami ketentuan, kewajiban, dan larangan bagi setiap pendaki
    3. Klik form ketentuan sanksi sebagai bukti persetujuan atas syarat tersebut
    4. Pilih hari dan tanggal pendakian serta pintu masuknya
    5. Pastikan kuota di tanggal dan pintu masuk pilihan belum penuh
    6. Isi form pendakian dengan jujur dan lengkap (tujuan, tanggal dan pintu masuk serta keluar, nomor HP dan email aktif penerima data tiket)
    7. Klik Simpan dan Lanjutkan
    8. Lengkapi data pendaki dan biodata anggota tim, dengan satu kelompok minimal terdiri dari 3 orang dan maksimal 10 pendaki
    9. Bayar tiket sesuai aturan yang berlaku
    10. Download dan cetak bukti pendaftaran booking online pendakian Gunung Gede.

    Tiket Pendakian Gunung Gede

    Harga tiket pendakian Gunung Gede adalah:

    • WNI di hari kerja: Rp 72 ribu
    • WNI di hari libur: Rp 92 ribu
    • Pelajar WNI di hari kerja: Rp 52 ribu
    • Pelajar WNI di hari libur: Rp 62 ribu
    • WNA di hari kerja: Rp 435 ribu
    • WNA di hari libur: Rp 435 ribu.

    Tarif tiket sudah termasuk asuransi dan tidak dapat dikembalikan jika sudah dibayar.

    Sebelum membayar, para calon pendaki wajib menyelesaikan proses pendaftaran dan menyertakan identitas legal. Identitas yang dilengkapi nomor ID ini bisa berupa KTP, paspor, atau KK bagi yang berusia kurang dari 17 tahun.

    Kuota Pintu Masuk dan Keluar Pendakian Gunung Gede

    Jalur masuk dan keluar Gunung Gede terdiri dari:

    • Pintu Cibodas: kuota 300.
    • Pintu Gunung Putri: kuota 200.
    • Pintu Selabintana: kuota 100.

    Pendaki Gunung Gede wajib lapor pada petugas di pintu masuk sebelum melakukan naik paling lambat pukul 14.00 di hari kerja dan 16.00 saat libur. Setelah berada di pintu keluar, pendaki harus kembali lapor petugas paling lambat pukul 16.00 di hari kerja dan 18.00 saat libur.

    (row/fem)



    Sumber : travel.detik.com