Tag: hadits

  • Wasiat Rasulullah SAW: Jangan Marah, Bagimu Surga



    Jakarta

    Ada pesan dari Rasulullah SAW untuk semua umat Islam. Beliau berpesan agar muslim dapat menahan amarahnya karena ada balasan surga dari Allah SWT di baliknya.

    Keterangan tersebut bersumber dari hadits dalam Kitab Al Mu’jamul Ausath Nomor 2374. Berdasarkan hal itu, Rasulullah SAW bersabda,

    لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ


    Artinya: “Jangan kamu marah, maka bagimu Surga (akan masuk Surga).” (HR Ath-Thabrani)

    Rasulullah SAW bahkan pernah menyebut, orang yang paling dianggapnya kuat dan perkasa adalah orang yang mampu menahan amarahnya (HR Muslim).

    Dalam Islam, marah adalah perbuatan yang dilarang karena dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin berpendapat, kondisi seseorang yang marah merupakan pintu bagi setan untuk memasuki hati seseorang dan menguasainya.

    “Saat setan telah menguasai hati kita melalui pintu amarah, segalanya akan berubah menjadi kacau dan kita kehilangan fungsi pengendalian diri, sepenuhnya dikuasai atas kehendak setan,” jelasnya yang diterjemahkan ‘Aabidah Ummu ‘Aziizah dkk dalam buku Kuliah Adab.

    Menahan Diri dari Amarah

    Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang jarang marah maupun berkata kasar. Diceritakan dalam riwayat hadits dari Al Hasan bin Ali yang bersumber dari pamannya, diketahui, amarah Rasulullah SAW biasanya dialihkan dengan memalingkan wajah.

    Selain itu, Rasulullah SAW pernah menganjurkan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meredam amarah. Dikutip dari buku Merajut Kehidupan karya Muhammad Tafsir, langkah pertama adalah membaca Ta’awudz untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar tidak terpengaruh oleh setan.

    “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan apabila dibaca tentu akan menghilangkan rasa marahnya, jika ia ingin membacanya, ‘A’udzubillahi minas-syaithani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya kemarahan yang dialaminya hilang.’” (HR Bukhari)

    Kedua, ketika amarah membara, menahan lisan untuk tidak berkata dan berbicara merupakan langkah terbaik. Imam Ahmad meriwayatkan hadits, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR Ahmad)

    Selanjutnya, Rasulullah SAW menyarankan bagi seorang yang sedang marah untuk mengambil wudhu, karena emosi itu akan padam karena terkena air. Dari Athiyyah as-Sa’di RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR Abu Dawud)

    Terakhir, orang yang merasa marah dapat segera mengubah posisi badan. Dengan kata lain, Bila seseorang marah saat berdiri maka duduk menjadi posisi paling pas untuk meredakannya. Namun bila duduk tidak mempan juga maka disarankan untuk berbaring.

    Dari Abu Dzarr RA, Nabi SAW bersabda, “Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR Abu Dawud)

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Jenis Hadits yang Tak Boleh Dijadikan Landasan Hukum


    Jakarta

    Kaum muslim bisa menggunakan hadits sebagai sumber hukum Islam. Namun, ada hadits yang tidak boleh dijadikan landasan hukum.

    Hadits adalah sesuatu yang datang atau bersumber dari Nabi SAW atau disandarkan pada beliau SAW, sebagaimana diterangkan dalam buku Ulumul Hadits karya Abdul Majid Khon. Hadits terdiri dari tiga komponen, yakni hadits perkataan (qauli), hadits perbuatan (fi’li), dan hadits persetujuan (taqriri).

    Ada juga ulama yang memasukkan sifat (washfi) baik fisik (khalqiyah) maupun perangai (khuluqiyah), sejarah (tarikhi), dan cita-cita (hammi) Rasulullah SAW sebagai komponen dalam mendefinisikan hadits.


    Para pakar hadits juga menyebut hadits sebagai sunnah, khabar, dan atsar. Namun, ada beberapa aspek yang membedakan keempatnya.

    Hadits bersandar dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, dan persetujuan yang sifatnya lebih khusus, sekalipun dilakukan sekali, sedangkan sunnah bersandar pada Nabi SAW dan para sahabat dari aspek perbuatan yang sifatnya menjadi tradisi.

    Adapun, khabar bersandar pada Nabi SAW dan selainnya baik berupa perkataan maupun perbuatan yang sifatnya lebih umum, dan atsar berasal dari perkataan dan perbuatan sahabat dan tabi’in yang bersifat umum.

    Masih mengacu pada sumber yang sama, jika dilihat dari sandarannya, hadits terbagi menjadi dua jenis, yakni hadits nabawi yang bersandar pada nabi sendiri, dan hadits qudsi yang bersandar pada Tuhan yang disampaikan kepada Rasulullah SAW.

    Hadits merupakan sumber hukum yang kedua dari empat sumber hukum Islam yang disepakati para ulama. Setiap hadits memiliki kualitas yang kemudian menentukan mana jenis hadits yang bisa dijadikan landasan hukum dan mana yang tidak boleh.

    Penentuan kualitas hadits bisa dilihat dari strukturnya. Dalam buku Ilmu Memahami Hadits Nabi karya M Ma’shum Zein disebutkan ada empat struktur hadits, yakni isnad, sanad, musnid, dan musnad.

    Secara umum kualitas hadits terdiri dari tiga jenis, yakni hadits shahih, hadits hasan, dan hadits dhaif, seperti dijelaskan dalam buku Memahami Ilmu Hadits karya Asep Herdi. Hadits yang bisa dijadikan landasan hukum adalah hadits shahih. Hadits jenis ini diriwayatkan oleh rawi yang adil, sempurna ingatan (hafalannya), memiliki sanad bersambung, tidak cacat, dan tidak janggal.

    Hadits-hadits shahih dapat ditemukan dalam kitab-kitab hadits. Beberapa di antaranya Shahih Bukhari dan Muslim, Al-Muwaththa, Mustadrak Al-Hakim, Shahih ibn Hibban, dan Shahih ibn Khuzaemah.

    Hadits Tertolak Tidak Bisa Dijadikan Landasan Hukum

    Sementara itu, hadits yang tidak boleh dijadikan landasan hukum adalah hadits mardud atau hadits yang tertolak. Hadits mardud ini tidak memenuhi syarat qabul atau tidak diterima sebagai dalil hukum. Hadits jenis ini adalah semua hadits yang dihukumi dhaif (lemah).

    Hadits Dhaif yang Bisa Diamalkan

    Ulama hadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani menerangkan dalam kitab Silsilah-Ahadits adh-Dhaifah wal-Maudhu’ah, menurut asy-Syekh Ali al-Qari’, hadits dhaif bisa dijadikan landasan untuk melakukan amalan keutamaan yang telah ditetapkan Al-Qur’an dan hadits. Hadits jenis ini tidak bisa dijadikan landasan untuk menetapkan bentuk amalan yang utama.

    Imam as-Suyuthi mengatakan dalam Tadrib ar-Rawy fi Syarh Taqrib an-Nawawi sebagaimana dinukil Al Mukaffi Abdurrahman dalam buku Koreksi Tuntas Buku 37 Masalah Populer, seseorang boleh mengamalkan hadits dhaif dengan syarat bahwa hadits tersebut tidak berkaitan dengan masalah akidah, yakni tentang sifat Allah SWT, perkara yang boleh dan mustahil bagi-Nya, dan penjelasan firman-Nya.

    Hadits dhaif juga boleh diamalkan selain pada hukum halal dan haram. Kata Imam as-Suyuthi, boleh pada kisah-kisah, fadha’il (keutamaan) amal dan nasihat.

    Lebih lanjut Imam as-Suyuthi menjelaskan, seseorang boleh mengamalkan hadits ini jika tidak terlalu dhaif, yakni perawinya bukanlah pendusta, tertuduh sebagai pendusta, atau terlalu banyak kekeliruan dalam periwayatannya. Kemudian, bernaung pada hadits shahih dan tidak diyakini sebagai ketetapan, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian saja.

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits Menjaga Lisan, Salah Satunya Dijamin Masuk Surga


    Jakarta

    Lisan dapat menjadi pisau yang berbahaya jika salah digunakan. Karenanya, terdapat sejumlah hadits tentang pentingnya menjaga lisan.

    Dalam Al-Qur’an sendiri terkait menjaga lisan disebutkan dalam surah Al Qaf ayat 18,

    مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ


    Artinya: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”

    Mengutip buku Sejumlah Amalan Penting Penghuni Surga saat di Dunia karya Ahmad Abi Al-Musabbih, banyak perbuatan buruk yang bermula dari lisan. Contohnya ghibah, adu domba, pembicaraan yang tidak bermanfaat dan candaan yang berlebihan.

    Hadits tentang Menjaga Lisan

    Berikut sejumlah dalil dari Al-Hadits terkait pentingnya menjaga lisan seperti mengutip buku 80 Hadits Pilihan Beserta Biografi Perawi dan Faedah Ilmiyah susunan DR Muhammad Murtaza bin Aish.

    1. Meningkatkan Derajat Seseorang

    Menjaga lisan dapat menaikkan derajat seorang muslim. Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin ‘Amru. Nabi Muhammad SAW bersabda,

    “Seorang muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR Bukhari)

    2. Mendapat Pertolongan dalam Urusan Agama

    Kaum muslimin yang mampu menjaga lisannya niscaya mendapat pertolongan dari dalam hal beragama, seperti beribadah dan lain sebagainya. Rasulullah SAW bersabda:

    “Hendaklah engkau lebih banyak diam, sebab diam dapat menyingkirkan setan dan menolongmu terhadap urusan agamamu.” (HR Ahmad)

    3. Dijamin Masuk Surga

    Seorang muslim yang menjaga lisan dan kemaluanya dijamin masuk surga oleh sang rasul sebagaimana sabdanya yang berbunyi,

    “Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya (mulut) dan dua kakinya (kemaluan), maka kuberikan kepadamu jaminan masuk surga.” (HR Bukhari)

    4. Keselamatannya Terjamin

    Nabi Muhammad SAW dalam sebuah haditsnya berkata,

    “Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (HR Bukhari)

    5. Termasuk Orang yang Beriman

    Rasulullah SAW pernah bersabda kepada orang-orang beriman untuk berkata baik atau menjaga lisannya. Berikut bunyi haditsnya,

    “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Demikian sejumlah hadits yang membahas pentingnya menjaga lisan. Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang dapat menjaga lisannya dengan baik, Aamiin ya rabbal alamin.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Ketika di Dalam Masjid, Amalkan agar Mendapat Berkah


    Jakarta

    Ada doa yang bisa dibaca ketika berada di dalam masjid. Doa ini merupakan sunnah Rasulullah SAW dan bisa menjadi amalan mulia untuk mendapatkan berkah dari Allah SWT.

    Masjid merupakan tempat yang suci yang didalamnya menjadi area untuk melakukan ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah SWT. Masjid tempat yang mulia, oleh karenanya ketika berada di dalam masjid dianjurkan untuk memperbanyak amalan seperti dzikir, sholawat ataupun berdoa.

    Mengutip buku Al-Adzkar Doa dan Dzikir dalam Al-Qur’an dan Sunnah oleh Imam Nawawi dijelaskan bahwa ketika seorang muslim berada di dalam masjid maka dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir. Begitu pula membaca tasbih, tahlil, tahmid, takbir, doa-doa dan dzikir lainnya.


    Dianjurkan pula memperbanyak bacaan Al-Qur’an dan membaca hadits-hadits Rasulullah, memperdalam ilmu fikih, dan ilmu-ilmu syariat lainnya.

    Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT dalam surat An-Nur ayat 36

    فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ

    Artinya: Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.

    Dalam hadits, Rasulullah SAW pun menjelaskan tentang masjid sebagai tempat yang mulia dan istimewa.

    Diriwayatkan dari Buraidah, dia mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya masjid-masjid itu dibangun sesuai dengan tujuannya.” (HR Muslim)

    Dari Anas bin Malik , dia mengatakan, Rasulullah SAW berkata kepada si badui yang kencing di salah satu sudut masjid, “Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak pantas sama sekali untuk dikencingi seperti ini dan tidak pula dikotori. Karena sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah untuk berdzikir kepada Allah, sholat, dan membaca Al-Qur an.” (HR Muslim)

    Doa ketika Duduk di Masjid

    Orang yang duduk di masjid hendaknya berniat i’tikaf agar memperoleh keutamaan. Orang yang duduk di masjid, hendaklah berupaya melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Tujuannya yakni untuk menjaga, menghormati, memuliakan, dan mengagungkan masjid.

    Duduk di masjid bisa sambil melantunkan doa yang merupakan bacaan tasbih, takbir, tamid.

    ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪْ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠﻪْ ﻭَﻵ ﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪْ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮْ

    Artinya: “Maha suci Allah, dan segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar

    Keutamaan Membaca Doa dan Dzikir di Masjid

    Dikutip dari buku Berzikir Cara Nabi: Merengkuh Keutamaan Zikir Tahmid, Tasbih, Tahlil, dan dan Hauqala oleh Abdur Razzaq Ash-Shadr dijelaskan beberapa keutamaan dari dzikir di dalam masjid. Berikut diantaranya:

    1. Kalimat yang Paling Dicintai Allah.

    Imam Muslim dalam kitab shahihnya meriwayatkan dari hadits Samurah bin Jundab ra, dia berkata:

    “Rasulullah SAW bersabda: Kalimat yang paling dicintai Allah ada 4. Kamu bisa memulai dari kalimat mana saja: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar.

    2. Kalimat Pelebur Dosa

    Dalam kitab Al Musnad, Sunan At Tirmidzi, dan Musadrak Al Hakim, terdapat riwayat dari hadits Abdullah bin ‘Amr ra, dia berkata:

    “Rasulullah SAB bersabda: “Di muka bumi ini, setiap kali seseorang membaca kalimat laa ilaaha illallaah, Allaahu Akbar, Subhaanallah, Alhamdulillaah, dan Laa haula walaa quwwata illaa billaah, maka dosa-dosanya dilebur meskupun lebih banyak dari buih di laut.”

    Dosa yang dilebur yakni dosa kecil. Sedangkan dosa besar tidak bisa dilebur dengan tobat.

    3. Tanaman Surga

    At Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, dari Nabi SAW, Beliau bersabda: “Aku bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra’kan. Lalu Ibrahim berkata, ‘Wahai Muhamamd, samapaikan salamku kepada umatmu dan beritahulah mereka bahwa surga itu baik tanahnya, tawar airnya, dan surga itu qi’an, yang tanamannya adalah subhaanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar.”

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits tentang Sabar dalam Menghadapi Ujian, Jadikan Motivasi Hidup


    Jakarta

    Sabar termasuk ke dalam salah satu sifat terpuji. Makna sabar secara terminologis berarti menahan jiwa, lisan, dan lain sebagainya dari segala sesuatu yang sifatnya merugikan atau buruk.

    Menurut buku Hikmah Sabar susunan Pracoyo Wiryoutomo, Imam Al-Khawas mendefinisikan sabar sebagai keteguhan untuk merealisasikan Al-Quran dan sunnah. Dengan demikian, sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan.

    Dalam surat Al Baqarah ayat 153, Allah SWT berfirman:


    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

    Sementara itu, Al Ghazali dalam buku Dahsyatnya Sabar, Syukur, Ikhlas Muhammad SAW tulisan Amirulloh Syarbini dkk mengartikan sabar sebagai kesanggupan diri ketika hawa nafsu bergejolak, atau kemampuan untuk memilih melakukan perintah agama tatkala datang desakan nafsu.

    Berkaitan dengan itu, ada sejumlah dalil dari Al-Hadits yang membahas tentang sabar dalam menghadapi ujian. Apa saja? Simak bahasannya berikut ini yang dinukil dari buku Ilmu dari Guruku susunan Ihsan Nur.

    Hadits tentang Sabar dalam Menghadapi Ujian

    1. Perintah Sabar saat Menghadapi Ujian

    Dalam sebuah hadits, diterangkan tentang perintah sabar ketika mendapat ujian dari Allah SWT.

    “Siapa saja yang tidak rela menerima ketetapan-Ku (takdir-Ku) dan tidak sabar menghadapi ujian-ujian-Ku kepada dirinya, silakan dia mencari Tuhan selain Aku.” (HR Ath Thabrani dan Ibnu ‘Asakir)

    2. Hadits Orang Sabar Menghadapi Ujian akan Diganjar Surga

    Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Allah berfirman, jika seorang hamba ditinggal mati orang yang paling dicintainya; lalu ia bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, maka tidak ada pahala baginya kecuali surga.” (HR Bukhari)

    3. Hadits Dosa-dosa Orang Sabar Digugurkan

    Orang yang sabar ketika menghadapi ujian niscaya Allah SWT akan menggugurkan dosa-dosanya. Rasulullah SAW bersabda,

    “Seorang muslim yang tertimpa suatu gangguan berupa penyakit atau yang lainnya pasti Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Imam Bukhari dan Muslim)

    4. Hadits Larangan Mengharap Mati ketika Diberi Ujian

    Dalam hadits lainnya juga disebutkan terkait larangan mengharap mati ketika diuji oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana bunyi sabda Nabi SAW yaitu,

    “Janganlah salah seorang di antara kalian mengarapkan mati sebab kesengsaraan yang menimpanya.” (HR An Nasa’i)

    5. Hadits Sabar Menghadapi Ujian Tergolong Orang Beriman

    “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR Muslim)

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Ciri-ciri Orang yang Cerdas Menurut Hadis Nabi


    Jakarta

    Rasulullah SAW pernah menyebutkan ciri-ciri orang yang cerdas dalam salah satu hadisnya. Apa saja?

    Ciri-ciri orang yang cerdas menurut hadis nabi berkaitan dengan amal dan perbuatan semasa hidup di dunia. Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam Akhlaq Al-Islam menukil hadits yang menyebut tentang hal ini. Rasulullah SAW bersabda,

    الْكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ


    Artinya: “Orang cerdas adalah yang bermuhasabah atas dirinya dan beramal untuk apa yang setelah kematian. Orang lemah adalah siapa saja yang dirinya mengikuti hawa nafsunya lalu ia berangan-angan terhadap Allah.” (HR Ahmad)

    Sesuai dengan hadits di atas, ciri-ciri orang yang cerdas menurut hadis nabi adalah orang yang selalu bermuhasabah diri dan menyiapkan amalan berpahala sebagai bekal menghadapi kematian.

    Dikutip dari buku tersebut, Imam An-Nawawi menyebutkan, menurut Imam At-Tirmidzi dan ulama lainnya, makna dari “Al-kayyis” adalah “orang cerdas.” Sedangkan lafal “dana nafsahu” berarti “bermuhasabah atas dirinya.”

    Bermuhasabah diri bisa dilakukan dengan cara selalu mencari kesalahan dalam diri sendiri dan bukan orang lain, sehingga ia bisa selalu menyadari kesalahan tersebut dan memperbaikinya.

    Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah, dari Umar RA, dia berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab! Timbanglah amal perbuatan kalian sebelum semua itu dihitung atas kalian.”

    Dikatakan pula dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, Maimun bin Mahran pernah berkata, “Orang bertakwa lebih ketat menghisab dirinya daripada seorang penguasa yang lalim, atau dari seorang teman kongsi yang pelit.”

    Muhasabah diri merupakan salah satu di antara pokok-pokok akhlak tarbiyah di dalam Islam. Hal ini sesuai dengan urgensi muhasabah diri dari ijma para ulama sufi, ahli akhlak, dan para murabbi.

    Muhasabah diri memiliki banyak manfaat dan kebaikan. Manfaat muhasabah diri antara lain adalah selalu mendorong diri untuk berusaha memperbaiki kesalahan, menyempurnakan kekurangan, mencari kesempurnaan, serta akan menjauhkan kita dari sikap ujub, terperdaya oleh amalnya sendiri, dan mengejek orang lain.

    Cara Muhasabah Diri

    Selalu muhasabah diri karena selalu ingat mati dan agar menjadi orang yang jauh dari hawa nafsu merupakan salah satu ciri-ciri orang yang cerdas menurut hadis nabi.

    Dengan ingat mati, kita akan selalu ingat pula dengan kehidupan yang terjadi setelah kematian. Akhirnya dirinya akan selalu bermuhasabah diri agar terhindar dari segala dosa dan pengaruh buruk hawa nafsu.

    Agar bisa menjadi orang cerdas menurut hadis nabi, maka kita perlu muhasabah diri. Abu Abdullah bin Qayyim Al Jauziyyah menyebut beberapa cara untuk muhasabah diri, seperti dinukil Majdi Fathi Sayyid dalam buku Amal yang Dibenci dan yang dicintai Allah: Panduan untuk Muslimah oleh Majdi Fathi. Antara lain:

    1. Muhasabah Terhadap Kewajiban

    Cara muhasabah diri yang pertama adalah dengan melakukan introspeksi terhadap ibadah-ibadah wajib terlebih dahulu. Jika ada kekurangan maka harus segera diperbaiki dan dilengkapi.

    2. Muhasabah Terhadap Kelalaian

    Muhasabah diri terhadap kelalaian bisa dilakukan dengan cara berzikir dan memusatkan diri kepada Allah SWT. Lalu, mengingat-ingat apa saja yang sudah dilakukannya, terutama hal-hal yang tak disadari atau tidak sengaja. Lalu perbaiki ketidaksengajaan itu dengan taubat dan menumpuknya dengan perbuatan yang baik.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa saat Angin Kencang, Bisa Dibaca ketika Cuaca Buruk



    Jakarta

    Doa saat angin kencang menjadi amalan yang bisa dikerjakan umat muslim. Angin merupakan fenomena alam sekaligus tentara Allah SWT.

    Sama seperti hujan, angin juga diciptakan Allah SWT untuk membawa keberkahan. Namun ada kalanya angin bertiup dengan sangat kencang sehingga dikhawatirkan akan menjadi sebuah bencana.

    Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Angin itu adalah bagian dari rahmat Allah. Ia bisa datang membawa rahmat dan bisa datang membawa azab. Jika kalian melihat angin, janganlah kalian memakinya! Mintalah kepada Allah kebaikannya dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelekannya!” (HR Nasa’i)


    Doa saat Angin Kencang

    Dikutip dari laman NU Online, terdapat doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW yang bisa dibaca saat merasakan angin kencang. Doa ini semata-mata dibaca untuk mendapat perlindungan Allah SWT dari marabahaya.

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رَحْمَةً وَلَا تَجْعَلْهَا عَذَابًا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رِيَاحًا وَلَا تَجْعَلْهَا ضَرُوْرَةً.

    Arab Latin: Allâhumma innî as’aluka khairahâ wa khairamâ fîhâ wa khairamâ ursilat bih, wa a’ûdzubika min syarrihâ wa syarrimâ fîhâ wa syarrimâ ursilat bih. Allâhummaj’alhâ rahmatan wa lâ taj’alhâ ‘adzâban. Allâhummaj’alhâ riyâhan wa lâ taj’alhâ dharûratan.

    Artinya: “Wahai Tuhanku, aku minta kepada-Mu kebaikan ini angin, kebaikan barang yang ada di dalamnya, dan kebaikan barang yang diutus melaluinya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan ini angin, kejahatan barang yang ada di dalamnya, dan kejahatan barang yang diutus melaluinya. Wahai Tuhanku, jadikan ini sebagai angin rahmat dan jangan jadikan ini sebagai angin siksa. Wahai Tuhanku, jadikan ini sebagai angin manfaat dan jangan jadikan ini sebagai angin bahaya.”

    Selain doa di atas, terdapat juga doa lainnya yang bisa diamalkan saat terjadi angin kencang, berikut bacaan doanya:

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَمَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رَحْمَةً وَلَا تَجْعَلْهَا عَذَابًا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رِيَاحًا وَلَا تَجْعَلْهَا رِيْحًا

    Arab Latin: Allâhumma innî as’aluka khairahâ wa khairamâ fîha wa khairamâ ursilat bih, wa a’ûdzubika min syarrihâ wa syarrimâ fîha wa syarrimâ ursilat bih. Allâhummaj’alhâ rahmatan, wa lâ taj’alhâ ‘adzâban. Allâhummaj’alhâ riyâhan, wa lâ taj’alhâ rîhan.

    Artinya: “Tuhanku, kepada-Mu aku mohon kebaikan angin ini, kebaikan yang terkandung di dalamnya, dan kebaikan tujuan dihembuskannya. Kepada-Mu aku berlindung dari unsur negatif angin ini, unsur negatif yang terkandung di dalamnya, dan unsur negatif tujuan dihembuskannya. Tuhanku, jadikan angin ini sebagai rahmat. Jangan jadikan ia sebagai azab. Tuhanku, jadikan angin ini sebagai angin baik, bukan angin yang membawa akibat negatif.”

    Saat angin terlalu kencang dan diiringi dengan hujan lebat, bisa amalkan doa yang dikutip dari buku Tuntunan Doa & Zikir untuk Segala Situasi & Kebutuhan oleh Ali Akbar bin Aqil, berikut doanya:

    Arab latin: Allohuma laqhan laa aqiiman, allohummaj’alhaa rahmatan wa laa taj’alhaa adzaaban, allohummaj’alhaa riyaahan wa laa taj’alhaa riihan.

    Artinya: Ya Allah, jadikanlah angin ini pembawa hujan, bukan angin yang kosong dan tiada membawa kebaikan. Ya Allah, jadikanlah ia sebagai rahmat dan jangan Engkau jadikan sebagai azab. Ya Allah, jadikanlah ia riyah (angin yang membawa kebajikan), dan jangan Engkau jadikan dia riih (angin yang membawa keburukan).”

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • 10 Hadits Tentang Anjuran Mengingat Kematian



    Jakarta

    Dalam Islam, kematian dianggap sebagai bagian alamiah dari kehidupan manusia, dan pemahaman yang mendalam tentang kematian memiliki dampak yang mendalam pada cara seseorang menjalani hidup, berinteraksi dengan sesama, dan berhubungan dengan Allah SWT.

    Islam menganjurkan setiap muslim untuk selalu mengingat kematian yang ditulis dalam dalil.

    Allah SWT telah berfirman dalam surah Al Jumu’ah ayat 8,


    قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ ٨

    Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya pasti akan menemuimu. Kamu kemudian akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”

    Hadits tentang Mengingat Kematian

    1. Hadits Riwayat Athabrani

    Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Nabi SAW lalu bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan pebanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.”

    2. Hadits Riwayat Ibnu Majah, Thabrani, dan Haitsamiy

    Salah satu laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” “Mukmin manakah yang paling cerdas?”, tanya lelaki itu. Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”

    3. Hadits Riwayat At-Tirmidzi

    Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kenikmatan.” Maksudnya adalah kematian.

    4. Hadits Riwayat Bukhari

    “Rasulullah SAW menepuk kedua pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah orang asing atau orang yang singgah dalam perjalanan.’” Ibnu Umar berkata, “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah menantikan waktu pagi. Dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menantikan waktu sore. Ambillah kesempatan sewaktu engkau sehat untuk masa sakitmu, dan sewaktu engkau hidup untuk matimu.”

    5. Hadits Riwayat Muslim

    Rasulullah SAW bersabda, “Aku pernah melarang kalian ziarah kubur, tetapi sekarang berziarah kuburlah!”

    Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsapa hendak berziarah kubur, maka silahkan ia berziarah. Sebab, ziarah kubur itu dapat mengingatkannya pada akhirat.”

    6. Hadits Riwayat Al Qurthubi

    Rasulullah SAW bersabda, “Kalau seandainya binatang ternak itu mengetahui apa yang kalian ketahui tentang kematian maka kalian tidak akan pernah makan dari binatang itu sekalipun lemaknya.”

    7. Hadits Riwayat Al Baihaqi

    Rasulullah SAW bersabda, ingatlah kalan akan kematian, sungguh demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya. Kalau seandainya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui tentang kematian itu niscaya kalian akan sedikit saja tertawa dan akan lebih banyak menangis.”

    8. Hadits Riwayat Al Haitsami

    Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah kematian itu menjadi peringatan bagi seorang hamba.”

    9. Hadits Riwayat Al Hakim

    “Penghargaan orang mu’min itu adalah kematian.”

    10. Hadits Riwayat As Syaukani

    Aisyah RA bertanya kepada Rasuullah SAW, “Ya Rasulullah, apakah kelak pada hari kiamat kami akan dikumpulkan dengan para syuhada?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, yaitu orang-orang yang mengingat kematian dalam sehari-semalam sebanyak dua puluh kali.”

    Keutamaan Mengingat Kematian

    Dikutip dari buku Mawas diri, Muhasabah, Tafakkur dan Mengingat Mati: Seri Ringkasan Ihya’ Ulumuddin karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, dengan seorang muslim akan mendapatkan beberapa keutamaan berikut jika mengingat akan kematian:

    • Akan menjauhkan diri dari kenikmatan dunia yang serba menipu
    • Akan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    • Mengosongkan hati dari hal-hal keduniawiyaan dan mengkonsentrasikan hati dan pikiran hanya untuk kematian
    • Mengingat kematian akan membantu seorang muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan menjauhi larangan Allah SWT.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Rukun Islam dan Tiangnya yang Agung


    Jakarta

    Ulama besar ahli hadits dari mazhab Syafi’i, Imam an-Nawawi, menyusun 42 hadits shahih yang dikenal dengan hadits arbain. Ia menukil riwayat tentang rukun Islam pada hadits arbain 3.

    عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاةَ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

    Artinya: Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada tuhans elain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah dan berpuasa pada bulan Ramadan.”

    Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya di kitab Iman.


    Menurut Musthafa Al-Bugha dan Muhyiddin Mistu dalam kitab Syarah Hadits Arbain Imam an-Nawawi, Al Wafi, hadits arbain ke-3 tersebut merupakan hadits yang agung sekali. Dikatakan, rukun Islam merupakan salah satu pilar Islam dan pokok-pokok hukum karena melalui hadits tersebut seluruh ajaran Islam akan diketahui. Kelima rukun Islam dalam hadits tersebut telah termuat dalam Al-Qur’an.

    Pemahaman Hadits Arbain 3

    Dalam memahami hadits tentang rukun Islam ini, Musthafa Al-Bugha dan Muhyiddin Mistu membaginya ke dalam lima pokok pembahasan.

    Pertama, bangunan Islam. Melalui hadits tersebut, Rasulullah SAW mengibaratkan Islam sebagai sebuah bangunan kokoh yang berdiri di atas pondasi yang kokoh. Pondasi yang dimaksud adalah sebagai berikut:

    1. Bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah SWT dan Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,

    “Saya diutus untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dalam riwayat lain, Nabi SAW juga bersabda,

    “Barang siapa yang mengatakan Laa ilaha illallah dengan penuh keikhlasan, dia akan masuk surga.” (HR Al-Bazar, shahih)

    2. Mendirikan salat. Maksud mendirikan salat, seperti dijelaskan dalam kitab Syarah Hadits Arbain adalah mengerjakan pada waktunya, menunaikan dengan menyempurnakan syarat dan rukunnya, dan memperhatikan sunnah dan adabnya. Dengan demikian, salat yang dikerjakan tersebut dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana Allah SWT berfirman,

    وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ

    Artinya: “Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS Al Ankabut: 45)

    Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya menyebut bahwa salat merupakan tanda seorang mukmin. Beliau bersabda,

    “Pembeda antara seorang laki-laki dengan syirik dan kufur adalah meninggalkan salat.” (HR Muslim dan lainnya)

    Dalam hadits hasan yang diriwayatkan Abu Nu’aim, Rasulullah SAW bersabda bahwa salat adalah tiang agama.

    3. Mengeluarkan zakat. Zakat ini adalah jumlah tertentu dari harta yang dimiliki bagi orang yang memenuhi syarat wajib zakat. Zakat disalurkan kepada faris miskin dan penerima zakat lainnya.

    Lebih lanjut dijelaskan, zakat merupakan ibadah harta untuk mewujudkan keadilan sosial dan mengentaskan kemiskinan. Zakat juga bisa menjadi sarana dalam menyebarkan kasih sayang, solidaritas, dan rasa saling menghormati antar sesama.

    4. Haji. Menunaikan haji dilakukan dengan pergi ke Masjidil Haram pada bulan-bulan haji, yakni mulai Syawal, Zulkaidah, dan puncaknya pada 10 Zulhijah. Perintah haji disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al Hajj ayat 27-28, Allah SWT berfirman,

    وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ ٢٧ لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ ٢٨

    Artinya: “(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan497) atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.”

    5. Puasa Ramadan. Ibadah ini diwajibkan pada tahun kedua Hijriah melalui firman-Nya,

    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٨٥

    Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS Al Baqarah: 185)

    Puasa disebut sebagai ibadah untuk menyucikan jiwa, meninggikan roh, dan menyehatkan badan. Amalan ini juga dapat menjadi salah satu pengampun dosa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

    “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

    Selain bangunan Islam, hadits arbain 3 ini mengandung empat pokok kandungan lainnya. Di antaranya keterpaduan rukun-rukun Islam satu sama lainnya, tujuan ibadah, cabang iman, dan memberi pengertian bahwa Islam adalah akidah dan amal. Demikian seperti dijelaskan dalam kitab Al Wafi.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Manusia Terbaik Menurut Rasulullah yang Disebut dalam Hadits Shahih



    Jakarta

    Rasulullah SAW pernah menyebut mengenai sosok manusia terbaik di antara manusia lainnya. Hal ini berkaitan dengan perangai orang itu.

    Sosok manusia terbaik ini diceritakan ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash dalam hadits shahih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim masing-masing dalam kitab Shahih-nya. Menurut hadits ini, manusia terbaik di antara manusia lainnya adalah yang paling baik akhlaknya.

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِشًا ، وَكَانَ يَقُولُ : إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا


    Artinya: ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengatakan, “Rasulullah SAW bukanlah orang yang bertutur kata/bersikap keji dan juga tidak membiasakan dirinya untuk bertutur kata/bersikap keji. Dahulu beliau sering bersabda, ‘Sejatinya orang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.’”

    Dalam kitab Al-Wafi fi Syahril Arba’in an-Nawawiyah karya Musthafa Dieb al-Bugha dan Muhyiddin Mistu juga terdapat riwayat serupa yang dikeluarkan para penyusun kitab Sunan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Ahmad)

    Rasulullah SAW juga bersabda, “Orang-orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Abu Dawud)

    Menurut hadits lain, orang yang paling baik akhlaknya kelak akan menjadi orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW pada hari kiamat. Beliau SAW bersabda,

    “Maukah aku beritahukan kepada kalian apa yang paling dicintai Allah dan paling dekat denganku tempatnya kelak pada hari kiamat?” Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR Ibnu Hibban)

    Imam Bukhari dalam kitab Adab, Hakim, dan Baihaqi meriwayatkan hadits yang menerangkan bahwa Allah SWT mengutus Rasulullah SAW sebagai penyempurna akhlak baik. Beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya, saya diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak baik.”

    Cara Meraih Akhlak Terpuji

    Penulis kitab Al Wafi mengatakan bahwa akhlak merupakan dasar tegaknya peradaban manusia. Akhlak dalam hal ini merupakan perkara berharga bagi kehidupan suatu bangsa dan memiliki kedudukan tinggi dalam Islam.

    Lebih lanjut dijelaskan, setiap muslim bisa meraih akhlak terpuji dan Rasulullah SAW telah memerintahkannya. Al-Hakim dan lainnya meriwayatkan hadits dari Muadz bin Jabal bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perbaguslah akhlakmu terhadap orang lain.” Redaksi lain berbunyi, “Hendaklah kamu memperbagus akhlakmu sebisa mungkin.”

    Berikut dua cara untuk meraih akhlak terpuji sebagaimana disebutkan dalam kitab tersebut.

    1. Meneladani akhlak terpuji Rasulullah SAW. Dalam surah Al Ahzab ayat 21 Allah SWT telah berfirman,

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١

    Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

    Allah SWT juga menyifati akhlak Rasulullah SAW dalam firman-Nya,

    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ٤

    Artinya: “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

    2. Bergaul dengan orang-orang bertakwa dan para ulama yang berakhlak mulia. Sebagaimana Allah SWT berfirman,

    وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا ٢٨

    Artinya: “Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.” (QS Al Kahfi: 28)

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com