Tag: hadits

  • Mengapa Bayi Lahir Langsung Menangis? Ini Alasan Menurut Hadits


    Jakarta

    Tangisan bayi yang baru lahir telah dijelaskan dalam Islam melalui sejumlah hadits. Dikatakan, hal ini berkaitan dengan perbuatan setan.

    Menurut hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, bayi yang baru lahir langsung menangis disebabkan karena sentuhan setan. Dari Abu Hurairah RA, ia mengatakan bahwa Nabi SAW pernah bersabda,

    “Setiap anak yang terlahir pasti akan disentuh oleh setan saat ia dilahirkan, maka anak itu akan berteriak menangis karena sentuhan tersebut. Lain halnya ketika Siti Maryam melahirkan anaknya.”


    Ibnu Katsir dalam Qashash Al-Anbiyaa mengatakan, setelah Abu Hurairah RA menyampaikan riwayat tersebut, ia menyebut firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.” (QS Ali Imran: 36)

    Hadits tersebut turut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari Bab Tafsir bagian Firman Allah, “Dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya…” dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim bab Keutamaan, bagian Keutamaan Nabi Isa.

    Ibnu Jarir dalam Tafsir Ibnu Jarir turut meriwayatkan hadits serupa dengan sanad yang berbeda namun dengan matan yang sama. Ia meriwayatkan dari Ahmad bin Faraj, dari Baqiyah, dari Abdullah bin Zubaidi, dari Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah RA.

    Ada pula hadits yang menyebut bahwa setan akan memukul dada si bayi yang dilahirkan oleh ibunya sehingga ia akan menangis. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad dari Haitsam, dari Hafsh bin Maisarah, dari Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW.

    “Setiap manusia ketika dilahirkan oleh ibunya pasti dipukul oleh setan di kedua dadanya, kecuali ketika Maryam melahirkan anaknya. Lihatlah bagaimana teriakan seorang bayi ketika ia dilahirkan.”

    Para sahabat menjawab, “Benar sekali wahai Rasulullah SAW.”

    Nabi SAW berkata,” Teriakan itu adalah akibat pukulan setan di kedua dadanya.”

    Menurut riwayat Imam Ahmad lainnya, setan akan menikam pinggang bayi yang dilahirkan. Hal itulah yang kemudian membuat bayi langsung menangis saat lahir. Menurut Ibnu Katsir, sanad riwayat ini memenuhi syarat shahih Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkan dengan sanad ini dalam Shahih-nya.

    Dua Bayi yang Tak Menangis saat Lahir

    Dalam hal ini, ada dua bayi yang tidak menangis saat lahir. Mereka adalah Maryam binti Imran dan putranya, Nabi Isa AS. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

    “Setiap manusia yang terlahir pasti akan disentuh oleh setan dengan jarinya, kecuali Maryam binti Imran dan anaknya, Isa.” (HR Ahmad dalam Musnad Ahmad)

    Syaikh Ali Ahmad Ath-Thahthawi dalam kitab Iltiqa’ Al-Masihain fi Akhir az-Zaman turut menyebutkan riwayat serupa yang bersumber dari Imam Bukhari dan Muslim masing-masing meriwayatkan dalam Shahih-nya.

    Adapun, mengacu pada riwayat yang menyebut bahwa setan akan menikam pinggang bayi ketika dilahirkan, saat setan akan menikam Maryam dan Isa AS, ia justru menikam hijab yang menutupinya. Hal ini menjadi alasan mengapa bayi Maryam dan Isa AS tidak menangis saat dilahirkan.

    Anjuran Azan saat Kelahiran Bayi

    Islam menganjurkan agar mengumandangkan azan dan ikamah bagi bayi yang baru lahir. Anjuran ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan Hasan ibnu Ali sebagaimana dinukil Syamsul Rizal Hamid dalam buku 1500++ Hadits & Sunnah Pilihan. Rasulullah SAW bersabda,

    “Barang siapa yang telah lahir anaknya, lalu diazankan pada telinga kanan anak itu dan ikamah pada telinga kirinya, maka anak tersebut tidak akan mudah diganggu jin dan terlepas dari penyakit (yang sering menimpa anak-anak).”

    Imam an-Nawawi dalam kitab al-Adzkar menyebut sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW mengumandangkan azan untuk cucunya, Husain bin Ali, ketika dilahirkan oleh Fathimah. Riwayat ini termuat dalam Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan lainnya dari Abu Rafi RA.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits tentang Bersyukur, Pahami agar Terhindar dari Sifat Takabur


    Jakarta

    Sebagai seorang hamba Allah, sudah sepatutnya kita bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang Dia limpahkan. Ungkapan syukur bahkan dapat menjauhkan seseorang dari sifat takabur atau sombong.

    Bersyukur juga termasuk ke dalam salah satu sifat orang beriman. Perintah bersyukur tercantum dalam sejumlah ayat Al-Qur’an, salah satunya surat Ibrahim ayat 7.

    وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧


    Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS Ibrahim: 7)

    Para nabi dan rasul telah memberikan teladan mengenai sifat-sifat syukur yang mereka miliki, salah satunya Nabi Nuh AS. Disebutkan dalam Kitab Qashash Al-Anbiyaa oleh Imam Ibnu Katsir, terdapat riwayat yang menyebut bahwa Nabi Nuh AS selalu mengucapkan rasa syukurnya kepada Allah atas makanan, minuman, pakaian, dan segala hal terkait dirinya.

    Dikutip dari buku Syukur Pintu Menuju Bahagia susunan Kartini Hilmatunnida, syukur berasal dari kata syakara-yaskuru-syukran yang artinya pujian karena mendapatkan sesuatu. Bersyukur bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan berdzikir dan mengingat nama Allah yang agung.

    Hadits tentang Bersyukur

    Berikut sejumlah hadits yang menerangkan tentang rasa bersyukur seperti dikutip dari arsip detikHikmah dan buku Ihya Ulumuddin 8, Sabar dan Syukur karya Imam Al-Ghazali,

    1. Disetarakan Kedudukannya dengan Orang Berpuasa

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Orang makan yang bersyukur adalah seperti kedudukan orang yang berpuasa yang sabar.” (HR Imam Bukhari, At-Tirmidzi, dll)

    2. Bersyukur Mengucap Alhamdulillah

    Dari Anas bin Malik RA, dari Nabi SAW yang bersabda,

    “Tidaklah Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba kemudian ia mengatakan, ‘Alhamdulillah’ melainkan apa yang ia berikan itu lebih baik daripada yang ia ambil.” (HR Ibnu Majah)

    Dalam riwayat lain, Bakr bin Abdullah berkata, “Seorang hamba tidak mengucapkan ‘Alhamdulillah’ sekali, melainkan ia wajib mendapatkan nikmat dengan ucapannya, ‘Alhamdulillah.’ Apa balasan perkataannya tersebut? Balasannya ialah ia bisa mengucap ‘Alhamdulillah’ kemudian datanglah nikmat yang lain. Nikmat-nikmat Allah tidak pernah habis.” (HR Ibnu Abu Ad-Dunya dalam Asy-Syukr)

    Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidaklah Allah menganugerahkan nikmat kepada seorang hamba kemudian ia mengetahui nikmat tersebut berasal dari Allah, melainkan Allah menulis syukur untuknya sebelum ia mensyukuri nikmat tersebut. Tidaklah seorang hamba berbuat dosa kemudian ia menyesalinya, melainkan Allah menulis ampunan baginya sebelum ia meminta ampunan kepada-Nya.” (HR Al Hakim)

    4. Salah Satu Sifat Orang Beriman

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mukmin sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR Muslim)

    5. Bersyukur Sama seperti Mengingat Allah SWT

    “Allah berfirman dalam hadits qudsi-Nya: “wahai anak Adam, bahwa selama engkau mengingat Aku, berarti engkau mensyukuri Aku, dan apabila engkau melupakan Aku, berarti engkau telah mendurhakai Aku!” (HR Thabrani)

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Lupa Baca Bismillah Saat Makan? Lakukan Hal Ini Agar Tetap Berkah



    Jakarta

    Bismillah adalah kalimat yang sering diucapkan oleh umat muslim sebelum melakukan sesuatu, termasuk sebelum makan.

    Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak hal yang seringkali luput dari perhatian. Salah satunya adalah lupa membaca bismillah saat akan makan.

    Padahal, membaca bismillah sebelum makan adalah salah satu sunnah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hal ini penting karena membawa berkah pada makanan.


    Namun, bagaimana jika lupa baca bismillah saat makan? Simak penjelasan berikut.

    Lupa Baca Bismillah Saat Makan?

    Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan jika lupa baca bismillah saat makan, agar tetap mendapatkan berkah dari Allah SWT:

    – Ucapkan bismillah saat ingat

    Dikutip dari buku 354 Sunnah Nabi Sehari-hari karya Raghib As-Sirjani, jika seseorang lupa membaca bismillah di awal makan, maka ia dapat membacanya saat ingat meskipun di tengah makan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang dari kalian memakan makanan maka hendaklah ia membaca, “Bismillah”, dan jika ia lupa membacanya di awal makan, maka hendaklah ia membaca, “Bismillah fii awwalihi wa akhiri.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

    Dengan mengucapkan bismillah saat ingat, seseorang akan menunjukkan bahwa dia masih mengingat Allah SWT dan mengharap berkah dari-Nya. Selain itu, dengan membaca bismillah akan menutup celah bagi syaithan untuk ikut makan bersama.

    – Ucapkan doa setelah makan

    Setelah selesai makan, hendaknya mengucapkan doa setelah makan sebagai bentuk rasa syukur dan pujian kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan rezeki.

    Dikutip dari buku Keutamaan Doa & Dzikir Untuk Hidup Bahagia Sejahtera karya M. Khalilurrahman Al Mahfani, doa yang dapat dibaca setelah selesai makan yaitu:

    الْحَمْدُ لِلّٰهِ الّٰذِي اٰطٰعٰمٰنٰا و سٰقٰانٰا و جٰعٰلٰنٰا مُسْلِمِيْن

    Bacaan latin: Alhamdulillaahil ladzi ath’amnaa wa saqaana wa ja’alanaa minal muslimiin.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah memberi makan dan minum kepada kami dan telah menjadikan kau termasuk dalam golongan orang-orang yang muslim” (HR Abu Daud)

    Keutamaan Membaca Bismillah Sebelum Makan

    Dikutip dari buku Penuntun Makan Minum Cr Rasul karya M. Zaka Alfarisi, jika seseorang membaca bismillah sebelum makan, maka makanannya akan berkah dan setan tidak akan ikut makan bersamanya.

    Rasulullah SAW bersabda,

    مَنْ سِرَّهُ أَنْ لَا يَجِدَ الشَّيْطَانُ عِنْدَهُ طَعَامًا وَلَا مَقِيلًا وَلَا مَبِيْتًا فَلْيُسَلَّمْ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ وَلْيَسْم عَلَى طَعَامِهِ

    Artinya: “Barang siapa yang ingin agar setan tidak bisa ikut makan di sampingnya, tidak bisa ikut beristirahat, dan tidak bisa ikut bermalam, maka hendaklah ia mengucap salam saat masuk ke dalam rumahnya dan membaca bismillah saat ia makan.” (HR Ath-Thabarani)

    Dikutip dari buku 354 Sunnah Nabi Sehari-hari karya Raghib As-Sirjani, membaca bismillah ketika makan adalah salah satu cara untuk mendapatkan kekuatan agar menang melawan setan.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Jika seseorang kalian masuk ke dalam rumahnya dan ia menyebut nama Allah ketika memasukinya dan ketika makan, maka setan berkata, “Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makanan bagi kalian.” Namun jikaia masuk ke dalam rumahnya tanpa menyebut nama Allah, maka setan berkata, “kalian mendapatkan tempat bermalam,” dan jika ia tidak menyebut nama Allah ketika makan, maka setan berkata, “kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.” (HR Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad)

    Akibat Lupa Membaca Bismillah Sebelum Makan

    Dikutip dari buku 165 Kebiasaan Nabi SAW karya Abduh Zulfidar Akaha, bahwa ada seorang sahabat yang lupa membaca bismillah ketika makan. Dia baru teringat setelah makanannya hampir habis dan tinggal sesuap lagi.

    Tiba-tiba Rasulullah SAW tertawa dan berkata, “Sesungguhnya tadi setan turut makan bersamanya, tetapi setelah dia menyebut nama Allah, setan itu langsung memuntahkan isi perutnya.” (HR Abu Dawud dan An-Nasa’i)

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Tolak Bala di Bulan Safar, Bisa untuk Rebo Wekasan


    Jakarta

    Doa tolak bala di bulan Safar dapat diamalkan sebagai permohonan kepada Allah SWT agar mendapat perlindungan diri dari segala bahaya, bencana alam, hingga segala bala. Rasulullah SAW bahkan menganjurkan muslim untuk senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam suatu riwayat,

    عَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ

    Artinya: “Berlindunglah kalian kepada Allah dari kerasnya musibah, turunnya kesengsaraan yang terus menerus, buruknya qadha serta kesenangan musuh atas musibah yang menimpa kalian.” (HR Bukhari)


    Di samping itu, firman Allah SWT dalam Al-Qur’an juga menganjurkan muslim untuk memohon pertolongan melalui doa. Salah satunya yang termaktub dalam surah Gafir ayat 60,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ

    Artinya: Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    3 Pilihan Doa Tolak Bala di Bulan Safar dan Artinya

    1. Doa Tolak Bala Versi Pertama

    Ustman bin Affan RA pernah mendengar Rasulullah SAW menganjurkan bacaan doa tolak bala berikut.

    بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Bacaan latin: Bismillahilladzi la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fissamaa’i, wa huwassamii’ul ‘aliim

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang dengan sebab nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan (mendatangkan mudharat). Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

    2. Doa Tolak Bala Versi Kedua

    Dinukil dari laman Kemenag Kanwil Surabaya, doa tolak bala lainnya yang dapat dipanjatkan adalah sebagai berikut,

    اللّٰهُمَّ بِحَقِّ الْفَاتِحَةِ وَسِرِّ الْفَاتِحَةِ يَا فَارِجَ الْهَمِّ وَيَاكَاشِفَ الْغَمِّ، يَامَنْ لِعِبَادِهِ يَغْفِرُوَيَرْحَمُ، يَادَافِعَ الْبَلَاءِ يَا اَللّٰهُ، وَيَادَافِعَ الْبَلَاءِ يَارَحْمٰنُ وَيَادَافِعَ الْبَلَاءِ يَارَحِيْمُ

    Bacaan latin: Allohumma bihaqqil fatihah, wasirril fatihah, yaa faarijal hamma, wa yaa kasyifal ghomma, yaa man li ibaadihi yaghfiru wa yarham, yaa dafi’al bala-i yaa allah, wa yaa dafi’al bala-i ya rohman, wa yaa dafi’al bala-i yaa rohiim.

    Artinya: “Ya Allah, dengan kebenaran Al-Fatihah dan rahasia Al-Fatihah, Wahai sang pembedah kegelisahan. Wahai Sang Penyingkap Kebingugnan. Wahai Dzat yang mengampuni dan mengasihi para hamba-Nya, Wahai Sang Penolak Bala, Ya Allah. Tuhan Yang Maha Pengasih. Wahai Sang Penolak Bala, Tuhan Yang Maha Penyayang,”

    3. Doa Tolak Bala Versi Ketiga

    Ada juga doa tolak bala yang sering kita dengar dibaca usai salat berjamaah. Doa tersebut berbunyi,

    اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الخَيْرِ وَأَبْوَابَ البَرَكَةِ وَأَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَأَبْوَابَ الرِّزْقِ وَأَبْوَابَ القُوَّةِ وَأَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَأَبْوَابَ السَّلَامَةِ وَأَبْوَابَ العَافِيَةِ وَأَبْوَابَ الجَنَّةِ اللَّهُمَّ عَافِنَا مِنْ كُلِّ بَلَاءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ وَاصْرِفْ عَنَّا بِحَقِّ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَبِيِّكَ الكَرِيْمِ شَرَّ الدُّنْيَاوَعَذَابَ الآخِرَةِ،غَفَرَ اللهُ لَنَا وَلَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ

    Bacaan latin: Allāhummaftah lanā abwābal khair, wa abwābal barakah, wa abwāban ni’mah, wa abwābar rizqi, wa abwābal quwwah, wa abwābas shihhah, wa abwābas salāmah, wa wa abwābal ‘āfiyah, wa abwābal jannah. Allāhumma ‘āfinā min kulli balā’id duniyā wa ‘adzābil ākhirah, washrif ‘annā bi haqqil Qur’ānil ‘azhīm wa nabiiyikal karīm syarrad duniyā wa ‘adzābal ākhirah. Ghafarallāhu lanā wa lahum bi rahmatika yā arhamar rāhimīn. Subhāna rabbika rabbil ‘izzati ‘an mā yashifūn, wa salāmun ‘alal mursalīn, walhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

    Artinya: “Ya Allah, bukalah bagi kami pintu kebaikan, pintu keberkahan, pintu kenikmatan, pintu rezeki, pintu kekuatan, pintu kesehatan, pintu keselamatan, pintu afiyah, dan pintu surga. Ya Allah, jauhkan kami dari semua ujian dunia dan siksa akhirat. Palingkan kami dari keburukan dunia dan siksa akhirat dengan hak Al Quran yang agung dan derajat nabi-Mu yang pemurah. Semoga Allah mengampuni kami dan mereka. Wahai, zat yang maha pengasih. Maha suci Tuhanmu, Tuhan keagungan, dari segala yang mereka sifatkan. Semoga salam tercurah kepada para rasul. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam,”

    Doa tolak bala di bulan Safar ini dapat diamalkan dalam tradisi Rebo Wekasan. Dikutip dari buku Kitab Doa-Doa Tolak Bala oleh Siti Nur Aidah, tradisi tersebut berkembang di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura pada Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah.

    Masyarakat setempat meyakini, tradisi Rebo Wekasan dapat menolak bala atau bencana yang ada di daerah mereka. Bahkan, pendapat Syekh Abdul Hamid Kudus dalam kitab Kanzun Najah was Surur tentang adanya musibah dan kesialan pada hari Rabu terakhir bulan Safar menjadi dasar dilakukannya ritual Rebo Wekasan.

    Meski tidak ada dalam tuntunan sunnah, tradisi tersebut juga dapat dijadikan momen untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Khususnya dalam hal memohon perlindungan kepada-Nya.

    (rah/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Tanda Doa Dikabulkan Allah SWT Menurut Ulama


    Jakarta

    Pada hakikatnya, semua doa didengar oleh Allah SWT. Sebab, sebagaimana disebutkan dalam salah satu firman-Nya surah Gafir ayat 60, Allah SWT menyukai orang-orang yang berdoa dan memohon kepada-Nya.

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

    Artinya: Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”


    Hal serupa juga disebutkan dalam ayat lain yakni surah Al Baqarah ayat 186,

    وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

    Artinya: Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

    Dikutip dari Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar, Rasulullah SAW dalam hadits shahihnya pernah menekankan bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa dari setiap muslim. Hal ini dijelaskan oleh salah satu riwayat dari Ubbadah bin Ash-Shamit dalam Sunan At-Tirmidzi.

    “Tidak ada seorang muslim pun di dunia ini yang berdoa kepada Allah dengan suatu permohonan, kecuali Allah akan memberikan permohonan itu atau menggantinya dengan perlindungan dari sesuatu yang tidak diinginkan, selama dia tidak berdoa dengan dosa atau memutuskan hubungan silaturahmi.” Seorang pria bertanya, ‘Apakah artinya kita harus semakin banyak berdoa?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Allah justru lebih banyak memberi.’ (HR Tirmidzi)

    Tanda Doa Dikabulkan Allah SWT

    Menurut Sa`id Ibn al-Musayyab dalam Dar Al-Ifta Al-Misriyyah, Allah SWT memberi pentujuk bila doa dan ibadah yang diamalkan oleh kita diterima-Nya. Salah satunya terlihat saat muslim senantiasa melakukan ketaatan setelah ketaatan lainnya.

    “Misalnya, jika seseorang (ibadah) salat Dzuhur, kemudian ada keinginan melanjutkan untuk menunaikan salat Ashar, maka itu tandanya salat Dzuhur-nya diterima karena Allah telah membimbingnya untuk menunaikan ketaatan berikutnya setelah yang pertama,” jelasnya.

    Tanda lain bahwa doa dikabulkan Allah SWT menurut Sa’id Ibn al-Musayyab adalah senantiasa berhusnuzan atau berprasangka baik kepada Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang berbunyi, “Aku seperti yang prasangka hamba-Ku,” (HR Muttafaq’alaih)

    Selain itu, beberapa tanda doa dikabulkan Allah SWT juga pernah disebutkan oleh Syaikh Abdullah Hajjaj yang diterjemahkan Haidar Musyafa dalam buku Hidup Berkah dengan Doa. Berikut di antaranya:

    1. Semakin merasa takut pada Allah SWT. Sebab, hanya orang-orang yang beriman dan bertakwa pada Allah SWT yang selalu merasa takut kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa ayat 9,

    وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

    Artinya: Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).

    2. Hati semakin tenteram, damai, dan yakin. Hal itu pun membuatnya semakin rajin memuji dan mengagungkan-Nya melalui zikir dan melafalkan kalimat yang disukai Allah SWT.

    3. Menjadi pribadi yang cekatan dalam bertindak hingga cepat dan tepat dalam mengambil keputusan. Orang yang dikabulkan doanya maka ia telah dekat dengan Allah SWT sehingga segala yang dilakukannya sesuai dengan ajaran-Nya.

    4. Semakin dermawan sebagai bukti rasa syukur kepada Allah SWT.

    5. Semakin bersyukur kepada Allah SWT.

    Allah SWT memiliki cara tersendiri untuk mengabulkan doa-doa dari hamba-Nya yang memohon kepada-Nya. Rasulullah SAW dalam haditsnya menjelaskan beberapa cara Allah mengabulkan permintaan dari hamba-Nya.

    Dari Abu Sa’id, Rasulullah SAW bersabda bahwa ada doa yang langsung dikabulkan, ada doa yang disimpan di akhirat, dan ada doa yang diganti untuk menghindarkan keburukan baginya. Berikut bunyi haditsnya,

    ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

    Artinya: “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan doanya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Rasulullah lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan doa-doa kalian.” (HR Ahmad)

    Syaikh Bakar Abdul Hafizh Al-Khulaifat dalam Tafsir dan Makna Doa-doa dalam Al Quran menyebut, doa adalah meminta pertolongan dan memohon. Dari segi istilah, doa bermakna ibadah.

    Doa juga dikatakan sebagai perkataan yang dipanjatkan untuk menunjukkan rasa memohon dengan ketundukan hati. Adapun hakikat dari doa adalah suatu permohonan pertolongan dari seorang hamba kepada Allah SWT.

    (rah/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Senyum adalah Sedekah, Paling Ringan dan Dianjurkan


    Jakarta

    Senyum identik dengan ekspresi wajah yang menggambarkan kesenangan dan penuh kasih sayang. Dalam ajaran Islam, senyum bahkan termasuk ke dalam bentuk sedekah.

    Dikatakan, senyum merupakan bentuk sedekah yang paling ringan. Senyum juga mampu membahagiakan haiti seorang muslim dan tergolong sebagai kebaikan yang memiliki banyak keutamaan.

    Nabi Muhammad Gemar Tersenyum

    Nabi Muhammad SAW sendiri merupakan seseorang yang dikenal gemar tersenyum. Hal ini diceritakan oleh para sahabat yang menjelaskan terkait kesempurnaan budi, kerendahan hati serta kebaikan sang nabi.


    Dalam Syarah Syama’il Nabi Muhammad karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al-Badr, disebutkan Qutaibah bin Sa’id telah bercerita kepada kami, ia berkata,

    “Ibnu Lahi’ah telah bercerita kepada kami dari Ubaidullah bin Al-Mughirah, dari Abdullah bin Al-Harits bin Jaz’i, ia berkata:

    Aku tidak melihat orang yang lebih sering tersenyum daripada Rasulullah.” (HR Baihaqi)

    Dalam riwayat lainnya diterangkan juga terkait Rasulullah SAW yang gemar tersenyum. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nabi SAW bersabda:

    “Rasulullah tidak pernah menghalangiku semenjak aku memeluk Islam dan beliau tidak melihatku kecuali selalu tersenyum kepadaku.” (HR Tirmidzi)

    Menukil buku Sukses Bisnis Melalui Manajemen Rasullulah SAW oleh Dr. Yucki Prihadi, Ssi, Mm., M., dikatakan bahwa ketika tersenyum bibir Rasulullah SAW selalu ditarik ke kanan dan ke kiri masing-masing 1 cm. Giginya terlihat sedikit. Badan dan wajahnya juga selalu ikut menghadap ke arah orang yang diberi senyuman.

    Bunyi Hadits Senyum adalah Sedekah

    Dalam buku Inilah Jalan yang Lurus, Jalan Hidup Nikmat Dunia-Akhirat karya Mohammad Mufid, dikatakan bahwa suatu ketika, ada seorang sahabat yang tidak memiliki apapun untuk disedekahkannya. Ia pun bertanya kepada Rasulullah, “Jika kami ingin bersedekah, tetapi kami tidak memiliki apapun, lantas apa yang boleh kami sedekahkan dan bagaimana kami menyedekahkannya?”

    “Senyummu di hadapan saudaramu adalah (bernilai) sedekah bagimu” (HR. Tirmidzi)

    Selain bentuk sedekah, senyum juga dikatakan sebagai ibadah. Hal ini merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Dailamy.

    “Sesungguhnya, pintu-pintu kebaikan itu banyak; tasbih, tahmid, takbir, tahlil (dzikir), amar makruf nahi munkar, menyingkirkan penghalang (duri, batu) dari jalan, menolong orang, sampai senyum kepada saudara pun adalah sedekah.” (HR Dailamy)

    Pada riwayat lainnya, senyum dikatakan sebagai kebaikan sebagaimana sabda Nabi SAW:

    “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya dengan bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri.” (HR Muslim)

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa setelah Adzan Subuh yang Disunahkan Rasulullah SAW


    Jakarta

    Saat mendengar adzan Subuh, muslim dianjurkan untuk membalas adzan tersebut dengan bacaan tertentu. Setelah mendengar muazin mengumandangkan adzan pun, disunahkan untuk membaca doa setelah adzan Subuh.

    Doa setelah adzan Subuh adalah doa yang dianjurkan bagi umat muslim untuk dibaca setelah mendengar adzan Subuh. Doa ini memiliki banyak keutamaan dan manfaat bagi yang membacanya, termasuk dalam doa pada waktu mustajab yakni waktu antara adzan dan iqomah.

    إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، فَادْعُوا


    Artinya: “Doa antara adzan dan iqamah tidak ditolak, maka berdoalah kamu.” (HR Ahmad)

    Doa setelah Adzan Subuh Arab, Latin, dan Artinya

    Doa setelah adzan Subuh tidak berbeda dari adzan salat fardhu lainnya. Dinukil dari buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq yang ditulis oleh Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi, berikut adalah bacaan doa yang disunahkan oleh Rasulullah SAW yang diambil dari hadits-hadits shahih.

    اللَّهُمَّ رَبِّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ.

    Arab-latin: Allahumma rabba hadihid da’watittaammah washolaatil qaaimati aati muhammadal wasiilata walfadhiilata wab’atshu maqaamam mahmuudal ladii wa ‘addah

    Artinya: “Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini (adzan), dan shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad al-wasilah (kedudukan mulia di sisi-Mu) dan keutamaan, dirikan untuknya tempat terpuji seperti yang telah Engkau janjikan kepadanya.” (HR Bukhari)

    Jawaban saat Mendengar Adzan Subuh

    Selain doa setelah mendengar adzan Subuh, saat mendengar dikumandangkannya adzan ternyata juga ada sunah dan tuntunan untuk menjawabnya.

    Ali Manshur dalam bukunya yang berjudul Untaian Mutiara Doa solusi Problematika Umat: Bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits menjelaskan bahwa ketika kita mendengar azan, maka kita diperintahkan untuk mengucapkan sesuai lafal yang diucapkan oleh muadzin, kecuali pada lafaz dua kalimat hayya ‘ala.

    حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ

    Latin: Hayya ‘alashshalaah (2x)

    Artinya: Marilah melaksanakan salat.

    Dan pada lafaz,

    حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

    Latin: Hayya ‘alalfalaah (2x)

    Artinya: Marilah menuju kebahagiaan.

    Kedua lafaz tersebut dijawab dengan kalimat berikut,

    لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

    Latin: Laa hawla wa laa quwwata illa billah

    Artinya: Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

    Khusus untuk adzan Subuh, dikutip dari Syamsul Rijal Hamid dalam bukunya yang berjudul Ensiklopedia Hadits Ibadah Shalat Sunnah dan Perkara Lain Mengenai Shalat, jika mendengar muadzin mengumandangkan kalimat Ash-shalaatu khairum minan nauum (salat itu lebih baik dibandingkan tidur) hendaknya dijawab dengan kalimat berikut,

    صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ وَأَنَا عَلَى ذَالِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ

    Latin: Shadaqta wa bararta wa ana ‘ala dzaalika minasy-syaahidiin

    Artinya: “Benar dan baguslah ucapanmu itu, aku pun termasuk orang-orang yang menyaksikan.”

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits tentang Hasad dan Bahayanya, Naudzubilah Min Zaalik!


    Jakarta

    Hasad tergolong ke dalam penyakit hati yang harus dihindari oleh kaum muslimin. Bahkan dalam sebuah hadits, hasad dapat memakan kebaikan sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

    “Hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR Abu Dawud)

    Menukil dari buku Mutiara Akhlak Tasawuf susunan Dr Sahri MA, dijelaskan dalam kitab mutiara Ihya’ Ulum al-din bahwa hasad merupakan akibat dari dendam. Sementara itu, dendam adalah akibat dari marah.


    Dalam Islam, hasad diartikan sebagai perasaan iri hati dan dengki. Rizem Aizid melalui bukunya yang bertajuk Tartil Al-Quran untuk Kecerdasan dan Kesehatan menyebut bahwa sifat hasad bahkan dimiliki oleh iblis. Karenanya, sang rasul melarang kaum muslimin memiliki sikap tersebut.

    Hadits tentang Sifat Hasad

    Berikut sejumlah hadits yang membahas tentang sifat hasad seperti dikutip dalam buku Kumpulan 70 Hadits-Hadits Pilihan karya Dr Muhammad Murtaza bin Aish Muhammad.

    1. Hadits Larangan Iri Hati

    “Jangan kamu saling dengki dan iri dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, maka tidak boleh menzaliminya, melantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim haram darahnya bagi Muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

    2. Hadits Waspada terhadap Hasad

    “Waspadalah terhadap hasad (iri dan dengki), sesungguhnya hasad mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu.” (HR Abu Daud)

    3. Hadits Hasad sebagai Penyakit

    “Penyakit umat-umat sebelum kalian telah menyerang kalian yaitu dengki dan benci. Benci adalah pemotong; pemotong agama dan bukan pemotong rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR Tirmidzi)

    4. Hadits Perkara yang Memperbolehkan Iri Hati

    “Tidak ada iri hati dan dengki kecuali terhadap dua hal, yaitu seorang yang diberi Allah harta lalu dibelanjakan pada sasaran yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksanaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya.” (HR Bukhari dan Tirmidzi)

    Bahaya Sifat Hasad

    Mengutip buku Maaf Tuhan, Saya Khilaf! oleh Ahfa Wahid, ada sejumlah bahaya sifat hasad yang merujuk pada kitab Thariqah Muhammadiyah, antara lain sebagai berikut:

    1. Membuka Pintu Maksiat

    Ketika ketaatan seseorang telah hilang, maka sifat iri dan dengki yang dimiliki telah berada di tingkatan yang sama dengan iblis. Jadi, setiap perbuatannya akan berpaling dari Allah SWT karena iri hati dapat membawa seseorang melakukan perilaku maksiat.

    2. Menghalangi Diri dari Syafaat

    Seseorang yang memiliki sifat iri hati tidak akan mendapat syafaat. Mengapa demikian? Sebab, ketika di dunia ia telah menolak pertolongan diri dari Rasulullah SAW dengan berbuat iri terhadap orang lain.

    Padahal, syafaat Rasulullah SAW merupakan pertolongan yang dapat menyelamatkan umat muslim ketika di akhirat kelak kala kesedihan dan bencana menimpa kita.

    3. Membutakan Hati

    Bahaya sifat hasad juga dapat membutakan hati seseorang hingga tidak lagi mempedulikan syariat dan hukum Allah SWT. Ketika hati seorang buta, maka ia akan benar-benar tersesat seperti orang yang berjalan tanpa arah.

    4. Menjerumuskan Diri ke dalam Neraka

    Bahaya dari sifat iri hati lainnya ialah menjerumuskan diri ke dalam neraka. Iri hati merupakan alat penghapus amal yang baik, sehingga mustahil bagi kita untuk masuk surga jika masih memiliki sifat iri dan dengki.

    5. Membahayakan Orang Lain

    Sifat iri hati tidak hanya membahayakan diri sendiri, melainkan juga orang lain. Ketika seseorang merasa iri, ia akan berusaha mencari segala cara agar nikmat yang dimiliki oleh orang lain akan hilang.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Keutamaan Salat Jumat dan Sunnah-sunnah yang Dianjurkan


    Jakarta

    Salat Jumat merupakan amalan wajib bagi pria muslim pada waktu Dzuhur di hari Jumat. Perintah salat Jumat termaktub dalam surat Al Jumuah ayat 9,

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

    Artinya: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”


    Jumat dikatakan sebagai hari yang agung bagi umat Islam. Keagungannya tercantum dalam sebuah hadits dari Abu Lubabah bin Abdul Mundzir, Rasulullah SAW bersabda:

    “Hari Jumat adalah ‘tuannya’ semua hari, dan hari yang paling agung. Di mata Allah, hari Jumat lebih agung dari Hari Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Al Baihaqi)

    Kewajiban salat Jumat ini bukan tanpa alasan, ada sejumlah keutamaan yang terkandung di dalamnya. Apa saja? Simak pembahasannya berikut ini seperti dinukil dari Buku Rahasia & Keutamaan Hari Jumat susunan Komarudin Ibnu Hikam

    Hadits Keutamaan Salat Jumat

    1. Diganjar Pahala Berlimpah

    Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad bersabda:

    “Barangsiapa yang pergi untuk melaksanakan salat Jumat pada awal waktu, bagaikan dia telah berkurban dengan seekor unta. Jika berangkat pada waktu kedua, seakan-akan dia berkurban dengan seekor sapi. Pergi pada waktu ketiga, seakan-akan dia berkurban dengan kambing berduri. Jika berangkat pada waktu keempat, seperti memberikan hadiah berupa seekor ayam jantan. Dan bagi yang berangkat pada waktu kelima, seperti memberi hadiah sebutir telur. Setelah imam keluar dan khutbah dimulai, maka daftar amal perbuatan ditutup, pena para malaikat berhenti menulis, dan malaikat pun hadir untuk mendengarkan zikir. Bagi siapa saja yang datang setelah itu, dia datang hanya untuk memenuhi kewajiban salat Jumat dan tidak akan mendapatkan keutamaan apapun dari waktu-waktu yang telah disebutkan tadi.” (HR Bukhari dan Muslim)

    2. Diampuni Dosa di Antara Dua Jumat

    Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa mereka yang mengerjakan salat Jumat akan diampuni dosanya di antara dua Jumat. Rasulullah SAW bersabda:

    “Seseorang yang mandi pada hari Jumat dan membersihkan dirinya dengan sebaik-baiknya, lalu menggunakan wewangian atau minyak wangi, kemudian pergi ke masjid dan tidak menyela antara dua orang yang duduk berjajar, kemudian dia melaksanakan sholat sunnah yang dianjurkan baginya, dan dia diam ketika imam memberikan khutbah, niscaya dosa-dosanya akan diampuni antara Jumat ini dan Jumat berikutnya selama dia tidak melakukan dosa besar.” (HR Bukhari)

    3. Permohonannya Terkabul

    Pada hadits lainnya, dikatakan bahwa hari Jumat merupakan menjadi momen seorang muslim untuk salat jumat dan memohon kebaikan pada Allah SWT. Berikut bunyinya,

    “Dalam riwayat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa pada hari Jumat terdapat momen tertentu di mana jika seorang muslim berdiri untuk melaksanakan sholat dan memohon kebaikan kepada Allah SWT, pasti Allah akan mengabulkannya. Rasulullah SAW menunjukkan dengan isyarat jarinya bahwa momen ini sangat singkat.” (HR Muslim)

    Deretan Sunnah Salat Jumat yang Dianjurkan

    Ada sejumlah sunnah yang dianjurkan ketika melaksanakan salat Jumat. Mengutip buku Panduan Salat Lengkap yang ditulis oleh Ustaz Muhammad Syafril, berikut bahasannya:

    • Memakai wewangian
    • Berangkat lebih awal
    • Mandi setelah fajar
    • Berhias dengan pakaian terbaik
    • Memakai imamah, semacam sorban yang dililitkan di kepala
    • Mendengarkan khutbah dengan seksama
    • Membaca Surat Al-Kahfi
    • Memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW
    • Memperbanyak doa

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Amalan yang Paling Baik Menurut Hadits Shahih



    Jakarta

    Ada berbagai amalan yang bisa dikerjakan umat Islam, baik yang ringan maupun berat. Di antara banyaknya amal, ada satu yang disebut menjadi yang paling baik.

    Menurut hadits yang termuat dalam kitab Shahih Bukhari, sebaik-baik amal adalah iman. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Berikut bunyinya,

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ فَقَالَ: إِيمَانُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ : ثُمَّ ماذا قَالَ: الْجِهادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ : ثُمَّ مَاذَا قَالَ: حَقٌّ مبرور أخرجه البخاري في: ۲ كتاب الإيمان


    Artinya: “Rasulullah SAW ditanya: ‘Apakah amal yang paling utama?’ Nabi SAW bersabda: ‘Iman kepada Allah dan Rasulullah.’ Lalu ditanya: ‘Kemudian apa?’ Jawabnya: ‘Jihad fi sabilillah.’ Lalu ditanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi SAW menjawab, ‘Haji yang mabrur.’” (HR Bukhari dalam kitab Iman)

    Abu Dzar RA turut meriwayatkan hal serupa dengan redaksi yang lebih panjang. Ia mengatakan,

    سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْعَمَل أَفْضَلُ قَالَ: إِيمَانُ بِاللَّهِ وَجِهادٌ في سَبيلِهِ قُلْتُ: فَأَيُّ الرِّقَابِ أَفْضَلُ قَالَ: أَغْلَاهَا ثَمَنَّا وَأَنْفَسُها عِنْدَ أَهْلِهَا قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ قَالَ: تُعِينُ صَائِعًا أَوْ تَصْنَعُ لِأَخْرَقَ قَالَ: فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ قَالَ: تَدَعُ النَّاسَ مِنَ الشَّرِّ فَإِنَّها صَدَقَةٌ تَصَدَّقُ بِهَا عَلَى نَفْسِكَ أَخرجه البخاري في: ٤٩ كتاب العتق

    Artinya: “Aku bertanya kepada Nabi SAW: ‘Apakah amal yang utama?’ Jawabnya: ‘Iman kepada Allah dan jihad fi sabilillah.’ Lalu aku tanya lagi: ‘Memerdekakan budak mana yang lebih utama?’ Nabi SAW menjawab: ‘Yang lebih mahal harganya dan yang sangat disayang oleh pemiliknya.’ Abu Dzar bertanya: ‘Jika aku tidak bisa melakukan itu?’ Nabi SAW bersabda, ‘Membantu orang yang melakukan demikian, atau melaksanakan untuk orang yang tidak bisa (mewakili orang yang tidak bisa melakukannya).’ Abu Dzar bertanya lagi:’ Jika tidak bisa juga?’ Nabi SAW menjawab: ‘Menghindarkan orang-orang dari kejahatan, maka itu sebagai sedekah untuk dirimu.’” (HR Bukhari dalam kitab Memerdekakan Budak)

    Masih dalam Shahih Bukhari, penyusun kitab juga mengeluarkan hadits tentang pengertian iman dan cabang-cabangnya berdasarkan riwayat Abu Hurairah RA. Menurut riwayat ini, iman adalah percaya pada Allah SWT, malaikat-Nya, dihadapkan pada-Nya, pada Nabi utusan-Nya, dan percaya pada hari kebangkitan dari kubur. Dalam redaksi lain: iman kepada Allah SWT, malaikat, kitab-kitab, nabi dan rasul, hari kiamat, dan qada dan qadar.

    Abu Ayyub Al-Anshari meriwayatkan, ada seorang Badui yang menghadang Nabi SAW di tengah jalan seraya memegang unta tunggangan Nabi SAW. Orang itu bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amalan apa yang dapat membawanya ke surga.

    Nabi SAW menjawab,

    تَعْبُدُ اللَّهَ لا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ ذَرْهَ

    Artinya: “Hendaknya engkau menyembah Allah dan tidak mempersekutukannya dengan apa pun, dan mendirikan salat, dan menunaikan zakat dan menjalin tali kekerabatan.” (HR Bukhari dalam kitab Adab)

    Amalan yang Dicintai Allah

    Imam Bukhari juga menyebutkan hadits tentang amalan yang dicintai Allah SWT. Menurut riwayat Abdullah bin Mas’ud yang menanyakannya kepada Rasulullah SAW, ada tiga amalan yang dicintai Allah SWT, yakni salat tepat pada waktunya, berbakti kepada orang tua, dan berjuang menegakkan agama Allah SWT (jihad fi sabilillah). Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari pada kitab Waktu-waktu Salat.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com