Tag: haji

  • Inovasi Dalam Layanan dan Manasik Haji



    Jakarta

    Setiap tahun, Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas, selalu menghadirkan hal-hal baru dalam pelayanan kepada jemaah haji Indonesia. Makan tiga kali sehari selama tinggal di Makkah, merupakan kebijakan yang pertama kali diluncurkan pada dua tahun lalu. Sebelumnya, Jemaah haji hanya mendapatkan dua kali makan.

    Keputusan penting dalam hal konsumsi ini sangat membantu Jemaah. Mereka dapat fokus dalam hal ibadah dan tidak direpotkan dengan tetek bengek urusan perut. Beban logistik yang biasa memenuhi koper jemaah, secara signifikan terkurangi. Mereka cukup membawa lauk spesial tambahan saja, tanpa harus membawa beras, lauk pauk, dan peralatan masak. Resiko kebakaran akibat memasak di kamar hotel juga tidak terjadi.

    Tahun 2024, kebijakan konsumsi untuk jemaah kembali diperbaiki dan disempurnakan. Tahun lalu, dua hari sebelum dan tiga hari setelah puncak ibadah haji, jemaah haji tidak mendapatkan konsumsi karena faktor distribusi yang tidak mungkin dilakukan. Kota Makah sangat macet.


    Tahun ini, Jemaah haji mendapatkan konsumsi di tanggal 7 dan pagi hari di tanggal 8 Dzul Hijjah. Selebihnya mendapatkan konsumsi di Arafah. Begitu pula konsumsi pasca puncak haji, yaitu tanggal 12 siang dan malam serta tanggal 13 Dzul Hijjah pagi hari, Jemaah haji mendapatkan lauk dan atau makanan siap saji di hotel. Selebihnya, konsumsi regular untuk jemaah haji sudah dapat diberikan secara normal seperti biasa.

    Haji ramah lansia (HRL) menjadi prioritas haji 2023 dan tahun ini dilanjutkan dan disempurnakan. Fakta bertahun-tahun menyatakan lebih dari 30% jemaah lansia. Tentu saja ini bukan salah jemaah tetapi karena panjangnya antrian haji. Jemaah lansia memiliki Riwayat penyakit yang beragam dan tergolong jemaah dengan resiko tinggi (risti), termasuk tingkat kematian. HRL merupakan terobosan penting dalam pelayanan, pembinaan dan pelindungan jemaah dengan kategori khusus.

    Puluhan tahun, fakta ini dilihat sebagai given saja dan tidak mendapat perhatian yang serius. Dampak kebijakan HRL sangat signifikan dan diharapkan dapat mengurangi jumlah angka kematian. Kebijakan HRL ini juga dibarengi dengan kebijakan istitha’ah (kemampuan atau al-iradah al-muqtadhiyah lil qudrah) kesehatan yang diperketat. Screening kesehatan jemaah haji dilakukan sebanyak dua kali, setelah dinyatakan lolos baru dilakukan pelunasan biaya haji. Bukan sebaliknya, lunasi dulu baru screening kesehatan.

    Pada tahun yang sama, Menteri Agama RI juga gelisah dengan ekonomi haji yang sangat besar, namun kecil sekali yang kembali ke tanah air. Indonesia hanya mendapatkan sangat sedikit bagian dalam putaran uang yang nilainya puluhan triliun rupiah saat musim haji berlangsung.
    Maskapai penerbangaan nasional hanya sanggup melayani separuh dari total jemaah yang berangkat ke tanah suci. Hanya transportasi udara saja, yang mampu dikapitalisasi itupun tidak maksimal. Selebihnya, kita hanya menjadi konsumen dan bahkan penonton saja, mulai dari konsumsi dan bahan mentahnya, hingga transportasi, akomodasi dan berbagai kebutuhan haji lainnya.

    Menteri Agama RI melakukan banyak inisiatif dan pertemuan dengan kementerian dan pihak terkait untuk memastikan bahwa Indonesia harus mendapatkan manfaat ekonomi dalam setiap penyelenggaraan ibadah haji. Tahun ini, inisiatif itu mulai membuahkan hasil.

    Sekarang semua pengusaha katering di Saudi Arabia wajib menggunakan bumbu, makanan dan lauk siap saji yang didatangkan dari Indonesia. Di berbagai hotel di Makkah yang menjadi tempat menginap jemaah, tersedia makanan khas nusantara yang disediakan pengusaha Indonesia. Tentu saja masih sangat sedikit bagian dari ekonomi haji yang seharusnya dapat dimaksimalkan manfaatnya oleh pengusaha nasional. Ke depan, inisiatif ini harus dilanjutkan dan semestinya lebih baik lagi.

    Terobosan yang diambil oleh Menteri Agama RI juga menyentuh aspek petugas yang melayani Jemaah. Sejak tahun pertama penyelenggaraan haji di bawah Gusmen, ada nomenklatur baru dalam struktur PPIH untuk memperkuat layanan ibadah kepada jemaah. Struktur baru itu, ada yang disebut konsultan ibadah dan adapula musytasyar dini (penasihat keagamaan).

    Khusus musytastar dini, mereka terdiri dari para ahli agama (ulama) yang bertugas membuat analisis, memberikan arahan dan kajian serta rekomendasi terkait aspek ibadah dan manasik haji. Untuk kebutuhan internal dalam rangka mendisplinkan petugas, tahun 2024 ini juga dilahirkan istilah pengendalian petugas (dalgas).

    Kebijakan Murur

    Insiden Muzdalifah pada penyelenggaraan haji 2023 memberikan banyak pelajaran, khususnya pada manasik haji. Waktu itu, jemaah terlambat didorong ke Mina karena faktor kemacetan di Muzdalifa-Mina yang sangat parah. Paling akhir jam 8 pagi 10 Dzulhijjah, seharusnya semua jemaah sudah meninggalkan Muzdalifah. Tetapi kenyataannya, sebagian jemaah masih banyak yang tertinggal di sana, bahkan hingga siang hari. Padang Muzdalifah sangat panas dan tanpa tenda.
    Puncak haji yang dimulai dari wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan di Mina merupakan waktu dan situasi yang kritis (critical momentum), baik dari segi syariah maupun pelayanan kepada jemaah. Dibandingkan Arafah dan Mina, mabit di Muzdalifah memiliki critical point yang khas, utamanya soal sempitnya lahan dan fasilitas di Muzdalifah yang tidak ada apa-apa, kecuali toilet saja. Tidak ada tenda dan sangat panas, jika jemaah terlambat didorong ke Mina.

    Menurut hitungan Ditjen PHU Kemenag RI, luas lahan Muzdalifah untuk jemaah haji Indonesia (213.320 jemaah ditambah petugas 2.747 orang) hanya sekitar 82.350 m2. Itupun sekarang dikurangi untuk toilet seluas 20.000 m2. Praktis, perjemaah hanya mendapat 0,29 m2. Nyaris hanya cukup untuk menaruh pantat saja.
    Atas dasar ini, Menteri Agama RI mengeluarkan kebijakan murur di Muzdalifah untuk lansia, jemaah sakit atau risti dan penyandang disabilitas serta pendampingnya. Tentu saja, kebijakan ini dirilis setelah mendengar masukan dan pandangan fiqh dari para ulama, baik dari musytasyar diny maupun kalangan ormas Islam.

    Murur merupakan makharij fiqhiyyah dalam fikih manasik haji. Murur sesuai dengan prinsip maqashid al-syariah (tujuan ditetapkannya Syariat Islam), khususnya dalam menjaga jiwa jemaah (hifz al-nafs). Kebijakan murur baru saja dilaksanakan dalam penyelenggaraan haji 2024 ini. Dengan penuh syukur, pada pukul 07.34 WAS, seluruh jemaah sudah keluar dari Muzdalifah dan berada di Mina.

    Fiqh Alternatif

    Salah satu wajib haji adalah mabit (bermalam) di Muzdalifah. Sebagian ulama tidak menyebut mabit melainkan al-wujud (berada) di sana (al-Sayyid Muhammad, 2003: 63). Dua istilah ini, memiliki konsekuensi yang berbeda, setidaknya seperti terlihat dalam arti literalnya. Jemaah yang meninggalkan wajib haji, maka hajinya tetap sah namun wajib menyembelih dam.

    Di kalangan ulama mazhab, terdapat perbedaan pendapat tentang mabit di Muzdalifah. Menurut Imam Malik, Syafi’i dan Malik, hukum mabit di Muzdalifah adalah wajib. Menurut Imam Abu Hanifah dan salah satu pendapat ulama mazhab Syafi’i, mabit di Muzdalifah hukumnya sunnah. Bagi yang meninggalkannya, tidak memiliki konsekuensi hukum apa-apa. Bahkan siapapun boleh murur, apalagi yang sedang sakit, lansia atau penyandang disabilitas.
    Bagi ulama yang mewajibkan mabit di Muzdalifah, murur yang dilakukan oleh lansia, orang yang sakit atau risti, penyandang disabilitas dan pendamping merupakan rukhsah (keringanan) bagi mereka. Hajinya sah dan tidak dikenakan dam. Pendapat ulama musytasyar dini dan ulama ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, MUI, Persis dan lain-lain, membolehkan murur seperti di atas. Hal ini makin meyakinkan jemaah bahwa meskipun murur, haji mereka tetap sah dan tidak membayar dam.

    Pada masa depan, jika tidak ada perubahan yang signifikan di Muzdalifah, murur mungkin saja bukan hanya menjadi rukhsah (keringanan) bagi jemaah lansia, sakit dan ristis, penyandang disabilitas serta pendamping, tetapi dapat menjadi ‘azimah (hukum yang berlaku umum) dalam pelaksanaan manasik haji. Murur dapat menjadi fikih alternatif dan kini menjadi istilah baru dalam manasik haji yang lahir dari fukaha Indonesia. Murur selain hajinya sah juga menyelamatkan jemaah.

    Abu Rokhmad

    Penulis adalah Koordinator Tim Monev PPIH 2024
    Staf Ahli dan Plt. Dirjen Pendis Kemenag RI

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bekal Berhaji, Bekal Taqwa Itu Pilihan!



    Jakarta

    Kisah Viral

    Viral ketika seorang presenter senior ternama di Indonesia melansir kisahnya. Kisah heroik, kisah spirit, disampaikan apa adanya. Begini sekelumit kisahnya itu;

    ‘Ketika itu ia mengikuti antrian panjang untuk memasuki Raudhah. Tempat mustajabah di masjid Nabawi, Madinah. Demi melihat antrian sangat panjang, dirinya bingung apa yang hendak dimunajatkan. Terbetik di hatinya akankah keluar saja dari antrian. Paling tidak dirinya akan mengurangi jatah antrian orang lain yang memang benar-benar memiliki kepentingan.


    Tiba-tiba dilihatnya ada tempat kosong. Agak aneh karena di sekitarnya orang-orang berjejal-jejal. Dirinya masuk ke situ lalu berulang timbul kebingungan. Doa apakah yang akan dipanjatkan. Kembali dirinya ingin berbagi kesempatan. Kepada orang-orang yang sedang berjejalan.

    Sebelum tiba-tiba ada orang berwajah tampan. Menyapanya dengan bahasa Palembang. Padahal dia jelas orang Arab tampan yang beraroma semerbak harum.

    Tak cukup menyapa, ia memberikan buku kumpulan doa mustajabah khusus Raudhah. Berbahasa Indonesia yang gampang.

    Namun sayang. Ketika dirinya pulang ke Indonesia. Bukunya tak lagi ditemukan.
    Alamat orang tampan yang di Palembang pun ternyata bukan alamat betulan’.

    Mengapa disebut heroik? Karena setiap kali dirinya enggan melanjutkan upaya penuh jerih payah. Adalah perasaan jangan-jangan orang lain kurang peluang. Hanya karena dirinya merasa, jangan-jangan ia menjadi penghalang orang lain untuk menemukan kelapangan tempat. Heroik, karena dirinya tidak egois. Heroik karena perhatiannya yang lebih kepada bukan dirinya.

    Mengapa disebut spirit? Karena semuanya serba di luar logika normal. Ada orang tampan beraroma harum. Langsung menyapanya padahal belum pernah kenalan. Di tempat yang pastinya penuh kesulitan untuk mendapatkan lokasi walau hanya sejengkal. Di Raudhah. Tempat yang diagungkan. Bagi yang berumrah mau pun berhaji.

    Orang tampan itu berkebangsaan Arab tapi fasih berbahasa Palembang. Segera menyerahkan buku berbahasa nasional. Bahasa Indonesia yang gampang. Buku yang berisikan doa-doa sesuai kebutuhan di tempat yang bersangkutan.

    Orang tampan mengajukan alamat yang tak disebutkan lisan. Alamat yang tercantum di halaman buku. Setelah dicek ternyata alamatnya bukan alamat betulan. Bukunya pun tak dapat lagi ditemukan.

    Ketika yang bersangkutan sampai di negara asal. Banyak sudah urutan alasan yang tak satu pun bisa dipecahkan dengan logika yang wajar. Semuanya di luar nalar yang normal.

    Sungguh belum mudah dinalar. Ia pergi ke suatu tempat mustajabah (Raudhah), tanpa persiapan pemahaman. Awam dari bahasa Arab terkait doa. Awam tentang permohonan apa yang sewajarnya dipanjatkan. Entah awam apalagi yang semuanya menjadi alasan untuk membalikkan badan. Batal munajat walau sudah terlanjur lewati antrian sangat panjang.

    Kebaikan Langka Yang Termasuk Taqwa. Mengutamakan orang lain daripada dirinya, adalah perilaku yang selalu disanjung pujian dalam Islam. Ada ayat alQuran yang jelas menyanjung ulung mereka yang mampu melakukannya (al Hasyr: 9) “Mereka lebih mengutamakan (orang lain) daripada dirinya, sekalipun mereka sendiri butuh.”

    Pernah di masa Rasulullah saw. seorang perantauan kehabisan bekal. Ia datang
    ketika hari petang menjelang malam. Bukan hanya habis bekal. Ia pun mengeluh
    lapar.

    Demi di rumah Rasulullah tidak tersedia makanan. Beliau menawarkan kepada para sahabatnya siapa yang berkenan menjamu musafir itu.

    Spontan satu orang mengacungkan tangan, Abu Thalhah al-Anshari. Ia berkenan menyiapkan makan untuk sang musafir.

    Diajaklah orang asing itu ke rumahnya. Sesampai di rumah, ia menyampaikan pesan kepada istrinya, Ummu Sulaim agar menyiapkan makan.

    Namun sayang, istrinya bilang makanan yang ada hanya cukup untuk satu orang. Untuk anaknya yang juga belum makan.

    Sontak Abu Thalhah menyiapkan strategi pengamanan. Istrinya diminta menidurkan putranya lebih awal. Agar ketika sampai jam makan, putranya sudah ketiduran.

    Piring satu disiapkan untuk tamu. Abu Thalhah siapkan piring tampa isi makanan. Ada sendok sebagai strategi pengaburan.

    Agar berbunyi seolah dirinya menemani makan sang musafir yang telah diundangnya makan.

    Lampu dimatikan. Strategi gampang agar tak menjadikan tamu paham kalau tuan rumah siapkan piring tampa isi makanan.

    Tamu lahap menyantap hidangan. Sementara Abu Thalhah, istrinya, berikut putranya lewatkan malam tampa secuil makanan.

    Esok harinya Abu Thalhah menuju Rasulullah untuk melaporkan kejadian semalam. Namun sebelum Abu Thalhah berbincang kejadian semalam. Sambil tersenyum
    Rasulullah berujar, “Wahai Abu Thalhah, Allah SWT kagum dengan perbuatanmu menjamu tamu semalam.”

    Allah berkenan kepada Abu Talhah dan keluarganya atas perbuatan mereka tadi malam. Malaikat Jibril as. menyampaikan
    berita itu kepada Rasulullah sebelum Abu Thalhah datang.

    Karakter, akhlak biasa mendahulukan kepentingan orang lain dalam kebaikan, adalah perbuatan taqwa. Bekal taqwa menjadikan orang terselamatkan. Siapa yang berbekal taqwa mudah menggapai tujuan, mudah memperoleh bantuan tepat pada waktu yang dibutuhkan di mana pun dan kapan pun. Tidak harus melalui logika yang biasa dipahamkan orang. Presenter senior kenamaan itu menceritakan bukti apa adanya.

    Perilakunya selaras dengan tauladan Abu Thalhah dan keluarganya. Gemar mendahulukan orang lain, menjadi dasar perilaku shalehnya. Perilaku taqwa. Perilaku yang diridlai Tuhan. Ia memperoleh sekian banyak kemudahan yang sulit dilogikakan.

    Siapa pun kita, kemana pun arah kita menuju, taqwa adalah pilihan utama sebagai bekal. Terlebih dalam berhaji, bekal taqwa merupakan bekal yang dipilihkan Tuhan.

    Hayo kita upayakan, untuk selalu berbekal taqwa dalam setiap perjalanan. Utamakan orang lain daripada diri sendiri untuk setiap keperluan maslahat di jalan Tuhan.

    Kita berlatih dan terus latihan. InsyaAllah kita pun bisa disayang Tuhan. Ditolong Tuhan kapan pun kita memerlukan!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Tiga Apresiasi Manajemen Haji Saudi



    Jakarta

    Ibadah haji bagi saya merupakan even terbesar di dunia. Sebab ibadah ini diikuti oleh sekitar dua juta Jemaah dari mancanegara. Even sekelas Olimpiade atau Piala Dunia pun rasanya tak sebesar ini jumlah pesertanya. Karena itu saya sangat terkesan mengikuti rangkaian ibadah ini:

    Pertama dari sisi Kerajaan Saudi. Mereka benar benar telah berupaya keras meningkatkan pelayanan kepada Jemaah. Dengan digitalisasi (Nusuk), smart card. Kartu ini fungsinya antara lain menscreening Jemaah yang tidak punya visa haji agar tak bisa masuk ke Mekkah, khususnya saat wukuf di Arafah yang areanya memang terbatas.

    Kedua adalah crowd management yang luar biasa dijalankan aparat di lapangan mulai askar, polisi, hingga tentara dan pasukan khusus. Terutama saat di Masjidil Haram, bagaimana mereka mengatur Jemaah untuk mengisi ruang-ruang di sekeliling masjid tanpa harus terjadi gesekan antar Jemaah yang sangat mungkin menimbulkan korban. Begitu pun sebaliknya usai pelaksanaan ibadah atau salat dan rukun haji/umrah dilaksanakan agar tidak terjadi crash antar Jemaah.


    Petugas di lapangan menyiapkan barikade untuk membuka-tutup akses masuk-keluar masjid. Mereka sangat disiplin dan tegas menerapkannya, tak bisa dinego oleh Jemaah yang ingin mengambil jalan pintas. Dengan sistem buka-tutup jalur atau Traffic Management yang luar biasa ini juga demi kebaikan Jemaah, meskipun sebagian yang tak paham semula akan nggerundel, kecewa, marah.

    Ketiga terkait Safety Management. Aparat keamanan bahu-membahu dengan petugas kesehatan dan para petugas haji. Di berbagai tempat banyak sekali petugas emergency (petugas kesehatan maupun polisi). Hal ini karena selain begitu banyaknya orang, juga cuaca panas yang eksterm. Ketika Wukuf di Arafah suhu hampir mencapai 50 derajat Celsius. Di sana kami melihat para petugas dengan sigap menyemprotkan air, begitu juga dengan para petugas emergency room terlihat siap siaga membantu para Jemaah yang membutuhkan bantuan.

    Setiap hari saya selalu menyempatkan untuk berbincang dengan teman-teman sesama Jemaah haji, baik regular maupun khusus. Dari mereka ada sejumlah hal positif yang kami rasakan bersama, bahwa pemerintah cukup banyak membuat inovasi dan terobosan dalam melayani Jemaah haji.

    Tagline haji ramah lansia antara lain dapat dirasakan dari menu makanan uang disuguhkan. Ada perbedaan antara tingkat kelembutan menu untuk lansia dan Jemaah dewasa pada umumnya. Dari sisi pemondokan, terutama di Madinah juga cukup dekat dengan Masjid Nabawi sehingga Jemaah nyaman untuk beribadah. Selain itu juga ada aplikasi yang memudahkan Jemaah untuk mengakses informasi.

    Di Mekkah, pemerintah juga menyiapkan bus shalawat untuk mengantar jemput Jemaah dari pondokan yang ingin beribadah ke Masjidil Haram. Ini layanan bus gratis selama 24 jam yang cuma dapat dinikmati Jemaah asal Indonesia. Pemerintah negara lain tak menyiapkan hal sejenis bagi Jemaah mereka.

    Para petugas PPIH pun saya lihat sangat banyak. Mereka ditempatkan atau bertugas di hampir semua titik yang biasa dikunjungi Jemaah. Mereka petugas gabungan dari berbagai unit, baik itu Kesehatan, keamanan, para wartawan, dan lainnya. Semua saling bahu – membahu bertugas untuk melayani Jemaah.

    Saya betul-betul terharu melihat bagaimana mereka mengantar Jemaah yang tersesat kembali ke penginapannya, atau mengantar ke tempat yang akan dituju Jemaah. Tak sedikit pula petugas yang dengan khidmat mendorong kursi roda Jemaah lansia di bawah sengatan matahari yang luar biasa. Singkatnya, kehadiran para petugas itu hingga batas tertentu tentunya sangat membuat nyaman para Jemaah.

    Kalau pun kemudian masih ditemukan kekurangan di sana-sini, saya piker wajar dan tidak bisa dihindari pula mengingat jumlah Jemaah kita yang begitu besar: hampir 250 ribu orang di atas jumlah Jemaah asal Pakistan maupun India.

    Atas dasar itu semua, kita patut berterima kasih kepada pemerintah yang telah berupaya memberikan pelayanan secara optimal. Karena saya termasuk kelompok haji khusus melalui Biro Maktour, tentu juga ada catatan tersendiri.

    Secara umum biro yang telah berpengalaman melayani Jemaah haji dan umrah selama hampir 40 tahun ini sangat well organized dan punya tradisi hospitality yang luar biasa. Jemaah sangat terbantu dan merasa nyaman dalam setiap tahap pelayanan mulai keberangkatan dari tanah air hingga tiba di Madinah, selama di Madinah, selama di Makkah, Wukuf di Arafah, di Mina, da seterusnya hingga Kembali lagi ke tanah air.

    Para muthowif atau pemandu yang memang rata-rata punya jam terbang selama belasan tahun dalam mendampingi Jemaah, benar-benar memberikan panduan seperti yang diharapkan. Kami tak cuma diajari atat cara ibadah, melainkan juga diberi pengetahuan seputar makna dari setiap ibadah yang dilakukan berikut dalil-dalil pendukungnya. Hal tersebut tentu saja membuat kami merasa mantap, khusuk dan menghayati betul setiap langkah dari ibadah yang dijalani.

    Dinar Fiskiawan

    Jemaah Haji Indonesia 2024
    Bekerja di Bank Indonesia

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Catatan (Kesuksesan) Pelaksanaan Ibadah Haji 2024



    Jakarta

    Haji merupakan salah satu ibadah yang termasuk ke dalam Rukun Islam yang kelima. Salah satu syarat melaksanakan ibadah haji adalah sebuah kemampuan, baik secara finansial, fisik, dan mental. Meski dengan syarat tersebut, setiap tahun, jutaan jemaah haji berdatangan ke tanah suci Mekkah, Arab Saudi, untuk melaksanakan ibadah tahunan ini, yang hanya wajib dilakukan oleh seorang Muslim satu kali dalam seumur hidupnya.

    Pelaksanaan ibadah haji dikoordinir oleh Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI) bekerjasama dengan pihak penyelenggara haji dari Kementerian Haji Kerajaan Arab Saudi. Pada tahun ini saya berkesempatan melaksanakan ibadah haji ke tanah suci dan menyaksikan bagaimana panitia haji yang disebut dengan Daerah Kerja (Daker) Kemenag RI ini bekerja hampir 24 jam selama pelaksanaan ibadah haji dipimpin langsung oleh Menteri Agama RI. Para petugas haji ini begitu antusias, semangat, dan sukses dalam menjalankan tugasnya.

    Kesuksesan pelaksanaan haji ini terlihat dari berbagai hal, pertama, adalah controlling secara online. Era digital ini mensyaratkan kita untuk melakukan sesuatu yang bukan hanya dilaksanakan secara luring, namun juga di waktu yang sama dilaksanakan dengan cara daring. Petugas haji Indonesia, melakukan kontrol terhadap banyak aspek dengan cara online. Sehingga kemudian di waktu yang bersamaan, jika terjadi masalah dapat langsung diselesaikan dengan cepat dan tepat. Sistem Risk Management diterapkan dengan sangat baik, sehingga pelaksanaan ibadah haji tahun ini sukses.


    Kedua, petugas haji Indonesia melaksanakan pelayanan kepada para jemaah haji Indonesia dengan sangat prima dan sepenuh hati. Para petugas haji ini melaksanakan pendampingan, pengawasan, dan pelayanan kepada para jemaah haji asal Indonesia dengan telaten dan penuh tanggungjawab. Saya pikir, tidak ada negara lain yang memberikan pelayanan sebaik petugas haji Indonesia.

    Ketiga, pemenuhan gizi dan konsumsi yang memperhatikan cita rasa khas masakan Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama musim haji, Kemenag RI sebagai koordinator pelaksanaan haji, mengirim para koki yang ahli untuk menyiapkan menu makanan yang terbaik untuk para tamu Allah ini. Sehingga pemenuhan gizi tercukupi dan konsumsi sangat baik untuk dinikmati oleh para jemaah haji Indonesia.

    Keempat, negosiasi dan komunikasi yang ideal dilakukan Kemenag RI dengan Kerajaan Arab Saudi. Hubungan diplomasi antara Republik Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi sudah terjalin cukup lama dan sangat baik. Apalagi Indonesia sebagai salah satu negara Muslim terbesar di dunia menjadi pengirim jemaah haji terbanyak ke Arab Saudi. Komunikasi yang baik dan negosiasi yang ekstra dilakukan oleh Kemenag RI dalam rangka pemenuhan dan penambahan kuota untuk jemaah haji Indonesia, sehingga kuota haji Indonesia cukup banyak untuk tahun ini.

    Kesuksesan ini dapat diraih dengan kepemimpinan Menteri Agama RI beserta jajarannya yang menyiapkan pelayanan haji jauh hari sebelum pelaksanaan ibadah haji. Kemenag RI melakukan monitoring dan evaluasi di akhir pelaksanaan ibadah haji tahun lalu sebagai acuan untuk pelaksanaan ibadah haji tahun ini, sehingga dapat meminimalisir kekurangan pada tahun lalu. Kesuksesan pelaksanaan tahun ini menjadi acuan untuk pelayanan haji lebih baik lagi pada tahun-tahun mendatang. Semoga!

    Prof. Asep Saepudin Jahar, MA, Ph.D.

    Penulis adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Terakhir Nabi Muhammad SAW, Berisi Pesan untuk Umat Islam



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah terakhir di Arafah pada 632 Masehi. Khutbah dilakukan ketika Nabi Muhammad SAW menjalani ibadah haji pertama dan terakhir yang dikenal dengan haji wada atau haji perpisahan.

    Nabi Muhammad SAW mengerjakan ibadah haji satu kali dalam seumur hidupnya. Tiga bulan setelah ibadah haji ini, beliau wafat di usianya yang 63 tahun.

    Mengutip buku Khutbah Nabi: Terlengkap dan Terpilih karya Muhammad Khalil Khathib, sebelum wafat, Rasulullah SAW telah banyak menunjukkan tanda bahwa dirinya menyampaikan tanda perpisahan. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,


    “Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman-Nya, pastilah akan datang suatu hari pada salah seorang di antara kalian, dan pada hari itu orang tersebut tidak dapat melihat diriku, sehingga seandainya ia melihat diriku pastilah akan lebih ia sukai melebihi kesukaannya kepada keluarga dan harta yang miliknya.” (HR Bukhari Muslim)

    Dari ucapan ini, orang-orang menakwilkan bahwa dengan ucapannya itu, Rasulullah SAW sedang mengabarkan berita kematian beliau dengan memberitahukan kepada para sahabat tentang apa yang akan terjadi setelah beliau wafat. Yaitu kabar ketika muncul begitu banyak orang amat mendambakan perjumpaan dengan Rasulullah SAW di saat beliau sudah tiada, karena sebelumnya mereka dapat menyaksikan sebagian keberkahan Rasulullah SAW.

    Khutbah Terakhir Nabi Muhammad SAW

    Melansir laman Kementerian Agama (Kemenag), Nabi Muhammad SAW melaksanakan ibadah haji bersama para sahabat dan sekitar 114.000 umat Islam. Setelah melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji, Nabi Muhammad SAW mengumpulkan umat Islam di Arafah.

    Beliau melakukan seruan dari atas punggung untanya yang bernama al-Qushwa. Di atas punggung unta inilah Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah terakhirnya.

    Prof. Osman Raliby dalam tulisannya di Majalah Suara Masjid mengatakan khutbah terakhir Nabi Muhammad SAW berisi pesan untuk seluruh umat Islam.

    “Segala puji adalah bagi Allah. Kita memuja dan memuji Dia dan memohon pertolongan kepada-Nya dan bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung pada Allah dari kejahatan-kejahatan diri kita dan dari segala perbuatan yang buruk. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka takkan ada siapapun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan Allah, maka tak ada siapa pun yang dapat menunjukkan jalan baginya.

    Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Maha Esa Ia, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku naik saksi, bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.

    Wahai manusia, dengarkanlah pesanku baik-baik.

    Aku akan menyampaikan kepadamu satu keterangan (sebagai wasiat), karena sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku akan bertemu lagi dengan kamu sesudah tahun ini di tempat aku berdiri (sekarang) ini.

    Wahai manusia, Sesungguhnya darahmu (jiwamu), harta bendamu dan kehormatanmu adalah suci dan haram (dilarang diganggu), sebagaimana suci dan haramnya bulan ini (bulan haji), sampai kamu kelak menghadap Tuhan. Sungguh kamu pasti akan menemui (menghadap) Tuhan, di mana Ia pasti akan menanyakan tentang segala amal perbuatanmu.

    Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan? (Umat: sudah-sudah! Nabi: Ya Allah, persaksikanlah!)

    Maka barangsiapa ada amanat di tangannya, hendaklah disampaikannya kepada orang yang memberikan amanat itu kepadanya.

    Ingatlah, tak seorang pun yang melakukan tindak pidana melainkan ia sendiri yang bertanggungjawab atasnya. Tidak ada anak bertanggungjawab terhadap tindak pidana ayahnya, pun juga tidak seorang ayah bertanggungjawab terhadap tindak pidana anaknya.

    Wahai manusia, dengarkanlah kata-kataku ini dan pahamkan semuanya.

    Sesungguhnya seorang muslim dan muslim lainnya adalah umat yang bersaudara. Tidak ada sesuatu yang halal bagi seorang muslim dari saudaranya melainkan apa yang telah direlakan kepadanya. Maka janganlah kamu menzalimi dirimu sendiri.

    Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan? (Umat: sudah-sudah! Nabi: Ya Allah, persaksikanlah!).”

    Khutbah Wada’ mendeklarasikan prinsip-prinsip Islam tentang persamaan hak dan martabat manusia tanpa memandang ras, suku bangsa dan warna kulit. Pada bagian lain khutbah yang monumental itu ditekankan beberapa hal, yaitu:

    “Sesungguhnya riba sudah dihapuskan. Tapi kamu akan memperoleh modal saham kamu. Maka janganlah kamu berlaku zalim agar kamu pun tidak dizalimi orang.

    Wahai segenap manusia! Sesungguhnya Tuhanmu adalah Esa (Satu), dan nenek moyangmu adalah satu. Semua kamu berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang yang bukan Arab melainkan dengan takwa itulah. Dan jika seorang budak hitam Abyssinia sekalipun menjadi pemimpinmu, dengarkanlah dia dan patuhlah padanya selama ia tetap menegakkan Kitabullah.

    Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan? (Umat: sudah-sudah! Nabi: Ya Allah, persaksikanlah!).

    Wahai manusia, takutlah kepada Allah. Kerjakanlah shalat yang lima waktu, lakukanlah puasa, berhajilah ke Baitullah dan tunaikanlah zakat hartamu dengan sukarela serta patuhlah atas apa yang aku perintahkan. Kamu pasti kelak akan bertemu dengan Tuhanmu, dan Ia pasti akan menanyakan kepadamu tentang segala perbuatanmu.

    Ingatlah, bukankah sudah aku sampaikan? (Umat: sudah-sudah! Nabi: Ya Allah, persaksikanlah!)

    Sesungguhnya zaman itu beredar, musim berganti.

    Wahai segenap manusia! Sesungguhnya setan itu sudah putus harapan akan (terus) disembah-sembah di negerimu ini. Akan tetapi sesungguhnya dia puas dengan ditaati dalam hal-hal selain daripada itu (disembah), yakni dalam perbuatan-perbuatan yang kamu (sebenarnya) benci, maka waspadalah terhadap tipu daya (setan) yang akan merugikan agamamu.”

    “Camkanlah perkataanku ini, wahai manusia! Sesungguhnya telah kusampaikan kepadamu, dan sesungguhnya aku sudah meninggalkan untuk kamu sekalian sesuatu, yang bila kamu berpegang teguh kepadanya, pasti kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yakni sesuatu yang terang dan nyata, Kitabullah (Al Quran) dan Sunnah Nabi-Nya.”

    Rasulullah menutup Khutbah Wada’ dengan pernyataan dan pertanggungjawaban terbuka kepada Allah SWT,

    “Wahai Tuhanku! Persaksikanlah, persaksikanlah wahai Tuhanku.

    Maka hendaklah yang telah menyaksikan di antara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir. Semoga barang siapa yang menyampaikan akan lebih mendalam memperhatikannya daripada sebagian yang mendengarkannya. Mudah-mudahan bercucuranlah rahmat Allah dan berkat-Nya atas kamu sekalian!”

    Setelah mengucapkan khutbah perpisahan, beliau turun dari untanya Alqashwa. Usai menunaikan salat Zuhur dan Ashar yang dijama’ secara berjamaah, Rasulullah menuju suatu tempat yang bernama Sakhrat. Di sana disampaikannya ayat Al-Quran yang baru saja diwahyukan Allah untuk penghabisan kali sebagai penutup risalah kenabian yakni surat Al Maidah ayat 3,

    حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحْمُ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلْمُنْخَنِقَةُ وَٱلْمَوْقُوذَةُ وَٱلْمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُوا۟ بِٱلْأَزْلَٰمِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ ٱلْيَوْمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِ ۚ ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ فَمَنِ ٱضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Masjid Pendirian Wali Songo yang Masih Berdiri Kokoh


    Jakarta

    Wali Songo merupakan sebutan para mubaligh atau orang yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Beberapa di antaranya membangun masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial dalam perjalanan dakwahnya.

    Lalu, masjid mana saja yang didirikan oleh Wali Songo sebagai salah satu sarana dakwah? Berikut informasinya.

    Masjid yang Dibangun oleh Wali Songo

    Proses Islamisasi yang dilakukan Wali Songo erat hubungannya dengan masjid dan pesantren-pesantren. Masjid-masjid yang mereka bangun tidak hanya menjadi tempat ibadah, melainkan simbol spiritual dan kebudayaan Islam di Nusantara.


    Berikut adalah beberapa nama masjid yang didirikan oleh Wali Songo:

    1. Masjid Sunan Bonang

    Penampakan masjid peninggalan Sunan Bonang di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Minggu (17/3/2024).Penampakan masjid peninggalan Sunan Bonang di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Minggu (17/3/2024). Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

    Sunan Bonang punya nama kecil Raden Makhdum Ibrahim. Beliau adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila (Dyah Siti Manila binti Arya Teja).

    Asti Musman dalam bukunya yang berjudul Sunan Bonang: Wali Keramat, menuliskan bahwa Masjid Sunan Bonang dibuat oleh Sunan Bonang sebagai tempat untuk berdakwah.

    Lokasinya ada di Jl. Sunan Bonang, Bonang, Kec. Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Makam Sunan Bonang ada sekitar 50 meter dari masjid ini.

    Masjid Sunan Bonang ini telah mengalami dua kali renovasi, yakni pada tahun 2013 dan 2016. Namun, karena masjid lama atau yang asli tidak bisa menampung jamaah dalam jumlah yang besar, maka dibuatlah bangunan masjid baru berdampingan dengan bangunan masjid aslinya.

    Meski begitu, bangunan lama Masjid Sunan Bonang masih dipertahankan dengan menata kembali batu bata yang digunakan pada masjid aslinya. Hanya saja, temboknya ditutup dengan keramik.

    Penampakan masjid peninggalan Sunan Bonang di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Minggu (17/3/2024).Penampakan masjid peninggalan Sunan Bonang di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Minggu (17/3/2024). Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

    Satu-satunya bagian bangunan yang masih asli adalah empat tiang penyangga bangunan yang ada di tengah ruangan. Warna kemerahan dipadu dengan ornamen warna emas merupakan dominasi warna masjid ini.

    2. Masjid Agung Demak

    Masjid Agung Demak, Rabu (17/4/2024).Masjid Agung Demak, Rabu (17/4/2024). Foto: Mochamad Saifudin/detikJateng

    Walisongo yang mendirikan Masjid Agung Demak adalah Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said. Lokasinya ada di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

    Dikutip dari buku Sejarah Islam Nusantara oleh Ustad Rizem Aizid, salam sejarahnya, masjid Agung Demak didirikan atas dan pimpinan para wali pada sekitar abad ke-15. Masjid Agung Demak adalah Masjid Agung Kerajaan Demak Bintara.

    Selain sebagai masjid kerajaan pada zamannya, masjid ini juga difungsikan sebagai Masjid Jami. Karena letaknya berada di sebelah barat alun-alun.

    Menurut buku Sejarah Wali Songo karya Zulham Farobi dan Buku Pintar Seri Junior karya M. Iwan Gayo, Masjid Agung Demak didirikan oleh Wali Songo pada 1477 M. Namun, pendapat populer lain juga ada yang menyebut tahun 1401 Saka.

    Sunan Kalijaga juga dijuluki Syekh Malaya. Beliau sempat mempelajari dari Sunan Bonang

    3. Masjid Agung Sunan Ampel

    Masjid Sunan Ampel. Foto Malik Ibnu Zaman.Masjid Sunan Ampel. Foto: Malik Ibnu Zaman.

    Masjid ini didirikan oleh Sunan Ampel yang bernama asli Raden Rahmat, bersama para santrinya sekitar tahun 1421 М. Letaknya ada di Kelurahan Ampel, Pabean Cantikan, Surabaya, Jawa Timur.

    Mengutip buku bertajuk Masjid-masjid bersejarah di Indonesia oleh Abdul Baqir Zein, luas bangunan masjid ini berukuran 46,80 x 44,20 m. Di dalamnya ada 4 tiang utama dari kayu jati yang masing- masing berukuran 17 x 0,4 x 0,4 m tanpa sambungan.

    Keempat tiang itu menyangga atap yang bersusun tiga, yang menandakan ciri khas arsitektur masjid di Jawa. Di mana, mengandung arti Islam, iman, dan ihsan.

    Menara di Masjid Agung Sunan Ampel juga menjadi salah satu ikon masjid ini. Sampai saat ini, Masjid Agung Sunan Ampel masih dikunjungi oleh umat Islam sebagai destinasi wisata religi. Dikelilingi perkampungan penduduk yang padat dengan aneka usaha.

    Sunan Ampel wafat pada tahun 1481. Beliau dimakamkan di sebelah kanan Masjid Ampel.

    4. Masjid Sunan Giri

    Dalam buku Walisongo: Sebuah Biografi karya Asti Musman, disebutkan bahwa Sunan Giri mendirikan masjid ini di atas bukit bernama Kedaton Sidomukti. Tapi, cucu ketiga Sunan Giri memindahkan Masjid Sunan Giri ke Makam Sunan Giri pada 1544 M.

    Masjid Sunan Giri beralamat di Jl. Sunan Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

    Adapun ciri khas dari Masjid Sunan Giri diantaranya adalah pintu gapura masjid yang seperti Candi Bentar, ornamen dengan gaya Majapahit, hingga pintu masuk ruang haram pria yang mirip Padu Aksara dengan hiasan huruf Arab di sekeliling atas pintu.

    Masjid ini sempat mengalami kerusakan akibat gempa pada 1950, sehingga sempat mengalami perbaikan.

    Sunan Giri yang memiliki nama asli Raden ‘Ainul Yaqin, merupakan putra dari Syekh Maulana Ishaq. Sunan Giri juga dikenal dengan nama Raden Paku.

    5. Masjid Menara Kudus

    Kompleks Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus, Selasa (27/6/2023).Kompleks Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus, Selasa (27/6/2023). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

    Masjid Al-Aqsa Manarat Qudus atau disebut juga Masjid Menara Kudus didirikan oleh Sunan Kudus yang nama aslinya Ja’far Shadiq pada 1549 M. Beliau adalah putra dari Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, saudara kandung Sunan Ampel.

    Awalnya, nama masjid ini Masjid Al-Aqsa atau al-Manar. Al Manar sendiri artinya menara. Nama Masjid Menara Kudus diambil dari pendirinya yakni Sunan Kudus. Pasalnya, masjid ini sangat terkenal sehingga daerahnya pun disebut Kudus (kudus berarti suci).

    Masjid peninggalan bersejarah Sunan Kudus memiliki banyak keunikan. Salah satunya yaitu ada akulturasi budaya dalam arsitekturnya.

    Masjid Menara Kudus menjadi salah satu bukti perjumpaan kebudayaan Islam dan Hindu. Hal ini bisa dilihat dari berupa bangunan yang unik dan berarsitektur seni tinggi.

    Ada yang menonjolkan sarana ibadah yang sakral (yaitu masjid) dan di sisi lain terdapat candi yang bergaya ornamen Hindu yang digunakan sebagai menara masjid.

    Masjid-masjid yang dibangun oleh Wali Songo jadi warisan sejarah dan juga simbol perjuangan mereka menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Keberadaannya terus dijaga dan menjadi wisata sejarah religi, yang diharapkan mampu untuk mengingatkan kita akan pentingnya nilai-nilai agama.

    (khq/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Perkiraan Lebaran Haji 2025 dan Ibadah yang Bisa Diamalkan


    Jakarta

    Lebaran Haji atau Idul Adha merupakan salah satu hari raya terpenting bagi umat Islam di seluruh dunia. Kapan perkiraan Lebaran Haji 2025?

    Bagi umat Islam di Indonesia, Lebaran Haji bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang refleksi diri dan pengabdian kepada Allah SWT. Momen ini menjadi kesempatan untuk meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS, serta untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

    Perayaan Lebaran Haji di Indonesia biasanya diwarnai dengan berbagai tradisi dan budaya, seperti menyembelih hewan kurban, salat Idul Adha, dan saling mengunjungi keluarga dan kerabat. Lebaran Haji juga menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi dan saling berbagi kebahagiaan dengan sesama.


    Perkiraan Lebaran Haji 2025

    Kalender Hijriah memang menjadi acuan penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Kalender ini tak hanya menandai pergantian tahun, tetapi juga memiliki peran penting dalam menentukan berbagai ibadah dan hari-hari besar Islam.

    Mengacu pada Kalender Islam (Hijriah) Tahun 2025 yang didasarkan dari sistem Ummul Qura Arab Saudi oleh Alhabib, Lebaran Haji 2025 diperkirakan bertepatan dengan bulan Juni, sama seperti tahun ini. Berdasarkan kalender tersebut, Lebaran Haji 10 Dzulhijjah jatuh pada 6 Juni 2025.

    Namun, tanggal pasti jatuhnya Lebaran Haji tahun 2025 masih bisa berubah tergantung dengan keputusan sidang isbat penentuan awal bulan Dzulhijjah.

    Meskipun tanggal pastinya masih bisa berubah, perkiraan ini memberikan gambaran awal bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri menyambut Hari Raya Idul Adha. Momen penuh makna ini menjadi waktu untuk melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu, serta merayakannya bersama keluarga dan kerabat.

    Amalan Lebaran Haji 2025

    Dalam menjalankan Lebaran Haji tahun 2025 atau 1446 H, tentunya kita harus mengisinya dengan kegiatan ibadah kepada Allah. Terdapat beberapa amalan yang bisa dilakukan saat Lebaran Haji, di antaranya adalah sebagai berikut.

    1. Haji

    Dikutip dari buku Ibadah Haji oleh Abbas Jumadi, dkk, haji adalah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) untuk melakukan beberapa amalan. Berbagai amalan tersebut terdiri dari wukuf, mabit, melontar jumrah, thawaf, sa’i, dan amalan lainnya pada waktu tertentu demi memenuhi panggilan Allah SWT.

    Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan bagi umat Islam yang mampu, setidaknya sekali seumur hidup. Bagi umat Islam yang memiliki kemampuan finansial, fisik, dan mental yang kuat, maka dapat menjalankan ibadah Haji di tahun 2025 mendatang.

    2. Kurban

    Menukil buku Fikih Madrasah Tsanawiyah Kelas IX oleh H. Ahmad Ahyar dan Ahmad Najibullah, kurban adalah penyembelihan hewan pada Hari Raya Idul Adha dan hari tasyrik tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Hukum kurban adalah sunah muakkad.

    Ibadah kurban meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Kesediaan beliau untuk mengorbankan putranya, Ismail AS, atas perintah Allah SWT menjadi contoh ketaatan dan keikhlasan bagi umat Islam.

    Kurban juga menunjukkan ketaatan dan pengabdian seorang hamba kepada Allah SWT. Dengan kerelaan mengorbankan harta benda terbaiknya, seorang muslim menunjukkan rasa cinta dan ketundukannya kepada Allah SWT.

    3. Salat Idul Adha

    Dilansir dari Buku Panduan Sholat Lengkap (Wajib & Sunah) oleh Saiful Hadi El Sutha, salat Idul Adha merupakan salat sunah yang dikerjakan untuk menandai datangnya hari raya kurban.

    Hukum dari salat Idul Adha adalah sunah muakkad yang berarti sangat dianjurkan mendekati wajib.

    4. Puasa Sunah

    Menjalankan ibadah puasa sunah juga bisa menjadi salah satu amalan dalam rangkaian Lebaran Haji 2025. Dilansir dari buku Cinta Shaum, Zaakat, dan Haji oleh Miftahul Achyar Kertamuda, puasa Dzulhijjah merupakan puasa sunah di 9 hari pertama Dzulhijjah yang dapat dijalankan umat Islam.

    Pada hari ke-8 Dzulhijjah, puasa sunah disebut dengan puasa tarwiyah. Sementara itu, pada tanggal 9 Dzulhijjah, puasa sunah disebut dengan puasa arafah yang berbarengan dengan waktu wukuf di Arafah bagi yang sedang berhaji.

    (hnh/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Saudi Blacklist 54 Biro Umrah Buntut Ratusan Jemaah Haji Ilegal Wafat



    Jakarta

    Otoritas Arab Saudi memasukkan 54 biro umrah ke daftar hitam usai terbukti melakukan pelanggaran selama musim haji bulan lalu. Perusahaan tersebut tersebar di negara Arab dan Islam.

    Dilansir Gulf Insider, Rabu (3/7/2024), biro umrah tersebut terdeteksi usai kematian ratusan jemaah haji yang tidak terdaftar, terutama akibat panas ekstrem yang melanda tempat-tempat suci di Arab Saudi bulan lalu.

    Surat kabar lokal Al Watan melaporkan beberapa biro umrah di Arab Saudi berkoordinasi dengan badan keamanan Saudi untuk mengungkap para calo umrah dalam dan luar negeri. Menurut sumber yang tidak disebutkan namanya, para perantara ini diduga terlibat perdagangan manusia atas tuduhan mendatangkan jemaah haji ilegal yang tidak mampu membayar biaya umrah sah dengan visa kunjungan.


    Tidak ada komentar resmi dari Arab Saudi mengenai laporan ini.

    Kementerian Kesehatan Arab Saudi mencatat jumlah kematian jemaah haji 2024 mencapai 1.301 dengan 83 persen di antaranya adalah jemaah ilegal dan berjalan jauh di bawah paparan terik matahari tanpa alat pelindung.

    Mesir menjadi salah satu negara dengan jemaah haji ilegal wafat terbanyak. Sumber diplomat Arab mengatakan kepada AFP, total jemaah Mesir yang wafat mencapai 658 orang, 630 di antaranya adalah jemaah ilegal. Ini merupakan data per Kamis, 20 Juni 2024.

    Otoritas Arab Saudi dikabarkan menangguhkan penerbitan e-visa umrah B2C bagi warga Mesir. Keputusan ini menyusul banyaknya jemaah yang meninggal saat haji, mayoritas ilegal.

    Penangguhan penerbitan visa umrah khusus Mesir ini dikonfirmasi asosiasi agen perjalanan Mesir pada akhir pekan lalu. Sebelumnya, warga Mesir yang memegang visa jenis ini bisa memesan paket umrah langsung melalui portal umrah daring Arab Saudi, lapor Middle East Eye akhir bulan lalu.

    Wakil Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Abdul Fattah Mashat baru-baru ini bertemu dengan perwakilan perusahaan umrah untuk membahas persiapan umrah musim mendatang. Agenda ini dilakukan usai berakhirnya musim haji 1445 H/2024 M.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • PBNU Nilai Pansus Haji DPR Kental Nuansa Politik



    Jakarta

    Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Akh Fahrur Rozi mengapresiasi Kementerian Agama (Kemenag) dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Sebaliknya, pembentukan panitia khusus (pansus) haji yang diusulkan DPR dinilainya hanya mengada-ada.

    Pada musim haji tahun 2024, pria yang akrab disapa Gus Fahrur ini juga berkesempatan menunaikan ibadah haji. Ia mengaku dapat melihat dan merasakan langsung pelayanan yang diberikan.

    “Justru saya ingin memberikan apresiasi kepada Kementerian Agama yang telah berhasil menyelesaikan tugas pelayanan ibadah haji tahun ini dengan sangat baik dan petugas melayani sepenuh hati,” ujar dia dalam keterangan tertulis yang diterima detikHikmah, Rabu (3/7/2024).


    Tahun ini merupakan kali kelima Gus Fahrur menunaikan haji. Ia menilai pelaksanaan haji tahun ini sudah sangat baik. Tidak ada lagi kejadian Muzdalifah seperti tahun lalu.

    “Semua sudah diantisipasi dengan baik, saya melihat Menteri Agama sebagai Amirul hajj telah bekerja secara maksimal, dibantu tim petugasnya di lapangan yang sangat responsif dan berdedikasi tinggi,” kata Gus Fahrur.

    Tak hanya dari segi pelayanan dari Panitia Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) yang melayani jemaah dengan maksimal, berbagai fasilitas pun diakui Gus Fahrur dinilai lebih baik.

    Gus Fahrur melihat pemondokan jemaah, tenda di Arafah, kemudian fasilitas di Muzdalifah dan Mina, dan layanan tim kesehatan haji di berbagai sektor sudah sangat baik.

    Pada kesempatan berhajinya ini, Gus Fahrur juga sempat melihat Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas bersiap hingga larut malam demi memastikan pelayanan yang diterima jemaah.

    Menurut Gus Fahrur, Menag terus melakukan koordinasi sampai larut malam untuk menjaga agar pelaksanaan ibadah haji bisa berjalan baik.

    “Saya mengapresiasi sepenuhnya dan mengucapkan terimakasih atas kerja keras mereka, semoga menjadi amal ibadah dan dapat terus ditingkatkan menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang,” kata Gus Fahrur.

    Apresiasi atas keberhasilan Kemenag menyelenggarakan ibadah haji 2024 ini juga disampaikan sebagai tepisan pendapat Ketua Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang mendorong segera dilakukan pembentukan panitia khusus (pansus) haji.

    Gus Fahrur mengatakan usulan panitia khusus (pansus) DPR tentang haji sangat kental nuansa politiknya.

    “Pansus haji saya kira tidak perlu karena hanya mengada-ada. Kalau memang ada yang perlu ditanyakan bisa dilakukan secara langsung kepada dirjen haji agar tidak ada kesan ini dipolitisir,” kata Pengasuh Pesantren An Nur Bululawang, Malang ini.

    Lebih lanjut, Gus Fahrur juga mengatakan pansus haji tidak akan efektif karena masa tugas anggota DPR juga sangat singkat dan segera berakhir.

    “Mari kita bersama menjaga suasana biar tetap sejuk. Toh jemaah haji juga sudah pulang, tidak ada kendala. Jangan malah elit gaduh agar transisi pemerintahan ini berjalan lancar,” pungkasnya.

    (dvs/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Jemaah Haji Gelombang Kedua Mulai Pulang Besok



    Madinah

    Jemaah haji gelombang II akan diberangkatkan pulang ke Tanah Air mulai besok, Kamis (4/7/2024). Total ada 22 kloter yang akan mengawali fase pemulangan jemaah gelombang kedua ini.

    Kepala Daker Madinah, Ali Machzumi mengatakan, dari 22 kloter tersebut, ada 1 kloter yang sudah mulai check out dari hotel dan diberangkatkan ke Bandara Amir Muhammad bin Abdul Azis (AMAA) Madinah, Rabu (3/7/2024) pukul 23.30 WAS. Sementara itu, 21 kloter lainnya akan diberangkatkan secara bertahap sesuai jadwal yang telah disiapkan.

    “Malam ini akan dimulai fase pemulangan (check out) dari hotel, mereka akan diterbangkan mulai besok,” ujar Ali kepada detikHikmah di kantor Daker Madinah, Rabu (3/7/2024).


    Jumlah jemaah dari 22 kloter yang akan mengawali fase pemulangan jemaah haji gelombang kedua ini berjumlah 8.793 orang. Para jemaah akan diberangkatkan pulang ke Tanah Air menggunakan dua maskapai yakni, Garuda Indonesia dan Saudi Airlines.

    Sementara itu, untuk jemaah gelombang I yang pulang melalui Madinah sudah selesai hari ini, Rabu (3/7/2024). Fase kepulangan jemaah gelombang I via Madinah ditutup dengan pemulangan Kloter UPG-14 asal Embarkasi Makassar yang diterbangkan dari Bandara Amir Muhammad bin Abul Azis (AMAA) Madinah pukul 06.30 WAS.

    “Sekali lagi kami minta kepada para jemaah agar mematuhi aturan soal berat koper maksimal 32 kg dan tidak memasukkan air zamzam ke dalam koper,” imbau Ali.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com