Tag Archives: haji

Khutbah Terakhir Nabi Muhammad Saat Haji di Arafah, Ini Pesannya



Jakarta

Khutbah terakhir Nabi Muhammad SAW sebelum wafat diserukan pada tahun ke-10 Hijriyah di Padang Arafah. Pada saat itu, beliau sedang menjalani ibadah haji yang disebut sebagai Haji Wada yang artinya perpisahan.

Haji Wada menjadi ibadah haji satu-satunya sekaligus terakhir kalinya yang beliau laksanakan pada tahun 10 H atau 632 M. Tiga bulan setelah melaksanakan haji tersebut, beliau dinyatakan wafat.

Diceritakan dalam buku Samudra Keteladanan Muhammad karya Nurul H. Maarif, Rasulullah SAW pada saat melaksanakan Haji Wada menyampaikan khutbah terakhirnya, yaitu berisi wasiat yang menggetarkan jiwa umat muslim.


Kala itu, Rasulullah SAW memanggil segenap kaum muslim setelah mengerjaan wukuf di Padang Arafah. Ia menyerukan kepada kaum muslimin yang hadir untuk berkumpul mengelilinginya.

Beliau menyerukan khotbahnya dari atas punggung untanya yang bernama Qashwa dan diulangi oleh Rabi’ah bin Umayyah bin Ghalaf dengan keras. Khotbah terakhir ini kemudian disebut sebagai khutbah wada’.

Lantas seperti apa isi khutbah terakhir Nabi Muhammad SAW?

Isi Khutbah Terakhir Nabi Muhammad

Dilansir dari buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad karya Moenawar Khalil, berikut isi khutbah terakhir Nabi Muhammad yang diriwayatkan dalam kitab-kitab tarikh.

“Segala puji bagi Allah, kami memuji kepada-Nya, kami memohon pertolongan kepada-Nya, kami memohon ampun kepada-Nya dan kami bertobat kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari segala kejahatan diri kami dan dari kejelekan-kejelekan perbuatan kami. Siapa-siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada orang yang dapat menunjukinya. Aku mengaku bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah sendirinya, tidak ada orang yang menyekutui-Nya, dan aku mengaku bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan pesuruh-Nya.”

“Aku berpesan kepada kalian, wahai hamba Allah, supaya berbakti kepada Allah dan aku menganjurkan kepadamu supaya menaati-Nya. Aku memulai pembicaraanku ini dengan yang baik.”

“Aku akan menerangkan kepadamu karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, barangkali aku tidak akan bertemu lagi dengan kamu sesudah tahun ini di tempatku berdiri.”

“Hai manusia, sesungguhnya segala darahmu dan segenap hartamu haram atas mu sampai kamu datang menghadap Tuhanmu, seperti haramnya harimu ini, dalam bulan mu ini, di negerimu ini, sesungguhnya kelak kamu akan menghadap Tuhanmu, kemudian Dia akan menanyakan kepadamu tentang amal-amal perbuatanmu. Adakah sudah kusampaikan? Ya Allah, saksikanlah.”

“Siapa pun yang diamanati dengan suatu amanat, hendaklah ia menyampaikan amanat itu kepada orang yang bersangkutan. Semua riba telah dihapuskan, tetapi kamu berhak menerima modal-modalnya kembali. Janganlah kamu menganiaya dan jangan pula lah kamu dianiaya. Allah telah memutuskan, riba tidak ada lagi, dan riba Abbas bin Abdul Muthalib telah dihapuskan semuanya. Semua darah yang tumpah pada masa jahiliah telah dihapuskan. Permulaan darah yang kuhapuskan itu ialah darah Ibnu Rabi’ah bin al-Harits bin Abdul Muthalib.”

“Semua bekas peninggalan masa jahiliah telah dihapuskan kecuali sidanah (urusan menjaga keamanan Ka’bah) dan siqayah (urusan perairan di Mekah). Pembunuhan jiwa yang dilakukan dengan sengaja ada tuntutan balas (hukum bunuh), sedangkan pembunuhan seperti disengaja, yaitu terbunuh dengan tongkat atau batu, maka padanya didenda seratus ekor unta. Oleh sebab itu, siapa-siapa yang menambah, ia termasuk golongan orang jahiliah.”

“Hai manusia, setan itu telah putus asa, ia akan disembah di negeri kamu ini untuk selama-lamanya, tetapi jika ia diikuti selain yang demikian, ia suka dengan amalan yang demikian, yaitu amalan-amalan yang kamu pandang remeh atau amalan-amalan yang kamu pandang rendah. Oleh sebab itu, hendaklah kamu berhati-hati terhadap agamamu, agar kamu jangan mengikut kemauan setan.”

“Hai manusia, an-nasi (melambatkan waktu) menambah kepada kekufuran, dengan an-nasi itulah orang-orang kafir tersesat. Mereka menghalalkan satu tahun dan mereka mengharamkan pada tahun yang lain, untuk menginjak-injak apa-apa yang telah diharamkan Allah. Mereka halalkan apa-apa yang diharamkan Allah dan mereka haramkan apa-apa yang dihalalkan Allah. Masa itu beredar sejak Allah menjadikan langit dan bumi, dan bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan yang tersebut dalam Kitab Allah, sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Di antara dua belas bulan itu ada empat bulan yang diharamkan (yang mempunyai kehormatan), tiga yang berturut-turut dan satu yang tunggal, yaitu Dzulqa’idah, Dzulhijjah, dan Muharram, dan Rajab yang terletak di antara bulan Jumadil akhir dan Sya’ban. Bukankah telah kusampaikan? Ya Allah, saksikanlah.”

“Hai manusia, bagimu ada hak atas istri-istrimu dan bagi mereka ada hak atas dirimu. Hak kamu atas mereka ialah bahwa mereka tidak mengizinkan seseorang yang tidak engkau sukai menginjak kakinya di atas tikar-tikar mu dan mereka tidak mempersilahkan seseorang yang tidak kamu sukai masuk ke dalam rumahmu, melainkan dengan izinmu, dan mereka tidak boleh berbuat serong dengan laki-laki lain secara terang-terangan. Jika tetap dilakukan, Allah telah mengizinkan kamu meninggalkan mereka di tempat tidur dan memukul mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan.”

“Jika mereka telah berhenti berbuat demikian, kewajibanmulah memberi mereka makanan dan pakaian dengan segala sopan santun. Berilah pelajaran-pelajaran yang baik kepada perempuan-perempuan itu karena mereka adalah pembantu-pembantumu. Mereka tidak mempunyai sesuatu untuk diri mereka, kamu telah mengambil mereka sebagai amanah dari Allah, dan telah kamu halalkan kehormatan mereka dengan nama Allah. Oleh sebab itu, takutlah kamu kepada Allah tentang perempuan-perempuan itu dan hendaklah kamu memberi pelajaran yang baik kepada mereka. Bukankah telah kusampaikan? Ya Allah, saksikanlah.”

“Perhatikanlah perkataanku ini, wahai manusia, karena telah kusampaikan. Sesungguhnya, telah aku tinggalkan kepadamu sesuatu yang jika engkau berpegang dengannya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya, suatu urusan yang terang nyata, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”

“Hai manusia, dengarlah apa yang kukatakan agar kamu hidup bahagia.”

“Hai manusia, dengarlah apa yang akan kukatakan kepadamu dan kamu perhatikanlah ia, kamu akan mengerti bahwa tiap-tiap orang Islam bersaudara dengan orang Islam yang lain dan setiap orang Islam itu bersaudara, tidaklah halal bagi seseorang dari saudaranya kecuali apa-apa yang telah diberikan kepadanya, yang timbul dari hati yang baik dari saudaranya itu. Janganlah kamu menganiaya dirimu sendiri. Bukankah telah kusampaikan? Ya Allah, saksikanlah.”

“Hai manusia, janganlah kamu kembali menjadi kafir sesudahku, yang segolongan memerangi golongan yang lain. Ketahuilah, yang datang hendaklah menyampaikan kepada yang tidak datang. Mungkin saja orang yang menyampaikannya lebih memelihara dirinya daripada orang yang mendengarkannya. Bukankah telah kusampaikan? Ya Allah, saksikanlah.”

“Hai manusia, Tuhanmu satu dan orang tuamu satu, kamu semua dari Adam, sedang Adam itu dari tanah. Semulia-mulia kamu pada sisi Allah ialah yang paling takwa di antara kamu. Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang-orang yang bukan Arab, melainkan karena takwa kepada-Nya. Bukankah sudah kusampaikan? Ya Allah, saksikanlah. Hendaklah yang datang menyampaikan kepada yang tidak datang.”

“Hai manusia, Allah telah membagikan kepada masing-masing waris bagian-bagian yang diwarisinya, maka tidak boleh bagi ahli waris menuntut wasiatnya dan tidak boleh berwasiat lebih dari sepertiga. Bagi anak hasil dari zina adalah milik ayahnya dan yang berzina dikenakan hukum rajam. Barangsiapa yang mendakwahkan atau mengaku orang lain yang bukan bapaknya sebagai bapaknya atau menetapkan majikan yang bukan majikannya, ia berhak menerima laknat Allah, laknat malaikat, dan laknat manusia seluruhnya, tidak akan diterima dari padanya tebusan darinya dan tidak pula penggantian. Kesejahteraan dan rahmat Allah serta berkah-Nya semoga dilimpahkan kepadamu.”

Demikianlah isi khutbah Nabi Muhammad SAW di hadapan kurang lebih 140.000 kaum muslimin. Rabi’ah berulang kali mengulangi khutbah beliau sehingga segenap umat muslim yang hadir dapat mendengar dan mengerti.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Fikih Safar bagi Jemaah dan Petugas Haji Indonesia


Jakarta

Sebagian besar jemaah haji Indonesia 1444 H/20123 sudah kembali ke Tanah Air. Mereka sudah kumpul bersama keluarga, tetangga dan sahabatnya setelah sekian lama ditinggal melaksanakan ibadah haji.

Jemaah haji Indonesia ada yang masih belum pulan ke Tanah Air, karena menuntaskan kesempurnaan serangkaian perjalanan ibadah hajinya, yaitu ibadah di masjid Nabawi Madinah sekaligus ziarah ke makam Rasullah shallallahu alaihi wasallam.

Petugas Haji Indonesia sejak sepekan yang lalu sudah ada yang pulang ke Tanah Air karena sudah purna tugas sebagai PPIH Arab Saudi 1444 H/2023 M. Sebagian yang lain kepulangannya ada tanggal 26 dan 27 Juli 2023 hingga awal bulan Agustus 3023.


Berkenaan dengan kepulangannya ke Tanah Air, penting mengingat kembali tentang tata cara ibadah selama dalam perjalanan pulang ke Indonesia.

Pulang Bentuk Rasa Cinta Tanah Air

Mencintai Tanah Air atau tempat kelahiran bisa disebut sebagai fitrah dan karakteristik manusia. Seseorang pasti akan ingat kampung halaman. Terlebih saat momentum lebaran seperti hari raya Idul Fitri, Idul Adha, kerja di luar negeri, tugas negara atau momentum lainya. Seindah apapun di negeri orang tetap tidak bisa menggantikan keindahan dan kehangatan di negeri sendiri, kumpul bersama keluarga, tetangga dan sahabat.

Dikisahkan, karena cintanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam terhadap kota Makkah, sebagaimana manusia pada umumnya, Rasulullah merasakan sedih ketika meninggalkan kota Makkah. Seandainya bukan perintah Hijrah, tentu Rasulullah tidak meninggalkan kota Makkah. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sangat mencintai tanah kelahirannya, yaitu Makkah.

Ekspresi cinta Rasulullah shalallahu alaihi wasallam terhadap tanah kelahirannya, terlihat dari riwayat Ibnu Abbas dalam hadis riwayat al-Tirmidzi. Ia menjelaskan betapa cinta dan bangganya Rasullullah shalallahu alaihi wasallam pada tanah kelahirannya. Rasa cinta tersebut terlihat dari ungkapan Nabi Muhammad terhadap kota Mekah.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Alangkah indahnya dirimu (Makkah). Engkaulah yang paling kucintai. Seandainya saja dulu penduduk Makkah tidak mengusirku, pasti aku masih tinggal di sini.” (HR: al-Tirmidzi).

Tata Cara Bepergian yang Islami

Selama dalam perjalanan atau bepergian jauh ke tempat yang sudah ditentukan ada dispensasi (rukhsoh) dalam menjalankan ibadah. Dalam istilah fikih, orang yang bepergian atau dalam perjalanan disebut musafir (orang yang bepergian). Bagi musafir boleh mengerjakan salat dengan cara diringkas (qasar salat) atau boleh menggabung dua shalat fardu dalam satu waktu (jamak salat), boleh tidak berpuasa dan dispensasi lainnya.

Seseorang yang melakukan perjalanan jauh hendaknya memperhatikan anjuran dan ketentuan sebagai berikut:

(1). Sunah Salat Sunat Dua Rakat

Bagi jemaah atau petugas haji Indonesia yang hendak balik ke Tanah Air disunahkan melakukan salat sunah safar terlebih dahulu. Niat dan sara salat sunah safar sebagai berikut:

أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

“Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Pada rakaat pertama dianjurkan membaca surat Al-Kafirun setelah membaca surat Al-Fatihah, dan untuk rakaat kedua membaca surat Al-Ikhlas setelah membaca Al-Fatihah.

(2). Berdoa

Pada saat memulai melakukan perjalanan hendaknya kita memohon kepada Allah agar selamat sampai tujuan.

Berikut ini doa yang selalu dibaca Rasulullah shalallahu alaihi wasallam setiap bepergian;

اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

“Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pengganti dalam keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, kesedihan tempat kembali, doa orang yang teraniaya, dan dari pandangan yang menyedihkan dalam keluarga dan harta.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

(3). Boleh Menggabung atau Meringkas Salat

Perjalanan yang sudah mencapai kurang lebih 89 km (88,704 km) maka seseorang diperbolehkan meringkas salatnya atau menggabung dua salat dalam satu waktu.

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ

“Ketika kalian bepergian di bumi, maka bagi kalian tidak ada dosa untuk meringkas shalat.”
(QS. An-Nisa : 101)

Praktik meringkas salat (qasar salat) hanya berlaku untuk shalat bilangan empat rakaat seperti Dzhur, Asar dan Isya yang kemudian diringkas masing-masing menjadi dua rakaat.

Sedangkan praktik menggabungkan dua salat (jamak salat) dalam satu waktu hanya bisa dilakukan untuk salat Zuhur digabung dengan Asar, Maghrib digabung dengan Isya’. Untuk salat Shubuh tidak bisa digabung apalagi diringkas.

جَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ سَفَرٍ وَلا خَوْفٍ، قَالَ: قُلْتُ يَا أَبَا الْعَبَّاسِ: وَلِمَ فَعَلَ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَرَادَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjamak antara shalat Dzuhur dan Ashar di Madinah bukan karena bepergian juga bukan karena takut. Saya bertanya: Wahai Abu Abbas, mengapa bisa demikian? Dia menjawab: Dia (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya.” (HR. Ahmad).

Perjalanan jauh seperti Arab Saudi-Indonesia atau sebaliknya, dimana durasi waktunya bisa mencapai kisaran 9 atau 10 jam, maka cara melaksanakan salatnya dapat memperhatikan jadwal penerbangan pesawat, seperti sebagai berikut:

a. Jika jadwal pesawatnya terbang jam 03.00 Waktu Arab Saudi, maka salat subuhnya bisa dilakuan di pesawat. Persiapkan wudhu sebelum naik pesawat atau boleh tayamum di pesawat. Salat di pesawat dilakukan dengan cara yang memungkinkan baginya, dan jikapun tidak memungkinkan sebagaimana mestinya, maka salat dapat dilakukan sebisanya; salat duduk, tanpa wudhu dan tidak menghadap kiblat. Salatnya disebut menghormati waktu salat yang diwajibkan. (lihurmatil waqti) . Salat yang dilakukan karena alasan lihurmatil waqti, nanti setelah sampai di Indonesia diulangi kembali (i’adah).

b. Jika jadwal penerbangan pesawatnya jam 19.40 Waktu Arab Saudi, maka jika memungkinkan salat Maghribnya digabung dengan salat Isya’ dengan cara salat jama’ taqdim sebelum naik ke pesawat. Salat Maghribnya tiga rakaat sebagaimana biasa, lalu dilanjutkan salat Isya’, baik empat rakaat atau dua rakaat secara qoshor. Untuk salat subuhnya di pesawat dilaksanakan seperti cara poin 1 di atas.

(4). Boleh Tidak Puasa

Seseorang yang melakukan perjalanan dengan ketentuan jarak tempuh sebagaimana boleh menggabung (jamak) atau meringkas (qasar) salat, ia juga diperbolehkan untuk tidak berpuasa fardu, apalagi puasa sunah. Puasa fardu seperti puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena bepergian wajib diganti setelah bulan Ramadhan.

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“…Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain…” (QS. al-Baqarah: 185)

Dalam kitab fikih ulama banyak menjelaskan ketentuan perihal boleh atau tidaknya bagi seseorang yang sedang bepergian untuk tidak puasa. Misalnya antara lain disebutkan sebagai berikut;

( وَ ) يُبَاحُ تَرْكُهُ ( لِلْمُسَافِرِ سَفَرًا طَوِيلا مُبَاحًا ) فَإِنْ تَضَرَّرَ بِهِ فَالْفِطْرُ أَفْضَلُ وَإِلا فَالصَّوْمُ أَفْضَلُ كَمَا تَقَدَّمَ فِي بَابِ صَلاةِ الْمُسَافِرِ . ( وَلَوْ أَصْبَحَ ) الْمُقِيمُ ( صَائِمًا فَمَرِضَ أَفْطَرَ ) لِوُجُودِ الْمُبِيحِ لِلإِفْطَارِ . ( وَإِنْ سَافَرَ فَلا ) يُفْطِرُ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ الْحَضَرِ وَقِيلَ يُفْطِرُ تَغْلِيبًا لِحُكْمِ السَّفَرِ .

“Dan dibolehkan meninggalkan berpuasa bagi seorang musafir dengan perjalan yang jauh dan diperbolehkan (mubah). Bila dengan berpuasa seorang musafir mengalami mudarat maka berbuka lebih utama, bila tidak maka berpuasa lebih utama sebagaimana telah lewat penjelasannya pada bab shalatnya musafir. Bila pada pagi hari seorang yang bermukim berpuasa kemudian ia sakit maka ia diperbolehkan berbuka karena adanya alasan yang membolehkannya berbuka. Namun bila orang yang mukim itu melakukan perjalanan maka ia tidak dibolehkan berbuka dengan memenangkan hukum bagi orang yang tidak bepergian. Dikatakan juga ia boleh berbuka dengan memenangkan hukum bagi orang yang bepergian” ( Kanzur Raghibin Syarh Minhajut Thalibin, juz 2, hal. 161)

(5). Boleh Cipika Cipiki dengan Keluarga

Menurut Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, seseorang yang baru datang bepergian jauh seperti baru pulang ibadah haji, selain bersalaman, dia juga diperbolehkan berpelukan dengan anggota keluarga, tetangga dan sahabatnya. Bersalaman atau berpelukan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya tetap tidak diperbolehkan meskipun atas alasan lama tidak bertemu. Wallahu A’almu bi ash-Showabi

*) Abdul Muiz Ali
Petugas PPIH Arab Saudi, Pengurus Lembaga Dakwah PBNU dan Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat

(nwk/nwk)



Sumber : www.detik.com

Raudah Dirindu, Raudah Jangan Keliru!



Jakarta

Raudah, nama yang sangat populer bagi jemaah calon umrah, calon haji. Berjuang untuk masuk ke Raudah, bukan hanya bagi para jemaah yang sudah di Madinah. Bahkan para calon jemaah umrah atau haji sudah menanyakannya sejak masih di tanah air.

Raudah adalah lokasi antara maqburah Nabiy dan mimbar Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masuk dan berdoa di sini merupakan program ‘wajib’ bagi jemaah calon umrah atau haji.

Pada era ini, masuk ke Raudah memiliki jadual khusus. Kalau jadwal laki dan perempuan berbeda, itu sudah dari dulu. Tapi setelah Covid-19 kemarin, jemaah harus antri, sesuai jadwal yang diberikan oleh pemerintah.

Bahkan, sejak tahun 2023 akhir, jemaah hanya dibolehkan masuk ke Raudah sekali dalam setahun. Jadi, jika ada jemaah berhaji, atau berumrah setahun lebih sekali maka, dia hanya diijinkan ke Raudah lagi setahun setelah masuk Raudah yang sebelumnya.


Hakikat Raudah

Mengapa jemaah begitu antusias masuk, shalat, berdoa bahkan menangis lama di Raudah? Tempat ini setidaknya diyakini sangat makbul. Tempat segala pinta mendekati 100% diterima. Atau, sebagian karena merasa bisa lebih dekat dengan posisi Rasulullah berada. Juga merupakan lokasi di mana Rasulullah berlalu lalang dari rumah Beliau ke mimbar, tempat Beliau menjadi imam para sahabat untuk melakukan salat jemaah lima waktu.

Lokasi demikian sangatlah wajar jika diyakini sebagai lokasi yang sangat berkah. Antara lain karena di sanalah bekas jejak kaki Rasulullah yang penuh berkah berulang-ulang melintas. Persoalannya adalah, apakah setiap jemaah yang masuk ke Raudah selalu menghasilkan keberkahan itu? Atau, apakah yang tidak mampu, dengan segala alasannya, masuk ke Raudah adalah mereka yang ‘pasti’ tidak mampu menerima berkah itu?

Sebentar dulu, kita pahami makna berkah. Ia merupakan kata yang setidaknya memiliki makna kemanfaatan yang luas. Semakin berkah semakin luas manfaat yang dihasilkan.

Nah, terkait dengan keberkahan yang dihasilkan, kepada para jemaah yang berhasil masuk Raudah pantas diberikan pertanyaan. Apakah setelah masuk ke Raudah mereka menjadi lebih baik? Lebih baik bermakna antara lain jika kebaikan itu terkait dengan salat, maka boleh jadi salatnya makin khusyu. Sebelumnya jarang salat berjemaah ke masjid setelah dari Raudah semakin rajin. Jika dulunya masih kurang dermawan setelah dari Raudah jauh lebih tajir. Jika sebelumnya kurang mudah menahan emosi setelah dari Raudah lebih sabar, dan seterusnya.

Lalu, bagaimana jika semua kebaikan, kesempurnaan akhlak ini justru digapai oleh orang yang belum berhasil ke Raudah? Apakah pantas mereka disebut kehilangan berkah Raudah?

Kalau dilihat dari hasilnya: siapa pun, entah ke Raudah atau belum, jika akhlaknya semakin mulia maka dialah yang memperoleh berkahnya ibadah. Walau belum berhasil ke Raudah. Sedangkan mereka yang berhasil ke Raudah tetapi belum mampu membuat akhlaknya semakin sempurna, sebaiknya istighfar. Mengapa? Karena bagaimana bisa, tempat yang berkahnya sangat luar biasa belum mampu mengganti akhlaknya yang kurang baik menjadi lebih sempurna?

Jadi ayo kita berpacu bisa ke Raudah. Namun jangan lupa, perubahan menuju akhlak yang lebih mulia merupakan tujuan utama yang harus digapai melalui ibadah apa pun. Termasuk ke Raudah!

Abdurachman
Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, pemerhati spiritual medis dan penasihat beberapa masjid di Jawa Timur.
Artikel ini adalah kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Red)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Kepakaran Melesat Saat Amal Shalihat Berlipat



Jakarta

Produksi terhambat, pabrik ngadat. Mengapa? Karena pusat operasional kendali otomatis, komputernya harus dirawat.

Sayangnya pakar komputer yang sangat ahli di bidangnya telah istirahat. Usianya sudah meningkat.

Perusahaan berusaha melepas masalah dengan mendatangkan ahli komputer yang masih aktif. Satu, dua, tiga, empat bahkan sampai lima orang.
Pabrik ngadat sampai dua pekan. Persoalan di sistem komputer belum teratasi. Maklum, ini terjadi pada masa komputer seukuran kamar tidur. Beda dengan sekarang yang sudah seukuran genggaman tangan. Kasus menimpa salah satu perusahaan di sebuah negara terkenal di Eropa sana.


Lama tidak menghasilkan solusi, pihak perusahaan berusaha menghubungi pakar yang sudah retired. Problemnya, jika seorang sudah retired di negara tersebut, ada peraturan yang tidak membolehkannya sibuk lagi dengan pekerjaan yang harusnya sudah bisa ditangani oleh pakar pengganti. Yaitu generasi berikutnya.

Demi keadaan yang sudah sulit diatasi, ditambah produksi macet selama itu, dua pekan. Jumlah kerugian yang tidak kecil yang harus ditanggung oleh perusahaan.

Belum lagi para pekerja yang semestinya aktif bekerja, selama komputer pengendali ngadat, mereka menjadi terlantar. Padahal etos kerja di negara tersebut terbilang sangat tinggi.

Sambil memohon penuh harap, menyertakan alasan yang sudah diupayakan, perusahaan mencoba menghubungi pakar itu.
Sesampainya pakar tersebut di perusahaan, dia masuk ke ruang kendali. Setelah memperhatikan sekeliling, menganalisis secara singkat, tiba-tiba dia meminta disediakan obeng.

Seketika obeng diberikan, dengan cekatan tangan ahlinya menancap ke salah satu onderdil yang menempel pada sirkuit komputer.

Tampak tangannya memutar ke arah kanan, tiba-tiba saja komputer menyala dan operasional perusahaan lancar.
Demi menyaksikan peristiwa sekejap yang segera menghapus masalah itu, lima ahli komputer yang dari tadi mengamati terbelalak hampir tak percaya, terhadap apa yang dilihatnya. Keringat menetes tampa diundang. Boleh jadi masing-masing mereka bergumam, “Kalau tahu cuma begitu, mengapa tidak kulakukan dari kemarin-kemarin?”

Boleh jadi kisah nyata ini menjadikan jelas perbedaan antara sekedar ahli dengan pakar sesungguhnya.
Pakar yang super bisa bekerja cepat, hemat, tangkas, jeli dan sangat cermat.
Di dalam bahasa Al Quran, kepakaran yang super ini boleh jadi bisa mewakili konsep ulul albab ( QS al-Imran 3:190).

Pasti terhujam di setiap benak kita bahwa tingkat kepakaran seperti ini tidak mudah digapai. Selain memerlukan tingkat kecerdasan yang memukau, masih diperlukan ketekunan yang tinggi. Selain itu, tingkat kepakaran yang super ini tentulah memerlukan ketekunan belajar, kesungguhan bekerja dalam bidangnya serta berbagai keseriusan yang lain. Perlu pengalaman panjang.

Bisakah itu semua digapai setiap orang?
Saya ragu menjawabnya iya?

Namun, di sisi lain Al Quran menyematkan jalur cepat mampu menjadi pakar yang luar biasa itu.
Petunjuk sederhana Al Quran adalah, sengajakan dirimu senantiasa dzikrullah. Ya, dalam segala keadaan. Baik saat duduk, berdiri, berbaring. Pendek kata dalam setiap keadaan. Kalau kalimat dzikir merujuk kepada riwayat mutawatir yang dikenal Muslimin hampir di seluruh dunia. Mereka antara lain adalah: subhaanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa ilaaha illaa Allah, laa hawla wa laa quwwata illaa billah.

Cara menggapai tingkat kepakaran yang super itu, sesuai konsep Al Quran, diterangkan pada (QS al-Imran 3:190-192). “Inna fii khalqissamaawaati wal ardli wakhtilaafil layli wan nahaari la-aayaatil li-ulil albaab. Alladziina yadzkuruunallaaha qiyaaman wa qu’uudan wa ‘alaa junuubikum wa yatafakkaruuna fii khalqissamaawaati wal ardl, Rabbanaa maa khalaqta hadzaa baathila, subhaanaka faqinaa ‘adzaabannaar”.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

10 hari awal bulan Zulhijjah merupakan hari-hari yang sangat istimewa. Keutamaannya tak ada yang bisa melampaui. Kecuali orang yang mampu keluar berjihad di jalan Allah dengan fisiknya dan seluruh hartanya, lalu orang tersebut tidak kembali. Artinya mati syahid.

Bisa dibayangkan jika setiap kita menguatkan hati untuk tekun berdzikir pada hari-hari awal Zulhijjah ini. Bukankah ini menjadi bagian jalan agar setiap kita mampu melesatkan tingkat kepakaran dalam tempo sesingkat-singkatnya. Ialah, melakukan amal shalihat pada saat nilai amal sangat berlipat. Mari semua kita berusaha senantiasa dzikrullah sambil terus menjaga agar setiap amaliyah kita selalu shalihat!

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Walau Nakalnya Sungguhan, Hajinya Mabrur Betulan



Jakarta

Nakal yang Tergantikan

Pemuda tampan berbadan tinggi itu memiliki kulit halus putih bersih. Sayang beberapa waktu yang lalu ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung.
Ayahnya termasuk orang berpengaruh di kota itu. Usahanya cukup banyak, setidaknya untuk ukuran kabupaten yg produktif. Pendapatan daerah kabupaten (PAD)nya cukup tinggi. Jarang ada orang yang memiripinya.

Dia punya usaha; toko emas, minimarket, bengkel mobil, rumah makan, pompa bensin, dan toko pakaian. Dari sisi ekonomi sangat lumayan.
Pemuda tampan tadi, beberapa hari sebelum ayahnya meninggal, pamit ke Bali. Membawa mobil sedan, serta truk yang berisi penuh muatan bahan dagangan. Pamit berdagang.


Sesampainya di tujuan, ternyata ia balapan. Berpacu mobil dengan kawan sepantaran. Truk yg penuh berisi barang dagangan. Barang dagangannya habis sempurna berikut truknya. Sedannya pun habis dilelang.

Bukan sekali ini saja dia berpetualang melakukan kegiatan keremajaan. Namun sayang, sekali ini ayahnya tak tahan lagi dengan kenakalannya. Sakit jantungnya mendadak kambuh. Nyawanya tak bisa dipertahankan. Dia meninggal.

Bagai halilintar menyambar. Segera saja dia terbang pulang. Seolah kesadarannya sontak terbangunkan. Dia menangis, meratap. Sampai tak mudah dibayangkan. Penyesalan akibat perbuatan buruknya, dirasakannya sangatlah sulit bisa dimaafkan.

Dalam kesadaran yang mengagumkan setiap orang. Setelah itu tak ada lagi bayang kenakalan remaja yg dulu pernah ia sandang. Pandangannya sering tertunduk. Pertanda penyesalannya begitu mendalam. Hari-harinya diisi dengan melanjutkan usaha dagang ayahnya.

Beberapa waktu berselang, ia mengikuti haji reguler pemerintah. Pada waktu itu pergi berhaji tidak perlu antri sesuai urut kacang. Langsung diberangkatkan.

Sesampainya di Makkah, perilakunya sangat menakjubkan. Ia menjadi pemuda tampan. Berjalan selalu tudukkan pandangan. Tak lupa menjadi penggendong para jemaah yang memerlukan pertolongan. Karena sakit untuk diperiksakan. Dia dikenal dengan sebutan haji tampan pembawa jemaah sakit di gendongan.

Haji Mabrur yang Kenyataan

Berhaji mabrur boleh jadi menjadi impian para jemaah calon haji. Baik bagi yg baru pertamakali berhaji. Atau yang telah berulang-ulang.

Boleh jadi setiap orang merasa paling berpeluang. Atau banyak juga yang merasa amalnya masih jauh dari ukuran wajar. Jika saja pemuda tampan itu menjadi acuan. Betapa bisa setiap orang menjadi haji mabrur sesuai impian.

Jejak nakal bisa diganti. Rekam buruk kegiatan di masa lalu InsyaAllah pasti selalu bisa diobati. Boleh jadi syaratnya gampang. Ganti total seluruh pekerti terlarang. Diganti dengan perbuatan indah yang boleh jadi belum mudah dilakukan orang. Pastikan ikhlash karena Allah. Bukan mengharap pujian.

Petunjuk perilaku pemuda tampan itu. Berjalan menunduk tanda penyesalan mendalam. Upaya nyata berbelok dari balapan kepada usaha sungguhan. Berdagang melanjutkan peluang sukses betulan. Merombak total perilaku nakal melalui berhaji sambil total menolong orang.

Membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Tampa melihat status sosial apalagi hubungan kekerabatan.
Mendahulukan kepentingan orang lain, padahal dirinya pemuda tampan yang berkelimpahan fasilitas keuangan. Contoh perilaku mulia yang bisa ditauladankan.

Walau dulunya bekas nakal yang sulit dibandingkan.
Tapi sekarang bisa dibilang mabrur tak terkalahkan.

Boleh jadi perilaku menuju mabrur bisa beragam. Tidak harus setiap orang memanggul jemaah yang sakit ke perubatan.
Perilaku mengantri makan, mendahulukan orang lain yang lebih butuh untuk ke lift, dan ke sekian peruntukan yang memerlukan ke-akuan diminimalkan.
Lalu, menjaga pandangan adalah petunjuk utama perubahan.

Menjaga lisan merupakan indikator jalan terang menuju mabrur betulan. Berusaha selalu dzikrullah dan berucap sopan merupakan keutamaan yang tak bisa dibilang gampang.

Sikap dermawan bukan hal yang mudah dilakukan. Tapi setidaknya bisa dijadikan petanda bahwa ibadah yang dilakukan berbuah manfaat sosial.
Menghindar dari perdebatan merupakan peluang dikabulkannya pahala haji. Mengganti kata-kata jorok dengan kalimat pujian yang disunnahkan, adalah suatu kemuliaan yang dituntunkan.

Rasa angkuh yang tertundukkan, merupakan prestasi yang meminta ulungnya sikap penghambaan. Pemuda tampan yang dulunya nakal. Sanggup mengikis bersih keangkuhan dan kesombongan. Walau dirinya berfisik gagah, tampan, berlimpah keuangan.

Aduh.., andai saja setiap jemaah calon haji berikhtiar melakukan setiap kebaikan itu secara total. Boleh diyakinkan hajinya mabrur betulan.

Perilaku pemuda tampan, berpredikat insyaAllah haji mabrur betulan. Boleh jadi sebagai tanda diterimanya amal-amal shaleh ayah dan bundanya. Ayahnya telah berusaha mendidiknya dengan baik, walau berakhir dengan nyawa sebagai taruhan.
InsyaAllah ayahnya diampunkan. Antara lain karena putranya berhasil menjadi haji mabrur betulan.

Allaahumma ij’alnaa hajjan mabruura wa sya’yan masykuura wa dzanban maghfuuraa wa tijaaratan lan tabuuraa wa amalan shaalihan maqbuulaa aamiin.

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Kusembah Engkau Karena Kucinta



Jakarta

Cerita cinta. Cerita yang tak pernah ditutup bukunya. Ia dinovelkan, ia dilagukan, ia disyairkan.

Tak terhitung jumlah judul lagu yang selalu hits, jika bertemakan cinta. Begitu juga judul film, judul novel, termasuk judul-judul puisi. Bahkan, berbagai perusahaan jasa, termasuk layanan perbankan dan perhotelan. Meninggikan kalimat cinta. Kalimat umum sebagai isyarat pelayanan unggulan. Kalimat itu bisa berujar, “Kami melayani dengan cinta”.

Cinta, menguatkan siapa saja. Kekuatan yang bahkan di luar logika. Cinta, sulit dinarasikan dengan kata-kata!


Orang yang sedang dimabuk cinta, tampak baginya keindahan dalam segala. Jika yang dicinta seorang wanita atau pria, maka dari seluruh detailnya, semuanya tampak memesona. Dari rasa cinta, muncul ungkapan kekaguman, pujian, ingatan tak berkesudahan, kerinduan, dan perasaan berbunga-bunga ketika berjumpa.
Bukankah setiap kita pernah merasakannya?

Rabi’ah al-Adawiyah. Siang itu Rabi’ah al-Adawiyah berlari-lari di Kota Baghdad. Di tangan kanannya ada setimba air. Tangan kirinya memegang obor api. Melihat yang tak biasa masyarakat betanya-tanya, ada apa?

Tak mereka duga, Rabi’ah menjawab ‘sekenanya’, “mau membakar surga dan menyiram neraka”.
Andai saja kita di sana, boleh jadi kita menduga Rabi’ah berbicara tanpa logika?

Rupanya Rabi’ah mengikuti kata hatinya. Agar siapa pun yang menyembahNya bukan mengharap surga, atau sekedar takut dari siksa neraka. Menurutnya, karena itu membuat umat Islam menyembahNya tanpa dasar cinta.

Menyembah demi cinta, pasti tak kan pernah dibutakan atas keinginan surga, atau ketakutan akan neraka.

Sangat mungkin suasana hati Rabi’ah sesuai dengan informasi dalam Zabur, kitab yang diwahyukan Allah swt. kepada Nabi Daud as. “Siapakah yang lebih kejam dari orang yang menyembahKu karena surga atau neraka. Apakah jika Aku tidak membuat surga dan neraka, maka Aku tidak berhak untuk disembah.”

Cinta hamba, dalam lirik lagu. “Jika surga dan neraka tak pernah ada”.
Lebih sepuluh tahun lalu. Lagu tentang cinta tulus hamba kepada Tuhannya menempati papan atas tangga lagu hits di Indonesia. Perhatikanlah sebagian liriknya:

“Apakah kita semua
Benar-benar tulus
Menyembah padaNya
Atau mungkin kita hanya
Takut pada neraka
Dan inginkan surga

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkan kau bersujud kepadaNya
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut namaNya”.

Di hati seorang hamba. “Sungguh tak peduli aku. Ke manakah yang Engkau rela. Yang kuberatkan jika aku masuk neraka, karena aku durhaka. Betapa nestapanya?

Bukankah perintahMu adalah nikmat. Bukankah melanggarmu adalah kerugian yang fakta. Bagaimana bisa memilih celaka daripada bahagia, jika aku memiliki logika.

Betapa maksiyat kepadaMu adalah pengkhianatan kasat mata. Atas sejati cintaMu kepadaku. Tidak tahu malu, jauh dari kata setia. Tak pantas menjadi manusia!

Andai memilih taat daripada durhaka tak pernah ada pahalanya. Logika sehatku pasti memaksa untuk memilih taat kepadaMu. Betapa tidak, karena taat itu keuntungan yang sangatlah berbukti fakta.

Maha Suci Engkau dari memerintahkan untuk celaka. Pastilah perintahMu untuk selamat dan bahagia. Maha Suci Engkau dari melarang untuk bahagia. Pastilah laranganMu untuk menghindar dari bahaya nyata. Celaka tak ada duanya.

Lalu apa kepentinganku terhadap pahala. Kecuali itu hanya karena anugerah rahmatMu saja kepada siapa pun hambaMu. Duh, hanyalah Dia yang benar-benar haq untuk dicinta, dengan segala puja.

Kalimat Maha Puja Menandai Puncaknya Cinta. Kalimat puja

dan puji untuk hamba-hambaNya. Diuntai berjalin dalam kekaguman tak berhingga. Inikah dia?

1. Bismillaahirrahmaanirraahiim
Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
2. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin
Segala puji hanya bagi Engkau Tuhan seru sekalian alam
3. Ar-Rahmaanirraahiim
Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
4. Maaliki yaumiddiin
Maha Raja di hari pembalasan

Nabi Daud as. menerima wahyu dalam Zabur, “Sesungguhnya orang yang sangat Aku kasihi adalah orang yang beribadah bukan karena imbalan. Tapi semata, karena Aku berhak untuk disembah.”

Duhai Allah. Hamba berdoa dan berdoa. Agar setiap masa yang sedang dan akan tiba. Tak ada secelah pun padanya. Kecuali hamba menyembahMu sedang hati selalu dimabuk cinta. Cinta hanya kepadaMu saja.
Kabulkanlah Rabb!

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Rahasia 100.000 Pahala di Masjidil Haram



Jakarta

Salat itu ibadah unggulan. Begitu tinggi maqamnya, hingga banyak ibadah lain “sepertinya” bersifat derivatif dari salat. Nyaris semua kegiatan harian kita, ada “penawarnya” lewat salat. Selain salat sunah rawatib, ada banyak ibadah maknawiyah yang menggandeng salat.

Contoh; wudhu ada salatnya, hajat ada salatnya, mohon petunjuk ada salatnya, safar ada salatnya. Ada salat sunah ihram, salat tawaf, minta hujan, salat gerhana, salat taubat, dan salat lainnya.

Bahkan, ada salat yang tidak bergantung pada momentum apa pun. Kapan saja (selain waktu terlarang) dan di mana saja, kita bisa langsung salat. Namanya salat mutlaq.


Dus, salat adalah fasilitas paling formal yang didisain oleh agama agar umat dapat setiap saat berasyik masyuk dengan Tuhan. Konon, salat pula yang pertama-tama akan dihitung di Yaumil Hisab sebelum jenis ibadah lain. Jika salatnya baik, ibadah lain diyakini akan beroleh “syafaat” dari salat.

Nah, salat juga merupakan salah satu peluang investasi terbesar kita. Ia menampung keuntungan sangat besar. Keuntungan berupa pahala. Pahala adalah manfaat dari perbuatan yang bisa dipetik. Ibarat perusahaan, agama Islam menyediakan dua formula untuk menghitung benefit.

Ia menyediakan pahala bagi yang amal ibadahnya baik dan menyiapkan dosa bagi yang sebaliknya. Pahala berupa manfaat, sedang dosa memberinya mudarat. Inilah reward dan punishment.

Pahala dan dosa berimplikasi pada wujudnya manfaat dan mudarat bagi kita. Bukan bagi Allah. Setiap amar-Nya akan mendatangkan manfaat dan tiap nahyun–larangan-Nya, jadi penyebab kemudaratan bagi kita.

Maka, siapa yang salatnya baik, memenuhi rukun, syarat wajib, syarat sah dan syarat diterimanya, maka ia akan beroleh manfaat, yaitu selalu ingat Allah dan jauh dari mungkar serta fakhsya’. Yang lalai akan beroleh sebaliknya; lupa kepada Allah dan diancam dengan kenistaan hidup.

Meditasi Energi

Kini, mari mencoba menyimak “dalil” alam semesta lewat postulat fisika. Dengan rumus ini, kita berharap dapat memandang salat dari sisi lain. Yaitu salat sebagai sebuah meditasi energi. Kenapa disebut meditasi, karena salat yang “benar” akan meniscayakan suasana khusyu’.

Persis meditasi. Khusyu’ (dalam salat) dan meditasi adalah safar hati. Kian sublim hati seseorang, akan kian jernih hatinya. Jika mencapai kejernihan tertentu, hati akan mampu beresonansi.

“Dalil” lain dari ilmu pengetahuan alam menyebutkan bahwa jika sebuah benda mengandung listrik–dan begitu juga tubuh manusia, bergerak-gerak dengan cara berputar, dalam waktu tertentu akan bisa memproduksi energi.

Dan kaifiyat salat terdiri atas gerakan berputar yang dimaksud. Takbiratul ihram adalah gerakan tangan dari pinggang hingga telinga. Ia bergerak 180 derajat. Rukuk juga gerakan berputar 90 derajat. I’tidal ke sujud bergerak 180 derajat. Dan sujud ke duduk juga gerakan 90 derajat.

Lebih dari itu, salat adalah kegiatan yang tidak pernah berhenti hingga Hari Kiamat. Siang ini salat duhur di Makkah, semenit lalu duhur yang sama di tempat lain. 9 jam lalu duhur itu juga di Jakarta. 10 jam sebelumnya di Bali. Sejam lalu di Papua.

Demikianlah sepanjang 24 jam, duhur berputar berganti asar, lalu salat maghrib, lalu isya, dan akhirnya subuh. Kondisi ini akan terus berlanjut, sebab matahari tak pernah berhenti mengitari bumi. Miliaran orang melakukan salat.

“Waktu” bertambah padat dan tebal jika banyak orang melengkapinya dengan salat sunnah. Kini kita dapat membayangkan, betapa telah terjadi ketegangan medan elektromagnetik pada satu titik.

Di mana ‘kah titik itu? Di ka’bah. Mengapa? Sebab semua gerakan salat mengarah pada satu titik, yaitu ka’bah. Rumah Tuhan itu membara karena menjelma konduktor raksasa. Titik itu menjadi kiblat hati dari miliaran manusia.

Dalam satu waktu, miliaran hati berkirim resonansi cahaya. Sebab, hati yang yang menampung doa, ayat-ayat Alquran, selawat, wirid, dzikir, bacaan talbiyah dan bersatu dalam susunan kalimah tayyibah yang sakral, akan memunculkan cahaya/nur.

Allah juga menyebut Alquran sebagai “nuron mubina”–cahaya yang nyata. Nur itu adanya di hati yang lembut. Jika sampai pada kejernihan tertentu, hati akan menularkan cahaya ke sekitar. Sebab, hati yang yang lembut, mengandung frekuensi tinggi dan amplitudo rendah.

Dari mana rumusnya? Saat mengisi pengajian di kantor daerah kerja (daker) Makkah tempo hari, konsultan ibadah di PPIH Arab Saudi, KH Abdul Moqsith Ghazali berkisah soal Nabi Ibrahim.

Katanya, sangat bisa jadi tempat “ngaji” itu adalah jalan-jalan yang dulu pernah dilalui Nabi Ibrahim As. Dan Ibrahim As dikonstatasi Allah sebagai nabi berhati jernih dan lembut. “Inna Ibraahima La’awwaahun haliim–Sungguh (Nabi) Ibrahim itu lembut hati dan penyantun.”

Maka, kata Kiai Moqsith, salat di tanah suci (di mana pun di Makkah) berarti salat di Tanah Haram. Salat di tanah haram juga berarti salat di Masjidil Haram. Salat di Masjidil Haram berarti salat di sekitar ka’bah. Sebuah locus yang menapaktilasi jejak Ibrahim, Ismail, Siti Sarah.

Disinari Multazam, hijir dan maqam, diselimuti jejak spiritual jutaan orang tawaf berputar, miliaran kaum muslimin salat di seluruh punggung bumi, maka miliaran hati itu berkirim cahaya ke satu titik, yakni ka’bah. Dan, terbentuklah Gelombang Cahaya!

Cahaya itu sudah tertanam dalam waktu sangat panjang, puluhan ribu tahun lamanya. Cahaya itu membilas hati jemaah haji, pelaku salat, jemaah tawaf. Jiwa dan hati yang lembut dan jernih, akan berkonsekuensi pada terciptanya batin yang tenang.

Cahaya itu akan mengantarkan bisikan jiwa, suara batin, dan munajat menuju Robbil Izzati. Secepat cahaya. Secepat 300.000 km perdetik. Itulah batas kecepatan cahaya. Kecepatan tercepat di alam semesta ini. Mengalahi kecepatan suara.

100.000 Pahala

Doa yang tiba cepat. Super ekspres. Secepat kilat. Tahu-tahu sudah di tangan malaikat. Tahu-tahu malaikat sudah menyerahkannya kepada Tuhan YME.

Jika Baginda Rasul diriwayatkan pernah bersabda bahwa salat di Masjidil Haram akan beroleh pahala berkelipatan 100.000 kali, itu amat ma’qul alias masuk akal. Bahkan, kita bisa meyakini itu cara Nabi menjelaskan betapa besar nilai dan derajatnya sehingga beliau sampai pada angka 100.000. Amboooi!!!

Seratus ribu kali lipat pahala adalah 100.000 lipat manfaat. Manfaat sebagai akibat dari pahala salat. Manfaat itu berupa kesempatan “ingat Allah” selama 100.000 kali dalam sekali salat. Dan salat kita adalah 5 kali sehari semalam plus salat sunnah rawatib dan salat-salat sunnah pelengkap lainnya.

Maka, siapa gerangan yang tidak merasa beruntung ingat dan diingat Allah sepanjang usia di dunia menuju akhiratnya? Ia akan dijaga agar terhindar dari munkar-fakhsya’.

100.000; deretan angka yang tak akan mampu dilampaui ukuran usia manusia mana pun!!!

Ishaq Zubaedi Raqib

Petugas PPIH Arab Saudi sublayanan MCH Daker Makkah Al Mukarramah

Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Ziarah Madinah dan Tradisi Arba’in



Jakarta

Salah satu tahapan dari penyelenggaraan ibadah haji adalah ziarah kota Madinah. Agenda di kota Madinah memang bersifat komplementer atau melengkapi agenda utama haji di kota Mekah. Destinasi utama dari fase ritual Madinah adalah Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat makam Rasulullah dan tempat mustajab untuk berdoa, yakni Raudah atau rawdhah min riyadh al-jannah, demikian kata Rasulullah menunjuk space antara posisi mimbar dan kediaman beliau.

Sensasi Ziarah Nabawi

Rasanya tidak ada jemaah yang tidak tertarik untuk menziarahi makam Rasulullah. Ziarah makam Rasulullah pastinya akan melepas kerinduan kita terhadap insan agung pilihan Allah. Bagi jemaah yang terbiasa dengan tradisi wisata ziarah di tanah air ziarah Madinah menjadi momentum sangat istimewa. Tentu sensasinya jauh lebih dahsyat dan syahdu melebihi suasana ziarah makam wali atau ulama-ulama saleh lainnya. Air mata akan mudah bercucuran karena kerinduan yang membuncah.


Menziarahi makam Rasulullah adalah impian setiap Muslim Indonesia. Meski tak lagi mungkin berjumpa secara visual dengan Rasulullah, paling tidak, hadir di dekat pusaranya menjadi penanda bahwa kita berkesempatan untuk berdekatan dengan beliau. Tentu, kita jangan membayangkan bisa duduk sila berlama-lama sembari merapal semua wirid dan doa di hadapan makam Rasulullah, seperti halnya ketika berzikir di sejumlah destinasi wisata ziarah di tanah air. Otoritas keamanan masjid Nabawi sangat membatasi pergerakan dan gerak-gerik peziarah yang melintas area makam Rasulullah.

Kita tidak bisa berlama-lama berdiam atau berdoa di sekitar makam Rasulullah. Kita pasti akan segera digiring oleh para Askar bertampang sangar, lantas diarahkan untuk bergeser meninggalkan area makam Rasulullah menuju sisi utara masjid Nabawi. Walhasil kita hanya bisa melintas, atau sejenak menyapa Rasulullah dan sejumlah Sahabat yang juga dikubur di samping beliau, menyampaikan selawat sebisanya, dan semua permohonan yang dipanjatkan.

Beberapa tahun terakhir, otoritas Nabawi membuat terobosan baru dalam rangka mengurai kepadatan jemaah yang berkerumun atau berebut mendapatkan tempat berdoa di Raudah. Untuk dapat menikmati syahdunya “taman surga” Nabawi, jemaah harus mendapatkan tasrih atau semacam legalitas mendapatkan tempat atau kuota berdoa di Raudah. Tanpa itu, jangan berharap bisa masuk dan berdoa di arena masjid berkarpet warna hijau, sebagai penciri area antara mimbar dan rumah Rasulullah.

Dengan kebijakan ini maka jemaah tak perlu lagi berdesakan, berebut antar sesama jemaah, memonopoli kesempatan di Raudah, atau sebaliknya jemaah dengan keterbatasan fisik atau risiko tinggi tak bisa menikmati spiritualitas Raudah. Panitia haji Indonesia bersama otoritas Nabawi tentu sudah mengatur dan menyiapkan tasrih Raudah untuk para jemaah. Tinggal diatur jadual kedatangan ke lokasi secara bersamaan. Tentu harus disiplin mengikuti jadual yang ditentukan. Jika tidak maka kesempatan emas itu akan berlalu begitu saja. Jadi jemaah haji juga tak perlu risau karena semua akan diberi kesempatan untuk berdoa di Raudah.

Kebijakan ini patut diapresiasi karena memenuhi asas keadilan dan pemerataan kesempatan. Saya pun berpikir, andaikan kebijakan ini diberlakukan untuk jemaah yang ingin mencium “Hajar Aswad”. Mungkin tidak akan terjadi ‘anarkisme’ di seputaran Kakbah. Saya termasuk yang menyimpan perasaan risih bahkan miris menyaksikan ketidaktertiban dan gesekan keras yang terjadi untuk sekadar mencium “Hajar Aswad”. Tentu kita berharap otoritas masjid Haram memikirkan solusi terbaik mengatasi sengkarut mencium “Hajar Aswad” sehingga jemaah bisa menikmati ritual ini dengan aman dan damai.

Berburu Salat 40 Waktu

Halawah lain yang masih dalam lingkup ziarah Madinah adalah salat “Arba’in”. Ini popular di kalangan jemaah haji Indonesia, meski saat ini tidak lagi menjadi agenda prioritas. Jemaah haji Indonesia bisa melakukan ritual Arba’in jika situasi dan skema jumlah hari memungkinkan. Jika tidak maka tentu jemaah tidak perlu risau atau galau. Tidak mendapatkan Arba’in tidak lantas mendegradasi kualitas ibadah haji. Sama sekali tidak.

Salat Arba’in adalah menunaikan salat fardu lima waktu secara berjamaah di masjid Nabawi di Madinah. Salat berjamaah tersebut dijaga sampai 40 kali salat berturut-turut secara konsisten. 40 kali salat berjamaah lima waktu kurang lebih selama 8 hari (5 salat/hari X 8 hari = 40 hari). Ini tentu tidak mudah. Perlu kesiagaan penuh dan komitmen tinggi. Dibutuhkan kesehatan prima mengingat mobilitas hotel-mesjid cukup tinggi dan kontinou.

Salat berjamaah 40 kali ini memiliki keutamaan, seperti terekam dalam sebuah Hadis yang sejatinya masih diperdebatkan kesahihannya. Hadis ini menyebutkan bahwa salat tersebut menjadi sebab seseorang selamat dari neraka, siksa, dan kemunafikan. Seperti ini redaksi Hadisnya:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “مَنْ صَلَّى في مَسجدِيْ أَرْبَعين صلاةً لَا يَفُوْتُهُ صلاةٌ؛ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِن النَّارِ، ونَجَاةٌ من الْعذَابِ، وَبَرِيئٌ مِنَ النِّفَاقِ”. رواه الإمام أحمد والطبراني في معجمه الأوسط.

Dalam Kitab Hadis al-Musnad karya Imam Ahmad ibn Hanbal dan juga dalam Mu’jam al-Awsath karya al-Thabrani (Juz III/h. 325, No. Hadis: 5444) diriwayatkan suatu Hadis dari jalur Anas ibn Malik, dari Nabi Saw. bahwasanya beliau bersabda, “Siapa saja yang salat di masjidku sebanyak 40 salat, dan tidak luput darinya satu salatpun, maka dia dicatat terbebas dari api neraka, selamat dari azab dan terbebas dari kemunafikan.”

Imam al-Haitami dalam kitabnya, al-Majma’, menyatakan bahwa perawi Hadis ini adalah termasuk orang-orang yang tsiqqah. Imam al-Mundziri menyatakan dalam kitabnya, at-Targhib, bahwa Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui para perawinya yang shahih. Namun, di sisi lain, Hadis ini dianggap dha’if, sebab dalam rangkaian perawinya terdapat sosok Nubayth yang dianggap majhul.

Dengan begitu, kekuatan Hadis ini diperdebatkan oleh para ulama. Sebagian menyatakan Hadis ini shahih, sementara yang lain mengatakan tidak. Namun, kalaupun di anggap dha’if, perlu diingat penjelasan Imam al-Nawawi dalam kitabnya, al-Taqrib, bahwa Hadis dha’if dapat diamalkan dalam ranah fadha’il al-a’mal (untuk amaliah tambahan) dengan beberapa syarat. Pertama, Hadis tersebut tidak terlalu lemah. Kedua, Hadis tersebut tidak berkaitan dengan akidah, hukum halal dan haram, dan bukan untuk menetapkan hukum yang mengikat. Ketiga, Hadis tersebut tidak bertentangan dengan Hadis shahih atau prinsip dasar syariah.

Dalam pandangan para ahli, Hadis tersebut tidak bertentangan dengan Hadis shahih dan tidak terlalu dha’if karena ada ulama yang menganggapnya shahih dan Hadis tersebut dalam kerangka fadha’il al-a’mal. Oleh karena itu, Hadis tersebut secara substansial dapat diamalkan, sehingga melaksanakan salat Arba’in adalah masyrū’ atau memiliki legalitas berdasarkan Hadis tersebut.

Tak Perlu Ngoyo

Namun perlu dicatat bahwa salat Arba’in bukan salat khusus atau berbeda dari salat lainnya. Salat Arba’in adalah salat fardu biasa. Perbedaannya terletak pada komitmen dan kesungguhan untuk menunaikannya secara berjamaah, di suatu tempat yang afdal, yaitu di masjid Nabawi. Komitmen itu dijaga selama 40 kali salat berturut-turut.

Oleh karena itu, jika seseorang atau jemaah haji memiliki kesempatan atau kelonggaran tinggal di Madinah selama 8 sampai 9 hari, ada baiknya mengupayakan salat berjamaah setiap waktu salat di Masjid Nabawi, sehingga mendapatkan keutamaan Arba’in. Namun, jika dalam kondisi tertentu hal mana tidak memiliki kesanggupan secara fisik maupun waktu yang tidak memungkinkan maka tentu tidaklah mengapa. Tak perlu merasa risau atau berdosa karena tidak mampu melaksanakan ritual salat Arba’in.

Berdasarkan evaluasi penyelenggara haji Indonesia, aktivitas padat di Madinah ternyata cukup signifikan menyumbang angka kematian jemaah haji Indonesia. Ini tentu harus menjadi perhatian para jemaah haji. Energi yang terkuras selama pelaksanaan puncak haji di Armuzna menyebabkan penurunan stamina dan daya tahan tubuh jemaah haji, terlebih pada saat cuaca ekstrem seperti musim haji tahun ini.

Beraktivitas padat tanpa kendali pasca Armuzna seringkali membuat jemaah tidak menyadari keterbatasan imunitas dan daya tahan tubuhnya sehingga berdampak buruk pada kesehatannya hingga berujung kematian. Oleh karena itu, jemaah haji perlu bijak dan mampu mengukur kesiapan fisik untuk menghadapi aktivisme ziarah Madinah. Kita nikmati suasana Madinah yang syahdu dengan ibadah yang khusyuk dan tenang. Tidak perlu memaksakan diri berburu kuantitas ibadah. Yang lebih penting adalah menciptakan spiritualitas yang bermutu meski kuantitas tidak harus selalu banyak.

Prof. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie
Guru Besar dan Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Anggota Tim Monev Haji Indonesia 2024

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Haji Lansia di Hati Semua



Jakarta

Jauh pun bisa dekat. Apalagi yang dekat. Itu terjadi saat semua kita diikat oleh satu nilai. Namanya kemanusiaan. Maka, di mana pun berada, perhatian tak berbeda. Ekspresi diri menjadi bukti keberadaannya. Ada pikiran. Juga perasaan. Ada pula tindakan. Semua menjadi bagian dari bentuk ekspresi diri yang teraktualisasikan. Nah, media menyambungkan antara yang jauh dan yang dekat. Antara yang terlihat dekat dan yang tampak lamat-lamat. Ekspresi nilai kemanusiaan pun menjadi semakin meningkat.

Itulah yang sedang dibawa oleh media sosial. Pertukaran informasi tanpa perlu dimoderatori. Orang bisa mengirim pesan sesuka hati. Bisa dalam bentuk teks, suara atau gambar yang disenangi. Keberadaan video semakin membuat pesan teks, suara dan gambar terkirim dengan jernih. Sehingga pesan yang tercetak-tersurat atau yang tersirat pun bisa ditarik, dibaca dan dimaknai. Begitu pula yang terdengar atau terlihat. Semua bisa diberi makna sesuai sudut pandang yang dimiliki.

Beredarlah sebuah video di kanal TikTok. Dibuat oleh seseorang yang mengambil nama maya Dave Parfum. Dia mengirim pesan dalam caption pada video itu. Bunyi begini: “Selalu setia dan bergandengan tangan sampai maut memisahkan. Semoga jadi haji mabrur. Amin.” Pesan dalam caption itu menunjuk kepada kesetiaan tanpa batas. Antara suami dan isteri. Latar belakang video itu adalah bergeraknya sepasang kakek-nenek suami isteri yang menjadi jemaah haji Indonesia tahun 1445 H/2024 M ini. Mereka berjalan kaki. Menyusuri jalanan untuk kegiatan ibadah haji.


Tampak dalam video itu, sepasang kakek-nenek jemaah haji itu sedang menempuh perjalanan untuk menunaikan ibadah lempar jumrah di Jamarat, Mina, Makkah. Sang nenek berjalan lebih di depan, dan sang kakek di belakangnya samping kiri. Tangan kiri sang nenek menggenggam tangan kanan sang kakek. Karena sang nenek posisinya lebih ke depan, maka dia tampak sedang menggandeng sang kakek dari depan. Jadi, melihat video ini, siapapun segera bisa menarik pesan kontan: kesetiaan hidup bersama dalam rumah tangga hingga masa tua.

Apalagi, video itu diunggah dengan diberi musik latar belakang (background music) dari lagu berjudul Cinta Kita. Lagu ini dibawakan oleh sepasang artis muda, Shireen Sungkar dan Tengku Wisnu. Lagu ini pernah nge-hits tahun 2010. Karena menjadi soundtrack sinetron Cinta Fitri yang juga dibintangi oleh keduanya. Begini bagian lirik lagu yang dijadikan sebagai musik latar belakang itu:

/Biar cinta kita tumbuh harum mewangi/
/Dan dunia menjadi saksinya/
/Untuk apa kita membuang-buang waktu?/
/Dengan kata, kata perpisahan/

Pesan pun semakin konkret. Bahwa sepasang kakek-nenek jemaah haji Indonesia itu adalah teladan kesetiaan. Hingga kegiatan haji yang menuntut fisik yang prima pun dijalani bersama. Berjalan berkilo-kilo meter pun dianggap bukan kendala. Semua dijalani dengan gembira. Bergandengan tangannya keduanya mengirimkan pesan bahwa tak akan ada yang dapat memisahkan keduanya. Kecuali maut yang tak bisa ditolak adanya. Maka, wajar saja jika caption dalam video TikTok di atas di antaranya berbunyi “Selalu setia dan bergandengan tangan sampai maut memisahkan”. Latar belakang ibadah haji menjadikan semakin kuatnya pesan kesetiaan dan ketidakterpisahan di antara keduanya.

Video itu mendapatkan respon yang sangat baik dari para netizen. Hingga tulisan ini dibuat, Jumat (28/06/2024) jam 19:10 WAS (Waktu Arab Saudi) atau 23:10 WIB, sudah muncul 719K netizen dengan jumlah komentar yang mencapai 25.4 K, dan like sebesar 40.1K. Tentu, angka-angka ini menunjukkan bahwa para netizen mengapresiasi positif konten yang ada pada video tersebut. Lihatlah respon para netizen atas video TikTok itu. Seperti yang di antaranya dikutip di bawah. Hampir semuanya tidak ada yang nyinyir. Alih-alih, apresiasi tinggi justeru mengalir.
Kekaguman memang menjadi komponen utama dari apresiasi di atas. Ribuan memang komentar yang muncul dan diberikan ke tayangan video di atas.

Itu menunjukkan betapa tingginya perhatian publik pada muatan materi yang ada pada konten video dimaksud. Namun secara garis besar, respon kekaguman netizen di atas bisa diklasifikasikan ke dalam dua jenis: satu, berisi kekaguman yang disertai doa untuk sang kakek-nenek, dan kedua, kekaguman yang disertai doa untuk diri netizen sebagai implikasi balik dari kemuliaan pasangan kakek-nenek itu.

Kategori pertama bisa dicontohkan dengan kalimat-kalimat ungkapan netizen berikut: “videonya cuma jalan, tapi gak tahu kenapa air mataku keluar” oleh pemilik akun bernama vadilla, serta “kok aku mewek sih, ya Allah berikan kesehatan untuk uti dan kakung aamiin” oleh akun greenbee10. Adapun kategori kedua bisa dicontohkan dengan ungkapan-ungkapan seperti berikut: “Bismillah Allahumma Sholli ala sayydina Muhammad ya Allah jadikan gambaran ini seperti aku sama isteriku suatu saat nanti waktu pas haji/umrah Amien ya rabbalalim” oleh pemilik akun bernama Master konteng. Juga ada “Masyaalah..aq nangis meliat ini..semoga aq dan suami biss seperti ini, aamin” oleh pemilik akun bernama chylaNada.

Marshall McLuhan (1964), ahli komunikasi dari Kanada, melalui teorinya the media is the message menyatakan bahwa media komunikasi dan bukan pesan itu sendiri yang akan bisa mempengaruhi pemahaman dan kesadaran masyarakat. Melalui apa? Melalui kekuatan kontennya. Video termasuk bagian dari media. Dalam kasus video kakek-nenek jemaah haji lansia di atas, keberadaannya juga bisa menumbuhkan pemahaman tentang kesetiaan hidup suami-isteri. Juga, video itu bisa menyulut kesadaran baru tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan berdua suami-isteri melalui kesetiaan sejati. Bahkan, doa pun mengalir untuk kebaikan diri mereka sendiri yang melihatnya.

Kalau netizen saja bisa meneteskan air mata saat melihat bagaimana jemaah haji lansia menjalani rangkaian kegiatan ibadah haji, apalagi para petugas haji Indonesia yang memang melakukan pelayanan langsung di lapangan. Mereka memang ditugaskan untuk semata-mata memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Termasuk di antaranya kategori lansia. Tentu emosi, pikiran, perasaan, batin dan jiwa menyatu dalam nafas para petugas pelayanan haji itu.

Lihatlah perempuan petugas haji yang memberikan testimoni pada kegiatan malam khidmat bertajuk Menteri Menyapa dan Mengapresiasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji 1445 H/2024 M Arab Saudi di Makkah. Namanya Siti Qomala Hayati. Acara itu sendiri dilaksanakan di Hotel Wehda Mutammayez (602) pada Hari Rabu (19/06/2024). Perempuan petugas haji itu diminta tampil untuk memberikan testimoni di hadapan Menteri Agama RI dan seluruh anggota amirul hajj, mustasyar dini dan seluruh petugas haji Indonesia di Arab Saudi.

Dalam testimoninya, Qomala Hayati itu bilang: “Kami mandikan beliau. Kami gantikan pampersnya. Kami suapin. Kami gendong. Padahal kami tidak pernah kenal sebelumnya pada ibu jemaah haji yang kami layani itu.” Suasana pun hening. Terhanyut oleh kata-kata bijak untuk melukiskan praktik mulia oleh para petugas perempuan haji Indonesia. Sangat heart-touching. Menyentuh hati. Air mata pun membasahi pipi. Sambil tak sanggup menahan makin derasnya air mata yang terus mengaliri. Sesenggukan pun juga tak kuasa untuk terkendali.

Testimoni Qomala Hayati di atas melengkapi testimoni sebelumnya yang disampaikan oleh petugas laki-laki haji Indonesia. Substansinya kurang lebih sama. Tapi, yang disampaikan Qomala Hayati itu lebih menyentuh hati dan jiwa. Bahkan menyayat nurani bersama. Karena perempuan petugas haji itu mampu melukiskan situasi layanan itu dengan contohnya. Konkret pula. Mulai dari menggantikan popok, memandikan hingga menyuapi. Ditambah dengan tangis yang tak kuasa dia tahan, seperti dijelaskan sebelumnya.

Semua pun lantas merespon kagum tetsimoni Qomala Hayati itu. Mulai dari Habib Hilal dari PBNU, Buya Anwar Abbas dari MUI, hingga bahkan Mengerti Agama RI sendiri. Semua dalam kata dengan suara dan tone yang sama: tak mampu menilai kemuliaan yang sudah diberikan oleh para petugas haji Indonesia kepada seluruh jemaah haji. Termasuk dan utamanya adalah lansia. Maka, suksesnya jemaah haji lansia dalam beribadah haji tidak bisa dipisahkan dari kemuliaan layanan yang telah dilakukan oleh petugas haji.

Netizen memang jauh dari praktik layanan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Tapi, hati mereka diikat secara sama dan satu oleh nilai kemanusiaan yang tumbuh dalam layanan haji lansia. Begitu pula para petugas haji. Maka, jauh dan dekat kini hanya soal jarak fisik. Namun, kemanusiaan mengikat dan menyatukan beda jarak itu ke dalam satu detak nafas yang sama. Layanan jemaah haji lansia menjadi pemantiknya. Bentuk dan kata kuncinya adalah, melayani ibadah itu sekaligus melayani kemanusiaan.

Akh. Muzakki
Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
Anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Haji 2024

Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Menuju Arafah, KepadaNya Kita Berpasrah



Jakarta

Ramai menjadi bahan perbincangan. Di sebuah group WhatsApp masyarakat terpandang. Terpandang dari tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, tingkat pemahan agama. Maklum, para mereka golongan masyarakat yang strata pendidikannya memerlukan kualitas logika yang menantang.

“Kalau saya lebih baik duit digunakan untuk membantu masyarakat Palestina, atau masyarakat kurang mampu yang masih membutuhkan”, ujar salah seorang mengomentari anggota group yang berulang ke tanah haram. “Daripada mengunjungi tanah haram berulang-ulang. Bukankah kewajiban haji hanya sekali seumur hidup?” lanjutnya meminta persetujuan para anggota group sekalian.

“Ia, padahal masyarakat kita masih banyak yang membutuhkan. Bukankah uang segitu banyak, lumayan untuk memberi para mereka makan. Menutup berbagai kebutuhan?” sambut yang lain.


Rupanya yang ditujukan kepadanya komentar tak beranjak dari diam. Ia seolah pasrah dijadikan pesakitan. Menundukkan pandangan. Terus fokus memohon ridlo Tuhan. Agar ibadahnya bisa terus mudah, lancar. Tak bermaksud menuai pujian. Juga tidak menghindar dari olokan teman.

Satu, dua, tiga, lagi dan lagi. Kok bisa? Sekian banyak sudah komentar para kawan agar menggeser saja dana untuk ibadah ke tanah haram untuk membantu saudara-saudara di Palestina. Atau untuk kemanfaatan yang lebih besar. Di

dalam negeri kan lebih utama. Terlebih bagi keluarga dekat, tetangga, para masyarakat yang terhadap kebutuhan masih sangat berminat.

Logika simple yang sederhananya harus dibenarkan. Tapi eh tunggu dulu. Coba kita simak pengalaman salah seorang jemaah. Begini kisahnya.

Ia merasa berulang terheran-heran. Mengapa dirinya sering memandang dari arah belakang. Terhadap sekian orang dalam sekian kali pengamatan. Orang-orang yang tidak asing karena menggunakan atribut merah putih. Masyarakat negara asalnya. Bukan negara tetangga.

Terlihat padanya, entah di ujung escalator, entah selama berjalan menuju lokasi shalat di dalam masjid. Entah juga di beberapa lokasi yang padat lalu-lalang orang.
Tak sengaja dilihatnya tangan-tangan mereka lincah menyampaikan uang real. Yang terbanyak receh 10an real. Konversi rupiahnya hampir 50 ribuan.

Mereka sisipkan kepada cleaning service, atau kepada siapa pun yang mereka pandang berpeluang memperoleh sumbangan pendapatan.
Baju sederhana, tampilan bukan orang berada, tapi soal menyodorkan uang, mereka tidak kesulitan.

Timbul gumam dalam hatinya. Jangan-jangan para jemaah yang seperti ini yang sering berulang beribadah ke tanah haram. Kedermawanannyakah yang mengantar mereka berpeluang datang berulang-ulang. Ke Madinah, Makkah,

Arafah dan Mina? Boleh jadi ibadah bagi-bagi uang, sambil sembunyi tangan itu. Merupakan bukti mereka benar-benar rajin sembahyang. Betapa tidak, bukankah shalat, atau sembahyang harus menghasilkan bukti jiwa yang gemar menyenangkan orang di jalan Tuhan?

Kepo atas kedermawanan orang. Ia mendekatinya dengan sopan, sambil bertanya. Tentang apa yang telah diperhatikannya sejak tadi.
Alhamdulillah, kepo-nya ternyata bisa dibuang. Ketika yang ditanya berkenan menerangkan.
Bahwa, upaya untuk menghadirkan kedermawanan. Memang sudah diniatkannya sejak dari tanah air. Semenjak dirinya meniatkan untuk memenuhi undangan Tuhan.

Uang yang dia bagikan itu, adalah bagian yang akan ditebarkannya di tanah haram.
Untuk di Indonesia. Hasil usahanya dibaginya begini. Separuh lebih untuk berbagai keperluan di jalan Tuhan. Membantu saudara, kerabat, tetangga, yatim, piatu, orang-orang miskin, dan kegiatan yang semacam. Selebihnya ia kumpulkan untuk keperluan keluarganya. Sebagian dari itu diupayakannya untuk menghadirkan dirinya, saudara-saudarannya, karyawannya, bahkan tetangganya, beribadah ke tanah haram. Makkah dan Madinah.

Oh, ternyata dia bukan orang yang seringkali disangka tak memiliki perhatian. Terhadap kepentingan orang-orang yang membutuhkan.

Ia meneruskan lamunan bayangnya sambil menyimpan kekaguman mendalam.”

Duhai saudaraku yang sama memiliki pandangan. Boleh jadi karena kegigihannya membelanjakan uang di jalan Tuhan. Yang Maha Pemurah mengundangnya berulang ke tanah haram. Dengan gampang.
Bukankah ini satu pilihan dalam memandang kawan yang berulang beribadah di tanah haram?

Boleh jadi sejak sekarang, mari kita kembangkan. Perilaku dermawan yang tak perlu dipublikasikan. Agar para kita pun sama berpeluang. Mudah menunaikan ibadah ke tanah haram. Sedang Tuhan terus melimpahkan ridloNya kepada setiap kita. Karena semuanya berpacu di dalam kebaikan.

Rabb, hari Arafah ini dekat. Hanya kepada Engkau kami berpasrah dan memohon selamat. Jauhkan kami dari simpulan yang belum tentu tepat.

Semoga setiap siapa pun yang beribadah haji di tahun 1445 H. ini, mampu menempuh Jalan Cerah Menuju Arafah. Memperoleh predikat haji mabrur di dalam ridloi Allah SWT., aamiin.

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com