Tag Archives: hikmah

Doa Shalat Istisqa dan Tata Caranya Sesuai Syariat


Jakarta

Doa shalat istisqa dibaca untuk memohon turunnya hujan. Amalan sunnah ini dilakukan ketika suatu wilayah mengalami kekeringan atau kemarau panjang.

Menukil buku Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu Juz 2 karya Prof Wahbah Az-Zuhaili, secara bahasa istisqa artinya meminta hujan. Sementara itu, menurut syariat istisqa berarti meminta hujan dari Allah SWT ketika semua orang membutuhkannya.

Terkait shalat istisqa ini juga dijelaskan dalam salah satu hadits yang diriwayatkan dari Abbad bin Tamim, ia berkata:


“Sesungguhnya Rasulullah mengajak orang-orang keluar untuk memohon turunnya hujan. Beliau shalat dua rakaat bersama mereka, dan beliau membaca dengan suara keras. Setelah memindahkan kain selendang, beliau mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa memohon diturunkan hujan sambil menghadap kiblat.” (HR Bukhari)

Doa Shalat Istisqa: Arab, Latin dan Terjemahnya

Terdapat berbagai versi doa shalat istisqa yang dapat dibaca oleh kaum muslimin. Dikutip dari buku Super Lengkap Shalat Sunnah susunan Ubaidurrahim El-Hamdy, berikut bacaannya.

1. Doa Shalat Istisqa Versi Pertama

Doa shalat istisqa versi pertama ini merujuk pada hadits Abu Dawud, Hakim, dan Baihaqi.

اللَّهمَّ اسْقِنَا عَيْنَا مُغْنِنَا رَبَّنَا نَافِعًا غَيْرُ ضَارِ عَاجِلا غَيْرُ آحِلٍ.

Arab latin: Allaahumasqinaa ghaitsan mughiitsan naafi’an ghairu dhaarin ‘aajilan ghairu aajilan. marii-an

Artinya: “Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan yang menyejukkan, menggembirakan dan membawa manfaat serta tidak membawa mudharat, dengan segera tanpa ditunda.” (HR Abu Dawud, Hakim, dan Baihaqi)

2. Doa Shalat Istisqa Versi Kedua

Selanjutnya, doa shalat istisqa versi kedua merujuk pada hadits Abu Dawud,

اللهمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِكَ، وَاشْرُ رَحْمَكَ وَأَحْيِ بَلْدَكَ البَيتِ

Arab latin: Allaahumas qi ‘ibaadaka wa bahaa-imika, wan syur rah- mataka wa ahyi baldakal mayyit.

Artinya: “Ya Allah, hujanilah hamba-hamba-Mu dan juga binatang-binatang-Mu, tebarkanlah kasih sayang-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang mati (gersang) ini.” (HR Abu Dawud)

3. Doa Shalat Istisqa Versi Ketiga

Sementara itu, doa shalat istisqa versi ketiga didasarkan pada hadits Abu Dawud dan Hakim.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ لاإِلَهَ إِلَّا اللَّهَ فَعَلَ مَا يُرِيدُ اللَّهُم أَتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَّكَ أَنتَ الْغَنِي وَبَحْنُ الْفُقَرَاءَ، أُنزِلَ عَلَيْنَا الْغَيْتَ، وَاجْعَلْ مَا أَنزَلْتَ لنَا قُوةً وبلاغا إِلَى حِينٍ.

Arab latin: Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. Arrahmaanir rahiim. Maaliki yaumid diin. Laa ilaaha illaallaahu yaf’alu maa yuriid, allaahumma antallaahu laa ilaaha illaa anta, antal ghaniyyu wa nahnul fuqaraa’, anzil ‘alainal ghait- sa, waj’al maa anzalta lanaa quwwatan wa ballaaghan ilaa hiinin.

Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan, (Al-Fatihah 2-4). Tiada Tuhan selain Allah Yang Melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Ya Allah, Engkau Allah yang tiada Tuhan selain Engkau. Engkau kaya dan kami tidak memiliki apa-apa. Turunkanlah hujan kepada kami. Dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan kepada kami sebagai kekuatan yang menembus waktu.” (HR. Abu Dawud dan Hakim)

Tata Cara Shalat Istisqa

Menukil buku Fikih Sunnah susunan Sayyid Sabiq, tata cara shalat istisqa ialah sebagai berikut.

  • Mengerjakan sholat dua rakaat secara berjamaah
  • Rakaat pertama membaca surah Al Fatihah dan surah Al A’la
  • Rakaat kedua membaca surah Al Fatihah dan surah Al Ghasyiyah
  • Imam membaca khutbah. Pada khutbah pertama khatib membaca istighfar sebanyak sembilan kali dan pada khutbah kedua membaca istighfar tujuh kali.
  • Setelah selesai berkhutbah, imam menghadap kiblat seraya mengubah (memutar) pakaiannya. Yang kanan diputar ke sebelah kiri dan yang kiri diputar ke sebelah kanan, diikuti oleh semua jemaah yang hadir. Untuk kemudian bersama-sama berdoa
  • Membaca doa kepada Allah SWT

Demikian doa shalat istisqa dan tata caranya yang bisa dipahami oleh kaum muslimin. Semoga bermanfaat.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Kumpulan Doa Pelunas Utang, Panjatkan agar Diberi Kemudahan


Jakarta

Syariat Islam mengatur segala aspek kehidupan sehari-hari, termasuk soal utang piutang. Kewajiban membayar utang turut dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 283,

وَإِن كُنتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا۟ كَاتِبًا فَرِهَٰنٌ مَّقْبُوضَةٌ ۖ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ ٱلَّذِى ٱؤْتُمِنَ أَمَٰنَتَهُۥ وَلْيَتَّقِ ٱللَّهَ رَبَّهُۥ ۗ وَلَا تَكْتُمُوا۟ ٱلشَّهَٰدَةَ ۚ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُۥٓ ءَاثِمٌ قَلْبُهُۥ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”


Sebetulnya konsep utang piutang bertujuan untuk memberi kemudahan bagi orang yang sedang kesulitan. Dikatakan dalam buku Panduan Muslim Sehari-Hari karya Dr. KH. M. Hamdan Rasyid dan Saiful Hadi El-Sutha, memberi utang dianjurkan sebagai hadiah berpahala karena menolong saudara sesama muslim.

Syariat Islam memberikan hak kepada orang yang memberi utang untuk menagih harta yang dipinjamkannya apabila orang yang berutang dalam keadaan mampu dan memiliki harta yang cukup untuk membayar utangnya. Meski demikian, Islam mengharamkan (tidak diperkenankan) untuk menagih utang kepada orang yang sedang berada dalam keadaan tidak mampu untuk membayar utang. Pemberi pinjaman wajib menunggu sampai orang yang berutang dalam kondisi lapang.

Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 280,

surat Al-Baqarah ayat 280, Allah SWT berfirman:

وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَن تَصَدَّقُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

Berkaitan dengan itu, ada juga doa pelunas utang yang dapat dibaca. Berikut bacaannya yang dikutip dari buku Jihad Keluarga: Membina Rumah Tangga Sukses Dunia Akhirat susunan A Fatih Syuhud.

Kumpulan Doa Pelunas Utang

1. Doa Pelunas Utang Versi Pertama

اللَّهُمَّ يَا فَارِجَ الْهَمِّ ، كَاشِفَ الْغَمِّ ، مُجِيبَ دَعْوَةَ الْمُضْطَرِّينَ ، رَحْمَنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَرَحِيمَهُمَا ، أَنْتَ تَرْحَمُنِي ، فَارْحَمْنِي رَحْمَةً تُغْنِينِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ

Arab latin: Allahumma ya farijal ham kasyifal gham mujiba da’watal mudhthorriin rahmanad dunya wal akhirah warahimahuma anta tarhamuni farhamni rahmatan tughnini biha rahmati man siwak.

Artinya: “Ya Allah, yang menghilangkan kerisauan, Maha Mengikis gundah gulana, Maha mengabulkan doa orang yang menderita. Engkau Maha Pengasih kepada seisi dunia dan akhirat dan menyayangi keduanya. Engkau mengasihiku, berilah aku rahmat yang membuatku tidak memerlukan lagi pertolongan selain dari-Mu.

2. Doa Pelunas Utang Versi Kedua

Menukil buku Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki oleh KH Sulaeman bin Muhammad Bahri, doa pelunas utang versi kedua ini dapat dibaca agar Allah SWT membuka pintu rezeki. Berikut bunyinya,

اَللهُمَّ اِنِّىْ اَسْأَلُكَ اَنْ تَرْزُقَنِىْ رِزْقًا حَلاَلاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلاَمَشَقَّةٍ وَلاَضَيْرٍ وَلاَنَصَبٍ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ

Arab latin: Alllhumma innii as’aluka antarzuqunii rizqan halaalan waasi’an thayyiban min ghairi ta’abin walaa musyaqqotin walaa dhairin wala nashabin innaka ‘alaa kulli syai’in qadiir

Artinya: “Ya Allah, aku minta kepada-Mu akan pemberian rezeki yang halal, luas, baik tanpa repot, dan kemelaratan dan tanpa keberatan dan sesungguhnya Engkau maha atas segala sesuatu.”

3. Doa Pelunas Utang Versi Ketiga

Selain itu, doa pelunas utang versi lainnya dibaca agar terhindar dari utang.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Arab latin: Allaahumma innii a’uudzu bika minal hammi wal hazan, wa a’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhl, wa a’uudzu bika min qahrir rijaal.

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesumpekan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari ketakutan dan kekikiran, dari lilitan hutang dan kezaliman orang-orang.”

4. Doa Pelunas Utang Versi Keempat

اَللَّهُمَّ يَسِّرْ وَ لَا تُعَسِّرْ

Arab latin: Allahumma yassir walaa tu’assir

Artinya: “Ya Zat yang memudahkan segala yang sulit, mudahkanlah jangan Engkau persulit.”

Setelah ikhtiar dan membaca doa pelunas utang, kaum muslimin harus memperhatikan sejumlah hal agar doa terkabul. Mengutip buku Pintar Doa dan Zikir Rasulullah tulisan Abdullah Zaedan, hendaknya doa dibaca dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.

Selain itu, doa diawali dengan pujian terhadap Allah SWT dan membaca sholawat kepada Rasulullah SAW. Ketika berdoa sebaiknya tidak tergesa-gesa, usahakan dibaca dalam keadaan lapang maupun susah.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Attahiyatul Mubarakatus, Doa Tahiyat Awal yang Dibaca ketika Salat


Jakarta

Attahiyatul mubarakatus adalah penggalan doa tahiyat awal dalam salat. Umumnya, tahiyat awal dikerjakan pada rakaat kedua.

Menukil buku Sifat Shalat Nabi susunan Nashiruddin al-Albani, jumhur ulama beserta Imam Syafi’i, Maliki dan Abu Hanifah menyatakan bahwa tahiyat awal termasuk ke dalam sunnah salat. Mazhab Syafi’i berpandangan apabila seseorang meninggalkan tasyahud awal secara sengaja atau lupa maka ia harus melakukan sujud sahwi.

Lantas, seperti apa bacaan tahiyat awal yang berlafaz attahiyatul mubarakatus?


Lafaz Attahiyatul Mubarakatus

Berikut bacaan attahiyatul mubarakatus atau tahiyat awal yang dikutip dari buku Menyelami Makna Bacaan Shalat tulisan Fajar Kurnianto.

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهدُ اَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Arab latin: Attahiyatul mubaarakatush shalawaatuth thayyibaatulillaahi. Assalaamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuhu. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish-shaalihiina. Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi.”

Artinya: “Segala kehormatan, keberkahan, rahmat dan keselamatan, serta kebaikan hanyalah kepunyaan Allah. Keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah semoga tetap tercurah atasmu, wahai Nabi (Muhammad). Keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah semoga juga tercurah atas kami, dan juga atas seluruh hamba Allah yang sholeh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Posisi Duduk Tahiyat Awal yang Benar

Merujuk pada sumber yang sama, duduk tahiyat awal dikenal dengan duduk iftirasy. Posisinya ialah duduk di atas mata kaki kiri, meletakkan punggung kaki di atas tanah, menegakkan kaki kanan, dan menghadapkan ujung jari kaki ke arah kiblat. Secara singkat, kaki kiri dijadikan sebagai alas duduk.

Menukil buku Kitab Shalat Empat Madzhab karya Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri, dalam sebuah riwayat diterangkan terkait posisi duduk iftirasy.

“Beliau (Nabi SAW) meletakkan tangan yang kiri di atas paha kirinya dan tangan kanan di atas paha kanannya serta menggenggam dua jarinya (tangan kanan) yaitu: jari kelingking dan jari manisnya. Dan melingkarkan jari tengah dengan jempolnya sehingga membentuk lingkaran kecil serta mengangkat jari telunjuknya tidak tegak, akan tetapi sedikit merundukkan seraya berdoa dengan memusatkan pandangan ke jari telunjuknya.

Dan membentangkan (membuka telapak tangan kirinya di atas paha kiri). Adapun gambaran duduknya dalam tasyahud ini (tasyahud awal) sebagaimana diterangkan pada sifat duduknya antara dua sujud, yaitu: “Beliau duduk di atas kaki kirinya dan menghujamkan (menegakkan) kaki yang kanan.” (HR Nasa’i)

Itulah lafaz attahiyatul mubarakatus lengkap yang merupakan doa ketika tahiyat awal salat. Jangan lupa dibaca ya!

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com

Doa agar Dimudahkan Segala Urusan: Arab, Latin dan Arti


Jakarta

Doa agar dimudahkan segala urusan bisa dipanjatkan kaum muslimin ketika memiliki hajat tertentu. Allah SWT bahkan menganjurkan umat Islam untuk senantiasa berdoa kepada-Nya sebagaimana tercantum dalam surah Al Mukmin ayat 60,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”


Rasulullah SAW turut menyebut dalam haditsnya bahwa Allah SWT menyukai orang-orang yang berdoa. Dari Aisyah RA, Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa.” (HR Hakim)

3 Doa agar Dimudahkan Segala Urusan

Menukil dari buku Doa Mengundang Rezeki karya Islah Susmian, berikut sejumlah doa yang dapat dibaca agar dipermudah segala urusan.

1. Doa Dimudahkan Segala Urusan Versi Pertama

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

Arab latin: Ya hayyu ya qayyumu birahmatika astaghitsu, ashlih li sya’ni kullahu wala takilni ila nafsi tharfata ‘ainin abadan

Artinya: “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmatMu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dariMu selamanya.” (HR Tirmidzi).

2. Doa Dimudahkan Segala Urusan Versi Kedua

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Arab latin: Robbanaa laa tuaa khidznaa innasiinaa au akhtho’na, robbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu ‘ala al ladziina min qoblinaa, robbana walaa tuhammilnaa maa laa thoo qatalanabih, wa’ fuanna waghfirlanaa warhamnaa, anta maulana fansurnaa ‘ala al qaumilkaafiriin

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kamu memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir,” (QS Al Baqarah 286).

3. Doa Dimudahkan Segala Urusan Versi Ketiga

اللهم الطف بي في تيسير كل عسير، فإن تيسير كل عسير عليك يسير، وأسألك اليسر والمعافاة في الدنيا والآخرة

Arab latin: Allaahummalthuf bii fii taisiiri kulli ‘asiirin, fa inna taisiira kulli ‘asiirin ‘alaika yasiir, as ‘alukal yusra wal mu’aafaata fid dun-yaa wal aakhirati

Artinya: “Ya Allah, berilah taufik, kebajikan, atau kelembutan kepadaku dalam hal kemudahan pada setiap kesulitan, karena sesungguhnya kemudahan pada setiap yang sulit adalah mudah bagiMu, dan aku mohon kemudahan serta perlindungan di dunia dan di akhirat.” (HR Thabrani).

Itulah beberapa versi doa dimudahkan segala urusan yang dapat dipanjatkan oleh kaum muslimin. Semoga bermanfaat.

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

Ketentuan Fidyah dalam Islam, Bagaimana Cara Membayarnya?


Jakarta

Ramadhan tinggal menghitung bulan. Pada bulan yang mulia itu, seluruh umat Islam diwajibkan untuk berpuasa.

Dalil puasa Ramadhan disebutkan dalam surah Al Baqarah ayat 183,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Meski termasuk ibadah wajib, ada sejumlah golongan yang dikecualikan dan boleh membayar fidyah. Dalam Islam, fidyah adalah pengganti atau tebusan yang membebaskan seorang mukallaf dari perkara hukum yang berlaku padanya seperti disebutkan dalam buku Kupas Tuntas Fidyah susunan Sutomo Abu Nashr Lc.

Terkait fidyah termaktub dalam surah Al Baqarah ayat 184 yang berbunyi,

وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Artinya: “…Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin…”

Ketentuan Membayar Fidyah

1. Bisa Dibayar dengan Makanan Pokok

Mengacu pada sumber yang sama, para ulama sepakat bahwa fidyah dapat dibayarkan dengan makanan pokok. Imam Malik dan Imam As-Syafi’i menyebut ketentuan fidyah yang harus dibayar sebesar 1 mud gandum atau sama dengan 0,75 kilogram. Setara telapak tangan yang ditengadahkan saat berdoa.

Adapun, mazhab Hanafi berpandangan fidyah yang dikeluarkan ialah sebesar 2 mud atau 1/2 sha’ gandum setara dengan 1,5 kg. Biasanya aturan ini digunakan untuk kaum muslimin yang membayar fidyah beras.

2. Besaran Fidyah dalam Bentuk Uang

Fidyah dengan uang ini didasarkan dari pendapat mazhab Hanafi. Pembayaran fidyah dengan uang harus sebanding dengan harga makanan pokok yang dikonsumsi.

Prof Wahbah Az Zuhaili dalam Terjemah Fiqhul Islam wa Adillatuhu mengatakan bahwa menurut mazhab Hanafi, pemberian makanan untuk fakir miskin adalah memenuhi kebutuhan mereka. Tujuan tersebut bisa tercapai dengan membayar qimah atau nominal harta yang sebanding dengan makanan.

Merujuk pada SK Ketua BAZNAS Nomor 7 Tahun 2023 mengenai Zakat Fitrah dan Fidyah untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, nilai fidyah dalam bentuk uang setara dengan Rp 60.000/hari/jiwa.

3. Golongan yang Boleh Membayar Fidyah

Mengutip Kitab Fiqh Sunnah oleh Sayyid Sabiq, ada empat golongan yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa tetapi wajib membayar fidyah, yakni memberi makan orang miskin setiap hari yang ditinggalkannya.

Yang termasuk golongan ini adalah orang tua renta, perempuan yang lemah, orang sakit menahun yang sulit harapan sembuhnya, dan para pekerja berat. Ibnu Abbas RA mengatakan,

“Orang tua diperbolehkan untuk berbuka. Sebagai gantinya, ia memberikan makanan kepada satu orang miskin untuk setiap harinya. Ia tidak wajib mengqadhanya.” (HR Daruquthni dalam Sunan Daruquthni dan Hakim dalam Mustadrak Hakim. Keduanya mengatakan hadits ini memiliki sanad yang shahih)

Adapun, yang dimaksud perempuan lemah ialah ibu hamil dan menyusui. Dikhawatirkan kondisi mereka atau anaknya akan terdampak bila berpuasa.

Sementara itu, terkait orang yang sakit menahun dan sulit diharapkan kesembuhannya maka ia dia dihukumi seperti orang tua yang renta. Oleh sebab itu, wajib baginya membayar fidyah sebagaimana merujuk pada pendapat ulama Syafi’iyyah.

Mengenai pekerja berat ini merujuk pada pekerja yang melakukan pekerjaan berat dan bila tidak bekerja maka tidak akan mendapat penghasilan. Artinya, pekerjaan berat itu menjadi satu-satunya mata pencaharian mereka.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Kumpulan Doa Kesembuhan untuk Orang Sakit



Jakarta

Kesehatan adalah anugerah berharga yang harus dijaga dengan baik. Ketika sakit, doa adalah salah satu cara untuk memohon dan meminta kesembuhan kepada Allah SWT.

Sembuh dari penyakit adalah keinginan setiap orang yang sedang sakit. Berikut beberapa doa kesembuhan orang sakit.

Doa Kesembuhan untuk Orang Sakit

Doa yang Dibaca Orang yang Sakit

Dikutip dari buku Tuntunan Doa & Zikir untuk Segala Situasi & Kebutuhan oleh Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil, berikut bacaan doa kesembuhan yang bisa dibaca oleh orang yang sakit:


Doa Pertama

بِسْمِ اللهِ أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَ قُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَ أَحَاذِرُ

Bacaan latin: Bismillaah (3 kali), a’uudzu bi ‘izzatillaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (7 kali).

Artinya: “Dengan nama Allah, aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari kejahatan yang menimpaku dan yang aku takuti.” (HR. Muslim)

Doa Kedua

بِسْمِ اللهِ أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَ قُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ مِنْ وَجَعِي هَذَا.

Bacaan latin: Bismillaah a’uudzu bi ‘izzatillaah wa qudratihi min syarri maa ajidu min waja’ii haadzaa.

Artinya: “Dengan nama Allah, aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah, dari kejahatan penyakit yang aku derita ini.” (HR Tirmidzi)

Doa Kesembuhan yang Dibaca oleh Orang yang Menjenguk

Dikutip dari kitab Al-Adzkar oleh Al-Imam An-Nawawi, Rasulullah SAW telah mengajarkan beberapa doa kesembuhan orang sakit yang dibaca oleh orang yang menjenguk. Beberapa di antaranya yaitu:

Doa Pertama

Membaca ta’awudz pada sebagian keluarga, sambil mengusap dengan tangan kanan, lalu berucap,

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءٌ لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

Bacaan latin: Allahumma rabbannaasi adzhibil ba’sa isyfihi wa antas syafi laa syifaa’an laa yughadiru saqaman

Artinya: “Ya Allah, Tuhannya manusia, hilangkanlah rasa sakit, sembuhkanlah, Engkau-lah Dzat Yang Menyembuhkan. Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit.”

Doa Kedua

Meletakkan tangan pada bagian tubuh yang sedang sakit, sambil membaca,

بِسْمِ اللّهِ

Bacaan latin: Bismillah (3x)

Artinya: “Dengan Nama Allah”

Kemudian membaca doa ini sebanyak tujuh kali,

أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Bacaan latin: A’udzu bi ‘izzatillahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir

Artinya: “Aku berlindung dengan keperkasaan dan kuasa Allah dari keburukan apa yang aku rasakan dan apa yang aku khawatirkan.”

Doa Ketiga

Ketika Rasulullah SAW menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqash, beliau membaca,

اَللّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اَللّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اَللّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا

Bacaan latin: Allahummasyfi Sa’dan. Allahummasyfi Sa’dan. Allahummasyfi Sa’dan

Artinya: “Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad. Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad. Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad.”

Doa Keempat

Jika menjenguk orang sakit yang belum tiba ajalnya, ucapkan doa ini tujuh kali,

أَسْأَلُ الله العَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

Bacaan latin: As’alullāhal azhīma rabbal ‘arsyil ‘azhīmi an yassfiyaka

Artinya: “Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhannya Awasy yang agung, semoga Dia menyembuhkanmu,”

Doa Kelima

Doa malaikat Jibril untuk Rasulullah SAW yang sedang sakit,

بِاسْمِ اللهِ، أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيْكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيْكَ

Bacaan latin: Bismillahi arqika min kulli syai’in yu’dzika min syarri kulli nafsin aw ainin haasidin, Allahu yasyfika bismillahi arqika

Artinya: “Dengan Nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dan dari keburukan segala jiwa atau mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan Nama Allah aku meruqyahmu.”

Demikian beberapa doa yang dapat dibaca untuk memohon kesembuhan dari sakit. Lafalkan doa dengan ikhlas dan hanya berharap kesembuhan datangnya dari Allah SWT.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

3 Doa Saat Mendengar Petir Sesuai Ajaran Rasulullah SAW



Jakarta

Petir adalah salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. Suara petir yang menggelegar kerap kali membuat orang yang mendengarnya akan merasa takut dan khawatir. Dalam Islam, terdapat anjuran untuk berdoa ketika mendengar petir.

Termaktub dalam surah Al Baqarah ayat 20 , Allah SWT berfirman,

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ اَبْصَارَهُمْ ۗ كُلَّمَآ اَضَاۤءَ لَهُمْ مَّشَوْا فِيْهِ ۙ وَاِذَآ اَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوْا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَاَبْصَارِهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ࣖ ٢٠


Artinya: “Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu. Apabila gelap menerpa mereka, mereka berdiri (tidak bergerak). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Petir merupakan bentuk tasbih kepada Allah SWT. Termaktub dalam surah Ar Ra’d ayat 13, Allah SWT berfirman,

وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهٖ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ مِنْ خِيْفَتِهٖۚ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيْبُ بِهَا مَنْ يَّشَاۤءُ وَهُمْ يُجَادِلُوْنَ فِى اللّٰهِ ۚوَهُوَ شَدِيْدُ الْمِحَالِۗ ١٣

Artinya: “Guruh bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) malaikat karena takut kepada-Nya. Dia (Allah) melepaskan petir, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Sementara itu, mereka (orang-orang kafir) berbantah-bantahan tentang kekuasaan Allah, padahal Dia Mahakeras hukuman-Nya.”

Ketika mendengar petir, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk berdoa. Hal ini bertujuan untuk melindungi diri dan mengurangi rasa takut.

Lantas, bagaimana doa mendengar petir? Berikut beberapa doa mendengar petir sesuai ajaran Rasulullah SAW.

Doa Mendengar Petir

Dikutip dari kitab Al-Adzkar oleh Al-Imam An-Nawawi, berikut beberapa doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika mendengar petir:

Doa Pertama

Jika mendengar suara guruh dan petir, Rasulullah SAW berucap,

اللَّهُمَّ لَا تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ، وَلَا تُهْلِكْنَا بِعَذَابِكَ، وَعَافِنَا قَبْلَ ذُلِكَ

Bacaan latin: Allahumma laa taqtulnaa bighadhabika wala tuhlikna biadzabika waafina qobla dzalika

Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau membunuh kami dengan murka-Mu, dan jangan binasakan kami dengan azab-Mu, serta selamatkanlah kami sebelum itu” (HR Ahmad dan lainnya)

Doa Kedua

Jika mendapati petir, kilat, dan hujan lalu mengucapkan doa ini tiga kali, maka ia akan selamat dari petir tersebut.

سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ.

Bacaan latin: Subhaanalladzii yusabbikhurra’du bihamdihii wal malaa-ikatu min khiifatih

Artinya: “Mahasuci Allah yang petir bertasbih dengan memuji-Nya dan juga para malaikat karena takut kepada-Nya.” (HR Thabrani)

Doa Ketiga

سُبْحَانَ مَنْ سَبَّحَتْ لَهُ.

Bacaan latin: Subhaana man subhatlahu

Artinya: “Mahasuci Allah yang petir itu bertasbih kepada-Nya.” (HR Asy-Syafi’i dan lainnya)

Dirangkum dari buku Pasti Terkabul oleh Thoriq Anwar, menurut sains, petir merupakan gejala alam karena pelepasan medan listrik yang menembus lapisan-lapisan udara sehingga menimbulkan listrik. Petir terbentuk dari muatan-muatan yang dibawa oleh awan.

Dalam pandangan Islam, petir memiliki banyak istilah, seperti Ar Ra’d, Ash Shawa’iq, dan Al Barq. Ar Ra’d digunakan untuk menyebut geledek atau suara petir, sedangkan Ash Shawa’iq dan Al Barq digunakan untuk menyebut kilatan petir.

Terdapat perbedan dalam pembentukan petir antara sains dan Islam.Dalam hadits marfu’, Rasulullah SAW mengatakan bahwa Ar Ra’d adalah malaikat pengatur awan dan bersamanya ada pengoyak api yang bertugas memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Meski berbeda pendapat, keduanya memiliki kesamaan yaitu sama-sama suara yang ditimbulkan karena sebuah gerakan. Sebagai seorang beriman, hendaknya membaca doa dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Petir juga bertasbih kepada Allah SWT. Artinya, petir merupakan ciptaan Allah SWT, sama seperti manusia. Maka tidak dibenarkan jika petir dianggap sebagai Yang Maha Adidaya, apalagi menjadikan petir sebagai sesembahan.

Wa’allahu a’lam.

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

Niat Berpengaruh pada Kehidupan Dunia dan Akhirat, Ini 10 Hadits tentang Niat



Jakarta

Niat yang terlintas ketika seseorang hendak melakukan perbuatan ternyata memiliki pengaruh besar. Dalam Islam, semua niat akan memberi pengaruh dalam kehidupan seorang muslim di dunia dan akhirat.

Mengutip buku Hadits Pilihan (Materi Hafalan, Kultum dan Ceramah Agama) karya Muh. Yunan Putra, Lc., M.HI. dijelaskan niat secara bahasa adalah keinginan. Niat juga berarti sengaja untuk melakukan sesuatu. Sedangkan menurut istilah niat adalah keinginan yang kuat untuk melaksanakan atau meninggalkan sesuatu karena Allah SWT.

Niat terletak dalam setiap hati seorang hamba. Rasulullah SAW berpesan kepada seluruh muslim untuk menjaga hati agar senantiasa bersih dari niat buruk. Karena segala perbuatan dinilai berdasarkan niatnya.


Dari Umar bin Khattab radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits tentang Niat

Sangat banyak hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang hubungan niat perbuatan. Setiap niat baik akan mendapatkan balasan keutamaan yang bisa dirasakan di dunia dan akhirat. Demikian juga setiap niat buruk yang akan berbalas dosa.

Merangkum buku Keikhlasan Niat dan Tentang Ketaqwaan oleh Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarif An-Nawawi Ad-Dimsyaqi, berikut beberapa hadits Rasulullah SAW tentang niat.

1. Niat baik membawa kebaikan dunia akhirat

Dari Ibnu Mas’ud, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Siapa yang menjadikan seluruh tujuannya menjadi satu cita-cita, yaitu cita-cita akhirat, Allah mencukupi tujuan dunianya. Siapa yang tujuannya bercabang-cabang dalam berbagai masalah dunia, Allah tidak akan peduli di lembah mana ia meninggal.” (HR Ibnu Majah, sanad haditsnya hasan li ghairih)

2. Niat buruk akan berbalas keburukan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah SWT mengampuni umatku dari apa saja yang terbesit dalam hatinya, selagi belum terucap atau belum terlaksana.”

3. Niat lebih penting daripada amal

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda:

“Niat seorang mukmin lebih utama daripada amalnya.” (HR Al-Baihaqi)

4. Niat dapat meluaskan rezeki

Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan maksud mengembalikannya, maka Allah akan membayarkannya. Siapa yang mengambil harta orang lain dengan maksud untuk merusaknya, maka Allah akan merusak orang itu.” (HR. Bukhari)

5. Niat baik akan mendapat pahala berlipat

Dari Ibnu ‘Abbas RA, Nabi Muhammad bersabda:

“Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan tetapi dia tidak (jadi) melakukannya, Allah tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat sampai kelipatan yang banyak.

Barangsiapa berniat berbuat buruk tetapi dia tidak jadi melakukannya, Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allah menuliskannya sebagai satu kesalahan.” (HR Bukhari dan Muslim)

6. Balasan pahala sesuai niat

Rasulullah SAW bersabda,

“Allah telah memberikan balasan kepadanya sesuai dengan kadar niatnya.”

Hadits ini disabdakan ketika beberapa orang sahabat tertinggal pada Perang Tabuk, mereka sangat ingin ikut berperang bersama Rasulullah SAW dalam peperangan itu, akan tetapi mereka mendapatkan rintangan, sebagian di antara mereka tidak memiliki perbekalan dan tidak mempunyai unta.

Rasulullah SAW tidak dapat membawanya, ada di antara mereka yang mungkin sakit, ada di antara mereka yang tidak dapat ikut karena mengatur urusan di Madinah, dia menjaga Madinah. Rasulullah SAW memberitahukan bahwa mereka yang tidak dapat ikut berperang karena ada halangan, mereka tetap mendapatkan balasan pahala.

7. Niat berbalas kebaikan

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari Ma’n bin Yazid dia berkata,”Yazid ayahku mengeluarkan beberapa Dinar untuk bersedekah, dia memberikannya kepada seseorang di masjid, aku datang dan mengambilnya dan memberikannya kembali kepada ayahku, dia berkata, “Demi Allah, apakah yang engkau inginkan”.

Ia mengadukanku kepada Rasulullah, beliau berkata, “Engkau memperoleh apa yang engkau niatkan wahai Yazid, dan engkau mendapatkan apa yang telah engkau ambil wahai Ma’n.”

Sang ayah tidak berniat memberikan harta yang telah dia keluarkan itu untuk anaknya, akan tetapi Allah SWT membalasnya dengan niatnya yang benar, dia mendapatkan balasan meskipun hartanya kembali.

8. Niat dapat mengubah yang buruk menjadi baik

Rasulullah SAW berkata, bahwa seseorang berkata, “Aku akan bersedekah malam ini, dia pun keluar dan memberikan sedekah ke tangan pezina. Orang banyak berkata, ‘Malam ini dia bersedekah untuk seorang wanita pezina.’ Dia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagimu atas pezina ini.’

Kemudian dia berkata lagi akan bersedekah malam ini. Ia memberikan sedekah pada orang kaya. Mereka berkata, ‘Dia telah bersedekah kepada orang kaya.’ Dia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagimu atas orang kaya.

Selanjutnya ia berkata ‘Aku akan bersedekah.’ Dia keluar untuk bersedekah, dia bersedekah kepada seorang pencuri, dia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagimu, atas pezina, orang kaya dan pencuri.’

Ada yang berkata kepadanya, “Pezina itu, semoga dia menjaga dirinya dari perbuatan zina dengan sedekah itu, semoga orang kaya itu mengambil pelajaran darinya hingga dia mau menginfakkan harta yang telah diberikan Allah SWT kepadanya, dan semoga pencuri itu berhenti mencuri.”

9. Niat seperti ruh dalam jasad

Ibadah mendekatkan diri kepada Allah SWT yang dilakukan seseorang tidak akan diterima kecuali dengan dua perkara. Pertama, ada niat yang tulus dan benar. Kedua, perbuatan yang dilakukan tersebut sesuai menurut syariat.

Dalam masalah ini Ibnu Mas’ud berkata, “Ucapan tidak memberikan manfaat kecuali dengan amal, ucapan dan perbuatan tidak bermanfaat kecuali dengan niat, ucapan, perbuatan dan niat tidak bermanfaat kecuali sesuai dengan sunnah.”

Setiap ibadah yang kosong dari niat maka tidak bernilai sama sekali, sama halnya seperti jasad tanpa ruh.

10. Niat adalah amalan yang paling afdhal

Niat itu merupakan amal yang paling afdhal, dalam sebuah hadits disebutkan, “Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya dan perbuatan orang munafik lebih baik daripada niatnya, semua manusia berbuat berdasar niatnya.”

Dalam hadits yang lain disebutkan, “Niat seorang mukmin itu lebih sampai daripada amalnya.”

Itulah beberapa hadits yang menjelaskan tentang niat. Semoga dengan penjelasan ini bisa membuat kita menjadi seorang muslim yang senantiasa istiqomah dan memiliki niat baik dalam segala amal perbuatan.

(dvs/erd)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Lengkap dan Isi Kandungannya


Jakarta

Doa kamilin umumnya dibaca setelah salat tarawih pada bulan Ramadhan. Doa dimaksudkan untuk memohon kesempurnaan iman kepada Allah SWT.

Abu Maryam Kautsar Amru melalui karyanya yang berjudul Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan menjelaskan bahwa setelah salat tarawih dan memasuki witir, ada jeda di antara keduanya. Jeda itulah yang menjadi waktu pembacaan doa kamilin dan dipimpin oleh seorang bilal.

Ulama Muhammad bin Muhammad Al-Maghribi dalam kitab Jamul Fawaid menyatakan para ulama salafush shalih menyusun doa kamilin untuk dibaca setelah salat tarawih karena pada zaman Nabi SAW, shalat tarawih disebut dengan qiyam Ramadhan. Hal ini dijelaskan dalam buku Misteri Kedua Belah Tangan susunan Badruddin Hasyim Subky.


Lantas seperti apa bacaan doa kamilin?

Doa Kamilin: Arab, Latin dan Terjemahnya

Merujuk pada sumber yang sama, berikut bacaan doa kamilin yang disertai arab latin dan terjemahnya.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بِالإيْمَانِ كَامِلِيْن وَلِلفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنِ وَلِلصَّلاةِ حَافِظِيْنِ وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْن وَلَمِا عِنْدَكَ طَالِبِيْنِ وَلِعَفْوكَ رَاجِيْنِ وَبِالْهُدَي مُتَمَسِّكِين وَعَن اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنِ وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْن وَفِي الآخِرَةِ رَاغِيين وبالقضَاءِ رَاضِينِ وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنِ وَعَلي البَلَاءِ صَابِريْن وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنِ وَإِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنِ وَإِلَى الجَنَّةِ دَاخِلِيْن وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنِ وَعَلَى سَرِيْرِ الكَرَامَةِ قَاعِدِيْنِ وَمِنْ حُوْرٍ عِينٍ مُتَزَوِّحِينِ وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاج مُتَلبِّسِيْن وَمِنْ طَعَامِ الجَنَّةِ آكِلِينِ وَمِنْ لَّبَن وَعَسَلٍ مُصَفًّى شاريين بأكْوَابٍ وَأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ مَعَ الَّذِي أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّين وَالصَّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِوَالصَّالِحِيْن وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بالله عَلِيْمًا اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي لَيْلَةِ هَذا الشَّهْرِ الشَّرِيفَةِ المُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ المَقْبُوْلِيْن وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينِ

Arab latin: “Allâhummaj’al bil îmâni kâmilîn wa lilfarâidhi muaddîn wa lishshalâti hâfidzîn wa lizzakâti fâ’ilîn wa limâ ‘indaka thâlibîn wa li’afwika râjîn wa bil hudâ mutamassikîn wa ‘anillaghwi muʼridhîn wa fid-dunyâ zâhidîn wa fîl âkhirati râghibîn wa bil gadhâ’i râdhîn wa lin-na’mâ’i syâkirîn wa ‘alâl balâ’i shâbirîn wa tahta liwâ’i Muhammadin shallallahu ‘alayhi wa sallama yawmal qiyâmati sâirin wa ilâlhawdhi wâridîn wa ilâl-jannati dâkhilîn wa minan-nâri nâjîn wa ‘alâ sarîr al-karâmati qâ’idîn wan hûrin “în mutazawwijîn wa min sundusin wastabraqin wa dîbâjin mutalabbisin wa min tha’âmil jannati âkilîn wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn bi akwâbin wa abârîqa wa kaʼsin min maʼîn ma’alladzî an’amta ‘alayhim minannabiyyîn wash-shiddîqîn wasy-syuhâdâ’ wash-shâlihîn wa hasuna ulâ’ika rafîqan dzâlikal fadhlu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîma. Allâhummaj’alnâ fî laylati hâdzasyahr syarîfatil mubârakati min al-syu’âdâ’il maqbûlîn wa lâ taj’alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma’în birahmatika ya ar-hamar-râhimîn.”

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami manusia yang senantiasa menyempurnakan iman kami, melaksanakan perintah menjalankan kewajiban-Mu, menjalandakan sholat, menunaikan zakat, memohon serta mengharap ampunan-Mu, yang berpegang teguh kepada petunjuk (yang Kau berikan), meninggalkan kemungkaran, hidup dengan sederhana di dunia, mengharap surga di akhirat, berpasrah pada takdir, bersyukur pada nikmat dan bersabar atas cobaan di bawah bendera syariat Muhammad SAW pada hari kiamat. Dari ajarannya kami datang, ke surga kami menuju, dan juga kami selamat dari api neraka. Kami duduk di atas kain sutra kemuliaan, kami menikahi bidadari yang cantik dan jelita. Kami memakai pakaian yang terbuat dari permadani, sutra, dan perhiasan mewah lainnya. Kami makan dari masakan yang telah tersedia di surga. Kami meminum madu dan susu dengan menggunakan gelas mewah bersama para nabi, orang jujur, syuhada, orang sholeh, dan mereka akan menjadi teman setia di surga kelak. Demikianlah keutamaan dari Allah. Allah Maha Mengetahui atas segala yang dilakukan oleh hamba-Nya. Ya Rabb, jadikan kami pada malam yang mulia dan penuh berkah ini sebagai orang-orang yang senantiasa bahagia dan engkau ampuni. Serta janganlah masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersedih dan tertolak. Kami senantiasa bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan sahabat-sahabatnya secara keseluruhan dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang dari yang penyayang.”

Isi Kandungan Doa Kamilin

Dijelaskan dalam buku Kumpulan Kultum Terlengkap & Terbaik Sepanjang Tahun oleh A R Shohibul Ulum, nama kamilin diambil dari salah satu kalimat awal dalam doa tersebut. Doa kamilin banyak mengandung permintaan dan harapan, lima di antaranya ialah sebagai berikut:

1. Kesempurnaan Iman

Cara meraih kesempurnaan iman dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang berlaku baik kepada istrinya.” (HR At-Tirmidzi)

Kandungan selanjutnya yang terdapat dalam doa kamilin ialah dapat menunaikan segala kewajiban. Hal ini dimaknai dengan bertakwa kepada Allah SWT dan menjauhi apapun yang dilarang oleh-Nya.

3. Salat yang Terpelihara

Selanjutnya adalah harapan agar salat yang dikerjakan terpelihara. Yang perlu dipahami adalah Allah SWT tidak hanya memerintahkan salat, melainkan juga meminta kaum muslimin untuk memelihara dan menegakkannya.

Salat kaum muslimin harus lurus, tegak dan terpelihara. Dengan begitu, insyaAllah kita akan dijauhi dari perbuatan keji dan mungkar.

Zakat fitrah wajib hukumnya untuk dikeluarkan pada bulan Ramadhan. Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih orang yang berpuasa dari ucapan yang tidak berfaedah dan jelek.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

5. Ikhlas Mencari Ridha Allah SWT

Ikhlas mencari ridha Allah menjadi harapan penyempurna. Artinya, semua amal ibadah harus ditujukan semata-mata hanya karena mengharap ridha Allah SWT.

Demikian bacaan doa kamilin dan isi kandungannya. Semoga bermanfaat.

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

8 Hadits tentang Kebersihan yang Jadi Anjuran Rasulullah


Jakarta

Kebersihan merupakan hal penting dalam Islam sebagaimana diterangkan dalam sejumlah hadits. Bahkan sebelum beribadah kaum muslimin harus suci dari kotoran, baik itu hadats kecil maupun besar.

Mengutip buku Pendidikan Akhlak Berbasis Arba’in An-Nawawiyah susunan Dr Saifudin Amin MA, kebersihan adalah tolak ukur kehidupan umat Islam. Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan.

Menjaga kebersihan sama artinya dengan menjaga kesehatan. Dengan begitu, kaum muslimin akan terhindar dari berbagai penyakit.


Terkait kebersihan juga dijelaskan dalam sejumlah hadits. Seperti apa? Berikut bahasannya yang dikutip dari Kitab Ihya Ulumuddin susunan Imam Al Ghazali yang diterjemahkan oleh ‘Abdul Rosyad Siddiq.

Kumpulan Hadits tentang Kebersihan

1. Tempat Bersih Disukai Allah SWT

Allah SWT menyukai tempat-tempat yang bersih. Hal ini disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ , نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ , كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ , جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ , فَنَظِّفُوا أَفْنِيَتَكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Mahabersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Mahaindah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu.” (HR Tirmidzi)

2. Kebersihan Diri saat Hendak Salat

Sebelum melaksanakan salat Jumat, para laki-laki disunnahkan untuk mandi dan memakai wewangian. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّهَذَايَوْمُعِيدٍجَعَلَهُاللَّهُلِلْمُسْلِمِينَ،فَمَنْجَاءَإِلَىالْجُمُعَةِفَلْيَغْتَسِلْ،وَإِنْكَانَطِيبٌفَلْيَمَسَّمِنْهُ،وَعَلَيْكُمْبِالسِّوَاكِ

Artinya: “Hari ini (Jumat) adalah hari raya yang dijadikan Allah SWT untuk umat Islam. Bagi siapa yang ingin melaksanakan salat Jumat, hendaklah mandi, memakai wangi-wangian kalau ada, dan menggosok gigi (siwak).” (HR Ibnu Majah)

3. Pahala Menjaga Kebersihan

Mengutip buku Fiqih Thaharah karya Ibnu Abdullah, Rasulullah mengatakan bahwa Allah SWT menjanjikan surga bagi yang membersihkan dahan pohon di jalanan,

مرَّ رجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيْقٍ فَقَالَ : وَاللَّهِ لَأُنَحِّيَنَّ هذَا عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ لَا يُؤْذِيْهُمْ، فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ

Artinya: “Ada seorang lelaki yang membuang dahan pohon yang menghalangi jalan, lalu ia berkata, ‘Demi Allah, aku akan singkirkan dahan ini agar tidak mengganggu dan menyakiti kaum muslimin,’ maka Allah pun memasukkannya ke surga.” (HR Muslim)

4. Kebersihan Sebagian dari Iman

Rasulullah SAW menjadikan kebersihan separuh dari keimanan, sebagaimana bunyi sabdanya:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

Artinya: “Kesucian itu adalah setengah dari iman.” (HR Muslim)

5. Anjuran Membersihkan Halaman

Riwayat lainnya mengenai hadits tentang kebersihan ialah anjuran membersihkan halaman rumah. Berikut haditsnya:

طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا ” . أخرجه الطبراني في “المعجم الأوسط” (4057) ، وحسنه الشيخ الألباني في “السلسلة الصحيحة”

Artinya: “Sucikanlah halamanmu, karena orang Yahudi tidak menyucikan halamannya.” (HR Thabrani dalam Al Mu’jam Al-Awsat) (4057), digolongkan sebagai hasan oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-Sahihah

6. Pentingnya Menjaga Kebersihan Tempat Ibadah

Selain menjaga kebersihan lingkungan, penting sekali untuk kita menjaga kebersihan tempat ibadah seperti masjid dan musala. Sebagai tempat untuk beribadah, sudah seharusnya dalam keadaan bersih dan bebas dari najis.

Adapun bunyi hadits kebersihan ini adalah sebagai berikut:

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وسلم ببنيان المساجد في الدور ، وأمر أن تنظف وتطيب “. أخرجه أحمد في “المسند” (26386) ، وصححه الشيخ الألباني في السلسة الصحيحة (2724)

Artinya: “Rasulullah SAW memerintahkan agar masjid-masjid dibangun di dalam rumah-rumah, dan beliau memerintahkan agar rumah-rumah tersebut dibersihkan dan diberi wewangian.” (HR Ahmad dalam Al Musnah) (26386) dan disahkan oleh Syekh Al-Albani dalam Al-Silsilah Al-Sahihah (2724)

7. Islam Dibangun dari Kebersihan

Dalam sebuah riwayat, Aisyah Radhiallahu Anha menyebutkan bahwa, Rasulullah pernah bersabda, “Agama itu dibangun berasaskan kebersihan.” (HR Muslim)

Rasulullah SAW juga pernah berkata, untuk membersihkan segala sesuatu karena Islam dibangun atas kebersihan.

تَنَظَّفُوْا بِكُلِّ مَا اِسْتَطَعْتُمْ فَاِنَ اللهَ تَعَالَي بَنَي الاِسْلاَمَ عَلَي النَظَافَةِ وَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلاَ كُلُّ نَظِيْفٍ

Artinya: “Bersihkanlah segala sesuatu semampu kamu. Sesungguhnya Allah Ta’ala membangun Islam ini di atas dasar kebersihan dan tidak akan masuk surga kecuali setiap yang bersih.” (HR Ath-Thabrani)

8. Menjaga Kebersihan Tubuh

Kaum muslimin juga berkewajiban menjaga kebersihan tubuhnya, salah satunya dalam hadits Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa kaum Muslim hendaknya memuliakan rambut dengan cara merawatnya.

“Siapa yang memiliki rambut, maka muliakanlah ia.” (HR Abu Dawud)

(aeb/kri)



Sumber : www.detik.com