Tag Archives: hikmah

Dua Kunci Agar Selamat dari Siksa Allah Menurut Imam Ghazali



Jakarta

Imam al-Ghazali memberikan kunci agar selamat dari siksa Allah SWT, mendapatkan pahala dan rahmat-Nya, serta masuk dalam surga-Nya. Sang Hujjatul Islam menyebutkan dua hal.

Dua hal tersebut adalah sabar dan sakit. Imam al-Ghazali menjelaskan dalam kitab Mukasyafatul Qulub, siapa pun yang ingin selamat dari siksa Allah SWT hendaknya menahan nafsu demi melampiaskan syahwat duniawi dan hendaklah bersabar dalam menghadapi kesulitan dan musibah dunia.

Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 146,


وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”

Imam al-Ghazali menjelaskan, sabar terdiri dari berbagai macam. Di antaranya sabar dalam menjalani ketaatan kepada Allah SWT, sabar dalam menjauhi larangan-Nya, dan sabar dalam menghadapi musibah pada detik pertama.

Salah satu keutamaan sabar dalam menjalankan ketaatan pada Allah SWT, kata Imam al-Ghazali, Allah SWT akan memberikan 300 derajat di surga saat hari kiamat kelak. Tinggi tiap satu derajat seperti jarak antara langit dan bumi.

Adapun, bagi orang yang sabar dalam menjauhi larangan Allah SWT, maka Dia akan memberikan dua kali lipat derajat di surga dari derajat orang yang sabar dalam ketaatan.

“Barang siapa yang bersabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah, maka pada hari kiamat ALlah akan memberinya 600 derajat. Setiap satu derajat setinggi jarak antara langit dan bumi ketujuh,” kata Imam al-Ghazali seperti diterjemahkan Jamaluddin.

Selanjutnya, bagi orang yang bersabar atas musibah yang menimpanya, maka Allah SWT akan memberinya 700 derajat di surga. Kata Imam al-Ghazali, setiap derajat tingginya seperti jarak antara Arsy dan bumi.

Disebutkan dalam hadits qudsi, Nabi SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman,

“Setiap hamba yang tertimpa musibah, lalu dia menyandarkan diri kepada-Ku, maka Aku akan memberinya sebelum dia meminta kepada-Ku, dan Aku akan mengabulkan permohonannya sebelum dia berdoa kepada-Ku. Setiap hamba yang tertimpa musibah, lalu dia menyandarkan diri kepada makhluk dan bukan kepada-Ku, maka Aku akan mengunci seluruh pintu langit untuknya.”

Imam al-Ghazali juga memaparkan sejumlah hadits tentang kunci agar selamat dari siksa Allah SWT yang kedua, keutamaan sakit. Salah satunya sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang mengalami sakit satu malam, lalu dia bersabar dan ridha kepada Allah, maka dia keluar (bersih) dari dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya. Jika kalian mengalami sakit, maka janganlah mengandaikan kesembuhan.”

Salah seorang sahabat nabi, Mu’adz bin Jabal, pernah mengatakan bahwa orang yang beriman ketika mendapat cobaan berupa sakit, maka malaikat pencatat amal keburukan tidak akan mencatat apa pun darinya dan malaikat pencatat amal baik akan mencatat sebagai pahala perbuatan terbaik seperti yang biasa dilakukan ketika sehat.

Lebih lanjut, Imam al-Ghazali dalam kitabnya berpesan bahwa orang yang berakal wajib bersabar dalam menghadapi berbagai cobaan serta tidak mengeluh. Hal ini dilakukan agar selamat dari siksa dunia dan akhirat. Sebab, kata Imam al-Ghazali, cobaan yang paling berat sesungguhnya dialami para nabi dan wali Allah SWT.

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com

Dengki



Jakarta

Perselisihan dalam kehidupan saat ini sering terjadi, meski karena hal yang sepele. Seseorang yang berbeda idola saja bisa saling bermusuhan ( khususnya saat pemilihan kepala pemerintahan ), sehingga amarah yang timbul akan membuahkan dendam dan berakhir dengan kedengkian. Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW. bersabda: “Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.” (H.R. Abu Dawud).

Sikap iri dan dengki pada tetangga yang hidup senang karena curahan anugerah Allah SWT. bahwa sikap kedengkian itu akan melemahkan iman, menjatuhkan kedudukan di hadapan-Nya dan membuat dibenci oleh-Nya. Apakah engkau merasa bagiannya ( tetangga ) merupakan bagianmu? Jika engkau mendengki lantaran anugerah Allah Swt. yang dia dapatkan, maka engkau menyalahi firman-Nya dalam surah al-Zukhruf ayat 32 yang berbunyi, ” Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain.”

Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Adapun agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain sebagai pekerja. Menurut suatu pendapat, makna ayat ialah agar sebagian dari mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan, karena yang lemah memerlukan yang kuat dan begitu pula sebaliknya.


Oleh karena itu bekerja sama merupakan langkah strategis untuk saling membantu, bukannya atas anugerah pada pihak lain disikapi dengan iri dan dengki. Kedengkian pada orang lain merupakan tindakan menzalimi orang yang diberi karunia oleh Tuhannya. Tahukah bahwa Allah SWT. telah memberi karunia khusus pada orang tersebut bukan pada orang lain. Itu adalah hak-Nya bukan engkau yang mengatur atas pemberian karunia-Nya. Maka firman-Nya dalam surat Qaf ayat 29 yang berbunyi, ” Ayat yang datang dari Kami tidak akan berubah, dan Kami tidak menzalimi hamba-hamba Kami.”

Ayat ini mempertegas bahwa Allah SWT. bersikap adil dan tahu pada siapa yang diberi karunia, jadi janganlah dengki pada orang yang mendapatkan karunia-Nya.

Bagi orang-orang yang iri dan dengki, sesungguhnya Allah SWT. tidak mencabut karunia darimu yang telah ditetapkan-Nya dan tidak memberikan kepada selainmu. Jadi karunia yang Allah SWT. berikan pasti tidak salah sasaran, oleh karena itu jika engkau masih iri, maka berharaplah atau ingin memiliki atas kenikmatan tetangga atau saudaramu. Hal ini disebut ghibthah ( berangan-angan agar mendapatkan nikmat seperti yang ada pada orang lain tanpa mengharapkan nikmat tersebut hilang darinya ). Rasulullah SAW. bersabda, ” Seorang mukmin berkompetisi, dan seorang munafik mendengki.”

Dengki merupakan angan agar nikmat pada orang lain hilang, maka dia akan merasa bahagia. Mengharap kepindahan nikmat orang lain kepada dirimu itu dilarang, maka simaklah firman-Nya dalam surah an-Nisa ayat 32 yang berbunyi, ” Dan janganlah kalian mengharapkan sesuatu yang dilebihkan Allah kepada sebagian kalian atas sebagian yang lain.”
Kedengkian akan timbul karena beberapa faktor : permusuhan, perasaan lebih kuat, kemarahan, kesombongan, ujub, takut tidak mendapatkan apa yang diinginkan, adanya hasrat untuk menjadi pemimpin dan kekotoran jiwa. Semua sikap ini tercela dan hendaknya dihindari bagi seorang mukmin.

Dalam waktu yang dekat, hasrat yang berdasarkan nafsu sebagian orang yang ingin menjadi kepala daerah, anggota legislatif, dan pemimpin negeri, akan terlihat maka hati-hatilah karena hasrat itu merupakan cikal bakal muncullah sikap dengki. Jika menjadi seseorang kontestan yang belum berhasil, maka bersikaplah sabar bukan mencaci maki kompetitornya. Tindakan ini hanyalah sia-sia belaka dan hanya memuaskan kekesalannya. Adapun bagi masyarakat, sikapilah atas semaraknya pesta demokrasi dengan hati yang bening agar kita bisa memilih calon dengan benar.

Kelak di saat hari kebangkitan, tetangga / saudaramu yang hidup berlimpah kekayaan dan berjabatan tinggi mengharapkan kedudukanmu yang sepi dari dunia. Sebab orang kaya berkedudukan tinggi dihisab dalam waktu yang lama ( mempertanggung jawabkan selama di dunia ). Sementara engkau selamat dari semua siksa ini di bawah naungan Allah SWT. Akan lebih elok jika engkau diberikan nikmat hidup dan berkuasa, maka jadikanlah wasilah untuk memberi kemanfaatan pada sesama.
Semoga Allah SWT. menjadikan kita orang yang sabar menghadapi musibah dan bersyukur atas rahmat-Nya serta memasrahkan segala urusan pada-Nya.

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Hindari Sombong



Jakarta

Allah SWT. berfirman dalam surah an-Nisa ayat 28 yang artinya, “Allah menghendaki meringankan kalian dalam hukum-hukum agama sementara manusia diciptakan dalam kondisi lemah.”

Ayat ini memberikan makna Allah SWT. hendak meringankan syariat yang Dia tetapkan bagi kalian. Maka Dia tidak membebani kalian dengan sesuatu di luar kemampuan kalian. Karena Dia mengetahui kelemahan manusia, baik dalam jasad maupun akhlaknya. Kelemahan manusia itu mutlak adanya, oleh karena itu jika ingin menjadi kuat maka berikhtiarlah dan janganlah menjadi sombong karena keadaannya.

Sikap sombong akan terhindar jika seseorang mengetahui dan menyadari dirinya :


1. Diciptakan dari bahan yang kotor. Leluhur manusia diciptakan dari tanah, kemudian dari lumpur yang bau. Anak keturunannya diciptakan dari air mani yang berada di tempat kotor. Dijadikan ada oleh Sang Pencipta yang sebelumnya tiada, dijadikan bisa mendengar dari sebelumnya tuli dan menjadi bicara dari sebelumnya bisu. Dalam firman-Nya surah al-Mukminun ayat 12 menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari sari pati tanah. Unsur-unsur kimia yang dikandung tanah tidak berbeda dengan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tubuh manusia.

2. Tidak berkemampuan terhadap dirinya sendiri. Manusia tidak punya kuasa bagi dirinya untuk menghindari kerugian dan tidak pula untuk mendapatkan keuntungan, tidak bisa merendahkan maupun untuk meninggikan. Akal yang dimilikinya adalah pemberian-Nya, dengan akal ia mengisi kehidupan dunia dan mengetahui sifat-sifat-Nya. Dengan akal menjadikan seseorang pandai dan cerdas, hingga dapat mencapai tujuannya serta berkedudukan. Ingatlah bahwa akal diciptakan untuk mengimbangi nafsu bukan akal digunakan untuk melampiaskan hawa nafsunya. Firman-Nya dalam surah al-Qashash ayat 68 yang berbunyi, ” Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka ( manusia ) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” Allah SWT. menciptakan sesuatu yang dikehendaki untuk diciptakan dan menentukan sesuatu yang dikehendaki untuk ditentukan. Dalam hal ini adalah penegasan bahwa kebebasan menciptakan dan menentukan itu milik Allah SWT. Manusia mempunyai sifat ingin mengingat, tapi lupa; ingin mengetahui, tapi tidak tahu; ingin sehat, tapi sakit; ingin mampu, tapi lemah; ingin kaya, tapi miskin. Inilah fakta bentuk ketidakmampuan terhadap diri sendiri.

3. Menuju kesendirian. Manusia diciptakan tumbuh sampai menemui ajalnya. Dibuat dari tanah dan kembali ke tanah. Tatkala di alam kubur, tinggallah ia sendirian. Ia terpisah dari harta yang dikumpulkan, terpisah dari keluarga kecuali amal kebaikan masih menyertainya hingga saat hisab. Mengingat kondisi ini, janganlah menonjolkan kesombongan dalam kehidupannya.

Sikap sombong di dalam Al-Qur’an dan hadis tidak disukai-Nya sebab, keagungan dan kesombongan hanya layak milik Allah SWT. Pada dasarnya kesombongan itu pengagungan. Hakikatnya kesombongan adalah bersikap congkak, merendahkan orang lain dengan membanggakan dirinya, dan menolak kebenaran padahal tahu perihal kebenaran itu. Kejadian yang sering terjadi tatkala seorang pemimpin diberikan saran bawahannya dan saran tersebut tidak diindahkannya, padahal ia tahu bahwa saran itu tepat. Gengsi untuk menerima saran bagian dari bentuk kesombongan dan ingatlah seseorang tidak berhak untuk sombong. Saat seseorang menjadi pemimpin dengan kesombongan sikapnya itu, tidaklah bermanfaat dan tidak meningkatkan kinerjanya. Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang beriman jauhilah sikap sombong dan layanilah masyarakat dengan sikap rendah hati.

Ujian untuk hindari sikap sombong ini terasa sangat berat, apalagi godaan atas pesona dunia ada di depan matanya. Bersikap sombong itu bisa muncul pada semua lapisan, namun berat bagi orang berharta, berilmu dan paling berat orang yang berkedudukan. Kenapa ? Orang yang mempunyai posisi ( berkedudukan sebagian berharta dan berilmu ) sehingga muncul hasrat untuk merendahkan pihak lainnya. Oleh karenanya, ingatlah bahwa maqam yang engkau peroleh saat ini akan mudah berubah ( fana ). Hal ini telah diingatkan dalam firman-Nya surah ali-Imran ayat 26 yang artinya, “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki.”

Mari kita simak bermacam-macam kesombongan ( menurut Syekh Izzuddin bin Abdussalam ) :

1. Sombong karena menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.
2. Sombong untuk mengikuti Rasulullah SAW.
3. Sombong kepada sesama karena merasa dirinya lebih baik.
Ketiga macam sombong ini hendaknya dihindari. Penulis berpesan kepada para calon pemimpin negeri ini yang pada bulan-bulan depan akan mendaftarkan diri sebagai Capres dan Cawapres hendaknya santun dalam berkampanye, tidak merendahkan pihak lawan, dengan membanggakan dirinya dan jauh dari sikap congkak.

Ya Allah, Engkau yang berkuasa dan berkehendak, bimbinglah para calon pemimpin ini untuk bersikap tawaduk dan jika memperoleh amanah hendaknya tidak berkhianat. Berilah cahaya-Mu agar para pemilih dapat memilih pemimpin yang Engkau kehendaki.

(dvs/erd)



Sumber : www.detik.com

Khutbah Jumat Rabiul Akhir tentang Hakikat Takwa


Jakarta

Umat Islam tengah memasuki bulan Rabiul Akhir 1445 H pada pekan ini. Menyambut bulan tersebut, khatib bisa menyampaikan khutbah Jumat Rabiul Akhir yang bertema Hakikat Takwa.

Rabiul Akhir adalah bulan ke-4 dalam kalender Hijriah. Menurut ikhbar Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) awal bulan Rabiul Akhir 1445 H jatuh pada Senin, 16 Oktober 2023.

Berikut contoh khutbah Jumat Rabiul Akhir tentang Hakikat Takwa seperti diambil dari Buku Khutbah Zaynul Atqiya’ yang disusun oleh Tim Kajian Ilmiah Lembaga Ittihadul Muballighin Ponpes Lirboyo.


Teks Khutbah Jumat tentang Hakikat Takwa

الْحَمْدُ لِلَّهِ ذِي الْكَرَمِ وَالْجُوْدِ وَالْإِفْضَالِ. وَأَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ التَّوْفِيْقَ وَالْإِخْلَاصَ فِي سَآئِرِ الْأَعْمَالِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ الْإِخْلَاصَ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ سَبَبًا لِلْوُصُوْلِ إِلَى مَرَاتِبٍ أَهْلِ الْكَمَالِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيْدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْهَادِي إِلَى الرَّشَادِ وَالْمُنْقِذُ مِنَ الضَّلَالِ. صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِمُ السَّالِكِيْنَ فِي طَرِيْقِهِ عَلَى أَحْسَنِ مِنْوَالٍ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ الْعِبَادَةَ لَا تَصِحُ بِدُوْنِ الْعِلْمِ، وَالْعِلْمُ وَالْعِبَادَةُ لا يَنْفَعَانِ إِلَّا مَعَ الْإِخْلَاصِ

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Marilah kita meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan senantiasa beramal saleh dan menjauhi bermaksiat kepada-Nya.

Alhamdulillah dengan berakhirnya bulan Rabiul Awal, kita telah memasuki bulan baru yaitu Rabiul Akhir yang semestinya juga disertai semangat baru untuk beramal saleh dan semangat berlomba-lomba dalam kebaikan agar sedikit demi sedikit ketakwaan kita kepada Allah SWT dapat bertambah.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Pada zaman yang modern dan serba canggih ini, kemajuan di segala bidang terus berkembang pesat. Namun kemajuan pesat tersebut tidak disertai dengan peningkatan takwa kita kepada Allah SWT Bukti lemahnya takwa kita sangatlah tampak jelas dengan adanya kemerosotan moral dan akhlak. Apakah kita akan terus menutup mata dan hati akan hal tersebut? Tentu tidak.

Oleh karena itu, marilah kita jernihkan pikiran ini dengan memahami takwa yang sesungguhnya.

Takwa dalam pengertian secara umum adalah menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun apakah kita benar-benar memahami hakikat takwa itu sendiri?

Dalam sebuah hadits dikatakan

لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ، حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ، حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ. (رواه الترمذي وابن ماجه)

Artinya: “Seorang hamba tidak akan mencapai orang- orang yang bertakwa hingga ia meninggalkan sesuatu yang tidak dilarang karena khawatir terjatuh kepada sesuatu yang dilarang.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hakikat takwa adalah seseorang tidak akan sampai pada derajat iman dan takwa kepada Allah SWT sampai ia meninggalkan atau menghindari segala bentuk yang dapat menggoyahkan keimanan yang ada di dalam hatinya. Untuk itu marilah kita kuatkan kepercayaan kita, sedikit berpikir dalam taat dan memperbaiki ibadah kepada Allah SWT hingga mencapai derajat muttaqin.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anfal ayat 2 yang berbunyi,

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ ٢

Terjemahnya: Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah) gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal,”

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Iman dan takwa seseorang bisa bertambah dan dapat pula berkurang. Oleh karena itu kita juga harus mewaspadai terhadap perbuatan-perbuatan yang dapat menyurutkan iman dan takwa kita, terus berusaha dan memohon kepada Allah SWT agar menambah ketakwaan dan keimanan kita. Karena hanya Allah SWT yang dapat menambah ketakwaan dan keimanan seseorang.

Seperti halnya pada firman Allah SWT,

وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ ١٧

Artinya: Orang-orang yang mendapat petunjuk akan ditambahi petunjuk(-nya) dan dianugerahi ketakwaan (oleh Allah). (QS Muhammad: 17)

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Untuk memahami hakikat iman dan takwa, kita perlu mengetahui ciri-ciri orang yang benar iman dan takwanya. Ciri-ciri tersebut telah Allah SWT jelaskan dalam firman-Nya:

۞ لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ١٧٧

Artinya: Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Baqarah: 177)

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Untuk itu, marilah kita bercermin diri, apakah kita telah memenuhi ciri-ciri tersebut atau masih jauh. Semoga kita semua diberi kemudahan Allah SWT untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan menjadi orang yang beruntung kelak di akhirat. Karena orang yang beruntung adalah orang yang telah benar imannya.

Hal itu dikatakan dalam firman Allah SWT:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ ١

Terjemahan: Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin. (QS Al Mu’minun: 1)

أعُوذُ بِااللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيْمِ. فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا. بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِكْرِ الْحَكِيمِ إِنَّهُ تَعَالَى جَوَادٌ مَلِكُ بَرُّ رَؤُوْفٌ رَحِيمٌ.

Demikian contoh khutbah Jumat Rabiul Akhir tentang Hakikat Takwa.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Ketetapan



Jakarta

Qada adalah ketetapan Allah SWT sejak zaman sebelum diciptakan alam semesta sesuai dengan kehendak-Nya tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan makhluk-Nya. Sementara qadar yaitu perwujudan dari qada atau ketetapan Allah SWT dalam kadar tertentu sesuai dengan kehendak-Nya. Apa bedanya dengan ketetapan yang dibuat manusia? Jawabannya tentu berbeda. Pada hari Senin tgl 16 Oktober 2023, Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengeluarkan putusan terbaru mengenai syarat pendaftaran capres dan cawapres yang harus berusia minimal 40 tahun atau berpengalaman sebagai kepala daerah. Ini ketetapan yang dibuat manusia yaitu melalui lembaga MK. Ketetapan ini tentu sifatnya tidak kekal, artinya pada periode tertentu dengan orang-orang yang sama atau berbeda (anggota MK) ketetapan itu bisa berlainan. Ingatlah bahwa ketetapan yang diputuskan Senin itu juga berbeda dengan sebelumnya.

Adapun ketentuan atau ketetapan yang telah dibuat Sang Kuasa tidak akan berubah seperti, kelahiran, kematian, bencana, benda-benda alam seperti matahari, bulan dan bintang beredar sesuai ketetapan-Nya dan hari kiamat. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surah ali-Imran ayat 26 yang artinya, “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki.”

Jelas bahwa ayat ini menunjukkan kekuasaan-Nya yang tidak akan disamai oleh kekuasaan seorang hamba atau makhluk ciptaan-Nya. Apapun jabatan hamba tersebut, seperti penguasa negara besar dan berkuasa penuh pun tidak akan bisa menentukan nasib seseorang maupun membuat benda-benda alam seperti matahari. Seseorang yang berkedudukan pun boleh merencanakan sesuatu dengan strategi yang paling top, namun ingatlah engkau hanyalah seorang hamba yang diciptakan dan lemah, maka berserah dirilah pada-Nya. Karena apa pun yang menjadi keputusan-Nya itu terbaik dan kita bersikap ridha. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berujar bahwa, “Jika Allah SWT. mengabulkan permohonanku maka aku senang, karena pilihanku dikabulkan. Jika Allah SWT. tidak mengabulkan permohonanku, maka aku lebih senang. Yakinlah bahwa pilihan-Nya pasti lebih baik dari
Pilihanku.


Mari kita telaah tentang ketetapan-Nya. Takdir sendiri terbagi dua. Yaitu, Mubram dan Muallaq. Keduanya sama-sama merupakan ketentuan dari Allah SWT. Hanya saja, keduanya dibedakan berdasarkan pada pengaruh usaha atau ikhtiar manusia terhadapnya.

1. Takdir Mubram, adalah ketentuan mutlak dari Allah SWT. yang pasti berlaku. Macam takdir mubram ini membuat manusia tidak diberi peran untuk mewujudkannya.
Macam takdir ini contohnya adalah tentang kelahiran dan kematian manusia. Tentunya keberadaan macam takdir mubram membuat manusia tidak ada yang tahu kapan akan dilahirkan dan kapan akan mati. Semua menjadi rahasia Allah SWT, dan terjadi sesuai dengan ketetapan-Nya ( sebagaimana firman-Nya dalam surah luqman ayat 34 ).

2. Takdir Muallaq, adalah ketentuan Allah SWT. yang mengikut sertakan peran manusia. Macam takdir muallaq ini berkaitan dengan usaha atau ikhtiar manusia, contohnya adalah keberhasilan murid di sekolah dalam meraih prestasi. Murid yang berprestasi itu bukanlah murid yang diam saja tidak belajar dan hanya menunggu takdir. Tetapi dicontohkan macam takdir muallaq adalah ia yang selalu berusaha dan belajar setiap hari untuk meraih cita-cita yang diharapkannya.
Bila begitu, apa yang diraihnya selain ditentukan oleh macam takdir Allah SWT, juga ditopang oleh usaha dan doa yang dia lakukan. Jadi, berusaha itu harus, tetapi berdoa dan rela menerima segala macam takdir yang sudah ditentukan oleh Allah SWT jangan dilalaikan juga.
Sebagaimana dalam firman-Nya surah ar-Rad ayat 11 yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Jadi upaya manusia untuk menjemput takdir-Nya adalah sah seperti firman-Nya dalam surah ar-Rad ayat 11 di atas. Namun hendaknya sadar bahwa domain keputusan ada di tangan Allah SWT bukan di tangan orang yang berkedudukan tinggi. Berkepentingan terhadap kader Partai maupun idolanya agar bisa memimpin negeri merupakan hal yang normal. Keinginan tersebut hendaknya jauh dari nafsu karena ia akan menjerumuskan kita untuk memenuhi nafsunya dengan segala cara dihalalkan. Ingatlah bahwa nafsu akan membawa kita pada keburukan.

Siapapun dia, berkedudukan tinggi atau tidak hendaknya berserah diri dan tidak ikut mengatur ( tadbir ). Tadbir dimaknai sebagai mengatur tindakan untuk sebuah tujuan yang direncanakan dengan akhir berserah diri pada-Nya. Ingatlah bahwa kekuasaan itu ada di tangan-Nya, sebagaimana firman-Nya surah al-Qashash ayat 68 yang artinya, “Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka ( manusia ) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
Disambung dengan surah an-Najm ayat 24-25 yang artinya,” Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? ( Tidak !) Maka milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.”

Sebagai orang beriman ( berkedudukan tinggi atau pun tidak ) tentu akan patuh dan ridha atas ketetapan-Nya. Semoga Allah SWT. selalu memberikan hidayah-Nya agar para yang berkedudukan tinggi menjadi tahu diri dan tidak ikut mengatur.

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Sombong Lantaran Populer



Jakarta

Kesombongan itu secara hakikat manusia tidak mempunyai, karena kesombongan hanyalah milik-Nya. Orang sombong pastinya tidak banyak teman kecuali orang-orang yang berharap padanya. Jadi kesombongan seseorang yang berkedudukan maupun berkemampuan akan menciptakan ketergantungan orang lain padanya. Padahal ketergantungan pada makhluk itu sejatinya sia-sia, karena seseorang tidak bisa memberikan manfaat maupun keburukan.

Apa sebenarnya tenar menurut pandangan Islam ? Imam al-Ghazali mengatakan, “Yang tercela adalah apabila seseorang mencari popularitas. Namun, jika ia tenar karena karunia Allah SWT. tanpa ia cari-cari maka itu tidaklah tercela.” Rasulullah SAW bersabda, orang yang pertama kali disidang pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati dalam peperangan. Lalu, dia didatangkan, kemudian Allah SWT. memperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya maka dia pun mengakuinya.

Allah SWT. berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang tersebut menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah SWT. berkata, “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau melakukan itu supaya disebut sebagai seorang pemberani dan ucapan itu telah diucapkan (oleh manusia).”
Kemudian, diperintahkan agar orang tersebut dibawa. Maka, dia diseret dengan wajahnya sampai dia pun dilemparkan ke neraka.


Dalam dialog di atas, jelas bahwa Sang Pencipta Yang Maha Tahu akan niat dan maksud hambanya. Ia lakukan agar dikatakan oleh manusia bahwa ia pemberani, hingga menjadi pembicaraan bagi pasukan yang tidak gugur. Hal yang sama terjadi pada saat negeri ini akan melaksanakan pesta demokrasi, sebagian orang menginginkan ketenaran agar dipilih sebagai pemimpin maupun wakil rakyat. Jika berniat untuk memperbaiki kehidupan ( ekonomi ) maka ketenarannya itu adalah sia-sia. Sudah banyak contoh terjadi seperti seseorang yang terpilih menjadi anggota parlemen/yang terpilih menjadi pemimpin, namun di akhir perjalanannya ia tidak bisa tidur di rumahnya sendiri pindah tidur di rumah negara ( penjara ).

Berbeda jika seseorang menjadi pemimpin dan tenar semata karena karunia-Nya, maka perjalanannya dalam melaksanakan amanah selalu dalam pengawasan dan perlindungan-Nya. Di antara bencana terbesar adalah seseorang yang mencintai ketenaran dan kemuliaan serta berusaha mengejarnya, jiwanya ingin agar semua orang memujinya baik dalam kebenaran maupun kebatilan. Inilah sebenarnya yang kita khawatirkan.

Basyr bin Al Harits Al Hafiy mengatakan, “Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang.”
Jika di lihat dilain sisi ketenaran yang dicari orang hingga ia kehilangan ketaqwaan. Kadang kepopuleran membuat ia bangga pada diri sendiri ( ujub ) dan menjadi sombong dan bisa merusak hubungan silaturahmi karena memandang rendah orang lain. Kesombongan karena ketenaran ini banyak terjadi di masyarakat, apakah ia menjadi artis terkenal, menjadi kaya raya dan menjadi pemimpin/pejabat berkedudukan.

Ada sebagian masyarakat yang menempatkan dirinya berbeda kelas dengan yang lain. Kesombongan seperti ini hendaknya dihindari karena bedanya seseorang dimata Allah SWT. hanyalah ketakwaannya, bukan karena kepintaran, kekayaan dan jabatan serta ketenarannya. Kesombongan yang mudah dirasakan adalah saat seseorang meningkat jabatannya dan berubah sikap dan perilaku terhadap para koleganya, ini jelas menjijikan dan ia telah berbuat sia-sia menuju tergelincir.

Tulisan kami tutup dengan firman-Nya surah Luqman ayat 18 yang artinya, “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” Makna ayat ini adalah : Dan jangan memalingkan wajahmu dari manusia bila kamu berbicara dengan mereka atau mereka berbicara kepadamu dalam rangka merendahkan mereka atau karena kamu menyombongkan diri atas mereka. Dan jangan berjalan di muka bumi di antara manusia dengan penuh kesombongan dan keangkuhan. Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri dalam penampilan dan ucapannya.

Ingatlah pada hakikatnya jati diri seseorang akan terlihat sama saat dalam keadaan sehat. Namun, jika cobaan ( tenar, kaya, jabatan tinggi ) turun, maka tampaklah siapa yang menyembah Allah SWT. dan siapa yang menyembah selain-Nya.

Semoga Allah SWT. selalu membimbing dan melindungi kita semua saat menjadi tenar hanyalah karena karunia-Mu bukan menjadi bangga diri dan meremehkan orang lain.

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Menjaga Bumi



Jakarta

Allah SWT. berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 30 yang artinya,”(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””

Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir-nya mengartikan bahwa khalifah merupakan orang yang memutuskan perkara di antara manusia tentang kezaliman yang terjadi di tengah-tengah mereka, dan mencegah mereka untuk melakukan perbuatan terlarang dan berdosa. Juga menjadi pengganti-Nya dalam memutuskan perkara secara adil di antara semua makhluk-Nya.

Saat ini, usia bumi sudah mencapai ribuan miliar. Segala sumber daya yang ada di bumi dipakai terus menerus untuk kehidupan manusia. Sehingga di era modern ini sumber daya alam yang ada di bumi terus terkikis semakin habis, karena tidak adanya pembaharuan lagi. Maka dari itu timbul perhatian para elit global untuk menemukan cara agar sumber daya alam yang ada di bumi tidak cepat habis, atau menemukan sumber daya yang terbarukan.
Selama ini pemakaian sumber daya alam di bumi dilakukan secara eksploitatif sehingga menimbulkan permasalahan baru di bidang lingkungan yang juga berdampak pada perekonomian.
Sistem ekonomi yang bersifat eksploitatif dan merusak lingkungan, saat ini sudah tidak relevan untuk digunakan. Jika sistem ekonomi eksploitatif terus dipertahankan, kehidupan makhluk hidup di bumi akan terganggu. Seperti adanya kegiatan ekstraksi sumber daya alam berlebihan yang berakibat pada terjadinya bencana. Ditambah dengan adanya perubahan iklim. Dari hasil pemikiran tersebut, maka timbul sebuah konsep green economy atau ekonomi hijau.


Tulisan ini akan membahas bahwa green economy yang dianggap sebagai solusi dari permasalahan ekonomi dan lingkungan yang terjadi saat ini. Tanpa disadari, kerusakan lingkungan yang diakibatkan eksploitasi besar-besaran oleh perusahaan dan paham kapitalis menghasilkan kerusakan yang lebih luas bagi kehidupan manusia di bumi. Manusia, alam, dan makhluk yang ada di bumi merupakan satu kesatuan yang bersifat timbal balik sehingga harus dijaga kelestariannya untuk generasi yang akan datang. Pada tulisan ini, penulis berusaha untuk memaparkan kesesuaian konsep antara green economy dengan konsep yang berlandaskan al-Qur’an dan Hadis. Tujuan dari syariat Agama Islam (maqashid syariah) adalah terwujudnya kemaslahatan bagi manusia.

Apa sebenarnya ekonomi hijau itu ? Bahwa green economy adalah suatu gagasan ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesetaraan sosial masyarakat, sekaligus mengurangi risiko kerusakan lingkungan secara signifikan atau juga diartikan perekonomian yang rendah/ tidak menghasilkan emisi karbondioksida terhadap lingkungan, hemat sumber daya alam, dan berkeadilan sosial.

Prof. Dr. Sri Adiningsih tidak menyalahkan sikap manusia untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya di muka bumi ini, namun tentu kegiatan tersebut harus disertai oleh tanggung jawab terhadap ketertiban sosial dan kelestarian alam di sekitar.

Tanggung jawab manusia yang mengambil manfaat dari bumi hendaknya mengacu pada surah al-Baqarah ayat 30. Disini jelas ( apalagi seorang muslim ) berkewajiban menjaga kelestarian agar manfaat tersebut berkesinambungan.

Ekonomi hijau selain melindungi lingkungan juga memberikan manfaat yang luas seperti :
1. Meningkatkan Lapangan Kerja. Investasi dalam ekonomi hijau akan mampu menyerap 7-10 kali lipat tenaga kerja daripada investasi konvensional. Hal ini terjadi karena sektor hijau cenderung menggunakan tenaga kerja lebih banyak ( padat karya ). Dalam perspektif Islam, tentang kerja tertuang dalam beberapa surah dalam Al-Qur’an seperti : “… Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu …” (QS 9: 105). ” … Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah) …” (QS 34:13).”Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya …” (QS 67:15).
2. Mengurangi Limbah. Penerapan ekonomi hijau akan berkontribusi mengurangi limbah sekitar 18-52% dibanding bisnis konvensional. Penerapan pola ini menunjukkan bahwa pelakunya sadar kalau tindakan menjaga bumi merupakan perintah-Nya. Pengolahan limbah sampah dan menjaga alam dengan mengurangi limbah dalam Islam sendiri sangat dianjurkan, sesuai dengan Firman Allah dalam surah al-A’raf ayat 56, yang artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).
3. Meningkatkan Ketahanan Pangan. Dengan menerapkan prinsip ekonomi hijau, perubahan iklim yang berdampak negatif terhadap produksi pangan dan kelautan dapat dicegah sehingga ketahanan pangan akan terjaga. Dalam Islam sendiri, ketahanan pangan merupakan suatu kondisi dimana umat Islam memiliki akses yang aman dan berkelanjutan terhadap pangan yang cukup, bergizi, dan terjangkau. Islam memandang bahwa ketahanan pangan merupakan salah satu maqashid syariah (tujuan syariat), yaitu menjaga jiwa (hifz al-nafs).

Seorang Pemimpin dalam suatu negeri yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan, maka rakyat yang dipimpin akan menanggung beban berat bagi kelangsungan hidup generasi berikutnya. Bertepatan dengan semakin dekatnya pemilihan pemimpin negeri serta wakil-wakil rakyat di Parlemen, maka pilihlah yang mempunyai komitmen dalam menjaga bumi. Bumi ini bukan milik mereka ( yg berbisnis dengan sumber daya alam ) namun mereka harus menjaga kelangsungannya, ingatlah firman-Nya di atas bahwa manusia tidak merusak bumi. Jika fakta menunjukkan bahwa dia mengeksploitasi yang mengakibatkan rusaknya bumi, maka dia telah melanggar firman tersebut.

Semoga Allah SWT. memberikan petunjuk bagi semua hamba-Nya untuk tetap menjaga bumi dalam mengambil manfaat bumi ini.

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Hamba yang Tahu Diri



Jakarta

Menurut Imam Ghazali, manusia di golongkan dalam dua kelompok yaitu :

Pertama, orang yang selalu memikirkan keindahan dunia dan berangan-angan untuk dapat hidup selamanya.
Kedua, orang yang berpikiran sehat. Golongan ini selalu mengarahkan pandangannya menuju negeri akhirat. Mereka memikirkan dan bertanya, kemana ia akan kembali dan bagaimana mereka dapat berpulang ke rahmatullah dengan membawa bekal keimanan yang sempurna. Mereka juga memikirkan bekal apa yang dapat di bawah dari dunia untuk menjadi pendampingnya kelak di alam kubur. Khusus kepada pencinta dunia dan penguasa, wajib mempunyai jalan pemikiran seperti di atas. Kenapa ? Karena umumnya, mereka seringkali membuat orang lain menjadi lain dengan maksud buruk. Mereka ( pencinta dunia dan penguasa ) sering membuat panik orang banyak dan menjadikan hatinya was-was dan takut.

Dalam kehidupan sehari-hari kita telah mengenal kata “petugas” apakah itu petugas sebagai aparat keamanan, aparat sipil dan lain sebagainya. Saat ini penulis akan mengelompokkan petugas dalam dua kategori :


1. Petugas Allah SWT. yang bernama Izrail. Petugas ini mempunyai sifat, seorangpun tidak dapat berlari dan berpaling darinya. Selalu patuh atas perintah-Nya sehingga tidak pernah menyimpang. Tidak meminta bantuan atau sogokan maupun pertolongan. Tidak mengenal kompromi, jika waktunya tiba saat itu ia mengejsekusi.
3. Petugas kerajaan. Mempunyai sifat, senang meminta bantuan atau sogokan. Bisa diajak bernegosiasi, sehingga kadangkala menyimpang dari tugasnya. Petugas ini fleksibel, waktu pelaksanaan bisa dimajukan maupun diundur sesuai dengan kebutuhan.

Dikisahkan oleh seorang pemuka agama Yahudi yang telah memeluk Islam. Ia bercerita, ” Ada seorang raja yang agung dan mempunyai kekuasaan yang besar. Konon ia hendak berkeliling ke seluruh daerah kekuasaannya. Ia bersama para budak dengan pakaian kebesarannya yang mewah menaiki kuda pilihan yang bisa berlari cepat. Sang Raja begitu bangga dan besar kepala dengan kedudukan kekuasaannya. Kemudian raja terpengaruh atas bisikan iblis yang meniupkan angin kesombongan dan kecongkakan. Maka berkatalah sang raja dalam hati, “Siapakah di dunia ini yang sebesar diriku.” Inilah bentuk ketakaburan sang raja, hingga dia merasa tidak ada orang lain sebesar dirinya.

Dalam perjalanannya sang raja dihentikan oleh seseorang lelaki berpakaian lusuh dan compang camping. Lelaki itu mengucapkan salam, namun tidak dijawab sang raja. Lalu lelaki itu memegang kendali kuda sang raja. Raja berkata, “Lepaskan kedua tanganmu, kamu tidak tahu kendali siapa yang kamu pegang ini?”
“Aku ada perlu denganmu.” Tegas lelaki itu.
“Tunggu, aku turun dulu.” Sahut raja.
Lelaki itu pun berkata, “Aku memerlukanmu sekarang juga. Bukan setelah turun dari kuda.”
“Apa perlumu? Tanya raja.
Jawabnya, “Ini rahasia. Tidak dapat aku cerita kecuali aku bisikkan lewat telingamu.” Kemudian sang raja memasang telinga baik-baik untuk dapat mendengarkan keperluannya.
Orang itu berkata, “Aku adalah malaikat maut pencabut nyawa. Aku datang untuk mencabut nyawamu.”
“Tunggu!”Pinta sang raja, “Sampai aku kembali ke rumahku dan menitipkan anak-anak dan istriku.”
“Tidak. Kau tidak akan dapat kembali ke rumahmu dan tidak akan dapat melihat keluargamu untuk selama-lamanya. Karena usiamu sudah berakhir sampai disini.” Malaikat pencabut nyawa menarik sang raja yang sedang menunggang kuda itu, maka matilah dia.

Dalam kisah ini mengandung makna bahwa sang raja ini sombong karena mempunyai kekuasaan yang besar dan disebut agung. Ingatlah bahwa kekuasaan sering membuat seseorang tergelincir dan jatuh. Kekuasaan yang besar membuat dia ( sang raja ) merasa bisa melakukan apa saja, termasuk menjadikan sesuatu dan hidup mewah. Disini menjadi bahaya karena bisa ikut mengatur “Pengaturan-Nya.” Ini yang menjadikan Allah SWT. murka padanya.

Dalam surah al-Baqarah ayat 255 yang artinya, “Allah, tidak ada Tuhan ( yang berhak disembah ) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus ( makhluk-Nya ).”
Allah SWT. lah yang telah mengurus dunia dan akhirat, mengurus dunia dengan rezeki dan pemberian, mengurus akhirat dengan pahala dan pembalasan.

Jika seorang hamba mengetahui dirinya telah diurus secara total oleh-Nya, niscaya dia akan mempersembahkan kepatuhan dan kepasrahan kepada-Nya. Bukan ikut campur dalam pengurusan yang menjadi domain Sang Pencipta. Dia melepaskan dirinya di hadapan Allah SWT. seraya berserah diri dan ridha atas keputusan yang telah ditetapkan untuknya. Ingatlah perkataan sang raja meski dalam hatinya, “Siapakah di dunia ini yang sebesar diriku.” Pernyataan ini menunjukkan kesombongan yang luar biasa, seakan dia yang paling besar di dunia ini. Sombong itu seorang hamba tiadalah punya karena kesombongan itu pakaian Sang Pencipta.

Saat-saat ini, negeri tercinta ini mulai riuh rendah terjadi klaim tentang kehebatan diri, mengatur dan membuat kondisi seperti yang diharapkan, beradu strategi untuk memperoleh simpati masyarakat. Kadang segala upaya dilakukan meski kurang sepatutnya, hingga menimbulkan polarisasi di masyarakat. Ingatlah bahwa kuasa mengatur dan menjadikan seseorang mulia maupun hina hanya oleh-Nya bukan oleh makhluk. Maka hati-hatilah wahai orang-orang yang merasa jagoan berstrategi jika pada saatnya didatangi petugas Tuhan yang tidak mau diajak negosiasi, engkau pasti tidak berkutik seperti saat sang raja dicabut nyawanya.

Ya Allah, teguhkanlah iman kami dari godaan dunia agar kami tidak termasuk dalam golongan pertama, yaitu orang-orang yang mencintai keindahan dunia dan berangan ingin hidup selamanya. Mantapkan hati kami untuk bersandar pada-Mu bukan pada makhluk sebagaimana saat ini sebagian orang sesama makhluk saling bergantung dan saling mengunci.

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Membandel



Jakarta

mem-ban-del itu bersikap kepala batu; tidak mau menurut (mendengar, memperhatikan) nasihat atau perintah orang lain. Sering kita jumpai seseorang bersikap kepala batu, ini terjadi karena merasa diri yakin akan sikapnya meski banyak orang telah memberikan masukan. Orang yang membandel bukan di monopoli orang yang mempunyai kekuasaan besar, ada kalanya orang awam, bisa juga akademisi. Oleh karena itu, perlunya membuka hati dengan jernih agar kita bisa menilai sesuatu dengan tepat.

Berdasarkan sifatnya, akhlak dalam Islam dapat dibagi menjadi dua yakni akhlak baik (akhlaqul-karimah) dan akhlak buruk (akhlaqul-mazmumah). Contoh akhlak buruk adalah sifat keras hati, munafik, sombong, serta keras kepala. Pembahasan kali ini akan berfokus pada sifat keras kepala menurut Islam. Adapun pengertian keras kepala adalah sikap seseorang yang menolak untuk mengubah pendirian, bahkan dengan bantuan pengaruh dan nasihat orang lain sekalipun. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-A’raf ayat 71 yang artinya, “Dia [Hud] berkata, ‘Sungguh, sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan Aku tentang nama-nama [berhala] yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah tidak menurunkan sedikit pun hujah [alasan pembenaran] untuk itu? Maka, tunggulah [azab dan kemarahan itu]! Sesungguhnya aku bersamamu termasuk orang-orang yang menunggu,”

Makna ayat di atas adalah Hud menjawab ucapan mereka dengan mengatakan, “Kalian benar-benar pantas menerima azab dan murka dari Allah. Azab itu pasti akan datang kepada kalian, bukan sesuatu yang mustahil. Apakah kalian hendak berdebat denganku tentang berhala-berhala yang kalian dan leluhur kalian sebut sebagai tuhan, padahal sebenarnya tidak nyata? Karena Allah tidak pernah menurunkan hujah yang bisa kalian jadikan landasan untuk penyebutan berhala-berhala tersebut sebagai tuhan. Maka tunggulah azab yang kalian minta itu. Dan aku pun menunggu bersama kalian. Azab itu pasti datang.”


Sikap bandel tidak hanya dialami kaum Nabi Hud as. Juga orang Quraisy pada saat naskah boikot telah dimakan rayap. Dikisahkan waktu itu Abu Thalib berada di dekat Ka’bah. Dia datang karena Allah SWT. telah memberitahu Rasul-Nya tentang naskah perjanjian itu, bahwa Allah SWT. telah mengirimkan rayap yang telah melumatkan seluruh kelaliman dan memutus silaturahmi yang terkandung di dalam naskah itu, kecuali tulisan Allah SWT. Rasulullah SAW. memberitahukan kepada pamannya, hingga sang paman menemui kaum Quraisy untuk memberitahu mereka bahwa keponakannya berkata begini dan begini. Kemudian Abu Thalub berkata, “Jika ia berdusta, kami serahkan ia kepada kalian. Tapi jika ia benar, kalian harus menghentikan upaya mengucilkan dan menzalimi kami.”
Mereka menjawab, “Tawaran yang adil.”

Kemudian terjadi dialog diantara orang-orang yang ingin merobek naskah sahifah itu. Sebelum dirobek, mereka menyaksikan rayap telah memakannya, kecuali tulisan ” Dengan nama-Mu ya Allah.” Ini menunjukkan tulisan yang mengandung nama-Nya tidak dimakan oleh rayap tersebut. Kemudian Rasulullah SAW. dan orang-orang yang bersamanya meninggalkan syi’ib. Disini kaum musyrikin telah menyaksikan salah satu bukti besar kenabian Muhammad SAW. akan tetapi mereka tetap keras kepala. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Qamar ayat 2 yang artinya, “Dan jika mereka ( orang-orang musyrikin ) melihat suatu tanda ( mukjizat ), mereka berpaling dan berkata, ‘( Ini adalah ) sihir yang terus menerus.'”

Kebandelan mereka makin menjadi dan makin kafir. Adapun ide merobek naskah ini bermula dari ide mereka ( musuh-musuh Islam ). Namun, Allah SWT. berkehendak naskah itu tidak dirobek kecuali dengan sebuah mukjizat-Nya agar tak ada seorangpun yang menyimpan jasa kepada Nabi Muhammad SAW.

Hal yang sama juga tampak pada sikap Bangsa Yahudi ( Israel ) terhadap bangsa Palestina. Kebandelan mereka untuk menghabisi suku bangsa ini sudah berlangsung cukup lama dan korban yang hampir mencapai 10.000 orang pada akhir Oktober 2023. Kesombongan mereka ini semata karena ada dukungan nyata dari negara besar seperti USA dan beberapa negara Eropa, mereka lupa dan mengesampingkan kekuatan yang sangat besar pada Sang Pencipta. Memang kekuatan dan kekuasaan bisa menjadikan seorang pemimpin “merasa” dirinya bisa menjadikan/mengangkat seseorang. Hal ini sering menjadikan seseorang yang berkekuatan bersikap keras kepala, nasihat kiri dan kanan hanya angin lalu. Ujian dunia bisa lulus ( tidak terkena azab ) dan bisa juga terjerambab, namun rapor akhirat yang kekal menjadi kepastian bagi dirinya menerima hasil dari perbuatannya.

Bagaimana untuk menghadapi orang yang bersikap keras kepala menurut Islam ? Orang keras kepala sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, diperlukan cara yang tepat menghadapi orang yang keras kepala sehingga tidak menimbulkan permasalahan. Berikut ini cara menghadapi orang yang keras kepala menurut Islam:
1. Bersabar. Orang yang menghadapi orang yang keras kepala harus bersabar mulai menerima dan berusaha melihat lebih dulu sudut pandangnya. Setelah itu, jelaskan dengan tegas argumen yang mematahkan pendapat orang tersebut.
2. Menghindari konfrontasi. Saat menghadapi orang yang keras kepala, usahakan menghindari konfrontasi langsung. Jika dilawan secara langsung, orang keras kepala akan semakin bersikeras dengan pandangannya dan biasanya marah. 3. Berbicara jelas dan tegas. Untuk menghadapi orang yang keras kepala dengan pendapatnya, kita harus menjawab secara jelas dan tegas, disertai fakta-fakta serta argumen yang mendukung.

Semoga Allah SWT. selalu mengingatkan kita agar bersikap tahu diri, rendah hati dan jauh dari sikap keras kepala.

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Bercanda



Jakarta

Badruddin Abul Barakat Muhammad Al-Ghizzi seorang penulis menyebutkan, “dianjurkan agar bercanda diantara pada saudara-saudara dan teman, karena itu menghibur hati dan mempermudah tujuan. Dengan syarat tidak melontarkan suatu tuduhan, tidak menjatuhkan wibawa atau mengurangi kehormatan seseorang, tidak keji sehingga menyebabkan permusuhan dan dengki.”

“Canda itu dicela apabila sampai pada tahap menjadi kebiasaan dan berlebihan,” kata Badruddin.

Tidaklah diragukan bahwa bercanda itu bisa membuat rasa senang, gembira dan bahagia untuk mengusir kebosanan dan rasa lelah. Orang boleh membuat suasana senang dalam bertemu orang dengan sedikit gurauan ringan asalkan tidak banyak atau tidak memperbanyak tertawa sampai berlebihan. Rasa senang itu merupakan kondisi psikologis atau suasana hati, hal ini akan mempengaruhi hormon yang dihasilkan otak. Kalau kita sedang bahagia (senang), maka otak akan memproduksi zat endorfin yang sangat berguna bagi tubuh. Sebaliknya jika kita sedang stres, marah, maka zat yang dihasilkan otak adalah dopamine, cortisol, dan adrenalin, yang bisa mengganggu keseimbangan sistem tubuh.


Dalam buku karangan Syeikh Mahmud Al-Mishri yang diterjemahkan oleh Ustad Abdul Somad dengan judul Semua Ada Saatnya, menjelaskan tiga kelompok manusia berdasarkan candaannya:

Pertama, orang yang menghabiskan waktu malam dan siangnya hanya dengan tawa dan senda gurau. Kondisi ini berlebihan karena dengan banyaknya tertawa dilarang oleh utusan-Nya. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda, “Jangan perbanyak tawa, karena banyaknya tawa itu mematikan hati,” (HR. Ibnu Majah).

Kelompok kedua, yakni orang yang bermuka masam dan tidak pernah menunjukkan senyum di wajahnya. Ini termasuk hal yang tercela karena menyebabkan orang lain menjauh bahkan membencinya. Rasulullah SAW. bersabda, “senyumanmu ke wajah saudaramu adalah sedekah bagimu,” (HR. Bukhori). Sebenarnya sangat mudah merubah wajah yang masam menjadi wajah yang suka senyum. Selalu ingatlah sabda Rasulullah SAW. dan hilangkan hati yang keruh (penyebab wajah masam).

Kelompok terakhir, adalah mereka yang berasa di pertengahan antara dua golongan sebelumnya. Rasulullah SAW. sendiri termasuk dalam golongan ini, beliau sesekali bercanda dan dalam candaannya hanya melontarkan hal yang benar saja, tanpa perlu mengada-ngada atau menjelekkan seseorang demi mengundang tawa orang lain. Kelompok ini menjadi dambaan kita semua agar bisa menyeimbangkan dan di posisi pertengahan. Bercanda untuk melepaskan kepenatan batin adalah kebutuhan, namun Islam memberikan teladan dengan bercanda gaya Rasulullah SAW.

Dalam suatu riwayat, seorang wanita tua mendatangi Rasulullah SAW. Ia menanyakan perihal surga. “Wanita tua tidak ada di surga,” sabda Rasulullah SAW.

Mendengar ucapan itu, si nenek pun menangis tersedu-sedu. Rasulullah SAW. segera menghiburnya dan menjelaskan makna sabdanya tersebut itu. “Sesungguhnya ketika masa itu tiba, Anda bukanlah seorang wanita tua seperti sekarang.”

Rasulullah pun kemudian membacakan ayat, “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.” (QS al-Waaqi’ah ayat 35-36). Akhirnya, si nenek tua tadi pun tersenyum.

Model yang diajarkan Rasulullah SAW, sangat jauh dari fenomena yang terjadi di masyarakat. Seperti, tontonan-tontonan yang semata bertujuan membuat pemirsanya tertawa. Di antaranya, lawakan yang penuh dengan materi bohong, mengada-ada, dan berpura-pura bodoh.
Bahkan, ada yang menyalahi kodrat illahi, seperti berpura-pura menjadi banci agar orang tertawa. Padahal, laki-laki yang berpura-pura menjadi wanita atau sebaliknya mendapat laknat yang keras disisi Allah SWT.

Kebanyakan dunia televisi menyajikan lawakan yang kasar. Kerap ditemui materi lawakan berupa olok-olokan yang merendahkan orang lain. Mereka sengaja menghina kekurangan rekan mereka hingga membuka aibnya.

Acara komedi seperti ini jelas bertentangan dengan firman Allah-Nya. “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”(QS al- Hujuraat :11).

Ada beberapa contoh bercanda yang merugikan, seperti seseorang memperolok sahabatnya sehingga menjadi bahan tertawaan sahabat lainnya. Kemarin hari Rabu 6.12.23 siang penulis merasakan sendiri sebagai penumpang Pelita Air dari Juanda tujuan Cengkareng, karena ulah seorang yang berkata tasnya ada bom pada salah seorang pramugari. Hal ini berakibat “drama sekitar 3 jam” di dalam pesawat dan berakibat buruknya baginya ( yang bercanda ). Kerugian yang terjadi sangat besar, dalam kurun waktu tertentu tidak pesawat yang pergi maupun datang dan menyebabkan rentetan penundaan penerbangan.

Jelas sekali tuntunan bagi orang yang beriman jika bercanda dengan teman maupun saudaranya. Bercandalah dengan materi yang benar, bukan mengada-ada atau memperolok-olok, dan menyebar kebohongan (kasus Pelita Air) karena hal itu jelas dilarang seperti firman-firman Allah SWT. tersebut di atas. Semoga Allah SWT. selalu memberikan keteguhan agar kita semua tidak keluar jalur dalam bercanda dan mengikuti yang dicontohkan Rasul-Nya.

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com