Tag Archives: hikmah

6 Doa agar Rezeki Dimudahkan, Yuk Amalkan!


Jakarta

Rezeki merupakan hak-hak tiap makhluk di muka Bumi. Dalam Islam, rezeki tidak melulu soal materi atau finansial, melainkan lebih dari itu.

Nikmat sehat, berkah umur, mudah jodoh dan terhindar dari segala marabahaya termasuk ke dalam rezeki yang Allah berikan kepada tiap-tiap umatnya. Rezeki ditujukan kepada siapa saja yang Allah SWT kehendaki.

Dengan demikian, rezeki tidak hanya diberikan kepada mereka yang taat beribadah, tetapi juga bagi mereka yang ingkar. Rezeki bagi orang-orang ingkar disebut dengan istidraj, artinya rezeki tersebut dapat mendatangkan azab.


Berkaitan dengan itu, ada doa yang dapat dibaca agar rezeki seseorang dimudahkan. Menukil dari buku Surga yang Allah Janjikan karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Allah SWT menyukai hamba yang paling sering berdoa dan orang yang memohon dengan sungguh dalam berdoa.

Diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Barangsiapa tidak mau meminta kepada Allah, Allah akan marah kepadanya,” (HR Bukhari, Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Bacaan Doa agar Rezeki Dimudahkan

Mengutip buku Doa Mengundang Rezeki susunan Islah Susmian dan buku Cara Kaya Seperti Nabi Sulaiman tulisan Ahmad Zainal Abidin, berikut sejumlah doa yang bisa dipanjatkan agar rezeki seseorang dimudahkan.

1. Doa Dimudahkan Rezeki di Pagi Hari

اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ

Arab latin: Allahmumma inni ashbahtu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika wa mala’ikatika wa jami’a khalqika annaka antallahu lailaha illa anta wa anna Muhammadan ‘abduka wa rasuluka

Artinya: “Ya Allah, aku berada di waktu pagi bersaksi atas-Mu, dan kepada para pembawa Arsy-Mu, kepada semua malaikat, dan kepada semua makhluk-Mu, bahwa Engkau adalah Allah yang tidak ada Tuhan selain Engkau, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Mu,” (HR Abu Daud).

2. Doa Dimudahkan Rezeki serta Ilmu yang Bermanfaat

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Arab latin: Allaahumma inii as-aluka rizqan thayyiban wa ‘ilman naafi’an wa ‘amalan mutaqabbalan

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu rezeki yang baik, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang diterima,” (HR Al Mustaghfiri).

3. Doa Dimudahkan Rezeki yang Luas

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِيْ رِزْقًا حَلاَلاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلاَ مَشَقَّةٍ وَلاَ ضَيْرٍ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

Arab latin: Allaahumma innii as’aluka an tarzuqanii rizqan waasi’an thayyiban min ghairi ta’abin, innaka a’laa kulli sya’in qadiirun

Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk berkenan memberiku rezeki yang luas serta baik, tanpa payah. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu,”

4. Doa Pembuka Pintu Rezeki

اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ وَ أَمْسَيْتُ وَأَنَا أُحِبُّ الْخَيْرَ وَأُكْرِهُ الشَّرِّ وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِي الْعَظِيمِ

Arab latin: Allahumma innii ashbahtu wa amsaitu wa ana uhibbul khaira wa ukrihusy syarra wa subhaanallaahi wal-hamdu lillaahi walaa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim.

Artinya: “Ya Allah, aku bangun di pagi hari dan pulang pada sore hari, dan aku senang terhadap perkara yang baik dan aku benci akan perkara yang buruk. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah. Maha Besar Allah, tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Luhur lagi Maha Agung,”

5. Doa agar Rezeki Berlimpah

اللَّهُمَّ يَا أَحَدُ يَا وَاحِدُ يَا مَوْجُوْدُ يَا جَوَّادُ يَابَاسِطُ يَا كَرِيمُ يَاوَهَّابُ يَاذَا الطُّوْلِ يَاغَنِيُّ يَا مُغْنِي يَافَتَاحُ يَارَزَّاقُ يَا عَلَيْمُ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ يَارَحْمَنُ يَا رَحِيمُ يَابَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَاذَا جَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا حَنَّانُ يَامَنَّانُ الْفَحْنِي مِنْكَ بِنَفْحَةِ خَيْرٍ تُغْنِنِي عَمَّنْ سَوَاكَ

Arab latin: Allaahumma yaa ahadu ya waahidu ya maujuudu yaa jawwaadu yaa baasithu yaa kariimu ya wahhaabu yaa dzath thauli yaa ghaniyyu yaa mughnii yaa fattaahu yaa rozzaaqu yaa ‘aliimu yaa hayyu yaa qayyuum yaa rahmaanu yaa rahiim yaa badii’us samaawati wal ardhi yaa dzal jalaali wal ikraam yaa hannanu yaa mannaanu infahni minka binafhati khairin tughnini ‘amman siwaaka.

Artinya: “Ya Allah, wahai Dzat yang Maha Esa tiada terbagi-bagi, wahai Dzat yang Maha Esa tiada bersekutu, wahai Dzat yang Maujud, wahai Dzat yang Maha Pemurah, wahai Dzat yang Maha Pembagi, wahai Dzat yang Maha Mulia, wahai Dzat yang Maha Pemberi, wahai Dzat yang Memiliki Anugrah, wahai Dzat yang Maha Kaya, wahai Dzat yang Maha Pemberi wahai Dzat yang Maha pembuka pintu rezeki, wahai Dzat yang Maha Mengetahui, wahai Dzat yang Maha Hidup, wahai Dzat yang Maha Pengasih, wahai Dzat yang Maha Penyayang, wahai Dzat yang Maha Pemberi Anugrah, limpahkanlah rezeki dari-Mu dengan kelimpahan sebaik-baiknya yang dapat memberikan kecukupan bagi diriku, terlepas dari pengharapan pemberian siapapun selain Engkau,”

6. Doa Nabi Sulaiman AS Memohon Rezeki pada Allah SWT

Nabi Sulaiman diberikan harta yang melimpah oleh Allah SWT. Kala itu, tak ada seorang pun yang dapat menandingi jumlah kekayaannya.

Beliau senantiasa berdoa untuk memohon rezeki kepada Allah SWT, salah satunya dengan membaca doa yang termaktub dalam Al-Qur’an sebagai berikut,

قَالَ رَبِّ ٱغْفِرْ لِى وَهَبْ لِى مُلْكًا لَّا يَنۢبَغِى لِأَحَدٍ مِّنۢ بَعْدِىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

Arab latin: Qāla rabbigfir lī wa hab lī mulkal lā yambagī li`aḥadim mim ba’dī, innaka antal-wahhāb

Artinya: Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi,” (QS Shaad: 35).

Demikian sejumlah doa yang dapat dipanjatkan untuk memudahkan rezeki. Jangan lupa diamalkan ya!

(aeb/nwk)



Sumber : www.detik.com

Hadits Surga di Telapak Kaki Ibu dalam Islam, Ini Penjelasannya


Jakarta

Ada salah satu bunyi hadits yang mungkin dekat dengan keseharian masyarakat muslim Indonesia dan mungkin kerap diperbincangkan dalam konteks pembahasan keluarga. Isi hadits tersebut tentang surga di bawah telapak kaki ibu.

Diketahui, hadits tersebut merupakan potongan hadits yang diriwayatkan dari An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad. Berikut bunyi hadits yang bersanad shahih oleh Al-Hakim berikut,

عن معاوية بن جاهمة السلمي، أن جاهمة رضي الله عنه جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله أردت أن أغزو وقد جئت أستشيرك . فقال : هل لك من أم؟ قال نعم. قال : فالزمها فإن الجنة تحت رجليها


Artinya: Dari Mu’awiyah bin Jahimah As-Sulami, ia datang menemui Rasulullah SAW. la berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin ikut berperang dan saya sekarang memohon nasihat kepadamu?” Rasulullah SAW lalu bersabda, “Kamu masih punya ibu?” Mu’awiyah menjawab, “Ya, masih. Rasulullah SAW bersabda, “Berbaktilah kepada ibumu (lebih dahulu) karena sungguh ada surga di bawah kedua kakinya!”

Arti Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu

Terdapat berbagai hikmah yang dapat dipahami dan dipelajari dari hadits di atas. Menurut penjelasan Ronny Strada dalam buku Mencari Surga di Telapak Kaki Ibu karya Abdul Wahid, makna dari mencari surga di telapak kaki ibu adalah sebagai bentuk pengabdian kepada orang tua, terutama ibu.

Surga yang dimaksud di sini tidak hanya merujuk kepada surga akhirat semata. Sebaliknya, ini merujuk kepada upaya untuk mendapatkan ridha, kasih sayang, cinta, dan keikhlasan dari ibu.

Dengan berbakti kepada ibu, kita berharap agar Allah SWT memberikan petunjuk dan pengampunan-Nya kepada kita. Dengan demikian, di masa depan kita akan mendapatkan perlindungan dalam menjalankan semua perintah-Nya dan diberikan kekuatan untuk menjauhi segala larangan-Nya.

Di dalam teks juga dijelaskan bahwa surga di bawah telapak kaki ibu merupakan kiasan yang menunjukkan bahwa sebagai anak, kita wajib untuk patuh dan berbakti kepada ibu. Cara berbakti kepada ibu adalah dengan menghormati, menghargai, dan memberikan prioritas pada kepentingannya.

Surga di bawah telapak kaki ibu adalah lambang dari ketaatan dan pengabdian kepada ibu. Sebab itulah, pengabdian tersebut menjadi jalan bagi kita untuk mencapai surga.

Beberapa Cara Mendapatkan Surga di Telapak Kaki Ibu

Dikutip dari sumber yang sama, ada beberapa cara agar kita dapat meraih surga di telapak kaki ibu. Berikut ini adalah caranya.

1. Memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada ibu, seperti membantu dalam tugas-tugas rumah tangga atau memberikan hadiah yang berarti, sebagai tanda penghargaan dan kebaikan terhadap ibu.

2. Menggunakan bahasa yang sopan dan menghormati ketika berkomunikasi dengan ibu, dengan menghindari ucapan yang kasar atau menyakitkan hati, sehingga mencerminkan rasa hormat dan perhatian kepada ibu.

3. Mendoakan ibu dengan ikhlas dan memohon doanya, mengungkapkan harapan baik dan kebaikan untuk ibu serta memohon berkah Allah agar ibu senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan keselamatan.

4. Memberikan semangat dan penghargaan yang besar kepada ibu, dengan kata-kata pujian, ungkapan terima kasih, dan memberikan dukungan moral yang kuat, sebagai bentuk penghormatan atas peran dan dedikasi ibu dalam hidup kita.

Berbakti kepada orang tua dikenal dengan istilah birrul walidain. Perkara ini bahkan diterangkan dalam firman-Nya surah Al Isra ayat 23 dan 24.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Selain itu, Rasulullah SAW juga pernah menyebut bahwa orang tua adalah pintu surga paling pertengahan. Beliau bersabda, “Orang tua merupakan pintu surga paling pertengahan, jika engkau mampu maka tetapilah atau jagalah pintu tersebut.” (HR Ahmad)

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

8 Hadits tentang Kebersihan, Bisa Diterapkan dalam Keseharian


Jakarta

Kebersihan sebagian dari iman. Ungkapan tersebut menjadi bukti pentingnya kebersihan dalam ajaran Islam.

Bahkan, Rasulullah SAW sendiri sangat menganjurkan umat Islam untuk menjaga kebersihan. Dijelaskan dalam buku Pendidikan Akhlak Berbasis Hadits Arba’in An-Nawawiyah susunan Dr Saifudin Amin MA, kebersihan jadi tolak ukur kehidupan kaum muslimin.

Hal tersebut dibuktikan dalam kitab-kitab fikih klasik diawali dengan pembahasan thaharah atau bersuci. Selain itu, kaum muslimin juga harus membersihkan diri sebelum menghadap Allah SWT, seperti berwudhu.


Berikut sejumlah hadits yang membahas tentang kebersihan seperti dinukil dari Kitab Ihya’ Ulumuddin oleh Imam Al-Ghazali dan buku Fiqih Thaharah karangan Ibnu Abdullah.

7 Hadits tentang Kebersihan

1. Sebagai Kunci Diterimanya Salat

مِفْتاَحُ الصَّلاَةِ الطُّهُوْرُ.

Artinya: “Kunci (diterimanya atau sahnya) shalat adalah bersuci,” (HR Tirmidzi, Ahmad, al-Baihaqi, Hakim, Ibnu Majah, ad-Daruquthni, dan ad-Darimi)

2. Allah SWT Menyukai Tempat yang Bersih

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ, نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ, كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ, جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ, فَنَظِّفُوا أَفْنِيَتَكُمْ

Artinya: “Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu,” (HR Tirmidzi)

3. Kebersihan Sebagian dari Iman

الطُهُورُ نِصْفُ الإِيْمَانِ.

Artinya: “Kesucian adalah sebagian dari iman,” (HR Muslim)

4. Islam Dibangun Atas Dasar Kebersihan

تَنَظَّفُوْا بِكُلِّ مَا اِسْتَطَعْتُمْ فَاِنَ اللهَ تَعَالَي بَنَي الاِسْلاَمَ عَلَي النَظَافَةِ وَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ اِلاَ كُلُّ نَظِيْفٍ

Artinya: “Bersihkanlah segala sesuatu semampu kamu. Sesungguhnya Allah ta’ala membangun Islam ini atas dasar kebersihan dan tidak akan masuk surga kecuali setiap yang bersih,” (HR Ath-Thabrani)

5. Menjaga Kebersihan Masjid dan Mushola

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وسلم ببنيان المساجد في الدور ، وأمر أن تنظف وتطيب “. أخرجه أحمد في “المسند” (26386) ، وصححه الشيخ الألباني في السلسة الصحيحة (2724)

Artinya: “Rasulullah SAW memerintahkan untuk membangun masjid di perkampungan. Dan memerintahkan untuk membersihkan dan memberi wewangian,” (HR Ahmad)

6. Anjuran Membersihkan Halaman

طَهِّرُوا أَفْنِيَتَكُمْ ، فَإِنَّ الْيَهُودَ لَا تُطَهِّرُ أَفْنِيَتَهَا ” . أخرجه الطبراني في “المعجم الأوسط” (4057) ، وحسنه الشيخ الألباني في “السلسلة الصحيحة”

Artinya: “Bersihkan halaman kamu, karena sesungguhnya orang Yahudi tidak membersihkan halamannya,” (HR Thabrani)

7. Pahala Menjaga Kebersihan

Rasulullah mengatakan bahwa Allah SWT menjanjikan surga bagi yang membersihkan dahan pohon di jalanan,

مرَّ رجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيْقٍ فَقَالَ : وَاللَّهِ لَأُنَحِّيَنَّ هذَا عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ لَا يُؤْذِيْهُمْ، فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ

Artinya: “Ada seorang lelaki yang membuang dahan pohon yang menghalangi jalan, lalu ia berkata, “Demi Allah, aku akan singkirkan dahan ini agar tidak mengganggu dan menyakiti kaum muslimin,” maka Allah pun memasukkannya ke surga,” (HR Muslim)

(aeb/nwk)



Sumber : www.detik.com

Surga Disebut Ada 100 Tingkatan, Jaraknya Sejauh Langit dan Bumi



Jakarta

Surga disebut memiliki 100 tingkatan dengan Firdaus sebagai tingkatan tertinggi. Menurut sebuah hadits, jarak setiap dua tingkatan seperti jarak antara langit dan bumi.

Hadits yang memuat tingkatan surga ini dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dari Muadz bin Jabal dan turut dinukil Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dan Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Shifat Al-Jannah wa ma ‘A’adda Allahu li Ahliha min An-Na’im. Muadz bin Jabal mendengar Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa yang mengerjakan salat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadan, maka menjadi kewajiban bagi Allah untuk mengampuninya, baik ia ikut hijrah atau duduk saja di tempat ia dilahirkan ibunya.”


Muadz bin Jabal bertanya, “Ya Rasulullah, tidakkah sebaiknya aku keluar untuk memberitahukan hal ini kepada orang-orang?”

Beliau menjawab, “Jangan biarkan orang-orang itu beramal. Sesungguhnya dalam surga ada seratus tingkatan, di mana jarak antara setiap dua tingkatan sama seperti jarak antara langit dan bumi. Tingkatannya yang paling tinggi adalah surga Firdaus. Di sana terdapat Arasy, dan surga tersebut merupakan bagian yang paling tengah dari surga. Darinyalah memancar sungai-sungai surga. Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus.” (HR At Tirmidzi)

Dalam hadits Atha’ dari Ubadah bin Ash-Shamit juga dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dalam surga terdapat seratus tingkatan.”

Senada dengan itu, Abu Hurairah RA juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dalam surga ada seratus tingkatan yang jarak antara setiap dua tingkatan sama dengan perjalanan seratus tahun.” Ibnu Qayyim mengatakan bahwa hadits ini hasan-gharib.

Sementara itu, dalam riwayat dari Abu Said yang secara sanadnya terangkat dikatakan, “Sesungguhnya dalam surga ada seratus tingkatan yang seandainya seluruh alam berkumpul pada salah satu di antara tingkatan-tingkatan tersebut, maka ia dapat menampung mereka.” (HR Ahmad)

Derajat Tertinggi dalam Surga

Imam Muslim dalam Kitab Shahih-nya mengeluarkan hadits dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA yang mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَى صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدِ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ فِى الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

Artinya: “Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bacalah sholawat atasku. Karena barang siapa yang bersholawat atasku satu sholawat, maka Allah bersholawat atasnya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah wasilah untukku, karena ia adalah suatu tempat di surga yang tidak kecuali untuk seorang hamba di antara hamba-hamba Allah, dan aku berharap sekiranya akulah menjadi hamba tersebut. Barang siapa memintakan wasilah untukku maka syafaat halal untuknya.”

Menurut riwayat lain, wasilah ini adalah derajat yang paling tinggi dalam surga. Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Jika kalian bersholawat atasku, maka mohonlah wasilah kepada Allah untukku.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu wasilah?” Beliau menjawab, “Derajat yang paling tinggi dalam surga, tidak ada yang memperolehnya kecuali satu orang, dan aku berharap sekiranya akulah orang itu.” (HR Ahmad)

Wallahu a’lam.

(kri/nwk)



Sumber : www.detik.com

Doa Minum Air Zamzam dan Artinya Sesuai Sunnah


Jakarta

Bertepatan dengan momentum pulang haji 2023, para kerabat atau pun keluarga dari jemaah haji biasanya mendapatkan oleh-oleh berupa air zamzam. Ada bacaan doa minum air zamzam yang dapat diamalkan muslim ketika hendak meminumnya.

Ketika seseorang ingin minum air zamzam, disunnahkan untuk membaca doa kepada Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad dari Jabir RA disebutkan,

مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ


Artinya: “Air zamzam sesuai dengan apa yang diniatkan peminumnya.” (HR Ibnu Majah)

Oleh karena itu, Imam Nawawi dalam Kitab Al Adzkar mengatakan, para ulama menyarankan agar sebelum meminumnya, kita memohon ampun, kesehatan, atau mengutarakan keinginan lain kepada Allah SWT. Tabi’in ahli tafsir Mujahid RA pun menyatakan hal serupa bahwa atas izin Allah SWT, kehendak awal dari sang peminum dapat dikabulkan oleh Allah SWT.

Dikutip dari buku Keutamaan Doa & Dzikir Untuk Hidup Bahagia Sejahtera karangan M. Khalilurrahman Al Mahfani dan buku Khasiat Air Zam-zam oleh Taufiqurrohman, M.Si, berikut bacaan doa minum air zamzam.

Bacaan Doa Minum Air Zamzam dan Artinya

اللهم اني اسألك علما نَافِعًا، وَرِير قا واسعا، سأَلَكَ وشفاء من كل داء

Arab Latin: “Allaahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqan waasi’an, wasyifaa-an min kulli daa-in.”

Artinya: “Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesembuhan dari tiap penyakit.”

Terdapat juga bacaan doa lain untuk minum air zamzam sembari berdiri dengan menghadap kiblat. Berikut bacaannya,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَشِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ وَسَقَمِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Arab Latin: “Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an wa rizqan wasi’an wa shifa’an min kulli da’in wa saqamin bi rahmatika ya arhamarrahimin.”

Artinya: “Ya Allah! Sesungguhnya daku bermohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas dan penawar bagi segala penyakit; Dengan Rahmat Mu, Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!”

Adab Minum Air Zamzam

Saat kita merasa haus dan melihat air segar zamzam di hadapan kita, kebiasaan kita mungkin langsung meraihnya dan meneguknya dalam satu tegukan. Namun, berbeda dengan air biasa, ada etika yang harus diikuti saat meminum air zamzam.

Berikut adalah adab-adab dalam meminum air zamzam.

1. Membaca basmalah sebelum meminumnya.

2. Tidak meminumnya dalam satu tegukan.

3. Mendoakan dan memohon hajat sebelum meminumnya.

Air zamzam juga mengandung beberapa keutamaan sebagaiamana dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW. Beliau berkata,

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

Artinya: “Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zam zam. Air tersebut bisa menjadi makanan yang mengenyangkan dan bisa sebagai obat penyakit.” (HR Muslim).

Menurut keterangan riwayat lain, Rasulullah SAW sendiri pernah menggunakan air zam zam sebagai penawar penyakit. Hadits ini telah dishahihkan Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah yang berbunyi,

حَمَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الأَدَاوَى وَالْقِرَبِ وَكَانَ يَصُبُّ عَلَى الْمَرْضَى وَيَسْقِيهِمْ

Artinya: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah membawa air zam-zam dalam botol atau tempat air. Ada orang yang tertimpa sakit, kemudian beliau menyembuhkan dengan air zam-zam.” (HR Al Baihaqy).

Demikianlah doa minum air zamzam dan adab yang dapat diamalkan oleh muslim, baik mereka yang sedang menjalankan ibadah haji maupun yang tidak. Semoga bermanfaat.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Doa dan Tata Cara Menyembelih Ayam Sesuai Syariat Islam


Jakarta

Doa dan tata cara menyembelih ayam perlu diketahui umat Islam agar terjaga kehalalannya. Ayam adalah salah satu jenis hewan ternak yang halal untuk dikonsumsi kaum muslim apabila penyembelihannya dilakukan sesuai syariat Islam.

Sebelum melakukan proses penyembelihan hewan, dianjurkan untuk menyebut nama Allah SWT dan membaca doa terlebih dahulu. Apabila proses pemotongan ayam tidak sesuai dengan syariat Islam, maka daging yang dikonsumsi nantinya menjadi tidak halal.

Lantas, bagaimana bacaan doa dan tata cara menyembelih ayam? Berikut ini penjelasannya.


Bacaan Doa Menyembelih Ayam

Dilansir dari arsip detikHikmah, berikut bacaan doa menyembelih ayam yang sesuai dengan syariat Islam dalam tulisan Arab, latin, dan artinya.

1. Membaca Basmalah

Sebelum berdoa, awali dengan membaca bacaan basmalah terlebih dahulu:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Latin: Bismillahirrahmanirrahim

Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,”

2. Membaca Doa Menyembelih Hewan

Selanjutnya membaca doa menyembelih hewan dengan bacaan sebagai berikut:

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ

Latin: Bismillaahi wallahu akbar allahumma inna hadza minka wa laka

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah, sesungguhnya (sembelihan) ini dari-Mu dan untuk-Mu.”

Tata Cara Menyembelih Ayam

Adapun tata cara menyembelih ayam secara tradisional berdasarkan buku Fikih karya H. Ahmad Ahyar & Ahmad Najibullah, yaitu:

  1. Siapkan alat penyembelihan yang tajam dan bersih.
  2. Ikat kaki hewan yang akan disembelih, kemudian dibaringkan menghadap kiblat, posisi lambung kiri berada di bawah.
  3. Menyebut nama Allah atau membaca basmalah kemudian diikuti dengan doa.
  4. Memotong tenggorokan dan dua urat leher hewan yang akan disembelih dalam satu gerakan sehingga memutuskan jalan makan, minum, nafas, serta urat nadi kanan dan kiri pada leher hewan.
  5. Setelah hewan benar-benar mati, kemudian dibersihkan dan dikuliti.

Tata Cara Menyembelih Ayam secara Mekanis

Dalam sumber yang sama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan fatwa mengenai penyembelihan hewan secara mekanis dalam syariat Islam dibolehkan dan halal dagingnya. Namun, penyembelihan ayam secara mekanis perlu memperhatikan tata cara berikut:

  1. Sebelum disembelih, ayam dipingsankan terlebih dahulu (dapat menggunakan aliran listrik atau gas) untuk meringankan rasa sakit pada hewan, dibandingkan dengan cara disiksa.
  2. Pemotongan ayam hendaknya dilakukan oleh seorang muslim (petugas pemotong hewan) dengan membaca basmalah terlebih dahulu sebelum menyalakan mesin.
  3. Setelah dipingsankan, ayam tersebut dipotong menggunakan pisau yang tajam hingga seluruh urat nadi yang terletak di bagian leher putus terpotong.
  4. Setelah dipotong dan darahnya berhenti mengalir, ayam dapat dikuliti dan dilanjutkan dengan proses pengolahan berikutnya.

Syarat Wajib Penyembelihan Hewan

Mengutip dari buku Fiqih oleh Hasbiyallah, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam proses penyembelihan hewan, meliputi:

1. Penyembelih Harus Berakal, Muslim, atau Ahli Kitab

Orang yang menyembelih hewan harus memiliki akal, seorang muslim, atau ahli kitab. Selain dari itu, seperti orang gila, pemabuk, atau anak kecil, maka hewan sembelihannya menjadi tidak halal dalam syariat Islam. Hal ini bersandar pada firman Allah SWT,

وَطَعَامُ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖ

Artinya: “Makanan (sembelihan) ahli kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.” (QS Al-Maidah: 5)

2. Alat Penyembelihan Harus Tajam

Alat yang digunakan untuk menyembelih hewan dianjurkan menggunakan alat yang tajam sehingga memungkinkan darah hewan mengalir dan tenggorokannya terputus. Alat tersebut dapat berupa pisau, batu, kayu, pedang, kaca, dan semua yang memiliki sisi tajam kecuali gigi atau kuku.

3. Memutuskan Tenggorokan, Kerongkongan, dan Saluran Urat Nadi

Hewan yang disembelih wajib terputus tenggorokan, kerongkongan, dan saluran urat nadinya. Dalam hal ini, disyaratkan hingga terpotong dua urat nadi sehingga dapat dipastikan hewan yang disembelih telah benar-benar mati. Apabila kepala hewan terpisah, sembelihan itu tidak diharamkan.

4. Membaca Basmalah

Sebelum menyembelih hewan, wajib hukumnya membaca basmalah. Hal ini berkaitan dengan kehalalan hewan tersebut untuk dikonsumsi selanjutnya. Sebagaimana Imam Malik berkata, “Semua sembelihan tanpa menyebut nama Allah adalah haram, baik lupa maupun sengaja.”

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Puasa Akhir Dzulhijjah dan Awal Muharram Hapus Dosa 50 Tahun, Benarkah?



Jakarta

Tahun Baru Islam 1445 H akan tiba dalam hitungan jam dan biasanya momen pergantian tahun ini diisi dengan berbagai amalan, salah satunya puasa. Ada sebuah hadits yang menyebut, puasa akhir Dzulhijjah dan awal Muharram bisa menghapuskan dosa selama 50 tahun. Benarkah?

Hadits yang menyebut keutamaan puasa akhir dan awal tahun bisa menghapus dosa selama 50 tahun ini berbunyi,

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً


Artinya: “Barang siapa berpuasa pada hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama bulan Muharram maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa, dan Allah Ta’ala menjadikan kafarah/terlebur dosanya selama 50 tahun.”

Menurut penelusuran detikHikmah, hadits tersebut tergolong dalam hadits maudhu (palsu). Ibnu Al-Jauzi memasukkan hadits tersebut dalam Kitab Al-Maudhu’at. Kitab ini berisi hadits-hadits maudhu atau palsu yang tersebar di masyarakat.

Dijelaskan dalam Kitab As-Sunnan wa al-Mubtada’at al-Muta’alliqah bi al-Adzkar wa ash-Shalawat karya Muhammad ‘Abdus-salam Khadr asy-Syaqiry, dalam hadits keutamaan puasa akhir Dzulhijjah dan awal Muharram yang bisa menghapus dosa 50 tahun ini terdapat dua perawi yang pendusta. Hal ini dikatakan oleh al-Fattaniy dalam Tadzkiratul Maudhu’at.

Abdullah bin Abdul Aziz At-Tuwaijiry berpendapat bahwa amalan puasa pada hari terakhir bulan Dzulhijjah dan awal Muharram ini termasuk bid’ah. Dalam Kitab Al-Bida’ Al-Hauliyyah ia menyebut bahwa amalan itu bersandar pada hadits maudhu sebagaimana terdapat dalam Kitab Al-Maudhu’at II.

Sementara itu, hadits shahih yang berkaitan dengan puasa bulan Muharram adalah hadits yang bersandar pada riwayat Abu Hurairah RA. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

أَفْضَلُ الصَّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَريضَةِ صَلَاةُ اللَّيْل

Artinya: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam.” (HR Muslim dalam Shahih-nya bab Fadhlu Shaum Al-Muharram)

Menurut Imam an-Nawawi, sebagaimana dinukil Muhammad bin Azzuz dalam Arba’una Haditsan fi At-Tahajjudi wa Qiyam Al-Lail, hadits tersebut menegaskan bahwa Muharram adalah bulan yang paling utama untuk berpuasa.

Salah satu puasa yang bisa diamalkan pada bulan Muharram adalah puasa Asyura. Puasa ini bisa melebur dosa setahun yang lalu sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,

وَعَنْ أَبِي فَنَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ سُئل عن صيَامِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السنة الماضية

Artinya: “Dari Abu Qatadah RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Asyura. Beliau menjawab, ‘Puasa tersebut dapat melebur dosa setahun yang lalu’.” (HR Muslim)

Wallahu a’lam.

(kri/nwk)



Sumber : www.detik.com

Tahun Baru Islam 2023, Ini Dalilnya dari Al-Qur’an dan Hadits


Jakarta

Tahun Baru Islam 2023 bertepatan dengan 1 Muharram 1445 H. Ada beragam keterangan dalil mengenai Tahun Baru Islam ini yang termuat dalam ayat Al-Qur’an maupun hadits.

Tahun Hijriah yang terdiri dari dua belas bulan dijelaskan dalam surah At Taubah ayat 36. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ


Arab Latin: “Inna ‘iddatasy-syuhūri ‘indallāhiṡnā ‘asyara syahran fī kitābillāhi yauma khalaqas-samāwāti wal-arḍa minhā arba’atun ḥurum(un), żālikad-dīnul-qayyim(u), falā taẓlimū fīhinna anfusakum wa qātilul-musyrikīna kāffatan kamā yuqātilūnakum kāffah(tan), wa’lamū annallāha ma’al-muttaqīn(a).”

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhul Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”

Ayat di atas juga menjelaskan tentang empat bulan haram dalam dua belas bulan-bulan Hijriah. Deretan empat bulan haram tersebut disebutkan Rasulullah SAW dalam haditsnya. Dari Abu Barkah RA yang mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa empat bulan haram adalah Muharram, Dzulqa’idah, Dzulhijjah, dan Rajab.

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya: “Zaman berputar seperti hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu terdiri dari 12 bulan, di antaranya 4 bulan Haram, tiga bulan berurutan, Zulkaidah, Zulhijjah, dan Muharram. Adapun Rajab yang juga merupakan bulannya kaum Mudhr, berada di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menurut Kitab Zaadul Maysir oleh Al Qodhi Abu Ya’la, bulan haram adalah bulan yang suci sehingga ada pengharaman pembunuhan pada keempat bulan haram. Bulan haram juga merujuk pada larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan lainnya, begitupun sebaliknya.

“Pada bulan Haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya,” kata Sufyan Ats Tsauri dalam Kitab Latho-if Al Ma’arif yang diterjemahkan Tim PISS-KTB dalam buku Hasil Bahtsul Masail dan Tanya Jawab Agama Islam.

Ibnu Abbas RA menambahkan, empat bulan tersebut dikhususkan karena dianggap sebagai bulan suci. Dengan kata lain, melakukan perbuatan maksiat pada bulan tersebut dianggap dosa besar dan amalan sholeh yang dilakukan menuai pahala besar.

Abu Hurairah RA juga pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah memberi penjelasan tentang keutamaan puasa di bulan Muharram yang berada satu tingkat di bawah puasa Ramadan. Ketika seseorang bertanya kepada nabi, “Setelah Ramadan, puasa di bulan apa yang lebih afdhal?” Rasulullah menjawab, “Puasa di Bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharram.” (HR Ibnu Majah)

Berdasarkan anjuran tersebut, terdapat beberapa pilihan puasa sunnah yang dapat dilakukan pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram. Pilihan pertama adalah puasa pada tanggal 10 Muharram yang disertai dengan puasa sehari sebelum dan sesudahnya, yaitu pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.

Pilihan kedua adalah puasa dua hari, yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Sedangkan pilihan ketiga adalah puasa pada hari ke-10 saja di bulan Muharram. Puasa pada tanggal 9 Muharram dikenal dengan sebutan puasa Tasu’a, sedangkan puasa pada tanggal 10 Muharram dikenal dengan sebutan puasa Asyura.

Puasa Asyura juga memiliki beberapa keutamaan, salah satunya adalah menghapus dosa-dosa di masa lalu. Dalam sebuah riwayat, Qotadah RA berkata bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa pada hari Arafah, dan beliau menjawab bahwa puasa pada hari Arafah dapat menghapus dosa-dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang. Kemudian beliau ditanya tentang puasa Asyura, dan beliau menjawab bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa yang lalu (HR Al-Jama’ah, kecuali Al-Bukhari dan At-Tirmidzi).

Sejarah Tahun Baru Islam

Tahun Baru Islam mengacu pada sistem penanggalan kalender Hijriah. Melalui kalender tersebut, awal tahun dimulai dari 1 Muharam yang sudah menginjak tahun ke-1445 Hijriah.

Kalender Hijriah adalah sistem penanggalan Islam berdasarkan peredaran bulan. Sistem penanggalan kalender Hijriah dengan rotasi bulan ini dijelaskan pula dalam surah Yunus ayat 5,

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَآءً وَّا لْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَا زِل لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَا لْحِسَا بَ ۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِا لْحَـقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْاٰ يٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

Artinya: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”

Dikutip dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), penanggalan Islam menggunakan kalender Hijriah pertama kali dimulai pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA. Saat itu, kalender Hijriah juga berfungsi sebagai produk politik Umar dalam mendukung kelancaran sistem negara.

Setelah menetapkan kalender Hijriah sebagai penunjuk waktu, penentuannya diiringi dengan ketetapan awal waktu tahun Hijriah atau yang kemudian dikenal dengan 1 Muharram 1 Hijriah. Ada empat opsi yang diusulkan kepada Umar yakni, tahun Gajah saat Rasulullah lahir, tahun wafatnya Rasulullah, tahun Rasulullah diangkat menjadi rasul, dan juga tahun hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah pada 622 Masehi.

Pada akhirnya, tahun hijrahnya Rasulullah SAW terpilih menjadi 1 Muharram dalam kalender Hijriah karena dianggap menjadi tonggak awal kejayaan umat Islam setelah berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Hingga sampai saat ini, hari hijrah itu pun diperingati sebagai atau Tahun Baru Islam.

Sekian adalah sekilas pembahasan mengenai tentang Tahun Baru Islam 2023 dan dalilnya. Semoga bermanfaat ya detiker!

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Doa Menempati Rumah Baru, Ungkapan Syukur



Jakarta

Ada doa yang bisa dipanjatkan ketika menempati rumah baru. Doa ini bisa dilafalkan sebagai ungkapan syukur karena telah diberi rezeki berupa rumah kediaman untuk menetap bersama keluarga.

Selain sebagai ungkapan rasa syukur, doa yang dibaca saat menempati rumah baru juga bertujuan untuk melindungi diri dan kediaman dari gangguan jin serta setan. Tentu semua semata-mata dilakukan untuk mendapatkan ridho dan perlindungan dari Allah SWT.

Dengan memohon perlindungan kepada Allah SWT, niscaya kita juga akan dilindungi di lingkungan tempat tinggal yang baru.


Doa Menempati Rumah Baru

Mengutip buku Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki oleh KH Sulaeman Bin Muhammad Bahri, berikut adalah beberapa kumpulan doa yang bisa dibaca saat hendak menempati rumah baru.

Doa menempati rumah baru

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَوْلَجِ وَخَيْرَ الْمَخْرَجِ بِسْمِ اللَّهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللَّهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللَّهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا

Latin: Allahumma innii as-asluka khairal mawlaji wa khairal makhraji bismillahi wa lajnaa wa bismillahi kharajnaa wa’alaallahi rabbanaa tawakkalnaa

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu atas kebaikan rumah yang aku masuki dan kebaikan rumah yang aku tinggalkan. Dengan menyebut nama Allah aku masuk dan dengan menyebut nama Allah aku keluar dan kepada Allah, Tuhan kami, kami bertawakal.” (HR. Abu Daud)

Doa memasuki rumah baru

مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Latin: MasyaAllah laa quwwata illa billah

Artinya: “Semua kehendak Allah tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah.”

Doa masuk rumah

اَللهُمَّ اِنّىْ اَسْأَلُكَ خَيْرَالْمَوْلِجِ وَخَيْرَالْمَخْرَجِ بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللهِ رَبّنَا تَوَكَّلْنَا

Latin: Alloohumma inni as-aluka khoirol mauliji wa khoirol makhroji bimillaahi wa lajnaa wa bismillaahi khorojnaa wa’alallohi robbinaa tawakkalnaa

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu baiknya tempat masuk dan baiknya tempat keluar dengan menyebut nama Allah kami masuk, dan dengan menyebut nama Allah kami keluar dan kepada Allah Tuhan kami, kami bertawakal.”

Doa agar rumah diberi keberkahan

Melansir laman Nahdlatul Ulama (NU), Kamis (6/7/2023) sebelum menempati rumah baru juga dianjurkan untuk membaca doa berikut agar kediaman diliputi keberkahan.

اَللّٰهُمَّ يَا مَنْ فَلَقَ الْبَحْرَ لِمُوْسَى بْنِ عِمْرَانَ وَنَجَّى يُوْنُسَ مِنْ بَطْنِ الْحُوْتِ وَسَيَّرَ الْفُلْكَ لِمَنْ شَاءَ أَنْتَ الْعَالِمُ بِعَدَدِ قَطْرِ الْبِحَارِ وَذَرَّاتِ الرِّمَالِ يَا خَالِقَ أَصْنَافِ عَجَائِبِ الْمَخْلُوْقَاتِ أَسْأَلُكَ الْكِفَايَةَ يَا كَافِيَ مَنْ اِسْتَكْفَاهُ يَا مُجِيْبَ مَنْ دَعَاهُ يَا مُقِيْلَ مَنْ رَجَاهُ أَنْتَ الْكَافِيْ لَا كَافِيَ إِلَّا أَنْتَ، اِكْفِنِيْ شَرَّمَا أَخَافُ وَأَحْذَرُ وَامْلَأْ مَنْزِلِيْ هٰذَا خَيْرًا وَبَرَكَةً وَصَلِّ عَلَى نَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Latin: Allahumma ya man falaqal bahra li Musa bin ‘Imran, wa najjz Yunusa min bathnil ḫut, wa sayyaral fulka li man sya-a, antal ‘alimu bi ‘adadi qathril biḫari, wa dzarratir rimal. Ya Khaliqa ashnafi ‘aja’ibil makhluqat. As’alukal kifayah, ya kafiya man istakfah, ya Mujiba man da’ah, ya muqila man rajah. Antal kafi, la kafiya illa anta. Ikfini syarra ma akhafu wa ahdzar. Wamla’ manzili hadza khairan wa barakah. Washalli ‘ala nabiyyika wa rasulika sayyidina Muḫammadin wa alihi wa shaḫbih wa sallim.

Artinya: “Ya Allah yang membelah lautan untuk Musa bin ‘Imran, dan menyelamatkan Yunus dari perut ikan besar, yang menjalankan perahu kepada siapa pun yang dikehendaki. Engkau mengetahui jumlah tetesan air laut dan satuan-satuan kerikil.”

“Wahai zat yang menciptakan beberapa macam keajaiban makhluk-makhluk. Aku memohon kepada-Mu kecukupan, wahai zat yang mencukupi hamba yang memintakan kecukupan kepada-Nya. Wahai zat yang mengabulkan hamba yang berdoa kepada-Nya, yang mengampuni hamba yang mengharap rahmat-Nya, Engkau maha mencukupi.”

“Tiada yang mencukupi selain-Mu. Cukupilah aku dari keburukan sesuatu yang kukhawatirkan, penuhilah tempatku ini dengan kebaikan dan keberkahan. Selawat salam semoga tercurah kepada nabi dan utusan-Mu, junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, dan kepada para keluarga serta sahabatnya.”

Demikian beberapa doa yang bisa dibaca saat menempati rumah baru. Rumah yang di dalamnya terdapat orang-orang beriman dan sering menjalani amalan saleh niscaya akan selalu dilindungi Allah SWT.

(dvs/nwk)



Sumber : www.detik.com

7 Hadits Keutamaan Menahan Amarah, Salah Satunya Dimasukkan ke Surga


Jakarta

Marah merupakan bentuk ekspresi manusia. Meski begitu, ekspresi yang dilepaskan jangan sampai berlebihan hingga merugikan diri sendiri dan orang sekitar.

Namun, ada keutamaan yang terkandung bagi mereka yang dapat mengendalikan diri ketika marah. Dalam Kitab Ihya Ulumuddin oleh Imam Al Ghazali, Allah SWT memuji umat Islam karena ketenangan diri yang diturunkan kepada orang-orang beriman.

Pada surat Al Fath ayat 26, Allah berfirman:


إِذْ جَعَلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ ٱلتَّقْوَىٰ وَكَانُوٓا۟ أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Artinya: “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu,”

Ada sejumlah hadits yang membahas tentang larangan marah, apa saja? Berikut bahasannya seperti merujuk pada Ihya Ulumuddin dan arsip detikHikmah.

Kumpulan Hadits tentang Larangan dan Keutamaan Menahan Amarah

1. Wasiat dari Rasulullah

“Dari Abu Hurairah RA bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, “Berilah wasiat kepadaku.” Sabda Nabi SAW: “Janganlah engkau mudah marah.” Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau, “Janganlah engkau mudah marah,” (HR Bukhari)

2. Diam sebagai Salah Satu Bentuk Amarah

“Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam,” (HR Ahmad dan Bukhari)

3. Mendapat Bidadari pada Hari Kiamat Kelak

“Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai,” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

4. Dimasukkan ke Dalam Surga

“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga,” (HR Ath-Thabrani)

5. Penyelamat dari Murka Allah

“Dari Abdullah bin Amr ra bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw, ‘(Wahai Rasulullah), apa yang dapat menyelamatkanku dari murka Allah?’ ‘Tahan marah,’ jawab Rasulullah saw,” (HR At-Thabrani dan Ibnu Abdil Barr)

6. Menjauhkan dari Murka Allah

“Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Dosa apa yang besar di sisi Allah?’ ‘Membuat murka Allah,’ jawab Nabi Muhammad saw. Ia bertanya lagi, ‘Apa yang dapat menjauhkanku dari murka-Nya?’ ‘Tahan marah,’ jawab Rasulullah SAW,” (HR Ahmad)

7. Disebut sebagai Orang yang Tidak Terkalahkan

“Ibnu Mas’ud ra berkata, Rasulullah saw bertanya, ‘Apa yang kalian pikirkan tentang tarung?’ kami menjawab, ‘Orang yang tidak terkalahkan dikeroyok beberapa orang.’ ‘Bukan itu, tapi petarung sejati ialah orang yang mengendalikan dirinya ketika marah,’ jawab Rasulullah SAW,” (HR Muslim)

(aeb/nwk)



Sumber : www.detik.com