Tag: kopi

  • Menyicipi Kopi Toraja di Cafe Aras 2 yang Halal dan Instagramable



    Rantepao

    Kopi Toraja paling nikmat jika dinikmati langsung di Toraja. Tempat menikmatinya ada di Cafe Aras 2 yang dijamin halal, tempatnya juga Instagramable.

    Toraja selama ini dikenal sebagai daerah yang memproduksi biji kopi dengan kualitas terbaik di Indonesia. Liburan ke Toraja, sudah pasti wajib minum kopi lokal yang diproduksi di sini.

    Salah satu tempat terbaik untuk menikmatinya adalah Cafe Aras 2. Sesuai namanya, kafe ini merupakan cabang kedua dari Cafe Aras. Yang membedakan keduanya adalah, di Cafe Aras 2 ini dijamin kehalalan makanannya.


    Sedangkan di Cafe Aras pusat, ada hidangan-hidangan yang menggunakan bahan-bahan yang tidak halal alias mengandung babi.

    Namun terlepas dari halal dan tidak halalnya, kedua kafe itu sama-sama menyajikan biji kopi lokal terbaik yang sudah diolah menjadi minuman kopi yang disajikan di gelas-gelas pengunjung.

    Menikmati kopi Toraja di Cafe Aras 2 yang Halal dan InstagramableMenikmati kopi Toraja di Cafe Aras 2 yang Halal dan Instagramable Foto: Wahyu Setyo Widodo/detikTravel

    Sesuai dengan rekomendasi dari barista yang bertugas sore itu, pilihan jatuh kepada kopi susu hangat dengan beans lokal Toraja yang diproses sendiri oleh Cafe Aras.

    Untuk versi dinginnya, traveler juga bisa memesan Caramel Macchiato yang tak kalah sedap. Kebetulan dua menu kopi ini juga direkomendasikan oleh pramusaji di Cafe Aras 2.

    Menikmati kopi Toraja di Cafe Aras 2 yang Halal dan InstagramableMenikmati kopi Toraja di Cafe Aras 2 yang Halal dan Instagramable Foto: Wahyu Setyo Widodo/detikTravel

    Begitu pesanan kami datang, aroma kopi sedap yang menohok hidung sudah tercium dari radius 5 meter. Ini sudah jadi pertanda kalau kopi itu bakalan nikmat.

    Benar saja, begitu menyeruput kopi susu hangat itu, rasa kopi dengan notes kacang-kacangan langsung mengalir dengan mulus ke dalam tenggorokan. Duh, nikmatnya bukan main.

    Selain bisa menghabiskan senja sambil menyeruput kopi, traveler juga bisa berbelanja biji kopi dan alat-alat untuk menyeduh kopi.

    Ada juga pojok di kafe ini yang menjual berbagai barang perintilan seni yang bisa dibawa pulang traveler sebagai cinderamata.

    Lokasi Cafe Aras 2

    Cafe Aras 2 berlokasi di Jalan Andi Mappanyuki Nomor 94. Lokasinya tak terlalu jauh dari Alun-alun Kota Rantepao. Tinggal berjalan kaki selama 5 menit, traveler sudah sampai ke kafe ini.

    Lokasinya sangat strategis berada di pinggir jalan raya. Bangunannya didesain bergaya khas Toraja, seperti rumah Tongkonan dengan kepala Kerbau sebagai ikonnya.

    Sedikit tips, pilihlah tempat duduk di lantai 2 bangunan kafe dan nikmatilah angin sepoi-sepoi sebagai teman menyeruput kopi Toraja yang nikmat. Amboi!

    Artikel ini mendapatkan dukungan dari Lion Group. Temukan penawaran menarik untuk paket penerbangan dan hotel dari BookCabin di link ini.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Tempat Ngopi Baru di Taman Budaya Sentul, Instagramable buat Weekend



    Sentul

    Taman Budaya Sentul jadi destinasi yang cocok dikunjungi di akhir pekan. Di sana ada tempat ngopi baru yang Instagramable.

    Nama tempat ngopi itu adalah Raindear Coffee and Kitchen. Dari segi bangunan, tempat ngopi ini memang lebih menonjol dibandingkan dengan sekelilingnya.

    Konsep bangunan kafe ini terinspirasi dari kubah Timur Tengah dengan lengkungan-lengkungannya yang khas, sehingga membuatnya tampak unik serta berbeda.


    detikTravel berkunjung ke tempat ngopi ini beberapa waktu lalu. Melangkahkan kaki ke dalam, traveler akan disambut dengan desain interior yang elegan. Nuansa hijau dari tanaman-tanaman tampak menghiasi sebagai pemanis.

    Temboknya didesain dengan perpaduan warna cat biru tua dan light grey yang estetik sehingga cocok untuk menjadi background foto menarik bagi para pengunjung. Ada juga lampu-lampu yang unik.

    Raindear SentulRaindear Sentul Foto: (dok. Istimewa)

    Manager Area Raindear Coffee and Kitchen, Eron mengatakan kafe tempatnya bekerja mampu menampung hingga 250 orang tamu. Tak hanya anak-anak muda, kafe ini juga banyak dikunjungi keluarga, terutama saat weekend.

    “Kami juga menyasar pengunjung dari keluarga, remaja sampai komunitas,” kata Eron, beberapa waktu lalu.

    Untuk menu makanan, mulai dari appetizer, ada olahan makanan ala Texas-Mexico seperti nachos, singkong goreng garlic hingga kentang goreng saus mentai dengan perpaduan rumput laut dan mentai.

    Raindear SentulAyam bakar Taliwang Foto: (dok. Istimewa)

    Untuk menu utamanya yang jadi unggulan ada nasi ayam bakar taliwang dengan cita rasa pedas tapi mantap dan nasi goreng hitam yang memakai tinta dari cumi-cumi, tapi tidak amis. Harganya mulai dari Rp 50 hingga 70 ribuan.

    Ada juga makanan-makanan western seperti pasta, pizza, cheese burger hingga wagyu steak dengan truffle oil. Rasanya sudah pasti sedap dan nikmat.

    Oh iya, untuk kopinya ada bermacam-macam jenis, dari es kopi susu original hingga es kopi pandan, oatmilk hingga salted caramel. Harganya standar kafe, mulai dari Rp 30 ribuan.

    Ada beragam fasilitas di tempat ini, di antaranya lahan parkir yang luas hingga mushola untuk salat. Tempat ngopi ini juga menjual beragam merchandise seperti tumbler, tote bag, hingga payung.

    Pemilihan lokasi kafe yang berada di Taman Budaya Sentul ini juga sengaja agar traveler bisa ngopi sambil berwisata.

    “Selain itu, pemilihan lokasinya memang berdekatan dengan tempat rekreasi atau wisata sehingga memiliki pemandangan perbukitan yang membuat suasananya semakin seru,” pungkas Eron.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Cuma di Bali, Bisa Ngopi di Kedai Jadul Sambil Lihat Sawah



    Badung

    Ngopi sambil menikmati pemandangan sawah nan hijau lagi ngetren. Di Bali, kamu bisa menyeruput kopi di Kedai Abian Carik yang jadul ini.

    Tempat ngopi bernuansa pedesaan dan jadul pun banyak bermunculan di Bali. Salah satunya kedai kopi Abian Carik.

    Baru sebulan lebih dibuka, tempat ini sudah ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat sore menjelang malam. Kedai kopi ini berlokasi di tengah sawah Subak Tegan, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali.


    Traveler bisa menyeruput kopi sembari menikmati hamparan sawah nan asri. Di sekitar kedai kopi itu, ada pula kebun yang ditanami aneka sayur dan tanaman bunga.

    Untuk menuju lokasi, pengunjung harus masuk ke jalan subak sepanjang 200 meter ke dalam area persawahan. Kedai dengan pondokan kayu yang dipagari bambu itu akan terlihat dari pinggir jalan. Selanjutnya, pengunjung tinggal menyusuri pematang sawah untuk sampai ke lokasi.

    Pemilik kedai sengaja mengusung konsep jadul yang menyatu dengan alam. Bangunannya berupa pondokan kecil berbahan papan kayu yang dihias dengan beragam umbi-umbian dan pisang.

    Pondok itu dipakai pengelola untuk menaruh bahan-bahan makanan beserta kopi. Penjaga kedai juga berpenampilan jadul dengan pakaian seadanya serta capil atau topi khas petani di desa-desa.

    Meski begitu, pengunjung antusias duduk lesehan beralaskan tikar daun pandan sembari menunggu barista meracik kopi di atas Vespa. Selain kopi, kedai itu juga menjajakan aneka kudapan tradisional. Mulai dari ubi goreng pedas manis, pulung ubi, jagung rebus, hingga pisang goreng. Cocok untuk menemani kopi tubruk.

    Orang-orang yang datang ke Abian Carik tak hanya anak muda dari kalangan menengah di Mengwi. Mereka juga datang dari kalangan atas yang rata-rata tinggal di Kota Denpasar.

    “Di rumah nggak banyak ada kafe kopi yang benar-benar ada di alam begini,” kata Yanti, salah satu pengunjung asal Denpasar, Senin (16/9).

    Pengunjung lainnya, Vani, mengungkapkan tidak sedikit pengelola kedai kopi yang mengusung konsep jualan di tengah sawah. Perempuan asal Yogyakarta itu menyebut banyak kedai kopi dengan konsep serupa di luar Bali.

    “Tapi dagang kopi yang jualan di Bali lebih banyaknya tampilan ala resto, mewah. Konsep ini di Bali sebetulnya lebih cocok karena alamnya mendukung,” ujar Vani.

    Pemilik kedai, Anak Agung Gde Agung Krisna Semara Putra mengungkapkan konsep kedainya dirancang bagi penikmat kopi yang suka ketenangan.

    “Banyak yang tidak menangkap konsep ini sebelumnya. Kedai kopi di sawah memang banyak. Tapi ngopi di tengah kebun yang kebetulan lokasinya di tengah-tengah sawah itu belum banyak,” kata dia.

    Agung mengakui kedai kopinya ramai karena pengunjung suka menikmati kopi sambil bersantai. Ia mengeklaim banyak pengunjung yang sengaja datang untuk dapat suasana pedesaan.

    “Jadi dari menu makanan yang ada saja kami ingin orang-orang bisa nikmati jajanan jadul. Suasananya dapat, kesannya juga harus pas. Kann sudah nggak banyak yang jual camilan jadul,” sambung Agung.

    Kedai kopi Abian Carik buka setiap hari mulai pukul 16.00 Wita. Pengunjung juga bisa ngopi-ngopi asyik di tengah sawah sampai larut malam tanpa perlu khawatir karena pengelola sudah menyediakan lampu penerangan.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikBali.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Jelajah Rempah, Ekoturisme Keren dari Desa Sumberurip di Blitar



    Blitar

    Rempah lebih dikenal sebagai komoditas yang dihasilkan wilayah Indonesia bagian timur. Namun di Desa Sumberurip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar ini, traveler bisa mengenal lebih dekat beragam tanaman rempah yang melimpah, sebagai pohon kopi sebagai budidaya utama.

    Berbeda dengan destinasi wisata kopi di daerah lain, kekayaan rempah yang dihamparkan desa di lereng Gunung Kawi sisi barat ini cukup mengejutkan. Pasalnya, potensi unik ini belum pernah dimunculkan sebelumnya.

    Apalagi semua jenis rempah tumbuh begitu subur di dataran dengan ketinggian sekitar 700 MDPL ini, seperti Kapulaga (Elettaria cardamomum), Merica (Pepper nigrum), Pala (Myristica fragrans) dan Vanili (Vanilia planifola).


    Untuk menuju ke desa ini, traveler dari luar kota bisa turun di Stasiun Kota Blitar. Kemudian bisa menyewa kendaraan online menuju ke arah Wlingi yang berjarak sekitar 22 KM ke arah timur.

    Perjalanan berlanjut ke arah Utara sekitar 15 KM dengan jalanan aspal yang meliuk dan melewati hutan jati. Lanskap Gunung Kelud dan Butak tampak jelas jika cuaca cerah. Hawa sejuk mulai terasa ketika memasuki Desa Sumberurip dengan hamparan hijau dedaunan dan suara burung yang nyaring bernyanyi.

    Ekotourism Desa Sumberurip BlitarEkotourism Desa Sumberurip Blitar Foto: Erliana Riady/detikcom

    Dengan mengusung konsep ekoturisme, warga lokal berkomitmen tidak akan menambah atau mengubah semua yang dibentangkan semesta, sesuai dengan keasliannya.

    Lokasi ini juga masuk klasifikasi wisata dengan minat khusus, bukan mass tourism dengan banyak pengunjung. Cocok banget bagi traveler yang benar-benar ingin menikmati masa libur menyatu dengan alam yang tenang.

    Traveler akan menemukan banyak pengalaman empirik, seperti menyentuh dan memetik langsung beragam rempah tersebut dari pohonnya. Sesuatu benda yang selama ini hanya tampak di meja dapur, bentuk tumbuhannya akan dihadapkan langsung di depan kita!

    Bahkan, traveler bisa mengetahui bagaimana proses rempah itu diolah hingga siap menjadi bumbu dapur. Apalagi, jika waktu kunjungan bertepatan dengan masa panen rempah, suasana kesibukan warga lokal akan terekam dengan indah dalam balutan tradisi gotong royong yang masih melekat kuat disini.

    “Saya gak nyangka, kalau pohon Kapulaga itu ternyata buahnya di bawah semacam umbi. Selama ini saya pikir menggelantung di dahan tumbuhan seperti merica. Panili juga, ternyata pohonnya merambat dan gak tinggi. Ini pengalaman baru yang sangat menarik,” aku Mart, owner Sabatokaliwuan provider adventure dari Yogyakarta, Jumat (4/10/2024).

    Menurut Mart, destinasi wisata ekoturisme seperti yang disuguhkan Desa Sumberurip ini sedang menjadi tren baru dalam dunia pariwisata. Para traveler peminat khusus, terutama wisatawan mancanegara, kerapkali membidik tujuan wisata mereka ke lokasi seperti ini agar dapat berbaur dengan warga dengan semua kearifan lokal budayanya.

    Beberapa kolega Mart di Eropa mengaku tertarik begitu diperkenalkan dengan destinasi wisata kebun kopi yang terintegrasi dengan tumbuhan rempah ini.

    Jelajah rempah dimulai dari titik kumpul di rumah warga. Sebagai welcome drink, traveler disuguhi beragam minuman rempah hangat sesuai pilihan dan jajanan tradisional sebagai camilan.

    Perjalanan dimulai dengan treking ringan (soft trekking) menyusuri perkampungan menuju lahan kopi yang ditanam berdampingan dengan tumbuhan rempah.

    Karena topografi lahan berada di wilayah perbukitan, maka hawa sejuk dan lanskap sawah terasering akan menjadi bonus pemandangan menuju lokasi lahan. Jalan tanah setapak sangat cocok untuk traveler yang merindukan suasana tenang pedesaan.

    Ekotourism Desa Sumberurip BlitarEkotourism Desa Sumberurip Blitar Foto: Erliana Riady/detikcom

    Roni Yudiono, pemilik lahan seluas 50 are ini siap memberikan pengalaman baru. Mulai membedakan pohon dan biji kopi Robusta, Arabika dan Liberoid. Kemudian mengenalkan beragam tumbuhan rempah yang menjadi tanaman sela lahan kopi tersebut.

    “Tanaman rempah ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Tapi baru massif dibudidayakan sebagai tanaman sela kopi sejak COVID-19 melanda. Banyak orang mencari alternatif pengobatan herbal dan itu mengangkat harga jual rempah. Jadi kami disini juga mulai menanam bersama-sama, karena dulu rempah itu gak punya nilai jual,” tutur pria berusia 32 tahun ini.

    Menurut Roni, aktifitas di lahan makin beragam ketika musim petik rempah dilakukan warga. Untuk Merica, musim panen akan tiba sekitar bulan September-Oktober. Kapulaga, musim panen biasanya dilakukan saat musim hujan.

    Vanili, musim panennya jatuh di bulan Maret-April. Sedangkan jahe dan cengkeh, panen bisa dilakukan mulai September hingga akhir tahun. Untuk Pala, bisa dipetik setiap saat asalkan cuaca normal.

    Durasi dua jam, dirasa cukup untuk traking pendek. Jalan pulang akan berbeda dengan jalur yang dilalui saat berangkat. Traveler akan menjumpai aktifitas warga desa dan berbaur bersama mereka dengan segala kesederhanaan dan keramah-tamahannya.

    Sampai di titik kumpul, makan siang dengan menu khas tradisional Desa Sumberurip siap menambah energi yang tersisa. Dan pulangnya, free gift dan sourvernir rempah dengan kemasan yang manis, bisa dibawa pulang sebagai buah tangan yang penuh kenangan.

    “Bagi traveler yang berminat menikmati jelajah rempah di sini, registrasi kami satu pintu melalui IG@javasumbercoffe.inc. Karena potensi wisata ini terintegrasi dengan semua potensi di desa kami. Trip kami buka setiap hari dengan minimal 4 orang, kecuali Jumat libur karena jam efektifnya pendek,” pungkasnya.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Sensasi Menikmati Kopi Luwak dan Teh Aneka Aroma di Kintamani



    Jakarta

    Anda pernah nonton ‘The Bucket List’? Film yang pertama kali tayang pada 2007 itu dibintangi dua aktor gaek Hollywood Jack Nicholson dan Morgan Freeman.

    Isinya menceritakan kehidupan kedua pria beda kasta yang bertemu di rumah sakit karena penyakit mematikan. Dari situ mereka membuat sebuah catatan kecil untuk dilakukan sebelum kematian menjemput.

    Saya menduga adegan yang paling menarik bagi penonton di tanah air adalah ketika keduanya membahas cita rasa Kopi Luwak. Jack dan Morgan terpingkal-pingkal hingga mengeluarkan air mata saat tahu bahwa kopi yang disebut memiliki aroma dan cita rasa terunik di dunia itu berasal dari kotoran kucing pohon liar alias luwak.


    Saya pribadi baru mencobanya pada akhir pekan lalu saat melintasi Jalan Raya Kintamani – Gianyar, Bali. Di sepanjang jalan itu berjejer perkebunan kopi menawarkan sensasi minum kopi luwak orisinal.

    Menjelang jam makan siang kami singgah di ‘Cantik Agriculture Luwak Coffee’ yang memiliki kebun kopi seluas dua hektare. Tempat ini tidak memungut biaya masuk alias gratis. Area parkirnya luas. Setiap rombongan akan didampingi oleh seorang pemandu.

    Selain pohon kopi Robusta dan Arabica, di area seluas itu kita juga bisa mengenali pohon salak, vanilla, cokelat, dan lainnya. Hal menarik lainnya, di tengah kebun beberapa ekor luwak tengah meringkuk di atas dahan pohon kopi. Juga ada beberapa sapi terikat di dalam kandang.

    “Itu sengaja untuk kami manfaatkan kotorannya sebagai pupuk organik,” kata Ni Luh Putu Juni Fira Dewi yang menjadi pemandu. Alumnus SMKN 1 Tampak Siring itu telah dua tahun bekerja di ‘Cantik Agriculture Luwak Coffee’.

    Sebelumnya dia pernah bekerja di villa Tegal Alang, Ubud.

    Sejumlah turis asal Australia menikmati kopi luwak di Cantik Agriculture Luwak Coffee, KintamaniSejumlah turis asal Australia menikmati kopi luwak di Cantik Agriculture Luwak Coffee, Kintamani (Sudrajat / detikcom)

    Di ujung kebun kami mulai mencium aroma biji kopi terpanggang. Dua perempuan paruh baya terlihat khusuk menyangrai biji kopi di atas penggorengan baja. Suluh-suluh kayu di bawahnya merah menyala menyeburkan bara. Tak jauh dari dapur, Fira menunjukkan kepada kami gumpalan kotoran Luwak. Warnanya cokelat kehitaman.

    “Kotoran ini biasanya kami bersihkan, dikupas kulitnya lalu dijemur selama beberapa hari. Setelah itu disangrai selama 45 menit baru ditumbuk hingga menjadi semacam tepung. Untuk satu kilogram kopi sangrai butuh sekitar dua jam untuk menghaluskannya,” kata Fira.

    Tak sampai setengah jam di kebun, pengunjung tersu berdatangan secara berkelompok. Kebanyakan para turis dari Australia dan Eropa. Semua disambut ramah dan diberi penjelasan serupa.

    Tak cuma tentang kopi dan kopi luwak, para pengunjung juga diperkenalkan kepada rempah-rempah berikut khasiatnya seperti kunyit, jahe, rosela, sereh, ginseng, dan lainnya.

    Di tepi kebun yang berbatasan dengan bebukitan hijau berderet kursi kayu. Para pengunjung bebas memilih tempat duduk. Para pemandu lalu menghidangkan selusin cangkir gelas mungil berisi kopi dan teh beragam aroma. Kripik singkong dan pisang goreng menjadi pelengkapnya. Semua gratis!

    “Ini sudah menjadi tradisi kami untuk menghormati tamu. Kalau mau mau kopi luwak baru kena charged Rp 50 ribi per cup,” kata Fira.

    Sejumlah turis asing membeli aneka oleh-oleh di Cantik Agriculture Luwak Coffee, Kintamani - BaliSejumlah turis asing membeli aneka oleh-oleh di Cantik Agriculture Luwak Coffee, Kintamani – Bali (Sudrajat / detikcom)

    Sejumlah turis riuh berdecak kagum dan memberi applause. Penasaran, kami pun coba memesan secangkir kopi luwak.

    “Kalau biasanya kita menyeruput capucino, kali ini di Kintamani Bali kita lebih suka menikmati CatPooCino alias Kopi Luwak,” seloroh seorang turis asal Australia disambut tawa rekan-rekannya.

    Kami sepakat, cita rasa kopi luwak memang beda dari kopi lainnya. “Lebih lembut, asemnya juga lebih rendah dari kopi biasa,” ujar Meliyanti Setyorini, teman seperjalanan penulis.

    Untuk teh, dia suka yang aroma coconut. “Campurannya pas buat lidah gue,” dia menambahkan.

    Wartawati detik.com Meliyanti Setyorini menikmati secangkir kopi luwak dan teh aneka aroma di Cantik Agriculture Luwak CoffeeWartawati detik.com Meliyanti Setyorini menikmati secangkir kopi luwak dan teh aneka aroma di Cantik Agriculture Luwak Coffee Foto: Sudrajat / detikcom

    Cantik Agriculture Luwak Coffee’ juga menyediakan toko yang menjual berbagai produk hasil olahan kopi dan minuman yang telah dicicipi selama tur. Selain kopi aneka rasa, toko ini juga menawarkan berbagai produk lain seperti sabun buah, dupa, dan arak Bali.

    (jat/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • 5 Cara Mencegah Bau Apek pada Helm dengan Mudah


    Jakarta

    Merawat helm tak hanya sekedar mencegahnya dari baret atau goresan, tetapi juga perlu dibersihkan secara rutin, terutama bagian dalam helm. Soalnya, helm yang tidak dicuci hingga berbulan-bulan bisa menimbulkan bau apek.

    Selain mengeluarkan aroma tak sedap, bagian dalam helm yang tidak dicuci bisa bikin kepala gatal-gatal. Meski tidak berpengaruh terhadap performa mesin, akan tetapi dapat mengganggu konsentrasi berkendara karena timbul rasa gatal di kepala.

    Maka dari itu, sebaiknya detikers rutin membersihkan helm untuk mencegah bau apek akibat keringat. Caranya juga mudah kok, bahkan bisa dilakukan di rumah.


    Untuk lebih jelasnya, simak cara mencegah bau apek pada helm dalam artikel ini.

    Penyebab Helm Mengeluarkan Bau Apek

    Ada sejumlah hal yang menyebabkan helm menjadi bau apek. Namun, faktor utamanya disebabkan oleh keringat di kepala.

    Mengutip laman Astra Honda, keringat di kepala bisa membuat spons di dalam helm menjadi basah. Kalau tidak rutin dibersihkan, hal tersebut menyebabkan helm mengeluarkan bau apek di kemudian hari.

    Faktor lainnya karena rambut kamu masih dalam kondisi basah, lalu memaksakan diri untuk memakai helm. Meski rambutmu dalam keadaan bersih, tetapi kebiasaan tersebut bisa memicu bau apek karena bagian spons helm menjadi basah.

    Helm yang terkena air hujan juga bisa mengeluarkan bau apek apabila tidak segera dicuci. Biasanya, banyak pengendara yang lupa atau salah meletakkan helm ketika diparkir di tempat terbuka. Saat hujan turun, alhasil helm malah menampung air hingga merembes ke dalam spons.

    Cara Mencegah Helm Mengeluarkan Bau Apek

    Jika helm kesayanganmu bau apek, jangan khawatir. Soalnya, ada beberapa cara untuk mencegah dan mengatasi helm bau apek. Dilansir situs Wahana Honda, berikut sejumlah tipsnya:

    1. Pakai Parfum pada Helm

    Cara yang pertama adalah dengan memberikan parfum pada helm, terutama di bagian dalam. Langkah ini bisa detikers lakukan jika helm milikmu belum terlalu bau.

    Kamu bisa membeli parfum khusus untuk helm yang dijual bebas di toko ataupun online shop. Harganya bisa berbeda-beda, tergantung merek dan wanginya.

    2. Cuci dengan Air Sabun

    Kalau helm milikmu sudah sangat bau apek, maka sudah seharusnya dicuci hingga bersih. Kamu bisa mencucinya dengan air bersih yang dicampur dengan sabun.

    Jangan lupa untuk melepas spons bagian dalam secara perlahan. Kalau tidak dilepas, dikhawatirkan spons helm tidak kering secara optimal, sehingga tetap menimbulkan aroma apek.

    Setelah helm sudah bersih dan wangi, kini detikers bisa menyemprotkan parfum di bagian dalam.

    3. Pakai Bubuk Kopi

    Bubuk kopi bisa menjadi solusi alternatif untuk menghilangkan bau apek pada helm. Sama halnya dengan memakai parfum, sebaiknya gunakan cara ini jika helm detikers belum terlalu bau.

    Perlu diingat juga, menggunakan bubuk kopi tak akan membersihkan helm dari bakteri dan kotoran. Soalnya, cara ini hanya untuk menghilangkan bau apek sesaat.

    4. Jemur di Bawah Sinar Matahari

    Cara lain untuk mencegah helm bau apek adalah dengan menjemurnya di bawah sinar matahari. Langkah ini dilakukan untuk mengeringkan bagian spons helm yang basah karena keringat sekaligus menghilangkan bau apek

    Namun, kalau bau apeknya sudah sangat parah maka helm harus tetap dicuci, ya!

    5. Bawa ke Jasa Cuci Helm

    Tidak ada waktu untuk mencuci helm sendiri di rumah? Maka solusinya adalah pergi ke jasa cuci helm.

    Saat ini, sudah banyak jasa cuci helm yang bertebaran di mana-mana. Bahkan, kamu bisa menemukan jasa ini di sejumlah parkiran mall. Untuk harga cuci helm cukup bervariasi, tergantung dari jenis helm dan kecepatan waktu mencucinya.

    Itu dia lima cara mencegah bau apek pada helm dengan mudah. Jangan lupa untuk mencuci helm detikers, ya!

    (ilf/fds)



    Sumber : oto.detik.com

  • Depok Rasa Jepang, Ada Stasiun Yamanote Line



    Jakarta

    Siapa sangka, Depok memiliki spot nongkrong bernuansa stasiun kereta Yamanote Line di Jepang. Lokasinya di Loopline Cafe Depok.

    Pelayan di kafe itu menjelaskan bahwa pemiliknya, Hernando Santoso, terinspirasi untuk menciptakan konsep unik ini setelah liburan di Jepang. Dia tidak bisa melupakan pengalaman naik kereta jalur Yamanote Line yang dioperasikan oleh East Japan Railway Company.

    Kafe itu menonjolkan warna hijau cerah pada bangunannya dan mengusung konsep gerbong kereta. Ornamen dan asesoris kafe itu seolah mengajak pengunjung merasakan suasana seperti berada di dalam gerbong kereta Jepang.


    Loopline Cafe berada di Jalan Dewi Sartika No. 6 Pancoran Mas Depok, dekat dengan Stasiun Depok Lama. detikTravel berkunjung pada 15 Oktober lalu. Cuma butuh waktu lima menit berkendara dari Stasiun Depok Lama untuk sampai di kafe itu.

    Bangunan kafe tersebut terdiri dari dua lantai dengan warna khas hijau nyentrik serupa kereta Yamanote Line di Jepang dengan jalur melingkar yang menjadi simbol perjalanan yang menyenangkan di negeri sakura.

    Loopline Cafe, DepokLoopline Cafe, Depok (Amalia Novia Putri/detikcom)

    Meskipun dari luar tidak terlalu terlihat seperti gerbong kereta, ketika traveler melangkah masuk, mata akan merasakan atmosfer seperti berada di dalam stasiun gerbong kereta di Jepang, di mana dinding gerbong dihiasi dengan gagang pegangan tangan, meja, serta petunjuk peta kereta Shibuya yang semakin menambah kesan otentik dan mendukung pengalaman pengunjung.

    Area di lantai dua outdoor-nya menawarkan tempat santai bagi pengunjung untuk menikmati pemandangan KRL Bogor yang melintas dari rooftop, diiringi oleh hembusan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan, sehingga menciptakan nuansa yang terasa sempurna dan menyenangkan bagi siapa pun yang datang untuk bersantai dan menikmati suasana yang mendukung.

    Barista Eddo Loopline Coffee di depok mengatakan kafe tempatnya bekerja baru buka pada tanggal 18 Agustus 2024. Sejauh ini, kafe itu mampu menampung 20 orang di area bawah dan 15 orang di area lantai dua, dan biasanya ramai pada Sabtu dan Minggu, terutama pada sore hari.

    Untuk menu unggulan menawarkan varian Butterscotch Latte seharga Rp 28.000. Rasanya manis dan nikmat, terbuat dari 100% espresso kopi Arabika yang berkualitas dan juga berbagai menu coklat panas.

    Untuk teman nikmatnya, coba juga Gomadare Fries yang gurih dan lezat. Jangan lewatkan pula Vanilla Brulee yang manis dan lembut, mirip dengan vla vanila yang menggugah selera. Kombinasi ini pasti akan memuaskan lidah traveler.

    Loopline Cafe, DepokLoopline Cafe, Depok (Amalia Novia Putri/detikcom)

    Loopline Coffee buka dari pukul 07.00 sampai dengan 21.00 WIB, tak hanya buka di Depok, Loopline Cafe juga ada di PIK, Bekasi , Pluit. Menawarkan berbagai fasilitas yang membuat pengunjung betah, mulai dari lahan parkir yang luas untuk kenyamanan kendaraan, banyaknya tempat charger untuk memenuhi kebutuhan gadget, hingga ruangan ber-AC yang menciptakan suasana nyaman bagi para pekerja yang ingin bekerja di mana saja.

    Selain itu, tempat ngopi ini juga menjual berbagai merchandise menarik seperti tas, baju, tumblr, dan stiker unik yang tidak tersedia di tempat lain, serta punch yang pasti akan menambah keseruan pengalaman berkunjung.

    Jangan lupa abadikan momen berharga bersama keluarga, teman, dan pasangan selama berada di Loopline cafe, karena kapan lagi bisa menikmati suasana unik dan foto-foto di dalam gerbong yang terasa seperti gerbong kereta Yamanote di Depok.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Cari Kafe Tepi Sawah di Kuta? Singgah Saja ke Stuja



    Badung

    Kawasan Kuta Bali merupakan kawasan padat wisata yang dipenuhi beragam spot nongkrong. Namun, mencari suasana nongkrong yang tenang pun bisa didapatkan jika traveler singgah ke Stuja Coffee.

    Adapun Stuja merupakan jenama kafe yang telah memiliki dua cabang di Bali. Salah satu yang terkenal adalah Stuja di Pantai yang terletak di kawasan Sanur. Namun yang tak kalah menarik yang dapat traveler singgahi adalah cabang pertama Stuja di Jalan Merta Agung No.3-7, Kerobokan Kelod, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung.

    Stuja Coffee BaliStuja Coffee Kerobokan, Bali. (Weka Kanaka/detikcom)

    Dikenal juga sebagai Stuja Kerobokan, spot satu itu menawarkan pemandangan berbeda dari Stuja di pantai. Nuansanya begitu tenang dan memiliki panorama utama tepi sawah.


    Sebelumnya, tempat itu dikenal berada di area luas pematang sawah. Namun sayangnya hamparan sawah tersebut kini tersisa beberapa petak saja. Kendati demikian, suasana tenang pun masih dapat traveler rasakan jika berkunjung ke sana.

    Adapun kafe tersebut bertemakan semi industrialis dengan sentuhan kontainer di bagian depan. Memasuki bagian dalam, kafe tersebut memiliki ruang indoor maupun semi-outdoor. Dengan ruangan indoor banyak ditempati bagi para traveler yang wfh. Selain itu, ornamen kekinian hingga merchandise juga dijual di sini.

    Stuja Coffee BaliWFC di Stuja Coffee Bali. (Weka Kanaka/detikcom)

    Sementara di bagian outdoor, selain juga bisa digunakan untuk work from cafe, tempat itu juga asyik untuk nongkrong hingga menjadi arena bermain bagi anak-anak karena adanya playground.

    “Kalau kita sebenarnya lebih ke simple, modern gitu sih. Kemudian juga kita tetap kayak meng-highlight itu reuse, reduce, recycle juga sih,” ujar Marketing Stuja Melissa saat ditemui detikTravel di lokasi pada Minggu (10/11/2024).

    Selain itu di area semi-outdoor tersedia juga fasilitas photobox. Traveler dapat mengabadikan momen bahkan menempelkan hasil foto di tempat tersebut. Selain itu, tersedia juga mushola yang dapat digunakan untuk muslim traveler yang sedang singgah.

    Traveler pun dapat menikmati suasana santai di sisa-sisa pematang sawah yang ada. Sentuhan kecil khas ubud pun mungkin dapat dirasakan di sana.

    “Untuk pemilihan tempatnya karena memang tertarik dengan view sawahnya yg luas. Cuma seiring berjalannya waktu mulai banyak bangunan yang dibangun di dekat-dekat sini,” terang Melisa.

    Tak ayal menurut Melisa, para pengunjung kafe pun didominasi oleh mereka yang mencari ketenangan, misalnya saja para pekerja yang ingin work from cafe hingga keluarga.

    Di sisi lain, tersedia banyak menu baik makanan dan minuman di Stuja. Sementara Melisa menjelaskan bahwa pihaknya banyak menggunakan kopi lokal dalam sajian minumannya.

    Stuja Coffee BaliStuja Coffee Bali (Weka Kanaka/detikcom)

    Sedangkan yang menarik perhatian kami adalah Nasi Goreng Genyol. Hidangan itu adalah salah satu signature dari tempat tersebut yang menggunakan genyol atau lemak hewani. Tetapi berbeda dari genyol pada umumnya yang menggunakan lemak babi, pada genyol tersebut menggunakan lemak sapi.

    Toping genyol yang tersaji cukup menggungah selera lantaran garing di luar namun lumer seketika menyentuh lidah.

    Jika tertarik berkunjung, Stuja Kerobokan buka setiap hari pukul 8.00 – 22.00 Wita.

    (wkn/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Pasar Ini Pernah Jadi Pusat Perdagangan Rempah-rempah di Zaman Belanda



    Surabaya

    Di Surabaya, ada sebuah pasar yang dahulu pernah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah pada zaman kolonial Belanda. Pasar manakah itu?

    Pasar Pabean di Surabaya ternyata masuk ke dalam kategori pasar tua dan memiliki sejarah yang panjang. Pasar itu didirikan sejak tahun 1849 silam.

    Di ezaman itu, Belanda menggunakan Pasar Pabean sebagai pusat rempah-rempah. Pasar Pabean sendiri terletak di Jalan Songoyudan, Pabean Cantian, Surabaya, Jawa Timur.


    Dulunya kawasan itu merupakan kawasan Pecinan, bersebelahan dengan Jalan KH Mas Mansyur (dulu dikenal sebagai Kampementstraat), sebuah area yang dihuni oleh komunitas Arab.

    Hingga kini, Pasar Pabean tetap menjadi ikon pasar ikan terbesar di Jawa Timur, berkat sejarahnya yang strategis dekat dengan Pelabuhan Rakyat (Pelra) Kalimas di kawasan Tanjung Perak.

    Sejarawan Komunitas Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo mengatakan bahwa Pasar Pabean dulu dijadikan sebagai Pusat Rempah-Rempah. Bahkan, telah dijadikan pusat rempah rempah sebelum Belanda datang ke tanah air.

    “Sejak kolonial, Eropa sebelum Belanda. Kalau catatan orang Eropa datang itu tahun 1511. Karena Pabean dulunya pelabuhan, kemudian ada pasar ada gudang sehingga dijadikan pusat rempah-rempah di Pasar tersebut,” kata Kuncar, Kamis, (24/10).

    Menurut Kuncar, wilayah Pabean yang dekat dengan pelabuhan memiliki lokasi strategis, sehingga koloni Eropa membangun pos perdagangan di area itu. Hingga kini, Pasar Pabean masih eksis dijadikan tempat/gudang untuk menyimpan rempah-rempah tersebut.

    pasar pabeanPasar Pabean Foto: Firtian Ramadhani

    “Ada ketumbar, kayu manis, lada, asem dan kemiri. Sebenarnya, peralihan pertama dari rempah kemudian ke produk hasil perkebunan seperti kopi, kacang. Sehingga, di sekitar area Pasar sempat ada pabrik kopi, salah satunya pabrik kopi Kapal Api lahir di situ,” terangnya.

    Kuncar menegaskan pascakemerdekaan, Pasar Pabean telah beralih menjadi pasar yang menjual bawang merah dan bawang putih. Akan tetapi, karena lokasi Pasar Pabean yang tidak muat, pada akhirnya transaksi juga dilakukan di sekitar pasar.

    “Telah beralih itu setahu saya pascakemerdekaan, menjadi sepenuhnya pasar bawang merah, bawang putih. Nah, karena lokasi Pasar Pabean tidak muat, penjualan akhirnya dilakukan juga di sekitar pasar,” urainya.

    Selain menjual bawang, Pasar Pabean tetap digunakan sebagai pasar untuk penjualan rempah-rempah. Meskipun telah beralih usai Pasar Pabean tidak dikuasai oleh Koloni Eropa, warga tetap saja menjual rempah-rempah yang telah ada sejak dulu.

    “Penjualan di sekitar pasar ada di Jalan Panggung itu banyak, yang eceran itu kan kelihatan. Jadi meski telah beralih, rempah-rempah tetap dijual di sana. Lokasi penyimpanan rempah-rempah dan kopi ada di dalam Pasar itu kan ada gudang, rempah-rempah dan kopi disimpan di situ,” tandas dia.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Odeon Chinatown Sukabumi, Spot Wisata Kuliner Halal Bergaya Pecinan



    Jakarta

    Sukabumi tak hanya memiliki destinasi wisata alam. Kini, ada juga destinasi wisata kuliner tematik bergaya pecinan.

    Adalah Odeon Chinatown Soekaboemi yang berlokasi di Ruko Danalaga Square, Jalan Pajagalan, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong. Berkunjung ke sana traveler akan disuguhi pengalaman kuliner dengan nuansa khas kampung China.

    Nuansa pecinan langsung terasa melalui ornamen khas seperti lampion dan dekorasi bernuansa Tionghoa. Suasana itu diperkuat dengan tampilan setiap gerai makanan dan minuman yang dihias dengan pernak-pernik oriental, menciptakan atmosfer yang berbeda dari tempat kuliner lainnya di Sukabumi.


    Beragam pilihan kuliner tersedia di Odeon Chinatown, mulai dari makanan khas oriental seperti dimsum, kopi tiam, dan kimbab, hingga hidangan lokal dari berbagai daerah. Konsep tematik ini tidak hanya menghadirkan suasana unik, tetapi juga menawarkan menu yang terjangkau.

    “Harga makanan di sini rata-rata mulai dari Rp15.000 hingga Rp25.000, sehingga ramah di kantong,” ujar Direktur PT Putra Sakti Sukamulya, Budiyanto Hukin Pramono, Sabtu (21/12/2024).

    Odeon Chinatown Soekaboemi.Odeon Chinatown Soekaboemi. (Siti Fatimah/detikJabar)

    Sebanyak 28 tenant kuliner di Odeon Chinatown Soekaboemi telah tersertifikasi halal. Mayoritas tenant berasal dari UMKM lokal yang kini memiliki tempat usaha permanen.

    “Sebagian besar tenant adalah UMKM yang berkembang dari awalnya hanya berjualan di pinggir jalan. Dengan adanya tempat ini, mereka bisa naik kelas dan memperluas bisnisnya,” ujarnya.

    Selain kuliner, fasilitas penunjang di Odeon Chinatown turut menjadi nilai tambah. Tersedia area parkir luas, toilet yang bersih, dan panggung untuk berbagai acara seperti live music atau senam jantung sehat.

    “Kami juga membuka ruang bagi seniman lokal untuk tampil di panggung, sehingga mereka punya kesempatan menunjukkan karya mereka,” tambahnya.

    Odeon Chinatown Soekaboemi.Odeon Chinatown Soekaboemi. (Siti Fatimah/detikJabar)

    Penjabat Wali Kota Sukabumi, Kusmana Hartadji, mengapresiasi kehadiran Odeon Chinatown Soekaboemi sebagai salah satu ikon wisata kuliner di kota ini. Ia menyebutkan bahwa tempat ini tidak hanya meningkatkan kunjungan wisata, tetapi juga mendukung perekonomian lokal melalui penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan UMKM.

    “Kami berharap tempat ini menjadi daya tarik baru yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Sukabumi. Dengan 28 tenant yang aktif, peluang ekonomi bagi masyarakat semakin terbuka,” ungkap Kusmana.

    Pemkot Sukabumi juga berkomitmen memberikan pendampingan kepada pelaku usaha kuliner agar mereka dapat terus berkembang. “Kami akan melakukan pelatihan dan promosi secara teknis untuk mendukung keberlanjutan usaha para tenant di sini. Kolaborasi dengan stakeholder juga sangat penting,” jelasnya.

    Salah satu pengunjung, Annisa (19), warga Cisaat, mengaku terkesan dengan suasana tempat ini. “Awalnya tahu dari Instagram. Pas datang, suasananya nyaman dan teduh. Dekorasi Chinese-nya jadi nilai tambah,” ujar Annisa.

    ____________

    Baca artikel selengkapnya di detikJabar

    (wkn/wkn)



    Sumber : travel.detik.com