Tag: kopi

  • Kemping Sambil Menanam Kopi di Sukabumi



    Sukabumi

    Traveler yang mau menghabiskan libur Natal dan Tahun Baru bisa meluncur ke Sukabumi. Kalian bisa kemping sambil menanam kopi di tempat ini.

    Goalpara Estate Camp di Sukabumi menawarkan pengalaman camping yang berbeda. Dengan konsep premium camp, pengunjung diajak merasakan kenyamanan berkemah yang berkelas sambil menikmati aktivitas seru seperti menanam pohon kopi dan bersepeda di alam terbuka.

    Manager Goalpara Estate Camp, Fahrul MW, menjelaskan bahwa camping ground ini dirancang sebagai kawasan premium camp yang menawarkan kenyamanan setara fasilitas modern, namun tetap berada di tengah suasana alam yang asri.


    “Konsep estate camp memang terdengar asing, tetapi kami memberikan kesan seperti cluster perumahan dengan area camping yang private,” ujar Fahrul, Senin (23/12/2024).

    Goalpara Estate Camp menyediakan fasilitas unggulan seperti tenda premium, toilet pribadi dengan water heater, area api unggun, listrik gratis, serta lahan berumput khusus yang nyaman.

    “Tanahnya pun bebas bebatuan, jadi sangat nyaman untuk kegiatan camping,” tambahnya.

    Aneka Fasilitas yang Tersedia

    Tenda yang ditawarkan Goalpara Estate Camp hadir dalam berbagai kapasitas. Untuk tenda kapasitas dua orang, pengunjung dikenakan tarif Rp 975 ribu per malam. Harga tersebut sudah termasuk sarapan pagi serta area camp private seluas 120 meter persegi.

    Selain itu, tersedia juga tenda berkapasitas empat orang, hingga tenda dua kamar yang cocok untuk kumpul keluarga. Saat ini, tersedia tujuh tenda premium yang disiapkan untuk para tamu.

    Bagi pengunjung yang membawa tenda sendiri, Goalpara Estate Camp juga menyediakan area khusus dengan kapasitas yang disesuaikan.

    “Kami batasi jumlah tenda untuk menjaga kenyamanan pengunjung,” jelas Fahrul.

    Aneka Aktivitas Menarik buat Wisatawan

    Tak hanya sekadar kemping, Goalpara Estate Camp juga menawarkan berbagai aktivitas menarik. Salah satunya adalah program menanam kopi, yang menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung akan didampingi guide untuk menanam pohon kopi, yang nantinya diberi nama sesuai pemiliknya.

    Setiap dua hingga tiga bulan, perkembangan pohon tersebut akan dilaporkan ke pemiliknya, termasuk saat panen. Selain itu, Goalpara Estate Camp juga menyediakan mountain bike sebagai fasilitas tambahan bagi pengunjung yang menginap.

    Camping Premium di SukabumiKemping di Sukabumi Foto: Siti Fatimah/detikJabar

    “Program kopi ini punya nilai sejarah. Dulu, area Goalpara ini merupakan perkebunan kopi peninggalan zaman Belanda. Kami ingin mengangkat kembali sejarah itu,” terang Fahrul.

    Pengunjung pun dapat menikmati kopi khas Sukabumi melalui Sukha Kopi, kafe di dalam area Goalpara Estate Camp.

    “Kami punya delapan jenis kopi asli Sukabumi, seperti dari Gunung Gombong, Selabintana, Kadudampit, Jampang, dan lainnya,” ujarnya.

    Proyeksi Libur Nataru

    Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), antusiasme pengunjung cukup tinggi. Fahrul mengungkapkan, meskipun belum resmi dibuka sepenuhnya, sudah ada beberapa pemesanan melalui media sosial.

    “Kebetulan belum penuh, tapi sudah ada yang booking. Kami benar-benar menjaga area private agar tidak bercampur dengan pengunjung lain,” jelasnya.

    Cara Menuju ke Lokasi

    Goalpara Estate Camp terletak sekitar 8-9 kilometer dari jalan nasional dan cukup mudah dijangkau, namun tetap memberikan suasana tenang dan jauh dari keramaian.

    Alamatnya berada di Jalan Goalpara, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Tempat wisata ini memiliki luas total sekitar dua hektare.

    ——

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • 8 Wisata Edukasi di Jember, Cocok untuk Liburan Sambil Belajar



    Jakarta

    Ingin liburan ke Jember? Temukan informasi lengkap tentang wisata Jember di situs web jembertourism.com agar pengalaman traveling Anda menyenangkan.

    Jember tidak hanya menyajikan pantai yang indah atau wisata kuliner yang menggugah selera. Tidak hanya dikenal dengan keindahan alam dan budayanya, Jember juga menyajikan berbagai destinasi wisata edukasi yang menarik.

    Jember memiliki beragam destinasi wisata edukasi yang cocok untuk semua usia, mulai dari taman botani yang asri, museum bersejarah, hingga pusat penelitian inovatif. Tempat-tempat ini memberikan pembelajaran yang menyenangkan bagi pengunjung dari berbagai kalangan.


    Mari jelajahi 8 wisata edukasi di Jember yang membuat liburan lebih berkesan dan bermanfaat.

    1. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka)

    Sebagai pusat penelitian terbesar di Asia Tenggara dalam bidang ini, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (PPKK) di Jember tidak hanya menjadi laboratorium riset bagi para ilmuwan, tetapi juga bagi wisatawan yang ingin belajar tentang budidaya dan pengolahan kopi serta kakao.

    Wisatawan dapat mengikuti tur perkebunan untuk melihat langsung bagaimana tanaman kopi dan kakao dibudidayakan, mulai dari proses pembibitan, perawatan, hingga panen. Terdapat juga fasilitas pengolahan agar wisatawan dapat menyaksikan langsung tahapan pasca-panen, seperti fermentasi biji kakao dan pengolahan kopi dari biji hingga menjadi bubuk siap seduh.

    Di area ini juga terdapat ruang edukasi yang menampilkan berbagai inovasi teknologi dalam industri kopi dan kakao. Bahkan, wisatawan juga bisa mengikuti sesi cupping atau mencicipi berbagai jenis kopi dan cokelat sehingga berwisata di tempat ini tidak hanya informatif, tetapi juga menyenangkan.

    2. Kampung Batja

    Destinasi wisata ini berfokus pada penguatan budaya literasi di Jember. Tempat ini dirancang sebagai ruang baca terbuka yang mengajak masyarakat, khususnya anak-anak, untuk lebih mencintai buku dan dunia literasi.

    Berlokasi di Kecamatan Patrang, Kampung Batja menyediakan koleksi buku yang bisa diakses secara gratis. Selain itu, terdapat program menarik seperti kelas menulis, diskusi buku, serta kegiatan mendongeng yang melibatkan para relawan dan komunitas literasi setempat.

    Kampung Batja juga memiliki ruang kreatif untuk berbagai kegiatan seni, seperti menggambar, mewarnai, dan pertunjukan teater kecil yang bertujuan untuk meningkatkan imajinasi dan kreativitas anak-anak.

    3. Kebun Teh Gunung Gambir

    Destinasi berikut ini menawarkan pengalaman belajar proses budidaya dan pengolahan teh. Terletak di ketinggian sekitar 900-1.200 mdpl, pengunjung dapat mengikuti tur kebun untuk melihat langsung cara pemetikan daun teh yang benar, proses pengeringan, hingga pengolahan menjadi teh siap seduh.

    Tersedia pula fasilitas rumah produksi yang memperkenalkan berbagai jenis teh dengan metode penyeduhan terbaik.

    4. Jember Mini Zoo

    Kebun binatang mini ini menghadirkan berbagai hewan, mulai dari unggas, reptil, hingga mamalia. Bukan hanya dapat melihat satwa dari dekat, Anda juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan beberapa hewan jinak melalui sesi feeding atau pemberian makan.

    Jember Mini Zoo juga memiliki berbagai fasilitas pendukung seperti taman bermain, area piknik, serta spot foto bertema alam. Tempat ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, anak-anak dapat bermain sambil mengenal lebih jauh tentang keanekaragaman fauna.

    5. Taman Botani Sukorambi

    Terletak di lereng perbukitan, taman ini memiliki lebih dari 300 jenis tanaman obat, buah-buahan, serta tanaman hias yang bisa dipelajari oleh pengunjung. Taman ini menyediakan berbagai wahana, seperti kolam renang, rumah kelinci, dan area permainan edukatif untuk anak-anak.

    6. Museum Tembakau

    Museum ini menampilkan koleksi artefak, seperti alat pengolahan tembakau, dokumen sejarah, serta berbagai jenis daun tembakau khas Jember, termasuk tembakau Na Oogst (berasal dari bahasa Belanda yang berarti ‘setelah panen’) yang terkenal di pasar internasional.

    Pengunjung dapat belajar tentang proses budidaya, panen, hingga pengolahan tembakau menjadi produk jadi. Terdapat pula ruang penelitian yang memperlihatkan inovasi dalam industri tembakau.

    7. Kampung Wisata Belajar Tanoker

    Terkenal dengan permainan egrang, kampung ini sering mengadakan festival untuk melestarikan budaya lokal dan memperkenalkan aktivitas kreatif kepada anak-anak. Pengunjung dapat mengikuti berbagai workshop, seperti kerajinan tangan dan kuliner khas desa.

    8. Desa Wisata Kemiri

    Berada di Kecamatan Panti, desa ini menawarkan pengalaman menyeluruh tentang dunia perkopian, mulai dari proses budidaya, panen, hingga pengolahan biji kopi. Pengunjung dapat mengikuti tur perkebunan, menyaksikan teknik pemetikan kopi yang tepat, serta belajar mengenai metode pengolahan pasca-panen seperti fermentasi dan penjemuran.

    Desa ini juga memiliki Usaha Kecil Menengah (UKM) yang mengolah kopi menjadi berbagai produk, seperti bubuk kopi khas Jember yang siap diseduh. Terdapat berbagai kegiatan menarik, seperti workshop menyeduh kopi dengan teknik manual brewing, serta sesi mencicipi berbagai varian rasa kopi yang dihasilkan desa ini.

    Dengan mengunjungi destinasi-destinasi tersebut, Anda tidak hanya mendapatkan hiburan tetapi juga pengetahuan yang bermanfaat. Tunggu apalagi? Yuk, rencanakan liburan edukatif di Jember bersama keluarga tercinta!

    (anl/ega)



    Sumber : travel.detik.com

  • Mengulik Gunung Haruman Garut, Keindahan Alam dan Sejarah di Baliknya


    Jakarta

    Lebih dari sekadar puncak yang menawarkan panorama Garut dari ketinggian, Gunung Haruman adalah persimpangan antara keindahan alam dan jejak sejarah Islam. Di sinilah, para pencari ketenangan mendaki dan para peziarah menemukan kedamaian di makam-makam tokoh suci.

    Berikut fakta dan hal-hal menarik lainnya seputar Gunung Haruman di Garut:

    1. Punya Pemandangan yang Indah

    Gunung ini memiliki pemandangan yang bisa memanjakan mata. Mulai dari view hijau sejauh mata memandang, Garut dari ketinggian, hingga udara segar.

    “Kami bangun dan menikmati pemandangan sunrise yang sangat indah di hari baru dan tak lupa menikmati kopi. Kami mengabadikan keindahan dengan berfoto foto sambil menikmati awan yang semakin terang semakin terbuka,” ujar salah satu pengalaman dTraveler Faulla Bagus Mauluddin saat menjajaki Gunung Haruman Garut, dikutip dari catatan detikTravel yang tayang pada 3 Agustus2023.


    Selain itu, Gunung ini juga kerap kali dijadikan sebagai lokasi wisata paralayang oleh pegiat alam bebas.

    2. Dianggap Jadi Lokasi Pusat Penyebaran Islam Di Garut

    Mengutip informasi dari media lokal Garut, Gunung Haruman merupakan gunung yang awalnya berasal dari nama sebuah tempat bernama Ciharuman. Konon, tempat itu menjadi lokasi pusat penyebaran Islam di Garut oleh seorang wali bernama Embah Wali Jafar Sidik.

    Mengutip buku Sejarah Pesantren: Jejak, Penyebaran, dan Jaringannya di Wilayah Priangan oleh Ading Kusdiana, berdasarkan informasi dari tradisi lisan yang berkembang di kalangan masyarakat Garut, Sunan Jafar Sidiq merupakan penyebar Islam di wilayah Garut Utara, khususnya di wilayah Cibiuk dan Limbangan.

    Ia diperkirakan hidup antara akhir abad ke- 17 dan awal abad ke-18. Di kalangan masyarakat Garut, sosok ini dikenal juga dengan nama Embah Wali Jafar Sidik dan Sunan Haruman.

    3. Ada Makam Tokoh Agama

    Terdapat 3 makam tokoh agama yang dirawat oleh pihak pengelola di Gunung Haruman. Ketiga makam tersebut adalah makam Syekh Jafar Asidiq, Syekh Maulana Malik Ibrahim, dan makam Nyai Fatimah.

    Sampai sekarang, masyarakat masih banyak yang sengaja berziarah ke makam-makam yang ada di Gunung Haruman.

    (khq/fds)



    Sumber : travel.detik.com

  • Saung Ciburial, Dulu Miskin, Kini Mendunia!



    Jakarta

    Dari pelosok terpencil hingga panggung nasional, Desa Sukalaksana di Garut, Jawa Barat menulis ulang kisahnya. Sebuah desa yang dulu menjadi kantong kemiskinan, kini menjelma menjadi destinasi wisata ‘Desa BRILian’ yang menginspirasi. Bagaimana bisa?

    Udara segar pegunungan menyambut di Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Garut, Jawa Barat. Desa itu berjarak sekitar 10 km dari jantung kota Garut. Dikenal sebagai Desa Wisata Saung Ciburial, tempat ini menawarkan ketenangan dan keindahan alam yang asri. Keasrian desa itu dulu tidak bikin warganya berkecukupan.

    Ya, Desa Sukalaksana adalah desa tertinggal dulu. Namun, berkat ide kreatif Kepala Desa Oban Sobana dan dukungan berbagai pihak, termasuk Bank BRI, desa tersebut bertransformasi menjadi destinasi wisata yang memikat.


    “Dulu desa ini bisa disebut desa miskin di Garut,” kata Siti Julaeha, pengelola Bumdes Desa Sukalaksana, kepada detikcom.

    Desa itu merupakan pemekaran, namun bukan berada di sisi jalan utama. Nah, Kades Oban menyadari desa itu harus mampu membiayai operasional dengan potensi yang dimiliki. Dia berguru ke Yogyakarta, tepatnya ke Desa Petingsari. Pulang dari Desa Petingsari, Oban langsung mempraktikkan apa yang didapatkan dari Jogja itu; membangun Desa Sukalaksana menjadi desa wisata.

    “Desa wisata enggak usah kita buat yang aneh-aneh, sesuatu yang diada-adakan, kenapa kita tidak coba kalau di sini (memiliki potensi desa) dan kita kembangkan, itu sebenarnya inspirasi pertamanya,” ujar Siti.

    Oban dan Bumdes serta warga lokal menyepakati untuk memanfaatkan rumah khas desa itu, rumah palupuh, yang kemudian dibangun sebagai ikon desa komplet dengan sumber mata air bernama mata air Ciburial di belakangnya.

    Desa Seukalaksana itu kemudian juga dikenal sebagai Desa Saung Ciburial. Untuk mengembangkan pariwisata, desa itu mengusung konsep natural. Kemudian, dikembangkan pula kearifan lokal yang autentik, mulai dari perkebunan sawi yang terkenal, budidaya domba Garut, hingga teh kewer dan kopi.

    “Lebih pure menyajikan tentang desa,” kata Siti.

    Pengunjung juga bisa menyaksikan permainan tradisional anak-anak, pencak silat Gajah Putih yang mendunia, dan berbagai kerajinan lokal.

    Kini, Desa Wisata Saung Ciburial dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sukalaksana.

    BRI turut berperan penting dalam pengembangan desa wisata ini. Bantuan yang diberikan berupa peralatan, dana, dan pendampingan.

    “BRI mulai datang sekitar sebelum pandemi 2019-an,” kata Siti.

    Dukungan ini sangat membantu, terutama dalam pengembangan fasilitas dan pemberdayaan masyarakat. Istimewanya lagi, Desa Sukalaksana menyabet predikat juara 1 Desa BRILian 2021.

    Desa Sukalaksana memiliki luas wilayah 203.426 hektare dengan jumlah penduduk 4.991 jiwa (data 2021). Keberhasilan Desa Wisata Saung Ciburial menjadi bukti bahwa potensi desa dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    (fem/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Daya Tarik dan Harga Tiket Masuk di 2025


    Jakarta

    Kuningan memiliki berbagai tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah Ghiffari Valley. Apabila kamu ingin menghabiskan waktu bersama keluarga atau ingin mengajak main si kecil, tempat ini wajib dikunjungi.

    Saat weekend dan musim liburan, Ghiffari Valley selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik dari warga Kuningan maupun kota lainnya. Harga tiket masuk (HTM) yang terjangkau membuat objek wisata ini tak pernah sepi pengunjung.

    Selain itu, Ghiffari Valley memiliki daya tarik tersendiri jika dibandingkan dengan sejumlah tempat wisata lain di Kuningan. Ingin tahu aktivitas seru yang bisa dilakukan di Ghiffari Valley? Simak ulasan singkatnya dalam artikel ini.


    Daya Tarik Ghiffari Valley

    Ghiffari Valley merupakan rumah makan berkonsep tempat wisata. Tak hanya mencicipi aneka makanan dan minuman yang lezat, pengunjung juga bisa berkeliling sambil mencoba berbagai wahana seru.

    Mengutip catatan detikTravel, ada sejumlah fasilitas di Ghiffari Valley yang menjadi daya tarik tersendiri, mulai dari kolam ikan terapi, kolam pemancingan, taman kelinci, taman burung, hingga kolam renang.

    Lalu, di dalam kawasan Ghiffari Valley juga terdapat taman burung, kebun binatang mini, hingga taman teletubbies. Selain itu, ada juga berbagai wahana yang seru dan menantang untuk orang dewasa, di antaranya flying fox hingga jalan-jalan sambil menaiki kuda.

    Lokasinya yang berada di dekat kaki Gunung Ciremai membuat suasana di Ghiffari Valley terasa sejuk dan segar. Tempat ini sangat cocok bagi travelers yang ingin healing sejenak dari hiruk pikuk perkotaan.

    Fasilitas dan wahana yang ditawarkan membuat Ghiffary Valley menjadi objek wisata ramah anak dan keluarga di Kuningan. Maka tak heran, tempat ini ramai dikunjungi saat akhir pekan dan waktu libur tertentu, seperti libur sekolah atau libur Lebaran.

    Harga Tiket Masuk Ghiffari Valley

    Bagi travelers yang ingin berwisata ke Ghiffari Valley, akan dikenakan tiket masuk per orangnya. Berikut harga tiket masuk (HTM) Ghiffary Valley di 2025:

    • Hari biasa: Rp 20.000/orang
    • Akhir pekan: Rp 15.000/orang.

    Selain itu, pihak pengelola juga menawarkan perjalanan pulang pergi dari Ghiffari Valley ke Lima Kisah Kopi. Setiap pengunjung akan dikenakan tarif sebesar Rp 10.000 untuk pulang pergi.

    Sedikit informasi, Lima Kisah Kopi merupakan kedai kopi yang terletak di Desa Linggasana, Kecamatan Cilimus, Kuningan. Sebenarnya, jarak dari Ghiffari Valley ke kedai kopi tersebut tidak terlalu jauh, kurang lebih sekitar 10 menit saja.

    Selama di Lima Kisah Kopi, travelers bisa menikmati berbagai aneka hidangan yang lezat sambil menikmati pemandangan alam yang indah. Sebab, kedai kopi ini berada di kaki Gunung Ciremai.

    Suasana di Lima Kisah Kopi juga begitu tenang dan menyejukkan. Jadi, kalau detikers butuh ketenangan sambil menyeruput kopi hangat, tempat ini wajib dikunjungi.

    Jam Buka Ghiffari Valley

    Ghiffari Valley buka setiap hari dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Bagi travelers yang ingin berwisata, sebaiknya datang sejak pagi hari agar puas berkeliling dan mencoba semua wahana.

    Selain itu, kamu juga bisa mengajak keluarga, saudara, atau pasangan untuk santap siang di restoran Ghiffari Valley. Disarankan datang sejak awal agar kamu bisa mendapatkan meja.

    Lokasi Ghiffari Valley

    Ghiffari Valley terletak di Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Apabila detikers berangkat dari pusat kota Kuningan, jaraknya sekitar 15 kilometer atau 30 menit perjalanan dengan mengendarai mobil.

    Demikian ulasan singkat mengenai Ghiffari Valley, salah satu tempat wisata keluarga dan anak-anak yang terkenal di Kuningan. Jadi, tertarik untuk liburan ke sana?

    (ilf/fds)



    Sumber : travel.detik.com

  • Menyelami Dunia Kopi di Pasar Santa



    Jakarta

    Pecinta kopi pasti sudah tidak asing dengan Kedai Dunia Kopi di Pasar Santa. Kedai kopi ini sederhana tapi istimewa.

    Wangi kopi menyeruak dari lantai basement Pasar Santa, Jakarta Selatan. Plang kedai ‘Dunia Kopi’ tampak di tengah bangunan. Jajaran toples kopi dengan kapasitas 5 kg tertata rapi di etalase.

    Pak Suradi (53), pemilik Dunia Kopi tampak sibuk menghitung pesanan. Ia pindah dari satu gerai ke gerai lain. Mungkin bagi yang tidak biasa akan bingung, karena ternyata Pak Suradi memiliki banyak gerai dalam satu lantai.


    “Sekitar 40an gerai, termasuk untuk gudang,” ucap pria asal Purwodadi itu.

    Dunia Kopi ada sejak tahun 2000, saat itu baru satu kios yang ia miliki. Lambat laun, usahanya menapaki tangga kepopuleran, terlihat dari banyaknya wisatawan internasional yang datang ke sana.

    Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

    “Malahan awal-awal itu yang datang bule-bule,” katanya.

    Usahanya ini memang sudah lama ia cita-citakan dengan tujuan mengenalkan nama Indonesia lewat kopi.

    “Di sini (Indonesia) banyak kopi, masa nggak bisa aku kelola dengan baik,” katanya pada detikTravel, Rabu (30/4).

    Saat pertama kali berjualan, hanya dua jenis kopi yang dijual yaitu Arabika dan Robusta. Kopi arabika cenderung dengan citarasa yang kompleks, sementara robusta lebih ke rasa pahit. Kalau pohon arabika tumbuh di ketinggian 1.000-2.000 mdpl, pohon kopi robusta tumbuh di ketinggian lebih rendah, di bawah 700 mdpl.

    “Dulu hanya 6 toples saja, sekarang kita buat ekosistemnya, langsung dari petani dari seluruh Indonesia. Jenisnya kita tambah jenisnya, ada robusta, arabika, liberika dan escelsa,” jawabnya.

    Dunia Kopi Pasar SantaPak Suradi pemilik Dunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

    Varietas kopi yang ditawarkan juga beragam, mulai dari yellow honey, black honey, sigararutang, sampai yellow bourbon. Bisa dibilang hampir lengkap, tak ayal banyak pelanggan yang hilir mudik di sana.

    Di tiap kios, pegawai Dunia Kopi sibuk menimbang kopi. Pelanggan mencatat pesanan mereka dan memilih jenis kopi. Kalau ragu, mereka bisa langsung mencicip kopi di sudut basement, Pak Suradi menyiapkan kios khusus untuk mencicipi kopi. Maklum, kebanyakan pembeli adalah reseller kelas kakap.

    “Semua boleh minum kopi, gratis. Ajang promosi lah begitu, bagi-bagi gratis, tidak dibatasi,” ungkap pria kelahiran Blora itu.

    Untuk kopi gratis ini saja, ia bisa habis 5-10 kg per hari. Kedai kopi itu beroperasi dari pukul 06.00 WIB sampai 18.00 WIB dengan total karyawan 25 orang, penjualan sehari tak kurang dari satu ton.

    Modal yang kuat sudah harus disiapkan. Selidik punya selidik, ternyata Pak Suradi menyuntik usahanya dengan dana pinjaman dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) sampai 4 kali.

    Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

    “Pinjaman pertama itu Rp 100 juta, pinjaman kedua Rp 200 juta, pinjaman ketiga Rp 300 juta dan terakhir lunas tahun ini Rp 500 juta,” ucapnya.

    Selain dukungan modal, Pak Suradi juga merasa sangat terbantu dengan syarat-syarat KUR. Saking sibuknya, berkas-berkas it ditandatangani di kedainya, suatu kemudahan bagi UMKM.

    Pak Suradi berkata bahwa turis yang paling banyak datang belakangan ini adalah orang Korea dan Jepang. Mereka sengaja memilih kopi sebagai oleh-oleh. Turis China, Malaysia dan Singapura juga masih daftar 5 turis yang paling banyak singgah.

    “Kemarin dari Jepang beli sampai dua koper penuh. Mereka suka kopi Toraja, luwak dan gayo. Tapi paling favorit luwak,” ungkapnya.

    Sepanjang usahanya, ia ingat akan satu turis asal Rusia. Turis ini beli kopi sampai dua karung, jenis kopi Bali. Satu hari beli satu karung, semua untuk oleh-oleh. Mereka datang saat weekday.

    Beda lagi dengan wisatawan domestik, sukanya kopi robusta dan arabika, datangnya saat weekend. Dunia kopi terasa seperti tempat wisata di Sabtu pagi.

    Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

    “Mereka datang naik sepeda, ke sini ngopi gratis. Di sini tempatnya nyaman untuk ngumpul dan nggak dibatasi,” jawabnya.

    Per 100 gram, kopi ini dijual dengan harga paling murah Rp 13 ribu dan yang paling mahal Rp 20 ribu yaitu excelsa ijen dan liberika Jambi.

    Sukses dan tidak pelit ilmu, Pak Suradi membuka kelas barista untuk anak-anak yatim dan pesantren secara gratis. Ada pula kelas umum untuk mereka yang baru mau belajar, biayanya Rp 500 ribu sampai mahir.

    Jay (35) adalah trainer dan mekanik mesin kopi di Dunia Kopi. Sejak berkarir sebagai barista di sana pada tahun 2019, ia telah melatih sekitar 300 orang, termasuk peserta disabilitas netra dan rungu.

    “Bangga sih sebenarnya, apa yang selama ini diinginkan anak-anak barista tercapai, banyak bule uang suka kopi datang ke Indonesia,” jawabnya.

    Pak Suradi tak merasa rugi dengan itu semua. Ia malah senang bisa menjadi perpanjangan tangan dan bermanfaat bagi sekitar. Ia berterima kasih juga pada BRI yang telah mendukungnya selama ini.

    “Maju terus untuk pelayanannya, sukses untuk BRI,” katanya.

    Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

    Pariwisata Lewat Kopi

    Perkembangan pariwisata kopi tak lepas dari perhatian Pengamat Ahli Pariwisata Profesor Azril Azhari. Sebagai pecinta kopi, ia bangga nama kopi Indonesia mulai dilirik oleh dunia.

    “Ini sangat bagus, tapi sekali lagi sayang karena kita hanya fokus pada kopinya saja,” ungkap mantan dosen Universitas Indonesia itu.

    Sejatinya, proses alami yang terjadi pada kopilah yang membuat rasanya mewah. Sebut saja kopi luwak, proses fermentasi yang terjadi di lambung luwak lah yang membuat cita rasa kopi itu jadi berbeda.

    “Kopi yang bagus itu sudah difermentasi, kalau di luar negeri itu dibuat jadi tidak alami,” ungkapnya.

    Lebih lanjut, Prof Azril mengatakan bahwa sejak dipetik memang kopi Indonesia mengalami proses alami. Kopi dijemur di panas matahari sehingga kering dengan perlahan.

    “Di luar negeri itu keringnya dipaksa lewat oven, di sini dijemur di jalanan,” katanya sambil tertawa.

    Pada tahun 2018, Prof Azril mematenkan batik dari ampas kopi. Saat dipakai, batik akan mengeluarkan wangi semerbak layaknya kopi yang dihidangkan.

    Dunia Kopi Pasar SantaPak Suradi bersama reseller Dunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

    “Harusnya bukan cuma kopinya tapi semua aspek kopi, ampasnya dijadikan bahan untuk spa, sementara sejarah kopi di Maluku dan Sumatera dijadikan paket wisata ‘Spicy Road’, melihat kembali bagaimana VOC menguasai kita di zaman itu,” jawab Prof Azril.

    Wisata jalur rempah Indonesia, itulah yang menjadi impian dari Prof Azril. Pendiri ilmu pariwisata Indonesia itu ingin agar kopi Indonesia terus maju dan mengharumkan nama bangsa.

    “Indonesia itu sudah terkenal rempah-rempahnya dari dulu, ini tinggal pemerintah saja bagaimana mendukungnya,” tutupnya.

    (bnl/bnl)



    Sumber : travel.detik.com

  • Memetik dan Menyeduh Kopi Langsung dari Kebunnya di Pegunungan Muria



    Kudus

    Traveler pecinta kopi mesti mencoba pengalaman wisata satu ini, memetik dan menyeduh kopi langsung dari kebunnya di pegunungan Muria. Syahdu!

    Di lereng Pegunungan Muria, tepatnya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, terdapat kebun kopi yang luas dengan pemandangan yang indah. Wisatawan yang liburan ke sini bisa merasakan kopi khas pegunungan Muria dengan pemandangan yang tiada duanya.

    Salah satu penyedia paket wisata kopi di Lereng Muria adalah M Ridlo (35), warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Pemilik kopi Zayna ini menyediakan jasa trip perjalanan ke puncak Muria sambil menyeduh kopi langsung dari kebunnya.


    Lokasinya berada di Puncak Gunung Muria. Perjalanan dari Desa Colo ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. Jalan yang ekstrem dan terjal di Lereng Pegunungan Muria menjadi tantangan tersendiri bagi wisatawan. Perjalanan itu jaraknya sejauh 4 kilometer.

    Sesampainya di puncak, wisatawan harus berjalan kaki lagi sekitar 500 meter. Pengunjung harus berhati-hati karena medan jalan cukup licin dan terjal.

    Sesampainya di atas puncak gunung, rasa lelah bakal terbayar lunas. Sebab di atas terdapat gardu pandang yang siap digunakan untuk ngopi bersama dengan melihat keindahan alam.

    Wisatawan asal Semarang, Winda, mengaku sengaja datang bersama temannya untuk menikmati kopi dan perjalanan muncak Gunung Muria. Dia mengakui harus melalui jalan yang ekstrem dan terjal. Namun hal itu terbayarkan setelah sampai puncak Muria.

    “Perjalanan luar biasa bikin capek karena kita ramai-ramai juga pas perjalanan pakai motor. Untuk jalan kaki sedikit (terjal) tapi seru banget,” ungkap Winda di lokasi beberapa waktu lalu.

    Menurutnya pemandangan dari puncak Muria begitu indah. Banyak Pegunungan terlihat. Pemandangan indah kota Kudus juga terlihat dari atas. Di lokasi juga terdapat hamparan kebun kopi yang luas.

    Menikmati kopi langsung dari kebunnya di Lereng Gunung Muria Kudus, Sabtu (12/4/2025).Menikmati kopi langsung dari kebunnya di Lereng Gunung Muria Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

    Wisatawan bisa menikmati kopi di atas gardu pandang. Tak ayal berasa ngopi di atas awan dengan pemandangan alam yang sejuk dan indah.

    “Pemandangan luar biasa banget. Bisa melihat pegunungan, terus suasananya sejuk banget. Kita diajak seduh kopi langsung dan di sini kita masak mi juga. Suara burung terdengar merdu sekali,” ungkap dia.

    Pengelola wisata kebun kopi khas Muria, M Ridlo, menjelaskan potensi wisata ngopi di tengah kebun kopi Puncak Muria amat menarik. Sebab lokasi ini menawarkan panorama keindahan alam yang indah dan sejuk.

    “Kita lagi ngopi di kebun kopi. Kita bisa sambil ngopi nyeduh kopi langsung di perkebunan kopi. Jadi kita ada edukasi wisata trip perjalanan ke kebun kopi. Petik kopi hingga nyeduh kopi langsung dari kebun,” ujar dia.

    Ridlo menyediakan fasilitas jasa ojek hingga kopi. Wisatawan akan diantarkan sampai atas Muria. Setelah itu bisa menikmati kopi langsung dari tengah kebun di Puncak Muria.

    “Perjalanan menyusuri Lereng Muria sampai di atas sini. Di sini ada beberapa fasilitas ada gardu pandang, masak, ngopi dan lainnya,” ujarnya.

    Tarif untuk merasakan pengalaman ini dibanderol per orang antara Rp 60 ribu sampai Rp 120 ribu. Tergantung dengan spot puncak yang diinginkan. Semakin berat medannya, maka biayanya semakin bertambah.

    “Untuk ngopi free semua. Tarif itu jasa ojek ke atas,” jelasnya.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kesegaran Tersembunyi di Kaki Gunung Salak



    Sukabumi

    Traveler yang mencari kesegaran buat liburan di akhir pekan bisa bertualang ke kaki gunung Salak. Di sana ada satu curug atau air terjun yang masih tersembunyi.

    Kabut pagi masih menggantung di lereng Gunung Salak ketika suara gemericik air mulai terdengar dari balik kebun teh. Di ujung jalur setapak yang menurun tajam itu, air terjun jatuh dari tebing berlumut, memecah keheningan pedesaan Kabandungan.

    Warga sekitar menyebutnya Curug 3 Helipad, sebagian lain mengenalnya sebagai Curug Sentral III. Air terjun ini terdiri dari dua aliran besar yang mengucur sejajar dari tebing batu.


    Aliran air itu membentuk tirai putih di tengah dinding hijau lumut. Di bawahnya, kolam dangkal berwarna kehijauan memantulkan cahaya lembut dari langit. Wisatawan terlihat bermain air, sebagian lagi berfoto dengan latar curug yang megah.

    Di tepi sungai kecil yang menjadi aliran keluar, deretan sandal dan sepatu ditinggalkan begitu saja di atas batu berjejer rapi seperti barisan kecil yang menunggu pemiliknya kembali.

    Curug 3 Helipad SukabumiCurug 3 Helipad Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

    Terletak di kawasan kebun teh Jayanegara, Desa sekaligus Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, curug ini menjadi tempat beristirahat bagi mereka yang ingin mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kota.

    Dari atas kebun teh, hamparan hijau membentang sejauh mata memandang. Di kejauhan, perkampungan Kabandungan dan Kalapanunggal terlihat kecil di antara lipatan bukit.

    “Curug ini airnya langsung dari Gunung Salak. Banyak pengunjung datang untuk bermain air dan berfoto, apalagi pemandangan kebun tehnya jadi spot favorit,” ujar Andri (35), pengelola Curug Sentral III, Minggu (2/11).

    Andri duduk di bale-bale bambu di sisi jalan tanah yang menurun ke arah curug. Dari tempatnya berjaga, ia bisa melihat arus air yang mengalir deras di musim penghujan. Ia tahu persis kapan wisatawan harus diingatkan untuk menjauh.

    “Kami selalu awasi langsung, apalagi kalau debit air meningkat,” katanya.

    Fasilitas di kawasan ini sederhana. Beberapa warung kopi berdiri di tepi kebun, menyediakan mi instan, gorengan, dan teh hangat. Di dekatnya ada musala kecil dan MCK seadanya.

    Pengelola membatasi jam kunjungan wisatawan hingga pukul 17.00 WIB saja setiap harinya. Tiket masuknya murah, hanya Rp10.000 per orang, ditambah Rp3.000 untuk parkir motor.

    Sebagian wisatawan lain datang dari luar Sukabumi. Ada rombongan keluarga dari Bogor, sepasang mahasiswa dari Bandung, hingga pejalan tunggal dari Jakarta yang ingin berkemah di sekitar kebun teh.

    “Ada juga pengunjung yang datang jauh-jauh dari Papua,” kata Andri dengan bangga.

    Pada akhir pekan, suasana berubah lebih ramai. Tenda-tenda kecil kadang berdiri di pinggiran kebun teh, sementara petugas rescue dari Cicurug berjaga di lokasi.

    “Hari ini yang bertugas ada tiga orang, situasi aman dan terkendali,” kata seorang anggota tim penyelamat yang berjaga di bawah tebing.

    Salah satu pengunjung, Nadia (17), warga Cibadak, datang bersama empat temannya setelah menempuh perjalanan satu jam menggunakan sepeda motor. Wajahnya tampak cerah meski kaki basah oleh air dingin curug.

    “Senang banget bisa main air dan foto-foto bareng teman-teman di sini, pemandangannya keren,” ujarnya sambil tertawa.

    Bagi warga sekitar, curug ini bukan sekadar tempat wisata. Airnya menjadi sumber penghidupan. Warga memanfaatkan aliran sungai di bawahnya untuk mengairi kebun dan menyalakan turbin kecil pembangkit listrik rumahan.

    “Dari dulu air curug ini yang kasih hidup kampung,” tutur Eman (52), warga Jayanegara yang rumahnya di sekitar curug.

    Asal Usul Nama Curug Helipad

    Nama ‘Helipad’ sendiri muncul dari bentuk kawasan di atas curug yang lapang di tengah kebun teh. Permukaannya datar dan terbuka, menyerupai landasan helikopter.

    Warga setempat menyebutnya begitu sejak dulu, meski tak pernah benar-benar ada helikopter mendarat di sana. Lama-kelamaan, nama itu melekat, diwariskan dari mulut ke mulut wisatawan.

    Kabut tipis turun perlahan, menyapu pucuk-pucuk teh yang berbaris di lereng. Suara air terjun berpadu dengan canda pengunjung yang tak jemu memotret keindahan alam di hadapan mereka.

    Di sela gemuruh air, terdengar samar suara serangga dari balik rimbun dedaunan tanda alam yang masih hidup dan terjaga di kaki Gunung Salak.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
    image : unsplash.com / Thomas Tucker
  • ‘Kesederhanaan’ Segelas Kopi Es Tak Kie, Warisan Glodok 1927



    Jakarta

    Kopi Es Tak Kie sudah ada sejak 1927 dan eksis hingga kini. Berada di tengah pasar, kedai kopi ini menjadi penjaga budaya Tionghoa di tengah Jakarta.

    Di tengah kesibukan pecinan Glodok, Jakarta Barat, terselip satu kedai kopi legendaris yang membawa detikers kembali ke masa lalu. Namanya Kopi Es Tak Kie, kedai yang sudah berdiri pada 1927. Traveler masih bisa menikmati kopi itu hingga kini.


    Kedai legendaris itu berada di Gang Gloria, kawasan kuliner legendaris di Pecinan Glodok, Pancoran, Jakarta Barat. Kalau dihitung, keddai kopi itu sudah berumur 98 tahun.

    Kini, kedai itu dikelola oleh Ak Wang, generasi ketiga penerus usaha keluarga. Aroma es kopi langsung tercium berpadu dengan sajian lain.

    “Pertama kali berdiri tahun 1927, waktu itu yang dijual hanya teh manis dan teh pahit. Baru kemudian menyesuaikan permintaan orang-orang zaman dulu yang ingin kopi,” ujar Ak Wang saat ditemui detikTravel, Selasa (21/10/2025).

    Ada dua menu favorit yang paling banyak dipesan, yakni kopi hitam es dan kopi susu es, masing-masing dibanderol Rp 25 ribu per gelas. Total ada 14 menu yang tersedia di sini, mulai dari aneka bakmi dan sup, empat varian kopi, empat jenis teh, hingga telur ayam kampung.

    Kopi Es Tak Kie, Glodok, Jakarta BaratSuasan Kopi Es Tak Kie, Glodok, Jakarta Barat (dok. Qonita Hamidah/detikTravel)

    Kedai kopi itu sederhana. Ruangannya cukup luas, dengan pembeli yang bergantian keluar masuk.

    Kopi Tak Kie, Kopi Kesederhanaan dan Pergaulan

    Semua kopi diracik secara manual, tanpa bantuan mesin modern. Pemilihan metode pembuatan es kopi yang masih sangat konvensional ini mungkin tak lepas dari makna nama kedai yang selalu tampil rapi dan bersih ini.

    “Nama Tak Kie sendiri berarti kesederhanaan dan pergaulan. Itu filosofi dari kakek saya,” ujar Ak Wang.

    Kedai ini tak pernah sepi pengunjung mulai dari warga lokal, wisatawan, hingga anak muda yang datang untuk merasakan atmosfer klasik Glodok. Suasana kedainya pun masih otentik, meja kayu tua, gelas jadul, dan dinding berubin putih khas kedai tempo dulu.

    “Semua orang bisa masuk ke sini, dari berbagai kalangan. Saya bersyukur pada kakek saya yang sudah mendirikan kedai ini. Berkat beliau, Tak Kie bisa terus diminati sampai sekarang,” kata Ak Wang.

    Menurut Manda, salah satu pengunjung, suasana Kopi Tak Kie benar-benar mengingatkannya pada memori di kampung halaman bersama nenek. Apalagi es kopi Tak Kie dengan cita rasa berimbang antara manis dan pahit benar-benar mengingatkannya pada adukan kopi khas rumah tangga.

    “Rasa makan dan kopi di sini tuh kaya otentik banget seperti lagi makan di rumah nenek di kampung Kopi Es Tak Kie ini direkomendasikan buat teman-teman yang ingin merasakan rasa kopi yang khas ada manis dan pahitnya,” kata Manda.

    Bagi detikers yang ingin mencicipi secangkir es kopi segar adukan khas Kopi Es Tak Kie, bisa datang setiap hari pukul 06.30-13.30 WIB. Menu di sini tersedia dengan kisaran harga Rp 22-25 ribu untuk makanan dan minuman. Tak hanya hidangan berkualitas, di sini detikers juga bisa sekilas merasakan suasana Chinatown tempo dulu.

    (row/row)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
    image : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Bupati Pati Viral, Ada Wisata Apa Saja sih di Hogwarts van Java?



    Pati

    Bupati Pati Sudewo viral karena menaikkan pajak bumi dan bangunan pedesaan dan perkotaan (PBB-P2) sampai 250 persen. Kota ini punya banyak potensi wisata.

    Terletak di Provinsi Jawa Tengah, Pati memiliki julukan sebagai Hogwarts from Java. Julukan ini diberikan karena banyak tempat yang menjadi tujuan wisata spiritual dan memiliki sejumlah paranormal terkenal, sebut saja Mbah Roso, Bos Edy dan Jeng Asih.

    Tak cuma wisata spiritual, Pati juga memiliki beragam alam yang wajib untuk dikunjungi. Berikut 7 wisatanya:


    7 Tempat Wisata Pati

    1. Alun-alun Kota Pati

    Jika dibandingkan dengan destinasi wisata Pati lainnya, Alun-Alun Kota Pati merupakan salah satu destinasi wisata tertua. Alun-Alun Kota Pati cocok dikunjungi karena bukan hanya menyediakan lapangan yang hijau, namun beberapa pohon rindang yang mengelilinginya cocok dijadikan untuk tempat bersantai.

    Bukan hanya populer di mata wisatawan, tempat wisata Pati ini juga populer di mata wisatawan lokal karena setiap sore, warga lokal dan remaja menghabiskan waktu santai di tempat ini.

    Pesona destinasi wisata Pati ini tidak sampai situ saja. Ketika malam hari tiba, Alun-Alun Kota Pati akan memancarkan waktu dengan berbagai warna!

    2. Waduk Seloromo

    Waduk Gembong di Dukuh Seloromo, Desa/Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah,  Jumat (30/6/2023).Waduk Gembong di Dukuh Seloromo Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

    Destinasi wisata Pati yang selanjutnya adalah Waduk Seloromo, yang menawarkan keindahan yang tidak ada duanya. Berada di kaki Gunung Muria, kombinasi antara jernihnya air dan gunung yang megah membuat kesejukan di waduk ini sangat kental, sehingga banyak wisatawan atau warga lokal betah menghabiskan waktu di tempat ini. Kombinasi dua aspek membuat tempat ini juga layak masuk ke dalam media sosialmu.

    3. Air Terjun Lorotan Semar

    Air terjun merupakan salah satu destinasi wisata yang selalu menjadi favorit banyak orang. Di Pati juga ada air terjun, salah satunya adalah Air Terjun Lorotan Semar. Air Terjun Lorotan Semar ini diapit oleh dua bukit. Untuk sampai ke air terjun ini, jalannya juga mudah untuk diakses roda dua dan roda empat.

    Air Terjun Lorotan Semar ini memiliki bentuk yang unik dan berbeda dari air terjun biasanya. Air terjunnya landai dan cekung. Namun, kolam dibawah air terjunnya cukup luas. Airnya juga masih sangat jernih.

    Di lokasi air terjun ini juga sudah terdapat fasilitas yang sangat lengkap. Seperti toilet, mushola, area parkir yang luas dan lain-lain.

    4. Agrowisata Jolong

    Agrowisata Jolong merupakan tempat wisata yang menyuguhkan hamparan kebun kopi. Selain menyenangkan, tempat wisata yang satu ini tentunya mengedukasi karena memberikan para pengunjung pengalaman terbaru mengenai perkebunan kopi.

    Selain itu, Agrowisata Jolong memiliki objek wisata yang sangat instagramable. Banyak spot foto yang bisa kamu gunakan untuk swafoto sepuasnya dengan latar perkebunan, taman dan juga langit biru yang sangat cerah.

    Agrowisata Jolong lokasinya berada di Jolong, Situluhur, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Untuk masuk ke Agrowisata Jolong kamu perlu membayar tiket masuk seharga Rp10.000 saja.

    Di dalam tempat wisata ini terdapat berbagai wahana yang kamu bisa naiki, dan membayar lagi untuk setiap tiket wahana yang ingin kamu coba.

    5. Pulau Seprapat Juwana

    Berlokasi di Growong Lor, Juwana, Kabupaten Pati, terdapat sebuah pulau yang menjadi salah satu destinasi wisata di Pati. Pulau Seprapat, selalu ramai dikunjungi karena memiliki pesona alam yang sangat indah.

    Di Pulau Seprapat ini, kamu akan sering melihat pepohonan tinggi yang rindang. Pepohonan tersebut merupakan habitat para kera. Pulau Seprapat ini menawarkan pemandangan matahari terbenam yang selalu menarik hati para pengunjung.

    6. Air Terjun Grodo

    Air Terjun Grodo merupakan salah satu destinasi wisata air terjun di Pati. Tempat wisata yang satu ini terbilang masih tersembunyi. Salah satu destinasi wisata di daerah Winong, Pati ini seringkali disebut sebagai niagara mini.

    Selain dinikmati keindahannya dengan cara difoto, kamu juga bisa berenang langsung di kolam air terjun tersebut. Airnya sangat sejuk dan jernih. Kamu perlu hati-hati untuk berjalan menyusuri air terjun, terutama ketika musim penghujan. Seringkali jalanan menjadi licin terutama di tepi kolam.

    Untuk masuk ke Air Terjun Grodo tidak diperlukan biaya tiket masuk alias masih gratis.

    7. Gua Pancur

    Suasana di objek wisata Gua Pancur, Pati, Senin (23/1/2023).Suasana di objek wisata Gua Pancur Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

    Gua Pancur merupakan objek wisata gua di Pati. Untuk kamu yang menyukai berwisata yang sedikit ekstrem, kamu bisa mencoba datang ke Gua Pancur ini, karena kamu nanti akan diajak untuk menyusuri ke dalam gua ini.

    Momen ketika menyusuri gua inilah yang dicari-cari para pengunjung karena kamu akan mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Namun, kamu tidak perlu khawatir, soal keamanannya dijamin sudah terbukti aman, karena tiap pengunjung diberi perlengkapan pelindung.

    (bnl/wsw)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
    image : unsplash.com / Thomas Tucker