Tag: Market

  • Penyebab Harga Bitcoin Turun dan Proyeksi Pasar Kripto Hari Ini

    Pasar kripto dan harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan pada hari Jumat (10/3) efek dari kejatuhan Silvergate Bank hingga gugatan regulator AS terhadap KuCoin yang membebani sentimen negatif investor.

    Menurut data CoinMarketCap, Bitcoin melihat tekanan ke bawah yang berkelanjutan setelah penurunan harga BTC sebesar 5,5% pada 7 Maret. Harga BTC perpantau diperdagangkan pada level US$ 20.097 atau anjlok 7,71% dalam 24 jam terakhir pada Jumat (10/3) pukul 09.40 WIB. Sementara, Ethereum (ETH) juga bernasib sama dengan penurunan 7,33% di level US$ 1.429.

    Dikutip Tim Riset Tokocrypto, mengatakan anjloknya market kripto pekan ini disebabkan beberapa hal. Mulai dari kebangkitan ketakutan akan inflasi yang tinggi di AS, Silvergate Bank yang likuidasi, transfer BTC yang dilakukan pemerintah AS hingga peraturan kripto yang diperketat.

    “Sinyal kenaikan suku bunga dan ekspektasi pelemahan ekonomi membebani investor untuk bersemangat meramaikan pasar kripto. Sentimen seputar inflasi, memmbuat analisis bahwa AS akan mengalami resesi tajam di beberapa titik di tahun 2023,” jelas analisisnya.

    Banyak Sentimen Buruk

    Data inflasi AS guncang pasar, Bitcoin dan Ethereum jatuh. Foto: Reuters.
    Data inflasi AS guncang pasar, Bitcoin dan Ethereum jatuh. Foto: Reuters.

    Baca juga: Harga Bitcoin Turun 5% dalam 60 Menit di Tengah Guncangan Silvergate

    Kenaikan suku bunga The Fed yang akan datang adalah bagian terpenting dan teka-teki yang harus dipecahkan oleh investor dan trader kripto sebelum kembali melakukan akumulasi. Ketakutan pun semakin bertambah imbas salah satu bank kripto terbesar, Silvergate Capital harus tutup dan melikuidasi aset dan menghentikan operasionalnya.

    Salah satu yang menyebabkan harga BTC turun juga berasal dari aktivitas mencurigakan terkait transfer aset yang disita dari peretas Silk Road, marketplace darkweb yang telah ditutup paksa FBI pada 2013. Pada Kamis (9/3) lalu beredar kabar wallet kripto yang terkait dengan pemerintah Amerika Serikat (AS) melakukan transfer inflow ke bursa Coinbase sebesar 9.826 BTC senilai US$ 217 juta. Aksi ini memicu kekhawatiran akan aksi jual Bitcoin yang besar dari exchange kripto.

    Pengetatan regulator AS masih membayangi pasar kripto. Terbaru gugatan terhadap exchange kripto, KuCoin perihal perdagangan aset kripto yang menyalahi aturan. Industri aset kripto dan regulator memiliki sejarah panjang yang tidak sejalan baik karena berbagai kesalahpahaman atau ketidakpercayaan atas penggunaan aset digital.

    Berbagai macam sentimen buruk tersebut menimbulkan ketakutan pada pelaku pasar kripto. Bitcoin Fear and Greed Index merosot 10 poin, ditutup pada level 34 dengan kategori Fear. Hal ini menunjukan pasar kripto tidak sedang baik-baik saja yang diselimuti oleh banyak kabar fear, doubt and uncertainty (FUD).

    Analisis Teknikal

    Grafik harga mingguan BTC/USD. Sumber: TradingView.
    Grafik harga mingguan BTC/USD. Sumber: TradingView.

    Baca juga: Misteri Motif Vitalik Buterin Jual Kripto Shitcoin Senilai Rp 10,8 Miliar

    Dari analisis teknikal, kripto Bitcoin kembali melanjutkan tren negatif. Ada kemungkinan banyaknya sentimen negatif yang bertebaran di pasar kripto BTC akan terus bergerak turun. Harga BTC masihbisa bergerak turun, keluar dari zona apresiasinya.

    Dalam jangka pendek, kemungkinan besar harga BTC akan terus sideways dan retest untuk bertahan di daerah US$ 20,000 atau Rp 308,7 Juta yang merupakan level psikologis terkuatnya atau zona netral antara dorongan beli dan tekanan jual.

    “BTC perlu bergerak melalui pivot US$ 20.768 untuk menargetkan level resistensi di US$ 21.449. Jika reli gagal untuk bergerak melalui pivot akan meninggalkan level support di US$ 19.699,” ungkap analisisnya.

    Investor kripto harus waspada terhadap laporan Pekerjaan AS dan kabar bahwa pemerintah AS berencana untuk menghapus subsidi pajak yang berkaitan dengan transaksi terkait kripto. Dua hal tersebut dapat mendorong Bitcoin menuju level di bawah US$ 19.500.

    Pastikan Anda hanya melakukan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah. Anda juga bisa menyimak berbagai informasi terbaru mengenai kripto dengan mengunjungi website TokocryptoInstagramTwitter, serta  komunitas Tokocrypto!

    DISCLAIMERBukan saran atau ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aset Kripto Stagnan, Bitcoin dan Ethereum Sulit Gerak

    Pergerakan market kripto kini tengah lesu. Tidak ada sentimen yang kuat untuk mengalihkan perhatian investor ke market pada akhir pekan lalu.

    Tim Riset Tokocrypto menjelaskan minimnya sentimen positif membuat aksi beli turun. Namun, kegelisahan investor atas Silvergate Bank dan sentimen terhadap anggota parlemen yang mengintensifkan dan pengawasan peraturan membuat pasar cenderung bergerak moderat.

    Dalam pantauan situs CoinMarketCap pada Senin (6/3) pukul 10.00 WIB, harga kripto Bitcoin masih sideways diperdagangkan dengan harga US$ 22.400-an turun 0,08% dalam 24 jam terakhir. Sementara, Ethereum (ETH) bernasib sama di level US$ 1.500-an dan cenderung stagnan.

    “Secara keseluruhan sentimen bearish memang masih kencang pasca potensi kebangkrutan Silvergate merebak. Ketika kabar itu muncul Bitcoin (BTC) pada Jumat (3/3) pagi mengagetkan para investornya, dengan penurunan harga hingga 4,87 persen, dari sebelumnya US$ 23.552 menuju US$ 22.241 dalam jangka waktu 24 jam,” analisis Tim Riset Tokocrypto.

    Penurunan di kisaran angka US$ 22.000 pada BTC ini pun menyebabkan index Bitcoin Fear and Greed turun ke angka 48, yang menunjukkan kategori Neutral. Total kapitalisasi pasar kripto kembali ditutup merah, turun 1,20%, ditutup pada level 1,022 triliun.

    Proyeksi Pekan Ini

    Ilustrasi market dolar AS. Foto: Reuters.
    Ilustrasi market dolar AS. Foto: Reuters.

    Baca juga: Tokocrypto Lakukan Full Migrasi Server, Ini yang Harus Diperhatikan

    Minggu ini akan menjadi pekan yang sibuk untuk pasar kripto. Pada hari Selasa (7/3), penambangan Bitcoin akan menjadi topik hangat di Capitol Hill, dengan ‘sidang Senat pertama yang berfokus pada kebutuhan mendesak untuk menindak dampak lingkungan yang berkembang dari penambangan kripto.’

    Investor juga harus memantau obrolan anggota FOMC menjelang kesaksian Ketua Fed, Jerome Powell pada tanggal 7-8 Maret. Pergantian hawkish akan membebani indeks saham AS dan memberi pijakan kripto yang lebih baik.

    “Investor kripto pun saat ini masih menjauh dari market. Di pekan ini saja ada dua sentimen makroekonomi yang harus diperhatikan oleh investor, testimoni ketua The Fed, Jerome Powell di depan kongres pada 7-8 Maret rilis laporan ketenagakerjaan AS atau Nonfarm Payrolls yang keluar 10 Maret,” jelas Tim.

    Dua laporan ekonomi tersebut sangat penting di pasar utama, terutama saham yang korelasi dengan kripto, karena semuanya dapat terbukti menjadi penggerak market. Laporan itu juga bisa mengindikasikan keputusan The Fed dalam kenaikan suku bunga 25 vs 50 bps pada bulan Maret nanti.

    Selain sentimen ekonomi tersebut, kabar FUD juga datang dari penyelesaian kasus peretasan Mt. Gox. Investor kripto sedang harap-harap cemas menanti penyelesaian kasus peretasan Mt. Gox, karena dikhawatirkan akan terjadi likuidasi besar-besaran yang membuat aksi jual meningkat. Proses pencairan dana kreditur (repayment) kemungkinan bisa dilakukan mulai 10 Maret 2023.

    Analisis Teknikal

    Grafik harga mingguan BTC/USD. Sumber: TradingView.
    Grafik harga mingguan BTC/USD. Sumber: TradingView.

    Baca juga: Analisis Market: Maret Bulan Baik untuk Harga Kripto?

    Dari sisi analisis teknikal, pergerakan harga Bitcoin telah mengalami penurunan drastis dan berhasil breakdown support terdekatnya. Tekanan jual yang tinggi menjadi salah satu faktor terjadinya hal tersebut.

    “Bitcoin masih menguji level resistensi terdekatnya di level US$ 22.722 yang bila tercapai bisa menahan laju penurunan harga BTC. Namun, apabila penurunan harga Bitcoin berlanjut, ada dua titik support yang harus diperhatikan sebagai tahanan selanjutnya,” ungkap Tim.

    Support pertama berada pada garis 200-day exponential moving average (EMA) di level US$ 21.775 dan support kedua berada pada harga terendah pada di level US$ 21.351. Jika dilihat dari pergerakan jangka pendek, peluang untuk kembali bergerak naik dinilai lebih besar ketika penurunan harga menyentuh titik tersebut.

    Skenario terburuk adalah apabila pergerakan harga Bitcoin berhasil breakdown bisa didorong oleh data laporan ketenagakerjaan yang kurang baik dan komentar The Fed yang belum melunak untuk sedikit mengerem kenaikan suku bunga, menjadi hal krusial pekan ini.

    Pastikan Anda hanya melakukan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah. Anda juga bisa menyimak berbagai informasi terbaru mengenai kripto dengan mengunjungi website TokocryptoInstagramTwitter, serta  komunitas Tokocrypto!

    DISCLAIMERBukan saran atau ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisis Market: Maret Bulan Baik untuk Harga Kripto?

    Menyusul bulan Februari yang datar, banyak investor kripto berharap penuh untuk dapat banyak peluang keuntungan di Maret mendatang. Namun, harapan itu tampak sulit melihat situasi makroekonomi dan industri kripto secara keseluruhan.

    Tim Riset Tokocrypto menjelaskan pergerakan harga Bitcoin (BTC) selama bulan Februari termasuk dalam kategori sideways. Terlihat dari indeks Bitcoin Monthly Returns, Harga BTC berakhir di Februari hanya naik 0,03%. Praktis setelah penutupan pergerakan bulanan BTC mengonfirmasi tidak ke mana-mana selama empat minggu berturut-turut.

    Naik turunnya harga Bitcoin yang sebagian besar karena data makroekonomi. Aksi harga BTC menyelesaikan bulan Februari hampir persis dengan di akhir Januari 2023, di mana BTC mulai di sekitar US$ 23.500. Itu berarti bahwa Bitcoin lebih stabil daripada kumpulan aset arus utama, termasuk saham, komoditas, dan, tentu saja, mata uang utama dunia. Ini bukan prestasi yang berarti untuk kripto, dengan Bitcoin sering dikritik sebagai penyimpan nilai yang buruk karena volatilitasnya yang terkadang intens.

    Lalu bagaimana dengan proyeksi pergerakan Bitcoin di Maret nanti? 

    Proyeksi Gerak Market Kripto di Maret

    Ilustrasi investasi aset kripto.
    Ilustrasi investasi aset kripto.

    Baca juga: Daftar Aset Kripto yang Berkinerja Baik di Februari 2023

    Pada hari-hari awal Maret ini, terlihat bukanlah bulan yang baik atau bullish untuk market kripto, khususnya Bitcoin. BTC telah turun hampir 5%, menghapus kapitalisasi pasar US$ 22 miliar menjadi total US$ 430,9 miliar pada Jumat (3/3). Ethereum (ETH), XRP (XRP), Cardano (ADA) dan Polygon (MATIC), dan altcoin lainnya juga mengalami penurunan tajam serupa.

    Anjloknya market kripto terutama Bitcoin disebabkan oleh beberapa hal. Market goyah karena kekhawatiran baru atas solvabilitas perusahaan kripto yang terjadi pada bank Silvergate hingga data statistik pasar tenaga kerja AS yang baru dirilis pada Kamis (2/3) tidak menguntungkan pasar aset berisiko.

    Kemudian di luar data makroekonomi, investor kripto juga dikhawatirkan oleh tindakan dan komentar dari drama U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) yang ingin melakukan pengetatan regulasi kripto di AS. Oleh karena itu, bisa saja market bergerak sideways atau datar imbas investor yang masih khawatir dengan masa depan kripto di AS.

    Secara menyeluruh belum ada tanda maupun sentimen yang kuat untuk terjadinya bull run di bulan Maret ini. Kemungkinan besar pasar masih akan tetap sideways di rentang harga US$ 21.500-US$ 25.000. 

    Bitcoin Monthly Return. Sumber: Coinglass.
    Bitcoin Monthly Return. Sumber: Coinglass.

    Baca juga: 5 Aset Kripto Teratas Layak Dipantau pada Maret 2023

    Berkaca dari historis Bitcoin Monthly Return, Maret bukan bulan yang baik untuk BTC dan kripto lainnya. Indikasi penurunan pasar kripto banyak terjadi di bulan Maret dalam periode tahun 2014-2018. Di samping itu, bulan Maret juga berisiko tinggi untuk penurunan indeks saham berikutnya, merujuk ke data historis yang menunjukan pasar bearish sering berhenti di antara musim pendapatan triwulanan. 

    Kecenderungan investor sulit untuk masuk ke pasar karena menunggu hasil laporan keuangan kuartal dari beberapa perusahan besar, terutama di bidang teknologi. Korelasi pasar saham dan kripto masih berkaitan erat dalam beberapa tahun terakhir.

    Pasar kripto telah diperdagangkan sejalan dengan saham teknologi pertumbuhan tinggi sejak akhir tahun 2020, melonjak ke level tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kemudian, perlahan mengalami kehancuran, ketika The Fed mulai menaikkan suku bunga dan menyedot likuiditas keluar dari pasar.

    Adapun kalender ekonomi AS yang harus diwaspadai investor adalah tanggal 10 maret akan ada data Non Farm Payrolls (NFP), Consumer Price Index (CPI) pada 14 Maret, dan pertemuan FOMC The Fed untuk menentukan kenaikan suku bunga pada 21-22 Maret. Data makroekonomi yang menguat akan menggangu sikap hawkish The Fed, sehingga kemungkinan besar juga berpengaruh pada pasar kripto bulan ini.

    Pastikan Anda hanya melakukan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah. Anda juga bisa menyimak berbagai informasi terbaru mengenai kripto dengan mengunjungi website TokocryptoInstagramTwitter, serta  komunitas Tokocrypto!

    DISCLAIMERBukan saran atau ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Sempat Anjlok, Kini Berusaha Bangkit Lagi

    Akhir pekan lalu sejumlah investor kripto terutama Bitcoin (BTC) harus menelan pil pahit dengan harga yang sempat anjlok kembali ke kisaran harga US$ 22.800 atau turun 3% dalam 7 hari terakhir. Perlahan tapi pasti BTC kini kembali berusaha bangkit untuk mencapai titik resistensinya di level US$ 24.000.

    Tim Riset Tokocrypto menjelaskan pergerakan market kripto, terutama Bitcoin yang kembali anjlok pada saat akhir pekan lalu disebabkan oleh beberapa faktor. Pemicu utamanya adalah Biro Analisis Ekonomi (BEA) merilis laporan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Januari pada Jumat (24/2) yang menunjukkan inflasi naik 5,4%. Dua bulan sebelumnya PCE turun berturut-turut di angka 5,6% menjadi 5,3%.

    “Data PCE tersebut membuat investor panik. Kekhawatiran bahwa The Fed bakal kembali menaikan suku bunga 50 bps pada pertemuan bulan Maret mendatang terus meninggi. Laporan PCE adalah alat favorit The Fed untuk mengukur inflasi,” jelas analisis Tim Riset Tokocrypto.

    Saham Anjlok, DXY Kuat

    Ilustrasi pergerakan indeks saham AS. Sumber: Shutterstock.
    Ilustrasi pergerakan indeks saham AS. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Alasan Kripto ‘Koin China’ Filecoin hingga VeChain Hasilkan Untung Besar

    Tidak hanya kripto, indeks saham AS pun ikut runtuh. Saham di Amerika Serikat turun tajam pada hari Jumat (24/2), mengakhiri minggu terburuk mereka di tahun 2023, setelah pengukur inflasi pilihan The Fed menunjukkan kenaikan harga yang lebih kuat dari perkiraan bulan lalu. Korelasi antara pasar saham dan kripto masih berkaitan erat sehingga memiliki efek serius jika terjadi penurunan atau kenaikkan performa.

    “Naiknya Indeks Dolar AS (DXY) yang mengindikasikan dollar AS mendapatkan momentum terbaiknya kali ini, yang membuat harga BTC kembali keok. DXY baru saja berhasil menembus level resistensinya di posisi 105,” ungkap Tim Riset Tokocrypto.

    Selain sentimen makroekonomi yang masih menjadi katalis pergerakan harga pada pasar kripto, kabar terkait regulasi pun juga turut mempengaruhi. Sentimen negatif datang dari International Monetary Fund (IMF) yang menyatakan bahwa kripto tidak boleh diterima sebagai alat pembayaran yang sah secara hukum (legal tender). Ini juga menimbulkan pengaruh negatif untuk pasar kripto pada akhir pekan lalu.

    Analisis Teknikal

    Ilustrasi Bitcoin.
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Tingkat Stres Investor Kripto Indonesia dan Pentingnya Edukasi Investasi

    Sentimen pasar konsisten turun dalam sepakan. Ini terlihat dari Bitcoin Fear and Greed Index yang pada awal pekan lalu, Senin (20/2) dibuka pada level 58 dan kini di awal pekan dimulai pada level 50 dengan kategori Neutral.

    Dari sisi analisis teknikal, Bitcoin kembali mengalami penurunan setelah gagal breakout 200-week exponential moving average (EMA). Posisi harga US$ 23.000 adalah level kunci yang harus dipertahankan untuk bulls. Jika tertembus ke bawah, maka kemungkinan besar akan turun lebih dalam ke US$ 21.483 sebagai support baru.

    Kini harga Bitcoin telah menembus support di titik US$ 23.400, jika bisa bertahan akan memantul kembali menguji untuk mencapai level US$ 24.000 dalam beberapa hari ke depan. Investor juga harus waspada dengan data makroekonomi yang akan dirilis pada pekan ini, seperti data Initial Jobless Claims pada Kamis (2/3) yang hasilnya bisa memproyeksi situasi inflasi AS dan berpengaruh pada tingkat kenaikan suku bunga.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Risalah The Fed Bikin Market Kripto Tertahan, Kinerja Bitcoin Tak Optimal

    Volatilitas pasar kripto kembali meningkat disebabkan oleh The Fed yang baru saja merilis risalah rapat yang kurang menggembirakan. Investor pun masih mencari petunjuk tentang langkah selanjutnya untuk menghadapi kondisi makroekonomi yang belum stabil. Bersamaan dengan kripto, pasar saham AS pun terjadi penurunan kinerja yang tipis.

    Tim Riset Tokocrypto menjelaskan laju kenaikan market kripto kembali tertahan setelah investor merespons risalah rapat dari pertemuan terakhir The Fed awal bulan Februari lalu yang dirilis pada Kamis (23/2) dini hari.

    “Hasil risalah The Fed tidak memberikan banyak harapan untuk kenaikan Bitcoin (BTC), yang terpantau masih melayang pada kisaran US$ 24.500. Padahal, banyak investor yang berharap kebijakan moneter The Fed bakal lebih dovish dalam pertemuan tersebut. Namun mereka harus dihadapkan pada fakta inflasi serta propek resesi masih tetap ada,” jelas analisisnya.

    The Fed Belum Melunak

    Ketua The Fed, Jerome Powell. Foto: REUTERS / Yuri Gripas
    Ketua The Fed, Jerome Powell. Foto: REUTERS / Yuri Gripas

    Baca juga: Bappebti Optimis Pasar Kripto Indonesia Bangkit di Tahun 2023

    Secara garis besar, risalah The Fed mengisyaratkan kenaikan suku bunga bisa berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan sebagian besar investor. Kenaikan suku bunga tersebut sebagai bentuk upaya meredam tingkat inflasi AS.

    Hal ini juga diperkuat oleh consumer price ondex (CPI) Januari menunjukkan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dan data producer price index (PPI) AS Januari melonjak tak terduga sebesar 0,7% (MoM).

    Pasar kripto masih sangat berkorelasi dengan indeks saham AS. Setelah CPI bulan Januari menunjukkan inflasi lebih tinggi dari yang diharapkan dengan kenaikan 0,5%, maka risalah The Fed mengonfirmasi akan terus menaikkan suku bunga selama diperlukan untuk menurunkan inflasi sampai batas stabil.

    Di samping itu, kondisi penurunan utama hari ini juga berasal dari kekhawatiran investor atas tindakan penegakan hukum terhadap industri kripto, khusus di Amerika Serikat. Investor masih melihat akan ada kelanjutan peningkatan penegakan peraturan dari US Securities and Exchange Commission (SEC) di masa depan.

    Sentimen Negatif

    Bitcoin zona merah
    Ilustrasi market Bitcoin masuk zona merah. Foto: Getty Images.

    Baca juga: Gerak Bitcoin Bentuk Pola Golden Cross, Pertanda Harga BTC Naik?

    Faktor penurunan lainnya adalah investor terus membukukan keuntungan saat kinerja harga sejumlah kripto, seperti Bitcoin mengalami kenaikan. Selera investor masih menurun untuk menunggu tanda-tanda bahwa inflasi AS telah sampai puncak, atau agar The Fed memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga berukuran lebih kecil akan segera terjadi.

    Selanjutnya, Indeks Dolar (DXY) juga kembali menguat sebesar 0,38%, ditutup pada level 104,496 pada penutupan kandil harian Kamis (23/2) pagi. Penurunan harga pagi ini sedikit berpengaruh pada sentimen pasar kripto. Bitcoin Fear and Greed Index turun tiga poin, ditutup pada level 56 dengan kategori Greed.

    “Dari sisi analisis teknikal, volatilitas Bitcoin meningkat akibat tarik ulur dari aksi beli dan jual. Volume perdagangan BTC sedang dalam posisi tekanan jual yang tinggi, namun tak lama setelah risalah Th Fed rilis aksi beli kembali naik. Proyeksinya akan ada peningkatan harga, tapi tidak besar dalam jangka pendek,” jelas Tim Riset Tokocrypto.

    Sejauh ini aksi beli masih mampu mendorong kenaikan harga dan mencegah penurunan harga lebih dalam. Sejauh ini, pergerakan harga Bitcoin masih sideways pada area supply US$ 23.988-US$ 25.198. Bitcoin sedang berjuang untuk breakout di area supply tersebut supaya berhasil bounce dan bisa melihat level baru di atas US$ 25.000.

    DISCLAIMERBukan saran atau ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Alasan Market Kripto Turun dan Proyeksi Setelah CPI Januari 2023 Rilis

    Setelah menghadapi peningkatan harga yang cukup tajam, akhirnya market kripto kembali alami koreksi dalam beberapa pekan terakhir. Ada berbagai alasan mengapa pasar kripto kembali lesu dan membuat investor kurang bergairah untuk melakukan akumulasi.

    Menurut data CoinMarketCap, harga Bitcoin (BTC) telah turun sekitar 5,91% dari kenaikan tertinggi pada bulan Januari lalu di level US$ 24.165. Pada Selasa (14/2) pukul 08.00 WIB, harga BTC terpantau berada di posisi US$ 21.771 dengan penurunan 4,44% dalam tujuh hari terakhir.

    Tim Riset Tokocrypto mengatakan penurunan dan volatilitas pasar kripto yang tinggi akhir-akhir ini disebabkan oleh kombinasi antara kekhawatiran investor atas peningkatan penegakan peraturan di Amerika Serikat (AS) dan data laporan Consumer Price Index (CPI) alias Indeks harga konsumen AS bulanan Januari 2023 yang akan mengukur tingkat inflasi. Disamping itu, investor tengah membukukan keuntungan setelah kinerja Bitcoin pada bulan Januari yang luar biasa.

    “Tndakan US Securities and Exchange Commission (SEC) terhadap Kraken dan Paxos Trust dan rumor pelarangan staking kripto di AS dapat diterjemahkan menjadi penurunan lebih lanjut untuk Bitcoin dan pasar kripto yang lebih luas. Melihat situasi itu, mendorong investor untuk mulai melakukan aksi jual untuk mendapatkan untung dari kenaikan harga di Januari lalu. Akhirnya BTC mencapai penurunan dalam posisi terendah dalam tiga minggu terakhir,” kata Tim Riset Tokocrypto. 

    bitcoin
    Ilustrasi Bitcoin. Foto: Getty Images.

    Baca juga: Riset: Investor Lebih Percaya Simpan Kripto di Exchange Dibanding Wallet

    Serangkaian kabar buruk tersebut cukup untuk kembali melemahkan harga kripto. Saat ini kemungkinan besar investor masih takut dan khawatir imbas dari perkembangan regulasi kripto di AS yang belum menunjukan hal positif. 

    Meskipun terjadi penurunan harga pada sebagian besar aset kripto, sentimen pasar kripto masih terjaga dan stabil. Hal tersebut terlihat dari pergerakan sideways pada Bitcoin Fear and Greed Index di area level 48-58 masih dalam kategori Neutral.

    Sentimen Pasar Terhadap CPI

    Investor tengah bersiap menghadapi agenda penting yang diyakini akan menjadi pemicu terjadinya volatilitas tinggi pada pasar kripto. Laporan CPI yang akan diumumkan Selasa, 14 Februari 2023, pukul 20.30 WIB.  Naik atau turunnya CPI Januari 2023 ini menjadi salah satu indikator makro yang biasanya mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin (BTC) dan market kripto.

    Sejumlah lembaga memperkirakan CPI bulanan Januari 2023 naik di kisaran 0,5%.  Bila prediksi ini benar, hal tersebut akan menandai kenaikan terbesar CPI bulanan dalam tiga bulan terakhir. Peningkatkan bulanan ini akan memperlambat tingkat kenaikan tahunan dari 6,5% pada Desember menjadi 6,2% pada Januari. Sedangkan core CPI diperkirakan akan naik 0,3% di Januari, lebih rendah 5,4% secara YoY berbanding 5,7% di bulan Desember.

    Data CPI ini kerap menjadi indikator pergerakan harga Bitcoin dan aset kripto lain. Bila CPI aktual lebih rendah dari perkiraan para ekonom, harga kripto biasanya akan mengalami kenaikan. Namun, bila kenaikan lebih tinggi atau sama dengan perkiraan, pasar kripto biasanya bereaksi negatif.

    Data inflasi AS guncang pasar, Bitcoin dan Ethereum jatuh. Foto: Reuters.
    Data inflasi AS guncang pasar, Bitcoin dan Ethereum jatuh. Foto: Reuters.

    Baca juga: Analisis Potensi Kenaikan Harga Bitcoin Jelang Laporan CPI Terbaru

    “Berdasarkan data perilisan CPI dalam enam bulan terakhir, ada korelasi kuat yang antara hasil prediksi CPI dengan pergerakan harga Bitcoin. Bila hasil CPI lebih rendah dari prediksi, harga BTC akan mengalami kenaikan. Sedangkan bila CPI sesuai atau melebihi prediksi, harga BTC dan market kripto akan turun,” jelas Tim Riset Tokocrypto.

    Analisis Teknikal Bitcoin

    Dalam analisis teknikal, volatilitas Bitcoin dalam jangka pendek mungkin tetap tinggi dalam waktu dekat karena pelaku pasar menunggu data CPI. Menariknya, Bitcoin telah membuat golden cross pada daily chart dan death cross pada time frame mingguan.

    Hal tersebut menunjukkan bahwa tren jangka menengah pergerakan harga Bitcoin tetap negatif, tetapi tren jangka pendek bisa menandakan perubahan haluan. Tekanan jual yang tinggi menjadi salah satu faktor penyebab terjadi penurunan harga Bitcoin. Hal tersebut terlihat dari penurunan yang terjadi pada relative strength index (RSI).

    Level support terkuat Bitcoin berada di posisi US$ 21.480 atau sekitar Rp 326 juta. Sementara, bila hasil CPI positif untuk BTC, akan membuka pintu untuk kemungkinan reli hingga US$ 23.500 (Rp 357 juta).

    DISCLAIMERBukan saran atau ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi terkait analisis pasar yang bertujuan sebagai edukasi, bukan saran finansial.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Proyeksi Harga Bitcoin yang Tertekan di Awal Mei 2022, Terus Turun?

    Kondisi aset kripto, seperti Bitcoin dan market secara keseluruhan terpantau tertekan sepanjang awal Mei 2022. Melansir CoinMarketCap pada Senin (9/5) pukul 12.00 WIB, 10 aset kripto utama terlihat masuk ke zona merah dalam 24 jam terakhir.

    Nilai Bitcoin (BTC) terjerembab 2,27% dalam 24 jam terakhir dan bertengger di $ 33.602,87 per keping. Sementara itu, nilai Ethereum (ETH) turun 3,27% ke $ 2.450,26 per keping di waktu yang sama.

    Altcoin lainnya pun bernasib serupa. Nilai BNB merosot 3,14% dalam sehari belakangan. Sementara itu, nilai Solana (SOL), Cardano (ADA), dan Terra (LUNA) masing-masing anjlok 3,46%, 4,46% dan 3,72% di waktu yang sama.

    Tren Turun Bitcoin

    Nasib Bitcoin kini sedang mendung. BTC gagal menembus tren naik jangka pendek karena sinyal momentum berubah negatif. BTC menahan reli di level $ 40.000 selama beberapa bulan terakhir dan turun 47% dari level tertinggi sepanjang masa sekitar $ 69.000 yang dicapai pada November tahun lalu.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan ada beberapa faktor fundamental yang membuat harga BTC tertekan. Mulai dari kebijakan bank sentral AS, the Fed, telah memberi dampak besar pada Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.
    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono.

    Baca juga: Mengenal Kripto AC Milan Fan Token (ACM) dan TrueFi (TRU)

    “Jadi peningkatan volatilitas pasar dalam beberapa waktu terakhir ini dapat dikaitkan dengan kenaikan inflasi, krisis geopolitik dan kekhawatiran atas kebijakan moneter yang lebih ketat oleh The Fed. Nilai BTC terus terbebani oleh tekanan makroekonomi dan sentimen umum pasar yang belum pulih,” kata Afid pada Senin (9/5).

    Lebih lanjut, Afid menambahkan fluktuasi harga Bitcoin baru-baru ini juga masih berhubungan dengan ketidakpastian yang berkelanjutan atas pandemi COVID-19 dan tindakan regulasi baru oleh pemerintah AS, termasuk perintah eksekutif Joe Biden.

    Pergerakan Bitcoin dan altcoin, saat ini berkorelasi dengan aset sensitif risiko lainnya seperti saham, terutama saham teknologi, selama beberapa bulan terakhir. Saham-saham teknologi pun berguguran. Nilai saham Alphabet, Microsoft, Amazon, dan Meta kompak terjerumus lebih dari 1%.

    Secara lebih umum, dari data analisis on-chain sebagian besar investor jangka pendek telah menjual kepemilikan BTC mereka sebagai reaksi terhadap penurunan harga. Aksi jual mereka mungkin berkontribusi terhadap penurunan nilai Bitcoin. Nilai pasar BTC saat ini sekitar $ 662 miliar, setara dengan 39,4% dari ekonomi crypto senilai $ 1,68 triliun.

    Ilustrasi Bitcoin
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: 5 Crypto Potensial Bulan Mei 2022: KAVA, EOS, RUNE, NEAR dan SCRT

    Proyeksi Harga Bitcoin Awal Mei 2022

    Afid mengatakan secara keseluruhan market kripto masih cenderung terus turun. Pada grafik Bitcoin: Estimated Leverage Ratio dari CryptoQuant, BTC berisiko menembus di bawah rata-rata pergerakan tembus sekitar $ 30.000. Namun, tidak menutup kemungkinan akan terjun ke area $ 25.000—$ 27.000 yang faktanya bakal sangat menyakitkan bagi banyak investor.

    “Jika BTC tembus ke harga $ 27.000, berarti capai level terendah dari Juli 2021 lalu. Meski begitu, penurunan ini mungkin akan berlangsung lama dan pemulihan harga tampaknya lebih cepat,” ucapnya.

    Grafik Bitcoin: Estimated Leverage Ratio dari CryptoQuant.
    Grafik Bitcoin: Estimated Leverage Ratio dari CryptoQuant.

    Dari analisis teknikal, harga BTC lagi berusaha mempertahankan posisi di level support-nya $ 34.000. Jika harga terus menuju ke bawah level support, berarti ini konfirmasi bahwa harga akan terus mengalami penurunan ke level selanjutnya di sekitar $ 30.000.

    “Tapi mungkin Bitcoin akan bertahan di level support $ 34.000, selama beberapa hari baru akan ada konformasi selanjutnya, yaitu terus mengalami penurunan ke $ 30.000,” jelasnya.

    Analisis teknikal harga Bitcoin awal Mei 2022.
    Analisis teknikal harga Bitcoin awal Mei 2022.

    Dalam grafik CryptoQuant, Bitcoin masih menunggu konfirmasi, baik Short Squeeze maupun Long Squeeze. Jika garis ungu mengalami kejatuhan, berarti akan dampak likuidasi untuk posisi long, maka berkurangnya leverage membuat harga mengalami penurunan berkelanjutan atau Short Squeeze.

    “Untuk Short Squeeze sebaliknya, tapi market lebih melihat ke arah Short Squeeze daripada Long Squeeze. Tidak ada penahanan lagi untuk mengalami kenaikan dan akhirnya market ambrol,” pungkasnya Afid.

    Baca juga: Ini Skema Perhitungan Pajak Kripto di Tokocrypto Berlaku 1 Mei 2022



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • The Merge Ethereum Selesai, Kenapa Malah Harga ETH Turun?

    Menjelang akhir pekan, market aset kripto tampak kritis di zona merah. Kinerja market ternyata tak kunjung tampil kokoh, pasca peristiwa The Merge Ethereum yang sukses dilakukan pada Kamis (15/9) siang lali. Apakah The Merge tidak berpengaruh bangkitkan market?

    Melansir CoinMarketCap pada hari Jumat (16/9) pukul 10.00, nilai Bitcoin akhirnya turun dari level psikologisnya ke zona merah, dengan harga US$ 19.752 atau turun 0,17% selama 24 jam terakhir, walaupun melonjak 1,81% dalam sepekan. 

    Ethereum (ETH) bahkan harus turun lebih dalam pasca The Merge, anjlok 8,92% di harga US$ 1.467 selama 24 jam terakhir dan dalam sepekan lengser 10,62%. Altcoin lainnya pun kurang mentereng, seperti BNB, XRP, Solana (SOL) hingga Dogecoin (DOGE) semua kompak turun dan terjebak di zona merah dalam sehari terakhir.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan gerak market yang terus menurun pasca The Merge Ethereum disebebkan oleh beberapa faktor. Pertama, market secara keseluruhan masih tertekan sejak perilisan data inflasi AS yang terus meninggi pada Selasa (13/9) lalu.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono
    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono. Foto: Tokocrypto.

    Baca juga: The Merge Ethereum Sukses: NFT Gas Fees Jadi Murah?

    Kemudian Kamis (15/9) lalu, AS merilis data Initial Jobless Claims sebesar 213.000 angkatan kerja sepanjang pekan lalu alias di bawah konsensus analis 226.000. Kondisi pasar tenaga kerja yang mengetat plus kuatnya data manufaktur AS digadang akan membuat The Fed makin pede untuk meneruskan kenaikan suku bunga acuan. 

    “Hal itu tentu akan menghantam kinerja market kripto. Di samping itu indeks dolar AS juga langsung menguat, sehingga investor mulai meninggalkan market kripto dan menghentikan akumulasi. Peristiwa The Merge pun tidak membuat mereka bergairah ke kripto,” kata Afid.

    Banyak Investor Terkena FOMO The Merge

    Menurut Afid, banyak investor yang mikir The Merge Ethereum akan membuat harga ETH naik. Kemudian, tidak sedikit yang berpikir migrasi Ethereum ke Proof-of-Work (PoW) ke Proof-of-Stake (PoS) akan bikin ETH dibanting karena sell on news.

    Pada akhirnya, proyeksi kedua yang terjadi. Banyak investor yang terkena FOMO (fear of missing out) mengikuti tren untuk melakukan akumulasi ETH secara besar-besaran. Namun, pada saat The Merge sukses, para whales atau bandar mulai melakukan aksi jual beberapa jam setelah migrasi selesai dilakukan

    “Penyebab penurunan ini dimulai saat ETH berhasil melakukan The Merge. Hal ini dikarenakan aksi dari market yang dikenal buy the rumor, sell the news yang artinya membeli saat rumor dan menjual saat sudah kejadian. Sama halnya dengan pasar saham, di market kripto juga digerakkan oleh para big money atau whales, para bandar besar ini biasanya berupa institusi yang bisa menggerakan market ketika memutuskan beli atau jual,” terang Afid. 

    Ilustrasi The Merge Ethereum. Sumber: Getty Images.
    Ilustrasi The Merge Ethereum. Sumber: Getty Images.

    Baca juga: The Merge Ethereum Sukses, Market Kripto Bangkit?

    Naik Harga Ethereum

    Afid menjelaskan kenaikan harga ETH tidak bisa seketika akan terjadi. Kemungkinan besar akan butuh proses yang lama, meski fundamental ETH sudah sangat baik di konsensus PoS. Peristiwa migrasi jaringan Ethereum juga hanya mengubah keseluruhan algoritma konsensus dan tidak memperluas kapasitas jaringan.

    “The Merge belum akan berpengaruh tinggi pada kenaikan harga ETH dan market secara keseluruhan. Sama halnya soal gas fees NFT di jaringan Ethereum tidak akan turun signifikan. Permasalahan utama dari kondisi bear market tetap pada kondisi makroekonomi yang tidak berpihak pada aset berisiko,” jelasnya.

    Perlu di ingat bahwa pergerakan market diprediksi akan terus bearish atau sideways dalam beberapa hari ke depan menunggu rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan menentukan kenaikan suku bunga acuan pada tanggal 21 September mendatang.

    Dari analisis teknikal, level resistance Ethereum tertinggi berada pada harga US$ 1.655 dan support kuat di harga US$ 1.428. Jika valid breakdown, kemungkinan harga ETH akan melanjutkan laju turun nya dengan target ke harga US$ 1.356.

    Sementara, Bitcoin level support penting di US$ 19.156 yang dari bulan Juni lalu menjadi pertahanan kuatnya. Jika breakdown, maka akan melanjutkan penurunan hingga harga kisaran US$ 18.000.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Konflik Kraken-SEC dan Rumor Staking Dilarang di US Bikin Kripto Turun

    Market kripto terpantau turun pada Jumat (10/2) pagi saat industri diterpa kabar bursa kripto, Kraken yang setuju untuk menutup fitur staking dan membayar denda ke US Securities and Exchange Commission (SEC). Hal ini membuat banyak investor khawatir tentang rencana investasi mereka.

    Menjelang akhir pekan, investor kripto dikejutkan dengan posisi market yang jatuh lebih dalam. Bahkan Bitcoin (BTC) kembali ke keluar dari zona US$ 22.000 atau sekitar Rp 332 juta. Apa penyebab harga kripto turun kali ini?

    Tim Riset Tokocrypto menjelaskan bahwa sentimen bearish masih cukup kuat menghantui market pada pekan ini. Ada beberapa penyebabnya, utama adalah soal industri kripto di AS sedang menghadapi tekanan peraturan yang meningkat sejak awal tahun. Ini bahkan memicu diskusi di media sosial tentang apakah pemerintah AS diam-diam mencoba menekan seluruh industri kripto.

    “Terbaru yang membuat market kripto begitu terpukul karena ada rumor bahwa The Fed dan Comptroller of the Currency (OCC) akan melakukan pelarangan pelayanan bank ke crypto exchange. Hal ini juga berkaitan dengan New York Department of Financial Services (NYDFS) yang melakukan investigasi atas penerbitan stablecoin Paxos,” jelas tim.

    Sentimen Negatif Kuat

    Ilustrasi Rekt Capital.
    Ilustrasi market aset.

    Baca juga: Nilai Lido DAO (LDO) Naik Efek Tweet CEO Coinbase Brian Armstrong

    Tidak hanya itu, kabar yang menyebutkan US Securities and Exchange Commission (SEC) meminta bursa kripto global, Kraken untuk segera menghentikan fitur staking dan membayar denda US$ 30 juta juga mendorong market kripto lesu. Berita Kraken mengikuti rumor dari CEO Coinbase, Brian Armstrong, yang mengatakan SEC berniat untuk menyingkirkan staking kripto di AS untuk investor ritel.

    Serangkaian kabar buruk tersebut cukup untuk kembali melemahkan harga kripto. Saat ini kemungkinan besar investor masih takut dan khawatir imbas dari perkembangan regulasi kripto di AS yang belum menunjukan hal positif. Selain itu mereka juga resah dengan data pekerjaan AS terakhir yang kuat dan kelanjutan kebijakan moneter AS dari The Fed yang masih hawkish dan akan menghambat pertumbuhan ekonomi.

    “Sama seperti kripto, saham berjangka AS diperdagangkan cenderung turun pada Jumat (10/2) pagi. Indeks dolar AS (DXY) terpantau kembali level 103 (+0.05) yang memicu penurunan berkorelasi terbalik di seluruh aset berisiko, termasuk kripto dan saham.”

    Analisis Teknikal

    Prediksi gerak kripto BTC/USD. Sumber: Crypto Tony/Twitter.
    Prediksi gerak kripto BTC/USD. Sumber: Crypto Tony/Twitter.

    Baca juga: Surabaya hingga Bekasi Masuk Daftar Kota Paling Siap untuk Bisnis Kripto

    Dari sisi analisis teknikal, Bitcoin turun di bawah US$ 22.000 atau anjlok hampir 5% selama 24 jam terakhir. Ini menandai level terendah sejak 25 Januari lalu. Tekanan jual terlihat mendominasi meskipun volume perdagangan ditutup rendah, di bawah 20-day moving average (MA). Dari relative strength index (RSI) juga perlahan bergerak naik menuju area overbought.

    “Level support BTC terkuat saat ini berada di US$ 21.300, apabila berhasil breakout support, maka akan terjadi penurunan lebih lanjut di bawah US$ 21.000. Pergerakan harga Bitcoin untuk kembali bulish harus bisa menembus level resistance di US$ 22.304.”

    Namun, diproyeksikan selama akhir pekan nanti, Bitcoin belum mampu untuk meneruskan laju naik atau tidak berhasil bounce. Tekanan jual masih besar dan belum menjadi momen baik untuk mengakumulasi BTC. Prediksi dalam waktu dekat BTC akan kembali ke level US$ 21.000 atau Rp 317 juta.

    Pastikan kamu hanya melakukan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah. Kamu juga bisa menyimak berbagai informasi terbaru mengenai kripto dengan mengunjungi website TokocryptoInstagramTwitter, serta komunitas Tokocrypto!

    DISCLAIMERBukan saran atau ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset kripto masih berisiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Reli Harga Bitcoin Terhenti Pasca Laporan Tesla Jual BTC

    Bitcoin (BTC) mengalami minggu terbaiknya sejak Maret, dengan nilai naik 12% sejak hari Minggu (17/7), dan Ethereum (ETH) bahkan lebih baik, naik 15%. Namun pada hari Rabu (20/7) reli tampaknya agak terhenti, pasca berita buruk di industri kripto.

    Pawai BTC menuju US$ 24.000 tampaknya bakal mengambil jeda singkat setelah berita utama media mengumumkan bahwa Tesla telah menjual 75% dari posisi Bitcoin-nya. Ditelusuri dari data pendapatan Q2 Tesla, menunjukkan bahwa perusahaan mobil listrik itu telah menjual 75% kepemilikan Bitcoinnya untuk mendapatkan uang tunai sebesar US$ 963 juta ke neraca.

    Tak lama setelah berita Tesla tersiar, harga Bitcoin mundur dari tertinggi hariannya di US$ 24.280 menjadi US$ 22.900, sebelum stabil di sekitar US$ 23.500. Dan pada saat artikel ini ditulis harga Bitcoin duduk di US$ 23.186 (Rp 347 juta).

    Ilustrasi Tesla jual Bitcoin.
    Ilustrasi Tesla jual Bitcoin.

    Baca juga: Prediksi Titik Balik Kripto Momen Super Bullish

    Berita Buruk dari Minecraft dan Zipmex

    Kemunduran tak terduga dari pergerakan market kripto ini mungkin juga membantu membawa sedikit perspektif pasar kepada investor yang siap menyerukan diakhirinya bear market. Kapitalisasi pasar kripto keseluruhan sekarang mencapai US$ 1,035 triliun dan tingkat dominasi Bitcoin adalah 42,7%.

    Sementara kemunduran untuk Bitcoin sejauh ini relatif ringan, beberapa altcoin mengalami penurunan yang lebih tajam karena kenaikan harga baru-baru ini menciptakan peluang bagus bagi para investor untuk membukukan beberapa keuntungan.

    Sentimen negatif lain datang juga dari Mojang Studios, pengembang game Minecraft yang berbalik arah dengan memutuskan untuk melarang NFT di platformnya. Perusahaan juga mengkritik “harga spekulatif” dan “mentalitas investasi” di sekitar NFT yang menghilangkan pengalaman game dan mendorong pencatutan sehingga merugikan playability game jangka panjang.

    “NFT dapat membuat model kelangkaan dan pengecualian yang bertentangan dengan Guideline kami dan semangat Minecraft,” kata Mojang Studios.

    Ilustrasi Zipmex. Foto: Zipmex.
    Ilustrasi Zipmex. Foto: Zipmex.

    Baca juga: Kenal Kripto Fio Protocol (FIO) dan RSK Infrastructure Framework (RIF)

    Di sisi lain exchange kripto, Zipmex, yang umumkan melakukan penghentian sementara untuk proses penarikan dana dan aset kripto. Saat ini terpantau Zipmex juga menghentikan berbagai kegiatan yang direncanakan sebelumnya di media sosial.

    Berdasarkan keterangan yang dipublikasi Zipmex di media sosial, keputusan ini diambil karena kondisi market yang sangat volatil, berbagai peristiwa besar tidak terduga yang mengubah kondisi pasar atau Black Swan, dan kesulitan finansial perusahaan.



    Sumber : news.tokocrypto.com