Tag: Market

  • Market Awal Pekan: The Fed Bikin Kripto Tak Berdaya

    Pergerakan market aset kripto pada Senin (29/8) pagi pasrah tak berdaya. Harga Bitcoin, Ethereum dan aset kripto utama lainnya terpantau anjlok imbas sinyal kebijakan hawkish The Fed untuk menjinakan inflasi AS yang tinggi dalam empat dekade terakhir.

    Melansir data CoinMarketCap pukul 10.00 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar kompak terjebak di zona merah dalam 24 jam terakhir. Nilai Bitcoin (BTC) anjlok 1,55% ke US$ 19.777 dalam sehari terakhir. Nasib sama terjadi pada Ethereum (ETH) ambles 3,50% ke US$ 1.448 di waktu yang sama.

    Sejumlah altcoin lainnya, seperti nilai Cardano (ADA), XRP dan Solana (SOL) juga kompak turun lebih dari 3% dalam 24 jam terakhir di waktu bersamaan. Apa yang terjadi pada pergerakan market pagi ini?

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan pergerakan market kripto awal pekan ini secara keseluruhan memang alami penurunan. Bahkan nilai Bitcoin kini kembali berada di bawah harga US$ 20.000, balik lagi ke titik terendah yang terjadi pada bulan Juli lalu.

    Kapitalisasi pasar atau market cap kripto berjuang di bawah US$ 1 triliun sebagai dampak Bitcoin, dan sebagian besar altcoin gagal menghasilkan keuntungan yang signifikan.

    market aset kripto
    Ilustrasi market aset kripto.

    Baca juga: BI Pastikan Rupiah Digital Pakai Teknologi Blockchain, Kapan Dirilis?

    “Akhir pekan lalu atau Jumat (26/8), Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa pihaknya akan terus menempuh kebijakan moneter yang ketat lantaran pertempuran melawan inflasi membutuhkan waktu lama. Sontak, nilai aset kripto pun berguguran, bahkan masih melanjutkan pelemahan pada awal pekan ini,” kata Afid.

    Lebih lanjut Afid mengatakan penurunan market ini dapat dimaklumi mengingat investor tentu jadi tak selera melakukan aksi akumulasi di pasar aset berisiko, seperti saham dan kripto di tengah ancaman suku bunga tinggi. Kenaikan suku bunga acuan akan mengerek tingkat imbal hasil instrumen berpendapatan tetap. Sehingga, investor pun akan menjauh dari aset kripto, menuju aset-aset yang dinilai aman.

    “Kenaikan suku bunga acuan akan mengetatkan suplai uang beredar, sehingga bisa mengurangi likuiditas di pasar kripto. Investor akan cenderung wait and see dalam kondisi ketidakpastian ekonomi dan ancaman resesi saat ini,” jelasnya.

    Rumor Mt. Gox hingga Mimpi Buruk di September

    Selain itu, sentimen negatif yang juga sempat memukul market kripto adalah rumor Mt. Gox, platform exchange kripto asal Jepang yang bakal mendistribusikan sekitar 140.000 keping BTC kepada penggunanya pekan ini, sebagai lanjutan dari tindakan ganti rugi pasca peretasan yang terjadi pada tahun 2014 lalu.

    Ilustrasi aset kripto
    Ilustrasi aset kripto

    Baca juga: Indonesia Berpotensi Pimpin Pertumbuhan Kripto di Asia Tenggara

    “Investor takut bahwa pengguna Mt. Gox yang mendapat ganti rugi tersebut akan segera menjual Bitcoin itu ke exchange kripto. Terlebih, jumlah BTC yang didistribusikan pun bernilai besar, sehingga akan membuat nilai BTC akan semakin tertekan. Namun, hal ini telah dibantah dan hanya kabar hoaks, Mt. Gox belum akan mentransfer BTC dalam waktu dekat,” ungkap Afid.

    Proyeksi market untuk pekan ini dan menjelang awal September, akan mengalami tekanan yang cukup berat. Ada sentimen yang membuat lesu kinerja market kripto disebabkan oleh aksi jual musiman investor menjelang September.

    “Investor tengah mengantisipasi fenomena yang dijuluki “Septembear”, yakni peristiwa di mana nilai Bitcoin selalu melemah rata-rata 5,9% secara bulanan sepanjang September dalam 10 tahun terakhir. Tahun ini, ketidakstabilan makroekonomi digabungkan dengan tradisi penurunan tersebut memberikan proyeksi suram dari para analis,” tuturnya.

    Analisi Gerak Bitcoin dan Ethereum

    Dari analisis teknikal gerak Bitcoin kini titik support ada di level US$ 18.902 yang menjadi tahanan selanjutnya untuk laju penurunan harga. Titik tersebut menjadi level psikologis untuk kembali memulai pembelian kembali Bitcoin secara perlahan.

    Ilustrasi Fear and Greed Index Crypto pada hari Senin (29/8).
    Ilustrasi Fear and Greed Index Crypto pada hari Senin (29/8).

    Baca juga: Kenal Mythical Beings NFT, Proyek Seni Digital Bangun Kesadaran Restorasi Bumi

    Major support Bitcoin berada pada level US$ 17.514, yang menjadi tahanan terakhir apabila harganya penurunan. Jika titik tersebut dapat ditembus, kemungkinan harga Bitcoin akan membentuk lower low (LL) baru pada level US$ 15.539.

    Dari Fear and Greed Index Bitcoin pada hari Senin (29/8) kembali menyentuh level Extreme Fear pada level 24. Kondisi tersebut merubah sentimen pasar yang sudah membaik menjadi negatif kembali menjelang awal September.

    Sementara, gerak Ethereum saat ini titik support terdekat ada di level US$ 1.386. Jika, level support tersebut tertembus, penurunan lanjutan bisa bergerak ke harga US$ 1.275.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Sepekan: Sinyal The Fed Jadi Penentu Laju Market Kripto

    Menjelang akhir pekan keempat Agustus 2022, market aset kripto terus mengalami tekanan. Namun, secara keseluruhan pergerakan harga 10 kripto berkapitalisasi besar atau big cap masih tergolong sideways dengan perdagangan direntang harga yang terbatas dengan volatilitas tinggi.

    Melansir CoinMarketCap pada hari Jumat (26/8) pada pukul 13.00 WIB, nilai Bitcoin bertengger di zona merah dengan harga US$ 21.376 atau turun 1,59% selama 24 jam terakhir atau anjlok 2,95% dalam sepekan. Altcoin lainnya, Ethereum (ETH) yang digadang-gadang akan memasuki fase bullish jelang The Merge, juga lengser 3,21% di harga US$ 1.649 selama 24 jam terakhir

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan market kripto bergerak flat atau sideways dalam beberapa hari terakhir, lantaran mengantisipasi simposium The Fed di Jackson Hole, Wyoming, AS, pada Jumat (26/8) waktu setempat. Investor memilih wait and see terhadap kepastian arah kebijakan moneter AS ke depan ketimbang buru-buru melakukan price actions di market kripto.

    “Investor tengah bersikap memasang kuda-kuda menanti hasil simposium ekonomi The Fed di Jackson Hole. Dalam perhelatan itu, Ketua The Fed, Jerome Powell, digadang akan menyampaikan arah kebijakan moneter terbaru AS demi meredam inflasi. Saat ini banyak spekulasi menawarkan beberapa petunjuk apakah The Fed lebih memilih kenaikan suku bunga 50 atau 75 basis poin, yang akan diumumkan di pertemuan FOMC pada 13 September mendatang,” kata Afid.

    Ketua The Fed, Jerome Powell. Foto: REUTERS / Yuri Gripas
    Ketua The Fed, Jerome Powell. Foto: REUTERS / Yuri Gripas

    Baca juga: Indonesia Berpotensi Pimpin Pertumbuhan Kripto di Asia Tenggara

    Dari sisi sentimen makroekonomi lainnya memang saat ini belum mendukung market kripto. Meningkatnya inflasi di Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa yang tinggi, tentu membuat komoditas beresiko seperti aset kripto ikut terdampak. 

    “Investor sedang memutar otak untuk mengamankan aset mereka dan memilih instrumen investasi yang dirasa lebih aman. Terlebih dalam beberapa hari terakhir ini indeks dolar AS menguat moderat,” jelas Afid.

    Pelemahan Aktivitas di Exchange Kripto

    Di samping itu data Glassnode, dalam laporan on-chain terbarunya yang berjudul “A Bear Market Mirage” menyebutkan total arus masuk (inflows) dan arus keluar (outflows) di semua exchange kripto turun ke posisi terendah sejak akhir 2020. Penurunan tersebut menunjukkan kurangnya minat investor secara umum terhadap market kripto.

    Glassnode menyebutkan kondisi pasar kripto saat ini hampir sama dengan pada saat bear market tahun 2018. Namun, tahun ini pasar belum mencatat arus masuk yang signifikan untuk mendorong tren pemulihan yang berkelanjutan. Artinya market kripto untuk bull run sulit terjadi dalam jangka pendek hingga akhir tahun.

    market kripto bitcoin
    Ilustrasi market kripto bitcoin.

    Baca juga: BI Pastikan Rupiah Digital Pakai Teknologi Blockchain, Kapan Dirilis?

    Kapitalisasi atau market cap kripto secara keseluruhan juga masih bertengger di atas US$ 1 triliun sejauh bulan Agustus ini. Secara umum, market cap kripto telah kehilangan nilai kapitalisasi sekitar US$ 1,2 triliun sejak Januari 2022.

    Pergerakan nilai Bitcoin untuk level resistensi terdekat berada di harga US$ 22.370. Level support masih berada pada level US$ 20.701 dan jika breakdown atau tertembus penurunan selanjutnya bisa menargetkan ke harga US$ 19.005.

    Sementara, untuk Ethereum level support terdekat masih berada di harga US$ 1.597 dan jika terus tertekan bisa terjadi penurunan lanjutan menuju US$ 1.356. Semua pergerakan masih menunggu konfirmasi dari sinyal The Fed dalam acara pertemuan Jackson Hole nanti.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investor Mendadak Khawatir The Fed Bikin Harga Kripto Berdarah-darah

    Investor aset kripto kini tampak mulai khawatir dengan pergerakan market pada pekan ini. Salah satu penyebab kuatnya adalah proyeksi kebijakan moneter The Fed di tengah kondisi makroekonomi yang tidak pasti.

    Dikutip CoinMarketCap, pada hari Selasa (23/8) pukul 10.00 WIB, sembilan dari 10 aset kripto berkapitalisasi pasar kompak masuk zona merah dalam 24 jam terakhir. Nilai Bitcoin (BTC), turun 0,43% ke US$ 21.339. Tetapi, nilai Ethereum (ETH) justru malah naik 1,39% ke US$ 1.626 di waktu yang sama.

    Trader Tokocrypto, Nathan Alexander, menjelaskan sejumlah aset kripto big cap tampak tak berdaya, padahal Senin (22/8) pagi lalu sempat naik tipis. Melihat gerak market aset kripto ternyata tak mampu mempertahankan posisinya di zona hijau.

    “Runtuhnya market kripto ini sebenarnya sudah diprediksi. Penguatan harga hanyalah technical rebound sementara dan sudah lelah melakukan aksi beli. Namun, di saat yang sama, penguatan harga kripto terbatas dan terkepung dengan sentimen ketidakpastian makroekonomi yang kurang kondusif bagi investor kripto,” kata Nathan.

    Antisipasi Pertemuan Simposium Jackson Hole

    Nathan menjelaskan Investor sedang mengantisipasi pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), pejabat Fed, bersama dengan tokoh perbankan dari seluruh dunia akan bertemu lagi dalam simposium Jackson Hole tahunan pada 25-27 Agustus 2022.

    bitcoin
    Ilustrasi Bitcoin. Foto: Getty Images.

    Baca juga: Tokocrypto Pastikan Patuhi Regulasi Baru Bappebti dan Perdagangkan Kripto Legal

    Simposium ini digelar pada saat yang pasar di AS sedang kritis dan bakal menegaskan kembali sikap The Fed untuk mengetatkan kebijakan moneter demi meredam inflasi AS yang masih tinggi.

    “Investor bakal menanti hasil rapat Jackson Hole untuk mencari kepastian pengetatan atau pelonggaran kebijakan moneter AS ke depan,” ungkap Nathan.

    Analisis Gerak Bitcoin dan Ethereum

    Selain itu dari sisi teknikal, menurut Nathan gerak Bitcoin menunjukkan pola reversal bearish. Sehingga, ada kemungkinan reli kencang kripto dua pekan lalu merupakan penguatan yang tak maksimal karena dominasi terhadap altcoin yang terus turun.

    “Tak ketinggalan, penguatan nilai Dolar AS pun jadi hamabtan bagi laju harga aset kripto. Dari Fear and Greed Index Bitcoin pada hari Senin tanggal 22 Agustus yang menyentuh salah satu level terendah di bulan Agustus yaitu ditutup pada level 29. Kondisi tersebut merubah sentimen pasar yang sudah membaik menjadi negatif kembali,” tuturnya.

    Ilustrasi Ethereum.
    Ilustrasi Ethereum.

    Baca juga: Bappebti Setop Keluarkan Izin Baru Exchange Kripto di Indonesia

    Level support Bitcoin kini berada di level US$ 20.802. Jika support tersebut tidak mampu menahan laju penurunan, maka kemungkinan harga akan terus anjlok bisa kembali dibawah US$ 20.000.

    Sementara, harga Ethereum (ETH) masih mampu bertahan dan Selasa pagi ini terpantau masuk zona hijau. “Ini disebabkan oleh investor yang mulai kembali merangsek ke pasar berjangka ETH setelah harganya sempat menyentuh di bawah US$ 1.600.”

    Kuat dugaan, investor semakin bergairah jelang pembaruan jaringan utama Ethereum, atau kerap dikenal dengan The Merge, yang dijadwalkan pada 15 September mendatang. Level support ETH ada pada level US$ 1.386. Jika laju peningkatan terus berlanjut masih bisa menargetkan kenaikan ke US$ 1.912.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Market Awal Pekan: Kripto Naik Tipis Pasca Penurunan Drastis, Kenapa?

    Pergerakan market aset kripto pada Senin (22/8) pagi mulai berbalik arah ke zona hijau. Harga Bitcoin, Ethereum dan aset kripto utama lainnya terpantau melaju tipis, setelah akhir pekan yang berat dengan penurunan drastis.

    Melansir data CoinMarketCap pukul 11.00 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar kompak masuk tipis ke zona hijau dalam 24 jam terakhir. Nilai Bitcoin (BTC) yang naik 1,06% ke US$ 21.428 dalam 24 jam terakhir. Nasib sama terjadi pada Ethereum (ETH) melonjak 0,93% ke US$ 1.592 di waktu yang sama.

    Sejumlah altcoin lainnya juga naik tipis. Misalnya, nilai Binance Coin (BNB) dan Cardano (ADA) dan Solana (SOL) kompak naik di kisaran 3% dalam 24 jam terakhir di waktu bersamaan. Apa yang terjadi pada pergerakan market pagi ini?

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan pergerakan yang berbalik arah ini terjadi karena investor sudah jenuh melakukan aksi jual dan memicu technical rebound atau sudah mencapai oversold. Investor mulai memilih untuk kembali menyicil akumulasi aset kripto.

    “Jika melihat pergerakan sebelumnya ketika kripto ditekan selama akhir pekan oleh penurunan harga yang tajam, karena imbas data inflasi terbaru di negara Eropa dan ketidakpastian makroekonomi yang sedang berlangsung. Melihat gerak market kripto yang mulai masuk zona hijau ini, harus disikapi dengan kehati-hatian, karena masih besar kemungkinan bersifat sementara,” kata Afid.

    market aset kripto
    Ilustrasi market aset kripto.

    Baca juga: Bappebti Setop Keluarkan Izin Baru Exchange Kripto di Indonesia

    Kenaikan Harga Bersifat Sementara

    Afid meyakini kenaikan kripto hanya bersifat sementara, karena sentimen negatif yang menekan laju market kripto, khususnya makroekonomi belum membaik. Seperti, ketakutan dampak inflasi yang tinggi di Inggris dan Jerman.

    “Pekan ini, investor kripto bisa menjaga jarak ke market karena menanti pidato Ketua The Fed, Jerome Powell dalam acara tahunan Jackson Hole Economic Symposium yang digelar 25-27 Agustus. Investor masih dibuat bingung oleh sikap The Fed yang ingin memperketat suku bunga acuan atau justru akan membuka peluang pelonggaran,” jelas Afid.

    Selain dari sisi makroekonomi, ada sentimen negatif dari ekosistem kripto. Investor mulai khawatir soal rencana platform exchange kripto asal Jepang, Mt. Gox akan mendistribusikan BTC dalam jumlah besar kepada para penggunanya. Hal ini dilakukan sebagai tindakan ganti rugi terhadap hilangnya 850.000 BTC saat aksi peretasan pada 2014 silam.

    Apa itu altcoin seasons
    Ilustrasi aset kripto.

    Baca juga: Kolaborasi Tokocrypto & UNS Surakarta Bangun Pusat Inovasi dan Literasi Blockchain

    “Hal ini akan membuat harga BTC ditarik turun karena likuidasi yang tinggi di market, sehingga investor memilih menjual aset kriptonya,” terang Afid.

    Menurut Afid, analisa gerak market BTC saat ini terlihat sedang menguji level resistance terdekatnya di area US$ 21.900. “Ada kemungkinan BTC bisa mengalami rebound tipis ke kisaran US$ 22.500, jika mampu menembus level resistance.”

    Sementara itu, Ethereum masih menguji level resistance di level US$ 1.693. Apabila rebounce berlanjut target terdekat kenaikan pada level US$ 1.815 bisa tercapai.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Sepekan: Market Kripto Terus Merana Tak Kunjung Bull Run

    Menjelang akhir pekan ke-3 Agustus 2022, market aset kripto terus tertunduk lesu. Pergerakan harga 10 kripto berkapitalisasi besar atau big cap secara keseluruhan semuanya kompak nyaman di zona merah sepanjang pekan ini.

    Melansir CoinMarketCap pada hari Jumat (19/8) pukul 11.00 WIB, nilai Bitcoin bertengger di zona merah dengan harga US$ 22.767 atau turun 2,95% dalam 24 jam terakhir. Altcoin lainnya, Ethereum (ETH) masih lebih baik meski sama-sama anjlok di 1,72% ke US$ 1.818. Kripto lainya, Cardano (ADA), Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE) anjlok lebih dari 4%.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan market kripto masih belum bisa bangkit dari keterpurukan. Saat ini, banyak investor yang terlihat sangsi melakukan akumulasi kripto lantaran sentimen makroekonomi sedang tidak baik-baik saja.

    Salah satu faktor yang menghambatnya adalah The Fed menerbitkan risalah rapat komite pasar terbuka federal (FOMC) Juli pada Kamis (18/8) lalu, yang menegaskan bahwa mereka akan terus mengetatkan kebijakan suku bunga acuannya hingga inflasi benar-benar terkendali.

    Ilustrasi Rekt Capital.
    Ilustrasi market aset.

    Baca juga: Tokocrypto Luncurkan T-Hub Solo Perluas Adopsi Blockchain dan Aset Kripto

    “Risalah itu membuat investor bingung dengan sikap The Fed. Padahal sebelumnya, mereka memberi sinyal ada kemungkinan melonggarkan kebijakan moneternya selepas September mendatang. Kalau tidak benar terjadi dan ada pengetatan kebijakan moneter ditakutkan menghambat likuiditas di pasar aset berisiko, termasuk kripto,” kata Afid.

    Di sisi lain, kabar mengenai tingkat Inggris yang mencapai 10,1% pada Juli 2022 juga sedikit banyak menekan laju market kripto. Perlu diketahui angka inflasi di Inggris itu merupakan Tertinggi dalam 40 Tahun terakhir.

    Adanya penguatan nilai indeks Dolar AS juga menekan performa aset kripto. Nilai indeks Dolar AS pada Jumat (19/8) pagi, sempat menyentuh level 107,6 alias meningkat dari periode sama sehari sebelumnya 106,5. 

    “Investor yang memegang kripto sebagian besar menjualnya asetnya karena  berisiko, seperti saham, jadi mereka lebih memilih untuk memegang dolar AS terlebih nilainya sedang menguat,” ujar Afid.

    analisa teknikal
    Ilustrasi Ethereum dan Bitcoin

    Baca juga: Promosi Indonesia Via Metaverse, Kemenparekraf Bangun WonderVerse

    Analisa Gerak Bitcoin dan Ethereum

    Pergerakan Bitcoin kembali berada di bawah day-20 exponential moving average (EMA) dan ada kemungkinan meneruskan laju penurunannya. Level support BTC terdekat kini berada pada harga US$ 22.370, jika titik tersebut tertembus bisa menarik harga ke level US$ 20.701. Sementara, target rebounce BTC berada di level resistance pada level US$ 23.362.

    Sementara, Ethereum (ETH) juga menunjukkan tren penurunan dalam lima hari terakhir. Meski demikian, sejak 19 Juni lalu, nilai ETH sudah naik 109% dari US$ 880,93 ke $1.818. Kenaikan ini diduga merupakan respons dari antisipasi pasar terhadap The Merge, yaitu transisi jaringan Ethereum ke proof-of-stake dari proof-of-work.

    “Tapi saat ini ETH sedang menguji pertahanan harganya di level support US$ 1.783, apabila terjadi breakdown, kemungkinan ETH turun lebih dalam capai level US$ 1.663. Resistance ETH ada di level US$ 1.915,” pungkas Afid.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Habis Rayakan HUT RI Ke-77, Market Aset Kripto Kembali Merana

    Pergerakan market aset kripto pada Kamis (18/8) diselimuti awan mendung. Setelah sempat perkasa sejenak saat Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Republik Indonesia pada 17 Agustus lalu, pasar kripto kini kembali tertunduk lesu. Apa penyebabnya?

    Dikutip CoinMarketCap pukul 10.00 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar atau big cap kompak masuk zona merah dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) turun 2,25% di US$ 23.467 per keping. Kemudian, Ethereum (ETH) anjlok 2,30% ke US$ 1.852 di waktu yang sama.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan harga Bitcoin dan Ethereum dan kripto lainnya tercatat turun untuk hari keempat berturut-turut karena investor terus bingung dengan indikator ekonomi dan laporan pendapatan perusahaan raksasa teknologi AS baru-baru ini.

    “Market dihantam sentimen negatif dari risalah komite pasar terbuka federal (FOMC) bank sentral AS, The Fed yang tidak sesuai ekspetasi. Awalnya, investor berharap The Fed akan menulis soal pelonggaran kebijakan moneter di dalam risalah tersebut. Namun, isinya sedikit berbeda dan membuat investor khawatir,” kata Afid.

    Ilustrasi bear market
    Ilustrasi bear market.

    Baca juga: Elon Musk ingin Beli Manchester United, Nilai Token MUFC Palsu Melonjak

    Pupus Pelonggaran Kebijakan The Fed

    Investor harus kecewa tentang ekspetasi bullish terhadap kripto, di tengah The Fed yang mungkin menggunakan risalah pertemuan Juli untuk mendorong kembali harapan kenaikan suku bunga dan pelonggaran likuiditas yang lebih lambat.

    Dalam risalah yang diterbitkan pada Kamis (18/8) dinihari itu, The Fed justru menuliskan mereka akan terus mendukung kenaikan suku bunga acuan sampai tingkatan tertentu. Walaupun terdapat opsi pelonggaran kebijakan moneter, namun tidak diketahui waktu tepatnya.

    “Akhirnya selera investor jauh menurun karena The Fed kemungkinan besar akan terus menaikkan suku bunga sampai inflasi turun menjadi 2%. Artinya ada kemungkinan suku bunga akan digenjot lebih tinggi, bila situasi ekonomi AS tak kunjung membaik,” jelas Afid.

    Di sisi lain, performa saham juga lesu. Data pertumbuhan penjualan ritel AS yang flat sepanjang Juli menjadi penyebabnya, ini juga berimbas ke market kripto, karena menimbulkan kembali kekhawatiran soal inflasi di masa depan.

    ethereum
    Ilustrasi Bitcoin dan Ethereum.

    Baca juga: Tokocrypto Market Signal 17 Agustus 2022: Kripto Gerak Perkasa di HUT RI ke-77

    Analisis Gerak Bitcoin dan Ethereum

    Afid melanjutkan dari sisi analisis teknikal, penurunan yang terjadi pada Bitcoin sekarang ini masih termasuk koreksi normal, kecuali BTC jebol di level support solidnya US$ 21.500.

    “Indeks relative strength index (RSI) Bitcon telah turun mendekati titik tengah, menunjukkan keseimbangan antara penawaran dan permintaan. Jika harga bertahan di bawah 20-day EMA, kemungkinan akan turun ke US$ 22.160,” terangnya.

    Sementara, Ethereum juga terkena imbas market crash dari The Fed, meski ada sentimen positif dari The Merge. Gerak ETH masih mencoba menarik harga ke zona support kuat antara 20-day EMA di US$ 1.772. Ini adalah zona penting yang harus dipertahankan, jika mereka ingin mempertahankan tren naik tetap utuh.

    “Jika harga rebound dari zona support ini, ETH dapat menguji ulang resistance di US$ 2.030. Sebaliknya, jika support US$ 1.700 tertembus, ETH bisa turun ke US$ 1.492,” pungkas Afid.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Market Awal Pekan: Reli Market Kripto Mulai Lesu, Nasib BTC?

    Pergerakan market aset kripto pada Senin (15/8) pagi mulai berbalik arah. Harga Bitcoin, Ethereum dan aset kripto utama lainnya terpantau melaju lesu. Harga BTC pun menurunkan kecepatan relinya dan belum berani untuk menembus mendekati harga US$ 25.000.

    Melansir data CoinMarketCap pukul 09.00 WIB, 7 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar kompak masuk tipis ke zona merah dalam 24 jam terakhir. Hanya saja nilai Bitcoin (BTC) yang naik 1,12% ke US$ 24.853 dalam 24 jam terakhir. Nasib sama terjadi pada Ethereum (ETH) melonjak 0,53% ke US$ 1.998 di waktu yang sama.

    Sejumlah altcoin lainnya mulai kehabisan bensin. Misalnya, nilai Binance Coin (BNB) dan Cardano (ADA) dan Solana (SOL) kompak turun dalam 24 jam terakhir di waktu bersamaan. Apa yang terjadi pada pergerakan market pagi ini?

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan pergerakan yang berbalik arah ini, dimulai setelah Bitcoin gagal mempertahankan posisi di atas US$ 25.000 pada akhir pekan lalu. Banyak yang menduga investor sudah siap untuk melakukan aksi ambil untung, jika BTC tembus area harga BTC US$ 25.000.

    “Akibatnya, ketika tercapai, investor banyak yang memutuskan untuk tidak lagi melakukan akumulasi. Meski begitu, secara keseluruhan investor masih tetap memiliki selera untuk melakukan akumulasi kembali di market,” kata Afid.

    Ilustrasi bear market
    Ilustrasi bear market.

    Baca juga: Event NFT Bira Siap Digelar, Ajang Kumpul Pegiat Web3 dan Blockchain

    Optimis Indikator Ekonomi Lebih Baik

    Afid menjelaskan salah satu faktor kuat market kripto bisa bergerak lebih baik, yaitu kepercayaan investor terhadap indikator ekonomi baru-baru ini, yang menunjukkan penurunan inflasi dan kemungkinan resesi yang lebih rendah.

    Di samping itu, untuk pertama kali Bitcoin Fear and Greed index berhasil tembus posisi Netral sejak terakhir April 2022. Senin pagi ini, indeks kembali naik ke posisi Fear, tapi masih lebih baik dibanding seminggu terakhir.

    Indikator lainnya, market kripto masih berpotensi bergerak lebih baik pekan ini adalah indeks BTC Dominance. Investor tampaknya lebih suka akumulasi altcoin ketimbang Bitcoin. Kini indeks dominasi BTC berada di angka 40,1%, menurun drastis dibanding dua bulan lalu, yakni 48%.

    “Penyebabnya kemungkinan besar adalah disebabkan dari lonjakan harga Ethereum yang terjadi akibat rumor The Merger yang ditunggu-tunggu. Ethereum juga telah menyelesaikan penggabungan jaringan testnet terakhir, Goerli Rabu lalu,” jelas Afid.

    Ilustrasi Shiba Inu.
    Ilustrasi Shiba Inu.

    Baca juga: Kenal Fear and Greed Index Crypto dan Cara Kerjanya

    Altcoin Juara dan Analisis Gerak BTC

    Afid mengatakan ada altcoin yang menarik perhatian di market pada Senin (16/8) pagi ini yaitu Dogecoin (DOGE), Shiba Inu (SHIB) dan Celcius (CEL). Betapa tidak, nilai DOGE naik 9,86%, SHIB melonjak 35,2% dan CEL tumbuh 16,77% dalam sehari terakhir.

    Nilai SHIB terbang setelah terjadi SHIB burn sebanyak 292 juta keping pada Sabtu (13/8) lalu. Selain itu, market juga mengantisipasi game Shiba Eternity dari pengembang jaringan Shiba Inu. kemudian, Celcius melonjak akibat rumor desas-desus pengambilalihan pengelolaan token oleh Ripple yang ingin membeli aset Celsius Network.

    Dari sisi analisis teknikal, Bitcoin sebenarnya punya potensi menguat sampai ke level US$ 25.568, jika berhasil melewati level resistensinya. Namun, jika BTC gagal menembus tingkat tersebut, maka titik support harian terdekat BTC berada di level US$ 22.530 dan US$ 21.317.

    “Sementara, gerak Ethereum masih bisa optimis menembus target bullish selanjutnya berada di level US$ 2.009. Level support ETH di level US$ 1.745 untuk menahan laju penurunan harga ETH apabila terjadi,” pungkas Afid.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Sepekan: Reli Market Kripto Sedikit Tertahan, Apa Sebabnya?

    Menjelang akhir pekan, market kripto malah melaju lesu, walaupun Ethereum masih terpantau kuat memasuki zona hijau. Secara keseluruhan investor dibuat bingung oleh sikap market kripto pekan ini. Apa faktornya?

    Sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap terpantau menurun dan masuk ke zona merah pada perdagangan Jumat (12/8) pukul 13.00 WIB. Misalnya saja, dari pantauan CoinMarketCap, nilai Bitcoin bertengger di harga US$ 23.990 atau turun 2,50% dalam 24 jam terakhir. Altcoin lainnya, Ethereum (ETH) masih kuat naik 1,12% ke US$ 1.901. Binance Coin (BNB), Solana (SOL) dan XRP anjlok lebih dari 1%.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan market kripto mulai kehabisan bensin, walaupun masih dihujani segudang sentimen positif. Sejatinya, sentimen makroekonomi masih bisa menjadi angin segar bagi market kripto, setelah Departemen Ketenagakerjaan AS telah mengumumkan inflasi tahunan AS yang ternyata mengalami penurunan dari 9,1% kini hanya 8,5% pada Juli 2022. 

    “Market tampak mulai goyah pada Jumat (12/8) pagi ini. Padahal jika dilihat dari sisi sentimen positif masih banyak yang bisa mendorong laju market ke reli selanjutnya. Terlebih indeks inflasi AS turun, data itu mengindikasikan bahwa siklus inflasi tinggi AS mungkin telah mencapai puncaknya, meski angka 8,5% masih jadi salah satu yang tertinggi,” kata Afid.

    Ilustrasi aset kripto
    Ilustrasi aset kripto

    Baca juga: Jadwal Baru Rilis Ethereum 2.0 dan Gas Fees Lebih Murah

    Ethereum Masih Kuat Reli?

    Melihat data tersebut, investor bisa optimis bahwa siklus inflasi tinggi AS sudah mencapai puncaknya. Sehingga, berharap bank sentral AS, The Fed, mulai bersikap lunak dalam melakukan kebijakan suku bunganya. Namun, rupanya hal tersebut belum mampu membuat gerak laju market kuat naik.

    Sementara dari sisi ekosistem, sentimen positif datang dari Ethereum yang Kamis (11/8) kemarin mengumumkan telah sukses menginstalasi pembaruan di salah satu jaringan uji cobanya bernama Goerli. Uji coba ini merupakan testnet paling akhir, sebelum jaringan utama Ethereum mengalami pembaruan bernama The Merge pada September mendatang.

    “Suksesnya Goerli sedikit membantu harga ETH tidak terpengaruh market yang lesu. Walau alami sedikit kenaikan, ETH mampu bertahan dan sentimen positif ke depan bisa mendorong harganya,” ucap Afid.

    Sentimen Negatif Bikin Market Lesu Pekan Ini

    Afid menganalisa faktor utama yang membuat market lesu menjelang akhir pekan ke-2 Agustus ini adalah trader yang memulai masif melakukan aksi profit taking atau ambil untung, sehingga membuat investor lain menghentikan akumulasinya.

    Ilustrasi bear market
    Ilustrasi bear market.

    Baca juga: Bos Apple: Investasi Kripto adalah Keputusan Masuk Akal dan Menarik

    “Sayang banyak sentimen positif gagal menjadi berkah bagi market kripto. Banyak trader yang sepertinya bergerak cepat melakukan aksi profit taking, karena penguatan yang membuat harga aset kripto tinggi kemarin. Kuat diguaan, mereka melakukan aksi itu karena yakin harga aset kripto benar-benar telah mencapai titik bottom-nya,” terangnya.

    Di sisi lain, market saham AS juga memiliki kinerja bervariasi, namun cenderung menurun. Hal ini terjadi karena kinerja saham-saham teknologi, seperti Alphabet, Meta Platforms, Apple, dan Microsoft alami penurunan. Ini juga yang membuat investor kurang berselera masuk ke market kripto.

    Selain itu, ada sedikit penguatan nilai indeks dolar AS Jumat pagi ini yang menambah hantaman laju nilai aset kripto. Pergerakan nilai dolar AS dan aset kripto memang punya korelasi negatif yang kuat sejak Juli tahun lalu.

    Ilustrasi Ethereum.
    Ilustrasi Ethereum.

    Baca juga: 5 Strategi Untung Investasi Kripto saat Sideways Market

    Analisis Gerak Bitcoin dan Ethereum

    Dari analisis teknikalnya, gerak level support Bitcoin berada pada resistance sebelumnya di level US$ 23.362 sebagai tahanan jika harga BTC meneruskan penurunannya. Namun, apabila harga Bitcoin pullback dan kembali naik, target kenaikan masih berada di level US$ 25.232.

    Sementara, Ethereum masih mampu mempertahankan laju bullish-nya. Pergerakan harga ETH masih mencoba untuk breakout dari area supply yang menjadi kunci dan konfirmasi untuk kenaikan lebih lanjut. Jika harga ETH berhasil breakout, target bullish selanjutnya berada di level US$ 2.009. Level support kuat masih di US$1.745 untuk menahan laju penurunan harga ETH apabila terjadi koreksi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Data Baru Inflasi AS Dorong Market Kripto Reli Kencang, Tanda Bull Run?

    Pergerakan market aset kripto pada Kamis (11/8) pagi berhasil membuat investor tersenyum lebar. Akhirnya setelah sempat tertekan, market lepas reli kencang masuk ke zona hijau.

    Melansir situs CoinMarketCap pada Kamis (11/8) pukul 09.00 WIB, dari 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar atau big cap, kompak alami peningkatan yang cukup signifikan dalam 24 jam terakhir. Misalnya, nilai Bitcoin (BTC) naik 6,69% ke US$ 24.336 per keping dalam sehari terakhir.

    Sementara, Ethereum (ETH) melonjak lebih dahsyat 12,42% ke US$ 1.878 di waktu yang sama. XRP, Cardano (ADA), Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE) juga bergerak naik masing-masing 5,82%, 7,13%, 9% dan 5,68%.

    Trader Tokocrypto, Nathan Alexander, mengatakan harga Bitcoin, Ethereum dan aset kripto utama lainnya melanjutkan reli disebabkan oleh berita data inflasi AS terbaru yang menguntungkan.

    Harga Bitcoin Bergerak Agresif
    Harga Bitcoin Bergerak Agresif.

    Baca juga: Penerbitan CBDC Semakin Dekat, Australia Luncurkan Proyek Pilot

    Departemen Ketenagakerjaan AS telah mengumumkan inflasi tahunan AS yang ternyata mengalami penurunan dari 9,1% kini hanya 8,5% pada Juli 2022. Data ini mengindikasikan bahwa siklus inflasi tinggi AS mungkin telah mencapai puncaknya, meski angka 8,5% masih jadi salah satu yang tertinggi.

    “Peristiwa tersebut akhirnya memicu investor untuk kembali mengakumulasi aset kripto. Mereka optimis akan adanya pull back dari dampak data inflasi AS yang turun,” kata Nathan.

    Optimis The Fed Bergerak Tak Agresif

    Nathan melanjutkan data terbaru inflasi AS bisa menimbulkan keyakinan bahwa The Fed tampaknya akan meredam agresivitas kebijakan moneternya. Jika The Fed mengambil sikap devoish, maka daya tarik aset kripto, akan terus berkilau. Selain itu, aksi The Fed yang menahan suku bunga acuannya diharapkan tidak akan menyurutkan likuiditas di pasar kripto.

    “Pastinya, mereka bisa beranggapan berhasil dalam upaya menjinakkan inflasi tanpa memasukkan ekonomi ke dalam resesi, dan dapat meningkatkan suku bunga pada tingkat yang lebih moderat pada pertemuan berikutnya di bulan September mendatang,” ucapnya.

    Selain sentimen dari inflasi, reli kencang market kripto juga didorong antisipasi investor terhadap pembaruan jaringan Ethereum bernama The Merge yang sedianya meluncur pada September mendatang.

    Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum.
    Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum. Foto: Pixabay.

    Baca juga: Daftar Lengkap 383 Aset Kripto Legal Terdaftar Bappebti di Indonesia

    Terlebih, pada pekan bisa jadi momen penting bagi Ethereum, karena akan ada penggabungan testnet ketiga dan terakhir, yang disebut Goerli. Diharapkan penggabungan ini terjadi pada 10-12 Agustus mendatang.

    Analisis Gerak Bitcoin dan Ethereum

    Dari sisi teknikal, Nathan mengungkap pergerakan harga Bitcoin sejauh ini berhasil breakout resistance pada level US$ 23.362. Jika harga BTC kembali melanjutkan reli, target kenaikan selanjutnya berada pada level US$ 25.232. Posisi US$ 22.930 masih menjadi level support yang solid untuk menahan laju penurunan Bitcoin apabila harga koreksi.

    Sementara, nilai Ethereum memiliki target kenaikan terdekat berada pada level US$ 1.916. “Jika berhasil breakout, maka kenaikan selanjutnya berada pada level US$ 2.009. ETH memiliki level support solid di US$ 1.622 untuk menahan laju penurunan ETH jika mengalami koreksi,” pungkas Nathan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Market Kripto Tertekan, Menanti Data Baru Inflasi AS

    Badai kembali menghantam market aset kripto. Pergerakan market pada Rabu (10/8) siang terpantau terkoreksi, dan ini mengakhiri reli kencang yang sudah berlangsung sejak awal pekan lalu. Apa penyebab market lesu ini?

    Melansir situs CoinMarketCap pada Rabu (10/8) pukul 12.00 WIB, dari 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar atau big cap, kompak alami penurunan cukup dalam ke zona merah dalam 24 jam terakhir. Misalnya, nilai Bitcoin (BTC) anjlok 3,82% ke US$ 22.963 per keping dalam sehari terakhir.

    Sementara, Ethereum (ETH) turun lebih dalam 5,53% ke US$ 1.680 di waktu yang sama. XRP, Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE) punya nasib yang lebih buruk karena anjlok masing-masing 4,03%, 7,29% dan 3,71%.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat sejauh ini mulai kehabisan bensin untuk melaju sejak Selasa (9/8) sore. Ada beberapa penyebab market berbalik arah, seperti volume perdagangaan yang belum menunjukan peningkatan yang signifikan hingga antisipasi perilisan data inflasi AS untuk bulan Juli.

    “Sepertinya keyakinan investor sudah mulai goyah setelah melihat bahwa penguatan aset kripto sejatinya tak dibarengi dengan kenaikan volume perdagangan. Kemudian, dari sisi teknikal investor gagal mempertahankan nilai BTC di level psikoogisnya US$ 23.000. Lalu, yang utama adalah siap-siap perilisan CPI atau data inflasi AS,” kata Afid.

    Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.
    Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.

    Baca juga: BlackRock Mantap Masuk ke Market Kripto Incar Investor Kaya

    Afid menambahkan pelemahan aset kripto pagi ini sejalan dengan volume perdagangan harian yang cukup rendah dibanding hari-hari sebelumnya. Hal tersebut jadi indikasi investor tengah memasang sikap bertahan atau wait and see.

    Investor sedang galau atau memang kurang yakin dengan arah pergerakan harga aset kripto saat ini, sehingga susah bersikap terlalu bullish dalam price actions. Terlebih perilisan data inflasi Juli AS akan dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus.

    “Jika data inflasi AS melebihi proyeksi 8,7%, maka ada kemungkinan The Fed akan semangat mengerek suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin di rapat FOMC berikutnya. Dampaknya, situasi pemulihan ekonomi akan melambat dan pasar investasi berisiko, seperti kripto akan terus tertekan,” jelasnya.

    ethereum
    Ilustrasi Bitcoin dan Ethereum.

    Baca juga: Industri Kripto dan Blockchain Tetap Jadi Incaran Venture Capital

    Analisis Pergerakan Bitcon dan Ethereum

    Dari perspektif teknikalnya, perdagangan Bitcoin turun di bawah garis trennya, bisa dinyatakan sebuah sinyal bahwa ada keyakinan terbatas dalam pergerakan harga lebih rendah.

    Jika bitcoin gagal merebut kembali tren di level US$ 22.930, tampaknya akan diposisikan mengalami penurunan yang signifikan. Level support terdekat kini berada dikisaran US$ 22.000.

    Sementara, Ethereum sangat penting bagi untuk mempertahankan zona dukungan US$ 1.690-US$ 1.700 untuk terus bull. Namun, tekanan market saat ini dapat mendorong ETH ke level US$ 1.580.



    Sumber : news.tokocrypto.com