Tag: Mata uang kripto

  • 4 Jenis Stablecoin dan Perbedaannya dengan Aset Kripto Lain

    Berbicara soal aset kripto memang tak bisa lepas dari pembahasan mengenai harganya yang mudah naik-turun. Aset kripto yang ada di pasaran hampir tidak bisa ditebak akan ke mana arahnya, mungkin saja saat harganya sedang naik, tidak butuh waktu lama harganya langsung turun bahkan anjlok. Tetapi, ada nih jenis aset kripto yang harganya stabil, namanya Stablecoin

    Terus, apa sih penyebab harganya bisa stabil? Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini!

    Apa itu Stablecoin?

    Stablecoin adalah sederet aset kripto yang menawarkan nilai aset yang terus stabil dikarenakan sudah dijamin oleh aset-aset lain di belakangnya dengan rasio 1:1. Aset lain tersebut bisa bermacam-macam bentuknya, mulai dari uang fiat, sesama aset kripto lain, hingga komoditas.

    Saat ini, stablecoin kerap menjadi buah bibir dan pilihan utama pegiat aset kripto. Selain karena harganya yang cenderung stabil dan berbeda dengan aset kripto lainnya, stablecoin juga dianggap lebih aman karena adanya aset lain yang menjaminnya.

    4 Jenis Stablecoin

    gambaran jenis jenis stable coin

    Dalam dunia aset kripto, stablecoin dibagi lagi ke dalam empat jenis sesuai dengan cara kerjanya. Berikut adalah empat jenis stablecoin, lengkap dengan cara kerja dan contohnya, yaitu:

    1. Fiat-collateralized 

    Seperti namanya, fiat-collateralized berarti jenis stablecoin yang dijamin oleh uang fiat. Umumnya, uang fiat yang digunakan sebagai jaminan adalah uang yang harganya tergolong stabil di pasar, seperti Dollar AS dan Euro. Meski begitu, kini juga sudah ada stablecoin yang dijamin oleh uang fiat lain seperti Rupiah.

    Beberapa contoh dari stablecoin berjenis ini adalah Tether (USDT) dan USD Coin (USDC) yang memiliki nilai setara dengan Dollar AS, menjadi dua stablecoin yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar saat ini. Selain itu, dalam skala nasional juga hadir Rupiah Token (IDRT), yang nilainya dijamin oleh nilai Rupiah asli.

    2. Commodity-collateralized

    Jenis stablecoin selanjutnya ada commodity-collateralized, yaitu stablecoin yang harganya ditetapkan sesuai dengan harga komoditas, atau aset lain yang bisa dipertukarkan. Komoditas yang digunakan yaitu logam mulia seperti emas atau perak, tetapi ada juga yang menggunakan properti. Layaknya komoditas di dunia nyata, tidak menutup kemungkinan nilai stablecoin jenis ini bisa naik atau turun seiring berjalannya waktu.

    Stablecoin berjenis ini antara lain adalah PAX Gold (PAXG), Tether Gold (XAUT), dan Digix Gold (DGX) yang harganya mengikuti pergerakan harga logam mulia emas. Ada juga Secure Coin (SRC) yang nilainya dijamin oleh portofolio properti di Swiss.

    3. Crypto-collateralized

    Selanjutnya ada stablecoin dengan jenis crypto-collateralized, di mana nilai stablecoin yang ada dijamin oleh aset kripto lainnya. Agar harga stablecoin yang dijamin tetap stabil, maka biasanya aset kripto yang menjaminnya sengaja disiapkan lebih banyak. Hal ini akan menghasilkan stablecoin dalam jumlah sedikit, tetapi harganya tetap stabil.

    Misalnya, dalam menghasilkan stablecoin senilai 2500 USD, maka penerbit harus mempersiapkan aset kripto lain sebagai jaminan dengan nilai 5000. Dalam hal ini, stablecoin berhasil dijamin sebesar 200 persen. Contoh stablecoin berjenis ini adalah MakerDAO (DAI) yang harganya dipatok pada Dollar AS tetapi didukung oleh Ether (ETH).

    4. Non-collateralized

    Terakhir ada stablecoin dengan jenis non-collateralized alias tidak dijamin oleh aset apapun. Tapi, kok, harganya bisa tetap stabil? Sebenarnya, jenis ini tidak sepenuhnya sama sekali tanpa jaminan. Non-collateralized di sini maksudnya adalah tetap menggunakan mekanisme kerja atau algoritma selayaknya bank sentral, sehingga harganya bisa terus stabil.

    Masih bingung? Sederhananya, seperti yang dahulu terjadi pada Dollar AS di mana nilainya sempat dipatok dengan nilai emas yang bertujuan untuk menstabilkan harganya. Namun, setelah tidak lagi dijamin oleh harga emas, ternyata harga Dollar AS tetap stabil karena masyarakat sudah percaya akan nilai dan impact yang dimilikinya. 

    Sama seperti ilustrasi tersebut, ada jenis stablecoin yang dibangun menggunakan algoritma serupa. Akan tetapi, pada aset kripto, diperlukan juga penerapan smart contract pada sebuah platform terdesentralisasi terlebih dulu. Selain itu, untuk mempertahankan stabilitasnya, stablecoin jenis ini harus bisa menunjukkan pertumbuhannya dalam jangka waktu yang cukup panjang.

    Contohnya adalah Ampleforth (AMPL) yang menggunakan algoritma supply-demand. Jadi, apabila terjadi pembelian AMPL dalam jumlah besar, protokol akan secara otomatis meningkatkan supply AMPL agar harganya tetap stabil dan menimbulkan keseimbangan antara supply dan demand.

    Baca juga: Kenalan dengan 5 Jenis Altcoin dan Cara Kerjanya

    Perbedaan Stablecoin dengan Aset Kripto Lain

    perbedaan stable coin dan

    Lalu, apa saja sebenarnya yang membedakan stablecoin dengan aset kripto lainnya? Ada 2 perbedaannya, yakni:

    1. Volatilitas

    Perbedaan pertama adalah tingkat volatilitas masing-masing tipe aset kripto. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, stablecoin menawarkan aset kripto dengan tingkat volatilitas yang amat rendah alias harganya stabil. Hal ini membuat naik-turunnya harga stablecoin lebih mudah untuk diprediksi.

    Berbeda dengan aset kripto selain stablecoin yang ada di pasar, di mana aset-aset tersebut memiliki tingkat volatilitas yang amat tinggi dan menyebabkan aset lebih mudah goyah, sehingga bisa naik-turun secara cepat serta arahnya cenderung sulit untuk diprediksi.

    2. Penggunaan

    Selanjutnya terletak pada penggunaannya. Stablecoin bisa digunakan untuk pembayaran di dunia nyata, tidak hanya di dunia digital. Hal ini bermula dari Visa yang memungkinkan para nasabahnya untuk menggunakan USDC dalam bertransaksi. Disusul oleh Mastercard yang bekerja sama dengan perusahaan penyalur stablecoin, Paxos dan Circle, dalam mendukung aktivitas transaksi menggunakan USDC.

    Sementara itu, aset kripto lainnya sampai saat ini baru bisa digunakan sebatas transaksi digital saja. Misalnya seperti pertukaran atau jual-beli aset kripto pada exchange, aktivitas trading, pembayaran cross-border, serta pembayaran layanan yang ada pada blockchain.

    Ternyata, cukup banyak ya stablecoin yang telah diterbitkan di pasar aset kripto. Tidak sedikit pula yang menarik perhatian para investor. 

    Apakah Anda salah satu di antara mereka yang tertarik berinvestasi stable coin? Kalau iya, yuk langsung selesaikan KYC Anda dan beli stable coin hanya di Tokocrypto! Jangan lupa juga untuk gabung di Komunitas Tokocrypto untuk tahu lebih banyak soal dunia aset kripto, ya!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mengenal 5 Altcoin yang Diklaim Punya Kinerja Bagus di Awal 2022

    Jika kembali ke tahun 2010, aset kripto yang terlintas di benak Anda sudah pasti adalah Bitcoin. Kini, satu dekade telah berlalu dan sudah semakin banyak aset kripto lain yang lahir. Aset kripto yang hadir setelah Bitcoin ini dikenal dengan julukan “altcoin” dan terdiri dari banyak jenis yang bisa dipilih. 

    Sebelum melihat apa saja jenis altcoin yang ada, ketahui dulu yuk apa sebenarnya pengertian dari altcoin itu! 

    Apa itu Altcoin?

    Kata “altcoin” berasal dari gabungan dua kata, yaitu ‘alternative’ dan coin’, di mana definisi altcoin sendiri berarti koin atau aset kripto yang bisa dijadikan alternatif selain Bitcoin (BTC). Sebenarnya, framework yang digunakan oleh altcoin tidak jauh berbeda dengan Bitcoin. Hanya saja, banyak altcoin yang dengan sengaja dilengkapi dengan fitur-fitur yang tidak ada pada Bitcoin.

    Sebagai contoh, kini sudah ada jenis altcoin yang menggunakan mekanisme Proof of Stake (PoS), di mana mekanisme penambangan ini dianggap lebih efisien dan eco-friendly. Selain itu, ada juga yang memberikan penawaran khusus bagi para pemiliknya berupa ekuitas, layaknya saham di pasar modal.

    Dengan melakukan pendekatan yang berbeda dengan Bitcoin, altcoin semakin digemari khalayak hingga membentuk pasarnya sendiri. Bahkan, ada waktu-waktu tertentu di mana pasar aset kripto dikuasai oleh altcoin berkat performanya yang memuaskan. Peristiwa ini lah yang seringkali disebut dengan ‘Altcoin Season’.

    Baca juga: Apa itu Altcoin Seasons?, Yuk Kenalan Dengan Istilah Trading Ini

    5 Jenis Altcoin

    contoh jenis altcoin

    Setelah membaca penjelasan mengenai altcoin di atas, apakah Anda penasaran apa saja jenis altcoin yang ada di pasar? Sebenarnya, altcoin sangat beragam jenisnya bergantung dengan tujuan dan cara kerjanya. Meski begitu, terdapat 5 jenis altcoin yang paling umum ditemukan di pasar nih, yaitu:

    1. Stablecoin

    Stablecoin merupakan aset kripto yang dirancang untuk bekerja mengikuti harga aset yang lain, seperti Dollar AS (USD), Euro, emas, hingga sesama aset kripto lainnya. Tujuannya adalah agar volatilitas yang kerap terjadi di pasar bisa berkurang dan membuat harga dari stablecoin terus stabil. Oleh karena itu, banyak orang yang lebih memanfaatkan stablecoin sebagai tabungan dibandingkan sebagai instrumen investasi.

    Beberapa stablecoin besar di antaranya adalah Tether (USDT), MakerDao (DAI), hingga USD Coin (USDC). Hal ini dibuktikan dengan adanya perusahaan e-payment besar dunia seperti Visa dan Mastercard yang mengizinkan transaksi di jaringan pembayaran miliknya menggunakan stablecoin USDC pada 2021 lalu.

    Baca juga: Yakin Tidak Berminat Investasi Dollar? Mari Simak Caranya!

    2. Mining-based

    Jenis altcoin selanjutnya adalah mining-based yang berarti aset kripto yang baru bisa diperoleh lewat proses mining atau penambangan, dengan menggunakan mekanisme Proof of Work (PoW). Proses penambangan ini mencakup aktivitas verifikasi transaksi yang terdapat dalam blockchain dengan cara memecahkan teka-teki matematika. Lalu, penambang yang berhasil akan diberikan reward berupa sejumlah aset kripto.

     Contoh altcoin yang dikategorikan sebagai mining-based antara lain adalah Litecoin (LTC), Monero (XMR), dan ZCash (ZEC). Pada awal kemunculannya, Ethereum (ETH) juga sempat termasuk ke dalam jenis altcoin mining-based sebab masih menggunakan mekanisme PoW.

    3. Staking-based

    Staking-based altcoin berarti aset kripto yang baru bisa diperoleh lewat proses staking dengan mekanisme Proof of Stake (PoS). Proses staking hampir mirip dengan mining yaitu bertujuan akhir untuk memverifikasi transaksi yang ada pada blockchain. Bedanya, pengguna yang melakukan staking sudah lebih dulu memiliki aset kripto untuk kemudian disimpan dan dikunci. Jika berhasil terverifikasi, nantinya pengguna akan mendapatkan reward tambahan.

    Beberapa altcoin dengan jenis staking-based adalah Ethereum (ETH) yang baru-baru ini berpindah ke mekanisme PoS dan juga Peercoin (PPC).

    Baca juga: Kenali Perbedaan Proof of Work dan Proof of Stake

    4. Security token

    Security token berarti aset kripto yang memang sengaja disambungkan dengan perusahaan ataupun bisnis, mirip dengan sekuritas yang diperdagangkan di pasar modal. Security token juga menawarkan ekuitas seperti bentuk kepemilikan perusahaan hingga dividen. Makanya, security token umumnya diluncurkan bersamaan saat Initial Coin Offering (ICO) untuk menambah daya tarik suatu proyek kripto.

    Hal inilah yang dilakukan oleh Exodus, sebuah perusahaan penyedia wallet aset kripto yang berhasil menjalankan Regulation A Tier 2 offering atau yang dikenal dengan ‘Reg A+’ pada Maret 2021 lalu, melansir CoinDesk. Exodus berhasil menjual saham sejumlah 75 juta USD yang bisa dikonversi menjadi sebuah aset kripto di platform Algorand.

    jenis jenis altcoin5. Utility token

    Jenis altcoin yang terakhir yaitu utility token. Utility token adalah aset kripto yang diluncurkan untuk menjalankan suatu jaringan kripto. Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti digunakan untuk membeli item atau service, hingga membayar tagihan atau biaya yang dikenakan dalam jaringan. 

    Meski sekilas mirip dengan security token, jenis altcoin yang satu ini tidak menawarkan ekuitas bagi para pemiliknya, karena pada dasarnya bersifat untuk crowdfunding. Contoh altcoin yang digolongkan sebagai utility token adalah Cardano (ADA), Filecoin (FIL), dan RippleNet (XRP).

    Baca juga: Kenali jenis jenis stable coin

    5 Altcoin yang Menarik Perhatian Selama Awal 2022

    jenis altcoin yang menarik perhatian

    Lantas, apa saja sih, altcoin yang wajib diwaspadai sepanjang tahun 2022 berkat performa yang memukau di awal tahun? Yuk, simak daftarnya berikut ini!

    1. Ethereum (ETH)

    Altcoin pertama yang menarik perhatian selama awal 2022 masih diduduki oleh ETH, nih. Bagaimana tidak, aset kripto kedua terbesar setelah Bitcoin ini terus menunjukkan performa yang sangat baik. Terbukti per tanggal 15 Februari 2022, harga satu kepingnya mencapai 3,032.14 USD atau sekitar Rp43,346,56 mengutip dari CoinMarketCap. Sejak awal kemunculannya, ETH telah mengalami kenaikan harga hingga hampir 30,000 persen, lho!

    Akan tetapi, kenaikan harga yang fantastis ini tentunya bukan tanpa alasan. Sebab, dalam perjalannya Ethereum kerap melakukan pengembangan dan pembaruan fitur pada blockchain. Seperti mekanisme PoS yang dijalankan, smart contract, hingga potensinya di dunia NFT. Alhasil, hal tersebut berpengaruh pada kualitas yang menambah nilai dari Ethereum itu sendiri. 

    2. Tether (USDT)

    Altcoin yang juga menarik perhatian di awal 2022 ini adalah USDT. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, USDT berkiblat kepada harga Dollar AS dan juga Euro. Dengan demikian, volatilitas yang dimiliki altcoin ini cenderung lebih rendah dibandingkan dengan altcoin yang lain. Hal ini yang membuat banyak investor mempertahankannya.

    Saat ini, harga USDT berada di angka 1 USD atau sekitar Rp14,295,70, dikutip dari CoinMarketCap. Setelah sebelumnya sempat menyentuh 1.0026 USD pada 11 Februari lalu, tidak menutup kemungkinan harga USDT akan kembali meningkat meskipun tidak sedrastis jenis altcoin lain.

    3. Cardano (ADA)

    Selanjutnya ada altcoin ADA yang menarik perhatian di awal 2022. Setelah bersinar di sepanjang tahun 2021, ADA masih terus diminati oleh para investor aset kripto. Dapat dilihat dari harga per kepingnya saat ini, yaitu 1.07 USD atau sekitar Rp15.296,40 mengutip CoinMarketCap. Jika dibandingkan dengan harga awal kemunculannya, terjadi peningkatan lebih dari 5 persen.

    Hal ini disebabkan oleh Cardano yang dianggap eco-friendly berkat mekanisme PoS yang digunakan. Cardano juga dianggap lebih aman karena pengembangannya dilakukan secara peer-reviewed oleh para ahli. Selain itu, smart contract yang baru-baru ini diluncurkan Cardano juga semakin menambah daya tarik altcoin yang satu ini. 

    4. Solana (SOL)

    SOL juga menjadi salah satu altcoin yang membuka tahun 2022 dengan performa yang baik. Tercatat saat ini harga satu keping SOL adalah senilai 101.46 USD atau sekitar Rp1.455.182,71, dilansir dari CoinMarketCap. Angka ini tergolong spektakuler, karena jika dibandingkan pada saat pertama kali diluncurkan, SOL hanya bernilai 0.77 USD saja.

    Altcoin yang satu ini memiliki banyak kelebihan, di antaranya adalah mendukung penggunaan De-Fi, dApps, dan juga smart contract. Selain itu, blockchain Solana juga rajin melakukan pengembangan dan mencetak penemuan baru. Tak heran hingga kini, SOL masih terus diminati oleh para investor.

    5. Terra (LUNA)

    Altcoin terakhir yang juga menarik perhatian di awal tahun 2022 adalah LUNA. Harga LUNA mengalami peningkatan besar-besaran jika dibandingkan dengan awal peluncurannya di Januari 2021 lalu. Jika saat itu LUNA hanya bernilai 0.64 USD, mengutip CoinMarketCap, kini harga per kepingnya telah mencapai 55.04 USD atau sekitar Rp787.157,31 lho!

    Hal yang membuat altcoin ini masih menjadi buah bibir di kalangan investor adalah karena semakin banyak pula pengguna yang menggunakan platform Terra. Dengan banyaknya pengguna tersebut, nilai LUNA juga ikut meningkat, bersamaan dengan partner-nya yaitu Terra stablecoin di mana salah satunya adalah TerraUSD (UST).

    Gimana? Sudah mulai paham kan mengenai pengertian dan jenis altcoin yang ada di pasaran? Untuk informasi lain mengenai aset kripto hingga tips and trick trading, Anda bisa mengunjungi Tokonews dan gabung dengan Komunitas Tokocrypto, ya. 

    Yuk, segera selesaikan KYC Anda dan langsung investasi altcoin di Tokocrypto!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Solana Turun ke Level $101, Pump.Fun Jadi Juru Selamat?

    Dalam beberapa hari terakhir, pasar mata uang kripto mengalami gejolak signifikan, dengan Solana (SOL) menjadi salah satu aset yang paling terdampak.

    Harga Solana anjlok lebih dari 16%, turun di bawah level psikologis $100 untuk pertama kalinya sejak Februari 2024, dan saat ini diperdagangkan sekitar $101.

    Penurunan ini langsung menyebabkan Solana turun ke posisi ketujuh dalam peringkat kapitalisasi pasar, dengan valuasi sekitar $52,17 miliar.

    Faktor Penyebab Penurunan

    Menurut laporan The Coin Republic pada Selasa (8/4), beberapa faktor turut berkontribusi terhadap penurunan harga Solana yang cukup signifikan, antara lain:

    1. Ketegangan Perdagangan Global: Pengumuman Presiden AS, Donald Trump, mengenai tarif baru telah memicu ketidakpastian di pasar keuangan global, yang berdampak negatif pada aset berisiko seperti mata uang kripto.
    2. Penurunan Aktivitas Pump.Fun: Pump.Fun, platform peluncuran memecoin di ekosistem Solana, mengalami penurunan pendapatan sebesar 92% sejak awal 2025.
    3. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya minat terhadap memecoin, yang sebelumnya menyumbang lebih dari 70% peluncuran token baru dan 56% transaksi jaringan Solana.
    4. Tekanan Pasar yang Lebih Luas: Pasar kripto secara keseluruhan mengalami penurunan, dengan Bitcoin dan Ethereum juga mencatat penurunan harga yang signifikan, mencerminkan sentimen bearish yang meluas di kalangan investor.

    Potensi Pemulihan melalui Pump.Fun

    Meskipun menghadapi tantangan, ada harapan bahwa pemulihan aktivitas di Pump.Fun dapat membantu memicu rebound harga SOL.

    Pasalnya, platform ini baru saja meluncurkan kembali fitur livestream-nya setelah penangguhan selama lima bulan.

    Peluncuran kembali Pump.Fun diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan komunitas dan menarik minat baru terhadap ekosistem Solana.

    Analisis Teknis

    Pergerakan harga Solana (SOL/USDT) pada Kamis, 8 April 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Solana (SOL/USDT) pada Selasa, 8 April 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Dari perspektif teknis, indikator menunjukkan adanya kondisi oversold untuk Solana.

    Bollinger Bands pada grafik 4 jam menunjukkan ekspansi ke bawah dengan harga menyimpang di bawah band bawah, mengindikasikan volatilitas tinggi dan potensi pembalikan harga dalam jangka pendek.

    Indikator RSI berada di sekitar level 30, yang biasanya menunjukkan kondisi oversold dan kemungkinan rebound jika minat beli kembali.

    Meski demikian, indikator MACD masih menunjukkan crossover bearish yang lebar, untuk menegaskan tren penurunan yang terjadi saat ini.

    Prospek Masa Depan

    Meskipun situasi saat ini menantang, beberapa analis tetap optimis tentang potensi pemulihan harga SOL.

    Faktor-faktor seperti peluncuran kembali fitur di Pump.Fun, peningkatan volume perdagangan, dan minat institusional melalui potensi ETF Solana dapat berkontribusi pada pemulihan harga.

    Namun, penting bagi investor untuk tetap waspada terhadap volatilitas pasar dan mempertimbangkan faktor-faktor makroekonomi yang dapat mempengaruhi pergerakan harga di masa depan.

    Harapan Pemulihan

    Penurunan harga Solana mencerminkan tantangan yang dihadapi pasar kripto secara keseluruhan.

    Namun, inisiatif seperti peluncuran kembali fitur di Pump.Fun memberikan harapan untuk pemulihan.

    Investor disarankan untuk memantau perkembangan ekosistem Solana dan indikator pasar lainnya sebelum membuat keputusan investasi.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • IMF Akui Bitcoin Sebagai Emas Digital dan Aset Modal

    International Monetary Fund (IMF) tengah membuat perubahan signifikan terkait Bitcoin.

    Thedefiant menyebutkan bahwa IMF menambahkan Bitcoin ke dalam cadangannya serta mengklasifikasikannya sebagai “Emas Digital.”

    Langkah ini menandai pergeseran besar dalam sikap IMF terhadap mata uang kripto, yang sebelumnya bersikap skeptis terhadap Bitcoin.

    Bitcoin Diakui sebagai Aset Global dan Aset Modal

    Dengan diberlakukannya standar baru, termasuk aturan BPM7, IMF mulai melacak Bitcoin sebagai aset global dalam transaksi lintas negara.

    Ini berarti Bitcoin kini diperlakukan setara dengan aset lain seperti emas atau tanah dalam sistem keuangan global.

    Selain itu, Bitcoin juga dikategorikan sebagai aset modal, yang mengindikasikan pengakuan atas nilai investasi jangka panjangnya.

    Kemungkinan Bitcoin Masuk dalam SDR IMF

    Terdapat spekulasi bahwa Bitcoin bisa saja dimasukkan ke dalam Special Drawing Rights (SDR), yaitu indeks atau keranjang mata uang yang digunakan IMF dalam transaksi keuangan global.

    Jika hal ini terjadi, Bitcoin akan memiliki peran lebih besar dalam sistem moneter internasional.

    Namun, hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari IMF mengenai kemungkinan opsi tersebut untuk direalisasikan.

    Dampak bagi Pasar Kripto dan Regulasi

    Keputusan IMF ini berpotensi membawa dampak besar terhadap pasar kripto secara keseluruhan.

    Dengan diakuinya Bitcoin sebagai aset global dan aset modal, kepercayaan investor terhadap mata uang digital ini dapat meningkat.

    Selain itu, langkah ini bisa mendorong negara-negara lain untuk mempertimbangkan Bitcoin dalam kebijakan keuangan mereka.

    Pergeseran Sikap IMF terhadap Bitcoin

    Max Keiser, seorang pendukung Bitcoin, menyatakan bahwa IMF tengah melakukan perubahan kebijakan yang diam-diam mengarah pada adopsi kripto.

    Padahal, selama ini IMF dikenal memiliki pandangan yang cenderung negatif terhadap Bitcoin.

    Jika IMF benar-benar mulai menerima Bitcoin sebagai bagian dari sistem keuangan global, ini bisa menjadi langkah awal bagi mata uang digital untuk mendapatkan legitimasi lebih luas.

    Penambahan Bitcoin ke dalam cadangan IMF dan pengakuannya sebagai “Emas Digital” merupakan langkah signifikan dalam evolusi mata uang kripto.

    Jika tren ini terus berkembang, Bitcoin berpotensi menjadi bagian integral dari sistem keuangan global di masa depan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Dampak Kebijakan Trump: Pasar Kripto Anjlok $1 Triliun

    Pada awal Februari 2025, pasar mata uang kripto mengalami guncangan hebat akibat kebijakan tarif impor yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

    Langkah ini memicu aksi jual besar-besaran. Sehingga menyebabkan kapitalisasi pasar kripto menyusut hingga $1 triliun.

    Latar Belakang Kebijakan Tarif

    Benzinga menyebutkan bahwa pada 1 Februari 2025, Trump menandatangani perintah yang mengenakan tarif 25% pada impor dari Meksiko dan Kanada, serta tarif 10% untuk barang-barang dari China.

    Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada 4 Februari 2025, mencakup transaksi perdagangan senilai sekitar $1,6 triliun dari ketiga negara tersebut.

    Dampak Langsung pada Pasar Kripto

    Pengumuman tarif tersebut segera mempengaruhi pasar kripto. Bitcoin, mata uang kripto terbesar, mengalami penurunan rharga signifikan.

    Pada 2 Februari 2025 lalu, harga Bitcoin turun 7% menjadi $93.768 (Rp1,5 miliar), menurut data dari Coin Metrics.

    Sementara Ethereum, yang merupakan mata uang kripto terbesar kedua setelah Bitcoin, ikut merosot 20% ke level terendah sejak November 2024.

    Reaksi Investor dan Analisis

    Jeff Park, Kepala Strategi di Bitwise Asset Management, menyatakan bahwa perang tarif yang berkelanjutan dapat berdampak positif bagi Bitcoin dalam jangka panjang karena potensi pelemahan dolar AS.

    Namun, dalam jangka pendek, Bitcoin cenderung diperdagangkan seperti aset berisiko dan merespons negatif terhadap ketidakpastian ekonomi.

    Pertanyaan tentang Masa Depan ‘Presiden Kripto’

    Kebijakan tarif Trump menimbulkan pertanyaan tentang masa depan era ‘Presiden Kripto’.

    Meskipun sebelumnya dianggap pro-kripto, langkah terbaru ini memicu ketidakpastian di kalangan investor.

    Beberapa analis menilai bahwa volatilitas pasar kripto akan terus berlanjut seiring dengan perkembangan kebijakan perdagangan AS.

    Kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Presiden Trump pada awal Februari 2025 memiliki dampak signifikan terhadap pasar mata uang kripto.

    Penurunan harga yang tajam mencerminkan sensitivitas pasar terhadap kebijakan perdagangan global.

    Masa depan pasar kripto akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana kebijakan ini berkembang dan respons investor terhadap ketidakpastian ekonomi yang ditimbulkannya.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Keren! Department Store Ini Terima Pembayaran via Mata Uang Kripto

    Bealls Inc., jaringan department store ternama asal Amerika Serikat yang telah berdiri lebih dari 100 tahun, secara resmi mengumumkan penerimaan pembayaran mata uang kripto di lebih dari 650 lokasi yang tersebar di 23 negara bagian AS.

    Melalui kemitraan dengan platform pembayaran digital Flexa, pelanggan kini dapat melakukan transaksi menggunakan Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan berbagai stablecoin utama sebagai bagian dari strategi transformasi digital perusahaan.

    Langkah ini menandai tonggak penting dalam evolusi industri ritel yang semakin terbuka terhadap penggunaan aset digital dalam sistem pembayaran.

    Di tengah meningkatnya minat konsumen modern terhadap metode pembayaran yang lebih fleksibel dan aman, Bealls menjawab tantangan zaman dengan mengadopsi teknologi terbaru yang berpotensi merevolusi pengalaman belanja di toko fisik.

    Baca Juga: Market Sinyal Kripto: Analisis Teknikal dan Peluang 20 Oktober 2025

    Komitmen Bealls terhadap Inovasi Pelanggan

    CEO Matt Beall dan Presiden Tianne Doyle berada di balik keputusan strategis ini.

    Dalam pernyataannya, Doyle menyampaikan bahwa transformasi digital merupakan inti dari strategi bisnis Bealls ke depan.

    “Fokus kami selalu pada inovasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Menerima mata uang kripto adalah bagian dari komitmen tersebut,” ungkap Doyle seperti dilansir Dari Coincu pada Kamis (22/10/2025).

    Bealls, dengan penjualan tahunan yang melebihi $1,9 miliar, memposisikan dirinya sebagai salah satu peritel besar pertama di Amerika Serikat yang mengintegrasikan kripto secara luas ke dalam sistem pembayaran offline.

    Upaya ini tidak hanya menunjukkan adaptasi terhadap tren konsumen digital, tetapi juga mencerminkan kesiapan infrastruktur untuk mendukung transaksi berbasis blockchain secara aman dan efisien.

    Flexa: Jembatan Pembayaran Digital di Dunia Nyata

    Flexa dikenal sebagai platform pembayaran kripto yang telah digunakan oleh berbagai merek besar, termasuk Whole Foods dan Starbucks.

    Teknologi Flexa memungkinkan transaksi instan dan bebas volatilitas dengan mengonversi aset digital menjadi fiat secara real time, menjadikannya solusi ideal bagi ritel skala besar seperti Bealls.

    Keamanan dan kecepatan yang ditawarkan Flexa menjadi faktor utama dalam keputusan Bealls untuk memilih platform ini sebagai penghubung pembayaran digital di seluruh tokonya.

    Integrasi ini memperkuat posisi Flexa sebagai pemain kunci dalam memperluas ekosistem pembayaran berbasis blockchain.

    Industri Ritel Kian Terbuka terhadap Kripto

    Langkah Bealls mengikuti tren yang semakin jelas di sektor ritel, di mana pemain besar mulai mengadopsi mata uang kripto sebagai bagian dari strategi pengalaman pelanggan.

    Meski saat ini dampaknya terhadap harga aset kripto masih terbatas, para analis melihat tren ini sebagai sinyal positif bagi adopsi arus utama.

    Potensi dan Tantangan

    Menurut laporan dari tim riset Coincu, penerimaan kripto oleh Bealls Inc. bisa menjadi pemicu bagi peritel lain untuk mengikuti jejak serupa.

    Meski dampak finansialnya masih tergolong moderat, potensi jangka panjang dalam efisiensi transaksi dan penurunan biaya pemrosesan menjadi daya tarik utama.

    Belum ada respons resmi dari regulator terkait langkah ini, namun kemajuan teknologi dan peningkatan adopsi konsumen dapat mendorong diskusi lebih lanjut mengenai kebijakan pembayaran digital di tingkat nasional.

    Baca Juga: Cara Menambang Mata Uang Kripto di HP

    Dengan langkah ini, Bealls Inc. telah menempatkan dirinya sebagai pelopor dalam penerimaan pembayaran kripto di sektor department store AS.

    Dukungan terhadap Bitcoin, Ethereum, dan stablecoin melalui platform Flexa memperlihatkan bagaimana dunia ritel mulai mengadopsi masa depan pembayaran yang lebih terbuka, cepat, dan aman.

    Inisiatif ini juga menegaskan bahwa mata uang digital bukan lagi sekadar aset investasi, tetapi mulai menjadi bagian dari transaksi harian yang nyata, menandakan pergeseran paradigma dalam dunia ritel global.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Tembus Rp 1,25 M Usai Donald Trump Menang Pilpres AS


    Jakarta

    Harga Bitcoin menyentuh level US$ 80.000 atau Rp 1,25 miliar (kurs Rp 15.619) untuk pertama kalinya setelah Donald Trump mengalahkan Kamala Harris dalam pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS).

    Harga Bitcoin melonjak ke rekor tertinggi karena dukungan Donald Trump terhadap aset digital dan kemungkinan adanya anggota parlemen pro-kripto di Kongres.

    “Trump telah berjanji untuk menjadikan Amerika sebagai ‘ibu kota kripto dunia’ dan timnya dipenuhi dengan pendukung kripto yang kuat. Sifat pro-kripto dari tim, keluarga dan donaturnya meningkatkan kemungkinan Trump menepati janji kampanyenya kepada industri,” kata Kepala Penelitian di Galaxy Digital, Alex Thorn dikutip dari CNBC, Senin (11/11/2024).


    Mata uang Kripto tersebut terakhir kali naik 4,5% menjadi US$ 79.800,19 menurut Coin Metrics. Token yang lebih kecil seperti Cardano dan Dogecoin juga naik masing-masing 40% dan 17%.

    Donald Trump telah membuat pernyataan besar tentang Bitcoin, seperti mempertimbangkan gagasan cadangan Bitcoin nasional yang strategis dan berbicara tentang perlunya menjaga semua Bitcoin yang ditambang di AS.

    Hal itu membuat Ether dan mata uang kripto lainnya akan memperoleh lebih banyak keuntungan. Sejauh ini Bitcoin dan Ether masing-masing telah naik 18% dan 32% sejak hari pemilihan pilpres AS, di mana Coinbase naik 48% minggu lalu.

    “Dalam lingkungan ini, selama dua tahun ke depan kami perkirakan Bitcoin dan aset digital lainnya akan diperdagangkan jauh lebih tinggi dari rekor tertinggi saat ini,” ucap Thorn.

    Lihat juga Video: Donald Trump Menangi Pilpres AS 2024!

    [Gambas:Video 20detik]

    (aid/ara)



    Sumber : finance.detik.com

  • Bitcoin Cetak Rekor Baru, Hampir Tembus Rp 1,5 Miliar!


    Jakarta

    Bitcoin naik ke rekor tertinggi lagi, hampir US$ 95.000 atau setara Rp 1,5 miliar (Rp 15.834). Kenaikan bitcoin ini didorong oleh isu media sosial Donald Trump Trump Media and Technology Group (DJT.O) yang berencana mencaplok perusahaan perdagangan kripto Bakkt (BKKT.N).

    Mengutip dari Coin Market Cap, Kamis (21/11/2024) harga Bitcoin tembus US$ 94.446 atau setara Rp 1,49 miliar (kurs Rp 15.834) naik 2,69% dalam 24 jam. Angka tersebut menjadi rekor baru.

    Bitcoin sebagai mata uang kripto terbesar di dunia, telah meningkat lebih dari dua kali lipat tahun ini. Terakhir kali berada di US$ 93.709, naik 1,6%, setelah mencapai puncak sepanjang masa di US$ 94.982,37.


    Belakangan ini Bitcoin memang tercatat telah melonjak lebih dari 40% sejak pemilihan presiden AS. Para investor didorong dengan kampanye Trump yang diketahui akan mendukung mata uang kripto.

    Nilai pasar mata uang kripto global disebut telah mencapai di atas US$ 3 triliun. Angka tersebut merupakan rekor tertinggi, berdasarkan analitik dan agregator data CoinGecko.

    “Istilah ’emas digital’ paling tepat menggambarkan aset digital ini yang memiliki fungsi pasokan yang dibatasi secara algoritmik. Jika bitcoin mencapai ukuran pasar emas (US$17 triliun), itu akan menyiratkan harga sekitar US$ 800.000 untuk 1 BTC,” kata Nikhil Bhatia, pendiri The Bitcoin Layer, dikutip dari Reuters, Kamis (21/11/2024).

    Produk yang diperdagangkan di bursa bitcoin spot AS telah menarik sekitar US$ 4,2 miliar dalam arus masuk sejak kemenangan pemilu Trump. Sekitar 15% dari total arus masuk sejak produk tersebut diluncurkan di bursa saham AS pada bulan Januari.

    (ada/fdl)



    Sumber : finance.detik.com

  • Menanti Kelanjutan Transisi Pengawasan Aset Kripto


    Jakarta

    Kemajuan teknologi digital yang sangat pesat memunculkan berbagai inovasi yang dulu mungkin tidak pernah terbayangkan. Diantaranya adalah inovasi teknologi di bidang keuangan berupa aset digital yang disebut sebagai aset kripto.

    Aset kripto adalah sesuatu yang tidak berwujud tetapi memiliki nilai dari sebuah rekayasa digital yang nilainya itu bisa disimpan, ditransfer, atau diperjual-belikan secara elektronik. Bappebti dalam peraturannya No. 5 tahun 2019 mendefinisikan Aset Kripto sebagai komoditi tidak berwujud yang berbentuk aset digital yang diperdagangkan sebagai instrumen investasi.

    Aset Kripto sesungguhnya adalah salah satu type dari aset digital yang dihasilkan dari pemanfaatan kriptography untuk melindungi data digital dan Teknologi buku besar terdistribusi (distributed ledger technology) untuk merekam transaksi-transaksi. Penciptaan Aset Kripto umumnya bersifat bebas dari campur tangan otoritas moneter dan pemerintah. Meskipun demikian transaksi yang dilakukan atas aset kripto tidak bebas dari aturan perpajakan.


    Aset Kripto memiliki berbagai bentuk, diantaranya adalah mata uang kripto, seperti Bitcoin, ether, dan lainnya. Bentuk lain Aset Kripto misalnya adalah Stablecoins dan Non-tangible Tokens (NFTs). Stablecoins adalah bentuk aset kripto yang diciptakan untuk menjaga value agar tetap stabil. Sementara Non-fungible tokens atau NFTs adalah sebuah token yang mewakili kepemilikan dari sebuah item digital yang bersifat unik misalnya sebuah karya seni.

    Salah satu NFT yang sempat bikin heboh di Indonesia adalah NFT milik Ghozali Everyday. NFT Ghozali berupa photo selfie di jual di situs penjualan karya digital berbasis NFT, Opensea, dengan nilai miliaran rupiah.

    Mata uang kripto seperti Bitcoin umumnya tidak diakui sebagai mata uang oleh bank sentral. Bank Indonesia misalnya sudah menyatakan bahwa Bitcoin atau mata uang kripto lainnya tidak diakui sebagai mata uang di wilayah Indonesia. Ini berarti bitcoin atau mata uang kripto lainnya tersebut tidak bisa dipergunakan untuk melakukan transaksi di manapun di Indonesia. Namun demikian, semua mata uang kripto dapat diperjualbelikan sebagai komoditas dalam rangka investasi di Indonesia.

    Transaksi aset kripto di Indonesia terus mengalami peningkatan yang signifikan. Merujuk data Bappebti, selama semester I tahun 2024 nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp 301,75 triliun, yang berarti naik lebih dari 350 persen dibandingkan semester I tahun 2023. Seiring kenaikan transaksi tersebut, Jumlah investor kripto di Indonesia juga melonjak tajam. Pada Juni 2024, jumlah investor kripto mencapai 20,24 juta jiwa. Meningkat signifikan dibandingkan Juni 2023 yang jumlah investor kripto baru berjumlah 17,54 juta jiwa.

    Sayangnya kenaikan jumlah transaksi dan jumlah investor kripto tersebut diikuti juga oleh meningkatnya jumlah permasalahan. Permasalahan yang paling sering terjadi adalah investor tidak dapat melakukan penjualan dan penarikan dana. Berbagai permasalahan dalam transaksi kripto berpotensi memunculkan keraguan tentang keamanan yang apabila dibiarkan akan menghambat perkembangan aset kripto di Indonesia ke depannya.

    Regulasi Aset kripto

    Inovasi Teknologi Sektor Keuangan atau ITSK adalah inovasi berbasis teknologi yang berdampak pada produk, aktivitas, layanan, dan model bisnis dalam ekosistem keuangan digital. Aset kripto adalah salah satu perwujudan dari ITSK.

    Pemerintah bersama DPR menyadari sepenuhnya bahwa ITSK, termasuk aset kripto, adalah sebuah keniscayaan di tengah pesatnya kemajuan teknologi informasi. Oleh karena itu dalam UU No. 4 tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sistem Keuangan (P2SK), ITSK menjadi salah satu cakupan yang diatur secara cukup rinci dan mendalam terutama dalam kaitannya dengan pelindungan konsumen dan pelindungan data pribadi.

    Merujuk UU P2SK, pengaturan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan ITSK dilakukan oleh OJK dan Bank Indonesia (BI). Sesuai bidang kewenangannya BI mengatur dan mengawasi ITSK sistem pembayaran, dan OJK mengatur dan mengawasi ITSK di luar sistem pembayaran, termasuk diantaranya aset keuangan digital atau aset kripto.

    OJK sendiri nampaknya cukup siap mengemban amanah UU P2SK tersebut. OJK telah menyatakan mendukung pengembangan ITSK dengan mengedepankan aspek keamanan, transparansi, dan keberlanjutan. Dalam hal ini OJK telah menyusun road map yang terdiri dari tiga fase, yaitu: fase penguatan fondasi pengaturan dan pengawasan (2024-2025), fase akselerasi pengembangan dan penguatan (2026-2027), dan terakhir fase pendalaman dan pertumbuhan berkelanjutan (2027-2028).

    Namun sayangnya, meskipun OJK telah proaktif mempersiapkan road map pengembangan, tetapi OJK belum bisa melangkah lebih lanjut memperkuat pengaturan dan pengawasan ITSK. Hal ini lebih dikarenakan Peraturan Pemerintah (PP) yang menjadi ketentuan operasional dari UU P2SK sampai saat ini belum juga selesai dan diterbitkan.

    Anggota Komisi XI DPR RI Andreas Eddy Susetyo dalam raker dengan OJK bahkan menyoroti belum terbitnya PP mengenai peralihan kewenangan pengaturan dan pengawasan aset kripto dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi [Bappebti] ke OJK.

    Peralihan kewenangan ini menurutnya sangat penting karena sesuai dengan amanat pasal 312 Undang-Undang No 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UUP2SK) bahwa peralihan dilakukan paling lambat 12 Januari 2025.

    Transaksi aset kripto memang terus meningkat pesar tetapi diikuti juga oleh semakin besar dan beragamnya permasalahan. Keluarnya Peraturan Pemerintah akan memungkinkan OJK untuk segera menyiapkan berbagai ketentuan mengenai perdagangan aset kripto sekaligus memberikan kepastian hukum di pasar. Sehingga dengan demikian perkembangan pasar aset kripto bisa memberikan sumbangan besar bagi semakin lengkap dan kokohnya sistem keuangan di Indonesia.

    Kita tentu tidak berharap pemerintah menunggu sampai batas akhir. Semakin cepat Peraturan Pemerintah dikeluarkan semakin baik untuk tumbuh berkembangnya pasar aset kripto, yang juga aman bagi investor atau konsumen.

    Rezim Pemerintah memang baru saja berganti. Pemerintahan Prabowo diharapkan bisa bergerak lebih cepat melanjutkan apa yang sudah dikerjakan oleh pemerintahan Jokowi. Peraturan Pemerintah terkait pengaturan dan pengawasan ITSK khususnya aset kripto yang sudah dibahas dan dipersiapkan oleh Pemerintahan Jokowi hendaknya juga cepat diselesaikan dan diterbitkan.

    Piter Abdullah Redjalam

    Ekonom Senior Segara Research Institute

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Efek Trump Kerek Harga Bitcoin Tembus Rp 1,6 M


    Jakarta

    Bitcoin melonjak ke rekor tertinggi hingga di atas US$ 106.000 atau lebih dari Rp 1,6 miliar pada awal perdagangan Asia pada hari Senin (16/12/2024). Hal ini lantaran didorong oleh komentar dari Presiden terpilih Donald Trump yang menyatakan bahwa ia berencana untuk membuat cadangan strategis bitcoin Amerika Serikat (AS), yang serupa dengan cadangan minyak strategisnya.

    Bitcoin yang menjadi mata uang kripto terbesar dan paling terkenal di dunia ini mencapai level tertinggi hingga sebesar US$ 106.533 dan terakhir diperdagangkan seharga US$ 105.688.

    “Kita berada di wilayah langit biru di sini. Angka berikutnya yang dicari pasar adalah US$ 110.000. Kemunduran yang ditunggu-tunggu banyak orang tidak terjadi, karena sekarang kita punya berita ini.” kata Analis IG, Tony Sycamore, melansir dari Reuters pada Senin (16/12/2024).


    “Kami akan melakukan sesuatu yang hebat dengan kripto karena kami tidak ingin Tiongkok atau negara lain – bukan hanya Tiongkok tetapi negara lain yang mengadopsinya – dan kami ingin menjadi pemimpinnya,” kata Trump kepada CNBC akhir pekan lalu.

    Trump berencana membangun cadangan kripto yang serupa dengan cadangan minyak. Negara-negara lain juga telah mempertimbangkan cadangan strategis mata uang kripto.

    Presiden Rusia Vladimir Putin awal bulan ini mempertanyakan perlunya menyimpan cadangan negara dalam mata uang asing, dan mengatakan bahwa investasi dalam negeri dalam bentuk cadangan tersebut lebih menarik.

    Putin mengatakan pemerintahan AS saat ini meremehkan peran dolar AS sebagai mata uang cadangan dalam perekonomian global dengan menggunakannya untuk tujuan politik, sehingga memaksa banyak negara beralih ke aset alternatif, termasuk mata uang kripto.

    “Misalnya bitcoin, siapa yang bisa melarangnya? Tidak ada siapa-siapa,” kata Putin.

    Namun ada yang skeptis, karena Ketua The Federal Reserve, Jerome Powell, menyamakan bitcoin dengan emas awal bulan ini.

    “Orang-orang tidak menggunakannya sebagai bentuk pembayaran, atau sebagai penyimpan nilai. Ini sangat fluktuatif, dan bukan pesaing dolar,” ujar Powell.

    Sebagai informasi, bitcoin telah melonjak lebih dari 50% sejak pemilu pada 5 November 2024, yang menyaksikan Trump terpilih bersama dengan banyak kandidat pro-kripto lainnya. Nilai total pasar mata uang kripto telah meningkat hampir dua kali lipat sepanjang tahun ini hingga mencapai rekor lebih dari US$ 3,8 triliun.

    Trump bulan ini menunjuk pejabat Gedung Putih untuk artificial intelligence (AI) dan mata uang kripto, yaitu mantan eksekutif PayPal David Sacks, dan teman dekat penasihat Trump sekaligus CEO Tesla Elon Musk. Trump juga mengatakan dia akan mencalonkan pengacara pro-kripto Washington Paul Atkins untuk mengepalai Komisi Sekuritas dan Bursa.

    (eds/eds)



    Sumber : finance.detik.com