Tag: metaverse

  • BlackRock: Tahun 2022 adalah Tahun Besar untuk Metaverse

    Blackrock menduga tahun 2022 merupakan tahun besar bagi metaverse. Perusahaan teknologi besar menggelontorkan investasi di sektor ini. Perangkat Augmented Reality (AR) dan teknologi 5G turut mendorong pertumbuhan.

    Kendati demikian, kepala ekuitas Blackrock, Nigel Bolton, berkata sulit mengetahui perusahaan serta sektor mana yang akan mendominasi metaverse.

    “Kami pikir ada beberapa hal yang terjadi yang akan memicu perubahan besar dalam waktu dekat,” jelas Bolton dalam wawancara kepada kanal berita CNBC.

    Baca jugaRusia Akhirnya Mengakui Bitcoin sebagai Mata Uang (Currency)

    Ia menambahkan, di akhir tahun ini, teknologi kacamata AR akan semakin nyata. Melalui gawai inilah perubahan di sektor metaverse tersebut akan terjadi.

    Apple termasuk perusahaan yang menggarap kacamata AR, tetapi tanggal peluncuran bagi produk tersebut belum ditetapkan secara konkrit.

    Komentar Bolton menyusul laporan kuartal keempat perusahaan teknologi besar yang mengungkap minat tinggi terhadap sektor ini. Metaverse merupakan dunia virtual dimana pengguna memakai avatar untuk bermain game, bekerja, membangun hal atau menonton acara virtual.

    Penghasilan Meta menunjukkan seksi metaverse Reality Labs mengalami kerugian besar dan semakin membengkak yang mencakup US$10 milyar pada tahun 2021.

    Meta berada di posisi terdepan antara perusahaan teknologi yang memasuki metaverse. Tetapi belum lama ini, Microsoft mengakuisisi pembuat game Activision senilai US$75 milyar.

    Menanggapi hal tersebut, CEO Apple Tim cook berkata hal itu sangat menarik.

    Bolton menegaskan perluasan kecepatan internet 5G akan menjadi katalis yang mendorong orang-orang untuk semakin menggunakan teknologi terkait sektor ini.

    Baca jugaMengenal Berbagai Kelebihan Aset Kripto

    Kendati demikian, dari sisi investasi, Bolton berkata sulit bagi Blackrock untuk memahami secara persis bagaimana metaverse akan menjadi besar dan siapa pemenangnya.

    Ia menyamakan metaverse dengan masa awal internet di tahun 1990an atau penciptaan ponsel di dekade 2000an.

    Di sisi lain, sejumlah pihak yang skeptis terhadap metaverse berpendapat hal ini hanyalah sebuah penamaan ulang teknologi yang sudah beredar sejak lama.

    Ethan Zuckerman, profesor komunikasi Universitas Massachusetts Amherts, berkata sebagian besar orang enggan menjalankan kehidupan di dunia virtual.

    Sebagai contoh, menggelar rapat kerja dalam bentuk avatar tanpa ekspresi merupakan suatu aktivitas yang hanya digandrungi oleh pegiat sains komputer, tandas Zuckerman.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Kripto Metaverse Terbesar Saat Ini

    Jika menilik perjalanan kripto selama beberapa tahun terakhir, Anda akan melihat perkembangannya yang begitu pesat. Mulai dari kemunculan Bitcoin (BTC) sebagai mata uang kripto pertama, investasi token yang tidak bisa dipertukarkan bernama NFT, hingga pembangunan dunia virtual Metaverse.

    Meski sempat mendatangkan banyak keraguan, nyatanya Metaverse semakin populer saat ini. Berbagai brand ternama mulai mengucurkan dana pada beberapa platform Metaverse, membuat produk digital NFT, hingga membeli lahan virtual di berbagai platform Metaverse. Jika Anda juga tertarik untuk mengetahui lebih dalam soal Metaverse atau berinvestasi pada salah satu platform, simak informasi lima kripto Metaverse terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar berikut ini.

    Baca jugaApa Saja Tren NFT 2022?

    Decentraland (MANA)

    Platform Metaverse yang memiliki jumlah kapitalisasi pasar terbesar saat ini adalah Decentraland (MANA), yakni mencapai $5,123,130,400. Dengan jumlah kapitalisasi pasar tersebut, Decentraland (MANA) mengungguli pesaingnya, yakni Axie Infinity dan The Sandbox.

    Permainan yang membangun dunia virtual dengan menggabungkan elemen realitas virtual dan teknologi Blockchain ini terus mengalami peningkatan sepanjang 2021. Pada awal 2021, Anda hanya perlu mengeluarkan US$0,08 untuk membeli satu MANA. Namun, performanya terus meningkat sepanjang tahun 2021 hingga mencapai rekor tertingginya, yakni US$5,41 pada November. Hingga saat ini, harga MANA kembali mengalami fluktuasi dan menyentuh angka $2,80.

    Di dalam Decentraland, Anda bisa melakukan berbagai kegiatan sebagaimana kegiatan Anda di dunia nyata, seperti berbelanja, bermain, bertemu dengan teman, hingga membeli tanah virtual. Barang dan tanah virtual yang Anda miliki dalam permainan ini berbentuk NFT yang dinamakan LAND. Untuk membelinya, Anda perlu memiliki MANA, yaitu token asli dari Decentraland.

    Axie Infinity (AXS)

    Posisi kedua ditempati oleh Axie Infinity (AXS). Jauh sebelum Facebook mengumumkan perubahan namanya menjadi Meta dan memfokuskan visi-misi perusahaan untuk menjadi perusahaan berbasis Metaverse, Axie Infinity (AXS) sudah hadir membawa inovasi dan perubahan.

    Meski kapitalisasi pasar Axie Infinity (AXS) berada di bawah Decentraland (MANA), yakni senilai $4,258,828,717, harga Axie Infinity (AXS) berada jauh di atas Decentraland (MANA). Untuk membeli satu token AXS, Anda perlu mengeluarkan uang sekitar US$69,67. Harga tersebut meningkat sangat jauh jika dibandingkan dengan awal tahun 2021 di mana AXS dibanderol dengan harga US$0,5. Bahkan pada awal November tahun lalu, AXS mencapai rekor tertingginya, yaitu US$160,36.

    The Sandbox (SAND)

    Setelah Decentraland (MANA) dan Axie Infinity (AXS), posisi ketiga ditempati oleh The Sandbox (SAND), sebuah Metaverse dengan tampilan yang akan mengingatkan Anda pada game Minecraft. The Sandbox sukses bertengger di urutan ketiga dengan kapitalisasi pasar sebesar $4,094,107,911, sedikit di bawah Axie Infinity (AXS).

    Pada awal Januari 2022, SAND dibanderol dengan harga US$4,45. Namun, jika Anda menilik setahun ke belakang, SAND meningkat hingga 1.120% dalam enam bulan terakhir, lebih tinggi dari MANA yang naik sebanyak 323% dan AXS yang meningkat 24%. The Sandbox sempat mencapai harga tertingginya pada November 2021, yaitu US$8,4, lalu kembali turun dan menutup tahun di harga US$5,8.

    Baca jugaNFT untuk Sektor Musik, Apa Saja Manfaatnya?

    The Sandbox sendiri adalah sebuah permainan yang dirilis pada 2011. Sama seperti Decentraland, di dalam permainan ini Anda juga bisa melakukan berbagai aktivitas, termasuk jual-beli tanah.

    Theta Network (THETA)

    Theta Network (THETA) berada di posisi keempat dengan jumlah kapitalisasi pasar sebesar $3,982,376,251 dan harga THETA US$3,99. Theta Network merupakan sebuah platform video streaming yang beroperasi di atas jaringan Blockchain. Theta Network beroperasi sebagai jaringan terdesentralisasi di mana pengguna dapat berbagi bandwidth dan sumber daya komputasi secara peer-to-peer.

    Diawali dengan harga US$1,8 pada Januari 2021, THETA sempat melonjak tinggi hingga mencapai harga US$14,28 pada April 2021. Namun, harganya kembali turun dan cenderung stabil hingga sisa tahun 2021.

    Enjin Coin (ENJ)

    Posisi terakhir ditempati oleh Enjin Coin (ENJ), sebuah perusahaan yang menyediakan ekosistem produk game berbasis Blockchain yang saling terhubung. Dengan kapitalisasi pasar sebesar $1,895,897,042, Enjin Coin (ENJ) berhasil mengalahkan salah satu saingannya, SushiSwap.

    Diawali dengan harga US$0,16 pada Januari 2021, ENJ mengalami fluktuasi harga yang cukup signifikan. ENJ sempat mencetak rekor tertinggi pada 2021 dengan menyentuh harga US$4,68 di bulan November.

    Itu dia lima kripto Metaverse dengan kapitalisasi pasar terbesar. Hingga saat ini, Metaverse masih terus mengalami perkembangan dan akan terus tumbuh selama beberapa tahun ke depan. Dengan kemajuan teknologi, tidak menutup kemungkinan perkembangan tersebut akan lebih cepat dari yang diprediksi.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • NFT untuk Sektor Musik, Apa Saja Manfaatnya?

    Kehadiran NFT dapat membawa perubahan bagi industri musik, terutama bagi persoalan hak cipta dan royalti. Berbeda dengan berkas audio biasa, NFT musik dapat diperjualbelikan dan meraih royalti dari setiap penjualan di pasar sekunder.

    NFT di industri musik dapat berbentuk audio atau video lagu, sampul album, tiket konser dan merchandise lainnya. Musisi dapat menentukan produk yang ingin ditawarkan ke penggemar kemudian memilih blockchain untuk mencetak NFT itu.

    Platform NFT musik mencakup TONE, Opulous, OpenSea dan lainnya. Musisi lalu memberitahu penggemar tentang rilis NFT ini dan menjualnya sesuai nilai yang diharapkan.

    Baca jugaPemerintah Tiongkok Dukung NFT, Ini Jalurnya!

    Sebab tidak dapat diduplikasi, NFT musik dapat dijual satu kali melalui lelang. Pemenang lelang mendapatkan berkas lagu satu-satunya dan menjualnya kembali dengan untung. Musisi pencipta tetap mendapat bagian royalti melalui data dalam NFT itu.

    Musisi yang sudah meluncurkan NFT termasuk DJ 3LAU dengan Ultraviolet Collection yang meraih penjualan US$11,6 juta hanya dari pelelangan 33 NFT. Musisi asal Kanada, Grimes, menjual karya digital senilai US$6 juta.

    Selain penghasilan, NFT dapat membantu musisi dalam berbagai hal.

    Pertama, peraihan royalti. Musisi yang menciptakan NFT akan memperoleh penghasilan dari penjualan sekunder. Hal ini menjawab masalah musisi yang tidak mendapat bagian royalti atau sekedar mendapat uang receh dari layanan streaming.

    Kedua, meniadakan perantara. Kontrak dengan label rekaman acapkali bermasalah. Musisi yang mandiri meraih uang dari platform streaming. Tokenisasi ini dapat membantu musisi mendapat uang dari penjualan musik langsung kepada penggemar.

    Ketiga, membangun basis penggemar. Musisi dapat menambah penggemar dengan memberikan akses kepada NFT terkait karya musisi itu serta menjangkau audiens yang baru.

    Musisi bisa meraup cuan dengan memberikan pengalaman unik, seperti peluang untuk bertemu secara virtual atau bahkan tatap muka. Hal ini dilakukan rapper Snoop Dogg dalam metaverse SandBox di blockchain Ethereum.

    Baca jugaInilah Alasan, Mengapa Ethereum (ETH) akan Melonjak pada Bulan Juli?

    Keempatmemberikan peluang kepada artis baru. Kemudahan sektor NFT musik membuka kesempatan bagi musisi baru sebab mereka dapat merilis secara mandiri tanpa persetujuan perusahaan rekaman.

    Saat ini, hanya ada sedikit musisi yang menjajaki peluang melalui teknologi terbaru ini. Tetapi dengan pengetahun yang meningkat dan permintaan dari penggemar, musisi dapat meraih untung dari penjualan musik memakai NFT.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pendiri Reddit: Lima Tahun Lagi, Game Kripto Berkuasa

    Alexis Ohanian, co-founder situs media sosial Reddit, berkata fenomena game play-to-earn berbasis aset kripto akan berkuasa dan rutin bagi pemain dalam waktu lima tahun.

    “90 persen orang tidak akan memainkan game kecuali mereka dihargai benar bagi waktu mereka,” jelas pengelola pemodal ventura Seven Seven Six tersebut dalam episode podcast Where It Happens.

    Ia menambahkan, dalam lima tahun orang akan menghargai waktu secara benar. Saat ini pemain dipanen sebagai korban iklan atau dipaksa membayar dolar untuk membeli barang digital yang tidak benar-benar dimiliki.

    Alih-alih demikian, Ohanian berkata pengguna akan memainkan game on-chain yang sama serunya tetapi benar-benar memperoleh nilai. Pengguna akan menjadi pemilik dan penghasil panen.

    Baca jugaMengenal Token Sangkara (MISA) di Coinstore

    Game play-to-earn merupakan dunia virtual bertenaga kripto yang menjadi popular di sekeliling dunia pada tahun 2021, terutama di masa pandemi yang seret penghasilan.

    Dunia game seperti Axie Infinity dan The Sandbox memakai kripto sebagai mata uang dalam game.

    Gaming adalah salah satu kegunaan terbesar di metaverse, dunia virtual yang membantu pemain membangun, memiliki dan menuai untung dari pengalaman gaming mereka memakai token dalam platform game tersebut.

    Menariknya, seperempat pemain Axie Infinity sebelumnya tidak memiliki akses ke rekening bank. Hal itu berarti dompet Axie adalah layanan keuangan pertama yang mereka akses.

    Pakar industri kripto menduga akan ada peningkatan adopsi oleh waralaba gaming popular. Lebih banyak pemain akan menggandrungi game play-to-earn pada tahun 2022.

    Di sektor metaverse, Decentraland (MANA) memiliki kapitalisasi pasar terbesar di antara token game play-to-earn menurut data CoinMarketCap.

    Selain bidang play-to-earn, Ohanian memberikan dua prediksi lain.

    Menurutnya, sebagian besar orang akan berpartisipasi dalam DAO dalam lima tahun berikut. DAO adalah istilah bagi sekelompok orang yang bergabung untuk mencapai tujuan bersama.

    Baca jugaTokocrypto Market Signal Kripto 05 Januari 2022: Proyeksi DOT dan SUSHI

    Contohnya, ConstitutionDAO adalah kelompok yang berusaha membeli salinan Konstitusi AS melalui prose lelang kendati mereka tidak berhasil memenangkannya.

    “Orang-orang tidak akan menyadarinya, persoalan merk tidak penting. Mereka tidak akan peduli sebab pengalaman pengguna lebih besar dari semuanya,” jelas Ohanian soal DAO.

    Ia berpendapat DAO akan menjadi hal lumrah. Kendati tidak semua orang memakainya, untuk tujuan umum, DAO akan menjadi hal yang normal.

    Selain itu, Ohanian mengira pengguna internet akan lebih mengharga identitas daring dibanding identitas nyata.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Nike Masuki Metaverse, Luncurkan Sepatu Kets Virtual

    Nike berencana memasuki sektor metaverse dengan peluncuran sepatu kets digital. Perusahaan pakaian olahraga tersebut menyusul merk-merk lain yang terjun ke industri barang digital.

    Nike mengumumkan telah mengakuisisi RTFKT. Perusahaan yang menciptakan sepatu kets digital dan benda digital lain dalam bentuk NFT yang memanfaatkan teknologi blockchain.

    Akuisisi tersebut terjadi tidak lama setelah RTFKT sukses meluncurkan NFT avatar, CloneX, dengan total transaksi mencapai puluhan juta dolar dalam waktu singkat.

    John Donahoe, CEO Nike, berkata akuisisi tersebut adalah langkah yang mempercepat transformasi digital Nike sehingga dapat melayani atlet dan seniman di gabungan olahraga, kreativitas, gaming dan budaya.

    Baca jugaBinance Terima Lampu Hijau Dari Bahrain dan Kanada

    Nike tidak memberikan rincian soal akuisisi tersebut. Kendati demikian, pembelian itu mencerminkan minat yang tinggi dari merk-merk ternama kepada NFT.

    Pada bulan Mei, NFT tas Gucci terjual dengan harga lebih mahal dibanding tas fisik. Ketertarikan terhadap NFT dan barang digital diiringi prediksi bahwa metaverse, yakni internet dengan virtual reality, akan menggantikan web yang ada saat ini.

    Sektor ritel adalah salah satu yang bisa ditransformasi dimana pembeli dapat memakai kacamata virtual reality untuk memeriksa replika tiga dimensi dari barang fisik seperti baju.

    Nike telah membuka Nikeland, showroom virtual di platform gaming Roblox dimana pengunjung dapat mengenakan baju Nike kepada avatar tiga dimensi mereka.

    Didirikan tahun lalu, RTFKT melihat peluang di bidang sepatu kets dan NFT. Pasalnya, keduanya seringkali diinginkan sebagai barang kolektibel.

    Pada bulan Maret, RTFKT dikabarkan menjual 600 pasang sepatu kets fisik dengan total nilai US$3,1 juta. Tetapi nilai asli dari sepatu kets tersebut adalah versi NFT yang dibanderol bersama dengan versi fisiknya.

    Baca jugaMeta versus Metaverse dan Masa Depan Dunia Virtual

    “Kami senang menumbuhkan brand kami yang sepenuhnya terbentuk di metaverse,” jelas co-founder RTFKT Benoit Pagotto melalui pernyataan resmi.

    NFT semakin diminati selama setahun terakhir. Pegiat NFT memrediksi teknologi NFT akan dipakai meluas sebagai salah satu bentuk bukti kepemilikan aset digital.

    Di sisi lain, pihak skeptis berkata konsep barang digital terlalu digembar-gemborkan. Terlepas dari itu, beberapa NFT menarik perhatian masyarakat sebab dijual dengan harga ratusan ribu bahkan jutaan dolar AS.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Meta versus Metaverse dan Masa Depan Dunia Virtual

    Facebook berganti nama menjadi Meta. Platform media sosial nomor satu dunia ini bahkan makin serius menggarap perangkat realitas virtual (virtual reality atau VR) mereka, yang makin mencengangkan saja kemampuannya. Facebook tidak baru-baru ini saja latah dengan dunia virtual. Akuisisi Oculus, perangkat virtual asal California, sudah dilakukan sejak 2014 dengan nilai raksasa, yakni USD2,3 miliar dalam bentuk tunai dan saham.

    Perangkat VR adalah salah satu prasyarat utama bagi pengalaman virtual yang lebih imersif. Perangkat VR yang dipasang di alat penglihatan dan sarung tangan haptics akan mengirim gambar dan sinyal sentuhan ke dunia virtual yang dikembangkan Facebook, sehingga interaktivitas sosial tidak akan lagi dibatasi oleh jarak dan waktu.

    Rapat di kantor, misalnya, tak lagi perlu berada dalam ruangan yang sama, sehingga memberi banyak keuntungan. Waktu yang dihabiskan di jalanan, risiko kesehatan, dan biaya, tentu saja dapat ditekan seminimal mungkin.

    Yah, tentu saja kalau memang tak berniat untuk menghabiskan anggaran, seperti yang lazim terjadi di instansi pemerintahan.

    Metaverse, dunia virtual yang diilhami oleh novel Snow Crash karya Neal Stephenson di tahun 1992, memungkinkan konvergensi konektivitas dunia fisik dan virtual dalam ruang maya.

    Metaverse, istilah yang baru-baru ini semakin populea, sebenarnya cukup banyak terwujud di sekitar kita, terutama dalam bentuk gim. Ada Roblox, Minecraft, atau bahkan Animal Crossing.

    Animal Crossing, gim imut yang menugasi pemain untuk mengelola sebuah pulau untuk menjadi pulau destinasi wisata, memberikan keleluasaan bagi pemain untuk mendesain ruang eksterior dan interior dari bangunan tertentu.

    Tak hanya itu, versi daring dari gim ini memungkinkan pemain untuk mengunjungi pulau milik temannya!

    Baca juga : Shiba Inu (SHIB) Menjadi Token Paling Dicari di CoinMarketCap

    Metaverse Kripto

    Naiknya kepopuleran metaverse yang dipicu oleh Facebook (Meta) ini juga berdampak pada beberapa produk aset kripto seperti Decentraland.

    Produk utama Decentraland adalah dunia tiga dimensi, yang bisa diakses di komputer desktop. Komponen utama dari Decentraland adalah ruang tiga dimensi itu sendiri, yang dinamai LAND.

    Ruang tiga dimensi ini jadi bahan jualan utama Decentraland. Setiap orang dapat mengakuisisi sepotong tanah di Decentraland, yang teridentifikasi dengan koordinat Cartensian x dan y, yakni koordinat dua dimensi yang terpetakan menggunakan satu sumbu horizontal (x) dan satu sumbu vertikal (y). Seseorang bisa membeli satu blok tanah yang disebut dengan parcel, ataupun gabungan beberapa parcels yang disebut estate.

    Harga properti di Decentraland tidaklah murah. Saat ini, satu parcel termurah dihargai 4000 MANA. MANA adalah native token dari Decentraland. Satu MANA saat ini bernilai USD3,73, sehingga satu parcel dapat dikonversi menjadi USD14.920 atau lebih dari 211 juta rupiah!

    Tak hanya tanah saja yang dapat dijual di Decentraland. Barang-barang virtual lain yang berupa kolektibel yang terdiri atas produk fashion, juga tersedia di marketplace. Penutup kepala, baju, hingga alas kaki, tersedia dalam ragam dan harga yang bervariasi. Barang-barang ini bisa dipakai untuk memodifikasi avatar pengguna, yakni karakter yang menjadi representasi si pengguna dalam dunia digital.

    Facebook Meta vs Metaverse Aset Kripto

    Persaingan Meta dengan produk metaverse aset kripto seperti Decentraland sesungguhnya sedang terjadi. Produk-produk ini memiliki “bahan jualan” yang serupa.

    Meskipun, saya tidak yakin kalau Meta nantinya ikut berjualan petak tanah virtual, akan tetapi jangan lupa bahwa Facebook dahulu pernah bereksperimen dengan produk mata uang kripto bernama Diem, yang kini bernama Novi.

    Bisa jadi, mata uang kripto Novi yang digadang-gadang lebih condong ke stablecoin ketimbang aset kripto lain seperti Bitcoin dan Ethereum, menjadi alat pembayaran di dalam ekosistem Meta besutan Facebook.

    Titik fokus Meta dan Decentraland mestinya tidak sama. Meta bisa mengadopsi pola bisnis Facbook saat ini yang mengutamakan konektivitas antar-orang yang membentuk ekosistem sosial (dan berjualan data pengguna dalam bentuk iklan dan algoritma recommender produk-produk komersial).

    Sementara itu, Decentraland lebih ditujukan pada manajemen aset virtual dan kolektibel. Bila Meta menyediakan aksesibilitas untuk sebanyak mungkin orang. Decentraland akan dihuni sekelompok eksklusif orang yang mampu membayar mahalnya barang-barang yang dijual.

    Mereka ini adalah kelompok yang telah berhasil memenuhi kebutuhan primer dan sekunder, dan kini memburu barang-barang tersier seperti NFT dan lahan LAND (yang juga berupa NFT). Dunia virtual LAND bisa menjadi media untuk memamerkan kekayaan virtual dengan menanggalkan identitas dunia nyata.

    Facebook yang telah memiliki basis pengguna sangat besar, rasa-rasanya tak akan kesulitan untuk mendorong pengguna untuk memakai Meta, dengan asumsi bahwa perangkat dan fasilitas telah tersedia luas.

    Sementara itu, Decentraland dan sejenisnya masih harus berjibaku untuk meyakinkan orang untuk membeli MANA, apalagi menginvestasikan sejumlah besar MANA untuk membeli sepetak tanah virtual dalam LAND yang harganya setara mobil Xpander baru.

    Akan aneh rasanya, menggunakan ruang virtual Decentraland tanpa memiliki aset apapun baik dalam bentuk tanah ataupun fashion.

    Decentraland mestinya sadar bahwa ia bukan satu-satunya metaverse yang beroperasi di dalam aset kripto. Dengan harga transaksi yang mahal dalam platform Ethereum dan munculnya metaverse lain pada platform dengan biaya transaksi lebih murah, rasa-rasanya tak masuk akal untuk membeli LAND saat ini, bila memang tidak tajir melintir.

    Baca jugaMengenal Karya Seni Rupa Murni dan Potensinya di Dunia NFT

    Tanah Virtual dan Risikonya

    Soal karakter sentralistik, meski Decentraland memiliki komponen blockchain, ia tak akan berarti banyak tanpa komponen off-chain yang memungkinkan orang berinteraksi di dunia tiga dimensi.

    Komponen inilah yang pastinya memerlukan bantuan pihak ketiga untuk menjalankan dan mengelolanya, yang tentu saja, tersentralisasi. Maka banyangkan bila pihak ketiga ini berhenti beroperasi; bagaimana nasib tanah dan aset virtual lainnya yang telah dikumpulkan oleh pengguna metaverse tersebut?

    Jumlah petak tanah pada Decentraland memang sangat terbatas; tentunya menimbulkan potensi keuntungan besar bagi para investor, seperti halnya bisnis properti tradisional. Namun, dengan sifatnya yang virtual dan ketergantungannya pada pihak ketiga untuk memastikan bahwa dunia virtual tersebut dapat diakses dengan baik. Rasa-rasanya jenis investasi tanah virtual ini berisiko amat-sangat-tinggi sekali.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Join Mataverse, Nike Beli Perusahaan Sneakers Virtual!

    Nike yang direpresentasikan sebagai raksasa produk apparel olahraga, kini resmi bergabung dengan Metaverse. Pernyataan itu dinyatakan pihak perusahaan kemarin, tepatnya pada Senin 13 Desember 2021.

    Dengan mengakuisisi sneakers virtual ternama,RTFKT, perusahaan menunjukan ambisinya untuk segera memperluas jangkauan mereka dalam dunia Metaverse, yang saat ini tumbuh dengan cepat.

    Menurut laporan Cointelegraph, sejak 2 November silam perusahaan telah mengajukan permintaan untuk Nike dengan mematenkan branding mereka agar dapat digunakan untuk Metaverse.

    Baca jugaTurun Lagi! Harga Bitcoin Diprediksi 600 Jutaan Saja

    Pengajuan tersebut disertai dengan dua lowongan pekerjaan baru, untuk calon desainer materi virtual. Hal ini tentu menandakan niat perusahaan untuk memasuki Metaverse yang sebenarnya sudah ada sejak lama.

    Nike Ingin Menyelidiki Ekosistem Metaverse Terlebih Dulu

    Meski telah resmi bergabung dengan Metaverse, Nike menegaskan jika langkah perusahaan mengakuisisi RTFKT adalah bentuk dari perwujudan minat Nike untuk menyelidiki ekosistem perusahaan.

    “Kami sangat bersemangat untuk mengembangkan brand yang sepenuhnya terbentuk di metaverse di masa depan. Akuisisi ini merupakan langkah lain yang mempercepat transformasi digital Nike dan memungkinkan kami untuk melayani atlet dan pencipta di persimpangan olahraga, kreativitas, permainan, dan budaya,” Ungkap John Donahoe, selaku presiden dan CEO Nike

    Masuknya Nike ke dalam dunia metaverse dan blockchain, menandai pergeseran besar telah terjadi dalam industri olahraga.

    Baca jugaTesla Siapkan Dogecoin (DOGE) Sebagai Alat Pembayaran Cinderamata

    Karena sebelumnya juga sudah banyak klub sepak bola yang juga telah memasuki dunia blockchain. Mesi memang, belum ada yang memasuki dunia Metaverse.

    Sementara itu, Adidas adalah brand olahraga ternama yang membuka jalan ‘teman-temannya’ untuk bergabung ke Metaverse.

    Adidas bergabung dengan metaverse setelah kemitraanya dengan perusahaan nonfungible token (NFT), termasuk Bored Ape Yacht Club, gmoney NFT, dan PUNKS Comic.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Rapper Snoop Dogg Membangun Mansion di Metaverse SandBox

    Metaverse semakin besar dengan hadirnya seorang musisi ternama asal AS, Snoop Dogg, yang mendukung kuat sektor ini dan NFT, dengan membangun sebuah mansion di metaverse game, SandBox.

    Bernama asli Calvin Cordozar Broadus Jr., rapper yang terkenal memiliki banyak single yang hits tersebut, telah mewujudkan kerja samanya dengan Sandbox dengan membangun sebuah mansion megah di dalam metaverse-nya.

    Baca jugaKali Pertama, Investasi Dana Ventura Lebih Besar di AS daripada di Asia

    Mansion Snoop Dogg di Metaverse SandBox

    Sekadar informasi, di SandBox, seseorang memang dimungkinkan untuk memiliki sebidang tanah virtual yang dapat dibangun rumah virtual pribadi.

    Berdasarkan tweet resmi yang dibagikan oleh SandBox, hal tersebutlah yang dilakukan oleh Snoop Dogg di SandBox, yang semakin meramaikan jagat virtual ini.

    Berdasarkan laporan dari U Today, Kamis (2/12/2021), apa yang dibangun oleh rapper ternama itu disebut sebagai Snoopverse, yang melelang 122 tanah biasa, 67 tanah premium dan 3 perkebunan.

    Diketahui, siapapun yang memiliki salah satu dari properti yang dilelang tersebut, maka akan mendapatkan izin akses untuk berpartisipasi di berbagai acara (event) yang diadakan di Snoopverse, yang disebut “Snoopverse Early Access Pass”.

    Itu termasuk mendapatkan NFT khusus dari Snoop Dogg, mendapatkan token SAND dari game yang ada di sana, serta melakukan interaksi sosial melalui konser dan acara bersama lainnya.

    Pemilik Early Acess Pass juga bisa mendapatkan akses pertama ke kreasi metaverse sang rapper, seperti patung Snoop dan mobil Brown Sugar.

    Baca jugaCardano Cetak Rekor 20 Juta Transaksi Sejak Diluncurkan

    Masa Depan Cerah?

    Dengan melihat pertumbuhannya yang dapat dibilang cepat, sektor metaverse telah banyak dilihat mampu memberikan sesuatu yang lebih baik di masa depan, terutama terkait sektor kripto dan profesi.

    Menurut Analis dari Bank of America (BoA), Haim Israel, berkat metaverse, aset kripto akan punya kesempatan yang lebih besar untuk menjadi alat pembayaran.

    Meski dia lebih condong ke stablecoin karena harganya yang tidak volatil, itu tetap akan menjadi sebuah pendorong besar bagi industri kripto, seiring bertumbuhnya sektor dunia virtual ini.

    Selain itu, pendiri perusahaan metaverse Journee, Thomas Johann Lorenz, juga berpandangan yang baik mengenai dampak sektor ini terhadap perkembangan bekerja dari rumah, atau lebih popular disebut work from home.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pakar: Profesi Menjanjikan Ada di Metaverse

    Metaverse kian mainstream dan perusahaan-perusahaan mulai memakainya untuk mempekerjakan dan mengelola pegawai. Tetapi penggunaannya untuk perekrutan dapat menyebabkan isu keamanan dan privasi.

    Metaverse dan Profesi yang Menjanjikan

    Bukan hanya tempat bagi gamer dan pegiat teknologi, dunia virtual digadang-gadang akan menjadi evolusi berikutnya bagi internet.

    Bisnis-bisnis serta brand mulai menciptakan lingkungan tempat bekerja dan bermain.

    Di antaranya, Hyundai mulai dengan memakai dunia virtual Zepeto untuk perekrutan pegawai baru. Samsung dikabarkan menggelar bursa kerja virtual melalui platform Gather pada September lalu.

    Baca jugaBurning BNB (Binance Coin): Sistem Baru Sudah Diterapkan

    Budaya work from home yang marak selama pandemi coronavirus dalam 18 bulan terakhir memicu permintaan bagi dunia virtual.

    Thomas Johann Lorenz, pendiri perusahaan meta verse Journee, berkata, “Soal mempertahankan talenta di perusahaan dan budaya bisnis di era kerja jarak jauh, kita butuh perlengkapan lebih dari sekedar surel dan Zoom.”

    Lorenz menjelaskan, metaverse lebih dari pertukaran data dan informasi sebab akan memanfaatkan komunikasi manusia soal hubungan, emosi dan pengalaman.

    Wawancara melalui layar memberikan informasi yang sedikit tentang kandidat pegawai. Tetapi dengan penggunaan avatar dalam metaverse, ada cara-cara baru untuk memahami orang lebih baik.

    Journee telah menciptakan metaverse bagi Siemens, BMB dan Adidas yang bisa diakses melalui perangkat sederhana seperti ponsel dan tidak memerlukan alat virtual reality.

    Di saat Meta besutan Mark Zuckerberg berniat membangun dunia virtual dengan pengalaman menyeluruh, pihak lain berkata metaverse sudah ada pada platform seperti Discord.

    Baca jugaMetaverse Bisa Bermutu Baik, Jika Digital Ownership Lewat Kripto Kian Nyata

    Direktur seni Richard Chen menggelar proyek seni yang berhasil menjual tiga ribu buah NFT dalam enam jam di marketplace OpenSea. Ia melihat pasar NFT sangat baru sehingga belum banyak pakar untuk direkrut dari agensi pemasaran.

    “Talenta-talenta ini tidak bisa ditemukan di dunia nyata atau berada di lokasi dekat. Menemui mereka di metaverse adalah cara terbaik bagi kebutuhan proyek kami,” jelas Chen.

    Di sisi lain, tidak semua orang melihat potensi dari dunia virtual ini. Pendiri konsultan SheBuildsBrands, Kubi Springer, merasa dirinya tidak menguasai teknologi ini dengan baik.

    Ia melihat teknologi metaverse memajukan hidup dengan berbagai cara, tetapi harus disertai dengan penguasaan yang kuat. Bila tidak, Springer merasa metaverse justru yang akan menguasai manusia.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Metaverse Bisa Bermutu Baik, Jika Digital Ownership Lewat Kripto Kian Nyata

    Metaverse, dunia realitas virtual baru yang didengungkan oleh Mark Zuckberg, bisa bermutu baik jika memang konsep digital ownership lewat kripto dan NFT kian nyata.

    Hal itu disampaikan oleh sejumlah praktisi metaverse, di antaranya adalah Yat Siu, CEO dan salah seorang pendiri Animoca Brands. Perusahaan ini adalah di balik sejumlah game kripto berbalut NFT (non-fungible kripto) seperti digital art mobil balap F1.

    Pandangan Yat Siu bagian dari kritiknya terhadap dukungan Mark Zuckberg terhadap dunia metaverse yang dinilai Zuckerberg akan menjadi bagian terpadu dari para pengguna Internet di masa depan. Itu sebab, pada akhir Oktober 2021, ia mengumumkan alih nama perusahaan dari Facebook menjadi Meta.

    Baca jugaGame NFT “Guild of Guardians” Raih Pendanaan $ 5,3 juta. Penjualan Tokennya Laris Manis

    Metaverse, Kripto dan NFT

    Bagi Siu, ketiadaan digital ownership (kepemilikan digital) oleh pengguna metaverse, maka dunia virtual itu tidak ada gunanya, tidak bisa bermutu baik.

    Kepemilikan digital diwujudkan, salah satunya, lewat pengayaan NFT, token khusus yang merepresentasikan kepemilikan dan transaksi file digital di Internet, termasuk digital art dalam bentuk gambar, suara dan video.

    “Apa yang dilakukan Facebook (Meta) dengan metaverse adalah ‘metaverse palsu’, kecuali ada satu komponen yang memastikan kita benar-benar memiliki objek jelas di dalamnya, yakni ownership,” sebut Siu kepada Reuters, Rabu (1/12/2001).

    Perihal digital ownership lewat NFT memang terbukti nyata, setidaknya dalam ukuran transaksi pembeliannya. Contoh terbaru adalah lapak virtual di Decentraland yang laku US$2,4 juta pada pekan lalu. Hal serupa berlalu lalang di proyek serupa, seperti di The Sandbox (SAND) dan Axie Infinity (AXS).

    Siu menegaskan, bahwa digital ownership adalah landasan untuk perbaikan sekaligus jalur baru bagi produk dan perdagangan, seperti kepemilikan mobil memunculkan produk kursi bayi atau bagaimana kepemilikan rumah bisa mendorong permintaan furnitur dan bisnis seperti Ikea.

    Ubah Hubungan Merek dan Konsumen

    Hal senada juga disampaikan oleh Benoit Pagotto, salah seorang pendiri sepatu kets virtual, RTFKT. Ia meyakini metaverse memberi ruang yang sangat baik untuk meningkatkan hubungan merek dan konsumen.

    “Ini [metaverseRed] adalah perubahan besar dalam (cara) mengubungkan antara bisnis, kreativitas dan konsumerisme bekerja,” katanya.

    Baca jugaInvestor Alibaba Kucurkan Dana ke Bisnis Metaverse Korsel

    NFT Tak Sepenuhnya Baik

    Sepertinya halnya kripto (sebagai mata uang dan aset komoditi), NFT tidak diatur, sehingga penumpang gelap banyak yang bersemayam di dalamnya. Bahkan, setiap orang bisa membuat dan menjual NFT, tanpa ada jaminan nilainya.

    “Kepemilikan dalam istilah hukum berarti sesuatu (umumnya) adalah monopoli atas sumber daya yang diatur oleh negara,” katanya. Jenis hak yang diberikan kepada Anda atas kepemilikan NFT sedikit berbeda. Anda mungkin tidak memiliki hak untuk mengendalikan sepenuhnya NFT itu,” sebut Natalie Johnson, pendiri Neuno yang bergerak di bidang NFT fesyen.

    Namun demikian, Natalie mengakui, bahwa kelak metaverse dan NFT berpadu dengan baik dan cocok untuk semua orang.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com