Tag: pemula

  • 5 Altcoin Terbaik dengan Utilitas Nyata Berdasarkan Pendapatan Jaringan

    Bayangkan kamu ingin menginvestasikan uang yang kamu miliki ke sebuah perusahaan di dunia nyata. Tentu kamu akan memilih perusahaan yang punya manfaat nyata, pelanggan aktif, dan pendapatan stabil, bukan? Nah, prinsip yang sama berlaku di dunia kripto.

    Aset kripto khususnya altcoin, bukan hanya koin dengan tujuan spekulatif, melainkan sebuah perusahaan dengan produk dan utilitas nyata—tapi tidak semua altcoin memiliki utilitas nyata banyak diantaranya hanya naik karena hype, sehingga kamu harus lebih teliti dalam membeli.

    Artikel ini akan membahas 5 altcoin terbaik dengan utilitas nyata berdasarkan pendapatan jaringan, agar kamu terhindar dari koin yang sekadar hype tanpa manfaat nyata.

    Apa Itu Altcoin dengan Utilitas Nyata?

    Altcoin dengan utilitas nyata adalah kripto selain Bitcoin yang memiliki fungsi spesifik dan relevan dalam ekosistem blockchain atau dunia nyata—bukan hanya sekadar alat spekulasi, tetapi dirancang untuk menyelesaikan masalah, mendukung aplikasi, atau memperkuat infrastruktur digital.

    Utilitas nyata ini seperti:

    • Sebagai alat untuk biaya transaksi jaringan, seperti Ethereum, Solana, dan BNB.
    • Menjadi infrastruktur aplikasi DeFi atau Web3, seperti Chainlink, Uniswap, dan Jupiter.
    • Memfasilitasi pembayaran lintas negara, seperti XRP, Tron, dan Monero.

    Altcoin semacam ini lebih berpotensi bertahan lama karena memiliki kegunaan nyata, bukan hanya didorong oleh spekulasi harga—sehingga akan sangat cocok untuk kamu yang ingin melakukan investasi secara berkala dengan metode Dollar Cost Averaging (DCA) di aplikasi Tokocrypto. Simak 5 altcoin terbaik dengan utilitas nyata tersebut di bawah ini.

    Baca juga: Altcoin Terbaik untuk Strategi DCA (Dollar Cost Averaging)

    5 Altcoin Terbaik dengan Utilitas Nyata Berdasarkan Pendapatan Jaringan

    Berikut lima altcoin terbaik dengan utilitas nyata, dipilih berdasarkan pendapatan harian tertinggi yang mereka hasilkan dari aktivitas jaringan dan penggunaan riil di ekosistem Web3 dan DeFi dalam satu tahun terakhir.

    Tron (TRX)

    Tron (TRX) ada pada urutan pertama dengan pendapatan jaringan terbesar di ketegori Blockchain Layer-1 dalam satu tahun terakhir. Sumber data: Token Terminal.

    Tron (TRX) dipakai luas untuk mengirim stablecoin, terutama USDT, karena biaya transaksi rendah dan kecepatan tinggi. Banyak orang memakai Tron untuk remitansi internasional dan pembayaran lintas negara.

    Siapa pun bisa mengirim USDT berbasis Tron (TRC-20) dari satu wallet ke wallet lain hanya dengan biaya beberapa sen—jauh lebih murah dibanding jaringan Ethereum.

    Berdasarkan data Token Terminal, Tron menghasilkan $3.6 miliar revenue dalam 365 hari terakhir, mendominasi 74,5% market share blockchain L1. Angka ini jauh di atas Ethereum ($742 juta) dan Solana ($391 juta).

    Baca juga: Tron (TRX): Raja Transaksi Altcoin yang Makin Tak Terbendung

    Ethena (ENA)

    Ethena (ENA) ada pada urutan ke empat menurut pendapatan jaringannya dalam satu tahun terakhir di ketegori Penerbit Stablecoin. Sumber data: Token Terminal.

    Ethena (ENA) meluncurkan USDe, stablecoin berbasis yield yang nilainya stabil terhadap dolar dan bisa menghasilkan imbal hasil. Pengguna bisa mendapatkan USDe dengan menyetorkan kripto (misalnya ETH atau USDT) ke protokol Ethena. Stablecoin ini lalu bisa dipakai untuk trading, disimpan, atau dimasukkan ke DeFi untuk memperoleh yield tambahan.

    Secara data, Ethena masuk top-4 penerbit stablecoin dengan pendapatan jaringan tertinggi yakni sebesar $141 juta dalam setahun terakhir—mencerminkan tingginya adopsi stablecoin Ethena di berbagai protokol. Posisi ini menjadikannya salah satu proyek stablecoin dengan model yield-bearing yang menarik, memberikan alternatif bagi investor di luar stablecoin konvensional.

    AAVE (AAVE)

    AAVE (AAVE) ada pada urutan pertama dengan pendapatan jaringan terbesar di ketegori Lending dalam satu tahun terakhir. Sumber data: Token Terminal.

    AAVE adalah protokol pinjam-meminjam kripto tanpa bank dimana pengguna bisa meminjam aset kripto dengan jaminan (collateral), atau sebaliknya, meminjamkan aset untuk dapat bunga. Yang menarik, semuanya transparan lewat smart contract.

    AAVE meraup $112 juta revenue dari bunga pinjaman dan biaya protokol dalam 365 hari terakhir, setara 68,7% pangsa pasar lending. Besarnya pendapatan ini membuktikan utilitas DeFi yang nyata: menyediakan likuiditas tanpa bank.

    Baca juga: Apa itu Alt Season Index dan Bagaimana Cara Membacanya?

    Arbitrum (ARB)

    Arbitrum (ARB) ada pada urutan ke dua menurut pendapatan jaringannya dalam satu tahun terakhir di ketegori Blockchain Layer-2. Sumber data: Token Terminal.

    Arbitrum (ARB) adalah blockchain layer-2 yang digunakan untuk menjalankan aplikasi Ethereum dengan biaya lebih rendah. Banyak dApp DeFi dan NFT yang menggunakan Arbitrum sebagai solusi dari gas fee Ethereum yang terbilang mahal.

    Arbitrum mencatat $19,8 juta revenue setahun terakhir, dalam kategori Layer-2 Arbitrum berada di posisi kedua setelah Base ($76 juta) yang belum memiliki token sendiri. Meski lebih kecil, angka ini membuktikan banyak aplikasi DeFi dan NFT yang  aktif di jaringan Arbitrum berkat biaya transaksi rendah dan kecepatan yang tinggi.

    Aethir (ATH)

    Aethir (ATH) ada pada urutan ke tujuh menurut pendapatan jaringannya dalam satu tahun terakhir di ketegori Infrastruktur Jaringan Web3. Sumber data: Token Terminal.

    Sebagai jaringan desentralisasi GPU cloud, Aethir (ATH) menyediakan infrastruktur penting untuk AI, gaming, dan aplikasi Web3 sehingga developer memiliki opsi murah selain menggunakan AWS atau Google Cloud.

    Dari data Token Terminal, Aethir masuk top-10 proyek infrastruktur dengan pendapatan $55,6 juta dalam 365 hari, menempati 6% market share. Revenue tinggi menegaskan utilitas nyata ATH sebagai salah satu infrastruktur web3 yang patut di lirik.

    Baca juga: Altcoin Terbaik Saat Bitcoin Turun: Diversifikasi Saat Pasar Lesu

    Di Mana Bisa Beli Altcoin Terbaik dengan Utilitas Nyata?

    Semua altcoin yang disebutkan di atas—mulai dari Tron (TRX), Ethena (ENA), AAVE (AAVE), Aribitrum (ARB), hingga Aethir (ATH) dapat kamu beli di Tokocrypto dengan aman dan mudah mulai dari deposit Rp50.000.

    Bagi investor pemula maupun berpengalaman, Tokocrypto menawarkan fitur DCA (Dollar-Cost Averaging) yang memungkinkan kamu membeli aset kripto secara rutin dengan nominal yang sama di waktu tertentu, tanpa perlu khawatir soal fluktuasi harga harian.

    Berikut  langkah-langkah untuk melakukan pembelian dengan DCA di Tokocrypto:

    1. Masuk ke menu “DCA”
    2. Pilih token/koin yang ingin dibeli secara berkala, lalu tekan “Pratinjau Paket”.
    3. Isi nominal jumlah mata uang yang diinginkan untuk membeli token/koin. Minimal pembelian Rp 20.000.
    4. Atur pembelian berkala harian, Mingguan dan pilihan lainnya. Jika sudah selesai, tekan “Berikutnya”.
    5. Setelah sudah dipastikan benar, tekan “Checklist” pada bagian persetujuan dan pilih “Berikutnya” untuk menyimpan pembelian berkala kamu.

    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Altcoin Terbaik untuk Strategi DCA (Dollar Cost Averaging)

    Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) menjadi salah satu cara paling aman dan efektif untuk berinvestasi di aset kripto khususnya altcoin, terutama bagi pemula.

    Namun, tidak semua altcoin cocok untuk strategi ini, karena banyak altcoin yang bahkan dalam jangka waktu tertentu sudah tidak layak lagi untuk dibeli.

    Dalam artikel ini, kita akan membahas tujuh altcoin dengan fundamental kuat, adopsi luas, dan prospek jangka panjang yang ideal untuk DCA: Mulai dari ETH si raja altcoin, hingga PAX Gold stablecoin dengan cadangan emas.

    Apa Itu DCA (Dollar Cost Averaging)?

    Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi investasi di mana kamu membeli aset secara berkala—misalnya mingguan atau bulanan.

    Contoh: Jika kamu memutuskan membeli altcoin senilai Rp500.000 setiap minggu, meskipun harga sedang naik atau turun—atau membeli di setiap harga berada di level tertentu berdasarkan analisa teknikal. Tujuannya adalah mendapatkan harga beli rata-rata dalam jangka panjang.

    Singkatnya, metode Dollar Cost Averaging adalah membeli dengan cara mencicil di setiap level harga tertentu.

    Baca lebih lengkap: Apa Itu Dollar-Cost Averaging (DCA)?

    Apa Kriteria Altcoin yang Cocok untuk DCA (Dollar Cost Averaging)?

    Kriteria altcoin yang cocok untuk Dollar Cost Averaging (DCA)  adalah altcoin yang bisa disimpan dalam jangka panjang, karena dengan melakukan DCA berarti kamu mengakumulasi aset dalam periode waktu tertentu—sehingga pertumbuhan harga yang kamu incar adalah dalam jangka panjang, tidak seperti lump sum (membeli sekaligus) yang mengincar pertumbuhan harga instan.

    Biasa koin dengan potensi jangka panjang adalah koin yang memiliki fundamental kuat, kegunaan yang nyata, dan adopsi yang terus berkembang. Altcoin ini juga tentunya harus sudah terdaftar resmi di Bappebti agar aman secara regulasi.

    Baca juga: 5 Altcoin Terbaik untuk Pemula: Murah, Legal, dan Mudah Dipahami

    Altcoin Terbaik untuk Strategi DCA: ETH, BNB, XRP, ADA, SOL, TRON, hingga PAXGOLD

    Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) cocok diterapkan pada aset kripto yang memiliki ketahanan nilai, fundamental kuat, dan prospek jangka panjang—biasa koin-koin ini ada di urutan tertinggi secara kapitalisasi pasar, berikut beberapa di antaranya.

    1. Ethereum (ETH)

    Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Kamis, 14 Agustus 2025.
    • Fundamental: Blockchain smart contract terbesar di dunia, menjadi pondasi ekosistem banyak ekosistem DeFi, NFT, dan Web3.
    • Adopsi: Dipakai ribuan dApps dan proyek besar, serta terdaftar sebagai kripto dengan ETF approval di Amerika menjadikan investor institusional dapat masuk dengan mudah.
    • Alasan Cocok DCA: Peran vital dalam industri blockchain membuat ETH tetap relevan dalam jangka panjang. Meskipun memiliki suplai token yang tak terbatas, mekanisme token burn dapat membantu menyeimbangkan laju inflasi kedepannya.

    2. Binance Coin (BNB)

    Pergerakan harga Binance Coin (BNB/USDT) pada Kamis, 14 Agustus 2025.
    • Fundamental: Token utama ekosistem Binance, bursa kripto terbesar di dunia.
    • Adopsi: Digunakan untuk membayar biaya transaksi, staking, hingga akses ke berbagai ekosistem yang ada di Binance Smart Chain.
    • Alasan Cocok DCA: Likuiditas tinggi, ekosistem terus berkembang, dan mekanisme token burn mengurangi suplai sehingga berpotensi mendorong harga.

    Baca juga: Fakta di Balik Lonjakan BNB: Mengapa Korporasi Tertarik?

    3. Ripple (XRP)

    Pergerakan harga Ripple (XRP/USDT) pada Kamis, 14 Agustus 2025.
    • Fundamental: Fokus pada transfer uang lintas negara cepat dan murah.
    • Adopsi: Bermitra dengan banyak bank dan institusi keuangan global.
    • Alasan Cocok DCA: Solusi nyata di sektor perbankan, legal clarity semakin kuat, dan meskipun pergerakannya tidak seimpulsif altcoin lain, XRP membuktikan sideways panjang bukan berarti mati.

    Baca juga: Apakah XRP Bisa Tembus $30 di Siklus Bullish Kali Ini?

    4. Cardano (ADA)

    Pergerakan harga Cardano (ADA/USDT) pada Kamis, 14 Agustus 2025.
    • Fundamental: Blockchain proof-of-stake yang efisien dan ramah lingkungan.
    • Adopsi: Digunakan untuk smart contract, DeFi, dan proyek sosial di berbagai negara berkembang.
    • Alasan Cocok DCA: Komunitas aktif, roadmap jelas, dan fokus pada keamanan serta skalabilitas jangka panjang.

    5. Solana (SOL)

    Pergerakan harga Solana (SOL/USDT) pada Kamis, 14 Agustus 2025.
    • Fundamental: Blockchain berkecepatan tinggi dengan biaya transaksi rendah — banyak digunakan sebagai rumah untuk meme coin dan dApps.
    • Adopsi: Populer di sektor DeFi, NFT, dan meme coin. Serta adopsi ETF membuat investor besar bisa masuk dengan mudah.
    • Alasan Cocok DCA: Performa jaringan semakin stabil, ekosistem berkembang pesat, dan digunakan oleh banyak proyek baru.

    6. TRON (TRX)

    Pergerakan harga TRON (TRX/USDT) pada Kamis, 14 Agustus 2025.
    • Fundamental: Salah satu blockchain dengan revenue fee transaksi harian tertinggi — sekitar $90 juta/hari per Agustus 2025, berdasarkan data dari Token Terminal.
    • Adopsi: Memiliki jumlah pengguna aktif harian tinggi, terutama di sektor hiburan dan stablecoin USDT on-chain.
    • Alasan Cocok DCA: Aktivitas jaringan cenderung selalu ramai; menandakan kegunaan yang nyata, biaya transaksi rendah, dan konsisten masuk 20 koin dengan kapitalisasi pasar terbesar.

    7. PAX Gold (PAXG)

    Pergerakan harga PAX Gold (PAXG/USDT) pada Kamis, 14 Agustus 2025.
    • Fundamental: Stablecoin yang didukung 1:1 oleh emas fisik.
    • Adopsi: Digunakan sebagai aset lindung nilai di pasar kripto, selain dollar backed stablecoin.
    • Alasan Cocok DCA: Nilainya stabil mengikuti harga emas dunia, sehingga berfungsi sebagai safe haven saat pasar kripto volatil.

    Baca juga: Apa Itu PAX Gold (PAXG)? gabung Telegram Official Tokocrypto untuk diskusi analisa sinyal harian bersama trader lain.

    Bagaimana Cara Membeli Altcoin dengan Strategi DCA (Dollar Cost Averaging)?

    Semua altcoin yang disebutkan di atas dapat kamu beli di Tokocrypto dengan aman dan mudah — deposit mulai dari Rp50.000.

    Berikut  langkah-langkah untuk melakukan pembelian dengan DCA di Tokocrypto:

    1. Buka Aplikasi Tokocrypto dan masuk ke menu “DCA”
    2. Pilih token/koin yang ingin dibeli secara berkala, lalu tekan “Pratinjau Paket”.
    3. Isi nominal jumlah mata uang yang diinginkan untuk membeli token/koin. Minimal pembelian Rp 20.000.
    4. Atur pembelian berkala harian, Mingguan dan pilihan lainnya. Jika sudah selesai, tekan “Berikutnya”.
    5. Setelah sudah dipastikan benar, tekan “Checklist” pada bagian persetujuan dan pilih “Berikutnya” untuk menyimpan pembelian berkala kamu.

    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Altcoin Terbaik untuk Pemula: Murah, Legal, dan Mudah Dipahami

    Memilih altcoin bukan hanya soal mencari yang harganya terlihat murah. Tapi di samping itu memastikan altcoin tersebut legal, aman, dan punya prospek jangka panjang—juga merupakan hal yang penting. 

    Di Indonesia, aset kripto yang boleh diperdagangkan diatur oleh Bappebti. Dengan mempertimbangkan aspek legalitas tersebut, kamu bisa meminimalkan risiko terjebak proyek ilegal atau penipuan.

    Artikel ini akan membahas 5 contoh altcoin terbaik untuk pemula yang murah, legal, dan mudah dimengerti.

    Tapi sebelum membahas 5 altcoin tersebut, mari kita bahas terlebih dahulu apa yang dimaksud murah dan legal dalam dunia investasi kripto dengan penjelasan di bawah ini yuk!

    Apa Maksud “Murah” dalam Investasi Kripto?

    Banyak pemula berpikir altcoin murah berarti harga per koinnya rendah—misalnya di bawah Rp100 perak, dan menganggapnya punya peluang lebih tinggi untuk naik berkali lipat dibanding dengan altcoin dengan harga yang mencapai ribuan dolar, seperti Ethereum.

    Padahal, harga per koin tidak menentukan potensi kenaikan. Sebab yang lebih penting untuk mengukur murah atau tidaknya altcoin tersebut sebenarnya adalah market cap (kapitalisasi pasar), yaitu:

    Market Cap = Harga Koin × Jumlah Koin Beredar

    Altcoin bisa saja punya harga Rp100 perak per koin, tapi jika market cap-nya sudah sangat besar, tentu membuat ruang pertumbuhannya terbatas. Jika dibandingkan, dengan altcoin yang memiliki harga ratusan ribu namun dengan market cap yang masih rendah.

    Secara sederhana: Murah dalam konteks investasi kripto berarti market cap-nya rendah, bukan sekadar harga per koin yang terlihat kecil.

    Apa yang Dimaksud Altcoin Legal?

    Di Indonesia, altcoin disebut legal jika terdaftar dalam Daftar Aset Kripto yang Diperdagangkan Secara Legal oleh Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi).
    Yang berarti:

    • Altcoin tersebut boleh diperdagangkan di exchange resmi Indonesia, seperti Tokocrypto.
    • Proyek sudah lolos proses evaluasi terkait keamanan, transparansi, dan likuiditas.
    • Investor mendapat perlindungan hukum jika menggunakan bursa kripto yang teregulasi.

    Saat ini ada lebih dari 1000 aset kripto yang masuk daftar legal Bappebti (per April 2025). Jika altcoin tidak ada dalam daftar, maka perdagangan di Indonesia tidak diakui secara hukum dan berisiko tinggi bagi investor. Lihat daftar aset lengkapnya melalui rilis resmi CFX di sini.

    Baca juga: Daftar Aset Kripto Legal Terdaftar Bappebti di Indonesia

    Berikut beberapa contoh altcoin terbaik untuk pemula yang murah, legal dan mudah dipahami kegunaannya!

    Hedera (HBAR)

    Pergerakan harga Hedera (HBAR/USDT) pada Rabu, 13 Agustus 2025.
    • Market Cap: ± $11 miliar
    • Legalitas: Terdaftar di Bappebti
    • Use Case: Platform distributed ledger berbasis teknologi Hashgraph untuk transaksi cepat, aman, dan hemat energi. Digunakan untuk berbagai keperluan seperti pembayaran cepat dan murah, tokenisasi aset digital (seperti properti dan stablecoin), serta mendukung aplikasi terdesentralisasi (DApps) dan kontrak pintar. 
    • Alasan: Didukung oleh Hedera Governing Council yang beranggotakan perusahaan besar seperti Google, IBM, dan Boeing, memberi kepercayaan tinggi pada keberlangsungan proyek.

    Algorand (ALGO)

    Pergerakan harga Algorand (ALGO/USDT) pada Rabu, 13 Agustus 2025.
    • Market Cap: ± $2,3 miliar
    • Legalitas: Terdaftar di Bappebti
    • Use Case: Algorand adalah platform blockchain berbasis Pure Proof-of-Stake (PPoS) yang dirancang untuk efisiensi tinggi, finalitas instan, dan biaya transaksi rendah–dengan kapasitas hingga 10.000 transaksi per detik. Algorand memungkinkan berbagai aplikasi dunia nyata seperti tokenisasi properti secara fraksional (contohnya Lofty), layanan keuangan terdesentralisasi tanpa perantara (seperti Folks Finance), serta solusi identitas digital dan supply chain.
    • Alasan: Teknologi ramah lingkungan, biaya transaksi rendah, dan proyek sering bermitra dengan institusi; contohnya FIFA pada 2022.
    Pergerakan harga Injective Protocol (INJ/USDT) pada Rabu, 13 Agustus 2025.
    • Market Cap: ± $1,5 miliar
    • Legalitas: Terdaftar di Bappebti
    • Use Case: Injective (INJ) adalah blockchain layer-1 yang dirancang khusus untuk aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi). Dengan teknologi interoperable dan kecepatan tinggi (10.000+ TPS), Injective memungkinkan pengembangan DEX, derivatif on-chain, oracle, dan smart contract lintas jaringan seperti Ethereum, Solana, dan Cosmos. Token INJ digunakan untuk staking, governance, dan insentif ekosistem, serta memiliki mekanisme deflasi melalui pembakaran token yang terintegrasi dengan aktivitas jaringan.
    • Kelebihan: Mendukung perdagangan derivatif terdesentralisasi dan integrasi lintas blockchain. Serta didukung oleh mitra besar seperti Google Cloud yang memperkuat ekosistemnya.

    Baca juga: Injective Ungkap Roadmap 2025 dan Inovasi AI dalam AMA Terbaru

    Chainlink (LINK)

    Pergerakan harga Chainlink (LINK/USDT) pada Rabu, 13 Agustus 2025.
    • Market Cap: ± $2,4 miliar
    • Legalitas: Terdaftar di Bappebti
    • Use Case: Oracle network yang menghubungkan data dunia nyata dengan smart contract. Chainlink memungkinkan aplikasi DeFi, NFT, dan asuransi berbasis blockchain untuk berfungsi secara akurat dan aman. Koin sendiri LINK digunakan untuk membayar node yang menyediakan data, serta mendukung fitur seperti verifikasi cadangan aset (Proof of Reserve), angka acak terverifikasi (VRF), dan otomatisasi kontrak pintar.
    • Kelebihan: Menjadi standar industri untuk layanan data DeFi, digunakan di banyak blockchain besar. Serta didukung oleh institusi besar seperti integrasi dari Mastercard, JP Morgan, SWIFT dan Google Cloud membuka peluang besar di dunia DeFi dan tokenisasi aset.

    Baca juga: Enam Alasan Harga Chainlink Bisa di Atas $20 

    Ethena (ENA)

    Pergerakan harga Ethena (ENA/USDT) pada Rabu, 13 Agustus 2025.
    • Market Cap: ± $5 miliar
    • Legalitas: Terdaftar di Bappebti
    • Use Case: Ethena adalah protokol DeFi yang menghadirkan USDe, sebuah “synthetic dollar” yang stabil tanpa bergantung pada bank atau aset fiat. Token ENA digunakan untuk tata kelola protokol dan mendukung ekosistem Ethena Finance, termasuk fitur seperti Internet Bond dan integrasi lintas platform DeFi.
    • Kelebihan: Memberikan solusi likuiditas dengan fokus kestabilan harga dan efisiensi modal. Serta dapat menjadi pilihan Ethereum beta karena sangat berkorelasi dengan pergerakan harga Ethereum—bahkan bisa lebih tinggi secara persentase.

    Baca juga: Ethena (ENA): Protokol DeFi Baru dengan Stablecoin Sintetis USDe atau gabung Telegram Official Tokocrypto untuk diskusi analisa sinyal harian bersama trader lain.

    Di Mana Bisa Membeli Altcoin Terbaik?

    Semua altcoin yang disebutkan di atas dapat kamu beli di Tokocrypto dengan aman dan mudah mulai dari deposit Rp50.000.

    Bagi investor pemula maupun berpengalaman, Tokocrypto menawarkan fitur DCA (Dollar-Cost Averaging) yang memungkinkan kamu membeli aset kripto secara rutin dengan nominal yang sama di waktu tertentu, tanpa perlu khawatir soal fluktuasi harga harian.

    Berikut  langkah-langkah untuk melakukan pembelian dengan DCA di Tokocrypto:

    1. Masuk ke menu “DCA”
    2. Pilih token/koin yang ingin dibeli secara berkala, lalu tekan “Pratinjau Paket”.
    3. Isi nominal jumlah mata uang yang diinginkan untuk membeli token/koin. Minimal pembelian Rp 20.000.
    4. Atur pembelian berkala harian, Mingguan dan pilihan lainnya. Jika sudah selesai, tekan “Berikutnya”.
    5. Setelah sudah dipastikan benar, tekan “Checklist” pada bagian persetujuan dan pilih “Berikutnya” untuk menyimpan pembelian berkala kamu.

    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Altcoin Terbaik 2025: Proyek Potensial yang Wajib Diperhatikan

    Pasar kripto khususnya altcoin kembali bergairan setelah dominasi Bitcoin mengalami penurunan, ke level 60%. Dominasi pasar BTC yang turun ini bisa menjadi sinyal jika para investor besar mulai melirik aset kripto alternatif (altcoin) terbaik dengan harapan imbal hasil yang lebih tinggi.

    Artikel ini akan membahas contoh altcoin potensial yang layak diperhatikan tahun ini, beserta alasan mengapa mereka masuk kategori “terbaik”.

    Contoh Proyek Kripto Potensial 

    1. Ethereum (ETH)

    Ethereum tetap menjadi altcoin nomor satu dengan ekosistem DeFi, NFT, dan dApp yang terus berkembang. Upgrade Ethereum 2.0 dan implementasi scaling solutions membuat transaksi lebih cepat dan murah. Didukung dengan pergerakan harga yang sebelumnya telah menyentuh regression band bawah, Ethereum diprediksi bakal menembus ATH baru tak lama lagi.

    Cek harga terbaru Ethereum dalam Rupiah dan USD di sini → Harga Ethereum Hari Ini

    2. Solana (SOL)

    Solana dikenal karena kecepatannya yang mencapai ribuan transaksi per detik dengan biaya sangat rendah. Jika dibandingkan dengan blockchain lain, Solana punya keunggulan lebih dari sekedar kecepatan, tapi ekosistem meme coin yang menjamur di dalamnya. Dengan semakin diminatinya meme coin dan didukung oleh hype yang tepat, Solana memiliki potensi untuk terus berkembang ke depannya.

    Cek harga terbaru Solana dalam Rupiah dan USD di sini → Harga Solana Hari Ini

    3. Chainlink (LINK)

    Chainlink menyediakan oracle network yang menghubungkan blockchain dengan data off-chain. Dengan meningkatnya kebutuhan integrasi data di DeFi, asuransi, dan supply chain, peran LINK semakin penting. Adopsi yang luas dari berbagai proyek besar menjadikannya kandidat kuat altcoin potensial 2025.

    Cek harga terbaru Chainlink dalam Rupiah dan USD di sini → Harga Solana Hari Ini

    4. Arbitrum (ARB)

    Sebagai salah satu solusi Layer-2 terpopuler untuk Ethereum, Arbitrum menawarkan biaya rendah dan kecepatan tinggi tanpa mengorbankan keamanan. Volume transaksi yang terus meningkat dan proyek DeFi baru yang bermigrasi ke Arbitrum membuatnya patut masuk daftar pantauan 2025.

    Cek harga terbaru Arbitrum dalam Rupiah dan USD di sini → Harga Arbitrum Hari Ini

    5. XRP

    XRP dirancang untuk memfasilitasi transfer uang lintas negara dengan biaya sangat rendah dan waktu transaksi hanya beberapa detik. Kemenangan parsial Ripple dalam kasus hukumnya membuat kepercayaan pasar meningkat, dan banyak institusi mulai kembali mengadopsi XRP untuk pembayaran internasional.

    Cek harga terbaru XRP dalam Rupiah dan USD di sini → Harga XRP Hari Ini

    6. BNB

    BNB adalah token utama ekosistem Binance, digunakan untuk membayar biaya transaksi, akses IEO, hingga ekosistem DeFi dan NFT di BNB Chain. Dengan Binance yang masih duduk sebagai exchange terbesar di dunia, BNB memiliki dukungan ekosistem yang sangat kuat.

    Cek harga terbaru BNB dalam Rupiah dan USD di sini → Harga BNB Hari Ini

    7. Dogecoin (DOGE)

    Dogecoin tetap menjadi meme coin paling ikonik dan masih diminati oleh whales yang membeli saat koreksi harga. Keberlanjutan komunitas dan adopsi institusional membuat DOGE tetap relevan meski pasar meme coin sangat fluktuatif. 

    Cek harga terbaru Dogecoin dalam Rupiah dan USD di sini → Harga DOGE Hari Ini

    8. Ondo Finance (ONDO)

    Ondo merupakan token utilitas dari Ondo Finance, sebuah platform yang menghubungkan dunia keuangan tradisional (TradFi) dengan DeFi. ONDO berperan dalam ekosistem tokenisasi aset nyata seperti obligasi dan treasury AS, memungkinkan investor kripto mengakses instrumen keuangan konvensional dengan transparansi dan efisiensi blockchain. Dengan meningkatnya minat terhadap RWA (Real World Assets), ONDO menjadi salah satu altcoin yang layak diperhatikan di tahun 2025.

    Cek harga terbaru Ondo Finance dalam Rupiah dan USD di sini → Harga ONDO Hari Ini

    9. Pudgy Penguins (PENGU)

    Pudgy Penguins (PENGU) layak diperhatikan bukan hanya karena kenaikan harga singkat, tetapi karena memiliki brand NFT yang kuat, sudah masuk pasar mainstream lewat kerja sama dengan Walmart, membangun ekosistem Web3 seperti Pudgy World, dan didukung komunitas loyal yang aktif. Kombinasi adopsi nyata, utilitas, dan kekuatan komunitas ini memberi PENGU peluang menjadi “blue-chip” di persimpangan NFT, memecoin, dan altcoin pada 2025.

    Cek harga terbaru Pudgy Penguins dalam Rupiah dan USD di sini → Harga PENGU Hari Ini

    Di Mana Bisa Membeli Altcoin Potensial 2025?

    Semua altcoin yang disebutkan di atas—mulai dari Ethereum, Solana, hingga meme coin seperti Dogecoin dan Pengu, dapat kamu beli di Tokocrypto dengan aman dan mudah mulai dari deposit Rp50.000.

    Bagi investor pemula maupun berpengalaman, Tokocrypto menawarkan fitur DCA (Dollar-Cost Averaging) yang memungkinkan kamu membeli aset kripto secara rutin dengan nominal yang sama di waktu tertentu, tanpa perlu khawatir soal fluktuasi harga harian.

    Berikut  langkah-langkah untuk melakukan pembelian dengan DCA di Tokocrypto:

    1. Masuk ke menu “DCA”
    2. Pilih token/koin yang ingin dibeli secara berkala, lalu tekan “Pratinjau Paket”.
    3. Isi nominal jumlah mata uang yang diinginkan untuk membeli token/koin. Minimal pembelian Rp 20.000.
    4. Atur pembelian berkala harian, Mingguan dan pilihan lainnya. Jika sudah selesai, tekan “Berikutnya”.
    5. Setelah sudah dipastikan benar, tekan “Checklist” pada bagian persetujuan dan pilih “Berikutnya” untuk menyimpan pembelian berkala kamu.

    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Altcoin Terbaik dan Bagaimana Cara Menilainya?

    Banyak yang mencari altcoin terbaik karena dapat memberikan return yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan Bitcoin yang dianggap sudah terlalu besar. Tapi apa sebenarnya itu altcoin, altcoin terbaik dan bagaimana cara menilainya? 

    Simak penjelasannya di bawah ini yuk!

    Apa Itu Altcoin?

    Altcoin adalah singkatan dari alternative coin, yaitu semua jenis mata uang kripto selain Bitcoin. Contohnya Ethereum (ETH), Solana (SOL), Ripple (XRP), dan banyak lainnya. Altcoin lahir untuk menawarkan fitur atau inovasi yang tidak dimiliki Bitcoin, seperti kecepatan transaksi lebih tinggi, biaya rendah, atau dukungan untuk smart contract.

    Banyak yang ingin berinvestasi di altcoin karena potensi keuntungan altcoin dianggap bisa jauh lebih tinggi dibanding Bitcoin. Beberapa altcoin bahkan mampu memberikan return ratusan persen dalam waktu singkat—namun tidak juga yang nilainya turun ke nol, karena kurangnya dukungan atau kegagalan proyek.

    Karena potensi keuntungan inilah banyak investor yang mencari altcoin terbaik di tengah semakin banyaknya aset kripto yang diluncurkan setiap harinya.

    Lalu, Apa Itu Altcoin Terbaik?

    Secara sederhana, altcoin terbaik adalah aset kripto selain Bitcoin yang memiliki fundamental kuat, serta didukung oleh hasil analisa teknikal dan sentimen pasar yang mendukung—bukan sekadar yang bisa memberikan kenaikan tinggi dalam waktu singkat.

    Faktor seperti kapitalisasi pasar dan inovasi juga sangat menentukan. Sebab, altcoin dengan kapitalisasi pasar kecil yang memiliki inovasi dan fundamental kuat justru sering kali menjadi pilihan terbaik jika dibandingkan dengan altcoin dengan kapitalisasi pasar besar, namun minim inovasi atau tidak punya arah pengembangan yang jelas, biasanya cenderung sulit memberikan keuntungan signifikan.

    Baca juga: Altcoin Melonjak: Tiga Kategori Kripto yang Menarik Minat Pasar Global

    Bagaimana Cara Menilai Altcoin Terbaik?

    Ada cara yang biasa digunakan oleh para investor kripto untuk menilai altcoin: analisis fundamental, analisis teknikal, dan analisis sentimen pasar.

    1. Analisis Fundamental

    Analisis fundamental bertujuan untuk memahami nilai intrinsik suatu altcoin—apakah aset tersebut undervalued, fair valued, atau overvalued.

    Ada tiga faktor yang bisa kamu gunakan untuk analisis fundamental; faktor proyek, faktor keuangan, dan faktor on-chain.

    Faktor Proyek

    Analisis faktor ini bertujuan untuk menilai potensi aset kripto berdasarkan tujuan dan bagaimana tujuan ini bisa dicapai.

    • Whitepaper: Dokumen inti yang menjelaskan tujuan, teknologi, tim, dan rencana masa depan proyek.
    • Tim Pengembang: Lihat rekam jejak, pengalaman, dan reputasi mereka. Hindari tim yang tidak transparan.
    • Roadmap: Rencana pengembangan teknologi ke depan. Proyek yang serius punya timeline jelas.

    Faktor Keuangan

    Analisis faktor ini bertujuan untuk mengetahui nilai pasar dan daya tarik investasi berdasarkan keuangan proyek.

    • Tokenomics: Distribusi token, mekanisme sirkulasi, kegunaan, dan sistem penciptaan token.
    • Market Capitalization: Kapitalisasi pasar menjadi salah satu penentu apakah harga sudah tinggi atau tidak. Selalu ingat, harga koin murah ≠ kapitalisasi pasar rendah.
    • Trading Volume: Frekuensi jual-beli token. Volume tinggi = minat tinggi dari investor.

    Faktor On-Chain

    Analisis ini bertujuan untuk mengetahui nilai aset berdasarkan kegunaan nyatanya melalui on-chain data.

    • Jumlah Pengguna Aktif: Semakin banyak pengguna aktif, semakin besar adopsi dan potensi pertumbuhan.
    • Jumlah Transaksi: Menunjukkan seberapa sering aset digunakan, bukan hanya disimpan.

    Baca juga: Cara Analisis Fundamental Aset Kripto

    2. Analisis Teknikal

    Analisis teknikal fokus pada pergerakan harga dan volume perdagangan untuk memprediksi tren di masa depan.

    Indikator sederhana yang bisa kamu gunakan digunakan:

    • Moving Average (MA): Melihat tren jangka panjang atau jangka pendek.
    • Relative Strength Index (RSI): Mengukur kondisi overbought atau oversold.
    • Volume perdagangan: Volume tinggi pada saat harga naik bisa menandakan minat beli yang kuat.

    3. Analisis Sentimen Pasar

    Terkadang altcoin dengan fundamental baik seperti roadmap dan use-case yang jelas tidak menjamin bagus, sebut saja seperti koin Doge awalnya hanya sebagai lelucon tapi dengan komunitasnya yang solid berhasil menjadi altcoin dalam kategori meme coin terbesar saat ini.

    Untuk membaca sentimen pasar kamu bisa mempertimbangkan faktor-faktor berikut:

    • Media sosial & komunitas: X, Reddit, dan Telegram bisa memberi gambaran pasar yang sedang terjadi, kamu bisa gunakan tools seperti Santiment dan LunarCrush sebagai pembantu.
    • Berita dan regulasi: Aturan pemerintah atau kebijakan bursa besar seperti listing atau delisting dapat mempengaruhi harga.
    • Indeks Fear & Greed: Kamu bisa gunakan indikator ini untuk mengukur tingkat ketakutan atau keserakahan pasar.

    Baca juga: 5 Cara Analisa Harga Altcoin Tanpa Harus Melihat Chart

    Sudah Menemukan Altcoin Terbaik Versi Kamu? Selanjutnya Apa?

    Jika kamu sudah menemukan altcoin terbaik versi kamu, berdasarkan tiga pendekatan analisis di atas, kamu hanya perlu membeli altcoin tersebut sesuai dengan outlook yang kamu miliki. Tapi ingat, hindari lump sum dan usahakan gunakan pembelian berkala atau dollar cost averaging (DCA), caranya sangat mudah:

    1. Buka aplikasi Tokocrypto dan masuk ke menu “DCA”
    2. Pilih token/koin yang ingin dibeli secara berkala, lalu tekan “Pratinjau Paket”.
    3. Isi nominal jumlah mata uang yang diinginkan untuk membeli token/koin. Minimal pembelian Rp 20.000.
    4. Atur pembelian berkala harian, mingguan dan pilihan lainnya. Jika sudah selesai, tekan “Berikutnya”.
    5. Setelah sudah dipastikan benar, tekan “Checklist” pada bagian persetujuan dan pilih “Berikutnya” untuk menyimpan pembelian berkala kamu.

    Kesimpulan

    Altcoin terbaik adalah mereka yang tidak hanya menjanjikan keuntungan cepat, tetapi juga memiliki fondasi kuat untuk jangka panjang. Dengan memperhatikan fundamental, teknikal, dan sentimen pasar, kamu bisa mengurangi risiko dan meningkatkan peluang menemukan aset kripto yang benar-benar bernilai.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 3 Strategi Buy the Dip Bitcoin yang Bisa Dicoba Saat Pasar Lesu

    Pasar kripto sedang lesu? Justru ini saatnya buy the dip. Dalam kondisi sideways dan minim volatilitas, strategi seperti DCA, analisis RSI oversold, dan pantauan data on-chain bisa jadi senjata ampuh untuk menangkap peluang akumulasi Bitcoin.

    Yuk, simak langsung 3 strateginya yang bisa kamu terapkan!

    Mengapa Momen Pasar Lesu Jadi Peluang Buy the Dip?

    Kondisi pasar yang lesu sering kali dianggap tidak menyenangkan bagi para trader karena pergerakan harganya yang stagnan—hanya memantul antara level support dan level resistance. 

    Tapi dengan memanfaatkan momentum seperti saat harga turun mencapai level support, kamu bisa melakukan buy the dip untuk membeli dan menjualnya saat harga kembali mengunjungi level resistance.

    Baca juga: Apa itu swing Trading dan Bagaimana Cara Swing Trading Crypto?

    Buy the Dip dengan Dollar Cost Averaging (DCA)

    Saat harga lesu dan cenderung sideways, kamu bisa memanfaatkan momen ketika harga mengunjungi level support untuk melakukan pembelian. 

    Alih-alih melakukan pembelian secara serampangan tanpa melihat level support dan resistance, akan lebih baik jika kamu membeli dengan metode DCA (Dollar Cost Averaging) ketika harga menyentuh level support dan jika harga kembali menguji level support berikutnya dalam tren yang masih valid, kamu dapat melakukan buy the dip kembali—contohnya seperti gambar di bawah ini:

    Contoh buy the dip dengan support dan resistance.

    Memanfaatkan level support dan resistance seperti gambar di atas adalah salah satu cara sederhana untuk melakukan buy the dip di saat harga lesu dan sideways. 

    Namun, penting untuk diingat bahwa identifikasi level entry saja tidak cukup. Kamu juga perlu menerapkan manajemen risiko yang disiplin, seperti penggunaan stop-loss di bawah area support, guna melindungi modal dari potensi breakdown.

    Baca juga: Apa Itu Buy the Dip dalam Trading Bitcoin? Panduan untuk Pemula

    Buy the Dip di Area RSI Oversold

    Kamu bisa menggunakan indikator seperti RSI (Relative Strength Index) untuk mencari kondisi jenuh jual (oversold)

    Caranya dengan memperhatikan indikator RSI, jika RSI berada di bawah 30 dan harga mendekati level support historis, itu bisa jadi momen tepat untuk mulai beli bertahap.

    Contoh RSI sebagai indikator buy the dip.

    Nah terlihat dari gambar di atas, setiap RSI kurang lebih menyentuh angka 30 dan bertepatan dengan level support—harga cenderung memantul dari ‘dip’-nya.

    Jadi jika kamu sebelumnya hanya memanfaatkan level support dan resistance untuk membeli, kamu juga bisa tambahkan indikator RSI sebagai pendukung. Jika kamu menggunakan aplikasi Tokocrypto, cara untuk aktifkannya sangat mudah:

    1. Buka aplikasi Tokocrypto dan masuk menu ‘Pasar’
    2. Cari aset kripto — contoh: BTC/USDT
    3. Pilih ‘RSI’ pada bagian bawah chart harga
    4. Amati saat RSI turun ke bawah angka 30 yang menandakan kondisi oversold
    5. Tunggu konfirmasi pembalikan arah

    Baca juga: Apakah Itu Stochastic RSI?

    Buy the Dip Berdasarkan Data On-Chain

    Whale, sebutan untuk pemilik aset kripto dengan jumlah besar—seringkali membeli dalam jumlah besar saat pasar lesu. Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan melihat pergerakan transfer dari exchange ke dompet pribadi.

    Karena kripto bersifat transparan, kamu dapat melihat dengan jelas transaksi pengiriman Bitcoin dari exchange ke dompet pribadi (outflow). Jika banyak Bitcoin yang keluar dari exchange ke dompet pribadi, itu tanda bahwa investor mulai mengakumulasi karena mereka percaya dengan pergerakan harga ke depannya.

    Namun jika banyak transaksi yang menunjukkan banyak Bitcoin yang dikirimkan ke exchange (inflow), bisa jadi tekanan jual akan meningkat. 

    Berikut contoh indikator untuk mengetahui banyaknya Bitcoin yang keluar dari exchange ke dompet pribadi (outflow):

    Data Bitcoin outfolow. Sumber data: CryptoQuant.

    Terlihat beberapa spike outflow dari exchange ke dompet pribadi ketika harga mengalami penurunan saat sideways dan diikuti oleh kenaikan harga setelahnya.

    Baca juga: Tips Deteksi Pergerakan Whale Lewat Volume dan Aktivitas Dompet

    Tips: Gunakan Fitur 0% Biaya Trading Ketika Buy the Dip

    Setelah kamu mengetahui strategi untuk buy the dip, agar makin untung kamu bisa gunakan fitur Beli/Jual yang ada di aplikasi Tokocrypto untuk pembelian yang cepat dengan 0% biaya trading.

    Cara untuk gunakan fiturnya gampang:

    1. Buka aplikasi Tokocrypto dan login ke akun Tokocrypto kamu dan lakukan deposit dengan minimal Rp50.000.
    2. Kemudian pilih menu “0 Fee”.
    3. Pada halaman Beli/Jual, pilih Dari dengan “IDR” dan Ke dengan “Bitcoin”.
    4. Masukkan jumlah pembelian.
    5. Klik “Pratinjau Konversi”.

    Nah, gampang banget bukan? Jangan lupa buat gabung juga di Telegram Official Tokocrypto untuk diskusi analisa sinyal harian bersama trader lain.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Kapan Waktu Terbaik untuk Buy the Dip Saat Harga Bitcoin Turun?

    Meskipun terdengar sederhana, nyatanya strategi buy the dip tidak semudah yang dibayangkan. Salah membeli di saat pasar harga bearish misalnya, bisa terjebak dalam tren harga yang terus menurun.

    Artikel ini akan membahas kapan waktu terbaik untuk buy the dip saat harga Bitcoin turun, kenapa tidak semua penurunan layak dibeli, dan tentu saja, bagaimana cara menentukan waktu terbaik untuk masuk pasar saat Bitcoin sedang ‘dip’.

    Kapan Waktu Terbaik untuk Buy the Dip?

    Membeli saat terjadi penurunan atau buy the dip tidak berarti kamu langsung membeli tanpa memperhatikan indikator lain seperti teknikal dan berita yang sedang menjadi narasi dominan.

    Waktu terbaik buy the dip adalah ketika harga turun dalam konteks koreksi — namun, masih bullish dalam time frame yang besar. Sebab, koreksi biasanya terjadi dalam tren naik, dan harga turun sementara sebelum kembali melanjutkan kenaikan.

    Jika harga sedang dalam tren (bearish), melakukan buy the dip justru bisa membuat posisi trading kamu terjebak dalam posisi rugi (floating loss: kerugian sementara yang belum terealisasi) karena karena dalam time frame jangka panjang harga terus mengalami penurunan.

    Baca juga: Apa Itu Buy the Dip dalam Trading Bitcoin? Panduan untuk Pemula

    Buy the Dip ≠ Asal Beli Waktu Koreksi

    Banyak pemula salah kaprah dalam memahami strategi Buy the Dip dan mengira bahwa selama harga turun — bahkan hanya 2–3% itu artinya saat yang tepat untuk membeli. Padahal, tidak semua penurunan adalah “dip” yang ideal.

    Sebelum membeli kamu perlu mengetahui kondisi pasar secara keseluruhan dan melakukan analisa baik secara teknikal atau fundamental. Tanpa analisa ini kamu bisa saja malah membeli di tengah penurunan yang lebih dalam atau bahkan di awal fase bear market.

    Cobalah mulai dengan pertanyaan-pertanyaan seperti di bawah ini sebelum melakukan pembelian:

    • Apakah penurunan ini wajar dan hanya sekadar koreksi sehat?
    • Apakah ini hasil dari panic sell jangka pendek atau dapat menjadi penurunan jangka panjang?
    • Apakah ada tanda-tanda bahwa pasar akan pulih, atau justru akan semakin tertekan?
    • Apa yang menyebabkan penurunan?
    • Apakah secara time frame besar harga mengalami kenaikan?
    • Apakah kamu punya rencana entry, exit, dan stop loss yang matang?
    • Serta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berkaitan dengan fundamental, berita, dan teknikal.

    Indikator untuk Menentukan Waktu Buy the Dip 

    Saat harga Bitcoin turun, tidak semua penurunan layak dibeli. Berikut indikator sederhana yang bisa membantu kamu menentukan waktu terbaik:

    1. RSI (Relative Strength Index) di Bawah 30

    RSI mengukur kekuatan momentum harga. Jika RSI Bitcoin berada di bawah 30, ini menandakan kondisi oversold—sinyal untuk potensi rebound.

    2. Area Level Support

    Cek grafik pergerakan harga dan identifikasi zona support historis. Jika harga menyentuh titik ini dan mulai membentuk pola pantulan (reversal), itu bisa jadi momen strategis untuk buy the dip.

    3. Moving Average

    Indikator MA bisa kamu gunakan membantu kamu menentukan waktu buy the dip, contohnya ketika harga Bitcoin terkoreksi menyentuh garis MA200, sering dianggap undervalued dan pas untuk buy the dip.

    4. Fear and Greed Index

    Sentimen pasar mencerminkan suasana hati kolektif investor, apakah mereka sedang merasa optimistis (greedy) atau pesimistis (fearful). Momen fear yang didukung dengan analisa teknikal, bisa jadi momen buy the dip.

    Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Indikator Relative Strength Index (RSI) atau Dasar-Dasar Konsep Level Support dan Resistance

    3 Momen yang Pas untuk Buy the Dip

    1. Saat Terjadi Panic Selling

    Saat pasar panik dan harga aset jatuh drastis, banyak investor menjual karena ketakutan, bukan karena analisis. Tapi justru di momen seperti ini, banyak orang menjual dengan harga undervalued—jangan lupa gunakan indikator seperti RSI, EMA, atau Fibonacci untuk mengidentifikasi titik masuk yang ideal.

    2. Di Fase Konsolidasi Setelah Dump Besar

    Setelah penurunan ekstrem, harga biasanya masuk fase tenang (sideways). Ini waktu yang bagus untuk mulai membeli bertahap menggunakan strategi DCA (Dollar-Cost Averaging).

    3. Setelah Konfirmasi Reversal

    Alih-alih menebak dan mencoba membeli di harga bottom, tunggu sinyal konfirmasi—seperti candlestick bullish engulfing, breakout dari zona resistance kecil, atau kenaikan RSI. Ini lebih aman daripada menebak dip yang ternyata masih turun lagi.

    Tools dan Aplikasi yang Kamu Gunakan untuk Buy the Dip

    Tools Kegunaan
    Tokocrypto Fitur alert harga dan beli dengan 0% trading fee
    CoinMarketCap Data harga dan volume pasar
    Whale Alert Update terbaru dari pergerakan whale
    TradingView Analisa teknikal lengkap dan indikator kustom
    CoinGlass Pantau sentimen melalui Fear & Greed Index

    Baca juga: Cara Mudah Implementasi AI Trading dengan ChatGPT dan Incite AI untuk Pemula

    Tips Tambahan untuk Buy the Dip

    • Jangan pakai seluruh modal sekaligus, usahakan beli bertahap saat harga terus turun dengan metode DCA.
    • Pakai alert otomatis, seperti yang ada di aplikasi Tokocrypto agar kamu tidak melewatkan momen penting.
    • Gabungkan analisa teknikal dan sentimen dan jangan hanya mengandalkan satu pendekatan.
    • Tentukan level cut loss, jangan terbawa emosi dan berharap harga akan pulih selalu.
    • Gunakan fitur seperti Beli/Jual di Tokocrypto yang memungkinkan kamu transaksi kripto instan dengan 0% biaya trading.
    Klik gambar untuk mulai investasi dengan deposit mulai dari Rp50.000!

    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Buy the Dip dalam Trading Bitcoin? Panduan untuk Pemula

    Pernah dengar istilah buy the dip tapi belum mengerti apa maksudnya? Berikut penjelasan dan contoh dari buy the dip yang bisa kamu lakukan, terutama untuk pemula.

    Apa itu Buy the Dip?

    Buy the Dip adalah ketika kamu melakukan pembelian aset investasi disaat harga mengalami penurunan yang cukup tajam, dengan tujuan mengantisipasi adanya pembalikan harga sehingga pembelian tadi bisa jadi profit.

    Gambar contoh buy the dip di pasar bullish.

    Membeli dengan strategi buy the dip disaat harga mengalami penurunan dapat menguntungkan, jika secara jangka panjang aset tersebut mengalami kenaikan positif (bullish).

    Namun, strategi buy the dip ini juga bisa merugikan jika secara jangka panjang performa aset tersebut mengalami penurunan (bearish).

    Gambar contoh buy the dip di pasar bearish.

    Nah dari kedua skenario diatas sudah tahu kan, kapan waktu yang cocok untuk menggunakan strategi buy the dip? Yakni saat harga aset mengalami kenaikan dalam jangka panjang atau saat pasar sedang bullish.

    Baca juga: BTC vs ETH: Mana yang Lebih Baik untuk Investasi Kripto Pertama?

    Mengapa Banyak Trader Menggunakan Strategi Ini?

    Optimisme terhadap pertumbuhan jangka panjang: Banyak orang percaya bahwa harga Bitcoin akan terus naik dalam jangka panjang.

    Psikologi pasar: Ketika harga turun tajam, trading yang yakin dengan potensi jangka panjang melihatnya sebagai momen ‘diskon’.

    Tren historis: Secara historis, Bitcoin sering kali mengalami pemulihan yang signifikan setelah penurunan drastis.

    Baca juga: Intip 4 Strategi AI Trading Crypto yang Bisa Dicoba!

    Bagaimana Cara untuk ‘Buy the Dip’ di Bitcoin

    Untuk menerapkan strategi ini, kamu tidak bisa hanya mengandalkan insting. Kamu perlu memahami pergerakan harga, analisis teknikal, dan berita pasar.

    Menganalisis Grafik Harga Bitcoin

    Grafik adalah sahabat terbaik trader. Kamu bisa melihat support dan resistance, mengenali pola penurunan yang wajar atau justru tanda-tanda tren bearish panjang. Pengetahuan ini membantu kamu menghindari membeli terlalu cepat.

    Menggunakan Indikator Teknikal

    Selain support dan resistance, kamu bisa menggunakan indikator teknikal seperti RSI, MA, bollinger bands, dan indikator teknikal lainnya yang bisa memberikan gambaran lebih lengkap sebelum memutuskan untuk beli saat harga turun.

    Sentimen Pasar

    Sentimen pasar mencerminkan suasana hati kolektif investor, apakah mereka sedang merasa optimistis (greedy) atau pesimistis (fearful). Momen fear yang didukung dengan analisa teknikal, bisa jadi momen buy the dip.

    Contoh Buy the Dip dengan Relative Strength Index

    Mari kita bayangkan kamu sedang memantau pergerakan harga Bitcoin, dan kamu tertarik membeli saat terjadi koreksi. Untuk menentukan apakah saat itu adalah “dip” yang ideal, kamu bisa menggunakan RSI sebagai panduan seperti gambar di bawah ini:

    Gambar contoh buy the dip dengan RSI.

    Nah jika dilihat dari contoh grafik harga di atas, RSI bisa kamu jadikan panduan untuk buy the dip. Sebab, setiap kali RSI menyentuh <30 harga terbilang mengalami jenuh jual (over sold) sehingga berpotensi mengalami kenaikan dalam jangka panjang.

    Bagaimana Tampilkan Relative Strength Index (RSI) di Aplikasi Tokocrypto?

    1. Buka aplikasi Tokocrypto dan masuk menu ‘Pasar’
    2. Cari aset kripto — contoh: BTC/USDT
    3. Pilih ‘RSI’ pada bagian bawah chart harga
    4. Amati saat RSI turun ke bawah angka 30 yang menandakan kondisi oversold
    5. Tunggu konfirmasi pembalikan arah

    Baca juga: Dampak Berita Terhadap Pergerakan Harga ETH: Penyebab dan Contoh Kasus

    Risiko yang Perlu Diketahui Pemula Saat Buy the Dip

    Buy the dip bukan tanpa risiko, pola seperti False Dip dan Dead Cat Bounce bisa saja terjadi lho!

    • False Dip: Penurunan harga sementara yang diikuti oleh penurunan lebih dalam lagi.
    • Dead Cat Bounce: Pemulihan kecil yang menipu sebelum tren turun berlanjut.

    Baca juga: Ketahui Cara Mengenali Dead Cat Bounce dan Penyebabnya

    Tips Buy the Dip yang Aman dan Efektif untuk Pemula

    Agar strategi ini tidak jadi bumerang, berikut dua tips yang bisa kamu pertimbangkan:

    Dollar-Cost Averaging (DCA)

    Daripada membeli dalam jumlah besar sekaligus, belilah Bitcoin secara bertahap. Ini membantu mengurangi risiko membeli di titik puncak dan membuat kamu tetap konsisten berinvestasi.

    Kamu bisa gunakan fitur DCA dengan beberapa langkah mudah di aplikasi atau beli dengan fitur 0% trading fee di Tokocrypto.

    Klik gambar untuk mulai investasi dengan 0% biaya trading dan deposit mulai dari Rp50.000!

    Tentukan Batas Risiko

    Untuk menghindari kerugian yang semakin dalam karena harga yang terus menurun saat kamu melakukan buy the dip, tentukan batas risiko seperti cut loss untuk memposisikanmasuk ulang setelah harga benar-benar siap untuk memantul.

    Pantau Berita dan Faktor Fundamental Bitcoin

    Pastikan penurunan harga tidak disebabkan oleh perubahan besar dan hanya disebabkan oleh sentimen sementara.

    FAQ Seputar Strategi Buy the Dip

    1. Apakah strategi Buy the Dip bisa untuk jangka pendek?
    Strategi buy the dip bisa kamu gunakan untuk jangka pendek dan jangka panjang dengan memanfaatkan pantulan harga.

    2. Apa indikator terbaik untuk mendeteksi “dip”?
    RSI, Moving Average, dan Fear & Greed Index bisa membantu. Tapi tetap perlu mempertimbangkan konteks berita dan sentimen pasar.

    3. Apakah saya harus menunggu penurunan besar baru membeli?
    Tidak selalu. Semua kembali lagi pada analisa yang kamu miliki.

    4. Buy the Dip bisa gagal?
    Bisa. Terutama jika harga terus turun atau ada perubahan fundamental besar. Karena itu penting tidak all-in dalam satu waktu dan lakukan DCA.

    5. Strategi ini cocok untuk pemula?
    Cocok, jika dilakukan dengan analisa pasar dan disertai strategi DCA.

    6. Apakah harus selalu membeli saat Fear Index rendah?
    Tidak harus, tapi Fear Index bisa membantu menilai psikologi pasar dan mencari peluang beli.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Cara Analisa Harga Ethereum Tanpa Harus Melihat Chart

    Banyak pemula mungkin masih bingung dalam memantau grafik harga harian (chart) untuk memahami pergerakan harga Ethereum—seperti; apakah sekarang yang tepat untuk beli, hold, atau jual.

    Tapi tidak usah khawatir, dengan lima cara di bawah ini kamu dapat memahami apakah harga Ethereum sekarang layak untuk dibeli atau tidak, tanpa harus melihat dan menganalisis grafik harga harian Ethereum.

    Simak lima cara beserta situs yang bisa kamu gunakan di bawah ini.

    Fear and Greed Index

    Gambar indikator fear and greed index.

    Fear and Greed Index adalah indikator sederhana yang mengukur sentimen pasar secara keseluruhan.

    Fear (ketakutan) → Menunjukkan banyak investor merasa panik, sehingga harga cenderung rendah. Ini bisa menjadi peluang beli.

    Greed (keserakahan) → Menandakan banyak investor terlalu optimis, sehingga harga bisa berada di puncaknya dan rawan koreksi.

    Indeks ini dikalkulasi berdasarkan volatilitas pasar, volume perdagangan, media sosial, dan tren pencarian di internet.

    Dengan melihat Fear and Greed Index, kamu bisa menghindari keputusan emosional seperti FOMO (takut ketinggalan) atau panik saat harga turun—jika dilihat dari kolerasi harga pada gambar di atas, kamu dapat mempertimbangkan strategi seperti; membeli saat index menunjukkan extreme fear dan menjual saat extreme greed.

    Saat melakukan pembelian jangan lupa gunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dan hindari pembelian langsung dalam satu transaksi, untuk mendapatkan harga Ethereum terbaik, kamu bisa manfaatkan biaya trading 0% dengan menggunakan fitur Beli/Jual di aplikasi Tokocrypto.

    Klik gambar untuk mulai investasi dengan 0% biaya trading dan deposit mulai dari Rp50.000!

    Akses data fear and greed index terkini melalui situs seperti CFGI Ethereum Fear and Greed Index atau CoinMarketCap untuk index pasar kripto secara umum.

    Skala Harga Ethereum dalam Rainbow Logarithmic

    Gambar harga Ethereum dalam Rainbow Logarithmic hari ini.

    Salah satu cara sederhana namun informatif untuk memahami harga Ethereum adalah dengan menggunakan Rainbow Logarithmic Chart. Bagi investor jangka panjang, indikator ini bisa menjadi panduan visual yang mudah dimengerti untuk melihat nilai harga Ethereum sekarang dibanding tren historisnya—serta membantu melihat tren jangka panjang secara lebih jelas tanpa terlalu fokus pada fluktuasi harian.

    Indikator ini menampilkan harga Ethereum dalam skala logaritmik dengan warna-warna “pelangi”  pada grafik yang memberi indikasi apakah ETH berada di zona undervalued (harga murah), fair value (harga wajar), atau overvalued (harga mahal).

    Analisanya cukup mudah; warna oranye-merah mengindikasikan harga overlalued dan warna biru-hijau mengindikasikan harga undervalued.

    Untuk mengaksesnya kamu bisa menggunakan situs seperti Ethereum Rainbow Chart dari Blockchain Center.

    Baca juga: Harga ETH Hari Ini Menurut Logarithmic Regression Bands

    Aktivitas ETF Ethereum

    Gambar aliran modal pasar ETF Ethereum.

    Dengan disetujuinya ETF Ethereum di pasar Amerika, banyak institusi besar bisa mulai masuk dalam investasi Ethereum. Dana besar yang mengalir ke ETF sering menjadi sinyal positif bagi harga ETH karena permintaan naik secara signifikan—saat pasar koreksi namun aliran modal ETF tinggi misalnya; bisa berarti institusi besar sedang melakukan akumulasi. 

    Sebaliknya, jika banyak investor menarik dana dari ETF Ethereum saat harga bullish, ini berarti tanda jika institusi besar sedang melakukan distribusi atau tanda melemahnya sentimen pasar.

    Data mengenai arus masuk dan keluar modal ETF Ethereum dapat dipantau melalui laporan resmi dari penyedia ETF atau situs analisis pasar kripto seperti Dune atau CoinGlass.

    Baca juga: Apa Itu ETF Ethereum? atau lihat harga Ethereum terbaru hari ini dalam kurs rupiah di sini.

    Sentimen Pasar dari Media Sosial dan Komunitas

    Gambar kesepuruhan sentimen pasar Ethereum hari ini (pojok kanan atas).

    Sentimen pasar sangat berpengaruh pada harga Ethereum. Banyak investor kripto yang mengambil keputusan berdasarkan tren pembicaraan di media sosial seperti X (Twitter), Reddit, atau YouTube.

    Jika semakin banyak influencer dan komunitas membicarakan Ethereum secara positif, minat beli bisa meningkat sehingga harga terdorong naik. Sebaliknya, jika ada banyak berita negatif, sentimen pasar bisa menjadi bearish.

    Beberapa situs seperti Santiment dan LunarCrush dapat kamu gunakan sebagai indikator sentimen yang bisa membantu memahami suasana hati pasar.

    Baca juga: Cara Analisis Fundamental Crypto untuk Pemula

    Analisis On‑Chain Metrics

    Gambar on-chain data Ethereum hari ini.

    Analisis on‑chain melihat aktivitas dan tren langsung dari blockchain Ethereum itu sendiri, seperti: berapa banyak ETH yang staking, pendapatan dari gas fee, berapa ETH yang dibakar setiap harinya, hingga akumulasi pemegang ETH baru.

    Dengan memantaui metriks yang ada di dalam jaringan Ethereum ini kamu bisa mengetahui bagaimana keadaan kesehatan jaringan, sehingga kamu bisa menentukan seberapa besar nilai intrinsik dari Ethereum itu sendiri.

    Untuk mengatahui soal metriks on-chain ini bisa mengakses langsung situs seperti TheBlock atau ultrasound.money untuk mengetahui perihal suplai yang bertambah setiap harinya, gas fee, dan laju ETH yang dibakar.

    Baca juga: Tips Deteksi Pergerakan Whale Lewat Volume dan Aktivitas Dompet

    Kesimpulan

    Kelima pendekatan ini dapat memberikan memberikan cara baru untuk memahami pergerakan harga Ethereum. Masing‑masing melengkapi satu sama lain:

    • Gunakan Fear and Greed Index untuk memahami sentimen pasar.
    • Cek Rainbow Chart untuk tahu ETH murah atau mahal.
    • Pantau aliran dana ETF sebagai sinyal akumulasi atau distribusi institusi.
    • Ikuti tren sosial media dan pencarian untuk deteksi hype atau penurunan minat.
    • Gunakan on-chain metrics seperti volume transaksi, jumlah wallet aktif, dan aktivitas smart contract untuk melihat kesehatan jaringan.

    Cara-cara ini akan lebih baik jika kamu gabungkan dengan analisa teknikal, sehingga kamu bisa membuat keputusan trading atau investasi ETH yang terukur dan berbasis data.

    Mau dapatkan sinyal analisa harga langsung setiap harinya? Yuk gabung komunitas Tokocrypto dan dapatkan sinyal trading harian sekaligus dikusi dengan ribuan trader lainnya!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 6 Risiko Trading Ethereum dan Cara untuk Mengurangi Risikonya

    Dengan semakin banyaknya adopsi teknologi Ethereum oleh institusi besar, aktivitas trading Ethereum juga semakin populer. Namun, seperti instrumen investasi lainnya, aktivitas ini juga memiliki risiko yang perlu dipahami agar tidak terjebak pada kerugian besar. 

    Di bawah ini, kita akan membahas risiko-risiko utama yang sering dihadapi trader Ethereum beserta cara untuk meminimalkan risikonya.

    Baca juga: Harga ETH Hari Ini Menurut Logarithmic Regression Bands

    Risiko Volatilitas Harga

    Jika kamu terbiasa melihat pergerakan harga saham, emas, atau forex—tentu kamu akan sedikit kaget jika melihat pergerakan harga pasar kripto, termasuk Ethereum. Pergerakan harga Ethereum bisa naik atau turun dengan cepat bahkan, bukan hal aneh lagi jika harga Ethereum naik/turun lebih dari 35% dalam satu hari.

    Tingginya volatilitas ini membuat trader berpotensi mendapatkan potensi keuntungan besar, tetapi juga risiko kerugian yang sama besarnya.

    Cara Mengurangi Risiko:

    Gunakan strategi manajemen risiko seperti stop loss dan hindari melakukan pembelian sekaligus dalam satu transaksi (lump sum), gunakan strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) saat masuk atau keluar pasar. Kamu bisa gunakan fitur DCA yang ada di aplikasi Tokocrypto untuk mempermudah setiap transaksi.

    Baca juga: Cara Menggunakan Stop-loss  Trading di Aplikasi Tokocrypto dengan Limit, Stop-Limit, OCO, dan Beli/Jual atau gabung Telegram Official Tokocrypto untuk diskusi analisa sinyal harian bersama trader lain.

    Risiko Harga yang Mengikuti Tren Pasar

    Ethereum memang memiliki ekosistem dan nilai fundamentalnya sendiri—namun dalam praktiknya, harga ETH sering bergerak sejalan dengan siklus besar pasar kripto yang bersifat 4 tahunan. Siklus ini umumnya dipicu oleh Bitcoin halving, karena dominasi Bitcoin di pasar kripto ini, dampaknya sering ikut dirasakan oleh Ethereum. Misalnya ketika momentum harga Ethereum sedang bullish tapi Bitcoin mengalami koreksi, momentum harga tersebut bisa saja hilang dan berubah menjadi momentum bearish.

    Cara Mengurangi Risiko:
    Pantau terus pergerakan Bitcoin dan dominasi Bitcoin (BTC.D) dengan begitu kamu bisa memperkirakan seberapa besar pengaruh Bitcoin terhadap pergerakan harga Ethereum.

    Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Bitcoin Dominance?

    Risiko Emosi dan Psikologi

    Risiko emosi dan psikologi menjadi salah satu hal yang paling sulit untuk dikendalikan saat trading—pergerakan harga Ethereum yang sering kali naik dengan cepat tak jarang membuat para trader menjadi FOMO (Fear of Missing Out) dan mengesampingkan analisis data, hingga akhirnya membuat mereka membeli di harga tinggi dan mengalami kerugian.

    Cara Mengurangi Risiko:
    Buat rencana trading yang jelas, tetapkan target keuntungan dan batas kerugian sejak awal, serta hindari melakukan transaksi saat emosi tidak stabil.

    Baca juga: Mengenal FOMO di Investasi Aset Kripto dan Cara Menghindarinya

    Risiko Regulasi Global

    Mirip seperti butterfly effect—Satu regulasi merugikan pasar kripto di Amerika bisa membuat para trader di seluruh dunia mengalami kerugian. Hal ini disebabkan oleh pasar kripto yang bersifat global, sehingga regulasi dari negara-negara besar seperti Amerika, China, atau Eropa bisa mempengaruhi pergerakan harga aset kripto.

    Cara Mengurangi Risiko:
    Selalu ikuti perkembangan regulasi pasar kripto terutama di negara seperti Amerika dan jangan lupa untuk gunakan exchange yang telah teregulasi resmi dan diawasi oleh OJK seperti Tokocrypto.

    Baca juga: Pengaruh Pergerakan Dolar AS terhadap Pasar Crypto atau Dampak Berita Terhadap Pergerakan Harga ETH: Penyebab dan Contoh Kasus

    Risiko Manipulasi Pasar

    Bukan hanya di pasar saham, risiko manipulasi pasar juga ada di pasar kripto seperti Ethereum. Aktivitas seperti pump and dump, perdagangan dengan volume palsu, atau aksi whale (pemilik aset besar) bisa mempengaruhi harga Ethereum secara tidak wajar.

    Cara Mengurangi Risiko:
    Jangan mudah terbawa euforia saat harga melonjak tiba-tiba—karena aset kripto bersifat transparan, kamu bisa melihat pergerakan whale atau bandar besar lainnya melalui on-chain data.

    Baca juga: Tips Deteksi Pergerakan Whale Melalui Volume dan Data On-Chain

    Risiko Sentimen Pasar

    Pergerakan harga Ethereum sering kali dilatarbelakangi oleh sentimen dan narasi yang sedang mendominasi di media sosial. Berita, cuitan influencer, regulasi baru, atau kondisi pasar global didukung oleh sentimen pasar yang tengah dominan di saat itu bisa membuat harga Ethereum naik atau turun dengan cepat.

    Cara Mengurangi Risiko:
    Pantau terus sentimen yang ada di media sosial dan miliki rencana trading jangka panjang, agar fluktuasi harga akibat sentimen jangka pendek tidak terlalu mempengaruhi keputusanmu.

    Baca juga: Analisis Sentimen Media Sosial dengan Lunar Crush dan Santiment

    Siap untuk Trading Ethereum?

    Jika kamu sudah memahami risikonya dan cara menguranginya, langkah berikutnya adalah memulai trading dengan menggunakan exchange yang terpercaya seperti Tokocrypto.

    Untuk memulai trading, kamu tidak harus memiliki modal yang besar—cukup dengan modal awal minimal Rp50.000 kamu sudah bisa belajar investasi dan trading Ethereum.

    Klik gambar untuk mulai investasi dengan 0% biaya trading di Tokocrypto.

    Ikuti beberapa langkah berikut untuk mulai trading Ethereum tanpa biaya trading di Tokocrypto:

    1. Unduh aplikasi Tokocrypto di Play Store atau Apps Store.
    2. Buat akun dan lakukan verifikasi KYC sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
    3. Deposit saldo investasi via Bank, Virtual Account, atau E-Wallet.
    4. Masuk menu “Jual/Beli” dan pilih dari “IDR” ke “Ethereum”.
    5. Kemudian masukkan nominal pembelian.

    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

    Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com