Tag Archives: rasulullah saw

4 Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah, Termasuk Bangun Masjid



Jakarta

Periode dakwah Rasulullah SAW terbagi menjadi dua periode yakni Makkah dan Madinah. Selama di Madinah, ada strategi dakwah yang dilancarkan Rasulullah SAW.

Sejatinya, Rasulullah SAW melakukan hijrah ke Madinah dilandasi dengan beberapa alasan. Salah satunya adalah bahwa penduduk Madinah lebih terbuka terhadap Islam.

Namun, dengan keterbukaan ini tidak serta-merta membuat dakwah Rasulullah SAW berjalan mudah yang membuat Rasulullah SAW harus melancarkan sejumlah strategi. Dikutip melalui buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas X karya Abu Achmadi dan Sungars berikut ini merupakan strategi dakwah Rasulullah di Madinah.


4 Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah

1. Mempersatukan Dua Umat

Mempersatukan dua umat yang penting pada awal masa hijrah yaitu Kaum Muhajirin dengan Kaum Anshar. Hal ini dilakukan agar kedua umat ini dapat terikat dengan kuat dan tidak ada unsur kesukuan kecuali atas nama Islam semata.

2. Mengembangkan Pendidikan

Mengembangkan pendidikan dan akar dakwah. Dalam melakukan strategi dakwah, Rasulullah SAW membutuhkan orang-orang yang juga pandai membaca dan menulis.

Selain itu, diperlukan pemahaman juga oleh orang-orang tersebut akan agama Islam itu sendiri. Oleh karena itu, dibuatlah beberapa rincian dalam strategi ini, yaitu:

  • Menggunakan orang-orang yang pandai membaca dan menulis. hal ini dilakukan untuk produksi dan penyebaran ayat-ayat Al-Qur’an dengan cepat.
  • Menyebarkan Islam yang dilandasi ajaran dunia seperti hukum, ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan yang berlandaskan ayat-ayat Al-Qur’an
  • Rasulullah menjadi suri tauladan dengan menjadi Al-Qur’an berjalan. Artinya, setiap pelajaran langsung dapat diambil dari perilaku dan keteladanan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Hal ini membuat dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW dapat masuk ke hati masyarakat nonmuslim dengan cepat dan damai.

3. Membangun Masjid

Masjid menjadi objek vital bagi penyebaran islam oleh Rasulullah SAW. Hal inilah yang juga menjadi perhatian baginya saat berdakwah di Madinah.

Rasulullah SAW mendirikan masjid di atas tanah tempat penjemuran kurma milik Sahal bin Suhail bin Amr. Tujuan membangun masjid ini adalah sebagai tempat ibadah, pendidikan, berunding, konsultasi masyarakat, dan pembahasan strategi dakwah.

4. Bangun Kekuatan Politik

Rasulullah SAW berani dan bisa menyatukan golongan Yahudi dari berbagai bani, yaitu Bani Qainuqa, bani Quraidah, dan Bani Nadir. Rasulullah SAW membentuk perjanjian yang membuat kerukunan dan fungsi masyarakat Madinah secara umum tetap berjalan.

Sebagai informasi tambahan, berikut adalah inti dari isi perjanjian yang dikenal sebagai Piagam Madinah.

a. Kaum Yahudi bersama muslim wajib turut serta dalam peperangan untuk mempertahankan Madinah.

b. Kaum Yahudi dari Bani Auf diperlakukan sama adilnya dengan muslim.

c. Kaum Yahudi tetap dengan agama Yahudi mereka dan demikian pula dengan kaum muslim, artinya bisa hidup berdampingan tanpa saling merusuh satu dengan lain.

d. Semua kaum Yahudi yang berasal dari semua suku serta kabilah di Madinah diperlakukan sama dengan kaum Yahudi Bani Auf.

e. Kaum Yahudi dan muslim harus senantiasa saling berbuat kebajikan dan saling mengingatkan ketika terjadi penganiayaan atau kezaliman, sama seperti peradaban yang baik pada umumnya,

f. Semua penduduk Madinah akan dijamin bersama keselamatannya, hal ini mendapat pengecualian bagi orang yang berbuat jahat.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Jemput Ramadan dengan Persiapan yang Matang



Jakarta

Ramadan merupakan bulan suci yang paling dinantikan oleh seluruh umat Islam. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya, pahala yang didapatkan seorang muslim pada bulan Ramadan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Ketika bulan Ramadan tiba, kita harus menjemputnya dengan baik. Saking mulianya Ramadan, para nabi bahkan merasa iri terhadap Nabi Muhammad SAW.

Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa ada sebuah hadits yang menyebutkan jika nabi-nabi sebelum Muhammad diberi kesempatan hidup kembali, maka mereka ingin menjadi umat Rasulullah karena terdapat bulan penuh ampunan, yaitu Ramadan.


Sebagai umat Rasulullah SAW, rasanya sayang apabila kita tidak bersungguh-sungguh untuk memanfaatkan bulan Ramadan. Terlebih pada bulan tersebut ada malam lailatul qadar, sebuah malam yang lebih istimewa dari seribu bulan.

“Angka yang paling tinggi pada saat turunnya Al-Qur’an adalah seribu. Seandainya ada angka triliun, mungkin ayat itu berbunyi malam lailatul qadar lebih mulia daripada satu triliun tahun,” tutur Prof Nasaruddin dalam detikKultum detikcom, Kamis (23/3/2023).

Ia menjelaskan, pada bulan Ramadan hampir semua peristiwa-peristiwa penting terjadi di bulan tersebut, seperti pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang ditandai dengan nuzulul Qur’an. Bahkan, dari segi sejarah pun banyak momen-momen yang terjadi di bulan Ramadan.

“Kita bisa lihat dalam sejarah, Perang Badar terjadi dahsyat sekali dan dimenangkan Rasulullah pada bulan suci Ramadan,” tambah Prof Nasaruddin.

Tak hanya itu, peristiwa kemerdekaan Indonesia juga berlangsung ketika bulan suci, tepatnya pada tanggal 9 Ramadan. Kemenangan kerajaan-kerajaan lokal di Indonesia juga banyak ditaklukan di bulan Ramadan.

“Contohnya kerajaan Bone di Indonesia bagian timur, kerajaan besar, itu ditaklukan terakhir pada bulan suci Ramadan,” paparnya.

Menurut Prof Nasaruddin, bulan Ramadan menentukan warna sejarah Islam. Karenanya, ia mengajak seluruh umat Islam untuk lebih melakukan persiapan yang matang dalam menyambut bulan suci.

Apalagi, di tahun ini kita bisa beribadah dengan maksimal karena pandemi COVID-19 telah usai. Untuk itu, Prof Nasaruddin mengimbau kaum muslimin untuk lebih memakmurkan masjid di bulan suci Ramadan 2023.

“Mari kita menjadikan bulan suci Ramadan ini bulan penyelamat, saya sungguh sangat yakin bapak ibu sekalian sudah siap menjalani Ramadan tahun ini. Tidak ada Covid-19 yang menghalangi seperti tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya.

Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Menjemput Ramadan DI SINI.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

detikKultum Habib Ja’far: Ramadan Adalah Bulannya Sedekah



Jakarta

Ramadan merupakan bulan yang baik untuk memperbanyak amal ibadah. Salah satunya dengan bersedekah.

Habib Ja’far menyebut, Ramadan adalah bulannya sedekah. Sebab, Rasulullah SAW paling banyak bersedekah pada bulan tersebut, bahkan dikatakan sedekah beliau sampai berkali-kali lipat.

“Di bulan Ramadan diceritakan oleh Sayyidah Aisyah kedermawanan Nabi Muhammad itu berkali-kali lipat lebih tinggi lagi. Lebih sering sedekah, lebih banyak lagi karena bulan Ramadan itu adalah bulannya sedekah,” ucap Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Jumat (24/3/2023).


Habib Ja’far menjelaskan, sedekah tidak harus berupa harta. Ia mencontohkan, dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

Artinya: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR At-Tirmidzi)

“Membahagiakan orang lain dengan cara-cara yang baik itu adalah sedekah. Jadi, segala hal menjadi sedekah jikalau diberikan kepada orang lain dengan tujuan baik, cara yang baik, dan niat yang baik,” jelasnya.

Oleh karena itu, kata Habib Ja’far, sedekah harus menjadi identitas utama di bulan Ramadan karena begitu dahsyatnya pahala sedekah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Artinya: “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR Ahmad)

Ia menjelaskan lebih lanjut, sedekah merupakan satu dari tiga identitas orang bertakwa. Sebagaimana Allah SWT berfirman,

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran: 134)

Dalam hal ini, sedekah tidak harus menunggu kaya. Mengapa? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Ramadan Adalah Bulannya Sedekah tonton DI SINI.

(kri/lus)



Sumber : www.detik.com

3 Tingkatan Iman Seorang Muslim, Kamu yang Mana?



Jakarta

Iman merupakan kepercayaan bagi pemeluk agama Islam. Pengertian iman juga dijelaskan dalam sebuah hadits dari Umar bin Khatthab RA, ia berkata Rasulullah SAW didatangi oleh malaikat Jibril. Beliau bertanya kepada Rasulullah,

“Beritahukanlah kepadaku apa itu iman,” Rasulullah menjawab, “Iman itu artinya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk,” (HR Muslim).

Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa iman memiliki tiga tingkatan, yaitu Ahlul Tho’a, Ahlul Ibadah, dan Ahlullah. Lebih lanjut, ia menerangkan makna masing-masing dari tingkatan tersebut.


“Ahlul Tho’a adalah menjalankan ibadah dan ketaatan kepada Allah namun sebatas formalitas,” ujarnya dalam detikKultum detikcom, Sabtu (25/3/2023).

Muslim yang memiliki tingkatan iman Ahlul Tho’a menjalankan ibadah secara terpaksa. Semua dilakukan hanya semata-mata takut terjerumus ke dalam neraka tanpa memaknai tiap-tiap ibadah yang dikerjakan.

Lain halnya dengan Ahlul Ibadah yang beribadah kepada Allah karena cinta. Segala sesuatu ia kerjakan karena mencintai ibadah.

“Tapi kalau meningkat lagi, ada yang disebut Ahlul Ibadah. Menjalankan ibadah dan ketaatan kepada Allah karena cinta. Kenapa kamu berpuasa? Karena aku mencintai puasa,” lanjut Prof Nasaruddin Umar.

Naik satu tingkat lagi, yakni Ahlullah. Tingkatan iman yang paling tinggi tersebut melakukan ibadah kepada Allah karena semata-mata untuk mengharapkan keridhaan-Nya.

Lantas, apa saja ciri-ciri dan contoh nyata dari pemilik masing-masing tingkatan iman? Selengkapnya saksikan detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Tiga Tingkatan Iman DI SINI.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Rahasiakan Kebaikanmu Seolah Itu Aibmu



Jakarta

Ramadan menjadi bulan untuk memperbanyak amal kebaikan. Termasuk, mengajarkan bagaimana sikap kita atas kebaikan yang telah kita lakukan.

Habib Ja’far mengatakan, puasa Ramadan mengajarkan kepada umat Islam untuk merahasiakan kebaikan. Puasa merupakan ibadah yang sifatnya rahasia atau sirriyah, hanya hamba tersebut dan Tuhan yang mengetahuinya.

“Intinya puasa mengajarkan kepada kita untuk rahasiakan kebaikanmu. Jangankan kebaikan, aib aja dilarang bagi kita untuk mengumbarnya apalagi kebaikan,” ujar Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Minggu (26/3/2023).


“Begitu juga harta, itu bukan untuk di-flexing, tapi untuk didermakan kepada orang lain setelah kita menggunakannya untuk kebutuhan kita,” imbuhnya.

Habib Ja’far menjelaskan, kebaikan yang tidak dirahasiakan berpotensi menghanguskan pahala bahkan menjadi kecelakaan bagi pelakunya lantaran riya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah Al Maun,

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ ٤ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ ٥ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ ٦ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ ٧

Artinya: “Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberi) bantuan.” (QS Al Maun: 4-7)

Ada banyak kisah tentang bagaimana orang-orang alim merahasiakan kebaikannya. Salah satunya, seperti dicontohkan oleh Habib Ja’far, adalah cicit Rasulullah SAW yang bernama Sayyidina Ali Zainal Abidin.

Semasa hidupnya, Sayyidina Ali Zainal Abidin membagikan sedekahnya untuk orang miskin pada malam hari saat semua penerimanya tidur. Amal kebaikan Sayyidina Ali Zainal Abidin tersebut baru diketahui orang-orang ketika ia wafat.

Sebab, sejak saat itu, sedekah yang biasanya didapat pada waktu subuh sudah tidak ada lagi dan di punggung Sayyidina Ali Zainal Abidin terdapat bekas lebam akibat memikul sedekahnya untuk orang miskin di sekitarnya.

Lantas, apakah kebaikan tidak boleh diperlihatkan sama sekali? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Rahasiakan Kebaikanmu Seolah Itu Aibmu tonton DI SINI.

(kri/lus)



Sumber : www.detik.com

Jauhi Ghuluw, Sikap Berlebihan dalam Beragama



Jakarta

Berlebih-lebihan dalam beragama disebut dengan ghuluw dan dilarang oleh Islam. Allah SWT bahkan tidak menyukai tindakan tersebut.

Larangan sikap ghuluw ini tercantum dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh An Nasa’i dan Ibnu Majah.

“Jauhkan diri kalian dari berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama. Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian,” (HR An Nasa’i & Ibnu Majah).


Dalam Al-Qur’an pun ghuluw tersemat pada surat An Nisa ayat 71, Allah SWT berfirman:

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ

Artinya: “Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar,”

Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin mengatakan bahwa beribadah yang melampaui batas akan menyiksa diri seseorang.

“Orang beribadah tapi melampaui batas, menyiksa diri,” katanya dalam detikKultum detikcom pada Minggu (25/3/2023).

Prof Nasaruddin mencontohkan sifat ghuluw yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah SAW, seperti tidak pernah makan siang karena berpuasa setiap hari, tidak pernah tidur malam karena selalu melaksanakan salat, serta tidak menggauli sang istri.

Hal tersebut tentu dilarang. Memang sudah semestinya kita memberikan yang terbaik kepada Allah SWT, namun dalam batas-batas yang wajar. Jangan sampai terjadi pemaksaan dalam beribadah hingga melampaui batas.

“Jadi mari kita beragama secara wajar,” lanjut Prof Nasaruddin Umar.

Di akhir, ia mengimbau para umat muslim untuk tidak beribadah secara berlebihan. Sebab, hal itu dapat merusak badan hingga menzalimi diri sendiri.

Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Jangan Melampaui Batas dalam Beragama DI SINI.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Jangan Mudah Terkecoh oleh Penampilan Orang



Jakarta

Sebagai seorang manusia, sudah sepantasnya kita tidak menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Jumat (31/3/2023) mencontohkan sebuah kisah menarik yang didasarkan dari hadits shahih mengenai Abu Hurairah dan seorang pencuri.

Suatu hari, Abu Hurairah selaku penjaga Baitul Mal dipanggil oleh Rasulullah SAW. Beliau mengingatkan Abu Hurairah untuk lebih berhati-hati nanti malam karena sepertinya akan ada pencuri.

Benar saja, seusai tengah malam Abu Hurairah memergoki seorang pemuda yang ingin mencuri harta kekayaan di Baitul Mal. Tertangkap basah, sang pemuda mengaku dirinya bukan pencuri, melainkan terpaksa melakukan hal tersebut karena anaknya menderita sakit keras dan sang istri kelaparan.


Merasa kasihan, dilepaskanlah pencuri tersebut asalkan ia berjanji akan mencari nafkah yang halal. Ketika ditanya oleh Rasulullah keesokan harinya, Abu Hurairah menjelaskan keadaan sang pencuri.

Rasulullah kembali memperingatkan Abu Hurairah untuk berhati-hati di malam berikutnya. Benar saja, pencuri tersebut datang kembali.

Kali ini, pencuri tersebut beralasan anaknya telah pingsan. Kemudian ia mengatakan jika Abu Hurairah bersikeras menangkapnya maka anak dan istrinya akan mati karena ia tidak bisa mencari nafkah.

Kembali merasa iba, lagi-lagi Abu Hurairah melepaskan pencuri tersebut asalkan ia berjanji tidak mencuri lagi. Keesokan malamnya, pencuri itu kembali datang dan tertangkap basah oleh Abu Hurairah.

Si pencuri mengaku bersalah, namun ia ingin memberi hadiah sebagai tanda terimakasih kepada Abu Hurairah yang telah melepaskannya dua hari berturut-turut.

“‘Saya akan mengajarkan kamu wirid, kalau kamu belajar dan baca wirid ini, kamu tidak akan diganggu iblis, setan akan lari terbirit-birit, ‘ Abu Hurairah mau,” ujar Prof Nasaruddin menceritakan.

Setelahnya, Abu Hurairah kembali melepaskan si pencuri dengan syarat ia harus bersumpah tidak akan datang lagi untuk mencuri. Pergilah si pencuri tersebut.

Esoknya, Rasulullah bertanya kepada Abu Hurairah akan keberadaan pencuri tersebut. Betapa terkejutnya beliau ketika tahu bahwa pencuri yang ia lepaskan ternyata adalah iblis.

“Rasulullah bilang, ‘tahu tidak siapa yang kamu tangkap tiga malam berturut-turut? Itu adalah iblis,'” lanjut Prof Nasaruddin mengisahkan.

Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Jangan Terkecoh oleh Penampilan Orang dapat disaksikan DI SINI.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Amal Kebaikan Menghapus Dosa di Masa Lampau



Jakarta

Allah SWT amat menyukai hamba-Nya yang bertobat. Tobat nasuha berarti upaya meninggalkan perbuatan dosa dan diiringi keinginan kuat untuk tidak mengulanginya lagi.

Dalam surat At Tahrim ayat 8, Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ


Arab latin: Yā ayyuhallażīna āmanụ tụbū ilallāhi taubatan naṣụḥā, ‘asā rabbukum ay yukaffira ‘angkum sayyi`ātikum wa yudkhilakum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hāru yauma lā yukhzillāhun-nabiyya wallażīna āmanụ ma’ah, nụruhum yas’ā baina aidīhim wa bi`aimānihim yaqụlụna rabbanā atmim lanā nụranā wagfir lanā, innaka ‘alā kulli syai`ing qadīr

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Allah SWT adalah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun, segala dosa yang dikerjakan akan diampuni jika manusia benar-benar bertobat. Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Sabtu (1/4/2023) mengatakan bahwa amal kebaikan yang kita perbuat bisa menjadi penghapus dosa di masa lalu.

“Ada sebuah kisah yang sangat menarik dari sebuah hadits,” ujarnya.

Prof Nasaruddin mengisahkan tentang seorang penjahat yang sudah jadi buronan internasional. Saking jahatnya, orang tersebut bahkan dijatuhkan hukuman in absentia, siapa saja yang bertemu dengannya diizinkan untuk membunuh sang penjahat.

Secara tiba-tiba, penjahat itu muncul di majelis Rasulullah. Para sahabat dan orang yang menghadiri majelis refleks mengeluarkan pedang dari sarungnya, mereka berbondong-bondong ingin menghunuskan benda tajam tersebut kepada pemuda itu.

Sebagai seorang rasul utusan Allah, Nabi Muhammad SAW meminta orang-orang untuk tenang dan membiarkan si penjahat untuk berbicara. Betapa terkejutnya, ia mengungkap maksud kedatangannya ke majelis Rasulullah untuk menyerahkan diri.

Penjahat tersebut menyadari ajalnya sudah dekat, sebab dimana pun ia berada semua orang berlomba-lomba untuk membunuhnya. Jadi, sebelum ia meninggal pemuda itu ingin menghibahkan amal kebajikan yang pernah dilakukannya di masa lampau.

“‘Saya kesini untuk menghibahkan amal kebajikan saya tanpa pamrih. Percuma menempel kebajikan itu padaku, karena aku adalah orang jahat, kebaikan itu akan saya hibahkan kepada yang kau tunjuk,’ Bingung sahabat-sahabat, orang seperti itu harus diapakan?” ujar Prof Nasaruddin mengisahkan.

Bersamaan dengan itu, turunlah surat Hud ayat 114, berikut bunyinya:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

Arab latin: Wa aqimiṣ-ṣalāta ṭarafayin-nahāri wa zulafam minal-laīl, innal-ḥasanāti yuż-hibnas-sayyi`āt, żālika żikrā liż-żākirīn

Artinya: “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat,”

Dengan turunnya ayat tersebut, muncullah pengampunan. Semua orang yang menghadiri majelis Rasulullah SAW sangat terkesan.

Dengan demikian, melalui kisah tersebut Prof Nasaruddin mengimbau agar kita mengakui kesalahan dan berlaku jujur dengan menyerahkan diri secara total. Niscaya Allah SWT juga akan memberi pengampunan, bukan hanya penghargaan dari hakim saja.

“Mari kita meniru pemuda yang sangat gentleman ini, jangan kita sibuk menyembunyikan diri,” katanya.

Selanjutnya, Prof Nasaruddin juga memaparkan sejumlah hal tentang tobat nasuha dari kacamata Imam Al-Ghazali. Simak pembahasan lengkap detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Amal Kebaikan Menghapus Dosa Masa Lalu

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Tarawih di Masjid Vs di Rumah, Baik Mana?



Jakarta

Salat Tarawih merupakan ibadah sunnah yang dikerjakan pada malam Ramadan. Ibadah ini bisa dilakukan secara berjamaah di masjid atau di rumah. Mana yang lebih baik di antara keduanya?

Menurut Habib Ja’far, hal tersebut tergantung pada kondisi masing-masing. Secara umum, laki-laki lebih baik salat berjamaah di masjid dan perempuan salat di rumah. Hal ini berlaku untuk salat fardhu maupun salat sunnah seperti salat Tarawih.

“Untuk salat sunnah begitu juga bagi laki-laki sebaiknya dilakukan di masjid, tapi bagi perempuan sebaiknya di rumah. Termasuk di dalamnya adalah salat Tarawih,” ujar Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Selasa (4/4/2023).


Habib Ja’far menjelaskan, salat Tarawih lebih baik dikerjakan secara berjamaah di masjid karena termasuk salat sunnah yang disunnahkan untuk berjamaah. Seperti halnya salat Id dan salat istisqa.

Meski demikian, laki-laki tetap boleh salat di rumah jika memang secara kemaslahatan lebih baik dilakukan di rumah. “Contohnya istri kita sedang butuh kita untuk menjadi imam salat karena dia sekaligus mau belajar salat Tarawih dengan baik, mau sekalian lanjut belajar mengkaji al quran dan lain sebagainya,” ujar Habib Ja’far.

Begitu juga dengan perempuan. Jika baginya memang ada kemaslahatan ketika dilakukan di masjid dan telah mendapatkan izin dari walinya, maka baik baginya mengerjakan salat Tarawih berjamaah di masjid.

Namun, jika justru ke masjid menimbulkan mudharat, maka kata Habib, perempuan tetap lebih baik salat Tarawih di rumah.

“Menghindari kemudharatan itu jauh lebih utama daripada mencari kemanfaatan. Begitu dalam filsafat hukum Islam atau ushul fiqih. Hindari dulu mudharatnya jangan sibuk nyari manfaat ” terangnya.

Habib Ja’far kemudian menukil sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW salat Tarawih di masjid hanya dua hari pertama di bulan Ramadan. Selanjutnya beliau memilih salat di rumah. Sebab, beliau khawatir salat Tarawih akan diwajibkan bagi umat Islam.

Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Tarawih di Masjid Vs di Rumah, Baik Mana? tonton DI SINI.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Orang Tua Adalah Karamah Utama, Kita Wajib Berbakti



Jakarta

Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban bagi setiap anak. Menurut Habib Ja’far, orang tua adalah karamah yang pertama dan utama.

“Begitu seorang lahir maka keramat (karamah) yang pertama dan utama bagi dia adalah kedua orang tuanya,” ujar Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Rabu (5/4/2023).

Di antara ayah dan ibu, sebagaimana sabda nabi, ibu adalah sosok pertama yang wajib kita hormati. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW ditanya, “Siapakah yang paling berhak mendapat perlakuan yang paling baik dariku?”


Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya, “Siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya, “Siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya, “Siapa lagi?” Rasulullah menjawab, “Bapakmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Habib Ja’far menjelaskan, tingginya kedudukan seorang ibu lantaran ibu telah memberikan dirinya untuk mengandung anak selama 9 bulan, ibu telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anaknya, dan ibu telah mengikhlaskan dirinya untuk menyusui buah hatinya selama kurang lebih 2 tahun.

Habib menjelaskan lebih lanjut bahwasanya orang tua adalah karamah yang utama. Sehingga, jangan sampai kita meminta doa kepada para guru hingga ulama, tapi justru lupa meminta doa kepada kedua orang tua.

“Jangan kita meminta doa pada para guru, para ulama, para habib, para kiai, kita berdoa ke makam wali ini makam wali itu, tapi kita lupa meminta doa kepada kedua orang tua kita,” jelas Habib Ja’far.

Adapun, di antara kewajiban seorang anak terhadap orang tua adalah berbakti kepadanya. Menurut Habib Ja’far, konteks berbakti berbeda dengan taat. Ia mengatakan, ketaatan yang sifatnya mutlak hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Sedangkan ketaatan kepada orang tua sifatnya terbatas, yakni selama berada di jalan yang benar dan tidak taat ketika diminta dalam hal kemaksiatan.

Kewajiban berbakti kepada orang tua sendiri termaktub dalam surah Al Isra ayat 23. Allah SWT berfirman,

۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ٢٣

Artinya: “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Orang Tua Adalah Karamah Utama, Kita Wajib Berbakti tonton DI SINI.

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com