Tag Archives: rasulullah saw

Keutamaan Silaturahmi di Bulan Ramadan



Jakarta

Banyak manfaat yang bisa didapatkan dengan menjalin tali silaturahmi. Adiwarman A. Karim menjelaskan dalil dalam Al-Qur’an dan hadits tentang keutamaan serta manfaat silaturahmi.

Salah satu manfaat silaturahmi adalah memperpanjang umur serta melancarkan rezeki. Hal tersebut diungkapkan Adiwarman A. Karim selaku Praktisi Ekonomi Syariah dalam Mutiara Ramadan detikcom, Rabu (5/4/2023).

“Silaturahim banyak jenisnya, apalagi di bulan Ramadan. Kita harus banyak silaturahim,” kata Adiwarman.


Manfaat silaturahim ini diungkapkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits,

“Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” (HR. Al-Bazzar, Hakim).

Lebih lanjut, Adiwarman juga menyebutkan silaturahim banyak jenisnya. “Yang penting jalani silaturahim. Bagaimana bisnis bisa maju kalau nggak silaturahim, bener nggak? Bagaimana orang bisa ingat kita, bagaimana orang bisa kenal kita kalau nggak silaturahim?” ujarnya.

Manfaat silaturahmi yang kedua adalah mendapatkan pahala yang besar. Disebutkan Rasulullah SAW bahwa pahala menjalin silaturahmi lebih besar daripada membebaskan seorang budak.

Dalam Al-Qur’an surat Az-Zumar ayat 10, Allah berfirman tentang balasan kebaikan bagi orang-orang yang berbuat baik.

قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

“Dengan silaturahim kita memasukkan rasa bahagia kepada hati orang lain. Ini amalan yang paling cepat sampai kepada Allah SWT,” sambung Adiwarman.

Manfaat apalagi yang bisa didapatkan dengan silaturahmi? Yuk Simak video selengkapnya di Mutiara Ramadan: Jenis-jenis Silaturahmi dan Manfaatnya di Bulan Ramadan tonton DI SINI.

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

Setiap Keburukan Pasti Ada Kebaikannya



Jakarta

Kebaikan dan keburukan merupakan dua hal yang berpotensi ada pada setiap diri manusia. Menurut Habib Ja’far, di balik suatu keburukan pasti ada kebaikannya.

Hal tersebut diungkapkan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Kamis (6/4/2023). Habib mengawalinya dengan mengatakan bahwa identitas umat Islam sebagaimana dibawakan Rasulullah SAW adalah selalu melihat kebaikan dan buta akan keburukan.

“Salah satu identitas umat Islam yang diproklamirkan oleh Nabi Muhammad itu adalah dia selalu melihat kebaikan dan buta akan keburukan. Sehingga dia selalu mengikuti jalan kebaikan dan tidak pernah ke-distract sama jalan keburukan,” ucap Habib Ja’far.


Habib Ja’far menjelaskan, seorang muslim sudah sepatutnya mencari hikmah di balik setiap keburukan. Sebab, kata Nabi SAW, pelajaran yang baik (al-hikmah) merupakan harta karun umat Islam yang harus kita cari.

Faktanya, kata Habib Ja’far, tidak ada manusia yang sepenuhnya buruk. Sebab, Allah SWT telah berfirman dalam surah Al Hijr ayat 29,

فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

Artinya: “Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya dan telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, menyungkurlah kamu kepadanya dengan bersujud.”

Habib Ja’far menjelaskan, maksud roh dalam ayat tersebut adalah fitrah yang mana Nabi SAW katakan itu adalah suatu kesucian yang ada pada setiap manusia. Fitrah akan terus ada dan umat Islam sebaiknya melihat orang lain dengan fitrah tersebut.

“Nah, kita sebaiknya berfokus kepada fitrah itu sebagai kebaikan dalam melihat manusia lain. Sehingga kita selalu optimis untuk bisa membuat dia menjadi baik dan lebih baik,” ujar Habib Ja’far.

Allah SWT juga telah memerintahkan kepada umat manusia agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Dia berfirman,

۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ٥٣

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az Zumar: 53)

Bagaimana caranya melihat kebaikan dalam suatu keburukan? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Setiap Keburukan Pasti Ada Kebaikannya tonton DI SINI.

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com

Mutiara Ramadan Adiwarman A. Karim: Perbuatan yang Membawa Keberkahan



Jakarta

Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang akan melimpahkan keberkahan bagi hambanya yang melakukan amal kebaikan. Perbuatan yang membawa keberkahan ini dapat dirasakan manfaatnya di dunia maupun di akhirat.

Adiwarman A. Karim selaku Praktisi Ekonomi Syariah dalam Mutiara Ramadan detikcom, Kamis (6/4/2023) menjelaskan perbuatan yang membawa keberkahan.

“Keberkahan Allah dilimpahkan kepada kita semua. Urusan rezeki mau kaya mau miskin, Allah yang mengatur,” ujarnya.


Lebih lanjut, ia menjelaskan tentang doa yang diajarkan Rasulullah SAW sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki sekaligus doa memohon perlindungan.

“Rasulullah ajarkan doa yang di Indonesia salah kaprah jadi doa mau makan padahal ini doa cari rezeki,” ujar Adiwarman.

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaa bannaar.”

Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”

Makna keberkahan juga dibahas oleh Adiwarman. Ia menyebutkan dalam ajaran Islam keberkahan memiliki empat makna.

1. Siapa yang melakukan perbuatan ia bahagia
2. Membawa kebahagiaan bagi orang sekitar
3. Merasa mendapat manfaat dari perbuatan
4. Orang sekitar mendapat manfaat dari perbuatan kita

Hal ini juga turut dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Ar-Rahman ayat 60

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Artinya: Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

“Terus buat kebaikan karena kita mengharapkan berkahnya Allah. Di bulan Ramadan banyak keberkahan. Dalam sahur ada berkahnya. Keberkahan ini yang harus kita cari,” jelas Adiwarman.

Perbuatan apa lagi yang membawa keberkahan dan manfaat bagi seorang muslim? Simak video selengkapnya di Mutiara Ramadan: Bentuk Perbuatan yang Membawa Keberkahan tonton videonya DI SINI.

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

Rahasia Gapai Malam Lailatul Qadar



Jakarta

Lailatul Qadar merupakan malam yang istimewa bagi seluruh umat Islam. Sebab, muslim dianjurkan menghidupkan Lailatul Qadar dengan berbagai ibadah dan amalan, seperti mendirikan salat, dzikir, hingga membaca Al-Qur’an.

Malam Lailatul Qadar hanya diberikan kepada umat Rasulullah SAW. Saking mulianya malam tersebut, para nabi bahkan ingin hidup kembali meski tidak membawa ajarannya agar dapat berjumpa dengan Lailatul Qadar.

“Sekarang kita sudah jadi umatnya Rasulullah, alangkah ruginya kita tidak melakukan amal-amal di bulan Ramadan. Syukur-syukur pas beribadah turun Lailatul Qadar, itulah yang diharapkan sebetulnya ‘kan,” ujar Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Jumat (7/4/2023).


Walau begitu, Prof Nasaruddin mengingatkan agar kita tidak melakukan ibadah hanya semata-mata menginginkan Lailatul Qadarnya. Sebab, menurutnya, Lailatul Qadar adalah makhluk, jadi yang harus kita kejar adalah penciptanya yaitu Allah SWT.

“Ramadan itu istimewa, tapi jangan cari Ramadannya. Jadikanlah Ramadan sepanjang masa, jadikan Lailatul Qadar sepanjang masa buat kita,” lanjutnya.

Dalam surah Al An’am ayat 162, dijelaskan bahwa ibadah, hidup, dan mati kita hanya untuk Allah SWT.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Arab latin: Qul inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil-‘ālamīn

Artinya: “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,”

Prof Nasaruddin mengimbau kaum muslim untuk lebih gencar mengencangkan ibadahnya. Kemudian menurutnya tahun ini kita harus menjemput Lailatul Qadar dengan cara yang berbeda, jangan karena prediksi Lailatul Qadar di malam ganjil, kita justru malas-malasan di malam genap.

“Jangan membedakan malam ganjil dan malam genap, pokoknya cover semua bulan Ramadan. Pasti ketemu juga Lailatul Qadar,” paparnya.

Menurut penuturan Prof Nasaruddin, para ulama tafsir menafsirkan Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari beribu-ribu bulan, bukan hanya seribu. Karenanya, ia mengimbau umat Islam untuk melakukan salat sepanjang malam, i’tikaf, merenung, dan banyak berdoa kepada Allah SWT.

Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Malam Lailatul Qadar bisa disaksikan DI SINI.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Cara agar Jodoh di Dunia dan Akhirat



Jakarta

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam memilih pasangan agar menjadi jodoh di dunia dan akhirat. Habib Ja’far membagikan tips untuk mendapatkannya.

Menurut Habib Ja’far, jodoh akan membuat kehidupan menjadi sakinah, yakni merasakan kedamaian, kebahagiaan, ketenangan, dan lain sebagainya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah Ar Rum ayat 21,

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ


Artinya: “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Melalui jodoh, kata Habib Ja’far, seseorang menjadi relatif sempurna karena baik laki-laki maupun perempuan keduanya saling melengkapi.

“Dengan jodoh ia menjadi relatif sempurna karena lelaki dan perempuan itu adalah semacam dua sosok yang saling melengkapi. Perempuan itu mewakili sifat feminim atau jamaliyahnya Allah dan laki-laki itu mewakili sifat maskulin atau jalaliahnya Allah,” ujar Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Minggu (9/4/2023).

“Karenanya ketika mereka saling melengkapi maka itu akan menjadi jalan yang begitu lapang dan begitu cepat menuju Allah,” imbuhnya.

Jodoh di dunia bisa saja menjadi jodoh kelak di akhirat. Habib Ja’far mencontohkan suatu kisah dari salah satu istri Rasulullah SAW, Ummu Salamah.

Ummu Salamah merupakan seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Untuk mengangkat derajatnya, Rasulullah SAW pun menikahinya.

Pada suatu ketika, Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah SAW perkara jodoh di akhirat. “Nabi, kelak di akhirat, saya ini akan berjodoh dengan suami saya yang lalu atau denganmu yang merupakan suamiku saat ini?” tanya Ummu Salamah.

Kemudian, Rasulullah SAW menjawab, “Kamu akan berjodoh di akhirat dengan yang terbaik akhlaknya.”

Dari kisah tersebut, terang Habib Ja’far, ada dua hal yang bisa kita petik. Pertama, tentang kerendahan hati Rasulullah SAW. Beliau adalah orang yang terbaik akhlaknya, namun tidak secara langsung mengatakan bahwa jodoh Ummu Salamah kelak di akhirat adalah beliau.

Kedua, kata Habib Ja’far, agar pasangan kita di dunia kelak menjadi jodoh di akhirat, maka sebaiknya kita memilih pasangan yang baik akhlaknya.

Lantas, bagaimana cara mengupayakan agar jodoh kita di dunia kelak juga menjadi jodoh kita di akhirat? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Cara agar Jodoh di Dunia dan Akhirat tonton DI SINI.

(kri/lus)



Sumber : www.detik.com

Ada Dua Tingkatan Ikhlas dalam Beribadah, Apa Saja?



Jakarta

Sikap ikhlas diartikan sebagai kesungguhan dan ketaatan semata-mata karena Allah SWT. Tidak semua orang memiliki perilaku ikhlas, sebab ada sejumlah perkara yang membuat seseorang untuk bersikap ikhlas.

Dalam Islam sendiri, ikhlas dibagi ke dalam dua tingkatan, yaitu mukhlis dan mukhlas. Menurut penuturan Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Senin (10/4/2023), mukhlas menjadi tingkatan yang paling tinggi.

Saking tingginya peringkat mukhlas, sampai-sampai iblis bersumpah enggan menggoda anak cucu Adam yang telah sampai ke dalam tingkatan tersebut. Sementara itu, mukhlis berada di bawah mukhlas.


Makna dari mukhlis sendiri ialah seseorang yang ikhlas melakukan ketaatan kepada Allah, namun masih gemar menerima pujian dari orang lain atas tindakannya. Ia masih menikmati pujian-pujian hingga menampilkan kebaikan-kebaikan yang telah dikerjakannya.

“Masih terbetik dalam dirinya sebuah kebanggaan tersendiri kalau dipuji orang lain, itu mukhlis. Orang mukhlis itu belum bebas (dari) iblis,” kata Prof Nasaruddin.

Lebih lanjut ia menjelaskan, lain halnya dengan mukhlas yang menjalani keikhlasan sebagai kebiasaannya. Muslim dengan tingkatan mukhlas tidak akan mempedulikan pujian yang akan didapat.

“Kalau mukhlas itu tanpa nama. Kita kan kalau tanpa nama uang recehan, tapi kalau uang gede itu kartu nama,” seloroh Prof Nasaruddin.

Rasulullah SAW sendiri mengatakan bahwa orang yang termasuk ke dalam tingkatan mukhlas akan menyumbang dengan tangan kanannya tanpa diketahui oleh tangan kirinya. Bahkan, apabila seseorang masih memamerkan bantuan yang ia berikan untuk disampaikan kepada orang lain, hal tersebut diibaratkan sebagai pembawa ember bocor ke surga.

“Jadi jangan membawa ember bocor. Maka itu usahakan sembunyikan seluruh amal kebajikan,” lanjut Prof Nasaruddin.

Dia juga mengimbau kaum muslimin untuk merahasiakan kebajikan yang dikerjakan. Sebab, semakin kita merahasiakan kebajikan yang dilakukan maka semakin besar pula pahalanya di mata Allah SWT.

Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Tingkatan Ikhlas Beribadah kepada Allah SWT dapat disaksikan DI SINI.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Hal-hal yang Menghilangkan Keberkahan Puasa



Jakarta

Banyak amalan yang bisa dikerjakan ketika bulan Ramadan, dan ada pula yang harus dihindari agar ibadah puasa penuh berkah. Adiwarman A. Karim menjelaskan beberapa hal yang harus dihindari agar pahala dan keberkahan Ramadan tidak berkurang.

Dalam Mutiara Ramadan detikcom, Selasa (11/4/2023) Adiwarman A. Karim menjelaskan tentang perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam. Perbuatan ini dapat menghilangkan pahala serta keberkahan puasa.

“Dalam fikih muamalah ada kaidah yang berbunyi: untuk urusan muamalah semuanya boleh, kecuali yang dilarang. Oleh karena itu untuk urusan muamalah, kita tidak perlu mencari apakah dahulu Rasulullah SAW dan sahabat pernah mencontohkan, tidak perlu. Yang harus dipegang adalah apakah hal ini ada larangannya atau nggak, kalau tidak ada, lakuin,” ujar Adiwarman.


Lebih lanjut, Adiwarman mengatakan dalam Al-Qur’an ada urusan muamalah yang mengatur tentang harom lidzatihi dan harom lighairi.

Haram lidzatihi maksudnya adalah hukum asal makanan itu sendiri sudah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya yang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini Adiwarman menyebutkan empat hal yang termasuk haram lidzatihi.

“Dalam Al-Qur’an, urusan muamalah yang termasuk harom lizatihi ada 4, nggak boleh makan babi, khamar, darah dan bangkai. Udah 4 itu. Nggak usah mikir-mikir rekayasa makanan, misalnya daging babi rasa sapi, tetap haram,” ujar Adiwarman.

Sementara itu ada yang termasuk haram lighairihi yakni bendanya halal (tidak haram) namun cara penanganan atau memperolehnya tidak dibenarkan oleh ajaran Islam. Haram lighairihi maksudnya hukum asal makanan itu sendiri sudah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits

Adiwarman menjelaskan haram lighairihi ada 7 macam, diantaranya yakni riba, penipuan dan transaksi yang tidak jelas.

Mau tahu apa saja yang termasuk dalam haram lighairihi? Simak video selengkapnya tentang perbuatan yang harus dihindari saat puasa di Mutiara Ramadan: Hal-hal yang Menghilangkan Keberkahan Puasa tonton DI SINI.

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

Ekonomi Islam yang Berjalan Harmonis



Jakarta

Dalam ajaran Islam, ada sistem ekonomi yang dijalankan sesuai syariah. Sejak zaman Rasulullah SAW, sudah terbukti bahwa ekonomi syariah ini dapat berjalan dengan harmonis.

Dalam Mutiara Ramadan detikcom, Rabu (12/4/2023) Adiwarman A. Karim menjelaskan tentang ekonomi Islam yang berjalan sesuai syariah sehingga keberadaannya memberikan manfaat dan keberkahan bagi banyak orang.

Adiwarman A. Karim selaku praktisi ekonomi syariah mengangkat kisah sahabat Rasulullah SAW yakni Salman Al Farisi yang dikenal sebagai pengusaha sukses. Saat Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah, Salman Al Farisi termasuk sahabat yang ikut serta.


“Saking cintanya kepada Islam, dia tinggal semua hartanya semua bisnisnya di Makkah. Karena orang Makkah bilang, ente boleh ikutan hijrah ke Madinah tapi semua harta nggak boleh dibawa ke Madinah,” kata Adiwarman.

Lebih lanjut, Adiwarman menjelaskan bahwa Salman Al Farisi datang ke Madinah tanpa membawa apapun. Namun karena ia merupakan sosok yang cerdas dan pandai berbisnis, akhirnya ia mencoba menerapkan sistem ekonomi syariah di Madinah.

“Beliau lihat pasar di Madinah, pasar orang Yahudi. Dia lihat ada tanah kosong, dia beli tanah kosong tersebut untuk dibuat pasar, dibuat petak-petak, dibuat lapak. Salman bikin pasar, orang nggak perlu sewa lapak. Jualan dulu, nanti kemudian baru bagi hasil,” beber Adiwarman.

Melihat sistem yang berlaku di pasar besutan Salman, akhirnya banyak orang yang tertarik berjualan di pasarnya. Hal ini akhirnya membuat orang Yahudi merasa terganggu.

Seorang sahabat kemudian mendatangi Rasulullah, dan berkata, “Kami ini dagang, untungnya kecil, sementara orang yahudi kalau dagang untungnya besar, padahal barangnya sama.” Rasulullah bilang, “Kok bisa begitu?” “Iya karena orang Yahudi mengurangi timbangan sehingga untungnya besar.””

Rasulullah kemudian bersabda,

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَانَقَصَ قَوْمٌ الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ اِلَّا أُخِذُوْابِاالسِّنِيْنَ وَشِدَّةِ الْمَؤُوْنَةِ وَجَوْرِالسُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوْازَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ اِلَّا مُنِعُواالْقَطْرَمِنَ السَّمَاءِوَلَوْ لَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوْا.

Artinya: Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa kaum itu dengan kemarau berkepanjangan, dan beratnya beban hidup mahalnya makanan, dan zalimnya penguasa atas kaum itu. Dan tidak pula suatu kaum menolak mengeluarkan zakat kecuali mereka juga di halangi turunnya hujan dari langit, akan tetapi jika bukan karena kasihan terhadap hewan-hewan pasti tidak akan diturunkan hujan.

Adiwarman melanjutkan kisahnya, dalam dua tahun ekonomi Yahudi dapat dikalahkan. “Di sini kita lihat keadilannya dalam ekonomi Islam.”

Mau tahu cara berdagang secara syariah? Simak video selengkapnya di Mutiara Ramadan: Kunci Ekonomi Islam yang Selalu Harmonis tonton DI SINI.

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Dahsyatnya Keutamaan Sholawat



Jakarta

Sholawat merupakan wujud cinta seorang muslim kepada Rasulullah SAW. Melalui sholawat, umat Islam memberi pujian sekaligus doa kepada nabi yang bernilai pahala.

Dalam detikKultum detikcom pada Kamis (13/4/2023), Prof Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa orang yang rajin bersholawat akan diberi syafaat oleh Nabi Muhammad SAW kelak.

“Jadi jangan memandang enteng sholawat nabi. Sholawat itu adalah bentuk komunikasi batin dengan Rasulullah SAW,” katanya menjelaskan.


Pada sebuah hadits, disebutkan juga bahwa keutamaan bersholawat, yaitu:

“Barang siapa yang bersholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersholawat untuknya 10 kali,” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).

“Manusia yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak membaca sholawat kepadaku,” (HR Tirmidzi).

Lebih lanjut Prof Nasaruddin menjelaskan, ketika kiamat dan Matahari hanya beberapa jengkal di atas kepala maka tidak ada yang bisa membantu manusia selain nabi. Bagaimana cara mendapatkan bantuannya? Yakni dengan rajin bersholawat dan membiasakan diri untuk melantunkan sholawat nabi.

Ruhnya Rasulullah tidak pernah mati, dia tahu. Dia (Nabi Muhammad SAW) tergetar hatinya manakala ada yang menyebutkan namanya (bersholawat),” bebernya.

Dalam surat Al Ahzab ayat 56 disebutkan bahwa yang bersholawat tidak hanya manusia, bahkan para malaikat sekalipun. Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Arab latin: Innallāha wa malā`ikatahụ yuṣallụna ‘alan-nabiyy, yā ayyuhallażīna āmanụ ṣallụ ‘alaihi wa sallimụ taslīma

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya,”

Di Indonesia sendiri, lantunan sholawat berkisar hingga 100 lebih. Saking banyaknya, jumlah sholawat ini melebihi yang ada di Timur Tengah.

“Umat yang paling rajin bersholawat ini kayaknya Indonesia nih. Ada 100 lantunan sholawat di Indonesia,” kata Prof Nasaruddin Umar.

Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Sholawat bisa disaksikan DI SINI.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Etika dalam Berdoa



Jakarta

Doa merupakan permohonan seorang hamba kepada Allah SWT. Dalam berdoa, ada etika yang perlu diperhatikan, tidak hanya sekadar memohon.

Pada detikKultum detikcom, Jumat (14/4/2023), Prof Nasaruddin Umar menerangkan mengenai etika berdoa sekaligus waktu mustajabnya saat Ramadan.

“Doa di dalam bulan suci Ramadan sangat ampuh bapak ibu, maka itu mari kita banya berdoa terutama pada detik-detik menjelang buka puasa dan imsak,” katanya menjelaskan.


Meski mustajab, dalam berdoa tentu harus ada etika dan akhlaknya. Prof Nasaruddin mengutip dari pendapat Imam Al-Ghazali terkait etika doa yang baik.

“Yang pertama disunnahkan berwudhu, kemudian kita juga menutup aurat, dan menghadap ke kiblat,” ujarnya.

Setelahnya, seorang hamba yang hendak berdoa jangan langsung memohon kepada Allah. Namun, pastikan bahwa batin sudah tenang agar tidak tergesa-gesa dalam berdoa.

Selanjutnya, angkatlah kedua tangan setinggi-tingginya. Rasulullah SAW sendiri setiap berdoa mengangkat tangannya hingga terlihat kedua ketiaknya.

“Lanjutkan dengan alhamdulillah hamdan syakirin, sesudah itu sholawat kepada Nabi SAW. Jangan langsung berdoa, lakukan dulu munajat,” urai Prof Nasaruddin.

Munajat, lanjutnya, merupakan sikap merendahkan diri di hadapan Allah. Usai bermunajat, barulah panjatkan doa.

“Tapi hati-hati, jangan sampai doa kita dipadati oleh doa-doa yang didikte pada hawa nafsu,” kata Prof Nasaruddin mengingatkan.

Maksud dari didikte hawa nafsu seperti doa yang hanya berlaku untuk jangka pendek, seperti meminta kekayaan, kesehatan, dan lain sebagainya. Padahal, alangkah baiknya kita juga menyelipkan doa mengenai Allah dan Rasulnya.

Enggak ada tuh permohonan orang berdoa agar langgeng mencintai Allah, pernahkan kita berdoa seperti ini? Enggak. Doa kita terlalu didikte dengan hawa nafsu, banyak resikonya,” paparnya.

Prof Nasaruddin juga mengimbau agar kita berdoa dengan semestinya. Jangan sampai seorang hamba berdoa kepada Allah tapi melecehkan karena terkesan memerintah Tuhan. Dengan demikian, etika berdoa perlu diperhatikan.

Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Kekuatan Doa bisa disaksikan DI SINI.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com