Tag Archives: rasulullah saw

Zakat Membuat Hidup Lebih Berkah



Jakarta

Zakat menjadi salah satu perintah Allah SWT yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim. Dengan menunaikan zakat, artinya kita membersihkan harta dan jiwa sehingga hidup akan menjadi lebih berkah.

Dalam Mutiara Ramadan detikcom, Kamis (13/4/2023) Adiwarman A. Karim menjelaskan tentang zakat yang mampu membuat hidup lebih berkah.

“Zakat ini macam-macam bentuknya, tapi yang penting itu zakat diwajibkan oleh Allah bagi umatnya untuk membersihkan jiwa kita,” kata Adiwarman yang merupakan praktisi ekonomi syariah.


Lebih lanjut, Adiwarman menjelaskan hakikat dari zakat yang dikeluarkan oleh umat muslim ini. Harta yang diperoleh dengan kerja keras ini harus dikeluarkan zakatnya.

“Kita bayar zakat, yang kita keluarkan harta tapi sebenarnya yang kita bersihkan adalah jiwa kita. Karena dengan jiwa yang bersih ini maka dengan demikian harta kita akan jadi barokah, hidup kita jadi barokah,” lanjut Adiwarman.

Ia juga menegaskan bahwa harta yang kita peroleh sebenarnya tidak sepenuhnya menjadi hak kita. Terdapat hak orang lain yang wajib diberikan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menjelaskan tentang pertolongan yang datang karena seseorang berbuat baik terhadap sesama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kalian (layak) ditolong (dimenangkan) dan diberi rezeki, kecuali karena adanya orang-orang lemah diantara kalian?” (HR. Al-Bukhari).

Dan di dalam riwayat lain dengan redaksi: “Sungguh kalian dimenangkan (ditolong) dan diberi rezeki, adalah berkat orang-orang lemah dari kalian” (HR. Ahmad).

Lalu dalam riwayat lain lagi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menolong (memenangkan) ummat ini, adalah karena orang-orang lemahnya, berkat doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka” (HR. An-Nasai).

Adiwarman juga mengutip hadits Rasulullah SAW tentang keutamaan puasa di bulan Ramadan dan juga membayar zakat fitrah.

“Bulan Ramadan, ada zakat fitrah. Bulan Ramadan ini Allah SWT menggugurkan dosa kita. Siapa-siapa yang berpuasa di bulan ramadan karena iman maka Allah ampuni dosanya,” ujar Adiwarman.

Penjelasan ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni” . (HR. Bukhari dan Muslim).

Mau tahu lebih lanjut tentang keutamaan zakat fitrah? Simak video selengkapnya di Mutiara Ramadan: Zakat, Cara Hidup Lebih Berkah tonton DI SINI.

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

Kunci Mencari Pendapatan untuk Akhirat



Jakarta

Mencari pendapatan dunia harus diiringi juga dengan tabungan akhirat. Ada cara yang bisa dilakukan agar bisa mendapatkan penghasilan di dunia sekaligus tabungan penghasilan di akhirat.

Ustaz Oni Sahroni dalam Mutiara Ramadan detikcom, Sabtu (15/4/2023), menyebutkan beberapa kunci mencari pendapatan untuk akhirat.

“Berbagai aktivitas sosial penuh dengan dinamika. Bahkan faktanya, tidak sedikit orang yang bekerjasama dengan pihak lain tapi setelah selesai usaha bukannya tambah akrab tapi runtuh, selesai persahabatan. Oleh karena ituu, dalam bisnis, butuh sosok investor, saudagar, pebisnis yang soleh,” ujar Ustaz Oni.


Lebih lanjut, Ustaz Oni menjelaskan tentang pentingnya seorang pengusaha atau saudagar yang komitmen dengan keislaman, komitmen dengan iman kepada Allah SWT.

“Titik poinnya saudagar itu kudu baik, soleh, orang yang bisa merawat iman,” lanjut Ustaz Oni.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan para pengusaha agar bisa merawat iman. Dengan demikian, selain sukses dalam pendapatan di dunia, sukses juga di akhirat.

1. Tunaikan Ibadah Kepada Allah
Jadilah orang yang paling dekat dengan Allah SWT. Caranya dengan menunaikan ibadah-ibadah wajib, penuhi rukun, fikih dan adabnya.

2. Mudah Membantu Orang Lain
Selanjutnya yakni jadilah orang yang mudah membantu orang lain, dengan demikian iman kita terawat karena kita dekat dengan Allah SWT.

Seorang pengusaha harus bisa bertawasul kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 77

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

“Begitulah cara pandang saudagar yang baik, yang sholeh. Seimbang antara dunia dan akhirat,” ujar Ustaz Oni.

3. Komitmen dengan Perjanjian

Jika seorang pengusaha terlibat perjanjian maka ia komitmen dengan janjinya. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal dari sahabat ‘Amr bin ‘Ash bahwa Nabi bersabda:

نِعِمَّا بِالْمَالِ الصَّالِحِ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ (رَوَاهُ أَحْمَدُ)

Artinya: “Sebaik-baik harta yang baik adalah harta yang dimiliki oleh orang yang shalih” (HR Ahmad).

Seperti apa penjelasan selanjutnya tentang pendapatan di dunia dan akhirat? Simak selengkapnya dalam video Mutiara Ramadan: Kunci Mencari Pendapatan untuk Akhirat bersama Ustaz Oni Sahroni di SINI.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Mutiara Ramadan Ustaz Oni Sahroni: Hikmah Zakat dan Berbagi



Jakarta

Salah satu amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah berbagi dan membantu menyelesaikan kesusahan orang lain. Hal ini diungkapkan Ustaz Oni Sahroni dalam Mutiara Ramadan detikcom, Minggu (16/4/2023).

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW,

أَحَبُّ الناسِ إلى اللهِ أنفعُهم للناسِ


Artinya: “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia” (HR Thabrani)

Ustaz Oni kemudian melanjutkan hadits Rasulullah SAW ini dengan pembahasan bahwa Rasulullah memberikan contoh orang-orang yang paling bermanfaat. Mereka adalah yang membantu kesusahan orang lain, berzakat, berinfak dan sebagainya.

Masih dalam hadits yang sama, Rasulullah berkata “Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani)

“Hadits ini dengan tegas memberikan pesan kepada kita betapa mulia orang yang berzakat, berinfak dan membantu saudaranya,” ujar Ustaz Oni.

Baik pemberi zakat maupun orang yang menerima, keduanya memiliki keutamaan masing-masing.

“Bagi orang yang berbagi, ia akan mendapatkan keberkahan, untuk dirinya sendiri, untuk orang tuanya, untuk keluarganya, bagi semuanya,” jelas Ustaz Oni.

Sementara keutamaan dan manfaat bagi mustahik, yakni orang-orang yang menerima zakat adalah bisa menyelesaikan sebagian masalahnya.

“Masalahnya terselesaikan, terminimalisir kesenjangan antara dhuafa dan hartawan. Mereka akan berterima kasih, memberikan apresiasi, misalnya lewat doa. Doa para dhuafa mustajab, dikabulkan oleh Allah SWT,” jelas Ustaz Oni.

Seperti apa penjelasan selanjutnya tentang berzakat dan berbagi dengan sesama? Simak selengkapnya dalam video Mutiara Ramadan: Hikmah Zakat dan Berbagi bersama Ustaz Oni Sahroni di SINI.

(dvs/erd)



Sumber : www.detik.com

Kultum Malam 27 Ramadan: Keistimewaan Lailatul Qadar



Jakarta

Umat Islam akan memasuki malam 27 Ramadan bakda Magrib nanti. Malam ke-27 adalah malam yang istimewa dalam bulan Ramadan karena termasuk malam ganjil waktu datangnya lailatul qadar.

Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk mencari malam lailatul qadar, pada malam ini Allah SWT melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya yang khusyuk beribadah.

Menurut riwayat paling kuat, sebagaimana dikatakan Sayyid Sabiq dalam Kitab Fiqih Sunnah, lailatul qadar terletak pada malam 27 Ramadan. Menyambut datangnya malam penuh kemuliaan tersebut, penceramah Tarawih bisa menyampaikan kultum malam 27 Ramadan.


Berikut contoh kultum malam 27 Ramadan bertema Keistimewaan Malam Lailatul Qadar sebagaimana dinukil dari buku Kumpulan 101 Kultum tentang Islam karya M Quraish Shihab.

Kultum Malam 27 Ramadan

Lailat al-Qadr merupakan kata majmu yang secara harfiah, kata lailat berarti malam, sedangkan qadr artinya kemuliaan, sempit, atau takdir.

Malam lailatul qadar dapat diartikan sebagai malam yang mulia, hal itu dikarenakan malam lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu Al-Qur’an pertama kali ditampakkan Allah SWT melalui kehadiran Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira.

Kalau qadar diartikan sempit, maka hal itu oleh sebagian ulama dipahami bahwa ilustrasi dari banyak dan silih bergantinya malaikat-malaikat yang turun pada malam itu sehingga bumi “seakan-akan sempit” karena kehadiran makhluk-makhluk suci tersebut.

Sedangkan, apabila qadar diartikan ukuran dan ketetapan, maka itu dipahami dalam arti pada malam itu Allah SWT menetapkan ukuran dan takdir setiap makhluk untuk setahun atau mengisyaratkan bahwa turunnya Al-Qur’an menjadi ketetapan Allah SWT untuk menjadikan manusia yang “ditemui” lailatul qadar memperoleh keselamatan dan kedamaian sepanjang hayatnya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa semua makna mengenai lailatul qadar bisa jadi benar.

Banyak sekali uraian dan riwayat yang berkaitan dengan malam lailatul qadar, baik mengenai maknanya, tanda-tandanya, maupun dugaan waktu kehadirannya.

Namun, satu hal yang harus digarisbawahi bahwa hakikat malam itu dan keistimewaannya amat sangat agung sehingga tidak dapat terjangkau oleh nalar manusia. Hal ini oleh pakar-pakar tafsir Al-Qur’an yang dipahami sebagai “pertanyaan” yang diajukan Al-Qur’an ketika membahas mengenai malam lailatul qadar.

Pada ayat kedua surah al-Qadr, وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ (Wa mā adrāka mā lailatul-qadr(i)). Kalimat ma adraka ini diartikan sebagai hal-hal yang tidak terjangkau oleh nalar manusia, kecuali menyangkut hal-hal yang tidak dapat dinalar oleh manusia. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa lailatul qadar dan keistimewaan-keistimewaannya tidak dapat terjangkau, kecuali melalui penjelasan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Dari sekian banyak riwayat yang ditemukan dalam literatur agama dan dinisbahkan kepada Rasulullah SAW tentang malam mulia tersebut baik shahih maupun lemah.

Seperti hadis berikut yang diriwayatkan oleh Muslim,

Rasulullah SAW juga menggambarkan bahwa paginya malam lailatul qadar agar seorang muslim mengetahuinya dari Ubai RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.”

Tapi yang pasti menurut Al-Qur’an, bahwa pada malam itu para malaikat bergantian turun dan bahwa kedamaian terasa hingga terbit fajar.

Terlepas dari itu, muncul pertanyaan baru apakah lailatul qadar hanya terjadi sekali, yakni pada malam turunnya Al-Qur’an saja atau ia terjadi setiap tahun?

Jika menurut dari mayoritas ulama mengatakan bahwa, malam ini terjadi di setiap tahun di bulan Ramadan. Lantas, kapan tepatnya di bulan Ramadan itu? Pada awal, pertengahan, atau akhirnya?

Mengenai hal tersebut ada riwayat yang menyatakan bahwa Rasul SAW sengaja tidak menyampaikan persisnya kapan. Konon sahabat Nabi SAW, Abdullah bin Anas, pernah bertanya tentang hal tersebut kepaada Nabi SAW, lalu beliau bersabda,

لولا أن يترك الناس الصلاة إلا تلك الليلة لأخبرتك

Artinya: “Seandainya manusia tidak meninggalkan salat, kecuali pada malam itu, maka tentu aku akan memberitahukanmu” (HR Abd ar-Rahaim al-Iraqy)

Sementara itu, sahabat Nabi Muhammad SAW yang lain, Ibnu Mas’ud pernah berucap, “Siapa yang melaksanakan dengan baik tuntunan agama selama setahun, ia akan bertemu dengan lailatul qadar.”

Sahabat Nabi SAW yang ditanyai tentang pendapat Ibnu Mas’ud, yakni Ubay bin Ka’ab menjawab: “Semoga Allah SWT mengampuni Ibnu Mas’ud. Ia sebenarnya mengetahui bahwa itu pada malam 27 Ramadan, tetapi beliau tidak mau orang hanya berkonsentrasi dalam beribadah pada malam itu.”

Pada riwayat lain juga menyebutkan,

“Carilah lailatul qadar pada malam ganjil sepuluh terakhir Ramadan.” (HR Bukhari).

Pada dasarnya tidak ada informasi yang pasti pada malam ke berapa di sepuluh malam terakhir itu. Ada riwayat yang menyatakan bahwa malam lailatul qadar terjadi pada malam 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan.

Namun, jika berdasarkan pendapat yang populer adalah bahwa lailatul qadar diduga terjadi pada malam 27 Ramadan. Hal ini dijelaskan oleh ulama besar sekaligus pakar hukum Islam dan tafsir Al-Qur’an, yakni al-Qurthuby.

Ia mengemukakan aneka pendapat tentang lailatul qadar dalam tafsirnya pandangan shufi Abu Bakar al-Warraq yang menyatakan bahwa: “Allah mengisyaratkan malam lailatul qadar dalam kata-kata yang terdapat dalam surah al-Qadr. Beliau membacanya kata demi kata sembari menghitung dan ketika sampai hiya/dia, yakni lailatul qadar kata tersebut berada di urutan ke-27.

Memang, sesudah kata hiya, terdapat tiga kata lagi, yaitu hatta mathla’ il-fajr sehingga kata-kata itu berjumlah 30 kata yang mengisyaratkan jumlah hari dalam sebulan.

Lebih lanjut al-Qurthuby menulis bahwa kata يْلَةُ الْقَدْرِۗ Lailat al-qadr terulang tiga kali dalam surah ini, sedang jumlah hurufnya ada sembilan. Jadi, dapat disimpulkan 3 x 9 = 27.

Entah kapan datangnya malam lailatul qadar, sudah semestinya kita mempersiapkan diri untuk menyambut malam yang mulia itu bagaikan tamu yang agung. Malam itu tidak akan datang menemui seseorang, kecuali yang ia ketahui persis bahwa ia akan disambut dengan baik dan bahwa yang menyambutnya telah mempersiapkan penyambutan yang layak baginya.

Betapapun, ciptakanlah kedamaian dalam diri anda dengan orang lain, bahkan seluruh lingkungan anda. Insya Allah, ia akan menyapa anda. Lalu sesuai jawaban Nabi SAW kepada istri beliau, as-Sayyidah Aisyah RA yang bertanya:

Kami meriwayatkan dengan sanad-sanad shahih, dalam Kitab At-Tirmidzi, Kitab An-Nasa’I, dan Kitab Ibnu Majah, serta yang lain, dari Sayyidah Aisyah RA dia mengatakan; Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui datangnya lailatul qadar, apa yang harus kuucapkan?” Beliau menjawab,

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Arab latin: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni

Artinya: “Ucapkanlah, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan suka mengampuni. Karena itu, ampunilah aku.”

Imam At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini adalah hasan shahih”

Demikian, wa Allah A’lam

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Sebesar Apapun Dosa, Jangan Berputus Asa



Jakarta

Sebagai manusia, tentulah kita tak luput dari segala kesalahan dan dosa. Meski begitu, kita tidak boleh berputus asa atas dosa-dosa yang telah kita perbuat, pun dari rahmat Allah.

Dalam surat Az Zumar ayat 53, Allah SWT berfirman,

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ


Arab latin: Qul yā ‘ibādiyallażīna asrafụ ‘alā anfusihim lā taqnaṭụ mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunụba jamī’ā, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

Artinya: “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”

Berkenaan dengan itu Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Selasa (18/4/2023), menyampaikan kisah yang tertuang dalam sebuah hadits mengenai seorang pencuri kain kafan. Ia mengisahkan bahwa sang pemuda itu jatuh cinta terhadap kembang desa.

Sayangnya, tiap kali si pemuda yang tak lain pencuri kain kafan itu kerap ditolak cintanya oleh gadis pujaan hatinya. Karena itu pula, pemuda tersebut frustasi.

Tiba-tiba tersiar kabar bahwa kembang desa itu meninggal. Mendengar hal itu, si pemuda makin frustasi dan sedih.

Namun, dia tak kehabisan akal. Setelah dikuburkan, jenazah si gadis desa itu diambil dari tanah kuburan dan diletakkan di pinggir makam.

“Bukan saja sampai di situ, tapi dia gauli (jenazah kembang desa) sampai sepuasnya. Setelah puas, kain kafannya pun juga diambil lalu ia pergi,” ujar Prof Nasaruddin menceritakan.

Semenjak kejadian itu, entah kenapa si pemuda merasa bersalah atas dosa yang ia perbuat. Sampai tiba-tiba, ia menangis sambil meraung-raung di dekat masjid Nabi SAW dan para sahabat.

Merasa terganggu, nabi dan para sahabat datang ke sumber suara sambil bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda tersebut. Ia lantas menjawab bahwa dirinya telah melakukan dosa yang sangat besar.

Pemuda itu menuturkan, saking besarnya dosa tersebut sampai-sampai melebihi Allah yang Maha Besar. Hal itu lantas membuat marah para sahabat, diusirnya lelaki itu.

Namun, Rasulullah SAW mendapat informasi dari Allah SWT untuk menyusul dan mencari pemuda itu. Sebab, dirinya tengah melakukan pertobatan yang luar biasa.

Setelah mendaki puncak gunung, bertemulah Nabi SAW dengan si pemuda yang sebelumnya diusir itu. Di sana, Rasulullah kembali bertanya agar lelaki itu mau memberi tahu dosa yang dikerjakannya.

Kisah selengkapnya dapat disaksikan dalam detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Tidak Boleh Berputus Asa, klik DI SINI.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Tata Cara Khutbah Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha



Jakarta

Rasulullah SAW biasa merangkaikan salat Id di dua hari raya, yakni Idul Fitri dan Adha dengan khutbah di setelahnya. Berikut tata cara pelaksanaan khutbah hari raya sesuai sunnah.

Sayyid Sabiq dalam buku Fiqih Sunnah mengemukakan hukum khutbah hari raya, yakni sunnah. Ia mengambil hadits riwayat Abdullah bin Sa’ib sebagai dalil dasar, yang mana Rasulullah SAW bersabda:

“Kami sekarang akan menyampaikan khutbah. Barang siapa yang ingin duduk untuk mendengarnya, duduklah, tetapi siapa yang hendak pergi, dia boleh pergi.” (HR Nasa’i, Abu Dawud & Ibnu Majah)


Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi dalam buku Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah juga menyebut khutbah dua hari raya hukumnya sunnah menurut pendapat sejumlah ulama mazhab, kecuali Malikiyah yang berpemahaman khutbah ini hanya dianjurkan saja, tidak sampai disunnahkan.

Untuk pelaksanaannya sendiri, khutbah hari raya dilakukan setelah salat Id selesai didirikan. Sebagaimana riwayat Ibnu Umar, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يُصَلُّوْنَ الْعِيْدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

Artinya: “Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar, melaksanakan salat dua Id sebelum khutbah.” (HR Bukhari & Muslim)

Ibnu Abbas juga meriwayatkan, “Aku pernah keluar (rumah) bersama Rasulullah SAW pada hari Idul Fitri atau Idul Adha, lalu beliau salat dan berkhutbah.”

Menukil buku Al-Tadzhib fi Adillati Matn Al-Ghayah wa al-Taqrib oleh Musthafa Dib Al-Bugha, misal saja imam atau khatib berkhutbah terlebih dahulu sebelum salat Id karena lupa, maka baginya disunnahkan untuk mengulangi khutbah hari raya setelah salat Id.

Tata Cara Khutbah Idul Fitri & Idul Adha

Masih dari buku Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, dijelaskan bahwa rukun khutbah hari raya sama dengan rukun khutbah Jumat. Bedanya hanya terletak pada kalimat pembukanya saja, lantaran khutbah Id dianjurkan untuk dimulai dengan takbir, sedang khutbah Jumat diawali dengan tahmid.

Khutbah salat Id dilaksanakan dua kali. Sebelum memulainya, khatib ada baiknya agar duduk untuk istirahat (setelah salat). Setelah mengerjakan khutbah pertama, khatib duduk sejenak di antara dua khutbah, seperti pada khutbah Jumat.

Dalam memulai khutbah juga terdapat bacaan khusus yang dibaca, sesuai riwayat Ubaidillah bin Abddullah, “Yang sunnah pada saat membuka khutbah adalah mengucapkan sembilan takbir terus menerus pada khutbah pertama dan tujuh takbir terus menerus pada khutbah kedua.” (HR Baihaqi)

Sementara isi khutbahnya sendiri yang dinukil dari buku Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, bahwa mazhab Syafi’i sebagai aliran yang paling banyak dianut masyarakat Indonesia menyatakan, dalam khutbah terdapat 4 rukun isinya yang mesti dipenuhi; bersholawat, berwasiat kepada jamaah yang mendengarkan untuk selalu bertakwa kepada Allah SWT, membacakan ayat Al-Qur’an, serta memanjatkan doa untuk kaum mukmin.

Sebagaimana dalam buku Syama’il Rasulullah karya Ahmad Mustafa Mutawalli juga dijelaskan, “Selesai salat (Id), beliau menghadap ke arah jamaah (yang tetap duduk dalam shaf) untuk memberikan nasihat, menyampaikan perintah atau larangan.”

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Khutbah Jumat Akhir Syawal tentang Empat Tanda Orang Istiqomah



Jakarta

Khutbah Jumat akhir Syawal tentang pentingnya menjaga istiqomah bisa menjadi salah satu referensi khatib saat salat Jumat. Hal ini lantaran mendekati akhir bulan Syawal, animo dan momentum masyarakat dari bulan Ramadan dapat dirasakan menurun dalam keistiqomahan beragama.

Berdasarkan ketetapan hasil sidang isbat Kementerian Agama (Kemenag), bulan Syawal berakhir pada 21 Mei 2023 mendatang.
Sementara itu, berdasarkan keputusan PP Muhammadiyah yang penentuan kalendernya menggunakan perhitungan dari posisi geometris bumi, matahari, dan bulan, Syawal berakhir pada 20 Mei 2023.

Istiqomah sendiri secara bahasa berarti konsisten, sikap teduh berpendirian khususnya dalam berkeyakinan. Al-Maraghi melalui buku Tafsir al Maraghi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan istiqomah adalah teguh dalam beriman sehingga tidak tergelincir, serta ibadah dan itikad-itikad nya tidak dilanggar.


Allah SWT berulang kali menyinggung mengenai pentingnya beristiqomah khususnya dalam beragama. Salah satunya termaktub dalam Al-Qur’an Surah Hud ayat 112 yang berbunyi,

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Arab Latin: “Fastaqim kamā umirta wa man tāba ma’aka wa lā taṭgau, innahū bimā ta’malūna baṣīr(un).”

Artinya: “Maka, tetaplah beristiqomahlah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Melihat pentingnya istiqomah dalam Islam, berikut ini adalah contoh naskah khutbah Jumat akhir Syawal dengan tema tanda orang istiqomah yang dilansir dari laman BDK Bandung Kemenag RI.

Contoh Teks Khutbah Jumat Akhir Syawal

Assalamualaikum Wr. Wb

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada takwa. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 102,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Shalawat dan salam kepada sayyid para nabi, nabi akhir zaman, rasul yang syariatnya telah sempurna, rasul yang mengajarkan perihal ibadah dengan sempurna. Semoga shalawat dari Allah tercurah kepada beliau, kepada istri-istri beliau, para sahabat beliau, serta yang disebut keluarga beliau karena menjadi pengikut beliau yang sejati hingga akhir zaman.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah,

Sebelumnya ada dua adab penting pada hari Jumat saat mendengarkan khutbah Jumat yang perlu diterangkan. Pertama, diam dan tidak berbicara saat mendengar khutbah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ . وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Artinya: Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘”iamlah, khotib sedang berkhutbah!” Sungguh engkau telah berkata sia-sia.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua, dilarang al-habwah, yaitu duduk sambil memeluk lutut saat mendengarkan khutbah. Dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya (Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy), ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

Artinya: “Rasulullah SAW melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

Kali ini kami akan mengangkat tema mengenai bagaimanakah tanda seseorang itu istiqomah. Karena setiap hari kita terus mengulang ayat ini di dalam salat,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَصِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7).

Ayat ini berisi perintah untuk meminta terus istiqomah di atas jalan yang lurus. Shirathal mustaqim menurut Ibnu Katsir adalah:

Mengikuti jalan Nabi

Mengikuti generasi salaf dari para sahabat seperti Abu Bakar dan ‘Umar

Mengikuti kebenaran

Mengikuti Islam

Mengikuti Al-Qur’an

Ibnu Katsir rahimahullah mengungkapkan bahwa semua pengertian di atas itu benar dan semua makna di atas itu saling terkait. Siapa yang mengikuti Nabi Muhammad SAW dan mengikuti sahabat sesudahnya yaitu Abu Bakar dan Umar, maka ia telah mengikuti kebenaran. Siapa yang mengikuti kebenaran, berarti ia telah mengikuti Islam. Siapa yang mengikuti Islam, berarti ia telah mengikuti Al-Qur’an (Kitabullah), itulah tali Allah yang kokoh. Itulah semua termasuk ash-shirothol mustaqim (jalan yang lurus). Semua pengertian di atas itu benar saling mendukung satu dan lainnya. Walillahil hamd. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:213.)

Bagaimana kita bisa istiqomah pada jalan yang lurus? Syafiq Al-Balji rahimahullah berkata bahwa ada empat cara untuk istiqomah,

1. Tidak Meninggalkan Perintah Allah Akibat Musibah

Pertama, tidak meninggalkan perintah Allah karena sedang mengalami musibah. Tetap istiqomah walaupun mendapatkan musibah. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al Insyirah ayat 5,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Ayat ini pun diulang setelah itu dalam surah Al Insyirah ayat 6,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Tentang ayat di atas, Qatadah rahimhuallah berkata, “Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.”

Ingatlah hikmah di balik musibah sungguh luar biasa. Pertama, musibah itu sebagai ujian, siapakah yang mampu bersabar.

Kedua, mntuk membersihkan hati manusia dan supaya lepas dari sifat-sifat buruk karena ketika musibah datang, maka kesombongan, ujub, hasad berubah menjadi ketundukan kepada Allah. Ketiga, iman seorang mukmin menjadi kuat.

Keempat, musibah menunjukkan kuatnya Allah dan lemahnya manusia. Kelima, dengan adanya musibah, kita jadi semangat berdoa dengan ikhlas.

Keenam, musibah itu untuk membangunkan seseorang yang sedang lalai. Ketujuh, nikmat itu baru dirasakan kalau kita mengetahui lawannya. Kita baru rasakan nikmat sehat ketika kita mendapatkan sakit.

Kedua, tidak meninggalkan perintah Allah karena kesibukan dunia. Ketiga, tidak mengikuti komentar orang lain dan mengedepankan hawa nafsu sendiri. Keempat, beramal sesuai Al-Qur’an dan sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hilyah Al-Auliya’, 8:17, dinukil dari At-Tadzhib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hlm. 50).

2. Tidak Meninggalkan Perintah Allah Akibat Sibuk Dunia

Tidak meninggalkan perintah Allah walaupun sibuk dengan urusan dunia. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan tentang salat pada suatu hari di mana beliau bersabda,

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ

Artinya: “Siapa yang menjaga salat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nantinya di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR Ahmad)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab Ash-Shalah wa Hukmu Taarikihaa (hlm. 37-38) mengenai hadits di atas,

Siapa yang sibuk dengan hartanya sehingga melalaikan salatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Qarun.

Siapa yang sibuk dengan kerajaannya sehingga melalaikan salatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun.

Siapa yang sibuk dengan kekuasaannya sehingga melalaikan salat, maka ia akan dikumpulkan bersama Haman (menterinya Fir’aun).

Siapa yang sibuk dengan perdagangannya sehingga melalaikan salat, maka ia akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf.

3. Tidak Ikut Komentar Orang Lain

Tidak mengikuti komentar orang lain dan mengedepankan hawa nafsu sendiri. Dalam hadits disebutkan,

مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

Artinya: “Barangsiapa yang mencari ridha Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridha manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

4. Beramal sesuai Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al Hasyr ayat 7,

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”

Dalam hadits Al-‘Irbadh bin Sariyah disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة

Artinya: “Hati-hatilah dengan perkara baru dalam agama. Karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Demikian tanda kita bisa istiqomah, kesimpulannya adalah tidak meninggalkan perintah Allah tatkala kita tertimpa musibah, tidak meninggalkan perintah Allah karena kesibukan dunia, tidak mengikuti komentar orang dan hawa nafsu sendiri, beramal sesuai Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Berapa Tahun Nabi Muhammad Tinggal di Madinah untuk Berdakwah?



Jakarta

Periode dakwah Nabi Muhammad SAW diketahui terbagi ke dalam dua kota yaitu, Makkah dan Madinah. Berapa tahun Nabi Muhammad SAW tinggal di Madinah untuk berdakwah?

Perjuangan dakwah periode Madinah yang dilakukan Rasulullah SAW tidaklah mudah. Di tempat baru semasa hijrah ini, tak sedikit fitnah didapati Rasulullah SAW selama menyebarkan ajaran Islam.

Dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam yang disusun oleh Abu Achmadi dan Sungarso, ketidaksukaan Yahudi, kebencian kaum munafik, dan permusuhan kaum Quraisy kerap kali menimbulkan perseteruan yang berujung pada peperangan di masyarakat Madinah.


Berbagai persoalan semasa berdakwah di kota yang dulu dikenal dengan Yatsrib ini berhasil diatasi oleh Rasulullah SAW. Pada puncaknya, beliau berhasil menaklukkan Kota Madinah dan menjadikannya bagian dari wilayah kekuasaan Islam.

Berapa Tahun Nabi Muhammad SAW Tinggal di Madinah?

Kedatangan Nabi Muhammad SAW di Madinah pada 12 Rabi’ul Awwal tahun pertama Hijriah merupakan awal dari dimulainya dakwah. Menurut keterangan hadits, Nabi Muhammad SAW tinggal di madinah selama 10 tahun di Madinah hingga akhir hayatnya.

Adapun sebelumnya, 13 tahun setelah menginjak usia 40 tahun awal kenabian, Nabi Muhammad SAW berdakwah di Makkah. Melansir buku Ringkasan Shahih Muslim oleh M. Nashiruddin al-Albani, keterangan tersebut didasarkan pada sebuah hadits yang mahsyur di kalangan ulama,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : أَقَامَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةٌ يُوْحَى إِلَيْهِ ، وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرًا ، وَمَات وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِيْنَ سَنَةً

Artinya: Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu berkata, “Rasulullah tinggal di Makkah selama 13 tahun sejak beliau menerima wahyu dan tinggal di Madinah selama 10 tahun. Beliau wafat dalam usia 63 tahun.” (HR Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan redaksi serupa yang menyebutkan Nabi Muhammad SAW tinggal di Madinah selama sepuluh tahun. Dari Ibnu Abbas RA,

“Rasulullah SAW tinggal di Makkah selama 15 tahun. Selama tujuh tahun beliau mendengar suara dan melihat cahaya tanpa ada wahyu dan selama delapan tahun beliau menerima wahyu. Beliau tinggal di Madinah selama 10 tahun.” (HR Muslim)

Selama kurang lebih tinggal 10 tahun di Madinah, Nabi Muhammad SAW fokus pada penguatan Islam dan dakwah. Setelah Rasulullah SAW mendapatkan perintah untuk hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau berangkat dan tiba di Madinah pada 12 Rabi’ul Awwal.

Dikutip melalui buku Pendidikan Agama Islam karya Bachrul Ilmy, setidaknya ada empat substansi dakwah pada periode dakwah Madinah.

Empat substansi tersebut adalah pembinaan akidah, ibadah, dan mu’amalah kaum muslim, pembinaan ukhuwah atau persaudaraan untuk menyatukan kaum muslim, pembinaan kader-kader perjuangan untuk mempertahankan wilayah dakwah, dan memetakan pertahanan dan sosial untuk menjaga stabilitas Madinah.

Adapun cara dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah di antaranya sebagai berikut.

Cara Dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah

1. Memberdayakan Masjid

Rasulullah SAW membangun dua masjid selama di Madinah yang dijadikan sebagai pusat kegiatan dakwah, yaitu Masjid Quba yang dibangun saat kedatangan pertamanya dan Masjid Nabawi yang kemudian dijadikan untuk mendidik para sahabatnya dan mengatur pemerintahan.

2. Melakukan Perjanjian dengan Kaum Yahudi

Selama dakwah di Madinah, Rasulullah SAW melakukan perjanjian untuk memperkokoh posisi kaum muslimin dari gangguan penduduk asli, bangsa Arab, maupun Yahudi. Hal ini juga dilakukan bertujuan secara umum untuk menjaga stabilitas di Madinah.

Perjanjian tersebut selanjutnya melahirkan Piagam Madinah. Piagam ini berisi sepuluh bab, di antaranya pembentukan ummat, hak asasi manusia, persatuan seagama, persatuan segenap warganegara, golongan minoritas, tugas warga negara, melindungi negara, pimpinan negara, politik perdamaian, dan bab terakhir merupakan penutup.

3. Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Anshar

Rasulullah SAW berhasil mempersaudarakan dua kaum muslimin, yakni Muhajirin dan Anshar. Rasulullah SAW menganjurkan untuk kedua kaum tersebut untuk saling memupuk persaudaraan dan melarang adanya sentimen kesukuan. Hal ini dilakukan untuk semakin memperkuat umat Islam.

4. Mendirikan Pasar

Rasulullah SAW mendirikan pasar yang tidak jauh dari Masjid Nabawi agar supaya membangun perekonomian rakyat sekaligus sebagai sarana dakwahnya. Pasar ini dibangun untuk mendidik umat dalam mengatur roda perekonomian yang adil berdasarkan ajaran Islam.

Begitulah pembahasan kali ini mengenai berapa tahun Nabi Muhammad SAW tinggal di Madinah sekaligus strategi dakwah yang digunakan beliau di sana.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Isi Khutbah Rasulullah saat Haji Wada, Jadi Pengingat Umat Islam



Jakarta

Rasulullah SAW menjalankan khutbah terakhirnya saat melaksanakan Haji Wada atau haji perpisahan. Berikut ini adalah isi khutbah Rasulullah SAW saat Haji Wada.

Haji Wada atau yang juga dikenal sebagai Hujjat al-wada, merujuk pada haji perpisahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M. Ibadah haji ini merupakan haji terakhir dan satu-satunya yang beliau lakukan dan dianggap sebagai momen penting dalam sejarah Islam.

Rasulullah SAW dalam khutbah terakhirnya memperingatkan umatnya agar tidak kembali kepada kekufuran, saling berperang, dan membawa kesengsaraan. Beliau juga menekankan pentingnya menjaga jiwa dan harta setiap Muslim, menghindari riba, waspada terhadap godaan setan, memperlakukan istri dengan baik, melaksanakan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, serta mengikuti Al-Qur’an dan sunnahnya sebagai panduan hidup yang tak tergantikan.


Adapun isi lengkap dari khutbah terakhir Rasulullah SAW saat Haji Wada diriwayatkan oleh Jarir Radhiyallahu Anhu yang dikutip dari buku Samudra Keteladanan Muhammad oleh Nurul H. Maarif adalah sebagai berikut.

Isi Khutbah Rasulullah SAW saat Haji Wada

“Sungguh Nabi SAW bersabda padanya, pada Haji Wada (haji perpisahan/haji Nabi Muhammad SAW yang terakhir). Simaklah dengan baik wahai orang-orang, lalu beliau bersabda: ‘Jangan kalian kembali kepada kekufuran setelah aku wafat, saling bunuh dan memerangi satu sama lain.’ (HR Bukhari)

Setelah memuji dan bersyukur kepada Allah SWT, Rasulullah SAW kemudian menyampaikan,

“Wahai manusia, dengarlah baik-baik apa yang hendak kukatakan. Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengar teliti kata-kata ku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir di sini pada hari ini,”

“Wahai manusia sebagaimana kamu menganggap bulan ini, dan kota ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang muslim sebagai amanah yang suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak, janganlah kamu sakiti siapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu pula,”

“Ingatlah sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu, dan Dia pasti akan membuat perhitungan di atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba, oleh itu segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang.

Berwaspadalah terhadap setan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya tidak mengikuti dalam perkara-perkara kecil,”

“Wahai manusia, selayaknya kamu mempunyai hak atas para istri kamu, mereka juga mempunyai hak di atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu, maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang.

Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik dan berlemah lembutlah terhadap mereka lantaran sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang tidak kamu sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina,”

“Wahai manusia, dengarkanlah bersungguh-sungguh kata-kata ku ini, sembahlah Allah dirikanlah sembahyang lima kali sehari, berpuasalah di bulan Ramadan dan tunaikan zakat dan harta kekayaan kamu. Kerjakanlah ‘ibadah haji’ sekiranya kamu mampu.

Ketahuilah setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama, tidak seorang pun lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam taqwa dan beramal saleh,”

“Ingatlah, bahwa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan di atas apa yang telah kamu kerjakan. Oleh itu, berhati-hatilah agar jangan sekali-kali kamu terluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku,”

“Wahai manusia, tidak ada lagi nabi dan rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia, timbanglah dengan betul dan pahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu,”

“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al-Qur’an dan sunnahku,”

Demikian kurang lebih isi dari khutbah terakhir Rasulullah SAW yang disampaikan sebelum wafat. Wallahu a’lam bish-shawabi.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Seruan Rasulullah di Atas Bukit Shafa Ajak Kaum Quraisy Bertauhid



Jakarta

Bukit Shafa menjadi saksi perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Di tempat inilah beliau menyeru kaum Quraisy secara terang-terangan perihal ajaran Islam.

Rasulullah SAW disebut menyeru dengan lengkingan yang tinggi saat di Bukit Shafa. Seruan tersebut merupakan seruan peringatan yang lazim digunakan untuk mengabarkan adanya serangan musuh atau terjadinya peristiwa besar.

Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, seruan tersebut dilakukan usai Rasulullah SAW yakin terhadap janji Abu Thalib untuk melindungi dalam menyampaikan wahyu Allah SWT.


Hingga akhirnya, pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di atas Bukit Shafa dan berseru, “Wahai semua orang!” Maka semua suku Quraisy pun berkumpul memenuhi seruan beliau. Rasulullah SAW kemudian mengajak mereka bertauhid dan iman kepada risalah beliau serta iman kepada hari akhir.

Imam Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan sebagian kisah ini dari Ibnu Abbas yang berkata, “Tatkala turun ayat ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat’ (QS Asy Syu’ara: 214), maka Nabi SAW naik ke Shafa lalu berseru, ‘Wahai bani Fihr, wahai bani Adi!’ yang ditujukan kepada semua suku Quraisy.

Mereka semuanya berkumpul. Jika ada yang berhalangan hadir, mereka mengirim utusan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Abu Lahab beserta para pemuka Quraisy juga ikut datang.

Rasulullah SAW melanjutkan seruannya, “Apa pendapat kalian jika kukabarkan bahwa di lembah ini ada pasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?”

“Benar. Kami tidak pernah mempunyai pengalaman bersama engkau kecuali kejujuran,” jawab mereka.

Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku memberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang pedih.”

Abu Lahab berkata, “Celakalah engkau untuk selama-lamanya. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”

Kemudian turun ayat, “Celakalah kedua tangan Abu Lahab. (QS Al Lahab: 1)”

Imam Muslim dalam Shahih-nya meriwayatkan bagian lain dari kisah ini dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Tatkala turun ayat ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat’ (QS Asy Syu’ara: 214) beliau menyeru secara umum maupun khusus, lalu bersabda,

‘Wahai semua orang Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak bisa berbuat apa pun terhadap diri kalian di hadapan Allah kecuali jika kalian mempunyai kerabat dekat, sehingga aku bisa membasahinya menurut kebasahannya.”

Berikut seruan Rasulullah SAW selengkapnya sebagaimana termuat dalam sejumlah Kitab Sirah Nabawiyah.

Wahai saudara-saudara Quraisy, tukarkanlah jiwa kalian demi Allah. Selamatkanlah diri kalian dari api neraka, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantu kalian untuk menghindar dari siksa Allah.

Wahai bani Ka’ab bin Lu’ay, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah!

Wahai bani Qushay, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah.

Wahai bani Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantu kalian menghindar dari siksa Allah.

Wahai bani Abdi Syams, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah.

Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah.

Wahai bani Abdul Muththalib, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantu kalian menghindar dari siksa Allah.

Wahai Abbas bin Abdul Muththalib, aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

Wahai Shafiyah binti Abdul Muththalib, bibi Muhammad, aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

Wahai Fathimah putri Muhammad utusan Allah, aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

Wahai Fathimah putri Muhammad utusan Allah. Engkau boleh meminta hartaku sesuka hatimu, selamatkanlah dirimu dari api neraka, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkanmu dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

Namun, kalian memiliki tali kekerabatan denganku. Aku akan berusaha menyambung sebatas haknya.

Setelah Nabi Muhammad SAW selesai menyampaikan peringatan, orang-orang membubarkan diri dengan berbagai respons. Hanya Abu Lahab yang merespons seruan di Bukit Shafa tersebut dengan cara yang buruk.

Saat ini Bukit Shafa digunakan sebagai salah satu lokasi utama dalam ibadah haji. Di tempat ini, jemaah akan berlari-lari kecil menuju Bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Rangkaian ibadah haji ini biasa disebut sa’i.

(kri/nwk)



Sumber : www.detik.com