Tag Archives: rasulullah saw

Hijrah ke Habasyah yang Pertama Rasulullah dan Kaum Muslimin



Jakarta

Setelah melalui masa sulit ketika berdakwah, Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW dan kaum muslimin untuk hijrah. Beliau kemudian hijrah ke Habasyah untuk pertama kalinya.

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyah menerangkan, perintah Allah SWT tersebut tercantum dalam surah Az-Zumar ayat 10,

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ١٠


Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.”

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri menjelaskan, Rasulullah SAW sudah tahu bahwa Ashhaman An-Najasyi, raja yang berkuasa di Habasyah merupakan seorang raja yang adil sehingga tidak ada seorang pun yang teraniaya di sisinya. Oleh karena itu, beliau memerintahkan beberapa orang muslim hijrah ke Habasyah untuk melepaskan diri dari cobaan sambil membawa agamanya.

Tepatnya pada bulan Rajab tahun ke-5 kenabian, sekelompok sahabat hijrah yang pertama kali ke Habasyah. Mereka terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita yang dipimpin oleh Utsman bin Affan RA.

Dalam rombongan ini ikut pula Sayyidah Ruqayyah, putri dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda tentang keduanya, “Mereka berdua adalah penduduk Baitul Haram pertama yang hijrah di jalan Allah SWT setelah Ibrahim dan Luth.”

Mereka berjalan dengan mengendap-endap di tengah malam dan pergi menuju pinggir pantai, agar tidak diketahui orang-orang Quraisy. Secara kebetulan saat mereka tiba di pelabuhan Syaiban ada dua kapal yang datang dan hendak bertolak menuju Habasyah.

Setelah orang-orang Quraisy mengetahui kepergian orang-orang muslim mereka mulai mengejar, namun kaum muslimin berhasil untuk jabur dengan selamat.

Di sana orang-orang muslim mendapat perlakuan yang baik. Hingga pada bulan Ramadan di tahun yang sama, Nabi SAW keluar dari Masjidil Haram, yang saat itu para pemuka dan pembesar Quraisy sedang berkumpul di sana.

Beliau berdiri di hadapan mereka, lalu seketika itu pula membacakan surat An-Najm. Orang-orang kafir tidak pernah mendengarkan kalam Allah SWT tersebut sebelumnya. Hal ini turut dijelaskan dalam firman Allah SWT lainnya, yang berbunyi,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْءَانِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

Artinya: “Orang-orang yang kufur berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya agar kamu dapat mengalahkan (mereka).” (QS Fushshilat: 26)

Tetapi tatkala dilantunkan bacaan surah An Najm, gendang telinga mereka pun diketuk oleh kalam Ilahi yang indah menawan, yang keindahannya sulit untuk dilukiskan dengan suatu gambaran.

Mereka sontak terdiam dan terpesona, menyimak setiap isi dan semua orang khidmat mendengarnya, sehingga tidak ada pikiran lain yang melintas di benak mereka.

Tatkala beliau membacakan penutup surat ini, hati mereka serasa terbang. Akhirnya beliau membaca ayat terakhir yaitu surah an-Najm ayat 62,

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ

Artinya: “Dia kemudian mendekat (kepada Nabi Muhammad), lalu bertambah dekat,”

Mereka pun bersujud, tidak seorang pun dapat menguasai dirinya dan mereka semua merunduk dalam keadaan sujud.

Sebenarnya, sinar-sinar kebenaran ini sudah mulai masuk ke dalam jiwa orang-orang yang sombong dan selalu mengolok-ngolok itu. Mereka tidak mampu menahan diri untuk bersujud. Mereka merasakan keagungan dari Allah SWT.

Mengenai hijrah ke Habasyah yang pertama ini juga dijelaskan oleh Ibrahim Al-Quraibi dalam Tarikh Khulafa bahwa setelah tiga bulan berada di Habasyah, para Muhajirin ini kembali ke Makkah.

Mereka harus kembali ke Makkah karena menghadapi kenyataan bahwa mereka dalam keadaan terasing karena membawa serta istri-istrinya. Sehingga, mereka merasa tidak nyaman ketika hidup di negeri orang dengan keadaan terasing seperti itu.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Penduduk Sangat Ingkar, Rasulullah Dakwah di Thaif Hanya 10 Hari



Jakarta

Kisah dakwah Rasulullah SAW selalu menarik perhatian. Salah satunya ketika Rasulullah SAW berdakwah di Thaif selama 10 hari saja.

Majdi Muhammad Asy-Syahawi dalam buku Saat-Saat Rasulullah Bersedih menceritakan sebuah riwayat dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im mengenai kisah dakwah Rasulullah SAW di Thaif.

Diceritakan, sepeninggal Abu Thalib, orang-orang Quraisy semakin berani menyakiti Rasulullah SAW. Akhirnya beliau pergi ke Thaif untuk berdakwah di sana dan ditemani oleh Zaid bin Haritsah RA. Peristiwa ini terjadi pada beberapa malam terakhir di bulan Syawal tahun ke-10 kenabian.


Muhammad bin Umar Al Waqidi mengatakan pula, “Rasulullah SAW tinggal di Thaif selama 10 hari, dan tidak seorang pun dari pemuka Thaif yang tidak didatangi oleh Rasulullah SAW dan disampaikan dakwah, namun tidak seorang pun dari mereka yang mau memenuhi dakwah beliau.”

Hal itu dikarenakan mereka khawatir jika dakwah dari Nabi Muhammad SAW akan mempengaruhi kalangan muda mereka. Hingga akhirnya, mereka mengusir Rasulullah SAW dan mengatakan, “Wahai Muhammad, pergilah engkau dari negeri kami dan carilah pengikutmu di tempat lain.”

Lalu para penduduk Thaif pun mulai menghasut orang-orang yang bodoh agar mengusir Rasulullah SAW. Akhirnya mereka pun melempari beliau dengan bebatuan hingga kedua kaki beliau menjadi terluka dan berdarah.

Zaid yang saat itu menemani dakwah Nabi SAW berusaha melindungi Rasulullah SAW ketika meninggalkan Thaif dan kembali ke Makkah dengan penuh kesedihan. Sebab, tidak seorang pun dari mereka yang mau menerima dakwahnya baik dari kaum laki-laki maupun dari kaum perempuan.

Rasulullah SAW pun akhirnya memilih untuk singgah di suatu tempat yang bernama Nakhlah. Di tempat tersebut beliau melakukan salat Tahajud dan membaca surah Jin.

Pada saat itu terdapat 7 jin yang berasal dari penduduk Nashaibin ingin mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah SAW. Namun, kedatangan mereka sama sekali tidak disadari oleh Rasulullah SAW. Hingga akhirnya turunlah firman Allah SWT dalam surah Al-Ahqaf ayat 29,

وَاِذْ صَرَفْنَآ اِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْاٰنَۚ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوْٓا اَنْصِتُوْاۚ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا اِلٰى قَوْمِهِمْ مُّنْذِرِيْنَ ٢٩

Artinya: “(Ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Nabi Muhammad) sekelompok jin yang mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an. Ketika menghadirinya, mereka berkata, “Diamlah!” Ketika (bacaannya) selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.”

Kisah dakwah Rasulullah SAW ini juga diceritakan oleh Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam Kitab Sirah Nabawiyah Jilid 1.

Pada mulanya, Rasulullah SAW berkeinginan untuk mengadakan pusat dakwah baru. Beliau meminta pertolongan dari kaum Tsaqif namun mereka menolak bahkan mereka mengintimidasi Nabi Muhammad SAW dengan melempar batu. Lalu dalam perjalanan pulang dari Thaif tersebut ia bertemu dengan Addas, seorang Nasrani yang kemudian masuk Islam.

Al-Waqiqi mencatat bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Syawal, tahun ke-10 kenabian, setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah. Ia menyebutkan pula bahwa beliau tinggal di Thaif selama 10 hari.

Alasan Rasulullah SAW memilih Thaif sebagai tempat tujuan dakwahnya karena Thaif adalah wilayah yang sangat strategis bagi masyarakat Quraisy. Bahkan kaum Quraisy sangat menginginkan wilayah tersebut dapat mereka kuasai.

Sebelumnya mereka telah mencoba untuk melakukan hal itu. Bahkan mereka melompat ke lembah Wajj. Hal demikian lantaran Thaif memiliki sumber daya pertanian yang sangat kaya. Hingga akhirnya orang-orang Tsaqif takut kepada mereka dan mau bersekutu dengan mereka.

Tidak sedikit dari orang-orang kaya di Makkah yang memiliki simpanan harta di Thaif. Juga di sanalah mereka mengisi waktu-waktu rehat di musim panas. Adapun Kabilah Bani Hasyim dan Abdu Syam senantiasa menjalin komunikasi baik dengan orang-orang Thaif. Sebagaimana juga orang-orang suku Makhzum memiliki keterkaitan kerjasama bisnis dengan orang-orang Tsaqif.

Karenanya, apabila Rasulullah SAW berhasil melakukan dakwah di Thaif, sesungguhnya hal ini bisa menjadi kejutan yang dapat mengagetkan kaum kafir Quraisy sehingga mereka merasa terancam.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Kejadian Luar Biasa di Tengah Perjalanan Hijrah Rasulullah ke Madinah



Jakarta

Rasulullah SAW hijrah ke Madinah karena keberadaan kaum kafir Quraisy di Makkah mengancam nyawa beliau dan umat Islam. Sepanjang perjalanan, ada sejumlah kejadian luar biasa yang terjadi.

Menukil Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Rasulullah SAW meninggalkan rumah pada malam hari tanggal 27 Shafar tahun 14 kenabian menuju rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Keduanya lalu bergegas meninggalkan rumah dari pintu belakang untuk keluar dari Makkah sebelum fajar tiba.

Rasulullah SAW menyadari betul bahwa orang-orang Quraisy akan mencarinya mati-matian dan satu-satunya jalur yang mereka perkirakan adalah jalur utama ke Madinah yang mengarah ke utara. Karenanya, beliau memutuskan mengambil jalur yang berbeda, yakni mengarah ke Yaman dari Makkah ke arah selatan.


Beliau tiba di Gunung Tsur setelah menempuh perjalanan sejauh 5 mil (sekitar 8 km). Tempat ini medannya sulit karena jalannya menanjak dan banyak bebatuan besar. Dikatakan, beliau saat itu tidak mengenakan alas kaki bahkan ada yang menyebut beliau berjalan dengan berjinjit hingga meninggalkan bekas telapak kaki di tanah.

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA sempat memapah beliau hingga tiba di sebuah gua di puncak gunung. Gua tersebut dikenal dengan Gua Tsur. Keduanya lalu bersembunyi di dalam gua selama tiga malam, dari malam Jumat hingga malam Minggu.

Gejolak orang-orang Quraisy untuk mengejar dan membunuh Rasulullah SAW mulai meredup usai tiga hari tak membuahkan hasil. Kondisi ini membuat Rasulullah SAW mantap untuk pergi ke Madinah.

Ada sejumlah kejadian luar biasa di tengah perjalanan hijrah Rasulullah SAW. Salah satunya tatkala beliau melewati tenda Ummu Ma’bad. Ummu Ma’bad adalah seorang wanita yang terkenal sabar dan tekun. Dia duduk di serambi tendanya dan memberi makan dan minum kepada setiap orang yang melewati tendanya.

Sayangnya, tatkala beliau dan Abu Bakar Ash Shiddiq RA melintas, kondisi sedang paceklik. Domba-dombanya sudah tua dan tidak bisa mengeluarkan susu.

“Demi Allah, andaikan kamu mempunyai sesuatu, tentulah kalian tidak kesulitan mendapatkan suguhan. Sementara domba-domba itu tidak ada yang mengandung dan ini adalah tahun paceklik,” kata Ummu Ma’bad.

Rasulullah SAW mendatangi seekor domba betina di samping tenda. Beliau bertanya, “Ada apa dengan domba betina ini wahai Ummu Ma’bad?”

“Itu adalah domba betina yang sudah tidak lagi melahirkan anak,” jawab Ummu Ma’bad.

“Apakah ia masih mengeluarkan air susu?” tanya beliau.

“Ia sudah terlalu tua untuk itu,” jawab Ummu Ma’bad.

“Apakah engkau mengizinkan bila aku memerah susunya?” tanya Rasulullah SAW.

“Boleh, demi ayah dan ibuku. Jika memang engkau melihat domba itu masih bisa diperah susunya, maka perahlah!” jawab Ummu Ma’bad.

Rasulullah SAW lalu mengusap kantong kelenjar susu domba itu dengan menyebut asma Allah SWT dan berdoa. Seketika kantong kelenjar domba itu menggelembung dan membesar. Beliau meminta bejana milik Ummu Ma’bad lalu memerah susu domba itu ke dalam bejana.

Susu itu kemudian beliau berikan kepada Ummu Ma’bad yang langsung meminumnya hingga kenyang. Beliau juga memberikannya kepada rekan-rekannya hingga mereka kenyang. Baru kemudian beliau sendiri yang minum terakhir.

Setelah itu, beliau kembali memerah susu domba hingga bejana itu penuh dan meninggalkannya untuk Ummu Ma’bad. Kemudian, beliau melanjutkan perjalanan.

Tak berselang lama suami Ummu Ma’bad datang sambil menggiring domba-domba yang kurus dan lemah. Dia tak sanggup menutupi keheranannya ketika melihat ada air susu di samping istrinya.

“Dari mana ini? Padahal domba-domba itu mandul tidak lagi mengandung dan tidak lagi bisa diperah di dalam rumah,” ucapnya.

Ummu Ma’bad lantas menceritakan semuanya kepada sang suami. Mendengar itu, suaminya menyahut bahwa sosok yang diceritakan istrinya itu adalah orang yang sedang diburu oleh kaum Quraisy.

(kri/nwk)



Sumber : www.detik.com

2 Strategi Dakwah Nabi Muhammad di Makkah


Jakarta

Tahap pertama dakwah Nabi Muhammad SAW berlangsung di Makkah. Ada dua strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah yang digunakan kala itu.

Strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah ini ditempuh beliau untuk menyebarkan agama Islam kepada kaumnya supaya meninggalkan kepercayaan untuk menyembah berhala.

Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum Sirah Nabawiyah menjelaskan bahwa setelah diangkat menjadi nabi dan rasul, Nabi Muhammad SAW menempuh dua fase untuk berdakwah.


Fase pertama yaitu berdakwah di Makkah kurang lebih selama 13 tahun dan fase kedua yaitu berdakwah di Madinah kurang lebih selama 10 tahun.

Pada masing-masing fase yang ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW memiliki beberapa tahapan. Misalnya saja pada fase pertama yaitu berdakwah di Makkah di mana pada fase ini dibagi menjadi dua tahapan.

Pertama, tahap dakwah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun. Kedua, yaitu tahap dakwah secara terang-terangan kepada penduduk Makkah, dari awal tahun keempat kenabian hingga hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah.

Setelah beliau mendapatkan wahyu, beliau mulai menapaki jalan dakwah dan memikul tanggung jawab yang besar. Beliau mengemban misi kemanusiaan, beban akidah, sekaligus beban perang.

Strategi Dakwah Nabi Muhammad di Makkah

1. Dakwah Sembunyi-sembunyi

Pada awalnya, beliau berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun. Setelah turunnya ayat-ayat surah al-Mudatsir Rasulullah SAW mulai menjalankan misi dakwah di jalan Allah SWT.

Saat itu, kaum Nabi Muhammad SAW tidak memiliki keyakinan dan hanya mengikuti tradisi nenek moyangnya saja. Berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi ini dilakukan Rasulullah SAW supaya penduduk Makkah tidak kaget dengan suatu ajaran yang tiba-tiba datang dan menggusarkan mereka.

Rasulullah SAW memulai dakwahnya dengan menyampaikan kepada keluarganya terlebih dahulu. Orang-orang yang percaya kepada Rasulullah SAW dan memeluk Islam pertama kali dikenal dengan as-sabiqunal awwalun.

Orang-orang tersebut di antaranya, Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW), Zaid bin Haritsah bin Syarahil al-Kalbi (mantan budak Nabi Muhammad SAW), Ali bin Abi Thalib (sepupu Nabi Muhammad SAW), dan Abu Bakar as-Siddiq (sahabat Nabi Muhammad SAW).

Kemudian Abu Bakar as-Siddiq mulai membantu dakwah Rasulullah SAW dengan menyeru kepada kaumnya. Ia memilih orang-orang yang percaya kepadanya, yang tentu saja mengenal dirinya dengan baik.

Dari bantuan Abu Bakar as-Siddiq ini, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah akhirnya memeluk agama Islam.

Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri menyebutkan bahwa jika dijumlahkan maka total mereka yang memeluk Islam pertama kali mencapai 130 orang baik laki-laki maupun perempuan.

2. Dakwah Terang-terangan

Lambat laun dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ini didengar oleh kaum Quraisy namun mereka tidak peduli. Mereka mengira bahwa Nabi Muhammad SAW termasuk salah satu golongannya.

Namun, lama-kelamaan mulai muncul perasaan khawatir dari kaum Quraisy akan dakwah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kemudian turunlah wahyu yang mengharuskan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan dakwahnya secara terang-terangan.

Dakwah secara terang-terangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ini dimulai dari menyeru kepada bani Hasyim, hingga dakwah di atas Bukit Shafa.

Melihat kenyataan itu, kaum Quraisy menolak adanya dakwah dari Rasulullah SAW ini karena mereka khawatir akan merusak tradisi warisan nenek moyang mereka.

Dari dakwah yang dilakukan secara terang-terangan ini Rasulullah SAW beserta dengan kaum muslimin mendapat perlakuan yang buruk dari kaum kafir Quraisy. Bahkan, kaum Quraisy membuat kesepakatan bersama untuk melarang kaum muslimin menunaikan haji. Kaum kafir Quraisy juga mengejek, menghina, dan mengolok-ngolok Nabi Muhammad SAW dengan menyebut beliau sebagai orang gila.

Orang-orang musyrik itu melakukan berbagai cara untuk menghentikan dakwah Rasulullah SAW setelah disebarkan sejak permulaan keempat dari nubuwah. Berbagai tekanan ini terus dihadapi oleh Rasulullah SAW dan kaum muslimin, hingga mereka mulai berpikir untuk mencari keluar dari siksaan kaum kafir Quraisy ini.

Akhirnya, Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT untuk melakukan hijrah. Maka, Rasulullah SAW dan kaum muslimin memutuskan untuk hijrah ke Habasyah.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Khutbah Jumat Menjelang Idul Adha: Amalan di Bulan Dzulhijjah



Jakarta

Idul Adha 2023 ditetapkan pemerintah jatuh pada Kamis, 29 Juni 2023. Untuk itu, momen salat Jumat minggu ini dapat diisi dengan khutbah Jumat menjelang Idul Adha yang membahas amala-amalan di bulan Dzulhijjah.

Sejatinya, kurban adalah amalan yang luar biasa pahala dan keutamaannya. Amalan ibadah kurban sendiri sudah dicontohkan pelaksanaannya sedari zaman Nabi Ibrahim AS.

Untuk menyambut bulan yang istimewa yaitu bulan Dzulhijjah, berikut ini adalah contoh teks khutbah Jumat menjelang Idul Adha seperti dikutip dari laman Balai Diklat Keagamaan (BDK) Kemenag Kanwil Bandung.


Contoh Teks Khutbah Jumat Menjelang Idul Adha

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْاٰنِ: وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا. وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Selain Ramadan, dalam Islam ada bulan lain yang memiliki keistimewaan, yaitu bulan Dzulhijjah. Keistimewaan bulan Dzulhijjah terletak pada 10 hari pertamanya. Rasulullah SAW pernah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ”. يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ “وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

Artinya: Tidak ada amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah SWT daripada amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Bukankah jihad di jalan Allah juga termasuk?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak ada jihad di jalan Allah SWT yang lebih dicintai, kecuali jihad seseorang yang berangkat dengan jiwa dan hartanya, tetapi tidak ada yang kembali dengan apa pun.”

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Fajr ayat 2:

وَلَيَالٍ عَشْرٍ.

Artinya: “Dan demi sepuluh malam.”

Selain keistimewaan tersebut, terdapat hadits yang menjelaskan tentang amalan yang dicintai oleh Allah SWT. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sayyidina Abdullah ibn Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari yang amal sholeh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).”

Hadirin Rahimakumullah,

Berikut adalah beberapa amalan yang dapat dilakukan umat Islam di bulan Dzulhijjah:

1. Puasa

Puasa Arafah menjadi salah satu ibadah yang sebaiknya dilakukan oleh setiap muslim di bulan Dzulhijjah. Ibadah puasa sebelum Hari Raya Idul Adha, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah.

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

Artinya: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)

Selain puasa Arafah, ada beberapa ibadah yang bisa dilakukan oleh muslim di bulan Dzulhijjah. Salah satunya adalah puasa Senin-Kamis yang juga termasuk ibadah sunnah. Terdapat juga pendapat dari beberapa ulama bahwa puasa sunnah dapat dilakukan mulai dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ jilid 6, “Puasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk dalam puasa sunnah.”

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab juga memberikan dalil shahih mengenai hukum puasa tersebut. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari Hunaidah ibn Khalid dan istri-istri Rasulullah SAW yang menjelaskan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari Asyura (10 Muharam), berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada awal bulan di hari Senin dan Kamis.” (HR Abu Daud).

2. Memperbanyak Dzikir

Dalam hal memperbanyak takbir dan dzikir, setiap muslim dianjurkan untuk memperbanyak takbir dan dzikir di bulan Dzulhijjah, misalnya dengan memanfaatkan momen sebelum salat Idul Adha. Takbir dan dzikir juga dapat dilakukan dalam kegiatan sehari-hari.

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ .

Ibnu Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian kepada Allah pada hari-hari yang ditentukan, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan juga pada hari-hari Tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, kemudian mereka bertakbir, dan orang-orang juga ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali juga bertakbir setelah salat sunnah. (HR Bukhari)

3. Menunaikan Haji dan Umrah

Bagi mereka yang mampu, ibadah haji dan umrah dapat dilakukan di bulan Dzulhijjah. Haji adalah ibadah yang wajib dilakukan sekali seumur hidup bagi yang mampu melakukannya. Keutamaan haji dijelaskan dalam hadits yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW,

سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ

Artinya: Rasulullah SAW ditanya, “Amalan apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.” Kemudian ditanya lagi, “Apa lagi setelah itu?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah SWT.” Ditanya lagi, “Apa lagi setelah itu?” Beliau menjawab, “Haji yang mabrur.” (HR Bukhari)

Ibadah umrah juga dijelaskan dapat menghapus kefakiran dan dosa, “Ikutilah antara haji dan umrah, karena keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana api memurnikan besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR An Nasa’i)

4. Kurban

Ibadah kurban sebaiknya dilakukan oleh setiap muslim yang mampu di bulan Dzulhijjah saat perayaan Idul Adha. Dalam hadits dijelaskan, kurban adalah salah satu amalan yang dicintai Allah SWT.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا »

Artinya: Dijelaskan Aisyah, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai Allah SWT dibandingkan mengalirkan darah dari hewan kurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan kurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridho) Allah SWT sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” (HR Tirmidzi)

5. Taubat

Sebagai tempatnya salah, manusia tidak bisa lepas dari dosa dalam tiap kesempatan. Allah SWT telah membuka kesempatan taubat bagi tiap hamba-Nya yang berharap pengampunan dari Allah SWT.

قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Artinya: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap padaKu, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangiMu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi).

6. Salat

Periode sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan semangat dan melaksanakan salat dengan penuh dedikasi. Salah satu jenis salat yang istimewa adalah salat pada hari raya Idul Adha. Dalam surah Al-Kautsar, kita diperintahkan untuk melaksanakan salat Idul Adha pada hari tersebut.

7. Meningkatkan Amal Sholeh Lain

Selain itu, sebagai muslim, disarankan untuk meningkatkan amal sholeh lainnya di bulan Dzulhijjah. Beberapa amalan yang dapat ditingkatkan antara lain salat sunnah, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan menjalin tali silaturahmi. Ketika melaksanakan amal sholeh, jangan lupa untuk selalu berdoa agar Allah senantiasa memberikan kesehatan, keselamatan, dan perlindungan kepada diri kita.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Demikian contoh teks khutbah Jumat menjelang Idul Adha yang dapat diaplikasikan muslim. Semoga bermanfaat.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Khutbah Jumat Pertama Nabi Muhammad, Berisi Wasiat bagi Umat Islam



Jakarta

Khutbah Jumat pertama Nabi Muhammad SAW dilaksanakan ketika beliau bersama para sahabat dalam perjalanan hijrah dari Makkah menuju Madinah. Tepatnya pada minggu kedua bulan Rabiul Awwal atau minggu terakhir di bulan September 622 Masehi.

Hari tersebut turut menjadi pertama kalinya umat Islam melaksanakan sholat Jumat.

Menilik sejarahnya, sholat Jumat sebenarnya telah disyariatkan sejak periode Makkah sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Akan tetapi, sholat Jumat kala itu belum bisa dilaksanakan sebab jumlah kaum muslim masih sedikit serta kerasnya intimidasi dari kaum kafir Quraisy di Makkah.


Pada akhirnya, sholat Jumat untuk pertama kalinya dilaksanakan di Wadi Ranuna, kurang lebih 3 kilometer dari Masjid Quba menuju Madinah. Di tempat itulah Nabi SAW memberikan khutbah Jumat pertama kalinya.

Isi Khutbah Jumat Pertama Nabi Muhammad SAW

Dalam khutbah Jumat pertamanya, Rasulullah SAW menyampaikan beberapa wasiat penting bagi umat Islam. Berikut isi khutbah Jumat pertama Nabi Muhammad SAW yang dikutip dari buku Himpunan Wasiat Agung Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali karya Miftahul Asror Malik.

“Segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala. Aku memuji, meminta pertolongan, ampunan, dan petunjuk kepada-Nya. Aku beriman kepada-Nya dan tidak mengkufuri-Nya. Aku memusuhi orang yang mengkufuri-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad ialah hamba dan rasul-Nya. Dia mengutusnya dengan membawa petunjuk, cahaya, dan nasihat setelah lama tidak diutus rasul, ilmu yang sedikit, umat manusia yang tersesat, zaman terputus, sedangkan hari kiamat dan ajal semakin dekat.

Barangsiapa yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapatkan petunjuk. Dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah melampaui batas dan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.

Aku berpesan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Itulah wasiat terbaik bagi seorang Muslim. Dan, seorang Muslim hendaknya selalu ingat akhirat dan menyeru kepada ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Berhati-hatilah terhadap yang diperingatkan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, itulah peringatan yang tiada tandingannya. Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah yang dilaksanakan karena takut kepada-Nya, ia akan memperoleh pertolongan Allah atas segala urusan akhirat.

Barang siapa di antara kalian yang selalu memperbaiki hubungan dirinya dengan Allah subhanahu wa ta’ala, baik di secara rahasia maupun di tengah keramaian, dan ia melakukan itu dengan niat tidak lain kecuali hanya mengharapkan ridha Allah, maka baginya kesuksesan di dunia dan tabungan pahala setelah mati, yaitu ketika di akhirat setiap orang membutuhkan balasan atas apa yang telah dia kerjakan di dunia.

Dan, jika ia tidak melakukan semua itu, pastilah ia berharap agar waktu hidupnya menjadi lebih panjang. Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dialah dzat yang firman-Nya benar dan menepati janji-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam Al Quran Surat Qaf ayat 29:

مَا يُبَدَّلُ ٱلْقَوْلُ لَدَىَّ وَمَآ أَنَا۠ بِظَلَّٰمٍ لِّلْعَبِيدِ

Arab-Latin: Mā yubaddalul-qaulu ladayya wa mā ana biẓallāmil lil-‘abīd.

Artinya: “Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.”

Bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan dunia dan akhirat kalian, baik dalam kerahasiaan maupun terang-terangan. Karena sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahalanya. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, sungguh ia telah akan mendapatkan keberuntungan yang besar.

Sesungguhnya bertakwa kepada Allah dapat melindungi kalian dari kemarahan, hukuman, dan murka-Nya. Takwa kepada Allah bisa membuat wajah menjadi cerah, membuat Allah ridha, dan meninggikan derajat kalian.

Ambillah bagian kalian dan jangan melalaikan hak Allah. Allah SWT telah mengajarkan kepada kalian dalam kitab-Nya dan menunjukkan jalan-Nya, agar Dia orang-orang yang mempercayai-Nya dan mendustakan-Nya.

Maka, berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepada kalian. Dan musuhilah para musuh Allah. Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad. Dia telah memilih kalian dan menamakan kalian sebagai orang-orang Islam. Agar orang yang binasa itu binasanya dengan bukti yang nyata dan orang-orang yang hidup itu hidupnya dengan bukti yang nyata pula.

Sungguh tiada daya upaya, kecuali hanya dengan pertolongan Allah SWT. Maka, perbanyaklah dzikir kepada Allah dan beramallah untuk kehidupan akhiratmu. Sesungguhnya barang siapa yang menjaga hubungan baik dengan Allah, maka Allah pun akan menjaga hubungan orang itu dengan manusia lainnya.

Karena Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan ketetapan atas manusia, sedangkan manusia tidak dapat menentukan keputusan atas-Nya. Allah SWT memiliki apapun yang ada pada manusia, sedang manusia tidak bisa memiliki apapun yang ada pada-Nya. Allah SWT Maha Besar. Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah Yang Maha Agung.”

Usai sholat dan melakukan khutbah Jumat pertama kali, Rasulullah SAW bersama para sahabat kemudian melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Mereka tiba pada hari Senin 16 Rabiul Awwal atau bertepatan dengan 20 September 622 M.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Begini Cara Nabi dan Para Sahabat Salat Sembunyi-sembunyi



Jakarta

Rasulullah SAW harus melewati berbagai rintangan dalam menyebarkan ajaran Islam. Terutama pada tahun-tahun pertama kenabian yang mengharuskan beliau dakwah secara sembunyi-sembunyi.

Jika tiba waktu salat, Nabi SAW dan para sahabat pergi ke tempat yang terpencil lalu secara sembunyi-sembunyi mengerjakan salat.

Begitu kata Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah-nya. Ia menyebut, hal tersebut dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat agar tidak dilihat kaumnya.


Diceritakan, suatu ketika Abu Thalib–paman Nabi–melihat Rasulullah SAW mengerjakan salat bersama Ali RA. Abu Thalib lantas menanyakan perihal salat itu. Setelah mendapat penjelasan yang cukup memuaskan, Abu Thalib menyuruh Rasulullah SAW dan Ali RA agar menguatkan hati.

Perintah salat termasuk wahyu yang pertama-tama turun, sebagaimana dikatakan dalam Sirah Nabawiyah karya Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Muqatil bin Sulaiman mengatakan, pada awal-awal Islam, Allah SWT mewajibkan salat dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat saat petang. Hal ini bersandar pada firman Allah SWT,

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ

Artinya:”…dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi!” (QS Al Mu’min: 55)

Menurut pendapat Ibnu Hajar, Rasulullah SAW sudah pernah salat sebelum peristiwa Isra. Begitu juga para sahabat. Namun, ada perbedaan pendapat terkait adakah salat yang diwajibkan sebelum turunnya kewajiban salat lima waktu.

Ada yang berpendapat bahwa salat yang diwajibkan pada waktu itu adalah salat sebelum matahari terbit dan sebelum terbenamnya matahari.

Selain kewajiban salat, wudhu juga termasuk kewajiban yang pertama diturunkan. Dalam Mukhtashar Siratil-Rasul terdapat riwayat Al-Harits bin Usamah dari jalur Ibnu Luhai’ah secara maushul dari Zaid bin Haritsah yang menyebut bahwa pada awal-awal turunnya, malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW dan mengajarkan wudhu kepada beliau.

Setelah wudhu, beliau mengambil seciduk air lalu memercikkan ke kemaluannya. Ibnu Majah juga meriwayatkan hadits serupa.

Dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah dikatakan, Rasulullah SAW menjalankan dakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun. Beliau menemui satu per satu kerabat dan sahabatnya untuk memperkenalkan Islam dan mengajaknya memeluk Islam.

(kri/rah)



Sumber : www.detik.com

Contoh Khutbah Jumat Jelang Bulan Maulid atau Rabiul Awal


Jakarta

Khutbah Jumat bulan maulid adalah khutbah Jumat yang dilaksanakan di bulan maulid, yakni bulan Rabiul Awal. Jumat ini bertepatan dengan hari-hari terakhir bulan Safar menuju bulan Rabiul Awal atau bulan kelahiran Rasulullah SAW yang juga dikenal dengan maulid nabi.

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling mulia di seluruh dunia. Sebagai muslim yang baik, hendaknya kita selalu mengingat dan mengikuti ajaran serta sunah-sunah yang telah diajarkannya.

Salah satu cara untuk selalu menyertakan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan ini adalah dengan mengingat-ingat ajaran dan kisahnya saat menyampaikan khutbah Jumat. Oleh karena itu, muslim bisa mengisi khutbah Jumat dengan khotbah-khotbah yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu bentuk kecintaan kita kepada beliau.


Berikut salah satu contoh khutbah Jumat bulan maulid yang diambil dari buku Khutbah Zaynul Atqiya’: Mimbar Dakwah LIM Lirboyo Kediri oleh Tim Kajian Ilmiah Lembaga Ittihadul Muballighin Ponpes Lirboyo. Khutbah Jumat ini bertajuk Menanamkan Rasa Cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Contoh Teks Khutbah Jumat Jelang Bulan Maulid

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَأَرْسَلَ عَلَيْنَا نَبِيَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَهْدِيَنَا بِهِدَايَتِهِ إِلى الدَّارِ السَّلَامِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي جَمَعَ اللَّهُ فِيْهِ الصِّفَاتِ الْكَامِلِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan selalu mengamalkan syariat yang telah diajarkan oleh nabi Muhammad SAW.

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Bulan ini adalah bulan Rabiul Awal atau bulan Maulid. Bulan dilahirkannya insan yang paling mulia, pemimpin seluruh umat manusia yaitu Nabi Muhammad SAW.

Beliau merupakan utusan yang membawa kabar gembira dari Allah SWT untuk mereka yang mau beriman dan taat beragama, juga membawa kabar menakutkan untuk mereka yang angkuh dan tidak mau patuh kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا. وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا منيرًا، وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللهِ فَضْلًا كَبِيرًا (الأحزاب: ٤٥- εV)

Artinya: “Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan untuk menjadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi. Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin, sesungguhnya Allah memberikan mereka karunia yang begitu besar.” (QS Al-Ahzab: 45-47)

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Pada bulan Maulid ini marilah kita tingkatkan rasa cinta kepada nabi Muhammad SAW dengan harapan semoga dengan rasa cinta itu kelak di akhirat kita dikumpulkan dengan beliau.

Hal ini bukanlah hal yang tidak mungkin karena nabi Muhammad SAW bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ. (رواه ابن مسعود)

Artinya: “Seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang ia cintai.” (HR Ibnu Mas’ud RA)

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Cinta kepada nabi merupakan hal yang sangat baik. Namun cinta itu bukan sekedar dengan mengucapkannya tetapi harus dengan bukti. Di antara bukti mencintai beliau adalah mengikuti perintah, perilaku dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam diri nabi terdapat suri teladan kehidupan sehari-hari yang sangat patut untuk diikuti oleh para umatnya. Karena dengan menjadikan beliau sebagai suri teladan dalam menjalani hidup ini, maka insya Allah kita akan selamat dalam menjalani kehidupannya.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا. (الأحزاب: ٢١)

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah, (kedatangan) hari kiamat dan orang-orang yang banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Bukti kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW yang lain adalah dengan cara sering menyebut nama beliau. Dalam hal ini bisa diartikan dengan cara sering membaca salawat kepada Nabi Muhammad SAW, karena ciri seseorang yang benar-benar mencintai adalah sering menyebutkan orang yang ia cintai.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ أَحَبُّ شَيْئًا أَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِه. (رواه عائشة)

Artinya: “Barangsiapa mencintai sesuatu maka ia akan sering menyebutnya.” (HR Aisyah RA)

Ketika ada seseorang mengatakan bahwa ia mencintai Nabi namun ia tidak pernah membaca sholawat, maka ia belum termasuk orang yang benar-benar mencintai nabi.

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah, Nabi Muhammad SAW juga bersabda:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً. (رواه عائشة)

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah orang yang lebih sering membaca salawat kepadaku.” (H.R. Aisyah RA)

Membaca sholawat merupakan hal yang sangat positif bagi para pembacanya, karena satu salawat saja pahalanya akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Mencintai Nabi Muhammad SAW berarti juga mencintai para keluarga dan keturunannya karena hal tersebut juga merupakan salah satu bukti bahwa ia benar-benar mencintai nabi.

Ketika ada orang yang mengatakan cinta kepada nabi, akan tetapi perkataan dan perbuatannya terdapat hal-hal yang merendahkan, menghina dan bahkan menyakiti para keluarga beliau, maka dia bukanlah orang yang benar-benar mencintai Nabi melainkan dia hanyalah orang yang menyakiti nabi. Karena barangsiapa yang menyakiti keluarga nabi maka ia juga menyakiti nabi.

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Merayakan hari kelahiran beliau merupakan salah satu bentuk ekspresi kita dalam menunjukkan rasa syukur kepada Allah SWT dengan dilahirkannya nabi yang menjadi penerang dan petunjuk bagi manusia.

Dan merayakannya merupakan wujud rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW.

Syaikh As-Sari As-Saqati berkata: “Barangsiapa yang menghadiri majelis maulid Nabi Muhammad SAW maka sungguh ia telah hadir di pertamanan surga, karena ia menghadiri majelis tersebut hanyalah karena rasa kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW.”

Senang dan gembira karena kelahiran nabi merupakan hal yang sangat baik karena dengan rasa kegembiraan itu insya Allah akan ada dampak positif yang kembali kepada kita. Seperti cerita tentang paman nabi yang bernama Abu Lahab. Ia mendapatkan keringanan siksa khusus pada hari Senin karena merasa gembira saat nabi dilahirkan. Bahkan ia juga memerdekakan budak yang memberi kabar tentang kelahiran nabi, yaitu budak wanita yang bernama Tsuwaibah.

Oleh karena itu, marilah kita senang dan gembira dengan kelahiran nabi. Abu Lahab saja yang tidak beragama Islam mendapatkan keringanan siksaan, apalagi kita sebagai umat Islam yang mengikuti nabi Muhammad SAW.

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW dan marilah kita merasa gembira dengan kelahiran beliau.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ أَحْيَا سُنَّتِيْ فَقَدْ أَحَبَّنِيْ وَمَنْ أَحَبَّنِيْ كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنَّةِ. (رواهأنس)

Artinya: “Barangsiapa yang menghidupkan sunahku maka ia mencintaiku. Dan barangsiapa mencintaiku maka ia akan bersamaku di surga.” (HR Anas RA)

Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan rasa cinta kepada baginda Nabi dengan harapan kita semua kelak akan dikumpulkan bersama beliau di surga Allah SWT. Aamiin yaa rabbal alamin.

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيْمِ. قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللَّهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ. بارك الله في وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِكْرِ الْحَكِيمِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Sang Rasul



Jakarta

Siang itu, di tahun-tahun pertama hijrah. Nyaris 1445 tahun yang lalu. Seorang lelaki melangkah cepat. Ia tidak sedang mengejar sesuatu. Memang begitu cara dia berjalan. Matahari mengejarnya. Menciptakan bayangan yang enggan bersicepat dengannya. Makhluk luar angkasa itu berdiameter 200 kali bumi. Sayapnya mengepak. Berkirim panas hidrogen. Bereaksi secara termonuklir menjadi gas helium. Berjarak 150 juta km. dari bumi.

Panasnya membuat kulit melepuh. Teriknya memaksa siapa pun mencari tempat berlindung. Di negeri itu, tidak mudah ditemukan tumbuhan dan pepohonan. Apalagi yang rindang untuk berteduh. Suhu siang hari bisa tembus 38 derajat celcius. Malam bisa turun menukik hingga 15 derajat celcius. Keadaan alam memaksa manusia bersiasat. Mencari jalan keluar dari kondisi yang menyebabkan hidup tidak mudah. Membuat darah tiada henti mendidih.

Lelaki itu bermandikan matahari. Tiba di sebuah rumah sangat sederhana, ia berucap salam. Lalu masuk. Seorang perempuan mengambil tikar terbuat dari kulit yang dia gulung. Alas duduk yang biasa bersandar di tembok. Ia menghamparkannya. Menyilakan sang tamu. Tamu melempar senyum. Dan, seperti di siang-siang lainnya, lelaki berbadan tegap itu menikmati “qailulah”–tidur sebentar menjelang matahari tiba di tengah horison.


Lelehan Keringat

Hanya beberapa kejab, badan materi lelaki itu terlelap. Tenang dalam dekapan alam mikrokosmos. Suhu di luar rumah yang naik meningkat, membuat pori-pori tubuhnya merekah. Dari lubang-lubang super halus di kulit, perlahan peluh metes. Tuan rumah, perempuan itu, bersegera mengambil botol berleher kecil dan bermulut lebar. Sembari mengatur langkahnya agar tidak mengganggu tidur sang tamu, ia mulai menampung lelehan keringat.

Saat terjaga dari tidur siangnya, lelaki itu bertanya. “Apa yang kamu lakukan ?” “Wahai Rasulallah. Keringatmu akan kujadikan minyak wangi. Aku berharap keberkahan untuk anak-anakku,” ujar perempuan itu. Lelaki yang disapa Rasulullah menjawab, “Engkau benar,” katanya sambil mendoakan kebaikan untuk keluarga Ummu Sulaim. Kini kita tahu, lelaki mulia itu adalah Sang Rasul dan perempuan itu adalah Ummu Sulaim ; ibunda sahabat Nabi, Anas bin Malik ra.

Adakah riwayat yang bisa dipahami bahwa manusia agung ini melarang Ummu Sulaim melakukan itu ? Kita belum menemukannya. Yang bisa kita pahami adalah Sang Rasul justeru membiarkan Ummu Sulaim. Bahkan membenarkannya. “Maadzaa Shona’ti–apa yang kamu perbuat,” tanya Nabi. Setelah mendengar jawaban Ummu Sulaim, Nabi berucap, “Ashobti–Kamu benar,” jawab Nabi, yang hari ini umat Islam sedunia, bersuka cita atas maulidnya.

Berebut Ludah

Alkisah. Pada tahun keenam hijrah, umat Islam berkonfrontasi dengan kaum musyrik. Kurang lebih 1400 kaum muslimin mendirikan kemah di Hudaibiyah, daerah sekitar Mekkah. Nabi berencana melaksanakan ibadah haji. Kaum musyrik menolak. Mereka berkirim utusan. Urwah As Tsaqafi, seorang utusan, pulang bukan saja membawa traktat perjanjian tapi juga menyimpan kesan mendalam dan memesona. Kepada para petinggi kaum Qurays ia berucap :

“Saya berkali-kali menjadi utusan kepada raja-raja. Saya pernah diutus menemui kisra, kaesar, najasyi. Demi Allah, umat Islam itu luar biasa. Saya belum pernah melihat para senopati memuliakan rajanya seperti para sahabat memuliakan Muhammad, nabi mereka. Setiap kali dia meludah, ludah itu pasti jatuh ke tangan salah seorang di antara mereka lalu orang itu mengusapkan ludah ke wajah dan kulitnya,” kata Urwah. Orang-orang kafir takjub.

“Demi Allah, bila Muhammad memberi suatu perintah kepada mereka, maka mereka akan bergegas melaksanakan perintahnya,” lanjut Urwah. Sejumlah petinggi Mekkah mulai gentar. Hati mereka bergetar. “Dan bila dia hendak berwudhu’, para sahabatnya hampir berkelahi hanya karena saling berebut sisa air wudhu’ Nabi mereka. Jika hendak berbicara, mereka senantiasa merendahkan suara mereka di hadapan Muhammad,” jelas Urwah bersemangat.

“Mereka akan selalu menjatuhkan pandangan di hadapan Muhammad, sebagai bentuk pengagungan mereka terhadap Nabi mereka.” Sebagaimana dicatat sejarah, meski ada butir-butir Perjanjian Hudaibiyah yang dinilai merugikan umat Islam, tapi di tahun berikutnya, Nabi SAW berhasil menunaikan ibadah haji. Tahun itu kaum Qurays takluk dan Mekkah kembali ke tangan Nabi Muhammad dan umat Islam. Tahun yang jadi isyarat akan segera sempurnanya risalah dan nubuwah Sang Rasul.

Kultus vs Cinta

Dua kisah penuh magi di atas, dapat kita baca dari laporan perawi hadits kenamaan, Bukhari-Muslim. Statusnya sahih. Dapat dijadikan sandaran dalam berhukum, beribadah dan bermuamalah. Andaikata Ummu Sulaim mengisahkan pengalamannya kepada kita saat ini, akan ada umat Islam masa kini yang menyebut itu tindakan kultus individu. Sebuah istilah yang tidak jelas batasan dan maksudnya selain untuk memukul.

Jika saja Urwah bin Mas’ud As Tsaqafi menuturkan kesan pertemuan dengan Nabi itu saat ini, hampir pasti akan ada yang menilai itu berlebihan. Bukan saja berlebihan, tapi mereka akan menggunakan frasa yang sangat menyakitkan ; bid’ah. Malah kelompok tertentu menyebutnya syirik. Karena musyrik maka berkonsekuensi pada maksiat. Karena maksiat, pelakunya mendapat dosa. Karena dosa, maka pertanggungjawabannya di neraka.

Mayoritas umat Islam yang bersuka cita dengan datangnya maulid nabi, akan suka rela menyebut prilaku Ummu Sulaim dan para sahabat lain di Hudaibiyah, dengan sebutan ekspresi cinta. Karena cinta kepada Sang Rasul, maka mereka akan cinta pada apa saja yang datang darinya, hatta ludah sekalipun. Karena cinta mereka kepada Sang Rasul, sisa air wudhu manusia agung itu pun jadi rebutan. Atas nama cinta, mereka dengan suka cita menyimpan rambut Sang Nabi.

Salah seorang jenderal terbesar dan panglima perang paling legendaris dalam Islam, Khalid bin Walid, berbisik kepada Hamam, budaknya yang paling setia. Di atas ranjang kematiannya, setelah mendapat surat dari Khalifah Umar bin Khattab, Khalid minta Hamam mengambilkan tutup kepala yang biasa ia kenakan dalam setiap peperangan. Ada selembar rambut di salah satu sisinya. “Ini rambut Sang Nabi,” katanya bangga.

Atsar Cinta

Ludah, rambut, air wudhu, Hudaibiyah, tempat, tahun, hari, adalah atsar. Atsar adalah waktu, tempat dan permbuatan yang berkait dengan seseorang yang dicinta. Saat Majnun melewati rumah Layla, ia diam tercekat. Ia pandangi rumah Layla dengan larik-larik cinta yang dapat menembus dinding. Dengan kekuatan cinta, ia berkirim hasrat kepada Layla. Ia mencium dinding. Bukan dinding itu yang dia maksud tapi Layla yang ada di balik dinding. Itulah ekspresi cinta.

Seorang kawan di pagi yang lembut, memasuki kamar anaknya. Ia terhenti di pintu. Dua bola matanya menyapu bersih semua sudut kamar. Anaknya pergi ke negeri jauh, bahkan melintasi ruang waktu. Perlahan ia duduk di kursi, tempat biasa anaknya mengulang pelajaran. Dia ambil buku harian. Lalu beringsut ke atas tempat tidur. Dia peluk bantal dan guling. Ia cium. Ada aroma anaknya di situ. Air mata pun jatuh. Amboi, dia “bertemu” anaknya !

Pasangan suami isteri, kawan liputan saya, kehilangan seorang anaknya akibat kecelakaan. Tidak mudah bagi orang tua manapun melupakan anaknya dan kejadian itu. Demikian pilu, semua atsar terkait anaknya, ia kenang lagi. Ia kunjungi tempat-tempat biasa si anak latihan bola, latihan renang dan tentu saja teman-teman sekolahnya. Ketika pulang, ia bongkar lemari. Ia basahi baju seragam yang terakhir dipakai anaknya, dengan air mata. Air mata cinta !

Bisa jadi anak-anak masa kini akan menyebut mereka di atas adalah para bucin alias budak cinta. Tapi, bagi cinta, semua perkara hidup jadi nisbi. Semua urusan berhenti di kata cinta. Ketika mendefinisikan cinta, Imam Ghazali menulis, “Cinta adalah tujuan puncak dari seluruh maqam tertinggi. Tiada lagi maqam lebih tinggi selain sebagai buah dari cinta. Rindu, uns, mesra, taubat, ridha, sabar, zuhud adalah buah cinta. Cinta kepada-Nya.”

Para “tokoh” di balik kisah cinta di atas, tidak sedang berlaku syirik apalagi menyekutukan Tuhan. Lihatlah bagaimana bangsa-bangsa besar di dunia menegakkan patung-patung raksasa sebagai ekspresi cinta dan cara mereka mengenang jasa para pahlawan. Saksikan di banyak negara bagaimana bangsa-bangsa mengenang pendiri bangsa dengan menjadikannya nama jalan, gedung, stadion atau apapun. Itulah cinta !

Maka, selama cinta masih tertanam dalam, tertancap kuat, berkembang pesat, siapa pun akat sulit melarang umat Islam memeringati maulid Nabi, isra dan mi’raj, nuzulul qur’an, tahun baru hijriah, barzanjian, diba’an, manaqiban, ziarah kubur Nabi, sahabat, tabiin, ulama, para wali, dan guru-guru. Apalagi di musim haji dan umroh. Para penggila cinta, tanpa kuatir akan kesehatan, tanpa peduli umur, hingga mengabaikan pekerjaan, akan senang menjawab panggilan Sang Rasul. Labbayka Ya Rasulallah !

(dvs/erd)



Sumber : www.detik.com

Contoh Teks Khutbah Jumat tentang Kematian Lengkap


Jakarta

Mengingat kematian sudah sepatutnya dilakukan kapan pun dan di mana pun oleh muslim. Seperti dalam penyampaian khutbah Jumat tentang kematian agar kaum muslimin juga bisa mempersiapkan diri dengan baik.

Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa sebaik-baik orang beriman adalah ia yang senantiasa mengingat kematian. Hal ini bersumber dari hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»


Artinya: Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: Aku pernah bersama Rasulullah SAW, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW lalu bertanya. “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”

Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya,”

Orang ini bertanya lagi, “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”

Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal.” (HR Ibnu Majah)

Berikut contoh teks khutbah Jumat tentang kematian yang dinukil dari buku 35 Khutbah Jumat Terpopuler karya Marolah Abu Akrom dengan tema Persiapan Menuju Kematian.

Contoh Teks Khutbah Jumat tentang Kematian Lengkap

بِسْمِ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ. اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى ، وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفَى أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اللهُمْ صَلِّ وَسَلّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللَّهِ, أَوْصِيْكُمْ وَأَيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةً مُحَمَّدٍ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَفَرِّجْ عَنْ أُمَّةٍ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَارْحَمْ أُمَّةً مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَانْشُرْ وَاحْفَظْ نَهْضَةً الْوَطَنِ فِي الْعَالَمِيْنَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Kaum muslimin sidang jemaah Jumat yang berbahagia rahimakumullah,

Puji dan syukur Alhamdulillah marilah kita sampaikan kepada Allah Robbul ‘Izzati, pada kesempatan Jumat ini kita kembali dapat melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu salat Jumat secara berjamaah di masjid yang kita cintai ini. Sholawat dan salam marilah kita sampaikan kepada uswatun hasanah kita yaitu baginda Nabi Besar Muhammad SAW juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya, semoga kita semua yang hadir di masjid ini, kelak di hari kiamat mendapatkan syafaat dari beliau. Aamiin.

Mengawali khutbah singkat pada kesempatan ini, sebagaimana biasa khatib berwasiat kepada diri pribadi saya dan kepada seluruh jemaah, marilah kita bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa yaitu melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

Kaum muslimin sidang jemaah Jumat yang berbahagia rahimakumullah,

Pada khutbah kali ini tema yang akan khatib sampaikan adalah tentang Persiapan Menuju Kematian. Inilah tema yang sangat penting di antara tema-tema yang lainnya yaitu, persiapan menuju kematian.

Sebab pada akhirnya, siapapun kita, walaupun memiliki gelar profesor, doktor dengan jabatan tinggi, dan memiliki kekayaan berlimpah ruah, toh akan mengalami kematian cepat atau lambat, suka atau tidak suka.

Ketika kematian itu tiba semua yang kita miliki tidak bernilai apa-apa, hilang dan sirna tanpa bekas sedikit pun. Rumah yang bertahun-tahun kita bangun dengan biaya ratusan juta, kendaraan mewah yang harganya miliaran, emas permata yang bertumpuk-tumpuk, tabungan deposito di bank yang berjumlah triliunan, kantor mewah tempat bekerja dan orang-orang yang kita cintai seperti anak, istri/suami, semua itu kita tinggalkan tidak berguna sedikit pun. Hanya iman dan amal sholeh selama hidup di dunia yang kita bawa mati menghadap kepada Allah.

Semakin kuat kualitas iman kita dan semakin banyak amal sholeh yang kita lakukan, niscaya semakin besar pula peluang kita mati dalam keadaan husnul khatimah dan akan terhindar dari kematian yang bersifat su’ul khatimah. Kematian su’ul khatimah itu adalah kematian yang buruk dengan proses sakaratul maut yang sangat menyakitkan bagaikan ditusuk pedang 300 kali, demikian sabda Nabi.

Ketika iman dan amal sholeh ini menyertai di dalam kubur, maka kubur itu akan menjadi tempat yang sangat nikmat, nyaman, enak dan menyenangkan, bagaikan taman diantara taman surga (raudhah min riyadhil jannah). Demikian juga ketika bangkit dari kubur untuk dikumpulkan di padang mahsyar akan mendapatkan naungan diatas terik matahari yang sangat dahsyat diatas kepala kita.

Dan puncaknya orang yang memiliki iman dan amal sholeh akan masuk surga Firdaus dengan kenikmatan yang tiada tara, kekal abadi di dalamnya. Sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surah Al Kahfi ayat 107-108:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنّٰتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا ۙ ١٠٧ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا لَا يَبْغُوْنَ عَنْهَا حِوَلًا ١٠٨

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh memperoleh surga Firdaus sebagai tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin pindah dari sana.

Menurut ayat tersebut bahwa untuk dapat masuk kedalam surga Firdaus, hanya dengan iman dan amal sholeh yang telah kita perjuangkan selama hidup di dunia. Dengan demikian dapat kita pahami, bahwa betapa berharganya yang namanya iman dan amal sholeh.

Kaum muslimin sidang jemaah Jumat yang berbahagia rahimakumullah,

Kata iman dan amal sholeh seringkali kita membaca dan mendengarnya. Namun, kebanyakan kita tidak memahaminya secara mendalam sehingga kita tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat penting. Padahal dengan iman dan amal sholeh-lah yang mengantarkan kita ke dalam surganya Allah.

Memang untuk memahami secara mendalam memerlukan pengkajian secara intensif dan berkesinambungan. Karena iman itu bersifat abstrak (tidak terlihat), tapi dapat kita rasakan keberadaannya dengan meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan di jagad raya ini.

Untuk dapat meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, mesti belajar ilmu akidah atau tauhid seperti memahami 20 sifat wajib bagi Allah, ditambah asmaul husna yang berjumlah 99 beserta dalil-dalil untuk memperkuatnya, baik dalil naqli maupun dalil aqli.

Selanjutnya iman yang sudah dipahami tadi mesti dibuktikan dalam bentuk amal sholeh. Amal sholeh itu adalah segala macam perbuatan yang dinilai baik, benar dan positif, dan sesuai dengan ajaran Islam.

Iman kita akan diakui keberadaannya jika dibuktikan dalam bentuk amal sholeh. Sebaliknya amal sholeh kita akan diterima oleh Allah bila didasari rasa iman di dalam hati. Jadi, antara iman dan amal sholeh tidak boleh dipisah karena memiliki keterkaitan erat antara keduanya.

Berdasarkan penjelasan ini maka jangan mimpi kita akan masuk surga, bila tidak ada iman dan amal sholeh selama hidup di dunia. Oleh karena itu selagi kita masih bernapas, mari kita perkuat iman kita dengan ketaatan dan ketundukan kepada Allah terhadap semua ketentuan syariat agama agar menjadi amal sholeh yang bernilai ibadah yang besar pahalanya sehingga kelak kita diperkenankan masuk ke dalam surga Firdaus seperti yang dijanjikan dalam surah Al Kahfi ayat 107-108 tersebut.

Akhirnya, semoga khutbah Jumat edisi ini menjadi pengingat (alarm) yang sangat berharga untuk mempersiapkan datangnya kematian secara tiba-tiba, dan semoga kematian kita nanti tergolong husnul khatimah, aamiin.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ, وَتَقَبَّلَ مِنّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com