Tag Archives: rasulullah saw

Hadits Surga di Telapak Kaki Ibu dalam Islam, Ini Penjelasannya


Jakarta

Ada salah satu bunyi hadits yang mungkin dekat dengan keseharian masyarakat muslim Indonesia dan mungkin kerap diperbincangkan dalam konteks pembahasan keluarga. Isi hadits tersebut tentang surga di bawah telapak kaki ibu.

Diketahui, hadits tersebut merupakan potongan hadits yang diriwayatkan dari An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad. Berikut bunyi hadits yang bersanad shahih oleh Al-Hakim berikut,

عن معاوية بن جاهمة السلمي، أن جاهمة رضي الله عنه جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله أردت أن أغزو وقد جئت أستشيرك . فقال : هل لك من أم؟ قال نعم. قال : فالزمها فإن الجنة تحت رجليها


Artinya: Dari Mu’awiyah bin Jahimah As-Sulami, ia datang menemui Rasulullah SAW. la berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin ikut berperang dan saya sekarang memohon nasihat kepadamu?” Rasulullah SAW lalu bersabda, “Kamu masih punya ibu?” Mu’awiyah menjawab, “Ya, masih. Rasulullah SAW bersabda, “Berbaktilah kepada ibumu (lebih dahulu) karena sungguh ada surga di bawah kedua kakinya!”

Arti Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu

Terdapat berbagai hikmah yang dapat dipahami dan dipelajari dari hadits di atas. Menurut penjelasan Ronny Strada dalam buku Mencari Surga di Telapak Kaki Ibu karya Abdul Wahid, makna dari mencari surga di telapak kaki ibu adalah sebagai bentuk pengabdian kepada orang tua, terutama ibu.

Surga yang dimaksud di sini tidak hanya merujuk kepada surga akhirat semata. Sebaliknya, ini merujuk kepada upaya untuk mendapatkan ridha, kasih sayang, cinta, dan keikhlasan dari ibu.

Dengan berbakti kepada ibu, kita berharap agar Allah SWT memberikan petunjuk dan pengampunan-Nya kepada kita. Dengan demikian, di masa depan kita akan mendapatkan perlindungan dalam menjalankan semua perintah-Nya dan diberikan kekuatan untuk menjauhi segala larangan-Nya.

Di dalam teks juga dijelaskan bahwa surga di bawah telapak kaki ibu merupakan kiasan yang menunjukkan bahwa sebagai anak, kita wajib untuk patuh dan berbakti kepada ibu. Cara berbakti kepada ibu adalah dengan menghormati, menghargai, dan memberikan prioritas pada kepentingannya.

Surga di bawah telapak kaki ibu adalah lambang dari ketaatan dan pengabdian kepada ibu. Sebab itulah, pengabdian tersebut menjadi jalan bagi kita untuk mencapai surga.

Beberapa Cara Mendapatkan Surga di Telapak Kaki Ibu

Dikutip dari sumber yang sama, ada beberapa cara agar kita dapat meraih surga di telapak kaki ibu. Berikut ini adalah caranya.

1. Memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada ibu, seperti membantu dalam tugas-tugas rumah tangga atau memberikan hadiah yang berarti, sebagai tanda penghargaan dan kebaikan terhadap ibu.

2. Menggunakan bahasa yang sopan dan menghormati ketika berkomunikasi dengan ibu, dengan menghindari ucapan yang kasar atau menyakitkan hati, sehingga mencerminkan rasa hormat dan perhatian kepada ibu.

3. Mendoakan ibu dengan ikhlas dan memohon doanya, mengungkapkan harapan baik dan kebaikan untuk ibu serta memohon berkah Allah agar ibu senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan keselamatan.

4. Memberikan semangat dan penghargaan yang besar kepada ibu, dengan kata-kata pujian, ungkapan terima kasih, dan memberikan dukungan moral yang kuat, sebagai bentuk penghormatan atas peran dan dedikasi ibu dalam hidup kita.

Berbakti kepada orang tua dikenal dengan istilah birrul walidain. Perkara ini bahkan diterangkan dalam firman-Nya surah Al Isra ayat 23 dan 24.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Selain itu, Rasulullah SAW juga pernah menyebut bahwa orang tua adalah pintu surga paling pertengahan. Beliau bersabda, “Orang tua merupakan pintu surga paling pertengahan, jika engkau mampu maka tetapilah atau jagalah pintu tersebut.” (HR Ahmad)

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Doa sebelum Adzan dan Artinya, Bolehkah Diamalkan?


Jakarta

Sebagian umat Islam mungkin masih ada yang bingung dengan dasar hukum pengamalan membaca doa sebelum adzan. Apakah sah-sah saja dilakukan oleh seorang muazin?

Dikutip dari buku Terbakar Kumandang Azan tulisan Tusni A. Ghazali, terdapat sebuah hadits dalam Kitab Sunan Abu Dawud yang bercerita tentang Ummu Zaid bin Tsabit, seorang wanita suku Bani Najjar.

Ia memiliki rumah tertinggi di sekitar Masjid Nabawi di Madinah. Setiap pagi menjelang subuh, Bilal RA, muazin Rasulullah SAW, naik ke rumahnya dan menunggu terbitnya fajar.


Setelah melihat fajar terbit, Bilal RA membaca doa, “Ya Allah, saya memuji-Mu dan memohon pertolongan-Mu agar orang-orang Quraisy dapat menegakkan agama-Mu.” Doa ini selalu dibaca oleh Bilal sebelum mengumandangkan azan subuh, dan dia tidak pernah meninggalkannya.

Imam Abu Dawud menyatakan bahwa hadits ini shahih, dan menurut ulama hadis, kisah ini dapat menjadi dalil kebolehan melafalkan doa sebelum adzan.

Sebab, jika membaca doa seperti yang dilakukan oleh Bilal RA dianggap salah atau bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW, tentu Beliau akan menegur Bilal RA. Namun, dalam kisah ini, Rasulullah SAW tidak mengingkari atau menyalahkan Bilal RA.

Ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Bilal RA dibolehkan oleh Rasulullah SAW. Adapun bacaan doa yang dapat diamalkan sebelum adzan dikutip dari buku Panduan Praktik Ibadah tulisan Yudi Irfan Daniel dan Shabri Shaleh Anwar adalah sebagai berikut.

Doa sebelum Adzan dalam Arab, Latin, dan Artinya

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلهَ إلا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ الْعَلِي الْعَظِيمِ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اللهُ يَا كَرِيم.

Arab Latin: “Subhanallah walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammadin. Allahumma ya Karim.”

Artinya: “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga junjungan kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, wahai Yang Maha Mulia.”

Ibnu Hajar Al Haitsami dalam Kitab Al Fatawa Al Fiqhiyah Al Kubro menambahkan, tidak ada anjuran langsung dari Rasulullah SAW untuk bersholawat sebelum adzan. Tidak pula para tokoh menyebutkan hal itu sebagai sesuatu yang disunnahkan secara khusus.

Sebaliknya yang lebih diutamakan pengamalannya adalah membaca doa setelah adzan. Bahkan waktu antara adzan dan iqamah dianggap sebagai salah satu waktu yang mustajab untuk seorang muslim memanjatkan doa.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Rasulullah Larang Kencing Sambil Berdiri, Benarkah Haditsnya?


Jakarta

Rasulullah SAW telah mencontohkan adab buang air kecil sebagaimana diriwayatkan dalam sejumlah hadits. Di antara hadits tersebut, ada yang berisi larangan kencing sambil berdiri.

Hadits larangan kencing sambil berdiri ini diriwayatkan dari Nafi, dari Ibnu Umar RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah engkau kencing sambil berdiri.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Imam Baihaqi turut meriwayatkannya)

Adapun, Aisyah RA mengatakan, “Barang siapa memberitahu kalian bahwa Nabi SAW dulu pernah kencing sambil berdiri, maka jangan percaya kepadanya. Beliau tidak pernah kencing, kecuali dengan posisi duduk.”


Mengenai dua hadits tersebut, Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Sunan-nya menukil Sunan Ibnu Majah mengatakan bahwa hadits riwayat Aisyah RA adalah hadits yang paling baik dan paling kuat dalam tema ini. Sementara itu, hadits Umar RA yang diriwayatkan dari jalur Abdul Karim bin Abu Mukhariq, dari Nafi dimarfu-kan oleh Abdul Karim bin Abu Mukhariq saja, sedangkan ia dinilai lemah oleh para ahli hadits.

Dalam Penjelasan Kitab Mandzhumah al-Baiquniyyah yang disusun oleh Abu Utsman Kharisman diterangkan, hadits Ibnu Umar RA tentang larangan kencing berdiri adalah hadits yang mengandung illat tercela. Perawi yang dimaksud dalam hal ini adalah Abdul Karim bin Abi Umayyah.

Imam Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro menyatakan, “Abdul Karim ini adalah Ibnu Abil Mukhaariq. Sekelompok perawi meriwayatkan dari Abdurrazzaq dan menisbatkan padanya. Abdul Karim bin Abil Mukhaariq (adalah perawi yang) lemah.”

Kencing Sambil Berdiri Tidak Diharamkan

Dalam Sunan Ibnu Majah dijelaskan, maksud dari larangan kencing sambil berdiri adalah larangan untuk mendidik, bukan pengharaman. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya, termasuk sikap yang buruk kencing sambil berdiri.”

M Quraish Shihab dalam buku M Quraish Shihab Menjawab 1001 soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui menerangkan, ada riwayat lain dari sejumlah perawi hadits–termasuk Bukhari dan Muslim–yang memberitahukan bahwa Nabi SAW pernah kencing sambil berdiri. Menurut M Quraish Shihab, boleh jadi Nabi SAW melakukan itu karena beliau sakit atau untuk menunjukkan bahwa kencing berdiri bukanlah haram.

“Mengenai terperciknya kencing atau najis saat berdiri melakukan kencing di depan uriner, memang merupakan satu kemungkinan. Namun, kemungkinan itu belum sampai mengantar untuk mengharamkan kencing berdiri. Bahkan belum sampai ke tingkat menajiskan pakaian,” jelas pendiri Pusat Studi Al-Qur’an itu.

(kri/nwk)



Sumber : www.detik.com

5 Doa Suami untuk Istri, Yuk Baca agar Rumah Tangga Berkah dan Harmonis



Jakarta

Doa suami untuk istri adalah salah satu sunnah yang Rasulullah SAW ajarkan kepada umat Islam. Mendoakan istri dapat menjadi kado terbaik dalam hubungan pernikahan agar senantiasa diberikan keberkahan dan keharmonisan rumah tangga.

Anjuran mendoakan istri diterangkan dalam hadits yang dinukil dari buku Hadiah Pernikahan terindah karya Ibnu Wanitiniyah, Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila salah seorang diantara kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak, peganglah terlebih dahulu keningnya, sebutlah nama Allah dan berdoalah untuk keberkahannya dengan mengucapkan doa:


‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya (istri) dan kebaikan apa yang aku ambil dari padanya, serta aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang ada di dalamnya, juga dari kejahatan dari apa yang aku ambil dari padanya.'” (HR Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibn Majah).

Selain itu, memanjatkan doa untuk istri juga pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW untuk Aisyah. Dikisahkan dalam buku Romansa di Rumah Nabi SAW oleh Abu Hamzah Al-Ghamidi, Aisyah RA pernah berkata,

“Aku mengetahui Rasulullah SAW memiliki hati yang sangat baik. Aku berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, doakanlah aku!’ Kemudian beliau pun berdoa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَائِشَةَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهَا وَمَا تَأَخَّرَ وَمَا أَسَرَّتْ وَمَا أَعْلَنَتْ

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa Aisyah yang telah lalu, yang akan datang, yang dilakukannya secara sembunyi-sembunyi, dan yang dilakukannya secara terang-terangan.”

Urwah RA berkata, “Aisyah RA tertawa hingga menjatuhkan kepalanya di pangkuan Rasulullah Saw. Beliau bersabda, ‘Apakah engkau bahagia dengan doaku?’

Aisyah RA menjawab, ‘Bagaimana aku tidak bahagia dengan doamu.’ Nabi SAW bersabda, ‘Demi Allah, itu adalah doaku untuk umatku (yang selalu aku ucapkan) di dalam sholat,'” (HR Bazzar).

Lantas, seperti apa bacaan doa suami untuk istri yang bisa dipanjatkan? Berikut ini di antaranya dilansir dari Kitab Doa Mustajab Terlengkap karya H. Amrin Ali Al-Kasyaf.

Bacaan Doa Suami untuk Istri

1. Doa Suami untuk Istri di Malam Pertama Pernikahan

اللَّهُمَّ إِنِّى اَسْتَلُكَ خَيْرُهَا وَخَيْرُ مَا جَبَلْتَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Latin: Allaahumma innii as-aluka khairahaa wa khaira maa jabaltahaa wa a’uudzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa ‘alaih.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa saja yang Engkau tetapkan padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan apa saja yang Engkau tetapkan kepadanya.”

2. Doa Suami untuk Istri agar Diberi Keberkahan

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوْبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Latin: Allaahumma baariklanaa fii asmaa’inaa wa abshaarinaa wa quluubinaa wa azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa wa tub’alainaa innaka antattawwaabur rahiim.

Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami dalam pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, istri-istri kami, dan anak keturunan kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya, Engkau Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.”

3. Doa Suami untuk Istri agar Diberi Kebahagiaan

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Latin: Wallażīna yaqụlụna rabbanā hab lanā min azwājinā wa żurriyyātinā qurrata a’yuniw waj’alnā lil-muttaqīna imāmā.

Artinya: “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan: 74).

4. Doa Suami ketika Istri Masuk Kamar

Ketika istri memasuki kamar, suami dapat meletakkan tangannya di bagian kening istri kemudian menghadap bersama-sama ke arah kiblat seraya membaca doa:

اللَّهُمَّ بِأَمَانَتِكَ أَخَذْتُهَا وَبِكَلِمَاتِكَ اسْتَحْلَلْتُ فَرْجَهَا، فَإِنْ قَضَيْتَ لي مِنْهَا وَلَدًا فَاجْعَلْهُ مُبَارَكًا سَوِيًّا وَلَا تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ فِيْهِ شَرِيكًا وَلَا نَصِيبًا

Latin: Allaahumma biamaanatika akhattuhaa, wa bikalimaatika istahlaltu farjahaa, fain qadhaita lii minhaa waladan fajalhu mubaarakan syawiyyaa, walaa taj’al lisy syaithaani fiihi syariikan walaa nashiiban.

Artinya: “Ya Allah, dengan amanat-Mu kujadikan ia istriku dan dengan kalimat-kalimat-Mu dihalalkan bagiku kehormatannya. Jika Engkau tetapkan bagiku memiliki keturunan darinya, jadikan keturunanku keberkahan dan kemuliaan, dan jangan jadikan setan ikut serta dan mengambil bagian di dalamnya.”

5. Doa Suami untuk Istri agar Diberi Keturunan yang Soleh dan Solehah

ربَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجَعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Latin: Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrata a’yuuniw waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa.

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan: 73).

Demikian sejumlah doa suami untuk istri yang bisa dipanjatkan agar rumah tangga senantiasa diberi keberkahan.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

7 Doa Ungkapan Syukur atas Nikmat Allah SWT agar Hidup Berkah


Jakarta

Umat Islam sudah seharusnya senantiasa memanjatkan doa ungkapan syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Setiap harinya, ada begitu banyak nikmat yang dilimpahkan Allah SWT kepada setiap hamba-Nya, baik nikmat yang dapat disadari maupun tidak disadari.

Bersyukur adalah kewajiban yang perlu dilakukan umat Islam setiap harinya. Bahkan, Allah SWT telah menjanjikan akan menambah nikmat bagi orang yang selalu bersyukur, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ


Artinya: Dan (ingatlah juga) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Selain itu, Rasulullah SAW turut mengajarkan kepada umatnya untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT, sebagaimana dinyatakan dalam hadits yang dinukil dari kitab Syarah Riyadhus Shalihin Jilid 1 oleh Imam an-Nawawi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

انظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَحْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian, dan janganlah melihat orang yang lebih tinggi di atas kalian (dalam hal keduniaan). Sebab, yang demikian itu lebih pantas agar kalian tidak akan menghinakan nikmat Allah atas kalian.” (Muttafaq ‘alaih)

Cara lain untuk mengungkapkan rasa syukur atas nikmat Allah SWT dapat dilakukan dengan memanjatkan doa setiap harinya. Berikut ini sejumlah doa ungkapan syukur yang bisa diamalkan, dilansir dari buku Doa dan Zikir Sepanjang Tahun karya H. Hamdan Hamedan.

Doa Ungkapan Syukur kepada Allah SWT

1. Doa Bersyukur yang Pernah Dibaca Nabi Sulaiman AS

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّلِحِينَ

Latin: Robbi auzi’nii an asykura ni’matakal-lati an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shalihan tardhahu wa adkhilni birahmatika fii ‘ibaadikash shaalihiin.

Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS An- Naml: 19)

2. Doa Bersyukur yang Dibaca sebelum Salam Setiap Sholat

اللَّهُمَّ أَعِنى عَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Latin: Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik.

Artinya: “Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”

3. Doa Bersyukur yang Dibaca Pagi dan Petang

اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شريكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الفكر.

Latin: Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au bi-ahadin min khalqika fa minka wahdaka laa syariika laka fa lakal hamdu wa lakasy syukru.

Artinya: “Ya Allah, nikmat apa pun yang ada padaku di waktu pagi atau yang ada pada setiap makhluk-Mu, semuanya hanya dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu, bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu segala syukur.” (HR Abu Dawud & HR Baihaqi)

4. Doa Mensyukuri Nikmat Allah SWT

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأمْرِ وَالْعَزِيمَةِ عَلَى الرَّهْدِ وَأَسْأَلُكَ مُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيْمًا وَلِسَانًا صَادِقًا.

Latin: Allahumma inni as ‘alukats tsabaata fil amri wal ‘aziimati ‘alar-rusydi wa as-aluka syukra ni’matika wa husna ‘ibaadatika wa as-aluka qolban saliiman wa lisaanan shaadiqan.

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kemantapan dalam setiap urusan, dan aku memohon kepada-Mu niat yang kuat untuk mendapatkan petunjuk-Mu, dan aku memohon kepada-Mu untuk mampu mensyukuri nikmat-Mu dan kebaikan melakukan ibadah, dan aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang mampu berkata jujur.” (HR Nasa’i)

5. Doa Ungkapan Syukur atas Rahmat dan Karunia Allah SWT

اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا مِنْ خَزَائِنِ رَحْمَتِكَ لَا تُعَذِّبْنَا بَعْدَهَا أَبَدًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنْ فَضْلِكَ الْوَاسِعَ رِزْقًا حَلَالًا طَيْبًا وَلَا تُفْقِرْنَا بَعْدَهُ إِلَى أَحَدٍ سِوَاكَ أَبَدًا تَزِيْدُنَا لَكَ بِهَا شُكْرًا وَإِلَيْكَ فَاقَةً وَفَقْرًا وَبِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Latin: Allaahummaftah lanaa min khazaini rahmatika laa tu’adz- dzibnaa ba’dahaa abadan fid-dunyaa wal aakhirati, wa min fadlikal wasi’i rizqan halaalan thayyiban, wa laa tufqirnaa ba’dahu ilaa ahadin siwaaka abadan, taziidunaa laka bihaa syukran wa ilaika faaqatan wa faqran, wa bika ‘amman siwaaka ghinan wa ta’affufan.

Artinya: “Ya Allah, bukakanlah (pintu rahmat-Mu) dari gudang-gudang rahmat-Mu untuk kami, janganlah siksa kami selamanya setelah kami mendapatkan rahmat itu di dunia maupun di akhirat. Dan dari karunia-Mu yang Maha Luas rezeki yang halal serta baik untuk kami. Setelah itu, janganlah Engkau membuat kami membutuhkan orang lain selain-Mu selamanya, sebab rahmat dan karunia-Mu, membuat kami semakin bersyukur kepada-Mu, dan semakin membutuhkan-Mu, dan semakin tidak membutuhkan orang lain selain Engkau ya Allah.”

6. Doa Bersyukur dan Bertobat

رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ مَكَارًا لَكَ ذَكَارًا لَكَ رَهَابًا لَكَ مِطَوَاعًا لَكَ مُخَيِتًا إِلَيْكَ أَواها منيبًا.

Latin: Rabbij’alnii laka syakkaaran laka, dzakkaaran laka, rahhaaban laka, mithwaa’an laka, mukhbitan ilaika, awwaahan muniiban.

Artinya: “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang senantiasa bersyukur kepada-Mu, senantiasa ingat kepada-Mu, senantiasa takut serta taat kepada-Mu, bertobat kepada-Mu, dan senantiasa kembali kepada-Mu.” (HR Tirmidzi)

7. Doa Ungkapan Syukur yang Dibaca Rasulullah SAW

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ شَاكِرًا لَكَ دَاكِرًا لَكَ رَاهِبًا لَكَ مِطْوَاعًا إِلَيْكَ مُخَيِتًا أَوْ مُنِيبًا.

Latin: Allahummaj’alni laka syaakiran, laka dzaakiran, laka raahiban, laka mithwaa’an, ilaika mukhbitan au muniiban.

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah aku orang yang bersyukur kepada-Mu, orang yang mengingat-Mu, patuh kepada-Mu, tunduk kepada-Mu, dan kembali kepada-Mu.” (HR Abu Dawud)

Demikianlah 7 doa ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT yang bisa diamalkan setiap hari agar hidup menjadi berkah, semoga bermanfaat.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

73 Golongan Umat Nabi di Akhir Zaman, Ini Satu yang Disebut Bakal Selamat



Jakarta

Umat Nabi Muhammad SAW disebut akan terbagi ke dalam 73 golongan. Dari jumlah tersebut, dikatakan hanya satu golongan yang kelak selamat.

Terpecahnya umat Islam ke dalam 73 golongan ini disebutkan dalam hadits yang salah satunya dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi. Diriwayatkan,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.


Artinya: “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.” (HR At-Tirmidzi dan ia mengatakannya hasan shahih)

Dari golongan tersebut, orang yang mengikuti ajaran Rasulullah SAW dan para sahabat yang berpegang pada ajaran itulah yang kelak selamat. Sebagaimana lanjutan hadits tersebut, para sahabat bertanya,

“Siapakah satu golongan itu?”

Rasulullah SAW menjawab, “(Yaitu) siapa saja yang berada di atas apa (ajaran) yang diriku dan (juga) para sahabatku pernah berpegang pada (ajaran) itu.”

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi mengatakan dalam Hadza al-Habib Muhammad Rasulullah Ya Muhibb, prediksi Rasulullah SAW tentang terpecahnya umat Islam ke dalam 73 golongan itu benar adanya.

Para ulama mengatakan, golongan yang selamat yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah golongan ahlu sunnah wal jamaah, sebagaimana diterangkan dalam buku Teologi Islam Klasik dan Kontemporer karya Achmad Muhibin Zuhri. Dalam hal ini, Ibnu Abbas RA mengatakan,

“Pada hari yang di waktu itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” (QS Ali Imran: 106) Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlu sunnah wal Jama’ah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah Ahlul Bid’ah dan sesat.”

Sementara itu, Imam al-Ghazali dalam salah satu kitabnya yang berjudul Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah menyampaikan dua pendapat yang salah satunya berlawanan. Ia menyebut, umat yang 73 golongan tersebut akan selamat kecuali satu saja yang masuk neraka, yakni kaum kafr zindiq atau kaum yang tidak mempercayai keberadaan Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam.

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com

Doa Pembuka Majelis Sesuai Sunnah Versi Singkat dan Panjang


Jakarta

Doa pembuka majelis adalah bacaan yang bisa diamalkan muslim ketika hendak mengikuti suatu pertemuan atau yang juga disebut sebagai majelis. Doa ini dapat diamalkan agar perkumpulan yang dilakukan dapat bermanfaat dan diridai oleh Allah SWT.

Menurut Abdul Hamid dalam buku Memaknai Kehidupan, secara bahasa, majelis berasal dari bahasa Arab majlis yang artinya tempat duduk. Namun, dalam konteks ini yang dimaksud majelis ialah majelis ilmu atau majelis taklim.

Majelis juga disebut sebagai acara Islam yang mana menjadi ajang bertemunya orang-orang dengan tujuan tertentu. Sejak zaman Rasulullah SAW berbagai kegiatan majelis ilmu telah digelar.


Dikutip dari Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah, disunnahkan untuk memulai suatu majelis dengan membacakan khutbatul hajah, yang selalu dibacakan oleh Rasulullah SAW sebelum memberikan khutbah, ceramah, baik itu dalam acara pernikahan, muhadharah (ceramah), atau pertemuan lainnya. Sunnah ini juga diikuti oleh para sahabat beliau.

Doa pembuka majelis sendiri dapat ditemukan dalam surah Al-A’raf ayat 43, sebagaimana dikutip dalam buku Doa Para Nabi dan Rasul karya Nurul Huda.

Doa Pembuka Majelis Singkat: Arab, Latin, dan Artinya

… الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَننَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِهْتَدِى لَوْلَا أَنْ هَدَيْنَا اللَّهُ …

Arab latin: “Alḥamdu lillāhil-lażī hadānā lihāżā, wa mā kunnā linahtadiya lau lā an hadānallāh”

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk,”

Selain itu, ada juga doa pembuka majelis versi lainnya yang lebih panjang, berikut bunyinya,

Doa Pembuka Majelis Versi Panjang: Arab, Latin, dan Artinya

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . أَمَّا بَعْدُ

Arab Latin: “Innal hamdalillaah, nahmaduhuu, wa nasta’iinuhu, wa nastagh-firuh. Wa na’uudzu billaahi min syuruuri anfusinaa, wa min sayyi-aati a’maalinaa. Man yahdihillaahu falaa mudhilla lah, wa man yudh-lil falaa haadiya lah. Wa asyhadu al-laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Ammaa ba’du.”

Artinya: “Segala puji hanya kepada Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,”

Selain adanya doa pembuka majelis, terdapat juga doa penutup majelis yang mengharap ampunan-Nya akan kekhilafan yang mungkin saja kita lakukan secara sengaja atau tidak disengaja selama ikut majelis.

Berikut ini adalah bacaan doa penutup majelis seperti dikutip dari buku Zikir Doa Pembuka Pintu Rahmat tulisan Gus Arifin.

Doa Penutup Majelis dengan Arab, Latin, dan Artinya

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.

Arab Latin: “Subhanakallâhuma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illà anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.”

Artinya: “Maha Suci Engkau, Ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertobat kepada-Mu.

Demikian penjelasan kali ini mengenai doa pembuka majelis sekaligus penutupnya. Jangan sampai lupa untuk diamalkan ya, detikers!

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

7 Wasiat Jibril yang Selalu Disampaikan ke Rasulullah



Jakarta

Malaikat Jibril selalu berwasiat kepada Rasulullah SAW tentang amal perbuatan yang bisa dikerjakan. Menurut sebuah riwayat, setidaknya ada tujuh wasiat Jibril yang disampaikan kepada Rasulullah SAW.

Wasiat Jibril ini disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Jabir bin ‘Abdullah Al-Anshari RA sebagaimana dinukil Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Jawi dalam Nashaihul ‘Ibad Syarh Al-Munabbihaat ‘Alal Isti’daad Li Yaumil Ma’aad.

Jabir bin ‘Abdullah Al-Anshari RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,


1. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai aku mengira kalau tetangga itu akan dijadikan sebagai ahli waris.

2. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar memperlakukan istri sebaik mungkin sampai aku mengira kalau istri itu haram diceraikan.

3. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar sebaik mungkin dalam memperlakukan para budak sampai aku mengira suatu waktu nanti mereka harus dimerdekakan.

4. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar aku melakukan siwak (gosok gigi) sampai aku mengira kalau bersiwak itu wajib.

5. Jibril selalu berwasiat kepadaku untuk melakukan salat berjamaah sampai aku mengira Allah tidak akan menerima salat, kecuali dengan berjamaah.

6. Jibril selalu berwasiat kepadaku untuk mengerjakan salat Tahajud sampai aku mengira tidak ada tidur pada waktu malam.

7. Jibril selalu berwasiat kepadaku agar senantiasa berdzikir kepada Allah sampai aku mengira tidak ada ucapan yang bermanfaat, kecuali dzikir kepada Allah.

Imam Bukhari dan Muslim mengeluarkan riwayat wasiat Jibril agar berbuat baik kepada tetangga dalam Shahih-nya. Muslim mengeluarkannya dalam Bab Al-Birr wa Ash-Shilah. Hadits tersebut dinilai shahih.

Dari hasil wasiat tersebut, Rasulullah SAW mensyariatkan beberapa sunnah kepada umatnya, sebagaimana diterangkan dalam Ihya 345 Sunnah Nabawiyah, Wasa’il wa Thuruq wa Amaliyah karya Raghib As-Sirjani. Salah satunya adalah sunnah berbagi makanan kepada tetangganya.

“Sunnah ini bukan bermaksud menyeru seseorang membuat makanan khusus untuk tetangganya, namun memberi hadiah makanan yang dikonsumsi oleh tuan rumah sendiri, dan tentu tidak mengapa menambah sedikit kuantitas makanan agar dapat menyisihkan kepada tetangga sebagai pemberian atau hadiah,” jelas akademisi Islam berkebangsaan Mesir tersebut.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW secara khusus berpesan kepada kaum wanita, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah RA, bahwa beliau SAW bersabda,

“Wahai wanita-wanita kaum muslimin, janganlah seseorang meremehkan tetangganya walaupun hanya dengan memberi sedikit daging kambing.” (HR Bukhari dalam Kitab Al-Adab dan Muslim dalam Kitab Az-Zakat)

Selain wasiat untuk berbuat baik kepada tetangga dan enam wasiat seperti disebutkan dalam hadits di atas, Malaikat Jibril juga memberikan wasiat lainnya kepada Rasulullah SAW. Dalam hadits yang dikeluarkan Thabrani dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

أتاني جبريلُ ، فقال : يا محمدُ عِشْ ما شئتَ فإنك ميِّتٌ ، وأحبِبْ ما شئتَ ، فإنك مُفارِقُه ، واعملْ ما شئتَ فإنك مَجزِيٌّ به ، واعلمْ أنَّ شرَفَ المؤمنِ قيامُه بالَّليلِ ، وعِزَّه استغناؤه عن الناسِ

Artinya: “Jibril ‘alaihissalam pernah datang kepadaku seraya berkata, ‘Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau akan menjadi mayit. Cintailah siapa saja yang engkau senangi, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah semaumu, sesungguhnya engkau akan menuai balasannya. Dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada salat malam dan kehormatannya adalah rasa kecukupan dari manusia.”

Dalam Tasliyat Ahlul Masha’ib karya Muhammad Al-Manjai Al-Hanbali terdapat hadits serupa dengan redaksi,

“Jibril berkata, ‘Hiduplah semaumu, sesungguhnya engkau akan menjadi mayat. Cintailah siapa saja yang engkau mau karena sesungguhnya engkau akan meninggalkannya. Dan, berbuatlah semaumu karena sesungguhnya engkau akan menghadap-Nya.” (HR Abu Dawud)

(kri/nwk)



Sumber : www.detik.com

Cara Mengirim Doa untuk Orang yang Sudah Meninggal


Jakarta

Doa dari keluarga atau kerabat untuk orang yang sudah meninggal akan bermanfaat baginya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al Khudri, Rasulullah SAW bersabda,

“Pada hari kiamat seseorang diikuti kebaikan sebesar gunung, lalu ia bertanya, “Dari mana aku memperoleh semua ini? Dikatakan kepadanya, “Dari istighfar anakmu untukmu.” (HR Thabrani)

Penyebutan anak dalam hadits di atas, tidak terbatas pada seorang anak dari orang yang sudah meninggal dunia saja. Namun, semua orang muslim dibolehkan saling mendoakan sebagaimana telah Allah SWT firmankan dalam surah Al Hasyr ayat 10,


وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Artinya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”

Cara Mengirim Doa untuk Orang yang Sudah Meninggal

Dalam praktiknya, salah satu cara mengirim doa bagi orang yang sudah meninggal dunia di Indonesia dapat dilakukan dengan tahlilan. Dijelaskan dalam buku Bimbingan Praktikum Ibadah oleh Prof. Dr. H. Abuddin Nata, dalam acara tahlilan, keluarga dari orang yang meninggal dunia melakukan tahap persiapan seperti penentuan hari, tanggal, tempat, dan tamu yang akan diundang.

Nama-nama almarhum atau almarhumah yang akan didoakan ditetapkan. Hidangan yang akan disiapkan dan bingkisan atau buah tangan untuk menghormati para tamu juga disusun dalam tahap persiapan ini.

Selanjutnya pada tahap pelaksanaan, seorang ustaz yang dipilih akan memimpin tahlilan dengan membaca doa sambil menyebut nama orang yang sudah meninggal dunia serta bacaan surah pendek seperti surah Al Falaq dan surah An Nas. Berikut bacaan lengkap yang dapat dilafalkan.

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وبركاته … أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ .

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh… Astaghfirullahal ‘adzim (3×)

إلَى حَضْرَةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْءٌ اللَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

Ila hadratin nabiyyina Muhammadin syai’un lillāhi lahumud fâtihah

ثم إلى أزواح أبي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَّ شَيْءٌ اللَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

Tsumma ila arwahi abi bakrim, wa ‘imar, wa ‘utsman, wa ‘ali, syain lillahi lahumul fatihah

ثم إلى أرواح …. شَيْءٌ اللَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَة

Tsumma ila arwahi wa arwahi …. (disebutkan nama-nama almarhum dan almarhumah yang akan dikirimi doa), syai’un lillähi laharal fatihah

لا إله إلا الله والله أكبر …. قُلْ هُوَ الله أحدٌ : اللَّهُ الصَّمَدُ : لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولد الله وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

La ilaha illallahu wallahu akbar … gulhurullah ahad … allahush shamad, lam yalid wa lam yalad, walam yakun lahu kufuwan ahad… (2x)

لا إله إلا الله والله أكبر … قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ اللَّهِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ إِلَّا وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ الثقافاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا

La ilaha illallahu wallahu akbar… qul ‘audzu birabbil falaq, min syarri ma khalaq wa min syarri ghasiqin idza waqab, wa min syarrin naffâtsäti fil uqadi, wa min syarri hasidin idza hasad (2x)

لا إله إلا الله والله أكبر … قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ * الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ان من الجنَّةِ والنَّاسِ

La ilaha illallahu wallahu akbar… qul ‘aūdzu birabbinnâs malikinnnås ilahinnas min syarril waswasil khannas, alladzi yuwaswisu fi sudurinnas minal jinnati wannās… (2x)

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

La ilaha illallahu wallahu akbar

Deretan Doa untuk Orang yang Sudah Meninggal

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa setelah seseorang meninggal, semua amal perbuatannya telah terputus, kecuali tiga hal yakni sedekah yang terus memberi manfaat, ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang, dan anak saleh yang mendoakannya. Dikutip dari Buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 dan Kitab Al-Adzkar oleh Imam an-Nawawi, berikut adalah beberapa doa untuk orang yang sudah meninggal.

1. Doa untuk Orang Meninggal Versi Pertama

السَّلَامُ علَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللَّهُ المُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ

Arab latin: Assalaamu ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa yarhamullahu almustaqdimiina minna wal musta’khiriina wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiquun

Artinya: “Salam atas penghuni pemukiman yang terdiri dari orang-orang Mukminin dan Muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan. Sungguh kami insya Allah benar-benar akan menyusul kamu.” (HR Muslim, dari Aisyah)

2. Doa untuk Orang Meninggal Versi Kedua

السَّلَامُ عَلَيْكُم دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

Arab Latin: “Assalaamu ‘alaikum daara qaumin mu’miniin wa innaa in syaa’allaahu bikum laahiquun”

Artinya: “Semoga keselamatan terlimpahkan kepada kalian, wahai penghuni kuburan dari kaum mukmin, dan insya Allah kami akan menyusul kalian.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, dari Abu Hurairah)

3. Doa untuk Orang Meninggal Versi Ketiga

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلَهُ وَاعْقِبَنِي مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَةٍ

Arab Latin: “Allâhummaghfir lî wa lahu wa a’qibnî minhu ‘uqbâ hasanah.”

Artinya: “Duhai Tuhan, ampunilah aku dan dia (orang yang meninggal) dan balaslah aku darinya dengan balasan yang baik.” (HR Ahmad, Musnad Ahmad dalam Kitab Baqi Musnad Al- Anshar)

4. Doa untuk Orang Meninggal Versi Keempat

Menurut buku Doa Ketika Kematian Tiba tulisan Islah Gusmian, ketika Abu Salamah meninggal dunia, istrinya, Ummu Salamah, mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk memberitahukan tentang kematian suaminya. Kemudian Rasulullah SAW meminta Ummu Salamah untuk berdoa dengan kalimat berikut,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَأَفْسِحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

Arab Latin: “Allahummagh firli Abu Salamah, warfa’ darajatahu fil-mahdiyyin, wakhluhhu fi ‘aqibihi fil-ghabirin, wagfir lana wa lahu ya Rabbal’alamin, wa afsih lahu fi qabrihi, wa nawwir lahu fih.

Artinya: “Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya di kalangan orang-orang yang mendapat petunjuk, gantikanlah dia dengan yang lebih baik di antara orang-orang yang telah pergi, ampunilah kami dan dia, wahai Tuhan semesta alam, lapangkanlah kuburnya dan berikanlah cahaya di dalamnya.”

Oleh karena itu, doa untuk orang yang meninggal, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, merupakan permohonan pengampunan dan ampunan kepada Allah untuk orang yang telah meninggal, termasuk saudara, orang tua, teman, atau tetangga kita. Dengan mendoakan mereka, kita berharap Allah mengampuni dosa-dosa mereka dan memberikan keberkahan bagi mereka di kehidupan setelah mati.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Urutan Doa Ziarah Kubur dengan Bacaan Arab, Latin, dan Artinya


Jakarta

Ziarah kubur adalah salah satu bentuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Ada sejumlah urutan doa ziarah kubur yang bisa diamalkan muslim.

Dikutip dari buku Menelisik Hakikat Silaturahim tulisan Prof Dr KH Nasaruddin Umar, dijelaskan bahwa walaupun seseorang telah meninggal dunia, itu bukanlah penghalang untuk tetap menjalin silaturahmi. Mengunjungi makam orang tua yang telah wafat dan mendoakan mereka adalah salah satu cara untuk bersilaturahmi dengan mereka.

Doa yang kita panjatkan akan memberikan manfaat bagi mereka di akhirat. Rasulullah SAW bahkan telah memerintahkan umatnya untuk menziarahi kerabat yang telah meninggal dunia dengan mendatangi makam mereka.


قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِهِ فَرُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُذَكَّرُ الْآخِرَةَ

Artinya: “Aku telah melarang kalian ziarah kubur, dan telah diizinkan bagi Muhammad untuk menziarahi makam ibunya, maka kalian berziarahlah ke kubur, karena ziarah kubur mengingatkan pada akhirat.” (HR Tirmidzi)

Urutan Doa Ziarah Kubur

1. Membaca salam

السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنينَ وَأتاكُمْ ما تُوعَدُونَ غَداً مُؤَجَّلُونَ وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحقُونَ

Arab Latin: “Assalamu’alaìkum dara qaumìn mu’mìnîn wa atakum ma tu’adun ghadan mu’ajjalun, wa ìnna ìnsya-Allahu bìkum lahìqun”

Artinya : “Assalamuallaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Allah yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian.”

2. Membaca istighfar

أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ اَلَّذِي لآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Arab Latin: “Astaghfirullah Hal Adzim Alladzi La ilaha Illa Huwal Hayyul Qoyyumu Wa atubu Ilaihi”

Artinya : “Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya.”

3. Membaca surat Al Fatihah

4. Membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas

5. Membaca kalimat tahlil

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ

Arab Latin: “Laailaaha Illallah”

Artinya : “Tiada Tuhan selain Allah.”

6. Membaca doa ziarah kubur

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ

الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّار, وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، ونَوِّرْ لَهُ فِيهِ

Arab Latin: “Allahummaghfìrlahu war hamhu wa ‘aafìhìì wa’fu anhu, wa akrìm nuzuulahu wawassì’ madholahu, waghsìlhu bìl maa’ì watssaljì walbaradì, wa naqqìhì, mìnaddzzunubì wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu mìnad danasì.

Wabdìlhu daaran khaìran mìn daarìhì wa zaujan khaìran mìn zaujìhì. Wa adkhìlhul jannata wa aìdzhu mìn adzabìl qabrì wa mìn adzabìnnaarì wafsah lahu fì qabrìhì wa nawwìr lahu fìhì.”

Artinya: “Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran.”

“Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, isteri yang lebih baik dari isterinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, berikanlah perlindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya.” (HR Muslim)

Doa Ziarah Kubur Pendek

Dikutip dari buku Pintar Doa untuk Anak karya Abu Ezza menjelaskan mengenai doa dan adab saat ziarah kubur, terdapat doa ziarah kubur pendek sebagai berikut.

السَّلامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيار منَ الْمُؤْمِنِينَ والمُسلمين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون تَسْأَلُ الله لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِية

Arab Latin: “Assalaamu’alaikum ahlad diyaari minal mu’miniina wal muslimiin, wa innaa in syaa allaahu bikum laahiquun, nas’alullaaha lanaa wa lakumul’aafiyah”

Artinya: “Keselamatan semoga tetap tercurahkan kepada para penghuni kubur dari golongan orang-orang mukmin dan orang-orang muslim, dan sesungguhnya Insya Allah kami akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk kamu dan untuk kalian semua.” (HR Ibnu Majah)

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com