Tag Archives: rasulullah saw

Menanam Tanaman di Atas Makam Dapat Meringankan Siksa? Ini Haditsnya


Jakarta

Makam menjadi tempat istirahat terakhir untuk orang-orang yang telah wafat. Mungkin tak sedikit umat Islam yang menancapkan tanaman di makam.

Berkaitan dengan hal itu, terdapat beberapa hadits tentang tanaman di makam beserta amalan yang bermanfaat bagi mayat. Berikut hadits dan penjelasannya.

Hadits tentang Tanaman di Makam

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ ﷺ بِحَائِط مِنْ حِيْطَانِ الْمَدِينَةِ أَوْ مَكَّةَ فَسَمِعَ صَوْتَ إِنْسَانَيْنِ يُعَذِّبَانِ فِي قُبُوْرِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ يُعَذِّبَانِ وَمَا يُعَذِّبَانِ فِي كَبِيرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى كَانَ أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ وَكَانَ الْآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ فَكَسَرَهَا كِسْرَتَيْنِ فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبْرٍ مِنْهُمَا كِسْرَةً فَقِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ تَيْبَسَا أَوْ إِلَى أَنْ يَيْبَسَا


Artinya: “Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berjalan di pinggir salah satu tembok Kota Madinah atau Makkah. Beliau mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di kuburnya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian bersabda, ‘Keduanya disiksa dan tidak disiksa karena sesuatu yang besar. Ya, salah satunya tidak menutup (aurat) saat kencing dan orang lain berjalan mengadu domba.’ Nabi lalu meminta pelepah pohon dan beliau membaginya menjadi dua. Tiap satu belahan pelepah itu beliau letakkan di kuburan kedua orang itu. Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa Anda melakukan ini?’ Nabi menjawab, ‘Semoga diringankan siksa untuk keduanya selama kedua bagian pelepah itu masih basah’.” (HR Bukhari)

Dirangkum dari Majalah Nadhlatul Ulama: Aula terbitan Aula Media Nahdlatul Ulama, hadits tersebut menjelaskan bahwa pelepah atau ranting pohon dapat meringankan siksa orang dalam makamnya. Tidak harus berupa ranting kurma, namun tumbuhan yang mudah didapatkan di suatu daerah tertentu. Misalnya, bunga yang terkadang diberi air dengan tujuan agar tidak cepat mengering.

Amalan yang Bermanfaat bagi Mayat

Dirangkum dari buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, berikut beberapa amalan yang bermanfaat bagi mayat:

1. Doa dan Istighfar yang Ditujukan untuk Mayat

Para ulama sepakat bahwa doa dan istighfar yang ditujukan kepada mayat dapat memberi manfaat kepadanya. Hal ini berdasarkan pada firman Allah SWT yang termaktub dalam surah Al-Hasyr ayat 10,

وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ ١٠

Artinya: “Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.”

2. Sedekah

Imam Nawawi berpendapat bahwa sedekah dapat bermanfaat kepada orang yang sudah meninggal dunia dan pahala dari sedekah tersebut sampai kepadanya. Perlu diketahui bahwa tidak disyariatkan mengeluarkan sedekah di makam dan dimakruhkan bersedekah bersamaan dengan proses pemakaman.

3. Puasa

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya ada seorang lelaki yang menemui Rasulullah SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia dan dia masih memiliki tanggungan berpuasa selama satu bulan apakah saya diperbolehkan berpuasa untuknya?”

Rasulullah SAW bertanya, “Seandainya ibumu memiliki utang, apakah engkau akan melunasinya?” Perempuan itu menjawab, “Iya.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Utang kepada Allah SWT lebih berhak untuk dipenuhi.”

4. Haji

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya ada seorang perempuan dari Junainah yang menemui Rasulullah SAW, lalu bertanya, “Sesungguhnya ibuku telah bernazar untuk melaksanakan haji, tapi nazar tersebut belum terlaksana sampai ia meninggal dunia, apakah saya boleh berhaji untuknya?”

Rasulullah SAW menjawab, “Iya. Berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu jika ibumu mempunyai hutang, apakah engkau akan melunasinya?” Dia menjawab, “Iya.” Rasulullah SAW melanjutkan, “Penuhi hutangnya kepada Allah, sebab hutang Allah SWT lebih berhak untuk dipenuhi.”

5. Salat

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya bentuk berbuat baik kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah hendaknya engkau melakukan salat untuknya sebagaimana salat yang engkau lakukan dan hendaknya engkau berpuasa untuknya sebagaimana puasa yang engkau lakukan.”

6. Membaca Al-Qur’an

Ulama Ahlus-Sunnah berpendapat bahwa membaca Al-Qur’an merupakan amalan yang bermanfaat bagi seseorang yang sudah meninggal dunia.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

6 Hadits tentang Menuntut Ilmu, Salah Satunya Memudahkan Jalan Menuju Surga


Jakarta

Dalam Islam, menuntut ilmu jadi perintah yang harus dipahami oleh kaum muslimin. Allah SWT berfirman dalam surah Ar Rahman ayat 33,

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ ۝٣٣

Artinya: “Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah).”


Menurut buku Agar Menuntut Ilmu Jadi Mudah susunan Abdul Hamid M Djamil Lc, kewajiban menuntut ilmu terbagi ke dalam dua macam yaitu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Ilmu yang masuk ke dalam fardhu ‘ain ialah tauhid, fikih, dan tasawuf.

Adapun, ilmu yang termasuk dalam kategori fardhu kifayah merujuk pada ilmu tafsir, ilmu usul fikih, ilmu hitung, dan lain sebagainya. Saat menuntut ilmu pun, ada sejumlah adab yang harus diperhatikan oleh kaum muslimin.

Selain dalam ayat Al-Qur’an, menuntut ilmu juga disebutkan dalam sejumlah hadits. Berikut hadits tentang menuntut ilmu yang dikutip dari buku Inilah! Wasiat Nabi Bagi Para Penuntut Ilmu karya Drs Wendi Zarman.

1. Ilmu Termasuk Warisan Para Nabi

Ilmu adalah warisan para nabi, hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang berbunyi,

“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang cukup.” (HR Abu Dawud)

Orang yang menuntut ilmu diganjar dengan pahala yang berlipat-lipat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits:

“Siapa yang mengajak kepada petunjuk maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (HR Muslim)

3. Ilmu Adalah Amalan Jariyah

Ilmu termasuk ke dalam amalan jariyah. Artinya, ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya meski orang tersebut sudah meninggal dunia.

“Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputus semua amalnya (tidak bisa lagi menambah pahala) kecuali 3 orang, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan orang, atau anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR Muslim)

4. Rasulullah SAW akan Menyambut Penuntut Ilmu

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

“Selamat datang wahai penuntut ilmu. Sesungguhnya penutup ilmu benar-benar ditutupi para Malaikat dan dinaungi dengan sayap-sayapnya. Kemudian mereka saling bertumpuk-tumpuk hingga mencapai langit dunia (langit paling dekat dari bumi) karena kecintaan mereka (Malaikat) kepada ilmu yang dipelajarinya.” (HR Ath-Thabrani)

Nabi Muhammad SAW menyebut bahwa menuntut ilmu wajib hukumnya bagi kaum muslimin sebagaimana bunyi sabda beliau dalam hadits riwayat Ibnu Majah.

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR Ibnu Majah)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim)

Itulah sejumlah hadits tentang menuntut ilmu yang dapat dipahami oleh kaum muslimin. Deretan hadits tersebut membuktikan betapa pentingnya ilmu bagi kehidupan manusia.

(aeb/rah)



Sumber : www.detik.com

30 Hadits Tentang Kehidupan, Jadi Penyemangat untuk Jalani Hidup



Jakarta

Ada banyak hadits yang mengajarkan tentang kehidupan. Hadits yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW ini bisa menjadi petunjuk dalam kehidupan sehari-hari.

Nabi Muhammad SAW adalah sosok panutan bagi umat Islam. Setiap perilaku dan ucapannya merupakan tuntunan dalam menjalani hidup di dunia sekaligus bekal di akhirat kelak.

Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW menjadi pintu masuk bagi setiap muslim yang ingin menjadikan Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah (suri teladan) dalam kehidupan.


Mengutip buku 60 Hadits Shahih oleh Faqihuddin Abdul dijelaskan bahwa hadits Rasulullah SAW tersebar dalam puluhan kitab hadits induk yang mendokumentasikan ratusan ribu hadits, baik ucapan, perbuatan, penetapan maupun sifat-sifat beliau.

Dari banyaknya hadits tersebut, terdapat beberapa hadits yang bisa menjadi pelajaran sekaligus motivasi dalam menjalani hidup. Setiap manusia pasti memiliki ujian dan masalah hidup yang sebenarnya ditetapkan Allah SWT untuk menguji keimanan seseorang.

Hadits Tentang Kehidupan

Berikut beberapa hadits tentang kehidupan, cinta dan hubungan sehari-hari.

  1. “Ketahuilah bahwasannya kemenangan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar itu bersama kesulitan, dan bahwasanya bersama kesulitan ada kemudahan”. (HR Tirmidzi).
  2. “Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
  3. “Katakanlah yang benar walau pahit sekalipun.” (HR. Abu Daud)
  4. “Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah sholat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orangtua dan saudara.” (HR Bukhari).
  5. “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad)
  6. “Sesungguhnya ku ucapkan kalimat, ‘Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallaaha wallahu akbar; Maha Suci Allah segala puji bagi-Nya, tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar, lebih aku cintai dari pada semua yang disinari oleh matahari.'” (HR. Muslim)
  7. “Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba-Nya suka menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
  8. “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman karena perbuatannya.” (HR. Muslim)
  9. “Surga itu ada di bawah telapak kaki Ibu,” (diriwayatkan oleh An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, dan disahihkan oleh Al-Hakim).
  10. “Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.” (HR Bukhari)
  11. “Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (HR Ath-Thabrani).
  12. “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  13. “Iman yang utama adalah sabar dan pemaaf,” (HR Bukhari dan Ad Dailami).
  14. “Senyum engkau di hadapan saudaramu adalah sedekah,” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
  15. “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim)
  16. “Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allāh kecuali Dia akan meninggikan (derajat) nya” (HR. Muslim)
  17. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim)
  18. “Setengah dari bukti kebaikan Islamnya seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi)
  19. “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perempuan dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah perempuan yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR Bukhari)
  20. “Tak pernah kulihat bagi dua orang yang saling mencintai semisal (cinta dalam) pernikahan.” (HR. Baihaqi)
  21. “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, berbelas kasih terhadap sesama, ibarat satu jasad. Apabila anggota badan ditimpa sakit, seluruh badan lainnya akan merasakan sakit.”
  22. “Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.'” (HR. Bukhari dan Muslim)
  23. “Janganlah engkau saling membahayakan dan jangan saling merugikan” (HR. Ibnu Majah dan Daruquthni)
  24. “Sesungguhnya kamu mempunyai dua akhlak yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya, yaitu sifat al-hilm (mampu menahan emosi) dan al-anah (sikap tenang dan tidak tergesa-gesa).” (HR.Muslim)
  25. “Barang siapa yang keluar (rumah) untuk mencari ilmu maka dia termasuk orang yang berada di jalan Allah sampai dia pulang.” (HR. At-Tirmidzi)
  26. “Maafkanlah, niscaya kamu akan dimaafkan (oleh Allah),”

  27. “Orang yang paling penyantun di antara kalian adalah orang yang bersedia memberi maaf walaupun ia sanggup untuk membalasnya,”

  28. “Orang yang memelihara anak yatim di kalangan umat muslimin, memberikannya makan dan minum, pasti Allah akan masukkan ke dalam surga kecuali ia melakukan dosa yang tidak diampuni.” (HR Tirmidzi)

  29. “Bahwa aku dan orang-orang yang memelihara anak yatim dengan baik akan berada di surga, bagaikan dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah, lalu nabi mengangkat tangannya dan memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu ia renggangkan.” (HR Bukhari)

  30. “Jika manusia mati, terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR Muslim)

Demikian beberapa hadits Rasulullah SAW tentang kehidupan. Semoga kita dapat meneladani sifat dan sikapnya yang takwa dan penuh cinta.

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

Haqqul Muslim Alal Muslim, Anjuran Penuhi Hak Sesama Muslim


Jakarta

Haqqul muslim alal muslim adalah potongan dari hadits yang menjelaskan tentang hak seorang muslim terhadap muslim yang lain. Hak apa saja yang dimaksud dalam hadits tersebut?

Disebutkan dalam buku Syarah Riyadhus Shalihin Jilid 1 oleh Sheikh Muhammad Al-Utsaimin terjemahan Munirul Abidin, haqqul muslim alal muslim atau hak seorang muslim terhadap sesama muslim sebetulnya tak terhitung jumlahnya. Namun, Rasulullah SAW hanya menyebutkan beberapa karena pentingnya masalah tersebut. Hal ini tertuang dalam beberapa hadits sahih.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, haqqul muslim alal muslim ada lima perkara, “Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima, yaitu membalas salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangannya, dan menjawab (mendoakan) apabila ia bersin’.” (HR Bukhari dan Muslim)


Sementara itu, menurut kitab Bulughul Maram: Hadis-hadis Pilihan Tentang Hukum oleh Aidh Al-Qarni terjemahan M. Zaky Mubarak dan Iffah Syarifah, haqqul muslim alal muslim ada enam perkara. Perkara-perkara itu tercantum pada hadits yang berbunyi sebagaimana berikut ini.

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتْ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَحِبُهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهُ فَسَمِّتَهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Bacaan latin: Haqqu muslimi alal muslimi sittun qiila maa hunna yaa rasuulullahi qaala idzhaa laqiitahu fasallim ‘alaihi wa idzhaa da’aka faajibhu wa idzhas tanshohaka fanshohlahu wa idzhaa ‘athosa fahamidallahi fasammithu wa idzhaa marizdhaa fa’udhu wa idzhaa maa ta fattabi’hu

Artinya: “Kewajiban muslim terhadap muslim lainnya ada enam: jika engkau berjumpa dengannya, ucapkanlah salam; jika ia mengundangmu, penuhilah; jika dia meminta nasihatmu, nasehatilah, jika dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah, ucapkanlah yarhamukallâh (semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); jika dia sakit, jenguklah; dan jika dia meninggal dunia, antarkanlah jenazahnya.”

6 Haqqul Muslim Alal Muslim atau Hak Sesama Muslim

1. Mengucapkan dan Membalas Salam

Diambil dari buku Al-Islam karya Said Hawwa, haqqul muslim alal muslim yang pertama adalah mengucapkan salam dan menjawab salam apabila bertemu sesama muslim. Meskipun mengucapkan salam adalah sunah, namun menjawab salam hukumnya wajib. Bahkan Rasulullah SAW bersabda,

“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian telah beriman dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mengasihi. Apakah kalian ingin saya beri tahu hal yang apabila kalian melakukannya maka kalian akan saling mengasihi: Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim)

2. Datang Bila Mendapat Undangan

Haqqul muslim alal muslim yang kedua adalah memenuhi undangan seorang muslim apabila diundang. Hal ini didasarkan juga pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,

“Barang siapa yang diundang kemudian ia tidak memenuhi undangan tersebut maka ia telah melakukan maksiat kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Dan barang siapa datang dalam suatu undangan padahal ia tidak diundang, maka ia masuk bagai seorang pencuri dan keluar bagaikan orang yang membawa lari harta orang lain.” (HR Abu Dawud)

3. Mendoakan yang Bersin

Haqqul muslim alal muslim yang ketiga adalah mendoakan ketika mendengar muslim lain bersin. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,

“Apabila kalian bersin, ucapkanlah, ‘Segala puji bagi Allah dalam segala kondisi (Alhamdulillahi ‘ala kulli haal).’ Dan hendaknya saudara atau kawannya mendoakannya, ‘Semoga Allah SWT mengasihimu (yarhamukallah).’ Apabila saudara atau kawannya tersebut telah mendoakannya, ia (orang yang tadinya bersin) hendaknya berkata, ‘Semoga Allah SWT memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu’.” (HR Bukhari)

4. Menjenguk

Haqqul muslim alal muslim atau hak muslim terhadap muslim lain yang keempat adalah menjenguk apabila sakit. Ketika menjenguk orang sakit, hendaknya seorang muslim mendoakan agar segera diberi kesembuhan oleh Allah SWT dan memotivasi hatinya.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang menjenguk orang sakit, maka ia masih berada di pinggir surga hingga ia pulang.” (HR Muslim)

5. Mengantarkan Jenazah

Haqqul muslim alal muslim yang kelima adalah mengantar jenazah yang meninggal dunia. Hal ini didasarkan dengan sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa mengantar jenazah dan mengangkatnya tiga kali maka ia telah memenuhi hak jenazah tersebut.” (HR Tirmidzi)

6. Memberi Nasihat

Haqqul muslim alal muslim yang terakhir adalah memberikan nasihat apabila ada seorang muslim meminta nasihat kepada kita. Nasihat ini hendaknya berisi pesan yang baik yang sesuai dengan perintah Allah SWT dan bukan nasihat yang mengandung keburukan.

Perintah ini juga tercantum dalam surah Al Asr ayat 1-3 yang berbunyi,
وَالْعَصْرِۙ

Artinya: Demi masa

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ

Artinya: sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ

Artinya: kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Tobat 100 Kali Sehari, Ini Bacaan Istighfar Rasulullah


Jakarta

Rasulullah SAW tobat 100 kali sehari meskipun beliau terhindar dari dosa. Dalam tobatnya itu, beliau membaca istighfar setiap harinya.

Banyaknya tobat Rasulullah SAW ini disebutkan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab At-Taubah Wa al-Inabah sebagaimana diterjemahkan Ahmad Dzulfikar. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyandarkan hal ini pada hadits shahih yang diriwayatkan Bukhari.

Rasulullah SAW bersabda, “Hai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya lebih dari 70 kali sehari.” (HR Bukhari dalam kitab Ad-Da’wat bab Istighfar an-Nabi)


Hadits tersebut diriwayatkan dari Abu Yaman, dari Syu’aib, dari az-Zuhri, dari Abu Salamah. Hadits ini turut diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Baghawi dalam Syarh as-Sunnah.

Para sahabat mencoba menghitung dalam suatu majelis terkait banyaknya ucapan tobat Rasulullah SAW dan mendapati beliau bertobat sebanyak 100 kali.

Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa beliau tobat 100 kali sehari dan memerintahkan kepada umat manusia untuk bertobat kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,

“Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah Tuhan kalian! Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah 100 kali dalam sehari.” (HR Muslim dan Abu Dawud)

Hadits tersebut dinukil Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Jami’us Sirah dan diterjemahkan Abdul Rosyad Shiddiq dan Muhammad Muchson Anasy.

Bacaan Tobat Rasulullah

Berikut bacaan tobat Rasulullah SAW yang dibaca 100 kali sehari sebagaimana termaktub dalam Sunan Abi Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah melalui hadits yang berasal dari Ibnu Umar RA.

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Arab latin: Raabbighfir lii watub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim

Artinya: “Ya Allah Tuhanku, ampunilah aku dan berikanlah tobat atasku, sungguh Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Pengasih.”

Imam at-Tirmidzi mengatakan hadits tersebut kualitasnya hasan. Al-Qurthubi, Asy-Suyuthi, dan Abu Nu’aim turut meriwayatkan hadits tersebut.

Disebutkan dalam hadits lain yang diriwayatkan Sa’id bin Abi Burdah dari bapaknya dari kakeknya, Rasulullah SAW membaca istighfar 100 kali saat bangun pagi. Hadits tersebut berbunyi,

“Kami kedatangan Rasulullah ketika kami sedang duduk-duduk. Beliau langsung bersabda, ‘Aku tidak pernah bangun pagi kecuali aku beristighfar seratus kali.” (HR Muslim, As-Suyuthi)

Keutamaan Tobatnya Umat Islam

Allah SWT memberi keistimewaan terhadap tobatnya umat Islam atas umat lainnya. Disebutkan Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Jami’us Sirah, tobatnya umat Nabi Muhammad SAW lebih sempurna dari umat-umat nabi yang lain, lebih cepat diterima, dan lebih mudah dilakukan.

Pada zaman nabi terdahulu, contohnya era Nabi Musa AS, mereka harus melakukan tobat dengan cara yang tidak mudah. Diceritakan, sekelompok orang dari bani Israil yang kala itu menyembah sapi harus bertobat dengan cara dibunuh saudaranya yang tidak ikut melakukan dosa itu.

Sementara itu, tobatnya umat Nabi Muhammad SAW bisa dilakukan dengan beristighfar sepenuh hati.

Dalil Tobat dalam Al-Qur’an

Perintah bertobat juga telah termaktub dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah An Nur ayat 31,

وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ…

Artinya: “…Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”

Menurut Tafsir Ibnu Katsir yang diterjemahkan M. Abdul Ghoffar, akhir surah An Nur ayat 31 tersebut berisi perintah untuk mengerjakan segala sesuatu yang telah diperintahkan Allah SWT dan tinggalkan tradisi masa lalu di zaman Jahiliyah. Sebab, keberuntungan yang paling prima adalah mengerjakan sesuatu seperti apa yang diperintahkan Allah SWT dan rasulnya serta meninggalkan sesuatu yang dilarang keduanya.

Yusuf Al-Qardhawi dalam kitab Al-Taubah Ila Allah yang diterjemahkan Irfan Maulana Hakim turut memaparkan firman Allah SWT yang berisi keutamaan orang bertobat, yakni “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Al Baqarah: 222)

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com

Hadits tentang Kiamat Akan Terjadi pada Hari Jumat



Jakarta

Waktu pasti terjadinya hari kiamat adalah rahasia milik Allah SWT dan tidak ada satupun makhluk yang mengetahuinya. Namun, satu hal yang pasti dikabarkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya hari kiamat akan terjadi pada hari Jumat.

Salah satunya didasarkan dari hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dalam Kitab Misyakat al Mashabih. Rasulullah SAW bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيْهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيْهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِيْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ


Artinya: “Hari yang paling baik di mana matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu, Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan dari surga, dan hanya pada hari itulah kiamat terjadi.” (HR Muslim)

Dalam riwayat lain, ditegaskan pula bahwa hari kiamat terjadi pada hari Jumat. Hadits tersebut diriwayatkan dari Aus ibn Aus dalam Kitab ad Da’awat al Kabir,

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ

Artinya: “Hari kamu yang paling utama adalah hari Jumat. Pada hari itu, Adam diciptakan dan diwafatkan, pada hari itu pula peniupan sangkakala dan kehancuran kiamat terjadi. Maka perbanyaklah sholawat kepadaku pada hari itu, karena sholawat kalian diperlihatkan kepadaku.” (HR Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi, dan Al Baihaqi)

Untuk itulah, Imam Syafi’i dalam Kitab Al Umm menganjurkan muslim untuk memperbanyak sholawat dan membaca surah Al Kahfi pada hari Jumat. Utamanya, keutamaan membaca surah tersebut di hari Jumat akan mendapat ganjaran berupa perlindungan Allah SWT dari fitnah Dajjal.

“Saya menyukai banyak-banyak membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam setiap keadaan, sedang pada hari Jumat saya lebih menyukainya (dengan memperbanyak lagi membaca sholawat), begitu juga saya suka membaca surah Al Kahfi pada malam Jumat dan siangnya karena adanya riwayat dalam hal ini,” demikian keterangannya seperti diterjemahkan Mahbub Maafi dalam buku Tanya Jawab Fikih Sehari-hari.

Adapun hari akhir akan datang secara tiba-tiba, tidak ada orang yang mengetahui kedatangan hari kiamat, kecuali Allah SWT yang mengetahuinya. Hal ini dijelaskan dalam surah Al A’raf ayat 187,

يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَىٰهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّى ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَآ إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْـَٔلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِىٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Bukti bahwa informasi mengenai hari kiamat adalah benar adanya ditegaskan lagi dalam surah Al Hajj ayat 7. Allah SWT berfirman,

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

Artinya: “Dan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.”

Peristiwa ini akan didahului dengan ditiupnya sangkakala. Pada saat itu, seluruh makhluk, seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, gunung-gunung, laut, langit, semuanya menjadi kacau balau dan hancur. Manusia berterbangan seperti laron hingga gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan seperti diceritakan dalam surah Al Haqqah ayat 13-15.

(13) فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ
(14) وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً
(15) فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ

Artinya: “Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat.”

(rah/lus)



Sumber : www.detik.com

Hadits Rasulullah SAW: Jangan Marah, Bagimu Surga


Jakarta

Sebuah hadits shahih menyebutkan, Rasulullah SAW pernah berwasiat kepada umatnya tentang larangan marah sebab bagimu surga.

Disebutkan dalam buku Syarah Hadits Arba’in yang disyarah oleh Imam Muhyiddin An-Nawawi, dkk, Rasulullah SAW berwasiat kepada seorang yang datang kepada beliau.

Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, ajarilah aku ilmu yang dapat mendekatkanku menuju surga dan menjauhkan diriku dari neraka.” Rasulullah SAW menjawab, “Jangan marah maka engkau akan berhak mendapatkan surga.” (HR Ath-Thabrani)


Jangan marah, bagimu surga. Kalimat ini tentu sudah sering didengar oleh para muslimin. Sebab, Allah SWT yang menjanjikan surga kepada orang yang bisa menahan amarah dan memaafkan.

Allah SWT berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 133-134 yang berbunyi,

۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤

Artinya: Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Larangan Marah dalam Islam

Marah merupakan sifat manusiawi dan bisa dialami siapa saja. Bedanya, orang yang beriman hendaknya tidak meluapkan amarah tersebut dan malah dikuasai oleh emosi. Apalagi ia malah bertindak yang melampaui batas.

Rasulullah SAW pernah berkata, orang-orang yang bisa menahan amarah meskipun ia sangat emosi dan bisa meluapkannya disebut sebagai orang yang kuat. Dilansir buku 100 Hadits Pilihan (Materi Hafalan, Kultum dan Ceramah Agama) oleh Muh. Yunan Putra, disebutkan hadits sahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA yang mengutip sabda Rasulullah SAW,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ (رواه البخاری، مسلم و أحمد)

Artinya: Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah orang yang kuat adalah orang yang pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan nafsunya ketika ia marah.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Rasulullah SAW bahkan mengulangi perintah untuk menahan marah berkali-kali. Ketika itu ada seorang sahabat meminta nasihat kepada beliau, kemudian beliau bersabda,

حدثني يحيى بن يوسف اخبرنا ابو بكر هو ابن عباس عن أبي حصين عن ابي صالح عن ابي هريرة الله أن رجلا قال للنبي ﷺ أوصني قال: لا تغضب فردد مرارا قال لا تغضب. رواه البخاري

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yusuf, telah memberitahukan kepada kami Abu Bakar dari Abi Hasin dari Abi Sholih dari Abu Hurairah RA bahwasanya ada seorang lelaki berkata kepada nabi SAW: “Wasiatilah aku” Nabi bersabda: “Jangan marah” la mengulanginya beberapa kali. Nabi bersabda: “Jangan marah.” (HR Bukhari)

Untuk menaati perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menahan amarah dan emosi. Apa saja itu?

Cara Menahan Amarah

Dalam sumber sebelumnya disebutkan, Rasulullah SAW berpesan, amarah bisa diredam dengan melakukan beberapa hal, yakni duduk, tidur atau berbaring, dan wudhu. Rasulullah SAW bersabda,

إِيَّاكُمْ وَ الْغَضَبَ فَإِنَّهُ حَمْرَةٌ تَتَوَقَّدُ فِي فُؤَادِ ابْنِ آدَمَ أَلَمْ تَرَ إِلَى أَحَدِكُمْ إِذَا غَضِبَ كَيْفَ تَحْمَرُّ عَيْنَاهُ وَتَنْفَتِحُ أَوْدَاجُهُ فَإِذَا أَحَسَّ أَحَدُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَلْيَضْطَجِعْ أَوْ لِيَلْصَقْ بِالْأَرْضِ

Artinya: “Jauhilah sikap marah karena ia merupakan bara yang akan menyala di dalam hati anak keturunan Adam. Tidakkah kamu lihat salah seorang di antara kalian jika dia marah, bagaimana ketika matanya memerah dan urat lehernya membengkak. Jika salah seorang di antara kamu merasakan sesuatu dari hal itu, hendaklah dia berbaring atau duduk ke tanah.” (HR Ahmad)

Di lain kesempatan, beliau juga berwasiat kepada umatnya, “Sesungguhnya, marah itu datangnya dari setan: sedangkan setan itu tercipta dari api; sedangkan api itu dapat dipadamkan dengan air. Maka, jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah segera berwudhu.” (HR Ahmad)

Hadits-hadits di atas menjelaskan, apabila seseorang sedang dikuasai emosi, hendaknya ia menahannya. Jika ia sedang berdiri, duduklah. Jika dia sedang duduk, berbaringlah. Terakhir, jika semua itu sudah dilakukan dan masih marah, berwudhulah.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Isyarat Rasulullah Bakal Terjadi Huru-hara yang Harus Diwaspadai


Jakarta

Rasulullah SAW mengisyaratkan bakal terjadinya kerusuhan dahsyat yang harus diwaspadai dan dihindari. Kerusuhan ini berkaitan dengan datangnya hari kiamat.

Isyarat Rasulullah SAW ini disebutkan Ibnu Katsir dalam An Nihayah Fitan wa Ahwal Akhir az Zaman (Mukhtashar Nihayah al Bidayah) yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan. Ibnu Katsir menyandarkan hal ini pada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA.

Rasulullah SAW bersabda,


سَتَكُونُ فِتَنَّ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأَ أَوْ مَعَادًا فَلْيعُد به

Artinya: “Akan terjadi huru-hara di mana orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari. Barang siapa mendekatinya, maka huru-hara itu akan menariknya lebih dekat. Maka dari itu, barang siapa mendapatkan di sana suatu benteng atau tempat berlindung lainnya, maka berlindunglah di situ.” (HR Bukhari dan Muslim)

Al Bukhari mengeluarkan hadits tersebut dalam kitab Al Fitan, bab Takunu Fitnatun al-Qa’idu Minha Khairun Minal Qa’im. Hadits tersebut juga terdapat dalam kitab Sunan At-Tirmidzi.

Isyarat terkait datangnya huru-hara dan banyak terjadi kerusuhan juga disebutkan dalam hadits lain. Menurut hadits ini, kerusuhan yang dimaksud adalah pembunuhan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW bersabda,

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَيُلْقَى الشُّحُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّمَ هُوَ قَالَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ

Artinya: “Waktu saling berdekatan, ilmu berkurang, kikir tak mau hilang, huru-hara merajalela, dan banyak terjadi kerusuhan. Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasul Allah kerusuhan apakah itu?’ Beliau menjawab, ‘Pembunuhan, pembunuhan’.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Al Bukhari mengeluarkan hadits tersebut dalam kitab al-Fitan bab Zhuhur Al Fitan.

Huru-hara Berasal dari Arah Timur

Ibnu Katsir dalam kitabnya juga memaparkan hadits yang menyebut bahwa huru-hara akan muncul dari arah timur. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri di sebelah mimbar sambil menghadap ke timur, lalu bersabda,

أَلَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ أَوْ قَرْنُ الشَّمْسِ

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya huru-hara (akan timbul) dari sini, dari tempat munculnya tanduk setan–atau kata beliau: tanduk matahari.”

Hadits serupa juga terdapat dalam kitab Sunan At-Tirmidzi dan At-Tirmidzi mengatakannya shahih. Diriwayatkan dari Abd bin Humaid, dari Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu Umar, ia berkata bahwa Rasulullah SAW berkhutbah di atas mimbar lalu bersabda, “Di negeri itulah tempat fitnah,” seraya menunjuk ke timur (yaitu tempat munculnya tanduk setan atau tanduk matahari.”

Wallahu a’lam.

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com

Niat Berpengaruh pada Kehidupan Dunia dan Akhirat, Ini 10 Hadits tentang Niat



Jakarta

Niat yang terlintas ketika seseorang hendak melakukan perbuatan ternyata memiliki pengaruh besar. Dalam Islam, semua niat akan memberi pengaruh dalam kehidupan seorang muslim di dunia dan akhirat.

Mengutip buku Hadits Pilihan (Materi Hafalan, Kultum dan Ceramah Agama) karya Muh. Yunan Putra, Lc., M.HI. dijelaskan niat secara bahasa adalah keinginan. Niat juga berarti sengaja untuk melakukan sesuatu. Sedangkan menurut istilah niat adalah keinginan yang kuat untuk melaksanakan atau meninggalkan sesuatu karena Allah SWT.

Niat terletak dalam setiap hati seorang hamba. Rasulullah SAW berpesan kepada seluruh muslim untuk menjaga hati agar senantiasa bersih dari niat buruk. Karena segala perbuatan dinilai berdasarkan niatnya.


Dari Umar bin Khattab radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits tentang Niat

Sangat banyak hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang hubungan niat perbuatan. Setiap niat baik akan mendapatkan balasan keutamaan yang bisa dirasakan di dunia dan akhirat. Demikian juga setiap niat buruk yang akan berbalas dosa.

Merangkum buku Keikhlasan Niat dan Tentang Ketaqwaan oleh Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarif An-Nawawi Ad-Dimsyaqi, berikut beberapa hadits Rasulullah SAW tentang niat.

1. Niat baik membawa kebaikan dunia akhirat

Dari Ibnu Mas’ud, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Siapa yang menjadikan seluruh tujuannya menjadi satu cita-cita, yaitu cita-cita akhirat, Allah mencukupi tujuan dunianya. Siapa yang tujuannya bercabang-cabang dalam berbagai masalah dunia, Allah tidak akan peduli di lembah mana ia meninggal.” (HR Ibnu Majah, sanad haditsnya hasan li ghairih)

2. Niat buruk akan berbalas keburukan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah SWT mengampuni umatku dari apa saja yang terbesit dalam hatinya, selagi belum terucap atau belum terlaksana.”

3. Niat lebih penting daripada amal

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda:

“Niat seorang mukmin lebih utama daripada amalnya.” (HR Al-Baihaqi)

4. Niat dapat meluaskan rezeki

Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan maksud mengembalikannya, maka Allah akan membayarkannya. Siapa yang mengambil harta orang lain dengan maksud untuk merusaknya, maka Allah akan merusak orang itu.” (HR. Bukhari)

5. Niat baik akan mendapat pahala berlipat

Dari Ibnu ‘Abbas RA, Nabi Muhammad bersabda:

“Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan tetapi dia tidak (jadi) melakukannya, Allah tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat sampai kelipatan yang banyak.

Barangsiapa berniat berbuat buruk tetapi dia tidak jadi melakukannya, Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allah menuliskannya sebagai satu kesalahan.” (HR Bukhari dan Muslim)

6. Balasan pahala sesuai niat

Rasulullah SAW bersabda,

“Allah telah memberikan balasan kepadanya sesuai dengan kadar niatnya.”

Hadits ini disabdakan ketika beberapa orang sahabat tertinggal pada Perang Tabuk, mereka sangat ingin ikut berperang bersama Rasulullah SAW dalam peperangan itu, akan tetapi mereka mendapatkan rintangan, sebagian di antara mereka tidak memiliki perbekalan dan tidak mempunyai unta.

Rasulullah SAW tidak dapat membawanya, ada di antara mereka yang mungkin sakit, ada di antara mereka yang tidak dapat ikut karena mengatur urusan di Madinah, dia menjaga Madinah. Rasulullah SAW memberitahukan bahwa mereka yang tidak dapat ikut berperang karena ada halangan, mereka tetap mendapatkan balasan pahala.

7. Niat berbalas kebaikan

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari Ma’n bin Yazid dia berkata,”Yazid ayahku mengeluarkan beberapa Dinar untuk bersedekah, dia memberikannya kepada seseorang di masjid, aku datang dan mengambilnya dan memberikannya kembali kepada ayahku, dia berkata, “Demi Allah, apakah yang engkau inginkan”.

Ia mengadukanku kepada Rasulullah, beliau berkata, “Engkau memperoleh apa yang engkau niatkan wahai Yazid, dan engkau mendapatkan apa yang telah engkau ambil wahai Ma’n.”

Sang ayah tidak berniat memberikan harta yang telah dia keluarkan itu untuk anaknya, akan tetapi Allah SWT membalasnya dengan niatnya yang benar, dia mendapatkan balasan meskipun hartanya kembali.

8. Niat dapat mengubah yang buruk menjadi baik

Rasulullah SAW berkata, bahwa seseorang berkata, “Aku akan bersedekah malam ini, dia pun keluar dan memberikan sedekah ke tangan pezina. Orang banyak berkata, ‘Malam ini dia bersedekah untuk seorang wanita pezina.’ Dia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagimu atas pezina ini.’

Kemudian dia berkata lagi akan bersedekah malam ini. Ia memberikan sedekah pada orang kaya. Mereka berkata, ‘Dia telah bersedekah kepada orang kaya.’ Dia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagimu atas orang kaya.

Selanjutnya ia berkata ‘Aku akan bersedekah.’ Dia keluar untuk bersedekah, dia bersedekah kepada seorang pencuri, dia berkata, ‘Ya Allah, segala puji bagimu, atas pezina, orang kaya dan pencuri.’

Ada yang berkata kepadanya, “Pezina itu, semoga dia menjaga dirinya dari perbuatan zina dengan sedekah itu, semoga orang kaya itu mengambil pelajaran darinya hingga dia mau menginfakkan harta yang telah diberikan Allah SWT kepadanya, dan semoga pencuri itu berhenti mencuri.”

9. Niat seperti ruh dalam jasad

Ibadah mendekatkan diri kepada Allah SWT yang dilakukan seseorang tidak akan diterima kecuali dengan dua perkara. Pertama, ada niat yang tulus dan benar. Kedua, perbuatan yang dilakukan tersebut sesuai menurut syariat.

Dalam masalah ini Ibnu Mas’ud berkata, “Ucapan tidak memberikan manfaat kecuali dengan amal, ucapan dan perbuatan tidak bermanfaat kecuali dengan niat, ucapan, perbuatan dan niat tidak bermanfaat kecuali sesuai dengan sunnah.”

Setiap ibadah yang kosong dari niat maka tidak bernilai sama sekali, sama halnya seperti jasad tanpa ruh.

10. Niat adalah amalan yang paling afdhal

Niat itu merupakan amal yang paling afdhal, dalam sebuah hadits disebutkan, “Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya dan perbuatan orang munafik lebih baik daripada niatnya, semua manusia berbuat berdasar niatnya.”

Dalam hadits yang lain disebutkan, “Niat seorang mukmin itu lebih sampai daripada amalnya.”

Itulah beberapa hadits yang menjelaskan tentang niat. Semoga dengan penjelasan ini bisa membuat kita menjadi seorang muslim yang senantiasa istiqomah dan memiliki niat baik dalam segala amal perbuatan.

(dvs/erd)



Sumber : www.detik.com

Doa Malam Isra Miraj: Arab, Latin dan Artinya


Jakarta

Ada doa yang bisa dibaca saat malam Isra Miraj. Doa ini menjadi salah satu amalan yang bisa dikerjakan untuk memperingati peristiwa perjalanan agung yang dilakukan Rasulullah SAW.

Peristiwa Isra Miraj telah dijelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadits. Isra Miraj merupakan perjalanan menuju langit ketujuh yang dilakukan Rasulullah SAW atas kuasa Allah SWT.

Syofyan Hadi dalam bukunya yang berjudul Kisah Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW menjelaskan kisah perjalanan Isra Miraj telah dipaparkan Allah SWT pada beberapa ayat di dalam Al-Qur’an.


Dalam surah Al Isra ayat 1, Allah SWT berfirman,

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Perjalanan Isra Miraj menjadi salah satu peristiwa yang sangat penting bagi umat Islam karena mulai dari sinilah perintah salat lima waktu menjadi kewajiban bagi seorang muslim.

Doa Malam Isra Miraj

Banyak amalan yang bisa dilakukan untuk mengenang sekaligus memperingati hari Isra Miraj, salah satunya dengan mengamalkan doa. Doa ini dipanjatkan semata-mata untuk mengharapkan rida Allah SWT dan memohon perlindungan selama hidup di dunia dan kelak ketika di akhirat.

Syekh Abdurrahman bin Abdussalam as-Syafi’i dalam salah satu kitabnya, Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafaiz, menjelaskan doa yang bisa dipanjatkan saat malam Isra Miraj. Ia menjelaskan bahwa siapa saja yang membacanya pada tanggal 27 Rajab, kemudian menyebutkan hajatnya kepada Allah SWT, maka akan dikabulkan segala hajatnya, melapangkan urusannya, dan menghidupkan hatinya ketika hati-hati manusia sudah mulai mati.

Berikut bacaan doa malam Isra Miraj:

اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّيْنَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ أَنْ تَرْحَمَ قَلْبِيَ الْحَزِيْنَ وَتُجِيْبَ دَعْوَتِيْ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ

Arab Latin: Allāhumma innī as’aluka bi musyāhadati asrāril muhibbīn, wa bil khalwatil latī khashshashta bihā sayyidal mursalīn hīna asraita bihī lailatas sābi’i wal ‘isyrīn an tarhama qalbiyal hazīna wa tujība da’watī yā akramal akramīn.

Artinya, “Ya Allah, dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia orang-orang pecinta, dan dengan kemuliaan khalwat (menyendiri) yang hanya Engkau khususkan kepada pimpinan para rasul, ketika Engkau memperjalankannya pada malam 27 Rajab, sungguh aku memohon kepada-Mu agar Kau merahmati hatiku yang sedih dan Kau mengabulkan doa-doaku, wahai Yang Maha Memiliki kedermawanan.”

Keutamaan Berdoa Malam Hari

Berdoa menjadi amalan yang bisa dikerjakan kapan pun. Allah SWT bahkan menjanjikan akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang memohon kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.

Sebagaimana termaktub dalam surah Al-Mu’min ayat 60,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

Merangkum buku Ramadhan Menyapa Penduduk Bumi, Menaiki Tangga Langit yang ditulis Mustopa, dijelaskan beberapa hadits yang menjelaskan keutamaan beribadah dan berdoa di malam hari.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Dari Aisyah RA bahwasanya Rasulullah SAW melakukan qiyamul lail hingga kedua telapak kaki beliau bengkak. Aisyah RA berkata kepada Beliau, ‘Mengapa engkau melakukannya hingga seperti ini? Padahal, Allah telah mengampuni dosa engkau yang telah lalu dan yang akan datang?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Apakah aku tidak pantas menjadi hamba yang bersyukur?'” (Muttafaqun Alaih)

Berdoa di malam hari juga menjadi tanda bahwa seorang muslim memiliki kesabaran dan rasa syukur yang luas. Hal ini bersandar pada hadits yang berasal dari Abi Yahya, Shuhaib bin Sinan RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

“Sungguh mempesona urusan orang yang beriman. Karena semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kebaikan, dia akan bersyukur, (karena) hal itu adalah yang terbaik baginya. Jika ia mendapatkan kesulitan, maka dia bersabar, (karena) dia tahu bahwa hal itu adalah yang terbaik baginya.” (HR Muslim)

Amalan saat Isra Miraj

Selain berdoa, seorang muslim juga bisa melakukan amalan lainnya saat memperingati Isra Miraj. Berikut amalan saat Isra Miraj:

1. Dzikir Isra dan Miraj

Dalam perjalanan Isra Miraj, Rasulullah SAW pernah bertemu Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh yang kemudian mengajarkan kalimat dzikir.

Nabi Ibrahim AS bertanya pada malaikat Jibril, “Siapa yang bersamamu wahai Jibril?” Kemudian Malaikat Jibril menjawab, “Muhammad.”

Nabi Ibrahim AS lantas mengajarkan pada Rasulullah SAW, “Perintahkanlah pada umatmu untuk membiasakan memperbanyak (bacaan dzikir) yang nantinya akan menjadi tanaman surga, tanahnya begitu subur, juga lahannya begitu luas.”

Rasulullah bertanya, “Apa itu ghirosul jannah (tanaman surga)?” Ia menjawab, “Laa hawla wa laa quwwata illa billah.” Kalimat dzikir ini artinya, “Tidak ada daya dalam menjauhi maksiat dan tidak ada upaya menjalankan ketaatan melainkan dengan pertolongan Allah.” (HR Ahmad)

2. Sedekah saat Isra Miraj

Amalan lain yang bisa dilakukan umat Islam adalah bersedekah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melonggarkan satu beban kehidupan sesama saudara muslim di bulan Rajab, Allah akan membangunkan istana untuknya di surga Firdaus yang luasnya sejauh pandangan matanya. Karena itu, muliakanlah bulan Rajab, pasti Allah akan memuliakanmu dengan seribu kemuliaan.”

(dvs/kri)



Sumber : www.detik.com