Tag: sahabat nabi

  • Julaibib RA, Sahabat Nabi yang Buruk Rupa tapi Dirindukan Bidadari Surga



    Jakarta

    Sahabat nabi yang buruk rupa tapi dirindukan bidadari surga bernama Julaibib RA. Apa yang sudah ia lakukan hingga mendapat nikmat seperti ini?

    Dikisahkan dalam buku Cahaya Abadi Muhammad SAW 2 karya M. Fethullah Gulen, dahulu terdapat seorang sahabat Rasulullah SAW yang gemar menghampiri para gadis dan menggoda mereka.

    Sebagaimana remaja pada umumnya, pemuda ini sering mendatangi kaum wanita untuk sekedar lewat atau bahkan membercandainya.


    Bahkan sahabat Rasulullah SAW lainnya, yakni Abu Barzah Al-Aslami RA berkata kepada istrinya untuk jangan sampai Julaibib RA datang menemuinya, kecuali ia ingin suatu hal buruk terjadi.

    Hingga suatu saat Nabi Muhammad SAW pun mengetahui permasalahan ini. Akhirnya beliau memanggil Julaibib RA ke hadapannya. Beliau menjelaskan tentang perbuatannya itu sebenarnya dilarang dalam agama hingga akhirnya Julaibib RA bertekad untuk menjauhi segala bentuk perzinaan.

    Pendiriannya ini terus Julaibib RA pegang sampai masa di mana ia harus menikah. Saat itu, ia bingung untuk mencari pendamping hidup, sebab ia menyadari wajahnya yang buruk rupa dan hartanya yang tidak banyak.

    Kisah Julaibib Dirindukan Bidadari Surga

    Muhammaf Nasrulloh dalam buku Kisah-Kisah Inspiratif Sahabat Nabi mengisahkan bahwa saat Julaibib RA tidak segera menikah, Rasulullah SAW menghampirinya dan bertanya kepadanya, “Wahai Julaibib, kenapa kamu tidak menikah?”

    Tentu saja Julaibib RA ingin menikah. Namun, ia menyadari bahwa ia adalah pemuda yang buruk rupa, tidak bernasab baik, dan sedikit hartanya. Sehingga ia tidak tahu bagaimana cara untuk mendapat istri.

    Julaibib RA kemudian menjawab, “Siapa perempuan yang mau menikah denganku wahai Rasul?”

    Rasulullah SAW berkata, “Aku yang akan mencarikannya untukmu.”

    “Kalau begitu engkau akan tahu bahwa aku tidak akan laku,” ujar Julaibib RA.

    Mendengar hal ini, Rasulullah SAW membesarkan hatinya dengan berkata, “Namun engkau sangat berharga di mata Allah SWT.”

    Dengan kedermawanan Rasulullah SAW, akhirnya Julaibib RA dipertemukan dengan seorang gadis Anshar yang salihah dan baik akhlaknya.

    Awalnya keluarga gadis tersebut sangat senang mendengar permintaan dari Rasulullah SAW ini. Tanpa ragu-ragu mereka pasti akan menerima tawaran pernikahan beliau itu.

    Namun, ketika Rasulullah SAW mengatakan bahwa yang akan menikah dengan putri mereka adalah Julaibib RA, ibu gadis itu menolaknya. Dirinya tidak rela jika putrinya harus menikah dengan Julaibib RA.

    Sebelum penolakan itu sampai ke telinga Rasulullah SAW, wanita salihah dan berakhlak baik itu menerima dengan ikhlas segala kekurangan Julaibib RA karena perintah Nabi Muhammad SAW pasti adalah kebaikan.

    Akhirnya, kedua orang tua sang gadis setuju dan menikahkan putrinya dengan Julaibib RA. Dalam buku Mendidik Anak Perempuan karya Abdul Mun’im Ibrahim dikatakan, orang tua gadis itu berkata, “Kami serahkan urusan gadis kami ini kepadamu, wahai Rasulullah.” Artinya, mereka mempercayai Rasulullah SAW atas kebaikan putri yang mereka cintai.

    Tak lama setelah pernikahan Sang Buruk Rupa dengan gadis salihah itu, Rasulullah SAW memerintahkan sahabat dan mujahidin untuk pergi berperang melawan musuh Islam. Julaibib RA pun ikut serta dalam jihad ini.

    Peperangan akhirnya dimenangkan oleh kaum muslimin. Begitu perang usai, Rasulullah SAW merasa kehilangan seseorang dari kalangan sahabatnya. Beliau lalu bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang terbunuh?”

    Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan.”

    Rasulullah SAW bertanya lagi, “Apakah di antara kalian ada yang terbunuh?”

    Mereka menjawab lagi, “Tidak ada lagi wahai Rasulullah.”

    Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Akan tetapi sepertinya aku kehilangan Julaibib.”

    Rasulullah SAW memerintahkan sahabat untuk mencari Julaibib RA. Mereka pun menemukannya tergeletak di antara tujuh orang musuh yang berhasil Julaibib RA bunuh sebelum mereka membunuhnya.

    Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Julaibib telah berhasil membunuh tujuh orang musuh, sebelum akhirnya mereka berhasil membunuhnya, ia adalah bagian dariku dan diriku adalah bagian darinya.” Beliau mengulang ucapan ini sebanyak tiga kali.

    Julaibib RA pun berakhir meninggal sebagai syuhada. Sehingga mayatnya tidak dimandikan namun langsung dikuburkan. Sebab, sudah ada bidadari surga yang menunggu di sana untuk memandikannya.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abdurrahman bin Auf Merangkak Masuk Surga karena Kekayaannya


    Jakarta

    Abdurrahman bin Auf RA merupakan seorang sahabat Rasulullah SAW yang sangat kaya. Ia juga gemar mengeluarkan hartanya untuk Allah SWT, agama, dan muslimin.

    Disebutkan dalam buku Akidah Akhlak karya Aminudin dan Harjan Syuhada, Abdurrahman bin Auf RA lahir di Makkah 10 tahun setelah tahun Gajah. Ayahnya merupakan seorang petinggi tokoh bani Zuhrah yang bernama Auf bin Abdu Auf bin Abdu bin Al-Harits Az-Zuhri.

    Ia termasuk dalam salah satu sahabat Rasulullah SAW yang pertama kali masuk Islam. Sebelum menjadi seorang muslim, ia bernama Abdu Amru. Barulah kemudian ia mengganti namanya menjadi Aburrahman bin Auf.


    Di kalangan masyarakat, terutama kaum muslimin, ia terkenal sebagai sosok yang kaya raya dengan usahanya yang sukses. Namun demikian, ia tidak pernah berlaku sombong dan bahkan selalu menggelontorkan hartanya untuk di jalan Allah SWT.

    Berkat kekayaannya, Rasulullah SAW bahkan pernah berkata kepada Abdurrahman bin Auf RA bahwa ia akan memasuki surga dengan merangkak. Lantas, bagaimanakah kisah sahabat nabi tersebut?

    Kisah Abdurrahman bin Auf Masuk Surga

    Sebagaimana dikisahkan dalam buku Biografi 60 Sahabat Nabi SAW yang ditulis oleh Khalid Muhammad Khalid, Ummul Mukminin, Aisyah RA pernah berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Aku melihat Abdurrahman bin Auf RA masuk surga dengan merangkak.”

    Mengapa Rasulullah SAW berkata demikian? Sebab Abdurrahman bin Auf RA memiliki harta kekayaan yang amat banyak dan melimpah. Bahkan, ia sendiri merasa heran dengan dirinya sendiri. Sehingga ia berkata, “Sungguh, aku melihat diriku ini seandainya mengangkat batu niscaya kutemukan emas dan perak di bawahnya.”

    Kekayaan yang dimiliki Abdurrahman bin Auf RA diambil dari hal-hal yang baik saja dan tidak berasal dari perdagangan yang tercela. Ia bahkan tidak memiliki ambisi untuk menjadi kaya. Melainkan, ini takdir dari Allah SWT yang membuatnya demikian.

    Salah satu faktor suksesnya perdagangan yang Abdurrahman bin Auf RA lakukan adalah cara dirinya dalam mengelola usahanya dan tujuan dia menghabiskan harta tersebut.

    Ia hanya melakukan perdagangan dengan cara yang halal dan benar-benar menjauhkan diri dari segala bentuk jual beli yang haram, dan bahkan yang syubhat. Sedangkan hartanya ia habiskan hanya untuk berniaga dengan Allah SWT, atau digunakan untuk berjihad.

    Sebagai seorang saudagar sukses, Abdurrahman bin Auf RA selalu rajin mengeluarkan hartanya di jalan Allah SWT tanpa tanggung-tanggung. Ia benar-benar mengamalkan nasihat Rasulullah SAW kepadanya,

    “Wahai Ibnu Auf, engkau termasuk golongan orang kaya dan engkau akan masuk surga dengan merangkak. Karena itu, pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, agar Dia mempermudah langkahmu.”

    Dengan adanya nasihat dari Rasulullah SAW ini, Abdurrahman bin Auf RA yang semula sudah gemar bersedekah, menjadi lebih giat dalam menggelontorkan hartanya untuk agama.

    Ia pernah menjual tanah seharga 40.000 dinar, kemudian semua uang itu ia bagi-bagikan kepada keluarganya bani Zuhrah istri-istri nabi dan untuk muslimin yang miskin.

    Abdurrahman bin Auf RA juga pernah menyerahkan 500 ekor kuda untuk perlengkapan tentara Islam, sedangkan di hari yang lain ia menyerahkan 1.500 unta untuk mujahidin.

    Menjelang wafat, Abdurrahman bin Auf RA mewasiatkan 50.000 dinar untuk diinfakkan di jalan Allah SWT dan uang sebanyak 400 dinar bagi setiap orang yang ikut Perang Badar yang masih hidup. Bahkan, Utsman bin Affan RA yang saat itu juga merupakan orang kaya, mendapat jatah darinya ini.

    Utsman RA berkata, “Harta Abdurrahman bin Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa keselamatan dan keberkahan.”

    Ada pula yang mengatakan, “Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya kepada mereka, sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar utang-utang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikannya kepada mereka.”

    Inilah hal yang akan terjadi jika harta berada di tangan yang tepat, yakni kesejahteraan dan kemakmuran akan selalu terjaga di sekeliling orang itu. Inilah bukti bahwa Abdurrahman bin Auf RA merupakan orang yang bisa mengendalikan hartanya, bukan dikendalikan oleh hartanya.

    Ia tidak ingin mengumpulkannya dan tidak pula menyimpannya. Bahkan jika ia mengumpulkannya, ia akan melakukan hal ini dengan tetap merendahkan hati dan dari jalan yang halal.

    Abdurrahman bin Auf RA tidak pernah menikmati hartanya sendirian, namun ia gunakan kekayaan itu untuk keluarga, kerabat, teman, rasulnya, agama, dan Allah SWT.

    Kisah tentang Abdurrahman bin Auf RA yang masuk surga dengan merangkak karena banyaknya harta yang ia miliki ini bersumber dari hadits yang lemah.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sahabat Nabi yang Sempat Enggan Menikah dan Ditentang Sang Rasul



    Jakarta

    Menikah termasuk sunnah para nabi dan rasul. Dalam Islam, pernikahan harus mengikuti sejumlah ketentuan sesuai syariat agar sah.

    Terkait pernikahan juga disebut dalam surah Ar Rum ayat 21,

    وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ


    Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

    Meski demikian, ternyata ada sosok sahabat Rasulullah SAW yang sempat berniat untuk tidak menikah. Mengutip buku Ta’aruf Billah Nikah Fillah susunan Zaha Sasmita, pria itu bernama Ukaf bin Wida’ah.

    Kala itu, Ukaf enggan menikah dan ingin fokus beribadah kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW menentang niatan Ukaf, menurutnya menikah adalah salah satu jalan terbaik dan terhormat untuk mencapai ridha Allah SWT.

    Masih dari sumber yang sama, Ukaf adalah sosok pemuda yang kehidupannya sudah mapan. Mendengar niat Ukaf yang tidak ingin menikah, Nabi SAW lalu mendatangi sang sahabat dan menasehatinya agar menikah.

    Sang rasul menilai tidak baik seorang muslim membujang jika sudah berkecukupan. Akhirnya, Ukaf menuruti perkataan Rasulullah SAW.

    Walau demikian, Ukaf tidak berani mencari calon istrinya sendiri. Akhirnya, ia meminta pertolongan Nabi SAW untuk mencarikan wanita dengan kriteria yang berpatokan pada pandangan Nabi Muhammad SAW.

    Dalam hadits dari Anas bin Malik RA juga disebutkan terkait pentingnya menikah. Bahkan, perkara ini menjadi wajib bagi muslim yang sudah mampu.

    “Terdapat beberapa sahabat Rasulullah SAW yang menanyakan kepada istri-istri Nabi Muhammad SAW perihal ibadah beliau di rumah. Lalu sebagian mereka berkata, ‘Saya tidak akan menikah, sebagian lagi berkata, ‘Saya tidak akan makan daging,’ sebagian yang lain berkata, ‘Saya tidak akan tidur di atas kasur (tempat tidurku), dan sebagian yang lain berkata, ‘Saya akan terus berpuasa dan tidak berbuka.’ Abu Daud (perawi dan pentakhrij hadits) berkata, ‘Berita ini sampai kepada Nabi SAW, hingga beliau berdiri untuk berkhotbah seraya bersabda setelah memanjatkan puja-puji syukur kepada Allah SWT, “Bagaimanakah keadaan suatu kaum yang mengatakan demikian dan demikian? Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku salat dan tidur, dan aku juga menikahi perempuan. Maka barangsiapa yang membenci sunnah (tuntunan)-ku maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR Abu Daud)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Keislaman Abu Dzar yang Berhasil Bawa Kaum Ghifar Jadi Muslim


    Jakarta

    Abu Dzar RA adalah sahabat Rasulullah SAW yang termasuk golongan pertama memeluk Islam sebagaimana dijelaskan dalam sebuah riwayat. Ia sosok yang meyakini bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT.

    Imam Al Baihaqi meriwayatkan dari Imam Al Hakim dengan sanadnya dari Abu Dzar RA, berkata, “Aku adalah orang keempat yang masuk Islam. Sebelumku telah masuk Islam tiga orang, dan aku yang keempat. Aku mendatangi Rasulullah SAW seraya mengucapkan Assalamu’alaika wahai Rasulullah. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Pada waktu itu aku menyaksikan keceriaan pada raut muka Rasulullah SAW.”

    Kisah masuk Islam Abu Dzar RA dijelaskan secara detail dalam Shahih Sirah Nabawiyah karya Ibnu Katsir yang diterjemahkan oleh M. Nashiruddin Al Albani. Abu Dzar RA adalah seorang dari kalangan kaum Ghifar yang dikenal sebagai orang-orang yang gemar merampok.


    Suatu hari, Rasulullah SAW mengirimkan utusan untuk menemui Abu Dzar RA dengan tujuan mengajak ia memeluk Islam. Namun, ia tak langsung berangkat ke Makkah melainkan mengutus saudaranya mencari informasi tentang Rasulullah SAW.

    Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas RA berkata, “Ketika utusan Rasulullah SAW tiba pada Abu Dzar, dia berkata pada saudaranya, ‘Pergilah ke arah lembah ini, dan mintalah keterangan dari orang yang menganggap dirinya sebagai seorang nabi yang diberikan wahyu dari langit. Dengarkanlah dari ucapannya, kemudian datanglah padaku.’ Lalu saudaranya berangkat hingga ia menemui dan mendengarkan ucapan Rasulullah SAW. Kemudian ia kembali ke Abu Dzar dan berkata padanya, ‘Aku melihat nabi mengajarkan akhlak mulia dan memberikan kalimat yang bukan dari syair.’

    Abu Dzar RA ternyata tidak puas dengan laporan ini dari saudaranya, ia penasaran dan berangkat sendiri ke Makkah.

    Abu Dzar RA berkata, ‘Apa yang kamu berikan tidak membuatku puas.’

    Lalu dia menyiapkan perbekalan dan menuangkan air pada bejana minumnya dan pergi ke Makkah.”

    Abu Dzar Mencari Keberadaan Rasulullah SAW

    Setibanya di Makkah, Abu Dzar RA mendatangi masjid untuk mencari Rasulullah SAW. Padahal saat itu dia tidak mengenalnya dan enggan menanyakannya.

    Hingga pada suatu malam Ali bin Abi Thalib RA melihatnya dan tahu bahwa dia itu orang asing. Lalu Ali RA mengikutinya, keduanya tidak saling berbicara. Hal ini terjadi selama tiga hari berturut-turut. Abu Dzar RA belum juga menemukan keberadaan Rasulullah SAW.

    Di hari ketiga, Ali bin Abi Thalib RA bertanya, “Tidakkah engkau ceritakan padaku apa yang mendorong kedatanganmu?”

    Abu Dzar RA berkata, “Jika kamu memberiku janji untuk membantuku, maka aku akan melakukannya.” Lalu ia melakukannya dan menceritakan maksud kedatangannya kepada Ali.

    Ali RA berkata, “Sesungguhnya Rasulullah itu benar, dan ia itu utusan Allah. Besok ikutilah aku, walaupun aku takut sesuatu akan menimpamu.”

    Abu Dzar RA berkata, “Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku ingin berteriak di tengah-tengah mereka.”

    Kemudian ia keluar lalu mendatangi masjid, dan menyeru dengan suara yang nyaring, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Kemudian kaumnya bangkit karena marah dan memukuli hingga dia terkapar.

    Abu Dzar RA mendapatkan siksaan dari para penduduk kaum kafir Quraisy. Meskipun demikian, Abu Dzar RA terus mengulangi perbuatannya, hingga penduduk Makkah akhirnya berhenti menyiksa karena mengetahui bahwa Abu Dzar RA keturunan dari suku Ghifar.

    Dengan tubuh yang berlumuran darah, Abu Dzar RA mendatangi sumur zamzam untuk meminum airnya dan membersihkan darah yang melekat pada tubuhku. Kemudian memasuki Ka’bah.

    Abu Dzar RA tinggal di Makkah tanpa perbekalan apa pun. Ia setiap hari hanya mengonsumsi air zamzam. Meskipun demikian, ia tidak merasakan lemah ataupun kelaparan.

    Pertemuan Abu Dzar dengan Rasulullah SAW

    Selama 30 hari Abu Dzar RA bertahan di Makkah demi menunggu Rasulullah SAW. Sampai pada akhirnya, Rasulullah SAW bersama Abu Bakar RA mendatangi Ka’bah untuk thawaf dan salat.

    Abu Dzar RA berkata, “Lalu aku mendatanginya. Aku merupakan orang yang pertama memberikan penghormatan dengan penghormatan ahli Islam. Rasulullah SAW menjawab, “Alaikassalam wa rahmatullah. Siapa kamu?”

    Aku menjawab, “Aku berasal dari Ghifar.”

    Rasulullah SAW berkata, “Kapan kamu berada di sini?”

    Abu Dzar RA menjawab, “Aku berada disini sejak tiga puluh hari yang lalu.

    Rasulullah SAW bertanya, “Siapa yang memberimu makan?”

    Abu Dzar RA menjawab, “Aku tidak mempunyai sesuatu pun selain air zamzam. Namun, aku tetap gemuk hingga perutku membesar, dan tidak merasakan letih dan lemah akibat lapar.”

    Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya itu merupakan berkah, dan itu adalah makanan yang paling berharga.”

    Setelah pertemuan tersebut, Abu Dzar RA disambut dan diterima dengan baik. Abu Bakar berkata, “Izinkanlah aku wahai Rasulullah untuk menanggung makan malamnya.”

    Abu Bakar RA membuka pintu dan memetik buah kismis sebagai suguhan bagi Rasulullah dan Abu Dzar RA.

    Abu Dzar RA berkata, “Sesungguhnya ini makanan yang paling pertama aku makan.”

    Setelah memeluk Islam, Abu Dzar RA kembali ke kaumnya di Madinah. Ia kemudian mengajak ibu dan saudaranya memeluk Islam. Hingga akhirnya hampir seluruh kaum Ghifar menjadi muslim, bahkan sebelum kedatangan Rasulullah SAW di Madinah.

    Wallahu a’lam.

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Sahabat Nabi yang Dikenal Pemalu, Siapakah Dia?



    Jakarta

    Sosok sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal pemalu adalah Utsman bin Affan. Meski begitu, Utsman memiliki pribadi yang cerdas dan dermawan.

    Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya yang berjudul Biografi Utsman bin Affan menjelaskan silsilah Utsman bin Affan. Namanya adalah Utsman bin Afan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Abdi Manaf.

    Sementara itu, ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabiah bin Habib bin Abd Syams bin Abdi Manaf bin Qushay. Nama ibu Arwa (nenek Utsman bin Affan dari jalur ibu) adalah Ummu Hukaim Al-Baidha’ binti Abdul Muththalib, saudara perempuan sekandung Abdullah bin Abdul Muththalib, ayah Rasulullah.


    Ada yang mengatakan bahwa Ummu Hukaim dan Abdullah adalah dua anak kembar Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, seperti dikisahkan oleh Az-Zubair bin Bikar.

    Mengutip buku Kisah Seru Para Sahabat Nabi susunan Lisdy Rahayu, sifat Utsman yang pemalu ini menyebabkan orang-orang sekitarnya juga menjadi malu kepadanya. Suatu ketika, Rasulullah SAW kedatangan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

    Sang nabi lantas mempersilahkan mereka untuk masuk. Namun ketika Utsman bin Affan datang, ia langsung membenarkan dulu letak jubahnya karena malu kepada Utsman.

    Nabi SAW bersabda dalam haditsnya, “Bagaimana aku tidak merasa malu kepada orang yang malaikat saja malu kepada dia.” (HR Muslim)

    Diterangkan dalam buku Kisah Hidup Utsman ibn Affan oleh Mustafa Murrad, di kalangan sahabat Rasulullah, Utsman bin Affan termasuk orang yang paling banyak tahu tentang Al-Qur’an dan hadits. Utsman juga termasuk salah satu penghafal Al-Qur’an.

    Ia selalu mengikuti petunjuk Nabi, Abu Bakar, dan Umar RA yakni para sahabat sekaligus Khalifah sebelum dirinya, ketika hendak mengambil keputusan. Utsman bin Affan yang memiliki gelar Dzunnurain (Pemilik Dua Cahaya) selalu mendampingi Nabi sehingga ia mendapatkan banyak ilmu dan petunjuk dari beliau.

    Selain dikenal sebagai sahabat nabi, Utsman bin Affan juga seorang Khalifah ketiga menggantikan Umar bin Khattab pada tahun 644 Masehi. Ia menjalankan kenegaraan dengan penuh kesederhanaan.

    Pada masa kepemimpinannya, kaum muslimin banyak menaklukkan negeri-negeri, seperti pula Cyprus, negara Khurasan, Armenia, dan negeri Maroko. Selain itu, penulisan kembali ayat-ayat Al-Qur’an juga terjadi pada masa kekhalifahan Utsman.

    Saat itu, Utsman membuat ayat-ayat Al-Qur’an menjadi satu mushaf. Karenanya, sampai saat ini mushaf yang terkenal dan banyak digunakan adalah mushaf Utsmani.

    Utsman bin Affan wafat pada 12 Zulhijjah tahun 35 Hijriah. Ia meninggal di usia ke-81 dan dimakamkan di bukit sebelah timur pemakaman Al-Baqi.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kenapa Malaikat Malu kepada Utsman bin Affan?



    Jakarta

    Khulafaur Rasyidin adalah julukan kepada empat sahabat yaitu Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Namun diantara para sahabat Rasulullah SAW, ada salah satu sahabat membuat malaikat menjadi malu. Kenapa malaikat malu kepada Utsman bin Affan?

    Riwayat dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :

    “Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam agama Allah adalah Umar, yang paling jujur dan malu adalah Utsman, yang paling tahu halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal, yang paling ahli qira’ah adalah Ubay, dan yang paling mengetahui faraidh (ilmu tentang warisan) adalah Zaid bin Tsabit. Tiap-tiap umat ada orang yang terpercayanya dan orang yang terpercaya umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarah.”


    Dari buku Rasulullah SAW: The Untold Story karya Ali Abdullah, Utsman adalah sahabat pilihan Rasulullah SAW, diantara para sahabat yang dijamin masuk Surga, maka Utsman adalah salah satunya.

    Suatu kisah Abu Bakar As-Siddiq datang ke rumah Rasulullah SAW, beliau bersikap biasa saja. Umar bin Khattab pun datang kepada Rasulullah SAW, tetapi beliau juga tetap bersikap biasa saja.

    Ketika Utsman bin Affan datang, Rasulullah SAW tampak memberikan perhatian khusus. Beliau duduk dan membenarkan pakaian yang beliau kenakan.

    Kisah ini pernah diriwayatkan oleh Aisyah RA:

    عَنْ عَائِشَة قالت: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُصْطَجعًا فِي بَيْتِي، كَاشِفَا عَنْ فَخِذَيْهِ، أَوْ سَاقَيْهِ، فَاسْتَأذِنَ أَبُو بَكْرٍ فَأذِنَ لَهُ، وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الحال، فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ، فَأَذِنَ لَهُ، وَهُوَ كَذلِكَ، فَتَحَدَّثَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ، فَجَلَسَ رَسُولُ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَسَوَّى ثِيَابَهُ – قَالَ مُحَمَّدٌ: ولا أقولُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ، فَلَمَّا خَرَجَ قالتْ عَائِشَة دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَلَمْ تَهْتَشَ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ ثِيَابَكَ فَقَالَ : أَلا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ.

    Artinya: “Dari Aisyah, dia berkata, “Suatu ketika Rasulullah SAW., berbaring di rumahku dalam keadaan tersingkap dua paha atau dua betis beliau. Kemudian Abu Bakar meminta izin menemui beliau. Beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau masih dalam keadaan sebagaimana adanya. Lalu Abu Bakar bercakap- cakap dengan beliau. Kemudian Umar datang meminta izin untuk masuk. Beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau tetap demikian keadaannya. Mereka pun berbincang-bincang. Kemudian Utsman datang minta izin untuk menemui beliau. Beliau langsung duduk dan membenahi pakaian beliau. Utsman pun masuk dan berbincang-bincang. Ketika Utsman pulang, Aisyah berkata, ‘Abu Bakar masuk menemui engkau, tapi engkau tidak bersiap menyambut dan tidak mempedulikannya. Begitu pula ketika Umar masuk menemui engkau. Engkau juga tidak bersiap menyambut dan tidak mempedulikannya. Ketika Utsman masuk, engkau segera duduk dan membenahi pakaian engkau.’ Rasulullah saw., menjawab, “Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang malaikat pun merasa malu kepadanya?” (HR. Muslim).

    Kenapa malaikat malu kepada Utsman bin Affan?

    Dari buku The Great Figure of Utsman bin Affan Kisah Teladan Sang Ahli Sedekah yang Menjalani Sifat Zuhud karya A.R. Shohibul Ulum dijelaskan Nabi Muhammad SAW menghormati Utsman bin Affan bukan karena usia, sebab Utsman lebih mudah dari Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW menghormati Utsman karena kemuliaan akhlak Utsman yang berada di atas rata-rata manusia umumnya.

    Rasa malu Utsman juga bukan malu yang dibuat-buat atau hanya menjaga image saja. Akan tetapi sifat malunya sudah mendarah daging bersatu dengan jiwanya.

    Rasa malunya membuat dia takut berbicara, segan berdialog, dan berdebat lama-lama. Tetapi Utsman tetaplah orang yang gigih dan tidak mudah menyerah. Sehingga rasa malunya inilah yang memberikan kebaikan, keberkahan, kelembutan, dan kasih sayang.

    Dan sungguh, “Malu kepada Allah, yaitu dengan menjaga apa yang di kepala, menjaga apa isi perut, dan selalu ingat dengan kematian serta meninggalkan gemerlapnya dunia,” tutur Ibnu Mas’ud ketika menjelaskan makna malu yang hakiki.

    Selain itu, Al-Junaid rahimahullah berkata, “Rasa malu yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Hakikat malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.”

    Karena rasa malu Utsman bin Affan yang begitu dalam, dan juga telah menjaga dirinya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang merupakan aurat bisa dilihat orang lain, maka malaikat pun malu kepadanya.

    Demikianlah kisah luar biasa dari Utsman bin Affan yang dapat membuat para malaikat merasa malu terhadapnya. Karena rasa malu membuatnya terhindar dari keburukan.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Bilal bin Rabah, Seorang Budak yang Dijamin Masuk Surga


    Jakarta

    Bicara mengenai sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang senantiasa menemani beliau memperjuangkan dakwah Islam, terdapat salah satu kisah sahabat nabi yang amat menginspirasi. Inilah kisah Bilal bin Rabah, budak jadi ahli Surga.

    Dari buku Bilal bin Rabah karya Abdul Latip Talib menceritakan kisah perjalanan hidup sahabat Rasulullah yakni Bilal bin Rabah.

    Bilal Bin Rabah lahir di daerah as-Sarah terletak di pinggiran kota Makkah, mempunyai ayah bernama Rabah, dan ibunya bernama Hamamah, seorang wanita berkulit hitam. Oleh karena itu, ada yang memanggil Bilal bin Rabah dengan sebutan Ibnus-Sauda’, atau putra warna hitam.


    Kemudian beranjak dewasa, Bilal dibesarkan di Makkah sebagai seorang hamba milik keluarga Bani Abdul Dar, lalu sesudah ayahnya meninggal dunia, Bilal diserahkan kepada Umayyah bin Khalaf, tokoh penting kaum Quraisy.

    Bilal termasuk kalangan yang awal memeluk Islam, Umayah pun tahu karena hal itu dia menyiksa Bilal tanpa belas kasihan.

    Bilal bin Rabah disiksa Umayah tanpa henti, pertama dia dipukul, sampai diarak keliling kota Makkah. Karena Bilal masih bertahan, dia dijemur di atas pasir terik panas matahari, tanpa makan dan minum.

    Ketika mataahari tepat di atas kepala dan padang pasir menjadi panas sekali, Bilal dipakaikan baju besi, dan dibiarkan berjemur di bawah terik cahaya matahari, dadanya pun ditimpa batu. Dalam keadaan kepayahan itu, iman Islam Bilal bin Rabah tidak goyah sedikitpun.

    Umayah memaksa Bilal menyebut al-Latta dan al-Uzza, tetapi mulut Bilal tetap saja menyebut, “Allah… Allah… Allah.”

    Berita mengenai siksaan Bilal akhirnya sampai dimulut Abu Bakar As-Sidiq, lalu beliau membeli Bilal dan memerdekannya dari Umayah dengan harga sembilan uqiyah emas.

    Bagi Umayah jika Abu Bakar membeli Bilal dengan harga 1 uqiyah emas pun akan diberikan, namun bagi Abu Bakar andai Umayah memasang harga 100 uqiyah emas, Abu Bakar akan tetap membebaskannya.

    Muadzin Pertama Umat Islam

    Dari buku The Great Sahaba karya Rizem Aizid dijelaskan kisah muadzin pertama umat Islam.

    Selama di Madinah, Bilal Bin Rabah selalu berada di samping Nabi Muhammad SAW, ketika menunaikan ibadah shalat, ataupun berjihad, saking dekatnya Bilal dengan Rasulullah SAW, sampai dia dijuluki bayangan Nabi Muhammad SAW.

    Ketika Masjid Nabawi selesai dibangun, Rasulullah kemudian mengisyaratkan mengumandangkan adzan sebelum mendirikan shalat. Namun, yang menjadi pertanyaan siapa yang dapat menjadi muadzin?

    Dari semua sahabat yang hadir, Nabi Muhammad SAW pun menunjuk Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan azan. Oleh karena itu, Bilal menjadi orang pertama diantara umat Islam yang menjadi muadzin, hingga suaranya terdengar kencang ke seluruh Madinah, gelarnya adalah Muadzin ar-Rasul. Hingga masa kini banyak orang-orang memanggil muadzin dengan nama Bilal.

    Pensiunnya Bilal Bin Rabah

    Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Bilal menjadi salah satu sahabat nabi yang sangat terpukul akibat kepergian Rasulullah SAW, hingga dirinya memutuskan pensiun dari menjadi muadzin.

    Suatu ketika Khalifah Abu Bakar RA, meminta Bilal bin Rabah supaya menjadi muadzin kembali, namun dengan perasaan yang masih sedih, dia berkata, “Aku hanya menjadi muadzin Rasulullah. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”

    Sejak saat itu Bilal bin Rabah tidak lagi mengumandangkan adzan, kecuali hanya sebanyak dua kali, kemudian Bilal bin Rabah meninggalkan Madinah, dan tinggal di Homs, Syria.

    Menurut kisah Bilal bin Rabah hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari, selalu sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullahaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).” Kemudian Bilal langsung menangis tersedu-sedu.

    Demikianlah kisah Bilal bin Rabah dari budak jadi ahli Surga. Semoga detikers mendapatkan pelajaran dari cerita tersebut.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wafatnya Khalid bin Walid, Panglima Perang Islam yang Tidak Pernah Kalah


    Jakarta

    Khalid bin Walid adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal akan kepiawaiannya dalam peperangan. Khalid termasuk panglima perang Islam yang tersohor pada masanya.

    Mengutip buku Para Panglima Perang Islam susunan Rizem Aizid, kehebatan Khalid bin Walid ini dibuktikan dengan tidak adanya kekalahan dalam perang yang ia pimpin. Khalid bahkan dijuluki sebagai Pedang Allah yang Terhunus.

    Taktik perangnya yang jitu dan ide-idenya yang luar biasa membuat sosok Khalid bin Walid sangat hebat. Ia juga menjadi juru tulis Nabi Muhammad SAW dengan gelar Abu Sulaiman.


    Khalid bin Walid lahir pada 592 M. Ia adalah anak dari pasangan Walid bin Mughirah dan Lababah ash-Shaghri binti al-Harits bin Harb. Sang ayah berasal dari Bani Makhzhum, marga terkemuka di kalangan suku Quraisy.

    Khalid masuk Islam usai Perang Uhud. Semenjak menjadi panglima Islam, dirinya terus memperluas wilayah Islam dan membuat pasukan Romawi serta Persia kalang kabut.

    Beberapa perang yang dipimpin Khalid bin Walid seperti Perang Mu’tah, Fatu Makkah, Perang Riddah, Perang Yamamah, dan penaklukan Persia-Romawi.

    Wafatnya Khalid bin Walid Akibat Sakit

    Menukil buku Dahsyatnya Ibadah, Bisnis, dan Jihad Para Sahabat Nabi yang Kaya Raya susunan Ustaz Imam Mubarok Bin Ali, Khalid bin Walid wafat di Hims pada 21 Hijriah. Diriwayatkan dari Abu az-Zinad, ketika ajal hendak menjemputnya ia menangis sambil berkata,

    “Aku telah mengikuti perang ini dan itu dengan gagah berani, hingga tidak ada sejengkal bagian pun di tubuhku, kecuali ada bekas sabetan pedang atau tusukan anak panah. Namun, mengapa aku mati di atas kasurku, tanpa bisa berbuat apa-apa, seperti halnya seekor keledai? Mata para pengecut tidak bisa terpejam,”

    Dikisahkan dalam buku Khalid bin Walid: Panglima Perang Termasyhur tulisan Indah Julianti, meski Khalid bin Walid dikenal sebagai panglima perang Islam tersohor, ia meninggal akibat sakit yang dideritanya. Pada awal 18 Hijriah, wabah epidemik menyebar di Syria dan menyerang para penduduk, termasuk Khalid.

    Bahkan, anak-anak Khalid bin Walid ikut terkena wabah tersebut dan menyisakan tiga orang putra, yaitu Sulaiman, Muhajir dan Abdurrahman. Khalid menghembuskan napas terakhir di kediamannya.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abdurrahman bin Auf Sahabat Rasulullah SAW yang Gemar Bersedekah


    Jakarta

    Dahulu dalam berdakwah Rasulullah SAW didampingi oleh sahabat-sahabat yang luar biasa dengan masing-masing kelebihannya. Seperti Abdurrahman bin Auf sahabat nabi kaya raya yang dermawan. Berikut kisah Abdurrahman bin Auf yang senang bersedekah meraih pahala dari Allah SWT.

    Mengutip buku Dahsyatnya Ibadah, Bisnis, dan Jihad Para Sahabat Nabi yang Kaya Raya karya Ustadz Imam Mubarok Bin Ali, dijelaskan Abdurrahman bin Auf salah satu sahabat nabi yang kaya raya sebab jago berdagang. Beliau bahkan dijuluki “Manusia bertangan Emas.”

    Nama asli Abdurrahman bin Auf di masa jahiliyah adalah Abdu Amru, ada juga yang berpendapat nama aslinya Abdul Ka’bah, lalu Rasulullah SAW baru mengganti namanya menjadi seperti nama yang dikenal sekarang.


    Abdurrahman memiliki nama lengkap Abdurrahman bin Auf Abdu Manaf bin Abdul Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah Al-Quraisy Al-Zuhri. Dikenal juga sebagai sosok sahabat nabi yang gemar bersegera dalam berinfak dan pandai berdagang.

    Beliau dilahirkan pada tahun kesepuluh dari tahun gajah atau 581 M, Abdurrahman bin Auf sepuluh tahun lebih muda dari Rasulullah SAW.

    Kisah Kedermawanan Abdurrahman bin Auf

    Mengutip buku Kisah 10 Pahlawan Surga karya Abu Zaein dijelaskan suatu hari Rasulullah SAW pergi ke Tabuk untuk menghadapi ancaman bangsa Romawi. Namun kala itu buah-buahan belum matang, sehingga kaum Muslimin belum bisa menjualnya dan menyedekahkannya ke pasukan Muslim. Semua mengeluh akan kondisi ini.

    Karena perintah Allah SWT wajib ditegakkan, Abu Bakar memberikan seluruh hartanya, Umar juga memberikan separuh hartanya, tidak ketinggalan juga Utsman yang menyerahkan harta semampunya. Sayangnya jumlah harta yang terkumpul masih belum cukup.

    Dalam kerisauan itu, Abdurrahman bin Auf datang membawa sebuah kantong yang berisi dua ratus keping emas. Beliau menyerahkan kantong itu kepada Rasulullah SAW. Membuat semua sahabat keheranan, bahkan Umar bin Khattab menduga Abdurrahman melakukan perbuatan dosa, dan ingin bertobat dengan cara menyerahkan hartanya.

    Lantas Allah SWT menunjukkan kemurnian hati Abdurrahman melalui pertanyaan Rasulullah SAW, “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?”

    Jawab Abdurrahman, “Banyak wahai Rasulullah. Lebih banyak daripada apa yang aku sedekahkan ini.”

    Rasulullah kembali bertanya, “Berapa banyak yang kamu tinggalkan untuk mereka?”

    Abdurrahman menjawab, “Aku tinggalkan Allah dan Rasulnya untuk mereka.” Lalu Rasulullah dan para sahabat pun kagum dengan sikap ikhlas Abdurrahman bin Auf.

    Kisah kedermawanan Abdurrahman bin Auf lainnya. Bermula pada suatu hari, semua penduduk Madinah mendengar suara keras. Mereka mengira suara itu muncul dari pasukan musuh yang menyerang Madinah.

    Ternyata suara tersebut adalah suara kafilah dagang Abdurrahman bin Auf yang berjumlah tujuh ratus unta sambil membawa berbagai barang dagangan.

    Saat itu Aisyah RA berkata,” Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku telah melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merayap.” Mendengar perkataan ini, Abdurrahman segera menyedekahkan kafilahnya.

    Abdurrahman percaya kepada perkataan Aisyah RA, sambil berkata, “Sesungguhnya aku menjadikanmu sebagai saksi bahwa kafilah ini beserta seluruh muatannya, pelana, dan alas pelananya, telah aku sedekahkan di jalan Allah SWT.”

    Selain itu, Abdurrahman bin Auf juga pernah menjadi imam shalat yang diantara makmumnya ada Rasulullah SAW. Maka Abdurrahman bin Auf menjadi orang beruntung yang telah menyedekahkan hartanya, berjihad, dan menjadi imam Rasulullah dan umat Islam.

    Pesan Abdurrahman bin Auf

    Masih mengutip buku Kisah 10 Pahlawan Surga karya Abu Zaein, sebelum Abdurrahman bin Auf meninggal dunia, dirinya berpesan supaya kaum Muslimin dalam perang Badar yang masih hidup mendapatkan 400 dinar dari harta warisannya.

    Serta berpesan sebagian hartanya diberikan untuk istri-istri Rasulullah SAW. Oleh karena itu, Aisyah RA berdoa, “Semoga Allah memberi minum kepadanya air dari mata air Salsabil di Surga.”

    Demikianlah kisah Abdurrahman bin Auf seorang yang luar biasa ikhlas untuk menyedekahkan hartanya pada jalan Allah SWT. Abdurrahman bin Auf meninggal di usia 75 tahun, jenazahnya dishalati Utsman bin Affan dan para sahabat lainnya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Ketabahan Urwah bin Zubair dalam Menghadapi Musibah yang Menimpanya



    Jakarta

    Ada banyak kisah-kisah Islami dari orang-orang beriman di masa lalu yang menunjukan sisi positif sehingga bisa diteladani. Seperti kisah seorang yang tetap sabar dan tabah saat ditimpa sakit dan anaknya meninggal. Inilah kisah Urwah bin Zubair.

    Mengutip buku Cahaya Abadi Muhammad Saw. 3 karya M. Fethullah Gulen disebutkan bahwa Urwah bin Zubair adalah putra dari sahabat Rasulullah SAW bernama Zubair bin Awwam RA yang merupakan anak dari bibi Rasulullah SAW bernama Shafiyah binti Abdul Muthalib.

    Sementara itu, ibu Urwah bin Zubair bernama Asma’ RA yang merupakan saudara kandung dari Sayyidah Aisyah RA, putri Abu Bakar As-Siddiq. Maka Urwah tumbuh besar diantara orang-orang mulia membuatnya memiliki keimanan dan keutamaan.


    Kisah Urwah bin Zubair

    Mengutip buku Sejarah Hidup Para Penyambung Lidah Nabi karya Imron Mustofa keutamaan Urwah bin Zubair juga dijelaskan oleh anaknya bernama Hisyam yang menuturkan:

    “Ia (Urwah bin Zubair) terkena penyakit kanker pada kakinya, dan seseorang pernah berkata, ‘Maukah Anda aku panggilkan tabib?’ Ia berkata, Jika kamu berkenan.’ Lalu, sang tabib datang dan berkata, ‘Aku akan memberikan minuman kepada Anda dan minuman itu menghilangkan kesadaran Anda untuk beberapa saat.’ Mendengar itu, Urwah berkata, ‘Urus saja dirimu, aku tidak yakin kalau ada seseorang yang mau meminum obat yang menghilangkan kesadarannya, sehingga ia tidak ingat lagi kepada Tuhannya.”

    Ia berkata, “Kemudian sang tabib itu akhirnya memotong lutut- nya tanpa obat bius, dan kami semua berada di sekelilingnya me- nyaksikan. Hebatnya, ia tidak mengeluh sedikitpun. Ketika kakinya telah terpotong, ia berkata, ‘Kalaulah memang Engkau Ya Allah telah mengambil kakiku, Engkau pun telah menyisakan hidup kepadaku. Kalaulah engkau memberikan cobaan sakit kepadaku, Engkau pun telah memberikan kesembuhannya. Dan hebatnya, pada malam itu juga ia tidak meninggalkan rutinitasnya, yaitu melakukan shalat malam dengan membaca seperempat al-Qur’an.”

    Dari ‘Am bin Shalih dari Hisyam bin Urwah mengatakan bahwa ayahnya pergi menghadap Khalifah al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Ketika sampai di lembah Qura, ia mendapati kakinya terkena sesuatu dan terluka. Kemudian, ia pun merasakan sakitnya semakin parah.

    Sesampainya di hadapan Khalifah al-Walid, ia (al-Walid) berkata, “Wahai Abu Abdillah, potong saja kakimu itu!” Urwah berkata, “Boleh saja.” Lalu, sang khalifah memanggilkan tabib untuknya. Tabib itu berkata, “Minumlah ramuan yang mengandung obat tidur.” Namun ia (Urwah) tidak mau meminumnya. Kemudian, tanpa obat bius, tabib itu memotongnya sampai sebatas lutut dan tidak lebih.”

    Setelah itu, Urwah berkata, “Cukup, cukup!” Al-Walid berkata, “Aku sama sekali belum pernah melihat orang tua yang kesabarannya seperti ini.”

    Apalagi disaat Urwah melakukan perjalanan, ia ditimpa musibah sebeba putranya bernama Muhammad meninggal dunia (Diserang keledai saat berada di kandang) namun dia tidak berkomentar apapun hingga di lembar Qura, Urwah bin Zubair pun berkata (Kutipan surah Al-Kahfi ayat 62):

    لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هٰذَا نَصَبًا ٦٢

    Artinya: “Bawalah kemari makanan kita. Sungguh, kita benar-benar telah merasa letih karena perjalanan kita ini.”

    Selanjutnya urwah bin Zubair pun berkata, “Ya Allah, aku telah mempunyai tujuh keturunan dan Engkau telah mengambil satu dari mereka dan Engkau masih meninggalkan yang enam. Aku juga mempunyai anggota tubuh yang empat, dan Engkau telah mengambil salah satunya, dan Engkau masih tinggalkan yang tiga. Jikalau Engkau memberikan cobaan sakit, Engkau pun telah menyembuhkannya. Jikalau Engkau telah mengambilnya (kaki), Engkau masih memberikan hidup.”

    Hikmah Kisah Urwah bin Zubair

    Mengutip buku 88 Kisah Orang-Orang Berakhlak Mulia karya Harlis Kurniawan hikmah yang bisa dipetik dari kisah ketabahan Urwah bin Zubair adalah.

    Siapa saja yang ridha dengan takdir Allah SWT, maka dia adalah hamba yang bersyukur. Karena dia senantiasa melihat nikmat Allah SWT yang banyak daripada melihat berkurangnya nikmatnya yang sedikit.

    Demikianlah kisah ketabahan Urwah bin Zubair dalam menghadapi cobaan yang diberikan Allah SWT.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com