Tag: sahabat nabi

  • Tempat Umar bin Khattab Nyatakan Keislamannya di Hadapan Rasulullah



    Jakarta

    Umar bin Khattab RA merupakan sahabat Nabi SAW yang menjadi Khulafaur Rasyidin kedua. Dulunya ia sangat menentang nabi, namun kemudian menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah SAW.

    Umar bin Khattab RA menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah SAW di rumah Arqam bin Abi al-Arqam. Allah SWT membalikkan hatinya yang semula sangat membenci Islam, menjadi sahabat Nabi SAW yang berjihad melawan kekafiran bersama beliau.

    Umar bin Khattab RA tentu pernah melalui masa-masa jahiliah sebelum menjadi orang mukmin. Kisah jahiliahnya diulas dalam buku Jejak Langkah Umar bin Khattab oleh Abdul Rohim.


    Masa Jahiliyah Umar bin Khattab RA

    Umar bin Khattab RA adalah seorang mantan orang yang jahil (kafir). Masa kecilnya ia habiskan dengan melakukan adat masyarakat Quraisy yang tidak beradab dan penuh kesesatan.

    Sejak kecil ia menjadi penggembala kambing dan unta. Hal tersebut memunculkan sikap luhur yang dimilikinya, seperti bertanggung jawab, tegar, dan berani menghadapi sesuatu.

    Masa mudanya ia juga terkenal terampil dalam berbagai olahraga seperti gulat dan berkuda. Ia juga merupakan seseorang yang cerdas yang ahli dalam menciptakan syair dan mendendangkannya.

    Ketika dewasa, dirinya menjadi orang yang penting bagi masyarakat Quraisy. Ia sangat mencintai masyarakatnya dan siapa pun yang mengganggu mereka, dia akan menjadi tokoh terdepan dalam membela dan mempertahankan masyarakatnya. Termasuk dakwah Nabi Muhammad SAW.

    Ia sangat membenci Rasulullah SAW dan ajarannya karena ia menganggap hal ini memecah belah masyarakat Quraisy yang menurutnya sudah baik.

    Umar bin Khattab RA sering menyiksa para pengikut Nabi Muhammad SAW dengan kejam. Ia tak segan-segan untuk memukul wanita, hamba sahaya, dan bahkan membuat rencana pembunuhan untuk Rasulullah SAW.

    Bagi umat Islam, Umar bin Khattab RA adalah sebuah ancaman yang besar dan sangat menakutkan. Sehingga Nabi Muhammad SAW pun berdoa kepada Allah SWT untuk mengokohkan Islam dengan melunakkan hati salah satu dari dua ancaman besar untuk kaum muslim, Abu Jahal dan Umar bin Khattab RA.

    Awal Mula Benih Islam Masuk ke Hati Umar bin Khattab RA

    Dikisahkan dalam buku Sejarah Keteladanan Nabi Muhammad SAW: Memahami Kemuliaan Rasulullah Berdasarkan Tafsir Mukjizat Al-Qur’an oleh Yoli, suatu malam, Umar bin Khattab RA keluar rumah dan pergi menuju Ka’bah. Saat itu Nabi SAW tengah salat dan membaca surah al-Haqqah.

    Peristiwa ini menjadi awal mula bergetarnya hati Umar bin Khattab RA karena prasangka buruknya langsung dijawab dengan ayat-ayat yang tengah dibaca oleh Nabi SAW.

    Umar RA berkata, “Demi Allah! Ini (benar) adalah (ucapan) tukang syair sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy!”

    Rasulullah SAW membaca surah Al-Haqqah ayat 40-41 dalam salatnya,

    اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ ٤٠ وَّمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍۗ قَلِيْلًا مَّا تُؤْمِنُوْنَۙ ٤١

    Artinya: “Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) itu benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. Ia (Al-Qur’an) bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman (kepadanya).”

    Umar RA lalu berkata pada dirinya, “Ini adalah (ucapan) tukang tenung.”

    Lalu Nabi SAW meneruskan bacaannya pada surah Al-Haqqah ayat 42-43,

    وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍۗ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ ٤٢ تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ ٤٣

    Artinya: “(Al-Qur’an) bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran (darinya). (Al-Qur’an itu) diturunkan dari Tuhan semesta alam.”

    Selanjutnya kisah Umar bin Khattab menyatakan keislamannya di rumah Arqam>>>

    Umar bin Khattab RA Menyatakan Keislamannya di Rumah Arqam

    Umar bin Khattab RA merasa sangat marah atas kehadiran Nabi Muhammad SAW yang menurutnya memecah belah kaum Quraisy. Ia lantas memutuskan untuk membunuh Nabi SAW agar keadaan Makkah kembali seperti semula dalam kejahilan.

    Umar RA sudah siap dengan pedangnya hendak menuju rumah Arqam bin Abi al-Arqam untuk membunuh Rasulullah SAW. Namun dalam perjalanannya ia berpapasan dengan Nu’aim bin Abdullah an-Nahham al-‘Adawiy.

    Orang tersebut bertanya tujuan perginya. Ia pun menyatakan kepada Umar RA bahwa saudara perempuan dan suaminya telah memeluk Islam. Umar RA pun langsung mendatangi keduanya.

    Ternyata di dalam rumah itu, keduanya sedang dibacakan shahifah (lembaran Al-Qur’an) oleh Khabbab bin al-Arat.

    Umar RA berkata, “Tampaknya kalian berdua sudah menjadi penganut ash-Shabiah (Islam).”

    Iparnya berkata, “Wahai Umar! Bagaimana pendapatmu jika kebenaran itu berada pada selain agamamu?”

    Umar RA langsung marah dan menginjak-injak iparnya itu. Tak cukup sampai di situ, ketika adiknya mencoba membela agamanya, Umar RA pun tega untuk memukul adiknya hingga memar/berdarah.

    Adiknya berkata, “Wahai Umar! Jika kebenaran ada padaselain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasulullah.”

    Umar RA merasa bersalah dan malu setelah menampar adiknya tersebut. Lantas ia meminta untuk diberikan shahifah (lembaran-lembaran Al-Qur’an) tersebut, namun ditolak oleh adiknya karena Umar RA masih najis.

    Setelah mandi, ia kembali memegang shahifah tersebut dan membaca surah Thaha ayat 14,

    اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

    Artinya: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku.”

    Maka hati Umar bin Khattab RA pun bergetar. Ia lalu meminta untuk diantar ke hadapan Nabi SAW.

    Setelah tiba di rumah Arqam bin Abi al-Arqam, ia mengetuk pintu dan dari celah-celah pintu itu ada seorang penjaga yang mengintip dan melihat dirinya menghunus pedang.

    Rasulullah SAW mendapat laporan tersebut dan langsung menghadapi Umar RA sendiri. Beliau lantas membuka pintu itu dan langsung memegang gagang pedang Umar bin Khattab RA dan menariknya dengan keras.

    Rasulullah SAW berkata, “Tidakkah engkau akan berhenti dari tindakanmu, wahai Umar, hingga Allah menghinakanmu dan menimpakan bencana sebagaimana yang terjadi terhadap al-Walid bin al-Mughairah?”

    Umar RA tak menjawab pertanyaan Nabi SAW, melainkan ia menjawab dengan, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (Yang berhak disembah) selain Allah dan engkau adalah Rasulullah.”

    Pernyataan Umar bin Khattab RA ketika masuk Islam ini membawa kebahagiaan dan disambut dengan pekikan takbir oleh penghuni rumah sehingga terdengar sampai luar.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abu Hurairah dan Kurma, Bukti Baktinya pada Ibunda


    Jakarta

    Para sahabat nabi memiliki sifat, sikap, dan perilaku yang tidak kalah mulia daripada suri tauladan mereka, Rasulullah SAW. Salah satu sahabat yang berhati mulia dan sangat berbakti kepada orang tuanya adalah Abu Hurairah RA.

    Bagaimanakah kisah Abu Hurairah RA dan kurma demi ibunya itu? Berikut kisah ringkasnya.

    Kisah Abu Hurairah RA dan Kurma Demi Ibunda

    Kisah Abu Hurairah RA dan kurma demi ibundanya ini menunjukkan betapa cintanya dan sayangnya ia kepada ibunya. Sehingga ia rela untuk membagi makanan yang bahkan dirinya masih kekurangan.


    Kisah ini diambil dari buku Golden Stories: Kisah-Kisah Indah dalam Sejarah Islam oleh Mahmud Musthofa Saad. Suatu waktu, Abu Hurairah RA pernah berkata, “Suatu ketika, aku keluar dari rumahku menuju masjid. Aku tidak keluar kecuali karena lapar.”

    Beberapa saat kemudian, Abu Hurairah RA bertemu dengan para sahabat Rasulullah SAW. Mereka mengatakan, “Wahai Abu Hurairah, faktor apa yang mendorongmu keluar sekarang ini?”

    Ia menjawab, “Tiada yang mendorongku keluar kecuali rasa lapar.”

    Mereka mengatakan lagi, “Demi Allah, tidak ada yang mendorong kami keluar kecuali karena kelaparan.” Lalu Abu Hurairah RA bersama para sahabat itu pun beranjak hendak menghadap kepada Rasulullah SAW.

    Melihat kedatangan tersebut, maka Rasulullah SAW bertanya, “Faktor apa yang mendorongmu keluar sekarang ini?”

    Abu Hurairah dan lainnya menjawab, “Wahai Rasulullah, kami datang karena lapar.”

    Lalu Rasulullah SAW meminta sepiring kurma, kemudian memberikan dua buah kurma kepada masing-masing sahabat yang hadir seraya mengatakan, “Makanlah kedua buah kurma ini dan kemudian minumlah air sesudahnya. Karena keduanya akan mencukupi kebutuhan kalian pada hari ini.”

    Abu Hurairah RA kemudian memakan satu buah. Sedangkan satu buah lainnya disimpannya di pangkuannya. Melihat hal itu ini, Rasulullah SAW pun menegurnya, “Wahai Abu Hurairah, mengapa kamu sisakan buah ini?”

    “Aku menyisakannya untuk ibuku.” jawab Abu Hurairah RA.

    Lalu Rasulullah SAW memerintahkan, “Makanlah ia. Karena aku akan memberimu dua buah kurma lagi untuknya.”

    Siapakah Abu Hurairah RA?

    Abu Hurairah RA berasal dari kabilah Daus yang tinggal di daerah Yaman. Ia masuk Islam pada tahun ketujuh hijriah atau 7 H seperti dikutip dari buku Cahaya Abadi Muhammad SAW 3 oleh M. Fethullah Gulen.

    Abu Hurairah RA adalah sahabat yang selalu mendampingi Nabi Muhammad SAW selama empat tahun hingga wafatnya beliau. Dirinya menjadi mualaf setelah kepala suku Daus yang memiliki nama Thufail bin Amr menyatakan keislamannya kepada Nabi Muhammad SAW.

    Setelah menjadi seorang muslim, Thufail bin Amr menyebarkannya kepada sukunya sehingga banyak dari mereka masuk Islam. Abu Hurairah RA juga ikut dalam perjalanan hijrah ke Madinah bersama Rasulullah SAW setelah menyatakan keislamannya.

    Nama asli Abu Hurairah RA adalah Abd Asy-Syams yang memiliki arti hamba Matahari. Setelah Rasulullah SAW mengetahui ini saat Perang Khaibar, beliau mengganti nama tersebut menjadi Abdurrahman.

    Suatu saat, Rasulullah SAW melihat seekor kucing kecil di kamar Abu Hurairah RA. Lantas beliau memanggil Abu Hurairah RA dengan sebutan, “Ya Aba Hurairah!”

    Inilah awal mula bagaimana nama Abdurrahman menjadi Abu Hurairah yang berarti bapak kucing kecil. Walaupun sebenarnya ia lebih suka dipanggil dengan Abu Hirr (Bapak Kucing), namun karena kecintaannya kepada Rasulullah SAW, ia rela untuk dipanggil dengan Abu Hurairah.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Al Qamah, Sahabat yang Saleh Namun Tersiksa Sakaratul Maut Sebab Murka Ibu



    Jakarta

    Rasulullah SAW memiliki seorang sahabat bernama Al Qamah. Ia dikenal sebagai sosok mukmin beriman dan taat dalam beribadah. Namun menjelang kematiannya, ia justru mengalami sakaratul maut yang cukup menyiksa.

    Dikutip dari buku Kisah dan ‘Ibrah oleh Syofyan Hadi digambarkan bahwa Al Qamah adalah seorang yang sangat mulia, taat, rajin beribadah, dan ia bahkan selalu ikut bersama Rasulullah SAW dalam setiap kali peperangan yang beliau pimpin menghadapi kaum musyrik.

    Al Qamah memiliki seorang ibu yang sudah tua. Ibunya menjadi wanita yang sangat ia hormati dan sayangi.


    Namun sikap Al Qamah berubah saat telah menikah. Ia sangat menyayangi istrinya, sampai-sampai lupa bahwa ada sosok ibu yang harus dilimpahi kasih sayang dan perhatiannya. Apalagi sang ayah telah meninggal dunia.

    Al Qamah Duhaka pada Ibunya

    Mengutip buku karya Syamsuddin Abu ‘Abdillah Adz-Dzahabi dalam kitab al-Kabair diceritakan Al Qamah kemudian menderita suatu penyakit. Penyakit tersebut tidak bisa disembuhkan meskipun telah dicoba menggunakan berbagai teknik pengobatan. Lambat laun, sakitnya ini membuat ia sekarat.

    Semua orang yang mengenalnya, termasuk Rasulullah SAW berkumpul di rumah Al Qamah dengan tujuan melepas kepergiannya. Semua yang hadir meminta maaf sekaligus memberikan maaf kepadanya.

    Kalimat tauhid pun sudah diajarkan kepadanya untuk dibaca, sementara kerabat dan sahabat yang lain membacakan surat Yasin di rumahnya. Namun hari berganti, Al Qamah tak juga menghembuskan napas terakhirnya.

    Akhirnya Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya, “Siapa lagi yang belum datang memberikan maaf pada Al Qamah?”

    Ternyata yang belum datang memberi maaf kepada Al Qamah adalah ibunya sendiri. Maka Rasulullah SAW mengirim utusan untuk menjemput ibu Al Qamah agar datang ke rumah anaknya yang sedang sekarat dan memberi maaf jika dia pernah berbuat salah.

    Dua orang sahabat pergi menemui ibunda Al Qamah dan memberitahukan keadaan anaknya. Ibunya kemudian diminta untuk datang memberikan maaf kepada anaknya. Akan tetapi, ibunya menolak untuk datang dan memberikan maaf.

    Pulanglah dua orang sahabat itu menemui Rasulullah SAW dan memberitahukan jawaban ibu Al Qamah.

    Rasulullah SAW didampingi beberapa sahabat langsung pergi menemui ibu Al Qamah tersebut. Setelah sampai, Rasulullah SAW mengucapkan salam kepadanya dan mengatakan, bahwa Al Qamah anaknya sudah beberapa hari sekarat. Oleh karena itu, Rasulullah SAW meminta agar ibunya datang dan memberikan maaf kepada anaknya.

    Saat sang ibu berhasil dijemput, Rasulullah SAW bertanya, “Apa tingkah Al Qamah yang memberatkan dirinya ini? Jika ada dosa terhadap ibu sendiri, maka perlu dimaafkan.”

    Sang ibu lalu menyebut bahwa Al Qamah merupakan anak yang baik dan taat kepada Allah SWT. Ia menceritakan terkait anaknya yang telah berumah tangga dan tidak lagi memperhatikan dirinya.

    Al Qamah hendak Dibakar

    Murka sang ibulah yang membuat lidah Al Qamah kelu untuk mengucap syahadat. Rasulullah SAW kemudian berseru, “Kalau begitu, ayo para sahabat kumpulkan kayu bakar yang banyak, supaya Al Qamah dibakar saja.”

    Mendengarkan kabar bahwa anaknya akan dibakar, menangislah perempuan tua itu dan segeralah dia pergi menemui anaknya, memeluknya dan menangis sambil memberikan maaf atas kesalahan anaknya itu.

    Setelah mendapat maaf dari sang ibu, Al Qamah kemudian meninggal dengan tenangnya setelah mengucapakan kalimat syahadat.

    Dari kisah Al Qamah, kita dapat mengambil pelajaran berharga. Orang tua tidak meridhai seorang anak, maka Allah SWT pun tidak meridhainya. Betapapun shalih dan banyaknya amalan seseorang, jika hubungan dengan orang tuanya tidak baik, maka sia-sialah kebaikannya yang banyak itu.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abdullah bin Hudzafah, Sahabat Nabi yang Jadi Tawanan Romawi


    Jakarta

    Kisah para sahabat Nabi Muhammad SAW adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Islam yang membawa inspirasi, pengajaran, dan teladan bagi umat Islam hingga hari ini. Tak terkecuali kisah Abdullah bin Hudzafah.

    Abdullah bin Hudzafah adalah seorang sahabat Nabi Muhammad yang memiliki pengalaman istimewa dalam perjalanan hidupnya. Ia pernah menjadi seorang tawanan.

    Kisah Abdullah bin Hudzafah

    Dikutip dari buku Lembaran Kisah Mutiara Hikmah karya Dian Erwanto, Abdullah bin Hudzafah merupakan salah satu sahabat nabi yang menjadi panglima muslim dalam pembukaan Kota Syam.


    Abdullah bin Hudzafah diutus untuk menjalankan misi penting, yaitu memerangi penduduk kaisar di Palestina di tepi tengah laut. Namun atas takdir Allah SWT, misinya gagal dan ia ditangkap oleh tentara Romawi.

    Dikutip dari buku 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah karya Imam Ibnul Jauzi, terjadilah dialog antara Abdullah dengan pemimpin Romawi.

    Pemimpin Romawi tersebut meminta Abdullah untuk meninggalkan Islam dan memeluk agama Kristen. Namun, karena Abdullah menolaknya, dia hendak dilemparkan ke dalam kuali yang berisi minyak mendidih.

    Sesaat sebelum Abdullah dilempar ke kuali tersebut, ia ketakutan dan menangis. Pemimpin Romawi mengangkatnya.

    Abdullah berkata, “Kalian pikir saya menangis karena takut?! Sama sekali bukan, tapi saya menangis karena saya hanya punya satu jiwa saja. Saya sangat berharap seandainya saya punya seratus jiwa dan semuanya dibunuh dalam kondisi seperti ini, yaitu ketika berjuang di jalan Allah.”

    Pemimpin Romawi tersebut kagum dan takjub mendengarnya, dan dia kembali meminta Abdullah untuk memeluk Kristen. Namun, Abdullah tetap menolaknya. Pemimpin Romawi itu kemudian menawarkan akan membebaskan Abdullah dengan syarat mau mencium kepalanya.

    Abdullah pun menyanggupi tawaran tersebut. Pemimpin Romawi itu membebaskan Abdullah dan 80 tawanan muslim lainnya.

    Sepulang dari Romawi, Umar bin Khaththab mencium kepala Abdullah bin Hudzafah sebagai bentuk penghargaan.

    Sejak saat itulah, Abdullah bin Hudzafah menjadi candaan para sahabat. Para sahabat berkata, “Engkau pernah mencium kepala ilj (sebutan untuk perwira kafir ajam yang bertubuh besar, kekar, dan kuat.)”

    Pelajaran dari Kisah Abdullah bin Hudzafah

    Kisah Abdullah bin Hudzafah di atas menyimpan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam, beberapa di antaranya,

    Kisah Abdullah bin Hudzafah mengajarkan umat Islam mengenai betapa pentingnya keteguhan dalam keimanan meskipun telah menghadapi beberapa ujian yang sangat berat.

    • Kesetiaan yang Tak Tergoyahkan

    Abdullah bin Hudzafah merupakan contoh nyata kesetiaan yang tak tergoyahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kesetiaan tersebut merupakan salah satu nilai penting dalam Islam.

    • Komitmen dalam Perjuangan

    Meskipun Abdullah bin Hudzafah menghadapi ujian keimanan yang berat, beliau tetap berkomitmen untuk memeluk Islam dan tidak melepaskannya meskipun ia tahu bahwa akan mendapatkan siksaan dari pemimpin Romawi jika tidak memeluk Kristen.

    • Pengorbanan untuk Kebenaran

    Kisah Abdullah bin Hudzafah merupakan salah satu kisah dengan pengorbanan yang besar. Ia rela mengorbankan dirinya demi melindungi Nabi Muhammad SAW dan agama Islam

    • Inspirasi bagi Generasi Selanjutnya

    Kisah hidup Abdullah bin Hudzafah adalah inspirasi bagi generasi Muslim selanjutnya. Ia menunjukkan bagaimana seorang individu dapat berubah menjadi pribadi yang saleh dan bermanfaat bagi umat Islam.

    Kisah Abdullah bin Hudzafah adalah salah satu cerita dalam sejarah Islam yang menginspirasi dan memberikan banyak pelajaran berharga. Kesetiaan, pengorbanan, dan keteguhan dalam keimanan yang ia tunjukkan bisa menjadi teladan bagi umat Islam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Masuk Islamnya Abu Bakar Ash-Shiddiq di Hadapan Rasulullah SAW



    Jakarta

    Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang kerap mendampingi beliau semasa hidupnya. Bahkan, sepeninggalan Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar ditunjuk menjadi Khalifah pertama untuk memimpin kaum muslim.

    Dijelaskan dalam buku Abu Bakar Ash-Shiddiq: Syakhshiyatu Wa ‘Ashruhu karya Ali Muhammad Ash-Shalabi nama asli Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib Al-Qurasyi At-Taimi.

    Sementara itu, nama Abu Bakar ia dapatkan setelah memeluk agama Islam. Setelah menyatakan keislamannya, Rasulullah SAW mengubah nama Abu Bakar menjadi Abdullah bin Abu Quhafah yang artinya hamba Allah putra Quhafah Utsman, demikian dikutip dari Tarikh Khulafa: Sejarah Para Khalifah oleh Imam As-Suyuthi.


    Abu Bakar Ash Shiddiq memiliki nasab langsung dari Rasulullah SAW. Disebutkan dalam Sirah wa Hayah Ash-Shiddiq karya Majdi Fathi As-Sayyid, nasab Abu Bakar Ash Shiddiq bertemu dengan nasab Rasulullah SAW pada kakek keenam, yaitu Murrah bin Ka’ab.

    Melansir dari Tarikh Khulafa oleh Ibrahim Al-Quraibi, Abu Bakar disebut sebagai orang pertama yang memeluk Islam, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Asma’ binti Abu Bakar yang berkata,

    “Ayahku masuk Islam, sebagai muslim pertama. Dan demi Allah aku tidak mengingat tentang ayahku kecuali ia telah memeluk agama ini.”

    Dalam pendapat lainnya disebutkan bahwa Khadijah-lah yang pertama kali memeluk Islam. Ada juga yang mengatakan Ali bin Abi Thalib, wallahu alam.

    Terkait kisah keislaman Abu Bakar ini diceritakan dalam riwayat Abu Hasan Al-Athrabulusi melalui Al-Bidayah yang dikutip oleh Suparnno dalam buku Sahabat Rasululloh Abu Bakar Ash-Shiddiq.

    Sebagai kawan Rasulullah SAW sejak zaman Jahiliyah, Abu Bakar suatu hari menemui beliau dan bertanya,

    “Wahai Abul Qosim (panggilan Nabi), ada apa denganmu, sehingga engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang-orang yang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu dan lain-lain lagi?”

    Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah SWT dan aku mengajak kamu kepada Allah SWT.”

    Setelah Rasulullah SAW selesai berbicara, Abu Bakar langsung memeluk Islam. Setelahnya, beliau menjadi seorang sahabat yang memperjuangkan Islam bersama Rasulullah SAW. Saat masuk Islam, Abu Bakar menginfakkan 40.000 dirham hartanya di jalan Allah SWT.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sahabat Nabi Zubair Bin Awwam yang Ditikam saat Salat


    Jakarta

    Kisah sahabat nabi Zubair bin Awwam RA ini dikenal karena ketauhidannya meski dihadapi dengan siksaan. Pasalnya, ia wafat terbunuh oleh salah satu pengikut Khalifah Ali RA saat ia sedang salat.

    Zubair bin Awwam RA adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang menyandang gelar Assabiqunal Awwalun atau orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Hal ini dituliskan dalam buku Biografi 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga oleh Sujai Fadil.

    Zubair RA adalah seorang pemuda yang pemberani. Ia masuk Islam di usianya yang ke-14 tahun. Dirinya juga merupakan orang yang terpandang dan berasal dari keluarga bangsawan.


    Meski demikian, Zubair bin Awwam RA pernah mengalami penyiksaan dari para kafir Quraisy.

    Saat itu, Zubair bin Awwam RA disiksa oleh pamannya sendiri. Ia dibungkus dengan tikar dan diasapi sehingga membuatnya kesulitan bernafas.

    Walaupun siksaan yang pedih ini menimpanya, ia tetap berpegang teguh dalam ketauhidan dan tidak akan kembali menjadi kafir selamanya.

    Zubair bin Awwam Ditikam Saat sedang Salat

    Thalhah RA menceritakan, Zubair bin Awwam RA meninggal setelah Perang Jamal berakhir. Ketika Zubair RA meninggalkan peperangan, ia diikuti oleh sejumlah orang yang menginginkan perang terus berlangsung.

    Akhirnya, ketika Zubair bin Awwam RA sedang melakukan salat, seorang pengkhianat kaum muslimin bernama Amir bin Jumruz menghunuskan pedang padanya.

    Amin bin Jumruz bahkan mengabarkan bahwa ia telah membunuh Zubair bin Awwam RA kepada Khalifah Ali RA. Ia berharap apa yang dilakukannya bisa membuat Ali RA senang, sebab sejauh yang ia tahu, Ali RA memusuhi Zubair bin Awwam RA.

    Jauh dari perkiraannya, ketika Ali RA mendapat kabar seperti itu, ia langsung berseru, “Katakanlah kepada pembunuh Zubair putra Shafiah, bahwa orang yang membunuh Zubair tempatnya di neraka.”

    Ketika pedang Zubair bin Awwam RA ditunjukkan kepada Ali RA, ia langsung menciumnya. Ali RA lalu menangis seraya berkata, “Demi Allah, sekian lama pedang ini melindungi nabi dari marabahaya.”

    Zubair bin Awwam RA wafat pada tahun 36 Hijriah, sebagai syuhada di umurnya yang ke-61 tahun. Ia dibunuh oleh Amir bin Jumruz, seorang pengkhianat muslimin, saat dirinya sedang salat.

    Sahabat nabi Zubair bin Awwam RA memang dikenal karena kebolehannya di medan perang untuk berjihad membela agama Allah SWT. Dirinya tidak takut mati, sebaliknya ia malah sangat merindukan syahid.

    Rasulullah SAW sangat sayang kepada Zubair bin Awwam RA. Beliau pernah mengatakan kebanggaannya atas perjuangan Zubair RA. “Setiap nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam.”

    Bagaimana tidak? Zubair bin Awwam RA selalu ikut dalam peperangan bersama Rasulullah SAW. Tidak ada satu pertempuran pun yang tidak ia ikuti.

    Bukti keberanian dan keteguhannya dalam membela Rasulullah SAW ada pada bekas luka pedang dan tombak yang banyak bersarang pada tubuhnya. Dirinya bahkan menamai anak-anaknya dengan nama-nama para syuhada dengan harapan mereka bisa mengikuti jejak teladan tersebut.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Teladan Ali Bin Abi Thalib, Berani-Pemimpin yang Adil



    Jakarta

    Kehidupan Ali bin Abi Thalib RA penuh dengan keteladanan yang dapat ditiru oleh kaum muslimin. Bagaimana kisah teladan Ali bin Abi Thalib RA tersebut?

    Ali bin Abi Thalib RA adalah sepupu Nabi Muhammad SAW. Tepatnya, ia merupakan putra dari Abi Thalib, paman Rasulullah SAW. Pernyataan ini sebagaimana dituliskan oleh Abdul Syukur Al Azizi dalam bukunya yang berjudul Ali bin Abi Thalib RA.

    Selain menjadi kerabat terdekat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib RA juga merupakan menantu beliau, yakni suami dari Fatimah Az Zahra RA.


    Sepeninggal Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib RA juga ditunjuk menjadi salah satu dari empat khalifah yang memimpin umat Islam. Tepatnya, ia adalah khalifah terakhir yang menggantikan khalifah Utsman bin Affan RA.

    Kisah Teladan Ali bin Abi Thalib RA

    Banyak hal yang bisa diteladani dari sosok yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW ini. Keteladanan tersebut sudah detikHikmah rangkum dari sebuah buku karya Masan AF yang berjudul Pendidikan Agama Islam: Akidah Akhlak untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas IX.

    1. Lebih Mementingkan Ilmu Pengetahuan daripada Harta

    Kisah teladan Ali bin Abi Thalib RA yang pertama adalah dirinya termasuk orang yang sangat cerdas dan selalu mementingkan ilmu pengetahuan daripada harta kekayaan.

    Saking cerdasnya Ali bin Abi Thalib RA, khalifah Abu Bakar RA, khalifah Umar RA, dan khalifah Utsman RA sering datang kepadanya untuk meminta pendapat dan bantuan untuk memecahkan sebuah masalah.

    Suatu hari, ada 10 orang yang terkenal pandai datang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib RA, “Mana yang lebih baik antara pengetahuan dan kekayaan? Beri kami jawaban yang memuaskan dan berbeda untuk masing-masing kami.”

    Ali bin Abi Thalib RA menjawab bahwa pengetahuan lebih baik dari kekayaan. Ia juga berhasil memberikan jawaban memuaskan yang berbeda-beda untuk mereka.

    2. Teguh Pendirian dalam Beragama

    Kisah teladan Ali bin Abi Thalib RA ditunjukkan dari sikap teguh pendirian dalam beragama beliau yang tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah SWT dan rasul-Nya.

    Hal ini dibuktikan dengan kesediaan Ali bin Abi Thalib RA menggantikan Rasulullah SAW untuk tidur di kasur beliau ketika diburu oleh kafir Quraisy yang hendak membunuh beliau.

    Karena keberanian dan keteguhan hati Ali bin Abi Thalib RA akan Allah SWT, akhirnya Rasulullah SAW bisa lolos dari pembunuhan dan kejaran kaum kafirin.

    3. Bersikap Adil ketika Jadi Pemimpin

    Ali bin Abi Thalib RA terkenal sebagai seorang pemimpin yang adil. Hal ini ditunjukkan ketika ia melihat putrinya, Zainab memakai baju dan perhiasan yang mahal dari baitul mal.

    Ali bin Abi Thalib RA bersikap tegas kepada putrinya dengan memerintahkan ia segera mengembalikan harta tersebut ke baitul mal dan tidak mengulangi hal yang sama lagi.

    4. Tidak Pelit dan Bersikap Dermawan

    Keteladanan Ali bin Abi Thalib RA yang keempat adalah ia memiliki sifat dermawan dan tidak bakhil sama sekali.

    Meski Ali bin Abi Thalib RA tidak sekaya Abu Bakar RA atau Utsman bin Affan RA, tapi kekayaan hati beliau begitu besar. Ia berderma dengan hatinya dan ketulusannya.

    Rasa kasih sayangnya kepada orang yang tidak berdaya, orang-orang lemah serta fakir miskin begitu besar. Ketika beliau menyalurkan harta yang diambil dari baitul mal, maka yang ia utamakan adalah santunan untuk fakir miskin.

    5. Berani Membela Agama Allah SWT

    Kisah teladan Ali bin Abi Thalib RA yang terakhir adalah dirinya merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang terkenal dengan keberaniannya menghadapi musuh dan membela agama Islam.

    Dalam Perang Badar dan pertarungan perorangan, Ali bin Abi Thalib RA dengan keberaniannya melawan dan mengalahkan musuhnya. Begitu pula ketika Perang Uhud, dirinya berhasil mengalahkan orang paling kuat dari kaum kafirin, yaitu Abu Saad bin Abi Thalhah.

    Ketika Abu Saad sudah tidak berdaya akibat perlawanan dari Ali bin Abi Thalib RA, sahabat pemberani Rasulullah SAW ini justru menyarungkan kembali pedangnya dan tidak membunuhnya.

    Ketika ditanyai perihal ini, Ali bin Abi Thalib RA menjawab kepada muslimin, “Aku tidak tega melihat dia sudah tak berdaya, tiba-tiba saja aku merasa kasihan.”

    Dengan demikian menunjukkan bahwa walaupun Ali bin Abi Thalib RA adalah orang yang pemberani, ia tetap memiliki rasa kasih sayang yang tinggi.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah, Gantikan Utsman bin Affan



    Jakarta

    Ali bin Thalib adalah salah satu sahabat yang juga merupakan sepupu Rasulullah SAW. Nama lengkapnya adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutalib bin Hasyim bin Abdul Manaf.

    Ali menjabat sebagai khalifah menggantikan Utsman bin Affan. Masa kekhalifahannya tidak lama karena hanya berjalan selama 5 tahun sebelum ia wafat.

    Menukil Pendidikan Agama Islam: Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII oleh Dr H Murodi MA, setelah Utsman bin Affan meninggal kaum muslimin merasa bingung seakan-akan kehilangan tokoh yang akan menggantikan beliau. Pada situasi itu, Abdullah bin Saba yang merupakan seorang pemimpin di Mesir mengusulkan agar Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah.


    Usulan tersebut lantas disetujui oleh mayoritas masyarakat muslim kecuali mereka yang berada di sisi Muawiyah bin Abi Sufyan. Ali bin Abi Thalib mulanya menolak usulan tersebut dan tidak ingin menerima jabatan karena situasinya kurang tepat. Kala itu banyak terjadi kerusuhan di berbagai tempat.

    Menurutnya, situasi demikian harus diatasi terlebih dahulu sebelum membicarakan masalah kepemimpinan. Namun, para pengikutnya kian mendesak Ali bin Abi Thalib sehingga ia menerima tawaran tersebut dan menjabat sebagai khalifah pada 23 Juni 656 M.

    Sejak saat itu, Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah menggantikan kedudukan Utsman bin Affan. Dijelaskan dalam buku Parlemen di Negara Islam Modern oleh Prof Dr Ali Muhammad Ash Shallabi, pada dasarnya pembaiatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah dilakukan oleh mayoritas masyarakat dan sebagian besar dari mereka memilih secara langsung .

    Masyarakat umum dan anggota dewan perwakilan berpartisipasi bersama-sama dalam pembaiatan tersebut. Alasannya karena Ali bin Abi Thalib menolak pembaiatan kecuali dilaksanakan di masjid secara terbuka dan di hadapan semua orang.

    Saat masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, ia meneruskan cita-cita Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Selain itu, ia juga mengembalikan semua kekayaan yang diperoleh para pejabat melalui cara-cara yang tidak baik ke dalam perbendaharaan negara atau Baitul Mal.

    Kemudian, Ali bin Abi Thalib juga bertekad mengganti semua gubernur yang ia anggap tidak mampu memimpin dan tidak disenangi masyarakat. Ia mencopot jabatan gubernur Basrah dari tangan Abu Bakar bin Muhammad bin Amr dan digantikan oleh Utsman bin Hanif.

    Mengutip buku Sejarah Peradaban Islam karya Akhmad Saufi dan Hasmi Fadhilah, Ali bin Abi Thalib merupakan sosok pemimpin yang berakhlak baik. Ia sering berkeliling hanya untuk menantikan siapa saja yang menghampirinya untuk meminta bantuan atau bertanya.

    Suatu ketika, pada siang yang terik Ali tiba di pasar. Sang khalifah mengenakan dua lapis pakaian, gamis sebatas betis, sorban melilit tubuhnya, dan bertumpu pada sebatang tongkatnya. Ali berjalan menyusuri pasar untuk berdakwah, mengingatkan manusia agar senantiasa bertakwa pada Allah SWT dan melakukan transaksi jual beli dengan baik.

    Dirinya memiliki kebiasaan berjalan ke pasar seorang diri. Umumnya ia menasehati orang yang tersesat, menunjukkan arah pada orang yang kehilangan, menolong orang yang lemah, serta menasehati para pedagang dan penjual sayur.

    Meski masa kepemimpinannya sebagai khalifah cukup singkat, ada sejumlah prestasi yang Ali capai. Salah satunya ialah memajukan bidang ilmu bahasa.

    Khalifah Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Aswad ad Duali untuk mengembangkan pokok-pokok ilmu nahwu, yaitu ilmu yang mempelajari tata bahasa Arab. Keberadaan ilmu nahwu diharapkan dapat membantu orang-orang non-Arab dalam mempelajari sumber utama agama Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadits.

    Pada bidang pembangunan Ali juga berhasil membangun Kota Kuffah secara khusus. Mulanya, kota tersebut disiapkan sebagai pusat pertahanan oleh Mu’awiyah bin Abi Sofyan, namun pada akhirnya Kota Kuffah berkembang sebagai pusat ilmu tafsir, hadits, nahwu, dan ilmu pengetahuan lainnya.

    Ali bin Abi Thalib wafat pada Jumat, 17 Ramadhan tahun 40 Hijriah. Ia meninggalkan 33 anak yang terdiri atas 15 laki-laki dan 18 perempuan. Penyebab kematiannya ialah ditikam ketika hendak salat Subuh.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Burung Elang Hari Uhud yang Jadi Perisai Rasulullah


    Jakarta

    Burung elang hari Uhud adalah julukan salah satu sahabat nabi yang berperan besar dalam Perang Uhud. Ia tak gentar melawan musuh dan sigap melindungi Rasulullah SAW.

    Sosok yang menjapat julukan Burung elang hari Uhd adalah Thalhah bin Ubaidillah RA. Thalhah RA merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga.

    Lantas, bagaimana Thalhah RA bisa dijuluki dengan burung elang hari Uhud? Berikut kisahnya.


    Gelar Thalhah bin Ubaidillah

    Dirangkum dari buku Ensiklopedia Sahabat Nabi karya Muhammad Raji Hasan Kinas dan buku Al Akhbar Titisan yang Tertulis karya Tebyan A’maari Machalli, Thalhah bin Ubaidillah RA adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang berasal dari suku Quraisy keturunan Bani Tayyim. Thalhah RA termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga.

    Thalhah RA adalah pemuda yang berprofesi sebagai saudagar. Meski masih muda, Thalhah RA memiliki kelebihan dalam strategi berdagang. Ia sosok yang cerdik dan pintar, sehingga dapat mengalahkan pedagang-pedagang lain yang lebih tua.

    Rasulullah SAW memberikan gelar untuk Thalhah RA saat Perang Dzatil Asyirah, “Thalhah al-Fayyadh” yang artinya yang berlimpah kebaikan. Saat Perang Uhud, Rasulullah SAW memberikannya gelar “Thalhah al-Khayr” yang artinya pemilik kebajikan. Saat Perang Hunain, Rasulullah SAW juga memberinya gelar “Thalhah al-Jud” yang artinya sang dermawan.

    Keislaman Thalhah bin Ubaidillah

    Thalhah RA termasuk salah satu dari delapan orang yang lebih dulu memeluk Islam. Suatu ketika, Thalhah RA datang menemui Abu Bakar As Siddiq RA. Mereka saling bercerita. Setelah giliran Thalhah RA bercerita tentang pertemuannya dengan pendeta Bushra, Abu Bakar As Siddiq RA tercengang. Lalu Abu Bakar RA mengajak Thalhah RA untuk menemui Rasulullah SAW.

    Di hadapan Rasulullah SAW, Thalhah RA langsung mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika Thalhah RA dan al-Zubair RA memeluk Islam, Rasulullah SAW mempersaudarakan mereka di Makkah. Setelah hijrah ke Madinah, beliau mempersaudarakan Thalhah RA dengan Abu Ayyub al-Anshari RA.

    Banyak rintangan yang dihadapi oleh Thalhah RA setelah ia masuk Islam. Siksaan demi siksaan mulai mendera tubuh Thalhah RA. Bahkan ibunya sendiri mencaci makinya.

    Tak hanya itu, seorang lelaki Quraisy yang bernama Naufal bin Khuwailid menyeret dan mengikat Abu Bakar RA dan Thalhah RA dan mendorong mereka ke algojo sehingga darah mengalir dari tubuh mereka. Maka dari itulah mereka mendapatkan gelar “Al-Qarinain” yang artinya sepasang sahabat yang mulia.

    Dari banyaknya siksaan yang menimpa Thalhah RA, ia tetap mempertahankan dan menegakkan Islam. Hal ini menyebabkan Thalhah RA memiliki banyak gelar dan sebutan.

    Kisah Thalhah Dapat Julukan Burung Elang Hari Uhud

    Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, Thalhah RA mendapat kehormatan untuk menyertai mereka. Beberapa saat kemudian, Perang Uhud terjadi.

    Saat itu barisan kaum Muslimin terpecah belah dan kocar-kacir dari sisi Rasulullah SAW. Hanya sebelas orang Anshar dan Thalhah RA yang tersisa.

    Rasulullah SAW dan orang-orang yang mengawal beliau naik ke bukit, namun mereka dihadang oleh kaum musyrikin.

    Rasulullah SAW berseru, “Siapa berani melawan mereka, dia akan menjadi temanku kelak di surga.” Thalhah bin Ubaidillah RA berkata, “Aku Wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW kemudian menahannya dan berkata, “Tidak, jangan engkau, kau harus berada di tempatmu.”

    Salah satu prajurit Anshar berkata, “Aku wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW berkata, “Ya, majulah.” Kemudian prajurit Anshar itu maju melawan prajurit kafir. Pertempuran yang tak seimbang mengantarkannya menemui kesyahidan.

    Thalhah RA selalu menjadi orang pertama yang mengajukan diri, namun Rasulullah SAW menahannya agar untuk tetap ditempat. Hingga sebelas prajurit Anshar gugur menemui syahid dan tinggal Thalhah RA bersama Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW berkata, “Sekarang engkau, wahai Thalhah.” Kemudian dengan semangat jihad yang berkobar, Thalhah RA menerjang menyerang kafir agar tidak menghampiri Rasulullah SAW. Hingga tak sedikit orang kafir yang tewas.

    Ketika Abu Ubaidah bin Jarrah RA hampir sampai di dekat Rasulullah SAW, Rasulullah SAW memerintahkan untuk membantu Thalhah RA. Thalhah RA ditemukan tergeletak dan berlumuran darah. Tak kurang dari 79 luka bekas pedang, lembing, hingga panah.

    Kaum musyrikin mengira bahwa Rasulullah SAW telah tewas. Akhirnya mereka pergi meninggalkan medan perang.

    Kemudian Rasulullah SAW bersama Thalhah RA naik ke bukit di ujung medan pertempuran. Thalhah RA menciumi tangan, tubuh, dan kaki Rasulullah SAW seraya berkata, “Aku tebus engkau Ya Rasulullah dengan ayah ibuku.” Rasulullah SAW tersenyum dan berkata, “Engkau adalah Thalhah kebajikan.”

    Di hadapan para sahabat, Rasulullah SAW bersabda, “Keharusan bagi Thalhah adalah memperoleh…” Yang dimaksud Rasulullah SAW adalah memperoleh surga. Sejak peristiwa Uhud itulah Thalhah RA mendapat julukan “Burung elang hari Uhud.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Keteladanan Sahabat Nabi Umar bin Khattab dan Contoh Kisahnya


    Jakarta

    Selain meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW, umat Islam juga bisa mencontoh perilaku dan kebaikan para sahabat nabi. Salah satu sahabat nabi yang patut dicontoh adalah Umar bin Khattab RA.

    Umar bin Khattab RA adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang memiliki sikap bijaksana. Ia lahir pada tahun 581 M dari salah satu keluarga suku Quraisy, seperti dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam: Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII oleh Murodi.

    Ayah Umar bin Khattab RA bernama Nufail bin Abdul ‘Uzza Al-Quraisyi yang berasal dari suku Bani ‘Adi. Sedangkan ibunya bernama Hantamah binti Hasyim bin Mughairah bin Abdillah.


    Ketika Umar bin Khattab RA masih muda, ia dikenal sebagai pemuda yang gagah perkasa, tegap, dan pemberani. Setelah masuk Islam, sikap kerasnya mulai melemah apabila menghadapi sesama muslim. Namun masih bersikap keras bila menghadapi musuh.

    Banyak sekali sikap dan keteladanan Umar bin Khattab RA yang bisa dicontoh oleh kaum muslimin. Apa sajakah keteladanan tersebut?

    4 Keteladanan yang Dimiliki Sahabat Nabi Umar bin Khattab RA

    Ada sejumlah keteladanan yang dimiliki sahabat nabi Umar bin Khattab RA. Harjan Syudaha dan Fida’ Abdilah dalam bukunya yang berjudul Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah Kelas IX menyebutkan ia merupakan seorang pemimpin yang terkemuka.

    Sikapnya sangat pemberani dan tidak takut mati apabila harus membela sebuah kebenaran. Keteladanan Umar bin Khattab RA antara lain adalah sebagaimana berikut:

    • Sikap berani dan tegas dalam menegakkan kebenaran
    • Pandai dalam menyelesaikan perselisihan
    • Berani mempertaruhkan nyawa untuk membela kebenaran
    • Tegas dalam memisahkan antara yang hak dan yang batil

    Sahabat Umar bin Khattab RA ketika menjabat sebagai khalifah untuk umat Islam terkenal sebagai pemimpin yang meletakkan dasar-dasar demokrasi dalam Islam. ia sangat mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadinya.

    Dalam pemerintahannya, ia memilih pejabat yang benar-benar dapat dipercaya. Umar bin Khattab RA juga selalu membuka diri untuk menerima saran langsung dari rakyatnya.

    Kisah Keteladanan Umar bin Khattab RA

    Kisah keteladanan Umar bin Khattab RA pernah diceritakan oleh pelayannya yang bernama Aslam. Ia berkata bahwa suatu malam ia dan Umar bin Khattab RA keluar menelusuri Kota Madinah.

    Dari kejauhan, keduanya melihat ada segerombolan musafir yang kedinginan dan kemalaman. Keduanya pun segera menghampiri gerombolan musafir itu.

    Sesampainya di tempat musafir itu, betapa terkejutnya Umar bin Khattab RA dan Aslam melihat seorang perempuan bersama anak-anaknya yang menangis. Mereka duduk di depan sebuah periuk yang dimasak di atas api.

    Umar bin Khattab RA bertanya, “Apa yang terjadi?”

    Wanita itu menjawab, “Kami kemalaman dan kedinginan,”

    “Lalu mengapa anak-anakmu menangis?” tanya Umar bin Khattab RA lagi.

    “Mereka lapar,” jawab wanita itu.

    Umar RA heran sebab ia melihat wanita itu seakan-akan memasak di dalam sebuah periuk di depannya. Lalu mengapa anak-anak itu tetap menangis dan tidak segera diberi makanan di dalamnya.

    Namun, ternyata wanita itu berkata, “Di periuk itu hanya ada air, aku sengaja memasaknya agar mereka bisa tenang hingga tertidur. Allah akan menjadi hakim antara kami dan Umar.”

    Wanita tadi tidak tahu jika yang diajak berbicara adalah Umar bin Khattab RA. Lalu beliau berkata, “Semoga Allah merahmatimu, sedangkan Umar tidak mengetahui keadaanmu.”

    Wanita itu berkata, “Ia mengatur kami, memimpin kami, tetapi melupakan kami,”

    Tanpa pikir panjang, Umar bin Khattab RA langsung mengajak Aslam untuk pulang dan mengambil sekarung gandum dengan seember daging. Ia segera memberikan semua itu kepada wanita dan anak-anaknya tadi.

    Tak sampai di situ saja, Umar bin Khattab RA bahkan bersedia untuk memasakkan bahan makanan tadi untuk mereka sehingga mereka merasa kenyang dan aman.

    Wanita tadi lalu berkata kepada Umar bin Khattab RA, “Semoga Allah membalas kebaikanmu, sungguh engkau lebih mulia dibanding Amirul Mukminin (Umar bin Khattab RA).”

    Umar bin Khattab RA pun menjawab, “Bicaralah yang santun, jika engkau menemui Amirul Mukminin, Insyaallah engkau akan mendapatiku di sana.” Kemudian ia menjauhi wanita itu.

    Setelah wanita dan anak-anaknya tadi tertidur dalam keadaan perut kenyang, Umar bin Khattab RA pergi dari sana bersama Aslam. Ia pun berkata kepada pelayannya tersebut,

    “Wahai Aslam, sesungguhnya rasa lapar membuat anak-anak itu tidak bisa tidur dan menangis. Aku tidak akan pergi sebelum memastikan mereka sudah tidur dan tidak menangis lagi.”

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com