Tag: sahabat nabi

  • Kisah Masa Kecil Umar bin Khattab, Terlahir di Keluarga Bangsawan


    Jakarta

    Umar terlahir dengan nama lengkap Umar bin Khattāb bin Nufail bin abd al Uzza bin Rabah bin Abdullah bin Qursth bin Razah bin Adiy bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib Al-Quraisi Al Adawi. Umar bin Khattab lahir sekitar tahun 586 M.

    Nama lengkap ayahnya adalah Al Khattāb bin Nufail dan ibunya bernama Hatamah binti Hasyim bin Mughiroh.

    Kakek moyangnya Nufail bin Abd Al Uzza adalah seorang hakim, dimana orang Quraisy memercayainya untuk menyelesaikan berbagai sengketa yang terjadi di antara mereka. Ditambah lagi moyangnya Ka’ab bin Luay, adalah orang yang terpandang di kalangan bangsa Arab. Dari situlah di kemudian hari nanti Umar selalu mendapat posisi yang strategis di kalangan masyarakat Quraisy.


    Jika dirunut, nasab Umar bertemu dengan Nabi Muhammad dari Ka’ab dan Luay.

    Mengutip buku Jejak Langkah Umar bin Khattab oleh Abdul Rohim dijelaskan bahwa Umar kecil lahir di tengah keluarga bangsawan di Makkah.

    Umar Tumbuh Menjadi Anak yang Keras dan Tegas

    Sejak kecil Umar tumbuh seperti anak-anak Quraisy pada umumnya. Ia menghabiskan separuh perjalanan hidupnya dimasa Jahiliyah yang penuh dengan adat masyarakat yang tidak beradab.

    Umar juga dikenal sebagai anak yang suka belajar dan cerdas, dia tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab. Meskipun hidup di tengah keluarga yang kaya, Umar bukanlah anak yang suka bermewah-mewah.

    Umar juga terkenal mempunyai watak yang keras, hal ini karena pola asuh yang diterapkan sejak dini oleh sang ayah yang menempatkannya di dunia gembala. Di dunia inilah sosok Umar mulai terbentuk, mental

    kerasnya terbentuk dari perlakuan keras sang ayah yang mewariskan sikap-sikap keras dan tegas pada diri Umar.

    Diceritakan oleh Abdurrahman bin Hathib dalam suatu riwayat, “Suatu ketika, aku pernah bersama Umar bin Khattab di bukit Djanan. Umar bercerita, “Dulu, aku menggembalakan unta milik Al-Khattāb di tempat ini. Ia adalah orang yang kasar dan keras tutur katanya. Terkadang aku disuruh Al-Khattāb menggembala unta dan terkadang mengumpulkan kayu bakar.”

    Suatu hari ketika Umar bin Khattãb sudah menjadi seorang khalifah pun memori tentang perjalanan kecilnya yang keras sebagai seorang penggembala kambing ia ceritakan kepada kaum muslimin, dengan tujuan untuk mengukur dirinya sendiri.

    Muhammad bin Umar AI Makzumi merawikan dari ayahnya, ia bercerita “Suatu hari Umar mengumandangkan adzan shalat, setelah orang-orang berkumpul dan melakukan shalat berjamaah, ia naik ke atas mimbar. Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah dan shalawat kepada Nabi, ia menyampaikan kepada hadirin,

    “Wahai hadirin sekalian, tadi malam aku bermimpi menggembala kambing dan unta milik beberapa bibi dari Bani Mahkzum. Mereka memberi bekal segenggam kurma dan kismis. Aku masih mengenang masa lalu ku itu.”

    Setelah itu Umar turun dari mimbar. “Wahai Amirul mukminin mengapa Anda mencela dirimu sendiri?” kata Abdurahman bin Auf.

    Umar menjawab “Celakalah Anda wahai bin Auf! Sungguh aku telah mencoba melupakan kenangan itu, tapi hati kecilku berkata padaku, “Anda adalah Amirul mukminin, siapa lagi yang paling hebat selain diri Anda.” Karenanya maka aku ingin mengenalkan tentang jiwaku tentang hakikatku sebenarnya.”

    Dalam riwayat yang lain, Umar mengatakan, “Kutemui ganjalan dalam hatiku, maka aku ingin merasa kecil darinya.”

    Dari riwayat-riwayat tersebut tergambar jelas bahwa pekerjaan menggembala kambing dan unta yang keras telah menempa hidup Umar bin Khattab sehingga memunculkan sikap yang luhur yang dimiliki Umar, seperti bertanggung jawab, tegar dan berani menghadapi sesuatu.

    Pada masa Jahiliyah, Umar bin Khattab tidak hanya pernah menjadi seorang penggembala. Ia juga terampil dalam berbagai olahraga seperti berkuda.

    Di samping itu Umar juga ahli dalam menciptakan syair dan mendendangkannya. Ini sangat sesuai dengan budaya yang terkenal di jazirah Arab dengan keunggulan sastranya dan para penyairnya. Pada masa Jahiliyyah, Umar juga tidak bisa dilepaskan dengan budaya kesusastraan tersebut.

    Rasa ingin tahu yang tinggi serta minat belajar yang sejak kecil tertanam dalam diri Umar, memikat perhatiannya pada masalah sejarah dan urusan-urusan kaum Quraisy. Hal ini membuat Umar gemar mengunjungi pasar-pasar besar bangsa Arab seperti, pasar Ukazh, pasar Majannah, dan pasar Dzu Al-majaz.

    Kunjungannya ke berbagai tempat umum ini selain ia gunakan untuk mempelajari sejarah bangsa Arab, ia juga gunakan untuk berdagang dan mengetahui berbagai kejadian yang sedang terjadi, kontes pembangunan keturunan, dan persengketaan di antara suku.

    Dari sini juga Umar sering melihat persaingan antarsuku di Pasar Ukazh yang telah menyulut perang saudara selama empat kali.

    Umar Mahir Berdagang

    Di dunia perdagangan Umar tergolong sebagai pedagang yang sukses, ia meraih keuntungan yang sangat besar dari kunjungan dagangnya di berbagai tempat di jazirah Arab.

    Saat musim panas, Umar berdagang ke wilayah Syam, dan pada musim dingin ke daerah Yaman. Hal ini yang menghantarkan Umar menjadi salah satu orang terkaya dan terpandang di kota Makkah.

    Sebagai orang kaya di kota Makkah, Umar juga mendapatkan posisi strategis di tengah masyarakat.

    Umar juga dikenal sebagai orang yang adil dan mampu menyelesaikan konflik yang terjadi.

    Ibnu Sa’ad mengatakan, “Sebelum masa Islam, Umar sudah terbiasa menyelesaikan berbagai sengketa yang terjadi di kalangan bangsa Arab.” Selain menjadi orang yang dipercayai masyarakat untuk menjadi hakim, Umar juga sering dijadikan delegasi bagi suku Quraisy dan menjadi wakil dalam membanggakan keturunan mereka dengan suku-suku yang lainnya.”

    Ibnu Jauzi mengatakan “Umar bin Khattab menempati posisi sebagai duta atau delegator. Bila terjadi peperangan di antara suku Quraisy dengan suku-suku yang lain, maka mereka akan mengutus Umar sebagai delegasi yang menangani konflik di antara mereka. Mereka dengan suka rela mempercayakan urusan semacam ini kepada Umar.”

    Keterlibatan Umar yang memberikan kontribusi yang sangat signifikan di tengah masyarakat Quraisy membuat Umar sangat dicintai masyarakat Makkah. Dan sebaliknya Umar juga mencintai masyarakatnya. Sehingga apa pun yang menggangu kelangsungan kehidupan masyarakat, dia menjadi tokoh pertama yang akan membela dan mempertahankan apa yang sudah diyakini tersebut.

    Keteguhan Umar bin Khattab ini membuat proses dakwah pertama yang dilakukan Nabi Muhammad mengalami kesulitan. Umar menjadi salah satu tokoh yang paling semangat menentang agama Islam.

    Umar merasa khawatir terhadap kehadiran Islam pada saat itu, kalau merusak tatanan sosial, politik masyarkat Makkah yang sudah mapan. Bahkan Umar termasuk tokoh yang paling kejam menyiksa para pengikut Islam di awal keberadaanya.

    Kisah Kerasnya Umar Menentang Islam

    Sebelum mengenal dan memeluk Islam, Umar dikenal sebagai orang yang sangat menentang Islam dan Nabi Muhammad. Umar pernah memukul seorang hamba sahaya perempuan yang telah menganut agama Islam sampai kedua tangannya letih dan cambuk yang ia gunakan terjatuh dari tangannya.

    Ia berhenti memukul sahaya perempuan tersebut setelah ia mengalami kelelahan. Saat itu, Abu Bakar lewat dan melihat Umar sedang memukuli hamba sahaya perempuan tersebut. Abu Bakar kemudian membelinya dan memerdekakannya.

    Dari kisah ini dapat dilihat bahwa Umar adalah sosok orang yang sangat teguh dalam memegang pendirian dan mempunyai watak yang kasar. Apalagi di dalam situasi
    masyarakat yang Jahiliyah saat itu yang penuh akan kerusakan moral tidak tahu akan perbuatan yang haq dan yang batil, membuat Umar nampak sebagai seorang yang sangat kejam dan tidak punya perasaan.

    Setelah menerima hidayah dan akhirnya masuk Islam, Umar menjadi pembela Islam yang sangat loyal, dan pengetahuan yang didapatkan dari ajaran Islam tentang akhlak yang baik membuat Umar menjadi sosok yang bisa membedakan akan kebenaran dan
    kebatilan. Sehingga Umar dijuluki sebagai Al-Faruq yang artinya sang pembeda.

    Setelah memeluk Islam, Umar menjadi salah satu sahabat setia Rasulullah SAW. Hingga pada akhirnya Umar bin Khattab terpilih menjadi Khalifah pada 634 hingga tahun 644. Ia menjadi Khulafaur Rasyidin kedua menggantikan Khalifah Abu Bakar.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Abdullah bin Ubay, Sosok Munafik di Zaman Rasulullah SAW



    Jakarta

    Abdullah bin Ubay adalah sosok yang secara lisan mengaku beriman kepada Allah SWT, namun sebenarnya ia adalah orang munafik. Abdullah bin Ubay hidup di zaman Rasulullah SAW dan kisahnya menjadi salah satu sebab turunnya ayat dalam Al-Qur’an.

    Allah SWT melaknat orang yang berbuat munafik, hal ini tercatat dengan tegas dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Salah satunya dalam surat At Taubah ayat 68 yang berbunyi,

    وَعَدَ اللّٰهُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚوَلَعَنَهُمُ اللّٰهُ ۚوَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيْمٌۙ


    Artinya: Allah telah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka. Bagi mereka azab yang kekal.

    Rasulullah SAW pun tegas memperingati kaum muslimin untuk menjauhi sifat munafik. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu yang mengutip sabda Rasulullah SAW,

    أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا ، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

    Artinya: “Ada empat tanda, jika seseorang memiliki empat tanda ini, maka ia disebut munafik tulen. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: jika diberi amanat, khianat; jika berbicara, dusta; jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi; jika berselisih, dia akan berbuat zalim.” (HR Muslim)

    Abdullah bin Ubay Sosok Munafik

    Banyak riwayat yang menceritakan tentang kisah Abdullah bin Ubay yang dikenal sebagai sosok munafik.

    Merangkum buku Kisah Orang-orang Sabar oleh Nasiruddin S.Ag. MM, disebutkan bahwa Abdullah bin Ubay tercatat sebagai gembong munafik generasi pertama. Secara lisan dia memproklamirkan diri sebagai penganut Islam, tapi secara batin ia amat benci dan memusuhi Islam.

    Kebencian Abdullah bin Ubay kepada Nabi Muhammad SAW berawal dari faktor dendam.

    Sebelum Rasulullah SAW hijrah, suku Khazraj dan Aus sebenarnya telah sepakat menjadikan Abdullah bin Ubay sebagai penguasa Madinah, bahkan telah sempat dipersiapkan mahkota khusus untuk Abdullah bin Ubay.

    Namun akhirnya Abdullah bin Ubay tidak dinobatkan menjadi pemimpin Madinah. Harapannya menjadi raja tak jadi kenyataan, bahkan orang-orang meninggalkan serta tak mempedulikannya.

    Hal inilah yang kemudian membuat Abdullah bin Ubay merasa dendam. Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai biang keladi keterpurukan nasibnya.

    Dendam merasuk dalam hatinya. Berbagai upaya pecah belah dalam Islam telah dilakukan Abdullah bin Ubay, demikian juga dengan berbagai fitnah keji yang ditujukan pada Nabi Muhammad.

    Melihat fitnah yang terus menerus dilakukan Abdullah bin Ubay, sahabat Rasulullah SAW, Umar bin Khattab sempat minta ijin kepada Nabi untuk membunuhnya.

    Hal ini kemudian dilarang oleh Rasulullah, “Tak layak melakukan itu, karena orang akan berkata, Muhammad telah membunuh sahabatnya sendiri,” ujar Rasulullah SAW.

    Melihat sikap lunak Rasulullah SAW, Abdullah bin Ubay justru semakin gencar membuat kegaduhan.

    Pada perang Bani Mustaliq, Abdullah bin Ubay kembali melakukan adu domba. Hampir saja antara kaum Muhajirin dan Anshor muncul saling ketidakpercayaan.

    Melihat pengaruh buruk hasil rekayasa Abdullah bin Ubay, dapat dipahami jika sempat muncul isu bahwa Nabi Muhammad SAW akan menghukum mati si munafik ini.

    Kabar tersebut akhirnya terdengar oleh anak Abdullah bin Ubay yakni Abdullah bin Abdullah bin Ubay. Anak Abdullah bin Ubay ini tergolong anak yang saleh dan taat beragama. Ia sangat berbeda jauh dengan sang ayah yang munafik.

    Abdullah bin Abdullah bin Ubay mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta izin agar diperkenankan membunuh sang ayah.

    Kepada Nabi Muhammad SAW ia meminta, “Wahai Rasul, jika diputuskan bahwa ayah saya harus dihukum mati, saya mohon biarlah saya sendiri yang menjalankan eksekusi. Karena bila orang lain yang menjalankan, saya khawatir berdasarkan emosi kesukuan orang Arab dan sentimen keterikatan anak ayah, akan memunculkan dendam di hati. Bila hal itu terjadi, sangat mungkin dapat mendorong saya melakukan balas dendam yang menyebabkan hidup saya menjadi sia-sia.”

    Mendengar permintaan dari anak saleh itu, Rasulullah SAW tersenyum sembari menjawab, “Tak ada niat saya seperti itu. Saya akan berlaku lunak kepadanya.”

    Artinya, Rasulullah SAW sama sekali tidak berniat untuk membunuh Abdullah bin Ubay meskipun Beliau tahu orang ini tergolong munafik. Sikap agung tadi ternyata menumbuhkan simpati atas keluhuran budi Nabi Muhammad SAW.

    Sebaliknya, pada saat yang sama, celaan, cemoohan, dan cercaan makin gencar menimpa Abdullah bin Ubay, tokoh munafik kelas wahid ini.

    Ia menjadi sedemikian hina di mata umat Islam, sehingga tak seorang pun peduli kepadanya. Sehubungan dengan fakta ini, akhirnya Rasulullah SAW bicara kepada sahabatnya, Umar ibn Khattab,
    “Kamu pernah minta izin kepada ku untuk membunuhnya. Orang yang paling terpukul bila kala itu ia dibunuh, bahkan mungkin membelanya, pada hari ini justru telah menghinanya. Bahkan, bila Aku memberi perintah agar mereka membunuh ibn Ubay, niscaya mereka akan membunuh sekarang juga.”

    Sifat Munafik Tercatat dalam Al-Qur’an

    Golongan orang-orang munafik akan selalu ada di setiap zaman. Allah SWT telah mengingatkan umat Islam untuk menjauhi sifat munafik.

    Ajaran Islam mengecam keras sifat munafik tersebut. Salah satunya yang termaktub dalam surah At Taubah ayat 68,

    وَعَدَ اللّٰهُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚوَلَعَنَهُمُ اللّٰهُ ۚوَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيْمٌۙ

    Artinya: Allah telah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka. Bagi mereka azab yang kekal.

    Dalam buku Tokoh Yang Diabadikan Al-Qur’an 4 oleh Abdurrahman Umairah, dijelaskan orang munafik memiliki beberapa sifat dan tanda yang menunjukkan kemunafikannya, menjelaskan dirinya, mengarahkan pada hakikatnya, dan menjelaskannya.

    Allah SWT berfirman dalam surat Muhammad ayat 30

    وَلَوْ نَشَآءُ لَأَرَيْنَٰكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَٰهُمْ ۚ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِى لَحْنِ ٱلْقَوْلِ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَٰلَكُمْ

    Artinya: Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.

    Orang munafik adalah pengecut, karena itu dia menampakkan sesuatu dan menyembunyikan hal lain. Mereka mengaku puas dan menerima, tetapi menyembunyikan penolakan dan bantahan.

    Orang munafik juga termasuk penipu. Menipu merupakan salah satu sifat mereka dan tanda yang membedakan mereka dari yang lain. Orang munafik mengira dirinya pandai dan cerdas, padahal dia hanya memiliki kemampuan untuk menipu dan mengacaukan manusia.

    Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 9, Allah SWT berfirman,

    يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

    Artinya: Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Utsman bin Affan yang Dermawan, Rela Sumbang Sepertiga Biaya Perang Tabuk



    Jakarta

    Utsman bin Affan adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW. Beliau dikenal sebagai sosok yang kaya raya dan dermawan.

    Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya yang berjudul Biografi Utsman bin Affan menjelaskan silsilah Utsman bin Affan. Namanya adalah Utsman bin Afan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Abdi Manaf.

    Sang ibu bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabiah bin Habib bin Abd Syams bin Abdi Manaf bin Qushay. Nama ibu Arwa (nenek Utsman bin Affan dari jalur ibu) adalah Ummu Hukaim Al-Baidha’ binti Abdul Muththalib, saudara perempuan sekandung Abdullah bin Abdul Muththalib, ayah Rasulullah.


    Utsman bin Affan lahir pada 12 Dzulhijjah 35 sebelum Hijriah dari pasangan Affan bin Abi Al-Ash dan Arwa binti Kuraiz. Beliau lahir dari keluarga yang kaya dan terpandang.

    Selama memeluk agama Islam, Utsman bin Affan memiliki banyak peran, terutama dari harta dan kekayaan yang dimilikinya. Sebagai sosok yang dermawan, ia bahkan pernah membiayai Perang Tabuk.

    Dalam Sirah Nabawiyah susunan Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dikisahkan bahwa umat Islam akan berperang kala itu, namun ada kendala di keuangan karena dalam keadaan paceklik. Nabi SAW lalu bersabda,

    “Barangsiapa yang mendanai pasukan ‘Usrah, maka surga untuknya.”

    Mendengar hal tersebut, Utsman bin Affan lalu menyumbangkan hartanya. Tak tanggung-tanggung, sumbangannya itu mencakup 300 ekor unta, 50 ekor kuda, dan uang yang berjumlah 1000 dinar.

    Melihat itu, Nabi SAW bersabda:

    “Setelah hari ini, apa yang dilakukan Utsman tidak akan membuatnya menjadi melarat.” (HR Tirmidzi & Ahmad)

    Mengutip Al-Akhbar oleh Ir Tebyan A’maari Machali MM, nilai yang Utsman sumbangkan untuk Perang Tabuk sama seperti sepertiga biaya perang. Selain itu, ketika masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bahkan memberi gandum yang diangkut 1000 unta untuk membantu masyarakat miskin yang menderita di musim kering.

    Kemudian, kedermawanan Utsman bin Affan juga dibuktikan ketika kaum muslimin berhijrah dari Mekkah menuju Madinah. Saat itu, mereka kekurangan air dan hanya satu orang yang memiliki sumur yang mana seorang Yahudi.

    Orang Yahudi itu menjual air kepada masyarakat dengan harga yang sangat tinggi. Hal ini membuat kaum muslimin resah.

    Nabi Muhammad SAW lalu menyeru kepada sahabat untuk menyelesaikan hal tersebut dan dijanjikan minuman di surga. Seperti biasa, mendengar itu maka Utsman langsung menemui pemilik sumur dan membelinya.

    Ketika membeli sumur, Utsman bernegoisasi dengan orang Yahudi tersebut dengan harga 12.000 dirham. Syaratnya, kepemilikan sumur secara bergantian. Satu hari milik Utsman dan hari berikutnya milik orang Yahudi.

    Setelah sepakat, Utsman menyerukan kepada kaum muslimin untuk mengambil air sumur sebanyak mungkin ketika sumur itu dimiliki Utsman. Pada hari berikutnya di mana bagian orang Yahudi, tidak ada satu pun orang yang membeli air di sumur itu.

    Akhirnya, orang Yahudi itu merasa dirugikan dan menawarkan kepemilikan sumur secara keseluruhan untuk Utsman. Mendengar itu, Utsman setuju dan membayarkan lagi sebesar 8000 dirham.

    Ketika sudah sepenuhnya dimiliki oleh Utsman, maka sumur tersebut diwakafkan untuk kepentingan umat Islam.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Shuhaib bin Sinan, Sahabat Nabi yang Dermawan tapi Kaya Raya



    Jakarta

    Islam adalah agama yang berperan besar dalam mengubah dunia dari jaman jahiliyah menuju jaman yang terang benderang. Berbagai tokoh Islam juga memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran agama Islam.

    Di antara tokoh Islam tersebut adalah para Nabi utusan Allah SWT hingga para sahabat Nabi SAW. Salah satu sahabat Nabi yang berperan menyebarkan Islam adalah Shuhaib bin Sinan.

    Shuhaib bin Sinan adalah salah satu sahabat Nabi SAW yang selalu untung. Berikut kisahnya.


    Biografi Shuhaib bin Sinan

    Merujuk pada buku Ensiklopedia Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hasan Kinas, Shuhaib bin Sinan merupakan putra Sinan bin Malik dan Salma binti Qa’id. Orang tua Shuhaib adalah orang Arab tulen.

    Ketika kecil, Shuhaib bin Sinan dipanggil al-Rumi karena ia pernah ditawan oleh Bangsa Romawi. Sedangkan Rasulullah SAW memanggilnya Abu Yahya.

    Shuhaib merupakan seorang anak yang sangat dicintai dan disayangi orang tuanya. Keluarga mereka hidup damai di dekat Sungai Efrat.

    Kisah Shuhaib bin Sinan, Sahabat Nabi yang Selalu Untung

    Dirangkum dari buku Rijal Haula Ar-Rasul oleh Khalid Muhammad Khalid, bahwa pada suatu ketika, negeri yang menjadi tempat tinggal Shuhaib diserang oleh Romawi. Tak hanya menyerang, Romawi juga menawan sejumlah penduduk untuk dijual belikan sebagai budak, termasuk Shuhaib bin Sinan.

    Shuhaib bin Sinan adalah anak yang cerdas, rajin, dan jujur. Atas dasar itulah, majikannya tertarik dan memerdekakan Shuhaib bin Sinan. Majikannya juga memberinya kesempatan untuk berniaga bersamanya.

    Suatu ketika, Shuhaib bin Sinan dan Ammar bin Yasir pergi ke rumah Arqam. Mereka menuju ke sana dengan penuh keberanian dalam menghadapi bahaya.

    Shuhaib telah menggabungkan dirinya dengan kafilah orang-orang beriman. Pernah diceritakan keadaan yang membuktikan besarnya rasa tanggung jawabnya sebagai seorang muslim yang telah bai’at kepada Rasulullah SAW dan bernaung di bawah panji-panji Islam.

    Shuhaib bin Sinan menjadi pribadi yang keras, ulet, zuhud tak kenal lelah, hingga dengan bekal tersebut ia berhasil mengatasi berbagai peristiwa dan menjinakkan marabahaya. Ia selalu menghadapinya dengan keberanian yang luar biasa. Shuaib tak pantang mundur dari segala pertempuran dan bahaya.

    Ketika Rasulullah SAW hendak hijrah, kafir Quraisy mencegahnya. Shuhai terjebak dan terhalang untuk hijrah, sedangkan Rasulullah SAW dan sahabatnya berhasil lolos atas barkah Allah SWT.

    Shuhaib berusaha menolak tuduhan Quraisy dengan cara bersilat lidah. Hingga ketika mereka lengah, Shuhaib naik ke punggung untanya dan melarikan diri menuju Sahara. Mengetahui hal itu, Quraisy menyusulnya dan usaha mereka hampir berhasil.

    Shuhaib kemudian menawar Quraisy yang hendak menangkapnya dengan menunjukkan tempat penyimpanan harta bendanya dengan syarat Quraisy harus membebaskannya. Quraisy pun menerima tawaran itu.

    Setelah menunjukkan tempat hartanya disimpan, Quraisy membiarkan Shuhaib hijrah hingga berhasil menyusul Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah SAW sedang duduk dikelilingi beberapa sahabat, ketika dengan tidak diduga Shuhaib mengucapkan salamnya.

    Rasulullah SAW yang melihatnya berseru dengan gembira, “Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya! Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya!”

    Kemudian turunlah surah Al Baqarah ayat 207,

    وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ ٢٠٧

    Artinya: “Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari rida Allah. Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba(-Nya).”

    Memang, Shuhaib menebus dirinya yang beriman itu dengan segala harta kekayaannya. Shuhaib tidak merasa rugi sedikit pun karena hartanya tidak begitu berarti baginya.

    Di samping keshalihan dan ketaqwaannya, Shuhaib adalah seorang periang dan jenaka. Shuhaib juga merupakan sosok yang pemurah dan dermawan.

    Shuhaib membelanjakan tunjangannya dari Baitul Mal untuk di jalan Allah SWT. Uang itu ia gunakan untuk membantu orang yang kemalangan dan menolong fakir miskin dalam kesengsaraan.

    Ketika Umar bin Khattab RA dipilih sebagai imam salat kaum muslim, beliau memilih enam sahabat untuk mengurus pemilihan khalifah baru. Khalifah kaum muslimin biasanya menjadi imam dalam salat-salat mereka.

    Saat ruhnya yang suci hendak menghadap Allah SWT, Umar bin Khattab RA kemudian memilih Shuhaib bin Sinan RA sebagai imam kaum muslimin menunggu munculnya khalifah baru. Maka peristiwa ini merupakan kesempurnaan karunia Allah SWT terhadap hamba-Nya yang shalih, Shuahaib bin Sinan.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Utsman bin Affan Hendak Dibunuh Kaum Quraisy Sebelum Perjanjian Hudaibiyah



    Jakarta

    Utsman bin Affan pernah diutus Rasulullah SAW untuk mendatangi Makkah dan bertemu kaum Quraisy. Seruannya untuk mengajak pada perdamaian ternyata disambut dengan amarah yang membuat kaum Quraisy hendak membunuh Utsman.

    Utsman bin Affan adalah sahabat Rasulullah SAW yang dikenal setia serta berani membela ajaran Islam. Ia bahkan sama sekali tak gentar meskipun dirinya diancam untuk dibunuh.

    Mengutip buku 150 Kisah Utsman ibn Affan oleh Ahmad Abdul Al Atl-Thathawi dikisahkan bahwa Rasulullah SAW mengutus Utsman bin Affan untuk menghadapi kaum Quraisy dalam Perjanjian Hudaibiyah dan menyeru untuk menghindari peperangan. Rasulullah SAW memanggil Utsman dan berkata,


    “Pergilah kepada kaum Quraisy dan beritahu kepada mereka bahwa kita tidak datang untuk memerangi mereka, tetapi kita datang sebagai pengunjung Baitullah dan pengagung kehormatannya. Kita juga membawa hewan sembelihan. Kita akan menyembelihnya, kemudian pergi.”

    Peristiwa ini terjadi sebelum disepakatinya Perjanjian Hudaibiyah.

    Kaum Quraisy Mencoba Membunuh Utsman

    Mendengar perintah dari Rasulullah SAW, Utsman lantas pergi sendirian menyusuri perbatasan Tanah Haram, Makkah untuk menemui penduduk Makkah. Dengan berani Utsman melangkah tanpa rasa takut dan khawatir akan bahaya yang mengintainya.

    Di pesisir Makkah dan Lembah Baldah, Utsman bertemu dengan orang-orang bersenjata yang terdiri atas para ksatria Quraisy. Mereka hendak membunuh Utsman yang dianggap telah masuk ke wilayah Quraisy.

    Utsman hampir saja dibunuh jika tidak ada Aban ibn Sa’id ibn Al-Ash ibn Abi Al-Ash ibn Umayyah ibn Abd Syam yang memberikan jaminan kepada para petugas yang berjaga. Aban ibn Sa’id memberikan jaminan perlindungan bagi putra dari pamannya itu (Utsman bin Affan).

    Dia berseru, ” Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya Utsman berada dalam perlidunganku. Maka, biarkanlah Utsman!”

    Kedatangan Utsman Membawa Pesan Bagi Kaum Quraisy

    Utsman tiba di Baldah, sebuah daerah dekat Makkah. Di sana, ia bertemu dengan orang-orang Quraisy. Mereka lantas bertanya, “Hendak ke manakah kamu?”

    Utsman menjawab, “Rasulullah SAW telah mengutusku agar menemui kalian untuk menyeru kepada Allah dan Islam. Kalian semua hendaknya masuk agama Allah. Sebab, Allah pasti akan memenangkan agama-Nya dan memuliakan Nabi-Nya. Jika tidak, hendaklah kalian membiarkan kami. Lalu, urusan selanjutnya diserahkan kepada orang-orang selain kalian. Jika mereka berhasil mengalahkan Muhammad, itulah yang kalian inginkan. Namun jika Muhammad yang menang, kalian memiliki pilihan: apakah kalian masuk ke agama Islam atau kalian memerangi kami dengan jumlah kalian yang banyak dan lengkap. Padahal, sesungguhnya peperangan telah menyiksa kalian dan menghilangkan orang-orang terpilih di antara kalian.”

    Menurut Al Shalabi dalam buku berjudul Utsman bin Affan, Utsman terus berbicara kepada mereka tentang hal-hal yang sebenarnya tidak ingin mereka dengar. Kaum Quraisy lantas berkata, “Kami telah mendengarkan apa yang kamu ucapkan. Dan hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. Dia (Muhammad) tidak akan pernah memasuki Makkah dengan jalan kekerasan. Pulanglah kepada kawanmu itu. Beri tahukan kepadanya bahwa dia tidak akan pernah sampai kepada kami.”

    Utsman Membalas Kebaikan Abdullah ibn Sa’aad

    Usai menyampaikan pesan kepada kaum Quraisy, Utsman tidak pernah lupa dengan kebaikan Abdullah ibn Saad ibn Abi Al Sarh yang telah memberinya perlindungan dan menjaganya selama di Makkah.

    Ketika terjadi pembebasan Makkah, Abdullah ibn Sa’ad bersembunyi di rumah Utsman. Kemudian Utsman membawa dan mengantarkannya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, Abdullah telah berbaiat, lalu dia membatalkan baiatnya (keluar dari Islam).” Beliau pun melihat Abdullah tiga kali. Hal itu menunjukkan bahwa beliau tidak suka. Namun beliau membaiatnya kembali ke dalam Islam setelah melihatnya tiga kali.

    Setelah itu, beliau menghadap kepada para sahabat dan bertanya, “Tidakkah di antara kalian ada orang yang mengerti dan menghampiri orang ini untuk membunuhnya ketika aku tidak mengulurkan tanganku untuk membaiatnya?”

    Mereka menjawab, “Kami tidak mengetahui apa yang ada di dalam benakmu, wahai Rasulullah. Mengapa engkau tidak memberikan isyarat mata kepada kami?”

    Rasulullah menjawab, “Seorang nabi tidak patut memiliki mata yang berkhianat.”

    Abdullah ibn Sa’ad adalah salah seorang penulis wahyu. Namun, ia murtad dan melarikan diri ke Makkah. Karena itulah Rasulullah SAW menghalalkan darahnya untuk dibunuh.

    Merujuk pada buku Sejarah Kebudayaan Islam karya Fida Abdillah, akhirnya Rasulullah dan kaum Quraisy menyepakati Perjanjian Hudaibiyah. Situasi di Makkah menjadi aman dan tidak ada peperangan. Bahkan, pengikut Nabi Muhammad SAW yang pada awalnya hanya berjumlah 1.400 orang bertambah menjadi hampir 10.000 orang.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Sedekahkan Seluruh Harta Demi Kepentingan Agama



    Jakarta

    Selain Utsman bin Affan, Rasulullah SAW memiliki banyak sahabat dari golongan saudagar kaya. Abdurrahman bin Auf termasuk ke dalam salah satunya.

    Nama lengkap Abdurrahman bin Auf adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdu Manaf bin Abdul Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah Al-Qurassyi Al-Zuhri.

    Nasabnya bertemu dengan Nabi Muhammad SAW pada Kilab bin Murrah, sedangkan kinayahnya adalah Muhammad dan laqab-nya Al-Shadiq Al-Barr. Ibunya bernama Asy-Syifa binti Auf bin Abdu bin Al-Harits bin Zuhrah.


    Mengutip buku Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas XI karya H Aminudin dan Harjan Syuhada, Abdurrahman bin Auf lahir di Makkah 10 tahun setelah tahun Gajah. Usianya lebih muda dari Rasulullah SAW.

    Abdurrahman bin Auf adalah sosok yang rajin bersedekah. Ia bahkan terus menyumbangkan hartanya untuk menegakkan ajaran Allah SWT seperti disebutkan dalam buku Kisah 10 Pahlawan Surga karya Abu Zaein.

    Dalam kalangan masyarakat, Abdurrahman bin Auf disebut sebagai sosok yang sangat dermawan. Seluruh usahanya ditujukan untuk mencari ridha Allah SWT.

    Saat berdagang, dirinya selalu menjauhkan barang-barang yang haram hingga subhat. Keuntungannya tidak hanya ia nikmati sendiri, melainkan untuk sanak keluarga sekaligus perjuangan di jalan Allah SWT.

    Saking kayanya, penduduk Madinah mengatakan seluruh masyarakat di sana berserikat dengan Abdurrahman bin Auf. Dari hartanya 1/3 dipinjamkan kepada mereka, 1/3 membayari utang-utang mereka, dan 1/3 lainnya dibagi-bagikan kepada mereka.

    Bahkan ketika persiapan Perang Tabuk, umat Islam membutuhkan banyak perbekalan. Abdurrahman tanpa ragu membawa semua harta yang ia miliki dan disedekahkan demi kepentingan kaum musliimin.

    Rasulullah SAW pernah bertanya kepadanya, “Wahai Abdurrahman bin Auf, kenapa engkau infakkan seluruh hartamu? Lalu apa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu?”

    Dia menjawab, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan keluargaku yang jauh lebih berharga dari semua harta itu ya Rasulullah, yaitu Allah dan Rasul-Nya.”

    Disebutkan dalam buku The Great Sahaba oleh Rizem Aizid, Abdurrahman bin Auf dikenala sebagai seseorang yang selalu menepati janji. Bahkan ketika masa mudanya.

    Akhirnya, sosok Abdurrahman tumbuh menjadi seseorang bertoleransi tinggi terhadap sesama. Saking dermawan dan bijaksananya beliau, Nabi SAW berkata pada para sahabatnya mengenai Abdurrahman bin Auf,

    “Sesungguhnya yang akan menjaga kamu sekalian sepeninggalanku adalah Ash-Shadiq al-Bar (Abdurrahman bin Auf). Ya Allah, hidangkanlah minuman mata air surga kepada Abdurrahman bin Auf.”

    Setelah Rasulullah SAW wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan para istri Nabi SAW. Ia memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi Ummahatul Mukminin tersebut bila berpergian.

    Abdurrahman bin Auf bahkan membeli sebidang tanah dan membagi-bagikannya kepada Bani Zuhrah serta Ummahatul Mukminin. Ketika jatah Aisyah RA diberitahu, beliau bertanya,

    “Siapa yang menghadiahkan tanah itu buatku?”

    “Abdurrahman bin Auf,” jawab si petugas.

    Aisyah lalu berkata, “Rasulullah pernah bersabda, ‘Tidak ada orang yang kasihan kepada kalian sepeninggalku kecuali orang-orang bersabar,”

    Semakin banyak keuntungan yang diperoleh Abdurrahman bin Auf, semakin besar pula kedermawanannya dalam menyumbangkan harta di jalan Allah. Hal ini ia lakukan secara sembunyi maupun terang-terangan.

    Dalam buku Cara Meng-Upgrade Diri dengan Metode EnSQ Entrepreneur Spiritual Question oleh Bahrudin disebutkan bahwa kekayaan Abdurrahman bin Auf saat wafat berkisar Rp 6 triliun. Ia wafat di usia ke-72 tahun.

    Wallahu’alam bishawab.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Adzan Terakhir Bilal bin Rabah dan Kesedihan setelah Wafatnya Rasulullah



    Jakarta

    Adzan adalah panggilan suci yang mengajak umat Islam untuk menjalankan ibadah. Mengenai adzan, pasti umat Islam teringat akan kisah Bilal bin Rabah.

    Bilal bin Rabah adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal karena adzannya. Berikut kisah tentang adzan terakhir Bilal bin Rabah.

    Kisah Bilal Bin Rabah

    Dirangkum dari buku Biografi 60 Sahabat Rasulullah SAW oleh Khalid Muhammad Khalid, Bilal bin Rabah adalah seorang lelaki berkulit hitam, kurus, tinggi jangkung, berambut lebat, dan bercambang tipis. Ia merupakan seorang budak dari Habasyah milik beberapa orang dari Bani Jumah di Mekah.


    Bilal bin Rabah sering mendengar Umayah membicarakan Rasulullah SAW, hingga mengeluarkan kata-kata buruk yang penuh kebencian. Melalui pembicaraan mereka yang keras penuh kecaman itu, Bilal bin Rabah menangkap pengakuan mereka akan kemuliaan, kejujuran, dan amanah yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW.

    Bilal bin Rabah kagum dan penasaran terhadap agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Pada suatu hari, Bilal bin Rabah melihat cahaya Allah SWT dan mendengar suara-Nya di dalam relung jiwanya yang bersih. Ia pun bergegas menemui Rasulullah SAW dan memeluk Islam.

    Kabar keislaman Bilal terdengar hingga ke telinga majikannya dari Bani Jumah. Majikan Bilal merasa bahwa keislaman Bilal merendahkan kehormatan mereka semua.

    Mereka menyiksa Bilal dengan membaringkannya dalam keadaan telanjang di atas bara api agar ia melepaskan agamanya. Namun Bilal menolak keluar dari Islam dan tetap teguh menerima berbagai siksaan.

    Bilal bin Rabah mendapatkan siksaan yang kejam berulang setiap hari, hingga beberapa algojo kasihan kepada Bilal. Hingga pada akhirnya, Bilal pun dilepas dengan syarat agar ia menyebut nama-nama Tuhan mereka dengan sebutan yang baik.

    Bilal pun tetap menolak untuk mengucapkannya. Alih-alih mengucapkannya, Bilal menggantinya dengan senandung abadi yang ia ulang-ulang, “Ahad… Ahad…”.

    Ketidakmauan Bilal menyebut Tuhan mereka menyebabkan Bilal mendapatkan siksaan yang tiada henti. Saat Bilal sedang disiksa, Abu Bakar Ash-Shiddiq datang dan menawarkan harga pemerdekaan Bilal. Setelah menemukan kesepakatan, Bilal pun dijual kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq dan segera memerdekakannya saat itu juga.

    Abu Bakar kemudian membawa Bilal menghadap Rasulullah SAW sambil menyampaikan kabar gembira tentang kemerdekaan Bilal.

    Setelah Rasulullah SAW dan kaum Muslimin hijrah ke Madinah dan menetap di sana, beliau mensyariatkan adzan sebelum salat. Rasulullah SAW kemudian memilihnya menjadi muadzin Islam pertama dengan suara yang merdu dan indah.

    Perang Badar pun pecah. Pasukan Quraisy datang menyerang Madinah, dan Bilal berjuang dengan keras.

    Di tengah pertempuran yang hebat, Bilal melihat Umayah yang pernah menyiksa tubuhnya. Sekelompok kaum Muslimin mengepung Umayah dan putranya. Umayah pun meninggal karena tebasan pedang-pedang kaum Muslimin. Peperangan pun dimenangkan oleh kaum Muslimin.

    Tibalah saatnya Mekah ditaklukkan. Rasulullah SAW memasuki Mekah sambil bersyukur dan mengumandangkan takbir dengan puluhan ribu kaum Muslimin.

    Rasulullah SAW menyuruh Bilal bin Rabah untuk naik ke atas masjid dan mengumandangkan adzan. Bilal pun melaksanakan perintah Rasulullah SAW tersebut. Seluruh masyarakat pun terkejut dan terpukau dengan suara adzan Bilal.

    Adzan Terakhir Bilal bin Rabah

    Beberapa saat kemudian, Rasulullah SAW wafat. Urusan kaum Muslimin dipegang oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq.

    Bilal bin Rabah datang kepada Abu Bakar Ash-Shidiq dan berkata dengan air mata yang berlinang, “Sungguh aku tidak akan lagi mengumandangkan adzan untuk siapa pun sesudah Rasulullah.”

    Singkat cerita, Bilal bin Rabah bertekad untuk berjuang di jalan Islam. Suaranya yang merdu, lebut, dan menyentuh itu tidak lagi mengumandangkan adzan seperti biasa. Sebab, ketika ia mengucap kalimat “Asyahu anna Muhammadarrasulullah”, maka ia akan sedih karena ingat kepada Rasulullah SAW.

    Adzan terakhir yang ia kumandangkan adalah ketika Amirul Mukminin Umar berkunjung ke Syam. Ketika itu, kaum Muslimim meminta Umar agar membujuk Bilal untuk mengumandangkan adzan bagi mereka.

    Amirul Mukminin Umar pun memanggil Bilal ketika waktu salat tiba. Umar berharap kepada Bilal agar dirinya mau mengumandangkan adzan.

    Hingga pada akhirnya, Bilal bin Rabah naik ke menara dan segera mengumandangkan adzan. Para sahabat dan orang-orang yang mendengar suara adzan Bilal pun menangis. Umar adalah orang yang paling keras tangisannya di antara mereka.

    Wafatnya Bilal bin Rabah

    Bilal wafat di Syam sebagai seorang pejuang di jalan Allah SWT. Merujuk pada buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hasan Kinas, eberapa sejarawan memiliki perbedaan pendapat mengenai wafatnya Bilal bin Rabah.

    Sebagian mengatakan bahwa Bilal bin Rabah wafat di Damaskus dan dimakamkan di Bab al-Saghir. Sebagian lain mengatakan bahwa Bilal bin Rabah wafat di Halb Aleppo dan dimakamkan di Bab al-Arba’in.

    Bilal bin Rabah wafat tanpa meninggalkan keturunan seorang pun. Semoga Allah SWT merahmatinya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Kain Kafan Abu Bakar Ash Shiddiq, Baju Putih yang Sudah Lusuh



    Jakarta

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang pertama kali masuk Islam. Beliau sangat berjasa dalam memperjuangkan Islam.

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA memiliki beberapa kisah yang sangat penting dan menarik untuk umat Islam. Salah satunya yaitu kisah kain kafan Abu Bakar Ash Shiddiq.

    Kain kafan yang dipakai oleh Khalifah pertama ini tidak hanya sebuah kisah biasa, melainkan mengandung makna dan pelajaran untuk umat Islam.


    Kisah Kain Kafan Abu Bakar Ash Shiddiq

    Dirangkum dari buku Tarikh Khulafa oleh Ibrahim al-Quraibi, dalam Shahih al-Bukhari, dari Urwah bin Zubair, dari Aisyah RA yang menuturan bahwa ia masuk ke kamar Abu Bakar RA saat ajalnya sudah dekat.

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA bertanya, “Dalam berapa kafan kalian mengafani Nabi SAW?”

    “Tiga baju berwarna putih yang dipintal, tanpa gamis dan selendang,” jawab Aisyah.

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA kembali bertanya, “Pada hari apa Rasulullah SAW meninggal dunia?”

    “Hari Senin.”

    “Hari apakah ini?” tanya Abu Bakar RA lagi.

    Aisyah menjawab, “Hari Senin.”

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA berkata, “Aku berharap diriku wafat sebelum malam.”

    Kemudian, beliau melihat baju yang ia kenakan saat sakit itu. Ia melihatnya beroleskan minyak Ja’faran.

    Lantas, Abu Bakar Ash Shiddiq RA berkata, “Cucilah bajuku ini dan tambahlah dua baju lagi. Kafani aku dengan kedua baju itu.”

    Aisyah mengatakan, “Baju ini sudah usang.”

    Abu Bakar Ash Shiddiq menukasnya, “Orang yang masih hidup lebih berhak memakai baju baru daripada orang yang sudah mati. Itu hanyalah bekas muntah.”

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA meninggal dunia pada sore menjelang malam Selasa dan dimakamkan sebelum Subuh. (HR Bukhari).

    Ibnu Hajar menyatakan bahwa terdapat beberapa hikmah yang terkandung dalam hadits ini. Di antaranya yaitu dianjurkannya mengafani dengan menggunakan baju putih, menggunakan kafan tiga lapis, kebolehan mengafani dengan menggunakan baju yang dicuci, lebih mengutamakan orang hidup untuk memakai baju baru, menguburkan mayat di malam hari, keutamaan Abu Bakar RA dan kebenaran firasatnya, serta ketenangannya saat meninggal dunia.

    Meninggalnya Abu Bakar Ash Shiddiq

    Dirangkum dari sumber sebelumnya, Abu Bakar Ash Shiddiq RA menderita sakit panas selama 15 hari. Sakit tersebut diderita oleh Abu Bakar RA sejak hari ketujuh bulan Jumadil Akhir tahun 13 H.

    Selasa sore, delapan hari sebelum berakhirnya bulan Jumadil Akhir, Abu Bakar Ash Shiddiq menemui ajalnya. Beliau mengucapkan kalimat terakhir menjelang wafatnya, seperti yang termaktub dalam potongan surah Yusuf ayat 101,

    … تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ١٠١

    Artinya: “…Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.”

    Setelah dimandikan, jenazah Abu Bakar Ash Shiddiqh dikafani pada dua bajunya, sesuai dengan wasiatnya. Kemudian disalati dengan Umar bin Khathab RA sebagai pemimpinnya.

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA dimakamkan di malam hari di kamar Aisyah. Kepalanya ditempatkan di kedua pundak Rasulullah SAW.

    Menurut Ibnu Hajar, Abu Bakar Ash Shiddiq RA meninggal karena penyakit paru-paru. Namun pendapat lain menyebutkan bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq RA mandi saat musim dingin, kemudian beliau sakit panas selama 15 hari.

    Sedangkan dalam pendapat shahih dikatakan bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq RA diracun oleh orang Yahudi. Beliau wafat seperti umur Rasulullah SAW, yaitu dalam umur 63 tahun.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Ikrimah bin Abu Jahal, Musuh yang Jadi Sahabat Rasulullah SAW



    Jakarta

    Dalam melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyiarkan ajaran Islam, Nabi Muhammad SAW dibantu oleh para sahabat. Para sahabat tersebut setia mendampingi Rasulullah SAW, bahkan menyiarkan ajaran Islam setelah Rasulullah SAW wafat.

    Salah satu sahabat Rasulullah SAW bernama Ikrimah bin Abu Jahal. Ikrimah bin Abu Jahal merupakan salah satu sosok menarik dalam Islam.

    Kisah Ikrimah bin Abu Jahal

    Dirangkum dari buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hasan Kinas, Ikrimah bin Jahal berasal dari suku Quraisy keturunan Bani Makhzum. Ayahnya bernama Abu al-Hakam bin Hisyam atau Abu Jahal.


    Ikrimah dan ayahnya termasuk orang yang sangat memusuhi Islam dan kaum muslim. Mereka selalu mencari cara untuk menyakiti Nabi Muhammad SAW.

    Sesungguhnya Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan hak orang yang terzalimi. Allah SWT akan membalas orang yang berbuat zalim dengan pembalasan yang sangat pedih.

    Hal tersebut terbukti dalam Perang Badar. Allah SWT membalas kekejaman dan kezaliman kaum musyrik Quraisy atas kaum muslim.

    Ketika mendengar banyak pemimpin Quraisy terbunuh, Ikrimah berusaha mencari ayahnya. Namun, yang Ikrimah temukan yaitu jasad ayahnya tanpa kepala.

    Kematian ayahnya dan kekalahan Quraisy dalam Perang Badar membuat Ikrimah sangat berduka dan gelisah. Kemudian ia pergi menemui Shafwan dan berencana untuk membalas kaum muslimin.

    Dalam waktu singkat, mereka berhasil membangkitkan gairah kaum Quraisy untuk balas dendam. Sebanyak 3000 pasukan berhasil mereka kumpulkan.

    Mereka bergerak ke Madinah dan berhenti di perbukitan Uhud, peperangan pun berlangsung. Kaum muslimin saat itu menuju kepada kekalahan karena ketidakpatuhan pasukan pemanah terhadap perintah Rasulullah SAW.

    Dari sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan untuk membunuh buronan kafir Quraisy di Makkah. Namun Ikrimah berhasil melarikan diri dan meninggalkan Makkah dengan kapalnya.

    Namun badai menerjang kapalnya. Ketika Allah SWT menyelamatkannya dari badai tersebut, Ikrimah segera menemui Rasulullah SAW dan mengucapkan syahadat. Ketika kaum muslimin berhasil menaklukkan Makkah, Ikrimah merasa takut dan menyadari segala dosanya.

    Setelah menyatakan masuk Islam dan berhijrah ke Madinah, beberapa sahabat masih tidak dapat melupakan kejahatan Abu Jahal. Sebab itulah, ketika melihat Ikrimah berjalan-jalan di Madinah, Ikrimah mendapatkan perlakuan yang buruk.

    Mereka mencela Ikrimah berulang kali. Sebab tak tahan dengan celaan tersebut, Ikrimah pun mengadukannya kepada Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW menghiburnya dan berjanji untuk membujuk agar orang-orang tidak menyakitinya lagi.

    Tak lama kemudian saat Rasulullah SAW berkesempatan untuk khutbah, beliau mengatakan agar tidak menyakiti seorang muslim hanya lantaran orang tuanya kafir. Setelah itu, kaum muslimin mengakhiri celaan mereka terhadap Ikrimah.

    Ikrimah tumbuh menjadi muslim yang taat dan kukuh dalam keislamannya. Ia juga memiliki peranan penting dalam beberapa peristiwa.

    Pada masa Khalifah Abu Bakar As-Shidiq, Ikrimah diutus membawa pasukan menuju Aman untuk memerangi orang-orang murtad. Ikrimah bertempur dengan gagah dan berani. Setelah berhasil menumpas kemurtadan di Aman, ia berangkat menuju Syam untuk berjihad.

    Ikrimah bersama pasukan Khalid juga ikut serta memerangi pasukan Roma dalam Perang Yarmuk. Ketika perang usai dan perang dimenangkan oleh kaum muslim, mereka menemukan jenazah Ikrimah bin Abu Jahal di antara para syuhada.

    Abu Jahal gagal mengajak anaknya ke dalam neraka. Allah SWT berkehendak menempatkannya di tempat yang penuh dengan kebaikan yang abadi.

    Semoga Allah SWT merahmatinya. Aamiin.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Peninggalan Abu Bakar As Shiddiq ketika Wafat


    Jakarta

    Abu Bakar As Shiddiq RA merupakan sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW. Beliau juga menjadi orang pertama yang memeluk Islam setelah Nabi Muhammad SAW.

    Dalam memperjuangkan Islam, Abu Bakar As Shiddiq RA memberikan dedikasinya untuk menciptakan fondasi yang kokoh untuk umat muslim. Beliau juga memberikan beberapa peninggalan untuk umat muslim.

    Lantas, apa saja peninggalan Abu Bakar As Shiddiq RA? Berikut beberapa peninggalan Abu Bakar As Shiddiq RA.


    Biografi Abu Bakar As Shiddiq

    Dirangkum dari buku Jejak Langkah Abu Bakar Ash-Shidiq oleh Ari Ghorir Atiq, Abu Bakar As Shiddiq RA merupakan salah satu Khulafa’ al-Raasyidun (para pengganti yang mendapat bimbingan ke jalan yang lurus). Beliau juga merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW yang pertama kali masuk Islam.

    Abu Bakar As Shiddiq RA lahir pada tahun 572 M, keturunan Bani Taim, golongan Quraisy. Beliau terlahir dengan nama Abu Bakar Abdullah ‘Atiq bin Abi Quhafah Usman.

    Abu Bakar As Shiddiq RA terkenal memiliki kepribadian yang baik di antara Quraisy yang lain. Beliau memiliki sifat yang sabar, ramah, dan penuh dengan kasih sayang.

    Merujuk pada buku Fikih Sirah: Hikmah Tersirat dalam Lintas Sejarah Hidup Rasulullah SAW oleh Said Ramadhan Al-Buthy, Abu Bakar As Shiddiq RA wafat dalam usia 63 tahun, pada tahun ke-13 H tanggal 23 Jumada Al-Tsaniyah. Jasadnya dimakamkan di rumah Aisyah RA, di samping makam Rasulullah SAW.

    Peninggalan Abu Bakar As Shiddiq

    Dirangkum dari buku Jejak Langkah Abu Bakar Ash-Shidiq, Abu Bakar As Shiddiq RA tidak meninggalkan harta apapun. Sebagian harta yang dimiliki Abu Bakar As Shiddiq RA telah diberikan kepada Umar. Meski tidak meninggalkan harta, Abu Bakar As Shiddiq RA memiliki jasa yang sangat banyak bagi kepentingan Islam.

    1. Wafat Meninggalkan Empat Istri

    Ketika Abu Bakar As Shiddiq RA wafat, beliau meninggalkan beberapa istri, di antaranya:

    • Qatilah binti Abdul Uzai bin Abdul As’ad bin Nadhar bin Malik bin Hasal bin Amir bin Lu’ay. Anaknya bernama Abdullah dan Asma’ Dzat an-Nithaqain.
    • Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdul Syams bin Itab. Anaknya bernama Abdurrahman dan Aisyah.
    • Asma’ binti Umais bin Ma’ad bin Taim bin Harits al-Khats’amiyyah. Anaknya bernama Muhammad bin Abu Bakar.
    • Habibah binti Kharijah al-Anshariyyah. Anaknya bernama Ummu Kulstum.

    2. Peninggalan Berupa Baitul Mal

    Ketika Abu Bakar As Shiddiq RA masih hidup, beliau telah membangun Baitul Mal. Baitul Mal tersebut berada di daerah Sanah, dan ikut pindah ketika Abu Bakar As Shiddiq RA pindah ke Madinah.

    Di dalam Baitul Mal terdapat hasil penambangan dari para kabilah, di antaranya berasal dari penambangan Juhainah. Kas yang berada di dalam Baitul Mal tersebut digunakan Abu Bakar RA untuk diberikan kepada umat Islam dengan jumlah tertentu. Hal itu bertujuan untuk meratakan keadilan di seluruh rakyatnya.

    Kas Baitul Mal tersebut juga digunakan untuk membeli kuda dan peralatan perang lainnya. Tujuannya yaitu untuk melengkapi peralatan pasukan Islam. Sebelum musim dingin tiba, Abu Bakar As Shiddiq RA membeli selimut beludru yang ia bagikan kepada seluruh janda di Madinah.

    Beberapa hari setelah Abu Bakar As Shiddiq RA dimakamkan, Umar dan beberapa sahabat lainnya membuka Baitul Mal peninggalan Abu Bakar As Shiddiq RA. Mereka hanya menemukan uang satu dirham yang tersimpan di dalam karung yang biasanya digunakan untuk menyimpan harta.

    Mereka tidak menemukan apapun di dalamnya. Ternyata Abu Bakar RA benar-benar tidak ada urusan mengenai harta terhadap siapapun ketika beliau wafat.

    3. Peninggalan Berupa Unta

    Dirangkum dari buku Abu Bakar Al-Shiddiq: Khalifah Pembawa Kebenaran oleh Khalid Muhammad Khalid, Abu Bakar As Shiddiq RA mewasiatkan agar harta bendanya dikembalikan ke Baitul Mal, yaitu seekor unta. Unta tersebut dipergunakan untuk mengambil air, mangkuk yang digunakan untuk menampung susu perah ternak, serta sehelai kain yang digunakan ketika ada tamu yang berkunjung.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com