Tag: saham

  • Perbedaan Trading Saham dan Aset Kripto

    Tak seperti 10 tahun lalu, istilah trading kini tak lagi asing di telinga masyarakat umum, khususnya di bursa efek, untuk jual-beli saham. Dan kini dengan munculnya kelas aset baru, yakni aset kripto seperti Bitcoin, publik kian gemar dan dekat dengannya.

    Kemudahan akses untuk melakukan trading menjadi faktor pendukung dari berkembangnya metode ini. Tak sedikit orang yang bisa menghasilkan uang dengan jumlah banyak dengan melakukan trading.

    Salah satu situs yang bisa Anda kunjungi edusaham melakukan trading saham ataupun aset kripto. Di sini anda bisa mendapatkan edukasi saham serta kripto dan panduan dalam membuka rekening hingga melakukan transaksi.

    Trading kini semuanya bisa dikendalikan melalui smartphone maupun laptop pribadi. Anda tidak perlu ke kantor cabang sekuritas karena semuanya serba online saat ini.

    Bagi Anda yang belum mengenal trading, sebaiknya memahami seluk-beluknya. Ini dia!

    Apa Itu Trading?
    Pada dasarnya, trading merupakan kegiatan pertukaran barang, jasa maupun mata uang, bahkan aset. Pada zaman dahulu, trading juga dikenal dengan istilah barter, ketika manusia belum mengenal konsep uang sebagai standard transaksi.

    Sekarang trading lebih dikenal sebagai aktivitas menjual dan membeli instrumen investasi yang dapat dikendalikan dengan mudah.

    Seiring berjalannya waktu, trading saham dan aset kripto pun mulai mendominasi pasar. Hal itu tak lepas dari kemudahan aksesnya yang membuat siapa saja bisa memulai trading dengan modal yang minim.

    Trading juga diminati banyak orang, karena dapat memberikan keuntungan dalam jangka waktu yang pendek, berbeda dengan investasi yang lebih panjang.

    Namun seorang trader harus aktif melakukan perdagangan untuk menghasilkan keuntungan.

    Persentase keuntungan sangat dipengaruhi oleh keterampilan dari seorang trader. Trader bahkan harus mampu menganalisa mengenai waktu kapan membuka perdagangan dan menutupnya.

    Perlu diketahui, trading menjadi aktivitas perdagangan yang berisiko tinggi. Ketidakhati-hatian dalam melakukan trading dapat membuat uang Anda kacau.

    Terdapat dua jenis trading yang kini banyak digemari masyarakat, yakni trading saham dan aset kripto. Lalu apa perbedaan dari trading saham dan aset kripto sebenarnya?

    Perbedaan Trading Saham dan Aset Kripto
    Ada beberapa aspek yang menjadi dasar dari perbedaan kedua jenis trading tersebut. Untuk cara mendapatkan keuntungan, keduanya serupa, yakni dengan membeli di harga murah dan menjualnya di harga yang lebih mahal.

    Apa yang Diperdagangkan?
    Dalam trading saham, tentu yang diperdagangkan berupa saham dari perusahaan yang ada di bursa efek. Sementara trading aset kripto memperdagangkan aset kripto/mata uang kripto/cryptocurrency yang jenisnya sangat beragam mulai dari Bitcoin, Ether dan masih banyak lagi.

    Trader juga bebas melakukan perdagangan dengan aset lebih dari satu. Asalkan modal yang dimiliki cukup dan paham resiko dari aktivitas yang dilakukannya.

    Jam Perdagangan
    Perbedaan dari kedua jenis trading ini terlihat jelas pada jam perdagangannya. Kalau trading saham hanya bisa dilakukan pada 6 jam x 5 hari kerja saja.

    Waktu yang sedikit ini harus bisa dimanfaatkan trader untuk melakukan perdagangan sesuai analisa yang dilakukan.

    Sedangkan trading aset kripto, bisa dilakukan setiap hari, 24 jam, 7 hari sepekan, 365 hari, tanpa ada batasan waktu.

    Trader bisa melakukan perdagangan pada pagi maupun malam hari, bahkan saat weekend sekalipun.

    Keamanan
    Baik trading saham maupun aset kripto memiliki keamanan yang terjamin. Namun keamanan ini dijamin oleh pihak yang berbeda.

    Untuk keamanan trading saham dijamin oleh perusahaan sekuritasnya, bursa efek. Sementara aset kripto keamanannya bergantung dengan bursa yang digunakan, karena kebanyakan digelar oleh perusahaan swasta.

    Namun di sejumlah negara memiliki lisensi tertentu oleh pemerintah, demi menjamin keamanan dana nasabah.

    Namun tidak perlu khawatir soal keamanan saat melakukan trading, asalkan memilih tempat yang tepat.

    Perdagangan aset kripto di Indonesia misalnya diatur dan diawasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) yang bernaung di bawah Kementerian Perdagangan.

    Tempo Eksekusi Order
    Butuh waktu untuk melakukan eksekusi order ketika melakukan trading saham. Lamanya tergantung dengan antrian yang masih berlaku. Berbeda dengan trading aset kripto, eksekusi yang dilakukan akan diproses secara instan. Hal ini yang membuat banyak orang yang memilih trading aset kripto, karena jauh lebih cepat.

    Pembelian Dipindahkan Ke Broker Lain
    Pada trading saham, jika ingin memindahkan pembelian ke broker lain bisa dilakukan setelah T+3 dengan sejumlah biaya. Sedangkan pada trading aset kripto, bisa dilakukan dengan mudah tanpa syarat dan biaya, kendati sebagian mewajibkan syarat KYC (Know Your Customer), berupa data identitas diri, termasuk foto pengguna.

    Proses Pendaftaran
    Proses pendaftaran trading saham lebih rumit dan membutuhkan waktu yang lama. Trader tidak bisa langsung melakukan perdagangan setelah mendaftar.

    Berbeda dengan trading aset kripto, setelah mendaftar akun baru, Anda bisa melakukan deposit. Sedangkan untuk memulai jual dan beli, lazimnya harus melewati tahapan KYC, kecuali di bursa aset kripto berjenis peer-to-peer ataupun decentralized exchange.

    Itulah perbedaan trading saham dan trading aset kripto yang perlu dipahami. Keduanya memiliki risiko yang sama, namun tingkatannya tergantung kemampuan dari seorang trader.

    Resiko kerugian dapat ditekan dengan melakukan analisa terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.

    Baca Juga: Tokocrypto Resmi Perdagangkan Token SANDBOX (SAND)



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Terbukti Menang Melawan Saham, Emas, Minyak dan Dolar AS

    Sejak awal tahun 2020 hingga hari ini (year to date/ytd), Bitcoin mampu mengalahkan kinerja saham, emas, minyak dan indeks dolar AS. Ini mencerminkan sentimen positif terhadap Bitcoin sebagai kelas aset baru.

    Berdasarkan pantauan di MarketWatch siang hari ini, Bitcoin melejit hingga 50,63 persen sejak awal tahun (US$7.229 menjadi lebih dari US$10.800). Sedangkan Index Saham S&P 500 hanya mampu melaju di kisaran 2 persen. Sedangkan dalam tempo 30 hari masih minus 5,97 persen.

    Kinerja Bitcoin (BTC). Sumber: MarketWatch.
    Kinerja Indeks Saham S&P 500. Sumber: MarketWatch.

    Sementara itu indeks saham teknologi Nasdaq di rentang waktu serupa, cukup senang di 21 persen, dengan raihan minus 6,69 persen dalam 30 hari.

    Bagaimana dengan emas sendiri? Kendati emas mencetak imbal hasil bagus dalam setahun terakhir, yakni 24,01 persen, namun secara year to date, miring di 22,65 persen, sebagai akibat akumulasi koreksi cukup dalam setelah awal September 2020. Dalam 1 bulan saja emas terkoreksi hingga minus 5,49 persen.

    Kinerja Emas. Sumber: MarketWatch.

    Pasar minyak mentah tergolong sangat parah. Sejak awal tahun malah -34 persen. Minyak hanya tampak hijau dalam 3 bulan terakhir, yakni 4,93 persen.

    Dolar AS yang terbukti menguat selama beberapa pekan terakhir malah minus 1,88 persen sejak awal tahun. Dalam setahun saja minus 4,5 persen. Hal itu tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY).

    Kinerja Dolar AS. Sumber: MarketWatch.

    Indeks itu mengukur kekuatan dolar AS berbanding mata uang negara lain, yakni Euro (EUR), Yen (JPY), Poundsterling (GBP), Canadian dollar (CAD), Krona (SEK) dan Swiss Franc (CHF).

    Bitcoin Kalah Telak Berbanding Ether (ETH)
    Bitcoin memang cukup senang dengan capaian itu dibandingkan dengan aset tradisional lain. Namun di ranah aset kripto sendiri, kinerja Bitcoin (BTC) kalah telak dengan rivalnya, Ether (ETH), walaupun BTC masih terbaik dari segi kapitalisasi pasarnya yang masih nomor wahid.

    Ether sangat kuat hingga 181,91 persen sejak awal tahun (naik dari US$131,52 menjadi US$362,11). Dalam tiga bulan saja Ether terbang 57,25 persen dan selama setahun mencapai 111,79 persen!

    Pengguna Bitcoin Cs Bertambah
    Cambridge Centre for Alternative Finance di Universitas Cambridge, Inggris menyebutkan bahwa pengguna Bitcoin Cs (aset kripto) secara global saat ini mencapai 101 juta. Angka itu naik 189 persen berbanding tahun 2018, yakni 35 juta “unique users”. Pengguna dari kalangan institusi masih kecil.

    Hal itu tertuang dalam laporan hasil survei “3rd Global Cryptoasset Benchmarking Study” sepanjang 71 halaman. Survei digelar pada Maret-Mei 2020 dan laporan diterbitkan beberapa hari yang lalu. Mayoritas responden adalah dari kawasan Asia Pasifik dan Eropa.

    “Pada tahun 2018, berdasarkan survei edisi pertama jumlah pengguna aset kripto sekitar secara global mencapai 35 juta. Jumlah itu berdasarkan identitas pengguna yang terverifikasi di sejumlah bursa aset kripto dan penyedia layanan sejenis. Sedangkan pada survei ke-3 ini pengguna mencapai 101 juta di 191 juta akun,” sebut Cambridge dalam laporan itu.

    Menurut mereka, peningkatan pengguna sebesar 189 persen itu berdasarkan peningkatan jumlah akun (yang meningkat 37 persen), serta bagian akun yang lebih besar
    dikaitkan secara sistematis dengan identitas individu.

    Baca Juga: Mengenal Smart Contract



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Mengapa Harga Bitcoin Relatif Lekat dengan Pasar Saham?

    Beberapa pekan terakhir laju gerak harga Bitcoin relatif lekat dengan pasar saham. Pertanyaan pun membuncah, apakah Bitcoin adalah aset berisiko atau aset penyimpan nilai (store of value)?

    Padahal secara historis publik mengamini bahwa Bitcoin selayaknya emas sehingga ia disebut sebagai store of value asset seperti emas. Namun, yang terjadi sebaliknya, yang disebut sebagai karakter “cointegrated” karena tidak berbanding terbalik dengan pasar saham.

    Hal itu disebut oleh PlanB, nama samaran yang merancang model “Bitcoin Stock to Flow“. Katanya, Bitcoin dan pasar saham (indeks S&P 500) memiliki korelasi hingga 95 persen.

    Di atas kertas, korelasi itu terjadi ketika dua aset (Bitcoin dan saham) bergerak bersama-sama, baik secara positif (naik) atau negatif (turun). “Cointegrated” mengukur penyebaran harga jangka panjang antara dua aset, yaitu kedua aset akhirnya kembali ke penyebaran historisnya meskipun ada pelebaran berkala.

    Christopher Brookins di Forbes menyebutkan Bitcoin dan S&P 500 secara historis terkointegrasi. Ini menyiratkan bahwa Bitcoin adalah aset berisiko yang diuntungkan dari faktor makro dan moneter yang sama yang mendorong pasar modal, dalam penyebaran historisnya.

    “Namun, memperpendek dataset pengujian ke beberapa tahun terakhir, kami tidak mendapati adanya kointegrasi itu. Pada secara statistik sangat lemah. Satu penjelasan yang mungkin untuk ini adalah bahwa Bitcoin secara historis berperilaku sebagai aset berisiko, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin telah mulai beralih ke penyimpanan aset bernilai. Validasi lebih lanjut untuk hipotesis ini adalah analisis antara emas (GLD) dan S&P 500 yang tidak menunjukkan kointegrasi dan hubungan yang juga lemah,” sebut Brookins.

    Namun, Brookins beranggapan Bitcoin bisa berperilaku sebagai store of value asset, jikalau Bank Sentral AS alias The Fed mengalami kegagalan struktural dalam kebijakan moneternya (money printing), seperti yang terjadi di Jepang. [Forbes/red]

    Baca Juga: Bitcoin Disebut Lebih Popular Daripada Bank-Bank Besar 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin dan Saham Kembali Bangkit Seiring Perekonomian AS yang Melambat

    Senin, 30 Maret 2020 terbukti menjadi hari yang mengejutkan untuk harga Bitcoin. Aset digital menguat pada 12,73% menjadi $ 6.599 sebelum kembali turun ke $ 6.380 beberapa jam kemudian.

    Meskipun berita surat dari AS mencapai 3.000 kematian akibat pandemi Covid-19 dan hari cuti besar-besaran 500.000 pekerja, beberapa pasar menunjukan peningkatan pada Senin kemarin. Indeks S&P 500 menguat pada 3,35% sementara Dow dan Nasdaq masing-masing naik 3,19% dan 3.62%.

    Sebagaimana dibahas pada analisis baru-baru ini. Harga Bitcoin diprediksi akan naik kembali ke level $ 6.200 untuk menghindari level yang pernah diduduki pada $ 5.870. Posisi $ 6.200 menempatkan harga di atas penurunan nilai trendline dan level 23.6% pada Fibonacci retracement.

    Sebelumnya pada hari yang sama, kontributor Cointelegraph Michaël van de Poppe menyarankan bahwa sekali berada pada level harga $ 6.200. Hal tersebut dapat dengan cepat menaikan harga ke nilai $ 6.600 dan trader akan mencatat pemotongan harga hari ini melalui celah volume dari kisaran $ 6.250 – $ 6.590 dalam indikator VPVR.

    Baca juga: WHO Nyatakan COVID-19 Sebagai Pandemi, Crypto dan Saham pun Anjlok

    Resistensi Bitcoin dan Saham

    Meskipun pada Senin ini keuntungan yang didapatkan mengesankan. Van de Poppe percaya bahwa di bawah $ 6.900 harga Bitcoin akan tetap dianggap turun dan dia mengharapkan harga dalam menghadapi resistensi yang kuat begitu $ 6.600 tercapai.

    Menurut van de Poppe, “skenario pertemuan bull/bear ada di sekitar area $ 6.600” dan dia lebih lanjut menjelaskan bahwa momen ketika area $ 6.600 tidak terpenuhi dan celah CME ditutup. Tekanan lebih lanjut pada penurunan harga diperkirakan akan terus terjadi.

    Dorongan terhadap nilai di atas $ 6.900 tidak akan selalu menjadi obat untuk semua penurunan harga Bitcoin karena terdapat simpul VPVR dengan volume tinggi yang bekisar pada $ 7.200 dan level ini diharapkan berfungsi sebagai resistensi yang kuat.

    Setelah di atas angka $ 7.200, trader akan menetapkan target mereka pada $ 8.000 di mana pergerakan rata-rata berada pada 50 dan 200 hari situasi saat ini.

    Mayoritas dari 10 altcoin teratas juga menunjukan peningkatan moderat karena harga Bitcoin melonja ke $6.600. Ether (ETH) mencatat kenaikan pada level 3,57% sementara Bitcoin SV (BSV) dan Binance Coin (BNB) nilainya bertambah ke level 9,66% dan 5,50%.

    Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan saat ini mencapai $ 180,7 Miliar dan tingkat dominasi Bitcoin pada 65,2%.

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Saham Mungkin Ambruk Lagi, Bitcoin Bisa Melindungi

    Menurut Simon Peters, Analis Pasar di eToro, dengan Bitcoin jatuh kembali di bawah US$5 ribu hari ini, itu adalah titik terendah dalam hampir setahun. Namun, ketika saham mungkin ambruk lagi, Bitcoin bisa jadi pilihan untuk melindungi nilai uang para investor.

    “Bitcoin telah jatuh di bawah US$5 ribu lagi, turun 9 persen untuk hari ini. Ini adalah titik terendah dalam hampir setahun. Aset kripto besar lainnya juga senasib, Ether (ETH) turun 16 persen di US$107 dan Ripple (XRP) tak berdaya di US$0,135,” kata Peters dalam keterangannya melalui e-mail beberapa menit yang lalu.

    Bagi Peters, di beberapa segi, pasar aset kripto tampaknya berkorelasi dengan dinamika pasar tradisional. Dow Jones, S&P 500 dan pasar berjangka Nasdaq semua jatuh tadi malam, setelah The Fed memangkas suku bunga mendekati nol dan meluncurkan pelonggaran kuantitatif senilai US$700 miliar. Langkah itu dibuat guna menstimulus ekonomi Negeri Paman Sam yang kian melemah.

    BERITA TERKAIT  Asal Muasal Lahirnya Logo Bitcoin

    “Saya berpendapat, ketakutan dan emosi yang lebih dominan saat ini, daripada ‘keserakahan’. Dengan stimulus seperti itu saja masih banyak yang sangat khawatir ekonomi global terhenti karena Covid-19. Pun lagi, dengan masih bertambahnya jumlah penderita Covid-19 di luar Tiongkok, kami belum melihat puncaknya. Jadi, khusus pasar saham, kemungkinan akan ada penjualan lebih lanjut yang akan terjadi,” tegasnya.

    Bitcoin Melindungi
    Di titik itu, pertanyaannya adalah ke manakah sentimen investor beralih? Menurutnya, mengingat jumlah stimulus yang besar itu masuk ke pasar dan dengan kemungkinan investor semakin banyak menjual sahamnya, sentimen investor kemudian dapat beralih ke aset yang bisa melindungi uangnya.

    “Pada titik ini mereka mungkin melihat aset yang memberikan lindung nilai terhadap inflasi, seraya mempertimbangkan kebijakan moneter AS terbaru itu. Saya pikir Bitcoin aset kripto lainnya yang berpotensi memberikan manfaat itu,” tegasnya. [red]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investor Saham, Tommy Yu: Bitcoin Bagus Sebagai Investasi Alternatif

    Tommy Yu, investor saham kawakan asal Indonesia mengakui potensi Bitcoinsebagai alat investasi masa depan. Katanya, Bitcoin saat ini masih dalam tahap sangat awal, selayaknya surat elektronik (e-mail) atau Internet ketika pertama kali muncul.

    “Menurut saya Bitcoin sebagai alat investasi yang bagus selain saham dan emas. Agar Bitcoin dapat berkembang, Bitcoin harus mendapatkan trust yang lebih besar dari para pendukung baru dan komunitasnya. Semakin banyak penerimaan dan kepercayaan terhadap Bitcoin, maka nilainya akan semakin naik. Menurut saya itulah tantangan bersama,” kata Tommy, pengasuh kanal Youtube JSXPRO ID ini kepada Blockchainmedia.id hari ini, Senin, (27/05).

    Menyinggung perihal cara trading Bitcoin, Tommy mengakuinya sangatlah mudah. Tapi, katanya, yang perlu diperhatikan adalah soal volatilitas harganya yang sangat tinggi.

    “Saya harus mengakui volatilitas harga Bitcoin itu sangat tinggi, bahkan melebihi saham. Kalau di saham ada batas atas dan bawah (autoreject). Sedangkan di kripto ini tidak ada batasan dan murni karena supply and demand. Kemudian dibandingkan dengan valas, terkadang volatilitas Bitcoin ini malah lebih ekstrem. Hal ini menurut saya wajar, sebab likuiditasnya yang jauh lebih kecil daripada perdagangan valas,” tegasnya.

    Namun demikian, Tommy menyebutkan, itu dikembalikan kepada risk tolerance masing-masing trader dalam memilih instrumen investasi.

    “Jika risk tolerance-nya rendah, mungkin lebih cocok di saham. Sedangkan jika risk tolerance-nya cukup besar, crypto trading bisa jadi alternatif,” ujarnya. [vins]



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Perbandingan Bitcoin, Emas dan Saham Tesla, Mana Lebih Unggul?

    Persaingan antara aset kripto Bitcoin (BTC) dan emas terus menjadi perdebatan. Namun, kini analis Bloomberg membandingkan Bitcoin dengan saham Tesla. Mana yang lebih unggul?

    Menurut ahli strategi komoditas utama Bloomberg, Mike McGlone, meyakini Bitcoin kemungkinan siap mengungguli emas. Ia mengatakan bahwa aset kripto unggulan saat ini empat kali lebih tidak stabil daripada emas atau logam kuning, yang sangat kecil dibandingkan dengan tahun 2018.

    Menurutnya, Bitcoin adalah “pesaing teratas” untuk emas dan dapat beralih ke versi beta yang lebih tinggi dan obligasi.

    Perbandingan Bitcoin dan emas. Sumber: Mike McGlone/Twitter.
    Perbandingan Bitcoin dan emas. Sumber: Mike McGlone/Twitter.

    Baca juga: Analisa: Market Kripto Kembali Tertekan jelang Data Inflasi AS Terbaru

    “Apa yang menghentikan Bitcoin dari naiknya versus Emas? Jam perdagangan 24/7 paling cair di dunia, Bitcoin, telah memperoleh status pada tahun 2022 sebagai indikator utama dan menurun dalam lingkungan risk-off, tetapi kripto mungkin sedang bertransisi menuju versi beta untuk lebih tinggi dari emas,” jelas McGlone.

    Bitcoin Vs Saham Tesla

    McGlone yang ahli strategi investasi juga membandingkan Bitcoin dengan saham Tesla, karena kedua aset tersebut sering dikelompokkan bersama oleh para analis sebagai permainan serupa pada teknologi inovatif.

    Menurut McGlone, harga BTC relatif terhadap TSLA mungkin sedang dalam proses pembentukan dasar.

    “Bitcoin mungkin turun vs Tesla – dengan harga sekitar 93x Tesla pada awal Desember, Bitcoin mungkin turun vs pembuat mobil. Grafik menunjukkan potensi rendah dalam rasio crypto-to-automaker di sekitar palung tahun 2020 dan koneksi penting: ukuran risiko hampir sama,” terangnya.

    Perbandingan Bitcoin dan saham Tesla. Sumber: Mike McGlone/Twitter.
    Perbandingan Bitcoin dan saham Tesla. Sumber: Mike McGlone/Twitter.

    Baca juga: Melihat Proyeksi Market Aset Kripto di Akhir Tahun 2022

    Kripto Bersinar

    McGlone yang telah membidangi sebagai ahli strategi komoditas menyerukan tahun depan 2023 akan menjadi waktu yang tepat untuk Bitcoin dan waktu pasar kripto bersinar, setelah lebih dari setahun mengalami tren penurunan.

    “Pengetatan suku bunga The Fed yang paling agresif dalam 40 tahun adalah alasan bagus untuk pasang surut makroekonomi, tetapi 2023 mungkin tentang aset mana yang muncul sebagai poros bank sentral.”

    “Jika mereka tidak beralih ke pelonggaran, dunia dapat miring lebih dalam ke resesi, dengan dampak untuk semua aset berisiko. Kasus dasar kami adalah untuk periode deflasi yang berkepanjangan, dengan pasar kripto, yang diukur dengan Bloomberg Galaxy Crypto Index, keluar lebih dulu,” pungkasnya.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Analisa Pasar: Market Kripto Kembali Tampil Ciamik, Apa Faktornya?

    Pergerakan market kripto pada perdagangan Selasa (18/10) pagi tampil baik. Sembilan dari 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar berada di zona hijau jika diukur dalam 24 jam terakhir.

    Menurut situs CoinMarketCap Selasa (18/10) pukul 10.00 WIB, nilai Bitcoin (BTC) menguat 1,69% di US$ 19.505. Sementara, nilai Ethereum (ETH) naik 2,45% ke US$ 1.329 di waktu yang sama.
    Altcoin lainnya juga kinerja apik, mulai dari XRP, Dogecoin (DOGE), Solana (SOL), dan Polygon (MATIC) masing-masing menanjak di waktu yang sama.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan saat ini investor tampak mulai bergairah masuk ke market kripto. Sentimen positif market kripto hari ini mayoritas dipengaruhi oleh kinerja apik dari indeks saham AS, utamanya indeks S&P 500 yang tumbuh (2,7%) dan Nasdaq (3,4%).

    “Saham-saham teknologi juga tumbuh positif, sehingga menjadi tolok ukur investor kripto untuk melakukan akumulasi dan selalu mengacu pada kinerja saham AS secara umum,” kata Afid.

    bitcoin dan saham
    Ilustrasi bitcoin dan saham.

    Baca juga: Analisa Market: Data Inflasi AS Tinggi, Kok Market Kripto Reli?

    Sentimen Makroekonomi

    Di samping itu, data makroekonomi akan relatif ringan minggu ini, tapi harus waspada dan mengamati data inflasi dari Inggris pada Rabu (19/10). Bank of England tercatat sudah enam kali mengeluarkan kebijakan kenaikan suku bunga secara berturut-turut untuk mengendalikan inflasi.

    “Meski pasar kripto terlihat menghijau, namun pergerakan harganya masih terlihat di rentang sempit, mengindikasikan bahwa investor sebenarnya belum bernafsu untuk berpandangan bullish, namun juga tak rela melihat nilai aset kripto melemah,” jelasnya

    “Kekhawatiran investor sekarang ini adalah potensi bank sentral AS, The Fed, untuk mengerek suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin di bulan depan.”

    Analisis Bitcoin

    Menurut Afid, jika ditinjau secara analisis teknikal, pelaku pasar juga menganggap bahwa kondisi pasar kripto saat ini, utamanya posisi harga BTC di kisaran US$ 19.000, adalah gerbang awal untuk melancarkan aksi akumulasi. BTC masih harus retest untuk kembali ke level psikologisnya di US$ 20.000.

    Sentimen negatif masih menghantui pelaku pasar kripto. Fear and greed index konsisten bergerak di bawah level 30 dengan kategori Extreme Fear. Belum adanya pemicu yang berhasil untuk merubah sentimen negatif tersebut menjadi salah satu faktor lesunya pergerakan harga saat ini.

    Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum.
    Ilustrasi aset kripto, Bitcoin dan Ethereum. Foto: Pixabay.

    Baca juga: Bank Indonesia: CBDC Dapat Atasi Hambatan Inklusi Keuangan

    “Pergerakan harga Bitcoin masih terseok-seok, level US$ 19.891 masih menjadi tahanan yang harus dilewati untuk kembali bergerak bullish. Apabila gagal, BTC kemungkinan akan breakdown kembali ke level US$ 19.264,” ungkapnya.

    Analisis Altcoin dan Ethereum

    Sementara, pergerakan harga Ethereum cenderung sideways. ETH masih usaha pullback ke harga US$ 1.430 yang merupakan level resistance terdekatnya. Breakout terhadap titik tersebut menjadi kunci untuk menarik sentimen pasar untuk mendorong pergerakan harga.

    Di antara seluruh jajaran aset kripto utama, Polygon (MATIC) menjadi primadona setelah nilainya terbang 7,14% dalam sehari terakhir. Pengumuman kemitraan Polygon dengan studio Web3 bernama SuperLayer, untuk meningkatkan pertumbuhan dari segmen game, budaya, dan investasi.

    Kemitraan ini menggarisbawahi upaya Polygon untuk mengejar peluang pertumbuhan dalam ekosistem Web3, sehingga disambut baik oleh investor dengan melakukan akumulasi.

    https://www.youtube.com/watch?v=AXsGbCXEgZg



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Warren Buffett Jual Saham US$ 13,3 Miliar, Hal Baik bagi Bitcoin & Kripto?

    Warren Buffett baru-baru ini menjual saham senilai US$ 13,3 miliar melalui perusahaan investasinya, Berkshire Hathaway. Langkah Warren Buffett ini menimbulkan kekhawatiran tentang dampak yang mungkin terjadi pada pasar kripto, termasuk Bitcoin.

    Buffett yang merupakan sosok investor legendaris dan CEO Berkshire Hathaway dilaporkan telah menjual saham senilai $13,3 miliar. Penjualan besar-besaran ini telah membuat para investor khawatir tentang kemungkinan dampak negatif pada Bitcoin dan aset berisiko lainnya.

    Berkshire Hathaway, perusahaan investasi yang dipimpin oleh Buffett, mengungkapkan penjualan saham besar-besaran dalam laporan keuangan terbarunya. Penjualan ini mencakup beberapa perusahaan teknologi dan keuangan, termasuk Apple, Bank of America, dan Wells Fargo.

    Langkah Buffet

    Ilustrasi investasi aset kripto
    Ilustrasi investasi aset kripto.

    Baca juga: 5 Aset Kripto dengan Potensi Kenaikan Terbaik di Minggu Ini

    Pada saat yang sama, Buffett juga mengurangi kepemilikan sahamnya di beberapa perusahaan lain, seperti Chevron dan General Motors. Langkah ini menunjukkan bahwa investor legendaris ini mungkin melihat gejolak di pasar keuangan dan mencari perlindungan dengan menjual saham-saham tersebut.

    Tidak hanya itu, Buffett juga telah mengurangi investasi Berkshire Hathaway dalam emas dan meningkatkan posisi tunai perusahaan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Buffett mungkin melihat adanya gejolak ekonomi yang lebih besar di depan.

    Bagi para investor Bitcoin dan aset berisiko lainnya, langkah Buffett ini bisa menjadi tanda peringatan. Selama bertahun-tahun, Buffett telah dikenal sebagai kritikus Bitcoin dan aset kripto lainnya. Namun, penjualan saham besar-besaran ini mungkin menunjukkan bahwa Buffett melihat adanya risiko di pasar secara keseluruhan, bukan hanya di sektor kripto.

    Meskipun demikian, tidak semua analis sepakat bahwa penjualan saham Buffett merupakan tanda buruk bagi pasar keuangan. Beberapa menganggap langkah ini sebagai taktik jangka pendek yang mungkin tidak memiliki dampak jangka panjang yang signifikan pada aset berisiko, termasuk Bitcoin.

    Tanda Baik atau Buruk?

    Ilustrasi investasi aset kripto.
    Ilustrasi investasi. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Lebih Akurat! Apa Itu Proof of Reserve dengan Merkle Tree & zk-SNARKs?

    Namun, para investor harus tetap waspada dan mempertimbangkan tindakan Buffett ini sebagai potensi tanda peringatan. Dalam situasi seperti ini, penting bagi para investor untuk mengelola risiko dengan cermat dan mempertimbangkan kemungkinan dampak negatif dari penjualan saham besar-besaran oleh Warren Buffett pada aset berisiko seperti Bitcoin dan kripto lainnya.

    Meningkatnya kemungkinan resesi global juga berisiko memberikan tekanan penurunan pada Bitcoin, dengan korelasi 100 minggu dengan Nasdaq mencapai level tertinggi sekitar 0,42%. Selain itu, analis Bloomberg Intelligence, Mike McGlone memperkirakan bahwa harga BTC kemungkinan akan menjadi indikator utama jatuhnya saham.

    “Bitcoin dapat mempercepat penurunan untuk aset berisiko — Jika yang terburuk belum berakhir untuk aset berisiko, Bitcoin dapat memimpin lebih rendah,” komentar McGlone dikutip Cointelegraph.

    Dalam jangka pendek, ada sedikit ekspektasi dari laporan Indeks Harga Konsumen AS pada 10 Mei tentang penurunan inflasi pada bulan April. Menurut survei Bloomberg, para ekonom memperkirakan CPI inti tetap tidak berubah di sekitar 5%, menunjukkan kenaikan suku bunga lebih lanjut.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pahami Perbedaan investasi Antara Saham dan Bitcoin

    Perbedaan investasi saham dan Bitcoin dapat kita lihat dengan jelas dari tingkat kesulitan, jangka waktu, pergerakan harga, pihak yang mengeluarkan instrumen dan satuannya. Untuk lebih mudah memahami perbedaan investasi saham dan Bitcoin, mari kita lihat terlebih dahulu apa itu investasi  dan bagaimana investasi di Indonesia.

    Secara umum investasi diartikan sebagai kegiatan menanam modal baik berupa uang atau aset berharga kepada suatu pihak atau benda dengan harapan investor mendapat keuntungan dalam kurun waktu tertentu. Terdapat beragam pilihan instrumen untuk melakukan investasi, seperti reksa dana, logam mulia, saham, dan bitcoin.

    Jumlah Investor yang Meningkat di Indonesia

    Per Januari 2023 terdapat peningkatan investor pasar modal yang tercatat di PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang telah menembus angka 10,48 juta investor. Angka ini menunjukan peningkatan sejumlah 33,28% dari bulan Januari 2022 dan meliputi investor saham, reksa dana, serta obligasi.  

    Instrumen Investasi yang Bisa Menjadi Pilihan di Indonesia

    Berikut instrumen investasi yang dapat disesuaikan dengan tujuan dan keadaan Anda:

    1. Reksa Dana

    Reksa dana menjadi salah satu instrumen investasi yang mudah dilakukan, karena bisa dimulai dengan modal yang kecil. 

    Mengacu pada Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 Pasal 1 Ayat (27), reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi atau pihak yang dipercaya untuk mengelola dana terkumpul.

    2. Logam Mulia 

    Instrumen yang satu ini sangat populer di kalangan masyarakat, karena harga logam mulia relatif meningkat dan tidak terpengaruh dari inflasi. Selain itu emas mudah dijual kapan saja apabila seseorang membutuhkan dana.

    3. Saham

    chart saham

    Saham merupakan bukti yang menunjukan seseorang memiliki bagian modal atas suatu perusahaan. 

    Sekarang banyak orang bermain saham, terlebih saham cocok digunakan sebagai investasi jangka panjang. Untuk mendapatkan keuntungan, pemegang saham akan mendapatkannya dari capital gain (kenaikan harga) dan dividen (pembagian keuntungan perusahaan).

    4. Bitcoin

    koin bitcoin

    Seiring perkembangan dunia digital, aset kripto yang satu ini menjadi instrumen investasi yang digemari oleh generasi milenial. Berdasarkan survei yang diadakan  Harris Poll pada 2019, 30% milenial lebih memilih investasi melalui bitcoin dari pada obligasi.

    Perbedaan Saham dengan Bitcoin

    Belakangan ini saham dan bitcoin menjadi instrumen investasi yang populer. Untuk melihat perbedaan saham dan bitcoin, mari kita bahas satu persatu:

    1. Tingkat Kesulitan untuk Memulainya

    Tingkat kesulitan untuk memulai investasi pada saham terbilang cukup rumit. Anda harus mendaftarkan diri kepada perusahaan sekuritas, menyiapkan dokumen pendukung untuk membuka rekening, dan Anda baru bisa memasukan modal ke dalam Rekening Dana Nasabah (RDN) serta mengunduh aplikasi untuk bisa memulai transaksi saham.

    Jika berbicara pada bitcoin, tingkat kesulitan untuk memulai investasinya terbilang mudah. Anda hanya perlu mendaftarkan diri pada platform exchange aset kripto yang saat ini sedang mengadakan free deposit serta free maker dan transfer fee dan Anda langsung bisa melakukan aktivitas investasi atau jual beli bitcoin.

    2. Jangka Waktu yang Berbeda

    Perlu diingat bahwa transaksi saham tidak bisa dilakukan sepanjang waktu. Bursa Efek Indonesia memberlakukan beberapa sesi untuk melakukan transaksi, seperti untuk perdagangan pasar reguler, Anda bisa melakukan transaksi pada hari Senin-Jumat pukul 09.00-11.30 (Sesi I) dan 13.30-14.49 (Sesi 2). 

    Hal ini tidak berlaku pada bitcoin. Anda bisa melakukan investasi bitcoin sepanjang waktu, yaitu 24 jam seminggu. Jadi, Anda tetap bisa berinvestasi bitcoin pada malam hari sekalipun selepas pulang kerja.

    3. Pergerakan Harga

    Meskipun pergerakan harga saham dan bitcoin dipengaruhi oleh beberapa faktor yang sama, seperti isu yang berkembang atau kinerja perusahaan itu sendiri, tetapi saham dan bitcoin memiliki perbedaan kecepatan. Pergerakan harga saham dinilai lebih lambat dibandingkan bitcoin yang pergerakan harganya cenderung fluktuatif.

    4. Pihak yang Mengeluarkan

    Saham dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Sedangkan bitcoin diciptakan oleh suatu sistem yang disebut blockchain, atas dasar kesepakatan supply (penawaran) dan demand (permintaan).

    5. Satuan yang Digunakan

    Dalam saham, satuan pembelian yang digunakan adalah lot. 1 lot sama dengan 100 lembar saham. Lain halnya bitcoin yang menggunakan satuan BTC dan Satoshi untuk satuan terkecilnya.

    Setelah mengetahui perbedaan saham dan bitcoin, Anda tetap harus mengedukasi diri dengan pengetahuan seputar instrumen yang akan dipilih, seperti cara kerja, resiko, dan keuntungannya.

    Selain itu, Anda juga harus memilih instrumen yang cocok dengan tujuan awal Anda, baik untuk investasi jangka pendek maupun jangka panjang. 

    Untuk memulai investasi bitcoin, Anda bisa memulainya di Tokocrypto karena telah terdaftar secara resmi di Indonesia! Segera kunjungi Tokocrypto di www.tokocrypto.com atau di media sosial kami @Tokocrypto.



    Sumber : news.tokocrypto.com