Tag: tether

  • Bangun Kredibilitas USDT, Tether Perkuat Transparansi Audit Penuh

    Tether, perusahaan di balik stablecoin USDT, tengah bersiap untuk meningkatkan transparansi dengan melakukan audit penuh terhadap cadangan asetnya.

    Berdasarkan laporan terbaru dari Cryptodnes pada Minggu (23/3), langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran mengenai kurangnya audit pihak ketiga yang sebelumnya menimbulkan pertanyaan tentang potensi krisis likuiditas serupa dengan kejatuhan FTX.

    Audit untuk Pastikan 1:1 Backing

    CEO Tether, Paolo Ardoino, menegaskan bahwa audit ini menjadi prioritas utama perusahaan.

    Ia optimis bahwa di bawah pemerintahan yang pro-kripto, seperti Donald Trump, perusahaan akuntansi besar akan lebih terbuka untuk bekerja sama dengan Tether.

    Sebelumnya, Tether telah melakukan laporan keuangan per kuartal, namun belum pernah menjalani audit tahunan independen secara menyeluruh.

    Dengan audit ini, diharapkan regulator dan investor mendapatkan kepastian lebih besar mengenai cadangan aset Tether yang diklaim selalu memiliki rasio 1:1 dengan jumlah token yang beredar.

    Pilihan Firma Akuntansi Besar

    Meskipun Ardoino belum mengungkapkan secara spesifik firma akuntansi mana yang akan dipilih, audit ini kemungkinan akan melibatkan salah satu dari empat perusahaan akuntansi terbesar dunia yang mengerucut pada PwC, EY, Deloitte, atau KPMG.

    Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan memperkuat klaim bahwa USDT didukung sepenuhnya oleh aset yang mencakup mata uang tradisional dan ekivalennya.

    Namun, beberapa pihak masih skeptis, termasuk Justin Bons, pendiri Cyber Capital, yang memperingatkan bahwa Tether belum memberikan bukti kuat atas cadangan sebesar $118 miliar yang diklaimnya.

    Tantangan Regulasi dan Kepercayaan Pasar

    Dalam upaya persiapan audit penuh ini, Tether telah menunjuk Simon McWilliams sebagai Chief Financial Officer (CFO) sejak awal tahun ini.

    Meski begitu, Tether masih menghadapi pengawasan ketat, terutama setelah dikenai denda sebesar $41 juta pada tahun 2021 karena dinilai menyesatkan regulator terkait cadangan asetnya.

    Lebih lanjut, kebijakan regulasi di Eropa semakin memperumit situasi, dengan beberapa bursa seperti Crypto.com terpaksa menghapus USDT dari platform mereka.

    Langkah Tether untuk melakukan audit penuh adalah bagian dari strategi perusahaan dalam meningkatkan transparansi dan menjaga kepercayaan investor serta regulator.

    Dengan meningkatnya tekanan dari berbagai pihak, hasil dari audit ini akan menjadi faktor penting dalam menentukan masa depan USDT di ekosistem kripto global.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tether Bekukan 27 Juta USDT di Bursa Kripto Rusia Garantex

    Tether, operator stablecoin USDT, telah membekukan dana sebesar 27 juta USDT di bursa kripto Rusia, Garantex.

    Sekadar informasi, Tether atau yang sering disebut dengan simbol USDT adalah mata uang kripto dengan token yang resmi dikeluarkan oleh Tether Limited berbasis di Hong Kong dan sekaligus dikendalikan oleh pemilik Bitfinex.

    Pembekuan dana tersebut mendorong Tether untuk menghentikan operasionalnya sementara waktu.

    Alasan Pembekuan USDT

    Dalam pernyataan resminya yang dikutip dari Ihodl, Garantex mengungkapkan, “Tether telah memasuki perang melawan pasar kripto Rusia dan memblokir dompet kami senilai lebih dari 2,5 miliar rubel ($27 juta/439 miliar).”

    Akibatnya, bursa tersebut telah menangguhkan seluruh layanannya, termasuk penarikan dana, sambil melakukan pemeliharaan pada situs webnya.

    Pembekuan dana ini terjadi setelah Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap Garantex pada 26 Februari lalu. Sanksi ini merupakan bagian dari paket ke-16 yang berkaitan dengan “perang agresi Rusia terhadap Ukraina.”

    Keputusan ini menambah tekanan terhadap bursa kripto yang beroperasi di Rusia, terutama yang telah masuk dalam daftar sanksi internasional.

    Tanggapan Tether

    Tether belum memberikan pernyataan resmi mengenai langkah ini. Namun, tindakan tersebut menunjukkan peningkatan pengawasan terhadap penggunaan stablecoin di bursa yang terkena sanksi.

    Sementara itu, komunitas kripto Rusia menanggapi keputusan ini dengan berbagai reaksi, termasuk kekhawatiran atas dampaknya terhadap likuiditas dan akses terhadap aset digital.

    Dengan situasi yang terus berkembang, masih belum jelas bagaimana Garantex akan menangani pembekuan dana tersebut serta dampak jangka panjangnya terhadap pasar kripto di Rusia.

    Pihak terkait di industri keuangan digital kini menunggu respons lebih lanjut dari Tether dan regulator terkait mengenai langkah selanjutnya.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tether Angkat Simon McWilliams sebagai CFO

    Tether, pemimpin di pasar stablecoin dengan valuasi mencapai $232 miliar, baru saja menunjuk Simon McWilliams sebagai Chief Financial Officer (CFO) yang baru.

    Menurut laporan Coinpaprika, langkah ini menandai komitmen perusahaan untuk meningkatkan transparansi dan memperkuat kepercayaan investor di tengah meningkatnya pengawasan regulasi.

    Simon McWilliams: Penggerak Transparansi Baru di Tether

    Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang manajemen dan audit keuangan, McWilliams ditugaskan untuk memimpin audit komprehensif atas cadangan keuangan Tether.

    Audit ini diharapkan dapat menjawab berbagai keraguan yang selama ini muncul terkait legitimasi dan transparansi aset yang mendukung USDT, stablecoin andalan Tether.

    Penunjukan McWilliams juga disertai dengan perubahan peran bagi Giancarlo Devasini, mantan CFO Tether, yang kini beralih menjadi Ketua perusahaan.

    Devasini akan berfokus pada strategi ekspansi yang lebih luas, termasuk memperkuat integrasi Tether ke dalam sistem keuangan AS serta mendorong adopsi aset digital secara global.

    Transparansi: Tantangan Lama yang Masih Menghantui

    Tether selama bertahun-tahun menghadapi skeptisisme mengenai kejelasan cadangannya. Perusahaan selama ini hanya memberikan laporan pengesahan triwulanan melalui firma akuntansi BDO. Namun, laporan tersebut dinilai masih kurang mendetail dibandingkan dengan audit keuangan menyeluruh.

    Skeptisisme ini semakin meningkat setelah Tether mencapai penyelesaian hukum pada tahun 2021 dengan Jaksa Agung New York, yang mengungkapkan bahwa perusahaan sempat salah mengartikan klaim bahwa USDT sepenuhnya didukung oleh dolar AS dalam rasio 1:1.

    Meski demikian, Tether telah berusaha meningkatkan transparansi dengan mengungkap bahwa 82,35% dari cadangannya berbentuk uang tunai, setara kas, dan surat utang jangka pendek, dengan hampir 80% di antaranya dalam bentuk surat utang pemerintah AS.

    Langkah Strategis Menuju Kepatuhan Regulasi

    Selain fokus pada audit, Tether juga tengah memperkuat landasan operasionalnya dengan memindahkan kantor pusatnya ke El Salvador. Langkah ini dilakukan untuk mendapatkan lisensi Penyedia Layanan Aset Digital (DASP), yang memungkinkan perusahaan memperluas operasinya ke sektor keuangan institusional dengan kepatuhan yang lebih baik terhadap regulasi global.

    Dengan kepemimpinan McWilliams, Tether berharap dapat menghilangkan keraguan publik dan memperkokoh posisinya sebagai pemimpin stablecoin yang terpercaya. Transparansi yang lebih besar, akuntabilitas yang lebih tinggi, serta kepatuhan terhadap regulasi akan menjadi faktor kunci dalam menentukan keberhasilan jangka panjang Tether di pasar yang semakin ketat.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tether Ungkap Kepemilikan Bitcoin $10 Miliar dan Cadangan Emas

    CEO Tether, Paolo Ardoino, mencuri perhatian dalam ajang Bitcoin 2025 dengan pengungkapan keuangan besar-besaran yang mempertegas posisi Tether sebagai pemain utama dalam ekosistem kripto global.

    Dilaporkan Coindoo, dalam presentasinya, Ardoino mengungkapkan bahwa perusahaan kini memegang lebih dari 100.000 Bitcoin, yang saat ini bernilai lebih dari $10 miliar, serta 50 ton emas sebagai bagian dari strategi cadangan mereka.

    Tak hanya itu, Tether juga mencatat keuntungan fantastis sebesar $13 miliar sepanjang tahun 2024. Sebagian besar laba tersebut berasal dari pendapatan bunga atas aset-aset cadangan yang mendukung USDT, stablecoin terbesar di dunia yang dipatok pada dolar AS.

    Bitcoin dan Emas: Bukan Lawan, Tapi Pelengkap

    Ilustrasi Bitcoin vs emas.
    Ilustrasi Bitcoin vs emas.

    Baca juga: Investasi $459 Juta Bitcoin, Tether Bikin Twenty One

    Menanggapi skeptisisme di kalangan komunitas Bitcoin terhadap kepemilikan emas, Ardoino memberikan klarifikasi yang lugas. Ia mengatakan bahwa meski banyak penggemar Bitcoin enggan membahas emas karena dianggap sebagai ancaman terhadap narasi dominasi BTC, Tether melihatnya secara berbeda.

    “Banyak penganut Bitcoin tidak suka membicarakan emas, seolah-olah emas mengancam BTC. Namun, emas tidak bersaing dengan Bitcoin. Emas bersaing dengan mata uang fiat, dan itulah mengapa kami menyukainya sedikit,” ujar Ardoino.

    Ia menegaskan bahwa strategi ini bukan bentuk penyimpangan dari kepercayaan pada Bitcoin, melainkan bagian dari pendekatan diversifikasi cadangan yang cermat. Ardoino bahkan menyebut Bitcoin sebagai aset yang “sempurna” dibandingkan dengan sifat emas yang “tidak sempurna”.

    Konsistensi Tether sebagai Raksasa Kripto

    Komitmen Tether dalam menyimpan cadangan Bitcoin dalam jumlah besar mencerminkan visinya sebagai penerbit stablecoin yang tidak hanya menjaga stabilitas USDT, tetapi juga terlibat aktif dalam ekosistem kripto secara menyeluruh. Penambahan emas ke dalam portofolio dinilai sebagai langkah pragmatis untuk menghadapi volatilitas ekonomi global, tanpa mengaburkan arah utama perusahaan yang tetap berpihak pada Bitcoin.

    “Bitcoin adalah masa depan. Emas hanya membantu kita menjembatani masa kini,” pungkas Ardoino.

    Dengan laporan keuangan yang transparan dan langkah strategis yang berani, Tether menegaskan dominasinya dalam industri—bukan hanya sebagai penerbit stablecoin, tetapi juga sebagai kekuatan keuangan yang visioner.

    Baca juga: Bangun Kredibilitas USDT, Tether Perkuat Transparansi Audit Penuh


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investasi $459 Juta Bitcoin, Tether Bikin Twenty One

    Tether, perusahaan di balik stablecoin USDT, baru-baru ini mengumumkan investasi besar senilai $459 juta dalam bentuk Bitcoin.

    Langkah ini bertujuan untuk mendirikan perusahaan baru bernama “Twenty One,” sebuah perusahaan treasury Bitcoin yang dirancang untuk menjadi perusahaan publik.

    Investasi ini mencerminkan strategi Tether dalam memperluas portofolio aset digitalnya dan memperkuat posisinya di pasar keuangan digital.

    Akuisisi Bitcoin oleh Tether

    Menurut pengajuan terbaru ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), Tether telah membeli 4.812,22 Bitcoin dengan harga rata-rata $95.319,83 per koin.

    Setelah proses ini selesai, kepemilikan Bitcoin tersebut akan dialihkan ke Twenty One, perusahaan baru yang dibentuk melalui merger dengan perusahaan akuisisi tujuan khusus (SPAC) milik Cantor Fitzgerald, yaitu Cantor Equity Partners.

    Baca Juga: Bangun Kredibilitas USDT, Tether Perkuat Transparansi Audit Penuh

    Strategi dan Kepemimpinan Baru

    Twenty One dirancang sebagai perusahaan treasury Bitcoin, dengan fokus pada pengelolaan dan pemanfaatan aset digital untuk tujuan keuangan dan investasi.

    Perusahaan ini akan dipimpin oleh Jack Mallers, pendiri dan CEO Strike, yang dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka dalam adopsi Bitcoin dan teknologi pembayaran berbasis kripto.

    Dengan kepemimpinan Mallers, Twenty One diharapkan dapat memainkan peran penting dalam integrasi Bitcoin ke dalam sistem keuangan tradisional.

    Dampak terhadap Pasar dan Komunitas Kripto

    Langkah Tether ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap Bitcoin sebagai aset strategis dan alat lindung nilai terhadap inflasi.

    Dengan mendirikan Twenty One, Tether tidak hanya memperluas eksposurnya terhadap Bitcoin tetapi juga menciptakan platform baru untuk integrasi aset digital ke dalam struktur keuangan yang lebih luas.

    Hal ini dapat mendorong adopsi institusional yang lebih besar terhadap Bitcoin dan memperkuat posisinya sebagai aset kelas utama.

    Maka dari itu, investasi $459 juta oleh Tether dalam Bitcoin untuk mendirikan Twenty One menandai langkah signifikan dalam evolusi perusahaan dan pasar kripto secara keseluruhan.

    Dengan fokus pada pengelolaan treasury Bitcoin dan dipimpin oleh tokoh berpengaruh seperti Jack Mallers, Twenty One berpotensi menjadi pemain kunci dalam integrasi aset digital ke dalam sistem keuangan global.

    Langkah ini juga mencerminkan tren yang berkembang di mana perusahaan-perusahaan besar semakin mengakui nilai strategis Bitcoin dalam portofolio keuangan mereka.

    Baca Juga: Tether Bekukan 27 Juta USDT di Bursa Kripto Rusia Garantex


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investasi $20 Miliar Tether Bongkar Sinyal Rahasia: Apa Itu?

    Tether, penerbit stablecoin USDT, tengah menjadi sorotan besar setelah muncul kabar bahwa raksasa investasi seperti SoftBank dan ARK Investment Management mempertimbangkan untuk menanamkan modal dalam proyeknya.

    Menurut laporan Cointelegraph pada Sabtu (27/9), Tether berencana menjual sekitar 3% ekuitasnya dalam putaran pendanaan senilai hingga $20 miliar, yang jika terlaksana bisa membuat valuasi perusahaan menyentuh $500 miliar.

    Langkah ini menunjukkan bahwa Tether tengah mencari modal untuk memperluas jejak operasionalnya melewati model pendapatan semata dari bunga atas cadangan, sekaligus memperkuat posisi sebagai pemain strategis di dunia keuangan kripto dan nyata.

    Baca Juga: Investasi $459 Juta Bitcoin, Tether Bikin Twenty One

    Model Bisnis Tether & Pendapatan dari Instrumen Pendapatan Tinggi

    Model inti Tether selama ini cukup “klasik namun kokoh” di ranah stablecoin.

    Ketika pengguna melakukan deposit fiat (misalnya USD), Tether mencetak USDT dan menempatkan cadangan pendukungnya ke dalam aset berimbal hasil (yield).

    Sebagian besar cadangan tersebut ditempatkan dalam surat utang AS jangka pendek (Treasury bills), yang dianggap paling likuid dan relatif aman.

    Di kuartal kedua 2025, Tether melaporkan laba bersih sebesar $4,9 miliar, lonjakan sekitar 277 % year-on-year.

    Selain pendapatan bunga, Tether turut mengembangkan usaha pemberian pinjaman (secured lending) yang dijamin oleh cadangan mereka sendiri.

    Namun, kenaikan hasil Treasury yang selama ini menjadi sumber pendapatan besar Tether kini mulai mereda dibanding puncaknya, sehingga perusahaan sadar bahwa mengandalkan pendapatan dari bunga saja bukan strategi jangka panjang yang ideal.

    Mengapa Investor Besar Tertarik?

    Beberapa alasan mengapa SoftBank, ARK, dan investor papan atas lainnya dikaitkan dengan putaran pendanaan ini:

    1. Keuntungan luar biasa & profitabilitas terbukti
      Laba Tether mencapai miliaran menunjukkan bahwa model bisnisnya tidak hanya teoretis, tetapi nyata berfungsi di dunia kripto yang sangat kompetitif.
    2. Dominasi pasar stablecoin & status strategis
      USDT adalah stablecoin terbesar dunia secara kapitalisasi pasar (sekitar $173,6 miliar untuk sirkulasi USDT). Posisi ini membuat Tether menjadi entitas keuangan strategis, bukan sekadar pemain kripto.
    3. Potensi ekspansi ke lini bisnis baru
      CEO Tether, Paolo Ardoino, menyebut bahwa perusahaan sedang menjajaki ekspansi ke sektor komoditas, energi, infrastruktur, dan media yang memperluas domain perusahaan di luar keuangan murni.
      Dengan modal besar, Tether bisa melakukan akuisisi, investasi infrastruktur, dan diversifikasi revenue stream.
    4. Valuasi tinggi & daya tarik eksklusif
      Jika pendanaan berhasil, valuasi US$ 500 miliar akan menempatkan Tether di jajaran perusahaan privat terbesar dunia sehingga sejajar dengan nilai yang dirumorkan untuk OpenAI.
      Para investor besar pun cenderung tertarik pada “akses eksklusif” ke peluang pertumbuhan besar yang tidak tersedia di publik.

    Tantangan & Risiko Ekspansi

    Ekspansi sebesar ini tak tanpa risiko. Beberapa hal yang harus diwaspadai:

    • Regulasi & pengawasan keuangan
      Sebagai entitas stablecoin besar, Tether sudah di bawah sorotan regulator global. Ekspansi ke bisnis finansial tradisional dan infrastruktur bisa menarik regulasi lebih ketat.
    • Ketergantungan yield dari Treasury
      Bila imbal hasil Treasury terus menurun, basis pendapatan bunga akan melemah, menambah beban pada lini bisnis baru yang mungkin belum menguntungkan.
    • Risiko eksekusi & diversifikasi
      Memasuki sektor komoditas, energi, atau media bukan hal mudah. Tether harus menguasai domain baru, mengelola risiko operasional, kompetisi sektor, dan modal infrastruktur.
    • Tingkat valuasi yang sangat tinggi
      Valuasi $500 miliar mengundang ekspektasi besar. Jika pertumbuhan atau pendapatan gagal memenuhi ekspektasi pasar, bisa terjadi koreksi valuasi yang signifikan.

    Implikasi & Makna untuk Industri Kripto & Keuangan

    1. Stablecoin menjadi aktor terdepan
      Pendanaan besar terhadap Tether menunjukkan bahwa stablecoin tidak lagi menjadi “alat bantu” pasar kripto semata — melainkan entitas keuangan strategis dengan potensi lintas sektor.
    2. Transformasi model bisnis kripto
      Langkah Tether menjadi contoh bahwa perusahaan kripto yang hanya mengandalkan yield atau transaksi harus berpikir soal diversifikasi — ke bisnis nyata, aset fisik, dan infrastruktur.
    3. Gerbang besar ke modal institusional
      Dengan masuknya SoftBank & ARK (jika jadi), kripto-keuangan menjadi semakin dekat dengan modal institusional besar, mengaburkan batas antara “teknologi baru” dan “modal tradisional”.

    Baca Juga: Bangun Kredibilitas USDT, Tether Perkuat Transparansi Audit Penuh

    Penggalangan dana hingga $20 miliar oleh Tether menarik minat nama besar seperti SoftBank dan ARK menunjukkan bahwa investor besar melihat perusahaan ini bukan sekadar pemain stablecoin, melainkan calon raksasa keuangan global.

    Jika berhasil, valuasi $500 miliar dapat menjadikan Tether salah satu perusahaan privat paling bernilai di dunia.

    Namun, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh dana, melainkan oleh kemampuan Tether melakukan transformasi: mengelola diversifikasi usaha, mempertahankan profitabilitas, dan menavigasi regulasi.

    Bagi pengamat kripto dan investor institusional, ini mungkin menjadi salah satu momen paling menarik dalam evolusi industri blockchain hingga hari ini.




    Sumber : news.tokocrypto.com

  • ⁠Bukan Negera, Tether Jadi Pemborong Emas Terbanyak di Dunia!

    Tether perusahaan kripto yang menerbitkan stablecoin seperti USDT yang dipatok ke USD dan XAUt yang dipatok ke emas, menurut data dari bank investasi Jefferies Tether membeli 26 ton emas di Q3, lebih banyak dibandingkan bank sentral negara mana pun pada periode yang sama.

    Apa itu Tether dan Kenapa Membeli Begitu Banyak Emas?

    Didirikan pada 2014, Tether Limited adalah perusahaan kripto terkemuka yang menerbitkan stablecoin populer USDT, stablecoin yang dirancang untuk mempertahankan rasio 1:1 dengan dolar AS, menyediakan likuiditas dalam perdagangan kripto. Sekarang, kapitalisasi pasar USDT  telah melebihi $184 miliar.

    Tether sering mendapat sorotan atas transparansi cadangannya. Sehingga, sebagai respons, perusahaan mendiversifikasi asetnya di luar uang tunai dan obligasi pemerintah, termasuk Bitcoin dan, yang paling menonjol, sekarang adalah emas fisik. Pergeseran ini mulai meningkat sekitar 2021, seiring dengan ledakan aset tokenisasi.

    Dikutip Yahoo Finance, per bulan September 2025, cadangan emas Tether mencapai 116 ton. Cadangan ini bernilai sekitar $13 miliar, mencakup sekitar 104 ton yang mendukung USDT dan 12 ton yang mendukung XAUt, produk emas tokenisasi Tether.

    Baca juga: Trading dengan Pair IDR vs USD, Mana yang Cocok Buat Kamu?

    Pembelian Emas Besar-besaran Tether di Q3 2025

    Ditengah harga emas yang tengah terus naik, Tether sibuk memborong emas sebagai bagian dari cadangan stablecoin yang dimilikinya. Pembelian 26 ton emas oleh Tether pada Q3 bahkan lebih besar daripada pembelian emas yang dilakukan oleh banyak negara.

    Grafik pembelian emas Tether Q3 vs central bank. Sumber: Jefferies via Reuters

    Sebagai konteks, Kazakhstan membeli 18 ton, Brasil 15 ton, Turki 7 ton, dan Irak 6 ton selama periode yang sama. Menurut bank investasi Jefferies, Tether menyumbang sekitar 12% dari pembelian emas bank sentral yang diketahui pada kuartal itu dan 14% pada Q2. 

    Ini menjadikan Tether bukan hanya pembeli, tetapi pemegang independen emas fisik yang dominan, setara dengan cadangan nasional Korea Selatan (sekitar 104 ton, menurut beberapa estimasi), Hungaria, dan Yunani. 

    Namun, berbeda dengan entitas berdaulat yang menimbun emas untuk stabilitas moneter, pembelian Tether didorong oleh permintaan komersial, seperti sirkulasi USDT yang terus melonjak (dari $174 miliar menjadi $184 miliar pada Q3), minat yang tumbuh terhadap XAUt di tengah volatilitas ekonomi, dan adopsi kripto yang semakin meluas.

    Alasan di Balik Tether Memborong Emas

    Data cadangan aset Tether per September 2025. Sumber: Tether Financial Report and Reserve Report

    Faktor seperti dominasi fiskal, utang publik yang meningkat, kebijakan moneter longgar, dan terkikisnya kepercayaan terhadap mata uang fiat. Investor, yang waspada terhadap inflasi dan ketegangan geopolitik, membuat banyak entitas berbondong-bondong membeli aset safe-haven seperti emas.

    Tidak ketinggalan, Tether juga semakin giat mengintegrasikan emas ke dalam cadangannya, yang kini mencakup sekitar 7% dari total asetnya (sekitar $13 miliar).

    Baca juga: USDT.D Capai Level Resistance, Potensi Market Rebound?

    Kontroversi Pembelian Emas oleh Tether

    S&P Global diam-diam menurunkan penilaian stablecoin Tether dari “constrained” menjadi “weak”, yang merupakan rating terendahnya. Penurunan ini disebabkan oleh cadangan aset berisiko yang dimiliki Tether terus meningkat, seperti Bitcoin sebesar 5,6%, emas, pinjaman terjamin, dan kredit korporasi.

    CEO Tether, Paolo Ardoino, membalas dengan menolak kritik keuangan tradisional dan menekankan ketahanan perusahaan. Paolo juga menganggap bahwa bank-bank lama telah melihat Tether sebagai pengganggu.

    Baca juga: S&P vs Tether: Bentrokan Terpanas di Industri Kripto Tahun Ini

    Di sisi lain regulasi baru GENIUS Act Amerika Serikat yang disahkan pada 2025 mewajibkan stablecoin yang diizinkan untuk didasarkan 1:1 dengan cadangan aset likuid seperti dolar AS atau surat utang AS jangka pendek, bukan aset volatil atau sulit dicairkan seperti emas dan Bitcoin.

    Tether merespons dengan meluncurkan USAT, token yang sesuai GENIUS tanpa emas, dan memungkinkan USDT tetap beroperasi di luar regulasi AS yang ketat.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

    Sumber:
    Reuters: Has gold been Tethered? Diakses 2 Desember 2025

    Tether: Financial Report and Reserve Report. Diakses 2 Desember 2025

    Yahoo! Finance: Tether Bought 26 Tonnes of Gold in Q3 — Reserves Now Rival Central Banks. Diakses 2 Desember 2025





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • S&P vs Tether: Bentrokan Terpanas di Industri Kripto Tahun Ini

    Dalam sebuah drama panas antara dunia kripto dan lembaga keuangan tradisional, S&P Global Ratings resmi menjatuhkan peringkat Tether (USDT) ke level terendah, memicu perang kata-kata dengan CEO-nya, Paolo Ardoino. Benturan ini membuka jurang yang semakin dalam antara inovator digital dan penjaga gerbang finansial lama.

    S&P Turunkan Tether ke Rating “Weak”: Peringkat Terburuk di Skala Mereka

    Pada 26 November, S&P Global Ratings menurunkan Tether ke “5 (weak)”, level paling rendah dalam skala risiko stablecoin yang mereka luncurkan pada 2023.

    S&P menuding adanya:

    • Kesenjangan transparansi
    • Porsi tinggi aset berisiko dalam cadangan, seperti Bitcoin, emas, obligasi korporasi, pinjaman terjamin, dan aset lainnya
    • Minimnya informasi soal kredit dan risiko pasar dari pihak kustodian atau mitra Tether

    Namun secara bersamaan, S&P tetap mengakui bahwa USDT terbukti stabil, bahkan ketika pasar kripto mengalami gejolak.

    CEO Tether Melawan Sengit: “Kami Bangga Dibenci!”

    Dilaporkan The Street, tidak lama setelah laporan dirilis, CEO Tether Paolo Ardoino menembakkan respons keras.

    Ia menuliskan:
    “We wear your loathing with pride.”

    Ardoino mengecam model rating tradisional yang menurutnya:

    • Gagal menilai lembaga keuangan besar yang kemudian kolaps
    • Tidak relevan untuk perusahaan aset digital yang bekerja dengan dinamika cadangan berbeda
    • Terjebak dalam cara pandang lama yang tidak mampu mengikuti inovasi

    Ardoino menegaskan bahwa Tether justru lebih sehat daripada banyak institusi finansial yang pernah diberi rating tinggi oleh lembaga seperti S&P.

    Tether: “Kami Lebih Tangguh Dari Bank Tradisional”

    Tether menolak mentah-mentah penilaian S&P.
    Perusahaan mengklaim:

    • Telah menerbitkan USDT senilai sekitar $184 miliar
    • Selalu mampu memenuhi penukaran (redemption)
    • Berhasil bertahan dalam krisis bank, keruntuhan bursa, dan gejolak pasar kripto

    Laporan terpisah juga menyebutkan bahwa Tether kini menjadi pemegang emas independen terbesar di dunia, memperlihatkan strategi diversifikasi cadangan yang semakin agresif.

    Pertarungan Besar: Kripto vs Keuangan Tradisional

    Ketegangan ini menggarisbawahi pertanyaan besar yang terus menghantui dunia finansial modern.

    Siapa yang berhak menentukan standar risiko di era digital?
    Apakah lembaga rating tradisional masih relevan untuk menilai stablecoin, atau justru mereka yang harus beradaptasi?

    Dengan stablecoin seperti Tether semakin memiliki peran penting dalam pasar global, benturan ini tampaknya baru dimulai.

    Kesimpulan

    Penurunan rating S&P bukan sekadar angka, tetapi simbol benturan besar antara dua paradigma finansial.

    S&P tetap berpegang pada standar lama.
    Tether menyatakan diri sebagai penantang sistem finansial yang dianggap sudah usang.

    Untuk saat ini, dunia kripto menunggu babak selanjutnya dari drama besar ini.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tether Integrasikan USA₮ ke Rumble Wallet, Ekspansi Pembayaran Digital

    Tether kembali memperluas ekspansinya di sektor pembayaran digital dengan mengintegrasikan stablecoin USA₮ ke dalam Rumble Wallet.

    Integrasi ini memungkinkan kreator konten di platform tersebut menerima pembayaran secara on-chain menggunakan dolar digital yang dirancang untuk mematuhi regulasi domestik Amerika Serikat.

    Langkah ini menandai babak baru dalam konvergensi antara ekonomi kreator dan infrastruktur blockchain, sekaligus mempertegas strategi Tether dalam menghadirkan produk stablecoin yang lebih ramah regulator.

    Baca Juga: Tether Luncurkan Mining OS (MOS), Dorong Efisiensi Penambangan BTC

    Berkenalan dengan USA₮

    Sebagaimana dilansir dari Cryptobriefing pada Jumat (20/2), USA₮ merupakan dolar digital yang dikembangkan dengan pendekatan regulasi yang lebih ketat dibandingkan stablecoin pada umumnya.

    Aset ini dikelola oleh Anchorage Digital Bank dan Cantor Fitzgerald, dua entitas yang memiliki reputasi kuat dalam sektor keuangan dan kustodi aset digital di Amerika Serikat.

    Stablecoin ini dirancang untuk memenuhi standar regulasi domestik AS, termasuk kerangka hukum yang dikenal sebagai GENIUS Act, sebuah inisiatif regulasi yang bertujuan menciptakan kepastian hukum bagi penerbit dan pengguna stablecoin di Amerika Serikat.

    Dengan struktur tata kelola yang lebih formal dan pendekatan kepatuhan yang ketat, USA₮ diposisikan sebagai alternatif stablecoin yang dapat diterima oleh regulator, institusi keuangan, serta pelaku industri digital.

    Rumble Wallet dan Ekonomi Kreator

    Rumble dikenal sebagai platform berbagi video yang berkembang pesat dan memiliki basis kreator independen yang signifikan.

    Dengan integrasi USA₮ ke dalam Rumble Wallet, para kreator kini dapat menerima penghasilan secara langsung melalui blockchain tanpa harus bergantung sepenuhnya pada sistem perbankan tradisional atau pemroses pembayaran pihak ketiga.

    Model pembayaran on-chain ini menawarkan sejumlah keunggulan, seperti penyelesaian transaksi lebih cepat, transparansi pembayaran, potensi biaya lebih rendah, dan akses global tanpa hambatan perbankan lintas negara.

    Bagi kreator, hal ini membuka peluang monetisasi yang lebih fleksibel, terutama bagi mereka yang berada di wilayah dengan keterbatasan akses perbankan.

    Regulasi dan Ekspansi

    Integrasi USA₮ ke Rumble Wallet juga mencerminkan strategi jangka panjang Tether untuk memperkuat posisinya di tengah meningkatnya pengawasan regulator terhadap stablecoin.

    Tim Research Tokocrypto menilai langkah ini bukan sekadar ekspansi teknis, melainkan manuver strategis untuk memperluas dominasi di sektor ekonomi kreator sekaligus menjawab tantangan regulasi.

    “Integrasi ini memungkinkan kreator Rumble untuk menerima penghasilan tanpa bergantung pada sistem perbankan tradisional. Bagi Tether, ini adalah langkah strategis untuk memperkuat dominasi di ekonomi kreator global sekaligus menepis kekhawatiran regulasi melalui produk USA₮ yang patuh hukum federal,” kata Tim Research Tokocrypto.

    Dengan menghadirkan stablecoin yang dikelola institusi teregulasi, Tether berupaya memperluas adopsi di kalangan pengguna institusional dan korporasi yang sebelumnya berhati-hati terhadap risiko hukum.

    Implikasi bagi Industri Stablecoin

    Industri stablecoin saat ini berada di persimpangan antara inovasi dan regulasi.

    Di satu sisi, stablecoin menjadi tulang punggung likuiditas pasar kripto dan pembayaran digital. Di sisi lainnya, regulator global semakin aktif menetapkan standar kepatuhan dan transparansi.

    Langkah Tether melalui USA₮ menunjukkan tren baru: penerbit stablecoin mulai mengembangkan produk yang secara eksplisit dirancang sesuai kerangka hukum nasional, bukan hanya beroperasi di wilayah abu-abu regulasi.

    Jika model ini berhasil diadopsi luas, bukan tidak mungkin akan muncul lebih banyak stablecoin berbasis yurisdiksi tertentu dengan struktur kustodi dan tata kelola yang lebih formal.

    Baca Juga: LayerZero Dilirik Tether! USDT0 Disebut Sudah Pindah US$70 Miliar

    Masa Depan Pembayaran Kreator On-Chain

    Integrasi USA₮ ke Rumble Wallet memperlihatkan bagaimana blockchain semakin relevan dalam ekonomi digital arus utama.

    Pembayaran kreator, yang sebelumnya sepenuhnya bergantung pada bank dan platform sentralistik, kini mulai bertransformasi menuju model desentralisasi berbasis aset digital yang patuh regulasi.

    Bagi Tether, langkah ini memperluas cakupan penggunaan stablecoin dari sekadar instrumen perdagangan kripto menjadi alat pembayaran riil dalam ekosistem kreator global.

    Sementara itu, bagi industri secara keseluruhan, kolaborasi antara perusahaan blockchain, bank kustodi teregulasi, dan platform media digital menandai era baru di mana inovasi dan kepatuhan hukum berjalan beriringan.

    Dengan meningkatnya tekanan regulator di berbagai negara, pendekatan seperti USA₮ bisa menjadi template bagi masa depan stablecoin yang lebih transparan, terstruktur, dan diterima secara luas oleh sistem keuangan formal.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • LayerZero Dilirik Tether! USDT0 Disebut Sudah Pindah US$70 Miliar

    Tether Investments, unit investasi dari penerbit stablecoin terbesar USDT, mengumumkan telah melakukan investasi strategis ke LayerZero Labs, pengembang protokol interoperabilitas LayerZero. Langkah ini menegaskan fokus Tether pada teknologi lintas blockchain, termasuk pengembangan versi token yang dapat bergerak antarjaringan tanpa terjebak pada satu ekosistem.

    Dalam rilis perusahaan, Tether menyebut investasi tersebut berkaitan erat dengan teknologi yang menjadi fondasi USDt0, versi blockchain-agnostic dari USDT. Tether mengklaim USDt0 telah memindahkan lebih dari US$70 miliar antar blockchain dalam waktu kurang dari satu tahun. Infrastruktur LayerZero dirancang untuk memungkinkan aset kripto berpindah di berbagai blockchain tanpa menciptakan fragmentasi likuiditas, sehingga dana tidak terisolasi di satu jaringan tertentu.

    Fokus Tether

    Baca Juga: LayerZero (ZRO) Melejit 31%, Sinyal Bullish Mulai Terbentuk

    Dilaporkan Yahoo Finance, Tether juga menyoroti bahwa arsitektur ini membuka ruang untuk use case yang lebih eksperimental, termasuk “agentic finance”, yaitu skenario ketika agen AI dapat mengelola wallet sendiri dan mengirim pembayaran secara otomatis. Menurut Tether, kemampuan lintas-chain menjadi salah satu prasyarat agar sistem pembayaran dan aplikasi keuangan berbasis stablecoin dapat berjalan lebih fleksibel di banyak jaringan.

    Investasi ini datang tidak lama setelah USDt0 dideploy oleh Everdawn Labs dan dibangun menggunakan standar Omnichain Fungible Token (OFT) milik LayerZero. Selain USDt0, proyek tokenized gold milik Tether, XAUt0, juga disebut sebagai uji penerapan nyata atas kerangka interoperabilitas LayerZero. Tether dan LayerZero tidak mengungkapkan nilai investasi tersebut, dan Tether dilaporkan tidak memberikan komentar tambahan saat diminta.

    Perluas Portofolio Investasi

    Dalam beberapa waktu terakhir, Tether diketahui memperluas portofolio investasinya dari dana yang berasal dari aktivitas bisnis stablecoin. Investasi tersebut mencakup kepemilikan mayoritas di perusahaan agribisnis Amerika Latin Adecoagro, investasi pada aplikasi kesehatan berfokus privasi, hingga kepemilikan saham di platform video Rumble. Tether juga memperkuat eksposur emas, termasuk membeli saham senilai US$150 juta di Gold.com untuk memperluas distribusi tokenized gold.

    Pasca kabar investasi ini, token ZRO sempat naik hingga sekitar 10% sebelum berbalik arah. Dalam 24 jam terakhir, ZRO tercatat melemah sekitar 3%, mencerminkan volatilitas yang tetap tinggi di pasar aset kripto meski ada sentimen positif dari berita kemitraan dan investasi institusional.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, investasi ini mengarah ke distribusi USDT yang makin “native” lintas jaringan dan berpotensi menurunkan friksi perpindahan likuiditas antar-chain.

    “Namun, ekspansi cross-chain juga memperbesar permukaan risiko teknis (messaging/oracle/bridge security), jadi kualitas implementasi dan audit jadi kunci,” jelasnya.

    Baca Juga: Jelajahi Interoperabilitas Blockchain: Memahami LayerZero (ZRO)


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com