Tag: tether

  • Market Cap USDT Turun ke $184,3 Miliar, Sinyal Bear Market Datang?

    Pergerakan terbaru Tether (USDT) memunculkan sinyal yang jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan market cap USDT kini berbalik menjadi negatif setelah sebelumnya mencatat ekspansi selama hampir dua tahun. Perubahan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa likuiditas di pasar kripto mulai menyusut dan risiko fase bearish kembali meningkat.

    Sebagai stablecoin terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, USDT sering digunakan sebagai indikator masuk atau keluarnya modal dari pasar kripto. Ketika suplai USDT meningkat, itu biasanya menandakan adanya likuiditas baru yang siap masuk ke aset kripto seperti Bitcoin. Sebaliknya, ketika pertumbuhan market cap USDT menjadi negatif, hal tersebut mengindikasikan bahwa modal justru keluar dari pasar.

    Data CryptoQuant: Pertumbuhan USDT Masuk Zona Negatif

    Data CryptoQuant menunjukkan bahwa rata-rata 60 hari perubahan market cap USDT berubah menjadi negatif pada Februari 2026. Terakhir kali kondisi serupa terjadi adalah pada kuartal ketiga 2023.

    Grafik tersebut memperlihatkan korelasi erat antara harga Bitcoin dan pertumbuhan market cap USDT. Ketika suplai USDT mengembang, likuiditas baru masuk dan mendukung reli harga. Namun, ketika pertumbuhan negatif, daya beli melemah dan reli cenderung lebih rapuh serta mudah terkoreksi.

    Analis Crypto Tice menyatakan bahwa secara historis, kenaikan berkelanjutan Bitcoin jarang terjadi ketika suplai stablecoin sedang menyusut. Artinya, selama kontraksi USDT berlangsung, potensi kenaikan harga cenderung terbatas.

    Market Cap USDT Turun dari $187 Miliar ke $184,3 Miliar

    Dilaporkan BeInCrypto, data CoinGecko menunjukkan bahwa sejak awal Januari, kapitalisasi pasar USDT turun dari lebih dari $187 miliar menjadi sekitar $184,3 miliar. Penurunan ini terjadi di tengah aktivitas burn besar-besaran oleh Tether.

    Pada 10 Februari, Whale Alert melaporkan bahwa Tether membakar 3,5 miliar USDT. Sebelumnya, perusahaan juga membakar 3 miliar USDT pada bulan lalu. Data CryptoQuant mencatat bahwa dua pembakaran ini merupakan yang terbesar secara beruntun dalam sejarah.

    Burn tersebut terjadi ketika investor menukar USDT kembali ke mata uang fiat. Tether kemudian menghapus USDT yang ditebus dari peredaran untuk menjaga keseimbangan cadangan dan mempertahankan patokan 1:1 terhadap dolar AS.

    Seorang investor bernama Ted menyebut bahwa tren suplai USDT kini berada dalam fase penurunan untuk pertama kalinya sejak kuartal pertama 2025 dan menilai kondisi tersebut sebagai sinyal yang kurang positif bagi pasar.

    Sinyal Sideways atau Penurunan Lebih Dalam?

    Meski demikian, data historis memberikan perspektif tambahan. Sejak 2022, periode ketika rata-rata 60 hari pertumbuhan market cap USDT menjadi negatif biasanya berlangsung sekitar dua bulan. Fase tersebut sering bertepatan dengan pergerakan Bitcoin yang cenderung sideways dan pembentukan local bottom.

    Contohnya terjadi pada November 2022 hingga Januari 2023 serta Agustus hingga Oktober 2023. Dalam periode tersebut, pasar bergerak stagnan sebelum akhirnya memasuki fase pemulihan.

    Namun, dalam skenario yang lebih bearish, Bitcoin disebut berpotensi turun di bawah $43.000 apabila level support kunci di $63.000 gagal bertahan. Dengan likuiditas yang menyusut, reli harga berisiko menjadi rapuh dan lebih rentan terhadap aksi jual.

    Secara keseluruhan, berbaliknya pertumbuhan market cap USDT menjadi negatif menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar untuk memantau dinamika likuiditas. Apakah ini awal fase bearish baru atau sekadar konsolidasi sebelum pemulihan, akan sangat bergantung pada arah permintaan dan stabilitas pasar dalam beberapa bulan ke depan.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, kontraksi suplai stablecoin biasanya dibaca sebagai penurunan likuiditas “amunisi” pasar, membuat reli BTC/kripto lebih rapuh dan rentan sell-off.

    “Secara historis, fase ketika metrik ini negatif sering berkorelasi dengan pasar sideways atau penurunan lanjutan sebelum recovery beberapa bulan berikutnya. Intinya: selama stablecoin supply menyusut, pasar cenderung berada di fase risk-off/demand lemah,” katanya.

    Baca juga: Anak Purbaya Soroti Pentingnya Keamanan Aset Kripto, Apa yang Perlu Investor Tahu?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tether Masuk Bisnis Emas! Gold.com Kebagian Dana $150 Juta

    Perusahaan penerbit stablecoin terbesar di dunia, Tether, resmi mengumumkan investasi senilai $150 juta atau sekitar Rp2,4 triliun ke perusahaan logam mulia Gold.com. Langkah ini menjadi strategi besar Tether untuk memperluas akses emas fisik ke ekosistem aset digital di tengah lonjakan minat terhadap stablecoin berbasis emas.

    Dari investasi tersebut, Tether memperoleh sekitar 12% saham di Gold.com. Investasi ini juga memperkuat fokus jangka panjang Tether dalam mengembangkan sektor real-world assets (RWA) atau aset nyata yang dihubungkan ke teknologi blockchain.

    Investasi Dilakukan Dua Tahap, Tether Bisa Duduk di Dewan Direksi

    Dalam kesepakatan tersebut, investasi Tether akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, Tether membeli saham Gold.com senilai $125 juta, kemudian dilanjutkan dengan tambahan $25 juta yang masih menunggu persetujuan regulator.

    Tidak hanya itu, Tether juga mendapatkan hak untuk menunjuk satu anggota dewan direksi, sehingga memiliki pengaruh dalam arah strategi bisnis Gold.com ke depan.

    Tether Gold (XAU₮ Akan Terintegrasi Lebih Dalam

    Dilaporkan Coinpedia, salah satu fokus utama kerja sama ini adalah integrasi lebih dalam antara Tether Gold (XAU₮) dengan platform Gold.com.

    XAU₮ merupakan token digital berbasis emas, di mana setiap 1 token didukung 1:1 oleh emas fisik yang disimpan dalam brankas dengan keamanan tinggi. Melalui kolaborasi ini, pengguna nantinya berpeluang membeli emas fisik menggunakan aset digital seperti USDT maupun XAU₮.

    Dengan menggabungkan kekuatan jaringan stablecoin Tether dan operasi bullion Gold.com, kedua perusahaan menargetkan terciptanya platform yang menjembatani pasar emas tradisional dengan pembayaran berbasis kripto.

    Baca juga: Diam-Diam Borong Bitcoin, Tether Tambah Rp12 Triliun BTC di Awal 2026!

    Harga Emas Pecah Rekor, Stablecoin Berbasis Emas Ikut Meledak

    Kerja sama ini muncul di saat harga emas sedang mengalami reli besar. Harga emas dilaporkan mencapai rekor tertinggi hingga menembus $5.000 per ounce, yang ikut mendorong kenaikan permintaan aset digital berbasis emas.

    Dalam satu tahun terakhir, nilai pasar aset digital berbasis emas melonjak dari $1,3 miliar menjadi $5,5 miliar. Tether Gold saat ini memimpin sektor tersebut dengan menguasai lebih dari setengah total kapitalisasi pasar.

    Tether juga disebut memiliki sekitar 140 ton emas fisik senilai lebih dari $23 miliar, memperkuat posisinya sebagai pemain besar dalam industri keuangan digital berbasis aset nyata.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, ekspansi Tether ke infrastruktur komoditas fisik (RWA) adalah langkah diversifikasi cerdas. Ini memposisikan XAU₮ bukan hanya sebagai stablecoin, tapi sebagai jembatan likuiditas utama antara pasar kripto dan pasar logam mulia tradisional.

    Gold.com Siap Masuk Dunia Digital Berkat Suntikan Dana Tether

    bitcoin dan emas

    Gold.com merupakan perusahaan logam mulia yang berdiri sejak 1965 dan membawahi beberapa merek besar seperti JMBullion, Monex Precious Metals, GovMint, serta Stack’s Bowers Galleries. Selama ini, bisnis mereka dikenal kuat di sektor penjualan emas fisik dan koleksi.

    Dengan dukungan Tether, Gold.com disebut akan memperluas layanan ke produk emas digital, stablecoin, hingga aset tokenisasi, bahkan membuka peluang ke bisnis gold leasing atau penyewaan emas.

    Manajemen Gold.com menyatakan kerja sama ini akan mempercepat ambisi mereka menjadi platform logam mulia “full service” yang mampu melayani investor konvensional sekaligus pengguna kripto.

    Strategi Baru Tether: Serius Garap Aset Nyata

    Investasi ke Gold.com menjadi bagian dari strategi diversifikasi besar Tether. Perusahaan tersebut melaporkan laba bersih mencapai $10 miliar pada 2025, serta memiliki cadangan berlebih lebih dari $6,3 miliar.

    Selain mengembangkan USDT, Tether juga aktif masuk ke berbagai sektor seperti Bitcoin mining, kecerdasan buatan (AI), komunikasi terdesentralisasi, hingga industri logam mulia.

    Kesepakatan ini mempertegas ambisi Tether untuk memposisikan emas tokenisasi sebagai instrumen penyimpan nilai modern, menggabungkan stabilitas emas fisik dengan kecepatan transaksi aset digital.

    Baca juga: Tether Luncurkan Mining OS (MOS), Dorong Efisiensi Penambangan BTC


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tether Luncurkan Mining OS (MOS), Dorong Efisiensi Penambangan BTC

    Raksasa stablecoin Tether kembali memperluas jejaknya di industri kripto dengan meluncurkan Mining OS (MOS), sebuah sistem operasi open-source yang dirancang khusus untuk menyederhanakan dan mengefisienkan infrastruktur penambangan Bitcoin.

    Sebagaimana dikutip dari Cointelegraph pada Selasa (3/2), langkah ini menandai fase baru ekspansi Tether dari penerbit stablecoin menuju penyedia infrastruktur kripto strategis.

    Peluncuran MOS diumumkan ke publik dan langsung menarik perhatian komunitas, mengingat Tether selama ini dikenal sebagai pemain sentral dalam likuiditas pasar kripto global melalui USDT.

    Kini, perusahaan tersebut masuk lebih dalam ke lapisan teknis jaringan Bitcoin.

    Baca Juga: Diam-Diam Borong Bitcoin, Tether Tambah Rp12 Triliun BTC di Awal 2026!

    Apa Itu Mining OS (MOS)?

    Mining OS (MOS) adalah sistem operasi terbuka yang dirancang untuk mengelola perangkat keras penambangan Bitcoin secara lebih efisien, modular, dan terstandarisasi.

    Dengan pendekatan open-source, MOS dapat digunakan, dimodifikasi, dan dikembangkan oleh komunitas miner maupun developer di seluruh dunia.

    Tujuan utama MOS adalah menyederhanakan kompleksitas operasional mining, mulai dari pengelolaan node, monitoring performa, optimasi hash rate, hingga efisiensi konsumsi energi.

    Dengan satu platform terpadu, miner tidak lagi bergantung pada solusi proprietary yang mahal dan tertutup.

    Pendekatan ini sejalan dengan semangat awal Bitcoin: desentralisasi dan transparansi.

    Strategi Tether di Balik MOS

    Langkah Tether meluncurkan Mining OS tidak berdiri sendiri.

    Dalam beberapa tahun terakhir, Tether secara agresif memperluas bisnisnya ke sektor energi, mining, AI, dan infrastruktur digital. MOS menjadi bagian penting dari strategi tersebut.

    Tim Research Tokocrypto menilai ekspansi ini sebagai langkah strategis jangka panjang.

    “Ekspansi Tether ke sektor mining memperkuat posisinya sebagai infrastruktur finansial yang lebih luas. Dengan menyediakan OS terbuka, Tether berpotensi meningkatkan dominasi teknisnya dalam jaringan Bitcoin,” jelas Tim Research Tokocrypto.

    Alih-alih hanya menjadi penerbit stablecoin, Tether kini membangun ekosistem yang mencakup likuiditas, komputasi, dan infrastruktur jaringan inti Bitcoin.

    Dampak terhadap Desentralisasi Mining Bitcoin

    Salah satu kritik terbesar terhadap industri mining Bitcoin saat ini adalah sentralisasi operasional, baik dari sisi pool mining, perangkat keras, maupun software manajemen.

    Banyak miner kecil kesulitan bersaing karena biaya tinggi dan ketergantungan pada vendor tertentu.

    Dengan MOS yang bersifat open-source, Tether berupaya menurunkan hambatan masuk (barrier to entry) bagi miner skala kecil dan menengah. Jika diadopsi secara luas, MOS dapat:

    • Mengurangi ketergantungan pada software proprietary
    • Meningkatkan interoperabilitas antar perangkat mining
    • Memperluas distribusi kekuatan hash secara global

    Hal ini berpotensi memperkuat keamanan jaringan Bitcoin secara keseluruhan.

    Efisiensi Operasional dan Potensi Adopsi Global

    Selain desentralisasi, efisiensi menjadi fokus utama MOS. Penambangan Bitcoin menghadapi tekanan besar dari sisi biaya energi dan margin keuntungan yang semakin ketat.

    Sistem operasi yang lebih ringan, fleksibel, dan mudah dioptimalkan dapat menjadi keunggulan kompetitif.

    Bagi miner institusional, MOS menawarkan kontrol yang lebih granular atas infrastruktur mereka. Sementara bagi miner independen, OS ini membuka akses ke teknologi setara tanpa biaya lisensi tinggi.

    Namun, adopsi MOS akan sangat bergantung pada stabilitas, keamanan, serta dukungan komunitas pengembang dalam beberapa bulan ke depan.

    Implikasi Pasar dan Sentimen Industri

    Dari sudut pandang pasar, peluncuran Mining OS memperkuat narasi bahwa Tether bukan lagi sekadar “penerbit USDT”, melainkan pemain infrastruktur kripto global.

    Meski dampak langsung terhadap harga Bitcoin atau USDT kemungkinan terbatas, langkah ini dapat meningkatkan kepercayaan jangka panjang terhadap ekosistem yang dibangun Tether.

    Investor dan pelaku industri akan memantau apakah MOS benar-benar diadopsi secara luas atau hanya menjadi solusi niche. Keberhasilan proyek ini bisa mendorong Tether semakin dominan di lapisan teknis Bitcoin.

    Baca Juga: Apa itu Stablecoin USAT? Stablecoin Baru Tether yang Patuhi Regulasi AS

    Peluncuran Tether Mining OS (MOS) menandai langkah signifikan dalam evolusi peran Tether di industri kripto.

    Dengan menawarkan sistem operasi mining open-source, Tether berupaya meningkatkan efisiensi, transparansi, dan desentralisasi penambangan Bitcoin secara global.

    Jika diimplementasikan dengan baik dan mendapat dukungan komunitas, MOS berpotensi menjadi fondasi baru dalam infrastruktur mining Bitcoin, sekaligus memperkuat posisi Tether sebagai tulang punggung finansial dan teknis ekosistem kripto dunia.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Diam-Diam Borong Bitcoin, Tether Tambah Rp12 Triliun BTC di Awal 2026!

    Tether kembali memperkuat posisinya sebagai salah satu pemegang bitcoin korporat terbesar di dunia. Penerbit stablecoin USDT tersebut menambah 8.888,88 bitcoin (BTC) ke dompet perbendaharaannya pada awal 2026, dengan nilai sekitar US$780 juta atau hampir Rp12 triliun berdasarkan harga saat ini.

    Penambahan tersebut membuat total kepemilikan bitcoin Tether melampaui 96.000 BTC. Informasi ini disampaikan langsung oleh CEO Tether, Paolo Ardoino, yang menyebut pembelian tersebut merupakan bagian dari alokasi keuntungan kuartal keempat tahun 2025.

    Fokus Perusahaan pada Bitcoin

    Baca juga: Tether Ngebet Akuisisi Juventus Rp17 Triliun, Langsung Ditolak!

    Dilaporkan CoinDesk, langkah ini sejalan dengan kebijakan perusahaan yang diperkenalkan sejak 2023, yakni mengalokasikan hingga 15% dari laba operasional kuartalan yang direalisasikan untuk akuisisi bitcoin. Strategi tersebut menjadikan Tether bukan sekadar pembeli oportunistik, melainkan akumulator bitcoin secara sistematis.

    Berbeda dengan perusahaan lain yang menghimpun dana khusus untuk membeli BTC, Tether menggunakan kelebihan pendapatan internalnya. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mendiversifikasi cadangan tanpa menyentuh aset yang digunakan untuk mendukung kewajiban stablecoin USDT.

    Keuntungan Tether sendiri sebagian besar berasal dari aset likuid penopang USDT, terutama surat utang pemerintah AS jangka pendek dan perjanjian repurchase agreement (repo). Dalam kondisi suku bunga tinggi dan permintaan stablecoin yang kuat, pendapatan operasional Tether ikut meningkat, yang pada akhirnya membuka ruang lebih besar untuk pembelian bitcoin.

    Pembelian Bitcoin Berkala

    Waktu pembelian ini juga menarik perhatian pasar. Bitcoin dilaporkan kesulitan mempertahankan momentum reli di akhir tahun akibat likuiditas yang menipis dan sentimen risiko yang tidak merata. Hingga tengah hari waktu Hong Kong, BTC diperdagangkan di kisaran US$89.000.

    Dengan strategi ini, Tether terus memperkuat eksposurnya terhadap bitcoin sekaligus mempertahankan dukungan utama USDT dalam instrumen yang sangat likuid, menegaskan perannya sebagai pemain kunci di persimpangan pasar stablecoin dan kripto.

    Baca juga: Bukan Negera, Tether Jadi Pemborong Emas Terbanyak di Dunia!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa itu Stablecoin USAT? Stablecoin Baru Tether yang Patuhi Regulasi AS

    Tak bisa dipungkiri lagi jika stablecoin telah menjadi salah satu kegunaan nyata dari aset kripto yang paling banyak digunakan. Selain membuat pengguna bebas khawatir tentang fluktuasi harga, eksposur terhadap aset kripto juga masih tetap terjaga.

    Baru-baru ini Tether, penerbit stablecoin USDT mengumumkan akan segera merilis stablecoin USAT yang akan menjadi stablecoin yang patuh terhadap regulasi ketat Amerika Serikat.

    Langkah ini menandai perubahan besar dalam pendekatan industri kripto, dari yang sebelumnya cenderung menghindari regulasi, kini justru berusaha merangkulnya demi keberlanjutan jangka panjang.

    Apa Itu USAT Token?

    USAT merupakan stablecoin berbasis dolar yang dirancang khusus untuk melayani pasar Amerika Serikat dan mendukung standar regulasi Amerika, setelah diresmikannya GENIUS Act oleh Presiden Donald Trump.

    Stablecoin ini dikembangkan oleh Tether, pemimpin global dalam teknologi stablecoin yang juga menerbitkan token stablecoin USDT. 

    Jika USDT dikenal sebagai stablecoin global yang digunakan lintas negara, maka USAT difokuskan secara spesifik untuk pasar Amerika Serikat, yang membuat USAT sering kali dianggap sebagai “versi teregulasi” dari stablecoin USDT.

    USAT diharapkan dapat menjadi jalur baru bagi perdagangan, bisnis, dan keuangan Amerika guna memberikan nilai jangka panjang, tata kelola yang kuat, serta adopsi dunia nyata.

    Baca juga: Tether Ngebet Akuisisi Juventus Rp17 Triliun, Langsung Ditolak!

    Latar Belakang Diluncurkannya USAT

    Illustrasi USAT. Sumber: USAT.io

    Seperti yang kamu tahu, Tether telah menjadi pemain lama di dunia kripto khususnya stablecoin, sejak diluncurkannya USDT pada tahun 2014.

    Tantangan baru datang siring regulasi kripto yang semakin matang, terutama di Amerika Serikat (AS) dengan diresmikannya undang-undang baru GENIUS Act, yang ditandatangani pada Juli 2025 oleh Presiden Donald Trump.

    Undang-undang GENIUS Act ini menjadi undang-undang AS pertama yang secara komprehensif membahas kripto serta berfokus pada regulasi stablecoin. Di dalamnya termasuk persyaratan tentang cadangan penuh, audit rutin, dan kepatuhan dengan lembaga keuangan berlisensi federal.

    USAT lahir sebagai respons terhadap undang-undang ini. CEO Tether, Paolo Ardoino, menyatakan bahwa USAT menjadi salah satu stablecoin yang sesuai dengan perundang-undangan AS dan transparan “USA₮ adalah wujud komitmen kami untuk memastikan bahwa dolar tidak hanya tetap dominan di era digital, tetapi juga berkembang – melalui produk yang lebih transparan, lebih tangguh, lebih mudah diakses, dan lebih tak terbendung daripada sebelumnya,” ujarnya melalui rilis resmi Tether.

    Nantinya USAT akan diterbitkan oleh Anchorage Digital Bank, N.A., yang mana ini merupakan satu‑satunya bank kripto yang diatur secara federal dan sesuai GENIUS Act.

    Baca juga: Menatap Masa Depan Stablecoin: Partisipasi Publik Dalam GENIUS Act

    Lalu Apakah USAT Akan Menjadi Legal Tender di Amerika?

    Melalui rilis resminya, Tether menegaskan bahwa USAT tidak akan menjadi alat pembayaran yang sah (sebagaimana dijelaskan dalam pasal 5103 judul 31, United States Code) dan tidak akan diterbitkan, didukung, disetujui, atau dijamin oleh pemerintah Amerika Serikat.

    USAT juga tidak akan tunduk pada perlindungan asuransi dari Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC), Securities Investor Protection Corporation (SIPC), atau lembaga pemerintah lainnya.

    FDIC (Federal Deposit Insurance Corporation) sendiri adalah lembaga pemerintah AS yang melindungi simpanan nasabah bank. Jika sebuah bank kolaps, simpanan nasabah biasanya dijamin hingga USD 250.000 per orang per bank. Sedangkan SIPC (Securities Investor Protection Corporation) melindungi investor di perusahaan sekuritas atau broker saham.

    Ini berarti USAT tidak dilindungi oleh skema asuransi pemerintah Amerika Serikat dan jika terjadi sesuatu yang buruk, misalnya perusahaan penerbitnya bermasalah, bangkrut, atau asetnya dibekukan—maka pengguna tidak punya jaring pengaman dari negara.

    Kapan Stablecoin USAT Akan Dirilis?

    Berdasarkan pengumuman resmi dari Tether, USAT dijadwalkan untuk dirilis pada Desember 2025. Namun, hingga tanggal 23 Desember 2025, belum ada konfirmasi resmi bahwa stablecoin ini telah secara penuh diluncurkan ke publik.

    Teaser terbaru dari akun X @USAT_io, pada 22 Desember 2025, menyebutkan “USA₮. Coming soon,” yang menandakan peluncuran sangat dekat, mengingat Desember hanya kurang dari 2 minggu lagi, USAT mungkin akan segera dirilis dalam hitungan hari.

    Dengan semakin dekatnya peluncuran USAT, momentum ini diharapkan dapat menjadi tonggak penting untuk memperluas akses stablecoin yang patuh terhadap regulasi, termasuk di Indonesia nantinya.

    Stablecoin memang menjadi salah satu opsi populer buat para investor yang ingin menyimpan uang dalam bentuk dolar—di Tokocrypto kamu bisa beli langsung stablecoin dengan GRATIS biaya trading lho! Yuk cobain download dan daftar sekarang.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tether Ngebet Akuisisi Juventus Rp17 Triliun, Langsung Ditolak!

    Juventus resmi menolak tawaran akuisisi dari raksasa stablecoin Tether, meski proposal yang diajukan bernilai fantastis dan seluruhnya berbentuk tunai. Penolakan tersebut disampaikan langsung oleh Exor, perusahaan induk yang menjadi pemilik klub raksasa Serie A Italia tersebut.

    Dilaporkan Dlnews, Tether, penerbit stablecoin USDT sekaligus salah satu aset kripto terbesar di dunia, pada Jumat (13/12) mengajukan proposal mengikat untuk membeli seluruh saham Juventus yang dimiliki Exor. Dalam proposal tersebut, Tether juga menawarkan investasi tambahan sebesar €1 miliar atau sekitar US$1,1 miliar untuk pengembangan klub.

    Namun sehari kemudian, CEO Exor John Elkann menegaskan bahwa Juventus tidak dijual. Dalam pernyataan video, Elkann menyatakan bahwa klub memiliki nilai sejarah dan prinsip yang tidak bisa diperdagangkan.

    “Juventus, sejarah kami, nilai-nilai kami, tidak untuk dijual,” ujar Elkann.

    Tolak Proposal Akuisisi

    Exor kemudian menegaskan melalui pernyataan resmi bahwa dewan direksi secara bulat menolak proposal yang tidak diminta tersebut. Exor sendiri merupakan perusahaan investasi milik keluarga Agnelli, salah satu keluarga paling berpengaruh di Italia, dengan portofolio besar termasuk Ferrari dan Stellantis.

    “Juventus adalah klub legendaris dan sukses. Exor dan keluarga Agnelli telah menjadi pemegang saham yang stabil dan bangga selama lebih dari satu abad, dan tetap berkomitmen penuh mendukung klub serta manajemen barunya,” tulis Exor dalam pernyataan resmi.

    Meski gagal mengakuisisi penuh, Tether bukan nama asing di Juventus. Perusahaan kripto tersebut telah menguasai lebih dari 10% saham klub sejak April lalu, setelah meningkatkan kepemilikannya sebagai bagian dari diversifikasi bisnis.

    CEO Tether, Paolo Ardoino, menyebut bahwa tawaran untuk menjadi pemegang saham mayoritas bersifat personal. Ia mengaku memiliki ikatan emosional dengan Juventus sejak kecil.

    “Sebagai seorang anak, saya belajar tentang komitmen, ketahanan, dan tanggung jawab dengan menonton Juventus menghadapi kemenangan dan kekalahan dengan bermartabat,” kata Ardoino.

    Dukung Performa Olahraga

    Ilustrasi stablecoin Tether (USDT).
    Ilustrasi stablecoin Tether (USDT).

    Menurut Tether, tujuan proposal tersebut adalah untuk mendukung performa olahraga Juventus di level tertinggi serta membantu klub berkembang secara berkelanjutan di tengah perubahan lanskap olahraga dan media global.

    Di luar dunia sepak bola, Tether memang tengah agresif berekspansi. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan ini meluncurkan aplikasi kesehatan, berinvestasi di perusahaan robot humanoid Generative Bionics, serta mengakuisisi saham mayoritas perusahaan agribisnis Amerika Selatan, Adecoagro.

    Meski tawaran bernilai triliunan rupiah itu ditolak, langkah Tether menunjukkan semakin eratnya irisan antara industri kripto dan olahraga global.

    Baca juga: Bukan Negera, Tether Jadi Pemborong Emas Terbanyak di Dunia!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Akses Emas Tokenisasi Kian Luas

    Perusahaan stablecoin terbesar, Tether, resmi memperluas jangkauan produk emas tokenized miliknya, XAUt, dengan meluncurkannya di BNB Chain.

    Langkah ini langsung diperkuat oleh dukungan dari Binance yang menambahkan berbagai pasangan perdagangan (spot pair), termasuk USDT, BTC, USDC, TRY, dan U.

    Ekspansi ini menjadi tonggak penting bagi adopsi aset berbasis emas di dunia kripto, sekaligus memperkuat narasi real-world assets (RWA) yang semakin dominan di pasar.

    Baca Juga: Tether Angkat Simon McWilliams sebagai CFO

    XAUt: Pemimpin Pasar Emas Tokenized

    Produk Tether Gold (XAUt) saat ini merupakan token emas terbesar di dunia kripto, dengan kapitalisasi pasar sekitar $3,2 miliar.

    Menurut laporan Cryptobriefing, potensi XAUt untuk ‘bersinar’ cukup besar karena didukung oleh sekitar 1.800 batang emas fisik yang disimpan di vault Swiss. Apalagi, XAUt menguasai sekitar 60% pangsa pasar global gold-backed stablecoin.

    Dengan basis fundamental tersebut, XAUt telah menjadi jembatan antara aset fisik tradisional dan ekosistem digital.

    Integrasi ke BNB Chain: Game Changer Distribusi

    Masuknya XAUt ke BNB Chain membawa dampak signifikan dari sisi distribusi dan aksesibilitas.

    BNB Chain dikenal sebagai salah satu jaringan dengan pengguna aktif terbesar yang punya ekosistem DeFi dan trading yang luas, serta biaya transaksi relatif rendah.

    Dengan integrasi ini, pengguna kini dapat mengakses emas tokenized langsung dari wallet on-chain, memperdagangkan XAUt secara lebih mudah, dan menggunakan XAUt dalam berbagai aplikasi DeFi.

    Artinya, XAUt tidak lagi hanya menjadi produk niche, tetapi mulai masuk ke arus utama pasar kripto.

    Binance Perkuat Likuiditas

    Dukungan dari Binance menjadi faktor kunci dalam ekspansi ini. Dengan penambahan berbagai pasangan trading, likuiditas XAUt berpotensi meningkat secara signifikan.

    Pasangan yang ditambahkan meliputi XAUt/USDT, XAUt/BTC, XAUt/USDC, XAUt/TRY, dan XAUt/U. Langkah ini memungkinkan trader untuk:

    • Mengakses eksposur emas tanpa keluar dari ekosistem kripto
    • Melakukan hedging terhadap volatilitas pasar
    • Diversifikasi portofolio secara lebih efisien

    Momentum Emas dan Narasi Safe Haven

    Ekspansi ini juga terjadi di tengah meningkatnya minat terhadap aset safe haven seperti emas. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi global, investor cenderung mencari instrumen yang lebih stabil.

    Dengan XAUt, investor mendapatkan eksposur terhadap harga emas, likuiditas tinggi seperti aset kripto, serta fleksibilitas penggunaan dalam ekosistem digital.

    Ini berarti, XAUt berada di persimpangan antara tradisional finance dan DeFi, menjadikannya produk yang semakin relevan.

    Katalis Adopsi Nyata

    Menurut Tim riset dari Tokocrypto, langkah ini merupakan katalis penting bagi pertumbuhan XAUt.

    “Ini katalis yang cukup kuat buat XAUt karena distribusinya naik kelas dari sekadar produk niche menjadi instrumen yang makin dekat ke arus utama trading kripto,” ungkap Tim Research Tokocrypto.

    Menurutnya, saat emas fisik, safe-haven trade, dan RWA bertemu di BNB Chain, XAUt punya peluang besar buat menarik likuiditas baru dari trader yang ingin eksposur gold tanpa keluar dari ekosistem on-chain.

    Pernyataan ini menegaskan bahwa ekspansi distribusi menjadi kunci dalam mendorong adopsi aset tokenized.

    Dampak bagi Pasar Kripto

    Peluncuran XAUt di BNB Chain membawa beberapa implikasi penting:

    1. Peningkatan Adopsi RWA

    Aset dunia nyata seperti emas semakin terintegrasi ke dalam ekosistem kripto.

    2. Diversifikasi Instrumen Trading

    Trader memiliki lebih banyak pilihan selain aset volatil seperti Bitcoin atau altcoin.

    3. Kompetisi di Sektor Tokenized Assets

    Produk serupa kemungkinan akan muncul untuk bersaing di pasar yang sama.

    Baca Juga: Tether Integrasikan USA₮ ke Rumble Wallet, Ekspansi Pembayaran Digital

    Langkah Tether membawa XAUt ke BNB Chain, didukung oleh listing di Binance, menandai fase baru dalam adopsi emas tokenized di dunia kripto.

    Dengan kombinasi likuiditas tinggi, distribusi luas, dan narasi safe haven, XAUt berpotensi menjadi salah satu instrumen utama dalam kategori RWA.

    Jika tren ini berlanjut, emas tokenized tidak hanya menjadi alternatif investasi, tetapi juga bagian integral dari ekosistem keuangan digital global.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Audit Penuh! Tether Buktikan Cadangan USDT US$184 Miliar

    Penerbit stablecoin terbesar di dunia, Tether, mengambil langkah besar dengan menunjuk firma audit Big Four untuk melakukan audit penuh (full financial statement audit) terhadap cadangan USDT yang nilainya mencapai sekitar US$184 miliar.

    Langkah ini menandai perubahan signifikan dari pendekatan sebelumnya yang hanya mengandalkan attestation berkala, menuju proses audit yang jauh lebih komprehensif dan mendalam.

    Dari Attestation ke Audit Penuh

    Selama ini, Tether menggunakan laporan attestation untuk memberikan gambaran cadangan aset yang mendukung USDT.

    Namun, metode ini memiliki keterbatasan karena hanya bersifat snapshot pada waktu tertentu dan tidak mencakup evaluasi menyeluruh.

    Dengan audit penuh, cakupan pemeriksaan akan jauh lebih luas, termasuk verifikasi aset dan liabilitas secara detail.

    Selain itu, aspek yang turut diaudit adalah evaluasi sistem kontrol internal, peninjauan proses pelaporan keuangan, hingga validasi keberadaan dan kualitas cadangan

    Langkah ini menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya meningkatkan transparansi di industri stablecoin.

    Baca Juga: Tether Integrasikan USA₮ ke Rumble Wallet, Ekspansi Pembayaran Digital

    Peran Vital

    USDT merupakan stablecoin dengan kapitalisasi terbesar di pasar kripto dan memainkan peran vital dalam likuiditas global. Oleh karena itu, transparansi cadangan menjadi isu krusial.

    Selama bertahun-tahun, Tether sering menghadapi kritik terkait kejelasan komposisi cadangan, kualitas aset pendukung, dan tingkat keterbukaan informasi.

    Di sinilah, audit penuh dari firma Big Four berpotensi menjawab kekhawatiran tersebut.

    Dampak Potensial bagi Pasar

    Jika audit ini berhasil diselesaikan dengan hasil yang positif, dampaknya bisa sangat besar:

    1. Meningkatkan Kepercayaan Investor

    Validasi independen dari firma audit global dapat memperkuat kepercayaan terhadap USDT.

    2. Memperkuat Dominasi Pasar

    USDT berpotensi semakin mengukuhkan posisinya sebagai stablecoin utama.

    3. Standar Baru Industri

    Langkah ini bisa mendorong penerbit stablecoin lain untuk mengikuti standar transparansi yang lebih tinggi.

    Momentum Penting, Tapi Belum Final

    Menurut Tim riset dari Tokocrypto, langkah Tether ini merupakan perkembangan penting, namun belum sepenuhnya menghapus keraguan pasar.

    “Ini jelas langkah penting buat meredam kritik lama soal transparansi reserve dan kualitas disclosure. Kalau audit ini benar-benar selesai dan hasilnya kuat, posisi USDT sebagai stablecoin dominan bisa makin kokoh; tapi sampai laporan final keluar, pasar tetap punya alasan buat menahan sedikit skeptisisme,” ujar Tim Research Tokocrypto.

    Secara tidak langsung, keberhasilan langkah ini sangat bergantung pada hasil akhir audit.

    Tantangan dalam Proses Audit

    Melakukan audit terhadap cadangan sebesar US$184 miliar bukanlah tugas sederhana.

    Menurut laporan Coindesk, beberapa tantangan yang mungkin akan dihadapi Tether selama proses pengauditan.

    Dimulai dengan kompleksitas struktur aset, diversifikasi instrumen keuangan, verifikasi likuiditas dan risiko, serta standar pelaporan lintas yurisdiksi.

    Tentunya, proses ini membutuhkan tingkat ketelitian tinggi dan waktu yang tidak singkat.

    Dampak Lebih Luas bagi Industri Stablecoin

    Meski membutuhkan kesabaran ekstra, langkah Tether juga dapat memicu perubahan besar di sektor stablecoin.

    Dampak yang akan sangat terasa kemungkinan besar ada pada penggunaan regulasi yang semakin ketat. Transparansi juga menjadi standar wajib bagi setiap publisher.

    Seakan menjadi efek domino, hasil audit bakal membuat investor menjadi lebih selektif dalam memilih stablecoin, sehingga kompetisi antar penerbit semakin meningkat.

    Garis besarnya, stablecoin tidak lagi hanya dinilai dari stabilitas harga saja, tetapi juga dari kredibilitas cadangan.

    Menuju Era Transparansi yang Lebih Tinggi

    Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap transparansi di industri kripto terus meningkat. Regulator, investor, dan institusi kini menuntut standar yang lebih tinggi.

    Audit penuh seperti ini bisa menjadi benchmark baru untuk industri, sekaligus alat untuk membangun kepercayaan jangka panjang guna membentuk fondasi yang terintegrasi dengan sistem keuangan tradisional.

    Baca Juga: LayerZero Dilirik Tether! USDT0 Disebut Sudah Pindah US$70 Miliar

    Keputusan Tether untuk menunjuk firma audit Big Four dalam melakukan audit penuh cadangan USDT merupakan langkah strategis yang dapat mengubah persepsi pasar terhadap stablecoin.

    Jika berhasil, langkah ini tidak hanya memperkuat posisi USDT, tetapi juga mendorong seluruh industri menuju standar transparansi yang lebih tinggi. Namun, hingga hasil audit resmi dirilis, pasar masih akan menunggu dengan sikap hati-hati.

    Dalam lanskap kripto yang semakin matang, transparansi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan utama untuk mempertahankan kepercayaan dan keberlanjutan jangka panjang.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang.

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Transaksi Aset Kripto di RI Tembus Rp 475,13 T


    Jakarta

    Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat jumlah transaksi aset kripto di Indonesia telah menembus Rp 475,13 triliun sepanjang Januari-Oktober 2024. Nilai itu meningkat 352,89% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 104,91 triliun.

    Kepala Bappebti Kasan menyatakan, pertumbuhan transaksi perdagangan aset kripto yang terus meningkat ini merupakan salah satu wujud komitmen Bappebti untuk mendukung perkembangan perdagangan aset kripto di Indonesia.

    “Bappebti mencatat perkembangan nilai transaksi aset kripto di Indonesia berhasil menembus Rp 475,13 triliun pada Januari-Oktober 2024. Nilai tersebut meningkat 352,89% dibandingkan periode yang sama pada 2023, yaitu sebesar Rp 104,91 triliun. Hal ini membuktikan perdagangan aset kripto merupakan salah satu pilihan perdagangan yang diminati masyarakat,” ujar Kasan dalam keterangannya, Jumat (22/11/2024).


    Kasan mengungkapkan, perkembangan transaksi aset kripto akan mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor pajak. Sejak 2022 sampai dengan Oktober 2024, penerimaan pajak dari transaksi aset kripto mencapai Rp 942,88 miliar.

    Lebih lanjut, Kasan mengutarakan, jumlah pelanggan aset kripto hingga Oktober 2024 mencapai 21,63 juta pelanggan. Sementara itu, pelanggan yang aktif bertransaksi melalui Calon Pedagang Fisik Aset Kripto (CPFAK) dan Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) pada Oktober 2024 berjumlah 716 ribu pelanggan.

    Adapun jenis aset kripto dengan nilai transaksi terbesar di PFAK pada Oktober 2024 yaitu Tether (USDT), Ethereum (ETH), Bitcoin (BTC), Pepe (PEPE), dan Solana (SOL). Kasan berujar, peningkatan jumlah pelanggan saat ini menunjukkan potensi pasar aset kripto di Indonesia yang masih sangat besar. Ke depan, Indonesia diharapkan mampu menjadi salah satu pemimpin pasar kripto di dunia.

    Dia menambahkan, saat ini Bappebti turut memperkuat kolaborasi dengan Organisasi Regulator Mandiri (Self Regulatory Organization/SRO), asosiasi, dan para pemangku kepentingan terkait. Hal ini dilakukan untuk mengembangkan ekosistem dan tata kelola aset kripto.

    Selain itu, upaya tersebut juga bertujuan untuk memperkuat regulasi dan meningkatkan literasi masyarakat. Dengan demikian, Bappebti optimistis nilai transaksi aset kripto akan kembali meningkat pada periode- periode selanjutnya.

    “Tingginya antusiasme masyarakat terhadap aset kripto harus diimbangi dengan edukasi dan literasi yang komprehensif. Penguatan literasi diharapkan menjadi langkah efektif dalam meningkatkan perlindungan kepada masyarakat, memberikan kepastian berusaha bagi pelaku industri, dan mengurangi aduan. Langkah strategis ini juga diharapkan mampu memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dalam perdagangan aset kripto di Indonesia,” terang Kasan.

    Sementara itu, Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi Tirta Karma Senjaya mengatakan, Bappebti terus berkomitmen untuk mewujudkan aset kripto yang berintegritas dan adaptif.

    Hal tersebut dibuktikan Bappebti dengan menerbitkan Peraturan Bappebti (Perba) Nomor 9 Tahun 2024 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Bappebti Nomor 8 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Perdagangan Pasar Fisik Aset Kripto (Crypto Asset) di Bursa Berjangka.

    “Tidak hanya itu, Bappebti terus melakukan pembinaan kepada PFAK dan CPFAK. Saat ini tujuh perusahaan sudah menjadi PFAK. Ketujuh PFAK tersebut yaitu PT Pintu Kemana Saja (Pintu), PT Bumi Santosa Cemerlang (Pluang), PT Aset Digital Berkat (Tokocrypto), PT Kagum Teknologi Indonesia (Ajaib), PT Tiga Inti Utama (Triv), PT Sentra Bitwewe Indonesia (Bitwewe), dan PT CTXG Indonesia Berkarya (Mobee). Selanjutnya, kita berharap perusahaan lain yang berstatus CPFAK dapat segera menjadi PFAK,” lanjut Tirta.

    Sekretaris Bappebti Olvy Andrianita menegaskan, selain fokus pada peningkatan transaksi, Bappebti, SRO, dan PFAK juga harus konsisten dalam memberikan literasi untuk penguatan perlindungan kepada masyarakat. Terlebih, mayoritas pelanggan perdagangan aset kripto adalah genarasi muda.

    “Perdagangan aset kripto di Indonesia terus mengikuti tren di pasar global dan masih menjadi pilihan perdagangan yang diminati masyarakat. Berdasarkan data demografi yang tercatat di Bappebti, sebanyak 75 persen pelanggan aset kripto berusia 18-35 tahun. Untuk itu, penguatan literasi mutlak diperlukan. Bappebti meyakini, perdagangan aset kripto di Indonesia akan terus tumbuh seiring dengan peningkatan minat pelanggan usia muda,” pungkas Olvy.

    (ada/ara)



    Sumber : finance.detik.com

  • Transaksi Aset Kripto Melonjak 356% Tembus Rp 556 T, Ini yang Paling Laku


    Jakarta

    Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp 556,53 triliun sepanjang Januari-November 2024. Nilai tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp 122 triliun.

    Plt Kepala Bappebti Tommy Andana menerangkan pertumbuhan transaksi perdagangan aset kripto yang terus meningkat tersebut merupakan salah satu wujud kepercayaan masyarakat terhadap perdagangan aset kripto di Indonesia.

    “Perkembangan nilai transaksi aset kripto pada periode Januari-November 2024 mencapai Rp 556,53 triliun. Nilai tersebut meningkat 356,16% dibandingkan periode yang sama pada 2023, yaitu sebesar Rp 122 triliun. Hal ini membuktikan perdagangan aset kripto merupakan salah satu pilihan perdagangan yang diminati masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (28/12/2024).


    Tommy menjelaskan, jumlah pelanggan aset kripto hingga November 2024 mencapai 22,1 juta pelanggan. Sementara itu, pelanggan yang aktif bertransaksi melalui Calon Pedagang Fisik Aset Kripto (CPFAK) dan PFAK pada November 2024 berjumlah 1,3 juta pelanggan.

    Jenis aset kripto dengan nilai transaksi tertinggi pada November 2024 antara lain Tether (USDT), Bitcoin (BTC), Doge Coin (DOGE), Pepe (PEPE), XRP (XRP).

    “Peningkatan jumlah pelanggan saat ini menunjukkan potensi pasar aset kripto di Indonesia yang masih sangat besar. Dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia diprediksi mampu menjadi salah satu pemimpin pasar kripto di dunio,” tegas Tommy.

    Bappebti terus memperkuat kolaborasi dengan organisasi regulator mandiri (self regulatory organization/SRO), asosiasi, dan para pemangku kepentingan industri aset kripto di Indonesia.

    Hal ini dilakukan untuk mengembangkan ekosistem dan tata kelola aset kripto di samping tentunya untuk memperkuat regulasi dan literasi kepada masyarakat. Dengan demikian, Bappebti optimistis nilai transaksi aset kripto akan meningkat pada 2025.

    Sekretaris Bappebti Olvy Andrianita menegaskan, selain fokus pada peningkatan transaksi, Bappebti, SRO, dan PFAK juga harus konsisten dalam memberikan literasi untuk penguatan perlindungan kepada masyarakat. Literasi ditujukan terutama untuk pelanggan perdagangan aset kripto yang didominasi generasi muda.

    “Tingginya antusiasme masyarakat terhadap aset kripto harus diimbangi dengan edukasi dan literasi yang komprehensif. Penguatan literasi diharapkan menjadi langkah efektif dalam meningkatkan perlindungan kepada masyarakat, memberikan kepastian berusaha bagi pelaku industri, dan mengurangi aduan,” tegas Olvy.

    Sementara itu, Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi Tirta Karma Senjaya mengatakan, Bappebti berkomitmen untuk mewujudkan aset kripto yang berintegritas dan adaptif. Bappebti juga terus mendorong para CPFAK untuk segera menjadi PFAK.

    “Bappebti tetap konsisten melakukan pembinaan kepada PFAK dan CPFAK. Saat ini sembilan perusahaan sudah menjadi PFAK meliputi PT Pintu Kemana Saja (Pintu), PT Bumi Santosa Cemerlang (Pluang), PT Aset Digital Berkat (Tokocrypto), dan PT Kagum Teknologi Indonesia (Ajaib). Berikutnya, PT Tiga Inti Utama (Triv), PT Sentra Bitwewe Indonesia (Bitwewe), dan PT CTXG Indonesia Berkarya (Mobee), PT Rekeningku Dotcom Indonesia (Reku), dan PT Ekripsi Teknologi Handal (Usenobi). Selanjutnya, kami berharap perusahaan lain yang berstatus CPFAK dapat segera menjadi PFAK, “tutup Tirta.

    (ada/ara)



    Sumber : finance.detik.com