Tag: usdt

  • Investasi $459 Juta Bitcoin, Tether Bikin Twenty One

    Tether, perusahaan di balik stablecoin USDT, baru-baru ini mengumumkan investasi besar senilai $459 juta dalam bentuk Bitcoin.

    Langkah ini bertujuan untuk mendirikan perusahaan baru bernama “Twenty One,” sebuah perusahaan treasury Bitcoin yang dirancang untuk menjadi perusahaan publik.

    Investasi ini mencerminkan strategi Tether dalam memperluas portofolio aset digitalnya dan memperkuat posisinya di pasar keuangan digital.

    Akuisisi Bitcoin oleh Tether

    Menurut pengajuan terbaru ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), Tether telah membeli 4.812,22 Bitcoin dengan harga rata-rata $95.319,83 per koin.

    Setelah proses ini selesai, kepemilikan Bitcoin tersebut akan dialihkan ke Twenty One, perusahaan baru yang dibentuk melalui merger dengan perusahaan akuisisi tujuan khusus (SPAC) milik Cantor Fitzgerald, yaitu Cantor Equity Partners.

    Baca Juga: Bangun Kredibilitas USDT, Tether Perkuat Transparansi Audit Penuh

    Strategi dan Kepemimpinan Baru

    Twenty One dirancang sebagai perusahaan treasury Bitcoin, dengan fokus pada pengelolaan dan pemanfaatan aset digital untuk tujuan keuangan dan investasi.

    Perusahaan ini akan dipimpin oleh Jack Mallers, pendiri dan CEO Strike, yang dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka dalam adopsi Bitcoin dan teknologi pembayaran berbasis kripto.

    Dengan kepemimpinan Mallers, Twenty One diharapkan dapat memainkan peran penting dalam integrasi Bitcoin ke dalam sistem keuangan tradisional.

    Dampak terhadap Pasar dan Komunitas Kripto

    Langkah Tether ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap Bitcoin sebagai aset strategis dan alat lindung nilai terhadap inflasi.

    Dengan mendirikan Twenty One, Tether tidak hanya memperluas eksposurnya terhadap Bitcoin tetapi juga menciptakan platform baru untuk integrasi aset digital ke dalam struktur keuangan yang lebih luas.

    Hal ini dapat mendorong adopsi institusional yang lebih besar terhadap Bitcoin dan memperkuat posisinya sebagai aset kelas utama.

    Maka dari itu, investasi $459 juta oleh Tether dalam Bitcoin untuk mendirikan Twenty One menandai langkah signifikan dalam evolusi perusahaan dan pasar kripto secara keseluruhan.

    Dengan fokus pada pengelolaan treasury Bitcoin dan dipimpin oleh tokoh berpengaruh seperti Jack Mallers, Twenty One berpotensi menjadi pemain kunci dalam integrasi aset digital ke dalam sistem keuangan global.

    Langkah ini juga mencerminkan tren yang berkembang di mana perusahaan-perusahaan besar semakin mengakui nilai strategis Bitcoin dalam portofolio keuangan mereka.

    Baca Juga: Tether Bekukan 27 Juta USDT di Bursa Kripto Rusia Garantex


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Aethir (ATH) Terus Meroket di Tokocrypto

    Aethir (ATH) adalah token utilitas berbasis Ethereum yang mendukung platform komputasi awan terdesentralisasi Aethir.

    Dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri yang memerlukan daya komputasi tinggi seperti AI dan gaming, Aethir menawarkan solusi GPU-as-a-Service yang scalable dan efisien.

    Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, ATH memungkinkan transaksi yang mulus sekaligus memberi insentif kepada para kontributor yang menyediakan sumber daya komputasi ke jaringan ini.

    Performa Pasar ATH di Tokocrypto

    Sejak listing di Tokocrypto pada 28 November 2024, ATH/USDT telah menunjukkan aktivitas perdagangan yang signifikan.

    Pada 27 Maret 2025, harga Aethir berada di kisaran $0.0353 dan sedang mencoba menembus resistance $0.0363 setelah memantul dari area support $0.0346.

    RSI 1 jam menunjukkan pembacaan di 55.32, mengindikasikan momentum yang mulai menguat.

    Volume yang meningkat memperkuat potensi pengujian kembali area resistance atas, namun untuk konfirmasi breakout perlu ditunggu penutupan candle di atas $0.0363.

    Pergerakan harga Aethir (ATH/USDT) pada Selasa, 13 Mei 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Aethir (ATH/USDT) pada Selasa, 13 Mei 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Kolaborasi Strategis dengan NVIDIA

    Aethir telah mengumumkan kolaborasi strategis dengan NVIDIA untuk menyediakan layanan GPU-as-a-Service, termasuk akses ke GB200 NVL72 — perangkat keras mutakhir untuk pelatihan LLM berskala triliun parameter.

    Keberhasilan Aethir menjadi platform awal yang mendistribusikan layanan ini secara global memperkuat posisinya dalam industri AI dan cloud computing.

    Baca Juga: Aethir Bahas Roadmap 2025 dan Pengembangan di AMA Tokocrypto

    Tokenomics ATH

    Total pasokan ATH dibatasi pada 42 miliar token, dengan alokasi strategis untuk mendukung pertumbuhan ekosistem:

    • 15% untuk kontributor sumber daya.
    • 15% untuk inisiatif ekosistem.
    • 12,5% untuk tim, dengan vesting 36 bulan dan cliff 12 bulan.
    • 11,5% untuk investor, dengan vesting 24 bulan dan lock-up 6 bulan.
    • 6% untuk airdrop komunitas.
    • 5% untuk penasihat strategis.(Tokocrypto News)

    Distribusi ini dirancang untuk memastikan pengembangan jangka panjang yang berkelanjutan dan melibatkan komunitas secara aktif dalam membangun ekosistem Aethir.

    Baca Juga: Mengenal Aethir: Solusi Cloud Terdesentralisasi untuk AI dan Gaming

    Secara keseluruhan, Aethir (ATH) merupakan inovasi terdepan yang menggabungkan teknologi blockchain dengan solusi komputasi berkinerja tinggi untuk memenuhi kebutuhan industri AI dan gaming.

    Dengan fokus pada desentralisasi, keamanan, dan partisipasi komunitas, Aethir membuka akses ke layanan cloud yang lebih terjangkau dan efisien.

    Dalam menghadapi permintaan yang terus meningkat untuk solusi terdesentralisasi, Aethir berada di posisi strategis untuk memimpin transformasi teknologi cloud computing, menjadikannya pemain utama di sektor blockchain dan teknologi masa depan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investasi $20 Miliar Tether Bongkar Sinyal Rahasia: Apa Itu?

    Tether, penerbit stablecoin USDT, tengah menjadi sorotan besar setelah muncul kabar bahwa raksasa investasi seperti SoftBank dan ARK Investment Management mempertimbangkan untuk menanamkan modal dalam proyeknya.

    Menurut laporan Cointelegraph pada Sabtu (27/9), Tether berencana menjual sekitar 3% ekuitasnya dalam putaran pendanaan senilai hingga $20 miliar, yang jika terlaksana bisa membuat valuasi perusahaan menyentuh $500 miliar.

    Langkah ini menunjukkan bahwa Tether tengah mencari modal untuk memperluas jejak operasionalnya melewati model pendapatan semata dari bunga atas cadangan, sekaligus memperkuat posisi sebagai pemain strategis di dunia keuangan kripto dan nyata.

    Baca Juga: Investasi $459 Juta Bitcoin, Tether Bikin Twenty One

    Model Bisnis Tether & Pendapatan dari Instrumen Pendapatan Tinggi

    Model inti Tether selama ini cukup “klasik namun kokoh” di ranah stablecoin.

    Ketika pengguna melakukan deposit fiat (misalnya USD), Tether mencetak USDT dan menempatkan cadangan pendukungnya ke dalam aset berimbal hasil (yield).

    Sebagian besar cadangan tersebut ditempatkan dalam surat utang AS jangka pendek (Treasury bills), yang dianggap paling likuid dan relatif aman.

    Di kuartal kedua 2025, Tether melaporkan laba bersih sebesar $4,9 miliar, lonjakan sekitar 277 % year-on-year.

    Selain pendapatan bunga, Tether turut mengembangkan usaha pemberian pinjaman (secured lending) yang dijamin oleh cadangan mereka sendiri.

    Namun, kenaikan hasil Treasury yang selama ini menjadi sumber pendapatan besar Tether kini mulai mereda dibanding puncaknya, sehingga perusahaan sadar bahwa mengandalkan pendapatan dari bunga saja bukan strategi jangka panjang yang ideal.

    Mengapa Investor Besar Tertarik?

    Beberapa alasan mengapa SoftBank, ARK, dan investor papan atas lainnya dikaitkan dengan putaran pendanaan ini:

    1. Keuntungan luar biasa & profitabilitas terbukti
      Laba Tether mencapai miliaran menunjukkan bahwa model bisnisnya tidak hanya teoretis, tetapi nyata berfungsi di dunia kripto yang sangat kompetitif.
    2. Dominasi pasar stablecoin & status strategis
      USDT adalah stablecoin terbesar dunia secara kapitalisasi pasar (sekitar $173,6 miliar untuk sirkulasi USDT). Posisi ini membuat Tether menjadi entitas keuangan strategis, bukan sekadar pemain kripto.
    3. Potensi ekspansi ke lini bisnis baru
      CEO Tether, Paolo Ardoino, menyebut bahwa perusahaan sedang menjajaki ekspansi ke sektor komoditas, energi, infrastruktur, dan media yang memperluas domain perusahaan di luar keuangan murni.
      Dengan modal besar, Tether bisa melakukan akuisisi, investasi infrastruktur, dan diversifikasi revenue stream.
    4. Valuasi tinggi & daya tarik eksklusif
      Jika pendanaan berhasil, valuasi US$ 500 miliar akan menempatkan Tether di jajaran perusahaan privat terbesar dunia sehingga sejajar dengan nilai yang dirumorkan untuk OpenAI.
      Para investor besar pun cenderung tertarik pada “akses eksklusif” ke peluang pertumbuhan besar yang tidak tersedia di publik.

    Tantangan & Risiko Ekspansi

    Ekspansi sebesar ini tak tanpa risiko. Beberapa hal yang harus diwaspadai:

    • Regulasi & pengawasan keuangan
      Sebagai entitas stablecoin besar, Tether sudah di bawah sorotan regulator global. Ekspansi ke bisnis finansial tradisional dan infrastruktur bisa menarik regulasi lebih ketat.
    • Ketergantungan yield dari Treasury
      Bila imbal hasil Treasury terus menurun, basis pendapatan bunga akan melemah, menambah beban pada lini bisnis baru yang mungkin belum menguntungkan.
    • Risiko eksekusi & diversifikasi
      Memasuki sektor komoditas, energi, atau media bukan hal mudah. Tether harus menguasai domain baru, mengelola risiko operasional, kompetisi sektor, dan modal infrastruktur.
    • Tingkat valuasi yang sangat tinggi
      Valuasi $500 miliar mengundang ekspektasi besar. Jika pertumbuhan atau pendapatan gagal memenuhi ekspektasi pasar, bisa terjadi koreksi valuasi yang signifikan.

    Implikasi & Makna untuk Industri Kripto & Keuangan

    1. Stablecoin menjadi aktor terdepan
      Pendanaan besar terhadap Tether menunjukkan bahwa stablecoin tidak lagi menjadi “alat bantu” pasar kripto semata — melainkan entitas keuangan strategis dengan potensi lintas sektor.
    2. Transformasi model bisnis kripto
      Langkah Tether menjadi contoh bahwa perusahaan kripto yang hanya mengandalkan yield atau transaksi harus berpikir soal diversifikasi — ke bisnis nyata, aset fisik, dan infrastruktur.
    3. Gerbang besar ke modal institusional
      Dengan masuknya SoftBank & ARK (jika jadi), kripto-keuangan menjadi semakin dekat dengan modal institusional besar, mengaburkan batas antara “teknologi baru” dan “modal tradisional”.

    Baca Juga: Bangun Kredibilitas USDT, Tether Perkuat Transparansi Audit Penuh

    Penggalangan dana hingga $20 miliar oleh Tether menarik minat nama besar seperti SoftBank dan ARK menunjukkan bahwa investor besar melihat perusahaan ini bukan sekadar pemain stablecoin, melainkan calon raksasa keuangan global.

    Jika berhasil, valuasi $500 miliar dapat menjadikan Tether salah satu perusahaan privat paling bernilai di dunia.

    Namun, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh dana, melainkan oleh kemampuan Tether melakukan transformasi: mengelola diversifikasi usaha, mempertahankan profitabilitas, dan menavigasi regulasi.

    Bagi pengamat kripto dan investor institusional, ini mungkin menjadi salah satu momen paling menarik dalam evolusi industri blockchain hingga hari ini.




    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Masa Depan Stablecoin: Regulasi Ketat dan Pertumbuhan Pasar Global

    Stablecoin semakin memainkan peran penting dalam ekosistem kripto maupun sistem keuangan global. Riset ini disusun oleh tim Riset Tokocrypto untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang evolusi stablecoin, mulai dari fase awal hingga era regulasi ketat yang membentuk masa depannya.

    Dari sekadar solusi volatilitas, kini stablecoin berkembang menjadi infrastruktur pembayaran digital yang menjembatani blockchain dan sistem keuangan tradisional. Dengan kapitalisasi pasar lebih dari $280 miliar, stablecoin telah menjadi fondasi utama perdagangan kripto, pembayaran lintas negara, hingga settlement institusional.

    Apa Itu Stablecoin?

    Stablecoin adalah aset kripto yang nilainya dipatok pada mata uang fiat, seperti dolar AS, untuk menghadirkan stabilitas harga. Dengan sifat ini, stablecoin menawarkan keunggulan kripto—cepat, murah, tanpa batas, dan tersedia 24 jam—namun tetap mempertahankan kestabilan nilai dolar. Hal ini menjadikannya instrumen penting bagi aplikasi Web3, DeFi, hingga pembayaran global.

    Perjalanan Stablecoin

    • 2014–2017: Era Awal
      Tether (USDT) lahir sebagai stablecoin pertama, pionir yang membuka jalan bagi aset serupa.
    • 2018–2020: Era Alternatif
      Muncul stablecoin alternatif seperti USDC (Circle/Coinbase) yang populer di AS, DAI (MakerDAO) yang berbasis aset kripto, dan BUSD yang didukung Binance & Paxos.
    • 2021–2022: Krisis Stablecoin
      Runtuhnya UST (Terra/LUNA) menjadi salah satu peristiwa “black swan” terbesar dalam sejarah kripto, menghapus lebih dari $18 miliar nilai pasar.
    • 2023–2025: Era Regulasi & Integrasi Global
      Regulasi mulai diterapkan di berbagai negara: MiCA di UE, FSMA di Inggris, hingga GENIUS Act di AS. Aturan ini menekankan cadangan 1:1, transparansi, serta lisensi resmi.
    Stablecoin Market Share by Token. Sumber: Artemis
    Stablecoin Market Share by Token. Sumber: Artemis.

    Jenis-Jenis Stablecoin

    1. Fiat-Backed
      • Tether (USDT): Pioneer sejak 2014, kini terbesar dengan cadangan >$65 miliar.
      • USD Coin (USDC): Diluncurkan 2018, salah satu stablecoin terpopuler di AS.
      • DAI (MakerDAO): Stablecoin desentralisasi berbasis ETH dan aset kripto lain.
    2. Eksperimen & Generasi Baru
      • UST (Terra Luna): Gagal mempertahankan peg, runtuh di 2022.
      • USDe (Ethena): Mengusung mekanisme delta-neutral hedging untuk stabilitas.
      • USD1 (World Liberty Financial): Diposisikan untuk lembaga keuangan besar.
      • RLUSD (Ripple USD): Fokus pada transaksi lintas batas dan integrasi DeFi.

    Pasar Stablecoin On-Chain

    Stablecoin Supply by Chain. Sumber: Artemis.
    Stablecoin Supply by Chain. Sumber: Artemis.
    • Dominasi USDT & USDC
      Per Agustus 2025, total pasar stablecoin mencapai $282 miliar, dengan USDT menguasai 60% ($169 miliar) dan USDC 26% ($72,9 miliar).
    • Pertumbuhan Pemain Baru
      USDe, DAI, USDS, dan USD1 mulai menunjukkan tren positif meski pangsanya masih kecil.
    • Rantai Dominan
      Ethereum ($157,1 miliar) dan Tron ($79,2 miliar) menguasai lebih dari 80% total suplai stablecoin.

    Adopsi Stablecoin

    Stablecoin kini digunakan dalam berbagai sektor:

    • Perdagangan & DeFi: Sebagai unit akun utama di exchange dan protokol pinjaman.
    • Remitansi Global: Alternatif murah dan cepat untuk transfer lintas negara.
    • Pembayaran Ritel: Digunakan dalam checkout e-commerce hingga kartu debit berbasis stablecoin.
    • Settlement Institusi: Bank dan fintech mulai memanfaatkan stablecoin untuk transaksi wholesale.
    • Pasar Berkembang: Negara seperti Nigeria, Turki, dan Argentina memanfaatkan stablecoin sebagai alternatif dolar fisik.

    Selain itu, integrasi dengan Real World Assets (RWA) seperti US Treasury tokenized semakin memperluas fungsi stablecoin, menjadikannya bagian dari infrastruktur keuangan digital.

    Regulasi Global Stablecoin

    Stablecoin Supply by Token. Sumber: Artemis.
    Stablecoin Supply by Token. Sumber: Artemis.

    Berbagai yurisdiksi mulai memperketat aturan:

    • Uni Eropa (MiCA): Penerbit stablecoin wajib otorisasi dan cadangan likuid 1:1.
    • Inggris (FSMA): Stablecoin pembayaran diatur FCA & Bank of England.
    • Jepang (PSA): Hanya bank berlisensi dapat menerbitkan stablecoin, wajib fully backed.
    • Singapura (MAS): Stablecoin G10 wajib cadangan 1:1.
    • Kanada (OSFI): Stablecoin fully backed dianggap risiko rendah.
    • Hong Kong (Stablecoin Ordinance): Penerbit wajib lisensi HKMA dengan tata kelola ketat.
    • AS (GENIUS Act): Regulasi komprehensif, mencakup cadangan, transparansi, dan sanksi berat (hingga denda $1 juta/hari + 5 tahun penjara).

    Kesimpulan

    Stablecoin telah berevolusi menjadi jembatan utama antara sistem keuangan tradisional dan blockchain. Dengan kapitalisasi pasar lebih dari $280 miliar, dominasi USDT dan USDC, munculnya stablecoin generasi baru seperti USDe dan USD1, serta regulasi global yang semakin ketat, stablecoin kini bukan hanya instrumen kripto, melainkan fondasi keuangan digital global yang siap menopang era Web3.

    Baca juga: Caldera (ERA): Metalayer yang Ubah Total Ekosistem Ethereum


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • ⁠Bukan Negera, Tether Jadi Pemborong Emas Terbanyak di Dunia!

    Tether perusahaan kripto yang menerbitkan stablecoin seperti USDT yang dipatok ke USD dan XAUt yang dipatok ke emas, menurut data dari bank investasi Jefferies Tether membeli 26 ton emas di Q3, lebih banyak dibandingkan bank sentral negara mana pun pada periode yang sama.

    Apa itu Tether dan Kenapa Membeli Begitu Banyak Emas?

    Didirikan pada 2014, Tether Limited adalah perusahaan kripto terkemuka yang menerbitkan stablecoin populer USDT, stablecoin yang dirancang untuk mempertahankan rasio 1:1 dengan dolar AS, menyediakan likuiditas dalam perdagangan kripto. Sekarang, kapitalisasi pasar USDT  telah melebihi $184 miliar.

    Tether sering mendapat sorotan atas transparansi cadangannya. Sehingga, sebagai respons, perusahaan mendiversifikasi asetnya di luar uang tunai dan obligasi pemerintah, termasuk Bitcoin dan, yang paling menonjol, sekarang adalah emas fisik. Pergeseran ini mulai meningkat sekitar 2021, seiring dengan ledakan aset tokenisasi.

    Dikutip Yahoo Finance, per bulan September 2025, cadangan emas Tether mencapai 116 ton. Cadangan ini bernilai sekitar $13 miliar, mencakup sekitar 104 ton yang mendukung USDT dan 12 ton yang mendukung XAUt, produk emas tokenisasi Tether.

    Baca juga: Trading dengan Pair IDR vs USD, Mana yang Cocok Buat Kamu?

    Pembelian Emas Besar-besaran Tether di Q3 2025

    Ditengah harga emas yang tengah terus naik, Tether sibuk memborong emas sebagai bagian dari cadangan stablecoin yang dimilikinya. Pembelian 26 ton emas oleh Tether pada Q3 bahkan lebih besar daripada pembelian emas yang dilakukan oleh banyak negara.

    Grafik pembelian emas Tether Q3 vs central bank. Sumber: Jefferies via Reuters

    Sebagai konteks, Kazakhstan membeli 18 ton, Brasil 15 ton, Turki 7 ton, dan Irak 6 ton selama periode yang sama. Menurut bank investasi Jefferies, Tether menyumbang sekitar 12% dari pembelian emas bank sentral yang diketahui pada kuartal itu dan 14% pada Q2. 

    Ini menjadikan Tether bukan hanya pembeli, tetapi pemegang independen emas fisik yang dominan, setara dengan cadangan nasional Korea Selatan (sekitar 104 ton, menurut beberapa estimasi), Hungaria, dan Yunani. 

    Namun, berbeda dengan entitas berdaulat yang menimbun emas untuk stabilitas moneter, pembelian Tether didorong oleh permintaan komersial, seperti sirkulasi USDT yang terus melonjak (dari $174 miliar menjadi $184 miliar pada Q3), minat yang tumbuh terhadap XAUt di tengah volatilitas ekonomi, dan adopsi kripto yang semakin meluas.

    Alasan di Balik Tether Memborong Emas

    Data cadangan aset Tether per September 2025. Sumber: Tether Financial Report and Reserve Report

    Faktor seperti dominasi fiskal, utang publik yang meningkat, kebijakan moneter longgar, dan terkikisnya kepercayaan terhadap mata uang fiat. Investor, yang waspada terhadap inflasi dan ketegangan geopolitik, membuat banyak entitas berbondong-bondong membeli aset safe-haven seperti emas.

    Tidak ketinggalan, Tether juga semakin giat mengintegrasikan emas ke dalam cadangannya, yang kini mencakup sekitar 7% dari total asetnya (sekitar $13 miliar).

    Baca juga: USDT.D Capai Level Resistance, Potensi Market Rebound?

    Kontroversi Pembelian Emas oleh Tether

    S&P Global diam-diam menurunkan penilaian stablecoin Tether dari “constrained” menjadi “weak”, yang merupakan rating terendahnya. Penurunan ini disebabkan oleh cadangan aset berisiko yang dimiliki Tether terus meningkat, seperti Bitcoin sebesar 5,6%, emas, pinjaman terjamin, dan kredit korporasi.

    CEO Tether, Paolo Ardoino, membalas dengan menolak kritik keuangan tradisional dan menekankan ketahanan perusahaan. Paolo juga menganggap bahwa bank-bank lama telah melihat Tether sebagai pengganggu.

    Baca juga: S&P vs Tether: Bentrokan Terpanas di Industri Kripto Tahun Ini

    Di sisi lain regulasi baru GENIUS Act Amerika Serikat yang disahkan pada 2025 mewajibkan stablecoin yang diizinkan untuk didasarkan 1:1 dengan cadangan aset likuid seperti dolar AS atau surat utang AS jangka pendek, bukan aset volatil atau sulit dicairkan seperti emas dan Bitcoin.

    Tether merespons dengan meluncurkan USAT, token yang sesuai GENIUS tanpa emas, dan memungkinkan USDT tetap beroperasi di luar regulasi AS yang ketat.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.

    Sumber:
    Reuters: Has gold been Tethered? Diakses 2 Desember 2025

    Tether: Financial Report and Reserve Report. Diakses 2 Desember 2025

    Yahoo! Finance: Tether Bought 26 Tonnes of Gold in Q3 — Reserves Now Rival Central Banks. Diakses 2 Desember 2025





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • S&P vs Tether: Bentrokan Terpanas di Industri Kripto Tahun Ini

    Dalam sebuah drama panas antara dunia kripto dan lembaga keuangan tradisional, S&P Global Ratings resmi menjatuhkan peringkat Tether (USDT) ke level terendah, memicu perang kata-kata dengan CEO-nya, Paolo Ardoino. Benturan ini membuka jurang yang semakin dalam antara inovator digital dan penjaga gerbang finansial lama.

    S&P Turunkan Tether ke Rating “Weak”: Peringkat Terburuk di Skala Mereka

    Pada 26 November, S&P Global Ratings menurunkan Tether ke “5 (weak)”, level paling rendah dalam skala risiko stablecoin yang mereka luncurkan pada 2023.

    S&P menuding adanya:

    • Kesenjangan transparansi
    • Porsi tinggi aset berisiko dalam cadangan, seperti Bitcoin, emas, obligasi korporasi, pinjaman terjamin, dan aset lainnya
    • Minimnya informasi soal kredit dan risiko pasar dari pihak kustodian atau mitra Tether

    Namun secara bersamaan, S&P tetap mengakui bahwa USDT terbukti stabil, bahkan ketika pasar kripto mengalami gejolak.

    CEO Tether Melawan Sengit: “Kami Bangga Dibenci!”

    Dilaporkan The Street, tidak lama setelah laporan dirilis, CEO Tether Paolo Ardoino menembakkan respons keras.

    Ia menuliskan:
    “We wear your loathing with pride.”

    Ardoino mengecam model rating tradisional yang menurutnya:

    • Gagal menilai lembaga keuangan besar yang kemudian kolaps
    • Tidak relevan untuk perusahaan aset digital yang bekerja dengan dinamika cadangan berbeda
    • Terjebak dalam cara pandang lama yang tidak mampu mengikuti inovasi

    Ardoino menegaskan bahwa Tether justru lebih sehat daripada banyak institusi finansial yang pernah diberi rating tinggi oleh lembaga seperti S&P.

    Tether: “Kami Lebih Tangguh Dari Bank Tradisional”

    Tether menolak mentah-mentah penilaian S&P.
    Perusahaan mengklaim:

    • Telah menerbitkan USDT senilai sekitar $184 miliar
    • Selalu mampu memenuhi penukaran (redemption)
    • Berhasil bertahan dalam krisis bank, keruntuhan bursa, dan gejolak pasar kripto

    Laporan terpisah juga menyebutkan bahwa Tether kini menjadi pemegang emas independen terbesar di dunia, memperlihatkan strategi diversifikasi cadangan yang semakin agresif.

    Pertarungan Besar: Kripto vs Keuangan Tradisional

    Ketegangan ini menggarisbawahi pertanyaan besar yang terus menghantui dunia finansial modern.

    Siapa yang berhak menentukan standar risiko di era digital?
    Apakah lembaga rating tradisional masih relevan untuk menilai stablecoin, atau justru mereka yang harus beradaptasi?

    Dengan stablecoin seperti Tether semakin memiliki peran penting dalam pasar global, benturan ini tampaknya baru dimulai.

    Kesimpulan

    Penurunan rating S&P bukan sekadar angka, tetapi simbol benturan besar antara dua paradigma finansial.

    S&P tetap berpegang pada standar lama.
    Tether menyatakan diri sebagai penantang sistem finansial yang dianggap sudah usang.

    Untuk saat ini, dunia kripto menunggu babak selanjutnya dari drama besar ini.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • $5 Miliar USDT Masuk Bursa, Tapi Investor Bitcoin Justru Panik?

    Data on-chain terbaru menunjukkan divergensi menarik di pasar kripto. Di satu sisi, cadangan USDT di bursa Binance melonjak tajam hingga miliaran dolar. Namun di sisi lain, investor Bitcoin jangka pendek justru mengalami tekanan kerugian yang semakin dalam.

    Perbedaan kondisi ini memunculkan pertanyaan baru di kalangan analis: apakah pasar sedang bersiap untuk reli baru atau justru menghadapi tekanan jual lanjutan.

    Cadangan USDT di Binance Melonjak

    Dilaporkan Crypto Quant, data transaksi USDT melalui jaringan TRON (TRC20) menunjukkan lonjakan signifikan pada cadangan stablecoin di bursa kripto.

    Dalam periode sekitar satu bulan, cadangan USDT di Binance berubah drastis dari sekitar minus US$460 juta pada 8 Januari menjadi lebih dari US$4,55 miliar pada 7 Februari. Artinya, terjadi arus masuk likuiditas lebih dari US$5 miliar.

    Sepanjang Februari, cadangan tersebut juga tercatat tetap berada di atas US$4 miliar.

    Lonjakan ini sering dianggap sebagai indikator adanya “dry powder”, yakni likuiditas siap pakai yang dapat digunakan investor untuk membeli aset kripto.

    Tekanan Berat pada Investor Jangka Pendek

    Di tengah meningkatnya likuiditas, data lain menunjukkan kondisi berbeda pada investor Bitcoin jangka pendek atau short-term holders (STH).

    Indikator STH realized capitalization menunjukkan penurunan tajam hingga sekitar minus US$62,5 miliar per 3 Maret 2026.

    Level ini terakhir kali terlihat pada September 2024, periode yang kemudian diikuti pembentukan dasar harga Bitcoin di sekitar US$53.000.

    Penurunan ini menandakan banyak investor jangka pendek sedang menanggung kerugian belum terealisasi.

    Kondisi tersebut sering memicu tekanan psikologis di pasar karena kelompok investor ini cenderung lebih cepat menjual aset ketika mengalami kerugian.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, divergensi ini berarti likuiditas siap tembak telah berkumpul, tapi banyak holder jangka pendek masih dalam posisi rugi dan rawan jual panik.

    “Setup historis bisa jadi dasar bottoming, tapi timing entry tetap butuh konfirmasi,” jelasnya.

    Baca juga: LayerZero Dilirik Tether! USDT0 Disebut Sudah Pindah US$70 Miliar

    Kapitulasi Investor Mulai Terlihat

    Data juga menunjukkan penurunan signifikan pada realized capitalization milik investor jangka pendek dalam beberapa bulan terakhir.

    Sejak November 2025 hingga 2 Maret 2026, nilai realized cap kelompok ini turun dari sekitar US$658 miliar menjadi US$535 miliar. Artinya, terjadi penurunan sekitar US$123 miliar.

    Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan turunnya harga Bitcoin dari sekitar US$88.000 ke bawah US$66.000.

    Dalam siklus pasar sebelumnya, penurunan tajam seperti ini sering terjadi saat fase kapitulasi, yaitu ketika investor yang rentan mulai keluar dari pasar.

    Setelah fase tersebut selesai dan tekanan jual mereda, pasar sering kali memasuki fase pemulihan yang lebih kuat.

    Divergensi Pasar Jadi Sorotan

    Kombinasi antara meningkatnya cadangan USDT di bursa dan tekanan pada investor jangka pendek menciptakan situasi yang cukup unik di pasar kripto.

    Di satu sisi, likuiditas besar menunjukkan potensi daya beli yang sedang terbentuk. Namun di sisi lain, tekanan kerugian pada investor jangka pendek dapat memicu aksi jual tambahan.

    Para analis menilai arah pasar selanjutnya akan sangat bergantung pada apakah likuiditas baru tersebut benar-benar digunakan untuk membeli Bitcoin atau justru menunggu kondisi pasar yang lebih stabil.

    Baca Juga: Jelajahi Interoperabilitas Blockchain: Memahami LayerZero (ZRO)


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • $4,5 Miliar Stablecoin Baru Dicetak: Uang Segar Akan Banjiri Pasar Kripto?

    Setelah kejatuhan pasar kripto yang mengguncang beberapa hari terakhir, tiba-tiba muncul kabar mengejutkan: Tether (USDT) dan Circle (USDC) mencetak stablecoin baru senilai $4,5 miliar. Langkah ini memicu spekulasi luas, apakah ini pertanda bahwa “uang baru” siap mengalir kembali ke Bitcoin dan altcoin?

    Likuiditas Baru Masuk ke Pasar

    Dalam empat hari terakhir, dompet multisig milik Tether melakukan tiga transaksi besar, masing-masing senilai $1 miliar USDT. Tak mau ketinggalan, Circle juga mencetak beberapa batch $250 juta USDC, sehingga total suplai stablecoin baru mencapai $4,5 miliar.

    Langkah ini terjadi tepat setelah kejatuhan pasar, memberi isyarat bahwa penerbit stablecoin sedang menyiapkan amunisi likuiditas baru untuk mendukung potensi pemulihan harga aset digital.

    Ethereum Jadi Mesin Ganda Keuangan Digital

    Menariknya, Ethereum (ETH) kini kembali menjadi pusat pergerakan dana ini. Pasokan USDC di jaringan tersebut telah pulih mendekati $45 miliar, sementara dana BUIDL BlackRock — yang mewakili eksposur pada US Treasury yang ditokenisasi, melonjak hingga $2 miliar.

    Kombinasi pertumbuhan stablecoin dan tokenisasi aset tradisional menandakan perubahan besar:

    Blockchain kini bukan hanya tempat untuk kripto, tetapi juga rumah bagi uang dan instrumen keuangan dunia nyata.”

    Stablecoin
    Stablecoin

    Baca juga: Plasma (XPL) Ancam Ethereum: Era Baru Transaksi Stablecoin Instan

    Rotasi Likuiditas Sedang Dimulai?

    Namun, data terbaru menunjukkan dominasi USDT masih dalam tren turun jangka panjang. Meskipun ada pencetakan baru, stablecoin tersebut tampaknya tidak disimpan diam-diam di kas.

    Sebaliknya, investor mungkin bersiap untuk rotasi modal besar-besaran ke aset berisiko seperti Bitcoin (BTC) dan altcoin utama. Jika pola ini berlanjut, pasar kripto bisa segera menyerap aliran dana segar dan memulai fase pemulihan baru.

    Lonjakan Stablecoin

    Dilaporkan AMBCrypto, lonjakan pencetakan stablecoin $4,5 miliar ini bisa jadi bukan kebetulan. Ini mungkin merupakan tanda awal kembalinya likuiditas yang sangat dibutuhkan setelah periode turbulensi ekstrem.

    Dengan Ethereum menjadi tulang punggung bagi uang digital dan rotasi modal mulai tampak di cakrawala, pasar kripto mungkin akan segera mendapatkan napas baru.

    Apakah ini awal dari relief rally besar berikutnya? Pasar sedang menahan napas menunggu jawabannya.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • LayerZero Dilirik Tether! USDT0 Disebut Sudah Pindah US$70 Miliar

    Tether Investments, unit investasi dari penerbit stablecoin terbesar USDT, mengumumkan telah melakukan investasi strategis ke LayerZero Labs, pengembang protokol interoperabilitas LayerZero. Langkah ini menegaskan fokus Tether pada teknologi lintas blockchain, termasuk pengembangan versi token yang dapat bergerak antarjaringan tanpa terjebak pada satu ekosistem.

    Dalam rilis perusahaan, Tether menyebut investasi tersebut berkaitan erat dengan teknologi yang menjadi fondasi USDt0, versi blockchain-agnostic dari USDT. Tether mengklaim USDt0 telah memindahkan lebih dari US$70 miliar antar blockchain dalam waktu kurang dari satu tahun. Infrastruktur LayerZero dirancang untuk memungkinkan aset kripto berpindah di berbagai blockchain tanpa menciptakan fragmentasi likuiditas, sehingga dana tidak terisolasi di satu jaringan tertentu.

    Fokus Tether

    Baca Juga: LayerZero (ZRO) Melejit 31%, Sinyal Bullish Mulai Terbentuk

    Dilaporkan Yahoo Finance, Tether juga menyoroti bahwa arsitektur ini membuka ruang untuk use case yang lebih eksperimental, termasuk “agentic finance”, yaitu skenario ketika agen AI dapat mengelola wallet sendiri dan mengirim pembayaran secara otomatis. Menurut Tether, kemampuan lintas-chain menjadi salah satu prasyarat agar sistem pembayaran dan aplikasi keuangan berbasis stablecoin dapat berjalan lebih fleksibel di banyak jaringan.

    Investasi ini datang tidak lama setelah USDt0 dideploy oleh Everdawn Labs dan dibangun menggunakan standar Omnichain Fungible Token (OFT) milik LayerZero. Selain USDt0, proyek tokenized gold milik Tether, XAUt0, juga disebut sebagai uji penerapan nyata atas kerangka interoperabilitas LayerZero. Tether dan LayerZero tidak mengungkapkan nilai investasi tersebut, dan Tether dilaporkan tidak memberikan komentar tambahan saat diminta.

    Perluas Portofolio Investasi

    Dalam beberapa waktu terakhir, Tether diketahui memperluas portofolio investasinya dari dana yang berasal dari aktivitas bisnis stablecoin. Investasi tersebut mencakup kepemilikan mayoritas di perusahaan agribisnis Amerika Latin Adecoagro, investasi pada aplikasi kesehatan berfokus privasi, hingga kepemilikan saham di platform video Rumble. Tether juga memperkuat eksposur emas, termasuk membeli saham senilai US$150 juta di Gold.com untuk memperluas distribusi tokenized gold.

    Pasca kabar investasi ini, token ZRO sempat naik hingga sekitar 10% sebelum berbalik arah. Dalam 24 jam terakhir, ZRO tercatat melemah sekitar 3%, mencerminkan volatilitas yang tetap tinggi di pasar aset kripto meski ada sentimen positif dari berita kemitraan dan investasi institusional.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, investasi ini mengarah ke distribusi USDT yang makin “native” lintas jaringan dan berpotensi menurunkan friksi perpindahan likuiditas antar-chain.

    “Namun, ekspansi cross-chain juga memperbesar permukaan risiko teknis (messaging/oracle/bridge security), jadi kualitas implementasi dan audit jadi kunci,” jelasnya.

    Baca Juga: Jelajahi Interoperabilitas Blockchain: Memahami LayerZero (ZRO)


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Market Cap USDT Turun ke $184,3 Miliar, Sinyal Bear Market Datang?

    Pergerakan terbaru Tether (USDT) memunculkan sinyal yang jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan market cap USDT kini berbalik menjadi negatif setelah sebelumnya mencatat ekspansi selama hampir dua tahun. Perubahan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa likuiditas di pasar kripto mulai menyusut dan risiko fase bearish kembali meningkat.

    Sebagai stablecoin terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, USDT sering digunakan sebagai indikator masuk atau keluarnya modal dari pasar kripto. Ketika suplai USDT meningkat, itu biasanya menandakan adanya likuiditas baru yang siap masuk ke aset kripto seperti Bitcoin. Sebaliknya, ketika pertumbuhan market cap USDT menjadi negatif, hal tersebut mengindikasikan bahwa modal justru keluar dari pasar.

    Data CryptoQuant: Pertumbuhan USDT Masuk Zona Negatif

    Data CryptoQuant menunjukkan bahwa rata-rata 60 hari perubahan market cap USDT berubah menjadi negatif pada Februari 2026. Terakhir kali kondisi serupa terjadi adalah pada kuartal ketiga 2023.

    Grafik tersebut memperlihatkan korelasi erat antara harga Bitcoin dan pertumbuhan market cap USDT. Ketika suplai USDT mengembang, likuiditas baru masuk dan mendukung reli harga. Namun, ketika pertumbuhan negatif, daya beli melemah dan reli cenderung lebih rapuh serta mudah terkoreksi.

    Analis Crypto Tice menyatakan bahwa secara historis, kenaikan berkelanjutan Bitcoin jarang terjadi ketika suplai stablecoin sedang menyusut. Artinya, selama kontraksi USDT berlangsung, potensi kenaikan harga cenderung terbatas.

    Market Cap USDT Turun dari $187 Miliar ke $184,3 Miliar

    Dilaporkan BeInCrypto, data CoinGecko menunjukkan bahwa sejak awal Januari, kapitalisasi pasar USDT turun dari lebih dari $187 miliar menjadi sekitar $184,3 miliar. Penurunan ini terjadi di tengah aktivitas burn besar-besaran oleh Tether.

    Pada 10 Februari, Whale Alert melaporkan bahwa Tether membakar 3,5 miliar USDT. Sebelumnya, perusahaan juga membakar 3 miliar USDT pada bulan lalu. Data CryptoQuant mencatat bahwa dua pembakaran ini merupakan yang terbesar secara beruntun dalam sejarah.

    Burn tersebut terjadi ketika investor menukar USDT kembali ke mata uang fiat. Tether kemudian menghapus USDT yang ditebus dari peredaran untuk menjaga keseimbangan cadangan dan mempertahankan patokan 1:1 terhadap dolar AS.

    Seorang investor bernama Ted menyebut bahwa tren suplai USDT kini berada dalam fase penurunan untuk pertama kalinya sejak kuartal pertama 2025 dan menilai kondisi tersebut sebagai sinyal yang kurang positif bagi pasar.

    Sinyal Sideways atau Penurunan Lebih Dalam?

    Meski demikian, data historis memberikan perspektif tambahan. Sejak 2022, periode ketika rata-rata 60 hari pertumbuhan market cap USDT menjadi negatif biasanya berlangsung sekitar dua bulan. Fase tersebut sering bertepatan dengan pergerakan Bitcoin yang cenderung sideways dan pembentukan local bottom.

    Contohnya terjadi pada November 2022 hingga Januari 2023 serta Agustus hingga Oktober 2023. Dalam periode tersebut, pasar bergerak stagnan sebelum akhirnya memasuki fase pemulihan.

    Namun, dalam skenario yang lebih bearish, Bitcoin disebut berpotensi turun di bawah $43.000 apabila level support kunci di $63.000 gagal bertahan. Dengan likuiditas yang menyusut, reli harga berisiko menjadi rapuh dan lebih rentan terhadap aksi jual.

    Secara keseluruhan, berbaliknya pertumbuhan market cap USDT menjadi negatif menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar untuk memantau dinamika likuiditas. Apakah ini awal fase bearish baru atau sekadar konsolidasi sebelum pemulihan, akan sangat bergantung pada arah permintaan dan stabilitas pasar dalam beberapa bulan ke depan.

    Menurut Tim Research Tokocrypto, kontraksi suplai stablecoin biasanya dibaca sebagai penurunan likuiditas “amunisi” pasar, membuat reli BTC/kripto lebih rapuh dan rentan sell-off.

    “Secara historis, fase ketika metrik ini negatif sering berkorelasi dengan pasar sideways atau penurunan lanjutan sebelum recovery beberapa bulan berikutnya. Intinya: selama stablecoin supply menyusut, pasar cenderung berada di fase risk-off/demand lemah,” katanya.

    Baca juga: Anak Purbaya Soroti Pentingnya Keamanan Aset Kripto, Apa yang Perlu Investor Tahu?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com