Tag Archives: usdt

Aktivitas Stablecoin Naik Drastis di Tengah Gejolak Perang Tarif Global

Di tengah ketegangan geopolitik akibat perang tarif global, aktivitas stablecoin melonjak tajam, mencerminkan pergeseran preferensi investor dari aset kripto volatil ke aset digital yang lebih stabil.

Lonjakan Aktivitas Stablecoin di Tengah Ketidakpastian Pasar

Data dari IntoTheBlock menunjukkan adanya lonjakan besar dalam aktivitas stablecoin dalam 24 jam terakhir, dengan alamat aktif harian mencapai 300.000 dan volume transaksi on-chain melonjak ke angka $72 miliar.

Hal ini merupakan level tertinggi sejak Februari 2025 dan terjadi setelah pasar mengalami penurunan signifikan akibat ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan sejumlah negara lain.

Langkah investor beralih ke stablecoin dipandang sebagai bentuk perlindungan terhadap gejolak pasar, terutama setelah Bitcoin anjlok dari $81.000 menjadi $74.000. Altcoin lain turut menyusul dengan penurunan harga dua digit, memperburuk kondisi pasar kripto dalam beberapa pekan terakhir.

Ketidakstabilan Pasar Dipicu Perang Tarif dan Berita Palsu

Dikutip Cryptopolitan, gejolak pasar juga dipicu oleh laporan palsu yang menyebut AS akan menghentikan tarif selama 90 hari. Kabar tersebut sempat membuat harga kripto melonjak, namun segera kembali turun setelah Gedung Putih membantahnya. Dalam satu jam saja, volatilitas tinggi ini menyebabkan likuidasi senilai $200 juta dari posisi long dan short.

Meski saat ini pasar mulai stabil, kapitalisasi pasar kripto tetap turun sebesar 1,38% dalam 24 jam terakhir, seiring dengan turunnya harga Bitcoin ke level $77.000.

Aktivitas stablecoin meningkat di tengah perang tarif (Sumber: IntoTheBlock).
Aktivitas stablecoin meningkat di tengah perang tarif (Sumber: IntoTheBlock).

Sentimen Pasar dalam Kondisi “Ekstrem”

Ketegangan yang terus berlangsung membuat sentimen pasar berada pada titik terendah. Indikator Fear and Greed Index dari CoinMarketCap menunjukkan angka 19/100, menandakan rasa takut yang ekstrem.

Beberapa tokoh keuangan ternama ikut menyuarakan keprihatinan mereka. Bill Ackman, investor miliarder, menyebut perang tarif sebagai langkah yang tidak bijaksana. Sementara CEO BlackRock, Larry Fink, mengatakan bahwa AS mungkin sudah memasuki masa resesi.

Stablecoin Tetap Tumbuh di Tengah Krisis

Meski pasar kripto secara keseluruhan turun lebih dari 24% dalam 90 hari terakhir, sektor stablecoin justru menunjukkan pertumbuhan. Total pasokan stablecoin yang beredar mencapai $234 miliar, meningkat 13% sepanjang 2024 hingga awal 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan penerbitan Circle USDC dan Tether USDT.

Beberapa proyek baru turut mendorong ekspansi stablecoin, seperti World Liberty Financial (WLFI)—proyek DeFi yang didukung oleh tokoh politik AS—yang berencana meluncurkan stablecoin bernama USD1 dan akan didistribusikan melalui airdrop kepada pemegang token WLFI.

Regulasi Dipercepat untuk Mendukung Ekosistem Stablecoin

Regulasi untuk stablecoin kini menjadi fokus utama sejumlah negara. Kenya baru saja mengusulkan RUU untuk mengatur industri ini, dengan memberikan kewenangan pada Bank Sentral Kenya (CBK) dan Otoritas Pasar Modal (CMA).

Di sisi lain, Amerika Serikat dan Inggris juga tengah mengembangkan kerangka hukum stablecoin—dengan Inggris memasukkan regulasi ini dalam peta jalan hingga 2026.

Meskipun regulasi dianggap penting untuk meningkatkan kredibilitas, penerbit stablecoin seperti Tether turut mencermati dampak aturan terhadap operasional global mereka. CEO Tether, Paolo Ardoino, menegaskan bahwa pihaknya siap beradaptasi dengan membuat stablecoin yang berbasis di AS jika dibutuhkan, demi memenuhi ketentuan lokal.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



Sumber : news.tokocrypto.com

SEC: Stablecoin Berbasis Dolar AS Seperti USDT Bukan Sekuritas!

Pada 7 April 2025, Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) mengeluarkan pernyataan penting yang menyatakan bahwa stablecoin berbasis dolar AS, seperti Tether (USDT) dan USD Coin (USDC), tidak dikategorikan sebagai sekuritas.

Keputusan ini sekaligus menandai langkah signifikan dalam regulasi aset kripto, memberikan kejelasan bagi penerbit dan pengguna stablecoin.

Kriteria “Covered Stablecoins”

SEC mendefinisikan “covered stablecoins” sebagai token yang didukung satu banding satu oleh aset likuid berkualitas tinggi, seperti uang tunai atau setara kas, dan dapat ditebus kapan saja dengan nilai penuh.

Stablecoin yang memenuhi kriteria ini dianggap tidak melibatkan penawaran dan penjualan sekuritas, sehingga transaksi penciptaan dan penebusan tidak memerlukan pendaftaran dengan SEC.

Pengecualian untuk Stablecoin Algoritmik dan Berbasis Imbal Hasil

Penting untuk dicatat bahwa pernyataan SEC ini tidak mencakup stablecoin algoritmik atau yang menawarkan imbal hasil kepada pemegangnya.

Pasalnya, stablecoin jenis ini mungkin masih dikategorikan sebagai sekuritas dan tunduk pada regulasi yang berbeda.

Analisis Berdasarkan Tes Hukum

Sebelum sampai pada keputusan final ini, SEC telah menggunakan dua tes hukum utama untuk menentukan status stablecoin dalam regulasi resmi, yaitu:

  1. Tes Reves: Menilai apakah instrumen keuangan dikategorikan sebagai “catatan” dan apakah memiliki fitur pengurangan risiko. Stablecoin yang didukung penuh oleh aset likuid dan dapat ditebus kapan saja dianggap memiliki fitur pengurangan risiko yang signifikan.
  2. Tes Howey: Menentukan apakah ada investasi uang dalam usaha bersama dengan harapan keuntungan dari upaya orang lain. Stablecoin yang digunakan semata-mata sebagai alat pembayaran dan tidak menjanjikan keuntungan tidak memenuhi kriteria sebagai sekuritas berdasarkan tes ini.

Tuai Pro dan Kontra

Heath Tarbert, Presiden Circle, perusahaan di balik USDC, menyambut baik keputusan ini. Ia menyatakan bahwa SEC telah memberikan kejelasan bahwa stablecoin yang didukung satu banding satu dengan aset likuid berkualitas tinggi, seperti USDC, bukanlah sekuritas.

Namun, tidak semua pihak dalam SEC sepakat dengan pernyataan tersebut. Beberapa komisaris menyatakan keprihatinan mengenai risiko yang masih ada terkait stablecoin, terutama yang melibatkan perantara dalam proses penciptaan dan penebusan.

Bagi mereka yang kontra dengan keputusan ini berpendapat bahwa SEC seharusnya menekankan perlunya pengawasan lebih lanjut untuk melindungi investor.

Implikasi bagi Pasar Kripto

Keputusan SEC ini memberikan kejelasan regulasi yang sangat dibutuhkan bagi penerbit dan pengguna stablecoin.

Dengan status non-sekuritas, stablecoin seperti USDT dan USDC dapat terus beroperasi tanpa hambatan regulasi tambahan, selama mereka memenuhi kriteria yang ditetapkan.

Namun, penerbit stablecoin algoritmik dan berbasis imbal hasil harus mempertimbangkan implikasi regulasi yang mungkin timbul.

Dengan demikian, pernyataan SEC pada 7 April 2025 menandai langkah maju dalam regulasi aset kripto, khususnya stablecoin.

Dengan memberikan kejelasan mengenai status hukum stablecoin yang didukung penuh oleh aset likuid, SEC membantu menciptakan lingkungan yang lebih stabil dan transparan bagi industri kripto.

Namun, penting bagi semua pemangku kepentingan untuk terus memantau perkembangan regulasi dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



Sumber : news.tokocrypto.com

Bangun Kredibilitas USDT, Tether Perkuat Transparansi Audit Penuh

Tether, perusahaan di balik stablecoin USDT, tengah bersiap untuk meningkatkan transparansi dengan melakukan audit penuh terhadap cadangan asetnya.

Berdasarkan laporan terbaru dari Cryptodnes pada Minggu (23/3), langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kekhawatiran mengenai kurangnya audit pihak ketiga yang sebelumnya menimbulkan pertanyaan tentang potensi krisis likuiditas serupa dengan kejatuhan FTX.

Audit untuk Pastikan 1:1 Backing

CEO Tether, Paolo Ardoino, menegaskan bahwa audit ini menjadi prioritas utama perusahaan.

Ia optimis bahwa di bawah pemerintahan yang pro-kripto, seperti Donald Trump, perusahaan akuntansi besar akan lebih terbuka untuk bekerja sama dengan Tether.

Sebelumnya, Tether telah melakukan laporan keuangan per kuartal, namun belum pernah menjalani audit tahunan independen secara menyeluruh.

Dengan audit ini, diharapkan regulator dan investor mendapatkan kepastian lebih besar mengenai cadangan aset Tether yang diklaim selalu memiliki rasio 1:1 dengan jumlah token yang beredar.

Pilihan Firma Akuntansi Besar

Meskipun Ardoino belum mengungkapkan secara spesifik firma akuntansi mana yang akan dipilih, audit ini kemungkinan akan melibatkan salah satu dari empat perusahaan akuntansi terbesar dunia yang mengerucut pada PwC, EY, Deloitte, atau KPMG.

Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan memperkuat klaim bahwa USDT didukung sepenuhnya oleh aset yang mencakup mata uang tradisional dan ekivalennya.

Namun, beberapa pihak masih skeptis, termasuk Justin Bons, pendiri Cyber Capital, yang memperingatkan bahwa Tether belum memberikan bukti kuat atas cadangan sebesar $118 miliar yang diklaimnya.

Tantangan Regulasi dan Kepercayaan Pasar

Dalam upaya persiapan audit penuh ini, Tether telah menunjuk Simon McWilliams sebagai Chief Financial Officer (CFO) sejak awal tahun ini.

Meski begitu, Tether masih menghadapi pengawasan ketat, terutama setelah dikenai denda sebesar $41 juta pada tahun 2021 karena dinilai menyesatkan regulator terkait cadangan asetnya.

Lebih lanjut, kebijakan regulasi di Eropa semakin memperumit situasi, dengan beberapa bursa seperti Crypto.com terpaksa menghapus USDT dari platform mereka.

Langkah Tether untuk melakukan audit penuh adalah bagian dari strategi perusahaan dalam meningkatkan transparansi dan menjaga kepercayaan investor serta regulator.

Dengan meningkatnya tekanan dari berbagai pihak, hasil dari audit ini akan menjadi faktor penting dalam menentukan masa depan USDT di ekosistem kripto global.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



Sumber : news.tokocrypto.com

Perhitungan Potensi Keuntungan DCA USDT Saat Rupiah Melemah

USDT merupakan salah satu stablecoin yang ditautkan dengan harga Dolar AS, ini memungkinkan aset kripto USDT memiliki harga yang stabil mengikuti harga Dolar AS tanpa perlu mengkhawatirkan pergerakan market kripto.

Di saat Rupiah yang terus melemah, menabung dalam bentuk aset kripto dalam bentuk USDT bisa jadi salah satu solusi bagi kamu yang masih ingin terlibat dalam pasar kripto, namun tidak ingin mengambil risiko volatilitas yang tinggi.

Pada artikel ini akan membahas tentang simulasi potensi keuntungan yang bisa kamu dapat jika melakukan dollar cost averaging USDT dari 2021. Simak pemaparannya di bawah ini!

Potensi Keuntungan dari Dolar Cost Averaging USDT Saat Rupiah Melemah

Dalam beberapa tahun terakhir, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS telah mengalami penurunan yang signifikan, dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi global dan domestik.

Kondisi mata uang Rupiah yang terus menurun ini membuat banyak investor lokal mencari alternatif investasi yang lebih stabil, salah satunya USDT, yang nilainya dipatok dengan Dolar AS, untuk melindungi aset mereka dari depresiasi lebih lanjut.

Pergarakan Dolar AS terhadap rupiah yang menguat hingga 19.5%. Sumber: Tradingview.

Jika dilihat dari pergerakan harga Dolar AS, dari sepanjang tahun 2021 hingga awal maret 2025, total kenaikan USD terhadap Rupiah mencapai sampai dengan 19,5%.

Nah, dengan melakukan pembelian berkala dengan metode dollar cost averaging dari awal tahun 2021 kamu akan mendapatkan keuntungan kurang lebih 8.33% atau sekitar Rp1,998,900 dengan pembelian rata-rata di harga Rp15,084.58 per USDT-nya.

Total pembelian yang dilakukan adalah sebanyak 42x dengan harga pembelian rata-rata per satu USDT senilai Rp15,084.58.

Dengan pembelian 42x, total investasi yang dikeluarkan adalah sebesar Rp24,000,000 dengan investasi akhir Rp25,998,900. Keuntungan 8.33% mungkin terlihat tidak telalu besar, namun bagi kamu yang menunggu untuk berinvestasi kripto sambil melihat waktu yang tepat untuk masuk ke pasar kripto, ini bisa jadi salah satu strategi yang paling tepat.

Data ini dimulasikan menggunakan data pergerakan bulanan USD/IDR dari investing.com dan harga bulanan yang di ambil setiap pembelian adalah dari per tanggal 1 di setiap bulannya.

Ringkasan Data Keuntungan Dollar Cost Averaging USDT

Keterangan Detail
Rentang bulan 01/04/2021 – 01/03/2025
Total investasi Rp24,000,000 (48x Investasi)
Total USDT yang dibeli 1,581
Harga USDT sekarang Rp16,455
Nilai Rugi/Untung Per Maret 2025 Rp1,998,900
ROI 8.33%
Harga rata-rata beli per USDT Rp15,084.58
Harga USDT per Maret 2025 Rp16,455
Puncak total keuntungan Rp2,205,000 pada Februari 2025 (9.19%)

Kesimpulan

Strategi Dollar Cost Averaging dengan USDT menawarkan cara yang aman dan terukur untuk berinvestasi di tengah fluktuasi nilai tukar Rupiah. 

Meskipun keuntungan yang diperoleh mungkin tidak terlalu besar, stabilitas yang ditawarkan oleh USDT sebagai aset yang dipatok dengan Dolar AS dapat memberikan perlindungan terhadap depresiasi Rupiah. 

Bagi investor yang mencari cara untuk tetap terlibat dalam pasar kripto sambil meminimalkan risiko, strategi ini dapat menjadi pilihan yang bijak.

Bagaimana Cara Melakukan Dollar Cost Averaging (DCA) USDT?

Cara untuk melakukan pembelian USDT dengan Dollar Cost Averaging (DCA) cukup mudah.

  1. Buka aplikasi Tokocrypto dan masuk ke menu “DCA”
  2. Pilih token/koin yang ingin dibeli secara berkala, lalu tekan “Pratinjau Paket”.
  3. Isi nominal jumlah mata uang yang diinginkan untuk membeli token/koin. Minimal pembelian Rp 20.000.
  4. Atur pembelian berkala harian, mingguan dan pilihan lainnya. Jika sudah selesai, tekan “Berikutnya”.
  5. Setelah sudah dipastikan benar, tekan “Checklist” pada bagian persetujuan dan pilih “Berikutnya” untuk menyimpan pembelian berkala kamu.

Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



Sumber : news.tokocrypto.com

Tether Bekukan 27 Juta USDT di Bursa Kripto Rusia Garantex

Tether, operator stablecoin USDT, telah membekukan dana sebesar 27 juta USDT di bursa kripto Rusia, Garantex.

Sekadar informasi, Tether atau yang sering disebut dengan simbol USDT adalah mata uang kripto dengan token yang resmi dikeluarkan oleh Tether Limited berbasis di Hong Kong dan sekaligus dikendalikan oleh pemilik Bitfinex.

Pembekuan dana tersebut mendorong Tether untuk menghentikan operasionalnya sementara waktu.

Alasan Pembekuan USDT

Dalam pernyataan resminya yang dikutip dari Ihodl, Garantex mengungkapkan, “Tether telah memasuki perang melawan pasar kripto Rusia dan memblokir dompet kami senilai lebih dari 2,5 miliar rubel ($27 juta/439 miliar).”

Akibatnya, bursa tersebut telah menangguhkan seluruh layanannya, termasuk penarikan dana, sambil melakukan pemeliharaan pada situs webnya.

Pembekuan dana ini terjadi setelah Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap Garantex pada 26 Februari lalu. Sanksi ini merupakan bagian dari paket ke-16 yang berkaitan dengan “perang agresi Rusia terhadap Ukraina.”

Keputusan ini menambah tekanan terhadap bursa kripto yang beroperasi di Rusia, terutama yang telah masuk dalam daftar sanksi internasional.

Tanggapan Tether

Tether belum memberikan pernyataan resmi mengenai langkah ini. Namun, tindakan tersebut menunjukkan peningkatan pengawasan terhadap penggunaan stablecoin di bursa yang terkena sanksi.

Sementara itu, komunitas kripto Rusia menanggapi keputusan ini dengan berbagai reaksi, termasuk kekhawatiran atas dampaknya terhadap likuiditas dan akses terhadap aset digital.

Dengan situasi yang terus berkembang, masih belum jelas bagaimana Garantex akan menangani pembekuan dana tersebut serta dampak jangka panjangnya terhadap pasar kripto di Rusia.

Pihak terkait di industri keuangan digital kini menunggu respons lebih lanjut dari Tether dan regulator terkait mengenai langkah selanjutnya.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



Sumber : news.tokocrypto.com

Tether Angkat Simon McWilliams sebagai CFO

Tether, pemimpin di pasar stablecoin dengan valuasi mencapai $232 miliar, baru saja menunjuk Simon McWilliams sebagai Chief Financial Officer (CFO) yang baru.

Menurut laporan Coinpaprika, langkah ini menandai komitmen perusahaan untuk meningkatkan transparansi dan memperkuat kepercayaan investor di tengah meningkatnya pengawasan regulasi.

Simon McWilliams: Penggerak Transparansi Baru di Tether

Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang manajemen dan audit keuangan, McWilliams ditugaskan untuk memimpin audit komprehensif atas cadangan keuangan Tether.

Audit ini diharapkan dapat menjawab berbagai keraguan yang selama ini muncul terkait legitimasi dan transparansi aset yang mendukung USDT, stablecoin andalan Tether.

Penunjukan McWilliams juga disertai dengan perubahan peran bagi Giancarlo Devasini, mantan CFO Tether, yang kini beralih menjadi Ketua perusahaan.

Devasini akan berfokus pada strategi ekspansi yang lebih luas, termasuk memperkuat integrasi Tether ke dalam sistem keuangan AS serta mendorong adopsi aset digital secara global.

Transparansi: Tantangan Lama yang Masih Menghantui

Tether selama bertahun-tahun menghadapi skeptisisme mengenai kejelasan cadangannya. Perusahaan selama ini hanya memberikan laporan pengesahan triwulanan melalui firma akuntansi BDO. Namun, laporan tersebut dinilai masih kurang mendetail dibandingkan dengan audit keuangan menyeluruh.

Skeptisisme ini semakin meningkat setelah Tether mencapai penyelesaian hukum pada tahun 2021 dengan Jaksa Agung New York, yang mengungkapkan bahwa perusahaan sempat salah mengartikan klaim bahwa USDT sepenuhnya didukung oleh dolar AS dalam rasio 1:1.

Meski demikian, Tether telah berusaha meningkatkan transparansi dengan mengungkap bahwa 82,35% dari cadangannya berbentuk uang tunai, setara kas, dan surat utang jangka pendek, dengan hampir 80% di antaranya dalam bentuk surat utang pemerintah AS.

Langkah Strategis Menuju Kepatuhan Regulasi

Selain fokus pada audit, Tether juga tengah memperkuat landasan operasionalnya dengan memindahkan kantor pusatnya ke El Salvador. Langkah ini dilakukan untuk mendapatkan lisensi Penyedia Layanan Aset Digital (DASP), yang memungkinkan perusahaan memperluas operasinya ke sektor keuangan institusional dengan kepatuhan yang lebih baik terhadap regulasi global.

Dengan kepemimpinan McWilliams, Tether berharap dapat menghilangkan keraguan publik dan memperkokoh posisinya sebagai pemimpin stablecoin yang terpercaya. Transparansi yang lebih besar, akuntabilitas yang lebih tinggi, serta kepatuhan terhadap regulasi akan menjadi faktor kunci dalam menentukan keberhasilan jangka panjang Tether di pasar yang semakin ketat.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



Sumber : news.tokocrypto.com

Tron Hadirkan Fitur ‘Gas Free’ untuk Transaksi USDT

Tron, salah satu blockchain yang dikenal sebagai pilihan utama untuk transaksi stablecoin USDT, akan segera menghadirkan fitur baru yang memungkinkan transaksi bebas komisi atau “Gas Free”.

Dilaporkan Cointelegraph, fitur ini dijadwalkan meluncur dalam minggu depan, seperti yang diumumkan oleh pendiri Tron, Justin Sun, pada 25 Februari 2025.

Mengembalikan Tron sebagai Jaringan Transfer USDT Termurah

Dulu, Tron dikenal sebagai jaringan paling hemat biaya untuk transfer USDT dibandingkan dengan blockchain lainnya, terutama Ethereum. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, biaya gas untuk transaksi TRC-20 USDT melonjak drastis, bahkan sempat mencapai lebih dari $9 per transaksi pada akhir tahun 2024.

Data terbaru dari Tether menunjukkan bahwa saat ini, biaya gas untuk TRC-20 USDT berada di kisaran $3,20 hingga $6,50, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan biaya transfer USDT di Ethereum yang hanya sekitar $0,40.

Kondisi ini membuat banyak pengguna mengeluhkan tingginya biaya transaksi, yang berlawanan dengan reputasi Tron sebagai opsi termurah untuk transfer stablecoin. “USDT pada Tron dulunya merupakan opsi termurah, tetapi sekarang sudah tidak lagi,” ujar salah satu pengguna di media sosial X pada pertengahan Desember 2024.

Bagaimana Fitur ‘Gas Free’ Bekerja?

Dengan hadirnya fitur “Gas Free”, pengguna USDT di Tron tidak lagi memerlukan token TRX untuk membayar biaya transaksi. Hal ini tentu akan memudahkan para pengguna, terutama mereka yang tidak memiliki saldo TRX dalam dompet mereka.

Sun juga mengundang berbagai tim dan pengembang dompet digital untuk mendukung fitur ini melalui JustLend DAO, platform pinjaman resmi di Tron.

Tron Foundation telah bekerja untuk mengembangkan solusi bebas gas ini sejak pertengahan 2024. Sun awalnya berencana untuk memperkenalkan fitur ini pada kuartal keempat 2024, dan akhirnya akan segera terealisasi dalam waktu dekat.

Dampak Bagi Pengguna dan Industri Blockchain

Peluncuran fitur ini diharapkan dapat mengembalikan daya saing Tron dalam ekosistem stablecoin dan menarik lebih banyak pengguna serta proyek ke jaringannya. Dengan biaya transaksi yang lebih rendah, fitur ini juga dapat mempercepat adopsi stablecoin secara luas di berbagai sektor bisnis.

“Saya yakin layanan ini akan memudahkan perusahaan besar dalam mengadopsi stablecoin di blockchain, serta mendorong adopsi massal ke tingkat yang lebih tinggi,” ungkap Sun.

Sementara itu, pihak JustLend DAO mengonfirmasi bahwa mereka akan segera merilis pernyataan resmi terkait peluncuran fitur “Gas Free” ini.

Dengan inovasi ini, Tron berupaya kembali menjadi pilihan utama untuk transaksi stablecoin USDT yang cepat, efisien, dan kini lebih hemat biaya. Bagaimana pendapatmu tentang fitur baru ini? Apakah akan membawa dampak besar bagi pengguna crypto?


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.





Sumber : news.tokocrypto.com

Tether Ungkap Kepemilikan Bitcoin $10 Miliar dan Cadangan Emas

CEO Tether, Paolo Ardoino, mencuri perhatian dalam ajang Bitcoin 2025 dengan pengungkapan keuangan besar-besaran yang mempertegas posisi Tether sebagai pemain utama dalam ekosistem kripto global.

Dilaporkan Coindoo, dalam presentasinya, Ardoino mengungkapkan bahwa perusahaan kini memegang lebih dari 100.000 Bitcoin, yang saat ini bernilai lebih dari $10 miliar, serta 50 ton emas sebagai bagian dari strategi cadangan mereka.

Tak hanya itu, Tether juga mencatat keuntungan fantastis sebesar $13 miliar sepanjang tahun 2024. Sebagian besar laba tersebut berasal dari pendapatan bunga atas aset-aset cadangan yang mendukung USDT, stablecoin terbesar di dunia yang dipatok pada dolar AS.

Bitcoin dan Emas: Bukan Lawan, Tapi Pelengkap

Ilustrasi Bitcoin vs emas.
Ilustrasi Bitcoin vs emas.

Baca juga: Investasi $459 Juta Bitcoin, Tether Bikin Twenty One

Menanggapi skeptisisme di kalangan komunitas Bitcoin terhadap kepemilikan emas, Ardoino memberikan klarifikasi yang lugas. Ia mengatakan bahwa meski banyak penggemar Bitcoin enggan membahas emas karena dianggap sebagai ancaman terhadap narasi dominasi BTC, Tether melihatnya secara berbeda.

“Banyak penganut Bitcoin tidak suka membicarakan emas, seolah-olah emas mengancam BTC. Namun, emas tidak bersaing dengan Bitcoin. Emas bersaing dengan mata uang fiat, dan itulah mengapa kami menyukainya sedikit,” ujar Ardoino.

Ia menegaskan bahwa strategi ini bukan bentuk penyimpangan dari kepercayaan pada Bitcoin, melainkan bagian dari pendekatan diversifikasi cadangan yang cermat. Ardoino bahkan menyebut Bitcoin sebagai aset yang “sempurna” dibandingkan dengan sifat emas yang “tidak sempurna”.

Konsistensi Tether sebagai Raksasa Kripto

Komitmen Tether dalam menyimpan cadangan Bitcoin dalam jumlah besar mencerminkan visinya sebagai penerbit stablecoin yang tidak hanya menjaga stabilitas USDT, tetapi juga terlibat aktif dalam ekosistem kripto secara menyeluruh. Penambahan emas ke dalam portofolio dinilai sebagai langkah pragmatis untuk menghadapi volatilitas ekonomi global, tanpa mengaburkan arah utama perusahaan yang tetap berpihak pada Bitcoin.

“Bitcoin adalah masa depan. Emas hanya membantu kita menjembatani masa kini,” pungkas Ardoino.

Dengan laporan keuangan yang transparan dan langkah strategis yang berani, Tether menegaskan dominasinya dalam industri—bukan hanya sebagai penerbit stablecoin, tetapi juga sebagai kekuatan keuangan yang visioner.

Baca juga: Bangun Kredibilitas USDT, Tether Perkuat Transparansi Audit Penuh


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



Sumber : news.tokocrypto.com

Stablecoin USDT Kuat, Sinyal Reli Altcoin di Depan Mata?

Pasar kripto kembali diramaikan dengan meningkatnya pasokan stablecoin, terutama Tether (USDT) dan USD Coin (USDC), yang kini mencapai rekor tertinggi.

Menurut laporan Coinspeaker, kondisi ini memicu optimisme di kalangan analis, yang meyakini bahwa pasar altcoin bisa segera mengalami reli besar.

Stablecoin: “Bubuk Kering” yang Siap Meledak

Analis kripto Miles Deutscher menyebut stablecoin sebagai “bubuk kering” yang siap mengalir kembali ke pasar ketika momen yang tepat tiba. Saat ini, meskipun kondisi pasar sedang lesu, meningkatnya cadangan stablecoin menunjukkan adanya potensi pergerakan besar dalam waktu dekat.

“Sekarang yang dibutuhkan hanyalah percikan untuk menyalakan kembali momentum pasar,” ujar Deutscher.

Sejak awal bulan ini, Tether (USDT) mencatat arus masuk terbesar ke bursa kripto. Fenomena ini menarik perhatian investor, karena pergerakan besar stablecoin sering kali menjadi pertanda lonjakan aktivitas perdagangan serta perubahan signifikan dalam strategi pasar.

Sinyal Dimulainya Musim Altcoin

CEO CryptoQuant, Ki Young Ju, bahkan secara gamblang menyatakan bahwa musim altcoin telah dimulai. Ia menyoroti adanya rotasi dana dari Bitcoin ke altcoin, yang terlihat dari meningkatnya volume perdagangan altcoin hingga 2,7 kali lipat dibanding Bitcoin.

Menurut Ju, dominasi Bitcoin bukan lagi satu-satunya indikator musim altcoin. Kini, volume perdagangan menjadi faktor utama dalam menentukan momentum pasar. Jika tren ini berlanjut, altcoin dapat mengalami lonjakan harga dalam waktu dekat.

Pola Pembalikan Tren Altcoin

Analis kripto Rekt Capital juga melihat sinyal positif bagi altcoin. Setelah sempat turun ke bawah $220 miliar, total kapitalisasi pasar altcoin kini stabil di sekitar $250 miliar, menunjukkan pembentukan basis yang solid.

Selain itu, pola grafik yang muncul menunjukkan kemungkinan pembalikan tren. “Penutupan harian dan pengujian ulang di atas level resistensi akan mengonfirmasi pola ini, menandakan potensi kenaikan harga altcoin,” jelas Rekt Capital.

Kesimpulan: Saatnya Bersiap?

Dengan meningkatnya pasokan stablecoin, arus masuk USDT ke bursa, serta pergeseran dana ke altcoin, banyak analis percaya bahwa reli altcoin bisa terjadi dalam waktu dekat. Jika pola ini terus berlanjut, investor yang sudah mempersiapkan strategi dengan baik bisa mendapatkan keuntungan dari momentum ini.

Apakah ini saat yang tepat untuk mulai mengoleksi altcoin? Semua mata kini tertuju pada pergerakan stablecoin dan volume perdagangan, yang menjadi kunci dalam menentukan langkah pasar berikutnya.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



Sumber : news.tokocrypto.com

Pengaruh Pergerakan Dolar AS terhadap Pasar Crypto

Pergerakan nilai dolar AS memiliki pengaruh langsung terhadap dinamika pasar crypto. Penguatan atau pelemahan indeks dolar (DXY) dapat menentukan arah arus modal, sentimen investor, dan harga aset crypto seperti Bitcoin dan Ethereum

Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana perubahan nilai tukar dolar membentuk tren pasar crypto dan apa yang perlu diperhatikan investor.

Peran Dolar AS dalam Potret Ekonomi Global

Dominasi dolar Amerika Serikat memang tidak diragukan lagi, menurut data indikator dari Atlantic Council, per Januari 2025, dolar AS dipakai sebagai 57% cadangan devisa global dan menjadi mata uang utama dalam 88% transaksi internasional. 

Dominasi yang tinggi ini menjadi salah satu alasan kenapa dolar digunakan sebagai patokan nilai komoditas umum yang sering diperdagangkan, termasuk emas, minyak, bahkan aset crypto. 

Maka dari itu, fluktuasi nilai dolar bisa memiliki dampak besar terhadap aset lain, termasuk crypto.

Crypto sebagai Aset Digital yang Terdesentralisasi

Sejalan dengan tujuan diciptakannya mata uang crypto, dalam hal ini Bitcoin oleh Satoshi Nakamoto, yakni sebagai alternatif sistem keuangan konvensional yang tidak terikat oleh pemerintah atau bank sentral, crypto menawarkan kebebasan finansial, transparansi, dan desentralisasi. 

Namun, perlu diakui bahwa pasar pasar crypto masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti regulasi dan kondisi makroekonomi—termasuk fluktuasi nilai tukar dolar.

Hubungan Invers Antara Dolar dan Crypto

Ketika nilai dolar menguat, daya tarik crypto sebagai lindung nilai atau “safe haven” sering kali berkurang. Sebaliknya, ketika dolar melemah, investor cenderung mencari aset alternatif sebagai lindung nilai seperti emas dan Bitcoin untuk mempertahankan nilai portofolio mereka. 

Hubungan ini bersifat dinamis dan tidak selalu linear, namun cenderung menunjukkan korelasi negatif.

Untuk bisa melihat hubungan invers antara dolar dan aset crypto, kita bisa membandingkannya dengan Indeks Dolar AS (DXY), lalu apa itu Indeks Dolar AS (DXY)?

Indeks Dolar AS (DXY): Indikator Kekuatan USD di Pasar Global

DXY Index atau Indeks Dolar AS adalah indikator utama yang digunakan untuk mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, yaitu Euro (EUR), Yen Jepang (JPY), Poundsterling Inggris (GBP), Dolar Kanada (CAD), Krona Swedia (SEK), dan Franc Swiss (CHF). 

Indeks ini dinyatakan dalam angka yang mencerminkan nilai relatif dolar terhadap enam mata uang tersebut.

Indeks DXY ini biasa digunakan secara luas oleh pelaku pasar, termasuk investor crypto, untuk menilai tren kekuatan dolar secara keseluruhan.

Studi Kasus: Hubungan Invers Antara Indeks Dolar (DXY) dan Bitcoin 

Gambar korelasi terbaik antara Indeks Dolar AS (DXY)

Hubungan terbalik antara Bitcoin (BTC) dengan indeks Dolar AS (DXY) bisa dilihat dari chart yang disajikan di atas, terlihat bagaimana Bitcoin cenderung mengalami kenaikan disaat indeks Dolar AS (DXY) mengalami penurunan dan sebaliknya, Bitcoin cenderung mengalami penurunan di saat indeks Dolar AS (DXY) menguat.

Kenapa hal demikian bisa terjadi? Salah satu alasan paling kuat adalah ketika dolar AS menguat investor akan cenderung memilih untuk menyimpan aset mereka dalam bentuk USD daripada menyimpan dalam bentuk aset berisiko seperti Bitcoin, hal inilah yang menyebabkan harga Bitcoin dan aset berisiko seperti aset crypto mengalami penurunan di saat dolar AS menguat.

Faktor Ekonomi Makro yang Mempengaruhi Nilai Dolar dan Crypto

Contoh beberapa indikator ekonomi utama yang mempengaruhi pergerakan dolar antara lain:

  • Tingkat inflasi: Inflasi tinggi biasanya melemahkan daya beli dolar AS karena harga barang dan jasa meningkat, sehingga investor sering mencari aset lindung nilai seperti emas dan Bitcoin, yang dianggap sebagai store of value.
  • Kebijakan moneter The Fed: Kenaikan suku bunga mendorong penguatan dolar karena investor lebih memilih menyimpan uang dalam bentuk USD daripada aset spekulatif seperti crypto.
  • Data ketenagakerjaan dan pertumbuhan ekonomi: Data tenaga kerja yang kuat menunjukkan ekonomi AS yang sehat, yang biasanya memperkuat dolar dan dapat berpengaruh terhadap pasar crypto.

Semua faktor ini berdampak pada harga crypto, karena mempengaruhi sentimen global.

Baca juga: Apa itu The Fed dan Kenapa Kebijakannya Mempengaruhi Pasar?

Bagaimana Pengaruh Pergerakan Dolar AS Terhadap Pasangan Crypto dengan Rupiah?

Ketika Bitcoin naik karena pelemahan Dolar AS (USD) dan Rupiah melemah terhadap USD, harga Bitcoin dalam Rupiah (BTC/IDR) cenderung mengalami kenaikan persentase yang lebih besar dibandingkan harga Bitcoin dalam USD (BTC/USD). Ini terjadi karena dua faktor yang saling memperkuat:

  • Kenaikan harga Bitcoin dalam USD, dan
  • Depresiasi Rupiah terhadap USD.
Tanggal BTC/USD USD/IDR BTC/IDR
1 Januari 2025 $94,560.20 16,090.00 Rp1,544,354,048
1 Mei 2025 $96,499.30 16,600.00 Rp1,602,599,936

Sebagai contoh, antara Januari dan Mei 2025, BTC/USD naik 2,1%, USD/IDR naik 3,2%, sehingga BTC/IDR naik sekitar 3,8%—lebih tinggi dari kenaikan BTC/USD.

Baca juga: Apakah Harga Bitcoin Akan Naik Jika Tidak Menggunakan Dolar AS?

Tips Investasi Crypto di Tengah Fluktuasi Dolar

Ada beberapa strategi yang bisa kamu terapkan untuk menghadapi fluktuasi pasar akibat pergerakan nilai dolar. Langkah-langkah ini tidak hanya membantu meminimalkan risiko, tetapi juga membuka peluang untuk mengelola aset secara lebih bijak:

  1. Diversifikasi portofolio untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis aset.
  2. Gunakan analisis teknikal dan fundamental agar keputusan investasi lebih terarah.
  3. Pantau berita ekonomi global, terutama terkait kebijakan moneter dan nilai tukar dolar.
  4. Manfaatkan stablecoin sebagai penyimpan nilai jangka pendek guna menjaga kestabilan portofolio.
  5. Hindari over-leverage, terutama saat pasar sedang bergerak tidak menentu.

Sebagai tambahan, jika kamu ingin tetap mendapatkan eksposur terhadap dolar tapi tetap ingin memiliki eksposur dari pasar crypto, menyimpan sebagian portofolio dalam bentuk stablecoin berbasis USD seperti USDT atau USDC bisa menjadi pilihan tepat. 

Stablecoin memberikan kestabilan nilai di tengah gejolak pasar dan memudahkan kamu juga ingin masuk dan mulai kembali berinvestasi di pasar crypto di saat pasar sudah dalam posisi yang tepat untuk berinvestasi.

Kamu bisa membeli stablecoin berbasis USD dengan mudah melalui bursa terpercaya seperti Tokocrypto dengan spread rendah dan tanpa biaya trading dengan fitur Beli/Jual lho! Klik di sini untuk mulai simpan stablecoin.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. 

Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.



Sumber : news.tokocrypto.com