Tag: web3

  • Bagaimana Hubungan Antara Blockchain dan Web3?

    Dalam era yang terus berkembang di dunia digital, sering kali muncul pertanyaan tentang hubungan antara blockchain dan konsep Web3. Kata-kata ini telah menjadi pusat perbincangan dalam diskusi tentang masa depan internet, teknologi, dan finansial. Dalam artikel ini, kami akan menyelidiki secara mendalam keterkaitan yang erat antara blockchain dan konsep Web3, serta bagaimana keduanya bekerja bersama-sama untuk membentuk landasan baru dalam evolusi internet dan teknologi.

    Pendahuluan

    Aset digital dapat dianggap sebagai bagian esensial dari Web3, yang mewakili visi internet baru yang bertujuan mengatasi masalah-masalah yang ada dalam Web saat ini, seperti dominasi beberapa platform media sosial yang terpusat dan eksploitasi data pribadi pengguna. Keberadaan blockchain yang bersifat terdesentralisasi dan tanpa izin memiliki peran sentral dalam mendistribusikan kekuatan dalam komunikasi online. Dengan teknologi ini, kita tidak perlu lagi bergantung pada otoritas pusat untuk mengambil keputusan yang memengaruhi kita.

    Selain membawa kemungkinan pembayaran digital asli ke dalam ekosistem Web3, aset digital juga dapat berfungsi sebagai token yang dapat diprogram untuk menjalankan berbagai peran dalam ekonomi digital. Selain itu, blockchain dan kriptokurensi juga dapat memperkuat sifat berbasis komunitas dari Web3 melalui organisasi otonom terdesentralisasi (DAO).

    Apa Bedanya Web3 dengan Web2?

    Evolusi internet sering kali digambarkan sebagai serangkaian fase kualitatif, seperti Web1, Web2, dan Web3. Pada era Web1, pengguna hanya dapat mengonsumsi konten yang ada dan tidak dapat berpartisipasi dalam pembuatan konten atau mengunggah konten mereka sendiri ke dalam situs web. Pada saat itu, internet terdiri dari halaman HTML statis yang memberikan pengalaman satu arah yang terbatas, seperti membaca forum informasi.

    Web1 memungkinkan konsumsi konten dan interaksi yang sederhana. Kemudian, era Web2 datang dengan perlahan sebagai fase internet yang lebih interaktif, di mana pengguna mulai aktif dalam pembuatan konten. Fasilitas interaksi online yang kuat ini umumnya disediakan oleh platform media sosial, yang kemudian menciptakan beberapa raksasa teknologi yang terpusat.

    Saat ini, ekosistem Web2 sedang mengalami perubahan untuk mengatasi sejumlah masalahnya. Pengguna internet semakin peduli dengan isu-isu seperti pelacakan data dan kepemilikan data pribadi, serta masalah sensor dan pembatasan. Kekuatan perusahaan-perusahaan besar yang mengendalikan platform-platform Web2 menjadi jelas ketika mereka mulai mengeluarkan larangan terhadap pengguna dan organisasi tertentu dari platform mereka. Perusahaan-perusahaan ini juga memanfaatkan data pengguna untuk menjaga pengguna tetap terikat pada platform mereka dan untuk keuntungan pihak ketiga. Incentive ekonomi ini dapat mendorong perusahaan-perusahaan ini untuk bertindak sesuai dengan kepentingan mereka sendiri, bukan kepentingan pengguna.

    Visi Web3 adalah melangkah menuju internet yang lebih baik. Salah satu janji utamanya adalah memberikan platform online yang terdesentralisasi, tanpa kebutuhan kepercayaan pihak ketiga, dan terbuka bagi semua. Web3 juga berusaha untuk menghadirkan konsep kepemilikan digital, pembayaran digital asli, serta ketahanan terhadap sensor sebagai standar dalam produk dan layanan online.

    Bagaimana Blockchain dan Kriptokurensi Berperan dalam Web3?

    Terdesentralisasi: Seperti yang telah disebutkan, salah satu masalah utama dalam Web2 adalah konsentrasi kekuatan dan data dalam tangan beberapa perusahaan besar. Blockchain dan kriptokurensi membantu mendesentralisasi Web3 dengan memfasilitasi distribusi informasi dan kekuatan yang lebih luas. Web3 dapat mengimplementasikan buku besar terdistribusi publik yang didukung oleh teknologi blockchain untuk mencapai tingkat transparansi dan desentralisasi yang lebih tinggi.

    Tanpa Izin: Proyek-proyek berbasis blockchain menggantikan model kepemilikan perusahaan konvensional dengan kode yang terbuka untuk umum. Sifat tanpa izin dari aplikasi yang dibangun di atas blockchain memungkinkan siapa saja, di mana saja di dunia ini, untuk mengakses dan berinteraksi tanpa batasan.

    Tanpa Kepercayaan: Blockchain dan kriptokurensi menghilangkan kebutuhan untuk mempercayai pihak ketiga, seperti bank atau perantara individu. Pengguna Web3 dapat bertransaksi tanpa harus mengandalkan entitas lain selain jaringan itu sendiri.

    Infrastruktur Pembayaran: Aset kripto dapat berperan sebagai infrastruktur pembayaran digital asli dalam ekosistem Web3. Aset digital ini berpotensi memperbaiki infrastruktur pembayaran yang mahal dan rumit dari era Web2. Kriptokurensi bersifat nirbatas dan tidak memerlukan perantara.

    Kepemilikan: Kriptokurensi telah memberikan alat seperti dompet kripto dengan kendali mandiri kepada pengguna, memungkinkan mereka menyimpan dana mereka tanpa perantara. Pengguna juga dapat mengintegrasikan dompet mereka dengan aplikasi terdesentralisasi untuk menggunakan dana mereka dalam berbagai cara atau menampilkan kepemilikan digital mereka. Informasi kepemilikan dana dan aset tersebut dapat diverifikasi oleh siapa saja melalui buku besar publik yang transparan.

    Ketahanan Terhadap Sensor: Blockchain dirancang untuk menciptakan ketahanan terhadap sensor. Artinya, tidak ada pihak yang dapat dengan mudah menghapus atau mengubah catatan transaksi setelah ditambahkan ke dalam blockchain. Fitur ini membantu mencegah upaya penyensoran oleh pemerintah dan perusahaan.

    Apakah Blockchain dan Kripto Esensial untuk Web3?

    Ketika membahas masa depan Web3, pertanyaan muncul apakah blockchain dan kriptokurensi adalah elemen yang mutlak diperlukan atau apakah Web3 dapat mengadopsi teknologi lain yang tidak berkaitan dengan blockchain dan mata uang kripto. Teknologi seperti realitas berimbuh (AR), realitas virtual (VR), internet of things (IoT), dan metaverse juga memiliki peran penting dalam menggiring internet ke era baru ini. Sementara blockchain mungkin berperan sebagai infrastruktur Web3, teknologi dan solusi di atas mampu menciptakan pengalaman internet yang lebih imersif dan terhubung dengan dunia nyata.

    IoT memungkinkan perangkat untuk terhubung melalui internet, AR dapat menambahkan elemen visual digital ke dunia fisik, dan VR membangun lingkungan buatan komputer yang penuh dengan aset digital. Dengan peningkatan integrasi dan penggabungan teknologi ini, metaverse bisa menjadi wajah dari Web3.

    Kriptokurensi memberikan jalur pembayaran asli secara digital dan beragam fitur lainnya. Token utilitas, sebagai contoh, dapat membawa berbagai macam manfaat penting bagi ekosistem Web3. Selain itu, non-fungible token (NFT) dapat memverifikasi identitas dan kepemilikan di dunia digital tanpa mengorbankan kontrol pengguna atas data pribadi mereka.

    Tampilan Web3 dengan Kripto dan Blockchain

    Meskipun blockchain bisa menjadi salah satu fondasi Web3, bagi pengguna, ini mungkin tidak begitu terlihat. Jika aplikasi yang berjalan di blockchain dirancang dengan baik, ramah pengguna, dan intuitif, maka infrastruktur dasarnya tidak akan menjadi perhatian utama. Hal ini mirip dengan cara kita jarang memikirkan server data dan protokol internet yang mendukung platform media sosial yang kita gunakan sehari-hari.

    NFT memiliki potensi untuk memungkinkan pengguna menampilkan koleksi barang digital kepada pengguna lainnya serta membantu dalam pembentukan dan pemeliharaan identitas digital yang unik. Selain itu, NFT juga bisa memenuhi berbagai keperluan fungsional, seperti mendukung berbagai aspek dalam industri permainan daring.

    Blockchain dan kripto juga bisa mengubah cara pengguna Web3 berkolaborasi dan mengambil tindakan kolektif melalui organisasi otonom terdesentralisasi (DAO). DAO memberikan wewenang kepada individu untuk mengatur kepentingan bersama tanpa adanya otoritas pengambil keputusan sentral. Pemilik token dalam DAO memiliki hak untuk memberikan suara dalam penentuan keputusan bersama. Selain itu, semua aktivitas dan keputusan dapat dilacak secara transparan melalui blockchain. Hal ini menjadikan DAO sebagai faktor penggerak Web3 yang lebih terdesentralisasi, transparan, dan berfokus pada komunitas.

    Kesimpulan

    Web3 memiliki potensi untuk mengatasi tantangan besar dalam ekosistem internet saat ini dan mengurangi dominasi raksasa teknologi. Meskipun masih dalam tahap visi, perkembangan teknologi yang dapat mengubah paradigma internet sudah dalam perjalanan. 

    Blockchain dan kripto sering dianggap sebagai kunci untuk menghasilkan revolusi Web3, karena keduanya didesain untuk memungkinkan interaksi yang terdesentralisasi, tanpa izin, dan tanpa kepercayaan. Selain itu, teknologi ini dapat berintegrasi secara harmonis dengan teknologi lainnya seperti AR, VR, dan IoT. Gabungan dari semua ini memiliki potensi untuk menciptakan solusi yang sangat menjanjikan untuk masa depan internet.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Perbedaan Web2 vs Web3: Manakah yang Lebih Baik?

    Dalam artikel ini, kita akan membahas perbedaan antara Web2 dan Web3 serta merenungkan pertanyaan penting: manakah yang lebih baik? Dalam era internet saat ini, Web2 telah menjadi norma, digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia. 

    Namun, kendati populer, Web2 tidak terlepas dari kekurangan yang telah lama menjadi perhatian, seperti kepemilikan data yang terpusat, penyensoran, dan masalah keamanan. Inilah yang mendorong konsep inovatif Web3, yang didukung oleh teknologi seperti blockchain, kecerdasan buatan, dan realitas berimbuh, dengan tujuan memberikan solusi yang lebih baik untuk permasalahan tersebut. 

    Dunia internet telah mengalami evolusi yang signifikan sejak awal diperkenalkannya sebagai Web1. Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna yang terus berkembang, kita sekarang memiliki Web2, dan bahkan Web3 sedang diusulkan sebagai masa depan internet. 

    Web1 adalah awal dari segalanya, memungkinkan kita untuk mengonsumsi konten online dengan cara yang sederhana. Web2 datang sebagai revolusi berkat peningkatan teknologi seluler dan akses internet yang lebih mudah, memungkinkan pengguna untuk tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi juga menciptakannya. Kini, mari kita lihat bagaimana Web3 berpotensi mengubah lanskap internet sekali lagi.

    Sejarah Singkat Web

    Untuk memahami perbedaan antara Web2 dan Web3, kita harus terlebih dahulu memahami perkembangan internet sejauh ini. Ada dua tahap utama dalam perkembangan internet: Web1 dan Web2.

    Web1

    Web1, juga dikenal sebagai Web 1.0, adalah fase awal internet. Pada masa ini, web terdiri dari halaman-halaman HTML statis yang menampilkan informasi secara online. Web1 berjalan di atas infrastruktur yang terdesentralisasi sepenuhnya, di mana siapa pun dapat membuat server, mengembangkan aplikasi, dan mempublikasikan informasi tanpa batasan. Pengguna Web1 menggunakan browser web untuk mencari informasi.

    Namun, kelemahan utama Web1 adalah kurangnya interaktivitas. Pengguna hanya dapat menjadi penonton, dengan sedikit peluang untuk berinteraksi dengan konten atau dengan pengguna lain. Komunikasi terbatas pada messenger dan forum obrolan sederhana, membuat pengalaman internet terasa sangat pasif.

    Web2

    Web2, yang muncul pada akhir tahun 1990-an, menciptakan perubahan besar dalam cara kita berinteraksi dengan internet. Internet menjadi lebih interaktif, terpusat, dan lebih fokus pada pembuatan konten. Database, pemrosesan server-side, formulir, dan media sosial secara kolektif membentuk Web2 atau Web2.0. Web ini memberikan platform untuk pembuatan konten, memungkinkan individu untuk dengan mudah menciptakan dan berbagi karya mereka dengan dunia.

    Layanan seperti WordPress dan Tumblr menyediakan platform untuk membuat konten, sementara platform media sosial seperti Facebook dan Twitter menghubungkan orang-orang di seluruh dunia. Kemudahan akses internet seluler dan popularitas smartphone membuat konsumsi konten menjadi lebih mudah dari sebelumnya.

    Perusahaan teknologi besar, seperti Google dan Facebook, mengambil manfaat besar dari Web2 ini. Selain mendapatkan keuntungan finansial, perusahaan-perusahaan ini juga membangun basis data pengguna yang besar. Melalui akuisisi perusahaan kecil, mereka berhasil mengakumulasi jaringan pengguna global serta data yang sangat berharga.

    Kelemahan Web2

    Sejak kemunculan Web2, perusahaan-perusahaan besar di dunia internet telah menyadari potensi besar dalam memanfaatkan data pengguna untuk menjaga mereka tetap berada dalam “ekosistem” perusahaan tersebut. Mereka dapat menghasilkan iklan yang sangat ditargetkan atau mencegah interaksi lintas platform, yang pada akhirnya membuat pengguna cenderung terus menggunakan layanan yang sudah mereka kenal sebelumnya.

    Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul masalah etis yang mengganggu banyak pengguna internet, seperti penyensoran, pelacakan data, dan kepemilikan data. Ironisnya, dalam ranah Web2, data pengguna sering kali dianggap milik perusahaan, bukan milik pengguna itu sendiri. Kita telah menyaksikan berbagai insiden di mana perusahaan mengendalikan data pengguna tanpa izin atau kebijakan yang adil. Misalnya, Facebook pada tahun 2010-an mendapat kritik global karena melindungi data penggunanya yang dikumpulkan tanpa persetujuan mereka.

    Untuk mengatasi berbagai permasalahan ini, beberapa pihak telah berusaha menggabungkan aspek-aspek positif dari Web1 dan Web2, yaitu desentralisasi dan partisipasi pengguna. Walaupun belum terlaksana sepenuhnya, inti konsep dari Internet generasi berikutnya yang dikenal sebagai Web3 telah mulai digagas.

    Apa Itu Web3?

    Jika kita melihat kendala-kendala yang saat ini terdapat pada Web2, maka Web3 dapat dianggap sebagai langkah logis berikutnya dalam optimasi internet untuk kepentingan pengguna. Dengan memanfaatkan teknologi peer-to-peer (P2P) seperti blockchain, realitas virtual (VR), Internet of Things (IoT), dan perangkat lunak sumber terbuka, Web3 bertujuan untuk mengurangi kekuasaan yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan raksasa di Web2. Melalui desentralisasi, Web3 berusaha mengembalikan kendali atas konten dan kepemilikan data kepada pengguna.

    Web3: Masa Depan Internet

    Sekarang, kita tiba pada Web3, yang dianggap sebagai evolusi lanjutan dari Web2. Web3 bertujuan untuk mengatasi beberapa masalah utama yang ada di Web2, seperti masalah kepemilikan data, penyensoran, dan keamanan. Dengan memanfaatkan teknologi seperti blockchain, kecerdasan buatan (AI), dan realitas berimbuh (AR), Web3 diharapkan mampu memberikan solusi yang lebih baik.

    Web3 menciptakan konsep kepemilikan dan kontrol data yang lebih kuat oleh individu. Ini dapat mengubah bagaimana kita berinteraksi dengan internet, memberikan kekuasaan kepada pengguna untuk tidak hanya mengonsumsi dan menciptakan konten, tetapi juga mengontrolnya sepenuhnya.

    Pertanyaannya sekarang adalah, apakah Web3 benar-benar lebih baik daripada Web2? Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban yang pasti, karena masih dalam tahap perkembangan. Namun, yang pasti adalah Web3 membawa potensi besar untuk mengubah cara kita berinteraksi dengan internet dan memecahkan beberapa masalah yang telah lama ada.

    Fitur Utama Web3

    Terdesentralisasi: Karena salah satu masalah mendasar di Web2 adalah sentralisasi, desentralisasi menjadi elemen kunci dalam perubahan ke Web3. Selain memungkinkan pengguna mengendalikan data mereka, perusahaan harus membayar pengguna untuk mengakses data mereka. Desentralisasi ini juga memungkinkan pembayaran menggunakan kripto asli kepada siapa pun, menghilangkan perantara yang mahal dalam infrastruktur pembayaran tradisional Web2.

    Permissionless: Alih-alih dibatasi oleh entitas besar yang mengendalikan partisipasi atau membatasi komunikasi antar platform, Web3 memungkinkan siapa pun untuk berinteraksi dengan bebas di seluruh jaringan.

    Trustless: Jaringan yang menjadi dasar Web3 dirancang agar pengguna dapat berpartisipasi tanpa harus mempercayai pihak ketiga atau entitas tertentu, karena sistem ini dibangun berdasarkan kepercayaan pada jaringan itu sendiri.

    Potensi Manfaat Web3

    Keamanan Data yang Ditingkatkan: Data yang disimpan dalam basis data terdesentralisasi jauh lebih aman daripada data yang tersimpan secara terpusat. Ini mengurangi risiko peretasan dan pelanggaran data pribadi.

    Kepemilikan Data yang Sebenarnya: Salah satu fokus utama Web3 adalah memberikan pemilik data kendali penuh atas informasi mereka, bahkan memberi mereka kesempatan untuk memonetisasi data mereka jika diinginkan.

    Kendali atas Kebenaran: Tanpa kekuatan sentral, pengguna tidak akan mudah terkena penyensoran yang tidak adil. Perusahaan besar akan kesulitan untuk mengendalikan narasi dengan cara yang sama seperti di Web2.

    Selain manfaat-manfaat tersebut, Web3 juga berpotensi membawa kebebasan finansial kepada pengguna, memungkinkan akses ke ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan berbagai alat keuangan lainnya. Selain itu, interaksi sosial dapat ditingkatkan melalui teknologi seperti realitas virtual (VR), realitas berimbuh (AR), dan kecerdasan buatan (AI), membuka peluang untuk pengalaman online yang lebih mendalam.

    Penutup

    Debat antara Web2 dan Web3 dapat dilihat sebagai perbandingan antara sentralisasi dan desentralisasi. Meskipun Web3 masih dalam tahap perkembangan, potensinya untuk mengatasi masalah yang ada di Web2 dan mengembalikan kontrol kepada pengguna sangatlah besar.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Grab Menambahkan Fitur Web3 Wallet ke Aplikasinya, Hadir di Indonesia?

    Grab, platform pemesanan kendaraan terbesar di Asia, telah memperkenalkan fitur Web3 baru yang memungkinkan pengguna mendapatkan voucher NFT untuk restoran dan layanan populer di Singapura. Apakah fitur ini akan hadir di Indonesia?

    Integrasi wallet kripto ke dalam platform Grab membuat inovasi baru bagi basis pengguna yang kini telah mencapai 180 juta orang, langkah ini dapat mempunyai implikasi luas terhadap adopsi aset digital di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya.

    Grab, yang sering disebut sebagai “Uber-nya Asia Tenggara,” telah menjadi kekuatan dominan dalam industri ride-sharing, pesan-antar makanan, dan pembayaran digital di kawasan ini. Keputusan mereka untuk mengintegrasikan dompet kripto Web3 merupakan sebuah terobosan yang dapat mengubah cara masyarakat di Asia Tenggara berinteraksi dengan mata uang kripto.

    Web3 Wallet

    Grab menambahkan fitur Web3 Wallet ke aplikasinya. Sumber: @0xjaypeg  WuBlockchain.
    Grab menambahkan fitur Web3 Wallet ke aplikasinya. Sumber: @0xjaypeg
    WuBlockchain.

    Baca juga: Harga Bitcoin Tiba-tiba Melonjak ke US$ 26K: Apa Data Terbarunya?

    Grab telah menyediakan konten panduan untuk wallet dan Non-Fungible Token (NFT). Hal ini menunjukkan bahwa Grab tidak hanya mengintegrasikan mata uang kripto untuk tujuan pembayaran tetapi juga menyadari potensi NFT dan penerapan teknologi blockchain yang lebih luas. Fitur ini dibuat atas kerja sama dengan Otoritas Moneter Singapura.

    Setelah voucher digunakan, pengguna akan secara otomatis menerima barang koleksi digital di web3 wallet Grab mereka. Koleksi yang menggambarkan landmark terkenal di negara tersebut dapat digunakan untuk menerima lebih banyak hadiah.

    Setelah menekan tombol Web3 pada aplikasi untuk pertama kalinya, pengguna diarahkan untuk membuat wallet kripto, yang dihosting di jaringan blockchain Polygon. Wallet tersebut tampaknya hanya dapat menyimpan voucher dan barang koleksi tertentu saat ini.

    Voucher NFT dapat dibeli di aplikasi cashback Fave. Barang-barang tersebut kemudian dapat digunakan di Grand Prix F1 Singapura mendatang serta di toko-toko yang memenuhi syarat di sekitar kota seperti Mint Museum of Toys dan restoran Jumbo Seafood.

    Fitur ini tampaknya merupakan perpanjangan dari uji coba yang dilakukan Grab pada Oktober tahun lalu dengan penerbit stablecoin StraitsX.

    Mengapa Web3 Wallet Grab Unik

    Grab menambahkan fitur Web3 Wallet ke aplikasinya. Sumber: Pixabay.
    Grab menambahkan fitur Web3 Wallet ke aplikasinya. Sumber: Pixabay.

    Baca juga: Prediksi Harga BTC, Jika ETF Bitcoin Spot Disetujui SEC

    Wallet ini, fungsinya mirip dengan Binance, menawarkan pendekatan unik terhadap manajemen aset digital dengan fokus pada aksesibilitas dan keamanan.

    Berbeda dengan wallet kripto tradisional yang mengandalkan kunci pribadi untuk akses aman, Grab memilih pendekatan yang lebih ramah pengguna dengan kata sandi PIN. Desain yang berpusat pada pengguna ini bertujuan untuk menyederhanakan pengalaman kripto bagi basis pengguna Grab yang sangat besar.

    Selain itu, Grab telah menerapkan sistem pemulihan akun yang mudah digunakan berdasarkan pertanyaan dan jawaban. Pendekatan ini memberikan keseimbangan antara keamanan dan kenyamanan, terutama bagi pengguna yang mungkin baru mengenal mata uang kripto.

    Saat ini, layanan tersebut tampaknya hanya tersedia di Singapura dan belum ada informasi lebih lanjut mengenai kehadirannya di Indonesaia.Reputasi Singapura sebagai pemimpin fintech global dan menunjukkan bahwa negara ini dapat menjadi tempat uji coba integrasi kripto Grab.

    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Web3 Perkuat Pariwisata di Indonesia

    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno, menyuarakan optimisme terhadap potensi teknologi web3 dalam sektor pariwisata di Indonesia. Menurutnya, teknologi blockchain dan web3 bisa membantu pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi digital.

    Sandiaga mengatakan web3 mewakili masa depan internet yang lebih terdesentralisasi dengan memanfaatkan blockchain, kecerdasan buatan (AI), dan pembelajaran mesin.

    “Teknologi Web3 mampu menciptakan perjalanan yang lebih inklusif dan personal, meningkatkan daya tarik dan kepuasan para wisatawan,” kata Sandiaga dalam pidatonya di acara Coinfest Asia 2023 yang diadakan oleh Coinvestasi di Bali, dikutip pada Jumat (25/8).

    Sambut Coinfest Asia 2023

    Sandiaga menambahkan bahwa Coinfest Asia adalah bukti keterbukaan Asia, terutama Indonesia, terhadap kreasi dan inovasi di dunia Web3. Ia pun mengapresiasi Coinvestasi yang menyelenggarakan Coinfest Asia yang menjadi bukti keterbukaan kawasan Asia, terkhusus Indonesia terhadap kreasi dan inovasi di web3.

    “Selamat kepada Coinvestasi atas penyelenggaraan Coinfest Asia. Saya sangat bersemangat untuk melihat pertumbuhan dan kolaborasi berkelanjutan dalam ekosistem Web3 yang akan terus berkembang dari Coinfest Asia di tahun-tahun mendatang,” tuturnya.

    Coinfest Asia 2023 sendiri digelar pada 24-25 Agustus 2023 di Jimbaran, Bali, hadir dalam skala lebih besar dengan target kehadiran 3.000 peserta dari lebih dari 50 negara. Dalam edisi kali ini, Coinfest Asia 2023 membawa industri Web2 dan Web3 bersatu untuk menciptakan ekosistem Web3 yang kuat dan berkelanjutan.

    Coinfest Asia 2023 di Jimbaran, Bali pada 24-25 Agustus 2023. Sumber: Coinfest Asia.
    Coinfest Asia 2023 di Jimbaran, Bali pada 24-25 Agustus 2023. Sumber: Coinfest Asia.

    Baca juga: Faktor Ini yang Sebabkan Harga PEPE Anjlok Lebih dari 16%

    Acara ini menghadirkan lebih dari 25 topik panel diskusi, dengan lebih dari 100 pembicara, yang dibagi menjadi dua panggung utama yaitu Converge dan Sunset. Para pembicara berkolaborasi, berbagi pengetahuan, dan pengalaman mereka dalam industri Web2 dan Web3 dari berbagai aspek, termasuk bisnis, investasi, adopsi, dan regulasi.

    Beberapa pembicara terkemuka yang hadir termasuk Co-Founder Animoca Brands, Yat Siu; Co-Founder Ledger, Thomas France; Direktur Arsitek Solusi Alibaba Cloud, Eggy Tanuwijaya; CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis; CEO Ballet, Bobby Lee; Chief Commercial Officer OKX, Lennix Lai; Head of DeFi Algorand, Daniel Oon; VP Sales, APAC Fireblocks, Amy Zhang, dan banyak lagi.

    Selain panggung utama, Coinfest Asia juga menyediakan area seperti Breakout Area, di mana peserta dapat berdiskusi lebih mendalam dengan pembicar. Selain itu ada area Bull House di mana para tokoh industri dan regulator berkumpul, serta Government Pitching yang ditujukan bagi proyek-proyek Web3 yang ingin bekerja sama dengan pemerintah.

    Tokocrypto Dukung Coinfest Asia 2023

    Tokocrypto pun hadir dan mendukung sebagai salah satu sponsor dalam acara Coinfest Asia 2023 sebagai festival tentang blockchain, web3 hingga aset kripto yang terbesar di Asia, khususnya Indonesia.

    MO Tokocrypto, Wan Iqbal, mengatakan Coinfest Asia bukan hanya sebuah festival, melainkan wadah bagi kolaborasi dan pengembangan positif. Festival ini menjadi platform yang memungkinkan para pelaku industri untuk saling berbagi ide, berkolaborasi, serta merangsang perkembangan yang dapat membangun ekosistem blockchain, web3 hingga kripto di Indonesia menjadi jauh lebih baik.

    “Kami di Tokocrypto merasa sangat berbahagia karena dapat menjadi bagian penting dari Coinfest Asia 2023 dan memiliki kesempatan luar biasa untuk terlibat lebih jauh untuk mensukseskan acara ini. Bagi kami ini adalah salah satu platform yang dapat menerangi jalan bagi pemahaman lebih luas mengenai potensi tak terbatas yang ditawarkan oleh ekosistem blockchain dan aset kripto,” kata Iqbal.

    Tokocrypto di Coinfest Asia 2023 di Jimbaran, Bali pada 24-25 Agustus 2023. Sumber: Tokocrypto.
    Tokocrypto di Coinfest Asia 2023 di Jimbaran, Bali pada 24-25 Agustus 2023. Sumber: Tokocrypto.

    Baca juga: Tokocrypto Hadir dan Bawa Semangat Baru di Coinfest Asia 2023

    Dalam dua hari intensitas penuh pada tanggal 24 dan 25 Agustus 2023, Tokocrypto membuka booth eksklusif, menawarkan kesempatan berharga serta penawaran istimewa bagi para pengunjung.

    Program-program yang dihadirkan meliputi peluang kemitraan strategis bersama Tokocrypto, program VIP eksklusif, manfaat dari program Tokocrypto Angels, dan beragam acara menarik yang akan menghidupkan semarak Coinfest Asia 2023.

    Tidak hanya berhenti di situ, Tokocrypto juga merayakan semangat komunitas dengan menghadirkan side event Obrolan Komunitas (OBRAS) Special Edition yang akan berlangsung pada tanggal 26 Agustus 2023, di The Ambengan Tenten, Denpasar, Bali, dimulai dari pukul 15.00 hingga 22.00 WITA.

    OBRAS Edisi Khusus akan menghadirkan talkshow yang menggugah serta sesi interaktif penuh inspirasi, ditemani oleh para pembicara handal yang berasal dari latar belakang beragam di ranah blockchain, Web3, NFT, dan dunia media kripto.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Prediksi Masa Depan Kripto, Web3 dan Blockchain di Tahun 2023

    2022 mungkin menjadi tahun yang cukup sulit dan penuh gejolak untuk perkembangan pasar kripto, web3 dan blockchain. Namun memasuki tahun 2023, harapan adopsi kripto dan blockchain kembali meningkat.

    Seperti diketahui, banyak entitas yang mengadopsi teknologi blockchain, web3, dan kripto yang gagal atau berjuang untuk tetap bertahan. Banyak orang yang menganggap ini adalah proses yang dramatis dan diperlukan untuk kematangan keseluruhan sistem.

    Meskipun demikian, keyakinan teknologi Web3 yang muncul dari musim dingin kripto ini akan mengubah segalanya terus ada. Web3 mewakili evolusi pertukaran informasi berikutnya.

    Teknologi Blockchain akan menghadirkan cara baru untuk berinteraksi dengan internet dan secara mendasar akan mengubah cara kita terlibat satu sama lain. Berikut adalah beberapa prediksi untuk apa yang dapat kita lihat di sisi lain pada tahun 2023, menurut Cointelegraph.

    Ilustrasi investasi aset kripto
    Ilustrasi investasi aset kripto.

    Baca juga: Digital Rupiah Bakal Jadi Alat Transaksi di Ekosistem Web3

    1. Investasi Turun

    Pendanaan modal ventura kripto akan terus menurun hingga paruh pertama tahun 2023, tetapi itu belum tentu merupakan hal yang buruk. Investor tidak ingin terjerumus, jadi mereka menunggu hal-hal mencapai titik terendah sambil juga mempertimbangkan kekhawatiran ekonomi makro yang lebih luas dan risiko resesi global.

    2. Banyak Brand Masuk ke Web3

    Pada tahun 2023, banyak brand seperti Nike, Starbucks, dan Meta akan terus bereksperimen di Web3, dengan fokus berkelanjutan pada non-fungible token (NFT) sebagai format pilihan, dan dengan penekanan pada akuisisi dan keterlibatan pelanggan melalui monetisasi.

    3. Pengembangan Aplikasi dan Game Web3

    Karena biaya pengembangan aplikasi dan game Web3 turun dan biaya akuisisi pengguna naik, akan ada penekanan pada kualitas dan penemuan. Ini akan menciptakan pertumbuhan yang tidak terlalu signifikan. Seiring waktu, pengembang game maupun aplikasi akan mempelajari kembali, menciptakan platform yang sehat dan bertanggung jawab.

    Web3
    Ilustrasi Web3.

    Baca juga: Potensi Web3 Tingkatkan Ekonomi Digital Indonesia

    4. Potensi Keuntungan Web3

    Web3 akan terus menawarkan ceruk keuntungan yang solid, dengan aplikasi yang secara fungsional merupakan tiruan dari bisnis yang ada, tetapi dengan beberapa komponen dasar blockchain. Aplikasi ini akan mengukir ceruk pasar pengguna yang menginginkan penawaran produk inti tradisional yang sama tetapi memiliki ketertarikan pada Web3, mirip dengan banyak perusahaan internet awal, seperti Amazon.

    Stablecoin akan menemukan lebih banyak kasus penggunaan di luar pasar kripto, yang akan mendorong adopsi yang lebih umum — terutama di kalangan bisnis — dan inovasi dalam web3. Penelitian dan pengembangan blockchain oleh pemerintah dan swasta akan berlanjut, dengan beberapa mengumumkan infrastruktur publik terpusat seperti central bank digital currencies (CBDC) atau infrastruktur pasar.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Digital Rupiah Bakal Jadi Alat Transaksi di Ekosistem Web3

    Bank Indonesia akhir merilis white paper pengembangan Central Bank Digital Currency (CBDC) yang dinamakan Digital Rupiah. Penerbitan white paper (WP) ini merupakan langkah awal “Proyek Garuda”, yaitu sebuah inisiatif yang memayungi berbagai eksplorasi dan diharapkan menjadi katalisator pengembangan desain CBDC ke depan.

    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ASPAKRINDO), Teguh Kurniawan Harmanda, menyambut baik dan mengapresiasi diterbitkannya white paper CBDC Digital Rupiah yang telah dinantikan cukup lama. Dengan adanya WP ini menjadi langkah baik untuk mengekplorasi desain CBDC yang tepat untuk Indonesia ke depan dan hubungannya dengan perdagangan aset kripto, serta pengembangan adopsi blockchain.

    “Ini sebuah kemajuan besar dalam pendekatan penerbitan CBDC di Indonesia solusi future proof yang prospektif. Benar, perkembangan CBDC bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan. Cepat atau lambat Indonesia harus mengarah ke sana. Jika CBDC dirancang dengan hati-hati, berpotensi menawarkan lebih banyak ketahanan, lebih aman, ketersediaan lebih besar, dan biaya lebih rendah,” kata pria yang akrab disapa Manda.

    Pengoptimalan

    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda. Foto: Tokocrypto.
    Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda. Foto: Tokocrypto.

    Baca juga: Bank Indonesia Rilis White Paper Proyek Garuda CBDC Digital Rupiah

    Manda menjelaskan pihaknya siap bersinergi dengan Bank Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan dalam mencapai penerbitan Digital Rupiah. Hal ini terkait sinergi dalam proyek Garuda akan menyasar tujuh area prioritas yang bersifat non-exhaustive. Salah satunya area perdagangan aset kripto, termasuk penggunaan Digital Rupiah pada ekosistem Web3.

    “Sebagai pelaku usaha di industri perdagangan aset kripto dan web3, kami dari asosiasi siap melakukan koordinasi dan kerja sama untuk pengoptimalan Digital Rupiah ke depan. Tidak ada satu ukuran pun yang cocok untuk semua. Tidak ada kasus universal untuk CBDC karena setiap ekonomi negara berbeda,” jelas Manda.

    Dijelaskan dalam white paper Digital Rupiah didesain untuk dilengkapi dengan berbagai jenis penggunaan (use cases), baik di ekosistem wholesale maupun ritel. 

    Digital Rupiah dan Web3

    Bank Indonesia: Kripto Tingkatkan Inklusi Keuangan
    Bank Indonesia akhir merilis white paper pengembangan Central Bank Digital Currency (CBDC) yang dinamakan Digital Rupiah. Foto: Reuters.

    Baca juga: Negara Tuvalu Terancam Tenggelam, Rencana Pindah ke Metaverse

    Digital Rupiah akan menjadi aset settlement untuk berbagai jenis transaksi di pasar barang dan jasa maupun pasar keuangan, baik yang berada di ekosistem tradisional maupun ekosistem digital, seperti ekosistem Web3 termasuk di dalamnya decentralized finance (DeFi) dan metaverse.

    “Kami menyambut positif keberadaan Digital Rupiah. Ini bisa menjadi gateway untuk berbagai layanan di ekosistem Web3, termasuk di dalamnya DeFi dan metaverse. Dengan begitu pengembangan dan adopsi teknologi blockchain akan semakin masif di Indonesia dan menciptakan talenta serta peluang untuk developer lokal mengembangkan bisnisnya,” jelas Manda.

    Di sisi lain, peraturan setingkat Undang-Undang yang ada belum dapat menjadi landasan bagi Digital Rupiah untuk berstatus legal tender. Status tersebut diperlukan Digital Rupiah untuk menjadi jangkar dalam berbagai use cases ekosistem Web3, termasuk DeFi dan metaverse.

    Sementara itu, status legal tender menurut UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang melekat pada uang kertas dan uang logam yang pada prinsipnya tidak dapat digunakan di dalam ekosistem Web3.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Porsche Optimis Masuk Dunia Web3 Rilis Koleksi NFT Pertama

    Pabrikan mobil sport, Porsche mulai bergerak untuk secara resmi masuk ke industri blockchain dan meluncurkan rencana awal untuk masa depannya di dunia web3. Sebagai langkah pertama, Porsche dikabarkan akan merilis koleksi NFT pertamanya.

    Proyek web3 pertama yang direncanakan Porsche adalah koleksi NFT 7.500 bagian berdasarkan model Porsche 911 klasik. NFT dijadwalkan akan dirilis pada Januari 2023, dan Hamburg designer serta artis 3D, Patrick Vogel akan membuat setiap bagian dari koleksi tersebut.

    Setelah melakukan pembelian, pemegang akan membantu membentuk desain NFT masing-masing. Secara khusus, individu akan dapat memilih “route” atau kategori untuk NFT mereka — Performance, Lifestyle, atau Heritage.

    Utilitas Porsche NFT

    Ilustrasi NFT Porsche. Foto: Porsche.
    Ilustrasi NFT Porsche. Foto: Porsche.

    Baca juga: World Blockchain Summit Bangkok 2022 Digelar Desember Mendatang

    Setiap route mewujudkan aspek tertentu dari identitas merek premium Porsche dan akan memengaruhi keseluruhan desain dan karakter NFT. Selama beberapa bulan berikutnya, Vogel akan bekerja dengan masukan pengguna ini yang berasal dari penjualan awal untuk menyiapkan setiap NFT sebagai aset 3D khusus di Unreal Engine 5.

    Selain membantu membentuk estetika NFT mereka, pemilik juga akan mendapatkan akses eksklusif ke pengalaman di dunia maya dan nyata. Namun, koleksi NFT ini hanyalah awal dari rencana Web3 Porsche.

    “Kami telah membuat komitmen untuk jangka panjang, dan tim Web3 kami juga memiliki kebebasan untuk mengembangkan inovasi dalam dimensi ini,” kata Lutz Meschke, Porsche’s Deputy Chairman dan anggota dewan eksekutif untuk keuangan dan TI.

    Porsche, Web3 dan Blockchain

    Ilustrasi NFT Porsche. Foto: Porsche.
    Ilustrasi NFT Porsche. Foto: Porsche.

    Baca juga: Raja Kripto Hong Kong Tiantian Kullander Meninggal Dunia

    Porsche juga bekerja untuk mengintegrasikan teknologi blockchain ke dalam proses yang ada (dan yang akan datang). Secara khusus, perusahaan mencatat bahwa tim manajemen inovasi melihat janji dalam memindahkan pengalaman pembelian dan rantai pasokan ke Web3. Masalah kendaraan dan keberlanjutan juga sedang dieksplorasi.

    Deniz Keskin, Direktur Manajemen Merek dan Kemitraan Porsche, mencatat bahwa Web3 menawarkan cara bagi perusahaan untuk memberikan pengalaman digital baru kepada konsumennya. Terlebih lagi, NFT dan teknologi Web3 lainnya memperluas proses kreatif, memungkinkan merek untuk berkreasi bersama dengan pelanggan mereka dan memberikan lebih banyak pengalaman yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

    “Bertualang ke area baru selalu menjadi semangat merek kami,” kata Keskin.

    “Kami sangat senang memasuki Web3 dengan koleksi NFT pertama kami. Tujuan kami adalah perluasan merek kami ke lingkungan yang sepenuhnya digital. Dan idealnya, untuk bertemu teman baru di sepanjang jalan.”



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • World Blockchain Summit Bangkok 2022 Digelar Desember Mendatang

    World Blockchain Summit akan kembali digelar pada akhir tahun 2022. Salah satu acara konferensi blockchain terbesar ini akan diselenggarakan di Bangkok pada tanggal 8-9 Desember mendatang.

    World Blockchain Summit edisi ke-23 nanti akan mengeksplorasi tren terbaru dalam lingkup blockchain, kripto, dan web3. Para pakar, pengusaha, dan investor terkemuka di industri blockchain akan berkumpul dan berbagi pengetahuan serta membangun jaringan.

    Nicole Nguyen, Co-founder, APAC DAO, mengatakan World Blockchain Summit edisi Bangkok bertujuan untuk menjadi penghubung bagi semua pemangku kepentingan penting dari ekosistem blockchain, kripto, dan web3. Seluruh stakeholders, investor, perusahaan dapat membahas dan mempertimbangkan masa depan industri blockchain yang secara revolusioner dapat mengubah bisnis dan fungsi pemerintah.

    “Bangkok dan WBS selalu menjadi jantung dari gerakan web3 di APAC dan sebagai komunitas web3 terkemuka di Asia, APAC DAO tertarik untuk berjejaring dan mengeksplorasi potensi kolaborasi dengan mitra global dan pemimpin bisnis untuk menjadi landasan peluncuran terkemuka untuk pembuat web3 di wilayah ini,” kata Nguyen dalam pernyataan resminya.

    Thailand sendiri mencatat US$ 135,9 miliar dalam nilai kripto yang ditransaksikan sepanjang tahun dan muncul sebagai salah satu pusat perdagangan kripto di ASEAN.

    Pembicara World Blockchain Summit Bangkok 2022

    Baca juga: JP Morgan Percaya Bursa Kripto Terpusat Akan Tetap Dominan

    WBS Bangkok 2022 akan mengumpulkan para tokoh terkemuka dari ruang blockchain global dan regional. Beberapa tokoh yang berbicara dalam acara tersebut antara lain:

    • Jirayut Srupsrisopa, Pendiri dan CEO Grup, Bitkub Capital Group Holdings Co., Ltd;
    • Sanjay Popli, CEO, Grup Cryptomind, Penasihat, Asosiasi Aset Digital Thailand;
    • Daniel Oon , Kepala DeFi, Algorand Foundation;
    • Kanyarat Saengsawang, Kepala Pertumbuhan, The Sandbox;
    • Matt Sorg, Kepala Teknologi, Solana Foundation;
    • Nicole Nguyen, Co-founder, APAC DAO.

    “Saya menantikan untuk terhubung dengan para pemimpin pasar dan komunitas yang lebih luas, di acara utama blockchain di Asia Tenggara untuk tahun 2022.” kata Toby Gilbert, Cofounder & CEO, Coinweb, salah satu pembicara di WBS Bangkok 2022.

    Mohammed Saleem, Founder & CEO, World Blockchain Summit menyatakan “Dengan adopsi global teknologi blockchain yang memiliki dampak signifikan pada setiap sektor bisnis dan industri, Thailand muncul sebagai pemimpin kripto di pasar ASEAN, kami bermaksud untuk menyatukan para pecinta kripto di konferensi dua hari dengan tujuan ‘Fostering the Future of Web 3.0’.”

    Bagi kamu yang tertarik untuk menghadiri World Blockchain Summit Bangkok 2022 bisa mendapatkan diskon atau potongan harga tiket sebesar 15% dengan memasukan kode voucher TOKCRYP15. Link pembelian tiket bisa akses di sini.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Jelang Piala Dunia, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi Masuk Dunia NFT

    Piala Dunia FIFA 2022 sudah dekat. Uniknya, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi menjadi aktor besar di dunia NFT menjelang pesta olah raga terbesar tersebut. Keramaian aset digital turut meningkat.

    Web3 akhirnya menyatukan olahraga dan dunia virtual. Aset digital NFT yang berkaitan dengan sepak bola meningkat akhir-akhir ini menjelang Piala Dunia 2022 yang akan berlangsung di Qatar.

    Terbaru yang menjadi perhatian adalah koleksi NFT dari Cristiano Ronaldo. Pemain Manchester United itu mengumumkan koleksi CR7 NFT akan dirilis pada 18 November 2022 di platform Binance NFT. Binance pertama kali mengumumkan kemitraan dengan Cristiano Ronaldo pada bulan Juni tahun ini.

    “Hubungan saya dengan para penggemar sangat penting, jadi gagasan untuk menghadirkan pengalaman dan akses yang belum pernah terjadi sebelumnya melalui platform NFT ini adalah sesuatu yang ingin saya ikuti. Saya tahu para penggemar akan menikmati koleksinya seperti saya,” kata Ronaldo.

    Baca juga: Warner Bros dan HBO Bakal Rilis Koleksi NFT Game of Thrones

    Belum banyak detail dari koleksi CR7 NFT ini. Namun, para penggemar bisa melihat tampilan NFT-nya dalam waktu dekat. Beberapa penggemar sangat senang dengan pengumuman tersebut, tetapi pengguna Twitter merasa bahwa ini adalah tanda puncak, satu tahun memasuki pasar beruang.

    Lionel Messi Investor di Sorare

    Tidak hanya Ronaldo, legenda sepak bola Argentina, Lionel Messi, juga mendapatkan eksposur ke Web3 dan NFT. Menurut laporan CNBC, Lionel Messi bergabung dengan NFT trading card game asal Prancis, Sorare sebagai investor dan brand ambassador.

    “Kami percaya Messi akan membantu kami menetapkan standar baru dalam cara kami melakukan ini, dan kami berharap dapat membagikan konten baru dan pengalaman penggemar yang telah kami kolaborasikan segera,” ungkap Co-founder of Sorare, Nicolas Julia.

    Namun, ini bukan paparan pertama Messi ke Web3. Tahun lalu, saat bergabung dengan Paris Saint Germain, dia menerima token PSG, Fan Token klub, sebagai bonus penandatanganan.

    Lionel Messi telah bergabung dengan platform perdagangan NFT Sorare sebagai investor dan brand ambassador. Foto: Sorare.
    Lionel Messi telah bergabung dengan platform perdagangan NFT Sorare sebagai investor dan brand ambassador. Foto: Sorare.

    Baca juga: BLACKPINK Menangkan Best Metaverse Performance di MTV EMA 2022

    NFT Manchester United

    Kontroversi antara Cristiano Ronaldo dan klubnya Manchester United menjadi berita utama akhir-akhir ini. Ronaldo, dalam wawancaranya dengan Piers Morgan, mengatakan bahwa dia merasa dikhianati oleh klub.

    Sementara masa depan Ronaldo di Manchester United dipertanyakan, klub mengumumkan koleksi NFT yang menampilkan para pemainnya. Koleksi digital pertama dari Manchester United akan dihadiahkan kepada para penggemar melalui platform berbasis Tezos.

    Mengikuti pemilihan Tezos oleh Manchester United sebagai blockchain resminya, pengumuman ini mewakili langkah selanjutnya dalam mengembangkan pengalaman penggemar baru yang menarik melalui teknologi Web3. 20% hasil dari penjualannya akan disumbangkan ke Manchester United Foundation.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • FIFA Rilis Proyek Web3 dan Game NFT untuk Piala Dunia 2022

    Menjelang Piala Dunia 2022 di Qatar, FIFA telah mengumumkan portofolio proyek web3 dan game NFT yang bakal menghibur penggemar sepak bola. Ini menjadikan adopsi blokchain di industri sepak bola semakin meluas.

    FIFA telah melisensikan beberapa proyek, termasuk Altered State Machine, yang merupakan permainan liga sepak bola yang ditenagai artificial intelligence (AI) League. Gamesmart football‘ baru ini akan memperkenalkan karakter AI yang cerdas kepada yang lebih kasual.

    Pengalaman bermain game dimulai dengan game prediksi yang dapat dimainkan selama Piala Dunia FIFA Qatar 2022. Mulai tanggal 20 November, pemain dapat berpartisipasi dalam game metaverse berbasis sepak bola yang menyenangkan ini.

    Upland dan Phygtl

    FIFA rilis proyek Web3 dan game NFT untuk Piala Dunia 2022.
    FIFA rilis proyek Web3 dan game NFT untuk Piala Dunia 2022.

    Baca juga: Analisa: Data Inflasi AS Selamatkan Market Kripto di Tengah Krisis FTX

    Proyek kedua adalah Upland, metaverse berbasis blockchain untuk membeli dan menjual properti virtual. Upland kini telah memperkenalkan aset digital dan koleksi NFT Piala Dunia FIFA. Penawaran koleksi digital Upland tampaknya bersaing dengan FIFA+ Collect di situs web resmi, yang dikembangkan bersama dengan mitra blockchain resmi Algorand.

    Sementara penawaran Upland dan FIFA+ Collect melibatkan NFT, FIFA telah menghindari penggunaan terminologi NFT, sebagian karena kripto dianggap niche dan karena beberapa menganggap sebagai penipuan.

    Selanjutnya, ada Phygtl yang memungkinkan penggemar untuk bersama-sama membuat hadiah digital menggunakan augmented reality (AR). Fans dapat memiliki bagian terbatas dari golden-globe-football dengan gambar atau video pilihan dari Piala Dunia.

    MatchDay

    MatchDay adalah permainan prediksi berdasarkan kartu sepak bola menggunakan blockchain Solana. Kedengarannya agak mirip dengan game NFT fantasi, Sorare, dengan game menggunakan kartu pemain NFT untuk membangun tim impian.

    Selain itu, sponsor Piala Dunia lainnya, Crypto.com juga menjalankan game sepak bola fantasi di situs resmi FIFA.

    FIFA rilis proyek Web3 dan game NFT untuk Piala Dunia 2022.
    FIFA rilis proyek Web3 dan game NFT untuk Piala Dunia 2022.

    Baca juga: WEB3 TOUR de BALI, Hadir Dorong Kemajuan Evolusi Blockchain

    “Seiring kami terus membangun strategi permainan kami di masa depan, pastilah bahwa web 3.0 akan memiliki peran penting untuk dimainkan, dan ini menandai awal dari perjalanan kami,” kata Romy Gai, Chief Business Officer FIFA.

    Pengenalan game web3 untuk FIFA penting dalam banyak hal, mengingat game blockchain ini adalah inisiatif pertama FIFA sejak berakhirnya kemitraan jangka panjangnya dengan EA.

    Faktanya, game fantasi yang tersedia di FIFA+ Playzone mencerminkan permainan “Ultimate Team” yang sukses di FIFA 22. Seperti yang diungkapkan EA dalam laporan tahunan 2021, Ultimate Team menghasilkan pendapatan bersih US$ 1,6 miliar di berbagai olahraga, termasuk game FIFA.



    Sumber : news.tokocrypto.com